ROSE WEASLEY AND IRIS ZABINI

Thanks semua yang sudah membaca fanfic ini... Rama Diggory Malfoy, Aleysa GDH, Reverie Metherlence, Meemei, Nicolle Angevines: thanks reviewnya... zean's malfoy: Mr.n Mrs. Zabini ada di ch ini :D

Disclaimer: JK Rowling

Iris' POV

Taman bunga Zabini Mansion adalah taman bunga indah yang dipenuhi beraneka jenis bunga. Taman ini memang benar-benar indah pada musim semi, tapi saat ini taman ini sama sekali tidak indah. Bahkan jelek, karena hanya ada warna putih di mana-mana. Bahkan kolam ikan kecil di tengah taman telah membeku. Aku memandang pemandangan putih ini dengan jengkel. Aku benci salju. Salju membuatku terkurung di Mansion dan tidak bisa keluar untuk sekedar melepaskan kaki atau berjalan-jalan di taman.

Aku sebenarnya ingin tinggal di Hogwarts selama liburan natal. Aku tidak ingin pulang ke rumah. Tidak ada satu pun yang menarik di Mansion. Kalau aku tinggal di Hogwarts aku bisa menghabiskan waktuku di perpustakaan, tapi di sini... apa yang bisa kulakukan. Alan sudah pergi ke Malfoy Manor sejak hari kedua liburan. Mother pergi ke Prancis Selatan sejak awal bulan Desember, begitulah kata Father, sedangkan Father menghabiskan waktunya di kantor dan hanya sesekali kembali ke Mansion untuk mandi dan berganti pakaian.

Aku menarik sebuah buku dari lemari kamarku, dan mulai membaca. Ini ketiga kalinya aku membaca Perjalanan Penyihir Buta ke Dunia Muggle. Buku yang dipinjamkan Rose padaku sebelum liburan natal. Buku ini sama sekali tidak menarik, tapi aku tidak punya hal lain yang bisa kulakukan selain membaca.

Sebelum ber-apperate ke Mansion dari Stasiun King's Cross, aku sangat berharap Rose mengundangku untuk berlibur ke rumahnya, tapi Rose terlalu sibuk memberi salam dan menerima ciuman dari keluarganya sehingga tidak mempedulikan aku. Aku memandang keluarga Weasley/Potter dengan iri. Perasaan irilah yang membuatku ingin jadi Rose waktu itu, aku sangat ingin punya keluarga yang bisa menyayangiku dan memperhatikanku seperti keluarga Weasley/Potter saling menyayangi satu sama lain. Orangtuaku bahkan tidak menjemput Alan dan aku di Stasiun King's Cross, kami dibiarkan ber-apperate sendiri ke Mansion.

Hari-hari sebelum liburan natal, aku berhasil menghindari Albus. Albus juga tidak ingin bicara denganku. Syukurlah, saat ini aku tidak ingin mengalami roman. Aku sudah menyerah dengan kisah cintaku, aku tahu aku tidak akan mendapatkan apa yang kuinginkan. Roman hanya membuatku terluka dan bersedih, aku sudah memutuskan untuk meninggalkan kehidupanku dan pergi jauh memulai kehidupan baru.

Menjadi seorang Pemunah Kutukan untuk Gringgots adalah ide yang baik. Aku bisa pergi jauh meninggalkan Inggris dan melupakan segalanya. Kehidupan baru di Australia atau di Selandia Baru adalah ide bagus. Di sana aku bisa membeli sebuah rumah atau apertemen kecil lalu aku bisa memulai hidup baruku. Kelihatannya suram, tapi aku harus berani mengambil langkah bagi kehidupanku sendiri.

"BLAISE, APA YANG KAU LAKUKAN? LEPASKAN AKU!" aku terkejut mendengar teriakan Mother di lantai bawah.

Apa yang terjadi? Bukankah Mother masih di Prancis Selatan? Aku melemparkan Perjalanan Penyihir Buta ke Dunia Muggle dan berlari ke lantai bawah.

"Miss Iris, tidak boleh turun... Tuan dan Nyonya sedang bicara... Miss Iris hanya akan mengganggu," kata Trincer, saat aku hendak menuruni tangga.

"Aku harus tahu apa yang mereka bicarakan, Trincer..." kataku berjalan perlahan menuruni tangga.

Mother sedang berusaha melepaskan diri dari pegangan Father. Father telah mencengkram tangannya dan sekarang mereka sedang berpandangan dengan marah.

"Apa yang kau lakukan di Prancis Selatan, Parvati?" tanya Father dengan marah.

"Mencari rumah, Blaise... apakah kau lupa bahwa kita sudah akan bercerai?" tanya Mother, menarik tangannya lepas dari tangan Father, namun tidak berhasil.

"Kupikir kita sudah mendiskusikan pilihan kita... kupikir kita sudah mencoba untuk melupakan persoalan ini dan memulai kehidupan baru kita."

"Kita tidak berdiskusi apa-apa, Blaise... kau yang melupakan segalanya, kau yang hendak memulai kehidupan barumu sendiri."

"Tidak berdiskusi? Bukankah kita sudah bicara sebelum kau berangkat ke Prancis Selatan sialan itu?"

"Kau yang bicara, Blaise, bukan aku... kau tidak memberikan kesempatan aku untuk bicara. Kau meninggalkanku untuk menyelesaikan perkerjaan brengsekmu yang entah kapan selesai."

"Pekerjaan Brengsek? Dengar! Aku bekerja itu untuk kita," kata Father memandang tajam Mother. "Kau pikir aku tidak tahu apa alasanmu untuk menceraikan aku?"

"Apa? Katakan! Aku ingin dengar kisah karangan apa yang kau ciptakan untuk membela diri?"

"Kau mau meninggalkan aku karena aku hampir bangkrut kan? Karena perusahaanku tidak mampu bertahan dalam satu tahun ini, bukan? Aku tahu kau mau menikah denganku karena lemari besi Gringgots yang aku miliki."

