ROSE WEASLEY AND IRIS ZABINI

Thanks semua dah baca Fanfic ini! winey, Rama Diggory Malfoy, yanchan, Putri: thanks review,ya! :D aniranzracz: thanks nasihatx :D Aleysa GDH: thanks saranx, dicoba nanti! :D


Keanehan

Disclaimer: JK Rowling

Rose's POV

"BANGUN! CEWEK BRENGSEK!" suara teriakan keras disertai hentakan kuat pada tubuhku membuatku terbangun.

Aku duduk sambil mengerjapkan mata, terlihat bayangan samar seseorang. Mengerjapkan mata lagi, aku melihat Zabini berdiri di depanku dengan rambut hitam awut-awutan dan mata abu-abu marah.

"Apa-apaan ini, Zab... Alan?" tanyaku mencoba memulihkan kesadaranku. Memandang sekelilingku, aku melihat cowok-cowok Slytherin. Malfoy, yang mirip vampir; Goyle, yang berbadan besar; dan cowok satunya lagi kalau tidak salah namanya Macnair; mereka sudah bangun dan memandangku dan Zabini ingin tahu. Malfoy tersenyum kecut.

"APA-APAAN INI? Kamu tanya apa-apaan ini? Mengapa kamu merampas ranjangku dan membuatku tidur di lantai?" tanya Zabini.

"Masih baik aku membuatmu tidur di lantai, sebenarnya aku berencana melemparkanmu ke danau," kataku. Emangnya cuma dia yang bisa marah? Aku tidak memiliki ranjang dan ini kerjaan mereka semua.

"APA?" tanya Zabini kaget. Dia memundur beberapa langkah ke arah ranjang Malfoy, dan memandang tidak percaya padaku. Aku balas menatapnya dengan ganas.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Zabini pada Malfoy. Malfoy menggeleng dan mereka semua (Goyle dan Macnair juga) memandangku dengan aneh.

Aku tidak akan membiarkan kalian semua mempermainkan Zabini... Iris lagi. Kalian Slytherin akan melihat apa yang akan terjadi dengan kalian.

"Nah Alan, sekarang katakan dimana ranjangku?" tanyaku.

"Ranjangmu? Mengapa aku harus tau dimana ranjangmu?" tanya Zabini bingung.

"Baik, Alan! Kalau kamu memang tetap menutup mulut dan membela teman-temanmu yang brengsek ini," aku memandang Malfoy, Goyle dan Macnair, "Aku akan terus tidur di ranjangmu sampai ranjang aku ketemu."

"Hei, cewek aneh! Apa maksudmu dengan brengsek tadi?" tanya Macnair.

"Sudahlah, Patrick, dia lagi sakit," kata Zabini.

"Membela aku sekarang, Alan?" tanyaku. "Aku sama sekali sehat, Macnair dan yang aku bilang brengsek adalah kalian semua."

"Hei!" kata Goyle.

"Dasar cewek nggak tahu diri!"

"Nggak tahu diri? Nggak tahu diri? Aku cukup tahu diriku, lho, Macnair. Dan aku cukup tahu kalian semua sebagai orang brengsek yang hanya berani sama cewek lemah."

"Hah, benar-benar sinting! Aku mau sarapan," katanya lalu keluar kamar.

"Bagus! Sekarang jawab Alan! Dimana ranjang aku?"

"Jangan menuduhku sembarangan, dong! Aku benar-benar nggak tahu," kata Alan

"Baik, dan aku akan tidur di ranjang kamu sampai ranjang aku ketemu!" kataku.

"Aku tak akan membiarkanmu tidur di sini lagi. Ini ranjangku dan ini kamar anak-anak laki-laki."

"Aku nggak peduli! Mau kamar anak laki-laki kek mau kamar orang brengsek kek, yang penting aku bisa tidur di ranjang. Siapkan dirimu untuk tidur di lantai lagi ntar malam, Alan," kataku lalu keluar meninggalkan kamar menuju kamar anak-anak perempuan.

Kamar anak perepuan Slytherin adalah hampir sama dengan kamar anak-anak perempuan Gryffindor hanya cat dindingnya yang beda. Gryffindor: merah dan Slytherin: hijau. Aku masuk ke kamar dan melihat bahwa Parkinson dan Nott sudah bangun. Aku tak ingin bicara dengan mereka, jadi aku masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Saat aku keluar kamar mandi, Parkinson dan Nott sedang terkikik. Mereka sepertinya sedang merencanakan sesuatu. Cobaku lihat apa yang kalian rencanakan untuk aku!

