Disclaimer : Masashi Kishimoto
The Fast and Furious : Konoha Drift
Rated : T
Pairing : SasuHina
Genre : Romance
Warning : AU, OOC, Bahasa berantakan, Alur keteteran, dan kekurangan-kekurangan lainnya.
Hai Minna-san! Chapter 8 ini udah apdet nih! Semoga ceritanya gak membosankan n kayaknya ini chap paling panjang yang Kichan buat deh#kayaknya..
Happy Reading… ^^
The Fast and Furious : Konoha Drift
Chapter 8
"Eh, tau tidak katanya akan ada murid baru lagi loh," Hinata tidak sengaja mendengar teman-teman wanita sekelasnya sedang membicarakan sesuatu. Sebenarnya gak ingin nguping juga, tapi udah terlanjur kedengaran jadi sekalian aja.
"Wah? Emang iya? Siapa? Laki-laki atau perempuan?" sahut temannya yang satu lagi.
"Dua laki-laki. Yang satu kalau tidak salah namanya. . . um, Sabaku Gaara," ah, yang ini Hinata sudah tau.
"Ah! Dia yang pindahan dari London itu ya, itu sih aku sudah tau. Dia kan sudah masuk bersama kita."
"Eh, iya aku lupa." hah! Hinata kira siapa, ternyata pemuda temannya si 'Devil' itu.
"Tapi, ada satu lagi kok," Hinata tidak lagi berusaha mendengar teman-temannya yang sedang bergosip itu, tapi suara tersebut seakan memaksa untuk masuk ke telinga Hinata.
"Siapa siapa?"
"Um~. . . kalau tidak salah namanya. . ."
Selanjutnya Hinata hanya bisa membelalakkan matanya saat mendengar siapa nama seorang lagi yang akan masuk ke sekolahnya itu.
"Itu tidak mungkin," gumam Hinata.
"Katanya dia akan masuk ke kelas kita loh. . ."
"A-apa?"
Dua temannya yang sedang bergosip itu ternyata kaget ketika mendengar pekikan Hinata, "Eh? Ada apa, Hinata-san?" tanya salah satu dari mereka dengan wajah bingung.
"O-oh, ti-tidak. . . tidak apa-a-apa. Um, anak ba-baru yang kalian maksud itu. . . ka-kapan akan datangnya?" tanya Hinata. Semoga saja firasatnya tidak benar. Yah, semoga saja. . .
"Oh, kalau tidak salah. . ." temannya berpikir sembari mengetukkan jarinya di dagu, "besok. Ya, besok sepertinya dia akan datang."
BANG!
Firasatmu benar, Hinata.
.
.
Hinata berjalan menyusuri koridor sekolah yang sudah sepi. Jam pulang memang sudah lewat beberapa menit yang lalu, tapi Hinata sengaja tidak pulang langsung. Ia menunggu Sakura, untuk bercerita tentang informasi yang ia dengar tadi, tapi ternyata Sakura sudah pulang duluan karena ada beberapa urusan keluarga.
Biasanya ia menikmati jam ketika ia pulang ketika koridor sepi, tapi kali ini tidak. Ada satu hal yang terus ia pikirkan sejak jam pelajaran keterakhir tadi. Sebenarnya ia tidak merasa sedih, bahkan mungkin senang. Tapi entah mengapa setelah bertahun-tahun terlewati, ia tetap tidak mau bertemu dengan seseorang yang,cepat atau lambat, akan segera ia temui. Mungkin memang waktunya melupakan masa lalu.
Terlalu lama melamun sambil berjalan sampai membuatnya tidak sadar kalau ia sudah sampai di depan gerbang sekolah. Hinata biasanya akan berbelok ke kanan dari gerbang sekolah menuju ke arah halte bus dekat situ. Walau anak dari Hyuuga Hiashi, tapi Hiashi mengajarkan kepada anak-anaknya untuk hidup dengan mandiri. Tidak heran Neji yang mendapat asuhan dari Hiashi menjadi direktur hebat di salah satu saham Hyuuga Corp.
Bukannya berjalan ke arah dimana halte bus berada, Hinata malah berdiri mematung di depan gerbang sekolah. Tak ada yang ia pandangi. Pikirannya entah mengapa tiba-tiba menjadi kosong. Ia bahkan tidak menyadari kalau ada seseorang yang telah berdiri di sampingnya.
"Hanya anak bodoh yang melamun di depan sekolah," suara tersebut sukses membuyarkan lamunan Hinata. Ia menoleh keasal suara tersebut yang tepat berada di sebelahnya.