"Apa? Aku tak tahu kalau kau sedang mengalami masalah dengan perusahan," kata Mother kaget.

"Oh, jangan berpura-pura tidak tahu, Parvati... aku yakin kau tahu, karena itu kau ingin bercerai dariku. Supaya kau bisa mencari suami baru yang lebih kaya di Prancis Selatan," kata Father tajam.

"Aku tidak seperti itu... LEPASKAN AKU!" Mother berusaha melepaskan diri lagi, tapi tidak berhasil.

"Tapi aku tidak akan menceraikanmu, Pravati... kita sudah bicara sebelum kau berangkat ke Prancis Selatan... kita akan memulai kehidupan baru kita. Meskipun perusahaan itu akhirnya bangkrut, tapi aku tidak akan melepaskanmu dan anak-anak kita... kalianlah yang membuat aku tetap waras selama ini... dan aku tidak akan membiarkanmu pergi membawa satu dari anak-anakku."

Mother tidak bicara, menatap Father lalu mengalihkan pandangan memandang halaman yang tertutup salju.

"Aku akan berusaha bekerja untuk menyenangkanmu... kau hanya perlu ada di sampingku saja... tidak perlu ke mana-mana. Tetaplah seperti biasa. Bagiku tidak apa-apa kalau kita jarang bicara, asalkan kau ada di sampingku."

"Kau tidak pernah tahu apa yang kupikirkan, Blaise?"

"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Pravati! Kau ingin kehidupan yang menyenangkan... Prancis Selatan memang tempat yang menyenangkan... kalau kau ingin kita pindah ke sana, kita akan pindah."

"Kau memang tidak tahu apa-apa tentang aku... sudah berapa tahun kita menikah? Hampir 20 tahun. Tetapi kita tidak tahu apa yang dipikirkan pasangan kita... kau tidak tahu apa yang aku pikirkan... apa yang aku inginkan."

"Parvati, aku tidak peduli apa yang kau inginkan atau apa yang kau pikirkan... yang aku pedulikan adalah kau ada disampingku dan tidak pergi meninggalkanku."

"KAU MEMANG BENAR-BENAR BRENGSEK, BLAISE! LEPASKAN AKU!" Mother menjerit marah dan berusaha melepaskan diri.

"Tidak, Istriku! Kali ini aku akan menguncimu di kamar dan tidak akan membiarkanmu pergi," kata Father mencabut tongkat sihir Mother dari saku jubahnya dan melemparkan tongkat sihir itu ke sofa yang jauh.

"KEMBALIKAN TONGKAT SIHIRKU, BRENGSEK!"

Mother sekarang berkutat melepaskan diri, tapi Father lebih kuat dan telah mencengkram kedua tangan Mother dengan kuat.

Mother mendelik padanya dan Father tersenyum.

"Kau tahu mengapa aku ingin menikah denganmu dua puluh tahun yang lalu, Blaise?" tanya Mother.

"Karena orangtuamu menginginkannya dan karena aku kaya... kau menginginkan kekayaanku kan?"

Mother menggeleng. "Kau tahu mengapa aku tidak ingin mengandung anakmu?"

"Apa? Jadi kau tidak ingin memiliki anakku?"

"Karena aku tidak ingin anak-anak itu memiliki orangtua seperti kita," kata Mother, airmatanya jatuh. Aku menghapus airmataku sendiri.

"Apa? Mengapa?"

"Aku tidak ingin anak-anak lahir di keluarga yang tidak saling mencintai... keluarga yang hanya mementingkan Galleon di atas segalanya, keluarga yang hanya mementingkan kenyamanan diri sendiri."

"Itu kau, Pravati! Kau melihat dirimu sendiri sekarang... kau tidak mencintaiku dan hanya melihat diriku sebagai sumber Galleon."

"BRENGSEK, BLAISE! Kau pikir apa yang kulakukan selama ini... aku berusaha membuatmu mencintai aku. Lihat aku! Apa yang aku lakukan pada diriku sendiri... aku berusaha cantik untukmu. Rambutku, aku mengubah warna rambutku karena kupikir kau menyukai perempuan pirang... aku berusaha menjadi istri yang baik untukmu, menyediakan makananmu, merawat anak-anak dengan baik, duduk di sampingmu... tapi kau... apa yang kau lakukan? kau tidak pernah bicara padaku... kau tidak pernah bertanya bagaimana hari-hariku... apa yang aku pikirkan? Apakah anak-anak baik-baik saja? Apakah aku senang dengan bunga yang kau kirimkan atau tidak? kau tidak tahu apa-apa tentang aku... karena itulah aku ingin bercerai darimu, aku lelah... aku capek hanya menjadi pajangan di rumahmu... aku lelah dengan hanya duduk di sampingmu."

Father menatap Mother, kemudian mencium Mother dengan penuh perasaan.

"Aku mencintaimu... aku selalu mencintaimu. Bahkan sejak pertama melihatmu di Hogwarts Express, tapi aku tidak bisa mendekatimu karena kau Gryffindor. Aku marah melihatmu berdansa dengan Potter, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa, karena aku akan menjadi bahan hinaan oleh teman-teman Slytherinku kalau berani mengatakan bahwa aku menyukaimu... setelah perang Hogwarts, aku meminta orangtuaku untuk mendekati orangtuamu, aku sangat bahagia ketika kau mau menikah denganku... dan aku merasa semuanya sempurna saat Alan dan Iris lahir... lalu kau ingin bercerai dariku... aku tidak bisa... aku tidak akan bisa hidup tanpamu."

Mother memeluk Father dengan erat. "Aku tidak akan kemana-mana, aku akan tetap di sampingmu apapun yang terjadi. Aku tidak akan meninggalkanmu walaupun kita harus hidup dengan sedikit Galleon, tidak apa-apa karena aku menginginkanmu. Ceritakan semua yang kau rasakan atau yang kau pikirkan padaku... aku tidak akan meninggalkanmu seburuk apapun itu."

