ROSE WEASLEY AND IRIS ZABINI

Thanks semua yg baca fanfic ini... winey, Aleysa-GDH, yanchan, Putri, zean's malfoy: thanx reviewx... degrangefoy: ilustrasix OK jg! Silakan aj! Q dah add km d FB, accountq Riwa Rambu :D


Disclaimer: JK Rowling dan Bastian Tito (Eyang Sinto Weni dan Batu Pembalik Waktu)

Rose's POV

"Iris Zabini!" panggil seseorang dibelakangku, saat aku menuju Aula Besar untuk makan malam.

Aku berbalik dan melihat beberapa cewek dan cowok Hufflepuff mendatangiku dengan bersemangat.

"Iris..." kata salah satu cewek berambut coklat. "Aku Jenny Mckenzie. Aku sudah mendengar apa yang kamu lakukan pada Adam Cazell dan teman-temannya... menggantung mereka di langit-langit koridor Rune Kuno... Benar-benar keren, Iris... kami sangat berterima kasih... kami, aku dan teman-temanku sengaja datang untuk meminta maaf karena pernah menyebutmu cewek aneh. Sekarang kami adalah penggemarmu."

"Eh... OK," kataku tak tahu harus berkata apa.

Anak-anak Hufflepuff yang lain mengangguk dan tersenyum. Aku hanya memandang mereka dengan mulut terbuka saat semua bergerak menjabat tanganku, yang cewek memberi ciuman di pipi.

"Sampai jumpa!" kata mereka sambil tersenyum, kemudian melambai pergi.

"Ohya, sampai jumpa," kataku sambil melambai.

Berita tentang aku menggantung cowok-cowok Ravenclaw itu ternyata sudah menyebar kemana-mana. Aku tinggal menunggu dipanggil oleh McGonagall, kalau cowok-cowok brengsek itu melaporkanku. Dan aku akan senang sekali kalau McGonagall terlibat karena aku bisa sekalian melaporkan kejahatan mereka yang lain.

Ketika aku memasuki Aula Depan makin banyak anak-anak Hufflepuff yang memberi salam padaku. Juga sebagian anak Ravenclaw dan sebagian Gryffindor. Aku hanya mengangguk dan tersenyum pada mereka. Bahkan seorang dari mereka William Finch-Fletchley, terang-terang mengajakku ke Hogsmeade bersamanya Sabtu ini. Si kembar Lorcan dan Lysander Scamander memberi pelukan dan ciuman dipipiku, sebelum berjalan memasuki Aula Besar.

Lorcan dan Lysander adalah anak Aunt Luna Scamander. Mereka empat tahun dibawahku dan menjadi bagian dari asrama Ravenclaw, tentu saja, sangat membahagiakan Aunt Luna. Lily adalah favorit mereka, tapi mereka menyukai kami semua, meskipun James dan Fred suka menggoda mereka. Aunt Luna, yang sebelum menikah bernama Lovegood, adalah sahabat keluarga kami. Kami sering bertemu mereka saat musim panas, atau pada kesempatan tertentu seperti pesta keluarga Uncle Harry di Grimmauld Place nomor 12 atau saat berbelanja di Diagon Alley saat memasuki awal tahun ajaran.

"Apa yang terjadi?" tanya Alan saat aku duduk di meja Slytherin dengan diiringi tepuk tangan oleh anak-anak dari tiga meja lain. Aku memandang meja guru dan melihat McGonagall sedang asyik menikmati makan malamnya sambil berbicara dengan Profesor Brewster. Tampaknya tak ada laporan dari Adam Casell dan teman-temannya tentang penyerangan di koridor Rune Kuno. Aku memandang meja Ravenclaw dan melihat mereka sedang memandangku dengan tajam. Rupanya mereka dendam padaku, aku harus berhati-hati.

"Apa yang terjadi?" ulang Alan karena aku tidak mempedulikannya.

"Aku menyerang Adam Caselldan teman-temannya di koridor Rune," jawabku memandang Caselldan teman-temannya yang sedang berkumpul disudut meja, sedang berbisik-bisik sambil memandangku. Rupanya mereka sedang merencanakan sesuatu. "Rupanya mereka berniat membalasku,"

"Apa?" tanya Alan, memandang Casell dan teman-temannya.

"Aku tidak takut kalau duel satu lawan satu, tapi bagaimana kalau mereka menyergapku di koridor kosong," kataku, sedikit takut juga sih. Badan mereka besar-besar dan berempat, aku cuma cewek berbadan kecil dan sendirian. Aku bisa langsung mampus.

"Kalau gitu kamu tidak boleh berjalan sendirian di koridor," kata Alan, "Kalau aku tak bisa menjagamu, Scorps akan melakukannya untukku dia sudah berjanji."

Malfoy yang sedang menggigit suatu seperti daging domba panggang, mengangguk dengan wajahnya yang belepotan minyak.

Aku memandangnya jijik dan membuang muka.

"Tidak bisa kalau cuma kamu dan Vampir saja. Aku harus memberitahu Al, Lily dan Hugo," kataku tanpa berpikir.

"Ini tidak ada hubungannya dengan The Potters dan Weasley," kata Alan.

"Ada... mereka saudara... eh, mereka hebat..."

