Disclaimer : Masashi Kishimoto
The Fast and Furious : Konoha Drift
Rated : T
Pairing : SasuHina
Genre : Romance
Warning : AU, OOC, Bahasa berantakan, Alur keteteran, dan kekurangan-kekurangan lainnya.
Hai Minna-san! Gomen karena Kichan udah menelantarkan fic ini dan ngebuat para reader jadi sebel nunggunya. Soalnya banyak kendala sih kalau mau publish fic ini-Kichan ga bisa bilang kendalanya apa. Hehehe.. Yosh! Kita mulai aja…
The Fast and Furious : Konoha Drift
Chapter 5
Dari jauh, Hinata bisa melihat kumpulan remaja-remaja yang berpakaian aneh-menurut Hinata karena jujur ia belum pernah melihatnya-sedang berkumpul dengan dikelilingi mobil-mobil mewah. Dan yang membuat Hinata kaget adalah keberadaan seseorang yang sangat ia kenal.
"Devil?"
Hinata bisa dengan mudah menyimpulkan bahwa kumpulan remaja aneh itu adalah geng balap mobil. Apalagi setelah ia melihat Sasuke sedang bersender dan melipat tangannya di samping mobil balap mewah berwarna biru tua dengan gaya 'Khas Uchiha' nya.
Beberapa meter sebelum mencapai tempat geng balap mobil itu berada, Hinata mengerem sepedanya sehingga bannya berdecit. Ia mempersiapkan diri untuk apapun kejadian yang terburuk dalam hidupnya.
Setelah sampai di antara geng balap mobil itu, Hinata bisa merasakan banyak dari mereka yang menatapnya. Ada yang menatap seolah meremehkan, ada yang berbisik-bisik dan akhirnya tertawa. Tapi dari semuanya, ia masih merasa aman kalau sang 'Devil' tidak menyadari keberadaannya, tapi tak berapa lama karena seseorang berdiri di depannya langsung dan otomatis Hinata mengerem sepedanya.
Hinata mendongak untuk melihat siapa yang menghentikan sepedanya dan ia terkejut ketika tahu siapa orangnya. Sejenak keadaan sekitar hening.
"U-uchiha-san."
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sasuke dengan tatapan menyelidik ke arah Hinata.
"A-aku.. a-a-aku habis membeli o-obat di a-apotik." Gagap Hinata kambuh lagi. Apalagi mendapat tatapan menyelidik dan tatapan heran dari orang-orang di sekitarnya.
"Ikut denganku." Kata-ralat-perintah Sasuke sembari mencengkram dan menyeret Hinata menjauhi tempatnya yang sekarang. Sementara sepedanya, tergeletak tak berdaya di tengah-tengah kumpulan geng balap mobil itu.
Sejenak keheningan sekaligus tatapan heran yang menghujani Hinata dan Sasuke saat itu. Terutama tatapan membunuh para wanita yang ditujukan ke arah Hinata yang hanya bisa menunduk karena ngeri. Tapi setelahnya, keadaan kembali seperti semula. Para remaja itu kembali mengobrol dan bercanda seperti sebelumnya.
"U-uchiha-san, se-sepedaku. . ." Hinata sebenarnya ingin berkata "Hey, Boy! Lepaskan tanganmu! Tak bisa lihatkah kau sepedaku jatuh dan terinjak oleh teman-teman 'baik' mu?" atau "Hey! Lepaskan tanganmu dariku! Kau itu menyakiti wanita tau!" Tapi memangnya apa yang bisa dilakukan oleh Hinata?
"Akan kuurus nanti." Jawab Sasuke seakan member perintah- jangan-membantah-disetiap nada bicaranya.
Hinata yang pasrah, hanya bisa menurut. Tapi, yang paling ia pikirkan saat ini adalah bagaimana keadaan Hanabi di rumah. Lalu, obat untuk Hanabi yang ada di dalam keranjang sepedanya? Ah! Sasuke kan sudah bilang 'Akan kuurus nanti.'
Sasuke membawa Hinata ke arah sebuah mobil mewah berwarna biru tua yang cukup jauh dari tempat teman-temannya berada. Hinata lebih bingung lagi karena Sasuke membuka pintu penumpang di depan.
"Masuk."
"Ta-tapi U-uchiha-san, a-aku-"
"Kau mau masuk sendiri atau aku yang paksa." Belum sempat Hinata meneruskan kalimatnya, Sasuke sudah memotongnya dengan nada perintah.
