ROSE WEASLEY AND IRIS ZABINI
Thanks semua yg baca fanfic ini... winey, degrangefoy, Aleysa-GDH, Naffauziyyah, zean's malfoy, Reverie Metherlence, Moofstaar: thanx reviewx... Jd ksimpulanx tetap pake 4 POV,ya... Putri: Lily-nya nanti di fanfic lain... :D
Disclaimer: JK Rowling
Iris' POV
Pagi ini aku bangun dengan semangat yang baru. Hari ini ada kelas Ramuan. Di kelas itu sebentar, aku akan melaksakan kejahatan pertamaku. Semalam, aku telah memikirkan cara-cara untuk mengalihkan perhatian Profesor Brewster. Dari rencana yang tidak mungkin seperti merayu Profesor Brewster sampai rencana yang mungkin bisa kulakukan seperti menyihir Alan dengan Mantra Pembesar sehingga perhatian Profesor Brewster tertuju padanya. Lalu Rose bisa mengambil bubuk tanduk Bicorn dan kulit Boomslang (selongsong kulit ular pohon saat dia ganti kulit).
Aku mandi dan menghabiskan waktuku dengan berdandan. Lily telah mengajariku berdandan seperlunya saja, bukan dandanan ala pesta keluarga Zabini. Aku tersenyum memandang diriku di cermin dan berusaha tidak memandang bayangan Suzane Finnigan dan Amelia Thomas yang terpantul di cermin. Sejak semalam mereka bersikap aneh; duduk di pojokan tempat tidur dan berbicara sambil berbisik-bisik, saat aku masuk mereka terdiam dan tersenyum padaku. Sepertinya mereka sedang membicarakanku.
"Err, Rose!" kata Suzane, memandang bayanganku di cermin.
"Apa?" tanyaku.
"Kamu... kamu dan Al... dua hari ini selalu bersama, ya," kata Suzane.
"Diakan sepupuku jadi kami... tidak ada yang perlu dicemburui, Suzane," kataku, berputar menghadapi mereka.
"Aku tahu dia sepupumu dan aku tidak cemburu, tapi... semalam Al menghindariku dan menghilang untuk mencarimu." Kata Suzane lagi.
"Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan, Suzane?" tanyaku.
"Sebenarnya aku ingin kamu menjauhi Al," kata Suzane. "Aku sangat menyayangi Al dan... dan yang dia bicarakan denganku sepanjang hari kemarin adalah Rose begini, Rose begitu. Membuatku sebal!"
"Rose, kuharap kamu mengerti perasaan Suzane. Sudah setahun ini dia meyukai Al dan ingin menjadi pacarnya. Dan kesempatan itu datang, Al akhirnya mau kencan dengannya. Dia berharap kamu tidak menghalanginya," kata Amelia, cewek berkulit agak gelap.
"Aku... aku..."
"Ku mohon Rose, bisakah kamu mengerti perasaanku dan cobalah untuk menjauhi Al?" kata Suzane.
Apa yang akan dilakukan Rose Weasley dalam situasi seperti ini? Apakah dia harus menjauhi sepupunya demi kebahagiaan teman sekamarnya? Ataukah dia akan memarahi teman sekamarnya ini dan menyuruhnya untuk mengurus dirinya sendiri. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada Suzane yang memandangku dengan berharap.
"Err, baiklah! Aku akan menjauh dari Albus dan... "
Suzane langsung memelukku, "Terima kasih, Rose!" katanya, melepaskanku dan berbalik menghadap Amelia untuk bertanya apakah dia cukup cantik untuk turun sarapan sekarang. Amelia mengangguk kemudian tersenyum padaku. Mereka melambai dan berjalan keluar. Aku kembali memandang cermin dengan sedih. Itu adalah jawabanku, Iris Zabini. Bukan jawaban Rose Weasley. Aku telah melakukan suatu yang salah. Apa yang akan dikatakan Rose?
Aku berjalan keluar kamar menuju ruang rekreasi. Ruangan itu kosong. Rupanya anak-anak telah turun sarapan di Aula Besar. Tetapi, aku melihat Lily duduk sambil membaca Daily Prophet.
"Lily!" seruku sambil mendekatinya. Dia mengangkat wajahnya dari Daily Prophet dan memandangku.
"Rose," katanya, "Ada yang harus kubicarakan denganmu,"
Aku duduk di sampingnya. "Ada apa?" tanyaku.
"Ini tentang Al... Apa yang terjadi antara kamu dan Al?"
"Tidak ada... dia memang marah-marah soal Alan Zabini, tapi kami sudah berdamai," kataku.
"Al menitipkan ini padaku," kata Lily sambil menyerahkan jubah berwarna perak yang lembut seperti air. "Dan dia berkata bahwa dia tidak ingin bertemu denganmu,"
"Dia tidak ingin bertemu denganku? Mengapa?" tanyaku heran.
"Entahlah, dia tidak mengatakan apa-apa," kata Lily, "Ku pikir dia sedang marah padamu."
"Tidak... kami... Oh, bagus kalau begitu," kataku teringat Suzane yang memintaku menjauhi Albus.
"Apa yang bagus, Rose?" tanya Lily.
"Suzane memintaku menjauhi Albus... dia menganggap aku mengganggu hubungannya dengan Albus... Dengan menjauhnya Albus dariku, aku bisa melakukan apa yang diinginkan Suzane."
"Cewek brengsek itu! Rose, kamu kok rela menjauhi Albus demi Suzane. Aku tak akan menerimanya, Rose," kata Lily.
"Sudahlah Lily... Albus juga ingin menjauhiku jadi kami sama-sama menjauh. Tak ada yang rugi."
"Tak ada yang rugi? Aku yang rugi, Rose... Aku tidak mau sepupu favoritku dan kakakku tidak saling bicara,"
"Lil, ku mohon bisakah kita melupakan ini... aku lapar... sarapan yuk!" kataku, lalu berdiri.
Lili mendengus dan ikut berdiri melemparkan Daily Prophetnya ke atas meja. Aku mengambil Jubah Gaib dan memasukkannya di tas. Aku sangat berharap hari ini berjalan lancar, karena aku tidak ingin di detensi oleh Profesor Brewster.
"Untuk apa Jubah Gaib," tanya Lily ketika kami memasuki Aula Besar. Melewati tiga meja lain menuju meja Gryffindor.
"Ada yang harus aku lakukan... tapi aku tidak bisa bilang padamu sekarang," tambahku saat melihat Lily ingin bertanya.
"Mengapa?"
"Jangan sekarang, Lil, nanti aja," kataku, menarik roti bakar berlapis selai strawberi ke arahku. Lily memandangku tak sabar sambil menggigit telur goreng.
