ROSE WEASLEY AND IRIS ZABINI
Thanks semua yang sudah membaca fanfic ini... Rama Diggory Malfoy, Aleysa-GDH, zean's malfoy, Putri, Arisa inihara, Reverie Metherlence, Little Lily: Thanx reviewnya
Disclaimer: JK Rowling
Rose's POV
"IRIS ZABINI!" terdengar teriakan keras saat aku hendak menuju meja Slytherin di Aula Besar, untuk makan siang.
Aku mengangkat kepalaku dan melihat Iris sedang berlari ke arahku, wajahnya bercahaya dengan kemarahan. Aku memandang meja guru dan melihat Brewster sedang memandang Iris. Ayo Iris, ini kesempatanmu. Mantrai aku sekarang! Ingat jangan kutukan!
"Apa?" tanyaku, menantang. Anak-anak di Aula Besar mulai memperhatikan kami.
"Berani-beraninya kamu merebut pacarku?"
Sialan, Iris! Apakah tidak ada alasan lain?
"Tapi aku juga mencintainya dan aku pikir dia lebih memilihku dari pada kamu, Rose Weasley!" Hahaha! Siapa nih?
"Kamu benar-benar keterlaluan... FLAMIO!" Iris mengacungkan tongkat sihirnya padaku dan jubahku langsung terbakar. SIALAN IRIS! AKU TIDAK PUNYA JUBAH LAGI!
"MISS WEASLEY!" terdengar suara Brewster. "Potong sepuluh angka dari Gryffindor dan detensi... kamu harus membersihkan pispot di rumah sakit sehabis makan malam dan ingat tanpa sihir!"
Brewster mengacungkan tongkat sihirnya padaku dan nyala api dijubahku langsung padam seketika.
"Terima kasih, Profesor Brewster," kataku.
Brewster mengangguk dan langsung berjalan menuju meja guru. Aku memberikan senyum samar pada Iris lalu duduk di meja Slytherin.
Aku memandang jubahku yang hangus terbakar. Tidak bisa diperbaiki! Tak ada gunanya aku membiarkan Iris membakar jubahku. Dia bukannya di detensi Brewster malah dikirim ke rumah sakit untuk membersihkan pispot. Rencana gagal.
"Siapa pacar Weasley?" tanya Malfoy.
Aku mengabaikannya dan menarik sandwich tuna ke arahku. Malfoy sedang bertingkah aneh, lebih baik aku tidak meladeninya. Dan aku memang tidak ingin bicara dengannya.
"Siapa pacar Weasley, Iris?" tanya Alan.
"Eh..." Sial! Siapa, ya? Bagaimana kalau... "Kenneth Davis... ya, Kenneth Davis."
"Apa? Jadi yang dimaksudnya dengan kamu merebut pacarnya itu, Davis?" tanya Malfoy kaget.
Aku mengabaikannya, menggigit sandwichku.
"Iris, kalau kamu mau aku bisa membalas Weasley untukmu," kata Malfoy lagi.
Aku mengabaikannya.
"Aku tidak ingin kamu jadian sama Davis, Iris! Aku sudah pernah bilang padamu," kata Alan.
"Iris, aku bisa membantumu untuk mendapatkan Kenneth," kata Malfoy.
"Aku tahu, Alan!" kataku, mengabaikan Malfoy, "Aku sudah tidak menyukainya lagi."
"Apa?" tanya Alan dan Malfoy terkejut.
"Dia memang tampan, tapi aku lebih memilih rambut pirang dari pada rambut coklat."
"Siapa yang berambut pirang?" tanya Malfoy.
"Bagus!" kata Alan, "Kamu tidak cocok dengannya."
Aku menghabiskan sandwichku dan masih mengabaikan Malfoy. Malfoy menatapku.
Alan memandang kami.
"Kamu tidak mau bicara dengan Scorps, Iris?" tanya Alan.
"Tidak!"
"Kukira kamu sudah memaafkanku, Iris!" kata Malfoy.
Aku pura-pura tidak mendengar, aku mengambil sandwich keduaku.
"Mengapa kamu tidak bicara dengannya?" tanya Alan.
"Bukan urusanmu, Alan!"
"Aku sudah bilang akan melakukan apapun untukmu, Iris," kata Malfoy.
"Kamu menyuruhku memaafkan, Scorps, tapi kamu sendiri tidak memaafkan dia."
"Benar, Alan... masalahmu dan masalahnya adalah masalah ringan, tapi aku dan dia punya masalah yang besar yang tidak bisa dimaafkan."
"Kalian berdua punya masalah apa?" tanya Alan pada Malfoy.
"Iris, aku sudah minta maaf... dan kuharap kamu bisa bersikap dewasa dan memaafkan aku."
Aku mengambil jus jeruk dan meneguknya. Alan memandangku dan Malfoy dengan bingung.
"Alan, Deverill melambai padamu!" kataku, menatap meja Ravenclaw. Arlena Deverill sedang melambai dan menatap genit pada Alan.
Alan bangkit dan melangkah menuju meja Ravenclaw. Deverill langsung memberikan ciuman panjang dibibirnya. Aku memandang meja guru dan melihat para guru membuang muka dan mengabaikan pemandangan ini.
"Bicaralah, Iris!"
Aku menghabiskan sandwich keduaku, lalu meneguk jus jeruk lagi. Malfoy masih menatapku.
"Kamu sudah memukulku dan kukira kita bisa berteman lagi... kumohon, maafkan aku!"
Aku menghabiskan jus jerukku dan mengambil tasku. Aku memandang meja Gryffindor dan melihat Iris memandangku. Aku mengangguk.
"kamu mengangguk pada siapa?" tanya Malfoy.
Aku berdiri.
Malfoy menahan tanganku. "Duduk lagi, Iris! Aku masih ingin bicara denganmu!"
Aku menghentakkan tanganku, tapi Malfoy terlalu kuat. Aku kembali duduk.
"Apa maumu, Malfoy?" aku mendesis.
"Aku mau kamu memaafkanku."
"Malfoy, apakah kamu tuli atau tidak punya otak? Bukankah aku sudah bilang aku tak ingin bicara denganmu."
"Mengapa kamu tidak mau bicara denganku?" tanya Malfoy.