Hinata pasrah-lagi. Ia akhirnya masuk ke dalam mobil Sasuke dan duduk dengan menundukkan kepala. Seharusnya aku memutar lewat taman saja tadi, sesal Hinata dihatinya. Tentu saja penyesalan selalu datang terakhir, benarkan?
Sasuke pun mengikuti Hinata masuk ke dalam mobil-tentu saja lewat pintu yang satunya lagi-dan duduk di kursi kemudi.
"Se-sekarang ki-kita ma-mau apa?" Hinata melihat Sasuke memakai sabuk pengamannya dan mulai menyiapkan kunci mobilnya dari sakunya.
"Balapan." Sekarang Sasuke sudah menghidupkan mobil dan terdengar deru mobil yang halus. Remaja-remaja yang asalnya sedang asyik mengobrol, menengok ke arah mereka berdua-ralat-mobil yang mereka tumpangi berdua.
Hinata yang memang pada dasarnya polos, perlu beberapa waktu untuk mengerti maksud dari Sasuke. Mungkin sekarang otaknya sedang memperoses apa yang baru saja ia tanyakan dan dijawab oleh Sasuke.
Hinata kan tadi bertanya 'Sekarang kita mau apa?' dan dijawab 'Balapan' oleh Sasuke.
Kita+balapan= Kita balapan.
Kita? Hinata dan Sasuke? Berdua? Balapan? Dalam satu mobil?
Hinata yang baru sadar akan apa yang dimaksud Sasuke tadi, langsung menengok ke arah Sasuke dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Sementara Sasuke hanya menengok sekilas dan kembali beralih ke depan.
"Ka-kau ti-tidak bermaksud me-mengajakku ba-ba-balapankan?" Hinata masih melihat Sasuke dengan tatapan aneh.
"Memangnya untuk apa sekarang aku menyuruhmu duduk di kursi di mobil ini, hah?" Sasuke bisa melihat teman-temannya menyorakinya-mendukungnya-ketika ia bersiap maju ke garis balap.
"Ta-tapi ki-kita berdua, U-uchiha-san." Hinata bergantian melihat ke arah Sasuke dan ke arah jendela depan mobil, melihat teman-teman Sasuke yang masih menyorakinya.
"Kursi disini ada dua. Kau atau siapapun bebas kubawa untuk duduk disini." Sasuke merasa kalau pernyataan Hinata adalah pernyataan 'bodoh'. Sebenarnya juga Hinata merasa pernyataan yang dia ajukan adalah pernyataan 'bodoh'. Kenapa? Jelas saja. Sekarangkan kursi di dalam mobil itu ada dua, jadi, Hinata atau siapapun bebas duduk disitu kan? Gak masalah juga kalau mau balapan berdua. Hinata kan cuma numpang duduk doang. Yang balapankan Sasuke, jadi, berarti Sasuke yang harusnya protes. Iya kan? Tapi yang punya mobilnya aja gak protes.
"Ta-tapi U-uchiha-san, a-aku ha-harus pulang." Pinta Hinata sembari tersenyum miris ke arah Sasuke yang hanya mengacuhkannya "Kumohon. . ." tambahnya.
"Kau tidak mau aku lebih menjadi 'Devil' dan melampiaskan kepadamu, kan?" Terlambat. Sekarang mobil yang mereka tumpangi sudah ada di garis awal balap. Hinata bisa melihat lawan Sasuke dari arah samping kirinya. Ia bisa melihat seorang pemuda berambut putih, memakai masker dan mata kirinya yang ditutupi ikat kepala dan memakai mobil Lamborghini warna abu-abu. Dan di sebelahnya ada seorang perempuan berambut pendek dan coklat yang-err-menggoda.
"Tak biasanya kau bawa perempuan, Sasuke." Kata si rambut putih sambil mengedipkan sebelah matanya yang tidak tertutup ke arah Hinata. Hinata yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menundukkan kepala.
"Jaga matamu, Kakashi. Atau akan kubuat kau tak bisa melihat." Nada bicara Sasuke seolah mengancam. Hinata yang menyadarinya langsung mendongak dan menatap heran ke arah Sasuke.Dia ini kenapa sih?, batin Hinata yang merasa aneh karena tingkah Sasuke tadi.
"Ow..ow.. Tenang dulu, Bung! Aku kan hanya memuji, tapi sepertinya dia memang penting untukmu ya." Kata Kakashi sambil melihat ke arah Sasuke yang menatapnya tajam.
