ROSE WEASLEY AND IRIS ZABINI
Thanks semua yang sudah membaca fanfic ini... Rama Diggory Malfoy, Reverie Metherlence, Putri: Thanx reviewnya
Disclaimer: JK Rowling
Rose's POV
Aku bangun pagi ini dengan perasaan aneh; seperti ada suatu yang penting yang aku lupakan. Aku mencoba mengingat; hari ini Arithmancy, aku sudah mengerjakan PR super sulit Aritmancy. Aku juga sudah mengerjakan PR Astronomy tentang kehidupan di planet Mars. Lalu hal penting apa yang aku lupakan?
Aku bangun mandi dan berganti pakaian. Emily dan Linda belum bangun, kelihatannya pagi ini adalah jam bebas mereka. Emily dan Linda tidak bicara denganku. Emily masih marah karena aku yang membuatnya putus dengan Malfoy. Kalau dipikir lagi, ini bukan salahku. Aku tidak membuat Malfoy menyukai aku, maksudku Iris. Iris memang cantik dan wajar saja kalau Malfoy terpesona dan menyukainya.
Aku turun ke ruang rekreasi. Ruang rekreasi sepi, hanya ada beberapa anak Slytherin kelas tiga sedang duduk di pojokan sambil mengomel tentang PR Herbologi mereka. Aku duduk di salah satu sofa nyaman dekat perapian dan membuka PR Arithmancy-ku. Setelah puas mengecek, aku menggulungnya dan memasukkan lagi dalam tas. Aku mengangkat muka dan memandang ke seberang ruangan, saat itulah aku menyadari bahwa Malfoy dan Alan sedang duduk di salah satu sofa. Mereka tampak berkutat dengan PR mereka, wajah mereka kusut.
"Hai!" sapaku mendekati mereka.
"Pergilah, Iris!" kata Alan.
"Iris sayang, bisakah kau membantuku mengerjakan PR Arithmancy?" kata Malfoy.
Aku mengabaikan Malfoy dan memandang Alan."Mengapa kau tidak mengerjakannya semalam?"
"Latihan Quidditch, Iris... dan ada satu hal yang mengganggu pikiranku," jawab Alan.
"Masalah cewek," kata Malfoy.
"Deverill? Ada apa dengannya?" tanyaku.
"Bukan! Aku tidak ingin mendiskusikannya," kata Alan dan menunduk memandang perkamennya.
Aku memandang Alan dan teringat apa yang dikatakan Al tentang Lily. Lily sekarang jadian dengan Jonathan Corner. Apakah karena itu suasana hati Alan berubah? Mengapa harus meributkan Lily kalau Alan punya Deverill?
"Eh, kalian tahu gosip terbaru, tidak?" tanyaku coba-coba, dengan gaya Emily saat akan menyampaikan sesuatu yang menurutnya menarik.
"Aku tak ingin dengar apapun, Iris," kata Alan.
"Gosip apa?" tanya Malfoy antusias. Tampaknya Malfoy telah memutuskan untuk menganggap penting apapun yang aku katakan untuk menyenangkan hatiku
Aku mendelik pada Malfoy kemudian memandang Alan.
"Katanya Lily Potter jadian dengan Corner... banyak anak-anak yang membicarakannya... menurut gosip, mereka besok akan ke Hogsmeade bersama."
"Tutup mulut, Iris!" kata Alan, memasukkan PR Aritmancy-nya dalam tas dan berdiri. "Aku mau sarapan."
Aku memandang Alan yang keluar dari tembok batu dan bertanya-tanya. Ini belum membuktikan bahwa yang menyebabkan suasana hati Alan berubah adalah Lily. Mungkin saja dia hanya tidak suka mendengarkan gosip.
Sebuah tangan tiba-tiba telah ada di pundakku dan aku ditarik mendekat ke arah Malfoy.
"Hei, lepaskan!" aku menjerit dan mencoba untuk melepaskan diri, tapi Malfoy terlalu kuat.
"Nah, Iris sayang, ingat dandan yang cantik untukku besok! kita bertemu di ruang rekreasi jam sepuluh," kata Malfoy percaya diri.
"Lepaskan aku!"
"Jawab dulu! Setelah itu aku akan melepaskanmu."
"Aku sudah janji pergi ke Hogsmeade dengan seseorang."
"Siapa?" tanya Malfoy, pegangan tangannya mengedur sedikit.
"Albus Potter," kataku, mendorongnya ke sofa, lalu berdiri menjauh.
"Apa?" tanya Malfoy berdiri memandangku.
"Mengerti sekarang, Malfoy? aku tidak menyukaimu karena aku menyukai Albus Potter."
"Tidak mungkin kau menyukai Albus Potter!"
"Mengapa tidak mungkin... aku menyukainya dan dia setuju pergi denganku ke Hogsmeade besok," kataku tegas.
"Dia tidak cocok denganmu! Dia membenci kita... mereka membenci darah murni. Kau hanya cocok denganku, kita sama-sama berdarah murini dan kita sudah mengenal sejak kecil."
"Ini tidak ada hubungannya dengan darah murni atau bukan... ini tentang cinta. Aku mencintainya."
