Disclaimer: JK Rowling
Terima kasih untuk semua yang telah membaca FanFic ini... Putri, Reverie Metherlence, SpiritSky, winey, zean's malfoy: thanks untuk reviewnya; Aleysa GDH n Rama Diggory Malfoy: Harusnya Hogwarts,ya... sori, sedikit salah pengertian. Btw, aku lebih suka dia di Beauxbatons :D
ROSE WEASLEY AND IRIS ZABINI
Rose's POV
Bulan Februari tiba dengan salju yang lebih tebal dan udara dingin yang menusuk tulang. Terima kasih pada para Peri Rumah yang menyediakan sup hangat sebagai hidangan makan malam. Di perpustakan udara lebih dingin karena jendela-jendela besar yang dibiarkan terbuka. Madam Marshall tidak keberatan dengan udara dingin, dia mengatakan bahwa angin dingin dapat menyegarkan buku-buku dan membuat ruangan menjadi segar. Bercanda, ya? Aku selalu berpikir Madam Marshall punya sedikit kelainan dalam hal menjaga buku-bukunya yang berharga. Al dan aku, yang beberapa hari terakhir ini menghabiskan waktu kami di perpustakaan, selalu memantrai udara di sekitar kami agar hangat saat memasuki perpustakaan.
Hogwarts sangat menanti-nantikan datangnya bulan Feburari karena hari Valentine tiba bersama pesta dansa Valentine yang akan diadakan di Hogsmeade. Pesta dansa ini diadakan oleh Madam Puddifoot dan Madam Rosemerta bekerja sama dengan pemilik toko-toko Hogmeade lainnya untuk penggalangan dana bagi Rumah Sakit St. Mungo, juga untuk mempromosi toko-toko mereka. Anak-anak kelas enam dan tujuh diijinkan untuk mengikuti pesta dansa ini, tentu saja dengan kehadiran prefect kelas enam, Ketua Murid dan pengajar-pengajar Hogwarts sebagai pengawas, kalau-kalau ada anak yang melampaui batas karena kebanyakan minum Whisky Api.
Aku memandang teman-teman Gryffindorku yang bergairah menyambut datang hari Valentine. Mereka membicarakan gaun-gaun pesta, yang akan mereka kenakan dan cowok-cowok, yang akan mereka ajak ke pesta dansa.
"Bagaimana kalau aku mengajak, Jordan? Kelihatannya dia belum memiliki pasangan," aku mendengar Suzane berkata pada Amelia pada suatu hari, beberapa hari sebelum pesta dansa.
"Ku dengar dia akan mengajak Turpin, cewek kelas enam Hufflepuff," kata Amelia.
Mereka mulai membandingkan cowok-cowok Hogwarts yang belum memiliki pasangan dan layak diajak ke pesta dansa. Cewek-cewek ini, apakah cuma cowok yang ada dipikiran mereka? Apakah mereka sadar bahwa mereka kelas tujuh dan sebentar lagi akan menghadapi NEWT? Kalau dilihat dari cara mereka membicarakan kehidupan sosial mereka, aku yakin mereka tidak akan peduli kalau aku mengatakan pada mereka bahwa NEWT tinggal lima bulan lagi.
Aku memalingkan kepala dari mereka dan memandang Lily yang duduk merenung di dekat jendela ruang rekreasi. Lily memang suka merenung dan marah-marah sejak masuk bulan Februari ini, kemungkinan besar dia marah karena tidak diijinkan mengikuti pesta dansa Valentine.
"Hei, ada apa?" tanyaku. Aku sebenarnya sudah menduga apa yang menjadi kesedihan Lily, tapi aku tidak boleh menyebutkannya karena itu akan membuat Lily kesal dan marah-marah.
"Alan akan pergi tanpa aku," kata Lily, cemberut.
"Dia mungkin tidak akan ke pesta dansa itu," kataku menghibur Lily.
"Bukankah kalian wajib mengikuti pesta dansa itu?"
"Tidak juga... aku tidak ikut."
"Rose, mengapa? Ini adalah pesta dansa yang paling meriah. Kau harus mengikutinya, Rose... kalau aku tidak diijinkan ikut kau harus pergi untuk menggantikan aku."
"Menggantikanmu? Apa maksudmu?" tanyaku. Aku curiga Lily sedang memikirkan ide aneh yang akan membuatku dalam masalah.
"Kau harus pergi bersama Alan, dan mengawasinya untukku. Aku tidak mau dia pergi ke sana dan berdansa dengan cewek-cewek yang tidak kukenal... kau harus pergi, Rose."
"Tidak, Lil, aku sibuk... belajar... sebentar lagi NEWT."
"Rose, bisakah kau melupakan NEWT untuk saat ini? Ini saat untuk bersenang-senang, Rose."
"Aku tidak bisa melupakan NEWT, Lil, bagaimana kalau aku tidak lulus?"
"Kau akan lulus, Rose, aku yakin... mulai saat ini, aku akan terus memaksamu sampai kau mau pergi bersama Alan ke pesta dansa itu. Aku akan mengatakannya pada Alan."
Lily berdiri dan berjalan keluar ruang ruang rekreasi.
"Apa yang dikatakan Lily, Rose?" tanya Al, duduk disampingku dan melemparkan perkamen Ramuan yang bernilai Poor di atas meja.
"Dia mau aku ke pesta dansa Valentine bersama Alan."
"Lalu? Kau setuju?" tanya Al, mengambil perkamen lain dan mulai menulis ulang esai Ramuannya.
"Tidak... tapi Lily memaksaku, dia tak mau Alan berdansa dengan cewek yang tidak dikenalnya."
"Kukira Lily akan berhasil membujukmu, Rose... kau kan selalu mengalah padanya."
"Aku pikir juga begitu... tapi aku tidak punya gaun," kataku, membayangkan isi lemariku. Aku hanya punya jubah Hogwarts dan pakaian santai. Aku sama sekali tidak mempersiapkan sesuatu untuk pesta dansa ini. Kenyataannya aku tidak berniat pergi.
"Kau bisa menulis pada Aunt Hermione untuk mengirimkan beberapa gaunmu."
"Aku tidak mau merepotkan Mom. Aku akan memakai gaun Lily... dia yang harus mengaturnya untukku karena dia yang memaksaku pergi."
"Gaun Lily terlalu kecil untukmu, Rose," kata Hugo, duduk di sampingku dan memandang Al yang sedang menulis ulang esai sambil mendengus.
"Bagaimana esai Transfigurasimu, sudah selesai? Kemarikan! Aku akan memeriksa ejaannya untukmu."
Hugo mengeluarkan sebuah perkamen panjang dari tasnya dan memberikannya padaku. Aku memeriksanya dan mengetuk beberapa kata yang salah eja dengan tongkat sihir.
"Kau akan kemana dengan memakai gaun Lily?"
"Pesta dansa, Hugs. Lily ingin aku pergi bersama Alan."
"Kau harus meminta Mom mengirim gaunmu, Rose... Mom pasti senang mendengar bahwa kau akan memakai gaun-gaun yang dibelinya."
"Hugs, kau tahu aku membenci gaun-gaun itu."
"Ayolah, Rose! Gaun-gaun itu tidak terlalu buruk... kurasa kau akan terlihat cantik memakainya."
"Benarkah?" aku tidak yakin. Hugo kadang-kadang suka bicara manis.
"Percayalah!"
"Aku akan menulis pada Mom memintanya untuk mengirimkan gaun untukku... dan aku akan membunuhmu, Hugs, kalau anak-anak lain menertawakan aku karena gaun itu."
"Mereka tidak akan menertawaimu... aku akan memantrai mereka kalau mereka menertawakanmu."
Aku mendengus dan menggulung PR Transfigurasi Hugo.
"Bagaimana denganmu, Al?" tanyaku, memandang Al yang masih bertekun dengan esai Ramuannya.
"Aku harus memperbaiki beberapa kalimat lagi. Jangan ganggu aku!" kata Al.
Aku membiarkan Al, mengeluarkan perkamen dari tasku dan mulai menulis surat untuk Mom. Hugo meninggalkan kami, bergabung dengan teman-teman kelas limanya yang sedang duduk memandang Salamander dalam perapian. Salamander adalah binatang sejenis biawak yang tinggal dalam api.
Aku menyelesaikan suratku, menyegelnya, lalu berjalan menuju kandang burung. Kandang burung hantu terletak di menara bagian selatan Hogwarts. Tempat ini merupakan ruangan luas terbuka yang berangin dengan palang-palang kayu kecil yang dipasang sebagai tempat bertenggernya burung hantu.
