Disclaimer : Masashi Kishimoto

The Fast and Furious : Konoha Drift

Rated : T

Pairing : SasuHina

Genre : Romance

Warning : AU, OOC, Bahasa berantakan, Alur keteteran, dan kekurangan-kekurangan lainnya.

Hai Minna-san! Maaf ya karena Kichan gak tepat janji buat publish fic ini tiap hari. Soalnya ada masalah sama modem di rumah, terus di sekolah masih ada ulangan harian jadi harus nunggu buat publish fic ini. Kichan tau pasti ada readers merasa kecewa sama chapter yang kemaren, soalnya dari awal sampe akhir hancur banget. Nah, sekarang Kichan mau menebus kesalahan, chapter yang keempat ini mudah-mudahan buat readers suka. Yosh! Kita mulai aja…

The Fast and Furious : Konoha Drift

Chapter 4

Ah! Kenapa harus ketemu sama orang yang sama kayak si Devil sih! Cukup si Devil itu saja telah membuatku gila!, teriak Hinata dalam hati.

Sekarang yang Hinata pikirkan adalah bagaimana ia pulang ke rumah tanpa dimarahi oleh Neji, kakak sepupunya, karena bajunya basah?

.

.

Hinata yang bingung harus bagaimana jika ketahuan pulang ke rumah dengan baju basah, terus berjalan sampai tidak menyadari seseorang ada di depannya yang sedang memunggunginya.

Bruk!

Hinata pun menabrak punggung seseorang itu. Ketika orang yang berada di depan Hinata berbalik untuk melihat-sekaligus memberi 'pelajaran'-kepada Hinata, ia sedikit kaget ketika menyadari Hinata adalah orang yang menabraknya.

Sementara Hinata, ia masih butuh beberapa waktu untuk menyadari siapa orang yang ia tabrak. Ketika pandangannya bertemu dengan orang yang ia tabrak, ia sedikit-ralat-sangat terkejut ketika menyadari orang yang ia tabrak adalah orang yang ia kenal.

"Devil!" seru Hinata. Memang dasarnya Hinata polos atau apa sih, bisa sampai keceplosan di depan orangnya langsung.

"Devil? Siapa?" Tentu readers pasti tau kan siapa 'Devil' yang dimaksud Hinata. Yang sekarang masang tampang polos bak anak kecil umur 4 tahun yang nanya ke orang tuanya 'Apa itu C.I.N.T.A?'

"Ah! T-tidak, U-uchiha-san. S-saya tadi h-hanya sedang memikirkan tentang sebuah film baru." Kata Hinata denga benar-benar gagap. Yah, alibi yang tidak terlalu burukkan? Tapi, bukan sebuah kata-kata yang bisa dipercaya.

"Film apa?" tanya Sasuke dengan benar-benar polos. Ternyata seorang Sasuke bisa percaya juga ya alibi standar seperti itu.

"J-judulnya. . I-itu. . Ah! Se-seorang D-devil yang mengganggu cewek polos dan tak berdosa. Ya, benar." Kata Hinata yang memasang tampang sok serius. Memangnya ada judul film yang seperti itu? Tentu diambil dari kisah Hinata sendiri.

Sasuke yang melihat tampang serius Hinata, malah merasakan wajahnya sedikit memanas. Tapi, namanya juga Uchiha, tidak mungkinkan mereka langsung bilang 'Wah, kamu cantik banget!'atau 'Hinata, kau benar-benar manis'. Bisa-bisa image seorang Uchiha jatuh ke level yang paling rendah.

"Hn. Aku tak peduli." Kata Sasuke sambil mengalihkan wajahnya ke samping. Tidak mau Hinata melihat sedikit rona merah di wajahnya "Bajumu kenapa basah?" tambahnya mengalihkan pembicaraan.

Sekarang giliran Hinata yang merona. Bukan karena Sasuke perhatian atau apa, tentu Hinata yang polos tak akan mungkin menyadarinya. Tapi, malu karena ketahuan bajunya basah di depan seorang. . . lelaki? Bahkan kalau itu Neji sekalipun, Hinata pasti sudah lari ke kamar, menutup pintu dengan keras, menguncinya, dan baru akan keluar saat orang-orang sudah tidur. Karena pasti ia merasakan lapar, kan?