"Kau mencintainya? Cinta?" Malfoy menarikku mendekat dan mendesis di wajahku. "Aku tak akan membiarkanmu dekat-dekat Potter, Iris!"
Malfoy mendorongku dan aku terjatuh di sofa. "Bilang pada Potter agar dia berhati-hati!" katanya, lalu berjalan meninggalkan ruang rekreasi.
Aku mendengus. Orang yang tidak bisa menerima kekalahan. Sepertinya Iris harus berhati-hati pada Malfoy. Al juga, aku akan memberitahu Al masalah ini. Bicara tentang Al, aku belum mengajaknya ke Hogsmeade. Aku harus mengajak pagi ini.
Al's POV
Sepanjang pagi ini aku mencari-cari Rose, tapi dia menghindariku. Sewaktu aku turun sarapan, dia sudah menghilang dari Aula Besar. Saat aku berjalan menuju kelas Arithmancy, dia sudah berada dalam kelas, duduk di sebelah Davis. Aku duduk kursi kosong di sebelah mereka dengan marah.
Aku harus bicara dengan Rose. Aku tidak bisa mengalami perasaan yang tidak menentu seperti ini. Semalam, kalau Lily tidak datang menganggu kami, aku yakin kami akan berciuman. Aku yakin Rose juga ingin menciumku, seperti aku ingin menciummu. Pandangan matanya mengatakan hal itu. Aku yakin dia juga menyukaiku. Ya, tidak mungkin aku salah. Aku bisa merasakannya perasaan kami menyatu sebelum Lily datang dan merusak semuanya.
Tetapi, apa yang akan terjadi dengan kami nanti? Dia sepupuku. Semua orang akan membenci kami. Mom dan Dad, Uncle Ron dan Aunt Hermione juga Grandma dan Grandpa Weasley tidak akan setuju. Mereka mungkin akan memisahkan kami, mengirim Rose ke Albania atau ke Australia agar tidak bisa bertemu denganku. Aku memandang Rose lagi dan mengakui bahwa biar bagaimanapun rasa cinta itu telah tumbuh, tidak mungkin aku mengabaikannya begitu saja.
Aku menunduk memandang meja. Aku memang harus mengatakannya pada Rose, apapun yang terjadi perasaan ini harus dibicarakan. Rose dan aku harus mendiskusikan kemana perasaan kami ini dibawa; apakah harus dilupakan? Atau dijalani apa adanya.
"Al!" suara Zabini yang bernada akrab terdengar di dekatku. Dia meletakkan tasnya di meja dan duduk di sampingku.
"Wajahmu aneh, kau kelihatan sedih... ada apa?" tanya Zabini sok perhatian.
"Bukan urusanmu, Zabini," jawabku.
Dia mengikuti arah pandangku dan tersenyum memandang Rose dan Davis yang sedang asyik berbicara.
"Mereka cocok," katanya penuh perasaan.
Aku tidak berkomentar.
"Besok mereka akan ke Hogsmeade bersama," kata Zabini. Anehnya, dia terdengar sangat senang.
"Tidak ada hubungannya denganmu, Zabini... bisakah kau tutup mulut? Aku sedang berpikir."
"Al, kasar sekali omonganmu! Aku dengar kau dan Suzane putus."
"Tutup mulut, Zabini!"
"Besok kau ikut aku ke Hogsmeade, ya? Aku juga sendirian... Ayolah, Al!" kata Zabini memaksa.
Aku memandang Rose, lalu memandang Zabini dan mengangguk padanya. Zabini menjerit senang dan memelukku.
"Terima kasih, Al! Kau memang sahabat terbaikku!"
Sahabat terbaik? Bukannya terlalu berlebihan? Aku memang berencana ke Hogsmeade untuk menjauh dari kastil. Aku ingin keluar sejenak merenungkan perasaanku.
"Al, bagaimana kabar Hugo?" tanya Zabini.
"Dia sakit karena meminum ramuannya sendiri."
"Apa? Apa yang terjadi?"
"Ada hubungannya dengan ramuan untuk cacar naga, tapi jangan khawatir! Madam Darnsley berhasil menyembuhkannya."
"Syukurlah! Lalu Lily?"
Aku mendengus, teringat kejadian semalam, kalau Lily tidak menginterupsi kami. Rose dan aku pasti sudah berciuman. Seharusnya aku berterima kasih pada Lily. Kalau aku mencium Rose saat itu di ruang rekreasi di depan semua anak, semua orang akan tahu perasaanku dan memandang hina pada Rose. Aku tak ingin Rose sedih.
"Ada apa, Al?"
"Lily baik-baik saja... dia tampak senang-senang saja bersama Corner," kataku cepat, mengabaikan pertanyaan Zabini.
"Mengapa Lily bisa menyukai cowok brengsek seperti Corner itu, ya?" tanya Zabini.
"Jangan tanya aku, Zabini... mungkin Lily jatuh cinta padanya... kau tidak akan bisa memilih orang, dengan siapa kau jatuh cinta kan? Cinta itu datang dengan tiba-tiba dan dia sudah ada dihatimu tanpa kau menyadarinya. Hanya perlu beberapa detik, detik berikutnya kau menyadari kau telah jatuh cinta."
Zabini menatapku dengan heran.