Di kandang burung hantu ini terdapat burung hantu dari berbagai wilayah dengan jenis yang berbeda-beda. Burung-burung hantu ini tidak semuanya milik sekolah, ada beberapa yang merupakan milik siswa.
Sore itu, burung hantu-burung hantu itu terlihat keluar masuk kandang burung hantu dengan bunyi koak nyaring. Aku mencari Pigwidgeon 2, burung hantuku, di antara burung-burung hantu yang masih bertengger di tempatnya. Pigwidgeon 2 sedang setengah tertidur di tempat bertenggernya di langit-langit sebelah kiri. Aku memberi isyarat padanya untuk turun saat dia memandangku dengan matanya yang bulat berwarna kuning. Pigwidgeon 2 melayang turun hinggap dilenganku, aku mengikat surat Mom di kakinya dan melepasnya terbang.
Setelah Pigwidgeon 2 lenyap di balik Hutan Terlarang, aku melangkah meninggalkan kandang burung hantu. Namun, seseorang berambut hitam masuk. Aku terkejut melihat Iris. Kami berpandangan sekilas.
Dia sudah banyak berubah, tampak lebih dewasa dan lebih memiliki niat. Kedewasaannya ini membuatnya kelihatan lebih cantik dari sebelum. Wajar kalau Scorpius semakin tergila-gila padanya. Kasihan Al, aku tahu, walaupun tidak menyadarinya Al selalu memandang meja Slytherin setiap makan malam. Memang ada hal-hal yang bisa berubah, tapi ada juga beberapa hal yang tetap apa adanya.
Contohnya, aku, aku sama sekali tidak berubah. Aku tetaplah Rose Weasley, dengan rambut merahku dan sikapku yang menurut Lily dan Hugo, terlalu ceria dan aneh. Lily dan Hugo menyebutku aneh, tapi mereka sendiri juga punya kecenderungan untuk kelakukan keanehan. Tidak ada yang wajar dalam keluarga kami. Weasley terkenal karena keanehannya. Aku mendengus.
"Mengapa kau mendengus padaku?" tanya iris, yang sedang membujuk burung hantu berwarna coklat gelap untuk turun ke lengannya.
"Aku bukan mendengus padamu," jawabku singkat, lalu berjalan menuju pintu.
Pintu terbuka lagi sebelum aku mencapainya.
"Iris!"
Scorpius Malfoy masuk, melemparkan pandangan sekilas padaku lalu memandang Iris yang sedang mengikat surat pada kaki burung hantunya.
"Iris, harusnya kau menungguku," kata Scorpius, mendekati Iris, dan membantunya mengikat surat.
Mengikat surat saja perlu bantuan? Kalian sedang memamerkan kemesraan di depanku, ya? Tidak perlu, kok! Aku tahu kalian adalah pasangan paling mesra se-Hogwarts. Aku mendengus lagi dan berjalan menuju pintu.
"Weasley! Tidak perlu mendengus seperti," terdengar suara Scorpius. Nada peringatan tersirat dalam suaranya.
Aku berbalik memandang mereka. "Aku bukan mendengus pada kalian."
"Lalu pada siapa? Pada dirimu sendiri? Kau merasa getir dengan dirimu sendiri kan?"
"Apa? Aku tidak merasa getir dengan diriku sendiri. Mungkin kau yang bersikap seperti itu, Malfoy. Menyesal sekarang karena sudah ditempatkan di Slytherin yang bau?"
"Aku tidak menyesal ditempatkan di Slytherin. Aku merasa bahwa Slytherin adalah asrama paling hebat yang pernah ada. Aku tadi membicarakan dirimu, Weasley... kau yang merasa getir karena tidak ada yang mengajakmu ke pesta dansa, sehingga memerlukan pacar sepupumu sebagai cowok pengganti," kata Scorpius, dengan senyum sadis.
Brengsek! Cowok ini benar-benar keterlaluan! Dia Adalah Cowok Paling Brengsek Dan Bermulut Kasar Se-Hogwarts. Aku sangat heran pada diriku sendiri, mengapa aku bisa menyukai cowok seperti ini. Aku harus memeriksakan diriku di St. Mungo.
"Satu hal lagi, kau seharusnya memperbaiki penampilanmu. Pakailah baju-baju yang menarik dan bicaralah dengan lembut agar cowok-cowok bisa tertarik padamu. Kalau kau tetap bersuara seperti Banshee tidak akan ada cowok yang melirik padamu. Kulihat Davis juga sudah menjauh darimu kan?"
Aku merasakan wajahku panas. Kemarahan sudah hampir ada di permukaan. Kalau pandangan bisa membunuh pastilah Scorpius sudah mati beberapa detik yang lalu.
"Aku tidak menginginkan pendapat apapun darimu, Vampir! Pendapat cowok Slytherin sepertimu sama sekali tidak ada artinya bagiku."
"Tetapi sebagai cowok aku bisa melihat, Banshee! Kau sama sekali tidak punya daya tarik... tidak ada sisi yang menarik dalam dirimu. Kalau dinilai dengan angka daya tarikmu adalah nol besar."
Jahanam! Brengsek! Harusnya cowok ini tidak usah dilahirkan saja. Dengan marah, aku mengibaskan tongkat sihirku dan Scorpius melayang jatuh di jerami, penuh kotoran burung hantu, yang bertumpuk di bawah tempat bertengger burung hantu.
"Scorpius!" Iris menjerit.
Aku memandang mereka sekilas sebelum membanting pintu di belakang mereka. Aku tidak ingin bertemu dengan mereka lagi, kalau bisa untuk selamanya. Aku ingin cepat-cepat meninggalkan Hogwarts dan melupakan semuanya.
Aku berlari cepat menuju Menara Astronomy. Aku mangabaikan anak-anak lain yang memandangku dengan heran saat aku berpapasan dengan mereka di koridor. Setelah membanting pintu di belakangku, aku menyandarkan diri di pintu dan menangis.
Akhir-akhir ini, menangis adalah sesuatu yang sering kulakukan. Tidak di tempat umum, juga tidak di kamarku. Aku tidak ingin ada orang yang tahu aku bersedih. Aku adalah Rose Weasley yang ceria dan dia tidak pernah menangis. Tidak boleh ada yang tahu aku manangisi cowok tidak tahu diri seperti Scorpius Weasley.
Tidak punya daya tarik katanya? Apakah aku memang seperti itu? Benarkah tak ada seorangpun yang mau berkencan denganku? Bukankah waktu kelas lima William Finch-Fletchley pernah suka padaku. Kalau James tidak memantrainya tentu aku sudah jadian dengannya, dan aku mungkin sudah jatuh cinta padanya bukan pada Scorpius Malfoy.
Aku memandang langit yang perlahan-lahan mulai gelap. Dari menara ini, kau bisa melihat seluruh langit tanpa terhalang. Menara Astronomy ini adalah tempat favoritku di Hogwarts. Tempat ini adalah teras terbuka yang langsung menghadap ke langit. Teleskop-teleskop besar berjejer di depan pagar pendek penghalang yang terbuat dari batu.
Aku melangkah mendekati pagar penghalang dan memandang langit. Aku memutuskan untuk tidak peduli dengan apapun yang akan dikatakan Scorpius. Aku akan pergi ke pesta dansa itu, dengan atau tanpa Alan. Aku akan bersenang-senang di sana.
Iris' POV
Aku menjerit ketakutan saat melihat Scorpius melayang ke arah tumpukan jerami. Aku harap Scorpius baik-baik saja. Menurutku ini adalah salah Scorpius sendiri. Kau tidak boleh menyebut seorang cewek tidak punya daya tarik di depannya. Kalau bukan ceweknya menangis, pasti ceweknya akan marah besar. Rose aku masukkan dalam kategori yang kedua. Dia memang sangat marah.
"Scorpius, kau tidak apa-apa?" tanyaku, membantunya berdiri.
"Ya, aku baik-baik saja," jawab Scorpius. Tegak berdiri kemudian berusaha untuk membersihkan dirinya dari jerami dan kotoran burung hantu.
"Mengapa kau mengatakan hal itu padanya?" tanyaku. Aku tahu Scorpius menyukai Rose dan aku heran apakah ada yang mengatakan hal-hal seperti itu pada orang yang disukainya.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa kalau bertemu dengannya," jawab Scorpius sedih.
"Apa?"
"Maksudku, aku bingung... apa yang harus kubicarakan dengan Rose Weasley. Kurasa beginilah caraku berinteraksi dengannya."
"Tidak boleh seperti itu! Kau bisa saja memuji rambutnya, misalnya. Atau kau bisa bilang dia cantik."
