Disclaimer: J. K. Rowling
Terima kasih untuk semua yang telah membaca FanFic ini... Putri, SeerNight, zean's malfoy, winey, Reverie Metherlence, shine, Yukko Orizawa: Thanks reviewnya. Rama Diggory Malfoy, Beatrixmalf: Sori, ga bisa bikin sequel n lanjutan Lily/Alan kekurangan ide...
ROSE WEASLEY AND IRIS ZABINI
Rose's POV
Musim semi tiba dengan cepat. Bunga-bungaan liar yang sedang bermekaran di pinggir danau terlihat sangat mempesona. Musim semi adalah musim favoritku. Aku suka melihat bunga-bunga mekar dan rumput-rumput kembali hijau. Di musim seperti ini, aku suka terbang mengelilingi danau di sore hari dan memandangnya dari atas. Semua kelihatan indah.
Tetapi aku tidak bisa menikmati keindahan itu seperti tahun-tahun yang lalu. Tahun ini adalah tahun NEWT. Meskipun sekarang liburan paskah, aku harus duduk di perpustakaan mengerjakan esai-esai yang panjang dan membaca beberapa buku tambahan. Aku juga harus latihan Quidditch di tengah hujan musim semi. Karena ini tahun terakhir kami, Al mewajibkan kami untuk berlatih tanpa henti. Jadi, setiap tiga kali seminggu aku kami harus latihan Quidditch.
Aku memandang esai Sejarah Sihirku, Pengaruh Undang-Undang Anti Setengah Manusia bagi Perkembangan Dunia Sihir. Aku telah menyelesai esai ini dua hari yang lalu, tapi aku belum merasa yakin apakah Profesor Binns setuju dengan apa yang kusampaikan tentang undang-undang yang sangat berat sebelah ini atau tidak. Aku jelas-jelas tidak menyetujui undang-undang yang menurutku hanya akan menguntungkan pihak-pihak pembenci setengah manusia.
Aku menggulung esai Sejarah Sihirku dan menarik keluar sebuah perkamen dan mulai menulis esai Transfigurasiku. Aku menulis Sebab dan Akibat Transfigurasi Manusia yang Salah Kaprah, sebagai judulesai Transfigurasi-ku. Buku-buku referensi bertebaran di depanku dan semuanya terbuka pada halaman-halaman tertentu, yang menurutku penting. Aku lelah, tapi aku harus menyelesaikan esai Transfigurasi ini karena harus dikumpulkan di akhir liburan Paskah.
Titik-titik hujan jatuh membasahi jendela perpustakaan, mengaburkan pandanganku ke luar. Aku bukannya benci hujan, tapi hujan membuat suasana sedikit mencekam, meskipun Perpustakaan ramai oleh anak kelas lima dan kelas tujuh. Aku memandang berkeliling. Scorpius Malfoy sedang duduk membaca di mejanya di sudut dan memandangku dari balik bukunya.
Cowok ini! Apakah dia tidak punya pekerjaan lain selain menguntit aku? Aku tidak tahu apa yang dilakukannya, tapi dia selalu ada di mana-mana dalam jarak pandangku. Setelah kejadian yang membingungkan hari setelah Valentine itu, dia selalu mencari alasan untuk bicara denganku; meminjam pisau perakku di pelajaran Ramuan, membantuku memberi pupuk Tentakula Berbisa dan beberapa hal kecil lainnya. Dia memperlakukan aku seperti invalid yang tidak bisa melakukan apa-apa. Kelakuannya ini mengingatkanku pada apa yang dilakukannya pada saat aku menjadi Iris beberapa bulan yang lalu.
Dia bicara padaku dengan lembut dan mesra, seolah kami adalah sepasang kekasih yang telah lama bersama. Apakah dia sudah mulai menyukai aku? Sepertinya begitu, alasan apa lagi yang aku punya. Aku senang karena dia menyukai aku, tapi aku tidak bisa menerima begitu saja. Menurutku ini sangat aneh, apa yang yang membuatnya menyukai aku? Dia sendiri yang bilang bahwa aku adalah cewek yang memiliki daya tarik nol besar, tidak akan ada cowok yang menyukai aku kalau aku tidak merubah penampilan, dan melembutkan suaraku. Tetapi, aku tidak berubah aku tetaplah seperti aku yang dulu dan dia menyukai aku. Membingunkan!
Untuk saat ini aku tidak ingin memikirkan hal itu. Aku ingin belajar keras tanpa memikirkan orang lain, aku harus mendapat nilai top pada NEWT-ku agar aku bisa menjadi Auror, seperti keinginan Dad. Aku sendiri tidak punya cita-cita. Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan dalam hidupku, aku tidak punya keinginan untuk menjadi apapun. Mungkin ini agak mengherankan karena anak Auror terkenal Ronald Weasley tidak mempunyai ambisi, tapi seperti itulah aku.
"Kau sudah selesai mengerjakan esaimu? Kulihat kau seperti sedang tidak berada di tempat ini," kata Scorpius, dia sudah berjalan ke mejaku dan duduk di sampingku.
"Pergilah, Malfoy!" kataku. Saat ini aku tidak ingin bicara dengannya.
Dia menyandarkan diri di kursinya dan membaca, Transfugurasi Manusia dan Cara-Cara Melakukannya dengan Benar.
Aku mengabaikannya. Inilah yang dilakukan Scorpius dalam beberapa minggu ini. Kalau aku tidak ingin bicara dengannya, dia akan duduk di sampingku dan membiarkanku mengerjakan esai. Setelah itu dia akan mengatarku ke ruang rekreasi Gryffindor, apakah aku mau atau tidak ditemani, dia tidak peduli. Kadang-kadang kami bahkan tidak bicara sama sekali, mengerjakan esai kami seolah-olah tak ada orang lain di samping kami.
Aku memandangnya dan bertanya-tanya apa penyebab perubahan ini. Kalau dia menyukai aku, mengapa dia tidak mengatakannya? Scorpius bukanlah seorang yang menyembunyikan apapun yang dia rasakan. Buktinya, dulu dia selalu mengatakan suka pada Iris tanpa peduli apakah Iris suka padanya atau tidak. Mengapa padaku dia tidak seperti itu? Apakah memang dia tidak menyukai aku? Lalu mengapa akhir-akhir ini dia dekat denganku? Atau dia punya rencana khusus, mungkin dia ingin aku berteman lagi dengan Iris?
Darah panas lansung mengalir ke dalam kedalam setiap nadiku. Ternyata semua ini memang untuk Iris. Mendekati aku agar bisa membujukku untuk berteman lagi dengan Iris. Aku marah... marah pada diriku sendiri dan pada Scorpius yang licik. Aku memang tidak boleh terlalu percaya pada Slytherin, selalu ada rencana licik di apapun yang mereka lakukan.
"Mengapa kau memandangku dengan marah?" tanya Scorpius, meletakkan bukunya di meja dan memandangku.
"Aku bukan marah padamu."
"Lalu pada siapa?"
"Tidak pada siapa-siapa."
"Aku tahu, kau marah pada Iris kan?" tanya Scorpius sok tahu.
Jangan menyebut namanya! Aku tidak suka kau menyebut namanya. Aku mengerjapkan mata. Mengapa cowok ini selalu saja membuatku marah dan ingin menangis?
"Scorpius... Rose!"
