ROSE WEASLEY AND IRIS ZABINI

Thanks semua yang sudah membaca fanfic ini... Reverie Metherlence, Beatrixmalf, Rama Diggory Malfoy, Aleysa-GDH, degrangefoy: thanx reviewnya.

Disclaimer: JK Rowling

Scorpius' POV

Ruky sedang membereskan keperluan Hogwartsku di kamar; melipat jubah-jubah Hogwarts yang sudah disetrika dan mengatur buku-buku di dalam koper. Besok aku harus kembali ke Hogwarts. Dad sudah menghubungi temannya di Depertemen Jaringan Transportasi Sihir dan berhasil mengatur jaringan Floo ke Hogwarts untuk besok.

"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Mom. Dia baru saja masuk ke kamar dan melihatku sedang termenung menatap ke luar jendela.

"Aku baik-baik saja, Mom," jawabku menghindari pandangannya.

"Master Scorpius sedang sedih, Nyonya! Ruky tidak tahu apa yang membuat Master Scorpius sedih, tapi Ruky berharap Master Scorpius kembali ceria, seperti biasa," kata Ruky, sok tahu. Aku memandangnya dengan jengkel dan kembali memandang salju di luar jendela.

"Sayang, Mom juga berpikir seperti itu... apakah ada sesuatu yang membuatmu sedih? Mom akan membantumu," kata Mom, duduk di sampingku, memandangku.

Apakah aku terlihat seperti cewek yang sedang patah hati? Ataukah aku terlihat seperti orang yang baru saja ditinggal mati kekasih? Aku menggeleng kepalaku dengan tegas.

"Aku baik-baik saja, Mom... aku sedih karena sebentar lagi aku akan meninggalkan Mom dan Dad... kembali ke Hogwarts," kataku mengelak.

Mom memandangku tidak yakin, lalu bertukar pandang dengan Ruky. Aku mengabaikan mereka. Aku benar-benar tidak ingin mendiskusikan perasaaaku dengan Mom ataupun Ruky. Tidak dengan siapapun. Saat ini aku hanya ingin sendiri dan merenung.

"Sayang, kau sudah seperti ini sebelum Mom menghilangkan tanduk di kepalamu... kau hanya duduk di bar saat pesta natal dan bahkan tidak bicara dengan seorangpun. Kau membuat kami semua kuatir... ayahmu berniat memanggil penyembuh, tapi Mom berhasil mencegahnya... Mom pikir mungkin ini ada hubungannya dengan hormon remaja."

"Terima kasih untuk tidak memanggil penyembuh, Mom, karena aku tidak sakit... yah ini memang ada hubungannya dengan hormon remaja... percayalah, Mom! Mom akan jadi orang pertama yang akan kuberitahu kalau terjadi apa-apa padaku."

"Baiklah! Nah, sekarang katakan bagaimana kau bisa mendapatkan tanduk itu?"

"Eh... ya, seseorang mengirim kutukan lewat surat padaku."

"Penyihir-penyihir sekarang memang benar-benar keterlaluan ada-ada saja cara mereka untuk membuat orang lain menderita."

Kemudian Mom menceritakan kisah masa remajanya saat teman sekamarnya di asrama Beauxbatons mendapatkan kutukan lewat surat. Kutukan itu membuat seluruh wajahnya berbulu. Mom dan teman-teman Beauxbatons-nya tidak merasa kasihan pada gadis itu, karena itu salahnya sendiri, dia merebut pacar gadis lain sehari sebelumnya.

"Lalu apa yang membuatmu mendapat kutukan, Sayang... kau tidak merebut pacar orang kan?"

"Aku tidak seperti itu, Mom... aku tidak akan merebut pacar orang. Sebenarnya aku tidak pantas mendapat kutukan itu... kutukan itu salah sasaran karena aku tidak sedang pacaran dengan sepupu mereka."

"Mom sudah menduga ini ada hubungan dengan seorang gadis. Katakan siapa gadis itu, Sayang!" kata Mom.

Rupanya Mom hanya ingin tahu tentang gadis-gadis saja, Mom bahkan tidak mendengar kata terakhirku tentang kutukan yang salah sasaran.

"Aku tidak pacaran dengannya, Mom... semua kesalahpahaman ini adalah kesalahannya... dia yang membuat sepupu-sepupunya mengira seperti itu."

"Siapa dia, Sayang?" tanya Mom, tersenyum penuh pengertian seperti bicara pada seorang anak kecil yang sedang menyembunyikan sesuatu.

"Bukan siapa-siapa, Mom... aku tak ingin membicarakannya," jawabku.

Aku bahkan tidak bisa menyebut namanya. Aku tidak bisa... tidak setelah ciuman yang membingungkan itu. Tidak setelah dia membuatku menjadi orang yang kalah. Aku pergi ke rumahnya untuk membuatnya menyembuhkanku, untuk membuatnya melihat bahwa aku tidak suka dijadikan sasaran lelucon oleh sepupu-sepupunya yang kasar, tapi aku pulang dengan teratur, kalah, aku tidak mendapat apa-apa hanya perasaan tak menentu dan kesedihan. Aku masih bingung apa sebenarnya yang membuatku sedih. Aku tidak pernah sedih. Aku adalah orang paling bahagia. Aku punya segalanya dan aku tidak pantas untuk bersedih.

Mengapa dia menciumku? Seharusnya dia tidak membiarkan aku menyentuhnya kan? kami saling benci, aku mencintai Iris dan dia memiliki Davis. Jadi, ciuman itu tidak berarti apa-apa.

"Sayang, wajahmu kelihatan sedih lagi," kata Mom.

"Aku baik-baik saja..."

"Master Scorpius, Mr. Alan sedang menunggu di bawah," kata Winker, Peri Rumah kami yang lain. Dia berdiri di depan pintu dan membungkuk dalam-dalam.

"Aku turun sekarang," kataku, bangkit berdiri, lalu berjalan keluar dengan cepat, meninggalkan Mom dan Ruky yang masih memandangku ingin tahu.

Aku menjumpai Alan sedang duduk di teras bagian timur Manor. Dia memandangku ketika aku duduk di sampingnya.

"suasana hatimu sudah kemabali normal?" tanya Alan, tanpa basa-basi.

"Tidak ada yang salah dengan suasana hatiku," jawabku mengelak.

"Ayolah, Scorps... aku tahu kau sedang mengalami sesuatu... Menurutku tanduk itu tidak terlalu buruk dibandingkan dengan bubuk Wartcap yang dikirim James Potter untukku. Ingat! Seluruh kulit tubuhku berubah kering mengerikan sebelum ibumu berhasil menyembuhkanku."

Aku tersenyum mengingat kejadian malam itu. Hari itu adalah hari sial kami. Setelah disiram Stinksap oleh Fred Weasley pada siang hari, malam harinya kami mendapat burung hantu yang membawa kutukan dari James Potter. Wajar kalau Alan mendapatkan bubuk Wartcap itu, tapi aku? Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Weas... dengan dia. Aku tidak ingin menyebut namanya.

"Kemana kau malam itu, Scorps?"

Jantungku berdegup kencang. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan ini. Aku tidak ingin orang lain tahu kemana aku pergi malam itu. Aku ingin ini tetap menjadi rahasiaku selamanya.

"Scorps?"

"Tidak ke mana-mana, Alan... aku hanya keluar mencari udara segar... aku marah karena aku seharusnya tidak pantas mendapatkan tanduk itu."

"Ya, memang benar," kata Alan, tertawa. Aku tidak tertawa. Menurutku situasi ini tidak lucu. "Kita harus berhati-hati, Scorps masih ada supupu-sepupu yang lain!"

"Kau yang harus berhati-hati Alan, bukan aku... aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya."

"Dengannya siapa? Sepupu Banshee?" Alan tertawa lagi.