"Bukan urusanmu." Sasuke mengalihkan lagi pandangannya ke arah depan. Sedangkan Hinata? Dia bergantian melihat Sasuke dan Kakashi seperti seorang anak perempuan yang hilang.
"Ck, dasar." Kakashi pun mengalihkan pandangannya ke arah wanita di sebelahnya. "Kau siap, Matsuri? Jangan lupa untuk janjimu padaku ya." Goda Kakashi. Matsuri hanya menunduk sambil tersenyum dan menyembunyikan rona merah di pipinya.
Sasuke akhirnya melihat ke arah Hinata yang sekarang sedang menunduk. Ia melihat dagu putih Hinata yang tidak tertutupi rambutnya ketika menunduk. Padahal hanya dagu tapi, sudah bisa membuat rona merah di pipi Sasuke muncul dan membuat Sasuke mengalihkan pandangannya. Sementara, anak-anak geng yang di luar terus menyoraki dan memberi semangat ke Sasuke dan Kakashi.
"Pakai sabukmu." Perintah datar Sasuke. Hinata yang menyadari kalau daritadi ia belum memakai sabuk pengamannya, segera memakainya dengan terburu-buru. Sebenarnya ia tidak menyadari maksud Sasuke dari kata-katanya. Tentu bisa saja karena Sasuke khawatir atau tidak ingin melihat Hinata terpental saat ia balapan. Kalau wanita lain pasti sudah menunduk karena malu. Hinata terlalu polos untuk mengerti hal macam tersebut.
Seorang wanita bertubuh-bisa dibilang-seksi maju dan berdiri diantara mobil Sasuke dan Kakashi. Ia merentangkan kedua tangganya dan jari-jarinya membentuk seperti sebuah pistol.
"Ready?.." Ia bersiap mengangkat kedua tangannya "Go!" serunya sembari mengangkat kedua tangannya ke atas.
Mobil Kakashi maju lebih dulu. Kakashi melihat Sasuke di belakang lewat spion mobilnya lalu tersenyum penuh kemenangan. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan 200 km/jam. Sasuke yang berada di belakang Kakashi, masih berwajah datar sambil mengemudikan mobilnya dengan tenang. Sejauh ini kecepatannya baru mencapai 192 km/jam.
Sedangkan Hinata, tanpa sadar, ia terus mencengkram paha Sasuke. Sasuke yang merasakannya hanya menyeringai dan lebih menginjak gas mobilnya. Sekarang, ia telah mendahului Kakashi. Kecepatannya sejauh ini sudah mencapai 210 km/jam.
"Ck, si Sasuke itu ternyata lebih ganas daripada yang kukira." Kakashi bergumam sendiri.
Ia memacu mobilnya lebih cepat lagi dari Sasuke. Dua mobil mewah saling memburu digelapnya malam. Hinata yang memang pada dasarnya penakut, semakin takut lagi karena melihat seringaian di bibir Sasuke.
"U-uchiha-san, bisakah kau pelankan sedikit mobil-kyaaa. . ." Hinata sedikit tersentak saat Sasuke berbelok di tikungan. Rasanya seperti dijungkir balikkan saat menaiki Roller Coaster. Andai saja saat itu Hinata tidak ingat etika sopan santun, mungkin saja ia sudah muntah di dalam mobil Sasuke.
Sasuke hanya kembali menyeringai karena tanpa sengaja Hinata mencengkram lengan bajunya. Oh Sasuke, rupanya kau sengaja ya agar si Nona Polos ini selalu dekat denganmu?
Sasuke tidak membalas kata-kata Hinata. Ia langsung melesatkan mobilnya mendahului Kakashi. Hinata bergidik ngeri karena tanpa sengaja ia melihat jalan yang ia lalui lewat kaca mobil di sebelah kursinya. Tentu saja, karena sebelah kiri mereka-dekat dengan tempat duduk Hinata-adalah jurang yang cukup dalam.
"Kau tidak tau bagaimana kalau aku kalah, heh?"
"Eh?"
"Kau itu sudah kujadikan taruhan."
"Hah? Ja-jangan bercanda. Hehehehe. . ." Hinata tertawa hambar. Taruhan? Sejak kapan? Dia benar-benar gila, batin Hinata. Uchiha yang satu ini benar-benar gila, ya?