Aku menuju lemari pakaian besar yang bertuliskan 'Zabini' di sudut kamar, dan membukanya. Lemari itu kosong. Tak ada sepotongpun jubah atau pakaian lain. Aku memutup mata, berpikir bahwa mungkin salah lihat. Aku membuka mata, lemari itu tetap aku harus mengikuti kelas dengan jubah mandi? Aku mengambil tongkatkan sihirku dan menggumamkam Specialis revelio pada lemari itu. Mungkin saja ada mantra tersembunyi atau apa, tetapi tidak terjadi apa-apa. Aku membuka laci-laci kecil di bagian bawah lemari, cuma ada beberapa pakaian dalam. Yang penting aku tidak telanjang. Setelah aku memakai pakaian dalam Zabini, aku berbalik menatap Nott dan Parkinson. Mereka masih terkikik memandangku. Oh, jadi ini kerjaan mereka berdua? Dasar nenek sihir! OK! Kalian ingin bermain-main dengan aku? Kita lihat apa yang bisa kalian lakukan. Aku mempersiapkan tongkat sihirku.

"Baik! Parkinson, Nott mana pakaianku?" tanyaku memandang mereka dengan tersenyum.

"Mengapa kami harus tahu di mana pakaianmu, Zabini?" tanya Parkinson.

"Kalian yang sembunyikan pakaianku kan? Ngaku aja!"

"Ngaku aja? Hahaha! Lihat, Emily! Si Sinting ini sudah berani pada kita," kata Nott.

"Benar, Linda... Lihat! Dia melotot pada kita!" kata Parkinson, lalu mereka berdua mulai terkikik lagi.

Aku menunggu sampai kikik mereka reda. "Nah, di mana pakaianku?" tanyaku lagi.

"Kalau kami nggak mau bilang, kamu mau apa?" tanya Nott.

"Aku sedang bertanya dengan ramah, Nott. Dan aku berharap kamu juga menjawabku dengan ramah," kataku pura-pura tersenyum.

"Hohoho, mengajari kami bersikap ramah sekarang, Zabini?"

"Baik! Kalian nggak mau memberitahu dimana pakaian aku meskipun aku telah bertanya dengan ramah. Nah, sekarang dimana pakaian aku?" tanyaku dengan suara dingin.

"Mau memantrai kami, Zabini? Ayo! Ayo! Aku ingin lihat..." tanya Nott.

Aku memikirkan Levicorpus dan cahaya menyambar dari tongkat sihirku ke arah Nott.

"Aaaaaaargh!" Nott menjerit dan lansung tergantung terbalik di udara.

"APA YANG KAMU LAKUKAN?" teriak Parkinson mendekati Nott dan mencoba menurunkannya.

"TURUNKAN AKU, CEWEK ANEH!" teriak Nott.

"Nah!" kataku, berjalan mendekati mereka. "Di mana pakaianku?"

"Kami nggak tau,"

"Baik! Aku akan membiarkanmu tergantung seperti ini seharian. Kemudian aku akan memanggil semua anak untuk menontonmu," kataku menakuti Nott. Hal yang paling ditakuti oleh cewek-cewek seperti mereka ini adalah terlihat memalukan di depan umum.

"Kamu nggak mungkin melakukannya," kata Parkinson.

"Aku akan melakukannya," kataku.

"Pakaiannya sudah nggak ada, sudah dibakar," kata Nott.

"Kalian... kalian membakar pakaianku?"

"Ya!" jawab Parkinson dengan takut-takut.

"Sialan!" kataku. Kemudian aku menurunkan Nott dan menyihir rambut mereka (Parkinson juga) menjadi biru menyala.

"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanya Parkinson, memandang rambutnya dicermin.

"Ini hukuman karena telah membakar pakaianku dan rambut kalian akan kembali ke warna aslinya saat makan malam,"

"Kami nggak mungkin keluar sarapan dengan rambut begini," kata Nott, mencoba menyihir rambutnya, tapi tidak terjadi apa-apa.

"Aku kan sudah bilang saat makan malam nanti rambut kalian akan kembali lagi ke warna aslinya,"

"Kamu benar-benar kurang ajar... Tarantallegra!" teriak Nott. Dan aku menghindar dengan gesit tepat pada waktunya sehingga mantra Nott menghantam lemari di belakangku dengan bunyi yang memekakkan telinga.

"Rictucempra!" teriakku dan Nott yang kurang gesit langsung terkena Mantra Gelitik itu di perut. Nott langsung terkikik berkepanjangan membuat Parkinson menatapku dengan heran.

"Apa? Efeknya cuma sebentar, dia sudah akan kembali normal dalam waktu dua jam," kataku memberitahu Parkinson.

"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Parkinson.

"Apa yang terjadi denganku?"

