ROSE WEASLEY AND IRIS ZABINI
Thanks semua dah baca Fanfic ini! Rama Diggory Malfoy, Arisa inihara, Aleysa Godricad, Putri, phieranpo: thanks dah Review. Beatrixmalf: Ma kasih banyak saranx. Akan ku coba di fanfic berikutx :p
Pengertian
Disclaimer: JK Rowling
Rose's POV
Aku membuka mataku menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Aku memejamkan mata lagi untuk membiasakan mataku pada cahaya lampu yang menyilaukan. Bau Skelo-Grow yang memuakkan menerpa hidungku. Aku di rumah sakit, tapi... mengapa aku bisa di rumah sakit. Pikiranku perlahan-lahan kembali. Seperti kaleodoskop yang diputar didepanku, kejadian demi kejadian pagi ini bermain dipikiranku. Al berciuman dengan Zabini... Kelas Ramuan... Ramuan Polijus... Zabini mengucapkan suatu mantra pada ramuanku... Kemudian... kemudian aku berpindah.
Aku duduk di ranjang dan menunduk memandang diriku. Aku memiliki rambut hitam sepinggang dengan kulit tangan putih tanpa bintik-bintik. Aku juga memakai dasi Slytherin. Zabini, brengsek... aku akan membunuhmu. Aku melompat dari tempat tidur dan hendak menuju pintu, ketika seorang berseru.
"Miss Zabini, apa yang kau lakukan?" Madam Darnsley mendekatiku dan dengan kekuatan penuh mendorongku ke tempat tidur.
"Lepaskan aku... aku harus pergi mencari Zabini." Kataku berusaha bangkit lagi, tapi cengkraman Madam Darnsley pada lenganku membuatku berhenti bergerak.
"Aku masih harus memeriksa kepalamu, Miss Zabini. Kau terbentur di lantai."
"Dengar, Madam Darnsley, aku bukan Zabini... Aku Rose Weasley. Aku dimantrai oleh Zabini brengsek itu."
"Apa?"
"Apakah anda tahu sesuatu, mantra atau apupun, untuk mengembalikan aku ke tubuhku?" tanyaku.
Madam Darnsley melongo memandangku. "Ya ampun, pasti kepalamu mengalami benturan yang sangat keras."
"Ku mohon, percayalah padaku! Aku Rose Weasley."
"Tenang Miss Zabini, aku akan menyembuhkanmu." Kata Madam Darnsley, mengambil tongkat sihirnya menutulkannya ke kepala. Tak ada gunanya kan? Tak akan ada yang percaya... Semua orang akan mengira bahwa aku adalah Zabini. Tentu saja, Zabini telah menjadi aku dan menipu Al, Lily, Hugo bahwa dia adalah aku. Tidak akan semudah itu menjadi aku, Zabini, keluargaku pasti percaya padaku. Tapi, sebelum mereka menjatuhkan tangan mereka padamu, aku akan membunuhmu lebih dulu.
"Tidak ada kerusakan dikepala." Kata Madam Darnsley, sekarang memandang Rose "Kelihatannya kau baik-baik saja..."
"Yah, aku memang baik-baik saja." Kataku sinis. Madam Darnsley mengabaikanku dan menyuruhku pergi.
Aku berjalan menyusuri koridor dan tidak bertemu seorangpun. Tampaknya anak-anak lain telah berkumpul di ruangan rekreasi mereka sendiri karena makan malam telah lama berlalu. Jadi aku pingsan selama seharian dan melewatkan beberapa pelajaran penting hari ini? Bagus, Zabini, tambah satu lagi kesalahanmu.
Aku terus berjalan menaiki tangga pualam menuju ruang rekreasi Gryffindor. Aku terus memikirkan cara membunuh Zabini sehingga tidak memperhatikan orang-orang yang datang dari belakangku. Aku terkejut saat mereka berteriak, "Flamio!" dan jubahku langsung terbakar.
"Aahhh!" Aku menjerit dan berusaha memadamkan api yang membakar jubahku.
Suara tawa beberapa orang terdengar. Aku mengangkat muka dan melihat beberapa cowok Ravenclaw sedang memandangku sambil tertawa terbahak-bahak. Aku tidak mengenal mereka, tapi dua dari mereka adalah pemain Quidditch Ravenclaw.
"Senang yang panas-panas, Zabini?" kata si pemain Quidditch Ravenclaw.
Aku tidak berkata apa-apa karena sibuk memadamkan api. Aku mengambil tongkat sihir Zabini dan mencoba memikirkan 'aquamenti' dipikiranku, tapi tak ada air yang keluar dari tongkatku.
"Aquamenti!" aku mencoba lagi, tapi airnya tidak keluar juga.
