ROSE WEASLEY AND IRIS ZABINI
Rama Diggory Malfoy: sprtinya krn sinyal n sistemx sibuk. Sorry,ya! :d... Ceritax tu buku diimpor dari Indonesia, kalo ondel2, memang pernah dilihat Hugo n Rose saat berkunjung ke Indonesia (Coba dibaca lagi ch 3-x, pasti nyambung deh :D ) Winey: thanks usulnya, akan diperhatikan! :D
Disclaimer: JK Rowling
Pembalasan dan Penemuan
Rose's POV
Saat keluar dari kelas Herbologi rambut kami penuh kelopak mawar dan tubuh kami berbau mawar dan Rafflesia arnoldii bercampur jadi satu. Uekk! Menjijikan! Aku berlari menuju ruang rekreasi Slytherin dan langsung menuju kamarku. Nott dan Parkinson sedang membaca Witch Weekly di tempat tidur sambil terkikik, rupanya mereka sedang mendiskusikan polling Senyum Paling Menawan Witch Weekly minggu ini. Mereka tidak mengikuti pelajaran pagi ini karena malu dengan rambut mereka yang biru. Tampaknya mereka senang-senang saja tidak mengikuti pelajaran.
"Hei cewek-cewek rambut biru!" kataku pada mereka.
Mereka pura-pura tidak mendengar.
"Nott... Parkinson! Dimana ranjangku?" tanyaku.
"Nggak tahu!" jawab mereka bersamaan.
"Kalian ingin tubuh kalian kubuat biru?" tanyaku sambil mengacungkan tongkat sihir pada mereka.
"Baik!" kata Nott sebal, dan melambaikan tongkat sihirnya, mengucapkan mantra, dan sebuah ranjang muncul entah dari mana dan terpasang dengan rapi di dekat ranjang tempat mereka duduk sambil membaca Witch Weekly.
"Syukurlah, hari ini aku nggak perlu tidur di kamar Alan," kataku sambil membaringkan diri di ranjang.
"Kamu tidur di kamar cowok?" tanya Parkinson dengan mata lebar.
"Hei, jangan berpikiran negatif dulu! Alan tu saudara aku!"
"Bukan itu maksud Emily," kata Nott.
"Lalu apa?"
"Tidur di kamar cowok... Wow!" kata Parkinson.
"Kok Wow? Mereka tu ngoroknya keras banget, jadi aku nggak bisa tidur,"
"Tapi tetap aja... Wow!"kata Nott.
"Kamu lihat mereka telanjang, nggak?" tanya Parkinson.
"Telanjang? Nggaklah! Mereka pake piyama,"
"Bohong! Ayo bilang aja! Ayo!" rayu Parkinson yang sekarang sudah ada bersama denganku di ranjang.
"Tu wajahmu merah," kata Nott yang ikut bergabung denganku dan Parkinson. Memang wajahku sekarang sudah semerah tomat.
"Ayo, bilang!" rayu Parkinson lagi.
"OK!" kataku. "Hmm sebenarnya nggak sampai telanjang sih, cuma bagian atas doang,"
"Siapa?" tanya keduanya bersemangat.
"Scorpius Malfoy," kataku dengan wajah yang semakin merah.
"Wow! Pasti keren... Dia kan fit banget," kata Nott.
"Pingin lihat!" kata Parkinson, "Tapi menurutku Alan lebih cakep,"
"Hah? Alan? Nggak ah, Patrick lebih cool... Dia memang nggak banyak bicara, tapi... menurutku dia kelihatan misterius dan bikin gemes..." kata Nott.
Aku dan Parkinson berpandangan dan mulai terkikik. Setelah itu kami mulai membahas cowok-cowok Hogwarts. Parkinson dan Nott menganggap bahwa Stephen Lane dari Hufflepuff adalah cowok yang sama sekali tidak punya sex appeal. Aku tertawa dan mengatakan bahwa cowok-cowok Slytherin adalah cowok-cowok yang paling tidak diminati.
"Kamu bercanda, ya? Alan dan Scorpy adalah cowok yang paling banyak diminati," kata
Parkinson.
"Ohya...?" kataku tidak yakin.
"Kamu bilang begitu karena kamu sudah bersama mereka sejak kecil," kata Nott.
"Aku tidak... Oh iya, mungkin saja..." kataku cepat-cepat.
"Kami tahu, kamu sukanya Gryffindor kan?" kata Parkinson, dan mereka berdua mulai terkikik lagi.
"Albus Potter," kata Nott.
"Albus Potter? Al? Nggak mungkin!" kataku.
"Ngaku aja, kamu kan pingin banget bergabung dengan Albus Potter Fanclub," kata Parkinson.
"Albus Potter Fanclub?"kataku kaget dan langsung tertawa terbahak-bahak sampai keluar airmata. Apa yang dikatakan Lily dan Hugo kalau mendengar ini? Albus Potter Fanclub? Lucu sekali! Parkinson dan Nott memandangku dengan terkejut.
"Siapa?... Siapa pendirinya?" jawabku di sela-sela tawa.
"Cewek-cewek Hufflepuff, aku nggak tahu nama-nama mereka," jawab Nott.