"Diam, Alan! Kau tidak datang kemari untuk menertawakan aku, bukan?"

"OK... aku minta maaf! Sebenarnya aku kemari karena ingin memberimu sesuatu," kata Alan, mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya dan memberikannya padaku.

Aku menerimanya dan memandang tiket konser The Weird Sisters. The Weird Sisters adalah kelompok musik yang terkenal pada jaman orangtua kami. Menurut berita yang kubaca dalam Daily Prophet pagi tadi, The Weird Sisters akan mengadakan konser malam ini di Merlin Dome. Konser ini merupakan perayaan lima puluh tahun keberhasilan mereka eksis di dunia musik sihir.

"Buat apa kau berikan ini padaku?" tanyaku memandang tiket itu dengan heran. Aku bukan penggemar musik jadul. Menurutku, The Weird Sister tidak ada bandingannya dengan The Shadow Men, kelompok musik beraliran Rock yang lagunya sudah sering aku dengarkan.

"Iris penggemar The Weird Sister," kata Alan singkat.

"Lalu apa hubungannya denganku?"

"Aku ingin kau menemani Iris menonton konser itu."

"Aku tidak bisa pergi, aku harus membereskan keperluan Hogwartsku untuk besok," kataku. Aku tidak ingin kemana-mana suasana hatiku tidak mendukung untuk bersenang-senang. Lagipula aku bukan pengemar The Weird Sisters.

"Ayolah, Scorps! Aku tidak bisa membiarkan Iris pergi sendiri ke Merlin Dome... Mother menyuruhku pergi bersama Iris, tapi aku tidak suka grup musik itu, menurutku lagu-lagu mereka ketinggalan jaman... karena itu aku memintamu menemaninya karena aku yakin kau bisa melakukannya."

"Tapi aku juga tidak menyukai The Weird Sisters."

"Ini tidak ada hubungannya dengan The Weird Sisters, tapi Iris... Scorps, kau bisa berkencan dengannya malam ini. Ini kesempatanmu, buat dia melupakan Albus Potter lalu buat dia menyukaimu."

Aku memandang Alan yang matanya berbinar penuh semangat atas idenya. Aku memandang tiket itu dan berpikir tentang Iris. Ya, aku menyukai Iris. Kencan malam ini bisa aku jadikan kesempatan untuk mendekatinya, menciumnya agar aku bisa melupakan ciuman malam itu. Ciuman yang tak ingin kuingat. Namun, aku harus bisa bertahan selama tiga jam mendengarkan musik jadul The Weird Sisters.

"Bagaimana, Scorps? Mau, ya? Mother akan membunuhku kalau dia tahu aku membiarkan Iris pergi sendiri ke Dome."

Aku menunduk memandang tiket itu lagi.

"Ayolah, Scorps!"

"OK!" kataku. Aku memang harus menemani Iris karena aku sudah berjanji untuk menjaga dan melindunginya apapun yang akan terjadi.


Rose's POV

Merlin Dome adalah sebuah gedung besar beratap melingkar, berkapasitas seratus ribu orang. Disinilah tempat diadakan pertemuan akbar, seperti pertandingan liga Quidditch atau konser-konser besar seperti saat ini. Gedung ini terletak di sebelah pinggir kota London bagian selatan. Di depan gedung ini terletak taman besar berisi arena bermain, kolam berair mancur, bangku-bangku dan kedai-kedai, tempat pedagang kaki lima menjajakan dagangan.

Sebelum gedung ini dibangun, orang-orang Kementrian telah memberikan mantra-mantra pada wilayah ini agar terhindar dari mata-mata Muggle yang ingin tahu. Memang ada beberapa kesulitan dari para penyihir sendiri, seperti pedagang kaki lima yang langsung ber-apperate tanpa ijin dan penyihir-peyihir yang menggunakan kesempatan untuk berbuat kejahatan dengan memasang mantra-mantra lelucon pada bangku taman dan arena bermain, sehingga orang kadang-kadang merasa terganggu. Akhirnya untuk mengatasi kesulitan ini, pemerintah telah menempatkan penjaga taman dengan bayaran sejumlah Galleon.

Fred dan aku ber-apperate dari rumahku ke Merlin Dome jam delapan malam. Mom dan Dad telah mewanti-wanti kami untuk pulang sebelum tengah malam. Sebenarnya, Dad tidak mengijinkan aku pergi, tapi terima kasih pada Fred yang telah datang dan berjanji pada Dad untuk menjagaku dan membawaku pulang sebelum tengah malam.

The Weird Sisters adalah grup musik favoritku. Hugo dan Lily kadang-kadang menertawakan selera musikku yang aneh. Mereka merasa bahwa musik The Weird Sisters sudah ketinggalan jaman dan kalah bila dibandingkan dengan The Wizard Way dan The Shadow Men, group musik beraliran keras yang mengikuti tred musik Muggle.

Aku tahu Al menyukai The Weird Sisters, tapi dia masih marah padaku dan tidak ingin berada di tempat yang sama denganku dalam jarak beberapa meter. Dia bahkan tidak bicara denganku pada saat perayaan natal di The Burrow. Yang lain merasa aneh, tapi tidak berkomentar karena mereka tahu Al dan aku bisa sangat keras kepala.

"Bagaimana kabar, James?" tanyaku pada Fred, setelah kami memberikan tiket kami pada penjaga tiket dan memasuki Dome, mencari tempat duduk strategis dibagian kiri panggung.

Aku merasa senang memandang tata panggung yang megah. Lampu-lampu yang besar dan peralatan musik yang akan dipakai konser telah disimpan di atas panggung. Beberapa penyihir mondar-mandir mengecek kesiapan alat-alat musik; beberapa gitar, satu set drum, kecapi, cello dan bagpipe (alat musik tiup Skotlandia). Aku memandang sekeliling dan melihat bahwa tempat duduk di sekitar kami telah dipenuhi penyihir-penyihir. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang dewasa. Ada juga beberapa remaja, seperti kami.

"Bagaimana kabar, James?" tanyaku lagi, setelah Fred memfokuskan pandangannya ke panggung dan tidak memandang dua cewek cantik yang duduk dua kursi di sebelah kiri kami.

"Eh, baik-baik saja... dia tidak bisa datang karena harus berlatih... mereka akan bertanding melawan Puddlemere United minggu depan."

James telah bergabung dengan Chudley Cannons, sebagai seeker, setelah dia meninggalkan Hogwarts. Dad sangat senang waktu mendengar berita ini. Dia merasa Cannons bisa memenang Liga Quidditch dengan bergabungnya James. Cannons merupakan juara terakhir liga selama bertahun-tahun.

"Dia belum minta maaf padaku soal tanduk itu," kataku, teringat Scorpius. Aku harus memanggilnya Scorpius sekarang setelah aku tahu perasaanku padanya.

"Dia tidak akan minta maaf, Rosie dan aku juga tidak... Malfoy pantas mendapatkan tanduk itu, dia menciummu."

"Dia tidak menciumku, Freddy! Aku terjatuh di atasnya, cuma itu."

"Sudahlah, Rosie... bagaimana kabar, Al, dia masih marah padamu?"

"Kurasa dia tidak akan bicara denganku selamanya."

"Kalian berdua kenapa?"

"Al berpikir bahwa aku menipunya... padahal itu bukan salahku."

"Masalah apa?"

"Aku tidak bisa menceritakannya sekarang... bagaimana kabar Roxanne?"

"Roxy masih tetap setia menangani naga bersama Uncle Charlie di Rumania... aku heran, apa bagusnya naga?"

"Semua orang punya pilihan masing-masing. Kurasa Roxanne menikmati pekerjaannya. kau sendiri mengapa suka mengelola toko lelucon Uncle George?"

