Disclaimer: J. K. Rowling
Terima kasih untuk semua yang telah membaca Fanfic ini... zean's malfoy, SpiritSky, Lita, Putri, Reverie Metherlence, Aleysa GDH, narasaku20, shine: thanks reviewnya!
ROSE WEASLEY AND IRIS ZABINI
Rose's POV
Duduk-duduk di pinggir danau dengan di kelilingi bunga-bunga musim semi, menikmati angin semilir yang bertiup membawa udara hangat dan memandang cumi-cumi raksasa yang mengambang di atas danau adalah kegiatan yang dilakukan anak-anak Hogwarts setelah beban ujian terangkat. Ada juga beberapa yang terbang mengelilingi danau atau terbang keliling Hogwarts, menikmati kebebasan.
Iris dan aku duduk memandang Lily melemparkan remah-remah roti pada cumi-cumi raksasa. Cumi-cumi itu menerimanya dengan senang hati dan menjulurkan sungutnya untuk menangkap roti.
"Mana, Albus?" tanya Iris, memetik beberapa bunga terdekat dan merangkainya menjadi semacam mahkota bunga.
"Terbang," jawab Lily, melemparkan remah roti terakhir.
Lily duduk di samping kami dan memandang Iris, yang sekarang sedang memakai rangkaian mahkota bunganya di kepala.
Cocok sekali, Tuan Putri! Aku memandang Iris mencari bunga-bunga lagi dan mulai merangkai mahkota bunga lagi.
"Mengapa kau selalu memanggilnya Albus? Kedengarannya sangat formal," kata Lily, memetik bunga-bunga terdekat dan memberikannya pada Iris.
Aku tidak ingin mengikuti percakapan mereka. Aku membaringkan diriku di rumput dan memejamkan mata.
"Kupikir nama itu manis..." kata Iris.
"Manis? Al sangat benci disebut manis... kau harus hati-hati jangan sampai Al mendengarmu menyebutnya begitu."
"Bagaimana hubunganmu dan Alan?" tanya Iris.
"Baik-baik saja," kata Lily, nada suara terdengar aneh. Aku tahu pasti ada sesuatu.
Aku membuka mata dan memandangnya. Lily sekarang telah memakai mahkota bunga juga. Dan mereka sedang merajut satu mahkota bunga lagi. Aku tahu mahkota bunga terakhir untuk siapa. Aku memejamkan mata dan berjanji dalam hati untuk berbicara dengan Lily nanti.
"Bagaimana denganmu dan Malfoy?" tanya Lily.
Deg! Jangung berdegup kencang mendengar nama Scorpius disebutkan. Aku memang sering mendengar namanya, tapi aku belum terbiasa mendengar namanya disebutkan sekarang setelah aku mempunyai perasaan khusus padanya.
Aku menanti jawaban Iris, dengan berdebar. Apakah Iris memang benar tidak punya hubungan khusus dengan Scorpius?
"Tidak ada... aku dan Scorpius tidak pernah punya hubungan. Dia menyukai orang lain dan aku menyukai orang lain."
Scorpius menyukai orang lain? Hah? Ini baru berita untukku... siapa?
"Kau menyukai orang lain? Siapa?" tanya Lily.
"Nah, Putri Tidur, bangun! Mahkotamu sudah selesai," kata Iris.
Aku merasakan tubuhku diguncang dengan keras.
"OK! Iris, aku bangun. Jangan mengguncangku!" kataku, membuka mata dan duduk.
Iris meletakkan mahkota bunga di kepala. Kemudian memandangku sesaat.
"Cantik!" katanya, lalu duduk di sampingku.
"Tidak usah pedulikan, Rose!" kata Lily, duduk di samping Iris dan memandangnya, seperti memandang makanan kesukaannya. Rupanya Lily sedang mencium adanya gosip. "Nah, siapa orang yang kau suka?"
"Seseorang yang tidak mungkin bisa kumiliki..." kata Iris, puitis.
"Siapa?" desak Lily.
"Aku tidak bisa bilang padamu, Lil... kalau aku memberitahumu, seluruh Hogwarts akan tahu dalam waktu beberapa menit."
"Aku tidak seperti itu... aku tidak mungkin mengatakannya pada anak-anak lain"
"Sudahlah, Lil... lalu siapa yang disukai Malfoy?" tanyaku ingin tahu.
Iris memandangku sesaat. "Kau tidak tahu, Rose?"
"Mengapa aku harus tahu? Aku kan tidak berhubungan dengannya..."
"Er... aku juga tidak tahu... aku hanya menebak karena akhir-akhir ini tingkahnya aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Dia sering memandang kosong dan agak sedikit bingung."
"Stress ujian kali!" usul Lily.
"Memangnya itu tanda-tanda orang yang sedang menyukai seseorang?" tanyaku.
"Tidak juga... hanya saja, dia... dia... hei, itu Albus dan Scorpius sedang menuju ke mari. Kau bisa bertanya langsung pada Scorpius, Rose," kata Iris, memandang Al dan Malfoy yang sedang berjalan ke arah kami.
Akhir-akhir ini Al dan Malfoy selalu bersama. Entah kapan mereka menjadi teman aku tidak tahu. Yang membuatku sebal adalah Malfoy selalu ada saat aku ingin bicara dengan Al.
"Hai Tuan-Tuan Putri, menunggu Pangeran?" tanya Al, memandang Iris dengan mata bercahaya. Tampak terpesona. Iris memang cantik dengan mahkota bunga dirambutnya yang hitam.
"Yang pasti pangerannya bukan kau dan Malfoy," kataku sebal.
"Tidak akan ada yang mau menjadi pangeran untuk putri sepertimu, Weasley."
"Apa maksudmu, Malfoy?"
"Kalian berdua merusak suasana saja," kata Al, memandangku dan Malfoy dengan sebal. Lalu duduk di samping Iris.
"Alan mana?" tanya Lily.
"Di lapangan Quidditch," jawab Malfoy.
"Aku pergi dulu! Aku harus mencari Alan," kata Lily, lalu berjalan meninggalkan kami.
Aku memandang Scorpius dan mendapati Scorpius sedang memandangku dengan penuh perhatian.
"Apa, Malfoy?"
"Mahkota bunga itu benar-benar tidak cocok untukmu... kau tampak seperti... seperti Ratu Semut."
"Ratu Semut?"
"Menurutku cantik kok," kata Iris. "Aku yang membuatnya, Scorpius dan kuharap kau menghargainya."
"OK! OK! Kau mau aku mengatakan cantik kan? Baiklah! Weasley, kau sangat cantik memakai mahkota bunga itu," kata Scorpius tanpa memandangku.
"Terima kasih untuk ketidakjujuranmu, Malfoy!"
"Ketidakjujuranku? Apa maksudmu, Weasley? Aku memujimu, tapi kau tidak..."
"Memujiku?"
"Diam!" desis Al. Memandangku dan Malfoy dengan sebal. "Rose, kau sudah mengatakan pada Uncle Ron dan Aunt Hermione tentang rencanamu ke Selandia Baru?"
"Belum... aku tahu Dad mungkin tidak akan setuju..."
"Bagus!" desis Malfoy.
"Apa, Malfoy?"
"Aku setuju dengan ayahmu... aku yakin kau tidak akan bisa bertahan hidup di daerah lain. Belum lagi iklimnya yang berbeda dengan Inggris. Kau bisa terkena radang dingin."
"Aku yakin aku akan bisa bertahan hidup, Malfoy. Dan aku tidak mudah jatuh sakit."
"Di Inggris kau tidak akan mudah jatuh sakit, tapi di tempat lain beda. Selandia Baru itu dekat kutub selatan, Weasley! Apa yang ada dipikiranmu?"
"Aku bukan pergi ke kutub selatan, Malfoy. Dan aku yakin aku bisa bertahan hidup di manapun."
"Belum lagi orang-orangnya, Weasley! Mereka tidak sama seperti kita. Bagaimana kau bisa bersosialisasi dengan mereka?"
"Aku bisa bersosialisasi dengan mereka... aku akan membawa pulang suami Selandia Baru, Malfoy, dan akan kuperkenalkan padamu."
"Suami? Hahaha, aku tak sabar menunggu, Weasley. Aku ingin lihat laki-laki seperti apa yang suka pada cewek sepertimu."
"Apa maksudmu dengan cewek sepertiku?"
"Kau tahu, Weasley."
"Aku tidak tahu, Malfoy... jelaskan!"
"Kau itu..."
"Ya, ampun! Hentikan!" kata Al.
"Biarkan mereka, Albus! Aku senang melihatmu bertengkar dengan Scorpius, Rose! Kalian berdua sangat manis."
"Manis? Aku benci kata itu," kataku sebal.
"Sudahlah! Kapan kau akan mengatakan rencanamu pada Uncle Ron dan Aunt Hermione?"
"Pada saat pesta perpisahaan saja. Para orangtua diundang untuk mendengarkan pengumuman kelulusan."
"Pesta perpisahan apa?" tanya Al dan Malfoy bersamaan, saling berpandangan.
"Kalian belum tahu? Tiga hari sebelum liburan musim panas, Hogwarts mengadakan pesta perpisahan. Pesta ini khusus untuk siswa-siswa kelas tujuh dan orangtua masing-masing. Sekalian untuk pengumuman kelulusan."
"Aku tidak mau Mom dan Dad datang," kata Al cemas.
"Santai saja, Al! Uncle Harry dan Aunt Ginny tidak akan mengejekmu kalau kau tidak punya pasangan."
"Pasangan? Pasangan apa?" tanya Al kaget.
"Pasangan dansa, Al, kita diwajibkan berdansa dan kau boleh mengajak kelas lima dan enam kalau kau mau."
"Aku tidak berdansa..."
"Kau akan berdansa," kataku tegas.
"Aku tidak punya pasangan."
"Iris, kau bisa pergi bersama Al... aku akan mengajak..." aku berpikir sebentar.
"Biar aku pergi bersamamu, Weasley... aku juga tidak punya pasangan," usul Scorpius.
Aku memandangnya. Dad akan membunuhku kalau melihat aku berdansa bersama Scorpius. Lagi pula Kami mungkin akan bertengkar sepanjang malam. Lebih baik aku...
"Terima kasih untuk tawaranmu, Malfoy, tapi sudah ada yang mengajakku."
"Apa? Belum ada yang mengajakmu!"
"Ada, Malfoy!"
"Siapa?"
