Title: SS501 Story HyunMin Ver.

Author: Bluedevil9293 a.k.a Dean Choi a.k.a Ayumu Sakurazawa.

Part: 7 / ?

Rated: T.

Cast: Kim Hyun Joong & Park Jung Min

Genre: Romance, Drama.

Warning: Yaoi, Shonen-ai, Boys Love, BoyXBoy, Typo, Gaje, M-preg Don't Like Don't Read.

Summary: Hyun Joong stress berat akibat Jung Min yang terus-terusan mengejar-ngejar dirinya. Sampai-sampai ia harus menikahi namja manis satu itu karena sebuah kejadian fatal yang telah mereka berdua perbuat. HyunMin SS501 Couple, Yaoi, BL, rated M.

^_^ Sadar ^_^

Jung Min Pov…

Aku berjalan dengan perlahan mengikuti dokter Shin ke ruang operasi yang sudah ia siap kan. Sebelum beranjak pergi tadi aku masih sempat menolehkan pandanganku ke arah Hyun Joong hyung. Jujur, aku memang sedikit berharap kalau ia akan mencegahku melakukan aborsi ini. Bolehkan kalau aku sedikit saja berharap seperti itu. Sebenarnya aku masih ragu melakukan aborsi ini. Aku sudah terlanjur mencintai janin yang ada di dalam rahimku saat ini. Anak inikan buah cintaku dengan Hyun Joong hyung.

Seharusnya dia berhak untuk dilahirkan ke dunia. Bukan malah dibunuh seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, hanya ini satu-satunya jalan terbaik untuk menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi diantara aku dan Hyun Joong hyung. Kalau boleh memilih, aku pasti memilih untuk tetap mengandungnya dan melahirkan dia. Tapi aku tak sangup bila menjadi orang tua tunggal bagi anakku ini. Aku butuh orang lain yang bisa mendukungku, yang tak lain appa biologis bayi ini tentunya.

"Nyonya Park silahkan menganti pakaian anda dengan baju ini" kata dokter Shin sambil memberiku sebuah pakaian berwarna biru laut. Aku langsung mengambil apa yang diberikan dokter Shin tadi.

"Panggil Jung Min saja dok, jangan pakain embel-embel nyonya. Bukankah anda mengetahui kalau saya ini namja bukan yeoja" kataku ramah.

"Ne, mianhae" kata dokter Shin sedikit menyesal.

"Gwenchana, aku ganti dulu ya" kataku, dokter Shin pun menganggukan kepalanya pelan lalu kembali sibuk dengan alat-alat operasinya yang membuat aku bergidik ngeri. Bayangkan saja semua alat-alat itu tak lama lagi akan segera membelah perutku dengan perlahan. Oh tidak… aku tak sangup untuk membayangkannya lagi, betapa sakitnya nanti.

Setelah selesai menganti pakaian ku tadi dengan pakaian operasi, aku pun menghampir dokter Shin. "Naiklah ke atas sini" pinta seorang suster yang menjadi asisten dokter Shin dalam operasi ini. aku menganggukan kepala pelan lalu segera naik keatas tempat tidur yang terasa sangat dingin itu. Entah itu hanya perasaanku saja atau memang tempat tidurnya dingin.

"Suster beri dia suntikan bius" kata dokter Shin pada suster yang membantunya tadi.

"Baik dok" jawab suster tadi. Lalu dengan perlahan ia pun mulai melakukan tugasnya itu. Ia menyuntikan sebuah cairan bening ke dalam tubuhku tepat di lengan kiriku. Aku meringis pelan saat merasakan rasa sakit dari suntikan tadi yang menembus tubuhku. Tak lama pandangan mataku pun mulai mengabur dan aku pun hanya bisa sayup-sayup mendengar perkataan dokter Shin dan susternya. Oh Tuhan… aku takut. Sungguh, aku benar-benar takut sekarang. Hyun Joong hyung tolong aku… perlahan aku pun mulai tak sadar kan diri akibat obat bius tadi.

^_^ Sadar ^_^

Hyun Joong Pov…

Aku benar-benar merasa seperti pecundang dari semua pecundang yang ada. Buat apa aku terus berlari dengan sangat terburu-buru tadi bila aku tetap tak mau menolong anakku sendiri. Entah hilang ke mana semua niat baikku tadi. Aku jadi bingung sendiri sekarang.