"Tapi Alby memang benar-benar tampan lho!" kata Parkinson, "Lalu Alan dan Scorpy juga tampan... Aku bingung, semuanya tampan sih,"
"Alby?"
"Albus Potter, say!" kata Parkinson
Aku tertawa lagi. Al akan langsung membunuhku kalau aku berani memanggilnya 'Alby'.
"Aku suka Patrick, tapi dibutuhka keberanian besar untuk bicara dengannya. Orangnyakan cool banget," kata Nott. Mereka berdua memandangku.
"Eh, aku... aku... Kenneth Davis,"
"Wow! Davis, dia paling tampan se-Hogwarts," kata Parkinson.
Kami bertiga mulai terkikik lagi.
"Jadi, bagaimana kita mendekati cowok-cowok ini?" tanya Nott.
"Agak sulit, sih! Alan nggak mau aku dekat-dekat ma Ken," kataku
"Ah, jangan pedulikan dia, dia cuma iri," kata Parkinson, "Christine Deverill kan mantan Davis,"
"Apa? Aku nggak tahu kalau Ken pernah pacaran ma Deverill,"
"Gimana kamu bisa tahu kamu kan selalu duduk sendiri di pojokan, nggak mau gabung ma kita-kita," kata Nott, "Tapi sekarang kamu kok beda banget,ya? Lebih asyik dan terbuka,"
"Iya... Aku lebih suka Iris yang ini," kata Parkinson.
"Oh..." aku tersenyum.
"Nah, sekarang karena kita sudah berteman, bisakah kamu mengembalikan warna rambut kami?" tanya Nott.
Aku menggumamkan mantra dan rambut mereka kembali pirang dan coklat.
"Thanks!" kata mereka lalu berjalan ke cermin, dan memandang rambut mereka yang sudah kembali normal.
"Kalian nggak ada kelas?" tanyaku.
"Habis makan siang ada kelas Ramalan," jawab Emily... sekarang aku harus memanggil mereka dengan nama depan.
Aku mengambil Witch Weekly dan melihat siapa yang punya senyum paling menawan minggu ini. APA?
"James Potter?" seruku kaget. "Siapa sih yang mengganggap senyum James menawan?"
"Kamu nggak tahu? James Potter sudah sebulan ini menduduki peringkat pertama, bulan sebelumnya Louis Weasley, minggu ini Louis urutan kedua," kata Linda.
"Hahahaha," Aku benar-benar tidak percaya. Louis dan James, yang baru beberapa bulan yang lalu keluar Hogwarst, sudah menjadi perhatian penyihir-penyihir wanita? Bisa-bisa tahun depan wajah Al juga akan terpampang di halaman depan Witch Weekly.
"Makan siang, yuk!" kata Linda.
"Kalian ke atas aja duluan. Masih ada yang harus kulakukan," kataku pada mereka. Mereka berjalan keluar meninggalkanku. Rasanya capek sekali. Semalam dengkuran Alan dan cs membuatku tidak bisa tidur. Aku berbaring sebentar dan hampir tertidur ketika bunyi 'tar' keras terdengar, membuatku terbangun.
"Trincer datang mengantarkan baju-baju Miss Iris," kata Peri Rumah yang tiba-tiba muncul dihadapanku. Dia sudah sangat tua dan kurus, dengan rambut putih tertutup topi kecil yang bersih.
Aku cepat-cepat turun dari ranjang dan mengambil kopor kecil yang dipegangnya.
"Terima kasih, Trincer!" kataku.
"Jubah Hogwarts, Miss Iris, sudah tidak ada. Jadi, Sabtu ini Nyonya akan bertemu Miss Iris di Hogsmeade untuk mencari jubah baru,"
"Hari Sabtu memang ada kunjungan ke Hogsmeade. Beritahu Mom, aku akan bertemu dengannya jam sepuluh," kataku.
"Mom? Bersikaplah sopan Miss Iris. Jangan memanggil ibu anda dengan 'Mom'!"
"OK! Mother, kalau begitu! Beritahu Mother, aku akan bertemu dengannya jam sepuluh,"
"Pesan anda akan Trincer sampaikan." Lalu dengan bunyi tar keras, Trincer menghilang.
Aku membuka koperku dan memandang baju-baju Iris yang sama sekali berbeda dengan selera pakaianku. Aku melepaskan kemeja dan celana pendek Malfoy yang berbau musk lembut dan memakai baju Iris. Hah, akhirnya bisa juga aku kembali ke kodratku sebagai cewek dengan memakai baju cewek, tapi jubahku tetap punya Malfoy sampai Sabtu. Masa aku terus memakai jubah ini selama seminggu? Nggak mungkinlah! Aku harus mencari jubah lain. Aku harus mencari jubah Malfoy yang lain.