Aku membuang muka dan memandang Albus. Dia duduk di pojokan meja yang jauh dari aku dan Lily. Suzane duduk disampingnya dengan bersemangat menceritakan sesuatu. Albus memandangku dan membuang muka. Apa yang aku lakukan? Aku sama sekali tidak menjengkelkannya. Semalam kami baik-baik saja. Dia bahkan meminjamkan Jubah Gaib padaku. Mungkin suasana hatinya lagi buruk. Dari yang kudengar tentang Weasley, mereka bertemperamen sangat aneh dan Albus adalah separuh Weasley.
"Mengapa Al menjauhi kita?" tanya Hugo, muncul dari belakang Lily dan duduk disampingnya.
"Entahlah!" kata Lily, "Pagi ini semua orang bersikap aneh..."
"Aku tidak bersikap aneh," kata Hugo, menyendok bubur gandum.
"Cuma kita berdua yang waras, Hugo," kata Lily.
Hugo tersenyum dan melirik Albus. "Hari ini latihan Quidditch untuk pertandingan akhir semester."
"Oh, syukurlah... akhirnya latihan juga. Aku sampai berpikir karena Al bersama Suzane dia sudah melupakan Quidditch," kata Lily antusias.
"Rose, kamu kok diam saja. Kamu tidak berencana untuk bolos latihan kan?" tanya Hugo.
"Latihan? Latihan apa?" tanyaku bingung.
"Quidditch, Rose... Quidditch..." kata Lily heran.
"Apa? Tapi aku tidak main Quidditch," kataku. Aku memang benar-benar tidak tahu caranya terbang di kayu pipih yang berekor itu.
"Kamu main Quidditch, Rose dan Al akan membunuhmu kalau kamu bolos latihan," kata Hugo.
Sekarang akan benar-benar ketahuan kalau aku bukan Rose Weasley. Aku tidak bisa dan belum pernah terbang sambil mengejar bola. Mampus aku! Rose? Mana Rose? Aku memandang meja Slytherin berharap bisa menemukan rambut hitamku di antara anak-anak Slytherin. Tidak ada. Tidak ada rambut hitam. Tidak ada Rose. Mana Rose? Bukankah kami harus menyusun ulang rencana pencurian Bicorn dan Boomslang ini. Aku memandang meja Slytherin lagi dan melihat Alan sedang duduk bersama Malfoy dan Goyle. Malfoy tampak lebih pucat dari biasanya. Dia tidak sarapan hanya duduk memandang bubur di depannya.
"Rose, kamu dengar apa yang kukatakan?" tanya Hugo melambaikan tangan di depanku.
Aku berkedip dan memandangnya.
"Latihan Quidditch sehabis makan malam," kata Hugo.
"Ohya, aku mengerti Hugo," kataku. Aku sebenarnya tidak tahu apa yang kumengerti. Tentang pencurian nanti, tentang Al yang bersikap aneh atau tentang Quidditch.
Scorpius' POV
Aku pergi ke Aula Besar bersama Alan dan Vincent. Sebenarnya aku tidak ingin sarapan, tapi aku tidak ingin Alan dan Vincent bertanya-tanya mengapa aku tidak sarapan. Sampai di Aula Besar, aku mendengar anak-anak telah berkumpul, dan seperti biasa berceloteh tentang PR dan Quidditch. Aku memperhatikan meja Slytherin dan tidak melihat Iris. Linda dan Emily sedang duduk menikmati roti keju. Emily menangkap pandanganku dan mengedip. Aku memaksakan diri tersenyum.
"Kamu dan Emily akhirnya jadian?" tanya Alan.
"Ya, begitulah!" kataku.
"Bagaimana terjadinya?" tanya Alan, tersenyum menggoda.
"Tidak ada... kami duduk, saling pandang dan berciuman cuma itu," jawabku tanpa semangat.
"Oh, ku pikir terjadi sesuatu yang romantis," kata Alan.
"Jangan mengada-ngada, Alan," kataku dan Alan hanya tertawa. Aku tidak bisa ikut tertawa. Aku akan terlihat seperti sedang menangis kalau tertawa sekarang.
"Ada apa? Wajahmu seperti sedang mengalami kedukaan... Dapat pacar bukannya senang?"
"Aku... aku sedang memikirkan Iris," kataku. Benar! Aku memang sedang memikirkannya. Aku ingin tahu apa yang terjadi dengannya.
"Memikirkan cewek lain, Scorps? Apa yang akan dikatakan Emily?" tanya Alan, menggodaku lagi.
"Aku serius Alan... biasanya dia tidak pernah terlambat sarapan,"
Alan memandang sekitarnya dengan cemas, "Benar juga... ku harap dia baik-baik saja."
"Emily, mengapa kalian tidak bersama Iris?" tanyaku pada Emily.
"Dia masih tidur, tampaknya dia lelah sekali. Jadi, kami tidak ingin membangunkannya," jawab Emily.
"Nah, sepertinya Iris memang baik-baik saja," kata Alan, "Jangan cemas!"
Kau mungkin menyebutku pengecut karena aku tidak menceritakan pada Alan tentang semalam. Tentang bagaimana aku hampir membunuh Iris dan meninju wajahnya sampai berdarah. Aku takut, aku tak ingin memutuskan persahabatanku dengan Alan. Dia adalah sahabat terbaik yang kumiliki.
"Alan, apa yang akan kamu lakukan kalau aku membuat Iris terluka," tanyaku pada Alan.
"Kamu membuat Iris terluka?"
"Misalnya Alan... Misalnya suatu saat nanti aku membuatnya terluka," kataku.
"Kalau itu terjadi aku akan membunuhmu, Scorps! Aku tidak mau mengenalmu lagi selamanya," kata Alan tegas.
"Baiklah... aku akan ingat itu," kataku.
Setengah jam kemudian kami bersiap-siap menuju kelas Ramuan. Emily memberiku kecupan di bibir sebelum aku menyusul Alan. Aneh sekali aku sama sekali tidak bahagia. Aku pikir dengan memiliki pacar, seperti Alan, aku akan bahagia. Aku akan bisa tersenyum dan menikmati nikmatnya berciuman. Aku memang menikmatinya sebelum Iris datang dan merusak semuanya.
Kami masuk ke kelas Ramuan dan menuju meja kami. Brewster masuk dengan bersemangat dan menyuruh kami membuka Pemandu Ramuan Kelas Lanjutan halaman 234. Proyek untuk sisa semester ini adalah Amortentia, ramuan Cinta.