Aku memandang Mother dan Father yang saling berpelukan dengan airmata yang mengalir deras di pipiku. Aku bahagia untuk Mother dan Father. Setelah duapuluh tahun mereka saling mengetahui bahwa mereka saling mencintai. Itulah yang terjadi kalau kau tidak mengatakan perasaanmu pada pasanganmu, kau akan menderita dan terluka padahal seharusnya kau bahagia.

Aku menaiki tangga lagi dan menuju kamarku.

"Trincer senang Miss Iris sudah tidak mencuri dengar percakapan Tuan dan Nyonya," kata Trincer yang sedang mengatur tempat tidurku.

Aku mengamati Trincer dengan lebih seksama. Trincer adalah Peri Rumah yang sudah mengikuti keluarga Zabini bahkan sebelum Alan dan aku lahir.

"Kau tahu tentang semua ini kan, Trincer?" tanyaku.

"Trincer tidak mengerti apa yang Miss Iris katakan," kata Trincer menyimpan Perjalanan Penyihir Buta ke Dunia Muggle dengan rapi di dalam rak buku.

"Tentang Father dan Mother, Trincer! Kau tahu mereka saling mencintai."

"Tentu saja Trincer tahu, Miss Iris... Trincer sudah lama tinggal di sini."

"Mengapa kau tidak memberitahu mereka?"

"Tidak ada yang meminta pendapat Trincer, Miss Iris... Trincer akan memberitahu sesuatu kalau ada yang bertanya, asalkan itu bukan rahasia keluarga Zabini... Trincer akan menyimpan rahasia tuan dan nyonya kalau memang hal itu ingin dirahasiakan."

Aku mendengus. Aku kadang-kadang jengkel dengan sikap Trincer yang kesopanannya dan keteraturannya berlebihan.

"Keluarlah, Trincer!"

"Miss Iris yang harus keluar... Trincer harus membereskan kamar anda. Trincer takut Nyonya akan mengecek ke mari dan melihat kamar ini masih berantakan."

"Baik... aku keluar!"

Aku berjalan menuruni tangga, menghindari Mother dan Father yang sedang berciuman di ruang tamu, menuju halaman belakang. Aku berjalan perlahan di atas salju melewati pagar depan. Memandang pohon-pohon yang tertutup salju aku berpikir bahwa kalau kita mencintai seseorang kita harus mengatakannya. Kita tidak boleh memendam perasaan kita dan menderita karena kita tidak mampu mengatakan cinta. Cinta memang harus dikatakan, jangan cuma ditunjukkan saja.

Aku teringat pada Scorpius yang beberapa sebelum liburan ini, terus mengatakan bahwa dia mencintai aku. Aku tidak yakin bahwa dia mencintaiku. Aku merasa ada yang salah pada setiap kata yang dia ucapkan. Kata-kata itu sepertinya ditujukan pada cewek lain yang ada dibelakangku. Lalu bagaimana dengan kisah cintaku? Apakah aku harus mengatakan lagi pada Albus bahwa aku mencintanya? Ya, harusnya memang seperti itu. Aku harus mengatakan bahwa aku menyukainya sekarang saat aku sudah kembali ke tubuhku.

Aku memandang pepohonan, aku membayangkan Albus sedang berdiri di pepohonan itu, memandangku. Kami saling bertatapan. Aku mengerjapkan mata. Dia masih berdiri di sana menatapku. Apakah ini nyata atau hanya sekedar bayanganku saja?


Al's POV

Aku baru saja ber-disapperate di pepohonan di belakang Zabini Mansion. Pandanganku jatuh pada Zabini yang sedang memandang salju dan memikirkan sesuatu. Keningnya berkerut dan matanya berfokus ke satu arah. Apa yang sedang dipikirkan Zabini?

Dia benar-benar cantik berdiri di sana berlatar belakangkan salju yang putih. Apakah aku pernah mengatakan dia adalah cewek tercantik yang pernah aku temui? Sepertinya belum. Sekarang aku mengakuinya bahwa selama ini dia memang cantik. Aku saja yang begitu buta tidak memperhatikan kehadirannya di Hogwarts. Aku bahkan tidak ingat pernah menolongnya dari Cazell dan teman-temannya waktu kelas tiga.

Dia memutar matanya memandangku. Menatapku sesaat, kemudian mengerjapkan mata. Mungkin dia tidak mengharapkan kehadiranku di sana. Aku berjalan mendekatinya dan dia mundur. Apakah aku begitu menakutkan sehingga melihatku membuatnya mundur ketakutan. Baiklah, Iris, ya aku harus memanggilnya Iris. Karena sehancur apapun perasaanku, aku tetap mencintainya. Dialah yang mengajarkan aku cinta dan harapan. Dialah yang membuat segalanya indah.

"Zabini!" seruku, mencoba mencegahnya untuk terus mundur. Dia bisa terantuk salju.

"Albus?" Iris memandangku tidak yakin. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku ingin bertemu kembaranmu."

"Oh, Alan... dia..."

"Miss Iris!" Peri Rumah berwajah jelek dengan mata hitam aneh muncul di belakang Iris. Dia menatapku ingin tahu kemudian kembali menatap Iris.

"Nyonya ingin bertemu dengan anda."

"Eh, aku... baiklah!" Iris memandangku kelihatan bingung sesaat. Kemudian mengangguk ke arahku.

Aku mengikutinya masuk ruang tamu luas yang nyaman, bertembok putih dengan lukisan pemandangan menghiasi dindingnya. Sofa empuk besar berwarna putih tersusun dengan rapi di dekat meja kecil. Jambangan berisi daun-daun segar musim dingin mempercantik ruangan itu.

"Silakan duduk!" kata Iris memandang sofa-sofa putih.

Aku duduk, memandang ke arah pintu besar yang terbuka, ketika seorang wanita berambut hitam masuk ke ruang tamu. Mrs. Zabini. Dia kelihatan lebih cantik dengan rambut hitam dibandingkan rambut pirang seperti pertama kali aku melihatnya.