Alan, Malfoy dan Goyle (belepotan minyak, seperti Malfoy) mendengus dalam piring mereka. Aku tidak mempedulikan mereka, aku harus bicara dengan Al, Lily dan Hugo secepatnya. Dan aku juga harus melibatkan penggemar-penggemar Hufflepuffku. Bagaimana kalau Casell dan teman-temannya menyergapku saat ke perpustakaan malam ini? Lalu memperkosaku? Mengerikan! Padahal aku sudah berjanji bertemu Iris jam setengan sepuluh.

"Alan, ntar malam kamu ngapain?" tanyaku pada Alan.

"Aku janjian bertemu Christine di menara Astronomy jam sepuluh," jawab Alan.

"Gimana dong? Aku harus ke perpus malam ini,"

"Jangan paranoid kayak gitu!" kata Malfoy yang sudah membersihkan minyak di wajahnya.

"Aku bukan paranoid. Aku cuma merasa hal buruk akan terjadi padaku malam ini."

"Kamu akan baik-baik saja," kata Malfoy cuek.

"Aku akan mengantarmu ke perpus sebelum ke menara Astronomy dan Scorps akan menjemputmu kalau kamu sudah selesai. Iya kan, Scorps?" tanya Alan.

Malfoy memandang kami sambil mengangkat bahu, "Baiklah," katanya.

"Beres, kalau begitu," kata Alan.

"Berjanjilah!" kataku pada Malfoy.

"Aku janji akan menjemputmu! Jam berapa?"

"Sekitar jam sebelas," jawabku.

"Baiklah!" kata Malfoy, memandang daging dombanya lagi.

"Makasih!" kataku.

Aku menghabiskan sandwich tunaku, lalu menunggu Alan, Malfoy dan Goyle selesai makan.


Iris' POV

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang duapuluh ketika aku berjalan menuju perpustakaan. Pasti Rose sudah menungguku. Aku mempercepatkan langkahku, memasuki perpustakaan yang sudah sedikit sepi (hanya beberapa anak kelas enam dan tujuh) dan langsung menuju Rose, yang sedang menungguku di sebuah meja dekat jendela.

"Terlambat sepuluh menit," kata Rose memandang jam dinding besar di atas pintu perpustakaan.

"Maafkan aku... aku harus menghindari Albus, dia bertanya-tanya aku mau kemana dan menuduhku berkencan dengan Alan,"

"Alan?"

"Ya, Alan, kembaranku!"

"Dia sedang berkencan dengan Deverill di menara Astronomy," kata Rose,

"Cewek brengsek, aku tak pernah suka padanya,"

"Lupakan, Deverill," kata Rose, "Kita harus mencari buku itu segera sebelum diusir oleh Madam Marshall."

"Baiklah, aku akan mencarinya," kataku. Lalu berjalan menuju Seksi Terlarang perpustakaan Hogwarts dan mencari buku Meraga Sukma Penghancur Jiwa. Beberapa anak memperhatikanku dengan ingin tahu, tapi aku tak peduli, kelas tujuh memang diijinkan memasuki Seksi Terlarang. Aku menyusuri rak-rak, melihat beberapa buku dengan gambar depan yang mengerikan dan tingkat keusangan yang berbeda-beda. Ada buku yang benar-benar sudah lapuk, sehingga tidak bisa diketahui sampulnya bergambar apa. Ada juga buku yang masih benar-benar baru. Akhirnya aku menemukan buku yang kucari.

Meraga Sukma Penghancur Jiwa

Eyang Sinto Weni

Balai Pustaka, Indonesia 1948

Alih bahasa Roland Hastings

Pocket Books, London 1949

Aku mengambil buku tersebut dan membawanya ke tempat duduk. Rose sedang menungguku sambil memandang kekegelapan di luar jendela. Rupanya, dia sedang memikirkan sesuatu.

"Rose, ada apa? Kamu kok sedih?" tanyaku memandanginya.

"Aku sedang memikirkan cowok-cowok Ravenclaw yang ku serang siang tadi,"

"Oh... aku sudah dengar tentang itu. Kamu jadi pembicaraan dimana-mana. Anak-anak Hufflepuff mengidolakanmu dan membuat Iris Zabini Fanclub. Mereka juga mau berteman denganmu sekarang... maksudku dengan aku, setelah kamu menjadi aku," kataku, memandang Rose.

"Sudahlah, sebentar lagi kita bisa kembali ke tubuh kita masing-masing. Sekarang mana bukunya?" tanya Rose.

Aku memberikan buku Meraga Sukma Penghancur Jiwa padanya dan Rose mulai membuka-buka buku itu perlahan, takut halamannya robek, karena buku itu sudah sangat tua.

"Apa nama kutukannya" tanya Rose.

"Kutukan Pindah Raga," jawabku

Rose membuka lagi bukunya dan melihat satu halaman yang berisi Kutukan Pindah Raga. Rose membacanya perlahan.

Kutukan Pindah Raga

Pembaca yang baik, kita masuk pada bagian keempat Meraga Sukma Penghancur Jiwa: Kutukan Pindah Raga. Kutukan ini berasal dari jurus silat Pemindah Raga yang pernah ku ciptakan untuk meramaikan dunia persilatan di tanah Jawa.

