ROSE WEASLEY AND IRIS ZABINI
Thanks semua yg dah baca fanfic ini... Aleysa-GDH, Beatrixmalf, Putri, shine, zean's malfoy, Reverie Metherlence: Thanx reviewnya
Scorpius' POV
Aku bangun dengan perasaan tertekan. Alan menghindariku, dia tidak ingin berbicara denganku setelah apa yang terjadi pada Iris. Aku berharap setelah Iris keluar rumah sakit hari ini, Alan akan mau bicara lagi denganku. Hari ini latihan Quidditch pertama untuk pertandingan melawan Gryffindor pada akhir semester. Aku tidak mau Alan menghindari latihan karena tidak bicara denganku. Alan adalah chaser terbaik yang kami punya dan aku tidak ingin menggantikan Alan. Aku berharap Alan akan bersikap profesional, mengabaikan masalah pribadi demi kepentingan bersama; kemenangan Slytherin.
Aku sangat terkejut melihat wajah Irin kemarin. Wajahnya benar-benar parah dan dia tampak kesakitan. Leher dan pipinya memar; bibirnya pecah. Satu hal yang membuat Iris berbeda dari biasanya adalah tidak adanya airmata. Dia tidak menangis saat aku hampir membunuhnya atau saat aku meninjunya. Dia juga tidak menangis saat di rumah sakit. Ini sangat berbeda dari biasanya. Biasanya Iris akan menangis dan langsung melaporkan kami pada Mr. Zabini kalau kami menyakitinya. Iris yang ini; yang menghina orangtuaku, yang tidak menangis saat hampir diperkosa dan hampir dibunuh lalu di tinju, sangat berbeda. Rasanya seperti orang lain yang menjadi Iris. Memang ada kata-kata aneh yang dia ucapkan padaku malam itu. Tentang ayahnya yang tidak menyukai Dad atau tentang Ibunya yang disiksa. Omong kosong! Mr. Zabini adalah sahabat Dad, mereka selalu bersama sejak lulus dari Hogwarts. Dan Mrs. Zabini adalah wanita yang sangat keras dan kaku, tidak akan ada yang mau menyiksanya. Iris mungkin hanya mencari kata-kata kosong untuk membuatku marah.
Aku turun dari ranjang, memandang semburat merah di langit. Beberapa menit lagi matahari terbit. Aku menukar piyamaku dan berjalan keluar kamar tanpa membangunkan yang lain. Aku ingin terbang. Aku ingin melupakan semua yang terjadi kemarin. Biasanya terbang selalu membuat perasaanku lebih baik. Saat menghadapi masalah, aku ingin merasakan terpaan angin di wajahku dan melayang mengelilingi pegunungan, danau serta Hogwarts, lalu merasa bahwa aku bisa menguasai semua itu.
Aku melewati halaman yang berembun, mengambil Firebolt 1000-ku di ruang ganti Slyterin dan berjalan menuju lapangan Quidditch. Sesampainya aku di lapangan Quidditch, aku melihat bayangan hitam terbang melewati gawang-gawang menuju pegunungan. Siapa yang punya pikiran yang sama denganku pagi ini? Aku menyipitkan mata dan memandang rambut hitam sepinggang seseorang. Rupanya cewek dan terbangnya hebat. Gaya terbang seperti itu adalah gaya terbang Weasley. Aku sudah sering melihatnya terbang dalam pertandingan melawan Slytherin melawan Gryffindor sejak tahun kedua. Saat aku dan dia bergabung dalam tim.
Aku menjejakkan kaki dan Firebolt 1000-ku langsung melayang dengan kecepatan tinggi. Aku langsung bisa menyusulnya karena Nimbus 6000 miliknya kalah cepat dari Firebolt 1000 milikku. Aku memperhatikan rambut hitamnya dan menyadari bahwa dia bukan Weasley, Weasley berambut merah. Dia Iris. APA? Iris dan Terbang adalah dua hal yang bertentangan tidak mungkin disatukan. Singkatnya adalah Iris tidak bisa terbang, dia tidak pernah menaiki sapu. Tetapi saat ini, aku benar-benar tidak bermimpi, Iris terbang dengan lincah dan bersemangat. Kapan Iris latihan terbang?
"Iris!" aku memanggilnya.
Iris memutar sapunya dan berhenti di udara.
"Malfoy?" kata Iris terkejut melihat kehadiranku.
Satu hal lagi yang bisa dimasukkan dalam keanehan Iris adalah dia tidak pernah memanggilku 'Malfoy', tapi dia memanggilku 'Malfoy' atau 'Vampir' sejak dua hari ini.
"Kamu sudah sembuh?"
"Belum, Malfoy! Aku belum diijinkan keluar rumah sakit dan sekarang sedang dicari oleh Madam Darnsley karena kabur dari rumah sakit," katanya dengan sinis. Iris tidak pernah bicara sinis.
"Syukurlah kalau kamu sudah sehat!" kataku mengabaikan kesinisannya. "Kamu bisa terbang, Iris?"
"Tidak, Malfoy! Aku sekarang sedang duduk dengan tenang dibangku penonton dan melihatmu terbang," dia menjawab dengan sinis lagi.
"Siapa kamu?"
"APA?"
"Siapa kamu? Kamu bukan Iris Zabini yang aku kenal."
"Eh... aku..."
"Weasley?"
"APA?"
"Weasley! Aku pikir semua ini pasti gara-gara Weasley. Weasley yang membuatmu bersikap sinis seperti ini kan? Karena kamu bergaul dengan orang-orang seperti Weasley."
"Apa maksudmu dengan 'orang-orang seperti Weasley'?"
"Oh ayolah, Iris, kamu tahu mereka beda dari kita," kataku, merasa heran dengan nada bicaranya yang tiba-tiba berubah.
"Beda? Apa yang beda Malfoy?"
"Ngomong-ngomong, mengapa sekarang kamu memanggilku 'Malfoy'?"
