Title: SS501 Story HyunMin Ver.

Author: Bluedevil9293 a.k.a Dean Choi a.k.a Ayumu Sakurazawa.

Part: 18 / 19.

Rated: T.

Cast: Kim Hyun Joong & Park Jung Min

Genre: Romance, Drama.

Warning: Yaoi, Shonen-ai, Boys Love, BoyXBoy, Typo, Gaje, M-preg Don't Like Don't Read.

Summary: Hyun Joong stress berat akibat Jung Min yang terus-terusan mengejar-ngejar dirinya. Sampai-sampai ia harus menikahi namja manis satu itu karena sebuah kejadian fatal yang telah mereka berdua perbuat. HyunMin SS501 Couple, Yaoi, BL, rated M.

*** Chap 18 ***

Hyun Joong Pov…

Pekerjaanku sekarang ini tambah padat saja, karena itu aku kerap sekali pulang larut malam dan kembali pergi pagi-pagi buta. Padahal seharusnya aku sekarang ini mengurangi jadwal kerjaku kalau mengingat usia kandungan Jung Min yang sudah memasuki bulan ketujuh dan sebentar lagi dia akan melahirkan anak pertama kami. Seharusnya aku bisa bersama dia dua puluh empat jam dan memberikan dia perhatian lebih bukan seperti sekarang ini. aku malah menelantarkan dia, bahkan semalam aku sempat membentak dia di saat dia membangukan aku pagi-pagi sekali.

Aku terlalu lelah semalam hingga tanpa sadar aku membentak Jung Min dengan nada tinggi lalu meninggalkannya begitu saja dan kembali tertidur. Aku cukup menyesal melakukan itu semua karena di pagi hari aku bisa melihat wajah tidur dia yang begitu sedih. Aku ingin sekali membangunkan dia tapi aku tak tega juga melakukan itu. mungkin saja dia butuh tidur yang cukup jadi ku biarkan saja dia tertidur dan meninggalkannya untuk kembali berkerja.

Aku bukan sengaja melakukan semua hal yang aku tahu dengan pasti membuat Jung Min sedih sekali. Aku tahu Jung Min merasa kesepian, rindu padaku dan merasa terabaikan olehku. Sebenarnya aku tak tega melakukan semua itu tapi mau bagaimana lagi. pekerjaanku terlalu banyak hingga membuat aku terlalu lelah.

Aku sengaja ingin menyelesaikan semua jadwal pekerjaanku dengan cepat. Itu semua ku lakukan agar aku bisa fokus dan beristirahat full selama tiga bulan ke depan dan bisa memberikan perhatian lebihku pada Jung Min yang tengah mengandung anak pertama kami. Aku nggak mungkin melupakan dan menelantarkannya begitu saja apa lagi sekarang ini dia tengah mengandung buah hati kami yang sudah kami tunggu-tunggu kelahirannya.

"Hyun Joong oppa, handphonenya berbunyi tuh" kata seorang staf wanita padaku. Aku mengangguk pelan lalu segera berjalan menuju ruang rias karena disanalah aku meninggalkan handphoneku tadi sebelum syutting dimulai. Saat ini aku tengah berada di lokasi syutting film terbaruku yang sebentar lagi akan selesai. Aku harap syuttingnya cepat selesai dan aku bisa beristirahat full sambil menjaga Jung Min sampai masa kelahirannya.

Hari ini memang hari terakhir syutting dan hari ini juga pengambilan adegan terakhir, setelah ini aku akan benar-benar bisa beristirahat dan kembali fokus mengurusi Jung Min yang sangat manja itu. walau pun dia manja, aku senang dengan kemanjaannya tadi. Karena dengan begutu dia akan terus menempel padaku dan bermanja-manja ria padaku. Aku terkekeh pelan saat mengingat tingkah manjanya selama ini. Huft… Jung Min aku merindukanmu dan aegya kita.