"Al, sekarang kau..." Zabini mengamati wajahku, "Kau sedang jatuh cinta, Al?"
"Tidak!" kataku mengelak. "Aku cuma mengatakan apa yang ada dipikiranku."
Zabini masih mengamatiku. "Siapa dia, Al?"
"Bukan siapa-siapa!"
"Kau akan membuat seseorang yang mencintaimu patah hati, Al," kata Zabini.
Aku memandangnya. "Siapa?"
"Iris Zabini," kata Zabini,
"Ha? Maksudmu, kau akan patah hati?"
"Bukan aku... err, maksudku aku... tapi izinkan aku menyebut diriku dengan Iris... Maksudku tadi adalah Iris mencintaimu dan dialah yang akan menangis dan patah hati kalau dia mendengar kau jatuh cinta pada orang lain."
Aku memandang Iris dengan bingung. Mengapa harus menyebut dirinya sendiri dengan Iris?
"Yah, aku tak bisa berbuat apa-apa... kau kan tidak bisa memaksakan cinta," kataku.
"Aku tahu... Iris memang harus melepaskanmu... barangkali Malfoy bisa menghiburnya."
Aku bingung mendengar gaya bicara Zabini yang kelihatannya membicarakan orang lain bukan dirinya sendiri.
"Malfoy menyukaimu?"
"Tidak... dia menyukai Iris... dia juga mengancam akan mencelakakanmu karena Iris menyukaimu... kau harus hati-hati, Al."
"Eh? Tidak ada hubungannya denganku kan?"
"Ada, Al!" kata Zabini memaksa. "Iris menyukaimu dan Malfoy cemburu... Dia menyuruhku mengatakan padamu agar berhati-hati."
"Tapi aku tidak punya hubungan apa-apa denganmu," kataku heran.
"Memang tidak... tapi Malfoy dia pikir kau dan Iris saling menyukai," kata Zabini memandang Malfoy yang duduk diseberang ruangan.
"Lihat!" kata Zabini lagi. "Dia tidak suka melihatmu dan Iris."
Aku memandang Malfoy yang duduk bersama Alan Zabini. Dia memandangku dengan tajam dan marah. Aku berpikir bahwa Malfoy mungkin punya perasaan yang sama sepertiku, jatuh cinta pada orang yang salah. Aku pada sepupuku sendiri dan dia pada gadis yang menyukai orang lain. Aku kasihan melihat Malfoy, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Perasaan tidak bisa dipaksakan itulah yang harusnya dipelajari oleh Malfoy.
Aku memandang Rose lagi dan Rose sedang memandangku. Kami bertatapan sesaat kemudian Rose mengalihkan pandangan. Aku menunduk memandang perkamenku.
"Al, kau terlihat benar-benar sedih!"
"Aku tidak apa-apa, Zabini!"
"Dengar, apakah gadis itu tidak mencintaimu?"
"Aku tidak bicara tentang seorang gadis."
"Dengar Al, aku sudah mengenalmu sejak kecil... aku tahu kalau kau sedang sedih... ku rasa kalau kau bilang pada gadis itu bahwa kau mencintainya, dia mungkin akan mempertimbangkannya."
"Aku tidak ingin kau menganalisis perasaanku, Zabini... dan jangan sok akrab denganku. Kita tidak mengenal sejak kecil, aku tidak ingat punya teman bernama Zabini."
"Lupakan itu! Nah, kau berniat mengatakan perasaanmu kan?"
"Ya... aku harus mengatakannya segera... aku tidak bisa seperti ini terus."
"Bagus, Al... aku mendukungmu!"
"Aku tidak perlu dukunganmu..."
Zabini meninju bahuku perlahan. "Aku tetap mendukungmu," katanya sambil tersenyum.
Aku juga ikut tersenyum.
Iris' POV
Aku berhasil menghindari Albus sepanjang hari ini. Saat makan siang dia berhasil memojokkanku di Aula Depan, tapi aku berhasil lolos dengan kedatangan Suzane yang ingin berbicara padanya tentang hubungan mereka yang singkat. Aku melarikan diri dan bersembunyi di kamar anak-anak perumpuan, aku tahu Albus tidak akan bisa naik kesana. Aku tidak ingin berbicara dengan Albus sekarang. Dia tahu, dia tahu bahwa aku mencintainya. Aku seharusnya menahan perasaanku karena aku adalah Rose Weasley. Aku adalah sepupunya. Apa yang dipikirkan Albus tentangku? Dia pasti mengira Rose Weasley adalah gadis gila yang punya kecenderungan untuk meyukai seseorang yang memiliki hubungan darah dengannya. Maafkan aku, Rose!
Sebenarnya apa yang akan terjadi kalau kami berciuman semalam? Semua akan berubah. Hubungan Albus dan Rose akan berubah. Mereka mungkin akan saling membenci dan semua orang akan membenci mereka. Aku tidak mungkin akan melakukan itu. Albus dan Rose harus bahagia. Mereka adalah orang-orang baik yang pernah kukenal. Mungkin hanya Roselah satu-satunya sahabat yang pernah ada dihidupku. Dan Albus akan menjadi seorang yang akan aku cintai selamanya.