"Kurasa tidak ada lagi yang bisa kulakukan... aku suka mengelola toko... Oh ya, aku lupa memberitahumu Dad sedang menciptakan sebuah alat yang bisa meniru suara Banshee. Alat ini dipakai untuk menakut-nakuti orang. Dad akan mengirimnya khusus untukmu gratis kalau alatnya telah selesai disempurnakan."

"Mengapa gratis?" tanyaku curiga, pasti ada apa-apanya karena Uncle George jarang memberi barang gratis kalau tidak dalam event-event tertentu.

"Yah, karena alat itu dinamai memakai namamu."

"Apa maksudmu?"

"Alat itu bernama 'Rosie's Voice'," kata Fred, tertawa.

"Rosie's Voice? Aku akan membunuh Uncle George kalau bertemu dengannya," kataku marah. Benar-benar keterlaluan! Uncle George menyamakan suaraku dengan suara Banshee? Awas, ya!

"Kurasa suaramu benar-benar mirip Banshee, Rosie," kata Fred ditengah tawanya yang berderai.

"Diam, Freddy!" kataku jengkel.

Aku teringat Scorpius. Dialah yang sering memanggilku Banshee. Sedang apa dia sekarang? Apakah dia sudah berhasil menghilangkan tanduk itu? Apakah dia sehat-sehat saja? Apakah dia sudah mengatur barang-barangnya untuk besok? Apakah dia sudah mengerjakan PR-PRnya? Apakah dia sedang mengingat Iris saat ini? Ataukah dia sedang membayangkan aku? Jangan harap, Rose! Tutup pikiranmu.

"Rosie, jangan mulai bertampang sedih lagi! Aku sengaja mengajakmu kemari untuk menhiburmu... jadi bergembiralah!"

"Aku sedang gembira, Fred."

"Bohong, Rosie! Kau sedih terus beberapa hari sebelum natal. Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa, Fred!"

"Apakah Malfoy menyakitimu?"

"Tidak... dan tidak ada apa-apa antara dia dan aku. Kami bahkan tidak berteman. Bagiku dia hanyalah teman Alan, pacar Lily."

Fred memandangku tidak percaya.

"Percayalah, Fred. Inilah kenyataannya."

"Lalu apa yang membuatmu sedih? Apakah karena Al?"

"Ya..." kataku, cepat. Al bisa dijadikan alasan, meskipun tidak sebanding dengan kesedihanku untuk Scorpius. "Aku sedih karena Al tidak bicara denganku... aku akan membujuknya lagi setelah kami tiba di Hogwarts."

"Kurasa kalian akan bicara lagi nanti... lama-lama Al bosan juga mendiamkanmu."

"Ku harap begitu."

Kami berhenti bicara ketika lima orang anggota The Weird Sisters telah naik ke panggung dan memainkan alat musik mereka. Seorang dari mereka menyanyikan beberapa lagu hits mereka jaman dulu dengan suara bening dan syahdu. Kami semua menyanyi bersama mereka.

Aku melupakan Scorpius, Al dan segala masalah yang aku hadapi untuk sesaat. Aku menikmati konser ini. Fred, yang bukan penggemar The Weird Sister, telah bergabung bersama-sama cewek-cewek disebelah kiri mereka dan menghabiskan waktu dengan menebarkan pesonanya pada cewek-cewek itu. Aku mendengus dan kembali menikmati konser.

Beberapa orang berdansa bersama mereka saat The Weird Sisiters memainkan musik walts mereka yang terkenal. Musik yang dimaikankan pada pesta dansa natal pada zaman orangtua mereka di Hogwarts. Aku tersenyum memandang pasangan-pasangan yang berdansa. Wow, mereka benar-benar sangat menikmatinya. Dad sangat benci mendengar lagu ini. Menurut Uncle Harry, Dad tidak menyukai lagu ini karena mengingatkannya pada seseorang yang bernama Viktor, pacar pertama Mom.

Aku mendengus tertawa. Wajar saja Dad cemburu, Mom memang sangat cantik. Aku akan sangat senang kalau aku mendapatkan sedikit wajah Mom, seperti Hugo. Aku bukannya menghina wajah Dad, menurutku Dad tampan. Tidak mungkin Mom menyukainya kalau dia tidak tampan. Mom kan penggemar cowok-cowok tampan. Dalam hal ini aku mengikuti selera Mom, aku juga menyukai cowok-cowok tampan.

Aku memandang seorang cowok tampan berambut pirang-putih yang duduk beberapa meter dari kami. Wajahnya sedikit pucat dan dia rasa-rasanya mirip seseorang yang kukenal. Aku memandangnya lagi dan menyadari bahwa dia adalah Scorpius Malfoy. Oh, Merlin! Buat dia tidak melihatku. Aku tidak tahu bahwa Scorpius juga menyukai The Weird Sisters. Aku menutup kepalaku dengan topi ski yang kubawa dan berusaha menyembunyikan diri di kerumunan orang. Tidak! Dia tidak akan melihatku. Disini terlalu banyak orang, tidak mungkin dia melihat aku.

Aku memandangnya diam-diam. Dia sedang berbicara dengan seorang cewek cantik berambut hitam, yang ternyata adalah Iris. Ya, itu Iris. Scorpius sedang menatap Iris dan tertawa pada entah apa yang Iris katakan. Tidak apa-apa! Aku tidak apa-apa, aku tidak akan menangis di sini. Di sini tempat untuk bersenang-senang seperti kata Fred.

Aku membuang muka dan berusaha tidak memandang mereka lagi sampai konser berakhir. Fred membawa aku keluar melewati kerumuanan yang ramai membicarakan konser tersebut. Beberapa orang mengharapkan supaya tahun depan diadakan konser yang sama lagi. Aku dalam hati berharap demikian, asal aku tidak bertemu Scorpius lagi, karena akan merusak suasana hatiku.

Fred, meskipun tidak terlalu menikmati, tampak senang berkenalan dengan cewek-cewek yang duduk disamping mereka dan berhasil mendapakan nama dan alamat cewek-cewek tersebut.

"Kita pulang sekarang?" tanya Fred, setelah kami tiba di luar Dome.

"Sebentar lagi... kita ke taman dulu, yuk! Aku ingin membeli barang-barang koleksi bertandantangan The Weird Sisters."

Kami berjalan ke taman di depan Dome dan menjelajahi kedai-kedai yang menjual barang-barang koleksi. Aku berhasil mendapatkan kaos bertuliskan The Weird Sisters dan kaset lagu terbaru mereka. Fred membeli makanan ringan dan minuman kaleng, dan kami menikmatinya sambil berjalan ke arah kolam berair mancur.

Di pinggir kolam itu banyak pasangan yang sedang bermesraan, bahkan ada yang sedang berciuman. Seharusnya, Fred dan aku tidak ke sini. Aku memandang pasangan yang sedang berciuman itu. Cowoknya berambut pirang-putih dan ceweknya berambut hitam. Aku berdiri terpaku ditempatku. Scorpius dan Iris. Ribuan jarum tajam seolah menusuk jantungku, dadaku sakit dan nafasku sesak oleh isakan yang akan segera keluar dari bibirku. Jangan! Jangan menangis... kau tidak akan bisa berhenti menangis kalau kau menangis sekarang dan dia akan tahu, dia akan tahu bahwa kau terluka. Aku berusaha menahan tangis yang mengancam keluar dan mengerjapkan mataku untuk menghalau airmata.

"Ada apa?"tanya Fred, samar-samar seolah berasal dari jauh.

Scorpius dan Iris sudah berhenti berciuman. Scorpius memalingkan wajahnya dan memandangku kaget. Iris juga terkejut melihatku.

"Hai, Rose!" kata Iris.

"Malfoy? Kukira kau pacaran dengan Rosie kami," kata Fred, memandang Scorpius.

"Tentu saja tidak, Fred! Hai, Iris!" kataku serak. Akhirnya aku bisa mengeluarkan suara juga.

"Aku tidak tahu kalau kau menyukai The Weird Sisters, Rose," kata Iris.