"Itu namamu kan? Atau kamu lebih suka kalau aku memanggilmu 'Vampir'... kurasa Vampir lebih cocok karena mereka orang pengecut yang tidak berani keluar di siang hari, sama seperti kamu yang cuma berani meninju anak perempuan."
"Tutup mulut, Iris!"
"Mengapa?"
"Aku tidak ingin hal itu dibicarakan lagi,"
"Oh, menghindari kenyataan, Malfoy? Baiklah! Aku juga tidak ingin membicarakan kejadian memalukan itu."
"Benar, Iris! Kita bisa melupakan kejadian itu dan berteman lagi seperti biasa," kataku tersenyum. Aku senang Iris berniat melupakan kejadian malam itu.
"Tidak, Malfoy! Aku tidak akan melupakan kejadian itu. Itu pertama kalinya aku dikhianati oleh orang yang kuanggap teman dan itu lebih sakit daripada penganiyaan fisik yang kualami."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku adalah lebih baik kamu memukulku berkali-kali daripada melupakan janjimu denganku," kata Iris.
"Jadi kamu marah karena aku melanggar janji?"
"Benar, Malfoy... Kamu sudah berjanji untuk menjemputku! Dan aku sangat berharap dan percaya bahwa kamu akan menjemputku... tapi kamu tidak datang, Malfoy dan aku... aku hampir dilecehkan oleh Cazell... satu hal yang sangat aku benci adalah orang yang tidak menepati janji... tapi sekarang aku telah belajar untuk tidak mempercayai orang yang bernama Malfoy karena mereka adalah orang yang tidak bisa dipercaya."
Aku terpana menatapnya.
"Kita tidak akan sama seperti dulu lagi, Malfoy... aku sebenarnya tidak ingin bicara denganmu, tapi aku harus mengatakan apa yang kupikirkan. Jadi mulai saat ini cobalah untuk menghindariku karena aku akan sangat senang menghindarimu."
"Aku tidak akan menghindarimu. Kamu adalah sahabatku."
"Sudahlah Malfoy, jangan bersikap seperti seorang sahabat sejati. Kalau kamu sahabatku, dimana kamu saat aku dilecehkan oleh anak-anak Ravenclaw itu, dimana kamu saat semua pakaianku dibakar dan ranjangku disembunyikan oleh Emily dan Linda, dimana kamu saat anak-anak memanggilku 'Sinting', dimana kamu saat aku diganggu dan dipermainkan anak-anak di koridor... dan seorang sahabat tidak pernah memukul temannya sendiri dan membiarkan temannya merangkak dihadapannya tanpa membantunya."
"Maafkan aku!"
"Tidak perlu minta maaf padaku, Malfoy, aku tidak apa-apa... Semua ini akan berlalu dalam waktu sebulan!"
"Apa yang berlalu dalam waktu sebulan?"
"Sebulan dari sekarang mungkin aku akan bicara denganmu lagi. Jadi, tenang saja!"
Aku memandangnya bingung. Mengapa harus menunggu waktu sebulan untuk bicara denganku?
"Mengapa harus sebulan?"
"Jangan tanya, Malfoy, sebab aku tidak akan mengatakannya padamu."
"Baiklah!"
"Lalu apa maksud kamu dengan 'kita berbeda dengan orang-orang seperti Weasley'?"
"Ya, mereka itu orang-orang yang menganggap diri mereka lebih hebat dari orang lain dan mereka pembenci darah murni."
"Mereka TIDAK menganggap diri mereka lebih hebat dari orang lain dan mereka TIDAK membenci darah murni."
"Dari mana kamu tahu?" tanyaku heran memandang betapa tegasnya Iris bicara tentang keluarga Weasley.
"Aku tahu karena aku berteman dengan Rose Weasley... Yang pasti Rose Weasley sangat membencimu."
"Apa? Mengapa dia membenciku padahal aku tidak mengenalnya?"
"Dia paling benci orang yang tidak menepati janji."
"Mengapa dia harus tahu bahwa aku tidak menepati janji?"
"Sudahlah, Malfoy! Ku harap kamu menjauh dariku dalam sebulan ini."
"Eh... baiklah!"
"Mendekatkah kemari!" kata Iris dengan menggerakkan tangannya dan senyum dibibirnya.
Aku mengerakkan Firebolt 6000-ku dan melayang mendekatinya. Tiba-tiba Iris mengerakkan tangannya dan dengan kecepatan kilat tinjunya telah mendarat pipi kiriku. Pipi kiriku terasa nyeri. Aku merasa pipiku semakin menderita karena bekas kemarin belum hilang sempurna.
"Itu balasan dariku," kata Iris, kemudian melayang turun saat aku sedang menjaga keseimbanganku agar tidak terjatuh.
Aku memandang Iris yang masuk ke kamar ganti Gryffindor dan lenyap. Aku memikirkan apa yang dikatakan Iris padaku. Aku harus menjauhinya dalam waktu sebulan. Aneh! Mengapa harus menetapkan batas waktu untuk membenci orang? Aku menggelengkan kepala dan terbang turun. Aku menyimpan Firebolt 1000-ku di lemari sapu kemudian berjalan menuju ruang rekreasi Slytherin.
Rose's POV
Malfoy kembali melewati halaman dan menghilang ke dalam kastil. Aku keluar dari ruang ganti Gryffindor dan berjalan kembali ke kastil. Aku tidak ingin berjalan ke kastil bersama Malfoy. Kalau ingin menghindarinya aku harus melakukannya dari sekarang. Aku menuju ke rumah sakit dan melihat bahwa Iris sudah bangun dan sedang diperiksa nadinya oleh Madam Darnsley.
"Kamu boleh pergi sekarang," kata Madam Darnsley pada Iris.
Iris tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
"Dari mana tadi?" tanya Iris, saat kami sedang melewati koridor yang menghubungkan rumah sakit dan aula depan.
"Terbang"
"Bagaimana?"
"Pakai Nimbus 6000-ku"
"Bukan itu maksudku. Bagaimana kamu bisa masuk ke ruang ganti Gryffindor? Kuncinya di Albus."
"Oh, aku pakai kunci cadangan"
"Kunci cadangan?"