"Tahun lalu kalian telah mempelajari apa itu Amortentia dan kegunaannya, juga ciri khas serta cara meramu ramuan Cinta. Tahun ini kalian akan membuatnya. Bahan-bahan bisa kalian temukan di lemari siswa..." kata Brewster melirik lemari di belakang kelas. "Kita membutuhkan waktu kira-kira sebulan untuk mendapatkan hasil Amortentia yang bagus. Kalian bisa merebusnya sekarang!"
Aku berjalan menuju lemari siswa bersama anak-anak lain dan mulai mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat Amortentia. Ketika aku kembali Alan sudah menyalakan api di bawah kualinya.
"Mana Iris?" tanyaku, menyalakan api di bawah kualiku sendiri dan mulai menuangkan serbuk daun Holly.
"Mungkin sebentar lagi muncul," kata Alan.
"Alan, harusnya kamu khawatir... Dia terlambat bangun mungkin sakit atau apa," kataku sebal karena Alan tidak peduli dengan ketidakhadiran Iris. Ramuan adalah mata pelajaran favorit Iris, tidak mungkin dia terlambat Ramuan.
"Dengar Scorps, Aku bukannya tidak peduli. Aku tahu Iris tidak apa-apa... kalau kamu cemas, kamu bisa menyuruh Emily mengeceknya untukmu... Sekarang diamlah! Aku harus berkonsentrasi membuat ramuan," kata Alan.
Aku memandang kosong ramuanku yang berwarna ungu muda. Aku tahu pasti terjadi sesuatu pada Iris. Apakah tinjuku bisa menyebab kematian? Tidak mungkin, tinju tidak menyebabkan kematian. Atau dia sekarang sedang menangis kesakitan di kamar anak-anak perempuan. Aku benar-benar khawatir. Baiklah, aku akan menyuruh Emily mengeceknya nanti.
Dua jam kemudian kami semua membereskan barang-barang kami untuk meninggalkan kelas Ramuan.
"Minggu depan kalian sudah bisa menanbahkan Rau Kombu pada ramuan kalian," kata Brester, setelah berjalan keliling memeriksa ramuan-ramuan di setiap meja. Rau Kombu adalah daun berbau harum yang bisa menciptakan efek kebahagian yang tiada tara.
"Alan!" teriak sebuah suara di belakang kami, saat kami sedang berjalan di koridor bawah tanah kelas Ramuan.
Aku, Alan dan Vincent berhenti dan berbalik memandang Rose Weasley yang sedang berlari-lari kecil menghindari anak-anak menuju ke arah kami.
"Apa?" tanya Alan, ketika Weasley telah sampai di depan kami dengan nafas berat karena capek berlari.
"Ngg... mana Rose... maksudku mana Iris... mengapa dia tidak ikut Ramuan?" tanya Rose.
"Ada dan tidak adanya Iris di kelas Ramuan, bukan urusanmu, Weasley!" jawab Alan.
"Dengar ya, aku khawatir... mungkin ada hubungannya dengan Cazell dan teman-temannya..."
"Apa maksudmu? Cazell dan teman-temannya?" tanyaku
"Kalian tidak mendengar gosip pagi ini, ya?" tanya Rose.
"Jangan bertele-tele, Weasley... langsung saja... apa yang terjadi dengan Cazell?" tanyaku.
"Dia dan teman-temannya diskors dari Hogwarts... ada hubungannya dengan tindak kekerasaan, percobaan pembunuhan atau yang seperti itu, aku tidak tahu pasti karena beritanya berbeda-beda," kata Rose.
"APA?" aku dan Alan terkejut. Mata vincent melebar.
"Makanya aku mencari Rose... Iris," lanjut Weasley. "Aku akan ikut kalian ke asrama Slytherin untuk mengeceknya..."
Alan tidak bergerak. "Apakah... apakah semalam kamu menjemputnya di perpus, Scorps?"
"Err, aku... aku..."
"KAMU TIDAK MENJEMPUTNYA?" teriak Alan membuat anak-anak yang berada di dekat mereka berhenti untuk melihat apa yang terjadi.
"Aku... maafkan aku! Aku sedang bersama Emily... aku..."
BUKKH! Tinju Alan menghantamku dengan keras. Aku terjatuh di lantai dengan wajah kesakitan. Aku memandang Alan dan berpikir bahwa hal seperti ini mungkin akan terjadi antara dua orang yang bersahabat. Aku sudah tahu Alan pasti akan meninjuku karena aku lupa menjemput Iris. Apa yang terjadi kalau Alan tahu aku telah memukul kembarannya? Aku tidak mau memikirkannya.
"Kamu sudah berjanji, Scorps! Dan kamu melupakannya hanya karena sebuah ciuman?" Alan menatapku, menggelengkan kepalanya dan menyeret Weasley pergi bersamanya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Vincent, membantu berdiri.
"Ya, aku baik-baik saja," kataku.
"Harusnya kamu tidak boleh lupa menjemput Iris, Scorps... kamu sudah berjanji," kata Vincent, memandang kerumunan anak-anak yang menyingkir satu persatu karena drama telah selesai.
"Aku tahu," kataku, menyentuh wajahku dan meringis.
"Aku tidak tahu mantra pengobatan, jadi aku akan membawamu ke rumah sakit," kata Vincent memandangku dengan prihatin.
"Terima kasih, Vincs,"
Rose's POV
Aku merasakan kesakitan yang sangat di wajah dan bahuku. Aku membuka mataku. Pandangan seseorang berambut merah yang sangat familiar masuk ke otakku.
"Rose? Kamu dengar aku?"
Suara ini juga sangat familiar. Aku memfokuskan kembali mataku dan melihat tubuhku, mataku dan rambutku dengan Iris sebagai jiwanya sedang memandangku dengan khawatir.
Aku bergerak bangun. Aku ingin bicara tapi tidak bisa. Bibirku sakit saat hendak kugerakan dan juga terasa tebal dibagian bawah. Aku memberi isyarat tangan pada Iris untuk bertanya mengapa dia bisa ada di kamar anak-anak perempuan Slytherin.
"Mengapa aku di sini? Aku khawatir dan Alan membawaku ke sini... aku menemukanmu pingsan di tempat tidur dan aku telah berusaha menyadarkanmu beberapa kali dan... apa yang terjadi denganmu?"
Aku menggelengkan kepalaku dan bangkit menuju kamar mandi. Aku tidak mengenali diriku sendiri ketika memandang cermin di atas wastafel. Rambut hitamku berantakan dan menutupi mata kiriku yang kesakitan. Aku menyingkirkan rambutku dan melihat warna hitam kebiruan di bawah mataku. Bibirku bengkak dengan bekas darah kering di daguku. Di leherku terdapat bekas tangan Malfoy yang berwarna kebiruan. Aku melepaskan Jubah dan sisa pakaianku dan melihat memar di bahuku.