"Mereka favoritku... kami harus segera pergi... silakan melanjutkan, eh, apa yang kalian lakukan... maaf sudah mengganggu," kataku, lalu menyeret Fred pergi dengan tergesa-gesa, setengah berlari.

Aku tidak tahu arah mana yang kuambil yang pasti aku ingin membuat jarak sejauh mungkin dengan mereka, sebelum aku mempermalukan diriku sendiri dengan bertingkah seperti cewek yang sedang cemburu.

"Mau kemana, Rosie?" tanya Fred.

Aku tidak menghiraukannya. Aku baru berhenti berjalan setelah kami tiba di sebuah bangku yang jauh dari air mancur. Aku melemparkan tasku di bangku dan duduk. Capek. Fred duduk di sampingku.

"Apa yang terjadi?" tanya Fred, memandangku. "Kau seperti sedang melarikan diri dari sesuatu."

"Aku tidak ingin bertemu dengan mereka," jawabku. Aku harus mencari alasan logis segera sebelum Fred menduga apa yang sedang terjadi. "Aku, eh... aku malu bertemu mereka."

"Malu? Mengapa?"

"Masalah tanduk itu... Scor... maksudku Malfoy pasti sangat marah."

"Jadi kau benar-benar tidak punya hubungan apa-apa dengannya, Rosie."

"Benar, Fred... aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya."

"Berarti kami harus minta maaf padanya," kata Fred, memandang ke arah air mancur.

"Tidak apa-apa... dia mungkin sudah melupakannya."

"Tidak bisa seperti itu, Rosie... James dan aku memang harus minta maaf... aku akan segera menulis pada James."

"Terserah... Fred, bisakah kau menolongku? Tolong belikan aku minuman di kedai minuman di sebelah sana," kataku, menunjuk kedai yang terletak paling jauh dari tempat kami duduk.

"Kupikir kau baru saja minum, Rosie."

"Tolong, Fred... aku benar-benar haus."

"Baiklah!" kata Fred, lalu berjalan meninggalkan aku.

Setelah kepergian Fred, aku mendesah lega dan membiarkan airmataku jatuh membasahi pipiku. Beban seolah terangkat dari diriku. Aku tahu menangis bisa meringankan perasaanku. Aku bisa menangis sekarang. Tidak akan ada yang melihatku dan tidak akan ada yang bertanya mengapa karena aku tidak bisa menceritakan pada orang lain bahwa aku patah hati.

Aku menghapus airmataku setelah beberapa saat. Aku harus menguatkan diri dan mempersiapkan diri untuk menghadapi Fred. Aku tidak ingin Fred bertanya-tanya ada apa denganku. Aku tidak ingin diinterogasi sekarang. Aku ingin pulang dan tidur. Aku ingin sekali tidur... tubuhku sungguh lelah lahir dan batin.

"Weasley!" kata sebuah suara, yang selama beberapa hari ini menghantui hari-hariku.

Aku menguatkan diri, mengangkat muka dan bertatapan dengan mata abu-abu.

"Oh... hai, Malfoy? Mana Iris?" tanyaku.

Scorpius duduk di sampingku dan aku berusaha untuk tidak bangkit dan pergi jauh-jauh darinya.

"Dia sedang membeli barang-barang koleksi," kata Scorpius.

Dia memandangku, aku berpura-pura tertarik pada orang-orang yang lewat di depan kami.

"Harusnya kau tidak meninggalkan Iris!" kataku, lalu berdiri. "Aku harus pergi mencari Fred."

"Ciuman itu tidak berarti apa-apa untukku," kata Scorpius yang juga sudah berdiri.

Ciuman apa yang tidak berarti? Ciuman malam itu? Saat aku menciummu? Tidak perlu kau katakan aku mengerti, Scorpius. Aku tahu aku tidak berarti apa-apa untukmu. Sejak semula aku mengerti, kita berdua memang tidak akan bisa bersama. Aku saja yang bodoh jatuh cinta padamu.

"Aku mengerti," kataku menyambar tasku dan hendak berjalan meninggalkannya ketika dia menahan lenganku dan memaksaku menatapnya.

Kami bertatapan sesaat. Aku tidak bisa membaca apa yang ada dalam matanya yang berwarna abu-abu itu. Sesuatu seperti kabut gelap telah menutup segalanya, aku tidak bisa mengerti apa yang harus aku lakukan. Segalanya seperti berubah. Tidak sama seperti dulu lagi. Padahal baru beberapa hari yang lalu aku mendorongnya di ember berisi kotoran naga. Saat ini aku sangat ingin dia memelukku.

Aku tidak bisa berlama-lama seperti ini. Bisa-bisa aku memintanya memelukku. Aku menyentakkan tanganku dan berjalan meninggalkannya.

"Hei tunggu, kau tidak mengerti!" kata Scorpius, berusaha mengikutiku.

Aku berlari meninggalkannya. Aku sedang berusaha menghindarinya dan aku harap dia mengerti.

"Jangan mulai lagi! WEASLEY!" Scorpius mengejarku.

Aku tidak ingin tertangkap seperti di Diagon Alley waktu itu. Aku berusaha menyisip di tengah orang-orang yang sedang berbelanja barang-barang koleksi.

"WEASLEY!" aku mendengar teriakannya memanggilku di tengah suara orang-orang yang asyik berbelanja.

Aku menyembunyikan diri di dekat kedai yang menjual kaos-kaos bertuliskan The Weird Sister. Aku tidak melihat Scorpius lagi. Bagus! Aku bernafas lega.

"Weasley! Akhirnya aku menemukanmu," kata Scorpius, bernafas berat di sampingku.

Brengsek! Cowok ini. Tidakkah dia tahu aku ingin menghindarinya?

"Mengapa kau melarikan diri?"

"Harusnya aku yang tanya, mengapa kau mengejarku?"

"Aku hanya ingin bicara denganmu."

"Aku tidak ingin bicara denganmu."

"Mengapa?"

"Tidak ada alasan khusus... kita kan tidak berteman, buat apa bicara?"

"Ada sesuatu yang ingin kusampaikan tentang ciuman itu."

"Aku tidak ingin dengar tentang ciuman yang tidak berarti apa-apa bagimu."

"Benar, tapi..."

"Pergilah!"

"Aku tidak akan pergi sebelum..."

"Scorpius Malfoy, kau orang paling keras kepala yang pernah kukenal."

"Aku bisa mengatakan hal yang sama untukmu," kata Scorpius, tersenyum kecil. "Nah, sebenarnya..."

"BRENGSEK, KUBILANG AKU TIDAK INGIN DENGAR APAPUN YANG KAU KATAKAN!" teriakku dan mendorongnya kuat-kuat, sehingga dia terjatuh menabrak besi yang menggantung kaos-kaos di kedai itu.

Aku mendengus tertawa memandang Scorpius, yang seluruh tubuhnya ditutupi kaos.

"Bagus, Banshee! Kau membuat aku membayar untuk kaos-kaos yang rusak ini," kata Scorpius, bangkit berdiri, menyingkirkan kaos-kaos dari tubuhnya.

"Scorpius, kau tidak apa-apa?" Iris datang, langsung mendekati Scorpius dan memeriksa keadaannya.

Aku mendengus lagi. Silakan memamerkan kemesraan di depanku karena aku tidak peduli. Aku langsung berbalik, pergi meninggalkan pasangan itu. Aku mendengar Iris memanggilku tapi aku tidak peduli. Rasanya saat ini aku menyesal sudah berteman dengannya. Aku tidak bisa berteman dengan orang yang berciuman dengan cowok yang aku cintai. Aku juga merasa jijik pada diriku sendiri karena mencintai cowok yang mencium temanku sendiri. Itu memang bukan salah mereka, Scorpius memang menyukai Iris. Akulah yang menyukainya dengan tiba-tiba. Jadi ini semua adalah salahku. Karena itu, aku harus kembali dari awal. Kembali sebagai Rose Weasley sebelum menjadi Iris Zabini. Rose Weasley yang tidak mengenal Iris, Scorpius dan Alan sebagai pribadi. Hanya mengenal mereka sambil lalu sebagai anak-anak Slytherin. Mulai saat ini, aku tidak ingin berhubungan dengan Slytherin.