Aku tidak bertemu Rose sepanjang hari. Entah apa yang dilakukan Rose. Sebelum pelajaran Arithmancy aku menunggunya di toilet lantai dua, tapi dia tidak datang. Aku rasa Rose juga sedang bersembunyi dari seseorang. Mungkin Scorpius. Aku tersenyum mengingat apa yang dikatakan Rose tentang Scorpius bahwa Scorpius menyukaiku. Tidak mungkin!
Aku memandang cahaya bulan yang terpantul lewat jendela kamar anak-anak perempuan. Suzane dan Amelia sudah tidur. Mereka mengatakan bahwa mereka harus tidur cepat agar terlihat cantik besok saat ke Hogsmeade. Aku ingat bahwa aku juga sudah berjanji dengan Ken untuk ke Hogsmeade besok, tapi aku tidak bisa tidur. Aku lapar. Malam ini aku tidak turun ke Aula Besar untuk makan malam karena aku menghindari Albus.
Sial! Aku benar-benar lapar. Aku turun dari ranjang mengambil mantel kamarku dan berjalan keluar menuju ruang rekreasi. Tidak ada siapapun di ruang rekreasi. Api di perapian sudah mati berjam-jam yang lalu. Aku berjalan keluar lubang lukisan dan menyusuri koridor menuju ke dapur. Untung aku tidak bertemu siapa-siapa di koridor, para Perfect, Ketua Murid ataupun para hantu. Hanya lukisan-lukisan didinding yang berdesis memperingatkanku untuk kembali ke kamarku. Aku mengabaikan mereka.
Aku mengelitik buah pir pada lukisan buah-buahan di koridor ruang bawah tanah, dan buah pir itu langsung berubah jadi pegangan pintu. Aku masuk dan disambut oleh para Peri Rumah yang berpakaian toga putih dengan lambang Hogwarts diembos pada sudut toga. Mereka menyapaku dengan hormat dan membawaku duduk di meja panjang yang mirip dengan meja di Aula Besar. Disana telah duduk seseorang yang sangat kukenal.
"Rose, apa yang kau lakukan disini?" tanyaku menatap Rose yang sedang menyantap paha ayam.
"Pertanyaan yang sama untukmu," jawab Rose.
Aku duduk di depan Rose dan memesan ayam goreng pada para Peri Rumah yang ramah.
"Aku lapar," kataku pada Rose.
"Aku juga," jawab Rose.
Dua Peri Rumah membawakanku ayam goreng yang diletakkan dalam mangkuk besar. Aku langsung menyantap ayamku tanpa bicara.
"Kau tadi tidak makan malam, Rose?" tanyaku sambil menggigit ayamku.
"Tidak... Malfoy... dia mengejarku dan memaksaku untuk mendengarkan perasaannya yang begitu tulus padamu," jawab Rose.
Aku tertawa.
"Lalu, kau sendiri, mengapa tidak makan malam?" tanya Rose.
"Aku menghindari Albus."
"Al? Ada apa dengannya?"
"Dia... eh... dia ingin aku tidak berhubungan dengan Ken," kataku. Aku tidak bisa mengatakan pada Rose tentang aku yang hampir berciuman dengan sepupunya.
"Jangan hiraukan Al... dia memang selalu begitu... dia juga tidak setuju Lily berhubungan Corner."
"Ya..." kataku menatap Rose. "Albus sangat menyayangimu, Rose."
"Kami semua begitu... kami saling menyayangi dan melindungi. Kami tidak mau salah seorang dari kami terluka."
"Oh..."
"Ada apa, Iris? Kau terlihat aneh?"
"Tidak apa-apa."
"Ada apa sih dengan kalian semua? Tadi pagi Alan, lalu Al dan sekarang kamu. Ini berarti yang tidak punya masalah adalah Malfoy. Sepanjang pagi ini dia ceria."
Aku tidak berkata apa-apa. Aku tidak bisa memberitahu Rose tentang ini. Ini adalah rahasia aku dan Albus. Rose mungkin akan marah kalau tahu aku hampir mencium sepupunya dengan tubuhnya.
"Sebenar perasaanku tidak enak sejak pagi tadi... seperti ada sesuatu yang penting yang aku lupakan," kata Rose sambil berpikir.
"Apa?" tanyaku pikiranku teralih.
"Ada hubungannya dengan kunjungan ke Hogsmeade, tapi aku lupa."
"Kau lupa janji bertemu Al di Hogsmeade?"
"Bukan itu... aku ingat itu... ada hubungannya dengan sesuatu yang mengerikan dan menyebalkan."
"Kunjungan ke Hogsmeade... kupikir tidak mengerikan... bertemu Al di Hogsmeade cukup menyenangkan... mungkin kalau kau bertemu... bertemu... Rose!" aku kaget karena tiba-tiba teringat sesuatu.
"Apa?"
"Mother," kataku, tertahan.
"Mother?"
"Ya... kau harus bertemu Mother besok... ingat? Dia harus membelikanmu jubah Hogwarts."
"Oh, sial! Ibumu, Iris... mengapa aku bisa melupakannya? Lalu, apa yang harus aku lakukan aku sudah berjanji pada Al."
"Aku akan bilang pada Al, kau tidak bisa bersamanya ke Hogsmeade."