"Siapa ini? Oh! Anak Harry Potter... aku lupa namamu, Nak," kata Mrs. Zabini, tersenyum memandangku.

"Albus," kata Iris.

"Al," kataku.

Kami berpandangan.

"Senang bertemu denganmu lagi, Al," kata Mrs. Zabini, tersenyum.

"Terima kasih, Mrs. Zabini!"

Mrs. Zabini memandang Iris.

"Sayang, ayahmu dan aku harus berangkat ke Prancis Selatan hari ini... ada beberapa hal yang harus kami lakukan... Tinggallah di rumah bersama Trincer dan kirimlah surat ke Manor supaya Alan dan Scorpius datang menemanimu... kami akan berusaha kembali besok."

"Baik, Mother!"

Mrs. Zabini memberi ciuman di pipi Iris dan melambai padaku. Aku balas melambai dan menunggu sampai dia menghilang di pintu, lalu memandang Iris.

"Mana kembaranmu?" tanyaku.

"Alan sudah dua hari di Malfoy Manor."

"Benarkah? Lalu mana Lily?"

"Lily? Apa maksudmu mencari Lily di sini? Aku tidak menyembunyikan Lily."

"Aku tidak menuduhmu menyembunyikan Lily... aku hanya bertanya di mana dia... dia tidak ada di rumah sejak pagi."

"Oh... mungkin dia bersama Rose!"

"Rose juga tidak ada... aku curiga pasti Alan Zabini menyembunyikannya."

"Tidak mungkin Alan berbuat aneh begitu... dia sedang di Manor dan dia tidak tahu apa-apa tentang Lily."

"Bukankah tidak tahu apa-apa terlalu berlebihan, Zabini? Kukira mereka pacaran."

"Mereka memang benar pacaran! Tapi aku tahu Alan tidak mungkin menyembunyikan Lily."

"Kau tidak tahu karena kau hanya terkurung di rumah ini kan? Mungkin saja dia menyembunyikannya di Manor, bersama Malfoy brengsek itu."

"Tidak! Alan tidak akan membawa Lily tanpa memberitahu kalian. Aku yakin Lily tidak bersama Alan."

"Keyakinanmu bukan hal yang bisa dipercaya, Zabini... aku sudah belajar untuk tidak mempercayai apapun yang kau katakan."

"Kau masih marah karena karena peristiwa beberapa minggu yang lalu itu? Itu memang salahku, biarkan aku menjelaskan!"

"Tidak perlu, Zabini... aku tidak butuh kejelasan apapun darimu. Yang aku tahu kau dan Rose sudah menipu semua orang."

"Kau masih belum bicara dengan Rose? Dengar! Itu bukan salah Rose. Aku yang memantrai..."

"Sudahlah, Zabini... aku tidak ingin mendengar apapun darimu... itu tidak penting sekarang."

"Ini penting! Kalau kau mencintai Rose, kau harus mendengarkan apa yang dia katakan... kau harus percaya padanya."

"Apa? Aku mencintai Rose?" aku memandang Iris dengan tidak percaya. Dia mengira aku mencintai Rose? Mencintai sepupuku? Cewek ini benar-benar sinting! Dari mana pikiran aneh itu muncul?

"Tentu saja, kau mencintai Rose, Albus... kau sendiri bilang kau mencintainya."

Aku tidak tahu apakah harus tertawa ataukah menangis mendengar pernyataan ini. Bagaimana aku bisa mencintai Rose, kalau saat itu Rose sedang menjadi dirinya. Aku menyatakan cinta itu bukan pada Rose, tapi padanya, karena dialah yang ada di tubuh Rose saat itu. Aku mencintai Iris Zabini bukan Rose Weasley.

"Aku tidak mencintai Rose," kataku tegas.

"Apa? Kau sudah tidak mencintai Rose lagi? Wah, cepat sekali hatimu berubah, Mr. Potter. Sudah berapa cewek yang kau cintai dan memutuskan untuk tidak mencintainya lagi beberapa minggu kemudian?" tanya Iris sinis.

Aku tertawa dalam hati. Gaya sinis ini adalah gaya Rose. Iris, tanpa sadar kau sudah mengadopsi gaya Rose. Semoga kau tidak mengadopsi cara bicara Rose yang melengking itu, Iris, karena hal itu akan membuatku semakin stres.

"Bukan urusanmu apapun yang tejadi dalam hatiku, Miss Zabini... yang aku ingin tahu adalah adikku dan ketidakhadirannya di rumah."

"Baik! Pergilah ke Manor kalau begitu! Jangan tanya kau sebab kau tidak apa-apa tentang Lily"

"Memang itu rencanaku dan kau harus ikut denganku."

"Tidak mau! Kau dengar kata ibuku... aku harus menjaga rumah ini."

"Rumah ini tidak perlu dijaga, Zabini... rumah ini akan tetap ada disini saat kau kembali nanti."

"Aku tetap tidak akan pergi denganmu!"

"Kalau begitu aku akan meyeretmu bersamaku."

"Kau tidak akan berani!"

"Aku berani!" kataku, menantangnya. Orangtuanya baru saja pergi, aku bisa melakukan apapun sesukaku padanya.

Kami saling bertatapan sesaat.

"Ambil mantelmu, Iris! Atau aku yang naik ke atas dan mencarikannya untukmu."

"Kau..."

"Tidak perlu, Mr. Al, Trincer sudah mengambilkan mantel Miss Iris!" kata Peri Ruman berwajah aneh, bernama Trincer itu. Dia menuruni tangga sambil membawa mantel bulu lembut berwarna biru.

"Trincer, aku tidak ingin kemana-mana... masih ada urusan yang harus kulakukan," kata Iris mendelik pada Trincer.

"Miss Iris tidak punya urusan apa-apa, Mr. Al... Bawalah Miss Iris keluar supaya bersenang-senang."

"Aku tidak akan bersenang-senang bersamanya, Trincer... dia mencari adiknya," protes Iris.

"Terima kasih, Trincer! Aku akan membawanya bersenang-senang," kataku, memandang Trincer memakaikan mantel bulu pada Iris yang protes.