Dan tidak mungkinkan Hinata bilang yang sejujurnya kalau ia kecipratan air kubangan oleh seorang pemuda yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi? Bisa-bisa imagenya semakin turun di depan sang Uchiha tampan ini.

Belum sempat Hinata menjawab, sebuah tangan sudah mengulurkan sebuah blazer yang sama dengan yang miliknya. "Pakai ini." Kata Sasuke sembari memberikan blazernya. Dan anehnya, Hinata menerima begitu saja dengan wajah yang terbengong-bengong.

Setelahnya, kalian pasti tahu apa yang terjadi pada Hinata. Merona. . lagi? Kenapa Hinata sangat suka merona sih?

Sasuke melangkah mendekati Hinata. Jaraknya dengan Hinata bisa dibilang sangat dekat. Ia sedikit membungkuk untuk menyejajarkan tingginya dengan Hinata dan berbisik di telinga kanan Hinata.

"Soal 'Devil' itu. . . Kalau yang kau maksud adalah aku, aku benar-benar bisa jadi seorang 'Devil' dihidupmu. Hati-hati ya." Kata Sasuke. Bisa dibilang ancaman memang. Dan kenapa Sasuke tahu bahwa yang Hinata bilang 'Devil' adalah dia? Ternyata benar ya, Klan Uchiha adalah klan yang pintar.

Hinata bergidik mendengarnya. Sementara Sasuke, setelahnya ia pergi meninggalkan Hinata yang masih terbengong-bengong.

Masih terlihat menyeramkan! Aku benar-benar harus menjauhinya!, batin Hinata.

Hinata meneliti blazer milik Sasuke. Lebih kebesaran itu pasti. Besar tubuh Sasuke dan Hinata kan tidak sama. Apalagi Sasuke seorang lelaki, tapi kalau memikirkan Neji yang jika melihatnya memakai blazer yang basah, Hinata lebih ngeri lagi daripada dengan ancaman Sasuke yang tadi. Kalau dipikir-pikir kenapa Sasuke senang sekali sih mengancam-menggoda-Hinata?

Tanpa berpikir lagi, Hinata langsung membuka blazernya dan memakai blazer milik Sasuke. Sedangkan miliknya, ia masukkan ke dalam tas dan berjalan pulang ke rumahnya yang tinggal beberapa blok lagi.

.

.

.

"Tadaima."

"Okaeri. Ah! Hinata kau sudah pulang?" tanya Neji. Sebenarnya tanpa ditanya pun Hinata memang sudah pulangkan?

"I-iya, Nii-san. Aku ke kamar dulu." Kata Hinata yang sebenarnya ingin menghindar dari Neji karena tidak mau Neji menyadari sesuatu yang ganjil darinya.

"Tunggu. ." kata Neji "Sepertinya ada yang berbeda darimu. Tapi, apa ya?" tambahnya.

"I-itu pasti hanya perasaan Nii-san."

"Tidak, menurutku. . ." kalimat Neji tergantung saat melihat Hinata dari atas kepala sampai bawah.

"A-apa?" Hinata yang tahu kalau Neji pasti sadar dengan perbedaannya, semakin bertambah gugup. Apalagi kalau membayangkan Neji tahu blazer yang ia pakai adalah milik lelaki, Hinata bahkan tak mau membayangkan itu lagi.

"Lupakan. Pasti hanya perasaanku saja." Hinata bisa bernafas lega sekarang. Dan ia tidak akan pernah mau menanyakan kepada Neji apa yang akan dia tanyakan "Cepatlah mandi. Habis ini makan. Aku akan pergi ke kantor lagi. Ayahmu sudah menungguku lama." Tambah Neji.

Hinata hanya mengangguk sebagai responnya. Ia langsung melesat ke kamarnya yang ada di lantai dua dan menguncinya.

Sebelum Hinata pergi ke kamar mandi yang ada di kamarnya, ia bersandar di balik pintu di dalam kamarnya sambil memegangi blazer Sasuke.

Ia melihat kembali blazer Sasuke sambil sedikit tersenyum dan rona merah menjalari wajahnya.

Dia 'Devil' yang aku lihat di sekolah itu bukan sih, batin Hinata.