Suatu ketika, dengan menggunakan Batu Pembalik Waktu yang diberikan oleh muridku, aku terdampar di tanah orang Barat yang bernama England dan bertemu seorang penyihir wanita sakti, yang mengatakan bahwa bila kekuatan kami digabungkan akan menghasilkan sesuatu yang benar-benar sempurna dan mengerikan.

Wanita penyihir, yang bernama Callista Black, itu mengajarkan padaku tentang bagaimana membuat suatu ramuan yang bernama, Ramuan Polijus, yang bisa membuat kita berubah jadi orang lain selama satu jam. Lalu aku memperkenalkan padanya jurus silat Pemindah Raga. Dia berhasil mengusai jurus itu selama sebulan dan menciptakan suatu kutukan yang bernama Kutukan Pindah Raga. Kutukan ini membuat penggunanya berpindah ke dalam tubuh orang lain. Untuk lebih mengerti tentang Kutukan Pindah Raga, baca keterangan berikut :

Nama Kutukan : Pindah Raga

Nama Lain: Raga Leling

Gerakan tongkat sihir: Memutar lalu mengacungkan

Mantra: Leling Parenggang (diucapkan dua kali)

Efek: Perasaan melayang

Kontra kutukan: Tidak ada

Mantra Kembali: Leling Beli (diucapkan dua kali)

Gerakan tongka sihir: Mengacungkan sambil memutar

Peringatan penting: Kutukan ini hanya bisa digunakan dengan ramuan Polijus.

"Kutukan ini hanya bisa digunakan dengan ramuan Polijus. Jadi, kita harus membuat ramuan Polijus," kata Rose, memandang buku Meraga Sukma Penghancur Jiwa dengan tidak percaya.

"Kalau begitu gampang! Kita kan sudah pernah membuatnya di kelas Ramuan," kataku.

"Memang, tapi ramuan itu sangat rumit dan kita memerlukan bubuk tanduk Bicorn dan selongsong kulit ular saat ganti kulit. Bahan-bahan itu tidak ada di lemari siswa, yang artinya kita harus mengambilnya di lemari pribadi Brewster," kata Rose, sambil membuka halaman lain dari buku Meraga Sukma Penghancur Jiwa.

"Aku tidak mau mencuri," kataku.

"Aku juga, tapi kita tak punya cara lain selain itu. Atau kamu bisa pergi ke Brewster dan memintanya sendiri," kata Rose tidak peduli.

"Supaya aku di detensi? Tidak akan!"

"Kalau begitu kita akan mengambilnya di lemari Brewster dengan diam-diam," kata Rose tegas.

"Kapan?" tanyaku tidak yakin.

"Secepatnya, karena ramuan ini harus direbus selama sebulan. Lebih cepat, lebih baik."

"Besok kelas Ramuan jam pertama," kataku.

"Ya... kita harus melakukannya besok, karena itu kita membutuhkan Jubah Gaib Al."

"Jubah Gaib?"

"Kalau tak mau ketahuan, kita harus memakai Jubah Gaib. Aku yang akan melakukan pencurian, kamu hanya perlu mengalihkan perhatian Brewster."

"Bagaimana aku mengalihkan perhatian Brewster?"

"Aku tidak tahu, kamu pikirkan sendiri... dan tugasmu yang lain adalah merayu Al agar mau meminjamkan Jubah Gaib. Itu Jubah Uncle Harry, tapi Al pasti tidak akan mau meminjamkannya pada sembarang orang."

"Dia pasti mau meminjamkannya, kamu kan sepupunya..."

"Ohya, aku yakin dia akan meminjamkannya padaku, dalam hal ini padamu karena kamu menjadi aku, tapi dia akan bertanya-tanya dan aku tak ingin orang lain mengetahui rencana kita."

"Ya, aku yakin Albus akan bertanya-tanya," kataku memikirkan Albus.

"Tugas kamu itu, buat dia meminjamkan Jubah Gaib tanpa bertanya-tanya. Ngerti?"

"Aku rasa itu lebih sulit dari pada mengalihkan perhatian Brewster," kataku, berpikir apa yang akan ku katakan pada Albus nanti. Aku menatap Rose yang sedang membaca beberapa kutukan di buku Meraga Sukma Penghancur Jiwa. Dia menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali, mungkin karena terkejut melihat kutukan-kutukan yang memiliki efek mengerikan.

"Bagaimana kamu bisa menemukan buku ini?" tanya Rose sambil menutup buku buku Meraga Sukma Penghancur Jiwa. "Buku ini benar-benar mengerikan!"

"Saat aku melarikan diri dari Emily dan Linda aku masuk ke Seksi Terlarang dan menemukannya tanpa sengaja."

"Bicara tentang Emily dan Linda... aku lupa bilang padamu... kami sekarang berteman."

"Kamu berteman dengan mereka? Mereka mau berteman denganku?" tanyaku terkejut. Rose memang benar-benar hebat, belum sampai sehari dia menjadi aku dia sudah bisa menjadikan Emily dan Linda sahabat. Dia juga membuat Iris Zabini terkenal dengan menjadi pahlawan wanita Hogwarts, yang berhasil mengalahkan Adam Cazell dan teman-temannya yang brengsek. Dan yang paling penting adalah dia bisa membuat Iris Zabini berteman lagi dengan Alan.

"Terima kasih, Rose," kataku. Rose sekarang sedang mengeluarkan PR Rune Kuno dan sebuah perkamen.