Cowok-cowok Ravenclaw itu tertawa semakin keras melihat usaha sia-siaku memadamkan api. Bangsat! Aku bunuh kalian... Aku mengacungkan tongkat sihir Zabini pada mereka dan berfikir 'Stupefy', tidak terjadi apa-apa.
"Oh lihat dia berusaha memantrai kita,... Ayo Zabini!" kata seorang dari mereka.
"Stupefy!" kataku mencoba, tidak terjadi apa-apa lagi. Mereka tertawa lagi. Bangsat!
"Ayo! Ayo, Zabini! Kamu ingin memantrai kami dengan kayu itukan?"
"Bangsat pengecut! Kalian beraninya sama perempuan?" kataku kesal, sambil mencoba memadamkan api dengan tangan. Tanganku langsung terbakar dan mukaku kena jelaga.
"Pengecut, katamu Zabini?"
"Pengecut! Pengecut! Lihat saja aku akan membalas kalian nanti!"
"Silencio!" kata seorang dari mereka dan aku megap-megap kerena tak bisa bicara. Bangsat! Mati kalian nanti, aku akan mengingat wajah kalian.
"Ayo Zabini, bicaralah! Kami ingin mendengar suara merdu kamu!" kata cowok berambut coklat.
"Ayo... Ayo bicara!" ejek mereka. Aku memandang mereka dengan dendam membara dan berlari meninggalkan mereka. Tawa mereka masih bergema di koridor mengiringi langkahku.
Aku terus berlari sampai tiba di pojokan yang membelok ke arah lukisan Nyonya Gemuk, tempat ruang rekreasi Gryffindor tersembunyi. Aku berhenti dan mengatur nafasku. Aku masih belum bisa bicara, mantra pendiam itu masih berfungsi. Zabini, ini ternyata yang kamu hadapi setiap hari? Aku heran bagaimana kamu bisa bertahan? Aku menghela nafas perlahan. Meskipun kasihan aku tak akan memaafkanmu, Zabini. Aku menginginkan tubuhku kembali.
Iris' POV
Aku berada di kamar anak-anak perempuan menara Gryffindor. Kamar ini luas dengan cat dinding berwarna merah. Jendela-jendelanya lebar memberi pemandangan danau biru di dekat hutan terlarang. Di kamar itu terdapat empat tempat tidur besar berkanopi, dengan selimut dan seprei merah bergambar singa emas Gryffindor. Aku memandang tempat tidur di pojokan dekat jendela yang bertuliskan 'Weasley'. Aku, Rose Weasley, itu tempat tidur aku. Aku membaringkan diri dan menikmati sentuhan lembut selimut dikulitku. Aku tersenyum. Aku senang menjadi Rose Weasley. Sekarang orang-orang akan bicara padaku dengan hormat. Aku akan punya keluarga hangat yang sangat mencintaiku. Aku akan dilindungi oleh mereka semua. Aku tersenyum lagi.
"Rose?" kata sebuah suara dan aku melihat seorang cewek berambut coklat menatapku dengan heran. Siapa,ya? Aku sering melihat cewek ini tapi aku lupa namanya siapa.
"Oh, hai!" kataku tersenyum, bangun dan duduk di tempat tidur.
"Al mencarimu." Katanya.
"Al?" tanyaku heran. Aku belum pernah mendengar nama itu.
Cewek itu menantapku dengan lebih heran lagi. "Albus Potter, Rose. Sepupumu."
"Oh Potter... Albus maksudku Al, buat apa dia mencari aku?"
"Entahlah Rose, kamu bisa bertanya sendiri padanya... dia menunggumu di bawah."
"Oh, baiklah..." aku berjalan menuju pintu.
"Kamu tahu apa yang terjadi dengan 'Si sinting' itu, Rose!"
"Apa?"
"Di kelas Ramuan, kamu kan di kelas Ramuan tadi. Aku dengar 'Si Sinting' itu pingsan."
"Si Sinting?"
"Rose! Ayolah! Aku tahu kamu nggak pernah menyebutnya 'Sinting', tapi aku ingin tahu bagaimana dia bisa pingsang."
"Aku benar-benar nggak tahu apa yang kamu bicarakan." Kataku bingung.
"Rose, aku bicara tentang Zabini, katanya dia pingsan di kelas Ramuan." Kata cewek itu dengan suara yang disabar-sabarkan.
Oh, dia bicara tentang aku?..., dan menyebut aku sinting... Oh, lucu sekali! Aku senang karena semua orang mengenalku, meskipun karena keanehanku. Aku tersenyum suram.
"Rose!"
"Baiklah,... aku nggak tahu mengapa dia !"