Mungkin saat ini Hinata sedang tersipu karena seorang Uchiha Sasuke, meminjamkannya sebuah blazer untuk menutupi dirinya yang basah. Kejadian yang cukup langka pastinya. Terlalu lebay? Memangnya kapan seorang Uchiha Sasuke mau peduli terhadap seseorang? Perempuan lagi?

Soal 'Devil' itu… Kalau yang kau maksud adalah aku, aku benar-benar bisa jadi seorang 'Devil' dihidupmu. Hati-hati ya.

Hinata bergidik ngeri kalau mengingat kata-kata Sasuke tadi. Ia bahkan bisa merasakkan nada mengancam disetiap kata-katanya. Hinata merutuki dirinya sendiri karena bagaimana bisa ia kagum kepada seorang pria yang sudah ia cap sebagai 'Devil'?

Tidak! Aku tidak mungkin kagum padanya! Dia itu masih menyeramkan! Devil! Devil! Ingat itu Hinata! Dia Devil!, batin Hinata, berteriak.

Setelahnya, Hinata meletakkan tasnya di atas meja belajar. Ia sedikit mengernyitkan dahi karena mengingat sesuatu yang ia temukan di kelas saat pulang sekolah tadi.

Ia merogoh tasnya dan mendapati sebuah saputangan dengan tulisan 'Uchiha Sasuke' di pinggirnya.

Ah! Aku lupa mengembalikannya. Sekalian waktu aku mengembalikkan blazernya saja, batin Hinata.

Hinata meletakkan blazer Sasuke tak jauh dari tasnya. Ia akan mencucinya nanti sendiri. Kalau ketahuan oleh orang di rumahnya, bisa-bisa ia ditanya macam-macam oleh orang rumah terutama ayahnya. Jadi, daripada mengambil resiko, ia akan mencucinya di Laundry nanti.

Hinata segera mengambil handuk yang berada di lemarinya dan langsung masuk ke kamar mandi. Ia menghidupkan shower di kamar mandi dan mulai membuka satu persatu bajunya. Samar-samar ia bisa mendengar deru mobil yang berasal dari rumahnya yang semakin menjauh. Ia yakin, Neji sekarang sudah pergi lagi ke kantor.

.

.

Setelah keluar dari kamar mandi dan memakai bajunya, Hinata langsung pergi ke Laundry yang tidak jauh dari rumahnya.

Untuk apa? Tentu saja untuk mencuci blazer milik Sasuke.

Setelah mengunci kamarnya, turun, lalu pergi untuk mengambil kunci rumah dan menguncinya, Hinata segera pergi ke Laundry yang paling dekat dengan komplek rumahnya.

.

.

.

Setelah mencuci blazer Sasuke di Laundry tadi, Hinata langsung pergi ke sebuah minimarket 24 jam yang ada di seberang Laundry. Ia membeli bahan-bahan makanan dan beberapa kebutuhan.

Membawanya ke kasir, membayarnya dan langsung keluar untuk pulang ke rumah. Tidak terlalu lama Hinata berjalan pulang karena ia mengambil jalan pintas yang melewati gang-gang kecil yang sempit. Dan sekarang, Hinata sudah berada di dalam rumahnya yang hangat sambil memakan ramen instan dan menyalakan TV di depannya.

Bukankah segala sesuatu yang instan itu tidak baik? Lalu kenapa sekarang Hinata memakan makanan instan? Ah, terkadang seorang Hyuuga tidak pernah bisa ditebak apa maunya.

Drrt Drrt Drrt

Ponsel Hinata bergetar menandakan ada pesan masuk. Ia langsung mengambil ponsel flip biru tua miliknya dan membaca pesannya.

From : Hanabi

Nee-chan, bisa jemput aku tidak? Aku lupa membawa payung dan sekarang hujan.

Hinata langsung menengok ke arah jendela dan melihat ada rintik air di luar. Ia bahkan tidak menyadari kalau sekarang sedang hujan. Hinata langsung menekan tombol reply dan mulai membalas pesan Hanabi tadi.

To : Hanabi

Baiklah. Tunggu jangan kemana-mana. Nee-chan akan jemput.