Aku keluar dari kamar anak-anak perempuan dan berjalan ke kamar anak-anak laki-laki. Kamar anak laki-laki sepi, rupanya mereka sedang makan siang di atas. Aku membuka lemari Malfoy dan mencari jubah-jubah kecil lain. Setelah mengambil dua pasang aku menutup lemari. Pandanganku jatuh pada lemari Alan. Wah, ini kesempatan aku merusak satu baju Zabini, tadi pagi dia tidak mengijinkan aku melihat lemarinya. Aku membuka lemari Alan dan memeriksa isinya. Tidak ada yang menarik, baju-bajunya biasa saja. Tapi... ada sesuatu di rak bagian bawah. Aku mengambilnya, ternyata sebuah album foto. Aku membukanya dan melihat gambar Lily bergerak, tersenyum dan melambai di setiap halaman. Di bagian bawah foto tercantum tanggal pengambilan foto. Dan foto-foto itu diambil sejak Lily pertama kali masuk Hogwarts.
Merlin! Apakah Alan Stalker, Penguntit? Lily tidak tahu ternyata dia punya penggemar rahasia. Aku... Aku juga seharusnya tidak boleh tahu kan? Aku cepat-cepat menutup lemari dan berjalan ke ruang rekreasi Slytherin. Aku duduk di sofa hijau dan memandang ikan-ikan di bawah danau lewat tembok kaca. Zabini dan Iris memang benar-benar kembar... Walaupun ciri fisik berbeda, tapi perasaan mereka sama. Mereka sama-sama menyukai Potter. Iris: Al, Alan: Lily. Tapi, mengapa tidak ada yang tahu, bahkan Malfoy dan Goyle sahabat Alan. Alan memang paling pintar menyimpan rahasia, sedangkan Iris tidak bisa menyimpan rahasia. Keluarga yang benar-benar aneh. Aku harus ke Aula Besar sekarang, kalau tidak aku akan mengikuti Kelas Rune Kuno tanpa makan siang.
Iris' POV
"Albus, kamu baik-baik saja?" tanyaku saat melihat Albus membuka matanya. Al bergerak bangun.
"Berapa lama aku pingsan?"
"Sudah dua jam, sekarang waktu makan siang,"
"Pantas aja, aku lapar banget..."
"Kamu nggak apa-apa?"
"Aku nggak apa-apa... Lily sudah sering menyerangku dengan kutukan itu. Aku ingin tahu, dari mana si Zabini itu mempelajarinya," tanya Albus
Aku memalingkan wajah. Tidak mungkin aku bilang yang mengutuknya adalah Rose Weasley, bisa-bisa aku langsung dikutuk.
"Dimana Madam Darnsley?"
"Sedang makan siang... Dia menyingkirkan sayap kelelawar itu dalam waktu lima menit. Dan menyuruhku membawamu ke Aula Besar kalau kamu sudah sadar,"
"Kalau begitu, ayo! Aku memang sudah lapar."
Albus dan aku berjalan perlahan menyusuri koridor menuju Aula Besar.
"Mengapa kamu menciumnya?" tanyaku pada Albus. Apakah Albus menyukai aku? Aku bisa melayang melampaui menara Astronomi kalau itu benar-benar terjadi.
"Aku ingin memastikan sesuatu," kata Albus sambil berfikir.
"Memastikan apa?"
"Aku nggak bisa bilang padamu," jawab Albus.
"Baik! Jadi, gimana? Kamu berhasil memastikannya?"
"Ya, dan hasilnya negatif... Tidak seperti pertama kali,"
"Pertama kali apa?"
"Aku nggak bisa bilang padamu Rose..." kata Albus, memandangku. "Mungkin suatu saat nanti..."
"Aku tahu!"
"Apa?"
"Kamu ingin membalas Iris, karena dia menciummu kemarin kan?" tanyaku sedih, rupanya dia masih marah padaku.
"Bukan itu..."
"Pasti itu!"
"Sudahlah, aku nggak mau bicara," kata Albus, memasuki Aula Besar dan aku mengikutinya dari belakang. Kami duduk di meja Gryffindor dalam diam.
"Kenapa kalian?" tanya Hugo, yang baru bergabung dengan kami bersama Lily.
"Tanya Albus?" jawabku. Lily dan Hugo memandangku dan Albus bingung.
"Al, apakah kamu benar-benar mencium Zabini di kelas Herbologi?" tanya Lily. "Tadi aku melewati cewek-cewek Hufflepuff dan memdengar mereka membicarakanmu."
"Dan dia mengutuk kamu dengan Kutukan Kepak Kelelawar Aunt Ginny?" kata Hugo.
"Dan kamu pingsan?" lanjut Lily.
"Aku nggak mau membicarakannya."
"Tapi, darimana dia tahu tentang kutukan itu, itukan kutukan Mom? Yang tahu kutukan itu, selain Mom, hanya aku dan Rose," kata Lily memandangku.
"Aku juga bingung, dia memanggil aku dengan nama lengkapku seperti yang dilakukan Rose kalau marah," kata Albus.
"Dan darimana dia tahu nama tengahmu?" tanya Hugo.
Mereka semua memandangku.
"Oh... eh, aku... Sebenarnya aku dan Iris... eh berteman," kataku.
"Berteman?"
"Eh, Begitulah,"
"Dan kamu... kamu mengajarinya kutukan kepak kelelawar dan memberitahukan namaku padanya?"
"Ya... dia menyukaimu!" kataku.
"Dia menyukaiku?"
"Zabini suka Al?" tanya Hugo dan Lily.