Airmata mengalir di mataku. Apa yang terjadi denganku. Aku, Rose Weasley, hampir di perkosa setelah itu ditinju oleh orang yang kuanggap ramah dan bisa dijadikan teman. Aku tidak pernah mengalami yang seperti ini sebelumnya. Aku selalu dicintai oleh orangtuaku dan seluruh keluargaku menyayangi dan memperhatikanku. Sekarang aku berdiri di kamar mandi Slytherin dan menangis untuk pertama kalinya dalam kehidupan dewasaku. Aku tidak pernah menangis sebelumnya. Molly adalah yang paling cepat mengeluarkan airmata dalam keluarga. Bukan aku.
Aku sebenarnya bisa menyembuhkan luka-lukaku. Mom telah mengajariku beberapa mantra penyembuhan, tapi aku tak punya tongkat sihir. Tongkat sihirku hilang sejak semalam. Aku sangat berharap anak-anak Hufflepuff yang berbaik hati telah menolongku itu meyimpan tongkat sihirku. Karena aku pasti akan dikirimi Howler oleh Mom kalau aku meminta tongkat sihir baru. Lagipula aku tidak bisa meminta tongkat sihir baru pada Mom dengan tubuh Iris.
Aku mandi dan membersihkan diri. Iris, duduk di tempat tidur, menungguku dengan sabar. Setelah berganti pakaian aku memberi isyarat pada Iris untuk menyembuhkanku.
"Apa?"
Sial! Aku tidak bisa bertingkah seperti orang bisu selamanya. Aku mengambil perkamen dan menulis: Kamu bisa menyihir luka-lukaku, aku tak ingin ke rumah sakit dengan wajah begini!
"Aku tidak tahu mantra penyembuhan... kamu harus ke rumah sakit!" jawab Iris dengan wajah menyesal. "Apa yang terjadi denganmu, Rose?"
Aku mengabaikan pertanyaannya dan menulis lagi: Aku tidak bisa keluar dengan wajah begini... Lakukan sesuatu! Panggil Lily!
"Oh... aku punya Jubah Gaib, kamu bisa memakai Jubah Gaib untuk ke rumah sakit dan anak-anak lain tidak akan melihatmu... Madam Darnsley akan menyembuhkanmu tanpa bertanya," kata Iris bersemangat. Dia mengeluarkan Jubah Gaib dari tasnya dan memberikannya padaku.
Aku memakainya dan kami berdua berjalan keluar kamar. Di ruang rekreasi kami bertemu Alan yang langsung mendekati Iris.
"Mana Iris? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Alan.
Iris mengerjap bingung. Iris, jangan bilang kalau aku ada di sampingmu. Aku akan membunuhmu nanti. Bilang kalau aku baik-baik saja!
"Eh, Rose... Iris baik-baik saja... Dia tidak bisa tidur semalam jadi... jadi dia ingin tidur... tapi dia akan masuk kelas berikutnya kok! Jangan khawatir!" kata Iris, "Aku pergi dulu,"
Iris berlari ke pintu dan aku mengikutinya. Kami tidak bertemu siapa-siapa saat menyusuri koridor ruang bawah tanah menuju Aula Depan. Di Aula Depan banyak anak-anak melewati kami untuk menuju ke halaman dan aku berusaha berjalan agak merapat ke tembok agar tidak disenggol oleh mereka.
"Aku senang Alan menyayangiku," kata Iris, tersenyum, saat kami telah melewati tangga-tangga dan kini sedang meyusuri koridor yang menuju rumah sakit.
"Dia memukul Malfoy karena lupa akan janjinya padamu," lanjut Iris memandang tempat kosong yang dikiranya adalah aku.
APA? Aku tak ingin itu terjadi. Aku tak mau mereka bertengkar gara-gara aku. Mereka tidak boleh tidak bicara karena mereka adalah sahabat. Yang patut disalahkan adalah aku sendiri, aku yang terlalu lemah dan tidak bisa menjaga diri. Harusnya pada saat melewati koridor, aku memasang Mantra Pelindung.
"Sebenarnya aku tak ingin mereka bertengkar... Rose, kamu harus melakukan sesuatu," kata Iris.
Aku mengangguk meskipun aku tahu dia tidak melihatku. Aku akan merbicara dengan Alan nanti.
Kami terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Saat tiba di pintu rumah sakit aku melepaskan Jubah Gaib dan memberikannya pada Iris yang memasukkannya ke dalam tas.
"Wajahmu benar-benar mengerikan!" kata Iris memandangku.
Aku menggeleng dan menuju pintu hendak mengetuknya. Pada saat bersamaan pintu itu terbuka dengan keras. Aku mundur dan memandang... Scorpius Malfoy, dan Vincent Goyle muncul di belakangnya.
"Hai! Kalian juga disini?" tanya Iris.
"Ya, baru saja selesai," jawab Goyle.
Aku memandang wajah Malfoy yang memar berwarna biru di pipi kirinya, sudah hampir sembuh. Dia memandangku. Kami bertatapan. Beberapa detik berlalu. Kami masih bertatapan. Malfoy bergerak maju hendak menyentuh pipiku yang memar. Tiba-tiba aku merasa ketakutan dan jijik pada saat bersamaan. Aku tidak mau dia menyentuhku. Aku mundur dan mendelik padanya.
"Dia tidak mau kamu menyentuhnya, Scorpius," kata Iris.
"Aku tidak minta pendapatmu, Weasley" jawab Malfoy.
"Aku hanya menyampaikan kenyataannya... kalau Rose... Iris bisa bicara pasti dia akan menyuruhmu menyingkir," kata Iris.
"Dia tidak bisa bicara?" tanya Malfoy kaget memandangku.
"Dia tidak bisa bicara karena bibirnya luka. Sekarang menyingkir, Scorpius, kami mau bertemu Madam Darnsley!" kata Iris.
Malfoy bergerak ke samping. Aku dan Iris masuk dan melihat Madam Darnsley sedang merapikan ranjang rumah sakit dengan tongkat sihirnya. Dia berbalik memandang kami.
"Oh ya ampun, Miss Zabini, apa yang terjadi?" tanya Madam Darnsley mendekati kami dan membawaku duduk di ranjang.
"Sepertinya dia dipukul oleh Adam Cazell dan teman-temannya yang brengsek itu," jawab Iris.
"Anak-anak yang diskors Minerva pagi tadi?"
"Benar!"
"Oh, mereka juga hampir membunuhmu, Miss Zabini," kata Madam Darnsley sambil memandang bekas tangan Malfoy di leherku.