Iris datang dengan semangat dan duduk di sampingku. Tuan Putri datang. Itu harus... dia tidak boleh membiarkan pangeran dekat-dekat dengan cewek lain.
"Albus mana?" tanya Iris ceria.
Tuan Putri menanyakan cowok lain? Aku melirik Scorpius. Dia sedang memandangku dan tampangnya biasa saja. Lho? Mengapa pangeran tidak marah-marah? Hello? Dia sedang menanyakan cowok lain, mengapa kau hanya memandangku saja, seperti hanya kita berdua yang ada di perpustakaan ini?
"Ada yang menyebut namaku?" tanya Al, muncul dari celah rak-rak buku. Dia tadi sedang mencari beberapa buku referensi untuk esai Herbologinya.
"Hai, Al," kata Iris ceria.
Albus dan Iris akhir-akhir ini selalu bersama; belajar bersama, di kelas duduk bersama bahkan kadang-kadang Iris makan di meja Gryffindor, kalau Al memintanya. Ini juga bisa dijadikan alasan mengapa sekarang Scorpius mendekatiku, mungkin dia merasa kesepian tanpa Iris yang bersama Al, Alan yang bersama Lily, dan Goyle yang telah jadian dengan cewek kelas enam Slytherin. Aku memandang Scorpius lagi, dia masih memandangku. Bagus, Scropius! Pandang saja aku sampai matamu lelah.
"Iris, kau sudah mengerjakan esai Herbologimu?" tanya Al, duduk di sebelah Iris.
"Sudah! Kau bisa menyalin punyaku kalau kau mau," kata Iris, mengeluarkan esainya dari tas dan memberikannya pada Al.
Aku mendelik pada mereka berdua. Aku tidak setuju dengan contoh-mencontahi.
"Sudahlah, Rose! Biarkan mereka!" kata Scorpius.
"Aku tidak minta pendapatmu, Malfoy!"
"Mengapa kau marah-marah lagi?"
"Sudah kubilang aku bukan marah padamu!"
"Kalau begitu pada siapa?"
"Bukan urusanmu!"
"Bisakah kalian berdua diam!" kata Al. Dia sedang berkonsentrasi menulis (mencontohi) esai Iris.
Aku mendengus.
"Cewek tidak boleh mendengus seperti itu!" kata Scorpius lagi.
"Aku tidak memintamu mengajarkanku sopan santun, Malfoy."
"Dan aku juga mengharapkanmu untuk memelankan suaramu dan bersikap sedikit sopan terhadap orang lain. Cobalah untuk mengahargai perasaan orang lain!"
Apa? Cowok ini! Dia menyebut aku tidak sopan! Lalu... aku tidak menghargai perasaan orang lain?
"Kapan aku tidak menghargai perasaan orang lain, Malfoy?"
"Aku bicara tentang Iris... mengapa kau belum juga bicara dengannya? Dia sudah berterima kasih padamu karena telah menolongnya pada hari Valentine kemarin, tapi kau menganggapnya seolah tidak ada."
Aku memandang Iris yang pura-pura tidak mendengar, menunduk memandang esai-nya.
Jadi memang semua ini untuk Iris, dia memang sangat menyukai Iris. Sungguh ironis! Aku menyukainya, dia menyukai Iris, Iris kelihatannya menyukai Al, dan Al menyukai Iris. Kami terlibat dalam garis hubungan yang tidak jelas.
"Sekali lagi, Malfoy! Bukan urusanmu apapun yang aku lakukan... dan aku tidak peduli dengan kelakuanku yang menurutmu tidak sopan... aku juga tidak akan mengubah cara bicaraku hanya untuk menyenangkanmu."
"Kau memang orang paling keras kepala yang pernah kutemui!"
"DIAM!" teriak Al, membuat anak-anak di beberapa meja lain menoleh memandang kami. "Hentikan kalian berdua! Malfoy, bisakah kau kembali ke mejamu sendiri... dan Rose, kalau kau sudah selesai dengan esaimu kembalilah ke ruang rekreasi."
"Ayo, Rose! Aku akan mengantarmu ke ruang rekreasi Gryffindor," kata Scorpius, menutup bukunya.
"Aku bisa jalan sendiri, Malfoy dan berhentilah bersikap seolah-olah aku tidak bisa melindungi diriku sendiri."
"Aku akan bersikap sesukaku... tidak peduli kau suka atau tidak."
"Kau... kau..."
"Apa?"
"Cukup! Rose, pergilah! Malfoy, aku tidak peduli apapun yang kau lakukan, segeralah menyingkir dari hadapanku sebelum aku memantraimu!"
Aku memasukkan buku-bukuku ke dalam tas dan bergerak cepat meninggalkan meja kami. Aku melihat Scorpius masih berjalan ke mejanya untuk mengambil tasnya. Bagus! Aku berlari kabur dari perpustakaan secepatnya sebelum dikuntit oleh Scorpius.
"Rose! Rose!" aku mendengar Scorpius memanggilku dari belakang.
Aku cepat-cepat berlari dan bersembunyi di dalam lemari sapu terdekat, menunggu dia melewatiku.
"Rose!" suara Scorpius semakin dekat.
Aku mengintip dari lubang kunci dan melihat Scorpius melewatiku.
"Sial! Di mana dia!" kata Scorpius, mengumpat ketika melewatiku.
Setelah beberapa saat, aku keluar dari tempat persembunyianku dan berjalan menuju ruang rekreasi Gryffindor. Di belokan koridor, sebuah tangan telah berada di bahuku dan hidungku membaui harum musk yang sangatku kenal.
"Scorpius Malfoy... cepaskan aku!"
"Aku tahu, aku bersembunyi di lemari sapu," kata Scorpius, tidak melepaskanku, bahkan merapatkan tubuhku ke tubuhnya dan membawaku berjalan.
"Mengapa kau tidak membiarkan aku sendiri?" tanyaku, capek mencoba melepaskan diri darinya.
"Karena aku merasa bahwa aku harus melindungmu... aku takut kau hilang lagi seperti waktu itu."
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Malfoy!" kataku, Scorpius selalu mengatakan hal ini membuatku bingung. Aku merasa bahwa kau tidak pernah membuat diriku hilang.
"Aku bersyukur karena kau tidak mengingatnya."
"Mengapa?"
"Karena waktu itu aku yang meninggalkanku... mulai sekarang aku tidak akan meninggalkanmu, seburuk apapun perkataanmu padaku."
"Benarkah?"
"Ya... aku akan selalu ada bersamamu."
"Baiklah! Bagaimana kalau aku bilang kau adalah Penjahat Licik, Orang yang tidak menepati janji, Slytherin bodoh! Egois! Pelahap Maut!"
Scorpius langsung melepaskanku ketika aku menyebut kata-kata terakhir. Dia memandangku dengan marah. Dia marah lagi! Sial! Harusnya aku tidak menyebut Pelahap Maut!
"Mengapa kau selalu seperti ini, Rose?"
"Apa?"
"Kau selalu berusaha membuat aku membencimu."
"Aku tidak seperti itu... kau yang seperti itu, Malfoy. Kau yang membuat aku membencimu."
"Apa yang kulakukan?"
"Kau selalu mengatai aku jelek, tidak punya daya tarik, bersuara seperti Banshee, tidak sopan..."
"Aku memang mengatakan itu dulu dan aku tidak mengatakan itu lagi sekarang. Aku berusaha untuk dekat denganmu, menjadi temanmu... tapi kau Rose, kau memang ingin aku membencimu kan? kau mengatai aku Pelahap Maut, sedangkan kau tahu aku sangat benci disebut begitu."