Terlihat Sasuke dengan tingginya yang menjulang di hadapan Hinata yang berbalik ke arahnya. Sedangkan ia terus melihat kearah depan, "Hanya gadis bodoh yang melamun sepertimu." ucapnya sembari melihat kearah Hinata.
Hinata tidak menjawab dan malah menundukkan kepalanya. Ia tidak salah jika menganggap Sasuke sebagai 'Devil' karena dalam pembuktiannya itu memang benar, kan? Kenapa juga harus bilang 'Hanya gadis bodoh yang melamun'? Bikin sakit hati saja.
Karena memang dasarnya Hinata sulit untuk membenci orang lain, ia malah balik bertanya kepada Sasuke, "K-kau sendiri ke-kenapa belum pu-pulang, U-uchiha-san?" Tanya Hinata sembari mendongakkan kepalanya.
"Aku menunggu seseorang." jawabnya singkat.
"Si-siapa?"
"Sepertinya kau terlalu ingin tahu." jawab Sasuke sembari menatap Hinata tajam. Sukses membuat Hinata menundukkan kepalanya lagi,"Tapi , sepertinya dia sudah pulang." tambah Sasuke sembari berjalan menuju mobilnya yang ia pakirkan di luar sekolah.
Hinata tetap diam sampai Sasuke yang berada beberapa langkah di depannya berbalik, "Hei, kau akan terus diam di situ sampai kapan, eh?"
"E-eh?"
"Ayo ikut. Aku akan mengantarmu." tambahnya sembari kembali berjalan dan masuk ke mobil.
Hinata yang sudah pernah menaiki mobil yang dikendarai oleh Sasuke, sebenarnya agak ragu, sangat ragu bahkan, ketika Sasuke mengajaknya untuk pulang bersama. Ketika sampai di depan mobil Sasuke, Hinata malah berdiam diri tanpa berniat untuk masuk ke dalamnya.
"Kenapa masih disitu? Cepat masuk. Aku benci menunggu." Sasuke berkata dari dalam mobil seraya memandang Hinata tajam. Ingat karena Hinata pernah naik mobil yang dikendarainya untuk balapan, Sasuke menambahkan, "Aku sedang tidak balapan. Kau tenang saja."
Hinata menarik napas sebentar lalu mulai membuka pintu mobil. Ia memasang seatbelt-nya lalu kembali meliha kearah Sasuke, "A-apa ka-kau tahu arah rumahku, U-uchiha-san?"
Tentu saja tidak.
"Mungkin."
Jawaban yang meragukan.
"Ah! A-arah ru-rumahku ti-tidak jauh-"
"Kita berkeliling dulu." Sasuke menghidupkan mesin mobilnya lalu dengan cepat melajukannya menjauhi halaman sekolah.
.
.
"Ki-kita mau kemana?" Tanya Hinata sembari mengamati jalanan yang terlihat dari kaca jendela di sebelahnya.
"Aku tidak tahu."
Hinata menghela nafas. Ia sudah menanyakan ini belasan kali dan dijawab dengan jawaban yang sama pula. Lebih baik mungkin ia diam.
"Kau terlihat punya masalah." Sasuke memecah keheningan yang terjadi. Pandangannya masih fokus kearah depan tapi telinganya lebih dipertajam ketika ia medengar si Hyuuga menghela nafas.
"Mu-mungkin bukan ma-masalah,"
"Lalu?"
"A-aku juga ti-tidak tahu. Ta-tapi ini cu-cukup mengganggu pikiranku,"
"Kau tahu, aku bukan orang yang suka mendengarkan seseorang berkeluh kesah," Hinata menundukkan kepalanya, "aku bahkan tidak peduli," lebih baik ia tidak usah menjawab pertanyaan Sasuke tadi, "tapi wanita pendiam sepertimu akan terlihat sangat menyedihkan bila mempunya masalah." astaga ia bahkan menyebut Hinata seperti itu, "dan aku tidak suka melihatnya." tunggu dulu! Maksudnya?
Hinata melihat kearah Sasuke yang masih memandang kearah jalanan di depan, "Jadi lebih baik sekarang kita berjalan-jalan dulu."
.
.
"Hei, Gaara! Kau lihat Sasuke tidak?" Tanya Naruto ketika mereka sedang berkumpul di markas yang biasa mereka pakai untuk berkumpul.
"Tidak."