Dia menurunkan leher bajuku dan melihat memar-memar dibahuku.
"Miss Zabini, kamu harus beristirahat di sini malam ini. Aku harus memberikan salep khusus pada luka-lukamu dan kamu juga harus meminum Ramuan Antishock," kata Madam Darnsley.
Aku mendelik pada Madam Darnsley.
"Dia tidak mau tinggal di rumah sakit, Madam Darnsley," kata Iris untukku.
"Dia harus tinggal... dan aku akan melaporkan hal ini pada Minerva agar orangtuamu bisa dihubungi," kata Madam Darnsley.
"JANGAN!" jerit Iris, "Jangan menghubungi orangtuaku... maksudku orangtuanya... dia akan tinggal di rumah sakit malam ini. Iyakan, Rose... Iris? Ku mohon, Madam Darnsley, jangan menghubungi orangtuanya!"
"Tidak bisa, Miss Weasley... Ini adalah percobaan pemerkosaan... kalau dilihat dari bekas dilehernya bisa disebut percobaan pembunuhan. Jadi, hal ini harus disampaikan pada orangtua."
Aku cepat-cepat menggeleng.
"Dia tidak mau hal ini dilaporkan pada orangtuanya, Miss Darnsley!"
"Aku harus tetap melaporkan hal ini... Ini!" dia memberikan salep kecil pada Iris, "Gosokkan ini pada memar ditubuhnya. Aku akan memberikan Ramuan Luka Dalam untuk luka di bibirnya nanti. Ku kira ada luka di bagian dalam bibirnya yang menyebabkan dia kesakitan saat hendak bicara."
Madam Darnsley berjalan menuju kamar kerjanya dan mengambil mantel.
"Kamu harus tetap di sini sampai aku kembali," kata Madam Darnsley pada Iris.
Iris mengangguk.
"Matilah aku!" kata Iris setelah Madam Darnsley pergi.
Aku menatapnya.
"Orangtuaku akan datang... aku tidak mau Mother dan Father datang! Rose, kalau orangtuaku datang, kamu harus pura-pura tidur,ya!" kata Iris.
Aku menggangguk.
Iris sedang mengosok salep berbau cendana itu di wajahku ketika pintu terbuka lagi. Aku dan Iris menoleh, mengira Madam Darnsley telah kembali. Ternyata yang masuk adalah Malfoy.
"Aku melihat Madam Darnsley pergi... dan aku masuk, ingin tahu keadaanmu," kata Malfoy berjalan ke arah kami dan duduk di samping Iris.
Aku memberi isyarat agar dia menyingkir dari hadapanku. Aku tidak ingin melihat wajahnya.
"Dia ingin kamu pergi, Scorpius," kata Iris.
"Diam, Weasley!" kata Malfoy. Iris langsung diam, memandangku dan Malfoy.
Malfoy menatapku, "Aku minta maaf... aku benar-benar menyesal... aku tidak tahu kalau si brengsek Cazell dan teman-temannya berniat memperkosamu... aku harusnya menjemputmu semalam... aku juga... aku... kamu boleh memukulku... Pukul aku!"
Aku diam saja menatapnya. Dia mengulurkan tangan menyentuh pipiku dan membelainya perlahan. Aku tidak sempat menghindar. Kami bertatapan. "Maafkan aku!" bisiknya.
Apa? Apa aku harus memaafkannya dengan mudah? Tidak sekarang, Malfoy! Pergi dari hadapanku! Aku mengambil bantal rumah sakit dan melemparkannya ke wajah Malfoy.
"Hei?"
Aku memandang ke pintu menyuruhnya pergi.
"Pergilah, Scorpius!" kata Iris.
"Aku tak akan pergi," kata Malfoy keras kepala. Dia merebut salep dari Iris, "Biar aku yang menjaganya kamu boleh pergi,"
Iris memandangku bingung.
Aku mendelik pada Malfoy yang bersiap-siap menggosok salep ke wajahku. Aku melompat menghindar, menyambar bantal dan menghantamnya dengan bantal. Ku bilang pergi, Bangsat! Pergi! Aku terus menyerangnya dengan bantal.
"Hei, hentikan!" kata Malfoy menghindari serangan bantal.
Iris terkikik.
Aku dan Malfoy memandangnya.
"Eh, maaf! Kalian berdua lucu!" kata Iris, terkikik lagi.
Hentikan, Iris, atau aku juga akan memukulmu dengan bantal. Aku kembali menyerang Malfoy dengan bantal.
"Ok! OK! Aku pergi..." kata Malfoy menghindari bantal untuk terakhir kalinya.
Dia memberikan balsemnya pada Iris dan keluar setelah memberikan pandangan menyesal padaku.
Aku mendengus.
"Scorpius kok aneh sekali, ya?" kata Iris.
The Malfoys memang aneh... ayah dan anak sama saja. Aku teringat cerita yang dikisahkan Dad dan Uncle Harry, tentang Draco Malfoy, musang kecil bermuka dua yang selalu ingin menggagalkan setiap rencana Dad dan Uncle Harry.
"Dia biasanya tidak seperti itu! Ku kira mungkin dia menyukaimu, Rose..."
Hahaha, menyukaiku? Ku rasa itu adalah penyesalan karena berani memukulku. Dia yang mencoba membunuhku, Iris, bukan Cazell.
Iris mengambil salep dan mengosoknya ke wajahku.
"Aku lupa memberitahumu, sebentar malam latihan Quidditch!"
Ya, benar! Quidditch untuk akhir semester. Pertandingan Gryffindor melawan Slytherin. Bagaimana ini? Aku ingin main Quidditch. Aku merindukan Quidditch.
"Apa yang harus kulakukan, aku tidak bisa main Quidditch... aku bahkan belum pernah terbang," kata Iris memandangku dengan bertanya.
APA? Tidak Bisa Main Quidditch? Belum Pernah Terbang? Lalu bagaimana nanti? Aku tidak mau Al mengeluarkanku dari tim. Merlin! Sialan... sialan! Aku akan dikeluarkan dari tim. Aku mendelik pada Iris.
"Benar! Aku... maafkan aku, Rose,"
Aku mengambil tas Iris, mencari perkamen dan pena bulu lalu menulis: Lakukan sesuatu aku tak mau dikeluarkan dari tim... Kamu pasti bisa terbang. Waktu kelas satukan ada pelajaran terbang, kamu pasti tahu teorinya.