"Aku tidak akan memberitahumu."
"Kalau begitu pasti belum..."
"Ok! Al, aku akan bergi bersamamu. Dan Scorpius, kau bisa mengajak Emily. Dia pasti mau," kata Iris.
"Parkinson?" tanyaku sebal. Apakah Parkison adalah cewek yang disukai Scorpius? Dia sudah menyukai Parkinson lagi?
"Aku tidak ingin mengajak, Emily," kata Scorpius.
Aku juga tidak suka melihatmu berdansa bersamanya.
"Lalu kau ingin mengajak siapa?" tanya Iris
"Aku..." Malfoy memandangku. "Aku tidak akan mengajak siapa-siapa."
"Kau harus punya pasangan, Scorpius... semua kelas tujuh wajib berdansa. Kalau kau tidak punya pasangan kau akan berdansa dengan siapa?"
"Aku akan berdansa denganmu... setelah kau selesai berdansa dengan Al, kau bisa berdansa denganku."
"No way! Kita akan terlihat aneh," kata Al. "Rose, ayolah! Kau bisa pergi bersama Malfoy."
"Tidak... dia akan merusak acaraku dan kami akan bertengkar sepanjang malam."
"Aku tidak akan bertengkar denganmu," kata Scorpius yakin.
Aku memandang Scorpius sesaat. Sebenarnya aku ingin pergi bersamanya... aku ingin berdansa dengannya karena malam itu mungkin adalah malam terakhir aku bersamanya.
"Baiklah! Aku akan pergi bersamamu, Malfoy, tapi kau harus berjanji tidak boleh bertengkar denganku."
"Baik! Tapi kau juga harus berjanji tidak boleh menghina aku."
"Kau yang selalu menghina aku."
"Aku tidak..."
"DIAM!" teriak Al. "Siapa sebenarnya yang mengajakmu, Rose?"
"Lorcan..."
"Scamander? Dia lima tahun lebih muda darimu, Weasley?" kata Scorpius.
"Makanya aku..."
"Mengapa dia mengajakmu, Rose?" tanya Al.
"Ya, dia... dia ingin aku mengajaknya karena dia ingin menguntit cewek yang disukainya. Cewek itu diajak ke pesta oleh cowok kelas tujuh Hufflepuff."
Al tertawa.
"Kau tidak boleh mengodanya, Al," kataku.
"Hohoho, tidak akan! Aku akan mengirim surat pada James," kata Al, senang.
"Al!"
"Jadi siapa ceweknya?"
"Aku tidak akan mengatakan padamu," kataku. Tidak akan! Kalau Al berniat mengganggu Lorcan, aku tidak akan membiarkannya.
"Rose! Aku tahu kau akan mengatakannya padaku," kata Al, wajahnya serius. Menatapku dengan keyakinan bahwa dia akan berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Tidak! Kau tidak akan melakukannya, Al!" kataku. Aku tahu apa yang akan dilakukan Al. Dia akan mengelitikku dan aku paling benci digelitik.
"Aku akan melakukannya, Rosie!" kata Al, bergerak mendekatiku.
Aku menjerit dan berlari di belakang Iris.
"Aku akan mendapatkanmu, Rosie," kata Al. "Katakan, Rosie! Siapa cewek itu?"
"Biarkan Weasley, Potter!" kata Scorpius.
"Scorpius..." kataku tanpa sadar. "Tolong aku!"
Scorpius menatapku.
"Pangeran tidak akan menolongmu, Tuan Putri!" kata Al, menyerbuku.
Aku menjerit lagi dan mendorong Iris pada Al. Iris menabrak Al. Al kehilangan keseimbangan, terjatuh dengan punggungnya di rerumputan dan Iris di atasnya.
"Ayo!" kataku, menarik Scorpius meninggalkan Al dan Iris.
Aku membawa Scorpius menuju pinggiran Hutan Terlarang.
"Mau apa kita di Hutan Terlarang?" tanya Scorpius.
"Aku harus menjauh dari Al... dan aku ingin membiarkan mereka sendiri."
"Apa maksudmu membiarkan mereka sendiri?" tanya Scorpius, berjalan ke rerumputan rendah dan duduk di atasnya.
"Al suka Iris," jawabku singkat, duduk disamping Scorpius.
"Apa? Potter... dia suka Iris?"
"Kau tidak cemburu kan, Malfoy?"
"Tidak! Aku hanya kaget... maksudku aku sama sekali tidak menduga. Alan dan Lily Potter, lalu Iris dan Albus Potter. Aneh saja!"
"Bagiku tidak aneh... mereka hanya saling suka belum tentu mereka menikah."
"Maksudmu mereka suatu saat nanti akan berpisah?"
"Seperti itulah! Tidak ada yang abadi di dunia ini, Malfoy. Semuanya akan berlalu... begitu juga perasaan. Kita delapan belas tahun, belum terlalu dewasa untuk berpikir tentang masa depan. Mungkin saat ini kita menyukai seorang, kita mengatakan bahwa kita sangat mencintainya, tak bisa hidup tanpanya, akan selalu membuatnya bahagia, melindunginya dan segala kata-kata seperti itu. Tetapi, besoknya kita mungkin merasa jengkel karena dia melakukan sesuatu yang menyebalkan kita, misalnya. Lalu kita memarahinya dan melupakan janji-janji kita."
"Jadi kau tidak percaya cinta, Weasley?" tanya Scorpius menatapku.
"Aku percaya, tapi untuk sekarang ini aku tidak ingin bicara tentang cinta... aku belum terlalu dewasa untuk bisa menjalin cinta dan berjanji untuk setia pada seseorang karena aku takut aku tidak akan bisa menepatinya dan itu pasti akan membuatnya bersedih."
"Kau pernah jatuh cinta?"
Aku menatap Scorpius. Tentu saja aku pernah jatuh cinta... aku jatuh cinta padamu, tapi aku tidak bisa mengatakannya karena aku akan ke Selandia Baru mengejar impianku. Aku ingin jadi dewasa dulu. Aku ingin bisa menjadi cewek sopan, bersuara lembut, menghargai orang lain, menjaga mulutku agar tidak selalu bertengkar denganmu dan menjadi cantik seperti yang kau inginkan. Aku akan belajar untuk menjadi seperti itu... tidak di sini, tapi di tempat lain. Aku mungkin akan jatuh cinta pada orang lain, tapi kau akan selalu ada di hatiku sebagai orang pertama yang membuatku jatuh cinta.
"Weasley?"
"Ya, Malfoy. Aku pernah jatuh cinta."
"Lalu?"
"Seperti itulah!"
"Seperti itulah apa?"
"Ya, hanya jatuh cinta."
"Hanya jatuh cinta? Apa maksudmu?"
"Ya, hanya jatuh cinta, tidak ada yang lain."
"Maksudmu kau tidak ingin bersamanya. Kau hanya sekedar jatuh cinta dan itu cukup?"
"Ya..."
"Menurutku kau adalah orang yang tidak memiliki perasaan kasih sayang dan..."
"Kumohon Scorpius! Sekali ini saja, diamlah! Aku tidak ingin bertengkar denganmu," kataku, menatap Hutan Terlarang.
"Kau memanggilku Scorpius," kata Scorpius menatapku.
"Itu namamu kan?"
"Ya, tapi kau tidak pernah memanggilku begitu."
"Aku sedang mencoba untuk bersikap ramah, Malfoy, tapi kalau kau tidak ingin..."
"Tidak! Aku senang."
"Kita harus mencoba untuk bersikap ramah, aku tidak ingin kita bertengkar di pesta perpisahan nanti."
"Baiklah!"
"Katakan apa yang akan kau lakukan setelah lulus Hogwarts?"
"Aku akan menjadi Auror."
"Cita-cita yang hebat! Kau mungkin akan bertemu dengan ayahku nanti."
"Ya! Apakah dia mengerikan?"
"Dia sangat baik... kalau kau ingin dia menyukaimu, kau harus menyukai Chudley Cannons."
"Apa? Tim yang berada diurutan terbawah liga? Tidak!"
"Ya, Malfoy... ayahku sudah jadi penggemar Cannons sejak dia mengenal Quidditch."
"Keluargamu adalah keluarga yang aneh."
"Jangan menghina keluargaku, Malfoy."
"Aku tidak sedang menghina, aku mengatakan kenyataan... aku merasa bahwa mereka sedikit aneh."
"Sudahlah!"
"Kalian adalah keluarga yang saling mencintai... aku heran mengapa kau tidak bisa mencintai."
"Siapa bilang aku tidak bisa mencintai?"
"Kau baru saja mengatakan begitu... kau mengatakan cinta hanyalah cinta."
"Lupakan itu! Aku tidak ingin bertengkar tentang cinta denganmu."
"Apa yang akan kau lakukan kalau ada yang mengatakan padamu bahwa dia mencintaimu, dia ingin kau ada di sampingnya, dia ingin kau tidak pergi ke Selandia Baru."
"Siapa?" tanyaku. Aku merasa tidak ada orang yang jatuh cinta padaku.
"Seandainya ada orang yang mengatakan hal itu."
"Seandainya siapa?"
"Siapa, ya? Misalnya saja Davis."
"Davis? OK! Seandainya Davis mengatakan dia mencintaiku, aku akan bilang padanya bahwa aku jatuh cinta pada orang lain."
"Oh! Ok! Seandainya lagi, cowok yang kau cintai itu mengatakan bahwa dia mencintaimu dan tak ingin kau pergi ke Selandia Baru."
"Siapa cowok yang aku cintai?"
"Siapa saja... seandainya aku, ya, aku mencintaimu dan aku tak ingin berpisah darimu, aku tak ingin kau pergi ke Selandia Baru, sialan itu!"
Aku memandangnya kaget. Apakah dia baru saja mengatakan perasaannya? Tidak mungkin! Tadi kami bicara tentang pengandaian. Ya, ini bukan kenyataan. Ini adalah pengandaian.
"Oh... seandainya kau mencintaiku dan aku mencintaimu dan kau tak ingin aku pergi ke Selandia Baru?"
"Ya..."
"Aku akan tetap pergi."
"Mengapa? Bagaimana kalau aku bilang aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, aku tidak akan jatuh cinta pada orang lain, aku akan selalu ada untukmu?"
"Seandainya kau bilang begitupun aku tetap pergi."
"Bagaimana kalau Iris tidak pergi bersamamu?"
"Seandainya itu terjadi, aku akan tetap pergi."