Entah ini semua ke inginan Tuhan atau apa lah itu, tapi yang jelas sekarang aku merasa hanya sendiri saja. Suasana ruangan yang tadinya ramai entak kenapa sekarang menjadi sangat sepi. Semua ibu hamil di dekatku tadi entah sudah pergi kemana. Bahkan sepasang suami istri di depanku tadi saja sudah tak ada lagi.

Dengan perlahan aku pun beranjak dari tempatku duduk tadi. Aku ingin pergi saja dari tempat ini. akhirnya ku putuskan untuk meninggalkan tempat yang membuat pikiranku berantakan ini. Sudah tak ada yang bisa ku lakukan lagi sekarang. Jadi lebih baik aku pergi saja bukan.

Brrruukkk… Karena aku berjalan sambil melamun aku pun menabrak seorang namja muda yang sedang mengengam tangan seorang yeoja muda juga.

"Mianhae aku tak sengaja, tadi aku sedikit melamun" kataku sambil menundukan kepalaku dan meminta maaf pada namja muda tadi. Bukannya menjawab kata-kataku, namja itu malah menarik paksa yeoja yang bersamanya menjauhi diriku. Aku terdiam memandangi namja itu, sepertinya ada yang sedikit ganjil dengan mereka.

"Lepaskan… Aku tak mau" kata yeoja yang tangannya dicengkram dengan kasar oleh namja tadi. Sepertinya mereka sepasang kekasih, tapi kenapa namja itu kasar sekali ya pada kekasihnya.

"Diam saja, dan ikut aku" kata namja itu sambil terus menarik tangan yeoja tadi.

"Aku nggak mau, aku nggak mau mengugurkan anak ini. Anak ini darah dagingku dengan kamu, dia berhak untuk hidup" kata yeoja tadi sambil menangis dan berusaha lepas dari tangan kekasihnya.

"Aku belum siap menjadi seorang appa, jadi gugurkan saja anak itu" kata namja tadi. Terlihat dua sejoli didepanku tadi sedang adu mulut tentang kehamilan kekasihnya. Aku terus saja memandangi mereka. Dan perlahan aku pun menjadi geram sendiri melihat tingkan namja tadi. Ku kepalkan kedua tanganku dengan geramnya. Cukup, aku tak tahan melihat yeoja itu terus memohon dengan amat sangat pada kekasihnya. Dengan perlahan ku dekati mereka berdua.

Bbbuuuukkk… sebuah tinjuan ku layangkan ke arah wajah namja tadi. Aku kesal pada namja satu ini. Yah, walau pun sebenarnya aku dan dia tak ada bedanya. Kita sama-sama namja pengecut yang hanya bisa melarikan diri dari semua masalah yang ada, padahal masalah itu kita sendiri yang sudah menciptakannya. Tapi setidaknya sang yeoja masih mau mempertahankan semuanya dan itu sukses mengetarkan hatiku.

"Apa yang kamu lakukan, eoh?" kesal namja tadi sambil menyeka darah yang mengalir disusut bibirnya akibat pukulan telakku tadi. Aku bisa melihat sorot kemarahan di mata namja itu dan aku juga bisa melihat raut ketakutan serta kekahawatiran dari sang yeoja saat aku memukul kekasihnya ini.

"Memberikan sebuah pelajaran bagi seorang pecundang seperti dirimu" kataku dengan mata yang berapi-api penuh amarah. Entak kenapa aku jadi kesal sendiri seperti sekarang.

"Aku tak mengenal kamu, tapi kenapa kamu memukulku hanya karena alasan seperti itu saja" kata namja tadi kesal lalu bangkit dari posisi jatuhnya sambil dibantu oleh sang keksaih yang sedang hamil tadi. Sepertinya yeoja tadi dengan Jung Min sama saja, sama-sama masih hamil muda. Itu semua dapat ku lihat dari perut sang yeoja yang masih rata seperti Jung Min. Arrgghh…. Aku jadi mengingat Jung Min dan anak kami kan sekarang.

"Ya, kita memang tak saling mengenal. Tapi aku kesal padamu yang dengan mudahnya menyuruh kekasihmu untuk mengugurkan kandungan begitu saja" kataku sambil berteriak di depan namja tadi.

"Itu bukan urusanmu, itu urusanku dengan kekasihku ini" kata namja tadi tak kalah kesalnya dengan diriku.