"Hah, ayolah Rose, anak-anak bilang kamu semeja dengannya waktu kejadian itu terjadi."
"Aku nggak memperhatikannya... aku... menurutku dia shock berat karena... karena Ramuan Polijus-nya tidak menghasilkan efek apapun."
"Tapi, dia juga nggak berubah jadi kamu kan? Berarti ramuanmu juga nggak benar,ya?"
"Yah, sepertinya begitu... Oh, aku harus menemui Albus sekarang," kataku menghindar.
"Ohya, Rose, aku mau bilang padamu bahwa aku sekarang pacaran ma Al."
"Apa?"
"Kamu nggak tahu, ya... kami baru saja jadian tadi." Kata cewek itu terkikik. Aku merasa sangat ingin mengutuknya menjadi agar-agar.
Al's POV
Aku duduk di kursi di ruang rekreasi sambil memandang perapiaan yang kosong. Ruangan, yang terdiri atas kursi-kursi nyaman dan meja-meja kecil ini, sepi. Hanya ada beberapa anak yang sedang menulis esai dengan menggerutu dan beberapa anak lain yang sedang asyik bermain catur sihir. Kebanyakan anak-anak mungkin menghabiskan waktu mereka di perpustakaan.
Aku merasa hari ini sangat melelahkan dan aneh. Paginya aku dicium dengan tidak menarik oleh Zabini, setelah itu dia pingsan di kelas Ramuan dan aku merasakan keinginan kuat untuk mendekatinya dan memastikan bahwa dia baik-baik saja. Setelah itu, Rose mulai bersikap aneh. Dia hanya terdiam memandang kosong, bahkan tidak menjawab pertanyaan guru sepanjang pelajaran hari ini. Saat makan malam, aku, Hugo dan Lily berbicara dengannya dia hanya mengangguk, tersenyum dan tidak berusaha untuk berbicara dengan kami. Akhirnya, Lily yang sebal mengatainya 'kurang waras'. Rose, dan itu sangat mengherankan kami semua, cuma diam. Rose yang kami kenal pasti akan marah dan memantrai Lily, tapi Rose hari ini, cuma diam dan tersenyum membuat kami semua mengira pasti dia masih shock karena hasil Ramuan Polijusnya tidak seperti yang diinginkan.
Aku duduk di ruang rekreasi ini dan sudah pulahan kali menahan keinginan untuk ke rumah sakit melihat Zabini. Aku bertanya-tanya apakah dia sudah sadar dari pingsannya atau masih pingsan. Aku harus mencari pacar secepatnya kalau tidak mungkin aku akan melakukan hal-hal aneh dan jadi sinting dalam waktu 12 jam.
Pintu ruang rekreasi terbuka. Suzane Finnigan masuk sambil mengibaskan rambut coklatnya. Dia menatapku.
"Hai, Al? Bagaimana kabarmu? Aku dengar kamu putus dengan Arlena Collins." Tanya Suzane sambil duduk di sampingku.
"Yah, aku putus dengannya..."
"Mengapa?"
"Yeah, ada masalah tertentu." Aku tidak mungkin bilang kalau Arlena hanya ingin menjadi populer dengan menjadikan aku pacarnya.
"Oh,..." kata Suzane.
Kami berdiam diri sebentar.
"Apakah kamu sedang dekat dengan seseorang sekarang?" tanya Suzane.
"Nggak ada..." jawabku. Teringat pada Zabini. Tidak Mungkin!
"Bagaimana kalau kamu pergi bersamaku ke Hogsmeade minggu depan?" tanya Suzane dan wajahnya langsung berubah pink.
Aku berfikir sebentar, tidak ada salahnya kan? Suzane bersedia jadi pacarku, jadi aku tidak perlu berkeliling tebar pesona pada cewek-cewek Hufflepuff. "Baik!" kataku. Dia tersenyum mendekatkan diri dan menciumku. Kami berciuman lama, aku membelai rambut coklatnya dan membayangkan aku sedang mencium seseorang berambut hitam. Aku cepat-cepat melepaskan diri dan mengumpat.
"Ada apa?" tanya Suzane terhina.
"Nggak apa! Maafkan aku! Aku teringat sesuatu... aku... aku harus mengerjakan PR Transfigurasiku... Kurasa Rose ada di kamar. Bisakah kamu memanggilnya, dia berjanji untuk membantuku?"
Suzane mengangguk kecewa.
"Baiklah... sampai jumpa besok." Kataku sambil mengecup bibirnya sekilas.
"Aku akan memanggil Rose." Katanya lalu berjalan menuju tangga yang ke kamar anak-anak perempuan.
