ROSE WEASLEY AND IRIS ZABINI
Thanks semua yang sudah membaca fanfic ini... Rama Diggory Malfoy, Aleysa GDH, Putri, winey, zean's malfoy, Nicolle Angevines, Reverie Metherlence: Thanx reviewnya
Disclaimer: JK Rowling
Rose's POV
Hari ini adalah hari Senin. Hari yang paling tidak menyenangkan, karena hari ini penuh dengan pelajaran yang melelahkan dan Profesor yang disiplin. Dihari Senin minggu kemarin, aku ditipu oleh Iris Zabini sehingga jiwaku masuk ke dalam tubuhnya. Inilah aku Rose Weasley duduk di meja Slytherin sebagai Iris Zabini.
Aku memandang keliling Aula Besar dan melihat Iris duduk dengan perasaan tertekan di sebelah Lily yang tampak ceria. Aku tahu apa yang menyebabkan keceriaan Lily. Dia akhirnya bisa bersama orang yang disukainya, Alan Zabini. Gosip tentang mereka telah tersebar dengan cepat di Hogwarts sejak kemarin. Alan juga tampaknya ceria dan menikmati buburnya dengan bersemangat.
Iris sebaliknya tampak tertekan. Aku tahu Iris sedang memikirkan rencana kami hari ini untuk membobol lemari pribadi Brewster. Semalam kami telah menyusun rencana. Iris mengalihkan perhatian Brewster dengan menciptakan kehebohan dan aku menyusup ke dalam kantor Brester dengan Jubah Gaib lalu mengambil bubuk Bicorn dan kulit Boomslang untuk membuat Ramuan Polijus.
Aku menyusupkan tanganku ke dalam tas dan merasakan kain halus dari Jubah Gaib milik Al. Aku yakin rencana kami akan berhasil, kami bisa kembali ke tubuh kami lagi segera. Aku memandang meja Slytherin dan bertatapan dengan Malfoy. Kemarin Malfoy selalu menemaniku. Di perpustakaan saat aku sedang mengerjakan PR, di ruang rekreasi saat aku sedang membaca atau di halaman saat aku sedang bersantai dengan Iris. Kelakuannya seperti anjing penjaga besar yang tidak ingin meninggalkan tuannya.
Aku mengalihkan pandangan dan mencoba mengingat-ingat langkah-langkah membuat Ramuan Polijus.
"Iris, kau baik-baik saja? Wajahmu seperti wajah orang yang akan pergi berperang," kata Malfoy ceria.
"Aku benci hari Senin, Vampir," kataku.
"Bukankah hari ini adalah hari favoritmu? Kukira kau suka pelajaran Ramuan?"
"Aku benci Ramuan."
"Ayolah, Iris, bukankah kau selalu bersemangat kalau ada pelajaran Ramuan?"
"Tidak! Aku benci Ramuan."
"Oh... baiklah!" kata Malfoy heran.
"Apakah kemarin ada proyek baru?"
"Ya ada, Ramuan Cinta... kupikir kau akan menikmatinya, Iris."
"Tidak! Aku tidak akan menikamatinya, aku benci Ramuan , apa lagi Ramuan Cinta"
"Oh...baiklah!" kata Malfoy heran.
Aku mengangkat tasku dan berjalan keluar Aula Besar menuju ruang bawah tanah. Malfoy mengikutiku.
"Aku akan membantumu merebus Ramuan, Iris... kemarinkan kamu tidak ikut pelajaran Ramuan, jadi aku akan menyampaikan bahan-bahan apa yang diperlukan dan..."
"Tidak perlu, Vampir! Aku tahu apa yang harus dilakukan."
Kami tiba di kelas Ramuan. Meja-meja di kelas itu telah penuh dengan kuali-kuali penuh Ramuan Cinta yang belum selesai. Aku mengambil kualiku dan mulai meramu Ramuan Cinta-ku. Malfoy berdiri di sampingku mengawasi dan sesekali berkomentar tentang bahan-bahan Ramuan yang seharusnya tidak dicampur.
Beberapa menit kemudian kelas telah penuh dan Brewster menyuruh kami untuk melanjutkan proyek Ramuan Cinta kami. Aku melihat Iris sedang bekerja dengan semangat. Ramuan memang adalah mata pelajaran favorit Iris dan Ramuan Cinta adalah ramuan favoritnya. Aku memandang ramuanku dan bertanya-tanya kapan Iris akan mulai mengalihkan perhatian Brewster.
Satu jam pelajaran telah berlalu, tapi Iris masih sibuk mengaduk ramuannya. Aku memandang Iris dan berharap Iris mengangkat wajahnya. Sialan, Iris! Dia sekarang malah sedang bercanda dengan Ken, yang merebus ramuan di sebelahnya. Hei, IRIS!
Iris mengangkat mukanya dan menatapku. Aku mendelik. Sekarang, Idiot! Iris mengangguk dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya secara diam-diam. Aku mengamati benda itu, ternyata benda itu adalah Detonator Pengalih-Perhatian, jualan Uncle Goerge. Apakah Iris membelinya waktu mengunjungi Hogsmeade Sabtu kemarin? Tak ada waktu untuk berpikir. Iris telah meletakkan Detonator Pengalih-Perhatian di lantai .
Detonator itu lansung berjalan cepat melewati kaki meja. Aku menunggu dengan berdebar-debar. Terdengar ledakan keras dan kelas langsung dipenuhi asap hitam berbau tajam yang mengepul-ngepul. Jeritan anak-anak langsung terdengar dan suara berat Brewster terdengar keras menyuruh anak-anak diam.
Tanpa membuang waktu, di tengah kepulan asap hitam aku memakai Jubah Gaib dan menghilang, bergerak menuju kantor Brewster. Aku tidak memperhatikan keadaan kantor yang berantakan dengan kertas berhamburan di atas meja. Aku langsung menuju lemari dan mencari bubuk Bicorn dan kulit Boomslang, namun mataku menangkap sesuatu di sudut lemari. Sebuah botol besar bertuliskan 'Ramuan Polijus'
Iris' POV
Aku melihat Rose menghilang, bersamaan dengan keributan yang terjadi dalam kelas. Aku membungkuk di bawa meja menahan tawa ketika kebisingan semakin meningkat.