"Jadi, kalau aku kalah, kau harus kuserahkan padanya." Sasuke masih sibuk meliuk-liukan mobilnya. Terkadang ia menekan gasnya lebih dalam karena melihat ekspresi aneh di wajah Hinata.
Dia GILA!, batin Hinata berteriak. Tentu saja, mana ada orang yang mempertaruhkan orang yang baru dikenalnya? Tapi, yang melakukan itu seorang Uchiha Sasuke. Bahkan, Hinata berani bertaruh kalau banyak wanita yang mengantri untuk menjadi taruhan Sasuke.
"A-ah! Ka-kalau begi-gitu kau harus menang!" Hinata tiba-tiba berubah ekspresi. Sepertinya, mual dan pusing yang ia tahan langsung hilang dalam sekejap. Ia mengacungkan tinjunya ke atas dan akhirnya tangannya terbentur langit-langit mobil Sasuke "Auch!" ringisnya.
Sasuke tak bicara setelahnya. Ia langsung memacu mobilnya lebih cepat dan meninggalkan Kakashi jauh di belakangnya. Terkadang Hinata akan bergoyang ke kanan dan ke kiri karena Sasuke terlalu cepat memacu mobilnya atau belokkannya sangat curam. Tak jarang juga Hinata akan menubruk dada Sasuke karena tak sengaja dan membuat keduanya memalingkan muka dengan rona merah yang pekat.
"Sebentar lagi selesai."
"E-eh? Be-benarkah?" Hinata melihat Sasuke dengan mata berbinar. Kalau sebentar lagi balapan ini selesai, berarti penderitaanya juga selesai. Dan ia sangat berharap kalau Sasuke menang balapan ini.
"Tinggal melewati turunan itu."
"I-itu sangat cu-curam." Hinata bisa melihat turunan yang ada beberapa meter di depannya.
Tak menunggu lama, Sasuke langsung menginjak gas di mobilnya dan membuat mobilnya melaju dengan cepat. Pada saat berada di turunan jalan, Hinata merasa kalau ia sedang terbang. Karena ia merasa mobil yang ia tumpangi sangat ringan dan ia juga bisa melihat jalan yang ada di bawahnya sedikit menjauh.
Mereka mendarat dengan sedikit menghentak ke tanah. Hinata bisa melihat remaja-remaja yang tadi menyemangati Sasuke, kini menyoraki kemenangan kepada Sasuke.
"Fyuhh. . . Sudah selesai ya." Hinata menyeka keringat yanga ada di pelipisnya dengan punggung tangannya. Akhirnya, penderitaan semalamnya selesai juga.
"Aku belum melakukan aksi terakhir."
"E-eh?" Aksi terakhir? Apa maksudnya?
Tanpa membalas pertanyaan Hinata, Sasuke langsung melakukan gerakan yang menjadi julukannya. Drift. Meluncur. Melakukan putaran seluncur.
Andai saja Hinata bukan gadis yang pemalu, ia pasti sudah memukul kepala Uchiha di sebelahnya ini dengan sandal yang ia gunakan sekarang. Sekarang, ia benar-benar merasa dikocok. Bagaimana tidak? Putaran seluncur lebih dari sekali. Bahkan, 30 kali. Ia harus minum obat mual setelah ini.
"Lepaskan."
"E-eh?" Apanya yang harus dilepaskan? Sabuk? Memangnya sudah selesai?
"Lepaskan tanganmu dariku."
Hinata mengikuti arah pandang Sasuke dan betapa terkejutnya kalau posisinya itu sedang-err-memeluk. . .Sasuke? Bukannya tadi ia masih meluncur? Sejak kapan selesai?
"Tanganmu sudah memelukku dari 3 menit yang lalu." Seakan menjawab pertanyaan dibenak Hinata tadi, Sasuke mengatakannya dengan wajah yang tenang. Sontak perkataannya tadi membuat wajah Hinata memerah melebihi tomat. Tidak. .tidak. . bukan tomat. Cabai mungkin? Ah! Lupakan yang tadi. Back to story.
"Gomen, U-uchiha-san." kata Hinata yang langsung turun dari mobil Sasuke. Tentu saja untuk menyembunyikan kegugupan dan rasa malunya yang berlebihan.
Sasuke pun mengikuti Hinata turun dari mobilnya. Di luar, ternyata para teman-temannya sudah menunggunya. Ada yang tertawa-tawa karena menang taruhan dan ada yang merengut karena uang di kantongnya harus jebol. Tapi, Sasuke tidak menghiraukan mereka. Ia malah mengejar Hinata yang menghampiri sepedanya yang-tentu saja-terparkir manis jauh dari keramaian.