"Oppa kenapa malah senyum-senyum mengerikan begitu, cepat angkat telfonya" kata seorang yeoja yang menjadi lawan mainku di filmku kali ini. yeoja tadi mengelengkan kepalanya pelan melihatku yang tampak salah tingkah. Aku mengusap tengkukku pelan lalu segera merahin handphoneku yang terus berbunyi sejak tadi. Yeoja tadi pun segera pergi meninggalkanku.

Handphoneku berhenti berbunyi sebelum sempat ku angkat panggilan masuk tadi. Aku pun memeriksa panggilan masuknya, banyak sekali panggilan tak terjawabnya dan anehnya panggilan itu Cuma dari satu nomor yang sama. Nomor yang tak ku ketahui siapa dia. Saat sedang asik memeriksa handphoneku, ternyata ada panggilan masuk lagi. Dari nomor yang sama seperti yang tadi menghubungiku. Setelah cukup lama berbunyi akhirnya aku pun mengangkat panggilan itu.

"Yeoboseo?" sapaku.

"…"

"Ne, benar ini aku. Ada apa ya?"

"…"

"Ah… maaf aku tak bisa menerima tawaran film itu karena aku sudah memutuskan untuk beristirahat total selama beberapa bulan kedepan"

"…"

"Sekali maafkan aku, aku tak bisa menerima tawaran anda tadi"

"…"

"Maaf, sudah ku katakan aku tak bisa. Sekali lagi maaf"

"…"

"Sekali lagi maaf aku tak bisa, mohon pengertiannya"

"…"

"Sepertinya tak ada yang bisa kita bicarakan lagi. keputusanku sudah final aku akan beristirahat selama beberapa bulan ke depan. Karena itu sepertinya pembicaraan kita sampai disini saja ya. Annyeong"

Ternyata telfon tadi dari salah seorang sutradara yang ingin aku bermain di film garapannya kali ini. tapi sayangnya aku tak bisa menerima tawaran itu karena aku harus benar-benar beristirahat total dan fokus pada kondisi Jung Min serta calon anakku yang akan lahir dua bulan lagi. Jung Min sedang hamil tua sekarang jadi jelas dia lebih membutuhkan perhatian dariku dan aku juga memang ingin memperhatikanya lebih agar dia merasa bahagia disaat-saat kehamilanya sekarang ini.

Ddrrrttt… Ddrrrttt… Ddrrtttt… Ddrrrtt…

Lagi-lagi handphoneku berbunyi dan lagi-lagi nomor yang sama yang menghubungiku. Ternyata sutradara itu tak mau menyerah merayuku padahal sudah ku tolak tadi. Dan lagi bukannya dia juga sudah ditolak oleh manejerku. Anehnya dia malah merayuku sekarang. Aish… ada-ada saja. Aku cukup berterima kasih pada manejerku yang cukup pengertian padaku, dia tahu tentang kehamilan Jung Min dan hubungan kami saat ini. dan dia juga cukup mengerti kalau aku butuh waktu untuk beristirahat dan menjaga Jung Min makanya dia menolak semua job yang ditawarkan padaku.

Handphoneku terus saja berbunyi hingga membuatku sedikit kesal. Handphone itu baru diam sebentar pasti langsung berbunyi lagi dan yang membuat tanbah kesal itu, naomor yang menelfonku pasti itu-itu saja. Aish… kapan sutradara itu akan merasa lelah menghubungiku, apa tadi dia kurang jelas mendengar penjelasan dariku. Aku pun membiarkan handphoneku yang terus menerus berbunyi. Setiap kali ada yang menghubungi pasti aku langsung menekan tombol mati bukan mengangkatnya.

Aku semakin kesal saja saat handphoneku itu tak bisa diam selama lima menit ini. orang yang menelfon tadi ternyata tidak mau menyerah juga. Padahal aku selalu mematikan panggilan telfon darinya. Gigih juga dia menghubungiku. Tapi itu malah membuat aku merasa tak tenang dan merasa terganggu.