Iris' POV
Aku menuruni tangga pelan-pelan menuju ruang rekreasi Gryffindor. Aku seharusnya menghindari kedua Potter dan Weasley. Mereka sepertinya sudah menatapku dengan curiga. Ternyata tidak mudah menjadi orang lain. Kau harus tahu semua tentang mereka dan kau harus mengerti apa yang dilakukannya jika dia berada dalam situasi tertentu. Sekarang ini aku sama sekali tidak tahu apapun tentang Rose Weasley. Aku tahu bahwa dia cantik, bahwa dia populer dan banyak cowok yang menyukainya, tetapi aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan kalau sepupunya mengatainya 'kurang waras', misalnya. Aku juga tidak tahu cara dia berbicara dengan teman-teman sekamarnya, cara dia berbicara dengan sepupunya atau dengan guru. Jadi, Aku tidak tahu apa-apa tentang Rose Weasley.
Aku tiba di ruang rekreasi dan melihat Potter sedang memandang perapian dengan pandangan kosong. Dia rupanya sedang memikirkan sesuatu karena dia menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. Aku menatapnya dari kaki tangga. Dia benar-benar tampan, sangat tampan. Bahkan menurutku lebih tampan dari Alan. Rambutnya hitam berkilau, matanya hijau bagaikan aliran sungai yang terpantul daun-daunan dan senyumnya bisa mengalahkan senyuman model iklan pasta gigi di TV komersial Muggle, yang pernah kulihat saat mengunjungi London Muggle.
Potter menolehkan kepalanya dan memandangku. "Rose!"
Yeah, aku Rose Weasley, harusnya aku tidak boleh memandang terpesona pada sepupuku sendiri kan?
"Pott... Albus!" Kataku berjalan mendekatinya.
"Albus?" tanya Potter bingung.
"Apa?" tanyaku lebih bingung.
"Mengapa kamu memanggilku 'Albus'? Kamu tahu aku benci nama itu kan?"
"Hah? Oh... maksudku Al... ya, Al." Kataku sambil tersenyum. Merlin, aku harus lebih hati-hati.
"Kamu harus membantuku mengerjakan PR Transfigurasiku." Kata Potter, memandangku sebentar dengan bingung, kemudian memutuskan untuk melupakan apapun yang ada dipikirannya.
"Oh, baiklah!" kataku.
Dia membuka tasnya dan mengambil beberapa buku dan sebuah perkamen. "Nah?" tanya Potter memandangku.
Aku yang masih memandang tangannya yang panjang dan indah bingung sesaat. "Nah apa?"
"Apa topik untuk essai aku?"
"Oh... bagaimana kalau Perbandingan Transfigurasi Experimental pada Manusia dan pada Hewan?"
"Thanks, Rose!" kata Potter sambil menulis judul itu dibagian atas perkamennya.
Selama beberapa saat kemudian aku membantunya mengerjakan essainya dan menggantikanya menulis kesimpulan saat dia kelelahan.
"Baru kali ini kamu mau menggantikanku menulis, Rose."
Oh, salah lagi... harusnya aku membiarkan dia menulis kesimpulan sendiri,ya? Aku harus lebih hati-hati, kalau tidak dalam waktu dua hari aku sudah ditendang dari asrama Gryffindor.
Potter memandangku dengan teliti dan aku merasakan wajahku memanas.
"Rose, ada apa denganmu? Wajahmu memerah, kamu sakit?" kata Potter, sambil meletakkan tangannya dikeningku. Aku mengibaskan tangannya.
"Ada apa denganmu... Kamu semakin membuatku sebal aja." Kata Potter dengan mata berkilat. "Bilang padaku atau aku akan meneteskan Veritaserum di jus labu kuningmu besok saat sarapan."
"Maaf!" kataku mengerjapkan mata. Menahan tangis. Aku tak tahu mengapa, tapi saat ini aku tiba-tiba ingin menangis. Ini bukan aku. Aku bukan Rose Weasley dan aku tak akan pernah bisa jadi Rose Weasley. Aku adalah Iris Zabini, cewek yang disebut 'sinting' oleh cowok/cewek populer. Aku yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela diriku sendiri dan sekarang karena aku, Rose Weasley terjebak menjadi aku dan mengalami penderitaan yang harusnya aku alami.
"Hei, Rose, mengapa kamu minta maaf padaku?"
"Aku nggak tahu."
"Hah? Kamu ko aneh banget sih, Rose. kamu masih nggak terima ramuan Polijus kamu nggak ada efeknya, ya?"
"Ya,... aku sangat sedih, padahal aku telah bekerja keras selama tiga bulan." Kataku dengan bersemangat menyambar topik ini. Kebetulan! Selama Potter mengira aku shock karena ramuan Polijus itu aku bisa selamat.