"Aku tidak mungkin mengatakan hal itu."
"Kau pernah bilang kau menyukainya, kau bisa mengatakannya lagi."
"Itu karena dia ada di dalam dirimu. Aku tidak tahu harus berkata apa kalau langsung berhadapan dengan Rose Weasley. Semuanya serba membingungkan. Selama ini aku hanya melihat dia sebagai cewek Gryffindor biasa, tiba-tiba kau mengatakan bahwa aku mungkin jatuh cinta padanya dan aku sendiri tidak tahu apa yang kurasakan padanya. Yang aku tahu aku menyukaimu, tapi tiba-tiba kau mengatakan bahwa waktu itu yang jadi dirimu adalah Rose Weasley... aku tidak tahu harus berbuat apa."
"Aku benar-benar minta maaf, Scorpius."
"Sudahlah!"
"Kupikir Ramuan Cinta itu sudah membuktikan bahwa cewek yang kau cintai itu adalah Rose Weasley."
"Ramuan Cinta tidak bisa membuktikan apa-apa, Iris. Banyak cewek yang memakai parfum beraroma mawar."
"Bagaimana dengan ciuman itu?"
"Ciuman yang mana?"
"Ciuman di konser The Weird Sister. Kau tidak merasakan apa-apa saat menciumku. Benarkan? Itu karena kau tidak mencintai aku. Aku juga sama... ciuman itu tidak berarti apa-apa untukku, karena aku tidak mencintaimu."
"Aku tidak ingin membicarakan itu sekarang," kata Scorpius, membuang muka. "Kau akan ke pesta dansa bersamaku kan? Atau kau ingin pergi dengan seseorang?"
"Aku tidak tahu, sepertinya aku tidak ingin pergi ke pesta dansa itu."
"Ayolah, Iris! Aku tidak bisa pergi seorang diri, aku akan terlihat seperti orang bodoh."
"Kau bisa mengajak Rose."
"Tidak! Dia tidak akan mau pergi denganku... kurasa dia membenciku."
Aku memandang Scorpius dan melihat frustrasi di wajahnya. Sebenarnya, dia dapat mengajak cewek siapa saja. Dia tampan. Banyak yang akan bersedia pergi dengannya, tapi ini memang masalah perasaan.
"Baiklah! Aku akan memikirkannya!" kataku akhirnya, aku tidak ingin menambah stress Scorpius.
Setelah aku meyakinkan Scorpius bahwa aku akan menemaninya ke pesta dansa Valentine, kami berjalan keluar kandang burung hantu menuju ruang rekreasi Slytherin. Sambil berjalan aku memikirkan Rose. Apa yang dia lakukan sekarang? Pasti Rose sangat sedih mendengar apa yang dikatakan Scorpius. Aku tentu akan sedih juga kalau ada yang mengatakan padaku bahwa daya tarikku bernilai nol besar.
"Aku harus pergi ke satu tempat, Scorps... sampai nanti!"
Aku berjalan menuju Menara Astronomy. Aku tahu menara itu adalah tempat favorit Rose. Aku sangat berharap Rose ada di sana, karena aku ingin sekali bicara dengannya. Ternyata benar, Rose memang ada di sana. Aku juga benar tentang kesedihan Rose. Dia sedang berdiri di pagar pembatas, menatap langit dengan wajah sedih.
Aku menutup pintu di belakangku tanpa suara dan berjalan pelan-pelan mendekati Rose. Aku tidak ingin mengagetkannya.
"Rose," aku berkata pelan.
Rose memberiku pandangan terkejut dan marah. Dia mengabaikanku dan berjalan menuju pintu hendak meninggalkan menara Astronomy.
"Rose, mengapa kau tidak bicara denganku?" tanyaku. Aku harus tahu... aku benar-benar harus tahu. Aku tidak ingin tidak bicara dengan Rose. Rose adalah satu-satunya temanku.
Rose terus berjalan menuju pintu. Aku menghalangi jalannya. Dia menatapku marah.
"Apa yang kau inginkan, Iris?" tanya Rose.
"Aku ingin kau bicara denganku lagi. aku ingin kita berteman kembali... aku tidak bisa seperti ini. Kau sudah kuanggap sebagai saudaraku, Rose... kumohon, bicaralah denganku!"
Perlahan-lahan wajah Rose berubah sedih. Aku tidak tahu apa yang menyedihkan Rose.
"Rose, aku tahu kau marah karena aku membuatmu menjadi aku... aku pikir masalah itu sudah selesai, aku pikir kau sudah memaafkan aku, tapi kalau kau masih marah, aku minta maaf!"
"Tidak perlu minta maaf, Iris... ini bukan salahmu!"
"Kalau begitu, mengapa? Mengapa kau tidak bicara denganku?"
"Ada sesuatu yang kau lakukan yang membuatku kesal. Jadi, untuk sekarang ini menjauhlah dariku."
"Apa? Apa yang aku lakukan? Katakan padaku, Rose! Aku akan berusaha untuk memperbaiki diri dan menyenangkanmu... aku akan melakukan apapun untukmu, Rose!"
"Jangan bersikap seperti itu!" desis Rose, kembali marah.
"Apa? Mengapa kau marah?"
"Aku tidak suka kau terlalu memujaku, karena aku tidak pantas untuk itu. Aku bukan apa-apa, aku hanya cewek biasa sama sepertimu... dan sekarang ini aku benci semua tentangmu. Aku benar-benar tidak ingin melihat wajahmu yang munafik, menjauhlah dariku atau aku akan memantraimu."
"Aku tidak berwajah munafik... "
"Benarkah? Bagiku kau terlihat munafik, Iris."
"Rose! Kau tahu aku selalu bersikap jujur dengan diriku sendiri dan padamu dan kau tahu semua tentangku, Rose."
"Aku tidak tahu apa-apa tentangmu, Iris... kau tidak pernah bilang padaku bahwa kau berkencan dengan Scorpius Malfoy. Kau tahu apa yang kurasakan saat melihatmu berciuman dengannya. Aku kaget, sedih dan merasa tertipu."
"Aku tidak berkencan dengannya, Rose. Dia sahabatku."
"Sahabat tidak mungkin berciuman, Iris. Penyangkalanmu inilah yang membuatmu terlihat munafik di depanku."
"Dia yang menciumku, Rose, bukan aku... dan aku tidak merasakan apa-apa karena aku menyukai Albus Potter. Kupikir kau tahu itu."
"Kau menyukai ciuman itu, Iris, aku tidak melihat kau berusaha melepaskan diri darinya."
"Tidak! Dengar, Rose! Aku..."
"Hentikan, Iris! Menjauhlah dariku!" kata Rose, lalu berjalan meninggalkan aku.
Aku tetap berdiri terpaku dengan airmata jatuh membasahi pipiku. Aku harus bersikap bagaimana sekarang karena apapun yang kulakukan Rose akan tetap berpikir bahwa aku seorang yang munafik.
Al's POV
Pesta dansa Valentine ini adalah seperti pesta perayaan yang melibatkan banyak orang. Jalan-jalan di Hogsmeade dipenuhi dengan salju dan konfeti merah jambu yang ditebarkan oleh cupid-cupid yang memakai sayap merah jambu yang serasi. Toko-toko juga dihiasi dengan hiasan-hiasan berwarna pink, bahkan pemilik-pemilik toko memakai jubah merah jambu. Mataku sakit melihat pemandangan ini.
Rose memaksaku untuk menemaninya ke pesta dansa ini. Rose terlihat aneh, dia terus berkata bahwa dia akan menemukan cowok yang menyukainya di pesta dansa ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya, aku setuju saja siapa tahu Rose akan meledak marah kalau aku mengatakan hal berbeda.
Lily terlihat sangat senang dan bahagia. Dia tidak cemberut lagi seperti hari-hari terakhir. Mungkin karena Alan Zabini memutuskan untuk tidak ikut pesta dansa ini tanpa Lily. Cowok yang benar-benar setia! Baguslah, karena aku tidak ingin cowok brengsek yang menjadi pacar Lily. Setelah Lily, gantian Rose yang uring-uringan. Aku pikir ini ada hubungannya dengan gaun yang dikirim oleh Aunt Hermione, tapi Rose tidak terlihat tidak senang dengan gaun itu, bahkan sebaliknya dia terlihat bahagia dan berusaha mencari sepatu yang cocok dengan gaunnya di saat-saat terakhir. Mungkin ada hal lain yang menjengkelkannya.