"Untuk apa?" tanya Rose tanpa memandangku karena sibuk membuka kamus Rune.

"Untuk semuanya... Untuk Alan, Emily dan Linda dan untuk Si Brengsek Cazell,"

Rose memandangku dengan pandangan sedih, "Oh, sama-sama!"

"Aku akan melakukan apapun untukmu, bilang saja!" kataku.

"Benarkah?"

"Ya!"

"Baiklah... aku ingin kamu menggoda Kenneth Davis dan buat dia menyukaimu," kata Rose.

"Apa?"

"Kamu yang bilang akan melakukan apapun untukku kan? Nah, aku meminta kamu menggoda Kenneth Davis."

"Kamu menyukai Davis?"

"Ya... tapi kamu sedang berada di tubuhku. Jadi, aku meminta kamu melakukannya untukku."

"Tapi... aku tidak tahu cara merayu cowok," kataku mencoba menghindar.

"Aku akan menuliskan untukmu cara-cara merayu cowok... dan kamu harus mengikuti langkah-langkahnya dengan baik... kamu juga bisa minta bantuan Lily."

"Oh, baiklah... tapi aku tidak yakin bisa berhasil,"

"Oh, jangan mulai pesimis kayak gitu! Optimis dong! Pasti berhasil!" kata Rose dengan bersemangat.

Aku hanya menggelengkan kepalaku, tidak begitu yakin. Aku mengambil buku buku Meraga Sukma Penghancur Jiwa dan menyimpannya kembali di rak buku di Seksi Terlarang. Saat kembali ke meja, aku mendengar suara Albus berbicara pada Rose. Aku menyembuyikan diri di lemari buku di dekat mereka dan mendengar pembicaraan mereka.

"Dengar! Aku tidak mau kamu dekat-dekat Rose lagi," kata Albus pada Rose.

"Kenapa?" tanya Rose sambil menulis beberapa terjemahan Rune.

"Kamu membawa pengaruh buruk baginya," kata Albus. APA? Aku... aku membawa pengaruh buruk bagi Rose? Jadi, itu yang kamu pikirkan tentangku, Albus. Maafkan aku! Aku nggak menyadarinya... Aku memang membawa pengaruh buruk bagi kalian semua. Aku yang membuat Rose menderita dengan menjadi aku. Maafkan aku! Dengan kasar aku menghapus airmata yang jatuh di pipiku.

"Aku rasa dia senang berteman denganku," kata Rose.

"Di depanmu, mungkin, tapi dibelakang beda."

"Apa maksudmu dibelakang beda?" tanya Rose mengangkat alis.

"Maksudku dia sebenarnya tidak mau berteman denganmu, dia cuma kasihan melihatmu selalu sendirian dan tak punya teman," kata Albus. 'Selalu sendirian dan tak punya teman'. Ya itulah aku. Aku yang hanya berteman dengan diriku sendiri. Tapi, sejak menjadi Rose, aku punya sepupu dan saudara laki-laki yang menyayangiku.

"Kamu keliru tentang Iris... maksudku... kamu keliru tentang aku," kata Rose. "Aku tidak sendirian karena aku punya teman dan kembaran yang menyayangiku." Terima kasih, Rose. Aku akan sekuat tenaga bekerja untuk mendapatkan Davis.

"Menyayangi dengan membiarkanmu dipermainkan orang didepannya? Begitu?"

"Dulu begitu, sekarang berubah, Al... Alan menyayangi Iris... menyayangiku sekarang."

"Karena itulah jadi kamu membantunya untuk mendekati Rose?"

"Membantunya untuk mendekati Rose?" tanya Rose bingung.

"Ya, membantunya untuk mendapatkan Rose. Kembaran kamu yang brengsek itu mengincar Rose kan?"

Rose memandang Albus dengan mulut terbuka, heran. Aku mendengus, jadi masih tentang kecurigaan Albus padaku dan Alan. Brengsek!

"Rose menyukai Alan? Dari mana ide itu?"

"Dari kamu sendiri, Zabini... Kamu mengajak Rose bertemu di perpus karena Alan ingin bertemu Rose kan? Jadi, mereka kencan di perpus. Di mana mereka?" tanya Al memandang keliling perpustakaan, pada anak-anak yang sedang mengerjakan tugas mereka. Aku merapatkan diri di rak buku.

"Apa?" Rose kaget, kemudian tertawa.

"Apa... apa yang lucu?"

"Asal tahu aja, ya! Alan sekarang sedang di menara Astronomy bersama Deverill. Jadi, tidak mungkin dia disini,"

"Bohong!"

Aku rasa cukup... aku harus muncul sekarang, kalau tidak Albus akan mengobrak-abrik perpustakaan mencariku, yang dikiranya sedang berkencan bersama Alan.

"Cukup, Albus!" kataku, keluar dari tempat persembunyianku.

"Rose? Darimana kamu? Mana Zabini?"

"Aku dari mengembalikan buku di rak buku dan tidak ada Zabini," kataku.

"Kalau begitu untuk apa kamu di perpustakaan?"

"Oh... untuk apa, ya, aku di perpustakaan? Aku kan bukan datang belajar atau membaca, ya?" tanyaku sinis.

"Jadi kamu memang sedang belajar dan bukan berkencan dengan Zabini?"