Aku mendekatkan kepalaku padanya sehingga wajah kami hanya berjarak beberapa centi.
"kamu masih bertanya mengapa aku tidak ingin bicara denganmu? Apakah alasan Kamu hampir membunuhku dan meninjuku itu belum cukup?" bisikku diwajahnya sehingga Goyle dan Macnair yang duduk didekat kami tidak mendengar apa yang kukatakan.
"Aku sudah minta maaf padamu!"
"Tidak, Malfoy! Apakah aku belum bilang padamu kalau aku ini pendendam... kamu telah menyakitiku dua kali Malfoy, kamu tidak menepati janji... kemudian kamu menjadi orang brengsek yang membuatku lebih menderita dari Cazell" kataku, menjauhkan wajahku.
"Tapi aku tidak berniat memperkosaku," Malfoy berbisik marah. "Jangan samakan aku dengan si Brengsek Cazell."
"Bukan itu intinya, Malfoy... intinya adalah kamu yang paling membuatku menderita... Cazell bukan orang yang aku kenal jadi tidak apa-apa, tapi kamu... kamu orang yang aku kenal, kamu temanmu, kamu berjanji padaku, kamu selalu ada bersamaku apapun yang terjadi, tapi kamu sendiri membuatku sedih, menyakitiku."
"Maafkan aku!"
"Aku tidak bisa, Malfoy... ku mohon! menjauhlah dariku untuk sebulan ini. Biarkan aku sendiri dan jangan bicara denganku!"
"Mengapa perlu waktu sebulan bagimu untuk memaafkanku?"
"Aku tidak akan bilang padamu, Malfoy," kataku tegas.
Kami bertatapan.
"Sedang apa kalian?" tanya Emily yang baru saja masuk ke Aula Besar bersama Linda.
"Tidak ada!" kataku.
"Sedang bicara" kata Malfoy.
"Bicara apa?" tanya Emily.
"Bukan urusanmu, Emily," kata Malfoy jengkel.
"Urusanku, Scorpy... aku cewekmu," kata Emily marah.
Aku memandang Malfoy dan Emily dan memutuskan untuk menhindari drama ini. Ini bukan urusanku.
"Aku pergi!" kataku.
"Tinggal di tempatmu, Iris... aku masih ingin bicara denganmu."
"Pergilah, Iris... kamu tidak ada urusan dengan pacarku," kata Emily, mendelik padaku.
"Aku punya urusan dengannya, Emily!"
"Tidak! Aku tidak mengijinkanmu dekat-dekat dengannya," kata Emily, menunjukku dengan dramatis.
"Aku akan dekat dengannya semau aku dan itu tidak ada urusannya denganmu."
"Aku cewekmu... aku tidak ingin kamu dekat-dekat dia... dan aku berharap kamu mendengarkan aku, Scorpy!"
"Kamu memang cewekku, tapi Iris temanku... tidak mungkin aku tidak dekat dengannya."
"Dia tidak hanya ingin jadi temanmu! Dia suka padamu," kata Emily keras, membuat anak-anak Slytherin didekat kami menoleh.
"APA?" tanyaku dan Malfoy bersamaan, saling bertatapan.
Aku tertawa. Malfoy hanya menatapku.
"Jangan mulai menyampaikan omong kosong, Emily," kataku lalu melangkah keluar meninggalkan Aula Besar.
Aku sangat berharap Malfoy tidak mempercayai omong-kosong yang disampaikan Emily. Tapi benarkah? Apakah Iris diam-diam menyukai Malfoy? Kurasa tidak! Dia menyukai Al. Tapi mungkin saja dia menyukai Al dan Malfoy bersamaan. Tidak mungkin! Lalu mengapa Emily menyampaikan omong kosong itu. Pasti dia sengaja untuk membuat Malfoy jauh dariku. Malfoy akan merasa bersalah karena tidak menyukaiku dan aku menyukainya, jadi dia menjauhi aku. Aku merasa ide ini aneh, tapi Emily adalah cewek yang bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Aku sedang berjalan melewati Aula Depan menuju lantai dua ketika seseorang memanggilku dari belakang.
"Hei Iris!"
Aku berbalik dan melihat Kenneth Davis berjalan mendekatiku. Aku berdebar-debar melihat wajahnya yang tampan dan mata coklatnya yang bersinar.
"Hai!" kataku, berdebar-debar.
"Aku sudah ingin menyapamu sejak kemarin tapi aku tidak punya keberanian," kata Ken.
Apa? Dia tidak punya keberanian menyapaku? Maksudnya?
"Aku sudah dengar apa yang kamu lakukan pada Cazell... benar-benar keren, Iris!" kata Ken lagi.
"Ohya..." kataku tersenyum otomatis.
"Err, kamu sedang bersama seseorang?"
"Aku bersamamu sekarang kan?"
"Bukan itu, maksudku kamu sedang jadian dengan seseorang?"
"Eh, tidak..."
"Maukah kamu ke Hogsmeade bersamaku Sabtu ini?" tanya Ken sedikit malu.
"Eh..."
"Kalau kamu tak ingin menjawab sekarang tidak apa-apa. Sampai nanti!" kata Ken, memberiku ciuman di pipi dan langsung pergi.
Aku memandangnya pergi dengan perasaan bahagia. Kenneth Davis, cowok yang aku sukai mengajakku kencan? Kencan! Nanti dulu... bukan aku, bukan Rose Weasley yang diajaknya kencan, tapi Iris Zabini. Cowok yang aku sukai menyukai Iris Zabini? Betapa anehnya situasi ini! Apa yang harus aku lakukan?
Scorpius' POV
Aku memandang Iris yang sedang berjalan keluar dari Aula Besar. Hatiku tiba-tiba terasa hangat, seperti waktu itu, seperti saat di ruang rekreasi Slytherin. Aku merasa bahagia. Iris menyukai aku. Dia menyukaiku. Kata-kata ini terdengar sangat indah. Aku... apakah aku menyukai Iris? Tentu saja, aku menyukainya... ya, aku menyukainya.
"SCORPY!"
"APA?"
"Kamu dengar aku! Aku tidak mau kamu bersama Iris?