"Kau memang benar-benar keras kepala."
"Hei, tadi kan hanya pengandaian... apakah kau benar-benar mencintai aku?"
"Apakah kau mencintaiku?"
"Malfoy, aku yang duluan bertanya padamu."
"Sudahlah! Aku tak ingin bicara tentang itu."
Kami berdiam diri selama beberapa saat. Memandang pohon-pohon di Hutan Terlarang yang pucuk-pucuk mudanya sedang bersemi.
"Aku akan merindukan tempat ini," kata Scorpius.
"Hogwarts?"
"Ya... aku akan merindukan Hogwarts. Kastil, danau, Hutan Terlarang, lapangan Quidditch, semuanya. Aku mungkin tidak akan pernah kembali lagi."
"Kau akan kembali lagi, Malfoy! Kalau anakmu masuk rumah sakit dan mengalami luka parah, kau sebagai orangtua akan dipanggil," kataku, membayangkan seorang gadis kecil berumur sebelas tahun berambut warna perak, seperti Scorpius dan bermata biru. Mataku. Aku menggelengkan kepala. Mengapa aku membayangkan memiliki gadis kecil bersama Malfoy? Helo! Aku baru delapan belas!
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Tidak ada..." jawabku cepat. "Er, Malfoy, kau suka anak laki-laki atau anak perempuan?"
"Anak?"
"Ya... maksudku kalau kau sudah berkeluarga nanti."
"Entahlah... bagiku sama saja, tapi keluarga Malfoy selalu memiliki anak sulung atau anak tunggal laki-laki."
"Aku suka anak peremuan," kataku tersenyum, teringat gadis kecil berambut perak bermata biru. "Kalau kau punya gadis kecil, kau akan menamainya apa?"
"Er, keluarga kami selalu selalu memakai nama konstalasi bintang untuk menamai anak-anak. Kalau aku punya gadis kecil, aku akan menamainya Calypso."
"Calypso? Jelek sekali! Itu bukan nama konstalasi bintang, itu nama bulan di planet Saturnus"
"Ohya? Bagaimana kalau Cassiopeia?"
"Tidak! Carina, bintang selatan. Nama itu cantik..."
"Ya, Karina, pakai K..."
"Bukan! Pakai C.."
"Menurutku pakai K lebih bagus."
"Ejaan yang benar adalah C, tapi terserahlah!" kataku sedikit bingung. Untuk apa aku berdebat dengan Scorpius tentang nama anaknya di masa depan?
"Sebenarnya aku benci nama Scorpius," kata Scorpius. "Seperti nama setan."
"Nama setan? Tidak juga... nama itu bagus kok! Scorpius... Scorpius... Scorpius!"
"Hentikan!"
Aku tertawa.
"Aku pikir nama Rose adalah nama yang bagus untuk seorang gadis kecil."
"Jangan! Namanya harus Carina pakai C."
Scorpius tertawa. "Sebenarnya apa yang kita bicarakan?"
"Ya, memang sedikit aneh! Tadi kita sedang mencari nama untuk anakmu kan!"
"Jangan bicara tentang aku! Bagaimana denganmu, apakah kau tidak akan merindukan Hogwarts?"
"Mungkin! Aku mungkin akan ingat bagaimana aku selalu didetensi setiap seminggu, hampir diterjang Skwert Ujung-Meletup ditahun keempat, terjatuh dari sapu di tahun kedua, dilemparkan di danau oleh James dan Fred ditahun ketigaku, dan di tahun ketujuhku aku menjadi Iris... terlalu banyak kenangan. Aku tidak akan melupakan Hogwarts begitu saja."
"Aku sudah dengar tentang itu dari Iris."
"Tentang apa?"
"Tentang pertukaran jiwa kalian," kata Scorpius, memandang tangannya "Aku minta maaf! Aku memukulmu."
"Sudahlah! Aku tidak apa-apa."
"Aku juga... er..."
"Apa?"
"Malam itu... di kamarmu..."
"Er, Lupakan itu!" kataku. Aku merasakan wajahku panas. Aku tidak ingin membahas kejadian malam itu.
"Mengapa kau menciumku?"
"Er... aku harus pergi sekarang!" kataku berdiri.
Scorpius menarik lenganku dan aku kembali terduduk di sampingnya.
"Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"
"Aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu."
"Kau menyukaiku."
"Aku tidak menyukaimu!"
"Mengapa kau menciumku?"
"Kau ingin aku menjawab apa?" tanyaku sebal, melepaskan lenganku darinya.
"Entahlah... mungkin aku ingin kau memintaku menciummu lagi."
"Apa?"
"Bagaimana kalau aku menciummu sekarang apakah kau akan menamparku?
"Er... aku..."
"Jawab saja! Iya atau tidak?"
"Aku tidak tahu," kataku bingung. Jadi dia ingin menciumku? Atau hanya sekedar karena terbawa suasana.
Scorpius mengalihkan pandangan ke arah Hutan Terlarang. Aku mengikuti arah pandangnya dan kami terdiam selama beberapa saat.
"Aku tidak akan melihatmu lagi kalau kau pergi ke Selandia Baru," kata Scorpius, kembali memandangku.
"Kau akan melihatku lagi, Malfoy. Aku akan kembali ke Inggris satu saat nanti."
"Kita mungkin tidak akan pernah duduk dan berbicara seperti ini lagi."
"Ya... sebagai orang dewasa kita akan punya banyak urusan; pekerjaan, keluarga. Kita juga akan punya teman-teman yang berbeda."
"Aku mungkin akan merindukan saat ini. Inilah pertama kalinya kita berdua bicara lama tanpa bertengkar."
"Benar!" kataku tertawa.
"Dulu aku hanya memandangmu sebagai cewek aneh bersuara melengking. Aku bahkan tidak melihatmu dua kali kalau aku bertemu denganmu di koridor atau di kelas. Aku hanya menganggapmu sebagai salah satu dari sekian banyak murid Hogwarts, tapi sejak aku mengenalmu secara pribadi, aku ingin lebih mengenalmu."
"Selama langit masih biru, bunga-bunga masih bermekaran dan dunia masih berputar, kita akan selalu punya kesempatan untuk bertemu lagi."
"Ya, sebagai orang asing. Kau mungkin akan berpura-pura tidak mengenalku."
"Hei! Aku tidak seperti itu. Kau boleh memantraiku kalau aku berpura-pura tidak mengenalmu."
"Ya, setelah itu kau akan membunuhku."
"Aku tidak mungkin melupakanmu... kecuali sesuatu terjadi padaku. Misalnya, seseorang memberiku Jampi Memori agar aku melupakanmu."
"Tidak mungkin ada yang memantraimu dengan Jampi Memori. Kau mungkin akan membunuhnya duluan," kata Scorpius, tersenyum kecil.
"Kau mungkin sudah menikah saat aku kembali nanti."
"Mungkin," kata Scorpius, membuat darahku langsung mendidih.
"Ohya? Siapa dia?" tanyaku, berusaha menenangkan diri.
"Mom dan Dad sudah mencarikan aku cewek berdarah murni yang berpenampilan menarik, berbicara sopan, halus, berpendidikan dan pantas untuk menjadi Malfoy."
"Maksudmu kau sudah dijodohkan?"
"Bukan dijodohkan, tapi dicarikan seseorang yang pantas untuk menjadi istri Malfoy."
"Artinya tetap sama... kau dijodohkan dengan seseorang."
"Tapi aku akan menolak... aku punya seseorang yang aku cintai."
"Siapa?"
"Aku tidak akan mengatakannya padamu."
"OK! Aku juga tidak ingin tahu."
Kami terdiam lagi, menatap Hutan Terlarang dan merasakan hembusan angin di wajah kami sambil mendengarkan irama gerakan dedaunan yang tertiup angin.
Al' s POV
Aku kehilangan keseimbangan ketika Rose mendorong Iris ke arahku. Terjatuh di rumput dan merasakan punggungku sakit. Iris berada di atas dengan wajahnya beberapa centi dari wajahku.
Kami bertatapan sesaat.
"Dulu pernah seperti ini," kataku.
Iris bergerak menjauh dariku. Dia membaringkan diri di sampingku.
"Ya, sudah lama sekali. Waktu itu aku terpeleset sari mawar di kelas Herbology."
"Aku mengira kau adalah Rose."
"Saat itu aku memang Rose Weasley."
Aku menatap langit, memandang awan yang berarak menuju ke barat. Aku teringat suatu pertanyaan yang selalu ada dipikiranku.
"Mengapa kau melakukan itu?"
"Melakukan apa?"
"Menjadi Rose. Mengapa kau ingin menjadi Rose?"
"Aku tidak ingin menjadi Rose. Aku ingin menjadi siapa saja kecuali diriku sendiri. Kebetulan saat itu aku berpasangan dengan Rose, aku mengambil kesempatan itu."
"Mengapa kau tidak ingin menjadi dirimu sendiri?"
"Kau mungkin tidak cukup mengenalku untuk tahu apa yang kupikirkan, apa yang kurasakan dan apa yang selalu membuatku sedih."
"Ceritakan padaku tentang dirimu!" kataku. Aku merasakan perasaan aneh. Aku meyakinkan diriku bahwa aku mencintainya, tapi aku sama sekali tidak mengenalnya. Aku tidak tahu apa membuatnya sedih, apa yang menyenangkannya, aku bahkan tidak tahu makanan kesukaannya.
"Aku dibesarkan oleh keluarga yang tidak mampu mengatakan perasaan masing-masing. Kami takut untuk menyakiti orang lain kalau kami menunjukan perasaan kami. Jadi, aku diajarkan untuk memendam perasaan. Aku tidak diijinkan mengumbar kemarahan, aku tidak boleh menangis, aku harus kuat. Aku harus berkelakuan seperti seorang lady yang berbicara sopan dan halus."
Aku memejamkan mata mendengar suara Iris, mengingat suaranya. Ini mungkin terakhir kalinya kami bicara seperti ini.
"Karena itulah kau ingin menjadi orang lain?"
"Ya... juga karena aku selalu dijadikan bahan ejekan anak-anak lain, aku selalu dipermainkan, suram, tidak punya teman dan selalu sendirian."
"Dulu aku tidak suka melihatmu."
"Apa? Mengapa?"
"Karena kau adalah orang yang tidak mampu melindungi dirimu sendiri. Aku tidak suka orang yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri."
"Maafkan aku!"