"AISH… KENAPA MASIH MENGHUBUNGIKU SIH, JANGAN HUBUNGI AKU LAGI" kataku dengan kesal. Aku mengangkat panggilan terakhir tadi lalu segera membentak orang yang menelfonku disebenar sana, setelahnya aku langsung mematikan panggilanya dan membanting handphoneku dengan kesal keatas meja yang ada didepanku.

"Siapa Hyun, kenapa marah-marah begitu?" Tanya manejerku yang entah sejak kapan dia berdiri diambang pintu saja sambil melipat tangannya didepan dada dan memandangku tajam.

"Dari sutradara gila yang terus saja menelfonku dan merayuku agar aku mau bermain di filmnya yang akan segera mulai syutting bulan depan" jawabku dengan malas. "Kenapa sih dia malah menerorku dengan telfon-telfonnya itu kenapa bukan hyung saja yang diteror. Hyungkan manejerku" kataku malas.

"Sesekali gantian kamu yang diteror tak ada salahnya bukan" kata manejerku tadi sambil menepuk bahuku pelan dan tertawa pelan. Aku menghendus kesal kearahnya. "Hari ini syutting terakhirmu, jadi santailah sedikit" kata manejerku tadi lagi.

"Syutting berakhir kapan hyung?" tanyaku memastikan, aku ingin segera pulang dan menemui Jung Min serta anak kami. Aku cukup merindukan dia.

"Paling cepat juga jam sebelas malam nanti, bersabarlah sedikit. Aku tahu kamu merindukan istri dan calon anakmu itu" goda manejerku tadi.

"Yah, aku sangat merindukan mereka. Aku sudah menelantarkan mereka selama beberapa hari terakhir ini" kataku sedih.

"kalau kamu rindu pada mereka, ya hubungi saja" kata Manejerku santai lalu segera beranjak pergi meninggalkanku sendiri. Ada benarnya juga kata-kata manejer tadi. Aku pun langsung meraih handphoneku tadi yang sempat aku lempar dengan asal.

Ternyata masih banyak juga panggilan yang tak terjawab. Aku pun melihat dari siapa saja panggilan tadi. Mataku membulat sempurna saat menatap satu nama yang sangat ku rindukan, Park Jung Min. Ternyata sejak tadi dia mencoba menghubungiku tapi aku malah dengan santainya tak mengangkat semua panggilan darinya yang ku kira itu panggilan dari sutradara tadi.

Tunggu… tadi aku sempat mengangkat telfon dan membentak-bentak orang diseberang telfon sana tanpa melihat itu panggilan dari siapa. Jangan bilang tadi itu panggilan dari Jung Min. dengan perasaan was-was aku pun segera memeriksanya. Sial, ternyata benar saja panggilan tadi itu dari Jung Min. dan dengan begitu itu berarti aku tadi sudah membentak-bentaknya. Pasti Jung Min jadi salah sangka padaku saat ini. aku harus segera menghubunginya dan menjelaskan semuanya sebelum Jung min salah paham lebih dari ini.

Aku pun langsung mencoba menghubunggi nomor handphone Jung min dan ternyata tak bisa nyambung sama sekali padahal aku sudah menghubunginya berkali-kali. Apa dia marah padaku gara-gara aku bentak tanpa sebab seperti tadi? Jung Min mianhae, aku nggak sengaja tadi. Dengan perasaan tak enak akhirnya aku mencoba menghubungi telfon rumah, untungnya saja diangkat.

"Yeoboseo" sapa sebuah suara wanita paruh baya disebenrang saja, aku tahu pasti itu suara Bibi Go.

"Bibi, apa Jung Min ada?" tanyaku.

"Ada tuan muda, tapi sepertinya dia sudah tidur karena Bibi tak mendengar suara-suara lagi dari dalam kamarnya" jelas Bibi Go.

"Begitu…" kataku antara lega dan kecewa.