"Bukan! Aku memang datang untuk berkencan dengan Zabini dan kami barusan berciuman, tapi kamu datang mengganggu," kataku jengkel, mengambil tasku dan berjalan meninggalkan perpustakaan tanpa mengucapkan selamat tinggal pada Rose. Albus mengikutiku sambil memanggil namaku.


Al's POV

"Rose, tunggu! Rose Weasley, ku bilang tunggu!" kataku menarik lengan Rose. Rose melepaskan diri dariku dengan cepat dan menatapku menantang.

"Apa?"

"Aku minta maaf!" kataku.

"Aku tak ingin bicara denganmu sekarang, Albus, pergilah!"

"Tapi aku ingin bicara denganmu dan tak akan pergi sebelum kamu memaafkan aku," kataku.

"Terserah!" kata Rose padaku, lau berjalan meninggalkannya menuju ruang rekreasi Gryffindor. Ruang rekreasi telah kosong. Aku cepat-cepat menghalangi jalan Rose menuju kamar anak-anak perempuan.

"Apa?" tanya Rose melotot padaku.

"Maaf!"

"Aku sudah bilang tidak ingin bicara denganmu."

"Aku akan berdiri disini menghalangi jalanmu sampai kamu memaafkanku," kataku. Aku memang harus pinta maaf sekarang, karena Rose adalah seorang pendendam. Dia tidak akan mungkin melupakan kesalahan orang lain semudah itu. Aku takut Rose tidak akan mau berbicara denganku besok, kalau aku tidak minta maaf sekarang.

"Aku bosan, Al, dari tadi pagi kamu bicara tentang Alan... Alan dan Alan... aku capek dan ingin tidur."

"Tidak!"

"Baik! Berdiri saja disitu aku akan tidur di kursi," kata Rose, mendekati kursi nyaman di dekat perapian yang telah padam lalu duduk bersandar dan menutup matanya.

Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya. Sebenarnya apa sih yang membuat ku berdebar-debar bila ada di dekat Rose dan benci sekali pada Zabini. Aku tidak tahu. Ini bukan soal penampilan yang cantik atau tidak, tubuh bagus atau tidak. Ini lebih ke dalam diri pribadi Rose. Ada sesuatu yang beda. Matanya memang berwarna biru seperti Uncle Ron, tapi ada sesuatu yang berbeda di kedalaman mata itu. Sesuatu yang lain, yang sudah kulihat sebelumnya tapi tidak menyadarinya.

Aku memang tidak boleh menyukai sepupuku. Aku akan dibunuh oleh semua keluargaku kalau berani menyebut soal ini. Tetapi, aku akan menjaga Rose agar tetap bahagia, bukan dengan Zabini, tentunya. Cowok brengsek itu tidak bisa dipercaya. Selamanya aku tak akan mengijinkan Rose dekat-dekat dengan Alan Zabini. Aku akan menghalanginya meskipun Rose akhirnya membenciku.

Rose membuka matanya dan memandangku. Kami bertatapan. Perasaan itu muncul lagi. Perasaan mengenal yang membuatku bahagia dan sedih pada saat bersamaan. Aku tidak mengalihkan pandanganku, aku takut moment indah ini akan hilang kalau aku berpaling atau mengedip.

Rose lebih dulu memalingkan muka. Dia menghela nafas dan berkata: "Aku sama Alan itu tidak ada hubungan apa-apa, bukan seperti apa yang kamu pikirkan."

Aku menyandarkan kepalaku di kursi dan memejamkan mata. "Baiklah!"

"Sebenarnya ada sesuatu yang ku inginkan darimu," kata Rose, aku membuka mata.

"Apa?" tanyaku sambil memandangnya.

"Aku ingin meminjam Jubah Gaib besok," kata Rose. Pernyataan tak terduga.

"Jubah Gaib? Untuk apa?" tanyaku.

"Eh, aku harus melakukan sesuatu..." kata Rose.

"Apa?"

"Aku tak bisa bilang padamu sekarang. Ada urusan penting yang harus kulakukan."

"Kalau ini ada hubungannya dengan Zabini..."

"Tidak ada hubungannya dengan Zabini! Aku sudah mengatakannya padamu... Brengsek, Albus! Kamu... mengapa tidak percaya padaku?"

"OK! Aku percaya... Kalau begitu katakan! Apa yang akan kamu lakukan dengan Jubah Gaibku?"

"Aku tidak bisa bilang padamu... Tidak sekarang. Nanti... nanti mungkin," kata Rose.

"Tidak boleh!"

"Kalau begitu aku tidak akan bicara denganmu selamanya," kata Rose, bangkit dari kursinya dan berjalan ke pintu yang menuju kamar anak perempuan. Aku berlari ke pintu itu dan menghalangi jalannya.

"Pergi, Albus!"

"Baik! Kamu boleh meminjamnya dan aku tak ingin Jubah itu rusak," kataku.

"Benarkah?" tanya Rose.

"Ya, aku akan memberikanya padamu besok."

Mata Rose langsung bercahaya dan senyum mengambang dibibirnya. Tiba-tiba dia memelukku dan aku dengan perasaan bersalah karena alasan yang berbeda balas memeluknya. Kemudian kami melepaskan diri.

"Terima kasih!" katanya, menyingkirkanku dari pintu dan berjalan menuju kamar anak-anak perempuan.