"kunci cadangannya ada di kisi-kisi pintu"
"Mengapa kamu tidak bilang padaku? Kemarin aku terpaksa meminjamnya dari Albus. Setelah itu diceramahi oleh Suzane tentang aku yang mengganggu kencannya dan Albus."
"Apa yang terjadi?"
"Aku sedang tidak bicara dengan Albus."
"Mengapa? Iris, kamu jangan merusak hubungan sosialku... Albus dan aku adalah sepupu sekaligus sahabat."
"Albus yang tidak mau bicara denganku."
"Mengapa dia tidak bicara denganmu?"
"Entahlah, mungkin Suzane memintanya untuk menjauhi aku... Suzane menganggap aku adalah pengganggu hubungannya dan Albus."
"Mengapa dia bisa berpikir seperti itu?"
"Mana aku tahu? Dan aku tidak mau tahu apa yang dipikirkan cewek brengsek itu," kata Iris, "Lalu sebenarnya ada apa antara kamu dan Malfoy?"
"Tidak ada apa-apa," jawabku cepat.
"Kamu yakin? Dia kelihatan seperti orang yang telah melakukan sesuatu yang salah," kata Iris.
"Mungkin dia pernah melakukan sesuatu yang salah padamu..."
"Tidak pernah... aku jarang bicara dengan mereka... waktu kecil memang sering bermain bersama... tapi mereka jahat... mereka sering merebut permainanku dan membuatku menangis."
"Mereka?"
"Alan, Scorpius dan Vincent... kami sudah mengenal sejak kecil, orangtua kami berteman."
"Pantas saja, dia bilang kalian sahabat," kataku mengingat percakapanku dan Malfoy.
"Tidak juga... tapi mereka selalu ada bersamaku sejak kecil, kalau itu dibilang sahabat, bisa jadi."
"Aku ke arah sini," kataku, menunjuk pintu yang menuju ke arah ruang bawah tanah setelah kami tiba di Aula Depan.
"Baiklah! Sampai nanti!"
"Sebentar Iris, bisakah kamu membawakan jubah cadanganku? Aku tidak bisa memakai jubah Malfoy lagi... aku akan menunggumu di toilet di lantai dua setelah sarapan," kataku saat Iris hendak menaiki tangga pualam.
Iris memandangku sebentar kemudian mengangguk, "OK!"
Aku berjalan menyusuri koridor ruang bawah tanah menuju ruang rekreasi Slytherin.
"Iris!" kata Alan ketika melihatku masuk ke ruang rekreasi. "Bagaimana keadaanmu!"
"Aku baik-baik saja," jawabku mendekati Alan dan duduk bersamanya disofa hijau.
"Aku mendengar bahwa si Brengsek Cazell hendak membunuhku! Maafkan aku... aku tidak bisa menjagamu!" kata Alan, menunduk memandang tangannya.
"Tidak apa-apa, Alan, aku baik-baik saja," kataku.
"Semalam aku ingin menjengukmu, tapi aku dengar Mother dan Father akan datang. Jadi aku... maafkan aku!"
"Sudahlah, Alan," kataku memegang tangannya. "Semua sudah berlalu... Mother dan Father baik-baik saja dan mereka... mereka menanyakanmu... aku bilang kamu baik-baik saja."
"Mereka menanyakanku? Benarkah?"
"Ya, Alan... tentu saja mereka menanyakanmu... merekakan orang tua kita," kataku dengan tersenyum. Aku memang bisa berbohong dengan serius kalau sedang ingin berbohong.
"Sudahlah, Iris, aku tahu mereka tidak menanyakanku," kata Alan, membuatku terdorong sedikit ke belakang.
"Oh, baiklah, aku bohong mereka tidak menanyakanmu," kataku akhirnya. Aku memang tidak bisa berbohong.
"Aku tahu..."
"Alan sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga kita?"
"Aku tak ingin membahasnya, Iris... katakan apakah kamu sudah bertemu Scorps?"
"Ya, aku sudah meninjunya juga."
"Apa?"
"Aku meninjunya mungkin sekarang dia di rumah sakit,"
"Bagus! Cowok brengsek seperti dia memang harus diberi pelajaran. Aku berniat meninjunya lagi."
"Jangan, Alan! Aku tak ingin kamu bertengkar dengan Malfoy. Dia sahabatmu... maksudku sahabat kita dan aku tahu kamu... kamu merasa kehilangan dia," kataku.
"Aku tidak merasa kehilangan dia."
"Dengar Alan, aku ingin kamu bicara dengannya."
"Aku tidak ingin bicara dengannya sampai dia minta maaf."
"Dia sudah minta maaf padaku dan aku sudah memaafkannya."
"Kamu memaafkannya?"
"Benar! Makanya aku mengharapkanmu melakukan hal yang sama karena bagaimanapun... dia... dia selalu bersama kita, dia juga pasti merasa sangat kehilangan."
"Entahlah, Iris..."
"Ayolah, ku mohon bicaralah dengan Malfoy..."
"Tidak!"
"Jangan keras kepala begitu, Alan!"
"Mengapa kamu malah membela Scoprs... dia yang menyebabkanmu hampir dibunuh, Iris."
"Aku tidak membela siapa-siapa. Aku cuma melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda."
"Sudut pandang apa?"
"Sudut pandang kalian berdua... aku tak ingin kejadian ini merusak hubungan kalian. Aku menyayangimu Alan, aku juga menyayangi Malfoy dan aku tak mau kalian berdua menderita, kesepian... coba pikirkan bagaimana perasaanku kalau melihat kalian berdua tidak bicara gara-gara aku. Aku tidak mau itu terjadi... aku akan menderita juga, Alan... karena aku tahu semua ini kesalahanku."
"Ini bukan kesalahanku," kata Alan tegas.
"Kesalahanku... aku yang membuat kalian tidak saling bicara," kataku.
"Jangan menyalahkan dirimu!"
"Aku akan menyalahkan diriku terus sampai kalian bicara lagi."