"Nggak apa-apa, Rose. Besok semua berjalan seperti biasa lagi." Kata Potter sambil tersenyum.
Aku tersenyum dan menatapnya seperti orang bodoh. Hah! Ternyata aku memang termasuk dalam Albus Potter Fanclub. Fanclub yang diam-diam dibentuk oleh cewek-cewek Hufflepuff.
"Mengapa kamu menatap aku seperti itu?" tanya Potter, memandangku dengan dahi berkerut.
"Hah? Aku menatapmu seperti apa?" tanyaku bingung. Apakah aku kelihatan seperti pungguk yang memandang bulan? Atau burung merak betina yang terpesona pada ekor indah burung merak jantan? Atau harimau yang ingin menerkam mangsanya?
"Kamu memandangku seperti... seperti ingin menciumku." Kata Potter.
APA! Sialan! Hore! inilah dia, salah seorang anggota baru Albus Potter Fanclub! Rose tidak mungkin memandang sepupunya seolah-olah ingin menciumnya kan?
"Eh,... Hahahaha!" aku tertawa tanpa rasa humor. Dan Potter akan mengira bahwa Rose Weasley semakin tidak waras.
"Nah, Rose... kau boleh menciumku kalau kamu mau. Kamu kan sepupu aku. Tapi lupakan itu. aku mau membertahumu bahwa aku dan Suzane jadian."
Oh, jadi cewek yang suka terkikik itu namanya Suzane. Jadian? Jadi apa yang dilakukan oleh anggota Albus Potter Fanclub kalau Albus Potter punya pacar? Apakah harus menangis? Atau eh, yang terpenting, apa yang akan dikatakan Rose Weasley tentang pacar Albus Potter?
"Eh, selamat!" kataku tersenyum.
"Ha? Ku kira kamu nggak suka Suzane?"
Memang aku tidak suka cewek itu. Bagus sekarang aku bisa menyampaikan apa yang ingin ku katakan karena Rose Weasley juga tidak menyukai Suzane.
"Memang aku nggak suka. Cewek aneh, mengikik seperti sedang digelitik. Bertanya kesana-kemari tentang rahasia orang. Mengatai orang 'Sinting', suka bergosip! Membandingkan cowok-cowok tampan dan menggoda mereka. Alan mungkin akan senang dengan tipe cewek seperti ini, tapi aku ngga tampangnya seperti orang utan betina berambut coklat."
"Rose?"
"Aku heran kamu bisa menyukainya. Mungkin saja dia tidak bisa membedakan antara Knarl dan Pixy."
"Rose? Apa maksudmu 'Alan mungkin akan senang dengan tipe cewek seperti ini' Siapa ALan?" tanya Potter.
Upss! Keceplosan!
"Eh, Alan? Siapa Alan? Tadi maksudku Albus... Yeah Albus, bukan Alan! Hehehe"
"Rose, kamu menyebut Alan... Alan? Alan Zabini? Rose, kamu menyukai Alan Zabini?"
Menyukai Alan? Potter, kamu bercanda, ya? Dia tu saudara aku lo!
"Aku tak akan mengijinkanmu menggoda, Zabini, Rose!" kata Potter lagi, "Dan ingat Rose, aku sudah memperingatimu saat sarapan, kalau aku melihatmu mengoda Zabini atau cowok-cowok lain, aku akan mengutuk mereka."
"Wah... Wah, Rose Weasley! Bahagia sekali kelihatannya?" tanya kata sebuah suara dingin di depanku. Aku tidak menyadari ada orang mendekati kami. Aku mengangkat muka dan melihat 'diriku' sendiri sedang memandangku. 'Diriku' ini membawa bau hangus menyengat. Baju hitamnya yang harusnya masih baru itu terbakar dibeberapa tempat dan wajahnya hitam penuh jelaga. Rambut hitamnya juga awut-awutan sama sekali tidak menarik dan matanya abu-abu memandang dingin dan marah.
Rose's POV
Beberapa menit kemudian setelah pengaruh mantra pendiam itu hilang dariku. Aku langsung berjalan menuju lukisan Nyonya Gemuk.
"Missy, anak Slytherin tidak diijinkan dekat-dekat menara Gryffindor." Kata Nyonya Gemuk sambil memandang dasi Slytherinku yang berwarna hijau.
"Cahaya Peri!" kataku mengucapkan kata-kata kunci.
"Walaupun kau mengetahui kata kunci semester ini, aku tetap tidak akan mengijinkanmu masuk!" kata Nyonya Gemuk memandangku dengan kasihan.
"Aku bukannya hendak mencuri barang-barang berharga Gryffindor. Aku Cuma perlu masuk dan bertemu dengan Rose Weasley." Kataku getir sambil menyebut namaku sendiri dengan aneh. Aku datang untuk bertemu diriku sendiri, dimana letak kewajarannya itu?