Aku mencari Fred dan menemukannya sedang bingung mencariku di dekat bangku yang semula kutinggalkan. Aku minta maaf padanya dan memaksanya untuk segera pulang. Sudah cukup drama dan roman untuk saat ini. Kesedihan juga sudah berakhir. Rose Weasley sudah kembali menjadi Rose Weasley.


Al's POV

"Albus Potter," terdengar suara Rose memanggilku ketika aku memasuki ruang rekreasi Gryffindor di hari Senin pertama setelah liburan.

Aku mengabaikannya.

"Albus Severus Potter! Aku akan memantraimu kalau kau tetap tidak mempedulikan aku."

"Jadi, Rose Weasley, apa yang kau inginkan dariku?" tanyaku, memandangnya dengan tidak sabar.

"Aku ingin kau berhenti bertingkah seperti anak kecil."

"Apa? Bertingkah seperti anak kecil?"

"Benar... kita harus menyelesaikan masalah ini layaknya orang dewasa. Kuharap kau mau mendengarkan aku."

"Aku tidak ingin bicara denganmu, Rose!"

"Mengapa?"

"Kau tahu alasannya."

"Tidak! Karena aku merasa tidak bersalah... bukan aku yang memulai semua ini... kaulah yang menarik kesimpulan sembarangan dari apa yang terjadi."

"Aku rasa apapun yang kulakukan, apapun kesimpulan yang kuambil tidak ada hubungannya denganmu... sekarang kita tidak bisa seperti dulu lagi."

"Kau memang seperti anak kecil, Al... kau senang tidak bicara dengan aku. Kau senang bila aku bukan keluargamu. Begitu? Apakah kau mengira aku akan melakukan perbuatan bodoh dengan menjadi Iris Zabini... apakah kau mengira aku suka tidur di ruang bawah tanah Slytherin... apakah kau mengira aku senang ketika nyaris diperkosa oleh Cazell dan ditinju oleh Malfoy? Apa kau pikir aku senang menghadapi semua itu?"

"Apa?"

"Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kan?"

"Baik... aku akan mendengarkanmu. Ceritakanlah!"

Rose menceritakan tentang Iris yang memantrai Ramuan Polijus-nya dan membuatnya menjadi Iris. Lalu bagaimana dia dimantrai oleh Cazell dan kawan-kawannya di koridor. Kemudian dia nyaris diperkosa oleh Cazell dan ditinju oleh Malfoy. Dia juga harus bertemu dengan orangtua Iris di Hogsmeade.

"Mengapa kau tidak menceritakan padaku sebelumnya?" tanyaku, setelah Rose selesai bercerita.

"Kau yang tidak mau mendengarkan aku."

"Bukan... maksudku mengapa kau tidak menceritakan ini setelah kau menjadi Zabini?"

"Aku tidak ingin kau membenci Iris... aku juga ingin menyelesaikan itu tanpa kehebohan."

"Rose, kau memang seperti itu, ya? Kau tidak ingin aku membantumu... kau ingin menyelesaikan urusanmu sendiri tanpa bantuan."

"Maafkan aku, Al... Harusnya aku memberitahumu, Lily dan Hugo sejak awal. Apakah aku telah menciptakan masalah besar?"

"Benar! Masalah besar, karena aku mengira aku jatuh cinta padamu."

"Apa? Kau jatuh cinta padaku?"

"Tidak! Aku tidak jatuh cinta padamu... aku jatuh cinta pada Iris Zabini yang menjadi dirimu... Tahukah kau Rose, betapa sedihnya aku karena mengira aku jatuh cinta pada sepupuku sendiri."

"Maafkan aku, Al!"

"Tidak apa-apa. Semua sudah berlalu."

"Lalu bagaimana dengan Iris? Pasti dia mengira kau jatuh cinta padaku."

"Memang seperti itu... tetapi, dia bilang dia meyukaiku sejak tahun ketiga ketika aku menolongnya dari Cazell."

"Oh... eh, mungkin saja..." kata Rose, membuang muka.

Aku memandang Rose dengan tajam. Sepertinya Rose sedang menyembunyikan sesuatu.

"Apa yang kau sembunyikan dariku, Rose?"

"Eh, aku..."

"Kau masih ingin menganggapku sebagai sepupumu kan?"

"Baik! Tapi kau tidak boleh memarahi aku karena menceritakan ini padamu. Berjanjilah!"

"Aku janji!"

"Sebenarnya ini tentang Iris dan Malfoy, mereka, eh... mereka..."

"Mereka apa?"

"Mereka berciuman... kukira mereka jadian sekarang..."

"Apa?"

"Aku melihat mereka berciuman saat konser The Weird Sister. Aku sebenarnya tidak ingin menceritakannya padamu karena aku tahu kau menyukai Iris, tapi kau harus tahu apa yang sedang terjadi."

"Benarkah?"

"Tidak mungkin aku berbohong padamu kan? Aku sepupumu dan aku ingin kau bahagia."

Aku memandang Rose untuk melihat apakah dia sedang berbohong atau tidak. Ternyata ini serius. Rose memang tidak sedang berbohong aku tahu itu.

Iris dan Malfoy. Aku memang sudah tahu bahwa Malfoy menyukai Iris, tapi aku berpikir bahwa Iris menyukaiku. Kelihatannya aku yang terlalu percaya diri. Iris pasti menertawakan aku dalam hati.

Iris dan Malfoy adalah pasangan yang sempurna. Pasangan darah murni yang akan langsung disetujui oleh orangtua mereka. Tidak perlu ada pertengkaran keluarga. Semuanya sempurna.

"Al?"

"Apa?"

"Aku tahu... memang sangat menyakitkan kalau... kalau orang yang kau sukai menyukai orang lain. Namun, seperti yang pernah kau katakan padaku, perasaaan tidak bisa dipaksakan."

"Aku tahu, Rose."

"Bagus, kalau kau mengerti Al," kata Rose memandangku dengan prihatin. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"Tidak ada! Aku rasa aku harus bersikap seperti biasa... anggap saja aku tidak pernah menyukainya... anggap saja dia tidak pernah menjadi dirimu... anggap saja semua tidak pernah terjadi."

"Aku setuju, Al... aku juga akan bersikap seperti itu. Bersikap seperti semula... seperti sebelum kejadian ini terjadi."

"Rose, kau memang sepupuku yang terbaik... kita bisa memulai semua dari awal lagi... kita tujuh belas tahun... masih bayak yang bisa kita lakukan dan kita juga masih akan bertemu banyak orang... kita bisa jatuh cinta, putus cinta dan jatuh cinta lagi... masih banyak waktu."

"Benar, Al! Yuk, sarapan!"

Rose dan aku menuju Aula Besar dan duduk di samping Lily dan Hugo yang sudah setengah jalan menghabiskan sarapan mereka.

"Kalian sudah berteman lagi?" tanya Lily, memandang kami dengan bertanya.

"Bagaimana kelihatannya?" tanya Rose, tersenyum.

"Kalau kau tersenyum berarti suasana hatimu sedang bagus. Aku akan menceritakan gosip terbaru," kata Lily.

"Gosip apa?"

"Malfoy dan Iris Zabini... mereka jadian," kata Lily, dramatis.

"Oh..." kata Rose, tidak tertarik.

"Hei! Mengapa kau tidak terkejut, Rose?"

"Aku tahu."

"Kau tahu? Tapi bagaimana? Alan baru saja menceritakan ini padaku, belum ada seorangpun di Hogwarts yang tahu."