"Kamu biasanya tidak seperi ini. kami sudah sering membakar pakaianmu, tapi kamu nggak pernah memantrai kami,"

"Sekarang berubah, Parkinson. Dan aku aku masih punya beberapa mantra dan kutukan yang kalian belum pernah tahu. Jadi, jangan coba-coba mengganggu aku lagi,"

Aku memandang mereka dengan tajam, menekankan kata-kataku. Kemudian keluar menuju kamar anak-anak laki-laki.

"Alan!" seruku sambil membuka pintu, mengagetkan Malfoy dan Alan yang sedang berganti pakaian.

"Brengsek!" seru Malfoy, cepat-cepat menarik celana panjangnya ke pinggang.

"Apa?" tanya Alan yang sedang mengancingkan kemejanya sebelum memakai jubah hitam Hogwarts.

"Aku nggak punya baju," jawabku, memandang Malfoy yang bertelanjang dada.

"Suka, Iris?" kata Malfoy, sambil menunjuk dadanya yang bidang bagus, hasil latihan Quidditch.

"Dimimpimu, Vampir!" jawabku, kembali memandang Alan. "Alan, aku nggak punya baju,"

"Lalu kamu mau aku gimana?" tanya Alan.

"Aku mau pinjam baju. Aku nggak mungkin mengikuti pelajaran pakai jubah mandi,"

"Aku nggak punya baju," kata Alan, menghalangi pandanganku ke lemarinya.

"Aku akan memeriksanya," kataku, berlari ke lemari Alan dan Alan bergerak gesit menyambar pinggangku dan menahanku.

"Kamu nggak boleh pakai baju aku, itu baju-baju kesayanganku, aku nggak mau kamu merusaknya dalam waktu satu hari,"

"Brengsek, Alan, lepaskan aku!" jeritku, mencoba melepaskan diri dari Alan, tapi dia lebih kuat.

"Lepaskan dia, Alan!" kata Malfoy yang sudah memasang dasi Slytherin-nya dan sedang sedang memakai jubah hitam Hogwarts.

"Ya, supaya dia menghancurkan koleksi baju-bajuku," kata Alan dengan kuat menahanku yang merontak-rontak, seperti ayam yang mencoba melepaskan diri dari orang yang hendak menjadikannya sup ayam.

"Aku nggak akan merusak bajumu. Aku cuma butuh satu kemaja dan satu celana pendek,"

" Nggak akan!" kata Alan.

"Kamu boleh pakai baju aku, Banshee," kata Malfoy.

"Apa, Vampir?" tanyaku berhenti bergerak.

"Ya, kamu boleh pakai baju Scorps," kata Alan melepaskanku.

Malfoy berjalan ke lemari besar yang bertuliskan 'Malfoy' dan mengeluarkan kemeja putih bersih dan celana pendek, lalu memberikannya padaku.

"Kamu harus menyihirnya menjadi kecil supaya muat ditubuhmu!" kata Malfoy, menyerahkan celana pendek.

"Vampir, kamu benar-benar baik!" kataku

"Biasa aja lagi... Dulu kamu juga sering pakai baju aku waktu masih kecil. Kitakan sudah seperti kakak-beradik,"

"Ma kasih banyak Brother Vampir!" kataku tersenyum.

"Sama-sama, Banshee!"

"Mengapa kamu memanggilku 'Banshee'?"

"Mengapa kamu memanggilku 'Vampir'?" tanya Malfoy.

"Ya, kamu kan memang mirip Vampir. Lihat aja kulitmu yang pucat, kulit begitukan kulit vampir,"

"Hahaha, cocok sekali, Scorps!"

"Diam, Alan!"

"Mengapa kamu memanggilku 'Banshee'? Aku nggak ada mirip-miripnya dengan Banshee, aku nggak mirip kerangka dan nggak pucat,"

"Coba aja kamu berteriak! Teriakanmu seperti lolongan Banshee!"

"Brengsek! Kamu hanya mengada-ada saja supaya bisa membalas aku kan?"

"Terserah apa yang kamu pikirkan, Banshee!"

Aku melotot pada Malfoy. Malfoy mengabaikanku.

"Yuk, sarapan!" katanya pada Alan.

Mereka sudah berjalan ke pintu ketika aku teringat sesuatu, "Hei, aku nggak punya jubah,"

"Kami nggak bisa meminjamkanmu jubah penyihir pria kan?" tanya Alan.

"Harus, Alan!" kataku berjalan menuju lemari Alan.

"JANGAN SENTUH JUBAHKU!" teriak Alan, cepat-cepat menyingkirkan aku dari lemarinya.