"Hah. . Dia itu kemana sih? Kalau dicari pasti tidak ada." ucap Naruto sembari mengacak rambutnya.
"Memangnya ada apa, Naruto?" Tanya seorang pemuda yang sedang mengelus kepala anjing di sebelahnya. Ia terlihat sangat menyayangi anjing tersebut.
"Tidak apa-apa sih. Sebenarnya dia berjanji mentraktirku ramen hari ini." jawab Naruto dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin karena Sasuke tidak ada untuk mentraktirnya ramen.
"Kau selalu berlebihan dalam segala hal, Naruto," ucap seseorang sambil membuang puntung rokoknya dan menginjaknya lalu berbaring di sofa dengan tangan sebagai pengganjal kepalanya.
"Apa dia sedang bersama gadis itu ya," gumam Naruto entah pada siapa. Toh, ia kira tak akan ada yang mendengar gumamannya. Padahal seseorang di ruangan tersebut mendengar dengan jelas kata-kata Naruto. Ia bahkan yakin siapa gadis yang dimaksud oleh Naruto.
.
.
"Ta-taman bermain?" Hinata memekik kaget ketika Sasuke membawanya kemari. Oh ayolah, seseorang seperti Sasuke tidak akan mau walaupun dibayar satu juta yen untuk pergi ke taman bermain. Taman bermain itu tempat bermain bukan tempat menonton film horror, pikir Hinata.
"Kenapa?"
"Ke-kenapa mengajakku ke-kesini, U-uchiha-san?" Tanya Hinata dengan penasaran. Jujur, ia sangat senang. Sudah lama sekali sejak terkahir kali ia pergi ke taman bermain. Karena ayah dan kakaknya sibuk ditambah dengan tugas menjaga Hanabi, ia jadi sangat sulit untuk pergi ke taman bermain. Dulu saat ia masih sangat kecil, ayahnya bahkan membelikannya miniatur taman bermain karena ia akan sangat gembira jika diajak ke taman bermain.
Tapi dengan orang seperti Sasuke? Sungguh tidak tepat!
"Aku hanya ingin membeli es krim."
Apa? Hanya mau membeli es krim? Kenapa tidak di toko dekat sekolah saja! Padahal Hinata benar-benar ingin bermain wahana di sini. Tapi ternyata cuma mau membeli es krim saja. Uchiha ini benar-benar!
"Kau bisa menceritakan masalahmu padaku sambil makan es krim." ucap Sasuke sambil berlalu meninggalkan Hinata di dalam mobil dan menuju penjual es krim di dekat taman bermain. Tidak jauh dari situ pun ada bangku kosong tempat orang-orang biasa menunggu teman atau pacar.
Hinata tau kalau Sasuke bukan seorang yang akan mau mendengarkan curahan hati seseorang, apalagi seorang wanita. Walau belum terlalu mengenalnya tapi Hinata bisa melihat sikapnya yang dingin kepada setiap wanita yang mengejar-ngejarnya. Tapi kenapa Sasuke mau mendengarkan bahkan menawarkan kepada Hinata untuk menjadi pendengar yang baik?
Jika itu salah satu triknya untuk mendekati wanita, kenapa ia selalu bersikap dingin kepada wanita yang mengejarnya? Hinata juga tahu kalau Sasuke tidak akan menggunakan trik murahan seperti ini untuk mendekati seorang wanita. Tak perlu mendekati wanita pun, mereka sudah berjajar di hadapan Sasuke.
Sadar terlalu lama memikirkan hal-hal yang aneh, Hinata langsung keluar dari mobil Sasuke. Ia tidak mau melihat Sasuke menatap tajam kearahnya lagi hanya karena ia bosan menunggu Hinata yang tidak keluar-keluar dari dalam mobil.
"Te-terima kasih," ucap Hinata ketika ia duduk di samping Sasuke yang langsung memberikannya sebuah es krim. Kelihatannya Sasuke hanya memesan satu buah, karena Hinata tidak melihat Sasuke memegang es krim.
"Ada apa?"
"Eh? Maksudnya?" Hinata tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Sasuke. Seharusnya ia yang bertanya, kenapa Sasuke tiba-tiba membawanya ke taman bermain.
"Kau kenapa?" Tanya Sasuke sembari mengalihkan pandangannya ke arah Hinata.
Hinata menghentikan kegiatannya menjilat es krim. Ia menundukkan kepalanya sambil menghela nafas, "Kau t-tau, U-uchiha-san, te-teman masa ke-kecilku akan ma-masuk ke sekolah kita. Bahkan, sa-satu kelas dengan ki-kita," katanya sembari menundukkan kepala.