"Tenang anak-anak!" terdengar suara Brewster memberi perintah kepada anak-anak yang lain untuk tenang.
"Rose, kau baik-baik saja?" tanya Albus. Dia sudah ada disampingku.
Aku menatap Albus dan berusaha menahan tawa dan memasang tampang lugu.
"Ya, Albus, aku baik-baik saja," jawabku.
"Aku lihat kau menunduk kupikir terjadi sesuatu," kata Albus, mengawasiku.
Kami bertatapan sesaat. Tatapan matanya berubah lembut. Aku tahu Albus mengingat peristiwa yang terjadi Sabtu malam, karena aku juga mengingat hal itu. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiranku waktu itu, tapi aku sangat ingin dia menciumku. Ciuman kenang-kenangan untukku, sebab aku tahu kalau aku telah kembali ke tubuhku aku tidak akan bisa menyentuh tangannya, apa lagi menciumnya.
Kemarin aku berhasil menghindari Albus dan aku bersyukur karena dia juga tidak mencoba bicara denganku. Kami melewatkan hari minggu kami dengan mengerjakan PR di perpustakaan, berbicara dengan Lily dan Hugo, dan duduk di tepi danau menonton Hugo dan beberapa teman kelas limanya mengganggu cumi-cumi raksasa. Selama saat-saat itu Albus tidak mencoba bicara denganku tentang ciuman itu. Kami melewatkan hari dengan wajar sebagai dua orang sepupu yang saling menyayangi.
"Rose..." Albus mendesah perlahan.
Rose? Ya, Rose! Aku mengalihkan pandangan dan melihat Rose telah berdiri dengan tampang biasa di dekat mejanya, bersamaan dengan suara Brewster yang nyaring.
"Siapa yang melakukan ini?"
Aku berusaha menahan tawa dan berusaha tidak beradu pandang dengan Rose, karena aku akan tertawa dan akan ketahuan siapa yang melepaskan Detonator Pengalih-Perhatian.
Sekarang Brewster sedang memandang seluruh kelas dan mengangkat Detonator supaya kami semua bisa melihatnya.
"Mereka akan mendapat lebih dari detensi kalau aku tahu siapa yang melakukan ini," kata Brewster, bersamaan dengan bel panjang tanda pelajaran usai berbunyi di koridor.
Dengan desahan penuh syukur, karena tahu bahwa Brewster tidak akan mengetahui siapa yang melakukannya, aku mengatur barang-barangku dan memasukkan bukuku dalam tas.
"Miss Weasley, aku ingin bicara denganmu," kata Brewster ditengah keributan anak-anak lain yang membereskan barang-barang mereka.
Tubuhku gemetar. Apa? Apakah dia tahu aku yang melepaskan Detonator? Apa yang harus aku lakukan? Aku melirik Rose yang menggeleng dan melanjutkan membereskan barang-barangnya.
Dengan ketakutan aku melangkah ke meja Brewster.
"Silakan keluar, Mr. Potter, aku tidak ingin bicara denganmu," kata Brewster pada Albus yang berjalan di belakangku.
Aku melihat Albus mendelik pada Brewster sebelum keluar.
"Nah, Miss Weasley aku ingin bicara denganmu tentang Amortentia-mu. Benar-benar sempurna. Aku yakin kau akan bisa menyelesaikannya lebih cepat dari anak-anak lain," kata Brewster dengan senyum kebapakan yang langsung melegakan hatiku.
"Dalam beberapa hari ramuanmu bisa selesai dan menjadi ramuan contoh bagi teman-temanmu."
"Terima kasih, Profesor!" kataku, tersenyum. Aku senang karena jarang Brewster memberikan pujian pada pekerjaan siswa.
"Aku harap kau tetap memasukan sisa bahan-bahannya dengan benar hari Rabu nanti dan kita akan menunjukkannya di seluruh kelas."
Aku berterima kasih lagi dan berpamitan dengan hati gembira.
Rose telah menungguku di pintu kelas dan membawaku naik ke lantai dua, ke toilet Myrtle Merana.
"Kau baik-baik saja? Brewster tidak menghukummu kan?" tanya Rose, tergesa-gesa.
"Dia berbicara denganku karena ingin memuji ramuanku... aku senang Rose, ternyata ada orang yang menghargai hasil kerjaku."
"Tentu saja mereka menghargaimu, Iris. Kau kan ahli ramuannya," kata Rose.
Aku tersenyum.
"Tapi ide Detonatornya lumayan juga..." kata Rose.
Kami bertatapan dan mulai tertawa berkepanjangan sampai mengeluarkan airmata.
"Bagaimana tugasmu?" tanyaku pada Rose, setelah kami berhenti tertawa.
"Lebih dari berhasil," kata Rose, mengeluarkan sebuah botol besar yang bertuliskan 'Ramuan Polijus'.
"Rose! Ramuan Polijus!" kataku, mengambil botol dari tangan Rose dan memeriksa isinya. Ramuan kental yang menggelegak dalam botol, memang benar-benar Ramuan Polijus.
"Aku mengambilnya dalam lemari Brewster... Iris, ini artinya kita tidak perlu menunggu sebulan. Kita bisa kembali ke tubuh kita sekarang."
"Benar, Rose!" kataku.
Kami saling bertatapan.
Ini saatnya untuk mengakhiri semua ini, saatnya kembali dari mimpi buruk. Ataukah mimpi indah? Aku tidak tahu mana yang benar. Karena dalam mimpi buruk ini ada saat-saat indah yang aku alami. Aku memiliki sahabat, memiliki saudara laki-laki dan dua orang sepupu yang menyayangiku, orang-orang suka padaku dan ingin bicara denganku, aku juga bisa merasakan cinta dan berciuman dengan orang yang kucintai.