"Seharusnya kamu masih bersyukur karena anak kamu itu masih ada di dalam rahim kekasihmu. Sedangkan aku? ANAKKU HAMPIR MATI DI DALAM RUANG OPERASI SANA. DAN MUNGKIN DIA MEMANG SUDAH TAK ADA SAAT INI. DAN ITU SEMUA AKBAT KESALAHANKU TAHU. AKU MENYESAL SEKARANG ATAS SEMUA KEBODOHAN KU TADI" teriakku kesal. Namja dan yeoja didepanku terdiam, mereka tampak memikirkan kata-kataku.

"Ah… Shit… Jung Min, bertahan sebentar sedikit lagi. Jangan lakukan semua itu" kataku yang langsung berlari pergi menuju ke arah ruang operasi Jung Min meninggalkan namja serta yeoja muda tadi yang memandangi kepergianku yang sangat terburu-buru.

Aku berlari dengan sangat cepat menuju ruang operasi Jung Min. Beberapa kali aku sempat jatuh terpeleset karena ketidak hati-hatianku. Namun dengan segera aku pun bangkit lagi. aku harus cepat sebelum semuanya terlambat. Aku tak mau menyesal nantinya. Sudah ku putuskan akan meneriam anak itu lalu menikahi Jung Min. Aku akan bertanggung jawab, aku tak akan jadi pengecut lagi yang terus saja berlari dan menghindar. Aku akan menanggung semua resiko yang ada.

Sesampainya didepan pintu operasi aku pun langsung mendobrak pintu operasi tadi dan memaksa masuk kedalamnya. Beberapa suster yang meilihat kelancanganku ini segera berusaha menghentkanku.

"Maaf apa yang sedang anda lakukan disini? Anda tak boleh masuk ke dalam sini" kata seorang suster sambil mencegahku terus masuk kedalam sana.

"Sus, aku harus masuk sus. Aku harus menyelamatkan anakku serat ibunya" kataku terus memakasa.

"Ia, tapi anda tak boleh masuk kedalam sini tuan" kata suster tadi. Aku yang sudah kesal pun langsung mendorong suster tadi hingga ia terjatuh ke lantai.

"Mianhae suster, aku sedang terburu-buru" kataku lalu segera masuk ke dalam ruangan operasi lagi. di dalam sini aku bisa melihat ada seorang dokter dan dua orang suster yang sedang mengelilingi sebuah tempat tidur yang ku yakini diatasnya pasti sedang terbaring sosok Jung Min. Oh Tuhan semoga saja aku belum terlambat, semoga saja operasinya pelum dilakukan, dan semoga saja Jung Min belum diapa-apakan. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Jung Min, aku pasti akan menghajar dokter itu. Setelah selama beberapa detik memandangi akhirnya aku pun melangkahkan kakiku mendekati sosok Jung Min yang tak sadarkan diri.

"Jung Min" ucapku pelan, akhirnya dua suster dan seorang dokter di ruangan itu pun menyadari keberadaanku ini. aku terus berjalan mendekati mereka.

"Maaf tuan, apa yang sedang tuan lakukan di dalam sini. Anda tak boleh masuk ke dalam sini tuan" kata salah seorang suster.

"Suster ku mohon jangan lakukan operasi ini" pintaku dengan sangat.

"Maksud anda apa tuan?" Tanya sang dokter padaku.

"Tolong hentikan operasi ini" pintaku dengan amat sangat.

"Apa hak anda melarang saya melakukan operasi ini?" Tanya dokter tadi.

"Saya appa dari bayi yang namja itu kandung. Dan saya tak mau anak saya di bunuh" kataku sambil menunjuk sosok Jung Min yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Mungkin dia sedang dalam pengaruh obat bius dugaku.

"Tapi namja ini sendiri yang ingin bayinya untuk digugurkan" kata dokter itu.

"Itu karena dia terpaksa. Saya mohon hentikan operasi ini, saya menginginkan anak serta namja itu" kataku memelas sambil bersimpuh di depan dokter tadi. Dokter itu menghela nafas panjang lalu membuka masker yang ia gunakan. Ia tersenyum padaku dengan senyuman tulus.

"Ambil dan bawa dia pergi dari sini" kata dokter tadi membuatku terpana dengan kata-katanya itu. Ku tatap ia lekat-lekat mencari nada kebohongan dari ucapannya tadi. Tapi aku tak menemukannya, ia tampak jujur dalam mengetakan semua itu.