Rose, aku dan anak-anak kelas enam dan tujuh lainnya, berjalan perlahan menghindari konfeti merah jambu menuju tempat pesta dansa diadakan. Pesta dansa diadakan di hall Shrieking Shack, yang telah diperbaharui menjadi ruangan yang cantik dengan hiasan-hiasan berwarna merah jambu dan putih mendominasi ruangan yang dulunya suram itu.
ShriekingShack adalah bangunan bersejarah yang dulunya menjadi markas Voldemort dan Pelahap Mautnya saat menyerang Hogwarts. Di sini juga tempat Severus Snape menemui ajalnya dengan tragis. Bangunan ini sudah diperbaharui secara keseluruhan dan menjadi objek wisata dan hall-nya dijadikan tempat pertemuan atau pesta-pesta yang diadakan penduduk Hogsmeade.
Aku mengambil makanan yang dibawakan oleh pelayan berbaju merah jambu dan membawanya ke meja kami. Rose sedang memandang seluruh hall dengan pandangan penuh minat.
"Kau cari apa?" tanyaku, meletakkan makanannya di atas meja.
"Cowok," jawab Rose kasar.
"Ada apa sih?" tanyaku, jadi jengkel dengan sikap Rose, yang menurutku seperti terobsesi pada cowok.
"Kau tahu apa yang dikatakan Malfoy padaku?"
"Tidak... apa katanya?"
"Dia bilang aku cewek yang tidak memiliki daya tarik... kali ini aku akan membuktikan padanya bahwa aku punya daya tarik, aku akan mendapatkan cowok di pesta ini."
"Sudahlah, Rose! Kurasa Malfoy saja yang berselera rendah... menurutku kau cantik."
"Terima kasih, Al... kau memang yang terbaik."
Pesta Dansa ini ternyata bukan hanya untuk penduduk Hogsmeade saja, aku melihat orang-orang Kementrian, pemain-pemain Quidditch terkenal dan juga anggota The Shadow Men, kelompok band favorit Hugo. Dan banyak alumni Hogwarts yang memanfaatkan kesempatan ini untuk bertemu dengan cewek junior mereka atau sekedar berjumpa dengan junior-junior mereka. Aku melihat Fred bersama seorang cewek pirang, entah siapa, dia belum pernah memperkenalkannya pada kami, juga Dominique dengan pacar Prancis-nya, mereka sedang tertawa-tawa di sudut ruangan sambil menikmati hidangan pesta.
"Rose, itu Dom..." kataku, menunjuk Dominique.
"Biarkan dia... dia akan marah-marah kalau kita mengganggu acara kencannya yang berharga."
Aku mengalihkan pandangan dan melihat Fred datang mendekati kami dengan cewek pirangnya.
"Perkenalkan sepupu-sepupu favoritku, Aggie" kata Fred, setelah tiba di depan kami. "Al, Rose ini Agatha Flume."
Kami bersalaman dengan cewek itu. Aku melihat dia adalah cewek cantik dengan lesung pipit kecil di pipinya yang halus.
"Hai, apa kabar?" katanya, suaranya juga lembut dan merdu. Benar-benar cewek yang punya daya tarik dengan nilai sepuluh!
"Sebentar lagi acara dansa dimulai... carilah pasangan dansa, jangan cuma duduk di sini seperti orang bodoh!" kata Fred lalu melambai dan pergi bersama ceweknya.
"Benar yang dikatakan Fred, Al... yuk, kita cara pasangan dansa!"
"Kau pergilah! Aku tidak berdansa," kataku, memandang sekeliling ruangan mencari kepala berambut hitam. Tidak ada... apakah dia dan Malfoy tidak jadi datang ke pesta dansa ini. Atau aku yang tidak bisa menemukannya di tengah keramaian ini?
Aku berjalan meninggalkan Rose menuju ke luar hall.
"Hei, Al... Al!" aku mendengar Dominique memanggilku.
Aku berbalik dan melihat Dominique melambai padaku. Aku berjalan mendekatinya.
"Hai, Dom!"
"Al, ini cowokku, Jacques Joseph," kata Dominique. "Jacques, ini Al, sepupuku."
"Albus Potter, aku sudah mengenalmu... Dom sering bercerita tentang kalian," kata cowok berambut coklat itu dengan logat Prancis yang kental.
"Oh, hai!" kataku tersenyum.
Aku berbincang-bincang dengan Dominique sesaat tentang pekerjaannya di Kementrian Sihir, kemudian dia menanyakan Rose.
"Dia sedih karena tidak mempunyai pasangan dansa," jawabku santai.
"Anak itu! Dia adalah cewek paling tidak memiliki rasa percaya diri yang pernah kutemui, setelah Uncle Ron, tentu saja. Kalau dia mau dia bisa mendapatkan cowok siapa saja yang dia inginkan, dia sangat menarik."
"Ada yang mengatakan dia tidak memiliki daya tarik."
"Siapa yang bilang begitu?" tanya Dominique marah. "Aku akan memantrai brengsek itu kalau aku bertemu dengannya."
"Entahlah," kataku mengelak.
"Aku harus bertemu dengan Rose sekarang, sebelum dia menenggelamkan diri di danau," kata Dominique. Dia menarik cowok Prancisnya dan berjalan meninggalkanku sambil melambai.
Aku memandang mereka lenyap di antara kerumunan, kemudian berjalan keluar hall dan melihat orang yang sangat ingin kutemui sedang berbicara dengan seseorang di taman buatan yang penuh dengan konfeti pink.
"Kau mau apa?" aku mendengar suara Iris bernada marah.
"Semakin hari, aku perhatikan kau semakin cantik saja, Zabini," suara Cazell. Cowok brengsek ini belum menyerah juga.
"Aku tidak minta pendapatmu, Cazell!"
"Aku senang melihatmu sekarang..." kata Cazell, memandang Iris dengan kurang ajar. Cowok ini belum pernah merasakan tinjuku, ya?
"Aku tidak ingin bicara denganmu," kata Iris, berbalik hendak berjalan meninggalkan Cazell.
Cazell bergerak cepat menahan tangan Iris, merapatkan tubuh Iris ke tubuhnya dan mencoba menciumnya. Iris menjerit jijik dan berusaha melepaskan diri. Aku bergerak maju, namun terlambat, seseorang telah lebih dulu memberikan tinjunya pada Cazell. Cazell terjatuh di tanah bunyi dengan gedebuk keras.
"Kau ini! Apakah yang kemarin belum cukup, Cazell!" tanya Rose, suara terdengar melengking menakutkan.
"Weasley!" kata Cazell, menyentuh rahangnya yang terkena tinju Rose. "Aku tidak punya urusan denganmu."
"Punya, Cazell... kalau kau menyentuh Iris, kau akan berurusan denganku."
"Wah... wah, Weasley! Kau sudah berani berurusan denganku, rupanya."
"Aku tidak takut padamu, Cazell. Masalah kita kemarin belum selesai, aku belum membalasmu. Jadi, kuperingatkan, kalau kau tidak mau dikeluarkan dari Hogwarts menjauhlah dari kami."
"Weasley, aku tidak mengerti maksudmu."
"Menyingkirlah, Cazell!" kata Rose dingin, mencabut tongkat sihirnya dan mengarahkan pada Cazell.
"Hei... hei, OK! Aku pergi!" kata Cazell, bergerak cepat meninggalkan Iris dan Rose.
Rose mendelik pada Cazell dan baru menyimpan tongkat sihirnya setelah Cazell menghilang ke dalam hall.
"Rose," kata Iris setengah berbisik.
"Mana Malfoy?" tanya Rose, memandang berkeliling. "Bukankah dia harusnya menjagamu?"
"Dia sedang pergi mengambil minuman... dan aku sebenarnya bisa melindungi diriku sendiri."
"Ohya? aku tidak melihatmu bisa meloloskan diri dari Cazell tadi."
"Aku sudah akan menyihirnya, tapi kau datang..."
"Sudahlah, tidak usah dibahas... mengapa kau tidak menunggu Malfoy di dalam? Kalau kau sendirian di luar sini cowok-cowok brengsek akan datang menganggumu."
"Scorpius menyuruhku menunggu di sini," kata Iris. "Di dalam terlalu ramai katanya."
"Si Brengsek itu! Terlalu ramai apanya? Dia hanya ingin berduaan denganmu di tempat sepi," kata Rose jengkel.
"Bukan seperti itu, Scorpius..."
"Sudahlah, aku akan mencari Malfoy... kau tunggu di sini... gunakan tongkat sihirmu! Jangan cuma dijadikan hiasan."
Rose berjalan menuju hall, meninggalkan Iris yang memandangnya dengan bingung. Aku bergerak ke arah Iris. Iris terkejut dan mengacungkan tongkat sihirnya padaku.