Aku akan kembali ke kehidupanku. Aku akan jadi Iris Zabini lagi. Aku akan kembali ke bawah tanah, Slytherin, lagi. Aku akan bisa bicara dengan Alan, Scorpius, Vincent, Emily dan Linda. Aku tahu aku akan jadi kuat. Rose telah mengajarku untuk menjaga diriku sendiri untuk kuat menghadapi segala sesuatu, karena aku penyihir dan memiliki tongkat sihir. Rose juga mengajarkanku untuk tidak menjadi seperti kaca yang mudah hancur, tapi menjadi batu karang yang berdiri teguh di tengah deburan ombak, tak akan terkikis oleh waktu. Walaupun banyak kesedihan yang akan kualami nanti, aku yakin aku bisa menjadi kuat dan mampu bertahan.
"Iris?" tanya Rose, kuatir.
"Aku baik-baik saja," jawabku tersenyum.
Rose mengayunkan tongkat sihirnya dan dua buah gelas muncul di udara. Aku mengambilnya dan menuangkan Ramuan Polijus dalam botol ke dalam masing-masing gelas. Aku merapalkan mantra pada kedua gelas itu lalu memberikan sebuah pada Rose. Kami memberikan rambut masing-masing dan ramuan itu langsung berubah menjadi jingga keemasan dan biru bening. Aku menatap ramuan itu sesaat dan meminumnya.
Aku tersentak oleh perasaan melayang. Aku tahu aku akan kembali ke tubuhku. Aku memjamkan mata sesaat menunggu.
"Iris?"
Aku membuka mata dan menatap Rose Weasley. Rambut merah dengan bintik-bintik di wajahnya yang cantik dan jubah hitam Hogwarts dengan dasi merah Gryffindor.
"Kita telah kembali, Iris!" kata Rose, lalu memelukku.
Kami berpelukan sesaat.
"Aku senang," kataku.
"Ya..." kata Rose.
"Terima kasih, Rose, untuk segalanya."
"Sama-sama Iris! Aku menikmati tidur di asrama Slytherin selama seminggu. Benar-benar minggu yang panjang. Sekarang semuanya akan kembali normal."
"Ya... aku juga menikmati tidur di menara Gryffindor dan punya sepupu yang tampan."
"Nah, sekarang kau bisa mendekati Al sebagai dirimu. Aku yakin dia akan meyukaimu," kata Rose.
"Aku tidak akan melakukannya, Rose... dia mencintai seseorang dan aku tidak bisa memaksanya."
"Aku mengerti," kata Rose, tersenyum sedih.
"Rose, kita tidak boleh menceritakan tentang ini pada siapa-siapa, ya! Biarlah ini menjadi rahasia kita berdua."
"Ya... kita berhasil menipu mereka hingga sekarang... kita berhasil tidak ketahuan. Jadi, kita tidak perlu memberitahu orang lain apa yang sudah terjadi."
Aku mengangguk setuju. Selamat tinggal semuanya! Aku bisa memulai kembali kehidupanku sebagai Iris Zabini yang baru.
Rose mengayunkan tongkat sihirnya dan menghilangkan bekas-bekas Ramuan Polijus. Aku membuka tasku dan mengembalikan Jubah Gaib pada Rose. Kami menatap keliling toilet dan menyadari bahwa kami tidak akan pernah datang di tempat ini lagi untuk bicara rahasia.
Al's POV
"AL, LILY, HUGO!" suara teriak Rose, terdengar keras mengagetkan anak-anak yang duduk di ruang rekreasi.
Rose masuk dengan ribut, berlari memeluk Lily yang berdiri paling dekat dengannya, melompat dalam pelukan Hugo dan terakhir memelukku dengan erat.
"Aku merindukan kalian semua... Aku mencintai kalian semua," kata Rose dengan wajah bahagia.
"Kami juga mencintaimu, Rose! Tapi tak perlu mengumbar cinta di depan anak-anak lain kan?" tanya Hugo, memandang Rose dengan kening berkerut.
"Aku tidak peduli," kata Rose bersemangat. Memandang anak-anak yang sedang terkikik memandangnya. "Aku sedang bahagia... aku bahagia... aku kembali... aku juga merindukan Mom dan Dad, aku harus menulis surat pada mereka."
Rose duduk, mengeluarkan perkamen kosong dari tasnya dan mulai menulis.
Lily dan Hugo bertukar pandang dengan kebingan. Aku duduk di samping Rose dan memandangnya. Aku merasakan suasana yang biasa. Suasana yang sudah biasa aku rasakan, saat di rumah atau di The Burrow. Ini dia Rose. Rose yang biasa. Agak aneh memang karena aku memandangnya dengan biasa dan tidak merasakan debaran yang kurasakan sejak seminggu belakangan ini.
Aku melihat Rose menulis dengan gerakan cepat di atas perkamen, berhenti sesaat berpikir, kemudian menulis lagi. Hugo dan Lily duduk di sampingku.
"Ada apa dengannya? Bukankah dia akan menulis surat kalau Aunt Hermione sudah mengirim surat pengingat yang memintanya menulis surat ke rumah?"
"Diam, Lil, aku sedang berusaha konsentrasi," kata Rose, berhenti menulis sesaat kemudian menunduk lagi, menulis.
"Kau menulis novel untuk Mom?" tanya Hugo, melihat surat Rose yang hampir memenuhi satu bagian perkamen.
"Diam, Hugs!" kata Rose, mendesis diperkamennya.
Aku menyuruh Lily dan Hugo diam dengan pandangan. Mereka memandangku, mengangkat bahu tak peduli.
"Bagaimana kabar Alan, Lil?" tanya Hugo, mengabaikan Rose yang menyuruhnya diam.
"Kami baik-baik saja... dia menolak ketika kuajak ke The Burrow natal nanti," kata Lily.
"Lil, kau berutang penjelasan padaku... kau tidak memberitahuku kalau kau jatuh cinta pada Alan. Lil, aku ini sepupumu!" kata Rose, melotot pada Lily sesaat dan kembali menulis.