"Tuan muda kapan akan pulang, tuan Jung Min merindukan anda. Sampai-sampai dia tampak murung seharai ini, bahkan dia tak menyentuh makanannya sejak tadi pagi. Dia Cuma meminun susunya saja tanpa mau mengkonsumsi makanan yang saya buat. Saya jadi takut tuan muda Jung Min kenapa-kepana apa lagi sekarang ini dia tengah hamil tua" jelas Bibi Go yang membuatku cukup kaget. Jung Min belum makan apa pun sejak tadi pagi? Dasar namja pabo, dia mau membahayakan bayi kami apa. Aish… begini kalau aku tak ada disampingnya.

"Aish.. dasar anak itu, kenapa lagi dengan dia sampai-sampai tak mau makan. Aku akan pulang tengah malam" kataku pada Bibi Go.

"Begitu, kalau begitu berhati-hatilah. Tuan muda Jung Min sudah sangat merindukan anda tuan" kata Bibi Go padaku.

"Ne, aku tahu. Aku titip dia Bibi, akan ku usahakan pulang secepatnya' kataku lalu setelahnya aku langsung mematikan panggilanku tadi saat manejer memanggilku untuk kembali ke lokasi pengambilan gambar. Dengan berat hati aku pun melangkahkan kakiku menyelesaikan pekerjaanku. Sebisa mungkin aku bersikap biasa saja padahal aslinya pikiranku sangat kalut saat tahu Jung Min belum makan sejak tadi pagi. Semoga saja dia tetap baik-baik saja.

*** HyunMin ***

Author Pov…

Jam sudah menunjukan pukul dua belas lewat tiga puluh tiga menit saat Hyun Joong berjalan memasuki kamarnya dan Jung Min dengan perlahan. Dia bisa melihat sosok kekasihnya itu terlelap di diatas ranjang. Hyun Joong berjalan mendekati Jung Min, langkahnya terhenti saat melihat kerangka handphone Jung Min tergeletak berpencar di samping ranjang. Hyun Joong memungut benda mati tadi lalu meletakkannya diatas meja yang berada disamping ranjang. Hyun Joong mendudukan dirinya di pinggir ranjang sambil menatap wajah tidur Jung Min.

"Wajahnya tampak sedih sekali" kata Hyun Joong sambil mengusap pipi Jung Min. "Mianhae, aku kurang perhatian padamu. Mulai besok aku sepenuhnya milikmu Jung Min" kata Hyun Joong lalu mengecup bibir Jung Min. Hyun Joong beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi dan mulai menyegarkan dirinya didalam sana. Selang beberapa menit kemudian Hyun Joong keluar lagi dengan penampilan segar dan sudah siap untuk berangkat tidur.

"Lelahnya… aku butuh tidur seharian full" ucap Hyun Joong sambil merentangkan kedua tangannya. Hyun Joong pun segera merebahkan dirinya di samping Jung Min dan segera memejamkan matanya tapi sebelumnya dia sempat mengecup kening, bibir dan perut Jung Min beberapa kali.

*** HyunMin ***

Jung Min lagi-lagi terbangun dari tidurnya di tengah-tengah subuh. Kini jam telah menunjukan pukul tiga lewat lima belas pagi. Jung Min mengerjap-ngerjapkan matanay berulang-ulang kali. Ia masih sangat merasa ngantuk tapi tak sedikit pun dia bisa kembali tertidur. Jung Min mendudukan dirinya dengan susah payah lalu menatap namja yang tertidur pulas disampingnya. Wajah sedih Jung Min pun kembali terlihat saat ia mengingat tadi Hyun Joong membentaknya tanpa sebab.

"Appa sudah pulang baby" ujar Jung Min pada bayi yang ia kandung sambil terus menatap Hyun Joong dengan tatapan super sedihnya. Jung Min sungguh merindukan sosok namja yang tertidur disampingnya tadi. Dia sedih bilang mengingat Hyun Joong yang berkata dengan nada tinggi padanya.