"Ya, dia sudah lama menyukaimu. Ku pikir dia sangat menyukaimu... Dia mencintaimu," kataku. Aku mohon jawab iya, Albus... Katakan kalau kau juga menyukaiku, karena itulah kau menciumku tadi di kelas Herbologi. Rose-lah yang mengutukmu, bukan aku.
"Oh, tapi aku tidak menyukainya... Aku... aku menyukai seseorang," kata Albus, memandangku.
Aku langsung merasakan udara meninggalkan paru-paruku. Hatiku sakit dan hancur seketika. Selamat tinggal cinta pertamaku, biarlah luka ini berlalu bersama waktu. Hiks... Hatiku menangis.
"Siapa, Al? Siapa yang kamu suka? Aku dan Lily bisa mengaturnya untukmu," tanya Hugo.
"Suzane Finnigan?" tanya Lily
"Bukan dia... aku juga belum yakin, tapi ini sangat aneh...," jawab Albus.
"Aneh kenapa?" tanya Lily.
"Aku nggak bisa bilang pada kalian," jawab Albus.
"Dia begitu sejak tadi..." kataku pada Lily dan Hugo yang memandang Albus dengan heran.
"Al... Al, kamu nggak apa-apakan? Katanya kamu pingsan," kata Finnigan, dari belakang Al dan langsung duduk di samping Albus memberinya kecupan kilat di pipi.
"Ya, begitulah," jawab Al dengan tidak antusias.
"Ayo, Al, semangat dong!" kata Finnigan. Finnigan langsung mencium Albus tanpa mempedulikan anak-anak lain yang terkikik melihat mereka.
Aku membuang muka memandang ke meja Slytherin. Di saat sedih seperti ini, ingin rasanya berbicara dengan seseorang. Deverill, yang duduk di samping Alan di meja Slytherin, sedang menceritakan sesuatu padanya dengan antusias. Rose sedang duduk di dekat Scorpius dan Goyle sambil memandang Alan dengan aneh. Scorpius sedang memandang Rose, seperti ingin bertanya sesuatu. Goyle sedang mengedipkan matanya pada Emily yang membuat Emily membuang muka dengan jijik. Ada apa ini? Mengapa semua orang bersikap aneh?
"Memandang Zabini, Rose?" tanya Albus dengan suara dingin, Finnigan sedang bicara dengan Lily tentang James Potter yang mengalahkan Louis dalam Senyum Paling Menawan Witch Weekly Minggu Ini. Hugo sedang berbicara dengan teman kelas limanya tentang PR Transfigurasi.
"Biarkan aku, Albus," kataku.
"Ya, supaya kamu bisa menggoda Zabini. Begitu maumu, Rose?" tanya Al.
Lama-lama ini membuatku sebal juga. "Terserah!" kataku mengangkat tasku dan berjalan meninggalkan meja Gryffindor menuju meja Slytherin dan duduk di samping Rose. Seluruh Aula memperhatikanku dengan aneh. Sesekali aku harus berani melakukan hal yang tidak biasa. Dan aku ingin sekali bicara dengan seseorang.
"Apa yang kamu lakukan? Cepat kembali ke meja Gryffindor!" bisik Rose.
"Aku ingin bicara," kataku.
"Kita nggak bisa bicara sekarang. Habis ini ada kelas Rune," bisik Rose.
"Oh, tapi...," kataku.
"Nanti malam!" bisik Rose sambil tersenyum pada teman-teman Slytherinnya. Aku berjalan ke luar Aula Besar meninggalkan Rose yang menjelaskan mengapa Rose Weasley bisa berbicara dengannya, pada teman-teman Slytherinnya.
Al's POV
Aku memandang Rose meninggalkan Aula Besar karena diusir dengan tidak sopan oleh Iris Zabini. Benar-benar cewek brengsek! Apakah dia tidak bisa bersikap ramah? Harusnya dia berterima kasih karena Rose mau berteman dengan cewek aneh seperti dia. Rose terlihat sedih.
"Eh, aku pergi dulu, ya. Masih ada PR... eh, Rune..." kataku, memandang Suzane yang sedang berbicara pada Lily.
"Baiklah! Sampai jumpa nanti malam, Al," kata Suzane. Aku hanya melambai dan berjalan keluar Aula Besar. Setiba di Aula Depan, sebuah suara memanggilku dari belakang.
"Hei, Albus Potter!"
Aku berbalik, ternyata Iris Zabini, rupanya dia telah mengikutiku dari Aula Besar.
"Apa?"
"Apa maksudmu tadi, hah?" tanya Zabini.
"Apa?" tanyaku. Aku lagi malas bicara dengannya.
"Mengapa kamu menciumku?"
"Aku rasa kita impas sekarang, Zabini,... Kamu menciumku, Aku menciummu."
"Hahaha, Al, kamu suka Iris, ya?"
"Apa?" Aku bingung. Pertanyaan apa ini? 'Kamu suka Iris?'. Kenapa dia tidak bilang saja 'Kamu suka aku?'. Dia seperti bicara tentang orang lain. Atau sekarang lagi ngetren bicara tentang diri sendiri menggunakan nama diri.