"Kukira kau tidak akan menanyakan itu," kata Lily. "Aku akan menceritakan kisah cinta kami saat kita di The Burrow saja, tidak enak di sini."
Lily melirikku dan Hugo. Rose memandang kami lalu mengangkat bahu. Dia menarik tasnya dan mengeluarkan tongkat sihirnya yang biasa, lalu menyegel suratnya.
Aku memandang tongkat sihir itu dan melihat bahwa tongkat sihir itu adalah tongkat sihir Rose yang biasa: 25 centi, kayu Holly dan bulu ekor unicorn. Aku terpana memandang tongkat sihir itu sesaat. Bukankah tongkat itu dipakai oleh Zabini? Mengapa sekarang Rose memakai tongkat sihirnya lagi?
"Eh, Rose, tongkat sihirmu sudah tidak dijadikan ujicoba Ilmu Pertongkat-sihiran?"
Rose menatapku seolah aku sudah gila. Aku juga merasa bahwa pertanyaan itu bukan pertanyaan yang wajar.
"Apa?" tanya Rose bingung.
"Tongkat sihirmu, Rose? Bukankah dipakai Zabini?"
"Zabini? Oh... ya, Iris, ya, dia sudah pintar membuat tongkat sihir sekarang... Al, kalau kau ingin mengganti tongkat sihir kau bisa memesannya pada Iris..." kata Rose cepat.
"Zabini membuat tongkat sihir? Rose, gosipmu benar-benar tidak menarik," kata Lily.
"Kurasa otak Rose kembali hang seperti minggu lalu," kata Hugo, mengusulkan sambil terkikik.
"Jangan mengatai aku otak hang, Hugs, aku kakakmu, dan aku tidak akan segan-segan menyihirmu."
"Ok! Aku minta maaf!"
"Itu lebih baik."
Rose berdiri dan memandang Lily. "Lil, temani aku ke kandang burung hantu, yuk!"
"Malas ah, di sana kan bau... ajak Hugo saja!"
"Aku harus mengerjakan esai Mantraku," kata Hugo cepat.
"Baik... kalian memang tidak bisa membantu. Al?" Rose memandangku.
"Baiklah! Ayo!" kataku berdiri dan berjalan bersamanya ke kandang burung hantu.
Kami berjalan melewati koridor dan tangga-tangga hingga sampai di menara, tempat burung hantu. Menara terbuka yang dipenuhi burung hantu aneka warna. Selama perjalanan ke kandang burung hantu, aku tidak bicara. Aku hanya mendengar Rose menceritakan sesuatu tentang kebahagiaanya bahwa kehidupan sudah kembali normal. Dia juga mengatakan betapa rindunya dia pada kami semua. Dia rindu bertengkar dengan Hugo lagi, mendengarkan cerita Lily tentang cowok-cowok yang tertarik padanya dan mendengarkan ceritaku tentang orang yang aku cintai.
Aku bingung dibagian ini. Bukankah dia tahu siapa yang aku sukai? Aku mengamati Rose dengan cermat. Memang ini Rose. Rose kami. Rose yang bersemangat, yang ingin tahu urusan orang dan yang tidak akan membiarkan kami menyimpan rahasia selamanya. Rose yang ceria, namun kadang menyebalkan.
Dia juga tidak memanggilku 'Albus' dengan nada suara yang lembut. Dia memanggilku 'Al' dengan suara melengking nyaring. Nada suaranya yang biasanya. Bahkan caranya melangkahpun beda, bukan lagi langkah kaki yang anggun dan perlahan, seperti yang dilakukannya selama seminggu ini. Caranya melangkah kini adalah cara yang biasa, santai dan bersemangat. Seharusnya aku mengucapkan selamat padanya karena dia telah kembali menjadi Rose biasa yang bersemangat dan ceria, tapi aku tidak bisa memberinya selamat. Aku merindukan Rose-ku, yang selama seminggu ini menimbulkan segala perasaan dalam diriku. Perasaan marah dan cemburu, perasaan ingin melindungi, juga perasaan cinta yang besar. Aku merindukan debaran jantungku saat menatapnya. Aku merindukan Rose yang lain itu, Rose yang juga mencintai aku.
"Jadi Al, siapa cewek itu? Aku tidak akan membiarkanmu lolos sebelum mengetahui siapa dia?" kata Rose lagi, setelah dia melepaskan burung hantu abu-abu gagah dengan surat untuk Aunt Hermione dan Uncle Ron dikakinya.
"Rose, kau tahu siapa dia?" jawabku dengan sabar.
"Tidak, aku tidak tahu siapa dia, Al. Kau belum mengatakannya padaku," kata Rose, berkeras.
Aku memandang Rose dengan marah. Apakah dia sudah melakukan kejadian Sabtu malam? Dia sudah melupakan ciuman itu? Sedangkan aku tak bisa tidur karena memikirkannya, aku tak bisa tidur karena membayangkan apa yang dikatakan Mom dan Dad dan keluarga yang lain kalau hal ini ketahuan.
Aku sudah ingin memarahi Rose ketika sesuatu yang dikatakan Rose Sabtu malam terngiang kembali di telingaku... Aku sangat berharap kau merahasiakan ini, Albus... semuanya harus kembali seperti biasa saat keadaan kami kembali normal. Kau tidak boleh mengatakan perasaanmu pada Rose... jangan buat dia sedih karena tak bisa membalas cintamu. Rose harus bahagia karena dia adalah orang paling baik yang pernah kutemui. Ya, itulah yang dikatakan, Rose. Aku harus merahasiakan semuanya saat keadaan kembali normal. Normal dari apa? Lalu dia juga mengatakan: Rose tidak mencintaimu, Albus... dia menyukai Kenneth Davis, tapi aku... akulah yang mencintaimu. Aku menyukaimu sejak kau menolongku, menyelamatkanku dari Cazell saat kita kelas tiga. Mengapa? Mengapa kau tidak mencintai aku? Dia mengatakan dia yang mencintaiku bukan Rose. Dia yang menyukaiku sejak kelas tiga. Lalu siapa dia?