"Miss Iris tidak pernah kemana-mana saat liburan, Mr. Al, Trincer senang saat anda datang dan mengajaknya... ini pertama kalinya ada yang mengajak Miss Iris kencan."

"Ini bukan pertama kalinya aku kencan, Trincer... dan dia tidak mengajakku berkencan. Kami mencari adiknya."

"Sama saja, Miss Iris!"

"Baiklah! Ayo kita berangkat!" kataku, menyodorkan tanganku padanya.

"Apa?" tanya Iris.

"Kita harus ber-apparate kan? Kau atau aku yang melakukannya?"

"Kau saja..." kata Iris jengkel. Dan memberikan tangannya padaku.

Aku memandang tangannya dalam tanganku. Tangan inilah yang seharusnya berada dalam gengaman tanganku bukan tangan Rose. Tangan inilah yang ingin kugenggam.

"Apa? Mengapa kau memandang tanganku?"

"Bukan apa-apa! Ayo!"

Aku berputar di tempat dan merasakan sensasi apparate yang biasa kemudian muncul di depan pagar besi tempa. Di balik pagar itu terletak sebuah gedung megah dengan jendela lantai bawah berbentuk wajik. Di suatu tempat di kebun yang berwarna putih terdengar gemericik air mancur. Mungkin telah disihir untuk tidak membeku di musim dingin.

Iris melepaskan genggaman tanganku dan bergerak menjauh.

"Kau tunggu di sini, biar aku yang masuk ke dalam," kata Iris, memandang ke balik pagar.

"Mengapa aku harus tunggu di luar... memangnya aku tidak diijinkan masuk ke Malfoy Manor."

"Bukan itu... terserahlah, ayo!"

Kami melewati pagar besi tempa dan berjalan melalui jalan kecil berkerikil menuju pintu depan. Iris membunyikan lonceng kecil di depan pintu dan pintu itu dibuka beberapa detik kemudian oleh Peri Rumah berbaju hijau dengan rok hijau yang rapi.

"Miss Iris dan temannya, anda ingin bertemu Master Scorpius?"

"Ya, Ruky... aku ingin bertemu Scorpius... apakah dia ada?"

"Siapa itu, Ruky?" tanya sebuah suara dibelakang Ruky.

Seorang perempuan cantik berambut pirang bermata biru muncul dibelakang Ruky.

"Iris! Sudah lama aku tidak melihatmu!" kata perempuan itu, tersenyum pada Iris. "Dan siapa pacarmu yang tampan ini?"

"Hallo Mrs. Malfoy, apa kabar? Ini Albus Potter!"

Perempuan itu menatapku sesaat dan tersenyum. "Anak Harry Potter yang terkenal, ya! Masuklah! Kalian harus minum teh denganku."

"Eh, jangan Mrs. Malfoy... kami sedang terburu-buru. Kami harus bertemu Scorpius."

"Kalian terlambat Scorpius dan Alan baru saja pergi ke Diagon Alley... mereka punya janji kencan."

"Apa?" tanyaku terkejut.

"Benar, Albus! Jangan kaget seperti itu... Scorpius juga sudah punya pacar sekarang."

"Eh... kalau begitu kami akan ke Diagon Alley saja, Mrs. Malfoy... terima kasih untuk tawaran minum tehnya."

"Sama-sama, Sayang... aku mengharapkan kedatanganmu lagi... dan undangan yang sama untukmu Albus," kata Mrs. Malfoy.

Iris menarik tanganku melewati pagar besi tempa, dan baru melepaskanku ketika kami tiba di jalan kereta yang tertutup salju.

"Apa kataku? Alan tidak menyembunyikan Lily kan?"

"Memang tidak, tapi dia punya janji kencan dengannya... itu merupakan hal yang salah."

"Tidak ada salahnya kalau ingin berkencan dengan orang yang disukai."

"Salahnya adalah dia tidak memberitahu orang rumah kalau punya janji kencan dengan Zabini."

"Baik! Kita ke Diagon Alley sekarang... dan kau akan merusak acara kencan adikmu."

Aku mendengus.

Iris menyambar tanganny dan membawaku ber-apperate ke Diagon Alley.


Scorpius' POV

Alan dan aku sedang menikmati teh hangat di kedai es krim Florean Fortescue. Kedai ini menjual kopi, teh dan coklat hangat saat musim dingin.

"Harusnya aku tidak boleh ikut. Ini kan kencanmu... aku hanya akan mengganggu. Dan aku lebih senang tinggal di rumah menonton pertandingan liga Quidditch," kataku.

"Aku tidak bisa sendiri, Scorps. Lily tidak diijinkan keluar sendiri, jadi dia bersama teman... dan kau bisa menemani temannya sedangkan aku bersama Lily."

"Kencan buta? Kau membuatku berkencan dengan seorang yang tidak kukenal? Kau gila! Aku mau pulang."

"Kau tidak bisa pulang, Scorps... itu mereka datang."

Aku berbalik dan melihat Lily Potter memasuki kedai es krim bersama, seorang berambut merah dengan bintik-bintik jelek di wajahnya. Sepupu Banshee.

"Alan!" kata Potter, mendekati kami, memberi Alan ciuman di pipi dan duduk di sebelah Alan. "Maaf aku terlambat! Aku harus mengajak Rose."

"Hai, Alan... Malfoy!" kata Weasley ceria, menduduk di sampingku.

Jadi kencanku adalah Weasley? Kejahatan apa yang telah kulakukan sehingga aku mendapat teman kencan yang benar-benar mengerikan. Aku akan membunuhmu setelah ini, Alan. Aku mendelik pada Alan, tapi Alan sedang asyik memandang Lily sehingga tidak mempedulikan aku.

"Sudah lama menunggu kami, Alan?" tanya Potter.

"Tidak juga, baru beberapa menit yang lalu," jawab Alan.

Beberapa menit yang lalu? Maksudmu enampuluh menit kan, Alan? aku mendengus.