"Tidak, Iris... aku yang mengajaknya... aku sudah janji untuk bertemu dengan Al... aku tidak mungkin membatalkannya begitu saja."
"Tapi kau harus bertemu Mother... kumohon, Rose, Mother bisa membunuhku kalau kau tidak bertemu dengannya."
"Aku... aku akan ke Hogsmeade bersama Al dan bertemu dengan ibumu."
"Jangan! Kau tidak bisa membawa Albus pada Mother... Mother akan marah dan aku... aku tidak ingin Mother marah."
"Baik... baik, aku tahu... besok aku akan mencari cara untuk memisahkan diri dari Al dan bertemu ibumu."
Aku bernafas lega. Aku tidak ingin Mother tahu tentang Al, aku bisa mati. Mother pasti akan memarahiku.
"Apa yang terjadi dengan keluargamu, Iris?" tanya Rose, mengawasiku.
"Tidak ada..."
"Iris, ceritakan padaku sekarang! Atau aku tidak akan menemui ibumu besok."
Aku menatap Rose dan Rose balas menatapku dengan menantang. Aku tahu Rose serius dengan apa yang diucapkannya.
"Mother tidak menyayangi kami."
"Apa?"
"Dia tidak menyukai anak-anak... Mother dan Father menikah karena dijodohkan. Meraka tidak saling mencintai... Grandpa dan Grandma Zabini memaksa Mother untuk memiliki keturunan... Lalu Alan dan aku lahir, tapi dia semakin menjauh dan meninggalkan kami dengan Peri Rumah kami, Trincer."
"Ayahmu mencintainya," kata Rose tiba-tiba.
"Apa?" tanyaku kaget. "Father mencintai Mother?"
"Ya, aku tahu! Caranya menatap ibumu seperti cara Dad menatap Mom," kata Rose.
"Aku tidak mengetahuinya... selama ini kami mengira mereka saling benci, mereka tidak pernah berbicara di depan kami."
"Aku tidak tahu perasaan ibumu, tapi aku yakin ayahmu mencintainya."
Aku menatap panci-panci yang digantung di dekat tempat cuci piring dan berpikir bahwa apa yang dikatakan Rose mungkin ada benarnya. Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang dipikirkan orangtuaku. Alan dan aku jarang bertemu mereka, apa lagi saling mendiskusikan perasaan, tidak pernah satu kalipun.
"Yuk, aku ngantuk," kata Rose, berdiri.
Kami berdua berterima kasih pada para Peri Rumah yang ramah dan berjalan keluar dapur. Kami tidak saling bicara. Kami menyusuri koridor bawah tanah yang sepi menuju Aula Depan. Aku hendak mengucapkan selamat malam pada Rose saat suara samar-samar terdengar dari lantai di atas kami. Rose dan aku saling pandang dan memutuskan untuk mencari sumber suara. Di koridor lantai dua, kami melihat Lily dan Alan sedang berbicara. Mereka saling menatap dengan marah. Aku dan Rose bersembunyi diceruk dekat baju Zirah.
"Bukan urusanmu, apa yang aku lakukan dan dengan siapa aku berkencan, Alan!"
"Urusanku! Corner, Lily? Dia cowok brengsek... dia akan membuatmu terluka."
"Aku tak peduli! Aku ingin ditinggalkan sendiri... dan kau... kau bukan apa-apaku, Alan... bukan saudaraku dan kita tidak pernah menjadi teman."
"Ku pikir kita teman, Lily?"
"Teman? Teman? Kau meninggalkan aku!" suara Lily meninggi. "Kau mengucapkan selamat tinggal, ingat? Kau meninggalkan aku setelah menciumku."
"Aku tidak bermaksud menciummu... itu terjadi begitu saja."
"Oh, terjadi begitu saja? Itu mungkin memang kebiasaanmu, Alan... bertemu cewek di koridor, menciumnya dan mengucapkan selamat tinggal... lalu melupakannya begitu saja."
"Itu karena kau menyukai Davis brengsek itu."
"Aku tidak menyukai Kenneth Davis," jerit Lily tertahan.
"Oh, jadi saat itu kau mengira aku tuli."
"Bisa jadi, Alan, karena aku yakin kau tidak mendengarku dengan benar malam itu..."
"Oh ya? Bukankah kau mengatakan bahwa Davis tampan dan kau menyukai wajahnya?"
"Aku memang mengatakan itu, tapi aku tidak pernah mengatakan aku menyukainya... aku mengatakan aku menyukai wajahnya... 'wajahnya', Alan! dan itu beda... aku juga tidak pacaran dengannya... kau, Alan... kau menciumku dan tidak berbicara denganku esoknya, kau menghidariku seolah kau tidak pernah mengenalku."
"Itu semua demi kebaikkanmu... Davis lebih cocok untukmu dan semua orang akan setuju. Aku juga lebih menyukai Davis dari pada Corner."
"JANGAN MEMUTUSKAN APAPUN UNTUKKU!" jerit Lily, aku yakin semua orang akan berdatangan di koridor ini. "Kau tidak punya hak untuk itu. Kita tidak punya hubungan apa-apa... dan ingat dengan siapapun aku berkencan itu bukan urusanmu."