"Iris menyukai aku," aku masih setengah tidak percaya. Mengapa Iris tidak bilang kalau dia menyukai aku? Mungkin dia malu dan marah karena aku memukulnya malam itu.
"SCORPIUS MALFOY!"
"Apa?"
"Aku bohong! Dia tidak menyukaimu... Dia menyukai Kenny Davis."
"Dia sudah tidak menyukai Davis. Itu karena dia menyukai aku... aku senang!"
"Apa?"
"Terima kasih, Emily, kamu sudah memberitahuku. Tadi aku bertanya-tanya mengapa dia tidak menyukai Davis lagi itu karena dia menyukai aku... yang dimaksudnya dengan rambut pirang tadi adalah aku... aku!"
"Apa yang kamu bicarakan, Scorpy?"
"Emily, aku juga menyukai Iris. Kamu sudah membuat aku menyadarinya. Terima kasih!"
"Jadi maksudmu kita putus?"
"Benar, Emily... aku tidak menyukaimu. Aku menyukai Iris."
"KAMU BENAR-BENAR BRENGSEK, SCORPIUS MALFOY!" teriak Emily dan sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Dan Emily berlari keluar Aula Besar diikuti oleh Linda yang menatapku dengan marah.
"Bagus!" kataku memegang pipiku yang ditampar. Sakit juga.
"Benar, Sobat! Kamu memang harus putus dengannya kalau kamu menyukai Iris," kata Alan, yang baru kembali dari berkunjung ke meja Ravenclaw.
"Alan, aku menyukai Iris," kataku, "Dan kurasa Iris juga menyukaiku.
"Benarkah?" tanya Alan tidak percaya.
"Benar, dia menyukai aku... rambut pirang yang tadi dimaksudkannya adalah aku... apakah kamu akan marah kalau aku mengajaknya kencan?"
"Err, tidak... tapi kamu harus bertanya pada Iris dulu. Kurasa bagian Iris menyukaimu adalah omong kosong Emily saja."
"Apa? Tidak, itu bagian yang paling benar... dia juga menyukaiku, tapi belum menyadarinya dan aku akan membuatnya menyadarinya," kataku bersemangat.
"Oh ya, silahkan..." kata Alan tidak yakin. "Err, aku tadi melihat Davis keluar mengikuti Iris... Mungkin Davis juga baru menyadari dia menyukai Iris dan ingin mengajak Iris keluar."
"Apa?" Tidak akan kubiarkan.
Aku bangkit dan berjalan menuju Aula Depan, aku tidak melihat siapa-siapa. Aku baru bertemu dengan Iris dan Kenneth Davis setelah aku tiba di lantai dua.
Kenneth Davis sedang memberikan ciuman di pipi Iris membuat darahku langsung bergelora. Panas membara. Keinginan untuk mengutuk Davis menjadi serpihan langsung mencul dipikiranku. Aku marah. Benar-benar keterlaluan! Dan Iris sepertinya sangat menikmati. Tidak akan kubiarkan kamu dekat-dekat Davis, Iris. Kamu menyukai aku.
"Iris!"aku langsung meneriaki Iris setelah Davis pergi.
Iris menoleh dan melihatku. Membuang muka dia berjalan meninggalkanku.
Masih mempertahankan aksi tutup mulutmu? Apakah kau pikir aku orang yang akan membiarkan aksi tutup mulut menghalangi niatku?
Aku berjalan menyusulnya dan menghalangi jalannya.
Dia mendelik dan berusaha menyingkirkan aku. Aku bertahan. Aku tidak akan membiarkanmu lewat tanpa bicara.
"Menjauhlah, Vampir! Aku tidak ingin bicara denganmu!"
"Apa yang kamu lakukan dengan Davis?"
"Bukan urusanmu!"
"Jawab! Atau aku akan membiarkanmu pergi dari sini... dan aku akan terus bertanya sampai kamu menjawab."
"Baik! Kalau kamu memang ingin tahu, dia mengajakku kencan," jawab Iris.
"Lalu, kamu jawab apa?"
"Tidak ada..."
"Bagus! Karena kamu akan berkencan denganku Sabtu nanti. Mulai sekarang kalau ada yang mengajakmu kencan bilang bahwa kamu sudah mempunyai pacar dan aku adalah pacarmu."
"Bagus sekali, Vampir!"
"Memang! Aku sudah tahu kamu juga menyukaiku makanya aku berkata begitu. Nah, kalau begitu aku bertemu di ruang rekreasi jam sepuluh Sabtu ini!"
"APA? Kamu serius?"
"Tentu saja serius, Iris... aku menyukaimu, kamu menyukaiku dan kita pacaran. Baguskan? Alan akan senang... dia lebih menyukai aku dari pada Davis... "
"Kamu percaya apa yang dikatakan Emily? Aku tidak menyukaimu, Scorpius Malfoy."
"Ya, aku percaya... dan aku punya bukti kalau kamu menyukai aku."
"Apa? Apa buktinya?"
"Kamu tidak menyukai Kenneth lagi... kamu bilang kamu menyukai rambut pirang dan... rambutku pirang."
Iris tertawa.
"Apa yang lucu?"
"Tadi aku cuma asal ngomong saja, Vampir! Aku bilang rambut pirang supaya kalian berdua tutup mulut tentang Kenneth Davis," kata Iris.
"Omong kosong, Iris, rambut pirang yang kamu maksudkan tadi adalah aku!" kataku senang. "Dan sebagai tanda kita jadian kamu harus menciumku!" kataku, memegang tangan Iris dan mendekatkan wajahku padanya.
"Menjijikkan!" kata Iris, mendorongku. "Menyingkir dari hadapanku, Vampir atau aku akan mengutukmu!"
"Apa?"
"PERGI!" jerit Iris, membuat lukisan-lukisan di sekitar kami kaget.
"Tapi..."
"PERGI, IDIOT!" sekarang Iris mengacungkan tongkat sihirnya padaku dengan wajah marah.
"Baiklah!" kataku, meninggalkan Iris dan berjalan menuju Aula Depan untuk kembali pergi ke ruang rekreasi Slytherin.
Rencanaku yang sempurna tidak berjalan dengan lancar. Aku yakin Iris juga menyukaiku. Mungkin dia malu dan tidak mau mengakuinya. Tapi aku akan membuatnya menyukaiku segera.