"Dia tidak mau bicara denganku," kata Alan memandang ikan-ikan ditembok kaca.
"Dia mau bicara denganmu," kataku tegas.
"Dari mana kamu tahu?"
"Aku tahu saja... aku tahu dia kesepian... aku tahu dia ingin bicara denganmu... aku tahu dia sangat menyesal untuk semua yang dia lakukan padaku... aku tahu kamu adalah sahabat terbaiknya."
"Baiklah... aku akan bicara dengannya!"
Aku tersenyum memeluk Alan, "Begitu lebih baik..." kataku setelah melepaskannya.
"Iris, aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu, tapi kamu benar-benar berbeda dari Iris yang biasanya. Apakah si Banshee Weasley yang meniupkan pribadi lain padamu? Kalau benar, aku ingin berterima kasih padanya," kata Alan.
"Dia akan sangat bersyukur kalau kamu berhenti menyebutnya Banshee, Alan," kataku.
"Tapi dia benar-benar mirip..."
"Aku akan membuat kepalamu lebih besar dari cumi-cumi raksasa kalau kamu tak berhenti menyebutnya Banshee, Alan."
"Aku menyerah!" kata Alan sambil tersenyum.
Aku mendengus dan berjalan meninggalkannya menuju kamar anak-anak perempuan Slytherin.
Scorpius' POV
Alan dan Iris tidak menyadari kalau aku berada di ruang rekreasi. Aku duduk di sudut mendengarkan mereka bicara. Aku mendengar Iris meminta Alan untuk bicara denganku. Iris... dia benar-benar meminta Alan untuk bicara denganku setelah apa yang kulakukan padanya. Setelah aku menyakitinya, setelah aku hampir membunuhnya. Iris, aku benar-benar tidak menyadari selama ini bahwa kamu adalah gadis yang baik. Gadis yang memiliki hati yang lembut dan bersedia memaafkanku dan membelaku. Kamu mengerti apa yang kurasakan. Kamu mengerti aku ingin berdamai dengan Alan. Yang kamu katakan semua tentang aku benar. Aku kesepian tanpa Alan dan Alan memang adalah sahabat terbaikku.
Aku merasakan kehangatan di sudut hatiku yang paling dalam. Aku tidak tahu kalau hati bisa sehangat ini. Sekarang aku merasa hangat dan bahagia, aku merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja dengan melihatmu. Aku mungkin harus berterima kasih pada Weasley yang telah mengajarkanmu untuk bersikap seperti ini, untuk melihat dari sudut pandang berbeda semua hal yang ada dihadapanmu. Maafkan aku, Iris! Apakah aku sudah mengatakanmu dengan tulus? Aku adalah milikmu sekarang. Aku akan melakukan apa saja untukmu. Semua yang ada padaku kuberikan untukmu, Iris. Kau yang membuat semuanya indah. Dan aku tahu duniaku hanya akan berputar disekitarmu.
"Scorps!"
Aku terkejut dan berbalik melihat Alan datang mendekatiku.
"Aku..."
"Maafkan aku, Alan! Aku..." kataku cepat sebelum Alan menyelesaikan kata-katanya.
"Tidak apa-apa, Scorps... aku juga minta maaf... harusnya aku yang menjaga Iris... aku kakaknya, aku malah asyik bersama Arlena."
"Alan... aku akan menjaga Iris... berikan Iris padaku!"
"Apa? Kamu... kamu melamarnya?"
"Melamar? Eh, maksudku bukan itu... aku... aku bersedia menjaga Iris dan melindunginya selamanya."
"Eh, aku..."
"Aku tidak akan melanggar janjiku ini... aku bersedia melakukan Sumpah tak-Terlanggar bersamamu."
"HAH? Ada apa denganmu?"
"Aku baru menyadarinya sekarang... aku tahu yang mengerti aku adalah Iris, dia tahu apa yang kurasakan dan dia..."
"Kamu mencintai Iris, Sobat!" kata Alan.
"Apa?"
"Kamu mencintainya..."
"Eh, aku... aku mencintainya?"
"Ya..."
"Bukan begitu aku..." aku memandang tembok kaca. Apakah ada orang yang jatuh cinta hanya dalam waktu beberapa menit? Tidak mungkin, aku cuma terpesona. Ya, terpesona dengan kepribadian baru Iris.
"Aku rasa Iris tidak menyukaimu, Sobat... dia menyukai Kenneth Davis, ingat?"
"Kamu salah Alan, aku tidak mencintai Iris, aku hanya terpesona saja... dan kalau dia menyukai Kenneth Davis aku akan membantunya untuk mendapatkan Davis."
"Aku tidak akan mengijinkan dia bersama si Brengsek Davis!" kata Alan tegas. "Aku akan membunuhmu kalau kamu membantunya untuk mendapatkan Davis."
"Baiklah, aku tidak akan melakukannya... tapi aku telah berjanji pada diriku untuk membuat Iris bahagia. Nah kalau dia bahagia bersama Davis, mengapa tidak?"
"Itu tidak akan terjadi, Scorps, aku adalah orang pertama yang akan menghalangi mereka."
Aku tertawa. Mengapa Alan sangat membenci Davis? Pasti bukan gara-gara dia mantan pacar Arlena Deverill. Pasti ada sesuatu yang lain. Mungkin Davis pernah mengoda cinta pertama Alan. Tapi siapa cinta pertama Alan? Mungkin ibunya yang kaku itu... aku tertawa lagi.
"Mengapa tertawa?"
"Oh... aku teringat pada Emily," kataku mencari alasan yang tepat. Aku tidak berani bilang bahwa aku menganggap cinta pertama Alan adalah ibunya. Aku tertawa.
"Kamu harus segera memutuskan Emily kalau kamu mencintai Iris," kata Alan, yang langsung berhasil membuatku berhenti tertawa.
"Aku tidak mencintai Iris dan aku tidak akan memutuskan Emily."
Alan mendengus, "Itu pacarmu datang..." katanya, memandang pintu ke kamar anak-anak perempuan yang terbuka dan aku melihat Emily dan Linda keluar dari pintu itu.