"Tidak perlu minta maaf! Semua orang memang punya sifat yang berbeda-beda. Kau tidak bisa memaksa seseorang menjadi seperti yang kau ingini, bukan? Aku sudah belajar tentang itu... kau juga tidak akan mendapatkan apapun yang aku inginkan. Tapi aku menyadari, kau terlihat cantik karena kau berbeda."
"Er... terima kasih!"
"Aku mungkin tidak akan bertemu denganmu lagi kalau kau berangkat ke Selandia Baru."
"Kau kan bisa berkunjung... maksudku, kau pasti ingin bertemu Rose."
"Aku tidak akan pergi ke Selandia Baru."
"Mengapa?"
"Kalau aku pergi aku akan merusak segalanya."
"Apa maksudmu merusak segalanya?"
"Kau dan Rose ingin menghindari kami semua. Kalian ingin menemukan jati diri dan menjadi dewasa, tanpa pengaruh dari kami karena itu aku tidak ingin mengganggu penemuan jati diri kalian. Pergilah dan kembalilah kalau kalian ingin pulang."
"Kau membuatku ingin menangis."
"Tidak ada yang perlu ditangisi... setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Kita memang harus berpisah, menemukan kehidupan kita masing-masing dan menjadi dewasa."
"Apakah kau akan melupakan aku?"
"Kau ingin aku menjawab apa, Iris?"
"Aku ingin kebenaran."
"Aku mungkin tidak akan melupakanmu... kau akan selalu ada dihatiku," kataku. Aku tahu ini adalah hal paling jujur yang pernah kukatakan. Di saat terakhir ini aku tidak ingin berbohong lagi.
"Aku juga tidak akan melupakanmu, Albus... aku akan pulang dan mencarimu satu saat nanti."
"Mengapa kau ingin mencari aku?"
"Er, kita... maksudku kita berteman dan kita harus saling mencari kan?"
"Baiklah! Aku akan menunggumu! Kalau kau kembali aku mungkin bisa memperkenalkanmu pada cewekku yang berambut pirang."
"Oh! Aku... yah, aku pasti akan senang bertemu dengan cewekmu, Albus. Dan aku tidak mungkin menolak kalau diundang dalam upacara pernikahan."
"Kau juga bisa membawa cowok Selandia Baru yang tampan, Iris... mungkin aku akan senang bertemu dengannya."
"Yah, mungkin!"
Aku duduk dan menatap Iris. Aku melihat airmata mengalir dipipinya.
"Apa yang membuatmu sedih?"
Iris duduk dan menatapku dengan mata basah.
"Kau yang selalu membuatku sedih."
"Apa?"
"Mungkin kau tidak menyadarinya, tapi semua yang kau lakukan atau katakan selalu membuatku sedih."
"Maafkan aku!"
"Itu bukan salahmu... ini adalah salahku. Aku menangis untuk diriku sendiri... aku sebenarnya tidak ingin menangis dan membuat orang lain susah, tapi inilah aku."
"Aku tahu... aku berharap suatu saat nanti kau bisa menemukan kebahagian."
"Terima kasih, Albus... Maukah kau tetap menjadi sahabatku?"
"Ya, Iris! Aku akan selalu menjadi sahabatmu."
Scorpius' POV
Jubah pesta yang kukenakan membuatku kepanasan. Aku melonggarkan kancing leherku dan memandang ke tangga pualam menunggu Rose datang. Sudah banyak anak-anak yang turun, tapi Rose belum kelihatan. Aku memandang ke pintu yang menuju ke ruang bawah tanah ketika Iris keluar dan tersenyum pada Potter yang sudah menunggunya di pintu yang menuju Aula Besar. Keduanya langsung memasuki pintu itu.
Aku memandang ke tangga pualam lagi dan melihat seorang gadis cantik berambut merah digulung ke atas dengan ikal-ikal kecil yang dibiarkan terjatuh dipipinya. Aku tidak mengenal gadis ini, tapi dia sangat cantik dengan gaun berwarna ungu muda dari kain sutra lembut dan sepatu yang serasi.
Aku mengalihkan pandangan dari gadis itu dan memandang ke atas lagi. Aku mulai gelisah. Kemana sih, Weasley? Janjinya bertemu jam tujuh di Aula Depan, tapi sekarang jam tujuh lebih lima menit dan dia belum muncul juga.
"Hai!" kata si gadis bergaun ungu, berdiri di depanku.
Aku memandangnya sesaat. "Maaf! Aku sedang menunggu seseorang," kataku mengalihkan pandangan.
"Brengsek, Malfoy! Kau berpura-pura tidak mengenalku? Kau marah karena aku datang terlambat?" desis si gaun ungu.
Aku memperhatikan gadis ini dan ternyata dia adalah Weasley. Aku melongo memandangnya. Dia benar-benar cantik dan sedikit berbeda. Pantas saja aku tidak mengenalnya.
"Baik! Aku minta maaf karena terlambat! Bisakah kita masuk sekarang?"
"Er, baiklah!"kataku bingung.
Weasley menggandeng tanganku dan masuk ke Aula Besar.
Aula Besar telah berubah. Keempat meja asrama telah diganti dengan kursi-kursi berlengan yang dipasang berderet sampai kebelakang menghadap tempat duduk para guru, yang tidak hanya diisi oleh para guru dan kepala sekolah, tapi juga para panitia ujian dan Mentri Sihir, Kingsley Shacklebolt. Dibelakang mereka, spanduk besar dengan lambang Hogwarts dan tulisan dibawahnya berbunyi Upacara Perpisahan Angkatan ke-1878, bercahaya karena disihir dengan warna-warna cemerlang.
Kursi-kursi berlengan yang berderet-deret itu telah dipenuhi oleh para orangtua dan murid-murid Hogwarts beserta pasangan dansa mereka. Aku membawa Weasley duduk di dua kursi kosong dekat gang sempit antar kursi.
Aku memandang langit-langit dan melihat bahwa langit-langit juga telah dihiasi dengan pita-pita berwarna sesuai dengan masing-masing asrama merah-emas Gryffindor, kuning-hitam Hufflepuff, biru-perunggu Ravenclaw dan hijau-perak Slytherin. Di belakang deretan kursi guru juga telah dipasang bendera-bendera dengan lambang masing-masing asrama.
"Hadirin yang terhormat, terima kasih atas kedatangannya di Upacara Perpisahan Angkatan ke- 1878," kata McGonagall mengawali sambutannya. "Kami sangat berbahagia karena berhasil mendidik anak-anak kami selama tujuh tahun, yang menurut kami cuma sebentar. Kami juga sangat berbahagia melepas mereka menjadi orang dewasa yang bisa berkarya di kehidupan nyata."
"Kami merasa bahwa semua ini belum cukup untuk menuntun mereka menjadi dewasa. Tapi kami berharap ini menjadi awal bagi masa depan mereka yang masih panjang."
Terdengar tepuk tangan dimana-mana. Aku dan Weasley bertepuk tangan, meskipun aku tidak begitu mengerti apa yang baru saja dikatakan McGonaggal.
McGonagall kemudian memberikan kesempatan pada Mentri Sihir untuk memberikan sambutan. Aku tidak menangkap apa yang dia katakan Mentri Sihir, tapi intinya adalah dia ingin agar kami semua berusaha menjadi penyihir-penyihir yang berbakti pada orangtua dan masyarakat sihir. Juga dia membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin berkarir di Kementrian Sihir.
Kemudian McGonagall memberikan kesempatan pada Madam Marchbanks, ketua panitia ujian, untuk membacakan hasil ujian NEWT kami dari yang nilainya paling tinggi. Sesuai dugaanku, Weasley mendapatkan nilai paling tinggi dan menjadi yang pertama di angkatan kami. Aku memandang Weasley dan melihatnya tersenyum padaku.
"Akhirnya aku mengalahkanmu, Malfoy... Dad pasti akan bangga, dia selalu bilang untuk mengalahkanmu disetiap kesempatan," bisik Rose.
"Kau tidak mengalahkanku dalam Quidditch, Weasley. Akulah yang memenangkan Piala Quidditch tahun ini," balasku, berbisik.
"Kau ini! Bisakah sekali-kali kau mengakui bahwa aku lebih hebat darimu."
"Laki-laki tidak akan mengakui bahwa perempuan lebih lebat darinya."
"Tapi perempuan lebih hebat dari laki-laki dalam banyak hal. Laki-laki tidak bisa melahirkan anak," kata Weasley marah.
"Siapa yang membuat janin kalau tidak ada laki-laki?"
"Kau ini!"
"SHutt" desis orang-orang disekeliling kami.
Weasley mendelik padaku dan kembali memandang ke depan. Aku menhindari pandangan oranag-orang dan memandang McGonagall yang sudah kembali berdiri.
"Dan kata sambutan terakhir adalah dari siswi yang telah memperoleh nilai tertinggi dalam NEWT, ROSE WEASLEY!"
Weasley terpaku di tempat duduknya.
"Weasley, mereka memanggilmu!"
Weasley memandangku, wajahnya ketakutan. "Tidak! Aku tidak mempersiapkan kata sambutan, Scorpius! Aku pikir... aku pikir Ketua Murid yang akan menyampaikan kata sambutan. Aku... aku tidak bisa!"
Aku menggenggam tangannya. "Kau pasti bisa, Rose! Tenangkan dirimu, segalanya akan berjalan lancar."
"Tapi, aku tidak bisa... aku tidak bisa bicara di depan umum... bisakah kau menggantikan aku?"
Tangan Rose yang berada di tanganku gemetar, bahkan seluruh tubuhnya bergetar. Aku meremas tangannya dan menunduk mencium keningnya.
"Pergilah! Aku akan melihatmu dari sini."
Rose memandangku sesaat.
"Miss Weasley, silakan!" panggil McGonagall.
Rose berdiri dan berjalan ke depan dengan gemetar.
"Er, Selamat Malam!" suara Rose bergetar. "Terima kasih untuk kesempatan yang diberikan kepada saya. Saya tidak mempersiapkan pidato untuk kesempatan ini, karena saya berpikir yang menyampaikan sambutan adalah Ketua Murid."
"Saya tidak tahu apa yagn harus saya katakan, tapi saya ingin mengucapkan terima kasih pada pengajar-pengajar Hogwarts yang telah mengajarkan pengetahuan sihir pada saya sehingga saya bisa seperti ini. ketika berumur sebelas tahun, saya masuk Hogwarts dengan ketakutan. Saya takut, saya tidak akan bisa menjadi penyihir yang baik. Saya takut saya akan mengecewakan ayah saya yang ingin saya mengalahkan Scorpius Malfoy dalam segala kesempatan..."