Rose's POV
Aku berlari masuk ke toilet Myrtle Merana. Seperti hari-hari sebelumnya, toilet itu kosong, mungkin Myrtle sudah pindah ke kamar mandi Prefect. Aku memandang wajah Iris dalam cermin. Meskipun sikap dan tingkah Iris aneh, tapi dia adalah gadis cantik. Dengan sedikit kepopuleran dia bisa mendapat cowok siapapun yang diinginkannya. Dan satu hari ini, dua cowok telah mengatakan suka padanya; si Vampir Malfoy yang aneh dan sok percaya diri dan orang yang kusukai, Ken Davis. Apa yang harus aku lakukan? Iris tidak menyukai satupun dari mereka, karena dia menyukai Al, sedangkan aku menyukai Ken Davis. Aduh!
"Rose!" Iris masuk dan menutup pintu. "Maafkan aku membakar jubahmu!"
"Tidak apa-apa," kataku lesu.
"Tidak berhasil, ya... maafkan aku! Malam ini aku harus membersihkan pispot rumah sakit... benar-benar sial!"
"Tidak apa-apa, terpaksa kita akan melakukannya hari Senin minggu depan."
"Ada apa?"
"Tahu tidak, Iris... saat ini kamu adalah cewek populer Hogwarts. Ada tiga cowok yang mengajakmu ke Hogsmeade."
"Apa? Siapa?"
"Pertama William Finch-Fletchley, dia sudah mengajakmu dua hari yang lalu, tapi aku berhasil menghindarinya. Yang kedua, Kenneth Davis."
"Apa? Tapi kamu kan... kamu suka Davis," kata Iris bingung.
"Benar sekali!"
"Lalu yang ketiga siapa?"
"Scorpius Malfoy."
"Apa?" Iris tertawa. "Tidak mungkin, Scorpius... dia itu... dia itu... Kamu salah, Rose!"
"Salah?"
"Mereka bukan menyukai aku, tapi menyukaimu... kamu yang ada dalam diriku... kepribadianmu,"
"Tidak mungkin, Iris! Ketertarikan fisik sangat diperlukan dalam berhubungan. Mereka menyukai kamu karena kamu cantik. Mungkin kamu tidak menyadarinya, tapi kamu benar-benar cantik. Kamu hanya perlu sedikit kepercayaan diri."
"Benarkah?"
"Ya, coba lihat!" kataku, memandang wajahku, wajah Iris di cermin wastafel. Wajah oval mungil dengan mata abu-abu yang cantik dan rambut hitam panjang yang berkilau.
Iris memandang wajahnya dan tersenyum, "Kamu benar, aku memang kelihatan cantik, tapi apa gunanya, karena orang yang aku sukai tidak menyukaiku."
"Maksudmu Al?"
"Benar! Albus tidak menyukaiku... dia menyukai seseorang, mungkin Suzane."
"Kalau begitu kita buat dia menyukaimu," kataku sebuah ide cemerlang muncul pikiranku.
"Benarkah?"
"Ya, aku punya ide menarik... tapi sebelum itu aku tanya, apakah kamu meyukai Scorpius Malfoy?"
"Tidak..." Iris tertawa, "Aku sudah tahu semua tentangnya waktu masih kecil. Kami dibesarkan bersama dia sudah seperti saudaraku... Aku bahkan melihatnya dan Alan menelan cacing! Menjijikan! Bagaimana kamu bisa mengira aku menyukai cowok yang menelan cacing."
"Menelan cacing? Menjijikkan!"
"Mengapa kamu bertanya tentang itu?"
"Soalnya Malfoy sangat memaksa dia mengatakan bahwa kamu juga menyukainya."
"Bagaimana bisa?"
"Entahlah..."
"Mungkin kamu, Rose... mungkin tanpa sadar kamu mengisyaratkan kalau kamu suka Scorpius," kata Iris.
"Tidak juga... aku hanya bilang bahwa aku lebih menyukai rambut pirang daripada rambut coklat... aku tidak punya maksud apa-apa dengan rambut pirang, tapi Malfoy mengira aku menyukainya."
"Sudahlah, kita lupakan rambut pirang... nah, ceritakan tentang ide kamu."
"Ya, ideku... kita lupakan dulu tentang ramuan Polijus, karena baru Senin depan kita bisa mengambil bubuk Bicorn dan kulit Boomslang... sekarang kita fokuskan diri untuk mendapatkan cowok yang kita sukai."
"Bagaimana?"
"Kamu bisa melanjutkan ideku untuk menggoda Ken dan aku bisa mendapatkan Al untukmu. Setuju?"
"Aku belum mengerti..."
"Begini, kamu saat ini sedang berada di tubuh Rose Weasley... Rose Weasley menyukai Ken. Jadi kamu menggodanya sebagai Rose Weasley, lalu aku bisa menggoda Al sebagai Iris Zabini. Setelah kita kembali ke tubuh masing-masing kita bisa mendapatkan cowok yang kita sukai. Setuju?"
"Kamu menyuruh aku menggoda Davis?"
"Benar! Sekarang Kamis jadi kita punya waktu sampai besok... hari Sabtu kita harus membawa cowok kita masing-masing ke Hogsmeade. Kita kencan ganda."
"Kalau tidak berhasil?"
"Kalau tidak berhasil kamu harus membawa Al ke Hogsmeade dan aku akan membawa ken... sampai di Hogsmeade aku dan Al memisahkan diri dan kamu bisa bersama Ken sebagai aku. Mengerti?"
"OK!"
Aku tersenyum ide ini hebat. Tiba-tiba aku teringat Malfoy... Selamat tinggal, Malfoy! Kalau kamu menyukai Iris kamu harus lebih berusaha.
Iris' POV
Profesor Brocklehurts masuk ke kelas Mantra dengan keceriaan seperti biasa. Dia menyuruh kami mengulangi mantra Non-Verbal yang telah dipelajari di kelas enam. Katanya, untuk NEWT Mantra, kami akan memprakterkkan mantra sederhana dengan Non-Verbal.