Aku mendengar nada kecewa dalam suara Scorpius. Tidak perlu sekecewa itu kan? Aku hanyalah Rose Weasley, cewek biasa-biasa saja dan kau tidak akan rugi kalau tidak berteman denganku.
"Ok, baiklah, aku mengerti kau ingin aku membencimukan? Aku tidak akan bicara denganmu lagi sekarang," kata Scorpius, lalu berjalan pergi meninggalkanku.
"Bagus! Pergilah! Aku memang lebih suka kau menjauh dari kehidupanku, kau mendekatiku agar bisa membujukku baikan dengan Iris kan? Aku tahu itu, Malfoy! Dan aku sama sekali tidak menyesal putus hubungan dengamu."
Scorpius berhenti, berbalik memandangku. "Apakah kau hanya memikirkan semua yang negatif tentang aku, Rose... pernahkah kau berpikir bahwa aku tidak punya motif apa-apa? Aku mendekatimu karena memang ingin bersamamu, ini tidak ada hubungannya dengan Iris."
"Ohya? lalu mengapa kau tadi memintaku untuk bicara dengan Iris?"
"Karena aku tahu kau ingin bicara dengannya lagi... karena aku tahu kau menyayanginya dan dia menyayangimu juga. Tidak ada gunanya saling membenci untuk hal yang tidak jelas!"
"Siapa yang memintamu untuk menganalisa perasaanku, Malfoy?"
"Aku hanya mencoba mengatakan hal yang sebenarnya. Aku ingin membuatmu melihat bahwa kau sebenarnya kesepian dan kau butuh seseorang untuk menemanimu."
"Kau yang kesepian, Malfoy! Karena itulah kau mendekatiku."
"Kau menyimpulkan hal yang salah lagi tentang aku, Rose! Tetapi sekarang tidak apa-apa! Aku sudah memutuskan untuk menjauh darimu."
"Keputusan yang sangat bagus, Malfoy!"
"Selamat tinggal!"
"Selamat tinggal juga!"
Aku berlari menuju ruang rekreasi Gryffindor. Tidak ada waktu untuk menangis. Aku harus belajar dua bulan lagi ujian NEWT dan aku harus lulus, meninggalkan Hogwarts dan melupakan semuanya.
Iris' POV
Scorpius berjalan keluar dari perpustakaan menyusul Rose.
"Mereka berdua sangat manis," kataku, memandang pintu perpustakaan tempat Scorpius baru saja menghilang.
"Siapa?" tanya Albus bingung.
"Scorpius dan Rose... mereka cocok."
"Apa?" tanya Albus bingung memandangku seolah belum pernah melihatku. "Mengapa kau bicara begitu? Bukankah... bukankah kalian berkencan?"
"Tidak! Kami tidak berkencan kok!"
Aku memang tidak pernah berkencan dengan Scorpius. Ciuman yang waktu itu adalah kesalahan. Kami tidak saling mencintai.
"Scorpius adalah sahabatku," kataku tegas.
Aku ingin Albus mengerti, Scorpius tidak berarti apa-apa bagiku. Walaupun Albus tidak menyukai aku, tapi aku menyukainya dan aku akan selalu menyukainya.
"Tapi kau berciuman dengannya."
"Ya, kami memang berciuman, tapi kami tidak berkencan. Dia tidak menyukai aku."
"Lalu mengapa dia menciummu kalau dia tidak menyukaimu?"
"Dia pikir, dia menyukai aku... yang betul adalah dia menyukai Rose... Rose yang pernah menjadi aku telah membuatnya terpesona."
"DIA SUKA ROSE?" teriak Albus saking kagetnya.
Anak-anak disekitar kami terkejut dan memandang kami ingin tahu.
"Shtt... pelankan suaramu!" kataku. "Lihatlah! Sikapnya pada Rose sekarang ini beda kan? Itu karena dia menyukai Rose."
"Rose juga menyukainya karena itulah dia tidak bicara denganmu. Dia pikir kau dan Malfoy jadian dan itu membuatnya cemburu."
"APA!" teriakku. Anak-anak lain memandang kami lagi.
"Mr. Potter, Miss Zabini! Kalau kalian berdua ingin adu teriak, silakan meninggalkan perpustakaan!" kata Madam Marshall yang telah berdiri di belakang kami.
"Maafkan kami, Madam Marshall!" jawab Albus dan aku bersama-sama.
Madam Marshall mendengus, lalu berjalan meninggalkan kami.
"Rose suka Scorpius dan cemburu padaku?" ulangku.
Rose, mengapa kau cemburu untuk hal yang sia-sia. Kupikir kau tahu aku menyukai Albus. Aku tidak pernah menyukai Scorpius. Aku kan pernah bilang bahwa aku tidak menyukai cowok yang pernah menelan cacing. Aku tersenyum.
"Ada yang menyenangkanku?"
"Tentu saja ada, Albus! Scorpius dan Rose... Kalau begitu kita harus memberitahu mereka... aku ingin mereka segera jadian, mereka sangat cocok."
"Jangan!" kata Albus cepat, membuatku terkejut. "Kita tidak boleh melakukan itu. Mereka harus mencari tahu sendiri tentang perasaan masing-masing."
"Tidak! Aku akan mengatakannya pada Rose..." kataku. Apa yang ada dipikiran Albus? Apakah dia tidak ingin Scorpius dan Rose jadian.
"Aku tidak akan mengijinkanmu melakukannya!"
"Mengapa? Kau tidak suka melihat orang lain bahagia, ya?"
"Bukan begitu! Aku hanya tidak ingin melihat mereka dengan begitu mudahnya jadian sementara orang lain bersedih karena cintanya tak terbalas."
"Siapa yang cintanya tak terbalas?"
"Ada saja!"
"Aku tidak peduli orang lain... yang aku pedulikan adalah Rose, aku akan melakukan apapun untuknya dan aku ingin Rose bicara denganku lagi."
"Aku tidak akan bicara denganmu kalau kau berani mengatakan hal ini pada Rose."
"Apa? Mengapa kau begitu jahat? Rose itu sepupumu, Bodoh!"
"Aku tidak peduli," kata Albus dengan tajam.
"Aku tahu kau tidak menyukain Scorpius... kau tidak ingin Scorpius jadian dengan Rose karena kami Slytherin, begitu Albus?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan asrama seseorang. Aku setuju-setuju saja dengan Alan dan Lily, mengapa Rose harus berbeda? Yang aku inginkan adalah agar mereka berusaha untuk mencari cinta mereka sendiri tanpa bantuan orang lain."
"Aku tahu kau tidak ingin mereka jadian karena kau masih menyukai Rose... kau masih mencintai Rose kan, Albus? Meskipun dia adalah sepupumu."
Albus memandangku seolah aku adalah orang yang baru saja kabur dari bangsal cedera mantra permanen di St. Mungo.
"Mengapa kau berfikir bahwa aku menyukai Rose?"
"Kau sendiri yang bilang padaku bahwa kau menyukai Rose. Maksudku saat aku menjadi Rose."
"Waktu itu aku mengatakan suka pada Rose karena kau ada di dalam tubuhnya."
"Apa maksudmu?" tanyaku heran. Apakah maksudnya dia menyukai aku? Tapi aku harus tahu aku tidak boleh merasa senang dulu.