Hadirin tertawa. Aku mendengus. Weasley harusnya tidak menyebut hal ini.
"Tetapi guru-guru Hogwarts berhasil mengajarkan saya semua pengetahuan. Saya jadi tahu membedakan Pixy dan knarl, saya juga bisa melakukan mantra-mantra sihir, saya bisa mempertahankan diri saya dalam duel, saya bisa melakukan banyak hal dan mengerti banyak hal. Semua ini adalah karena profesor-profesor saya yang baik," kata Rose, memandang ke tempat duduk para guru.
"Meskipun kami melakukan banyak kesalahan, meskipun kami sering didetensi, berkelakukan menyebalkan, bahkan menghina beberapa guru di belakang mereka, tapi mereka... mereka tetap mengajar kami dengan sabar dan tidak pernah mengeluh. Kami tidak akan pernah bisa membalas jasa-jasa ini untuk selamanya. Kami tidak akan bisa menjadi seperti ini tanpa pengajaran dari para profesor. Kami hanya mampu mengucapkan terima kasih, Profesor!"
Terdengar isak tangis di Aula. Banyak anak-anak mulai meneteskan airmata.
"Dan untuk teman-teman semuanya. Aku juga tidak akan bisa menjadi Rose Weasley yang berkarakter tanpa kalian. Kalianlah yang membentuk karakterku. Dengan mengamati kalian semua, aku tahu berbagai karakter orang, aku bisa belajar bersolisasi dan belajar untuk menghargai orang lain. Meskipun ada yang menyebut aku sebagai orang yang tidak bisa menghargai orang lain, tapi aku berusaha... aku berusaha menjadi orang yang baik agar aku bisa berteman dengan semuanya."
"Aku tahu ini adalah pertemuan terakhir kita. Kita akan meninggalkan Hogwarts untuk selamanya. Kita akan bergabung dalam masyarakat sihir, dan mencoba untuk bersosialisasi dengan masyarakat yang lebih besar dari lingkungan Hogwarts. Kita mungkin akan berpisah untuk selamanya dan saling melupakan, tapi aku yakin kita tidak akan melupakan Hogwarts. Kenangan Hogwarts akan selalu ada di hati kita kemanapun kita berada, aku yakin itu."
Terdengar tepuk tangan setuju di seluruh Aula Besar.
"Kita tidak mungkin melupakan kastil ini, danau, lapangan Quidditch, Rumah Kaca, Hutan Terlarang, juga semua kunjugan ke Hogsmeade dimana kita menemukan cinta. Mungkin banyak di antara kita yang jatuh cinta, patah hati dan jatuh cinta lagi, menangis, tertawa, saling membenci, menyimpan dendam dan sebagainya, tapi jangan kuatir, teman-teman, karena semua pengalaman itu tidak akan sia-sia. Semuanya membentuk karakter kita untuk menjadi dewasa dan mampu menentukan pilihan dalam hidup kita. Aku yakin kita semua akan berjalan menuju kedewasaan dengan pandangan yang terbuka. Pilihan ada ditangan kita, semua tergantung keberanian kita untuk memilih. Akhir kata, terima Kasih untuk semuanya!"
Tepuk tangan membahana di Aula Besar. Rose berjalan kembali ke arahku, aku menyambutnya dengan pelukan.
"Sangat bagus, Rose!"
"Aku... aku..."
Aku memberikan kecupan dikeningnya lagi.
Rose menatapku.
"Semua baik-baik saja kan? Kau hanya perlu percaya pada dirimu sendiri."
Rose masih menatapku.
Aku memandang sekelilingku dan melihat bahwa para hadirin telah berdiri. Memandang ke depan aku melihat McGonagall mengayunkan tongkat sihirnya membuat semua kursi berderet-deret di sekeliling Aula Besar meninggalkan lantai kosong di tengah Aula tempat orang-orang berdansa.
Meja-meja berisi makanan mulai bermunculan di pojokan dan bar mini telah muncul di ujung sebelah belakang Aula Besar. Aku menarik Rose, yang tampaknya masih sedikit kebingungan ke arah meja-meja berisi makanan.
"Weasley," teriak seorang cewek Hufflepuff mendekati Rose. "Pidatomu benar-benar menyentuh... aku sampai meneteskan airmata."
"Terima kasih!" kata Rose.
Kemudian aku terdorong ke samping oleh anak-anak lain yang berdatangan menyalami, memeluk dan mencium pipi Rose. Aku berdiri dengan sabar di pinggir sambil menunggu kapan antrean anak-anak yang memberi salam dan ucapan selamat ini berakhir.
"Miss Weasley!" kata Brewster mendekati Rose, setelah antrean terakhir pergi.
"Profesor," kata Rose.
"Pidato yang benar-benar bagus!" kata Brewster menyalami Rose.
"Terima kasih, Profesor!"
Kemudian profesor-profesor yang lain mulai berdatangan menyalami Rose, bahkan Madam Darnsley, Madam Marshall dan Mr. Confey, penjaga sekolah. Rose menyalami mereka semua lagi, dan aku mendengus tidak sabar di sampingnya.
"Maaf, Malfoy!" kata Rose, setelah Mr. Confey pergi.
Sudah kembali ke Weasley yang biasa. Dia memanggil aku 'Malfoy' lagi. Aku memperhatikan Rose dengan teliti. Apa yang membuat sikapnya berubah-ubah?
"Mengapa kau memanggil aku Malf..."
"Scorpius! Bisakah kau memperkenalkan teman kencanmu yang cantik ini?" tanya suara dibelakangku.
Aku berbalik dan melihat Mom dan Dad sedang memandangku. Dad mengenakan jubah hijau dan Mom mengenakan gaun berwarna hitam mengkilat. Mereka memandang Rose dengan penuh perhatian. Jantungku berdetak kencang, aku belum memberitahu mereka tentang Rose.
"Dia... er..." gagapku.
"Rose Weasley, Sir," kata Rose.
"Aku tahu kau yang memberikan pidato tadi kan? Pidato yang benar-benar menyentuh," kata Mom tersenyum pada Rose.
Rose balas tersenyum.
"Aku tidak tahu kalau Ronald Weasley ingin anaknya mengalahkanmu, Scorpius," kata Dad.
"Er..." aku tidak tahu harus bicara apa.
"Kau juga tidak pernah bilang kalau kau berkencan dengannya."
"Er..."
"Draco, aku tahu Scorpius berniat memberitahu kita, tapi belum punya kesempatan. Iyakan, Sayang?" tanya Mom, memandangku.
"Iya, aku..."
"Aku tidak ingin kau bergaul dengan Weasley, Scorpius," kata Dad dingin. "Aku tidak keberatan dengan Weasley yang lain asal jangan yang ini."
"Draco!"
"Dad, aku..."
"Mengapa anda tidak menyukai saya, Sir?" tanya Rose, menatap Dad.
"Keluarga kita memang tidak saling menyukai, Miss Weasley. Dan aku tidak akan setuju kau mendekati anakku."
"Saya akan mendekatinya sesuka saya, Sir... saya juga akan menikah dengannya, anda senang, Sir?" kata Rose. Tampaknya sedang mencoba membuat orangtuaku jengkel.
"Apa?" Mom, Dad, dan aku terkejut memandang Rose.
Rose mendelik padaku.
"Aku tidak akan menyetujui pernikahan kalian, Scorpius," kata Dad, memandangku tajam.
"Siapa bilang aku akan menikah... aku belum memutuskan apa-apa," kataku mendelik pada Rose.
"Dan Miss Weasley, kau tidak akan cocok bersanding dengan anakku... selamanya tidak akan cocok. Malfoy dan Weasley tidak akan bisa bersatu," kata Dad. "Lihatlah latar belakang keluargamu, Miss Weasley! Dan cobalah untuk menjauhi Scorpius!"
"Dad, aku tidak suka Dad berkata begitu pada Rose, dia adalah temanku."
"Terima kasih untuk peringatannya, Mr. Malfoy. Saya akan selalu ingat itu kalau satu saat nanti saya ingin menikah dengan Scorpius," kata Rose, memandang Dad dingin.
"Draco!"
"Ini terakhir kalinya aku melihatmu bersamanya, Scorpius," kata Dad.
"Dad..."
"Ayo, Astoria!" kata Dad, membawa Mom pergi ke meja-meja berisi makanan.
Rose memandang Mom dan Dad dengan wajah tanpa ekspresi.
"Maafkan ayahku!" kataku, menatap Rose, mencoba membaca apa yang tersirat di matanya.
"Kita memang seperti itu kan?" kata Rose, memandang keliling Aula Besar.
"Apa?"
"Keluarga kita!"
"Mengapa?"
"Mereka tidak akan menyetujui hubungan kita... kita tidak akan bisa bersama, Scorpius. Kau belum melihat ayahku. Dia membenci ayahmu," kata Rose, frustrasi.
"Kita bisa mengatasinya," kataku, seolah-olah kami memang sedang menjalin hubungan asmara.
"Tidak! Kita tidak bisa... keluarga adalah segalanya bagiku. Mereka sangat penting bagiku. Kau juga... kau juga harus memilih keluargamu dari pada aku."
"Tidak! Dengar, Rose! Kita bisa mengatasinya, kita bisa bicara pada orangtua kita dan... semua akan berjalan dengan lancar," kataku mencoba menenangkan Rose. Apa yang aku lakukan? Aku tidak beniat melamar Rose sekarang kan?
"Lancar? Kau selalu menganggap semua masalah mudah, Scorpius!"
"Kau salah mengerti aku tidak..."
"Rose!" suara Iris terdengar dari kiri Rose. Sesaat kemudian Rose langsung dipeluk dengan erat oleh Iris.
Potter muncul dari belakang Iris, menggelengkan kepala ketika memandangku.
"Iris!" kata Rose, setelah Iris melepaskannya.
"Pidato yang benar-benar bagus, Rose! Aku terus meneteskan airmata saat kau berbicara."
"Terima kasih Iris," kata Rose.
"Mengapa wajahmu begitu?" tanya Iris, memandang Rose dengan penuh perhatian sekarang.
"Tidak aku..."
"Scorpius, apa yang terjadi dengan Rose?"
"Aku tidak apa-apa... percayalah, Iris... aku lapar... ayo!" kata Rose membawaku pergi meninggalkan Iris dan Potter.