Aku memandang Rose lagi. Rose kini sedang menatapku sambil mengerutkan keningnya.
"Hei, Al!"
Keadaan normal yang dimaksudkan Rose mungkin adalah saat ini. Saat aku menatapnya dan tidak merasakan apa-apa, saat Rose menjadi Rose yang biasa. Aku... sebenarnya tidak mencintai Rose, tapi mencintai dia. Dia yang telah aku selamatkan dari Davis saat kelas tiga. Dia yang membuatku berdebar-debar. Dia yang membuatku hari-hariku indah. Dia adalah segalanya. Kalau dia bukan Rose siapa dia?
Tidak mungkin! Mana ada orang yang selama seminggu menjadi orang lain? Mana ada orang yang bisa menjadi orang lain. Tapi ini dunia sihir. Sihir ada di mana-mana. Jadi segalanya mungkin saja terjadi. Bisa saja dia minum Ramuan Polijus dalam jumlah besar dan menjadi Rose dalam seminggu? Atau dia menguasai Mantra Penyamar yang kuat? Atau dia, dia adalah Metamorphamagus, bisa berubah menjadi siapa saja dengan mudah, seperti Teddy? Lalu kembali kepertanyaan utama, siapa dia? Siapa orang yang selama seminggu menjadi Rose? Dan Rose, dimana Rose saat dia menjadi Rose?
Rose tadi mengatakan dia telah kembali. Kembali dari mana? Apakah Rose pergi ke satu tempat dan seseorang menggantikan dia? Tidak mungkin Rose mengambil orang luar Hogwarts untuk mengantikannya karena orang yang menjadi Rose itu mengatakan sejak kau menolongku, menyelamatkanku dari Cazell saat kita kelas tiga... Artinya kami berada di tahun yang sama, sekarang dia juga kelas tujuh. Kalau dia mengantikan Rose berarti dia harus meninggalkan pelajarananya, namun tak ada murid kelas tujuh yang tidak hadir, kecuali Cazell dan teman-temannya yang diskors. Masa sih orang yang menjadi Rose itu Cazell? Tidak! Aku yakin dia seorang gadis.
"Hello, Al? Kau masih bersamaku?"
"Rose, aku sedang memikirkanmu yang telah kembali... aku senang kau telah kembali?" kataku. Aku ingin membuat Rose lengah dan memancingnya bicara. Kalau ini Rose yang asli, dia tidak akan mengindahkanku bila aku bicara dengan cara normal. Sekarang Rose sedang bahagia pasti dia lengah.
"Al, kau mengerti? Aku senang... aku memang telah kembali dari kehidupan yang mengerikan selama seminggu... aku... err..."
"Apa?"
"Tidak..." kata Rose, menatapku terpana. Rupanya dia sudah menyadari aku menjebaknya.
"Apanya yang tidak, Rose? Dari mana kau selama seminggu ini?"
"Hah? Aku tidak ke mana-mana, Al... aku ada disini... oh ya, aku baru saja kembali dari... dari Hutan Terlarang... ya, sehabis kelas Ramuan tadi, aku mengunjungi Hutan Terlarang untuk mencari Knarl, mereka binatang yang ada di kayu yang dijadikan tongkat sihir kan? Aku membantu Iris untuk mencari kayu itu karena dia ingin membuat tongkat sihir."
"Iris Zabini... tongkat sihir..." kataku, berpikir.
Tongkat sihir Rose ada pada Iris selama seminggu kemarin, sedangkan tongkat sihir Iris ada pada Rose. Seperti yang dikatakan Ollivander, tongkat sihir memilih penyihir. Jadi, selama seminggu kemarin yang memegang tongkat sihir Rose adalah Rose sendiri dan yang memegang tongkat Iris adalah Iris. Minggu kemarin itu, Rose adalah Iris dan Iris adalah Rose. Sejak Senin, di kelas Ramuan. Ramuan Polijus... minggu kemarin kami mengujicoba Ramuan Polijus. Ini artinya Ramuan Polijus ini memang berfungsi. Dan mereka berganti menjadi orang lain dalam seminggu.
Mengapa? Mengapa Rose dan Zabini melakukan ini? Mereka ingin mempermainkan semua orang? Mungkin mereka menganggap lucu mempermainkan semua orang, tapi ini benar-benar keterlaluan. Sekarang aku mengerti semuanya, Iris yang mengetahui segala hal tentang keluarga dan memanggil Uncle Ron, 'Dad', lalu mengucapkan omong kosong tentang dia yang ingin mempelajari tentang Ilmu Pertongkat-Sihiran, serta membuat tongkat sihir, adalah Rose. Itu memang gaya Rose, mencari sembarang alasan untuk menyembunyikan sesuatu.
Aku menatap Rose dengan tajam dan merasa tertipu. Rose benar-benar tega mempermainkan Lily, Hugo dan Aku, juga Zabini dan Malfoy, yang kelihatannya menyukai Iris Zabini. Mungkin mereka berdua tertawa di belakang kami, bahagia berhasil menipu semua orang.
"Al?"
"Iris Zabini, Rose? Bagus sekali!" kataku.
"Apa yang kau bicarakan, Al?"
"Sudahlah, Rose... kau menjadi Iris Zabini seminggu kemarin kan? Dan kalian pasti bahagia karena berhasil menipu semua orang."
"Al, dengar! Kau salah..."
"Apa yang salah, Rose? Aku mengerti semuanya... aku tahu segalanya. Tongkat sihir itu, Rose! Tongkat sihir tidak akan menipu. Kau menjadi Iris Zabini dan memakai tongkat sihirmu dan Iris Zabini menjadi dirimu dan memakai tongkat sihirnya sendiri... Aku tahu, Rose!"
"Al, biarkan aku bicara..."