"Sebenarnya aku tidak menyukai Rose. Aku su..."
"Cukup pembicaraan di sana!" kata Madam Marshall, mendekati kami lagi. "Kalian berdua cepat tinggalkan perpustakaan ini!"
Sial! Perempuan ini tidak bisa melihat orang lain bahagia, hah? Jadi, apa tadi yang ingin dikatakan Albus. Aku su... Apa? Aku sukar mengerti? Atau aku sudah lelah? Atau aku suka mangga, pisang, jambu. Hahaha! Kok kedengarannya tidak nyambung! Aku menggelengkan kepala, memasukkan bukuku dalam tas dan menyusul Albus keluar diikuti oleh pandangan marah Madam Marshall.
"Tadi kita bicara apa, ya?" tanyaku, saat kami sedang berjalan di koridor. Aku ingin Albus mengulang kembali apa yang dia katakan tadi.
"Lupakan yang tadi!" kata Albus. "Aku tidak ingin kau mengatakan pada Rose tentang Malfoy."
"Aku harus mengatakannya Albus... aku ingin Rose, bicara lagi denganku."
"Kalau begitu aku tidak akan bicara denganmu lagi. Persahabatan kita cukup sampai di sini."
"Albus, kumohon! Cobalah untuk mengerti, aku kesepian tanpa Rose... aku ingin Rose kadi temanku lagi."
"Terserah padamu... kau harus memilih aku atau Rose!"
Apa? Albus, kau benar-benar keterlaluan kau tahu aku tidak mungkin memilih antara kalian berdua karena aku menyukaimu, tapi aku juga menyukai Rose. Mengapa kau sama sekali tidak mengerti perasaanku?
"Maafkan aku, Albus!"
"Jadi kau memilih Rose?"
"Ya, dia adalah sahabat aku... aku memilih sahabatku..."
"Kalau begitu, selamat tinggal, Iris..." kata Albus, lalu berjalan meninggalkanku.
Hidup memang adalah pilihan. Kau harus memilih salah satu dan meninggalkan yang lain. Selamat tinggal, Albus! Memang aku harus melupakanmu, seperti rencana semula. Aku harus belajar giat, jadi seorang Pemunah Kutukan dan meninggalkan Inggris untuk selamanya.
Keesokan harinya aku mencari Rose diantara anak-anak yang sedang sarapan, tapi aku tidak menemukan Rose. Aku hanya melihat Albus, Lily dan Hugo sedang sarapan dan tidak saling bicara. Mungkin karena beratnya tekanan PR dan belajar membuat mereka semua telah untuk saling bicara. Hari ini memang adalah hari pertama setelah liburan Paskah. Ujian sudah di depan mata dan anak-anak kelas Lima dan kelas tujuh memang sedang stress karena ujian.
Aku hanya ingin bicara dengan Rose. Aku harus bicara dengan Rose sebelum ujian. Aku ingin mengikuti ujian dengan tenang tanpa ada beban yang menghimpit dadaku. Aku memang peduli pada Albus, tapi Rose lebih penting. Aku bahkan tidak peduli pada Scorpius yang bertampang suram, duduk di depanku sambil memandang buburnya tanpa minat. Semua orang memang sedang stress ujian.
Tetapi di mana, Rose? Apakah dia masih tidur? Sakit atau... menara Astronomy. Mungkin di sana? Aku harus membuat Rose bicara denganku... harus!
Aku berlari keluar Aula Besar menuju menara Astronomy. Ternyata benar! Rose ada di sini. Berdiri memandang awan-awan kelabu. Semilir angin musim semi membuat rambut merahnya berantakan, tapi tampaknya Rose tidak peduli. Dia seolah tidak berada di sini.
"Rose!" kataku.
Rose tidak memandangku. Aku berjalan dan berdiri di sampingnya.
"Rose, aku... aku dan Scorpius tidak pernah jadian dan ciuman itu... ciuman itu adalah kesalahan... aku ingin kita berteman lagi karena aku tidak bisa belajar dengan tenang sebelum aku minta maaf padamu. Percayalah padaku!"
"Pergilah, Iris!"
"Rose! Aku tidak akan kemana-mana... aku akan tetap disini sampai kau mengerti! Aku dan Scorpius tidak punya hubungan apa-apa... Scorpius suka pada..."
"Iris!" potong Rose cepat. "Aku tidak ingin bicara tentang Scorpius sekarang."
Aku memeluk Rose. Aku harus berdamai dengannya segera. Rose bergerak melepaskan diri, tapi aku tidak melepaskannya.
"Hei.. hei, lepaskan aku!"
"Rose, aku lebih memilihmu dari siapapun," kataku memeluk Rose dengan erat.
"Ok! Ok! Baiklah! Kita berteman lagi... kumohon lepaskan aku, kau mengotori jubahku."
Aku melepaskan Rose dan tersenyum.
"Benarkah?" tanyaku senang.
"Sebenarnya aku juga ingin berdamai denganmu... ujian semakin dekat dan aku tidak ingin meninggalkan Hogwarts dengan masih membencimu. Kalau boleh jujur, kau adalah satu-satunya sahabatku disamping saudara-saudaraku."
"Rose! Aku senang..." kataku memeluk Rose lagi.
Kali ini Rose juga memelukku. Kami melepaskan diri dan tersenyum.
"Nah, mengapa kau tidak bicara dengan Scorpius, Rose?" tanyaku.
"Bisakah kita tidak bicara tentang cowok untuk saat ini? Cowok-cowok bisa membuat kita tidak lulus ujian... sekarang saatnya untuk belajar!"
"Benar, Rose! " kataku senang.
Aku bahagia, seolah musim semi ini telah masuk kedalam hatiku. Semuanya serba indah dan menyejukkan mata.
"Kau ingin ke mana setelah meninggalkan Hogwarts?" tanya Rose, melompat duduk di pagar pembatas.
"Selandia Baru... aku ingin meninggalkan Inggris," jawabku dan duduk di sampingnya.
"Jadi apa?"
"Aku ingin jadi Pemunah Kutukan, aku akan belajar dulu di Selandia Baru."
"Kupikir kau ingin menjadi PembuatTongkat Sihir..." kata Rose, tertawa.
Aku juga tertawa teringat pada saat-saat aku menjadi Rose.
"Apa yang akan kau lakukan setelah meninggalkan Hogwarts, Rose?" tanyaku, setelah kami berhenti tertawa.
"Aku tidak tahu... Dad ingin aku menjadi Auror."
"Kau sendiri, apa yang ingin kau lakukan?"
"Tidak ada," jawab Rose tanpa semangat.
"Bagaimana kalau kita bersama-sama ke Selandia Baru? Kita bisa belajar bersama sebagai Pemunah Kutukan... kalau kau ingin kembali ke Inggris, kau bisa menghubungi Gringgots dan bekerja untuk Gringgots," kataku penuh semangat. Aku akan senang sekali kalau Rose bersama-sama denganku ke Selandia Baru.
"Aku tidak tahu."
"Ayolah, Rose! Kita bisa menyewa kamar dan kita akan mengurus diri kita sendiri tanpa ada yang mengganggu kita soal peraturan. Kita juga bisa berkencan dengan cowok-cowok Selandia Baru dan melupakan cowok-cowok Inggris."
"Tampaknya tidak terlalu meyakinkan," kata Rose berpikir sebentar.
