Disclaimer : Masashi Kishimoto
The Fast and Furious : Konoha Drift
Rated : T
Pairing : SasuHina
Genre : Romance
Warning : AU, OOC, Bahasa berantakan, Alur keteteran, dan kekurangan-kekurangan lainnya.
Hai Minna-san! Gomen karena Kichan udah menelantarkan fic ini dan ngebuat para reader jadi sebel nunggunya. Soalnya banyak kendala sih kalau mau publish fic ini-Kichan ga bisa bilang kendalanya apa. Hehehe.. Yosh! Kita mulai aja… Penjelasan selanjutnya akan ada di akhir chapter ya.. ^^
The Fast and Furious : Konoha Drift
Chapter 7
"Ka-kalau ka-kau pe-pernah ja-jatuh ci-cinta, Sa-sasuke-san?" tanya Hinata mengalihkan topik pembicaraan.
"Tidak."
"Ke-kenapa?"
"Wanita itu berisik. Aku benci." jawab Sasuke dengan nada bicaranya yang datar.
"A-aku tidak." jawab Hinata dengan menundukkan kepala.
"Kau berkata seperti itu, jangan-jangan kau suka padaku."
"Ti-tidak!" jawab Hinata cepat. Mana mungkin dia menyukai lelaki yang ia anggap menyeramkan, kan? Tapi, entahlah.
"Berarti kau tidak suka padaku?"
"Bu-bukan begitu!"
"Aa. . berarti kau menyukaiku?"
"Tidak! Sudahlah, Sasuke-san," jawab Hinata dengan nafas lelah. Sementara Sasuke, dia tertawa penuh kemenangan di dalam hati yang membuat sedikit sudut bibirnya naik. Hinata yang merasa ditertawain hanya mengerucutkan bibir tanda kesal.
Mereka masih dalam keadaan seperti itu sampai akhirnya Sasuke berhenti dengan tiba-tiba karena melihat seseorang di depannya. Hinata pun sama terkejutnya karena melihat orang yang sedang menatap tajam kearah mereka berdua.
Sasuke menatap tajam ke arah orang tersebut, sebaliknya pun orang tersebut menatap tajam ke arah Sasuke, bahkan terkadang melirik ke arah Hinata.
"Tak kusangka kita bisa bertemu disini, Sasuke," ada penekanan dikata Uchiha tersebut. Andai saja tatapan bisa meluncur seperti jurus kungfu, author yakin Sasuke dan orang tersebut sudah berdarah-darah dengan luka baret di setiap bagian tubuh. Dan Hinata akan berteriak seperti seorang putri di dorama-dorama yang sering di tonton Hinata.
Back to the story. . .
"Aku benar-benar sial hari ini bertemu denganmu, Gaara," ucap Sasuke dengan nada yang sarkastik.
Hinata? Dia bulak-balik melihat ke arah Gaara-Sasuke-Gaara-Sasuke begitu seterusnya. Tapi seperti déjà vu, Hinata merasa tidak asing dengan orang tersebut. Seperti pernah bertemu, hanya saja dimana.
Gaara, orang yang berpapasan dengan mereka, maju untuk menghampiri Sasuke. Begitu pula dengan Sasuke. Dia juga maju, menyamakan posisi dengan Gaara, berhadapan.
"Mimpi buruk apa aku semalam harus bertemu dengan bajingan sepertimu, Sasuke," nada sarkastik dan tatapan tajam masih setia menemani Gaara dalam menghadapi Sasuke.
"Kalau aku bajingan, kau apa, eh?" balas Sasuke dengan tatapan meremehkan. Seakan ada arus listrik diantara mata keduanya yang saling beradu(?), mereka berdua dapat merasakan tatapan mengintimidasi satu sama lain.
Hinata yang mempunyai firasat tajam, seakan tau apa yang sebentar lagi akan terjadi, langsung menutup matanya dengan kedua telapak tangan tidak ingin menyaksikan apa yang akan terjadi jika kedua remaja lelaki ababil(?) saling beradu pandang.
Pasti akan ada baku hantam, batin Hinata
5 detik
10 detik
15 detik
Kok ga ada suara ribut-ribut sih? Paling enggak kalau orang berantem kan ada adu mulut dikit, iya kan? Apa tren berantem jaman sekarang itu diem-dieman ya
Merasa ada yang janggal, Hinata langsung menurunkan tangan yang tadi digunakan untuk menutup matanya.
Hinata hanya bisa bengong+bingung ngeliat dua laki-laki-keren-yang ada beberapa meter di depannya. Perasaan tadi mereka berdua keliatan mau berantem, tapi kok malah. . . pelukan?
Bukan berpelukan seperti lima orang-yang ga jelas sebenernya orang apa bukan-di film anak kecil itu, tapi ya berpelukan seperti laki-laki pada umumnya.