Aku duduk disamping Davis dan berniat melaksanakan misiku, yaitu membuat Davis menyukai Rose Weasley. Aku melirik Rose dan melihatnya duduk disamping Albus. Rose sedang mengajaknya bicara dan sepertinya Albus cukup menikmatinya. Rose sudah berhasil, tapi aku belum.
"Weasley, kamu hampir membunuh katakmu. Harusnya kamu membuatnya diam dengan Non-Verbal kan?" kata Davis.
Aku memandang katakku yang hampir mati tercekik, dan melepaskannya.
"Eh... Terima kasih..." kataku gugup. Apa, ya, yang ditulis Rose dalam Cara-Cara Menggoda Kenneth Davis versi Rose Weasley. Aku mencoba mengingat-ingat. Pilih topik yang netral seperti Quidditch. (Jangan sekali-kali bicara tentang asrama, karena kau bisa keceplosan dan menghina asramanya). Ya, itu! Bicara tentang Quidditch.
"Tidak perlu berterima kasih, Weasley!"
"Rose!" aku bicara dengan pelan sesuai point kesembilan: Bicaralah dengan lembut dan perlahan (karena kalau dia tidak mendengarmu, dia bisa mendekatkan kepalanya padamu dan kau bisa berbisik di telinganya. Dia akan menyukainya.) Kalau beruntung dia akan mendekatkan kepalanya padaku. Dan benar saja...
"Apa?" Davis mendekatkan kepalanya padaku.
"Kamu boleh memanggilku Rose... kalau Weasley terlalu formal," kataku di telinganya dengan kikik yang lembut dan menggoda.
Davis terpana memandangku. Apa dikiranya aku cewek sinting, ya?
"Bagaimana latihan Quidditch kalian?" tanyaku dengan lembut.
"Eh, ya bagus! Bagaimana latihan kalian, Weasley... Rose?"
Aku terkikik lagi, "Sangat bagus! Aku sempat terkena Bludger, tapi aku baik-baik saja dan kami akan latihan lagi Senin depan."
"Oh..."
Aku terkkik dan mengangguk sesuai point kesepuluh: Usahakan tertawa mendengar leluconnya (jangan coba-coba membantah apapun yang dia katakan) Tadi dia sedang tidak melucu? Sepertinya tidak! Aku merasa seperti idiot. Ayo, Iris! Cari topik pembicaraan netral.
Davis tertawa.
"Apa?" tanyaku.
"Aneh!"
"Apa?"
"Kamu, Rose, sangat aneh..."
"Aku aneh? Eh, maaf!"
"Tak perlu minta maaf," kata Davis cepat. "Hanya lain dari biasanya..."
"Benar!" kataku.
Davis memandang ke meja Rose dan Al. Rose sedang mengajari Al untuk berkonsentrasi pada objeknya agar bisa melakukan Mantra Pendiam Non-Verbal.
"Tampaknya Iris menyukai, Potter," kata Davis tiba-tiba.
Aku memandang Albus, "Memang! Dia sangat menyukai Albus... dia mencintainya."
"Benarkah?"
"Ya, dia sudah menyukai Albus sejak kelas tiga. Albus pernah menolongnya dari Adam Cazell dan teman-temannya yang mengerjainya di koridor... sejak itu dia selalu menyukai Albus."
"Kamu tahu banyak tentang Iris."
"Dia temanku..."
"Menurutmu apa yang dia pikirkan tentang aku?"
"Ku rasa tidak ada... mungkin dia menganggap kamu cowok baik yang tampan."
"Cowok baik yang tampan?" Davis tertawa.
"Itu pendapatnya, lho!"
"Terima kasih!"
"Untuk apa?"
"Untuk memberitahuku bahwa Iris suka Potter, sehingga aku tidak perlu menunggunya. Aku bisa mencari orang lain untuk diajak ke Hogsmeade Sabtu nanti."
"Eh, aku saja," kataku cepat.
Dia menatapku terkejut.
Apakah aku terdengar seperti cewek yang menawarkan diri untuk menggantikannya memberi makan naga?
"Maksudku, kalau tidak ada yang menemanimu besok kamu bisa mengajakku. Aku senggang... tidak perlu sebagai cewekmu, sebagai teman saja."
"Oh, kamu senggang?" tanya sambil tertawa.
Aku ikut tertawa.
"Bagaimana? Kita berduakan senggang... jadi kita bisa ke Hogsmeade bersama," kataku.
"Baiklah, Jam sepuluh di pintu depan, ya?"
Aku mengangguk. Berhasil!
Al's POV
Seharian ini ada yang aneh dengan Iris Zabini. Dia senang membantuku belajar. Tadi pagi dia membantuku saat Transfigurasi sekarang membantuku melakukan mantra Non-Verbal. Sikapnya juga aneh tidak seperti biasanya. Dia kelihatannya telah mengenalku dengan baik dan aku merasa dia seperti seorang saudara yang hilang.
"Nah, Al... mengerti, tidak?"
"Apa?"
"Ya ampun, Al, aku sudah menerangkan berulang-ulang tentang ini. Kamu harus fokus... pikiranmu tidak boleh kemana-mana. Lihat..." Dia mengacungkan tongkat sihirnya pada burung gagak dan burung itu langsung diam. "Nah!"
Aku memandang tongkat sihirnya dan sesuatu yang menghantam otakku, sesuatu yang sudah kuanggap aneh, tapi tidak terlalu kupikirkan.
"Ini tongkat sihir Rose!" kataku, memegang tangannya dan menatap tongkat sihir.
Wajah Zabini langsung berubah pucat. Dia menghentakkan tangannya dari tanganku.
"Mengapa tongkat sihir Rose bisa ada padamu?" tanyaku menatapnya ingin tahu.
"Kami bertukar tongkat sihir," jawab Zabini, dia memandang ke meja Rose dan Davis. Rose sedang terkikik aneh. Zabini mendengus.
"Mengapa kalian bertukar tongkat sihir?" aku memandang Davis dan Rose. Rasa marah langsung bergejolak dalam diriku, tapi aku memutuskan untuk menahan diri. aku harus tahu tentang perihal tongkat sihir ini dulu.
"Bukan urusanmu, Al," kata Zabini.
"Ini urusanku, dia sepupuku dan aku tidak mau terjadi apa-apa dengannya."