"Scorpy!" seru Emily, mendekatiku, duduk di pangkuanku dan langsung menciumku. Aku benci dipanggil 'Scorpy'. Aku melepaskan diri dan memandang Alan yang terkikik geli.
Aku mendelik padanya dan kikiknya langsung berubah menjadi tawa berderai.
"Aly, Iris mencarimu... dia ingin meminjam dasi," kata Emily pada Alan. Alan langsung berhenti tertawa. 'Aly'? Alan pasti tak suka dipanggil 'Aly'. Aku tertawa.
"Jangan memanggilku Aly, Emy... dan Scorps berhenti tertawa!"
"Aku tidak suka dipanggil Emy," kata Emily, mendelik pada Alan.
"Kalau begitu jangan memanggilku Aly," kata Alan.
"Ku rasa nama itu manis... aku senang menamai cowok-cowok tampan dengan nama kecil. Kamu: Aly, Scorpius: Scorpy, Albus Potter: Alby, Kenneth Davis: Kenny."
Aku dan Alan memandang Emily dengan tidak percaya.
Linda terkikik geli.
"Aku bisa ikut sinting kalau terlalu lama bersamamu, Emy," kata Alan, berjalan menuju kamar anak-anak laki-laki, meninggalkan aku dan Linda yang terkikik dan Emily yang mendelik, tidak senang dipanggil 'Emy'
Al's POV
Iris masuk keluar dengan tergesa-gesa dari kamar anak-anak perempuan dan berniat pergi lagi. Aku menghalangi jalannya.
"Albus! Bukankah kita tidak saling bicara? Menyingkirlah!" kata Iris.
"Mau kemana? Kamu bahkan tidak membiarkanku bertanya tentang keadaanmu, apakah kepalamu masih sakit atau tidak,"
"Aku baik-baik saja, Albus, akau harus pergi... aku janji bertemu seseorang."
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi!" kataku, menarik tangan Iris dan mendorongnya ke kursi terdekat. "Nah, bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja dan aku sehat... Madam Darnsley bilang aku cuma mendapat benjolan kecil di kepala dan tidak ada yang perlu dicemaskan. Puas?" kata Iris.
"Belum! Kamu mau kemana?"
"Aku janji bertemu Ro... Iris. Puas?"
"Belum! Untuk apa kamu bertemu dia?"
"Urusan cewek-cewek, Albus, dan aku tidak akan bilang padamu."
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi kalau kamu tidak bilang padaku."
"Brengsek Albus Potter, aku punya kehidupan pribadi... tolong hargai privacy aku!" kata Iris.
"Kamu tidak punya kehidupan pribadi, Rose... kami adalah kehidupan pribadimu... bilang alasanmu bertemu Zabini atau kamu tidak boleh pergi dari sini."
"Aku dan Iris berteman, Albus, dan kami bertemu karena ingin berbicara tentang banyak hal, seperti make-up, cowok-cowok, gosip dan urusan cewek-cewek lain."
"Bohong!"
"Ku mohon, Albus... aku..." Rose berhenti bicara. Dia memandang ke arah tangga dengan ketakutan. Aku berbalik dan melihat Suzane mendatangi kami dengan wajah memerah, marah.
"sedang apa kalian?" tanya Suzane.
"Sedang bicara, Suzane, bisakah kamu menyingkir sebentar agar aku bisa bicara dengan sepupuku?" kataku pada Suzane.
"Rose... Rose dan selalu Rose, kamu mengapa hanya selalu memikirkan dia?" tanya Suzane sambil menunjuk Rose dengan dramatis.
"Aku memang memikirkan dia karena adalah sepupuku."
"Seharusnya kamu lebih memikirkan aku... aku pacar kamu, Albus Potter."
"Kamu memang pacarku, tapi Rose adalah sepupuku."
"Jadi? Jadi kamu lebih memilih dia dari pada aku, pacarmu."
"Aku tidak berkata bahwa aku memilih Rose, Suzane."
"Lalu apa maksudmu?"
"Aku hanya ingin bicara sedikit dengan Rose dan aku tidak memerlukan pacar yang marah-marah dan cemburu pada sepupuku sendiri."
"Wajar kalau aku cemburu... sikapmu padanya tidak seperti seorang sepupu."
"Jangan mulai mengatakan omong kosong dihadapanku, Suzane."
"Aku tidak bicara omong kosong... sikapmu itu benar-benar berlebihan... kamu tidak seperti itu pada Lily kan? Hanya sama Rose saja sikapmu begitu."
Aku terkejut memandangnya. Apakah yang dikatakan Suzane benar? Apakah aku hanya bersikap berlebihan hanya pada Rose? Apakah orang lain bisa merasakan perasaanku, bahwa aku jatuh cinta pada sepupuku sendiri? Aku memandang Rose yang sedang memandangku dan Suzane bergantian. Orang lain tidak boleh tahu tentang ini. Rose akan menderita. Aku tak ingin Rose menderita.
"Tidak, Suzane... sikapku pada Rose dan Lily sama."
"Aku tidak percaya..." kata Suzane, kemudian dia memandang Rose. "Dan kamu, Rose, kamu kan sudah berjanji padaku untuk menjauhi Albus, mengapa kamu masih mendekatinya juga."
"Eh, aku..."
"Kamu menyuruh Rose menjauhi Aku?" tanyaku. Pantas saja, kemarin sikap Rose sangat aneh.
"Ya, itu kulakukan karena aku tak ingin kamu lebih memikirkan Rose dari pada aku... aku pacarmu. Bisakah kamu mengerti itu?"
"Kamu memang pacarku, tapi kamu tidak perlu bersikap seperti itukan? Kamu tidak perlu menyuruh Rose menjauhi aku... Dia keluargaku, sepupuku..."
"Kamu yang membuat aku bertindak seperti itu, Al... karena kamu terlalu memikirkan Rose, jadi aku menyuruhnya menjauhimu. Aku hanya ingin kamu memperhatikan aku, mendengarkanku, satu hari saja tanpa menyebut nama Rose..."