Rose berjalan menarikku menghindari tamu-tamu, menuju meja yang jauh dari Iris dan Potter juga orangtuaku.
Aku duduk dan mulai menikmati daging domba panggang. Rose memandangku, tanpa memperhatikan apa yang dimakannya.
"Kau sangat menyukai itu, ya?" tanya Rose, memandang daging domba.
"Ya, ini makanan favoritku."
"Daging itu terlalu berminyak," kata Rose.
"Ini sangat enak, cobalah!" kataku, menusuk sepotong dengan garpu dan menyodorkannya pada Rose.
"Aku vegetarian," kata Rose menghindar.
"Aku tahu kau bukan vegetarian, Rose. Makanlah!" kataku memaksa, meyodorkan garpu ke wajahnya.
Rose membuka mulutnya dan aku menyuapkan daging domba padanya.
"Bagaimana?" tanyaku, menusuk daging lagi.
"Lumayan,' kata Rose.
"Lumayan enak," kataku tersenyum.
Rose tersenyum juga, mengambil garpu dan makan daging domba bersamaku.
"Aku harus minta maaf untuk ayahku. Mungkin karena dia belum mengenalmu Rose, aku yakin dia akan menyukaimu kalau sudah mengenalmu."
"Aku tidak akan punya kesempatan untuk mengenalnya, Scorpius."
"Kau punya kesempatan, Rose. Kita... kita..."
"Tidak ada 'kita' untuk kita, Scorpius. Kita akan berpisah dan menjalani hidup kita masing-masing," kata Rose tegang.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Aku akan menyusulmu ke Selandia Baru."
"Jangan mempermalukan dirimu sendiri, Scorpius... cobalah bersikap dewasa! Kita tidak akan bisa bersama... semua akan membenci kita kalau kita menjalin hubungan. Aku tidak ingin orangtuaku membenciku dan aku juga tidak ingin kau dibenci oleh ayahmu."
"Rose, aku..." aku mencintaimu, aku ingin bersamamu. Aku tidak mengatakan hal itu karena aku pengecut, aku takut Rose akan menolakku. Aku takut sesuatu yang terjalin antara aku dan dia putus karena apa yang kukatakan.
"Apa?"
"Tidak ada," jawabku dan Rose memandangku dengan curiga.
"Bagus! Selesai makanmu, setelah itu kita mencari orangtuaku."
"Apa? Aku tidak mau..."
"Kau harus bertemu mereka..." kata Rose menarikku berdiri. "Angkat kepalamu, Scorpius... Malfoy bukan seorang penakut."
Rose membawa, lebih tepatnya menyeretku menyusuri kerumanan orang mencari orangtuanya.
"Itu mereka!" kata Rose, memandang seorang laki-laki jangkung berambut merah dengan bintik-bintik diwajahnya dan seorang perempuan cantik berambut coklat lebat.
"Mom...Dad," kata Rose, membawaku bersamannya.
"Rose... kami mencari-carimu!" kata Mrs. Weasley, memeluk Rose.
"Pidatomu benar-benar bagus, Rosie. Kau sangat beruntung tidak mewarisi sifatku yang menggugup dan mudah down," kata Mr. Weasley.
"Siapa ini, Rose?" tanya Mrs. Weasley, memandang Scorpius.
"Malfoy!" kata Dad, memandang rambut perak Scorpius.
"Mom... Dad, perkenalkan ini Scorpius Malfoy!" kata Rose.
"Senang bertemu dengan anda, Mr. dan Mrs. Weasley," kataku, tersenyum pada Mrs. Weasley yang menurutku lebih ramah dari .
"Dia ini siapamu, Rosie?" tanya Mr. Weasley, mendelik padaku.
"Dia teman kencan aku, Dad," kata Rose, tersenyum pada Mr. Weasley.
"Rosie, apakah kau tidak ingat apa yang kukatakan padamu pada tahun pertamamu di Hogwarts?"
"Aku ingat, Dad... 'Jangan terlalu ramah padanya, tapi, Rosie. Grandpa Weasley tak akan memaafkanmu kalau kau menikah dengan darah-murni'. Aku selalu ingat itu, Dad."
"Lalu mengapa kau bergaul dengannya?"
"Aku cuma bergaul, aku tidak berniat menikah dengannya."
"Sepertinya Malfoy tidak berpikiran begitu," kata memandangku.
"Er, aku..." mengapa aku tidak mampu bicara? Aku memang pengecut.
"Aku tidak peduli apa yang dia pikirkan, Dad."
"Aku tetap tidak suka kau bergaul dengannya, Rosie."
"Dia sangat baik, Dad... Dad harus mengenalnya dulu."
"Aku tidak yakin, Rosie!" kata Mr. Weasley, masih memandangku dengan tajam.
"Kalian akan punya waktu untuk saling mengenal. Scorpius akan mengikuti pelatihan Auror di Kementrian."
"Ohya?" tanya Mr. Weasley terkejut, kemudian tersenyum licik padaku.
Aku langsung tahu bahwa aku akan mengalami hari-hari mengerikan di Kementrian Sihir. Harusnya aku mempertimbangkan cita-cita yang lain.
"Dad tidak berencana membuat hari-hari Scorpius seperti di neraka kan?" tanya Rose memandang Mr. Weasley dengan tajam.
"Tidak, Sayang... Mom, akan mengawasinya," kata Mrs. Weasley, mendelik pada suaminya.
"Terima kasih, Hermione!" kata Mr. Weasley, mengalihkan pandangan.
"Tapi, Rose, kau juga akan mengikuti pelatihan Auror di Kementrian kan?"
"Tidak, Mom... sebenarnya, aku akan ke Selandia Baru... Kami akan belajar menjadi Pemunah Kutukan di sana."
"Apa?" Mr. dan Mrs. Weasley terkejut.
"Kami? Kau bersama siapa, Rose?" tanya Mrs. Weasley.
"Bersama Iris, Mom... aku sudah menceritakan tentang dia di suratku yang terakhir."
"Iris Zabini?"
"Benar, Mom."
"Kalau kau ingin menjadi Pemunah Kutukan kau bisa belajar di Gringgots, Rosie! kau tidak perlu pergi ke Selandia Baru," kata Mr. Weasley.
Aku tertawa, teringat apa yang pernah kukatakan pada Rose.
"Apa, Malfoy?" Mr. Weasley, mendelik padaku.
"Tidak, Sir. Aku teringat pernah juga menyebutkan hal itu pada Rose," kataku, berusaha tersenyum ramah.
"Benar yang dikatakan, Scorpius dan ayahmu, Rose. Kau bisa belajar jadi Pemunah Kutukan di Gringgots."
"Mom... aku ingin keluar dari Inggris. Aku ingin melihat dunia luar... aku ingin mencoba mencari pengalaman di tempat lain."
Mr. dan Mrs. Weasley saling berpandangan.
"Rosie, kau tahu kau adalah anak kami satu-satunya..."
"Masih ada Hugo, Dad," kata Rose cepat.
"Ya... kau dan Hugo. Dan kau adalah anak perempuan kami satu-satunya. Sebagai orangtua kami ingin dekat dengan anak-anak kami."
"Dad, aku sudah dewasa... aku punya pilihan sendiri... aku benar-benar ingin pergi ke Selandia Baru."
"Kita akan bicara tentang ini di rumah, Rosie," kata Mr. Weasley. "Ayo, Hermione kita berdansa."
Pemain musik telah memainkan alat musik mereka dan orang-orang mulai memenuhi lantai dansa. Aku memandang Rose, yang memandang orangtuanya menghilang di kerumunan orang –orang yang berdansa.
"Orangtuamu tidak buruk, paling tidak mereka tidak menghinaku seperti yang dilakukan orangtuaku padamu," kataku.
Rose tidak menjawab.
"Apakah kau yakin kau akan berhasil meyakinkan orangtuamu? Kelihatannya mereka tidak setuju kau pergi ke Selandia Baru."
"Aku tidak tahu, tapi aku akan berusaha meyakinkan mereka," jawab Rose.
Aku memandangnya dan mempersiapkan diriku untuk mengajaknya berdansa.
"Yuk, kita ke bar," kata Rose.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu minum Whisky Api lagi."
"Hei, aku cuma ingin minum Butterbeer."
"Nanti... ayo, kita berdansa sekarang!" kataku, menarik lengannya ke arah lantai dansa.
Aku meletak tanganku di pinggangnya dan membawanya berdansa mengikuti musik.
"Aku benar-benar tidak mengenalimu tadi, kau sangat berbeda... er, cantik."
"Aku pikir kau marah karena aku datang terlambat."
"Aku tidak mungkin marah karena hal itu."
"Tidak mungkin, terlalu berlebihan, Scorpius! Aku pasti akan marah kalau orang yang aku tunggu datang terlambat."
"Mengapa kau terlambat?"
"Aku harus berdandan cantik untuk hari ini... ini adalah hari khusus."
"Kau berhasil... kau memang sangat cantik."
"Er, terima kasih!" kata Rose dengan wajah merah.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kita, Rose? Kita berbicara kepada orangtua kita seolah kita sedang berkencan padahal kita hanya jadi pasangan dansa untuk malam ini."
"Jangan tanya aku! Aku bingung... dan kaulah yang membuatku bingung."
"Apa yang aku lakukan?"
"Kau... kau kadang-kadang memperlakukanku dengan lembut dan kadang-kadang kau marah-marah padaku. Itulah yang membuatku bingung... aku tidak tahu harus menganggapmu sebagai apa."
"Anggaplah aku sebagai orang yang berbaik hati padamu!"
"Baik... aku akan menganggapmu sebagai orang baik yang berkelakukan buruk."
"Hei, jangan mulai mengucapkan kata-kata yang membuatku marah, Rose!"
"Marahlah! Aku ingin lihat apa yang akan kau lakukan!" kata Rose melepasakan diri dariku.
Aku mendengus lalu mencoba untuk menariknya kembali ke arahku, Rose mundur. Kemudian seseorang yang berdansa di dekat kami menyenggol Rose membuatnya terdorong ke arahku. Jatuh di pelukanku.
"Nah, begitu lebih baik," kataku memeluknya. "Kita bisa berdansa sambil berpelukan."
"Lepaskan aku!" desis Rose.
"Tidak perlu memamerkan kemesraan seperti itu, Scorpius!" kata suara lain di samping kami, suara dingin yang sangat kukenal.