"Diam! Aku sangat kecewa padamu, Rose... Hugo, Lily dan aku adalah keluargamu. Kau benar-benar tega mempermainkan kami... ini lelucon paling tidak lucu yang pernah kau lakukan..."
"Albus Potter, Kau harus mendengarkan aku dulu!"
"Tidak, Rose, aku tidak ingin mendengar apapun yang kau katakan..." kataku, berjalan keluar dan membanting pintu kandang burung hantu.
Aku sangat berharap Rose tidak mengikuti aku. Aku ingin sendiri saat ini. Aku benar-benar tidak bisa menerima tipuan ini. Aku merasakan sakit didadaku. Airmataku mengancam akan jatuh. Aku mengerjapkan mata. Aku tidak menduga semuanya jadi begini. Aku susah karena memikirkan diriku yang jatuh cinta pada sepupuku, namun ternyata aku tahu dia bukan sepupuku. Aku harus bagaimana? Apakah aku harus bahagia? Tidak, aku tidak bahagia. Aku merasa segala perasaan telah musnah dalam diriku. Perasaanku telah dihancurkan. Zabini pasti sedang menertawakan aku, senang karena berhasil telah menipu aku.
Aku memang telah jatuh cinta, tapi bukan pada Rose. Aku jatuh cinta pada Iris Zabini. Cewek aneh yang selalu dipermainkan orang, cewek yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Aku jatuh cinta dengan hatiku, karena itu hatiku sakit dan terluka karena aku tahu dia dan Rose menipu aku. Dia mengatakan bahwa dia juga mencintai aku. Bisakah aku mempercayainya? Atakah itu tipuan lain untuk mempermalukan aku?
Aku menuju ke ruang rekreasi, mengabaikan Lily dan Hugo yang memberi isyarat padaku untuk bergabung dengan mereka dan langsung menuju kamar anak-anak laki-laki.
Scorpius POV
"Iris?" aku berkata perlahan, memandang Iris yang sedang mengamati piringnya dengan penuh perhatian.
Saat ini kami sedang makan siang di Aula Besar. Iris sama sekali tidak makan. Dia hanya menatap piringnya dan merenung.
"Iris?" tanyaku lagi, mengamatinya dengan prihatin.
Dia mengangkat wajahnya dan memandangku.
"Iris, kau keliatan pucat... apakah kau sakit?"
"Aku tidak apa-apa, Scorpius... terima kasih!" jawab Iris, memandang piringnya lagi.
Sejak beberapa jam yang lalu, Iris telah kembali memanggilku 'Scorpius'. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya, tapi aku merasakan suasana berbeda. Seperti Iris telah kembali menjadi dirinya sendiri. Tidak ada lagi binar keras kepala dimatanya, tidak ada lagi suara melengking yang mirip Banshee. Iris telah kembali kedirinya yang asli. Aku tidak tahu harus bahagia atau bersedih. Tetapi, aku telah berjanji untuk melindunginya dan aku juga mencintainya, dan akan tetap mencintainya meski apapun yang terjadi nanti.
"Iris?" kataku lagi, aku ingin dia bicara dan menceritakan apa yang dirasakannya supaya aku bisa membantunya.
"Scorps, sudahlah! Dia tak ingin bicara jangan memaksanya!" kata Alan.
"Aku tahu, tapi dia kelihatan sedih dan tertekan... pasti ada sesuatu yang membuatnya begitu. Tidakkah kau perhatikan dia telah kembali menjadi Iris yang biasa," kataku.
"Ya, benar, aku juga merasa begitu... mungkin Banshee Weasley tidak berteman dengannya lagi..." kata Alan, memandang meja Gryffindor.
Aku mengikuti pandangannya dan melihat Weasley duduk bersama Lily Potter, Albus Potter dan Hugo Weasley. Weasley kelihatan sedih. Di sebelah Weasley, Albus Potter kelihatan sama suramnya dengan Weasley. Sebaliknya, Lily dan Hugo kelihatan ceria. Hah, ada apa dengan semua orang?
Iris berdiri dan berjalan ke luar Aula Besar.
"Alan, aku duluan, ya, aku harus menghibur Iris... sampai jumpa di Pertahan Terhadap Ilmu Hitam!"
Aku berlari mengejar Iris ke arah danau. Iris berdiri di tepi danau, memandang kosong ke depan.
"Iris!"
"Scorpius, ku mohon bisa kau meninggalkan aku... aku ingin sendiri," kata Iris.
"Dengar! Kau harus menceritakan padaku apa yang terjadi denganmu supaya aku bisa membantumu... ingat aku sudah berjanji untuk melindungi dan mencintaimu apapun yang terjadi."
"Kau bukan berjanji padaku, Scorpius, kau berjanji pada orang lain."
"Apa?"
"Malfoy dan Zabini!" seru suara dibelakang kami.
Kami berbalik dan memandang kepala hitam dan mata hijau tajam, Albus Potter.
"Apa yang kau inginkan, Potter?" tanyaku tidak senang. Iris menyukai Albus Potter. Pasti masalah Iris ada hubungannya dengan Potter.
"Tidak... aku hanya ingin memuji Zabini! Benar-benar kerja yang bagus, Zabini!" kata Potter sinis, memandang Iris dengan menghina.
"Apa maksudmu?" tanya Iris.
"Menyingkir dari hadapan kami Potter. Kami tidak menginginkan kehadiranmu disini."
"Oh, aku tahu... aku memang mengganggu sepasang kekasih yang ingin berduaan."
"Tidak! kami bukan..." Iris membantah.
"Benar, Potter. Kalau kau sudah tahu cepat menyingkir!" kataku cepat, mendelik pada Potter.
"Apa yang sudah kau ceritakan padanya, Zabini?" tanya Potter, memandang Iris. "Tentang Potter yang bodoh dan mudah ditipu?"
Iris menatap Potter dengan mata berkaca-kaca.
"Potter yang bersikap seperti idiot karena sedang jatuh cinta? Begitu, Zabini?"
"Kau tahu semuanya?" tanya Iris, kini airmata telah berjatuhan dipipinya.