"OK! Aku minta maaf! Bisakah kita melupakan masalah ini? Aku akan memberikan semua waktuku untukmu mulai saat ini."
"Bagus kalau begitu... kita bisa turun sarapan sekarang," kata Suzane menggandeng tanganku.
"Baiklah... Ngg, bisakah kamu turun duluan aku masih harus melakukan sesuatu... err, aku harus mengerjakan PR Arithmancy-ku."
Ya, ampun! Mengapa aku harus berbohong pada pacarku hanya untuk bicara dengan sepupuku sendiri? Apakah aku sudah gila? Apakah aku harus mengakhiri hubunganku dengan Suzane? Tapi aku belum pernah memutuskan cewek. Cewek-cewek itulah yang meninggalkanku.
Suzane menatapku tajam, kemudian menatap Rose.
"Err, aku akan ikut ke Aula Besar bersamamu, Suzane," kata Rose dengan senang mengangkat tasnya.
Aku memberi isyarat dengan mata bahwa aku masih ingin bicara dengannya. Rose pura-pura tidak melihat dan mengikuti Suzane ke lubang lukisan.
"Rose!" penyelamat datang dari Lily yang baru keluar dari kamar anak-anak perempuan.
Rose berhenti dan menatap Lily.
Jangan biarkan Rose pergi, Lily. Hentikan dia sebab aku masih ingin bicara dengannya.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu," kata Lily, meyeret Rose ke pojok ruangan.
Suzane dan Amelia memandang mereka sebentar kemudian keluar lewat lubang lukisan. Aku mendekati Rose dan Lily.
"Nah, ada apa?" tanya Lily, memandangku dan Rose, "Aku mendengar suara Suzane dari tangga yang menuju kamar anak-anak perempuan."
"Suzane cemburu padaku... dia bilang Albus lebih memilih Aku dari pada dia," jawab Rose.
"Benarkah?" tanya Lily memanangku.
Aku mengangguk.
"Lalu kamu memilih siapa? Rose atau dia?"
"Aku kan tidak bisa memilih hal-hal seperti itu, Lily."
"Tentu saja bisa, Al... Aku akan memilih Rose dari pada cewek aneh seperti dia... kamu tahu apa yang dilakukannya dia menyuruh Rose menjauhimu."
"Aku tahu..."
"Kamu tahu? Lalu kamu membiarkan dia?"
"Lalu apa yang harus kulakukan, Lily?"
"Putuskan dia," jawab Lily santai.
"Tidak mungkin! Aku belum pernah memutuskan cewek... lagi pula kami baru jadian dua hari."
"Terserah kamu, Al... aku sebenarnya tidak setuju kamu pacaran dengannya... dia terlalu... apa, ya? Ngg... dibuat-buat..."
"Dibuat-buat?"
"Ya, terlalu berlebihan dan terlalu mendramatisirkan keadaan... dari apa yang aku dengar tadi kelihatannya dia menuduh kamu menyukai Rose. Alasan aneh tentang kamu terus menyebut nama Rose dan sebagainya itu menunjukkan ke satu hal bahwa kamu lebih menyukai Rose dari pada Suzane," kata Lily dengan gaya seorang ahli analisis.
Jantungku berhenti berdetak sesaat. Kau akan susah menyembunyikan perasaanmu kalau disekitarmu penuh orang yang bisa membaca perasaan. Bagus Lily, analisis saja sikapku!
"Bagaimana menurutmu, Rose?" tanya Lily, ketika dia melihat aku hanya diam.
"Eh... entahlah, aku tidak tahu," kata Rose bingung.
"Sudahlah! Lalu bagaimana keadaamu?"
"Aku baik-baik saja... sebenarnya aku harus pergi sekarang... aku harus bertemu seseorang...Bye Lily... Albus," kata Rose sambil berlari ke lubang lukisan dan cepat-cepat sebelum aku menahannya.
"Yang dikatakan Suzane benar, Al," kata Lily.
"Apa?"
"Tentang kamu yang terlalu memperhatikan, Rose... kamu benar-benar berlebihan, Al... kurasa Rose akan senang jika dibiarkan sendiri."
"Aku cuma ingin tahu apa yang dia lakukan... Rose, sangat berbeda dua hari ini jadi aku ingin tahu, apa sebenarnya yang terjadi dengannya,"
"Dia tidak apa-apa, Al... mungkin sudah saatnya dia berubah dan bersikap dewasa," kata Lily sok bijak.
Aku mendengus bergerak bangun.
"Mau kemana?" tanya Albus.
"Mencari Rose? Harus ada yang memperhatikan dia... sikapnya mulai aneh,"
"Biarkan dia, Al."
"Tidak... dia harus diawasi... kamu juga Lily, jangan mulai bertingkah aneh."
"Tidak... aku akan memantraimu dengan Mantra Bius kalau kamu mulai mengikutiku kemana-mana, Al... aku heran Rose belum melakukannya padamu."
"Aku pergi dulu," kataku meninggalkan Lily menuju lubang lukisan.
Iris' POV
Benar- benar menyebalkan! Albus mulai menghambat setiap gerakanku lagi. Bisa-bisa segala yang aku dan Rose rencanakan gagal. Lebih parah lagi, bisa ketahuan kalau aku bukan Rose Weasley. Padahal kami harus merebus ramuan Polijus. Dan aku masih punya tugas lain, yaitu menggoda Kenneth Davis. Apa yang dikatakan Albus kalau dia tahu aku menggoda Kenneth Davis? Ya, aku mungkin akan dirantai di kamar anak-anak perempuan Gryffindor.
Aku berlari menuju toilet di lantai dua dan melihat Rose sudah menunggu di samping wastafel.
"Mengapa terlambat? Mana jubahnya?"
"Albus ingin tahu urusanku denganmu... Rose, kita harus hati-hati Albus berniat mengawasiku... bagai mana kalau kita ketahuan?" tanyaku, menyerahkan jubah pada Rose.