"Rose! Ide ini sangat hebat... bahkan menurutku benar-benar hebat!"
Rose memandangku dengan tidak yakin.
"Rose!"
"Entahlah, Iris!"
"Rose!"
"Aku akan memikirkannya."
"Rose!"
"Mungkin Mom dan Dad tidak akan mengijinkannya."
"Rose!"
"Baiklah! Ok!"
"Hore! I love you, Rose!" jeritku senang dan memeluk Rose lagi.
Al' POV
Semua orang sedang sibuk belajar. Ujian sudah semakin dekat dan perpustakaan penuh dengan anak-anak yang belajar. Aku memandang Iris dan Rose yang sedang sibuk menulis di sudut. Rose tidak bicara denganku karena kekalahan yang memalukan pada pertandingan Quidditch minggu lalu. Malfoy dan tim Slytherinnya berhasil mengalahkan tim Gryffindor. Entah mengapa, kemenangan Malfoy ini membuat Rose sangat jengkel dan tidak bicara denganku.
Dia dan Iris telah berteman kembali. Akhir-akhir ini aku sering melihat mereka belajar bersama dan kadang-kadang keduanya menghilang entah kemana. Rupanya Iris telah mengatakan tentang Scorpius pada Rose. Hal ini membuatku sangat marah. Mengapa Iris sangat peduli pada kebahagiaan orang lain sedangkan kebahagiaannya sendiri tidak dipedulikan. Dia bahkan tidak bisa melihat bahwa aku sangat menyukainya.
Aku memandang Malfoy yang sedang duduk bersama Lily dan Alan di meja lain. Malfoy terlihat stress. Harusnya dia bahagia kan? Dia baru saja memenangkan piala Quidditch. Aku mengikuti arah mandang Malfoy dan menyadari bahwa dia sedang memandang Rose. Apakah dia belum tahu kalau Rose juga menyukainya? Kalau dilihat dari sikap dan tingkah lakunya, sepertinya dia belum tahu. Rose terlihat sibuk menulis. Dia bahkan tidak menyadari Malfoy memandangnya seolah ingin menelannya.
Aku mendengus. Aku tidak setuju Rose bersama Malfoy. Cukup Lily saja yang bersama cowok Slytherin. Bahkan aku berharap semoga Lily dan Alan segera putus. Apakah aku jahat? Rasanya memang begitu. Aku memandang Malfoy lagi dan berniat mengutuknya kalau dia masih memandang Rose. Malfoy sudah berdiri dari kursi dan berjalan ke luar perpustakaan. Aku memasukkan buku-bukuku dan segera menyusul Malfoy.
"Malfoy!" panggilku setelah kami tiba di koridor luar.
Malfoy berbalik memandangku.
"Ada apa, Potter?"
"Aku tidak ingin kau memandang Rose seperti tadi."
"Apa? Apa yang kau bicarakan?" tanya Malfoy bingung.
"Aku melihatmu, Malfoy!"
Malfoy memandangku sesaat dan akhirnya mengerti. "Aku tidak peduli... aku akan memandang Rose sesuka aku."
"Aku tidak mengijinkanmu dekat-dekat dengan Rose."
"Ohya? Aku akan dekat-dekat dengannya semau aku, Potter!"
"Rose membencimu!" kataku berbohong.
"Kau pikir aku peduli, Potter? Aku tidak peduli... yang aku pedulikan adalah aku menyukainya... aku bahkan mencintainya dan aku tidak memerlukan ijinmu..."
Bukk! Aku meninjunya tepat di rahang. "Itu karena kau berani mencintai, Rosie kami."
Malfoy terhuyung. Berdiri tegak lagi, dia bergerak dan meninjuku.
Ouch! Sakit! Malfoy sialan! Aku menegakkan diri dan meninjunya. Kami saling menyerang selama beberapa menit sampai kelelahan. Aku duduk bersandar ditembok dengan kepala pusing dan wajah nyeri.
Malfoy duduk di sampingku. Aku perhatikan wajahnya lebam-lebam di mana-mana. Bawah matanya bengkak dan berwarna biru gelap. Aku tahu mungkin wajahku juga seperti itu.
"James Potter mengirimku surat berisi mantra yang membuat kepalaku jadi bertanduk dan Fred Weasley menyiramku dengan Stinksap. Menurutmu apa yang akan aku dapatkan dari sepupunya yang lain?"
Aku tertawa, kemudian meringis karena wajahku terasa nyeri.
"Dom mungkin akan membuat rambutmu berwarna pelangi, itu keahliannya. Lucy akan membuat wajahmu bisulan, Roxy akan mengirimmu kotoran naga. Jadi hati-hatilah kalau ada yang mengirimmu Coklat Kuali bisa saja berisi kotoran naga. Lalu Molly mungkin akan menyuruhmu menghafal silsilah keluarga, Lily akan menyerangmu dengan Kutukan Kepak Kelelawar dan Hugo akan menyuruhmu menjadi kelinci percobaan bagi ramuan buatannya sendiri. Siapa lagi? Ohya, Louis, dia akan menebarkan bubuk gatal di tempat dudukmu."
"Benar-benar mengerikan!"
"Kau belum bertemu Uncle Ron... dia mungkin akan menyihirmu kalau kau berani menginjakkan kaki di depan rumahnya."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Pikirkan sendiri, aku tidak akan membantumu," kataku, memandang Malfoy. "Pergilah ke rumah sakit Malfoy! Wajahmu benar-benar mengerikan."
"Hal yang sama untukmu, Potter! Kurasa wajahku tetap lebih tampan darimu."
"Menyingkirlah, Malfoy! Atau kita akan berduel lagi dengan tongkat sihir?"
"Tidak sekarang! Aku benar-benar lelah..." kata Malfoy berdiri. "Ayolah! Kita ke rumah sakit, Potter!"
"Pergilah, Malfoy! Biarkan aku sendiri!" kataku.
Malfoy berjalan meninggalkanku dengan langkah terseok-seok. Rasakan! Itulah kalau kau berani menyukai Rose! Aku mengambil tongkat sihirku dan berusaha menyembuhkan lukaku, tapi tidak berhasil. Ya, aku memang tidak pernah belajar mantra penyebuhan. Hugo adalah ahlinya.
Aku berusaha bangkit, namun terhuyung. Ternyata aku memang menderita luka-luka yang lebih parah dari Malfoy. Dia masih bisa berdiri dan aku tidak. Aku bersandar kembali ditembok dan memejamkan mata untuk mengurangi rasa pusing di kepalaku.
"Albus!" seru sebuah suara merdu. Aku tidak mendengar langkah kakinya, tapi aku tahu ini Iris dari wangi strawberi di udara.
Dia sudah duduk di sampingku dan memeriksa wajahku.
"Ya ampun, Albus! Kumohon sadarlah!" suaranya terdengar pecah, seakan tangis sudah ada di depan mata.
Aku tidak ingin melihatnya menangis seperti saat di Hogsmeade itu.
"Aku baik-baik saja," kataku, sambil membuka mata.
"Oh, syurkurlah! Siapa? Siapa yang melakukan ini padamu?"
"Tidak ada! Aku bertarung dengan diriku sendiri."
"Bohong, Albus!"
"Terserah! Seharusnya aku tidak perlu menjelaskan apa-apa padamu. Kita tidak berteman lagi, Iris."
Iris memandangku sesaat.
"Pergilah, Iris!"