"Aku melihat mereka berciuman, Lil."

"Kapan?"

"Saat konser The Weird Sisters... malam sebelum kita kembali ke Hogwarts."

"Oh..." kata Lily, kecewa. Gosipnya sama sekali tidak menarik minat Rose.

"Tapi mereka tidak kelihatan seperti sepasang kekasih," kata Lily, memandang meja Slytherin.

Rose dan aku duduk membelakangi meja Slytherin dan kami tidak berusaha memandang ke sana. Kami sudah berjanji memulai kehidupan kami dari awal, tanpa Slytherin.

"Mungkin mereka tidak bermesraan di depan umum," kata Hugo, bijak.

"Kau benar, Hugo... tampaknya mereka pasangan yang akan bermesraan sambil duduk di ruang rekreasi mereka sendiri," kata Lily.

"Kalian bisa berhenti bicara tentang mereka, tidak?" tanyaku jengkel. Membayangkan Iris dan Malfoy duduk berciuman di ruang rekrasi mereka membuatku jengkel.

"Mengapa kau marah-marah pada kami?" tanya Lily, kesal.

"Aku hanya tidak suka kalian bicara tentang Slytherin di depanku."

"Dengar, Al! Aku tidak ingin kita memulai semester ini dengan membenci Slytherin... pacarku di Slytherin, jadi aku ingin kau bersedia mengerti dan berusaha bertoleransi dengan Slytherin."

"Alan Zabini adalah kasus yang berbeda. Aku tidak keberatan dengannya karena aku menghargaimu."

"Bagaimana dengan Iris Zabini, Rose... kau kan berteman dengannya dan dia Slytherin," kata Hugo, memandang Rose yang menikmati sarapan seolah tidak mendengar apa-apa.

"Point yang bagus, Hugs! Bagaimana, Rose?" sambung Lily.

"Tidak lagi..."

"Tidak lagi apa?"

"Aku tidak lagi berteman dengannya... aku tidak mau terlibat dengannya anak-anak Slytherin lagi. Mereka hanya membuat orang lain menderita."

"APA? Apa maksudmu? Apa yang dilakukan Iris Zabini padamu?"

"Sudahlah Lil, aku tidak ingin bicara tentang mereka," kata Rose, memandangku. "Yuk, Al! Pagi ini Ramuan kan?"

Aku berdiri mengikuti Rose melewati, meja Hufflepuff, Ravenclaw dan Slytherin tanpa memandang siapa-siapa. Kami menuju ruang bawah tanah kelas Ramuan tanpa bicara. Di atas meja kami terdapat beberapa kuali yang berisi Ramuan Cinta proyek semester sebelumnya. Ramuan ini telah selesai dan akan dinilai awal semester ini.

Aku berdiri menghadapi kualiku dan perasaan bahagia memenuhi diriku. Aku bisa membaui gagang sapu baru, ayam panggang dan strawberi... harum rambut Iris. Ya, ampun! Aku sampai membauinya di Ramuan Cintaku. Mulai saat ini aku akan menghindari apapun yang ada hubungannya dengan strawberi.

"Mengapa tampangmu cemberut?" tanya Rose, memandang Ramuan Cintaku dan menghidunya.

"Ramuanmu sudah benar, Al... kilaunya yang seperti karang mutiara, uapnya yang membubung berbentuk spiral yang khas. Lalu aku bisa membaui perkamen baru, kue coklat buatan Grandma Molly dan... dan..."

"Dan apa, Rose?" tanyaku ingin tahu.

"Musk," jawab Rose singkat.

"Siapa? Siapa yang memakai parfum beraroma musk," tanyaku ingin tahu.

"Entahlah... aku pernah membauinya di jubah seseorang," kata Rose sambil berpikir.

"Alan? Kau kan menjadi Iris dan memakai jubah Hogwarts pria, mungkinkah itu Alan, Rose?" tanyaku, memandang Rose dengan kuatir. Aku tidak ingin Rose juga mencintai Alan karena kalau sampai itu terjadi drama besar akan terjadi dalam keluarga.

"Benar! Jubah pinjaman itu, Al... pantas saja aku merasa bahwa harum musk ini sangat familiar."

"Rose... Rose, kau jatuh cinta pada Alan?"

"Bukan Alan... waktu itu aku memakai jubah..."

"Siapa? Bilang padaku, Rose... kita berteman sekarang dan aku tak ingin ada rahasia."

"Scorpius Malfoy," kata Rose, setengah berbisik.

"APA?"

Aku mundur, menatap Rose. Aku terkejut dan setengah tidak percaya. Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Rose tidak boleh jatuh cinta pada Scorpius Malfoy, cowok brengsek itu. Apa yang terjadi pada kami semua? Apakah kutukan Slytherin telah menimpa pada kami semua? Apakah kami tidak mampu menjaga diri kami sendiri setelah yang lain meninggalkan Hogwarts? Lily, aku, lalu Rose... jangan-jangan Hugo juga... Merlin! Buatlah kami mampu menghadapi ini!

"Tidak, Rose... jangan Malfoy! Kurasa Kenneth Davis lebih layak dibaui dalam Ramuan Cintamu," kataku mencoba-coba.

"Seharusnya begitu, Al... tapi Malfoylah yang terjadi... aku sekarang ini sama sepertimu patah hati sebelum mengalami kebahagian cinta."

"Aku tidak ingin kau juga patah hati, Rose," kataku, memandang Rose. "Sejak kapan kau menyukainya?"

"Baru-baru ini, sejak kami berciuman."

"Tapi kau bercerita bahwa dia pernah meninjumu... bagaimana kau bisa menyukainya?"

"Entahlah, Al! Mungkin semua keanehan keluarga kita ada padaku," kata Rose.

Aku memandang Rose, tidak percaya. Rose... Rose... pantas saja kau tidak ingin bicara dengan Iris lagi. Iris dan Malfoy... tinggallah aku dan Rose yang patah hati.

"Aku sedang berusaha untuk melupakannya, Al!" kata Rose lagi.

"Bagaimana?"

"Dengan mencoba untuk berkencan dengan orang lain... mungkin Kenneth Davis. Kau juga harus berkencan, Al... kukira cewek-cewek dalam Albus Potter fanclub bersedia jadi teman kencanmu."

"Albus Potter fanclub... aku belum pernah dengar."

"Sekarang kau mendengarnya... ajaklah salah satu dari mereka."

"Eh, tidak... aku tidak mau kemana-mana diikuti oleh anggota-anggota yang lain... bayangkan, Rose, saat aku sedang berkencan dengan salah satu dari mereka di Three Broomstick misalnya, anggota-anggota lain berkerumun di sekitar kami. No way! Aku menyerah!"

Rose tertawa. Bagus! Inilah tujuanku... Rose harus ceria lagi seperti biasa. Keluarga kami adalah keluarga yang ceria, tidak boleh ada yang bersedih.

"Bagaimana kalau mereka berebutan menciummu, Al... kau harus memakai Topi Pelindung yang dibuat Uncle George," kata Rose, dan aku tertawa bersamanya.

Kami sedang tertawa-tawa ketika anak-anak lain masuk ke dalam kelas Ramuan beberapa detik kemudian. Dari sudut mataku, aku melihat Iris masuk bersama Alan Zabini dan Malfoy. Iris memberikan padangan sekilas pada kami lalu menuju mejanya sendiri. Zabini dan Malfoy mengikutinya dari belakang.

"Hai, Rose!" kata berat cowok.

Davis, dia tersenyum dan berdiri di samping Rose sambil memeriksa Ramuan Cintanya dalam kuali. Rose juga tersenyum.

"Bagaimana liburanmu?" tanya Davis.

"Biasa saja... bagaimana denganmu?"