"Aku hanya tidak ingin kau akhirnya terluka dan sedih... Corner... dia playboy Hogwarts, Lily, dia berganti cewek seperti berganti jubah. Dia akan membuatmu terluka."
"Terima kasih telah memberitahuku, jadi aku bisa mempersiapkan diri kalau suatu saat nanti Jonathan meninggalkanku... tidak seperti luka yang kualami saat kau meninggalkanku... aku tidak menyadari luka itu datang."
"Aku tidak pernah melukaimu, Lily."
"Tidak pernah melukaiku? Menciumku lalu meninggalkanku itu bukan namanya melukai?"
"Itu semua demi kebaikanmu."
"Kebaikanku? Kebaikanku? Apakah kau tidak mendengarku, aku bisa memutuskan sendiri apa yang baik untukku."
"Tidak... kau tidak bisa memutuskan sendiri, Lily... aku yang akan menentukan siapa yang paling baik untukmu... dan aku tidak suka Corner... Aku akan mengawasi kalian di Hogsmeade besok. Kalau dia berani menyentuhmu aku akan memantrai."
"Kau... kau benar-benar keterlaluan! Aku akan membunuhmu kalau kau berani menyentuh Corner."
"Oh ya, aku menunggumu membunuhku, Lily!"
"BRENGSEK!" Lily menyerbu Alan dan menyerang setiap sisi-sisi tubuh Alan yang bisa digapainya.
"Hentikan, Lily!"
"Mengapa? Mengapa kau menciumku?"
"Apa?"
"Mengapa kau meninggalkanku? Mengapa kau tidak bicara denganku? Mengapa kau juga mencium Deverill?" kata Lily dengan suara kecil, menahan isakan.
"Aku... "
"Jawab aku, Alan... sekali ini saja sebelum aku pergi, melupakan semuanya, melupakan bahwa aku pernah mengenalmu."
"Aku tidak tahu..."
Lily menatap Alan sesaat, menghela nafas perlahan. "Baik, Alan... aku ingat kau pernah mengucapkan selamat tinggal padaku... sekarang aku bisa mengucapkan selamat tinggal padamu... aku tidak akan bicara denganmu lagi setelah ini... jangan kuatir soal Corner karena aku tidak mencintainya. Dia tidak akan membuatku terluka..."
Lily mundur menjauh, Alan hanya berdiri kaku menatap Lily.
"Selamat tinggal, Alan... Semoga kau bahagia dengan Deverill!" kata Lily berjalan meninggalkan Alan yang berdiri mematung di tempatnya.
Alan baru bergerak setelah Lily menghilang di belokan koridor. Dia berjalan melewati ceruk tempat kami bersembunyi menuju ruang bawah tanah.
Aku merasakan airmataku terjatuh di pipi. Aku tahu apa yang dirasakan Alan. Aku kembarannya aku mengerti, Alan ingin melindungi Lily dari Alan sendiri, karena Alan akan membuat Lilu terluka. Mereka Slytherin pemberani, tapi mundur pada saat-saat tertentu. Alan pasti mengira inilah saat yang tepat untuk mundur demi Lily dan semua orang.
"Mengapa kau menangis?" tanya Rose, memandangku dengan bertanya.
"Aku sedih untuk mereka, aku tidak pernah tahu kalau Alan menyukai Lily," jawabku.
"Mengapa kau harus bersedih untuk Lily dan Alan... mereka yang mencari masalah sendiri," kata Rose tak peduli.
"Mencari masalah sendiri?"
"Ya... alasan dari masalah yang tadi adalah karena mereka tidak mengakui bahwa mereka saling menyukai... Aku menunggu-nunggu satu orang dari mereka mengatakan 'aku mencintaimu' ternyata tidak ada, yang ada malah 'selamat tinggal'. Apakah Lily sudah gila? Saat ini pasti dia sedang menangis di kamar anak-anak perempuan."
"Tidak semudah itu bilang 'aku mencintaimu'... ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, lagipula butuh keberanian besar mengatakan itu."
Rose menatapku, "Kau kedengaran seperti Al. Sok bijaksana!"
"Bukan begitu! Aku hanya melihat dari sudut pandang Alan saja... masalah ini tidak semudah yang kau pikirkan... Alan Slytherin dan Lily Gryffindor."
"Apa hubungannya asrama dengan ini?"
"Lupakan! Yuk! Aku kearah sini... sampai besok!" kataku menuju arah kanan koridor.
"Sampai besok! Tolong hibur Lily, ya!"
"OK"
Aku melambai pada Rose dan berlari menuju ruang rekreasi Gryffindor. Aku harus segera menemui Lily. Aku masuk ke ruang rekreasi dan hendak menaiki tangga yang menuju kamar anak perempuan ketika sebuah tangan menahanku. Aku yang tidak menyadari ada orang dalam ruang rekreasi langsung menjerit. Tapi tangan lain telah membekap mulutku.
"Mengapa kau menjerit?" tanya sebuah suara ditelingaku. Aku berbalik dan memandang Albus.
Albus melepaskanku.
"Ya ampun, Albus, kau membuatku ketakutan... mengapa kau disini?"
"Aku tidak bisa tidur jadi aku turun kemari, kemudian aku melihatmu masuk... darimana?"