Aku masih berdiri memandang pintu kamar anak perempuan yang tertutup di depanku dengan perasaan bersalah yang semakin besar. Tidak mungkin! Kau tidak mungkin jatuh cinta pada sepupumukan? Tidak! Merlin! Aku duduk di kursi dan memandang perapian. Aku, Albus Potter, anak Harry Potter yang terkenal, jatuh cinta pada sepupuku sendiri, Rose Weasley. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin mengatakannya pada Rose, karena itu akan membuatnya sedih. Itu akan membuat kami berdua menderita. Aku tak ingin melakukan itu. Rose harus tetap bahagia, tapi bagaimana aku menahan perasaanku sendiri. Bagaimana aku bisa menyembunyikan perasaanku kalau Rose... Rose selalu ada di dekatku. Ya, aku harus menjauhkan diri darinya secepat aku bisa. Aku harus membunuh perasaan ini secepatnya. Aku bangkit menuju kamar anak-anak laki-laki dengan hati mantap. Aku harus menjauhkan diri dari Rose.


Rose's POV

Aku memandang Iris yang keluar dengan marah dan memandang Albus yang mengikutinya dengan wajah murung. Aku memandang belakang kepala Al dengan sangat heran. Al tidak pernah sampai sebegitunya padaku. Ini kelihatan aneh. Orang lain yang tidak tahu kalau Rose adalah sepupu Al, mungkin akan mengira bahwa Al cemburu. Tapi, tidak mungkin Al cemburu, Rose (meskipun jiwanya Iris) adalah sepupunya. Aku menggeleng-gelangkan kepalaku. Pikiran aneh.

Aku melirik jam dinding di atas pintu perpustakaan yang menunjukkan pukul sebelas tepat. Kok Malfoy belum datang juga, ya? Dia sudah berjanji untuk menjemputku jam sebelas. Aku mengambil buku Misteri Penyihir Wales dari dalam tas dan mulai membaca. Menit demi menit berlalu Malfoy belum datang juga. Jam 11.30. Dari pada menunggu si Brengsek itu, yang datang atau tidak, lebih baik aku pulang sendiri saja. Aku memasukkan bukuku di tas, mempersiapkan tongkat sihirku dan berjalan keluar perpustakaan.

Aku tidak bertemu siapa-siapa di koridor. Koridor itu kosong dan sepi dengan lampu temaran yang menciptakan bayangan menyeramkan dari baju zirah di sepanjang koridor. Aku terus berjalan cepat. Aku harus segera berada di ruang rekreasi Slytherin sebelum bertemu Prefect atau lebih parah lagi bertemu Adam Cazell dan teman-temannya.

"Expelliarmus!" seru suara di belakangku dan tongkat sihirku langsung terbang dari tanganku. Aku berbalik dan melihat penyerangku. Adam Cazell, cowok Ravenclaw berbadan besar dan berambut hitam berantakan. Dia melompat dengan ringan dan menangkap tongkat sihirku yang terbang ke arahnya. Ketiga temannya, dua pemain Quidditch Ravenclaw berbadan besar dan seorang cowok kurus berambut coklat, berdiri di belakangnya. Merlin, mampus aku!

"Kembalikan tongkatku!"

"Kamu sudah membuat kami malu siang tadi, Zabini..." kata Cazell memberi isyarat pada teman-teman untuk maju mendekatiku.

Aku yang tanpa tongkat sihir merasa seperti kelinci yang terperangkap dalam jeratan pemburu. "Mau apa kalian?" tanyaku, sedikit gemetar. Mereka terus mendekatiku. Mereka serius. Mereka benar-benar akan melakukan suatu yang buruk padaku. Aku mundur ke arah tembok batu.

"Apa yang akan kita lakukan padanya, teman-teman?" tanya Cazell.

"Tubuhnya bagus! Dan dia cantik," kata pemain Quidditch Ravanclaw. Dan teman-temannya mulai tertawa senang.

"Jangan coba-coba menyentuh aku! Aku akan melaporkan kalian pada McGonagall."

"Laporkan aja, Zabini! Kami akan bilang kita melakukannya atas dasar mau sama mau," kata Cazell.

"Apa yang mau sama mau?"

"Lihat aja nanti!" kata Cazell dan mereka berempat tertawa lebih keras sambil mendekatiku.

Mereka pasti ingin memperkosaku. Malfoy Brengsek di mana kamu? Kalau aku tetap di sini mereka akan memperkosaku. Aku harus lari sekarang. Aku cepat-cepat memutar tubuhku dan berlari.

"Tangkap dia! Jangan biarkan dia lolos!" perintah Cazell.

Mereka mengejarku di koridor. Aku berusaha melarikan diri dengan sekuat tenaga tanpa menoleh ke belakang. Tapi, dua buah tangan kasar telah menangkap pinggangku dan mendorongku ke tembok batu. Dia merapatkan tubuhnya yang berbau whisky api itu padaku. Dia mabuk dan aku akan berada dalam masalah besar.

"Bangsat! Lepaskan aku!" kataku. Aku berusaha menginjak kakinya dan mendorongnya, tapi dia membuat gerakan mengunci yang membuatku tidak bisa bergerak dan terperangkap di tembok.

"Bagus, Adam," kata seorang temannya sambil tertawa.