Mom dan Dad sedang berdansa di dekat kami. Mom tersenyum, Dad memandan Rose dengan tajam. Aku langsung melepaskan pelukanku pada Rose, tapi tanganku tetap berada di pinggingnya.
"Mr. Malfoy... Mrs. Malfoy!" kata Rose, tersenyum pada Mom.
"Mom... Dad! Aku tidak tahu kalian berdansa di sekitar sini," kataku.
"Kau terlalu sibuk menatap pasanganmu sampai kau tidak bisa melihat sekelilingmu, Scorpius."
"Er, aku..."
"Silakan berdansa lagi! Ini akan menjadi dansa terakhirmu dengan Miss Weasley," kata Dad, lalu memaling wajah, tidak menghiraukan Rose dan aku lagi.
"Ya, ini akan menjadi dansaku yang pertama dan terakhir denganmu. Ayo, Scorpius kita berdansa lagi!"
Aku ingin membantah, tapi Rose menyuruhku diam dengan pandangan.
Iris' POV
"Aku harus membawamu bertemu orangtuaku," kata Albus, memandangku yang sedang menyuapkan suapan terakhir udang goreng ke mulutku.
Aku langsung tersedak.
Albus memberiku minuman dan aku minum dan berusaha untuk mengatur nafasku dan menenangkan diri.
"Untuk apa?" tanyaku mengulur waktu.
"Kau teman kencanku malam ini dan aku tidak mungkin pura-pura tidak melihat orangtuaku."
Aku menghembuskan nafas lagi dan berdiri.
"Ayo," kataku.
Albus membawa aku menyusuri kerumunan orang menuju sepasang orangtua. Seorang laki-laki tampan berkaca mata dengan bekas luka di keningnya, Harry Potter yang terkenal, dan seorang perempuan cantik berambut merah yang sangat mirip Lily.
"Mom... Dad!" seru Albus.
Sepasang orangtua itu memalingkan wajah memandang kami.
"Al!" kata perempuan itu, yang pasti adalah Mrs. Potter.
"Kau kemana saja, Al? Ibumu dan aku mencarimu," kata Mr. Potter.
"Maafkan aku, Mom... Dad... Iris dan aku makan di sebelah sana," jawab Albus.
"Siapa dia, Al! Kau belum memperkenalkan kami."
"Ini, Iris Zabini, Mom! Iris, ini orangtuaku, Harry dan Ginny Potter!"
Aku menyalami Mr. dan Mrs. Potter dengan tangan gemetar, aku tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan mereka. Aku tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Tetapi, Mr. dan Mrs. Potter tampaknya cukup ramah.
"Kau anak perempuan Blaise Zabini dan Parvati, Iris?" tanya Mr. Potter.
"Ya, Sir! Anda mengenal orangtuaku?"
"Ya, kami seangkatan... aku pernah berdansa dengan ibumu ditahun keempatku," kata Mr. Potter tersenyum.
"Wah, Harry, kau masih mengingat masa lalu rupanya," kata sebuah suara di belakang kami. Aku tahu suara ini. Ini adalah suara Mother.
"Hai, Parvati! Lama tidak bertemu," kata Mr. Potter menyalami Mother yang baru saja datang bergabung dengan kami. Father mengekor di belakang dengan wajah yang menunjukkan keinginan untuk segera kabur dari tempat ini. Father, bisakah kau berkelakuan normal untuk malam ini saja? Aku tidak mau Mr. dan Mrs. Potter berpikir bahwa keluarga kita adalah keluarga sok.
Mr. dan Mrs. Potter juga menyalami Father. Aku bersyukur karena Father tersenyum.
Aku dan Albus mendengarkan Mother dan Father serta Mr. dan Mrs. Potter bercerita tentang masa lalu; bagaimana mereka menikmati pesta dansa Triwizard, saat-saat menegangkan pada tahun kelima mereka karena pengajar yang bernama Umbridge, betapa sedih Hogwarts saat kematian Dumbledore dan saat-saat suram perang Hogwarts. Mother dan Mrs. Potter menangis ketika mengulang kisah perang Hogwarts ini.
"Ya, semua sudah berlalu. Sekarang adalah saatnya bagi kita untuk membangun masyarakat sihir yang damai," kata Mr. Potter. "Aku senang anak perempuanmu yang cantik ini mau berteman dengan anakku, Blaise."
Wajahku langsung terasa panas. Aku menunggu dengan tidak sabar, menanti apa yang akan dikatakan Father.
"Aku juga senang. Kelihatannya anakmu memiliki sifat kepahlawanan yang mirip denganmu, Harry," kata Father.
Hah? Apa maksudnya?
"Kau menyindirku, Blaise!" kata Mr. Potter, tapi syukurlah karena dia tertawa.
Mrs. Potter, Mother dan Father, juga tertawa. Albus dan Aku berpandangan dengan bingung.
Pengalih perhatian datang dari Lily yang mendatangi kumpulan kecil kami bersama Alan. Mereka berdua tampak tersenyum ceria
"Hai, Mom... Dad, ini Alan Zabini. Aku belum menceritakannya pada kalian, tapi aku berkencan dengannya," kata Lily ceria pada Mr. dan Mrs. Potter.
"Zabini?" tanya Mr. dan Mrs. Potter, memandang Albus dan aku.
"Ya, dia adalah kakak Iris," jawab Lily, memandangku.
"Halo, Mr. Potter... Mrs. Potter!" kata Alan menyalami Mr. dan Mrs. Potter.
"Mr. Zabini... Mrs. Zabini, aku Lily Potter," kata Lily lagi, menyalami orangtuaku.
Orangtua kami hanya saling berpandangan tidak tahu harus berkata apa.
Apakah ini sangat aneh? Aku pikir tidak ada yang aneh kalau aku dengan Albus berkencan dan Lily dengan Alan berkencan. Tetapi jangan kuatir karena Albus dan aku tidak berkencan. Kami adalah sahabat dan selamanya akan menjadi sahabat, meskipun aku sangat mencintainya.
Lily kemudian bercerita tentang kisah kencannya yang lucu pada orangtua kami yang membuat orangtua kami tertawa dan Alan cemberut.
"Bagaimana denganmu dan Iris, Al?" tanya Mrs. Potter.
"Ya, ceritakan tentang kisah kencan kalian, Iris!" kata Mom padaku.
Albus dan aku saling berpandangan. Kencan? Kami tidak berkencan. Aku adalah kencan semalam Albus dan besok semua akan terlupakan.
"Er... ya,..." kemudian Albus mulai menceritakan kejadian saat aku terkena konfeti dimata. Dia menceritakannya sedemikian rupa sehingga menjadi kisah lelucon yang benar-benar lucu, membuat semua orang tertawa kecuali aku yang cemberut.
"Iris memang seperti itu, Al. Kau harus memperhatikannya dengan baik. Dia punya kecenderungan untuk melukai dirinya sendiri," kata Mother.
Helo! Aku delapan belas tahun. Aku bisa melindungi diriku sendiri tanpa perlu penjaga di sekelilingku. Kecenderungan untuk melukai diriku sendiri? Mother, tidakkah itu sangat berlebihan?
"Tenang saja, Mrs. Zabini, aku akan menjaganya... tapi aku tidak akan selalu menjaganya, dia akan pergi ke Selandia Baru."
Hening sesaat. Semua menatapku.
"Selandia Baru? Ayahmu dan aku belum pernah mendengar tentang ini, Iris," kata Mother, menatapku.
Aku mendelik pada Albus. Terima kasih, Albus, kau telah merusak rencanaku untuk mengatakan tentang ini pada saat liburan musim panas!
"Er, aku memang akan mengatakan rencanaku ke Selandia Baru pada Mother dan Father saat liburan musim panas, tapi karena kalian sudah mengetahuinya aku membenarkan itu."
"Kau akan ke Selandia Baru, Iris?" kata Father, tidak percaya.
Lily dan Alan memutuskan untuk berdansa dan Mr. dan Mrs. Potter memutuskan untuk mencari Mr. dan Mrs. Weasley.
Aku memandang Albus yang tetap ada di sampingku. Pergilah, Albus! Aku tidak ingin kau mendengarku berbicara dengan orangtuaku.
Albus memberiku pandangan menantang.
"Pergilah!" bisikku.
"Biarkan, Al disini, Iris... kami perlu pendukung dari luar. Aku yakin Al juga tidak suka kau pergi ke Selandia Baru," kata Mother.
"Benar, Mrs. Zabini. Aku juga tidak suka Iris pergi ke Selandia Baru. Aku yakin dia tidak akan bisa bertahan hidup di sana."
"Nah, kau mendengar apa yang dikatakan Al, Iris?"
"Biarkan aku pergi! Aku yakin aku bisa menjalani hidupku dengan baik. Aku tidak mungkin mati di negeri orang," kataku dengan mata berkaca-kaca.
"Banyak pekerjaan di Inggris, Iris! Kalau kau juga pergi tidak akan ada lagi yang menghibur kami di mansion."
"Aku tidak mengerti?"
"Apakah Alan belum mengatakannya padamu? Alan akan pergi ke Amerika, dia akan belajar bisnis di New York dan membangun kembali perusahaan kita."
"Apa?"
"Makanya Iris, kami ingin kau tinggal di Inggris. Setidaknya ada salah satu dari kalian yang menemani kami," kata Father menatapku.
"Aku tidak bisa. Maafkan aku, Father! Aku ingin pergi. Impianku adalah pergi keluar dari Inggris, membangun kehidupanku sendiri. Kumohon, jangan halangi aku! Aku tidak akan meminta apa-apa lagi dari kalian. Karena itu kabulkan permintaanku ini!" kataku. Sekarang ini airmata sudah mengalir di pipiku.
"Blaise, kita bicara tentang ini lagi di rumah. Iris, ayahmu dan aku akan berdansa!" kata Mother, membawa Father ke lantai dansa.
Albus memandangku. Aku menghapus airmataku dan menatap Albus.
"Kau sengaja melakukannya," kataku, mendelik padanya.
"Apa yang aku lakukan?" tanya Albus, balas mendelik.
"Aku sudah merencanakan menyampaikan ini pada mereka saat liburan musim panas, tapi kau... kau menghancurkan segalanya."
"Apa bedanya menyampaikan sekarang dengan menyampaikannya saat liburan musim panas?"
"Suasananya, Albus! Di rumah aku yakin aku bisa membujuk mereka. Kau sudah membuat mereka memikirkan cara-cara untuk menghalangiku."