Iris mengambil tongkat sihirnya dan mencoba menyembuhkan memar di wajahku, tapi tidak berhasil. Airmata mengalir memenuhi matanya.
"Hei.. hei!" kataku. Aku bingung kalau berhadapan dengan cewek menangis.
"Aku memang cewek yang tidak berguna... aku tidak bisa menyembuhkanmu. Aku tidak tahu mantra penyembuhan... harusnya aku mempelajarinya karena aku ingin menjadi Pemunah Kutukan, apa yang kan terjadi kalau aku terluka kena kutukan dan aku tidak mampu menyembuhkan diriku sendiri," kata Iris, airmata semakin banyak dan isakannya semakin keras.
"Ya, ampun! Berhentilah menangis!"
"Aku tahu kau pasti sangat membenciku..."
"Aku tidak membencimu... berhentilah menangis!"
"Benarkah?"
"Ya, aku mencint..."
"Iris! Oh, ya ampun, Al? Apa yang terjadi denganmu?" tanya Rose, baru saja datang dan langsung berjongkok di depanku memperhatikan wajahku.
Terima kasih, Rose! Kau telah menghalangiku, menyatakan perasaanku pada Iris. Aku meringis ketika Rose menyentuh rahangku. Dari sikapnya, kurasa dia sudah memaafkanku karena kalah bertanding Quidditch dengan Slytherin.
"Aku tidak apa-apa, Rose," kataku mengibaskan tangannya.
"Wajahmu parah, Al," kata Rose.
"Kau bisa mantra penyembuh, Rose?" tanya Iris.
"Tidak! Itu keahlian Hugo... kita harus membawanya ke rumah sakit."
Iris dan Rose memapah dan menyeretku menyusuri koridor menuju rumah sakit. Madam Darnsley sudah setengah jalan menyembuhkan Malfoy ketika kami tiba.
"Wah... wah, Mr. Potter! Ada apa ini?" tanya Madam Darnsley, memberi isyarat pada Iris dan Rose untuk mendudukkanku dekat Malfoy.
Aku tidak menjawab.
"Dia bertarung dengan dirinya sendiri," jawab Iris.
"Kelihatannya sama seperti Mr. Malfoy..." kata Madam Darnsley.
Iris dan Rose memandang Malfoy, yang menghidari pandangan mereka.
"Nah, kau boleh pergi, Mr. Malfoy!"
Malfoy menjauh dari tempat tidur dan Madam Darnsley mulai memeriksa memar-memar di wajahku.
"Aku tidak akan memaafkanku kalau kau berani menyakiti sepupuku, Malfoy!" kata Rose, dengan suara dingin.
Iris dan aku terkejut, kelihatannya Madam Darnsley juga karena tubuhnya sedikit terlonjak.
"Sebaliknya, Weasley, dialah yang menyerangku."
"Aku tidak percaya pada orang licik sepertimu, Malfoy!"
"Aku juga tidak ingin kepercayaan dari orang berwajah jelek sepertimu, Weasley!"
"Kau!"
"Apa!"
"Hentikan! Kalian berdua!" kata Madam Darnsley. "Dan aku tidak ingin ada tongkat sihir dicabut di sini. Pergilah, Mr. Malfoy!"
Malfoy berjalan keluar dan membanting pintu di belakangnya.
Rose bernafas berat, lalu memandangku.
"Dia yang memukulmu kan?" tanya Rose.
"Aku yang memukulnya, Rose," jawabku, kemudian meringis ketika Madam Darnsley mengoleskan salep berbau aneh di wajahku.
"Oh!" kata Rose, sedikit bingung.
"Jadi, kami saling memukul... tidak ada yang rugi atau untung."
"Mengapa kau memukulnya?"
"Masalah cowok," jawabku singkat.
"Masalah cowok apa? Katakan padaku, Al!"
"Miss Weasley, kalau kau tidak berhenti bicara aku akan mengusirmu dari sini," kata Madam Darnsley.
"Baik, aku diam," kata Rose mendelik pada Madam Darnsley.
Setelah mengoleskan salep, Madam Darnsley mengayunkan tongkat sihirnya, menyembukankan memar-memar di wajahku.
"Selesai!" katanya. "Kau boleh pergi sekarang!"
Kami berjalan meninggalkan Rumah Sakit.
Aku terkejut melihat Malfoy sedang berdiri di balik pintu menungguku.
Rose mendelik pada Malfoy, Malfoy mengabaikannya.
"Bagaimana?" tanya Malfoy padaku.
"Sempurna," jawabku tidak tahu harus bilang apa.
"Mengapa kalian berkelahi?" tanya Rose, yang tidak akan menyerah sebelum mendapatkan jawaban jelas tentang apa yang terjadi di depannya.
"Masalah cowok, Rose," jawabku.
"Aku tidak akan memberitahunya kalau aku jadi kau, Potter," kata Malfoy.
"Tutup mulut, Vampir!"
"Kau yang harus menjaga mulutmu, Weasley. Kau memang cewek yang tidak punya sopan santun."
"Aku akan memanggil apapun padamu semauku."
"Baiklah... aku juga akan memanggilmu sesukaku. Jelek!"
"Jangan menyebutku jelek, Malfoy!"
"Jelek... Jelek... Banshee, Jelek!"
"Bangsat!"
Rose menyerbu Malfoy dan menyerangnya dengan tinju. Malfoy menghindar. Rose kehilangan keseimbangan dan hampir mencium lantai kalau Malfoy tidak menahan pinggangnya.
"Lepaskan aku! AL!"
"Lepaskan dia, Malfoy!" kataku.
Weasley mendorong Rose ke arahku.
"Jagalah sepupumu, Potter... dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya kalau terus bertingkah seperti anak kecil."
"Kau yang bertingkah seperti anak kecil, Malfoy!"
"Diam, Rose! Pergilah, Malfoy!"
Malfoy melirik Rose sebentar kemudian berjalan meninggalkan kami.
Aku memandang Rose.
"Apa?" tanya Rose.
"Ada apa antara kau dan Malfoy?"
"Tidak ada apa-apa."
"Kemarin kalian baik-baik saja... mengapa sekarang jadi seperti ini?"
"Tidak ada yang baik-baik saja antara aku dan Malfoy, Al... kau tahu itu!"
"Kupikir kau menyukainya..."
"Benar! Dan aku harus memeriksakan diriku di St. Mungo setelah selesai ujian."
"Rose, kukira dia mencint..."
"Al, Iris dan aku akan belajar jadi Pemunah Kutukan di Selandia Baru."
"Apa?" kataku terkejut. Ini berita baru untukku. "Kupikir... kupikir kau ingin jadi Auror... kupikir kita berdua akan jadi Auror."
"Itu keinginan Dad bukan aku! Aku akan pergi ke Selandia Baru."
Aku melirik Iris, Iris menghindari pandanganku.
"Kalau kalian ingin menjadi Pemunah Kutukan, kalian bisa belajar di Gringgots, tidak perlu sampai ke Selandia Baru."
"Kami ingin ke Selandia Baru, Al! Dan kau tidak bisa menghalangi kami... kami punya impian-impian... kami akan menikah dengan cowok-cowok Selandia Baru."
Menikah?
"Iris juga?" tanyaku memandang Iris.