"Aku dari dapur... aku harus menemui Lily... kau tidak melihatnya masuk?"
"Tidak... aku hanya melihatmu... ada apa dengannya?"
"Eh... yah... aku... aku harus mendiskusikan sesuatu dengannya," kataku.
"Tentang apa?"
Aku memandang Albus dan teringat bahwa aku sekarang sedang menghindarinya. Aku hampir melupakan masalahku dengan Albus, karena memikirkan Lily dan Alan. Aku harus segera menyingkir sebelum Albus menahanku.
"Yah, tentang suatu yang tidak begitu penting... aku masuk sekarang," kataku hendak kabur ke kamar anak-anak perempuan.
Dengan gerakan cepat Albus sudah berdiri di depan tangga. "Tetap di tempatmu!"
Kejadian ini seperti dejavu yang menyebalkan. Baru beberapa hari yang lalu Albus menghalangiku seperti ini.
"Albus, aku ngantuk bisakah kau menyingkir..."
"Tidak! Aku harus mengatakan sesuatu padamu."
"Jangan sekarang! Tolong, Albus, bisakah kau menyingkir?"
"Aku tahu besok kau pasti akan menghindariku."
Kami bertatapan sesaat.
"Baik!" kataku menuju kursi terdekat dan duduk. "Bicaralah!"
"Err, aku... aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu, Rose... aku jatuh cinta padamu."
Apa? Albus mencintai Rose... pantas saja dia ingin menciumku kemarin. Apa yang Rose katakan kalau mendengar ini?
"Memang terdengar aneh, Rose, karena kita sepupu... tapi ini terjadi begitu saja dan aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi perasaan ini."
Albus terlihat serius dan penuh perasaan dia benar-benar mencintai Rose. Seharusnya aku bahagia untuk Rose, untuk Albus karena akhirnya dia mendapatkan orang yang dicintainya, tapi aku sedih... aku mencintaimu, Albus, bukan Rose... Rose menyukai Ken... dia tidak menyukaimu... aku... aku yang menyukaimu. Airmataku jatuh membasahi pipiku. Aku terisak perlahan.
"Maafkan aku, Rose! Aku harus mengatakannya... aku tahu semua orang akan memarahi dan memusuhi kita, tapi kalau kau juga mencintai aku... kita bisa melalui rintangan ini bersama. Kita bisa meyakinkan keluarga kita bahwa kita saling mencintai dan... dan banyak juga penyihir yang menikah antar sepupu."
"Mengapa Albus? Mengapa kau menyukai Rose?"
"Mengapa aku menyukaimu?"
"Rose tidak mencintaimu, Albus... dia menyukai Kenneth Davis, tapi aku... akulah yang mencintaimu. Aku menyukaimu sejak kau menolongku, menyelamatkanku dari Cazell saat kita kelas tiga. Mengapa? Mengapa kau tidak mencintai aku?"
"Apa? Apa yang kau bicarakan?"
"Aku bicara tentang aku... aku yang mencintaimu, tentang aku yang tidak akan bisa melihatmu, tentang aku yang tidak akan bisa mengatakan apa-apa saat aku menjadi diriku sendiri."
"Tapi aku juga mencintaimu, Rose... kita bisa bersama-sama menghadapi ini."
"Ya, kau mencintai Rose dan bukan aku..."
"Hentikan! Jangan berbicara seolah kau dan Rose adalah orang yang berbeda."
"Memang berbeda, Albus dan kau tidak akan mengerti."
"Buat aku mengerti kalau begitu! Jelaskan padaku!"
"Tidak! Karena ini akan menyakitimu. Menyakiti kita! Aku tidak ingin menyakitimu, aku ingin kau bahagia dan kau akan bahagia bila tidak menyetahuinya. Aku juga tidak akan mengatakannya pada Rose, karena Rose akan sedih kalau dia tahu. Biarlah ini akan jadi rahasia kita selama."
"Ada apa ini? Aku tidak mengerti, Rose?"
"Aku tahu perasaan memang tidak bisa dipaksakan... aku tidak bisa memaksamu menyukai aku... Tapi kumohon jangan katakan apapun pada Rose!" aku mendekatkan wajahku dan mencium pipinya.
"Rose, sebentar! Apa maksudmu?"
"Selamat malam, Albus"
Aku berlari menuju kamar anak-anak perempuan. Malam ini memang penuh drama, aku tidak bisa menghibur Lily sekarang karena aku sedang sedih. Aku capek dengan semua ini. Aku ingin kembali ke tubuhku.
Scorpius' POV
Aku tidak bisa tidur. Aku memikirkan Iris yang menghindariku sepanjang hari ini. Aku juga memikirkan sikap Alan yang aneh sepanjang makan malam. Goyle dan aku berkali-kali menanyakan apa yang terjadi, tapi Alan menghindar. Dia jadi marah-marah dan suasana hatinya terus seperti itu sampai akhir makan malam.
Aku memandang ke arah pintu ketika pintu ruang rekreasi terbuka. Iris masuk, dia memandang keliling ruang rekreasi dan melihatku.
"Vampir!" katanya berjalan ke arahku dan memelukku.
Aku dengan dengan senang hati balas memeluknya.
"Ada apa?" tanyaku, setelah kami melepaskan diri.