"Kamu suka Iris?" tanya Iris lagi. Baik, kalau dia ingin berbicara seperti itu aku akan mengikutinya.
"Al tidak suka Iris," kataku, menahan tawa.
"Apa? Aku tidak sedang bercanda, Al," kata Iris.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?"
"Hohoho, lucu sekali, Al," kata Iris. "Dengar untuk saat ini kamu nggak boleh suka Iris dulu, karena ada sesuatu yang... Yah, complicated, rumit... Nanti kalau masalahnya beres kamu boleh menyukai dia lagi."
"Dengar Zabini, aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Tapi aku punya urusan lain yang harus kulakukan sekarang. Satu hal lagi, aku tidak... dan belum pernah menyukaimu. Menciummu merupakan satu kesalahan."
"Ya, benar sekali! Ciuman itu benar-benar menjijikan,"
"Aku harus pergi sekarang," kataku, lalu berjalan cepat meninggalkannya. Aku tidak ingin tinggal bersama seseorang yang menyebut dirinya dengan namanya sendiri.
"Hei, Al! Katakan pada Lily untuk berhati-hati, ada stalker yang mengikutinya," teriak Iris. Aku tidak peduli, cewek ini bicaranya aneh.
Aku berjalan menuju halaman. Entah kenapa aku tahu kalau Rose sedang berada di luar, di halaman dan kakiku membawaku ke sana. Sebenarnya tempat favorit Rose adalah menara Astronomy. Tapi kali ini aku benar, karena aku melihat Rose sedang duduk di tepi danau, sambil memandang airnya yang biru yang bisa membeku setiap saat.
"Hei, di luar sini dingin, lho!" kataku, lalu duduk disamping Rose.
"Apa maumu, Albus?" tanya Rose.
'Apa mauku?' Banyak sekali, lho! aku ingin mendapatkan Firebolt keluaran terbaru, aku mau kedamaian dunia sihir tetap terjaga, aku ingin berkeliling dunia, aku mau...
"Albus?"
"Apa yang kamu suka dari Zabini?" tanyaku
"Aku nggak suka Zabini. Berapa kali aku harus bilang padamu supaya kamu percaya?"
"Lalu mengapa kamu selalu memperhatikannya?"
"Emangnya kalau kita memperhatikan satu orang tertentu, artinya kita suka tu orang?"
"Caramu ngeliat ke dia beda," kataku.
"Beda gimana?"
"Ya, seperti sedih dan rindu... kayak gitulah..."
"Kamu bisa membaca perasaan seseorang hanya dari caranya memandang orang lain?"
"Nggak juga sih, tapi..."
"Please, Al, aku nggak mau membahas masalah ini. Biarkan aku sendiri,"
Aku memandangnya sebentar kemudian kami berdiam diri memandang riak danau yang kadang membesar karena angin dingin bulan November.
"Apa yang akan kamu lakukan kalau orang yang kamu suka ternyata menyukai orang lain?" tanya Rose.
Nah, ini baru pertanyaan yang pas buatku, 'Apa yang akan aku lakukan kalau orang yang ku sukai menyukai orang lain?' Aku ingin membunuh orang lain itu, tapi aku tidak ingin orang yang aku sukai menjadi sedih.
"Albus, apa yang kamu lakukan kalau orang yang kamu suka menyukai orang lain?" ulang Rose.
"Aku nggak tahu... aku akan bilang padanya bahwa orang itu nggak cocok untuknya," jawabku.
Rose menatapku. "Baik!" katanya, "Aku akan bilang padamu bahwa Finnigan nggak cocok untukmu,"
"Apa?"
"Finnigan nggak cocok untukmu."
"Kamu suka aku, Rose?" tanyaku, benar-benar takjub. Kami kok jadi kayak gini,ya?
"Bukan Rose, tapi Iris Zabini... Dia lebih cocok untukmu," kata Rose dengan muka merah.
"Mengapa semua orang ingin aku bersama Iris Zabini. Dengar Rose, aku benar-benar nggak punya perasaan apa-apa pada Zabini. Jadi, jangan paksa aku. OK!"
Wajah Rose langsung terlihat lebih sedih dari sebelumnya. "Aku tahu," katanya.
Entah kenapa aku langsung merasa bersalah, padahal perasaan aku tidak ada hubungannya dengan Rose. "Maaf," kataku langsung minta maaf.
"Nggak perlu minta maaf, Albus... Perasaan kamu memang milik kamu sendiri," kata Rose.
"Apa yang kamu lakukan misalnya... Ini misalnya saja, ya, kalau aku... kalau aku bilang aku menyukaimu?" tanyaku gugup.
"Tentu saja aku juga menyukaimu, Albus..."
"Kamu nggak ngerti maksudku... Maksudku, rasa suka sebagai... hmm, sebagai laki-laki dan perempuan"
"Apa? Kamu suka Rose?" tanya Rose tidak percaya.
Mulai lagi! Menyebut nama sendiri sebagai nama orang lain. Iris Zabini, Rose, sama saja.
"Misalnya saja... misalnya terjadi hal seperti itu," kataku menenangkan Rose.
"Oh iya, misalnya kamu menyukai Rose... Aku kira Rose akan mengutukmu sampai hancur sehingga nggak bisa dikenali lagi," kata Rose.