"Ya... aku yang mengajak Rose meninggalkan Inggris... aku tahu kedengarannya seperti melarikan diri, tapi aku ingin mencoba kehidupan baru. Aku ingin mencoba hidup mandiri dan melupakan semua yang terjadi di Inggris. Bagiku kehidupan baru adalah awal dari kedewasaanku."
"Melupakan semua yang terjadi di Inggris?" tanyaku tidak percaya.
Apa maksudnya? Dia ingin melupakan aku, melupakan semuanya dan membawa Rose bersamanya? Aku merasakan dingin di sekujur tubuhku. Baiklah! Pergilah Iris! Semoga kau mendapat kebahagian di negeri barumu itu.
Kami saling bertatapan. Rose seolah menghilang. Hanya kami berdua. Aku mencoba untuk mengerti keputusan ini tapi tidak bisa mengerti. Seolah saat-saat bersamaku itu sama sekali tidak penting untuknya.
Keesokan harinya aku duduk di perpustakaan lagi, mencoba membaca beberapa buku tambahan tapi tidak bisa berkonsentrasi. Iris dan Selandian Baru selalu ada dipikiranku. Rose dan Iris sedang membaca beberapa meja dariku. Aku tidak ingin duduk bersama mereka. Aku tahu aku akan menghalangi mereka ke Selandia Baru kalau aku dekat-dekat dengan mereka.
Malfoy muncul dan meletakkan tasnya di mejaku, lalu duduk di depanku.
"Mengapa kau tidak duduk bersama mereka?" tanya Malfoy, memandang Iris dan Rose.
"Apa yang akan kau lakukan setelah lulus Hogwarts, Malfoy?" tanyaku, mengabaikan pertanyaannya.
"Aku ingin menjadi Auror... Dad mungkin tidak setuju, tapi aku bisa membujuknya."
"Mengapa dia tidak setuju?" tanyaku heran.
"Ada hubungannya dengan apa yang terjadi dulu."
"Kalau yang kau maksudkan adalah tentang ayahmu yang dulunya adalah Pelahap Maut..."
"Jangan menyebut ayahku begitu, Potter!" kata Malfoy, mendelik padaku.
"Kalau yang maksudkan adalah itu... semua orang sudah melupakannya."
"Banyak yang belum melupakannya... banyak yang masih mengira keluarga Malfoy adalah pengikut ilmu hitam. Karena itulah aku ingin jadi Auror dan membuktikan bahwa keluargaku telah melupakan semua yang terjadi di masa lalu."
"Cita-cita yang mulia, Malfoy!"
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku ingin menjadi Auror... Dad ingin aku jadi Auror dan aku juga menyukainya."
"Lalu Rose?" tanya Malfoy melirik Rose.
"Aneh juga kau tanya," kataku mendengus. "Dia akan ke Selandia Baru."
"APA?" teriak Malfoy tak percaya.
"Shtt!"
"Tapi, apa? Apa yang dia lakukan di sana?"
"Dia ingin menjadi seorang Pemunah Kutukan."
"Tapi disini ada Gringgots... Gringgots lebih hebat dari pada bank di Selandia Baru."
"Mereka tidak menyukai Gringgots."
"Mereka?"
"Iris..."
"Kau harus menghalangi Rose, Al... tidak ada yang akan menjaganya kalau dia di Selandia Baru. Dia akan ditipu oleh cowok-cowok Selandia Baru menderita patah hati... bisa-bisa bunuh diri."
"APA?"
"Shtt!"
"Rose tidak mungkin seperti itu... dia tidak akan bunuh diri dengan mudah."
"Bisa saja, Potter! Kau harus menghalanginya."
"Dia tidak akan mendengarkanku... kau yang harus menghalanginya Malfoy!"
"Aku? Tidak! Dia tidak akan mendengarkanku."
"Dia mau mendengarkanmu... bilang saja kau menyukainya dan kau tidak ingin dia pergi ke Selandia Baru."
"Tidak! Dia akan membunuhku kalau aku bilang seperti itu."
"Dia tidak akan membunuhmu... bukankah kau orang yang berani, Malfoy... ayolah!"
Malfoy melirik Rose lagi.
"Kalau Rose tidak ke Selandia Baru, aku yakin Iris juga akan membatalkan niatnya."
"Aku akan bicara dengan Rose, tapi tidak sekarang... selesai ujian saja, saat suasana hatinya sedang baik."
"Baiklah!"
Scorpius' POV
Ujian berlangsung di Aula Besar dengan diawasi oleh Panitia Ujian, Madam Marchbanks dan beberapa orang Kementrian Sihir. Selama dua minggu di bulan Juni ini, kelas lima dan kelas tujuh mengahadapi ujian super sulit. Ujian tertulis dan ujian praktek. Aku berharap nilai-nilaiku cukup memuaskan. Aku harus mendapat nilai-nilai top untuk bisa diterima menjadi Auror.
Semua orang sedang belajar. Rose sudah tidak belajar lagi sejak ujian tiba, hanya duduk termenung memandang buku-bukunya atau memandang orang-orang yang sedang belajar. Aku pikir dia sudah bosan belajar. Begitulah memang yang dilakukan Rose setiap ujian. Dia akan belajar jauh hari sebelumnya dan akan duduk merenung pada saat hari ujian sudah tiba, mungkin dia sedang menghafal sesuatu dalam hati.
Terjadi penjualan eliksir-eliksir penambah daya ingat di antara murid-murid kelas lima dan kelas tujuh. Namun, McGonagall telah berhasil meyakinkan anak-anak bahwa eliksir-eliksir itu terbuat dari kotoran naga, membuat anak-anak langsung tidak berminat. McGonagall juga sudah mememantrai perkamen dan pena bulu dengan Mantra Anti Contek. Dia juga sudah memantrai Aula Besar dengan Mantra Anti Legilimens.
Mom dan Dad mengirimku burung hantu dengan kartu bertuliskan semoga sukses di hari pertama ujian, dan aku sangat menghargainya. Senang ada yang bisa mengalihkan pikiranku dari ujian tertulis Mantra di hari pertama pagi hari. Ujian praktek akan dilaksanakan setelah makan siang. Hari kedua adalah ujian Transfigurasi, hari ketiga Ramuan, hari ke empat Herbology, hari kelima Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Kami bebas pada hari Sabtu dan Minggu. Hari Senin berikutnya adalah ujian Rune Kuno, Selasa adalah Arithmancy dan Rabu adalah Sejarah Sihir. Aku berhasil mengikuti ujian ini tanpa tekanan. Rilex adalah kunci dalam mengikuti ujian. Kita harus rilex agar bisa mengikuti ujian dengan baik.
Saat kami tiba di menara Astronomy pada tengah malam hari Kamis untuk ujian Astronomy, aku melihat bahwa kursi-kursi nyaman telah di tempatkan di menara itu. Kelihatannya kami harus duduk di kursi itu dan mengidentifikasi rasi bintang tanpa menggunakan teleskop.
Aku duduk di salah satu kursi, menyandarkan diri dengan nyaman, memandang langit dan mulai menandai rasi bintang. Satu jam kemudian aku merasakan tekanan di bahuku, dan dengkuran halus terdengar ditelingaku. Rupanya ada seorang yang bersandar dibahuku. Aku menoleh ke samping dan melihat seseorang sedang tertidur dan bersandar dengan nyaman dibahuku. Aku tidak tahu siapa dia karena gelap, tapi harum mawar memenuhi udara malam. Rose? Aku menyalakan tongkat sihirku.