"Lily... aku tidak tahu kalau dia telah menemukan cinta, padahal dia dua tahun dibawahku... Aku tujuhbelas tahun dan belum pernah jatuh cinta."
"Lily?"
"Mengapa dia ingin menyerahkan Lily pada orang lain, ya? Mengapa dia tidak mengatakan kalau dia mencintai Lily?"
"Dia?"
"Vampir, mengapa Gryffindor dan Slytherin tidak bisa menyatu?"
"Eh, entahlah... Gryffindor: pencinta Muggle, sedangkan Slytherin: pencinta darah murni."
"Apa yang kau lakukan kalau suatu saat nanti kau mencintai cewek Gryffindor?"
"Aku tidak akan mencintai cewek Gryffindor."
"Andaikan kau menyukai Rose Weasley apa yang akan kau lakukan?"
"Cewek Banshee? Tidak mungkin! Aku tidak mungkin menyukainya!"
"Aku tahu... nah, kita coba lagi! Andaikan suatu saat nanti... ini seandainya, jawab yang jujur, ya! Seandainya kau menyukai Lily Potter apa yang akan kau lakukan?"
"Seandainya aku menyukai Lily Potter? Aku akan mendekatinya, tentu saja, dan aku akan bilang padanya kalau aku menyukainya."
"Kau tidak akan berpura-pura tidak menyukainya dan menjodohkannya dengan orang lain?"
"Buat apa aku berbuat seperti itu? Kalau suka, bilang saja suka, buat apa disembunyikan?"
"Menurutmu mengapa orang berbuat seperti itu?"
"Seperti apa? Pura-pura tidak menyukai?"
"Ya..."
"Mungkin karena alasan keluarga... misalnya keluarganya membenci kita... atau alasan dalam diri... misalnya kita merasa tidak mampu membuatnya bahagia."
Dia menatapku. "Kukira alasan pertamalah yang cocok untuk masalah Lily... satu hal lagi, Vampir, mengapa kalian mengira bahwa keluarga Weasley/Potter membenci darah murni?"
"Entahlah, prasangka seperti ini sudah ada sejak aku kecil... aku tidak tahu siapa yang mulai mengatakannya duluan."
"Kuberitahu, ya, Vampir, keluarga Weasley/Potter tidak membenci darah murni... yang mereka benci adalah orang jahat yang merusak dunia sihir yang aman dan damai."
"Eh, OK!" kataku bingung.
"Terima kasih, Vampir!"
"Untuk apa?"
"Untuk menemaniku malam ini."
"Aku senang menemanimu."
Iris tersenyum. "Kau orang baik, Vampir!"
Aku tertawa, baru sekali ini ada yang menyebutku orang baik. "Terpesona padaku sekarang, Iris? Jadi besok ke Hogsmeade bersamaku kan?"
"Walaupun aku mau, aku tetap tidak bisa pergi ke Hogsmeade bersamamu, karena aku sudah janji untuk pergi bersama Al dan aku harus menumui ibu Iris."
"Ibu Iris?"
"Eh, maksudku ibuku."
"Kau mau bertemu ibumu di Hogsmeade? Kalau begitu jangan bawa-bawa aku."
"Aku tidak membawa-bawamu, Vampir, kau yang memaksa untuk pergi denganku."
"OK, aku tidak akan memaksamu lagi."
"Mengapa tidak?"
"Mrs. Zabini sangat menyeramkan. Aku tidak mau terlibat."
Iris tertawa lagi, "Kupikir kau memberani, Vampir!"
"Tidak kalau dengan Mrs. Zabini."
Kami tertawa bersama.
"Nah, beginikan lebih baik, Iris... tidak perlu menghindariku. Kita bisa mengobrol bersama dan membahas tentang masalah kita."
"Masalah kita?"
"Perasaan kita... kau belum bilang kalau kau menyukaiku."
Iris menatapku. "Maafkan aku, Vampir! Kau salah orang... aku bukan... maksudku kau bisa mengatakannya lagi sebulan dari sekarang."
"Mengapa aku harus menunggu sebulan?"
"Ya... karena mungkin jawabanku akan lain sebulan dari sekarang. Lagipula aku seharusnya masih marah padamu karena kau memukulku."
"Kau belum memaafkanku karena memukulmu?"
"Belum..."
"Kalau begitu mengapa bicara denganmu sekarang?" tanyaku jengkel.
"Karena hanya kau yang ada disini, hanya kau yang mau mendengarkanku... Alan sedang dalam suasana hati yang aneh, Emily dan Linda tidak bicara denganku."
"Jadi kau hanya akan bicara denganku kalau sedang ingin bicara saja, setelah selesai bicara kau akan membenciku lagi?"
"Benar..."
Aku memandangnya tidak percaya. "Mengapa?"
"Aku memang begitu... dan kau tidak mungkin menyukai cewek aneh kan?"
"Bagaimana kalau aku tidak peduli? Aku akan menunggumu memaafkanku."
"Sebulan dari sekarang, Vampir... dan semuanya akan kembali normal."
"Baik! Aku akan menunggumu sebulan dari sekarang."
Iris menatapku sesaat kemudian berjalan menuju kamar anak perempuan.
Review please!
Riwa Rambu