"Oh, terima kasih, Al!" kata Zabini sinis. Seperti yang biasa dilakukan Rose kalau tidak senang akan sesuatu.
"Kamu tidak perlu berterima kasih, Zabini! Aku hanya ingin tahu tentang tongkat sihir Rose."
"Aku sudah bilang kami bertukar tongkat sihir. Sekarang tongkat sihir ini adalah tongkat sihirku."
"Mengapa? Mengapa kalian bertukar tongkat sihir?"
"Aku tidak bisa bilang padamu."
"Ini sangat aneh, Zabini!" kataku. "Kamu pasti ingat apa yang dikatakan Ollivander Tongkat sihir memilih penyihirnya. Jadi tidak mungkin kamu bisa memakai tongkat sihir Rose dengan mudah dan Rose memakai tongkat sihirmu. Yang lebih aneh lagi, tongkat sihir Rose ini menuruti apa yang kamu perintahkan."
Aku memandang wajah Zabini yang semakin pucat.
"Pasti ada sesuatu... aku akan melaporkan hal ini... karena hal ini sangat aneh," kataku mengancam. Kalau dia tidak mau mengatakan alasan pertukaran tongkat sihir ini, aku akan benar-benar melaporkannya ke McGonagall. Mungkin ini ada hubungannya dengan sikap aneh Rose akhir-akhir ini.
"Kami... Kami sedang mencoba sihir baru," kata Zabini cepat.
"Apa?"
"Ya, kami sedang mencoba sesuatu yang ada hubungannya dengan Ilmu Pertongkat-Sihiran. Aku bercita-cita menjadi Pembuat Tongkat Sihir. Ollivander sudah sangat tua dan tidak ada lulusan Hogwarts yang bersedia menggantikannya. Jadi aku berencana menggantikannya setelah lulus Hogwarts."
"Lalu apa hubungannya dengan tongkat sihir Rose."
"Aku sedang mencari tahu bagaimana cara kerja tongkat sihir... eh, apakah dia benar-benar setia pada majikannya atau tidak... dan... dan kurasa tongkat sihir bisa tidak setia kadang-kadang, karena aku bisa memakai tongkat sihir Rose dengan baik dan Rose memakai tongkat sihirku dengan baik."
Aku memandangnya curiga. Alasan ini seperti dibuat-buat.
"Bagaimana kalau kamu pakai tongkat sihirku sekarang, apakah dia bisa mematuhi perintahmu atau tidak?"
"Eit, tidak bisa langsung... maksudku harus latihan dulu... aku sudah berlatih selama tiga hari dengan tongkat sihir Rose ini."
"Apakah Rose setuju menukar tongkat sihirnya denganmu?"
"Jelas dia setuju... dia malahan yang mengusulkan ini, supaya bisa membantu melatih kemampuanku agar bisa sama pandai dengan Ollivander."
"Aku kelihatannya sedang dipermainkan."
"Percayalah, Al, buat apa aku menipumu... mungkin sebulan lagi semua bisa kembali normal. Aku bisa memakai tongkat sihirku dan Rose bisa memakai tongkat sihirnya."
"Mengapa harus sebulan?"
"Ya, latihan ini memang cuma sebulan. Bulan depan aku akan mencoba buat tongkat pertamaku dan kamu bisa mencobanya kalau kamu mau."
"Tidak terima kasih!" kataku cepat. Aku tidak ingin mencoba tongkat sihir yang dibuat oleh Zabini, kelihatannya meragukan.
"Bagaimana kabar Lily dan Hugo? Aku tidak pernah melihat mereka."
"Bukan urusanmu, Zabini."
"Ayolah, Al... aku sedang berusaha berteman denganmu."
"Aku tidak mau berteman denganmu."
"Baiklah! Aku akan mengirim surat pada Aunt Ginny, mengatakan padanya bahwa kamu menolak berteman dengan seorang Slytherin yang berbaik-hati padamu."
"Aunt Ginny?"
"Ya, Aunt Ginny... eh, maksudku Mrs. Potter... sebenarnya aku sering mendengar Rose mengatakan Aunt Ginny jadi aku tanpa sadar jadi ikut memanggilnya seperti itu."
Aku menatap Zabini heran. "Apakah Rose menceritakan semua tentang kami padamu?"
"Benar!" Lalu Iris menceritakan semua sepupu Weasley, Mom dan Dad, paman-paman, bibi-bibi, juga Grandma dan Grandpa Weasley.
"Dia juga mengatakan bahwa tempat favorit semua orang adalah The Burrow."
Aku terpana menatapnya.
"Mengapa kamu mau mengingat semua informasi yang disampaikan Rose padamu."
"Itu karena aku menyukaimu, Al," kata Zabini, mencoba menatap mataku, tapi sepertinya tidak mampu karena matanya bersinar aneh sebelum dia mengalikan pandangan.
"Kamu menyukai aku?"
"Ya, aku menyukaimu... maukah kamu memutuskan Suzane dan ke Hogsmeade bersamaku Sabtu nanti?" Dia tidak memandangku.
"Sikapmu aneh, Zabini! Aku tidak percaya, kelihatannya kamu jijik melihatku."
"Aku bukan jijik padamu, sungguh! Aku jijik pada diriku sendiri. Aku tidak bisa melakukan ini."
"Melakukan apa?"
"Mengajakmu ke Hogsmead... mengatakan suka padamu... aku merasa seperti orang yang hina."
"Mengapa kamu harus terhina karena mengajakku? Memangnya aku tidak pantas diajak ke Hogsmeade oleh Iris Zabini yang sedang populer saat ini?"
"Bukan itu... kamu tidak mengerti, Al!"
"Jelaskan kalau begitu!"
"Tidak sekarang... nanti!"
"Kamu aneh, Zabini!" kataku memandangnya lagi.
"Memang!" katanya lalu tertawa.
Aku ikut tertawa bersamanya.
"Jadi bagaimana keadaan Lily dan Hugo?" tanya Iris lagi.
"Biasa saja... si brengsek Jonathan Corner mengajak Lily ke Hogsmeade kemarin."
"Apa? Terus Lily... Lily setuju?"