"Banshee, kamu boleh ambil jubah di lemari aku. Kayaknya ada jubah lamaku yang kekecilan," kata Malfoy sambil berjalan menuju pintu. Meninggalkan aku dan Alan yang masih bergulat (Aku: mencoba untuk menggapai lemarinya, Alan: menahanku agar tidak merusak pakaiannya yang berharga).


Iris' POV

Aku turun ke Aula Depan tanpa bertemu siapapun. Rupanya, anak Gryffindor yang lain telah turun sarapan. Aku melewati meja Slytherin. Weasley... Rose belum kelihatan. Aku juga tidak melihat Parkinson dan Nott. Aku cuma melihat Goyle yang sedang asyik menikmati bubur gandumnya. Kemana mereka semua?

Aku berjalan perlahan melewati meja Slytherin, anak-anak di Aula mulai memandangku. Aku berjalan melewati meja Ravenclaw, anak-anak masih memandangku. Aku melewati meja Hufflepuff, anak-anak mulai terkikik. Hah? Apa yang kulakukan? Aku berjalan cepat menuju meja Gryffindor dan duduk di samping Lily Potter yang memandangku dengan mulut terbuka.

"Rose, apa yang terjadi dengan rambutmu?" tanya Lily Potter memandang rambutku.

"Rambutku? Ada apa dengan rambutku?" tanyaku sambil menyentuh untaian pita yang menjuntai dari rambutku. Hari ini memang aku mengikat rambut merah Rose menjadi beberapa bagian dan menghiasnya dengan pita-pita yang berjuntai.

"Lihat juga wajahnya!" kata Potter... Albus, sambil mengangkat daguku dan memperhatikan riasan di wajahku. Mata hijau cemerlangnya memeriksa riasanku dengan seksama. Maafkan aku, teman-teman di Albus Potter Fanclub biarkan aku menikmati memandang wajah Albus Potter dari dekat untuk sesaat. Beberapa saat kemudian Albus melepaskan daguku dan aku langsung merasa kehilangan.

"Rose, kamu mirip ondel-ondel yang kulihat di Jakarta saat kita berkunjung ke Indonesia musim panas lalu," kata Hugo Weasley.

"Ondel-ondel?"

"Ya, ondel-ondel, Rose. Dan jangan bilang kamu nggak tahu ondel-ondel!" kata Weasley.

"Aku cuma pake make-up sedikit, kok!" kataku sambil memandang bayanganku di sendok.

"Sedikit? Rose ini bukan sedikit, ini... apa,ya?" kata Lily Potter.

"Banyak?" saran Weasley.

"Ya, kebanyakkan. Kamu seperti nggak pernah pake make-up aja," kata Lily Potter.

"Aku memang belum... Eh, maksudku aku lupa!"

Albus, Potter dan Weasley... Harusnya aku memanggil mereka dengan nama depan. Jadi, Albus, Lily dan Weasley memandangku dengan aneh, seperti melihat Acromantula yang tidak memiliki enam kaki.

Tiba-tiba kikik di Aula Besar menjadi tawa keras. Aku berbalik, memandang ke arah pintu aula dan melihat 'diriku'... Rose muncul bersama Alan. Rose, setelah aku perhatikan lagi dengan lebih seksama, memakai jubah penyihir pria. Pantas saja anak-anak menertawakannya. Sepertinya bukan jubah Alan, karena Alan tak akan pernah mengijinkan aku dekat-dekat lemari pakaiannya. Mungkin punya Scorpius.

"Memandang Zabini, Rose?" tanya Albus, memandangku dengan menuduh.

"Apa? Zabini?"

"Rose, kamu memandang Zabini? Kamu suka Zabini?" tanya Hugo keras, membuat anak-anak yang duduk dekat situ memandang kami dengan ingin tahu.

"Aku nggak suka Alan, maksudku Zabini, aku memandang Ros... Iris Zabini."

"Iris atau Alan, Rose?" tuduh Albus.

"Hei, aku..."

"Rose, aku tahu kamu memang berniat mencari pacar tahun ini, tapi kalau Zabini... Rose, dia berciuman dengan Christine Deverill di perpustakaan," kata Lily.

"Hah? Jadi Alan... Alan dan Deverill?" tanyaku kaget sambil melemparkan pandangan ke meja Slytherin. Bukankah Alan pernah bilang Deverill cewek menyebalkan?

"Rose, kamu shock kan? Memang itu kenyataannya... Jadi, menjauhlah dari Zabini," kata Lily.

"Oh, baiklah..." kataku pada Lily. Aku masih belum percaya. Aku lebih suka Gladys Narracott, pacar Alan yang sebelumnya, karena Gladys lebih ramah padaku. Tapi Deverill... Ya, ampun Alan, cewek itu menyebalkan. Dia dan teman-teman Ravenclaw-nya pernah mengunciku di kamar mandi.