"Ya, aku tahu," jawab Potter.
Mereka saling bertatapan.
"Potter, kau yang membuat Iris menderita, ya?" tanyaku, marah.
"Malfoy, kau memang orang bodoh yang tidak punya otak, ya? Yang tidak menyadari sesuatu yang aneh telah terjadi didepan hidungmu," kata Potter.
"Apa katamu? Kau memgatai aku bodoh?"
"Benar, Malfoy! Idiot yang mudah ditipu!"
"BRENGSEK!" aku berseru sambil mengayunkan tinjuku. Tidak terpikir untuk mencabut tongkat sihir.
Potter berkelit dengan gesit dan tinjuku kena pada seseorang yang tiba-tiba muncul dibelakang Potter. Aku melihat rambut merah dan mata biru sesaat sebelum bunyi keras pukulan dan bunyi debam keras benda jatuh.
"Rose!" jerit Iris dan Potter bersamaan.
Aku memandang Weasley terbaring di tanah dengan pipi yang perlahan-lahan mulai berwarna biru dan bibir yang pecah berdarah.
Suatu perasaan dejavu memenuhiku. Ini pernah terjadi sebelumnya. Aku meninju seseorang. Cewek... ya, Iris aku meninju Iris. Ada satu perasaan bersalah yang sama menimpaku, sesuatu yang pernah kurasakan malam itu. Perasaan menyesal dan iba... dan aku merasa bahwa aku juga sakit, aku ingin menghukum diriku sendiri karena ini. Tapi ini bukan salahku. Ini salah Weasley sendiri yang muncul di saat-saat yang aneh.
"Kau baik-baik saja, Rose?" tanya Iris.
Weasley mengerjapkan mata memandangku. Kemudian menggelengkan kepalanya.
"Malfoy, kurang ajar!" kata Potter mencabut tongkat sihirnya.
Potter sudah akan menyihirku ketika sebuah tameng tak kelihatan muncul di antara kami. Mantra Pelindung yang hebat telah mencegah Potter memantraiku.
Potter dan aku memandang Weasley yang sedang mengacungkan tongkat sihirnya. Dia menggelengkan kepalanya pada Potter. Sambil membersihkan darah dibibirnya dengan tangan, dia mendelik padaku. Dia mengerakkan bibirnya mencoba berbicara, tapi tak ada kata-kata yang keluar hanya bunyi seperti dengkuran yang terdengar.
"Dia mengatakan kau brengsek, Scorpius," kata Iris, menerjemahkan.
Aku memandang Weasley yang mengangguk. Rupanya dia tidak bisa bicara karena bibirnya luka.
"Ini bukan salahku, Weasley... kau yang tiba-tiba muncul dibelakang Potter," kataku membela diri.
Weasley mendelik lagi, kemudian memberi isyarat tangan yang tidak kumengerti. Aku melirik Iris.
"Kau memang suka memukul cewek?" tanya Iris, bingung. Memandang Rose dan aku.
Aku menggeleng. Tidak mungkin Weasley tahu aku pernah memukul Iris kan? Atau Iris sudah memberitahu Weasley. Tapi mengapa Iris bingung mendengar kalimat itu?
Weasley menatap Potter dan menggerakkan tangannya lagi. Potter dan aku memandang Iris.
"Eh... dia ingin kau memaafkannya, Albus!" kata Iris.
Potter memandang Weasley dengan dingin dan tajam.
"Rose, kelakuanmu kali ini tidak akan bisa dimaafkan," kata Potter, lalu memandang Iris sesaat dan pergi menuju ke arah kastil.
Weasley memandangnya dengan wajah sedih. Mata Iris berkaca-kaca lagi. Aku memandang mereka semua dengan bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan mereka semua? Apakah aku cuma satu-satunya orang yang tidak mengetahui suatu rahasia besar? Atau rahasia ini memang tidak pantas untuk kuketahui.
Weasley mendelik padaku dan memberi isyarat mengusir. Aku tak bergeming.
"Pergilah, Scorpius!" kata Iris.
Aku memandang Iris, kemudian Weasley. Apakah aku sedang berhadapan dengan urusan cewek-cewek yang seharusnya tidak boleh kuketahui?
"Iris, kalau terjadi apa-apa katakan padaku... aku akan melindungimu," kataku pada Iris sebelum pergi meninggalkan mereka.
Rose's POV
Aku merasakan nyeri tak tertahankan di pipi dan bibirku. Scorpius Malfoy itu telah meninjuku lagi. Benar-benar keterlaluan! Brengsek! Muka pucat jelek! Vampir! Dan inilah aku seperti orang gila memberi isyarat aneh pada mereka. Syukurlah Iris dapat mengerti isyaratku.
Yang menyedihkan aku adalah Al. Al memang seperti itu. Dia tidak suka dan akan membenci kalau ada orang yang menipunya. Ini bukan salahku. Ini diluar kemauanku, ini terjadi begitu saja. Itulah yang Al tidak mau mengerti dan tidak mau memberikan kesempatan padaku untuk menjelaskan. Kalau Al terus bertindak seperti itu, tidak ingin mendengarkan aku. Yang harus aku lakukan adalah memantrainya dengan Petrificus Totalus dan menjelaskan semuanya sementara Al terbaring kaku. Ide itu sudah ada padaku saat Al meninggalkanku di kandang burung hantu.
Kasihan Al, dia benar-benar merasa terpukul. Aku bersyukur karena dia tidak memberitahu Lily dan Hugo, aku tidak mampu menghadapi kebencian dari Lily dan Hugo juga. Tetapi, aku yakin Lily dan Hugo akan mau mendengarkan penjelasanku meskipun dengan menggerutu.
Aku memandang Al berjalan ke arah kastil dengan perasaan sedih dan bersalah. Aku harus bicara dengan Iris, mungkin Al mau mendengarkan Iris, karena menurut aku, meskipun masih samar-samar, Al menyukai Iris.