"Benarkah?" tanyaku memastikan, dokter itu menganggukan kepalanya lalu kembali tersenyum padaku.

"Bawalah dia, sebenarnya aku tahu kalau dia menginginkan bayi yang ia kandung. Tapi aku tak tahu kenapa ia malah berniat mengugurkan kandungnnya itu, benar-benar namja yang sangat bodoh dan terlalu berpikiran pendek. Kalau anda bisa meyakinkan dia untuk tetap mempertahankan kehamilanya, kenapa aku tak memberi kesempatan bukan. Lagian bayi itu berhak untuk hidup dan melihat dunia ini" kata dokter tadi menjelsakan. Aku hanya diam mendengarkan, dua suster yang ada disini juga hanya diam sambil tersenyum padaku.

"Sudah cepat bawa dia pergi sebelum aku berubah pikiran dan mengangkat anak yang ada di dalam kandungnya itu" kata dokter itu lagi sambil sedikit bercanda padaku.

"Ne, dokter gomawo. Aku tak akan pernah melupakan kebaikan anda ini" kataku lalu beranjak berdiri dari posisi bersimpuhku tadi. Setelah itu aku langsung mendekati sosok Jung Min yang tak sadarkan diri.

"Jung Min…" ucapku pelan sambil mengusap wajah sedih Jung Min.

"Anda tenang saja tuan, calon istri anda ini hanya tertidur akibat bius saja kok. Paling Juga beberapa jam lagi dia akan segera bangun dari tidurnya itu" kata suster yang ada didepanku.

"Ne, suster. Gomawo atas kebaikan anda semua" kataku.

"Sudah cepat bawa dia pergi" kata dokter tadi.

"Ne" ucapku singkat lalu dengan perlahan aku mengangkat tubuh Jung Min. Aku mengendong tubuhnya ala bride style. "Gomawo semuanya" kataku sambil tersenyum ramah pada suster dan juga dokter tadi.

"Ne, jaga dia dan anak yang sedang dia kandung baik-baik. Jangan buat dia stress lagi" kata dokter tadi.

"Ne dok, gomawo" kataku sekali lagi lalu segera beranjak pergi meninggalkan ruangan mengerikan tadi. Aku bersyukur ternyata aku tak telat dalam mengambil keputusan. Sedikit saja lagi aku terlambat, pasti anakku sudah tak akan ada lagi sekarang. Oh Tuhan… terima kasih karena sudah memberiku kesempatan ke dua. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dan aku juga akan berusaha untuk mulai mencintai Jung Min walau sesusah apa pun itu.

"Tuan tunggu sebantar" panggil seorang suster dari dalam ruang operasi tadi.

"Ne, waeyo sus?" tanyaku heran.

"Bawa ini, ini semua barang-barang milik Nyonya Park Jung Min" kata suster tadi sambil memberiku semua benda-benda milik Jung Min aku meraihnya dengan sedikit susah karena aku sedang mengendong Jung Min saat ini.

"Marganya tak akan Park lagi suster, sebentar lagi marganya akan berubah menjadi Kim" kataku pada suster tadi. Ia tertawa mendengar perkataanku itu.

"Ne, tuan. Semoga anda dan Nyonya anda ini berbahagia selalu" do'a suster itu, aku hanya menganggukan kepalaku pelan. "Biar saja bantu bawakan sampai di depan" kata Suster tadi yang melihat aku kesusahan membawa tubuh Jung Min bersama dengan benda-benda miliknya juga. Aku tersenyum pada suster tadi.

"Gomawo suster, maaf merepotkan anda" kataku ramah.

"Ia, tak apa. Aku nggak merasa keberatan kok melakukannya" kata suster tadi. Aku dan suster itu pun segera berjalan keluar dari rumah sakit ini dengan aku yang masih tetap mengendong tubuh tak sadarkan Jung Min. Sesampainya di depan rumah sakit, suster itu memanggilkan sebuah taxi untuku. Setelah memasukan tubuh Jung Min kedalam taxi tadi, aku pun kembali berterima kasih pada suster baik hati ini.

"Gomawo sus" kataku ramah.

"Ne, jaga calon istri serta anak anda baik-baik ya tuan" kata suster tadi.

"Ne, pasti sus. Annyeong" kataku pamit lalu segera masuk ke dalam taxi yang sama dimana aku memasukan Jung Min tadi ke dalamnya.

^_^ TBC Again… ^_^