Iris membacanya. "Aku memang tahu teorinya, tapi aku belum pernah terbang... sapuku tidak pernah menurut padaku,"
Aku menulis: Kamu harus memintanya dengan lembut dan tidak boleh dengan ketakutan. Pergilah! ambil sapuku di ruang ganti Tim Gryffindor dan berlatihlah. Kamu harus berlatih keras karena aku tak ingin dikeluarkan dari tim. AKU AKAN MEMBUNUHMU KALAU AKU DIKELUARKAN.
"Baik... baik!" kata Iris. "Aku akan berlatih keras... kamu tidak apa-apa sendirian?"
Aku mengangguk. Aku baik-baik saja.
"Aku akan pergi, tapi aku harus menggosok salep di leher dan bahumu dulu!" kata Iris, lalu mengolesi salep di tempat-tempat yang memar.
"Nah selesai!" kata Iris tersenyum, menyimpan salepnya di atas meja kecil di sebelah ranjang.
Aku tersenyum, terima kasih.
"Aku pergi dulu, ya! Aku akan datang lagi setelah latihan Quidditch... Aku akan berlatih keras siang dan sore ini!" kata Iris.
Aku tersenyum dan melambai padanya. Iris balas melambai dan berjalan ke pintu.
Aku menghela nafas. Capek! Untung aku tidak diminta mengulang kisahku pada McGonagall. Aku tidak ingin menceritakan kisah percobaan pemerkosaan Cazell, hal itu membuatku jijik. Aku membaringkan diri dan sedang mencoba untuk tidur ketika pintu terbuka lagi. Aku sedang malas bicara, aku menutup mata dan berpura-pura tidur.
"Dia sedang tidur," kata sebuah sebuah suara.
Suara yang pernah aku dengar. Aku membayangkan seorang cewek dengan rambut panjang di kepang dua. Aku membuka mata dan memandang mata biru cewek Hufflepuff dengan rambut di kepang dua.
"Oh maaf! Kami membangunkanmu!" kata cewek itu. Dia memandang temannya, cowok yang bersama dengannya semalam.
Aku menggeleng mengambil perkamen dan pena bulu yang ditinggalkan Iris dan menulis: Tidak apa-apa, aku belum benar-benar kasih semalam, kalian telah menolongku.
Cewek itu membaca dan tersenyum.
"Aku tidak pernah tahu kalau dia mencekik dan meninjumu juga," kata cewek itu memandang memar di wajahku dan bekas tangan dileherku.
Aku menulis: Ini cerita lain... ku mohon jangan mengatakan pada siapapun tentang ini... biarlah mereka mengira Adam Cazell yang melakukannya. Ku mohon!
Dia memandangku dengan bertanya. "Siapa yang melakukannya?"
Aku menulis: Aku tidak bisa menceritakannya, tapi ini salahku juga... Ku mohon! Jadikan ini rahasia kita.
Dia mengangguk dan tersenyum. "Baiklah!" katanya."Aku sudah menceritakannya pada McGonagall apa yang terjadi. Cazell dan teman-temannya sudah diskors dari Hogwarts selama tiga minggu,"
Aku mengangguk.
"Ohya, namaku Carlotta Abbot dan ini Donald Bones... kamu melupakan tongkatmu semalam..." kata Carlotta, meletakkan tongkatku di atas meja di samping ranjang.
Aku tersenyum, terima kasih.
"Kami pergi dulu, ya! Selamat beristirahat!" mereka melambai lalu pergi.
Aku berbaring lagi, memejamkan mata lalu tertidur.
Al'S POV
Aku berhasil menghindari Rose sepanjang hari ini. Rose juga tampaknya dengan senang hati menjauh dariku. Aneh! Harusnya aku senangkan? Ini yang ku inginkan, tapi aku sedih. Aku tak ingin menjauh dari Rose.
Meskipun mengerjakan ramuan di meja yang sama kami tidak bicara. Aku menghabiskan waktu dengan memandang Rose sampai aku salah memasukkan beberapa bahan ke ramuanku. Sedangkan Rose tampaknya meramu ramuan dengan gembira. Tidak seperti biasanya. Ku pikir dia membenci ramuan, tapi hari ini dia begitu bersemangat dan gembira.
Selesai ramuan aku melihatnya mengejar Alan Zabini di koridor. Sesuatu yang membuatku bertanya-tanya, bukankah dia tidak menyukai Zabini? Kemudian aku melihat Zabini meninju Malfoy dan mengatakan sesuatu tentang janji yang dilanggar. Lho ada apa ini? Semua orang jadi aneh hari ini. Yang lebih aneh dan sangat menyebalkan adalah Rose, yang dengan senang hati mengikuti Zabini ke ruang rekreasi Slytherin. Aku mendengus kesal. Aku pergi ke Aula Besar dan menikmati makan siangku sendirian. Tidak ada Lily dan Hugo bahkan Suzane. Kemana semua orang?
Selesai makan siang aku kembali ke ruang rekreasi dan bertemu dengan Suzane yang langsung menciumku dengan bersemangat.
"Al, kamu tidak mendengar gosip hari ini, ya?" tanya Suzane setelah kami melepaskan diri.
Aku menggeleng. Memangnya aku tidak punya kerjaan lain yang lebih baik dari pada mendengarkan gosip Hogwarts.
"Si Sinting hampir mati dibunuh orang di koridor perpustakaan," kata Suzane lagi.
"Si Sinting?"
"Zabini... Iris Zabini."
"Mengapa ada yang mau membunuhnya?" tanyaku tidak percaya. Kok ada yang mau membunuh cewek aneh seperti Zabini.
"Entahlah, ada hubungannya dengan kejadian di koridor Rune siang kemarin."
"Cazell dan teman-temannya?" kataku sambil tertawa. Kami menemukan Cazell dan teman-temannya digantung dengan jubah separuh terbakar dan tubuh basah. Pemandangan yang benar-benar lucu. Aku senang ada yang melakukan itu pada mereka, karena mereka adalah cowok-cowok brengsek yang suka mengganggu orang.
"Ya, yang menggantung mereka adalah Zabini... dan malamnya mereka membalas Zabini... Sekarang dia di rumah sakit. Kata Amelia, wajahnya tidak bisa dikenali karena dipukuli Cazell dan lidahnya putus. Dia sekarang tidak bisa bicara."
"Benarkah?" tanyaku tak yakin.
"Begitulah... Cazell telah dikirim ke Azkaban."
Aku tidak yakin dengan berita terakhir ini. Tidak mungkin mengirim anak-anak dibawah umur ke Azkaban. Tetapi kalau dia memang benar-benar telah memutuskan lidah Zabini, mungkin saja dia di Azkaban sekarang.
"Al, Rose mencarimu," kata Hugo yang baru masuk ke ruang rekreasi.
"Untuk apa Rose mencariku," kataku dengan dada berdebar.