"Ayo, Rose, jangan hanya memandang Zabini saja! Jam pertama Herbologi kan?" kata Albus mengagetkanku.

"Ya, kamu benar, Albus," kataku, masih memandang Alan, sehingga tidak memperhatikan wajah Albus yang memerah karena marah.

"Ayo... Apa?" tanyaku setelah memandang Albus.

"Mengapa kamu memanggilku 'Albus'? Aku nggak suka nama itu, Rose."

"Mengapa kamu nggak suka nama itu? Aku rasa nama itu manis."

"Nama itu manis? Rose, benar kata Lily kamu memang kurang waras!" kata Albus, menyambar tasnya dan meninggalkan meja Gryffindor.

"Kenapa dia?" tanyaku tak mengerti.

"Kamu yang kenapa, Rose? Kamu tahu Al benci dipanggil Albus," kata Hugo.

"Oh..."

"Kamu harus minta maaf padanya sekarang juga, Rose! Karena Al bisa marah sampai berhari-hari," kata Lily.

"Baiklah... kalau gitu aku ke kelas Herbologi sekarang. Aku mungkin bisa minta maaf sebelum diserang Tentakula Berbisa," kataku sambil menyambar tasku dan berjalan keluar Aula.

Aku sudah sampai di Aula Depan ketika Rose, yang tiba-tiba muncul dibelakangku, menyambar lenganku dan membawaku ke toilet rusak di lantai dua. Toilet itu adalah toilet yang menjadi tempat hantu perempuan berkacamata, Myrtle Merana.

"Aku nggak suka toilet ini, di sini suram," kataku pada Rose.

"Aku juga nggak suka, tapi ini tempat yang baik untuk bertemu," kata Rose, "Sekarang buka rambutmu!"

"Apa?"

"Buka! Kamu membuatku terlihat seperti orang gila... Cepat buka!"

Aku mendengus dengan tidak sabar dan melepaskan ikatan pita-pita di rambutku.

"Cuci muka!" perintah Rose lagi

"Baik!" kataku, berjalan ke arah wastafel yang tampaknya masih bagus dan mencuci muka.

"Nah, begitu baru cantik," kata Rose.

"Mengapa kamu pakai itu?" tanyaku memandang jubah penyihir pria yang dipakai Rose.

"Punya Si Vampir. Nott dan Parkinson membakar semua baju-bajumu." Kata Rose.

"Mereka memang sering melakukannya..."

"Kamu ini lemah banget, sih... Kamu mau aja dipermainkan orang,"

"Aku nggak... Aku nggak punya kepercayaan diri seperti kamu," kataku, mengerjap menahan airmata yang hampir jatuh.

"Baik! Jangan mulai menangis lagi! Aku sudah membereskan mereka," kata Rose.

"Benarkah?"

"Hari ini mereka nggak berani keluar karena rambut mereka biru,"

"Apa?" tanyaku kaget. Kami berpandangan dan mulai tertawa sampai kami tersedak.

"Kamu juga nggak punya ranjang," kata Rose setelah kami berhenti tertawa.

"Nott dan Parkinson. Mereka yang menyembunyikan ranjangku," kataku teringat kejadian minggu lalu. Aku tidur di lantai selama dua hari.

"Jadi ini kerjaan dua cewek menyebalkan itu?"

"Ya... Mereka memang selalu seperti itu,"

"Nggak pa-pa. Aku akan membereskan mereka nanti... Bagaimana keluargaku?"

"Mereka baik-baik saja. Albus marah padaku."

"Apa? Apa yang terjadi?"

"Aku memanggilnya 'Albus' dan dia marah."

"Merlin, Iris! Al benci nama itu... Kamu harus minta maaf nanti," kata Rose.

"Lily juga bilang begitu,"

"Trus gimana nih? Aku nggak punya baju. Masa aku harus pake baju Si Vampir terus," kata Rose.

"Aku akan menulis surat pada, Mom, agar menyuruh Trincer, Peri Rumah kami, membawa baju-baju aku,"

"Oh, syukurlah... aku sudah membayangkan memakai baju si Vampir selamanya. Ngomong-ngomong, kenapa Alan nggak mengijinkanmu dekat-dekat lemari bajunya?"

Aku tertawa teringat kejadian masa kecil, "Waktu kecil aku selalu memakai baju Alan dan didandani sebagai anak laki-laki, karena Mom dan Dad selalu ingin anak laki-laki. Baju-bajuku selalu rusak dan robek dalam beberapa hari saja. Lalu Mom mengambil baju-baju Alan dan memberikannya padaku, tapi nggak sampai beberapa hari baju itu juga robek. Jadi, Alan nggak mau aku pake baju-bajunya lagi. Sejak itu, Mom membelikan aku baju anak perempuan dan aku membiarkan rambutku panjang agar beda dari Alan."