"Oh, Albus!" katanya, "Kau mengagetkan aku."
Aku mengawasi Iris memasukkan tongkat sihir ke dalam saku mantelnya. Memang benar yang dikatakan Cazell, Iris memang sangat cantik, bahkan saat dia tidak berbuat apa-apa dia tetap cantik.
Aku mengalihkan pandangan dan mendengar musik dansa yang sedang dimainkan di hall, rupanya orang-orang sudah mulai berdansa. Aku memandang Iris lagi, dia sedang memandangku dengan bingung.
"Sedang apa kau disini," tanya Iris.
"Aku sedang mencari udara segar... di dalam terlalu ramai."
"Oh, Scorpius juga berpikir seperti itu tadi."
Scorpius... Scorpius! Apakah dia tidak bisa berhenti menyebut nama itu. Mendengarnya membuat telingaku panas dan darahku mendidih.
"Untuk apa kau menyebut-nyebut Scorpius Malfoy?"
"Eh? Dia datang bersamaku ke mari."
"Aku tidak suka kau menyebut Scorpius Malfoy yang menyebalkan itu."
"Er... baiklah!" kata Iris bingung.
"Nah, kita bisa berdansa sekarang," kataku, menariknya, yang masih kebingungan, ke arahku.
Kami berdansa mengikuti musik yang samar-samar dari hall. Bagiku tidak apa-apa. Aku lebih suka berdansa di taman ini dari pada di hall yang penuh orang. Iris memandangku dengan mata abu-abunya yang bercahaya terpantul cahaya lampu lampu dari hall.
Kalau kau memandangku seperti itu aku akan menciummu disini dan sekarang, tapi aku tidak mau dijadikan sarung tinju oleh Scorpius Malfoy. Aku mengalihkan pandangan memandang pohon-pohonan penuh salju yang disihir sehingga bercahaya, juga cupid-cupid yang beterbangan menuju ke arah kami.
Aku memandang Iris lagi, dan menarik merapat sehingga bisa berbisik ditelinganya.
"Cupid," bisikku.
"Apa?" dia mengangkat wajahnya, memandang ke atas dan wajahnya langsung dipenuhi konfeti merah jambu yang ditebarkan si cupid.
"Aduh!" Iris menjerit kecil, menutup matanya yang terkena konfeti
Kami berhenti berdansa.
"Kau baik-baik saja?" tanyaku, mengangkat wajahnya dan membersihkan konfeti dipipi dan dikeningnya. Iris masih menutup matanya, kemudian mengusap matanya dengan tangan.
"Jangan, nanti iritasi," kataku, menyingkirkan tangannya.
"Mataku... konfeti brengsek itu kena mataku."
Aku tertawa.
"Hei! Tidak lucu!"
"Aku kan sudah bilang cupid, tapi kau tidak peduli dan mengangkat wajahmu," kataku, tertawa lagi.
"Baik! Aku yang salah... bisakah kau berhenti tertawa dan memeriksa mataku?"
Aku membuka matanya pelan-pelan dan memeriksa, mata kiri kemudian mata kanan. Bersih, tidak ada konfeti yang masuk ke matanya. Aku mengambil tongkat sihirku dan menutulkan perlahan di kedua matanya.
"OK! Pelan-pelan buka mata!"
Iris membuka matanya.
"Bagaimana?"
"Aku bisa melihatmu."
"Berarti tidak apa-apa..." kataku.
"Mana cupid-cupid brengsek itu?" tanya Iris, memandang ke atas lagi.
"Sudah menuju ke hall, mungkin sedang menebarkan konfeti ke orang-orang yang berdansa di sana."
"Bagus!" kata Iris, entahlah senang atau marah aku tidak tahu. "Berapa Madam Puddifoot membayar mereka untuk menebarkan konfeti? Aku akan membayar agar mereka menyingkir dan menebarkan konfeti di Hutan Terlarang."
"Kukira mereka tidak dibayar... mereka senang melakukannya."
Iris mendengus, kemudian menyingkirkan sisa konfeti di wajahnya. Aku mengulurkan tangan dan membersihkan konfeti yang berkilau dirambutnya. Kemudian, aku menyentuh pipinya yang sudah bebas konfeti... aku memang ingin menyentuhnya.
Iris menatapku
Aku menundukkan kepala. Aku ingin menciumnya sebentar saja sebelum dia kembali pada Scorpius Malfoy. Iris memejamkan mata. Ini kesempatanku, berarti dia juga ingin aku menciumnya, tapi...
"Iris... Iris!"
Suara vampir Scorpius Malfoy, memecah keheningan malam. Tidak bisa melihat orang lain bahagia, Scorpius Malfoy?
"Scorpius!" kata Iris, menjauh dariku.
"Potter? Apa yang kalian lakukan?"
"Tidak ada," jawabku. Sang kekasih sudah datang, tiba saatnya aku untuk menyingkir.
Tanpa berkata apa-apa aku berjalan meninggalkan mereka. Aku harus pulang sekarang, sudah cukup petualanganku untuk malam ini. Kukira Rose tidak akan kehilangan aku. Dia mungkin sudah menemukan cowok yang bersedia berdansa dengannya.
Scorpius' POV
Aku sedang mengambil minuman ketika lengan jubahku ditarik, ketika berbalik sebuah tinju menghantam wajahku dengan keras. Aku terdorong sedikit. Untung tidak tersiram minuman. Bedebah! Siapa brengsek yang berani menyerang aku? Aku mengangkat muka dan memandang Weasley.
Merlin! Cewek ini benar-benar cantik! Bahkan saat dia sedang marah. Wajahnya bercahaya oleh kemarahan dan matanya berkilau. Bibirnya tertarik sedikit. Aku memandang bibirnya dan membayangkan ciuman membingungkan yang terjadi di kamarnya.
"Malfoy!"
"Apa?" tanyaku, mengalihkan pandangan ke matanya.
"Mengapa kau meninggalkan Iris sendirian di luar?" tanya Weasley. Aku bingung untuk sesaat. Iris? ohya, Iris... apa tadi katanya? Meninggalkan Iris di luar?
"Bukan urusanmu di mana Iris dan aku berkencan, Weasley," kataku.
"Itu urusanku... kalau terjadi apa-apa pada Iris aku akan membunuhmu."
"Apa yang kau katakan?"
"Cazell... kau meninggalkan Iris sendiri di luar agar dia bisa didekati Cazell lagi, begitu, Malfoy?"
"Cazell? Tidak! Cazell tidak mungkin menyakiti Iris lagi," kataku tidak percaya.
"Tidak mungkin kepalamu, Bodoh! Pergilah, lihat saja sendiri! Kau harus lebih hati-hati dalam memilih tempat untuk berkencan, Malfoy, jangan mementingkan diri sendiri."
Aku hanya memandangnya. Apa maksudnya dengan 'jangan mementingkan diri sendiri'? Apakah dia berpikir aku sengaja memilih tempat di luar agar bisa bermesraan dengan Iris? Apakah cewek ini selalu punya pikiran negatif tentang apapun yang aku lakukan?
Weasley masih mendelik padaku. Apakah aku harus keluar sekarang? Ya, dia menyuruhku untuk mencari Iris. Aku berjalan keluar menuju taman buatan mencari Iris
""Iris... Iris!" aku memanggil Iris dan melihatnya bersama Potter.
Suasananya kok aneh? Apakah aku baru saja menghalangi saat-saat romantis? Aku berusaha untuk tidak peduli.
"Scorpius!" kata Iris menjauh dari Potter.
"Potter? Apa yang kalian lakukan?"
"Tidak ada!" jawab Potter, kemudian berjalan meninggalkan kami.
Aku memandang Iris yang memandang Potter dengan bingung dan sedih.
"Maafkan aku! Aku meninggalkanmu... aku bertemu Weasley dan dia bilang kau bertemu Cazell."
"Tidak apa-apa sekarang, Scorpius," kata Iris.
Dengan ngeri aku memandang airmata yang mengalir deras di pipinya. Aku tidak suka melihat cewek menangis.
"Hei... hei, maafkan aku! aku..." kataku bingung. Aku tidak tahu apa yang membuatnya menangis.
"Biarkan aku sendiri, Scorpius," kata Iris, berbalik membelakangiku.
"Hei... apakah Potter menyakitimu?" tanyaku, berdiri di depan Iris. Berusaha mencari tahu apa penyebab kesedihannya.
"Tidak! Aku... aku menyukainya... aku menyayanginya... aku mencintainya... aku ingin bersamanya, tapi aku tidak bisa mengatakannya... aku..."