"Lalu kau bersedih karena kau belum siap untuk bertemu dengan teman masa kecilmu itu?"tebakkan Sasuke tidak meleset. Karena setelahnya Hinata langsung mendongakkan kepala dan menatap ke arah Sasuke.
"Bagaimana ka-kau tahu?"
"Aku bisa tahu segala hal."
Hening kembali
"Aku bukan seorang lelaki yang akan memberikan kata-kata penenang pada gadis yang sedang sedih," Hinata melihat ke arah Sasuke dengan pandangan yang sulit diartikan, "aku bukan seorang laki-laki yang memiliki beribu kata manis," ya, kau bahkan bukan lelaki yang banyak berbicara, "aku juga bukan lelaki yang akan tersentuh bila melihat air mata seorang wanita," ya, itu sangat terlihat dar sifatmu, "tapi aku selalu ingat satu hal," Sasuke menatap ke arah Hinata, "terkadang kita harus bisa melupakan masa lalu dan mulai suatu yang baru, " nada suaranya sangat datar, tapi Hinata yakin Sasuke mengucapkannya dengan penuh kebenaran.
Sasuke beranjak dari kursinya dan berjalan kearah mobilnya. Hinata tahu kalau Sasuke memang bukan laki-laki yang akan berkata-kata manis atau tersentuh bila melihat seorang wanita mengeluarkan air matanya. Tapi, kenapa Sasuke berkata seperti itu pada Hinata?
Satu hal yang Hinata tidak tahu adalah Sasuke tidak akan menunjukkan sisi yang lain dari dirinya di depan orang lain apalagi seorang wanita. Dan ia sudah menunjukkannya di depan Hinata. Walau tidak sefrontal ia melakukannya di depan ibunya.
.
.
"Oi, Sasuke! Tadi siang kau kemana saja? Aku mencarimu tahu! Kau kan janji mau mentraktirku ramen," teriak Naruto ketika ia melihat Sasuke keluar dari mobilnya yang baru saja terparkir manis dengan mobil-mobil lainnya.
Malam Hari di Konoha tidak jauh berbeda dengan Tokyo. Walau jarak antara kedua kota tersebut tidak sampai satu mil, tapi jarang sekali ada geng balap dari Tokyo yang akan pergi ke Konoha. Alasannya, karena geng balap Konoha memang sudah terkenal sampai Tokyo bahkan distrik-distrik Jepang lainnya. Terutama geng balap yang dipimpin oleh Sasuke.
Jika malam hari di Tokyo ramai karena banyak orang yang baru pulang kerja, di Konoha malam hari akan terlihat ramai karena banyaknya anak-anak muda yang labil sedang berpesta pora.
"Aku pulang." jawab Sasuke sekenanya. Ia berjalan menuju meja yang terdapat champagne di atasnya.
"Jangan bohong, Teme! Aku tahu kau tidak langsung pulang ke rumah," ucap Naruto yang masih terus meminta jawaban Sasuke kemana ia pergi.
Belum berapa lama Sasuke menjawab pertanyaan Naruto, terlihat kumpulan mobil-mobil balap menuju ke arah markas mereka. Mobil yang paling depan terlihat paling keren,atau mungkin norak di mata Sasuke, dibandingkan dengan mobil yang berada di belakangnya.
Kumpulan mobil tersebut berhenti tepat di depan markas Sasuke yang langsung disambut oleh sang pemilik dan anak buahnya.
"Kudengar, disini ada seseorang yang diberi julukan 'Devil Drift'," ucap seseorang yang baru keluar dari mobil yang paling depan. Terlihat kalau ia adalah ketuanya, karena dirinya yang keluar dari mobil diikuti oleh anak buahnya yang lain.
Naruto yang berada di sebelah Sasuke tidak tahan dengan sikap orang di depannya yang, menurutnya, terlalu sombong, "Iya! Memang kenapa?"
Si penantang melirik ke arah Naruto, "Cih! Mulut besarmu. . tentu saja kalau kau bukan si 'Devil Drift' itu." yang sukses membuat Naruto merasa ingin menghajarnyam kalau saja Shikamaru tidak menahannya, "Mau apa kau kemari?" Tanya Shikamaru. Sepertinya si penantang belum menyadari kalau Sasuke lah si 'Devil Drift' itu.