"Hyung… Bangun…" ucap Jung Min pelan sambil menguncang-guncangkan tubuh Hyun Joong. Dia sangat membutuhkan penjelasan dari Hyun Joong tetang persoalan telfon tadi. Jung Min tak bisa menunggu sampai besok pagi karena dia takut besok pagi Hyun Joong tak ada lagi disampingnya karena itu lah dia menginginkan semuanya jelas sekarang juga.

"Hyung bangun…" pinta Jung Min karena sejak tadi Hyun Joong tak segera bangun-bangun. Hyun Joong cukup lelah karena kerja terlalu berat dalam seminggu ini. dia butuh tidur cukup selama seharian dan dia juga beharap tak ada yang menganggu istirahatnya tadi karena dia bisa marah besar kalau tidurnya terganggu sedikit saja, apa lagi dalam keadaan dia yang terlalu lelah seperti sekarang ini.

"Hyung bangun" lagi-lagi Jung Min terus berusaha membangunkan Hyun Joong yang mulai mengeliat tak enak gara-gara Jung Min mengoyang-goyangkan tubuhnya dengan cukup kencang. "Hyung…" rengek Jung Min lagi.

"Aish… apa sih Jung Min, aku lelah. Besok saja kalau ingin sesuatu, aku butuh tidur sekarang" pinta Hyun Joong dengan mata yang masih terpejam. Hyun Joong mengeliat pelan lalu kembali memejamkan matanya lagi. Jung Min tak bisa menunggu sampai besok dia takut Hyun Joong tak ada lagi besok pagi karena itu lah Jung Min bersikeras membangunkan Hyun Joong.

"Hyung Bangun, ada yang mau aku tanyakan" paksa Jung Min sambil mengoyang-goyangkan tubuh Hyun Joong dengan kecang.

"Yack.! Jung Min, bisa diam tidak sih. Aku ngantuk tahu. Aish… menyusahkan saja" kata Hyun Joong sambil menatap wajah Jung Min kesal. Hyun Joong kembali tertidur dengan posisi memungungi Jung Min yang sedang menahan tangisannya.

"Hyung… Hiks.. Hiks.. Hiks.." akhirnya Jung Min pun tak bisa mencegah air matanya mentes deras. Jung Min terisak pelan tapi cukup di dengar oleh Hyun Joong, sayangnya walau pun Hyun Joong tahu Jung Min sedang menangis dia tetap saja tak ambil pusing. Jung Min membaringkan tubuhnya lagi memunggungi Hyun Joong. Air matanya semakin deras saja menetes membasahi bantal yang digunaknannya.

"Yack.! Bisa diam tidak sih, suara tangisanmu itu benar-benar mengangguku tahu. Aish… menyusahkan saja" kesal Hyun Joong yang langsung beranjak dari atas ranjang dan keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah bantal dan selimut. Jung Min yang melihat kemarah Hyun Joong pun semakin terisak, air mata terus jatuh membasahai kedua pipinya.

"Baby, appa benci sama umma ya. Umma menyusahkan appa" isak Jung Min sambil beranjak dari atas ranjang. Dia penasaran kemana kekasihnya tadi pergi. Ternyata Hyun Joong pindah tidur diruang tamu. Jung Min menatap wajah tidur Hyun Joong sambil menahan tangisannya agar tak terdengar. Dia tak mau dibentak lagi oleh Hyun Joong.

'Hyung… Hyung membenci aku, eoh? Aku menyusahkan hyung ya, maafkan aku. Dari awal memang aku sadar aku yang salah. gara-gara hamil aku malah jadi nyusahin hyung seperti ini' kata Jung Min dalam hati.

"Baby, appa membenci umma dan umma terlalu menyusahkan appa. Bagaimana ini baby, apa… apa kita pergi saja dari sini biar umma nggak nyusahin appa lagi?" Tanya Jung Min pada bayinya setelah iya kembali beranjak memasuki kamarnya lagi dan duduk ditepi ranjangnya. Dia masih terisak pelan.