"Matikan tongkat sihirmu, Mr. Malfoy! Kau akan menghalangi cahaya bintang," terdengar suara Mr. Russel. Tim penilai dari Kementrian.
Aku mematikan tongkat sihirku. Tapi aku sudah sekilas melihat bahwa yang ada di sampingku memang Rose dan dia sedang tertidur. Apakah dia sudah selesai menandai rasi bintangnya? Tampaknya tidak mungkin dia tertidur tanpa menyelesaikan ujiannya. Aku bergerak cepat menandai rasi bintang terakhir tanpa membangunkan Rose.
"Rose! Rose! Bangun!" bisikku perlahan, sambil mengerakkan lengannya.
Rose tidak bergerak, mengeluh sedikit kemudian tertidur lagi.
Aku memperbaiki posisi dudukku.
"Scorpius..." desah Rose dalam tidurnya.
Aku memandang Rose dalam gelap. Dia memimpikan aku? Ataukah dia tahu aku ada di sampingnya?
"Rose!" kataku, sedikit keras.
"Mr. Malfoy, cobalah untuk tidak menganggu teman-temanmu!" kata Mr. Russel lagi.
"Maaf, Sir!"
Aku menyandarkan diri dan memandang langit.
"Aku mencintaimu, Scorpius!" desah Rose lagi.
Apa? Rose? Rose mencintai aku? Tidak mungkin! Aku pasti salah dengar! Dia membenciku, kami selalu bertengkar. Aku memandang Rose lagi. Dia masih tertidur. Aku mengangkat wajahnya dan memberinya kecupan singkat di bibirnya.
"Selamat tidur, Cintaku!" bisikku.
Aku menyandarkan kepalaku padanya dan memejamkan mata.
Al's POV
Aku menguap lagi. Ini sudah yang kesekian kalinya aku menguap. Tengah malam begini memang waktunya untuk tidur. Aku menggulung perkamen ujianku dan menunggu tanda ujian berakhir. Aku yakin anak-anak lain pasti sudah tertidur di kursi mereka masing-masing.
"Waktu habis!" kata Mr. Russell.
Dia melambaikan tongkat sihirnya dan semua perkamen terbang ke arahnya, bersamaan dengan cahaya terang. Lampu telah dinyalakan kembali. Semua anak-anak bergerak bangun. Aku berdiri sambil membayangkan tempat tidurku di kamar anak laki-laki asrama Gryffindor.
Terdengar kikik tertahan. Aku menoleh dan melihat dua cewek Slytherin memandang sesuatu di belakangku.
"Oh... mereka sangat manis," terdengar suara Iris.
Apa yang manis? Aku berbalik dan melihat dua kursi di belakangku, Malfoy dan Rose tertidur nyenyak dengan kepala saling menempel. Mereka tidak menyadari bahwa ujian telah selesai.
Anak-anak lain mulai mengikik juga.
"Ada apa ini? Mengapa tidak ada yang keluar?" tanya Mr. Russell mendekati kami. Kelihatannya dia telah selesai menyimpan perkamen ujian.
"Apa yang... oh!" kata Mr. Russell dengan nada paham setelah melihat Malfoy dan Rose. "Mr. Malfoy, Miss Weasley!"
Scorpius bergerak sedikit, tapi tak ada reaksi dari Rose. Rose kalau sudah tidur memang susah dibangunkan.
"MR. MALFOY... MISS WEASLEY!" teriak Mr. Russell keras.
Scorpius langsung terkejut, membuka mata dan memandang sekeliling dengan bingung. Wajahnya berubah merah jambu ketika menyadari bahwa dia masih ada di menara Astronomy.
Anak-anak lain langsung kerkikik. Aku memandang Rose yang masih tidur dan memberi isyarat pada Scorpius untuk membangunkan Rose. Scorpius mengangguk.
"Hei, Rose, bangun!" kata Scorpius.
Rose makin merapatkan tubuhnya pada Scorpius.
"BANGUN!" teriak Scorpius di telinga Rose.
"Bangsat! Mengapa kau berteriak di telingaku?" kata Rose, langsung menyerang Scorpius tanpa menyadari sekeliling.
"Miss Weasley!" kata Mr. Russell.
Rose memandang sekelilingnya dan wajahnya langsung memerah sampai ke leher. Anak- anak lain terkikik lagi, kali ini lebih keras.
"Maafkan aku, Sir... er, aku lelah karena ujian!" kata Rose.
"Aku mengerti, Miss Weasley," kata Russell, lalu menyuruh kami semua keluar.
Rose berjalan ke arahku.
"Al, mengapa kau tidak membangunkan aku?" tuntut Rose.
"Aku tidak tahu kalau kau duduk disamping Malfoy."
"Malfoy?" tanya Rose bingung, memandang Malfoy.
"Aku senang jadi tempatmu bersandar selama ujian, Weasley!"
"Aku... pantas saja aku... aku..."
"Apa?" tanya Scorpius.
"Bukan urusanmu, Malfoy!"
"Kulihat tadi kau cukup nyaman di sampingku."
"Itu karena aku tidak tahu kalau kau yang ada di sampingku... kalau aku tahu. Aku akan langsung menyingkir jauh-jauh."
"Bohong, Weasley! Kau bahkan mengatakan bahwa kau mencintaiku dalam tidurmu."
"Aku tidak mungkin mengatakan hal begitu."
"Kau memang mengatakan hal itu... kau memimpikan aku, Weasley?"
"Aku tidak..."
"Cukup! Ayo, Rose!" kataku, meyeret Rose meninggalkan menara Astronomy.
Iris mengekor di belakang kami.
"Lepaskan aku, Al!" kata Rose setelah kami tiba diluar.
"Mengapa kau dan Malfoy seperti itu?" tanyaku.
"Seperti apa?"
"Bertengkar dan bertengkar membuatku sebal."
"Dia yang memulai pertengkaran."
"Mengapa kau tidak bilang padanya kalau kau menyukainya?"
"Aku tidak akan bilang apa-apa padanya... kami tidak bisa bersosialisasi dengan baik, kami tidak cocok... aku akan pergi ke Selandia Baru dan melupakannya."
"Itu karena kalian tidak berusaha... kau bisa bersamanya kalau kau berusaha, Rose."
"Rose, kalau kau ingin membatalkan rencana kita... aku tidak apa-apa..." kata Iris.
"Kita sudah berjanji, Iris... dan kita akan pergi ke sana... tak ada satupun yang dapat menghalangi kita."
"Er, baiklah!" kata Iris.
"Ayo!" kata Rose.
Dia dan Iris berjalan meninggalkanku.
"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Malfoy, muncul dari belakangku.
"Rencana ke Selandia Baru... apakah Rose memang mengatakan bahwa dia mencintaimu?"
"Entahlah, aku juga tidak yakin... tampaknya aku bermimpi."
"Sudahlah! Ayo!"
Review please!
Sori! Chapter ini kurang menarik... aku akan berusaha di chapter selanjutnya!
Aku ingin tahu pendapat teman-teman! Cerita ini berakhir di Hogwarts atau dilanjutkan sampai mereka dewasa... kalau dilanjutkan aku akan menulis tentang Rose dan Iris yang belajar menjadi Pemunah Kutukan di Selandia Baru, juga Scorpius dan Al yang belajar menjadi Auror.
Review dan bilang pendapatnya, ya! Aku tunggu! : D
Riwa Rambu ; D