Semua lelaki keren kalau ketemu gitu yah, batin Hinata
Sadar dengan apa yang barusan dipikirkannya, Hinata jadi merona sendiri. Keren? Emang bener sih. Cuma cewek gak normal yang bilang kalau Sabaku Gaara dan Uchiha Sasuke itu gak keren. Bahkan Orochimaru-sensei, guru Biologi itu aja ngakuin kalau yang namanya Uchiha Sasuke bisa ngalahin Tom Cruise dan Brad Pitt.
Back to the story. . .
Sasuke melepas pelukannya dengan Gaara. "Tak kusangka kau masih mau kembali ke Jepang setelah tinggal di London begitu lama," ucap Sasuke sembari meninju bahu Gaara, tidak terlalu keras.
"Kau pikir aku bisa melupakan negara kelahiranku, hm?" kata Gaara sambil melirik Hinata sekilas "Dia pacar mu, eh?" tanyanya dengan nada berbisik.
Mengerti dengan maksud Gaara, Sasuke menjawab, "Ck, bukan urusanmu."
Ada jeda sebentar sebelum Gaara kembali bersuara, "Sudah kuduga. Baiklah aku harus pergi. Ada urusan." melewati Sasuke dengan santainya.
Ketika sampai di sebelah Hinata, diam-diam lelaki itu melirik sekilas ke arah Hinata yang terlihat menunduk lalu menyeringai dan kembali melanjutkan perjalanannya.
"Hyuuga."
Merasa namanya dipanggil, Hinata mendongak menatap Sasuke yang memanggilnya tadi. "Y-ya?"
"Kau pulang sendiri. Aku ada urusan." lanjutnya yang langsung pergi entah kemana.
Siapa juga yang mau pulang denganmu sih!, teriak Hinata dalam hati, Tapi dia. . . batinnya kembali saat melihat kembali ke arah Gaara yang sudah berjalan menjauhinya.
.
.
.
.
.
Sudah tiga minggu lebih Hinata menjadi siswa baru di Konohagakuen High School. Sudah tiga minggu pula Hinata duduk bersama dengan Sasuke. Tak ada percakapan yang berarti diantaranya. Sepert hari-hari biasa saat mereka bertemu di pagi hari. Ketika Sasuke masuk ke kelasnya dan berniat menaruh tas nya di bangku sebelah Hinata.
"S-selamat pa-pagi, U-uchiha-san," sapa Hinata saat melihat Sasuke berjalan ke arah bangku mereka.
"Hn."
Keheningan kembali terjadi sampai sebuah suara yang memekakkan telinga terdengar memasuki ruang kelas Hinata. Bahkan, seluruh penghuni kelas itu menutup telinganya dengan telapak tangan saat si pemilik suara masuk.
"Sasuke-kuuunn~. . ." dan Hinata harus menahan rasa aneh dalam hatinya saat melihat si pemilik suara, yang sebenarnya perempuan, menggandeng lengan Sasuke dengan mesra dan menariknya keluar kelas.
Ada rasa aneh bercampur sesak dalam dadanya. Rasa yang sama saat Hinata tahu bahwa cinta pertamanya meninggalkannya tanpa pamit.
Ah! Dia seorang Devil, Hinata! batin Hinata
Tapi bagaimana kalau ada perasaan lain di hati Hinata yang tidak ia sadari. . .
.
.
.
.
Hinata-chan, maaf ya istirahat ini aku tidak bisa menemanimu.
Si 'Kodok Hijau' sialan itu terus mencariku. Aku harus bersembunyi.
Kalau kau mau mencariku, aku ada di perpustakaan. Maaf ya.
From: Sakura-chan
Baru saja Hinata di kirimi e-mail oleh sahabatnya, Sakura. Hah… lagi-lagi istirahat sendiri. Sebenarnya yang dimaksud Sakura 'Kodok Hijau' itu siapa sih? Hinata tau dia adalah Lee, kakak kelas dua yang selalu mengejar bahkan Hinata belum pernah melihatnya sama sekali. Menyusahkan sekali. .
Bingung mau melakukan apa, Hinata akhirnya memutuskan untuk berkeliling sekolah. Karena masih baru, Hinata belum terlalu hapal seleuk beluk sekolahnya meski telah tiga minggu bersekolah.
Sekolah Hinata terdiri dua gedung yang dipisahkan dengan satu ruang aula yang sering dipakai untuk pertemuan-pertemuan tertentu. Gedung tempat belajar mengajar ada di sebelah barat ruang aula sedangkan gedung yang dipakai untuk keperluan ekstrakurikuler atau rapat menjelang hari perayaan ada d sebelah timur aula. Gedung tersebut juga kadang di gunakan untuk latihan anak-anak music kala hendak mengikuti perlombaan.