"Malfoy, ayo kita melihat-lihat toko Peralatan Quidditch Berkualitas!" kata Weasley menarikku berdiri dan membawaku pergi keluar kedai Es Krim.

"Lepaskan aku, Weasley!" kataku, menarik lepas tanganku dari Weasley.

Weasley melepaskanku. "Kita harus membiarkan mereka sendiri. Kurasa mereka ingin berdua saja."

Kami berjalan perlahan menyusuri jalan di Diagon Alley.

"Mengapa kau mau diajak kemari?" tanyaku.

"Aku harus menemani Lily... Aku telah berjanji pada Aunt Ginny untuk menjaga Lily. Dia diperbolehkan keluar karena aku bersamanya."

"Ya, ampun... dia itu limabelas tahun... dia bisa mengurus diri sendiri."

"Bagi kami lima belas tahun belumlah dewasa."

"Keluarga yang aneh!"

"Aku berfikir bahwa keluargamu yang aneh, Malfoy."

"Jangan mengatai keluargaku, Weasley!"

"Kau yang lebih dulu menyebut keluargaku aneh."

"Itu kenyataan, Weasley! Coba lihat! Arthur Weasley si penggemar pesawat terbang, ayahmu si Weasel king, lalu sekarang ini, cewek limabelas tahun yang dilarang keluar sendiri."

"Jangan menyebut ayahku begitu, Vampir!"

"Jangan sekali-kali menyebutku vampir, Weasel... hanya Iris yang boleh menyebutku begitu."

"Hohoho, jadi hanya Iris tersayang yang boleh menyebutmu 'vampir'... Wah... wah, kuberitahu, ya, semua orang bisa melihat tampangmu yang mirip vampir... aku sebenarnya curiga kalian tidur dalam peti mati di Malfoy Manor!"

"Tutup mulut, Weasel! Harusnya kau bersyukur karena aku mau menemani... kurasa tidak akan ada cowok yanag mau melihat tampangmu yang mirip Banshee itu."

"Apa katamu?"

"Tampangmu yang mirip Banshee, Weasel... tidak akan ada cowok yang suka padamu... kau belum pernah berkencan kan?"

"Asal tahu saja, Vampir... aku berkencan dengan Kenneth Davis."

"Kukira otak Davis sedang mengalami kerusakan saat mengajakmu kencan."

"BANGSAT!" Weasley mendorongku dengan keras dan aku terjatuh dalam ember besar berisi kotoran naga di depan toko obat Magical Menagerie.

Orang-orang disekitar kami terkikik melihatku berlumuran kotoran naga dari kepala sampai kaki.

"WEASEL BRENGSEK! AWAS KAU!" aku bangkit dan berjalan mendekatinya.

"Jangan dekati aku, Vampir!" kata Weasley mundur.

Aku mengambil kotoran naga dengan tanganku dan hendak melemparkannya ke arah Weasley, ketika dia berlari meninggalkan aku.

"TUNGGU, WEASEL!"

Aku berlari mengejarnya. Melewati toko-toko dan Gringgots. Cewek ini staminanya benar-benar hebat! Sebentar saja aku telah ketinggalan jauh. Bangsat, aku tidak akan membiarkan cewek mengalahkanku dalam lomba lari. Kakiku lebih panjang darinya. Aku menambah kecepatan dan berhasil memegang tanganya di depan toko Weasleys' Wizard Wheezes – Sihir Sakti Weasley.

"LEPASKAN AKU, VAMPIR!" Weasley menjerit, merontak, mencoba melepaskan diri dari tanganku.

"Tidak, Banshee!" kataku tersenyum dan melumuri wajah serta mantel bulu yang dikenakannya dengan kotoran naga.

Weasley menjerit jijik dan memandangku dengan tidak percaya. Aku tertawa. Ini benar-benar lucu. Aku belum pernah didorong cewek dalam ember berisi kotoran naga, kemudian berkejaran di atas salju seperti anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran.

"BRENGSEK!" Weasley mendorongku lagi dengan kuat.

Kali ini aku tidak akan membiarkan diriku terjatuh sendiri di atas salju yang dingin. Aku yang masih memegang tangan Wealey menariknya bersamaku. Kami terjatuh di tanah bersalju dengan Weasley di atas.

Kami bertatapan sesaat. Kemudian Weasley melompat berdiri dan menyumpah-nyumpah karena sekarang mantel bulunya telah penuh dengan kotoran naga karena bersentuhan dengan mantel kulit yang kukenakan.

Aku tertawa memandangnya.

"Tutup mulut, Vampir!" kata Weasley, mencabut tongkat sihirnya dan mencoba untuk membersihkan kotoran naga yang ada pada bulu-bulu di mantelnya. Tapi tidak berhasil. Sepertinya mantel itu memang harus dicuci. Aku memandang mantel kulitku dengan sangat menyesal karena aku harus membuang mantel ini.

"Rose?" kata sebuah suara.

Aku mengangkat muka dan memandang Fred Weasley sedang berdiri di depan toko Sihir Sakti Weasley.

"Ini pacarmu yang kau ceritakan itu, Rose?" tanya Fred Weasley, lalu tanpa menunggu jawaban masuk kembali ke toko dan kembali dengan membawa mangkuk kecil berisi cairan hijau.

"JANGAN, FRED!" jerit Weasley.

Terlambat... Fred Weasley telah menyiram wajahku dengan cairan hijau itu. Cairan itu berupa lendir hijau yang berbau tengik seperti pupuk kandang.

"Itu dariku karena kau sudah berani mengajak kencan gadis kami," kata Fred Weasley memandangiku dengan tajam.

Apa? Mengajak kencan? Aku tidak mengajaknya kencan. Ini kencan buta yang diatur oleh Alan, Potter dan Weasley. Aku sama sekali tidak terlibat. Tidak mungkin aku mau mengajak kencan cewek sinting seperti Weasel.

"Dia bukan pacarku, Fred... dia juga tidak mengajakku kencan! Aku yang mengatur kencan ini. Aku tidak ingin sendirian sementara Lily... eh..."