"Potter? Kau menyukai Potter?" tanyaku, tidak percaya. Harusnya aku tahu, dari dulu Iris hanya menyukai Potter.
"Ya... Albus..."
"Pergilah!"
"Apa?"
"Pergilah, Iris! Kejar dia dan bilang kau menyukainya! Kau tidak boleh memendam perasaanmu karena itu hanya akan membuatmu bersedih." kataku. Aku yakin ini adalah hal bagus yang pernah aku lakukan.
"Tapi..."
"Pergilah! Dia belum jauh, kok!"
"Terima kasih, Scorps!" kata Iris, menghapus airmatanya dan berlari ke arah yang diambil Potter.
Aku memandangnya sesaat dan kembali ke hall. Aku tidak sedih atau ingin menangis. Bagiku yang penting semua orang bahagia. Aku tidak suka melihat orang sedih dan menangis. Buat apa bersedih kalau kau bisa melakukan banyak hal yang membuatmu bahagia. Memang perlu keberaniaan, tapi kau akan bahagia juga akhirnya.
Al' POV
Aku berjalan menyusuri jalan Hogsmeade yang bersalju dan berkonfeti. Banyak orang yang berpapasan denganku. Rupanya mereka sedang berbelanja, mempergunakan kesempatan ini untuk membeli barang-barang diskon khusus hari Valentine.
Aku melewati Honeydukes dan melihat seorang gadis kecil berambut hitam sedang merengek meminta permen pada ibunya. Aku teringat gadis lain yang memiliki rambut hitam yang sama dan memiliki mata abu-abu.
"Kau baik-baik saja, Nak?" tanya sang ibu ketika melewatiku.
"Oh, ya... aku baik-baik saja," jawabku terperangah.
"Masuk saja ke dalam... mereka menyediakan permen keluaran terbaru yang sesuai untuk musim seperti ini."
"Oh, terima kasih!" kataku.
Si ibu dan gadis kecil itu berjalan meninggalkan aku. Aku memutuskan untuk mencicipi permen Honeydukes yang dimaksudkan oleh si Ibu.
Permen yang dimaksud adakah permen rasa coklat hangat, yang benar-benar terasa hangat dimulutmu. Aku membeli beberapa dan menuju rak-rak berisi permen-permen murah lain dan mencicipinya. Lumanyan juga, ada permen rasa jahe yang membuat perutmu panas.
Aku memyimpan permenku dan berjalan keluar. Saat itulah aku melihat seorang gadis berambut hitam berlari melewati Honeydukes. Iris? Mau kemana dia? Bukannya dia bersama Malfoy. Aku berjalan cepat mengikutinya, menabrak beberapa orang dan pergi tanpa minta maaf.
Dia terus berlari, aku harus setelah berlari agar tidak kehilangan jejak. Sampai di jalan setapak kecil sepi yang membelok ke Hogwarts dia berhenti. Aku menjaga jarak dan berhenti di pepohonan di pinggir jalan. Aku menunggu beberapa saat, tapi Iris hanya berdiri mematung di tengah jalan bersalju. Apa yang dilakukannya? Aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia berdiri membelakangiku.
Apakah dia sedang menunggu seseorang? Aku menunggu lagi, tapi dia tidak bergerak. Aku merasa bosan dan berniat kembali ke Hogwarts sebelum aku menjadi patung beku di tengah salju. Biarlah kalau Iris ingin menjadi patung salju, silahkan! Aku bergerak mendekatinya. Aku sudah hampir mencapainya ketika dia berbalik dan memandangku.
Airmata mengalir di pipi dan hidung berair. Lho? Ada apa ini? Kami bertatapan sesaat. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Apa yang sedang ditangisi Iris? Apakah Malfoy meninggalkannya? Aku mulai merasa canggung karena kami hanya berdiri bertatapan di tengah jalan.
"Er... kau ingin kembali ke Hogwarts?" tanyaku. Bingung harus bicara apa.
Iris hanya menatapku dengan mata berair dan mengusap hidungnya dengan tangan.
Aku mendekatinya dan mengambil sapu tangan dari kantong jubahku. Mom memperingatkanku untuk selalu membawa sapu tangan. Mungkin kau akan memerlukannya nanti, begitu kata Mom. Dan sekarang aku memang memerlukannya untuk diberikan pada Iris.
Iris menerima sapu tangan dan menangis lagi. Kali ini dengan isak tertahan seperti orang yang baru saja mengalami kepedihan yang sangat. Lho? Mana ada orang yang tangisnya semakin keras ketika diberi sapu tangan.
Aku tidak tahu harus berbuat apa kecuali menunggu sampai tangisnya reda. Jadi, kami berdua berdiri di tengah jalan bersalju dengan Iris menangis dalam sapu tangan dan aku berdiri mematung seperti orang bodoh.
"Terima kasih," kata Iris, akhirnya. Dia mengusap matanya untuk terakhir kalinya dan membersihkan sapu tanganku dengan tongkat sihir. Lalu memberikan sapu tangan itu padaku.
"Er... untukmu saja... siapa tahu kau memerlukannya lagi."
"Baiklah!" kata Iris dan memasukkan sapu tangan dalam saku mantelnya.
"Apakah... apakah kau baik-baik saja?" tanyaku hati-hati, takut dia menangis lagi.
"Ya, aku baik-baik saja... sebenarnya aku ingin... aku ingin..."
"Apa?" tanyaku, mendorongnya untuk berbicara.
"Er... aku ingin ... aku ingin pulang ke Hogwarts, ya itu, tapi aku takut pulang sendirian."
"Malfoy mana?"
"Malf... er, Scorpius menyuruhku untuk pulang duluan."
"Dia menyuruhmu pulang sendirian?" tanyaku berang. Dasar cowok brengsek! Masa dia membiarkan cewek pulang sendirian.
"Bukan... bukan seperti itu. Aku yang berniat pulang sendiri... aku tidak mau diantar, aku ingin dia bersenang-senang."
"Oh, baiklah! Yuk, kau pulang bersamaku saja."
Iris tersenyum. Cewek memang benar-benar aneh, sebentar menangis, sebentar tersenyum.
Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang menuju Hogwart. Iris berjalan di sampingku terlihat stress seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Kupikir kau sudah tiba di Hogwarts," kata Iris.
"Aku mampir membeli permen di Honeydukes," jawabku.
"Oh..." kata Iris.
Tiba-tiba dia tertawa. Lho? Mulai lagi keanehan, apakah aku mengatakan hal yang lucu?
"Apa yang lucu?" tanyaku.
"Tidak ada..." kata Iris, memandangku sesaat. "Aku senang bisa pulang ke Hogwarts bersamamu."
"Oh... aku juga..." kataku.
Apapun yang membuat Iris senang, pasti akan menyenangkanku juga.
Scorpius' POV
Aku memandang lantai dansa yang sudah mulai kosong. Hanya ada beberapa pasangan yang sedang berdansa. Beberapa orang duduk di bar sambil minum-minum, yang lain mungkin telah menghilang bersama pasangan masing-masing mencari tempat sepi untuk berduaan. Setelah minum Butterbeer beberapa gelas, aku memutuskan untuk kembali ke Hogwarts, karena malam sudah mulai larut dan beberapa pengajar Hogwarts yang hadir juga sudah pulang ke Hogwarts.
Aku mengedarkan pandangan di seluruh hall, mencari wajah yang kukenal untuk bisa kuajak pulang bersama. Mataku terpaut pada Weasley sedang duduk di bar dengan dua botol Whisky Api kosong di depannya. Ya, ampun cewek ini! Dua botol whisky api dan dia menghabiskannya sendiri? Aku ingin mendekatinya, tapi didahului oleh seorang cowok pirang, entah siapa.
"Hai cewek!" kata cowok pirang itu.
"Al? Kemana saja kau?" tanya Rose, saking mabuknya dia tidak mengenal orang.
"Eh?" kata cowok itu terkejut.
"Harusnya kau ada disampingku untuk mencegahku minum-minum... bahkan tidak ada seorangpun yang mengajakku berdansa. Dom berbohong, yang benar adalah Malfoy... aku memang cewek yang tidak memiliki daya tarik."
Aku tertegun mendengar apa yang dikatakan Weasley. Harusnya dia melupakan apapun yang aku katakan karena aku tidak bermaksud begitu saat mengatakan kata-kata itu.
"Hei, aku mengajakmu berdansa sekarang!"
"Keluarga tidak masuk hitungan," kata Rose lagi.
"Aku bukan keluargamu, Love. Siapa namamu?"
"Al, sekarang kau mengatakan aku bukan keluargamu? Kau benar-benar keterlaluan," kata Rose, mencoba memukul si Pirang, tapi terjatuh ke depan ke arah si Pirang.