"Zabini, malam ini kami akan bergiliran bermain-main denganmu. Kamu cukup diam dan menikmati."

"TOLONG! TOLONG!" aku menjerit keras. Mereka tertawa lagi.

"Teriak aja, Zabini... tidak akan ada yang mendengarmu. Kami sudah memantrai koridor ini dengan Muffliato."

"BRENGSEK! LEPASKAN AKU!"

"Nanti setelah kami bermain-main denganmu." Setelah berkata begitu dia mulai menciumku dengan paksa diiringi suara tawa teman-temannya.

Aku menutup mulutku dan berusaha menjauhkan kepalaku darinya. Menyambar kesempatan ini dia langsung mencium leherku dan tangannya bergerak diseluruh tubuhku merobek bagian atas jubah yang ku kenakan. Merlin, bangsat-bangsat ini serius. Mereka akan bergilir memperkosaku dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya. Kalau memang benar koridor ini telah dimantrai dengan Muffliato, berarti tidak akan ada yang akan mendengarku, meskipun aku berteriak sampai suaraku hilang. Meskipun ini tubuh Iris, tapi aku... aku yang menghadapi kekerasan dan pelecehan ini. Malfoy, kamu benar-benar brengsek! Maafkan aku, Iris! Tapi...

"Stupefy...!"

"Stupefy...!"

"Stupefy...!"

"Stupefy...!"

Empat suara berbeda mengucapkan mantra itu dengan cepat. Cazell yang berada di atasku langsung terangkat dariku, terbaring pingsan, tak bisa bergerak di dekatku. Tiga orang temannya terbaring pingsan di dekat baju zirah. Aku mengangkat muka dan memandang lima orang anak Hufflepuff yang tadi ada di perpustakaan bersamaku.

"Kamu tidak apa-apa?" kata seorang cewek berambut pirang di kepang dua. "Kamu terluka," katanya memandang bekas tangan Cazell pada bahuku yang memar.

"Aku... aku tidak apa-apa!" gagapku.

"Aku akan membantumu," dia mengayunkan tongkat sihirnya pada jubahku yang robek dan jubah itu langsung kembali menyatu, menutupi memar di bahu dan dadaku.

"Te... terima kasih," gagapku lagi. Dia membantuku berdiri. Aku berdiri dengan gemetar, masih shock.

"Kami melihat mereka mengikutimu sejak dari perpustakaan. Jadi, kami mengikuti mereka. Maaf kami terlambat!" kata cowok Hufflepuff berambut pirang.

"Tidak apa, kalian telah menyelamatkan aku. Terima kasih!"

"Kami akan melaporkan mereka pada McGonagall. Orang-orang seperti mereka ini harus dihukum berat," kata seorang cewek berambut hitam.

"Benar!" sambung yang lain.

"Ya, aku sungguh-sungguh berterima kasih... aku... aku harus kembali ke asramaku," kataku.

Mereka mengangguk dan aku berjalan meninggalkan mereka sambil melambai. Malfoy brengsek! Ini semua gara-gara dia, benar-benar orang brengsek yang tidak bisa menepati janji. Setelah sampai di ruang bawah tanah, aku berlari menuju ruang rekreasi Slytherin dan meneriakkan 'Severus Snape' pada dinding batu sehingga batu itu berubah menjadi pintu. Aku masuk, memandang sekeliling ruang rekreasi yang kosong, dan melihat Malfoy sedang asyik berciuman mesra dengan Emily Parkinson. Mereka seperti direkatkan oleh lem di sofa dekat perapian. Mereka tidak menyadari kehadiranku.

"Benar-benar menjijikan!" desisku. Mereka terkejut, melepaskan diri.

"Oh, hai Iris," kata Emily, melepaskan diri dari Malfoy dan merapikan bagian atas jubahnya yang terbuka.

Aku tidak berkata apa-apa, hanya menatap tajam Malfoy. Jadi ini yang terjadi, dia melupakan janjinya denganku untuk ini. Untuk berciuman dengan Emily di ruang rekreasi yang kosong. Ya, terima kasih banyak, Malfoy!

"Eh... aku... aku ke kamar dulu!" kata Emily dengan canggung karena melihat aku dan Malfoy tidak berkata apa-apa. Dia memandangku dan Malfoy sekali lagi kemudian berjalan menuju kamar anak perempuan.

"Apa maumu?" tanya Malfoy sambil berdiri, hendak menuju kamar anak-anak laki-laki.

"Kamu memang benar-benar keterlaluan Scorpius Malfoy! Orang brengsek yang tidak bisa menepati janji. Orang yang tidak tahu aturan dan sopan santun."

"Apa? Apa maksudmu?"

"Bukankah kamu sudah berjanji menjemputku di perpustakaan jam sebelas?"

"Oh itu... Aku merasa konyol aja dengan sikap paranoidmu yang aneh itu."

"KONYOL! Konyol! Benar-benar keterlaluan!... tapi, wajar saja, yang bicara adalah Pelahap Maut kan harusnya aku tidak boleh percaya."

"APA? Kamu bilang apa? Pelahap Maut?" Malfoy mendekatiku dengan marah.

"PELAHAP MAUT!" jeritku, "Pelahap Maut seperti ayahmu yang brengsek itu. Seperti ibumu, kakek dan nenekmu dan semua keluargamu!"

"DIAM!"