"Mau kemana?" tanpa sengaja Sasuke mencengkram pergelangan tangan Hinata yang menyebabkan si empunya bertambah merona.
"Ma-maaf, U-uchiha-san. A-aku ha-harus pulang." dan tanpa menunggu lama, Hinata segera melajukan sepedanya meninggalkan Sasuke yang masih berdiri mematung.
Ketika hendak kembali ke mobilnya, tanpa sengaja Sasuke menemukan benda asing di bawah kakinya. Sebuah kalung imitasi yang berwarna biru tua dengan liontin bunga berwarna biru pucat sebagai penghiasnya.
"Kalungnya. . ." gumam Sasuke tanpa sadar.
Seseorang menepuk pundak Sasuke dan menyadarkannya dari lamunannya.
"Teme, kau hebat! Menang lagi! Eh, perempuan yang tadi itu sia-eh? itu apa?" tanya Naruto sambil menunjuk kalung yang Sasuke genggam.
Sasuke langsung memasukkan kalung yang tadi ia temukan ke dalam saku celananya. "Aku pulang, Dobe." dan pergi dengan mobil balapnya meninggalkan Naruto yang masih berdiri mematung di tempat semula.
.
.
.
"Hinata-chan, kau tampaknya kurang sehat." kata Sakura kepada Hinata. Mereka sekarang tengah berjalan di koridor sekolah menuju kelas masing-masing.
"A-aku hanya kurang tidur, Sakura-chan." Hinata menjawab dengan jalan yang sedikit limbung dan hampir menabrak orang lain.
"Kusarankan agar kau ke UKS, Hinata-chan. Ah! Aku harus ke perpustakaan dulu. Jaa." Sakura berbelok ke arah kiri.
"Jaa."
Saat sudah sampai kelas, Hinata mendapat pengumuman dari KM di kelasnya kalau hari ini Kurenai mengadakan Tes Bimbingan Konseling. Seharusnya ia senang karena dalam hal ini tempat duduk lelaki dan perempuan dipisahkan. Itu berarti, hari ini selama seharian ia tidak akan duduk sebangku dengan Uchiha yang mengajaknya balapan kemarin malam. Karena baru masuk tahun ajaran baru, sekolah Hinata belum mengadakan KBM secara rutin. Mereka masih mengadakan beberapa tes untuk mengetahui cara belajar anak.
.
.
"Hinata-chan, kau mau ke kantin?" tanya teman sebangku sementara Hinata.
"Ah! Tidak, terima kasih, Ino-chan." jawab Hinata sembari mengalihkan pandangannya ke arah Ino. Ya, untuk sementara Hinata akan duduk sebangku dengan Ino selama Tes Bimbingan Konseling berlangsung. Mereka baru saja berkenalan saat dipasangkan tempat duduk. Tentu saja bukan Hinata yang memulai duluan untuk berkenalan.
"Kalau begitu, aku duluan ya. Jaa." Ino melambaikan tangan ke arah Hinata yang hanya dibalas senyuman oleh Hinata.
Entah kenapa sejak tadi pagi, ia merasa kurang enak badan. Apa mungkin karena tidur telat menjaga Hanabi? Ah! Tapi biasanya Hinata tidak pernah sakit walau hanya kurang tidur. Atau karena kemarin malam Hinata terlalu banyak terkena angin malam? Entahlah.
Karena merasa bosan, akhirnya Hinata memutuskan untuk berjalan-jalan keluar kelas. Sekedar pergi ke atap sekolah atau hanya pergi ke perpustakaan. Karena hari ini Sakura tidak mengunjunginya ke kelas, Hinata yakin kalau ia sedang sibuk. Tentu saja karena Sakura yang seorang pustakawan di sekolah atau sibuk untuk berlari dari kejaran kakak kelas bernama Lee yang selalu mengejarnya. Katanya, Lee pernah mengospek Sakura saat masa Orientasi Sekolah. Love at first sight bahasa yang sering dikatakan Lee pada Sakura kalau bertemu dengannya. Andai saja Lee bukan lelaki yang tergila-gila pada warna hijau dengan model rambut tahun '70-an, pasti Sakura akan dengan senang hati menerimanya.