"Lily apa, Rose?"

"Lily berbelanja... aku mengajak Malfoy... eh, Scorpius dan dia setuju kencan denganku dan kami menikmati kencan kami."

"Menikmati kencan kalian? Sepertinya memang begitu kerena aku melihat kalian berpelukan di salju," kata Fred Weasley, mengamati kami. "Tapi mengapa tubuh kalian penuh kotoran naga?"

Dan Stinksap, khususnya aku. Aku mengamati cairan hijau jatuh perlahan dari wajahku mantelku.

"Ya, kami sedang bersenang-senang, tapi Malfoy... eh, Scorpius tiba-tiba terjatuh ke ember yang berisi kotoran naga dan dia juga melumuriku dengan kotoran naga," kata Weasley tersenyum padaku.

Aku mendengus.

"Scorpius Malfoy, Rose!" kata Fred Weasley, memberiku pandangan menilai.

"Ya, kenalkan teman kencanku, Fred! Scorpius Malfoy!" kata Weasley, tersenyum lagi.

"Bukankah dia cowok yang tidak disukai Uncle Ron? Bukankah Uncle Ron menyuruhmu jauh-jauh darinya Rose?"

"Eh, benarkah... aku tidak ingat, Fred! Dan kuharap kau tidak memberitahu siapapun tentang ini."

"Tidak, Rose... Ini berita paling menarik yang pernah kudengar setelah Lily dan Alan Zabini, tentu saja."

"Kau tahu tentang Lily dan Alan?"

"Tentu saja... aku baru saja menyiramnya dengan Stinksap di kedai es krim Florean Fortescue. Kau pikir untuk apa aku menyimpan Stinksap?"

"Kalau begitu mengapa kau juga menyiram Malfoy dengan Stinksap... dia bukan pacarku... kami berkencan hanya untuk menemani Alan dan Lily."

"Kelihatannya tidak begitu, Rose! Kulihat kau menikmatinya... silahkan melanjutkan kencan kalian... aku akan menyurati Uncle Ron," kata Fred, masuk ke dalam toko.

"FRED JANGAN!"

Apakah sekarang aku sedang terlibat dalam masalah besar? Aku tidak tahu... tapi aku sangat tidak ingin dilumuri Stinksap untuk kedua kalinya.


Rose's POV

"Rose Weasley! Apa yang kudengar dari Al dan Fred. Mereka mengatakan kau berkencan dengan Scorpius Malfoy di Diagon Alley?"

Dad sedang memandangku dari atas makan malamnya di meja makan. Mom makan dengan tenang dan Hugo memandang aku dengan penuh perhatian.

"Apa yang terjadi dengan Lily?" tanyaku, mencoba mengalihkan perhatian Dad.

"Dia tidak apa-apa! Mengapa kalian tidak memberitahu siapa-siapa kalau kalian sedang berkencan?"

"Maafkan aku, Dad... ini semua salahku... harusnya aku menjaga Lily, tapi Lily berhasil membujukku menemaninya ke Diagon Alley," kataku, merasa bersalah.

Aku tahu, Lily dan aku memang bersalah karena pergi tanpa pamit, tapi aku hanya ingin membuat Lily bahagia. Dan Al... Al semakin marah padaku. Lihat saja tampangnya ketika dia muncul bersama Iris di kedai es krim Florean Frostecue.

Wah... wah kami semua dalam masalah besar sekarang. Belum lagi aku disangka pacaran sama Malfoy. Tapi biarlah... biar Malfoy siksa oleh mereka semua. Diakan pernah meninjuku dua kali. Aku bukan cewek jahat, tentu aku tidak akan membiarkan Malfoy disakiti tanpa alasan yang jelas.

"Nah, Rosie, kembali kemasalahmu... katakan apakah kau berkencan dengan anak Draco Malfoy?"

"Tidak, Dad... aku tidak berkencan dengannya. Aku bahkan mendorongnya ke ember penuh kotoran naga," kataku.

"Apa? Tapi Fred mengatakan kalian berciuman di atas salju."

"Kami tidak berciuman... aku mendorongnya, dia terjatuh dan dia menarikku bersamanya."

"Benarkah? Kau benar-benar tidak pacaran dengannya?"

"Benar, Dad! Percayalah padaku..." kataku, meyakinkan Dad.

"Ron, aku sebenarnya tidak apa-apa kalau Rose berkencan dengan Scorpius," kata Mom.

"Aku tidak berkencan dengannya, Mom!"

"Mengapa kau begitu membenci Draco, Ron? Kupikir kita telah melupakan semua tentang masa lalu."

"Aku tidak membencinya, Hermione... aku cuma merasa bahwa Rosie tidak cocok dengan anaknya yang pucat seperti vampir itu."

"Benar, Dad... aku juga merasa begitu... aku sebenarnya sedang berkencan dengan Kenneth Davis."

"Kenneth Davis? Apakah dia penggemar Quidditch?"

"Dia kapten Quidditch Ravenclaw, Dad," kataku senang.

"Malfoy kapten Quidditch Slytherin, Dad," kata Hugo.

"Diam Hugo... Dad, apakah aku boleh berkencan dengan Ken?"

"Yang penting kau bahagia, Rose..." kata Mom.

"Tentu saja aku bahagia, Mom... aku menyukai Ken," aku berkata, memandang makan malamku. Aku sangat bahagia... Ken adalah cowok paling tampan yang pernah kulihat.

Aku kembali ke kamarku, merenung menatap ke luar jendela. Aku tahu Ken tidak membuatku berdebar-debar, seperti yang dialami Lily terhadap Alan, tapi aku yakin suatu saat nanti aku akan berdebar-debar juga dan jatuh cinta setengah mati padanya.

Aku memandang keluar jendela yang terbuka dan memandang sebuah kepala bertanduk muncul di jendela kamar. Jantungku berhenti sesaat karena terkejut. Sebuah tubuh tiba-tiba masuk ke dalam kamarku lewat jendela. Aku berhadapan dengan seorang cowok berwajah pucat, bermata abu-abu, berambut pirang putih dengan tanduk di atas kepalanya.