"Tetap tidak bisa, Missy. Kau harus menunggu anak Gryffindor datang dan kau bisa menyuruhnya memanggil Rose Weasley."
"Ijinkan aku masuk sekarang! Atau aku akan membuat lukisanmu rusak lebih dari yang dilakukan Sirius Black padamu. Ku beritahu, ini hari terburukku dan aku tidak takut pada siapapun." Kataku mengancam Nyonya Gemuk dengan tongkat sihir Zabini.
Nyonya Gemuk terkejut, mundur sedikit ke dalam lukisannya.
"Wah Missy,... OK! Aku akan membiarkanmu masuk. Ini bukan karena aku takut pada ancamanmu, tapi karena kau masih murid Hogwarts jadi tidak apa-apa."
Aku langsung masuk ke ruang rekreasi Gryffindor, memandang berkeliling dan melihat 'Rose Weasley' 'diriku' tersayang sedang berbicara dengan Al di sudut dekat perapian. Tampaknya mereka tidak menyadari kehadiranku.
"Wah... wah, Rose Weasley! Bahagia sekali kelihatannya!" kataku dengan dingin dan memandang mereka dengan tajam.
'Diriku' terkejut dan memandangku dengan menantang dan sedikit ketakutan. Al melompat dari kursinya dan memandangku dengan heran.
"Zabini, apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana kamu bisa masuk?" tanya Al
"Aku tahu kata kunci dan aku harus bicara dengan Rose Weasley." Kataku memandang 'diriku'.
"Tahu kata kunci? Bagaimana bisa? Dan mau apa kamu dengan Rose!"
"Bukan urusanmu, Al." Kataku, kemudian memandang 'diriku'. "Miss Rose Weasley, bisakah kau memberiku sedikit dari waktumu agar aku, Miss Iris Zabini yang malang ini bisa bicara?"
"Eh..." kata diriku terlihat gugup
"Kita bisa bicara diluarkan, Miss Rose Weasley?"
"Eh, aku..." 'diriku' terlihat semakin gugup.
"Keluar sekarang atau kau akan tahu bagaimana rasanya menderita lebih dari yang dilakukan cowok-cowok Ravenclaw brengsek itu padamu?"
"Aku nggak akan membiarkanmu mengancam sepupuku, Zabini."
"DIAM ALBUS SEVERUS POTTER! ATAU AKU AKAN MENGUTUKMU DENGAN KUTUKAN KEPAK KELEWAR DAN KAU AKAN MENYESAL." Teriakku dan anak-anak langsung memandang kami dengan tertarik. "Nah, Miss Weasley, ayo ikut aku!"
Aku menyeret 'diriku' keluar dari ruang rekreasi meninggalkan Al yang berdiri bengong, tak percaya di tengah anak-anak yang memandangnya ingin tahu.
Aku terus menyeret 'diriku' menyusuri koridor sampai kami tiba di ruang kelas pertama yang kosong.
"Nah, kembalikan tubuhku!" kataku setelah menutup pintu dibelakang kami.
"Apa?"
"Jangan pura-pura terkejut begitu, Zabini." Kataku menatap 'diriku' "Sebenarnya aku ingin membunuhmu, tapi aku tak ingin melukai tubuhku."
"Aku nggak bisa." Kata 'diriku'
"Nggak bisa? NGGAK BISA? Ini semua kerjaanmu kan? Bagaimana kamu bisa bilang nggak bisa?"
"Aku menggunakan kutukan Pindah Raga di ramuan Polijus itu dan aku tak tahu kontra kutukan dan bagaimana cara mengembalikan jiwa."
"Begitu, Zabini?" tanyaku dengan suara dingin. "Rupanya kamu menikmati menjadi aku kan? Kurasa yang dikatakan Parkinson tentang kamu pagi tadi, benar."
'Diriku' memandangku dan mengangkat alis.
"Tentang kamu menyukai Al, karena itu jadi kamu mau menjadi aku kan?"
"Sungguh! Percayalah padaku. Aku benar-benar nggak tahu cara kembali ke tubuh kita. Waktu aku cuma menbaca tentang kutukannya dan aku nggak peduli pada kontra kutukannya."
Aku memandang 'diriku' lagi. Aku tidak yakin dia bisa dipercaya atau tidak. Tapi aku tak ingin memaksanya sekarang karena aku sangat capek dan lelah dengan hari ini. Hari ini begitu mengerikan.
"Baiklah... Buku apa yang ada tentang kutukan ini?" tanyaku.