Malfoy yang entah kenapa merasa wajib melindungi Iris, menolak pergi meninggalkan Iris dan aku. Dia takut aku akan menyakiti Iris. Hello? Lihat siapa yang sudah ditinju, berwajah mirip setengah panda dan tidak bisa bicara sekarang! Aku kan? Tidak mungkin aku akan menyakiti Iris dengan keadaan pusing dan lemah seperti ini.
Malfoy mendelik padaku lalu pergi meninggalkan kami.
"Kau baik-baik saja?"
Aku mengambil perkamen dan menulis: Ya, cuma sedikit pusing dan tidak bisa bicara, tapi aku yakin Ramuan Luka Dalam Madam Darnsley bisa menyembuhkanku dalam beberapa menit... apa yang Al katakan padamu?
"Dia bilang aku penipu," jawab Iris, memandang danau dengan sedih.
Dia juga mengatakan aku penipu dan tidak mau memaafkan aku.
"Bagaimana dia bisa tahu?" tanya Iris.
Ya, ini sebenarnya salahku... ini ada hubungannya dengan tongkat sihir. Aku memakai tongkat sihirku sendiri saat menjadi dirimu.
"Oh... Rose, ini bukan salahmu. Semua pasti suatu saat nanti akan ketahuan... aku sudah merasakannya."
Lakukan sesuatu Iris... kukira hanya kau yang bisa membujuk Al. Bicaralah dengannya!
Iris memandangku dengan ketakutan. "Dia membenciku, Rose... dia tidak akan mau bicara denganku."
Tapi kau harus mencobanya! Kau menyukainya kan? Katakan padanya dan buat dia mengerti. Aku yakin dia juga menyukaimu.
"Dia tidak menyukai aku, Rose... dia menyukai seorang."
Siapa?
"Aku tidak bisa mengatakannya padamu... kau bisa bertanya sendiri pada Albus."
DIA TIDAK MAU BICARA DENGANKU! Aku yakin pasti ada suatu antara kalian berdua. Ceritakan padaku, Iris
"Tidak ada yang terjadi... aku yakin dia lebih mendengarkanmu dari pada aku."
Ayolah, Iris! Kau harus mencobanya... kumohon!
"Tidak bisa sekarang, Rose! Aku ingin menyendiri dulu... aku ingin berpikir untuk mengambil tindakan-tindakan dalam kehidupanku... aku ingin mengatur kehidupanku dulu... aku sendiri tidak tahu apa yang akan lakukan setelah meninggalkan Hogwarts."
Aku menatap Iris dan merasa kasihan. Iris yang selalu hidup dalam kesepian dan kesendirian, tidak punya teman untuk berbagi suka dan duka. Tidak punya teman untuk mendiskusikan apa yang sedang dialaminya.
Aku memegang tangannya, mengamatinya sesaat kemudian menulis: Kau bisa mencerita apapun padaku, Iris... kita akan berteman selamanya.
"Terima kasih, Rose!" Iris tersenyum.
Lalu kau ingin jadi apa setelah meninggalkan Hogwarts? Bukan jadi pembuat tongkat sihirkan?
Iris terkikik. "Mungkin, Rose... kau harus mencoba tongkat pertamaku."
Aku ikut mengikik.
"Ayolah aku akan mengantarmu ke Madam Pomfrey," kata Iris, memengang tanganku dan membawaku ke kastil.
"Rose! Rose!" seru sebuah suara ketika kami tiba di Aula Depan.
Kami menoleh dan melihat Ken sedang berjalan cepat ke arah kami.
"Oh... Hai Ken..." sapa Iris.
"Hai, Iris! Apa yang terjadi denganmu, Rose?" tanya Ken mengawasiku dengan cermat.
Aku menatapnya dan mengagumi wajahnnya yang tampan. Dia memang benar-benar tampan, tapi aku tidak merasakan jatuh cinta seperti yang dirasakan Lily pada Alan. Perasaan berdebar-debar saat menatap wajahnya, perasaan ingin selalu berada di dekatnya, begitu kata Lily. Aku tidak merasakan itu. Aku harus bertanya pada Lily bagaimana cara membuat kita jatuh cinta. Aku harus jatuh cinta pada Ken karena dia adalah laki-laki yang baik dan rasanya cocok untukku.
"Oh, Rose tidak apa-apa, Ken, Scorpius baru saja..."
JANGAN! Jangan ceritakan padanya! Aku memberi Iris pandangan melarang. Iris melirikku dan mengangguk mengerti.
"Maaf, Ken! Aku harus membawa Rose ke rumah sakit," kata Iris.
"Biar aku yang membawanya, Iris... katakan apa yang terjadi dengannya? Dia kelihatannya tidak bisa bicara."
"Ya... dia baru saja... eh... eh..."
Menabrak pintu, Iris! Aku mencoba memberi isyarat pada Iris. Apakah Iris tidak bisa berbohong?
"Eh, ya, Rose tidak bisa bicara karena bibirnya luka... dia menabrak pintu..."
"Oh, aku akan membawanya ke Madam Darnsley."
Aku menggeleng cepat. Aku tidak mau diantar oleh Ken ke rumah sakit. Saat ini aku hanya ingin Iris menemaniku.
"Tidak usah, Ken... biar aku yang mengantar Rose... kelihatan kau sedang sibuk sekarang."
"Benar! Aku harus mengumpulkan teman-temanku untuk memberitahu mereka soal latihan Quidditch, tapi aku bisa mengantar Rose ke rumah sakit."
"Tidak apa-apa, Ken... kurasa Quidditch lebih penting... pergilah!" kata Iris, kemudian menatapku. Aku mengangguk.
Ken akhirnya setuju dan berjalan meninggalkan kami.
"Ken benar-benar sangat perhatian padamu, Rose," kata Iris.
Aku menggeleng dan memberi isyarat pada Iris untuk terus berjalan ke rumah sakit. Pipi dan bibirku terasa nyeri. Malfoy Brengsek!
Review, please!
Lima Tahun: Lily dan Alan ch. 2 menyusul :D
Riwa Rambu