"Dia ingin meminjam kunci ruang ganti Gryffindor... Mau ambil sapu... dia ingin pemanasan sebelum latihan nanti malam," kata Hugo.
"Oh..." kataku, mengambil sebuah anak kunci dari saku jubahku dan memberikannya pada Hugo.
"Thank Al! Aku akan memberikan kunci ini padanya," kata Hugo lalu keluar.
Suzane kembali menceritakan gosip yang lain tentang Malfoy dan Alan Zabini yang memperebutkan Emily Parkinson. Ketika bel tanda pelajaran berikutnya berbunyi aku langsung bangkit dan senang punya alasan untuk meninggalkan Suzane yang telah menceritakan tentang keluarganya sempurna dan terkenal di Irlandia.
Sejarah Sihir seperti biasa sangat membosankan. Rose duduk di depan sambil mengalamun menatap keluar jendela. Tidak seperti biasa. Biasanya dia akan duduk mencatat dan mendengarkan apa yang dikatakan Binns. Dia melirikku sesaat kemudian membuang muka. Lho! Harusnya aku yang membuang muka bukan dia. Aku mendengus dan mencoba untuk mendengarkan Binns.
Setelah makan malam aku, Hugo dan Lily berjalan menuju lapangan Quidditch bersama tiga orang pemain Gryffindor lain Carroll Wood (chaser), Brian Peakes dan Shane Coote (Beater). Rose telah duduk di ruang ganti dengan memakai jubah Quidditch merahnya. Dia tampak tegang dan pucat. Tidak seperti biasanya.
"Tak perlu tegang begitu, Rose, cuma latihan! Pertandingannya nanti sebelum liburan natal," kata Lily menenangkan Rose.
"Aku tahu," kata Rose, semakin pucat.
Aku memandangnya, Rose menunduk mencengkram Nimbus 6000-nya. Ada apa ini? Rose seperti akan pingsan.
"Rose, kalau kamu sakit atau..." kata-kataku langsung dipotong.
"Kamu tidak boleh mengeluarkan Rose... aku dari Tim," kata Rose tiba-tiba.
"HA? Siapa yang bilang aku akan mengeluarkanmu?" tanyaku meskipun sebenarnya aku tidak ingin bicara dengannya.
"Rose... maksudku aku!"
"Dengar Rose... kita cuma latihan dan aku tak mau tingkah gugupmu membuat yang lain jadi risih."
"Aku baik-baik saja."
"Bagus! Ayo semua!"
Setelah semuanya berganti pakaian memakai jubah merah Gryffindor, kami berjalan menuju lapangan Quidditch.
"Rose, Lily, Carroll kalian boleh mengambil Quaffle dan cobalah untuk menyerang gawang Hugo... Brian... Shane, aku akan melepaskan Bludger setelah kalian ada di atas. Aku akan melihat latihan kalian sebentar, setelah itu aku akan melepaskan Snitch dan mencoba untuk menangkapnya... Siap semua!" kataku, lalu meniup peliut dan mereka semua menjejakkan kaki ke tanah dan terbang. Rose sedikit terlambat.
Aku melihat mereka latihan selama beberapa saat. Terbang mengelilingi mereka dan memfokuskan perhatianku pada Rose yang bersikap aneh. Dia tidak seperti biasanya, seperti ada pribadi lain yang ditempatkan di dalam dirinya. Dia kelihatan bingung antara mempertahankan dirinya di sapu atau melemparkan Quaffle. Hasilnya, dia adalah yang paling banyak menjatuhkan Quaffle dan tidak pernah memasukkan satu gol pun ke gawang Hugo. Anak-anak lain memperhatikan Rose dengan bingung, tapi tidak berkata apa-apa.
Aku melepaskan Bludger. Brian dan Shane yang membawa pemukul Beater menghantam Bludger pada para pemain. Lily dan Carroll menghindar dengan lincah. Aku tidak memperhatikan Rose, tapi saat aku hendak melepaskan Snitch, sebuah suara teriakan kengerian membelah malam. Aku berbalik dan melihat Rose, terhantam Bludger di kepala dan terjatuh. Pikiranku kosong. Aku tidak bisa bergerak, aku seperti terpaku di tanah.
Lily menjerit dan bergerak cepat mengejar Rose, Hugo menyusulnya dari belakang. Brian, Shane dan Carroll terpaku di tempat tampaknya tidak bisa bergerak untuk beberapa saat. Aku, setelah sadar dari kebekuanku, meluncur dengan kecepatan tinggi menyusul Rose. Rose... Rose bertahanlah! Aku menyusulnya dan menyambar pinggangnya sesaat sebelum menyentuh tanah. Aku mendarat, melemparkan sapuku dan membawa Rose ke rumah sakit, meninggalkan Lily, Hugo dan yang lainnya mengatur diri sendiri. Aku sangat berharap mereka menyimpan kembali sapu Rose dan sapuku di tempat penyimpanan sapu.
"Ada apa?" tanya Madam Darnsley terkejut. Saat aku tiba di rumah sakit dan membaringkan Rose di ranjang.
"Terhantam Bludger di kepala," jawabku, memandang Rose yang tak sadarkan diri.
"Baiklah, aku akan mengurusnya... kamu boleh pergi."
"Aku ingin menjaganya, aku sepupunya."
"Mr. Potter, pergilah. Aku bisa mengurus Miss Weasley dengan baik tanpa bantuanmu," kata Madam Darnsley mendelik padaku dengan marah.
"OK! Aku pergi, tapi aku akan datang lagi nanti," kataku sambil berjalan menuju pintu.
"Terserah," kata Madam Darnsley, membanting pintu di depanku.
Aku kembali ke lapangan Quidditch dan melihat yang lain telah berkumpul di ruang ganti.
"Bagaimana keadaan Rose?" tanya Lily cemas, setelah aku masuk.
"Aku tidak tahu. Madam Darnsley mengusirku, tapi aku yakin dia baik-baik saja... tidak ada yang mati karena terhantam Bludger," kataku mencoba menenangkan Lily, Hugo dan yang lain.
"Mengapa Rose tidak bisa menghindari Bludger, ya? Padahal menghindari Bludger adalah keahliannya," kata Hugo.
"Entahlah, dia memang bersikap aneh," kata Lily, yang lain mengangguk setuju.
"Mungkin ada yang dipikirkannya sehingga dia tidak melihat Bludger itu datang," kataku.
"Apakah kita boleh menjenguknya?" tanya Hugo.
"Tentu saja, kita akan menjenguknya setelah berganti pakaian," kataku.