"Tentu saja menantangnya untuk balapan."
Shikamaru melirik sebentar kearah Sasuke yang terus menatap si penantang dengan tatapan tajam, "Apa taruhannya?" Tanya Shikamaru kemudian.
Si penantang menyeringai, "Mobilku."
"Bagaimana kami bisa percaya kalau mobilmu adalah mobil yang berharga?" Kiba mulai bersuara sambil terus menggendong anjingnya.
"Kau bisa buktikan itu nanti jika aku kalah,"
"Kita ganti taruhannya." Gaara mulai angkat bicara. Serentak semua mata tertuju padanya, "jika kau kalah, serahkan mobilmu pada kami dan lihat apa yang akan kami lakukan pada mobilmu. Tapi, jika kami yang kalah, kau bisa berbuat apapun pada mobil kami. Bagaimana?"
Si penantang tak langsung menjawab. Ia malah menimbang-nimbang dulu apa yang akan terjadi jika ia benar-benar kalah dari 'Devil Drift'. Ia yakin diantara mereka adalah 'Devil Drift' tapi siapa? Rasa gengsi yang merasuk ke dirinya membuatnya menyetujui taruhan tersebut.
Shikamaru, Gaara, Kiba, dan Naruto melirik kearah Sasuke untuk meminta jawaban pemuda tersebut, "Menarik. Tentu aku setuju," jawab Sasuke dengan seringainya.
Si penantang tak bisa berkata ketika tahu kalau lawannya adalah Uchiha Sasuke, putra bungsu dari klan Yakuza terkenal.
"Kau siap, eh?" Tanya Sasuke yang melihat raut wajah penantangnya berubah ketika tahu kalau dia adalah sang 'Devil Drift'. Sebenarnya sudah lama ia tidak bertanding dengan geng balap dari Tokyo. Pertandingan keterakhirnya dengan salah satu geng balap dari Tokyo, sukses menjadi pembicaraan hangat diantara para ketua geng di distrik-distrik Jepang lainnya.
Setelah saat itu, tak ada yang berani untuk menantang Sasuke menjadi lawannya, kecuali jika Sasuke menantang salah satu diantara mereka.
"Cih, jangan hanya karena kau putra dari seorang Yakuza, aku menjadi takut padamu." ucap si penantang dengan membuang puntung rokok yang dari tadi ia hisap.
"Kalau begitu, buktikan," Sasuke mengakhirinya dengan memasuki mobilnya, yang dilakukan sama oleh si penantang juga.
Terdengar sorak sorai dari para anggota yang lain. Mereka langsung memberikan jalan pada kedua mobil tersebut untuk menuju ke arah garis start. Ada yang memanfaatkan kejadian ini sebagai cara untuk mencari uang, karena mereka mengadakan taruhan dengan nominal uang yang tidak sedikit.
Seperti pertandingan sebelumnya, selalu ada seorang wanita berpakaian seksi yang berdiri di tengah-tengah kedua mobil tersebut. Mengitung mundur dari tiga lalu mengangkat tangan ke atas membentuk pistol sambil berkata 'Go!'.
Kedua mobil tersebut langsung melesat menembus malam. Untuk beberapa saat, si penantang unggul beberapa meter di depan Sasuke. Ia bahkan yakin kalau ia bisa mengalahkan mobil di belakangnya ini dan mendapat julukan sebagai 'Devil Drift', tapi tidak semudah itu karena kurang dari 5 menit Sasuke sudah mendahuluinya.
Mereka kini sejajar, bersaing untuk mendapatkan posisi ke pertama. Mereka melewati jalur yang berada di pinggir tebing. Sebelah kanan adalah tebing dan kiri jurang. Jalur yang mereka lalui begitu sempit hingga mereka berdua kini saling beradu untuk melesat duluan dan menjatuhkan lawan.
Si penantang terus-terusan mengumpat dari tadi karena di sebelah kirinya adalah jurang, sedikit meleset ia tamat.
"Shit!" makinya sembari melihat ke arah kiri. Ia membanting setirnya dengan kencang ke arah kanan, mendesak mobil Sasuke, berkali-kali. Dengan satu bantingan kencang, mobil Sasuke mumdur beberapa meter ke belakangnya. Si penantang bersorak ria sembari menekan gas nya penuh. Sementara Sasuke, tetap memasang wajah datarnya, ia langsung menakan gas sembari menyeringai. Entah pikiran apa yang ada di otaknya, tapi ini akan sangat menyenangkan. Ia terus mengikuti mobil di depannya tanpa berniat untuk mendahuluinya.