"Makanya kita harus hati-hati... aku sudah memantrai toilet ini dengan Muffliato. Jadi tidak akan ada yang mendengar kita," jawab Rose, memakai jubah dan mengikat dasi Slytherin sambil memandang dirinya dicermin wastafel
"Itu punya Alan?"
"Ya..."
"Dia mau meminjamkan dasinya padamu? Baik sekali dia!" kataku sinis. Alan tidak pernah meminjamkan apa-apa padaku.
"Tidak... aku mencurinya di tempat cucian," kata Rose.
"Oh!" Alan memang masih seperti dulu. Aku memandang keliling toilet yang lembab dan teringat sesuatu. "Bagaimana dengan Myrtle Merana?"
"Ada apa dengannya?"
"Bagaimana kalau dia melaporkan kita? Dia kan suka bergosip."
"Jangan pedulikan dia! Dia tidak akan mempedulikan kita kalau kita tidak mempedulikannya... Nah, kamu baca ini dulu!" kata Rose sambil mengeluarkan sesuatu dari tas.
Aku mengambil perkamen yang diserahkan Rose dan membaca judul perkamen. "Cara-Cara menggoda Kenneth Davis versi Rose Weasley? Kamu masih berniat melakukan rencana itu, ya?"
"Ya... bacalah!"
Aku membaca:
Cara-Cara Menggoda Kenneth Davis versi Rose Weasley
Persiapkan diri dengan berpenampilan menarik (tidak boleh ada tinta hitam diwajah atau sayur digigi)
Gunakan parfum berwangi lembut (Jangan berlebihan atau berharum tajam, sebab dia akan menghindarimu seperti menghindari Skwert Ujung-Meletup)
Riaslah wajah seperlunya (dia akan lebih menghargaim kalau kau berpenampilan sesuai umurmu)
Gunakan jubah yang bersih
Biarkan rambut tergerai (biasanya cowok menyukai cewek yang rambutnya digerai)
Ucapkan selamat pagi dengan suara jelas dan lembut kalau kau bertemu dengannya di koridor (jangan tergesa-gesa atau gugup)
Pilih kelas andalanmu dan cobalah dekati dia jika dia berada di kelas yang sama (Jangan pilih kelas yang membuat kau terlihat bodoh)
Bicaralah dengannya. Pilih topik yang netral seperti Quidditch. (Jangan sekali-kali bicara tentang asrama, karena kau bisa keceplosan dan menghina asramanya)
Bicaralah dengan lembut dan perlahan (karena kalau dia tidak mendengarmu, dia bisa mendekatkan kepalanya padamu dan kau bisa berbisik di telinganya. Dia akan menyukainya.)
Usahakan tertawa mendengar leluconnya (jangan coba-coba membantah apapun yang dia katakan)
Kau boleh mengajaknya kencan kalau dia sudah cukup nyaman denganmu.
"Bagaimana aku tahu kalau dia sudah cukup nyaman denganku?"tanyaku setelah membaca perkamen.
"Entahlah... tapi kamu tidak perlu melakukan point kesebelas... biarkan dia yang mengajakmu kencan," kata Rose.
"Bagaimana kalau dia tidak mengajakku kencan?"
"Kalau kamu melakukan apa yang kutuliskan untukmu dengan benar, aku yakin dia akan mengajakmu kencan"
Aku memandang Rose tidak yakin.
"Untuk point ketujuh, kamu bisa memilih kelas Ramuan... kamukan hebat di Ramua."
"Bagaimana kalau aku sudah kembali ke tubuhku dan dia melihat kamu ternyata tidak begitu menyukai Ramuan," kataku mencoba berdebat.
"Nanti kita pikirkan itu... Sekarang kita ke rencana selanjutnya: mencuri bubuk tanduk Bicorn dan Boomslang dari lemari pribadi Brewster."
"Apa rencanamu?"
"Kita tidak bisa menunggu sampai kelas Ramuan Senin depan, terlalu lama, kita harus merebus ramuannya dalam minggu ini."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Kita harus membuatmu mendapat detensi dari Brewster."
"Tidak," kataku cepat
"Harus! Kalau kamu didetensi Brewster, aku bisa mengikutimu dan menyusup keruangannya dengan Jubah Gaib."
"Apa ada rencana lain? Apakah kita tidak bisa langsung menyusup keruangannya?"
"Tidak bisa! Biasanya ruangan Profesor dipasang Mantra Penolak Gangguan di pintu... Satu-satunya cara adalah kamu di-detensi di ruangannya... dan aku bisa ikut masuk tanpa menimbulkan keributan dengan Mantra Penolak Gangguan,"
"Bagaimana kalau Mantra Penolak Gangguan-nya berfungsi saat kamu sedang mengambil Bicorn dan Boomslang itu?"
"Tidak... mantranya cuma dipasang di pintu bukan diseluruh ruangan."
"Aku tidak yakin," kataku.
"Kamu harus yakin, hanya ini cara yang kita punya."
"Bagaimana aku bisa didetensi Brewter?"
"Kamu bisa memikirkan caranya sendiri... usahakan malam ini kamu harus didetensi Brewster biar kita bisa langsung merebus ramuan besok."
"Tapi aku tidak tahu cara..."
"Pikirkan sendiri, Iris... kamu Slytherin, keluarkan sisi gelap dalam dirimu. Pasti ada ide-ide ajaib diotakmu..."
"Aku tidak punya..."
"Setelah kita selesai dengan pencurian ini, kita bisa merebus ramuan... biar aku yang melakukannya, kamu bisa menggoda Ken untukku.
"Ken?"
"Kenneth Davia, Iris!"
"Oh, baiklah!"
Aku memandang Rose yang menutup kembali tasnya dan bersiap-siap pergi.
"Ayo, pagi ini Transfigurasi," kata Rose, lalu keluar toilet.
Aku mengikutinya.