"Pantas saja dia nggak mau kamu menyentuh lemarinya,"

"Ini jubah Scorpius, ya?" tanyaku memandang jubah pria yang dikenakan Rose.

"Benar! Kemeja dan celana pendek juga punya dia... Nggak nyaman banget pake baju cowok,"

"Aku akan menulis pada Mom secepatnya, habis Herbologi pagi ini," kataku menenangkan Rose.

Rose mengangguk, "Ntar malam kita ketemuan di perpus, ya. Kita harus mencari buku Meraga Sukma Memindahkan Jazad atau apa judulnya..."

"Meraga Sukma Penghancur Jiwa,"

"Ya itu... Kita bertemu habis makan malam, jam setengah sepuluh gimana? Jam begitu perpus sepi."

"Baiklah, jam setengah sepuluh," kataku, "Kita ke Herbologi sekarang, yuk! Aku harus minta maaf pada Albus."

"Baiklah..."

Kami berdua berjalan bersama keluar toilet. Syukurlah, anak-anak lain masih sarapan di Aula Besar. Kalau tidak, mereka akan bertanya-tanya, mengapa Rose Weasley cewek cantik dan populer berjalan bersama cewek sinting, Iris Zabini.

"Aku harus ke Aula Besar mengambil tasku," kata Rose membelok ke kiri saat kami tiba di Aula Depan.

"Sampai jumpa!" kataku melambai pada Rose lalu berjalan keluar pintu depan menuju rumah kaca.


Al's POV

Rasanya memang ada yang aneh pada Rose. Aku terus memikirkan itu sambil berjalan ke rumah kaca 15, tempat kami menyelesaikan proyek kami; menjadikan Rafflesia arnoldii, bunga raksasa yang baunya seperti bangkai menjadi bunga indah berbau harum. Bunga ini diimpor dari Indonesia oleh ahli Herbologi, Arnoldus Raffles. Menurut Profesor Longbottom, Rafflesia arnoldii dapat dipajang di gedung-gedung besar seperti Kementrian Sihir sebagai pengharum ruangan karena harum bunga ini bisa bertahan selama setahun. Jadi, tugas kami selama dua bulan ini adalah memberikan tanaman itu pupuk yang tepat (kelopak mawar), memyiramnya dengan sari bunga mawar dan bunga-bunga harum lainnya, merawatnya dengan seksama dan hati-hati dengan mantra-mantra tertentu agar baunya menjadi harum dan bisa dipajang di Aula Depan. Menurutku, bunga itu sebaiknya dihancurkan saja.

Aku duduk menaburkan kelopak mawar dipermukaan Rafflesia arnoldii. Pikiranku kembali pada Rose. Seperti yang ku perhatikan sejak kemarin ada yang aneh pada Rose. Apakah memang gara-gara ramuan Polijusnya yang salah atau memang sudah saatnya dia bersikap aneh. Weasley kadang-kadang memang suka bersikap aneh, apalagi Uncle Ron.

"Al!" Rose memasuki rumah kaca sambil berlari-lari kecil mendekatiku, melewati bunga-bunga Rafflesia arnoldii yang tumbuh melebar di dalam rumah kaca. Aku memandangnya cemas, harusnya dia tidak berlari-lari di dalam rumah kaca kan? Bisa saja, dia tergelincir oleh sari mawar yang tumpah di lantai atau tersandung pot... dan benarkan?

"AWAS!" teriakku. Rose yang sibuk memperhatikanku tersandung pot yang berisi kelopak mawar.

"Ouchh!" jerit Rose, melayang ke tanah.

Sedetik waktu untuk berfikir. Sesaat kemudian aku telah meluncur di lantai rumah kaca, menjadi penghalang antara Rose dan lantai. Rose jatuh tepat di atasku. Kami bertatapan. Satu detik... dua detik... lima detik. Ini Rose, sepupuku. Kami masih bertatapan. Kuasai dirimu, man! Kau tidak berniat mencium sepupumu di rumah kaca kan? Kami masih bertatapan. Suzane! Ingat Suzane! Dia pacarmu kan? Kami masih bertatapan. Atau... atau Zabini? Ya, rambut hitam Iris Zabini yang indah dan bibirnya yang lembut? Kami masih bertatapan. Ini Rose Weasley, sepupuku... kami sering berdekatan seperti ini sebelumnya, tapi belum pernah rasanya seperti ini. Jantungku berdebar kencang seperti berlari ribuan mil dalan waktu beberapa detik.