"Aku memang tidak ingin kau pergi ke Selandia Baru," kata Albus.
"Kupikir kau setuju, Albus."
"Tidak! aku tidak suka kau pergi ke Selandia Baru... dan Rose juga..."
"Kau tidak suka karena aku mengajak Rose kan? Baiklah, aku akan membujuk Rose supaya membatalkan niatnya," kataku, lalu berbalik meninggalkan Albus.
Kalau Albus memang sangat mencintai Rose, sehingga tidak ingin melihatnya pergi jauh, aku akan melakukan segala cara untuk membatalkan rencana Rose. Tapi aku, aku akan tetap pergi, meskipun Father dan Mother tidak mengijinkanku pergi.
"Iris, sebentar!" kata Albus, menarik lenganku. "Kau mau kemana?"
"Mencari Rose... kau tidak ingin Rose tidak pergi ke Selandia Baru kan?"
"Dengar! Aku tidak peduli dengan Rose. Aku tidak ingin kau pergi ke Selandia Baru."
"Aku? tapi kupikir Rose..."
"Bisakah kita berhenti bicara tentang Rose?"
"Tapi kupikir kau senang kalau aku... kalau aku pergi ke Selandia Baru. Bukankah siang tadi kau setuju? Kau bahkan mengatakan bahwa kau ingin melihatku bersama cowok Selandia Baru."
"Aku berubah pikiran. OK! Aku tidak ingin kau pergi ke tempat yang jauh dan aku tidak bisa melihatmu lagi."
"Maaf!"
"Cukup, Iris! Kau selalu bilang 'maaf' dan itu membuatku sangat marah."
"Maaf..."
Albus mendelik padaku.
"Er..." aku mengalihkan pandangan dan memandang lantai dansa.
Rose sedang berdansa dengan Scorpius di dekat Mr. dan Mrs. Malfoy.
"Ayo, kita berdansa!" kata Albus, menarikku ke lantai dansa. Dia bahkan tidak bertanya aku mau atau tidak berdansa dengannya.
Albus meletakkan tangannya di pinggangku. Aku berusaha untuk berkonsentrasi pada musik dan mencoba untuk tidak menginjak kakinya.
Rose' POV
Aku memandang Scorpius yang mengucapkan selamat tinggal pada orangtuanya di pintu depan. Aku sudah mengucapkan selamat tinggal pada Mom, Dad, Aunt Ginny dan Uncle Harry dan mereka sudah berjalan menuju gerbang Hogwarts untuk ber-apparate.
"Mom dan Dad, ingin agar aku memikirkan lagi keputusanku untuk menjadi Auror," kata Scorpius padaku, setelah melepaskan orangtuanya di pintu depan.
"Mereka tidak suka kau menjadi Auror?"
"Ya, mereka ingin aku mengurus perusahaan keluarga."
"Oh..."
"Ayo, aku akan mengatarmu ke asrama Gryffindor!"
"Tidak! Aku belum ingin kembali sekarang..." kataku memandang Scorpius.
Ini mungkin kesempatanku yang terakhir bersamanya. Setelah malam ini aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi selamanya. Dia akan menikah dengan gadis berdarah murni dan aku kemungkinan besar tidak akan jatuh cinta lagi... aku akan sangat bersyukur kalau ada cowok yang membuatku jatuh cinta, seperti aku jatuh cinta padanya.
"Er, Scorpius! Bisakah kau menemaniku?" tanyaku, sedikit gugup.
"Ke mana, Rose?"
"Ke menara Astronomy... aku ingin bicara denganmu."
"Baiklah!" kata Scorpius, memandangku ingin tahu.
Kami berjalan menuju menara Astronomy.
"Aku ingin kau menemaniku minum," kataku setelah kami tiba di menara dan duduk di lantai sambil memandang langit.
"Apa?"
Aku menyihir dua botol Whisky Api dari udara dan memberikan satu pada Scorpius.
"Dari mana kau mendapatkan ini?"
"Aku mengambilnya dari bar," jawabku membuka tutup botol dan langsung meneguk. Perasaan hangat dan melayang langsung menyelimutiku.
"Aku tidak tahu kalau kau bisa mencuri," kata Scorpius, minum dari botolnya.
"Ya, kau tidak tahu apa-apa tentang aku. Aku pernah mencuri Ramuan Polijus dari lemari pribadi Brewster."
"Apa?" tanya Scorpius kaget, dan langsung tertawa.
Aku menceritakan kisah pencurian Ramuan Polijus bersama Iris dan kami berdua tertawa bersama.
"Iris bersyukur bisa mengenalmu, Rose. Dan dia benar-benar memujamu."
"Aku tidak suka orang memujaku," kata Rose. "Sikap Iris itu kadang-kadang membuatku sebal juga."
Scorpius tertawa lagi dan memandang sekelilingnya.
"Di tempat inilah kita tidur bersama, Rose... dan kau mengatakan bahwa kau mencintaiku," kata Scorpius, membuatku tersedak Whisky Api.
"Apa?"
"Kau pasti terkejut kan? Aku yakin saat itu aku tidak bermimpi, aku tahu itu kenyataan," kata Scorpius meneguk minumannya lagi.
"Kau pasti bermimpi, Scorpius," kataku, menghabiskan setengah botol minumanku.
"Saat itu aku sangat bahagia..."
"Apa yang mebuatmu bahagia?"
"Mendengarmu mengatakan bahwa kau mencintaiku," kata Scorpius minum lagi dan menatapku.
Ya, ini pasti karena pengaruh Whisky Api. Seharusnya Scorpius tidak mengatakan hal-hal seperti ini. Aku harus berangkat ke Selandia Baru dalam beberapa minggu.
"Entahlah, mungkin aku sedang bermimpi dan mungkin saja saat itu kau yang kebetulan ada di mimpiku," kataku. Aku mulai mabuk aku tahu perasaan ini.
"Kau benar-benar akan pergi, Rose?"
"Ya..."
"Apakah kau tetap tidak mengijinkanku mengunjungimu?"
"Tidak!"
"Mengapa?"
"Karena aku tidak akan bisa berkonsentrasi untuk melupakanmu kalau kau ada di sampingku."
"Begitu, Rose! Bagaimana kalau aku tidak ingin kau melupakan aku? Bagaimana kalau aku... aku mencintai..."
"JANGAN!" aku menjerit, aku tidak ingin dia mengatakan cinta. Tidak sekarang! Tidak! Aku harus berangkat ke Selandia Baru dulu. Aku harus jadi dewasa dulu.
"Mengapa? Aku mencin..."
"Tutup mulut, Scorpius!"
"Kau memang sangat keras kepala!"
"Begitulah, aku... aku harus pergi ke Selandia Baru."
Scorpius menghabiskan minumannya dan menggumamkan Mantra Pengisian-Ulang, sehingga botolnya kembali penuh.
"Aku tahu kau mencintaiku, Rose, tapi sifat keras kepalamu itu lama-lama membuatku sebal."
Aku tidak membantah karena tidak ada yang perlu dibantah, semuanya yang dikatakan Scorpius adalah kenyataan.
Aku menghabiskan Whisky Apiku, kemudian bersandar pada Scorpius. Dia menarikku mendekat padanya dan aku menggenggam salah satu tangannya.
"Aku ingin bersamamu malam ini, Scorpius. Aku... mungkin ini yang terakhir..."
"Ini tidak akan menjadi yang terakhir, Rose."
"Keluarga kita saling membenci, tidakkah kau menyadarinya?"
"Aku tahu."
"Tinggalkah bersamaku di sini, Scorpius! Jangan bicara apapun, sebab kita akan bertengkar lagi kalau bicara. Biarlah seperti ini!"
Scorpius memberikan kecupan singkat di rambutku dan aku memejamkan mata. Aku ingin tidur dalam pelukannya, malam ini saja sebelum semuanya berakhir.
Iris's POV
Albus dan aku berjalan menyusuri koridor bawah tanah yang menuju ruang rekreasi Slytherin. Kami baru saja berpisah dengan orangtua kami di pintu depan.
Aku menggandeng tangan Albus. Aku memang berniat melakukannya sebab aku tahu aku tidak akan melakukannya lagi nanti. Albus telah mengatakan bahwa dia tidak akan mengunjungi aku dan Rose di Selandia Baru. Aku tahu dia benar-benar tidak akan datang mengunjungi kami.
Albus memandangku. Aku mengabaikannya dan terus berjalan.
"Nah, sampai bertemu lagi!" kata Albus, setelah kami tiba di tembok batu kosong pintu masuk ke ruang rekreasi Slytherin.
Albus langsung berjalan pergi meninggalkanku. Aku terpaku di tempat memandangnya. Iris, apa yang kau harapkan? Apakah kau menharapkan dia menciummu atau sekedar memelukmu untuk terakhir kalinya?
Entah, apa yang ada dipikiranku, tapi aku berlari mengejarnya dan memeluknya dari belakang. Airmataku jatuh dipipiku, membasahi punggung jubahnya.
"Iris?" bisiknya perlahan, meletakkan tangannya di atas tanganku yang ada di pinggangnya.
"Biarkan aku memelukmu... sebentar saja!"
Sesaat kami terdiam hanya suara tangisanku yang terdengar bergema di koridor bawah tanah.
"Aku mencintaimu... aku selalu mencintaimu," kataku.
"Kalau begitu jangan pergi ke Selandia Baru."
"Aku harus pergi... aku harus menjadi dewasa dulu, aku ingin menjadi gadis yang berani dan bisa melindungi diriku sendiri."
"Aku mengerti!" kata Albus melepaskan diri dariku.
Dia berbalik memandangku.
"Tidak ada lagi yang bisa kukatakan, Iris! Aku tidak bisa mengatakan sampai jumpa karena aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi. Aku hanya bisa mengatakan selamat tinggal. Semoga kau bisa menemu apa yang kau cari di Selandia Baru!"
Albus berjalan meninggalkan aku yang berdiri di koridor bawah tanah dengan airmata mengalir deras dipipiku dan ditemani gema isakanku di dinding koridor.
Akhirnya selesai juga... kita akan bertemu Fanfic selanjutnya, ya! Tenang aja, cerita ini happy ending kok! Sampai jumpa di sequelnya, Rose Weasley dan Iris Zabini 2 (aku tidak pandai membuat judul cerita) Btw, Review, please!
Riwa Rambu : D