"Eh, begitukah?"
"Yups, jadi misalnya... misalnya kamu punya perasaan pada Rose, cobalah untuk menghilangkannya?"
Aku memandang Rose. Aku sendiri tidak yakin dengan perasaanku. Aku memang berdebar-debar setiap kali dekat dengannya, tapi belum tentu aku menyukainya kan?
"Siang ini Rune Kuno kan?" kata Rose, bangkit berdiri. "Ayo!"
Kami berdua berjalan bersisipan kembali ke kastil.
Scorpius' POV
Aku memandang Rose Weasley dengan heran saat Weasley mendekati Iris di Aula Besar. Sok akrab banget ma Iris! Tapi Iris berhasil menghindarinya dengan sopan.
"Mau apa dia?" tanyaku pada Iris.
"Dia ingin bicara denganku," kata Iris.
"Sok akrab banget! Cewek itu kan cewek paling menyebalkan se-Hogwarts,"
"Apa?" tanya Iris kaget.
"Benar, Scorps... Sok tahu, sok paling cantik dan menganggap semua orang menyukainya... Padahal menurutku sepupunya, Lily Potter, seratus kali lebih baik darinya. Dia cantik, senyumannya benar-benar indah dan... cara bicaranya benar-benar lembut dan halus, nggak kayak Weasley yang suaranya melengking kayak Banshee," kata Alan.
"Sok Tahu, Sok Cantik, Seperti Banshee!" desis Iris dengan marah.
"Memang!" kataku dan Al bersamaan.
"ENGORGIO!" jerit Iris mengacungkan tongkatnya padaku dan Alan, kena tepat dikepala sehingga kepala kami membesar sepuluh kali ukuran normal.
"Dan aku... aku tak akan membiarkanmu dekat-dekat Lily," kata Iris pada Alan. Kemudian berlari keluar Aula Besar.
"Mengapa kalian membuatnya marah? Dia sudah aneh sejak semalam, harusnya kalian berhati-hati," kata Vincent sok bijaksana sambil mengayunkan tongkatnya dan membuat kepala kami kembali ke ukuran normal. Anak-anak menertawakan kami.
"Ya, tapi kenapa dia marah-marah? Kitakan bukan menghina dia," kataku heran sambil menyentuh kepalaku untuk merasakan apakah sudah benar-benar normal atau belum. Rupanya sudah.
"Kan aku dah bilang dia aneh," kata Vincent.
"Benar... Scorps, bisakah kamu menolong aku untuk mengawasinya?"
"Mengawasinya?"
"Iya... akhir-akhir ini dia aneh. Mungkin ada sesuatu yang terjadi... dan aku... aku tak ingin dia jadian ma Kenneth Davis," kata Alan.
"Tapi, mengawasinya bagaimana?"
"Jaga dia!"
"Keliatannya dia bisa menjaga dirinya sendiri,"
"Memang... tapi Kenneth Davis. Aku nggak akan terima kalau dia jadian ma Davis,"
"OK, baiklah... Aku akan menjaganya... tapi tadi ada sesuatu yang aneh, kenapa dia bilang 'tak akan membiarkanmu dekat-dekat Lily?'" tanyaku. Pernyataan itu agak aneh sebenarnya.
"Aku juga nggak tahu... Otaknya memang lagi hang. Biarin aja..." kata Alan, lalu menunduk melanjutkan makan siangnya, mengabaikan Deverill yang sudah kembali ke bangku Ravenclawnya dan sekarang sedang memberikan senyuman sexy padanya.
Sejak kemarin aku sudah merasa aneh. Kehidupan di Hogwarts tidak seperti tahun-tahun kemarin. Seharusnya kejadiannya adalah kejadian seperti biasa yang wajar, makan... tidur... Quidditch... pelajaran... Bukan menghadapi cewek-cewek yang bersikap aneh.
Rose's POV
Aku memandang Al yang meninggalkanku menuju ke halaman. Aku senang karena aku telah memperingatkannya tentang Alan. Semoga dia segera memberitahu Lily. Stalker biasanya sangat mengerikan lebih mengerikan dari Albus Potter Fanclub. Para fans tidak akan sampai membunuh idolanya, tapi para Stalker akan marah besar kalau orang yang dikuntitnya melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan Si Stalker.
Kemudian aku teringat mengapa aku bisa keluar dari Aula Besar dan bertemu Al. Ada hubungannya dengan sesuatu yang dikatakan Alan dan Malfoy padaku. Ya, mereka menghinaku. Aku; sok tahu, sok cantik dan berpikir bahwa semua orang menyukaiku, bersuara seperti Banshee. Apakah aku seperti itu? Aku tidak menyadarinya. OK! Aku memang sok tahu, tapi aku tidak merasa cantik. Aku memang harus segera kembali ke tubuhku sebelum aku mengutuk semua anak Slytherin menjadi kodok.
Aku lalu berjalan menuju kelas Rune Kuno menyusuri koridor yang harusnya kosong, tapi telah diisi oleh anak-anak Ravenclaw yang semalam menggangguku. Mereka sedang membakar jubah dua anak kelas empat Hufflepuff. Wah, kesempatanku nih. Brengsek-brengsek ini rupanya bukan cuma mengerjaiin Iris aja, tapi anak-anak lain juga.