Yang lain mengangguk dan kami berjalan menuju kamar ganti; aku, Hugo, Brian dan Shane ke kamar yang bertuliskan 'laki-laki', Lily dan Carroll ke kamar yang bertuliskan 'perempuan'.
Rose's POV
Aku mendengar suara Al ketika dia membawa Iris ke rumah sakit. Terhantam Bludger? Bagus sekali, Iris! Kamu merusak reputasiku sebagai pemain yang belum pernah terkena Bludger. Aku mendengus ketika mendengar Al berniat menemani Iris. Aku ingin sekali Al pergi supaya aku bisa memarahi Iris.
"Terserah!" aku mendengar Madam Darnsley berkata dan membanting pintu di depan Al.
Aku menyibakkan tirai yang memisahkan ranjang kami dan memandang Madam Darnsley menyembuhkan Iris.
"Dia tidak apa-apa... tidak ada yang retak... cuma benjolan di belakang kepala," kata Madam Darnsley, memberitahuku.
Aku mengangguk.
"Bagaimana keadaan bibirmu?" tanya Madam Darnsley, memandang bibirku.
"Sudah lebih baik," jawabku. Ramuan Luka Dalam memang sangat manjur aku langsung bisa bicara tanpa kesakitan tiga puluh menit setelah meminum ramuan itu.
"Memar-memar ditubuhmu juga sudah hilang... kamu bisa langsung ke Aula Besar saat sarapan besok," kata Madam Darnsley.
Aku mengangguk, "Jam berapa Mother dan Father datang?" tanyaku.
"Beberapa menit lagi... mereka akan bertemu McGonagall dulu, setelah itu baru ke sini,"
Aku mengangguk lagi. Madam Darnsley menyelimuti Iris kemudian berjalan menuju kamar kerjanya. Aku berbaring diam sambil menatap langit-langit. Beberapa menit kemudian pintu rumah sakit terbuka dan McGonagall masuk diikuti oleh dua orang, laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki kira-kira seumuran dengan Dad, berwajah tampan dengan rambut hitam dan mata abu-abu. Mirip Alan. Yang perempuan berambut pirang dan bermata biru, sangat cantik.
Mereka tidak menunjukkan emosi apapun ketika memandangku. Mereka tidak kelihatan sedih, karena anaknya di rumah sakit atau bahagia karena anaknya selamat dari percobaan perkosaan. Orangtua macam apa ini? Pantas saja Iris tidak ingin bertemu mereka.
"Miss Zabini baik-baik saja, Mr. dan Mrs. Zabini... aku telah menyembuhkannya... dan besok dia sudah bisa keluar," kata Madam Darnsley yang baru saja keluar dari kantornya.
"Terima kasih," kata Mrs. Zabini.
"Kami akan meninggalkan anda dan istri anda, Mr. Zabini," kata McGonagall. "Anda akan bisa langsung kembali kalau sudah selesai bicara dengan Miss Zabini."
"Terima kasih, Profesor!" jawab Mr. Zabini.
McGonagall dan Madam Darnsley meninggalkan aku dan orangtua Iris. Kami tidak bicara, hanya saling pandang.
"Bagaimana kamu bisa membuat dirimu hampir diperkosa orang?" tanya Mrs. Zabini dingin.
Pertanyaan apa ini? Ini bukan pertanyaan untuk anaknya... anak kandungnya yang hampir di perkosa orang... mengapa orangtua Iris seperti boneka yang tidak punya perasaan.
Mr. Zabini hanya diam memandang keluar jendela.
"Kamu memang tidak bisa menjaga diri, selalu membuat orang lain berjaga untukmu. Selalu merepotkan orang lain," kata Mrs. Zabini lagi.
Aku menahan diri untuk tidak berteriak dan mengusir dua orang ini keluar. Mereka orangtua Iris, aku harus menahan diri.
"Kamu harus minta maaf pada anak-anak yang diskors itu,"
Perempuan Brengsek! Dingin! Tidak punya perasaan!
"Jawab Iris! Kamu belum bisa bicara?"
Aku mengangguk dan berpura-pura diam. Kalau aku bicara, aku akan mengumpat perempuan ini dan suaminya yang sejak tadi cuma diam memandang keluar jendela.
"Kalau kamu belum bisa bicara, buat apa kamu menyuruh kami datang menjengukmu?"
Aku menyuruh kalian datang menjengukku? Aku tidak menguruh kalian datang menjengukku. McGonagall yang ingin kalian datang. Dia berpikir bahwa kalian, keluargaku, bisa menghibur aku yang hampir diperkosa orang. Dia cuma ingin kalian tahu tentang perkembangan anak perempuan kalian yang selalu menderita dipermainkan orang di Hogwarts. Paham? Aku menahan diri untuk tidak meneriakkan apa yang ada dipikiranku.
"Aku akan bertemu denganmu di Hogmeade Sabtu nanti," kata Mrs. Zabini kemudian keluar dari ruangan tanpa memberikan ciuman padaku. Dia bahkan tidak memandang suaminya.
Mr. Zabini mendekatiku dan tersenyum kepadaku. Aku balas tersenyum untuk pertama kalinya sejak kedatangan mereka.
"Maafkan Mother," kata Mr. Zabini. "Dia sebenarnya menyayangimu,"
Aku mengangguk. Apa sebenarnya yang terjadi dengan keluarga ini?
"Baiklah, aku pergi sekarang... mungkin kita akan bertemu lagi natal nanti!" kata Mr. Zabini, mencium pipiku kemudian berjalan keluar.
Apa maksudnya dengan 'mungkin kita akan bertemu natal nanti'? Kata-kata ini terdengar seperti dia tidak akan ada di rumah saat natal. Aduh, mengapa aku terlibat dalam keluarga Iris yang aneh ini.
"Maafkan Mother!" kata Iris dari tempat tidur disebelahku.
Aku berbalik dan melihat Iris sedang mengatur bantal agar bisa bersandar.
"Kamu dengar yang tadi?"
"Ya,"
"Aku tidak punya hak untuk membenci atau memaafkan... mereka orangtuamu," kataku, meninggikan bantal dan bersandar seperti Iris.
"Ya... Maafkan aku!"
"Untuk apa?"
"Aku mengacaukan latihan Quidditch," kata Iris dengan menyesal.
"Sudahlah! Aku tahu pasti akan begini... aku akan bisa memperbaikinya setelah aku kembali ketubuhku," kataku.
Iris mengangguk dan memandang lukisan Penyembuh yang berada di dinding dihadapannya. Aku memperbaiki bantalku dan berbaring membelakangi Iris. Hari ini sangat panjang dan aku merasa capek. Aku ingin tidur.
Review Please!
Riwa Rambu