Karena merasa penasaran, Hinata akhirnya berkeliling di gedung yang berada di timur sendirian. Gedung ini memang selalu sepi saat jam sekolah tapi, biasanya akan mulai ramai kalau pulang sekolah. Tak ada hal yang menarik sebenarnya. Hanya gedung yang terdiri dari tiga lantai dan ruang-ruangan yang selalu digunakan saat ekstrakurikuler.
Hinata sering mendengar kalau ruang musik yang sering digunakan untuk berlatih memiliki dalam yang sangat luas. Yah, mungkin Hinata bisa bersantai disitu sambil membaca novelnya, yang sedari tadi ia genggam.
Hinata terus mencari dimana ruang musik berada sampai ada sebuah pintu kayu besar dengan papan nama di atasnya 'Music Room'. Tapi, ada yang aneh. Pintu itu sedikit terbuka. Itu berarti ada orang lain di dalam selain Hinata yang hendak masuk kesana. Petugas kebersihan? Mana mungkin. Ini bahkan belum waktunya pulang sekolah. Lalu siapa ya?
Saat hendak memasuki ruangan tersebut, Hinata dikejutkan dengan melodi piano yang mengalun indah. Ia bahkan merasa kalau melodi ini diciptakan dengan sebuah tangan dewa. Penasara, Hinata akhirnya mencoba masuk ke dalam. Ia sekali lagi harus dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang ia kenal, yang sedang bermain piano tersebut.
Sabaku Gaara. . .
Tak ada headphone besar yang bertengger di lehernya sekarang. Meski penampilannya tak jauh berbeda. Blazer yang tak dikancingi dan kemeja yang sedikit keluar dan juga rambutnya yang acak-acakan, yang sebenarnya malah menambah ke-cool-annya. Ditambah lagi dengan jendela di sebelah kanan Gaara yang sedikit terbuka dan memancarkan cahaya matahari. Pria itu seakan bersinar.
Tanpa sadar Hinata terus memperhatikan pemuda yang sedari tadi memainkan melodi piano tersebut sampai sebuah suara memecah lamunannya.
"Kalau mau mengintip orang, carilah tempat yang tak akan diketahui. Cara mengintipmu benar-benar mengganggu."
"E-eh? Ma-maaf,"
Pria tadi, Gaara melewatinya dengan santainya yang berada di ambang pintu.
Ada rasa kecewa saat Gaara menghentikan permainan pianonya tadi. Melodi yang sangat indah tapi seperti. . . seperti ada rasa sakit yang coba ia keluarkan lewat melodinya tadi.
.
.
.
.
Sasuke sedang memandangi benda di tangannya sembari tersenyum tipis saat seseorang menepuk bahnunya pelan. Refleks, ia langsung menengok ke arah orang tersebut.
"Teme, kau sedang apa senyum-senyum sendiri? Eh? Itu bukannya benda milik-"
"Diam, Dobe." potong Sasuke sebelum teman masa kecilnya itu berkomentar terlalu banyak. Ia langsung memasukkan benda yang sedari tadi menyita perhatiannya dan berdiri lalu beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Naruto dengan tampang kebingungannya.
.
.
.
"Eh, tau tidak katanya akan ada murid baru lagi loh," Hinata tidak sengaja mendengar teman-teman wanita sekelasnya sedang membicarakan sesuatu. Sebenarnya gak ingin nguping juga, tapi udah terlanjur kedengaran jadi sekalian aja.
"Wah? Emang iya? Siapa? Laki-laki atau perempuan?" sahut temannya yang satu lagi.
"Dua laki-laki. Yang satu kalau tidak salah namanya. . . um, Sabaku Gaara," ah, yang ini Hinata sudah tau.
"Ah! Dia yang pindahan dari London itu ya, itu sih aku sudah tau. Dia kan sudah masuk bersama kita."
"Eh, iya aku lupa." hah! Hinata kira siapa, ternyata pemuda temannya si 'Devil' itu.
"Tapi, ada satu lagi kok," Hinata tidak lagi berusaha mendengar teman-temannya yang sedang bergosip itu, tapi suara tersebut seakan memaksa untuk masuk ke telinga Hinata.
"Siapa siapa?"
"Um~. . . kalau tidak salah namanya. . ."
Selanjutnya Hinata hanya bisa membelalakkan matanya saat mendengar siapa nama seorang lagi yang akan masuk ke sekolahnya itu.
"Itu tidak mungkin," gumam Hinata.
"Katanya dia akan masuk ke kelas kita loh. . ."
"A-apa?"
TBC
Hai, Minna-san! Gomen se-gomen gomennya karena kichan udah nelantarin fic ini selama setahun. Maaf banget. Kichan juga re-publish dari chapter 1 sampai 7 soalnya Kichan lupa sama account Kichan yang lama. Maafff banget, Minna. Semoga masih ada yang mau membaca fic ini dan semoga chap nig a mengecewakan. Ini chapter 7 ^^
Review…?