"Apa yang kalian lakukan?" teriakku pada anak-anak Ravenclaw itu.
Mereka, yang sedang menertawakan dua anak Hufflepuff itu, langsung berbalik melihatku. Aku menggumamkan mantra Aquamenti, memadamkan api yang membakar jubah anak-anak Hufflepuff itu. Mereka menggumamkan terima kasih dan berlari meninggalkan kami.
Cowok-cowok Ravenclaw tidak suka melihat apa yang kulakukan. Mereka memandangku dengan marah.
"Kami lagi bersenang-senang, Zabini, tapi kamu mengganggu kami," kata seorang diantara mereka.
"Biar dia menggantikan anak-anak Hufflepuff itu," kata pemain Quidditch Ravenclaw, sambil memandangku dengan jahat.
"ACCIO EMPAT TONGKAT SIHIR!" jeritku sambil mengacungkan tongkat sihirku pada mereka dan keempat tongkat sihir mereka langsung terbang ke tanganku.
"CEWEK BRENGSEK! Kembalikan tongkat sihir kami?" kata pemain Quidditch Ravenclaw yang lain.
Mereka berempat maju maju dengan ganas mendekati aku. "PROTEGO!" aku mengucapkan Mantra Pelindung dan sesuatu seperti tembok tak kelihatan menghalangi mereka mendekatiku. Mereka memandangku dengan lebih marah dan mengumpat dengan makian yang benar-benar kotor.
"Mundur!" kataku pada mereka. Mereka hanya memandangku dengan marah. "Atau kupatahkan tongkat sihir kalian," aku mengangkat tongkat sihir mereka di depanku.
"Mundur!" kataku lagi. Mereka memandang tongkat sihir mereka lalu salah satu dari mereka mereka memberi isyarat mundur pada yang lain.
"Sampai aku bilang berhenti, baru kalian herhenti," kataku ketika salah satu dari mereka berhenti. Mereka terus mundur sampai jarak mereka denganku sudah cukup jauh. Aku menghilangkan Mantra Pelindung, dan mengucapkan Levicorpus dalam pikiranku sambil mengacungkan dengan cepat pada mereka berempat saat mereka menerjang ke arahku. Mereka langsung tergantung dengan kaki di atas, seolah ada tali tak kelihatan mengingkat mereka di langit-langit.
"Cewek Brengsek!" kata salah satu dari mereka, kemudian mengucapkan makian kasar padaku.
"Scourgify!" gumamku, gelembung sabun warna merah jambu keluar dari mulut anak Ravenclaw itu. "Jangan coba mengucapkapkan itu lagi dihadapanku!"
Yang lain mendengus marah dan mengucapkan makian lain yang lebih kasar. "Silencio!" dan mereka semua langsung membisu. Karena tidak bisa bicara mereka menunjukkan gerakan tangan yang kurang ajar kepadaku. "Bangsat!" kataku, lalu memantrai semua jari mereka hingga melekat satu sama lain.
"Flamio!" kataku, api muncul membakar jubah mereka. Mereka menjerit tapi tak ada suara yang keluar, setelah sepertiga dari baju mereka terbakar, aku menggumamkan Aquamenti dan mereka langsung tersiram air dari kaki hingga kepala.
"Silakan menunggu sampai ada orang yang menurunkan kalian!" kataku sambil menyisipkan tongkat sihir mereka di jubah masing-masing. "Aku sangat berharap kalian melaporkanku pada McGonagall, supaya aku bisa melaporkan pada McGonagall betapa brengseknya kalian. Akan ada banyak saksi yang mau mendukungku... Aku peringatkan kalian, aku masih punya beberapa kutukan bagus yang belum kugunakan jadi hati-hati!"
Aku berjalan meninggalkan mereka menuju kelas Rune Kuno, terlambat lima menit. Sial!
Iris' POV
Aku memandang Rose yang masuk dengan diam-diam di kelas Rune Kuno. Sepertinya berharap Profesor Redfend tidak melihatnya.
"Potong lima angka dari Slytherin karena terlambat," kata Profesor Redfend.
Rose mengeluh dan aku melambai dengan antusias padanya. Dia melihatku dan berjalan untuk duduk disampingku. Albus yang duduk di sebelah kiriku mengangkat alis. Aku mengabaikannya.
"Mengapa terlambat?" tanyaku dengan berbisik, ketika Rose duduk.
"Ada sedikit masalah dengan cowok," jawab Rose, lalu mengeluarkan kamus Rune Kuno dari tasku. "Apa yang kita kerjakan?"
Aku memberikannya kopian perkamen yang berisi huruf-huruf Rune Kuno yang harus diterjemahkan. Aku menggeser dudukku sehingga lebih dekat ke arah Rose, dan menjauhi Albus. Aku tak ingin Albus mendengar percakapanku dengan Rose. Albus hanya mendengus melihatku menjauhinya.
"Kamu sudah minta maaf pada Al?" tanya Rose sambil memandangi Al.
"Apa?"
"Soal nama?"