"Oh!" Rose berdiri dan mundur beberapa langkah. Aku juga berdiri bingung seperti baru dihantam oleh pemukul Beater dikepala.

"Terima kasih, Albus... eh Al!"

"Kamu boleh memanggilku 'Albus'!" APA? Apa yang kukatakan aku kan benci nama itu. Oh, Merlin, aku sudah gila! Masa aku berdebar-debar dengan sepupuku sendiri? Biarkan aku melompat dari menara Astronomi malam ini!

"Oh, bagus! Albus... Albus..." Rose menyebut namaku seperti belum pernah menyebutnya. Anehnya, aku semakin berdebar-debar. Bunuh diri sekarang, Al!

Rose menoleh memandang Rafflesia arnoldii yang tadi sedang kutaburi kelopak mawar.

"Oh, kamu sudah menaburinya kelopak mawar?" tanya Rose.

Aku memandang Rose dan melihat rambutnya penuh kelopak mawar dari pot tadi. Aku mengulurkan tangan dan membersihkan kelopak mawar dirambutnya dengan tangan gemetar.

"Nggak pa-pa! Aku bisa membersihkannya sendiri," kata Rose menghindar, tepat pada waktunya karena anak-anak lain telah tiba dan menuju bunga mereka masing-masing. Apa pendapat anak-anak lain kalau melihat Albus Potter sedang membersihkan bunga di rambut sepupunya dengan tangan gemetar? Hah, ini tidak boleh terjadi!

Aku berjalan kembali ke tempatku semula diikuti oleh Rose dan, yang mebuatku terkejut, Iris Zabini dan Alan Zabini. Malfoy dan Goyle bergabung bersama dua cewek Hufflepuff.

"Hai!" kata Iris Zabini, sok akrab.

"Hai!" balas Rose, seolah mereka telah berteman seumur hidup.

Aku dan Alan Zabini berpandangan.

"Kalian yakin pupuk kelopak mawar dan sari mawar bisa membuat bunga ini harum?" tanya Iris Zabini sok tahu. "Tampaknya perlu bertahun-tahun bukan dua bulan seperti yang dikatakan Longbottom."

"Tentu saja, kalau Profesor Longbottom bilang seperti itu, berarti begitu kan?" kataku, memandang Rose, yang sedang memandang Alan Zabini. Kemarahan yang panas membara langsung membakar dadaku. Rose menyukai brengsek itu?

"Ayolah, Al! Aku tahu kamu nggak percaya apa yang dikatakan Longbottom!" kata Iris Zabini.

"Jangan sok akrab denganku, Zabini!" kataku.

"Jangan marah-marah begitu, dong!" kata Iris Zabini, meminju lenganku pelan. Aku tidak merasakan apa-apa? Tidak berdebar-debar atau apapun.

"Coba pegang tanganku!" perintahku pada Iris Zabini.

"Ada apa?" tanya Iris Zabini sambil memegang tanganku. Aku tidak merasakan apa-apa.

"Mendekatlah kemari,"

"Hah? Kamu mulai sinting, ya?" kata Iris Zabini. Aku menyambar pinggangnya dan mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Tidak berdebar-debar. Aku mendekatkan wajahku dan menciumnya di bibir. Tidak merasakan apapun.

"ALBUS SEVERUS POTTER, BRENGSEK!" teriak Iris Zabini dan langsung mengutukku dengan kutukan kepak kelelawar. Wajahku dipenuhi kepak-kepak kelelawar. Setelah itu aku pingsan.


Scorpius' POV

Apakah pingsan sedang ngetren saat ini? Kok semua orang pada pingsan? Kemarin Iris, sekarang Potter, pingsan dengan wajah dipenuhi kelelawar yang mengepak-ngepak dan Iris memandangnya dengan wajah merah karena marah. Kutukan yang bagus, darimana dia mempelajarinya, ya?

"Albus!" jerit Weasley mendekati Potter. "Apa yang kau lakukan padanya?"

"Dia nggak apa-apa," jawab Iris santai, mengantongi tongkat sihirnya, yang tampaknya berbeda dari tongkat sihirnya yang biasa.

"Tapi, dia... dia!"

"Bawa dia ke rumah sakit!" kata Iris.

"Aku nggak kuat mengangkatnya," kata Weasley. Tentu saja, dengan tubuh kecil seperti itu mana mungkin kuat mengangkat Potter.

"Pake Mantra Melayang, Ir... Rose!" kata Iris, "Awas, kepalanya terbentur langit-langit."

Weasley menggumamkan mantra melayang dan membawanya Potter keluar dari rumah kaca.