"Lumayan menarik... kami mengunjungi saudara ibuku di Mesir," jawab Davis. "Brewster akan menilai Ramuan Cinta kita hari ini, ya?"

"Ya... kukira Ramuanmu sudah benar," kata Rose.

"Ya... aku bisa membaui jubah Quidditch, steak dan..."

"Jubah Quidditch... Wuek! Ken, kau membaui jubah Quidditch berkeringat?" kata Rose jijik.

"Bukan yang sudah dipakai... yang masih baru, Rose," kata Davis membela diri.

"Lalu yang terakhir apa?"

"Eh..."

"Ayolah, Ken... bilang padaku," kata Rose memaksa.

"Yah, sesuatu seperti raspberry," kata Davis, wajahnya berubah merah.

"Siapa cewek yang memilik harum raspberry?" tanya Rose.

"Belum tentu cewek, bisa saja cowok," kataku, terkikik. Membayangkan Davis menyukai sesama jenis. Pasti para penggemar akan berlinang airmata.

"Hei, aku cowok normal, Potter," kata Davis, memandangku dengan marah.

"Siapa dia?" tanya Rose.

"Eh, entahlah... aku pernah menbaui wangi ini di kelas Ramalan," kata Davis, mengerutkan kening, berpikir.

"Sybill Trelawney, guru Ramalan," kataku terkikik lebih keras.

"Diam, Al!" kata Rose. "Bisakah kau mengingat cewek yang ada di kelas Ramalan... cewek yang menurutmu menarik?"

"Tidak ada cewek menarik di kelas Ramalan... yang ada hanya tiga cewek Hufflepuff dan dua Gryffindor dan dua Slytherin," kata Davis.

"Tidak ada yang kau sukai di kelas Ramalan? Tapi mengapa kau membauinya di Ramuan cintamu... Mungkin kau belum menyadari bahwa kau menyukainya," kata Rose, ahli analisis.

"Tidak mungkin! Aku... cewek itu..."

"Nah, akhirnya kau mengingatnya... siapa dia?"

"Tidak... aku tidak mungkin menyukai cewek aneh begitu... ini cuma kebetulan... Ramuan cinta tidak bisa dipercaya," kata Davis, mendengus.

"Siapa dia, Ken?"

"Aku tidak akan memberitahumu."

"Baik! Aku pasti akan segera tahu... aku akan bertanya pada semua cewek yang mengikuti kelas Ramalan, siapa di antara mereka yang memakai sampo raspberry."

"Terserah, Rose! Tapi sekarang aku kan sedang berkencan denganmu. Jadi, aku tak peduli."

"Eh... sebenarnya aku..."

"Aku tahu... kau tidak membaui aku di Ramuan Cintamu kan?" tanya Davis.

"Eh, begitulah! Aku minta maaf!"

"Tidak perlu minta maaf, Rose... kurasa kita tetap berteman kan?"

"Terima kasih, Ken... kita akan tetap berteman... dan aku akan mencari tahu siapa cewek yang beraroma raspberry."

"Jangan, Rose!" kata Davis dengan muka merah.

"Baiklah!" kata Rose, tersenyum licik.

Aku yakin Rose akan mencari tahu siapa cewek beraroma raspberry dan dia akan berhasil menemukannya. Pasti. Jadi siap-siap saja, Davis akan menjadi bahan gosip berikutnya.


Iris' POV

Aku memandang Rose, yang sedang duduk bersama Al dan Hugo satu meja di depanku. Saat ini aku sedang berada di perpustakaan mengerjakan esai Ramuanku. Scorpius sedang mencari buku referensi di rak Ramuan. Sedangkan Alan telah menghilang sehabis makan malam, mungkin sedang berada di suatu tempat bersama Lily

Rose terlihat gembira dan sedang berbicara dengan Al, tanpa memandangku. Ada apa ini? Mengapa Rose bahkan tidak melihat padaku? Aku telah mencoba bicara dengannya sehabis kelas Ramuan pagi tadi, tapi dia tidak merespon apapun yang aku katakan. Di kelas Mantra aku duduk di sampingnnya, dia bangun dan memilih duduk di samping Ken. Aku tidak tahu apa yang telah kulakukan hingga membuatnya jengkel. Aku pikir kami berteman. Aku pikir dia menyukaiku dan senang berteman denganku. Ternyata semuanya salah, Rose tidak ingin berteman denganku.

Aku memandang Albus dan mengalami penolakan yang sama. Mengapa? Aku merasakan mataku berkaca-kaca. Mereka pasti telah menyadari bahwa Slytherin sangat tidak berarti. Berteman dengan Slytherin mungkin membuat mereka merasa terkucil dari teman-teman lain. Mungkin seperti itu.

"Hentikan, Iris!" kata Scorpius, meletakkan buku-buku tentang Ramuan di atas meja kami dan duduk di sampingku.

"Apa?"

"Jangan menangis!" kata Scorpius.

"Aku tidak menangis."

"Aku tahu kau akan menangis."

"Benar! Aku sedih, Rose tidak bicara denganku."

"Lupakan dia, Iris... kau tidak bisa memaksa seseorang untuk berteman denganmu."

"Yah, tapi aku tidak tahu apa salahku... aku..."

"Sudahlah! Hentikan bersikap bodoh begitu! Masih banyak anak lain yang mau berteman denganmu, Iris."

"Kau tidak mengerti, Scorpius... Rose adalah orang yang sangat berarti bagiku... dialah yang mengajarkan aku untuk bersikap berani, membuatku merasakan bagaimana memiliki teman... aku bukan apa-apa dulu... tapi setelah aku mengenal Rose segalanya berubah. Dia bukan hanya membantuku, tapi membantu keluargaku juga."

"Kau terlalu memuja-muja Banshee, Iris... dan itu sangat bodoh."

"Kau tidak akan mengerti, Scorpius... Rose adalah segalanya bagiku dan aku akan melakukan apapun untuknya... apapun, asalkan dia mau bicara denganku lagi."

Scorpius mendengus dan memandang perkamennya.

Aku memandang Albus dan melihat Albus sedang menatapku. Dia membuang muka. Airmataku mengancam akan jatuh lagi. Mengapa aku harus mengalami semua ini? Aku tidak melakukan apa-apa yang jahat yang membuat orang benci padaku. Aku juga tidak bersikap sombong atau angkuh yang membuat orang menghindariku. Aku telah bersikap apa adanya aku, tanpa menjadi orang lain. Apakah itu belum cukup untuk membuatku disukai orang? Apakah kalau kau mendapat suatu kebahagian kau harus mengorbankan kebahagian lain? Apakah karena aku mendapatkan orangtuaku kembali, mendapatkan Scorpius, lalu aku harus mengorban Rose dan Albus? Apakah memang seperti itu?

Aku mengangkat sebuah buku besar untuk menutupi wajahku. Aku tidak ingin orang lain melihatku menangis. Aku sangat sedih... kalau kau menyuruhku memilih, aku lebih memilih Rose dan Albus daripada orangtuaku dan Scorpius.

"Iris?"

"Pergilah, Scorpius! Biarkan aku sendiri!" kataku, menghapus airmataku.

"Dengar! Aku tidak akan meninggalkanmu... aku sudah berjanji dan aku akan selalu menepati janji."

"Kau bukan berjanji padaku, Scorpius... pergilah! Kau tidak akan melanggar janji karena kau tidak pernah berjanji apapun padaku."

"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tapi aku benar-benar..."

"Pergilah! Kumohon! Aku ingin sendiri!"

"Iris..."

"Kau akan semakin membuatku sedih kalau kau tidak meninggalkan aku, Scorpius."

"Baik... aku pergi... aku akan menjemputmu jam sebelas nanti."

"Tidak perlu!"

"Aku tidak ingin kejadian dengan Cazell terulang lagi."

"Bukan aku yang mengalaminya... tapi tidak apa-apa, sudah tidak penting lagi sekarang... aku mampu menjaga diriku sendiri."