"Oh itu... nggak... dia mengijinkan aku memanggilnya Albus."
"APA?" teriak Rose, dalam bisikan."Kamu bercanda?"
"Nggak... Dia memang mengijinkanku memanggilnya Albus."
"Pasti dia sangat menyukaimu sampai rela dipanggil Albus," kata Rose sambil menggelengkan kepala.
"Dia nggak menyukaiku... dia... dia menyukai seseorang."
"Siapa?"
"Entahlah, dia nggak mau bilang siapa... aku, Lily dan Hugo mengira Finnigan, tapi dia bilang bukan,"
"Kayaknya dia menyukaimu," kata Rose.
"Nggak... aku sudah tanya, dia bilang tidak."
"Lalu siapa?" kata Rose dan melirik Al sambil berfikir. "Bagaimana kabar Lily dan Hugo?"
"Biasa aja... Lily masih cemas soal OWL-nya. Hugo akan mengikuti bimbingan karir dengan Longbottom sore ini, dia ingin jadi penyembuh."
"Oh bagus sekali... tapi, apakah Lily tidak bersikap aneh seperti... memandang satu cowok dengan berlebihan?"
"Hah? Nggak kok! Ada apa?"
"Nanti aku cerita," kata Rose, kemudian menulis beberapa kalimat terjemahan di perkamen, aku mengikutinya.
"Kamu nggak boleh membuatku mendapat nilai Troll di Rune Kuno," kata Rose tak lama kemudian.
"Aku nggak sebodoh itu, Rose," kataku tersinggung.
"Oh, baiklah..."
"Bagaimana kabar, Alan?" tanyaku sambil melirik Alan, yang sedang sibuk menulis di perkamennya. Aku menangkap mata Albus, dan membuang muka. Rupanya Albus masih berfikir bahwa aku menyukai Alan.
"Aneh..." jawab Rose,
"Kenapa?"
"Mereka, dia dan Si Vampir Malfoy, mengataiku sok tahu, sok cantik dan seperti Banshee!"
Aku terkikik dan Rose langsung memandangku dengan marah, "Maaf!" kataku.
"Kamu tahu siapa cewek yang disukai Alan?" tanya Rose.
"Nggak tahu... tapi dia pacaran ma Deverill, mungkin Alan suka dia," jawabku.
"Mungkin saja..."
"Ada apa sih, kok jadi misterius banget?"
"Nggak pa-pa, ku cuma lagi mikir sesuatu."
"Apa?"
"Kita... belum tentu ntar malam kita bisa kembali ke tubuh kita masing-masing,"
"Aku juga nggak tahu, tapi kita harus berusaha kan?" kataku sambil memandang tubuhku sendiri. Apakah aku ingin kembali menjadi diriku sendiri? Sepertinya begitu, aku rindu pada rambut hitamku. Juga Alan, meskipun menyebalkan dia tetap saudara aku. Aku juga ingin menjauh dari Albus. Aku akan semakin menyukainya kalau aku berada dekat dengannya.
"Bukankah Trincer sudah mengantarkan baju-bajuku, mengapa kamu masih memakai baju Scorpius?" tanyaku memandang Rose, yang masih memakai jubah penyihir pria.
"Sudah... tapi nggak ada jubah... Lalu hari Sabtu ini kamu janji bertemu Mother di Hogsmeade untuk mencari Jubah," kata Rose sinis.
"Apa? Aku nggak mau bertemu Mother," kataku ketakutan, pasti Mother akan memarahi aku soal jubah.
"Harus! aku dah bilang iya pada Trincer,"
"Aku nggak mau bertemu Mother."
"Kamu bisa mengajak Alan menemanimu."
"Dia pasti nggak mau,"
"Aku rasa dia mau, dia sangat menyayangimu,"
"Rose, ku mohon bisakah kamu menggantikanku menemui Mother," kataku menatap Rose.
"Nggak bisa. Ini urusan keluargamu aku nggak mau ikut campur. Kamu... menurutku, kamu nggak boleh menghindari sesuatu. Kamu harus bisa menghadapi sesuatu dengan berani. Karena kalau kamu lemah orang-orang akan mempermainkanmu," kata Rose.
"Aku tahu..."
"Nah, kalau gitu kamu harus menemui ibumu Sabtu nanti," kata Rose, tersenyum dan melanjutkan terjemahan Rune Kuno-nya.
Aku memandang terjemahan Rune Kuno-ku sendiri. Rose tidak mengenal keluargaku jadi dia berkata seperti itu. Mother adalah orang dingin yang tidak punya perasaan. Dia tidak pernah tersenyum padaku dan Alan. Kalau dia ingin bertemu aku, pasti ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Review please
Guys, kalo bingung dengan pergantian POV yang tidak biasa... Tolong dibaca ulang aja,ya! Pasti ngerti! And klo ada pemberitahuan,tp chapterny tdk kebuka... Mohon dimaafkan! Tu krn sinyal ditempatku lemah (daerah pedalaman)... :D Lalu, mengenai sesuatu tentang unsur Indonesiax ku pikir nggak pa-pa, bagus juga memasukkan sesuatu yang sudah kita kenal kan? ... :D
Riwa Rambu