"Mungking memang lebih baik kalau kita pergi saja baby" kata Jung Min pelan lalu segera mengambil kunci mobilnya dan jaket yang langsung dikenakannya. Jung Min berjalan perlahan keluar dari kamarnya menemui Hyun Joong yang terlelap diatas sofa.

"Hyung…. Maafkan aku selama ini sudah menyusahkan hyung" kata Jung Min sambil mengecup bibir Hyun Joong kilat. Setelahnya Jung Min langsung beranjak pergi meninggalkan apartment Hyun Joong. Tempat tujuannya kini Cuma satu, rumah kedua orang tuanya.

Sesampainya didepan rumah keluarga Park, Jung Min langsung melangkahkan kakinya menuju pintu masuk. Beberapa kali dia mencoba menekan bel, Jung Min menunggu cukup lama sampai pintu rumah dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang menatap Jung Min dengan tatapan herannya.

"Umma" seru Jung Min sambil menubruk tubuh ummanya dan kembali menagis sejadi-jadinya membuat wanita yang dipeluknya merasa seangat heran.

"Jung Min ada apa, kenapa subuh-subuh datang kemari. Mana masih pakai pakaian tidur lagi?" Tanya Mrs. Park binggung sambil membawa Jung Min yang masih terisak memelukinya masuk kedalam rumah karena cuaca diluar sana benar-benar dingin. Jung Min tak menjawab, dia hanya menangis dan menagis sambil memeluki tubuh ummanya. Mrs. Park tahu ada yang tak beres dengan Jung Min saat ini.

"Umma, siapa yang datang" Tanya Mr park sambil turun dari lantai atas. "Jung Min, kenapa disini?" Tanya Mr. park heran saat melihat sosok anaknya yang tengah menangis sambil memeluki istrinya.

"Appa…" seru Jung Min yang langsung berlari memeluk Mr. Park. "Appa… aku mau tinggal disini bolehkan…" pinta Jung Min ditengah isakannya membuat Mrs. dan Mr. Park heran.

"Sebenarnya ada apa Jung Min, mana Hyun Joong?" Tanya Mr. Park.

"Tak ada, aku kabur dari apartement Hyun Joong hyung" jujur Jung Min membuat kedua orang tuanya cukup terkejut.

"Kamu betengkar dengan dia, eoh?" Tanya Mr. Park yang tampak sedikit kesal.

"Appa… hiks… hiks… Hyun Joong hyung jahat… hiks.. hiks… dia tidak mencintaiku… hiks.. hiks… jadi.. hiks… bolehkan aku tinggal disini" pinta Jung Min ditengah tangisanya.

"Namja brengsek itu beraninya dia" marah Mr. Park.

"Appa mianhae… maafkan Hyun Joong hyung jangan apa-apakan dia" pinta Jung Min.

"kamu diam saja Jung Min apa akan buat perhitungan pada dia" kesal Mr. Park sambil melepaskan pelukanya pada tubuh Jung min.

"Appa andwae… jangan" pinta Jung Min sambil kembali memeluk tubuh appanya erat.

"Jung Min lepaskan appa, appa kan buat perhitungan pada namja brengsek itu" marah Mr. Park. Jung Min mengelengkan kepalanya keras meminta appanya agar tak marah dan melakukan apa pun pada Hyun Joong.

"Appa, aku mohon jangan…." Ucap Jung Min pelan sebelum kesadarannya memudar. Jung Min pingsan didalam pelukan appanya. Mr. dan Mrs. Park terlihat sangat panic saat melihat kondisi Jung Min yang tiba-tiba saja tak sadarkan diri.

"Jung Min…bangun nak… bangun" pinta Mr. park sambil mengoyang-goyangkan tubuh Jung Min pelan tapi namja manis tadi tak berekasi sedikit pun. "Umma, kita bawa Jung Min kerumah sakit sekarang juga. Appa kahawatir dengan kondisinya" Mrs. park mengangguk pelan. Mr. Par langsung mengangkat tubuh Jung Min dan membawanya menuju rumah sakit terdekat mengunakan mobil miliknya.

*** TBC YA ***