"AKU TIDAK AKAN DIAM, MALFOY! Kamu tahu, Dad pernah bilang agar aku jangan dekat-dekat denganmu, tapi aku tidak mengindahkanya karena aku pikir kamu, mungkin berbeda dari ayahmu. Tapi sekarang aku tahu, Malfoy... kamu sama saja seperti mereka semua, seperti keluargamu. Pecundang bermuka dua... Akhkh!" Malfoy telah mendorong ke tembok, mengunci tangan dan kakiku dengan tubuhnya. Kedua tangan di leherku. Siap mencekikku. Mengapa aku harus mengalami hal seperti ini dua kali dalam semalam? Aku benar-benar sial! Menjadi Iris Zabini adalah tidak hanya menjadi Iris Zabini, tetapi harus menghadapi hal-hal seperti yang tidak akan kuhadapi kalau aku tetap Rose Weasley.

"Jangan coba-coba menghina keluargaku, Zabini!"

"Membela ayahmu yang pecundang, Malfoy?" Nafas seakan hilang dari paru-paruku. Tangan Malfoy yang kuat telah mencekikku. Aku merasakan biji mataku terancam keluar dari kelopaknya, dan seluruh udara telah pergi meninggalkanku. Tongkat sihirku? Mana tongkat sihirku? Aku menyusup tangan ke jubahku, tetapi tongkatnya tidak ada. Ya, tadi di ambil oleh Cazell. Dan aku lupa mengambilnya kembali. Di mana adilnya ini? Mereka yang memojokkan aku adalah cowok-cowok berbadan besar, sedangkan aku cewek bertubuh kecil tanpa tongkat sihir. Di sinilah aku mati tanpa bisa membela diri. Sesaat kemudian, Malfoy melepaskanku dan aku bisa bernafas lagi, tapi aku masih marah. Aku hampir diperkosa dan dia... dia sedang asyik berciuman dengan Emily.

"Pergi dari hadapanku sekarang!" kata Malfoy.

"Kenapa Malfoy? Takut membunuhku? Bukankah ayahmu yang pecundang dan sadis itu akan senang kalau kamu melakukannya? Dia juga senang ketika melihat ibuku disiksa oleh bibi Bellatrixnya tersayang. Ayo! Ayo lakukan, Pecundang!"

Bughkk! Tinju Malfoy tepat mengenai wajahku. Aku merasakan perih tak tertahankan di sisi kiri wajahku. Cairan hangat mengalir dari cela bibirku. Bibirku pecah. Dan dunia seakan berputar, pandanganku kabur. Aku jatuh terpuruk di lantai, seperti boneka tali tanpa orang yang memainkannya. Jangan pingsan sekarang! Jangan pingsan di depannya. Dia akan senang kalau aku pingsan. Bangun! Bangun! Tapi aku tidak bisa berdiri, kakiku tidak kuat menopang tubuhku. Dengan menahan airmata kesakitan aku merangkak menuju kamar anak-anak perempuan. Aku menutup pintu dan tak sadarkan diri di tempat tidurku.


Scorpius' POV

Aku memandang Iris yang merangkak menuju pintu ke kamar anak-anak perempuan, sampai Iris lenyap dan pintu itu menutup dengan keras. Nafasku memburu. Aku marah. Apa maksudnya menghina keluargaku? Pelahap Maut? Dua kata itu tidak pernah disebutkan di bawah atap Malfoy Manor, setelah Grandma dan Grandpa Malfoy meninggal. Kami berubah. Dad telah berubah. Dad adalah orang paling baik dan berani yang pernah kutemui. Dad adalah idolaku dan aku tak akan membiarkan siapapun menghina Dad.

Aku duduk di sofa dengan pikiran kosong. Apa? Apa yang telah kulakukan? Aku meninjunya? Aku memandang tangan kanan yang kugunakan untuk memukulnya. Aku... aku tidak pernah memukul perempuan apa lagi Iris. Dia adalah kembaran Alan, teman semasa kecilku, saudara perempuan yang seharusnya kujaga bukan kusakiti. Aku juga ingin membunuhnya tadi. Benar-benar ingin membunuh. Namun akal sehatku kembali dan aku berhasil menguasai diri. Kata terakhirnya tentang Dad membuatku kehilangan kendali. Ya, Iris aku tak akan membiarkanmu menghina Dad.

Apa yang harus kulakukan? Aku tahu hubunganku dan Iris tidak akan sama seperti dulu lagi, juga dengan Alan. Mereka tidak akan berbicara denganku lagi meskipun aku minta maaf. Ya, harusnya aku tidak boleh memukulnya kan? Dia perempuan dan dia lemah dia... aku bangkit menuju tembok batu dan meninju tembok batu beberapa kali sampai jari-jariku berdarah. Aku tahu ini semua salahku. Aku lupa menjemputnya. Aku...

Aku berjalan menuju kamar anak-anak laki-laki dan berbaring menatap langit-langit kamar.


Review Please!

Maaf! Ada kekerasannya... BTW, aku sedang mencoba menggunakan bahasa baku, jadi cara bicara karakternya agak berbeda. Ada usul dari degrangefoy untuk menghilangkan POV Al dan Scorpius. Padahal aku berencana memasukkan POV Lily dan Alan. Gimana menurut teman2. Review dan bilang pendapatnya,ya...

Riwa Rambu