"Meraga Sukma Penghancur Jiwa karya Eyang Sinto Weni. Buku itu diterjemahan dari Bahasa Indonesia... ada di seksi Terlarang perpustakaan."
"Meraga Sukma Penghancur Jiwa. Buku yang aneh! Eyang Sinto Weni rasanya juga adalah nama yang aneh."
"Memang orangnya agak aneh. Orang-orang Indonesia menyebutnya Sinto Gendeng, yang berarti gila." Kata 'diriku' dengan suka rela memberi informasi.
"Sudahlah aku tak ingin membicarakan pengarang yang aneh. Begini saja besok kamu harus menemani aku ke perpustakaan. Kita harus mengambil buku itu."
"Baiklah!" kata 'diriku' sambil memandangku ingin tahu. "Kamu nggak marah padaku?"
"Apa? Marah? Tentu saja marah... Kamu pikir ada orang yang senang berpindah ke tubuh orang lain?"
"Maafkan aku!" kata 'diriku' dengan mata berkaca-kaca.
Oh tidak! Jangan menangis!... Aneh rasanya melihat dirimu sendiri menangis dan kau sama sekali tidak merasa sedih.
"Hei... hei!" kataku memperingatkan.
"Mulanya aku berfikir bahwa menjadi kamu akan sangat menggembirakan. Aku bisa terbebas dari segala penderitaan yang aku alami. Aku bisa menjadi pusat perhatian orang. Orang akan melihat bahwa aku cantik. Aku bisa punya keluarga yang memperhatikan dan menyayangi aku, tapi setelah aku bicara dengan Potter tadi, aku tahu bahwa aku tidak bisa. Aku tidak bisa menjadi kamu. Sejujurnya, aku tahu bahwa aku tidak bisa menjadi orang lain. Aku hanya bisa menjadi diriku sendiri."
"Sudahlah!" kataku.
"Sekarang aku tahu mengapa orang-orang menyukai kamu. Kamu adalah gadis yang baik."
"Walaupun kamu memujiku seperti itu aku belum bisa memaafkanmu lo! Aku akan memantraimu kalau aku sudah kembali ke tubuhku... Nah sekarang berikan tongkat sihirku!"
'Diriku' memandangku dengan aneh, tapi menyusupkan tangan ke dalam jubahnya dan mengambil tongkat sihirku. Dia memberikannya padaku dan aku mengembalikan tongkat sihirnya padanya.
"Aku nggak bisa memakai tongkat sihirmu. Tongkat sihir itu nggak berfungsi untukku." Kataku sambil menimang-nimang tongkat sihirku; 25 centi, kayu Holly dan bulu ekor unicorn. "Avis!" dan beberapa burung kecil yang mencicit keluar dari ujung tongkatku dan terbang dengan riang mengelilingi langit-langit kelas. "Bagus! Sekarang aku bisa membunuh cowok-cowok Ravenclaw itu!"
Aku melihat 'diriku' sedang menimang-nimang tongkat sihirnya sendiri. "Apakah kita harus memberitahu yang lain tentang ini?" tanya 'Diriku'
"Jangan!" kataku, "Kita tidak boleh memberitahu yang lain. Aku tak ingin menciptakan kehebohan."
"Lalu bagaimana kalau Potter bertanya. Dia kelihatannya sudah curiga tentang aku."
"Kamu harus berusaha untuk tutup mulut. OK! Dan jangan bicara yang aneh-aneh yang membuat orang lain curiga. Kalau ada yang bertanya macam-macam bilang saja sekarang aku berteman denganmu. OK?"
'Diriku' tersenyum dan dia kelihatan sangat manis dan cantik. Hah? Narsis! Aku heran, kok sampai saat ini aku belum dapat pacar, ya? Ini memang kerjaan sepupu-sepupuku yang super proktektif. Sabar... sabar! Tidak lama lagi ku bisa kembali berburu cowok.
"Baik! Kamu bisa kembali ke Gryffindor sekarang!" kataku.
'Diriku' tersenyum lagi dan keluar ruangan sambil melambai padaku. Dan aku masih mencoba beberapa mantra pada tongkat sihirku, setelah puas aku berjalan menuju ruang bawah tanah ke ruang rekreasi Slytherin.
Scorpius' POV
Jam sebelas kurang. Malam ini hening, aku baru saja dari perpustakaan mengerjakan esai Transfigurasi super sulit tentang Transfigurasi Eksperimental. Alan yang sudah selesai dan merasa cukup dengan nilai Acceptable, mengabiskan waktunya di perpustakaan dengan mencium Christine Deverill, cewek Ravenclaw yang super sexy. Mereka menghilang dari perpustakaan satu jam kemudian setelah dipelototi dengan ganas oleh Lily Potter, yang merasa terganggu oleh bunyi ciuman mereka. Hugo Weasley yang duduk di sebelahnya mendengus tak sabar. Aku hanya tersenyum memandang mereka dan mengangguk pada Alan yang langsung menyeret Deverill pergi.