"Iris..."

"Pergilah!"

Scorpius memandangku beberapa detik sebelum berdiri dan meninggalkanku.

Aku memandang meja di depanku dan melihat Rose, Hugo dan Albus telah meninggalkan meja mereka. Aku menunduk lagi dan menuliskan Cara-Cara Merebus Veritaserum dengan Benar diperkamenku. Dengan mendesah aku membuka-buka buku referensi yang bertebaran di atas meja.

Aku menulis beberapa kalimat dan memutuskan bahwa aku tidak bisa berkonsentrasi karena pikiranku sedang berada di tempat lain. Aku memasukkan perkamenku dalam tas dan berjalan keluar perpustakaan.

Aku tidak takut dengan kegelapan koridor sekarang ini. Aku sudah berusaha untuk berani. Aku memang melihat Cazell dan teman-temannya saat pergantian pejalaran atau saat makan malam, tapi aku tidak takut pada mereka. Mereka juga tampaknya tidak berani untuk mendekatiku lagi.

Ini semua karena Rose. Rose yang membuat mereka takut. Rosselah yang menggantikanku menghadapi Cazell. Rose, terima kasih! Aku berjalan menyusuri koridor dengan airmata membasahi pipiku. Aku merindukan Rose.

"Lalu apa yang kau inginkan?"

Suara Rose? Apakah aku sedang bermimpi atau berkhayal karena sedang memikirkan Rose? Ataukah ada hantu nakal yang bisa membaca pikiran dan sekarang sedang mempermainkan aku. Aku berjalan mendekati sumber suara sampai tiba di koridor yang menghubungkan perpustakaan dan Aula Depan.

Aku segera menyembunyikan diri di ceruk dekat baju zirah, setelah menemukan Rose. Dia sedang berbicara dengan Scorpius. Mereka berdua saling bertatapan dengan wajah marah.

"Kau tahu apa yang kuinginkan, Weasley," kata Scorpius.

"Aku tidak tahu... tolong jelaskan Malfoy, karena aku adalah orang bodoh yang tidak mengerti dengan kalimat-kalimat tersirat yang kau ucapkan."

"Baik! Aku bicara tentang Iris... mengapa kau tidak mau bicara dengannya."

"Bukan urusanmu, Malfoy!"

"Ini adalah urusanku karena Iris adalah orang aku cintai dan aku ingin dia bahagia."

"ORANG YANG KAU CINTAI!" Rose menjerit. "Aku tahu dan aku mengerti, semuanya begitu jelas."

"Tidak jelas bagiku, Weasley! Satu hal yang jelas adalah aku ingin kau bicara dengan Iris lagi."

"Aku tidak bicara dengannya karena aku tidak lagi ingin berteman dengannya... jadi, kuharap dia mengerti dan tidak mendekatiku lagi."

"Mengapa kau tidak ingin berteman dengannya?"

"Itu urusan kusendiri dan aku tidak akan membaginya denganmu... nah, sekarang menyingkir dari hadapanku dan biarkan aku pergi!"

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau berjanji untuk bicara dengan Iris!"

"AKU TIDAK MAU BICARA DENGANNYA! Apakah kalimat itu tidak jelas untuk telingamu yang sedang tersumbat oleh senandung lagu cinta, Malfoy."

"Aku tidak peduli, yang aku pedulikan adalah kebahagiaan, Iris."

"Kalian, anak-anak Slytherin memang suka memaksakan kehendak... suka merancangkan rencana licik untuk mencelakan orang dan tidak menepati janji."

Rose, aku tahu apa yang kau maksudkan dengan rencana licik... kau masih ingat hal jahat yang kulakukan padamu dengan menukar jiwa kita, menbuatmu menjadi aku dan menderita.

"Jangan menghina asramaku, Weasley."

"Mengapa Malfoy? Slytherin memang orang seperti itukan? Dan kau adalah orang yang tidak bisa menepati janji!"

"Diam!"

"Aku tidak akan diam... bagaimana kalau aku menyebutmu Pelahat Maut, Malf... ADUH!"

Scorpius telah mendorong Rose ditembok koridor. Aku menahan nafas. Aku tahu Scorpius bisa jadi sangat marah dan jahat jika ada yang menyinggung perasaannya.

"Minta maaf sekarang, Weasley! Atau aku akan membunuhmu!"

Aku mendengar Rose tertawa kecil, sinis. Rose sama sekali tidak ketakutan.

"Mau membunuhku seperti waktu itu, Malfoy! Atau kau ingin meninjuku... ayo lakukan! Aku tidak akan takut. Aku telah mengalami yang lebih parah dari ini, aku sudah pernah nyaris diperkosa Cazell, kau juga sudah pernah hampir membunuhku dan meninjuku dua kali. Aku tidak keberatan kalau kau melakukannya lagi... keluargaku adalah Gryffindor. Kami pemberani. Atau mungkin belum ada yang pernah menceritakan kisah keberanian keluargaku padamu, Malfoy."

"Aku tidak peduli dengan keberanian keluargamu. Aku hanya ingin kau minta maaf karena kau telah menyebutku Pelahap Maut."

"Tidak... aku tidak akan minta maaf! Karena kalian Slytherin memang seperti itu kan penjahat cilik, penipu, suka mengingkar janji, pelahap maut."

"Protego!" Rose berkata, ketika Scorpius sudah mengayunkan tinjunya. Scorpius terdorong dan terjatuh di lantai karena kuatnya Mantra Pelindung Rose.

"Inilah alasan mengapa aku tidak ingin bicara dengan kalian, Slytherin... kalian adalah orang yang tidak bisa menerima kenyataan tentang apa yang terjadi di masa lalu... kalian hanya mau hidup dalam bayang-bayang dan berpura-pura bahwa masa lalu itu tidak pernah terjadi."

Habis berkata begitu, Rose berjalan pergi meninggalkan Scorpius yang masih tergeletak di lantai.

Aku berjalan mendekati Scorpius dan membantunya berdiri.

"Kau baik-baik saja, Scorpius?" tanyaku, setelah Scorpius berdiri tegak dengan kakinya sendiri.

"Ya, aku baik-baik saja... sejak kapan kau ada disini?"

"Sudah lama..."

"Kau mendengar semuanya?"

"Ya..."

"Aku tidak mengerti apa yang dibicarakan cewek Banshee itu... apakah... apakah dia juga pernah nyaris diperkosa oleh Cazell?"

"Ya... dialah yang nyaris diperkosa Cazell bukan aku."

"Apa?"

"Semua dialami Rose, bukan aku, Scorpius... kau juga bukan berjanji padaku, tapi padanya."

"Aku... aku tidak mengerti," kata Scorpius terkejut dan shock.

Aku menceritakan kisah pertukaran jiwaku pada Scorpius membuatnya berdiri mematung, tidak percaya.

"Jadi wajar saja kalau dia menyebut Slytherin licik... itu adalah aku... aku yang menukar jiwaku dengan jiwanya."

"Aku belum bisa mempercayainya."

"Ya, aku tahu, Scorpius... aku minta maaf! Dan terima kasih telah meminta Rose bicara denganku."

"Jadi, selama ini aku... aku..."

"Ya, kau mungkin jatuh cinta padanya, Scorpius bukan padaku... katakan seperti apa Ramuan Cintamu!"

"Aku... aku membaui gagang sapu, domba panggang dan..."

"Ros, mawar... aku tahu," kataku, tersenyum.

"Ya, ros..." kata Scorpius.

"Itu adalah bunga kesukaan Rose... parfumnya beraroma ros."

"Aku... aku tidak..."

"Cobalah untuk menganalisa perasaanmu, Scorpius, kau mungkin akan mengerti."

Aku berbalik dan berjalan meninggalkan Scorpius yang berdiri bengong di tengah koridor.


Review please!

Riwa Rambu