"Tentu saja dia setuju, kalau tidak, aku tidak akan marah-marah."
"Iris... maksudku Rose, tidak bilang padaku kalau Lily diajak kencan."
"Mengapa dia harus bilang padamu?"
"Aku juga ingin tahu... lalu Hugo? Bagaimana Hugo?"
"Sama sepertimu, Hugo sedang berlatih ilmu sihir baru."
"Ilmu Sihir apa?"
"Percobaan-percobaan aneh... dia ingin jadi Penyembuh. Saat ini dia sedang melakukan suatu percobaan untuk menyembuhkan cacar naga."
"Ku mohon jaga dia, Al... aku takut dia bisa saja terkena cacar naga."
"Tenang saja dia tidak apa-apa."
"Lalu Jonathan Corner? Aku tidak suka dia."
"Aku juga tidak."
"Kalau begitu kamu harus bilang ke Lily."
"Sudah, dia menyihirku dengan Kutukan Kepak Kelelawar semalam."
"Apa?" Zabini tertawa.
"Harusnya semalam aku bergabungmu dengan Rose di rumah sakit, tapi Hugo menyembuhkanku."
"Benarkah?"
"Hebat juga sebenarnya. Dia telah menemukan mantra untuk menyembuhkan Kutukan Kepak Kelelawar dalam satu jam."
"Aunt Ginny pasti akan marah besar," kata Zabini, tertawa.
Membayangkan Mom yang marah-marah membuatku tertawa. Kami tertawa selama beberapa saat.
"Apa pendapatmu tentang, Alan?" tanya Zabini, memandang Alan Zabini yang duduk bersama Malfoy di meja sebelah kanan kelas. Malfoy sedang memandang kami dengan pandangan tajam kelihatannya dia sedang marah. Aku dan Zabini mengabaikan Malfoy.
"Biasa saja, cowok Slytherin berdarah murni... sama dengan Malfoy."
"Apa yang kamu lakukan misalnya... ini misalnya... Alan atau Malfoy jatuh cinta pada Lily."
"Jatuh cinta? Cinta? Bukan suka?"
"Jatuh cinta," kata Zabini.
"Siapa yang jatuh cinta pada Lily? Zabini atau Malfoy?" kataku memandang dua cowok itu dengan marah. Tidak mungkin Malfoy, karena Malfoy sepertinya menyukai Zabini. Dia kelihatan marah melihatku akrab dengan Zabini. Kalau begitu Alan Zabini? Tapi dia pacaran sama Arlena Deverill.
"Tidak ada, Al," kata Zabini, "Ini cuma pengandaian, misalnya saja itu terjadi."
Aku tidak percaya, aku pernah melakukan trik yang sama sebelumnya pada Rose. Dari pengandaian seperti ini pasti ada sisi benarnya.
"Bagaimana, Al?"
"Apa?"
"Yang tadi, misalnya Alan atau Malfoy jatuh cinta pada Lily."
"Aku tidak tahu... itu tergantung Lily, kalau dia juga mencintai Zabini atau Malfoy, kami tidak bisa berbuat apa-apa... tapi yang jadi pacar cewek keluarga Weasley dan Lily Potter tidak boleh pengecut dan harus menyukai Quidditch."
Zabini tertawa.
"Apa?"
"Aku teringat pada Teddy... kalian menyuruhnya untuk mengalahkan Dad dan Uncle Harry main Quidditch karena dia telah melamar Victoire."
Aku tertawa. Itu sebenarnya ide James dan Fred. Tentu saja, Teddy kalah melawan Dad dan Uncle Ron, tapi kebersamaanlah yang kami inginkan. Setelah Teddy, kami semua berjanji untuk menjaga semua cewek dikeluarga kami. Minggu lalu, James meyiram Stinksap pada pacar Molly, Fred memberinya permen yang membuat lidahnya berlubang, Dominique menyihir rambutnya menjadi biru, Lucy membuatnya bertelinga kelinci dan Louis memyihir jubahnya menjadi pakaian Muggle perempuan. Tapi, Justin, pacar Molly, tidak melakukan apa-apa pada kami, dia mengerti kami menyayangi Molly. Setelah itu, aku tahu dia akan disambut dengan hangat oleh keluarga pada saat makan malam bersama di The Burrow. Rose, Hugo, Lily dan aku belum melakukan apa-apa padanya. Aku masih memikirkan beberapa trik untuk kugunakan padanya.
Ada yang salah di sini? Ada sesuatu yang dikatakan Zabini yang benar-benar salah.
"Mengapa kamu menyebut Uncle Ron dengan Dad?" tanyaku pada Zabini, ini benar-benar mencurigakan.
"Apa?"
"Kamu memanggil Uncle Ron Dad!"
"Oh... itu, Rose menyuruhku memanggil ayahnya Dad... dia memanggil ayahku Father!"
Aku menatap Zabini tidak percaya. Mencurigakan benar-benar mencurigakan.
"Mr. Potter... Miss Zabini, aku ingin lihat kalian membuat gagak ini diam dengan Non-Verbal. Ayo sekarang!" kata Profesor Brocklehurts, mendekati kami dengan ceria.
Kami mengacungkan tongkat. Gagak Zabini langsung diam dan gagakku terbang meninggalkanku.
Semua, kecuali Zabini, mendapat PR untuk mengulang Mantra ini dan dicobakan lagi besok.
Iris' POV
Rose menyeretku menuju toilet di lantai dua setelah kami keluar dari kelas Mantra.
"Ada apa?" tanyaku setelah dia memasang mantra Muffliato di toilet.
"Kita harus hati-hati," kata Rose, ketika kami mendudukkan diri sudut lantai yang kering.
"Apa?"
"Al... Al curiga kalau ada sesuatu yang terjadi antara kita. Aku tanpa sadar menyebut tentang keluargaku tadi."
"Lalu?"
"Jadi kita harus hati-hati! Nanti kalau Al tanya mengapa kamu memakai tongkat Iris Zabini, bilang saja ini percobaan tentang Ilmu Pertongkat Sihiran."
"Ilmu Pertongkat Sihiran?"