Aku berjalan menyusuri koridor ruang bawah tanah tanpa terjadi apa-apa. Tapi sesuatu yang lucu menjadi pandangan yang menutupi kesuraman ruang bawah tanah ketika aku tiba di tembok batu yang bisa berubah menjadi pintu untuk masuk ke ruang rekreasi Slytherin. Iris sedang berdiri menatap tembok batu dengan wajah hitam penuh jelaga dan jubah yang separuh terbakar. Dia sedang mencoba kata-kata kunci aneh untuk masuk ke ruang rekreasi. Apakah otaknya begitu bodoh? Masa dia melupakan kata kunci untuk semester ini?
"OK! Slytherin Tampan... baik... bukan, ya? Ngg, Darah Murni Sempurna? Bukan juga? Bagaimana kalau Cinta Slytherin?" kata Iris pada dinding batu
Aku langsung tertawa terbahak-bahak. Benar-benar lucu! Iris langsung berbalik menatapku.
"Apa yang lucu, Vampir?" tanya Iris, langsung membuatku berhenti tertawa. Apa? Vampir? Ini Iris kan? Kok jadi aneh begini? Pasti kepalanya terbentur terlalu keras.
"Hai, Iris, ku lihat kamu sedang belajar membuat kalimat, ya!"
"Oh ayolah, Vampir, aku tidak sedang ingin melawak sekarang. Aku capek. Beritahu aku kata kuncinya."
Brengsek nih cewek! Kok aneh banget... Kalau tidak mengingat Alan sudah ku kutuk menjadi tikus.
"Baik...Baik, Banshee!" kataku. "Severus Snape." Dan tembok kosong itu langsung berubah menjadi pintu.
Iris langsung masuk lebih dulu ke ruang rekreasi. Dia memandang sekeliling dengan bingung. Ruang rekreasi kami adalah ruangan luas dengan sofa-sofa hijau lembut mengelilingi meja kecil. Di sudut dinding terdapat dua lemari buku berisi buku-buku bacaan. Meskipun di ruang bawah tanah, tapi kami punya jendela-jendela kaca di sudut-sudut ruangan, yang memberi pemandangan bawah danau yang menakjubkan. Jadi, kami bisa memandang ikan-ikan dan kadang-kadang si cumi-cumi raksasa atau manusia duyung.
"Yang mana pintu ke kamar anak-anak perempuan?" tanya Iris bingung memandang dua pintu di depannya.
"Yang kiri." Jawabku. Apakah Madam Darnsley tidak bisa menyembuhkan Iris? Wah, Alan pasti akan sedih sekali kalau tahu. Aku memandang Iris membuka pintu yang kiri dan menghilang ke dalamnya, lalu aku bergegas menuju kamarku sendiri.
Kamar anak laki-laki Slytherin adalah kamar bercat hijau yang terdiri dari empat tempat tidur. Alan, Vincent dan Patrick sudah mengisi tiga tempat tidur sambil mendengkur keras. Aku memakai piyamaku dan sudah setengah tertidur ketika pintu kamar terbuka dan Iris berdiri bingung di dekat pintu, memandang berkeliling. Wajahnya telah bersih dari jelaga dan dia mengenakan baju tidur hijau bergambar ular perak Slytherin. Aku langsung terduduk di tempat tidur.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanyaku.
"Ranjang di kamar anak-anak perempuan cuma dua dan ranjangku nggak ada." Katanya.
"Aku nggak tahu..."
"Ku kira ini kerjaan kaliankan? Mau mempermainkan aku kan?" dia langsung menuduh dengan mata menyala-nyala.
"Hei, jangan sembarang menuduh orang!"
"Aku nggak mau tidur di lantai, Vampir. Aku... Wingardium Laviosa!" katanya sambil mengacungkan tongkat sihirnya pada tempat tidur Alan. Alan yang sedang tertidur pulas langsung terangkat dari tempat tidur dan melayang-layang di langit-langit kamar. Dia meletakkan Alan di lantai dan langsung naik ke tempat tidur Alan.
"Selamat tidur, Vampir!" katanya langsung menyelubungi dirinya dengan selimut Alan.
Aku duduk di tempat tidurku dengan mulut terbuka, heran.
Review Please!
Ch ini agak kepanjangan,ya? Tapi aku suka dengan karakter Rose, dia lucu! :p
Rama Diggory Malfoy: Alex/Lily nanti nyusul! :p
Riwa Rambu