Setelah memastikan pesan terkirim, Hinata langsung berjalan ke arah pintu keluar dan mengambil dua buah payung yang ada di sana. Yang satu lebih kecil dari dua yang diambil Hinata. Ia segera keluar dan mengunci rumahnya lalu melesat ke sekolah Hanabi.

.

.

Hinata sekarang sudah sampai di depan gedung sekolah Hanabi. Sebuah SMP swasta yang ada di Konoha. Meski swasta, kualitas sekolah Hanabi tidak buruk, bahkan sangat bagus untuk tingkat SMP dan hampir setaraf dengan sekolah Hinata yang bertaraf Internasional. Tentu seorang Hiashi Hyuuga tidak mungkin menyekolahkan anaknya disembarang tempat, bukan?

Hinata segera mempercepat langkahnya ketika melihat Hanabi sedang berdiri menunggunya sambil berteduh di depan sekolah. Terlihat sekali kalau Hanabi saat ini sedang kedinginan karena Hanabi terus memeluk dirinya sendiri dan sesekali meniup telapak tangannya.

Setelah sampai di depan Hanabi, Hinata langsung memegang kening Hanabi untuk mengecek suhu tubuhnya. Ia sedikit kaget karena suhu tubuh Hanabi bisa dibilang tinggi.

"Masih bisa jalan sampai rumah?" tanya Hinata lembut. Ia tahu kebiasaan Hanabi kalau sudah sakit. Hanabi pasti akan merasa sangat lemas, bahkan untuk ke kamar mandi saja harus dituntun, dan Hinata kaget karena tadi Hanabi masih bisa berdiri menunggu Hinata dicuaca yang sedingin ini. Apalagi ditambah hujan.

"Masih kok, Nee-chan." Kata Hanabi sambil tersenyum ke arah Hinata. Hinata bahkan bisa dengan jelas melihat wajah Hanabi yang pucat pasi.

"Kalau tidak kuat, Nee-chan panggil taksi saja ya." Kata Hinata yang lebih mirip bujukan ke Hanabi.

Hanabi hanya menggeleng, lalu menjawab "Tidak usah, Nee-chan. Hanabi masih kuat kok." Sebenarnya, Hinata tidak tega melihat Hanabi dalam keadaan begini yang masih ingin pulang dengan berjalan kaki saja. Tapi, kalau Hanabi sudah bilang 'tidak', siapa pun tak akan bisa membantahnya. Berbeda sekali dengan Hinata yang tidak pernah bisa bilang 'tidak', Hanabi bahkan lebih sering menolak ajakan daripada menerima.

"Ya sudah, tapi kalau di jalan tidak kuat, bilang Nee-chan ya." Kata Hinata sembari menyodorkan payung yang lebih kecil ke arah Hanabi.

"Aku kuat kok." Akhirnya Hinata dan Hanabi meninggalkan sekolah Hanabi menembus hujan untuk kembali ke rumah.

.

.

Setelah sampai di rumah, Hanabi malah langsung pingsan yang sukses membuat Hinata panik tidak karuan. Mau telpon Neji? Hinata bahkan berani bertaruh kalau ponselnya tak akan aktif selama seharian. Apalagi kalau dia sedang sibuk. Telpon ayah? Sebenarnya bisa saja sih, ponselnya selalu aktif takut-takut kalau ada apa-apa di rumah, Hinata bisa langsung menelponnya. Untuk pulsa tentu anggota keluarga dari Hyuuga Hiashi tidak akan pernah kehabisan pulsa. Hanya saja Hinata tidak mau membuat ayahnya panik dan malah menyebabkan dirinya sendiri celaka. Tapi, kalau sudah begini? Jadi Hinata malah serba salah.

Akhirnya, Hinata dapat mengatasi kepanikannya dengan membawa Hanabi ke dalam kamarnya, mengganti bajunya dan mulai mengompres Hanabi agar suhu badannya turun.