"Ya, dan kamu harus hati-hati tidak boleh menyebut tentang keluarga, karena Al pandai menjebak dengan kata-kata... dia mungkin akan bertanya apa makanan kesukaanku atau tempat favoritku atau siapa pacar pertama Victoire."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kalau ada pertanyaan seperti itu, kamu harus pandai mengelak."
"Mengelak bagaimana?"
"Bilang saja kamu tak ingin bicara tentang keluarga... kamu sedang bingung memikirkan PR atau apapun pikirkan sendiri alasannya!"
"OK!" kataku. "Mengapa kita tidak memberitahu Albus atau Alan tentang ini."
"JANGAN! Tidak boleh... Jangan mengatakan pada siapapun! Aku tidak mau ditertawakan."
"Ditertawakan?"
"Karena cukup bodoh membiarkan diriku ditipu olehmu dengan mantra aneh itu."
"Maafkan aku!"
"Lupakan... nah, bagaimana dengan Ken."
"Ok," kataku tersenyum, "Aku mengajaknya ke Hogsmeade dan dia setuju."
"Kamu mengajaknya ke Hogsmeade?"
"Ya, tapi sebagai teman."
"Tidak apa-apa! Permulaan yang bagus, thanks!" Rose tersenyum.
"Terus bagaimana dengan Albus?"
"Maaf, Iris! Aku tidak bisa mengajaknya."
"Mengapa?" tanyaku kecewa.
"Dia sepupuku... aku tidak bisa mengatakan 'aku menyukai kamu, maukah kamu ke Hogsmeade bersamaku' pada keluaraga."
"Aku mengerti... lalu bagaimana? Kencan ganda kita batal?"
"Tidak! Aku akan mengajak Al ke Hogsmeade sebagai teman. Dia pasti mau."
"Baiklah! Kalau begitu aku tidak boleh berhenti berharap," kataku sambil tersenyum.
"Benar keajaiban selalu ada bagi mereka yang punya harapan," kata Rose sok bijak.
Aku berpisah dengan Rose setelah berjanji akan bertemu besok setelah sarapan. Aku menuju ruang rekreasi Gryffindor dan Albus sedang duduk bersama Suzane di ruang rekreasi. Aku berusaha tidak melihat mereka namun...
"Rose?" Albus memanggilku.
Aku mendengus. Apa Albus tidak melihat wajah Suzane? Dia tidak menyukaiku. Aku pura-pura tidak mendengar dan berjalan menuju kamar anak perempuan.
"Berhenti Rose Weasley!" kata Albus lagi dengan suara tinggi.
Mengapa selalu seperti ini? Mengapa aku selalu diintimidasi oleh cowok brengsek ini. Apa sebenarnya yang dia inginkan. Dengan marah aku berjalan ke tempatnya.
"Apa, Albus Potter?"
"Aku ingin bicara," kata Albus.
"Darimana kamu?"
"Apakah ada gunanya kalau aku bilang ini bukan urusanmu?"
"Tidak ada!"
"Ya, benar sekali... tidak ada gunanya bicara denganmu!" aku hendak melangkah pergi ketika Albus bertanya lagi.
"Apakah kamu mengajak Kenneth Davis ke Hogsmeade Sabtu nanti?"
"Siapa yang mengatakannya padamu?" tanyaku heran. Cepat sekali gosip tersebar di Hogwarts.
"Aku yang mengatakannya pada Al... aku senang kamu punya pacar, Rose. Jadi kamu tidak perlu mengganggu hubunganku dengan Al," kata Suzane.
Memangnya kapan aku pernah mengganggu hubunganmu dengan Al? Pacarmu saja berkelebihan perhatiannya pada keluarga.
"Aku tidak senang Rose punya pacar," kata Albus.
"Terserah kamu Albus... yang penting aku senang dan aku tidak peduli dengan perasaanmu."
Albus memandangku dengan marah.
"Al, mengapa kamu tidak senang? Aku rasa ini bagus karena Rose tidak akan mengganggu kita lagi"
"Rose tidak pernah mengganggu hubungan kita," kata Albus.
"Hentikan, Al! Kamu selalu membela Rose... selalu Rose yang benar dan aku yang salah."
"Aku akan selalu membelanya Suzane... dia sepupuku," kata Albus tegas.
"Aku... aku benar-benar capek dengan hubungan ini. Sekarang pilih, Al; aku atau Rose!"
"Suzane!"
"Pilih!"
"Baik! Aku memilih keluargaku... aku memilih Rose."
Mata Suzane langsung berurai airmata.
"Maafkan aku, Suzane."
Suzane memandangku dengan marah, kemudian berlari menuju kamar anak-anak perempuan.
Albus duduk di kursi dan memejamkan matanya. Aku menggenggam tangannya dan berusaha untuk menguatkannya.
"Aku belum pernah memutuskan cewek dan aku tidak ingin seseorang menangis gara-gara aku," kata Albus, masih memejamkan mata.
"Maafkan aku," kataku, meremas tangannya.
Albus membuka mata dan menatapku. "Ini bukan salahmu, Rose. Ini semua salahku aku yang memulai semua ini."
Aku mengatupkan kedua tanganku di tangannya. "Suzane akan baik-baik saja... dia mungkin akan ceria lagi besok."
Albus menatapku. "Benarkah?"
"Percayalah!" kataku tersenyum.
Kami bertatapan. Albus memajukan kepalanya ke arahku dan aku seperti orang yang terhipnotis melakukan hal yang sama. Dia memiringkan kepalanya sedikit dan ketika bibir kami hampir bersentuhan suara hentakan pintu lukisan mengagetkanku.
"Rose!"
Aku mundur dari Albus dan memandang Lily yang baru masuk ke ruang rekreasi.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Lily curiga memandangku dan Albus.
"Tidak ada," jawabku cepat tanpa memandang Albus. "Tadi kamu memanggilku, Lil, ada apa?"
"Rose, benarkah yang aku dengar? Katanya kamu mengajak Davis ke Hogsmeade?" tanya Lily.
"Ayo ke atas," kataku menarik Lily menaiki tangga yang menuju kamar anak perempuan. Aku tidak memandang Albus.
"Bye, Al," kata Lily.
Review please!
Kalau ada pembaca yang bingung siapa William Finch-Fletchley, baca ulang ch. 5, ya!
Riwa Rambu