Si Pirang langsung memeluk Weasley dan hendak membawanya ke lantai dansa. Aku cepat-cepat berdiri di depan mereka.
"Kau memaksa cewekku, Sobat! Bisakah kau melepaskan dia?" kataku pada si Pirang
Si Pirang mendelik memandangku, kemudian memandang Rose yang mabuk.
"Dia cewekmu?"
"Ya, lepaskan dia sekarang, atau kau ingin aku mengutukmu," kataku mengancam, mengeluarkan tongkat sihirku.
"OK... aku melepaskannya," kata si Pirang, melepaskan Weasley dan Weasley langsung terjatuh di tanah.
Aku cepat-cepat menariknya berdiri. Si Pirang mendengus dan meninggalkan kami.
"Weasley? Hei, Weasley, Sadarlah! Aku akan membawamu pulang ke Hogwarts."
"Al, aku memang ingin pulang aku capek," kata Weasley, "Tapi kau harus menggendongku aku tidak bisa berjalan."
"Dengar, Weasley! Aku bukan Albus Potter, aku Scorpius Malfoy."
"Aku tidak suka mendengar nama cowok brengsek itu, Al."
"Aku akan membiarkanmu di sini kalau kau menyebutku cowok brengsek lagi."
"Kau akan membiarkanku di sini, karena aku menyebut Scorpius Malfoy brengsek?"
"Ya..."
"Baik, pergi sana! Aku tidak peduli... kau lebih memilih Malfoy brengsek dari pada aku."
"Hei, jangan menyebut aku brengsek!"
"Mengapa Al? Rupanya, sekarang kau berteman dengan Slytherin, apa yang sudah dilakukan Malfoy brengsek itu padamu."
"Kau masih menyebutku brengsek? Selamat tinggal, Weasley, mudah-mudahan ada Prefeck baik hati yang mau membawamu kembali ke Hogwarts!" kataku lalu berjalan meninggalkan Weasley yang memandangku dengan bingung.
Aku berjalan keluar hall dan melangkah menyusuri jalanan Hogsmeade. Jalanan itu sudah semakin sepi, orang-orang sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Aku melihat beberapa murid Hogwarts berjalan melewatiku. Aku berjalan perlahan sambil melihat apakah salah satu dari prefect-prefect atau ketua murid membawa Weasley bersama mereka.
Tidak ada! Tidak ada satupun yang membawa Weasley bersama mereka. Lho! Jadi cewek itu di mana? Aku berhenti dan menunggu, mengamati orang-orang yang lewat dan tak ada Weasley, tidak ada rambut merah. Aku mulai cemas. Aku berlari cepat kembali ke Shrieking Shack. Di sana orang –orang sudah mulai berkurang, hanya ada beberapa pasangan yang sedang duduk di bangku taman.
Aku masuk ke hall dan memandang sekeliling hall. Tidak ada rambut merah, hanya ada beberapa petugas kebersihan yang membersihkan ruangan dengan tongkat sihir mereka.
"Cari siapa, Nak?" tanya salah satu dari mereka.
"Teman saya, Sir... cewek, rambut merah," jawabku, cepat.
"Tamu-tamu sudah pulang semua, Nak... temanmu mungkin juga sudah pulang."
"Tidak mungkin, Sir... dia tidak melewatiku... aku menunggunya di luar dan dia..."
"Tidak ada siapa-siapa lagi di sini, Nak! Pulanglah! Ini sudah larut malam."
Aku berbalik dan meninggalkan hall.
Tidak mungkin! Weasley tidak mungkin lenyap begitu saja. Aku berjalan menyusuri taman buatan di depan hall. Melewati pasangan-pasangan yang bersembunyi di rerumputan, tapi tak ada... tak ada Weasley. Aku berlari menyusuri jalanan Hogsmeade, memandang toko-toko yang tutup beberapa menit yang lalu, menyusuri jalanan setapak yang menuju ke Hog's Head, tetap saja aku tidak menemukan Weasley.
"WEASLEY! ROSE!" aku menjerit memanggil di tengah kesunyian Hogsmeade.
Sesuatu yang dingin menusuk jantungku. Separuh diriku seperti hilang entah kemana. Aku berlari lagi menyusuri jalan Hogsmeade, aku tidak menemukannya. Apakah seseorang telah membawanya ke suatu tempat?
"ROSE!" aku menjerit lagi, seluruh tenagaku seperti telah hilang.
Aku mencoba untuk ber-apperate dengan memikirkan tempat Rose berada, tapi tidak bisa. Menyerah, aku berbaring di salju, mengatur nafasku. Rose, kalau sesuatu terjadi padamu. Aku akan menyalahkan diriku seumur hidupku. Aku merasakan nafasku sesak dan airmata perlahan jatuh membasahi pipiku. Aku tidak pernah menangis, tapi kali ini aku menangis untuk diriku sendiri. Rose, jangan hilang begitu saja! Aku tahu, aku akan merana dan benar-benar mati kalau aku tidak melihatmu lagi.
"Mr. Malfoy?" tanya sebuah suara di atasku.
Aku membuka mata dan melihat Profesor McGonagall sedang berdiri di atasku.
"Apa yang kau lakukan , berbaring seperti ini di atas salju?" tanya McGonagall.
"Profesor, saya... saya mencari Rose...Weasley... saya takut terjadi apa-apa padanya."
"Tidak mungkin terjadi apa-apa pada Rose Weasley... dia sekarang mungkin sedang tidur di asramanya."
"Anda tidak mengerti, Profesor! Kumohon lakukan sesuatu! Dia mabuk dan dia hilang," kataku, berkeras. McGonagall harus mengerti bahwa Rose... Rose benar-benar hilang.
"Tenangkan dirimu, Mr. Malfoy! Menurutmu apa yang aku lakukan sekarang ini. aku sedang mencari murid-murid yang masih berkeliaran. Jadi, kalau Miss Weasley belum kembali aku pasti akan menemukannya... nah, aku memintamu ssegera kembali ke kastil."
"Saya tidak bisa kembali ke kastil, sebelum saya tahu dia baik-baik saja, Profesor."
"Mr. Malfoy... aku mengharapkan pengertian darimu untuk mematuhi apa yang kukatakan.
Karena kau masih bersekolah di Hogwarts, kau masih berada dibawah perintahku. Aku memerintahkanmu untuk kembali ke Hogwarts sekarang."
Aku memandang McGonagall sesaat. Aku tidak bisa tidak mematuhi perintah langsung ini.
"Kumohon, temukan Rose, Profesor!" kataku.
McGonagall tidak mengatakan apa-apa, hanya memberiku pandangan mengusir.
Aku berbalik dan berjalan menuju Hogwarts, berdoa dalam hati semoga McGonagall bisa menemukan Rose.
Rose's POV
Aku merasa seperti melayang, tulang-tulangku sangat lemah dan kepalaku pusing. Ingin rasanya aku segera tidur, dimana saja yang penting tidur. Al memang benar-benar brengsek, tega-teganya dia meninggalkan aku karena aku menyebut Malfoy brengsek. Apakah dia sudah berteman dengan Malfoy sekarang?
Aku berusaha bangkit, menyeret tubuhku meninggalkan hall. Tidak mungkin aku bisa pulang sendiri ke Hogwarts, terlalu jauh, aku akan tertidur di jalanan, tertutup salju dan mati kedinginan. Aku harus mencari jalan alternatif. Ya, ada... Dedalu Perkasa menghubungkan Shrieking Shack dan Hogwarts. Ya... ya, aku bisa ikut lorong itu. Aku meyeret tubuhku yang berat untuk masuk lebih jauh ke dalam Shrieking Shack dan mencoba untuk mengingat dimana tepatnya pintu untuk masuk ke lorong itu. James atau Fred, aku tidak ingat lagi siapa, pernah mengatakan bahwa pintu ke lorong itu dekat dengan ruang keluarga.
Dengan penerangan tongkat sihirku aku berhasil menemukan ruang keluarga. Ruangan ini sudah direnovasi, sekarang terlihat seperti museum mini. Di sudut ruangan terdapat lemari-lemari kaca yang didalamnya terdapat segala yang hal berhubungan dengan perang Hogwarts; tongkat sihir Voldemort yang telah patah, pisau perak Bellatrix Lestrange, radio kuno yang pernah dimiliki Dad dan segala barang-barang kecil lainnya.
Aku mencoba berjalan perlahan di lantai dan merasakan perbedaan bunyi antara lantai yang memang terpasang langsung di fondasi bangunan dan lantai yang memiliki lorong di baliknya. Biasanya, bunyi lantai yang memiliki lorong dibaliknya berbunyi lebih nyaring dari pada lantai yang langsung dipasang di fondasi bangunan.