Setelah meninggalnya ibu Hinata dan Hanabi karena kecelakaan, Hinata menggantikan peran ibunya di rumah dari Hinata berumur 13 tahun. Sangat muda memang. Dan saat itu Hanabi masih berumur 10 tahun dan belum mengerti apapun. Sementara itu, ayah dan ibu Neji juga meninggal satu bulan setelah ibu Hinata meninggal, dengan alasan kecelakaan juga, tapi berbeda kecelakaan. Neji yang saat itu berumur 17 tahun, sudah mengerti dengan keadaan yang terjadi. Saat Hiashi mengajaknya untuk tinggal bersama, Neji langsung setuju. Selain karena Hiashi dan Neji cukup dekat, Neji dengan adik-adik sepupunya pun dekat. Dan mulai saat itu, Neji selalu melindungi Hinata dan Hanabi.

Andai saja Hanabi tidak keras kepala dan mendengarkan kata-kata Hinata, pasti sekarang Hinata dan Hanabi sedang menikmati teh hijau hangat yang Hinata buat. Dari tadi, panas Hanabi tidak kunjung turun. Hinata saja sampai bingung harus bagaimana. Biasanya kalau Hanabi atau Neji demam, cukup Hinata kompres dengan air dingin panasnya pasti turun, tapi sekarang?

Hinata melirik jam di kamar Hanabi. Sudah jam setengah sebelas malam. Pantas saja ia sudah mulai mengantuk. Ternyata waktu begitu cepat ya? Atau Hinata yang terlalu khawatir sampai tidak menyadari telah larut malam?

Hinata teringat sesuatu. Ia langsung berlari ke arah dapur dan membuka kotak P3K yang tergantung di tembok. Ia sedikit kesal karena obat penurun panas telah habis, dan kenapa ia baru ingat sekarang? Kalau daritadi ia pasti bisa membelinya dahulu.

Ia kembali ke kamar Hanabi untuk mengompresnya kembali. Ia kaget karena merasakan panas Hanabi yang semakin tinggi dan Hanabi yang terus saja mengigau. Hinata yang tidak tega melihat Hanabi seperti itu, langsung membulatkan tekad untuk pergi ke apotik dan membeli obat penurun panas di malam selarut ini.

Ia langsung mengambil sweater birunya dan kunci rumah lalu menguncinya. Setelah itu ia langsung mengeluarkan sepeda biru tua miliknya dari garasi rumah. Tapi, kenapa bukan mobil? Secara, Hinata anak dari direktur utama Hyuuga Corp. Tentu saja alasan yang sama yang sering dipakai orang tua 'Hinata masih berumur 16 tahun, ia belum bisa membawa mobil karena belum mempunya SIM.' Begitulah yang dikatakan Hiashi kepada Hinata. Tentu Hinata yang penurut tak akan pernah bisa untuk menolak.

Hinata memacu sepedanya cukup cepat. Setelah sampai di depan apotik, ia langsung berlari ke dalam, mengambil obat penurun panas, membawanya ke kasir dan membayarnya. Lalu, dengan cepat pula, Hinata memacu sepedanya. Niatnya sih ingin mengambil jalan pintas, tapi alih-alih mengambil jalan pintas, ternyata jalannya sedang dalam perbaikan, itu berarti Hinata harus memutar. Dan yang lebih pentingnya lagi, ia harus memacu sepedanya lebih jauh.

Tak mau membuat Hanabi menunggu, ia tidak ambil pusing dan langsung memutar arah. Ia tidak peduli kalau harus melewati jalan sepi yang menakutkan, yang ia takutkan sekarang adalah panas Hanabi yang semakin menyiksa adiknya.

Dari jauh, Hinata bisa melihat kumpulan remaja-remaja yang berpakaian aneh-menurut Hinata karena jujur ia belum pernah melihatnya-sedang berkumpul dengan dikelilingi mobil-mobil mewah. Dan yang membuat Hinata kaget adalah keberadaan seseorang yang sangat ia kenal.

"Devil?"

TBC

Nah, maaf yah buat para readers yang kecewa karena Kichan gak bisa apdet cerita tiap hari. Soalnya modem di rumah masih bermasalah terus di sekolah juga masih ada ulangan harian. Jadi, sekali lagi gomen ya. Buat readers yang ingin slight pairing, maaf sekali lagi, Kichan belum punya inspirasi buat nyusupin kayak gimana slight pairingnya. Pokoknya gomen yang sebesar-besarnyaaaa…. Semoga readers gak kecewa. Ini chapter 4 nya.. ^^

Review?