"Vampir?" aku berseru shock

"Ya, Banshee!"

"Apa yang kau lakukan di kamarku?"

"Aku meminta kau bertangungjawab untuk tanduk yang ada di kepalaku sekarang?"

Aku memandang tanduk dikepalanya dan mendengus tertawa. Malfoy... tanduk? Benar-benar lucu.

"Berhenti tertawa, Banshee... ini semua karena perbuatanmu."

"Apa? Apa yang kulakukan?"

"James Potter mengirimku surat yang berisi kutukan... aku membaca suratnya dan tanduk ini langsung tumbuh dikepalaku."

"Oh, James... berarti Fred telah memberitahunya tentang kita yang berciuman di atas salju di depan tokonya."

"Berciuman? Sudahlah aku tidak peduli... hilangkan tanduk ini sekarang."

"Aku tidak bisa," kataku, mencoba menghindar.

"Kau bisa, Weasley... Hilangkan sekarang atau aku akan melakukan sesuatu padamu... sesuatu yang tidak akan kau lupakan seumur hidupmu," kata Malfoy mengancam. Dia menatapku dengan tajam, seperti waktu itu. Seperti malam saat dia meninjuku.

"Kau mau melakukan apa, Malfoy?" tanyaku, mundur ke tempat tidur.

"Kau tidak tahu, Weasley? Lihat kita cuma berdua saja di kamar! Coba pikirkan apa yang dilakukan laki-laki dan perempuan di kamar!"

"Bangsat! Jangan coba-coba mendekatiku atau aku akan teriak... keluargaku akan mendengarku Malfoy dan kau akan dibunuh oleh ayahku."

"Muffliato!" desis Malfoy ke arah pintu dan berlari mengambil tongkat sihirku di atas meja. Aku kalah cepat, jarak dari tempat tidur ke meja lebih jauh dibandingkan jarak tempat Malfoy berdiri dan meja.

"Nah, katakan cara menghilangkan tanduk ini!" kata Malfoy.

"Aku tidak tahu... sungguh! Aku..."

Malfoy mendekatiku dengan wajah sangar dan menakutkan. Apakah aku akan diperkosa orang di kamarku sendiri? aku menjerit keras dan berlari ke pintu.

"Colloportus!" desis Malfoy, mengunci pintu. "Kau tidak akan bisa keluar sekarang."

"Dengar! Aku bisa menyurati James dan memintanya menghilangkan tanduk itu."

"Benarkah, Weasley? Bukankah kau menikmati melihatku disiksa oleh sepupu-sepupumu yang aneh itu?"

"Tidak! Aku minta maaf ini memang salahku... aku... LEPASKAN AKU!"

Malfoy telah berhasil menyudutkanku di tembok kamar, dan mendekatkan wajahnya padaku. Kumohon, jangan seperti ini! aku sudah pernah mengalami yang seperti ini... aku sudah pernah nyaris diperkosa oleh Cazell. Kalau kau melakukannya sekarang, tidak akan ada yang bisa menolongku. Aku berusaha merontak melepaskan diri, tapi tidak bisa. Malfoy lebih kuat dariku.

Saat aku hendak menjerit lagi, Malfoy menutup mulutku dengan mulutnya. Aku tidak bisa menjerit. Aku hendak menggigit bibirnya, tapi tidak bisa. Tenagaku hilang, kaki lemas... aku seolah tidak berpijak dibumi. Dadaku berdebar dengan kencang dan aku... sesuatu mungkin telah membuatku jadi gila. Aku menciumnya, dengan intensitas yang sama seperti dia menciumku. Dia menarikku mendekat dan aku dengan senang hati menyandarkan tubuhku ke tubuhnya. Dada kami bersentuhan dengan debaran yang sama.

Saat kami tidak mampu bernafas lagi, dia melepaskanku, membuatku terduduk di lantai kamarku karena tidak mampu berdiri, kakiku yang lemas tidak mampu menopang tubuhku. Kok aku jadi lemah seperti ini? Aku menatap lantai... aku tidak mampu menatapnya. Kalau aku melakukannya pasti aku akan berlutut dikakinya dan memohon padanya untuk menciumku lagi.

"Apa yang kau lakukan?" aku mendengarnya bertanya, suaranya terdengar bingung.

Ya, pertanyaan yang bagus. Apa yang aku lakukan? Seharusnya aku melawan, bukan membiarkan diriku dicium oleh orang yang akan melakukan pelecehan terhadapku. Aku benar-benar perlu memikirkan ini. Ini adalah sesuatu yang baru untukku. Aku masih belum bisa menatapnya, tidak sekarang.

Aku melihat kakinya melangkah ke arahku. Jangan! Jangan dekati aku! Aku melihatnya menekukkan kakinya di depanku dan mencoba menyentuhku. Jangan sentuh aku! Kau akan membuatku menangis kalau kau menyentuhku sekarang! Dia menjauhkan tangannya dariku. Kumohon! Pergilah! Biarkan aku sendiri aku perlu berfikir... aku perlu merenungkan ini. Ini adalah perasaan yang baru untukku.

Aku memejamkan mata dan mendengar bunyi jendela ditutup. Saat aku mengangkat muka aku hanya memandang kamar kosong yang dingin oleh salju di luar. Airmata jatuh membasahi pipiku. Aku naik ke ranjangku dan menangis. Yah, sudahkah kau menyadarinya, Rose Weasley? Ataukah kau perlu bukti lain bahwa kau memang jatuh cinta padanya. Pada orang yang terlarang, yang tidak disukai oleh ayahmu. Kau memang sudah jatuh cinta pada Scorpius Malfoy dan kau tidak akan bisa menyangkal perasaan itu dengan mudah. Dia hanya akan membuatmu menangis karena dia tidak menyukaimu. Dia menyukai Iris Zabini, ingat?


Review please!

Riwa Rambu