Setelah mencari beberapa saat, aku berhasil menemukannya, lantai itu terletak di dekat dinding sebelah kiri. Aku menggunakan Mantra Melayang untuk membuka lantai tersebut dan akhirnya, aku berhasil masuk. Aku menutup kembali pintu tingkat tersebut dan membawa tubuhku yang berat menyusuri lorong yang gelap.
Aku lelah. Pekerjaan mencari pintu lorong tadi benar-benar melelahkan. Dan aku benar-benar ngantuk. Aku tidak bisa membawa tubuhku berjalan lagi.
Aku terbangun oleh rasa sakit yang sangat dikepala dan dipunggungku. Semuanya gelap. Aku berusaha mengerjapkan mata dan menyesuaikan mataku dengan kegelapan. Aku berhenti bernafas sesaat ketakutan menyelimutiku. Di mana aku? Merlin, apa yang terjadi denganku? Aku berusaha mengangkat kepalaku dan bumi seolah berputar, membuatku ingin muntah. Aku berbaring lagi dan meraba-raba sekitarku untuk mencari tongkat sihirku. Aku tidak akan bisa apa-apa tanpa tongkat sihir. Akhirnya jari-jariku menyentuh kayu tipis.
"Lumos!" aku berbisik dan tongkat sihirku langsung bercahaya.
Aku berusaha bangkit lagi dengan mengangkat tongkat sihir agar bisa memandang tempatku berada. Aku ternyata ada di sebuah lorong gelap. Aku belum bisa mengingat mengapa aku bisa ada di lorong ini. Yang aku ingat tentang semalam adalah, aku duduk di bar dan minum sesuatu, entah apa, tapi minuman itu membuat tubuhku hangat dan melayang.
Aku harus keluar dari lorong ini, tapi lorong apa ini? Apakah aku masih di Shrieking Shack atau di Hogwarts. Otakku belum bisa dipakai berpikir untuk saat ini. Yang aku inginkan adalah mandi air panas yang lama dan secangkir coklat hangat serta kue-kue buatan Peri Rumah Hogwarts.
"Arahkan aku!" bisikku pada tongkat sihirku.
Mantra yang baru saja aku gunakan adalah Mantra Empat Penjuru, penemuan Mom yang digunakan Uncle Harry saat memasuki maze ditahun keempatnya. Mantra ini sangat membantuku di saat sulit seperti sekarang ini. Aku harus berterima kasih pada Mom nanti, karena telah memaksaku untuk mempelajari mantra ini. Tongkat sihirku berputar dan menunjuk ke arah utara. Hogwarts terletak di utara berarti aku harus berjalan ke arah kanan untuk kembali ke Hogwarts.
Aku melangkah terseok-seok dalam cahaya samar tongkat sihirku. Kepala dan punggungku yang sakit semakin memperberat langkahku. Aku harus cepat-cepat keluar dari tempat sialan ini, sebelum aku pingsan karena kelaparan.
Seberkas sinar muncul dari depanku. Akhirnya, jalan keluar! Aku mematikan cahaya tongkat sihirku dan merangkak ke arah sinar di depanku. Delalu Perkasa! Jadi, ini adalah lorong yang menghubungkan Shrieking Shack dan Hogwarts. Aku memandang pohon yang meliuk-liuk di tiup angin ini, aku harus bisa melewati pohon pemarah ini untuk bisa keluar. Menurut James, pohon ini memiliki tonjolan yang bisa membuatnya tidak menyerang siapa saja yang mendekatinya.
Aku memperhatikan batang pohon itu dengan seksama dan melihat tonjolan di batangnya, tepat di depanku. Merangkak ke depan, aku menekan tonjolan di batang pohon dan pohon itu langsung berhenti bergerak. Aku merangkak keluar, menegakkan diri dan memandang kastil di kejauhan dengan bahagia.
Aku berjalan pelan menjauhi Dedalu Perkasa, kemudian menyadari bahwa penampilanku pasti sangat mengerikan, karena gaun malam yang kukenakan penuh tanah dan sepatu berhak tinggiku rusak, terkelupas. Aku tahu wajahku pasti benar-benar parah.
Aku berusaha menyingkirkan tanah dari rambutku sambil berjalan menuju pintu depan. Aula Depan sepi, anak-anak lain mungkin sedang sarapan. Bagus! Aku tidak perlu bertemu dengan anak-anak yang akan menertawakanku karena penampilanku yang aneh.
Aku sudah akan menaiki tangga pualam, ketika pintu ruang bawah tanah sebelah kiri terbuka dan seorang cowok yang tidak ingin aku temui di saat penampilanku seperti hantu perempuan yang baru saja mencari tikus di got yang kotor, muncul dari pintu itu. Scorpius Malfoy... mudah-mudahan dia tidak mengenali aku. Aku berusaha memalingkan wajahku dan mengangkat tangan untuk menutupi wajahku dari pandangannya.
Aku tidak mau dia melihatku saat aku benar-benar jelek. Pasti dia akan punya alasan untuk menghina aku.
"Rose?" kata Scorpius berjalan mendekatiku.
APA? Rose? Sejak kapan dia memanggilku Rose? Apakah telingaku sedang tersumbat sesuatu? Atau aku masih ada di lorong dan sedang bermimpi.
Dia menarikku ke pelukannya.
Ya, aku benar-benar masih bermimpi. Seseorang tolong bangunkan kau!
"Dari mana kau?" tanya Scorpius dengan nada marah, setelah melepaskan aku.
Lho! Mengapa jadi marah? Apakah cowok ini sudah sinting atau dia baru saja menelan jus berisi sari kegilaan.
"Jawab aku! Kau membuatku cemas... kau tahu apa yang kau lakukan padaku? Aku mencarimu keliling Hogsmeade dan aku mengira kau sudah... sudah..." dia memberikan kecupan singkat di bibirku.
Apa yang terjadi? Bukankah aku cewek yang tidak punya daya tarik? Mengapa dia jadi seperti ini? Mengapa dia menciumku sekarang saat aku jelek dan kotor, bukannya semalam saat aku sedang cantik dan bersih? Mungkin dia telah meminum Ramuan Cinta yang aku buat dalam pelajaran Ramuan. Aku mengamati Scorpius, yang memandangku dengan pandangan bahagia dan lega, ya, pasti dia telah meminum ramuan itu.
"Er, Malfoy bisakah kau melepaskanku... aku harus ke kamarku, aku harus mandi," kataku berusaha melepaskan diri.
Scorpius memelukku lagi.
"Baiklah! Aku akan menunggumu di Aula Besar!"
"Tidak perlu, Malfoy! Aku mau tidur... aku capek dan lelah... aku bingung... aku tidak tahu apa yang terjadi."
"Kalau begitu aku akan menunggumu saat makan siang."
Lama-lama sikap antiknya ini membuatku marah.
"Dengar, Malfoy! Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu... aku tidak ingin terlibat denganmu, kau terlihat aneh. Jangan menambah beban pikiranku. OK!"
"Rose, aku..."
"Sudahlah! Aku mau ke kamar dan tidak perlu menungguku!"
Aku berjalan menaiki tangga pualam. Di tengan tangga aku berbalik, Scorpius masih berdiri di kaki tangga, menatapku. Aku mengabaikannya dan berjalan terus menuju ruang rekreasi Gryffindor.
"ROSE!" aku langsung dipeluk oleh Lily ketika memasuki ruang rekreasi.
Al dan Hugo berjalan menghampiri kami.
"Rose, kami mencari-carimu... kami sudah akan melaporkanmu ke McGonagall," kata Lily, memandangku. "Apa? Apa yang terjadi padamu?"
"Kemana saja kau, Rose?" tanya Al.
Hugo berdiri memandangku dengan cemas.
"Aku tidak ingat... aku ingat aku minum di bar, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku terbangun di lorong yang menghubungkan Hogwarts dan Shrieking Shack."
"Harusnya kau tidak boleh minum Whisky Api!" kata Hugo.
"Whisky api? Ya, tampaknya begitu... aku benar-benar harus ke kamar dulu..." kataku, lalu berjalan meninggalkan Al, Lily dan Hugo yang memandangku dengan bertanya-tanya. Rupanya masih menginginkan informasi apa yang terjadi semalam, yang aku sendiri tidak ingat. Aku harus berhenti minum Whisky Api.
Review, Please!
Maaf untuk keterlambatan update-nya... akhir-akhir ini sibuk.
Riwa Rambu : D