Kami tiba di kelas beberapa detik sebelum kelas mulai. Profesor Patil masuk, menyuruh kami membuka Transfigurasi Tingkat Lanjutan dan memaksa kami men-transfigurasi pasangan kami menjadi kelinci. Aku memandang Rose yang dipasangkan dengan Albus oleh Profesor Patil. Rose yang telah berhasil membuat Albus menjadi kelinci pada usaha kelima, langsung mendapat 20 angka untuk Slytherin. Sedangkan Albus mendengus sebal karena belum berhasil membuat Rose menjadi kelinci.
Aku memandang Scorpius yang harus aku ubah menjadi kelinci, tapi belum berhasil.
"Ada apa, Weasley? Bukankah kamu yang harusnya nomor satu di kelas ini?" tanya Scorpius, setelah Profesor Patil, yang mengharapkan aku melakukan sesuatu yang ajaib pergi dengan kecewa ke meja Rose ketika melihat Scorpius masih menjadi dirinya sendiri.
"Aku tidak mau membicarakannya, Scorpius!"
"Jangan sok akrab denganku, Weasley!"
"Apa?"
"Mengapa kamu memanggilku Scorpius?"
"Itukan namamu?"
"Tapi kita tidak seakrab itu, Weasley," kata Scorpius.
"Oh... baiklah aku akan memanggilmu Malfoy."
"Itu lebih baik..." kata Scorpius.
"Mengapa kamu tidak menyukai Rose?"
"Apa?"
"Eh, maksudku, mengapa kamu tidak menyukai aku?"
"Aku bukanya tidak menyukaimu, Weasley, tapi kita tidak diharapkan untuk bertemankan?"
"Benar!" kataku menatap Scorpius yang sedang memandang Iris.
"Ku dengar kamu pacaran sama Emily!"
"Aku pacaran dengan siapapun bukan urusanmu, Weasley."
"Memang bukan urusanku, tapi aku kaget, kamu suka cewek seperti Emily,"
Scorpius diam.
"Memang dia berdarah murni, tapi aku merasa kamu tidak cocok dengannya," kataku memaksa. Scorpius sedang memandang Rose yang sedang menjelaskan pada Albus cara menggerakkan tongkat sihir untuk Transfigurasi.
"Diam, Weasley! Mengapa kamu mengurus dirimu sendiri dan sepupumu yang menyebalkan itu?" kata Scorpius sebal.
"Albus? Dia baik-baik saja," kataku sambil memandang Albus dan Rose.
"Sepupumu itu suka Iris?"
Albus menyukai Rose? Aku tertawa. Seluruh kelas memandangku.
"Miss Weasley, aku mengharapankan sesuatu yang lebih impresif darimu daripada keributan di dalam kelas. Hari ini kamu tidak menghasilkan apapun, potong sepuluh angka dari Gryffindor," kata Profesor Patil dengan kesal, lau memberikan PR pada kami semua, kecuali Rose, tentang alasan kami belum berhasil men-transfigurasi pasangan kami menjadi kelinci.
"Tadi bagus sekali!" kata Rose, setelah menyudutkanku di dekat baju Zirah di koridor Transfigurasi.
"Sama sekali tidak bagus... aku harus mengerjakan PR sialan itu,"
"Bukan itu... maksudku pengurangan point tadi... harusnya kamu membuat Patil memberimu detensi"
"Ha? Kalau aku didetensi Patil, aku tidak akan bisa membuatku didetensi Brewster."
"Kamu tidak mengerti... kalau kamu bisa membuat Patil jengkel, Patil bisa memberimu detensi, dengan menyuruhmu ke Brewster."
"Itu kan untung-untungan... bagaimana kalau dia tidak menyuruhku ke Brewster?"
"Terserah... kamu harus membuat dirimu didetensi sebelum makan siang... lakukanlah sesuatu!"
"Bagaimana kalau aku menyihirmu di depan Brewster saat makan siang nanti," kataku jengkel.
"Iris, itu ide yang bagus! Kamu bisa menyihirku saat makan siang, tapi pada saat Brewster sedang melihat kita... jangan kutukan! Mantra biasa saja," kata Rose, menyingkir saat Albus dan anak-anak lain lewat di koridor tempat kami bicara.
"Sampai nanti!" bisiknya, lalu bergegas menyusul Alan, Scorpius dan Vincent.
"Mau apa si Zabini?" tanya Albus, mendekatiku.
"Bukan urusanmu!" kataku, berlari meninggalkannya.
Rose's POV
"Apa yang kamu bicarakan dengan Weasley?" tanya Alan.
"Masalah cewek," jawabku, melangkah menjajarinya di koridor meninggalkan Malfoy dan Goyle di belakang kami.
"Iris, tadi kamu kelihatannya gembira sekali... Potter juga kelihatannya menikmati..." kata Malfoy yang telah menyusulku dan Alan.
"Aku lapar! Tadi belum sempat sarapan," kataku pada Alan, mengabaikan Malfoy.
"Aku bisa menemanimu ke dapur... para Peri Rumah Hogwarts bisa menyediakan makanan untukmu," kata Malfoy.
"Alan, tadi aku mengambil dasimu dari tempat cucian," kataku menunjuk dasi yang kukenakan pada Alan. "Aku tidak punya dasi."
"Kamu menyentuh lemariku!" tanya Alan marah.
"Aku tidak menyentuh lemarimu... aku mengambilnya dari tempat cucian."
"Kamu boleh meminjam dasiku, Iris," kata Malfoy.
"Kembalikan dasiku!"kata Alan, memegang tanganku dan berusaha melepaskan dasi.
"Biarkan dia, Alan," kata Malfoy memegang lengan Alan.
"Menyingkir, Vampir! Aku tidak ingin bantuan darimu... aku sudah bilang aku tidak ingin bicara denganmu!"
"Kembalikan dasiku!"
"Aku akan membantumu... aku sudah berjanji untuk selamanya membantu dan menjagamu," kata Malfoy berusaha melepaskan Alan dariku.
"APA?" aku terkejut dan menghentikan usahaku untuk melepaskan diri dari Alan.
"Aku adalah milikmu, Iris! Aku akan melakukan apa saja untukmu," kata Malfoy.
"HA?"
Review please!
Riwa Rambu