Entah ada panggilan apa pada Hinata, tapi pada akhirnya ia pergi ke perpustakaan. Dan sekarang, disinilah dia. Berdiri diantara rak-rak buku yang tingginya mencapai 3 sampai 4 meter dan entah mau melakukan apa. Kalau dibilang kutu buku, Hinata tidak terlalu menyenangi membaca buku seperti Sakura. Tapi, banyak yang tidak menyangka kalau Sakura adalah seorang yang menyukai membaca. Tentu saja dari penampilannya yang terlihat modis.
Akhirnya, Hinata hanya berjalan-jalan diantara rak-rak tersebut sembari melihat buku-buku yang menurutnya sampulnya bagus.
"Psst..psst.. Hinata.. Hinata.. disini." sebuah suara mengagetkan Hinata yang sedang melihat buku. Merasa dipanggil, Hinata mencari sumber suaranya.
"Disini." lanjut suara itu setengah berbisik. Hinata yang mendengarnya, mengikuti asal suara tersebut.
"Sakura-chan?" pekik kagetnya tertahan menjadi bisikan karena sadar mereka sedang dalam perpustakaan.
"Bisa kau bantu aku?" tanya Sakura sambil menunjuk tumpukan buku di sebelahnya.
"Bantu apa?"
"Tolong kembalikan buku-buku ini ke raknya. Maukan?" Sakura meminta sembari mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Ba-baiklah."
"Ah! Kau memang baik, Hinata-chan. Tolong masukkan buku-buku ini ke raknya lagi. Buku-buku yang kecil ini di rak yang paling bawah, rak nomor 4. Lalu yang besar ini di rak yang paling atas di rak nomor 5." kata Sakura sembari menunjuk buku-buku di sebelahnya. Ada sekitar 5 buku kecil dan 3 buku sebesar bantal tamu.
"Ah! Aku mengerti. La-lalu kau ma-mau kemana, Sakura-chan?" tanya Hinata sembari mengambil buku-buku kecil.
"Aku masih harus mendata buku-buku yang baru datang di meja pustakawan. Kalau sudah selesai, hampiri saja aku di sana." kata Sakura sambil menunjuk meja yang paling banyak dengan buku yang bertumpuk dan beberapa orang yang terlihat mencatat buku-buku itu. "Terima kasih ya. Jaa." tambahnya, lalu kembali ke meja tersebut.
Hinata memulai memasukkan kembali buku-buku kecil ke raknya semula. Tidak butuh waktu lama bagi Hinata karena hanya sedikit buku yang ia masukkan. Selanjutnya, ia mulai mengembalikan buku-buku besar ke raknya semula. Untuk yang satu ini, ia menggunakan tangga khusus yang disediakan untuk mencapai rak yang paling tinggi.
"Ini yang keterakhir." gumamnya sendiri sembari memasukkan buku besar yang keterakhir ke dalam rak. Saat memasukkan buku yang keterakhir, ia merasakan sesuatu yang menggelitik di tangganya. Saat melihatnya. . .
"Kyaa. .kecoaa. . pergi. .pergi. ." Hinata mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir si kecoa pergi. Setelah si kecoa pergi, Hinata tentu bisa bernafas lega. Tapi, tidak lama karena tangga ia naiki limbung dan akhirnya. . .
"Kyaa. . ." Hinata merasakan kalau ia jatuh dan akan membentur lantai.
"Hangat. ." gumam Hinata. Tunggu dulu? Hangat? Bukannya seharusnya ia membentur tanah dan sakit? Tapi kenapa malah hangat dan nyaman?
Karena penasaran, Hinata akhirnya membukan matanya. Betapa terkejutnya Hinata, kalau dia ternyata tidak jatuh membentur tanah dan yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah karena posisinya sekarang. Digendong ala bridal style oleh seorang. . .pria?
TBC
Maafkan Kichan karena telah menelantarkan fic ini. Bukan karena Kichan ga niat, tapi memang ada banyak kendala buat nulis chapter 5 nya. Sebenernya mau ngetik chapter 5 nya, tapi otak malah buntu*plak. Oke, masih adakah reader yang ingat dengan fic abal ini? Untuk adegan balapannya, kayaknya kurang gigit ya. Untuk itu, silahkan reader bayangkan sendiri. Hehehehehe.. Kenapa ya Kichan ngerasa kalau FNI sekarang jadi sepi? atau hanya perasaan Kichan aja? ya udahlah… Semoga para reader ga kecewa dengan chapter 5 nya. Ini chapter 5 nya^^
Review?