Aku berjalan mendekati Iris dan Alan, yang kembali sibuk memupuki bunga raksasa itu dengan kelopak mawar. Goyle melotot padaku, rupanya dia tidak mau ditinggalkan bersama dua cewek Hufflepuff yang suka mengikik itu, tapi aku tidak mempedulikannya.

"Mengapa kamu mengutuk Potter?" tanyaku pada Iris, setelah tiba didekat mereka.

"Ya, Iris! Harusnya kamu bahagia, dong! Kamu kan suka dia!" kata Alan

"Bahagia? Menjijikan tahu!" kata Iris.

Alan dan aku saling berpandangan heran. Yang kami tahu selama kira-kira satu tahun terakhir ini adalah Iris menyukai Potter. Kami sering melihatnya memandangi meja Gryffindor sepanjang sarapan, makan siang atau makan malam. Tapi, dari apa yang terjadi hari ini, dugaan kami ternyata salah.

"Aku dengar dia pacaran dengan Finnigan," kata Alan.

"Hah? Kok bisa dia menyukai Suzane yang suka bergosip, ya?"

"Cowok nggak lihat hal seperti itu... Yang dilihat cowok adalah apakah dia cantik atau tidak?" kataku memberitahu Iris.

"Meskipun dia menyebalkan?" tanya Iris dengan tidak percaya.

"Ya, seperti itulah," jawabku.

"Kalau begitu, cuci otakmu, Vampir!"

"Apa?"

"Cewek-cewek kayak gitu biasanya nggak akan lama pacaran denganmu!"

"Mengapa?"

"Ya, kamu akan segera bosan dan memutuskan mereka..."

"Bagaimana tipe cowok favoritmu?" tanyaku.

"Eh..." kata Iris bingung

"Ayolah Iris, bilang pada kami! Kami akan membantumu," kata Alan.

"Kalian akan membantuku?"

"Bilang saja, Iris!" kataku ingin tahu. Iris biasanya jarang berbicara dengan kami, tapi Iris yang baru ini tampak berbeda dan lebih enak diajak bicara.

"Sebenarnya, aku memang berniat punya pacar tahun ini. Inikan tahun terakhirku di Hogwarts," kata Iris.

"Jadi, Bagaimana tipe cowok kesukaanmu?"

"Hmm... sebenarnya aku berniat mengajak Lily menggoda... Eh, maksudku, aku menyukai tipe cowok seperti Kenneth Davis," kata Iris malu-malu, "Dia tampan terus pintar... dan..."

"Davis? Kapten Quidditch Ravebclaw?" tanyaku tak percaya.

"Benar... Bagaimana menurut kalian?" tanya Iris.

"Dia menyebalkan Iris," kata Alan

"Kalian lebih menyebalkan," kata Iris, memandang kami dengan sengit.

"Hei!" kataku dan Alan bersamaan.

"Aku nggak mau bicara tentang ini lagi," kata Iris, mengambil sari mawar dan mulai menyirami bunga raksasa berbau aneh itu.

"Tongkat sihirmu, kelihatannya beda dari biasanya?" tanya Alan.

"Eh... tongkat sihirku baru saja diganti, yang lama patah," jawab Iris, memandang Rafflesia arnoldii.

"Oh..." kata Alan, memandang Iris. "Hari ini aku bahagia..."

"Kenapa?" tanya Iris ingin tahu.

"Karena kamu bukan Iris yang dulu lagi..." kata Alan.

"Apa maksudmu?"

"Aku senang karena kita sudah bicara lagi seperti waktu kita masih kecil... Aku juga senang karena kamu nggak murung dan menyendiri lagi... Aku senang karena kita bisa bercanda seperti dulu lagi," kata Alan.

Iris memandangnya, "Aku juga senang, Alan," katanya sambil memeluk Alan.

Aku memandang mereka dengan iri. Kalau aku juga punya saudara tentu aku bisa merasakan perasaan Alan dan Iris. Aku melihat Alan tersenyum bahagia.

"Jadi, Sista! Aku nggak mau kamu menggoda Davis!"

"Oh, Bro, jangan mulai lagi... "

"Sebenarnya aku lebih menyukai Potter lho!"

"Hah? Jijai!"

"Atau Scorps aja, gimana?"

"No way!" kataku dan Iris bersamaan.

"Ayolah, Scorps, kamu seratus kali lebih baik dari Davis..."

"Nah, anak-anak, bagaimana perkembangan Rafflesia arnoldii kalian... Banyak bicara sedikit bekerja... Potong sepuluh angka dari Slytherin," kata Profesor Longbottom yang muncul dari belakang kami.


Review please!

Riwa Rambu