"Hah, aku tidak bisa merusak mobilnya karena nanti tidak akan seru," gumam Sasuke dengan wajah yang tetap datar. Tapi ia langsung mencantolkan bemper depannya dengan bemper belakang lawannya sehingga sekarang kemana pun lawannya bergerak ia tetap mengikuti, "shit!" maki lawannya. Sementara itu, di tempat lain semua anggota geng Sasuke ataupun lawannya melihat pertanding tersebut via GPRS, "Hah, si Teme itu memang lebih suka bermain-main, " ucap Naruto yang melihat pertandingan Naruto. "Tapi sepertinya ini akan sangat seru," ucap Kiba yang diberi anggukan oleh yang lainnya.
Sasuke yang terlihat sudah bosan karena lawan di depannya tidak melakukan apapun padahal dia tau kalau Sasuke menempelkan bempernya, langsung melancarkan rencananya. Ia melepas bempernya yang tadi menempel dengan lawannya, lalu dengan kecepatan penuh ia membanting setirnya ke arah kanan, yang anehnya mobilnya tidak menabrak tebing tapi malah berjalan di tebing tersebut yang tidak terlalu curam, melewati lawannya yang melihatnya dengan mulut yang terbuka dari dalam mobil.
Dan Sasuke tepat sekali berhenti karena 1 meter setelah ia melewati lawannya, adalah garis finish. Setelah itu ia melewati garis finish dengan diikuti sorak sorai para pendukungnya. Dan aksi keterakhirnya adalah melakukan 30 kali putaran meluncur dan berhenti tepat di depan para anggotanya. Sasuke keluar dengan diikuti oleh teriakan kemenangan dari para temannya. Ia mengangkat tangannya dan seketika semua suara sorakan tersebut langsung berhenti, "Janjimu, eh?" tagih Sasuke dengan diikuti seringai iblisnya.
"Cih! Buatlah sesukamu pada mobilku!" ucap si penantang dengan penuh emosi. Sasuke menyeringai mendengarnya. Di belakangnya terlihat teman-temannya membawa alat pemuku, pilox dan yang lainnya. Kiba memulai dengan memukul jendela kanan depan mobil tersebut diikuti Shikamaru yang naik ke atas mobil dan menancapkan tongkat pemukul tajam di sana. Lalu Naruto yang menulis di jendela depan mobil menggunakan pilox, 'You Bastard'.
Gaara yang sedari tadi diam mulai melancarkan aksinya. Ia menginjak bemper depannya lalu menendang bagian mobil yang tidak terlindungi bemper sampai remuk. Entah kakinya besi atau bukan, tapi ia tidak merasakan sedikitpun sakit. Perusakan terus dilakukan dengan anak buah Sasuke yang lainnya. Sementara pihak lawan tidak bisa berkutik dan hanya diam sembari menahan amarah. Bagi geng balap, kendaraan mereka adalah harga dirinya. Maka dari itu, merusak kendaraan berarti merusak harga diri orang tersebut.
Sasuke yang sedari tadi diam, mengangkat tanggannya, memberi isyarat pada salah satu anak buahnya untuk menyiram minyak di mobil tersebut. Setelah itu, ia menyalakan pemantik rokok lalu melemparnya ke arah mobil tersebut. Semua pendukungnya bersorak sorai melihat mobil tersebut terbakar. Sementara Sasuke menyeringai ke arah si penantang yang memandangnya dengan tatapan membunuh.
"Lain kali, taruhkanlah yang lebih berharga," ucapnya tepat di sebelah telinga si penantang.
.
.
"Ohayou, Hinata-chan," sapa Ino ketika Hinata baru memasuki kelas mereka. Memang sudah cuku ramai dari perkiraan Hinata. Mungkin karena tadi pagi ia pergi terlambat dari rumah, "O-ohayou, Ino-chan," balas Hinata dengan senyum di wajahnya.
Tidak lama kemudian, bangku di sebelah Hinata terdengar bergeser. Ia mendongakkan kepala untuk melihat si empunya bangku yang sudah datang, "O-ohayou, U-uchiha-san," sapa Hinata. Karena kemarin ia telah berbuat baik, jadi tidak ada salahnya kan kalau Hinata menyapanya untuk berterima kasih. Namun, seperti sebelumnya, sapaan pagi Hinata hanya dibalas gumaman oleh Sasuke. Tidak berapa lama kemudian bel masuk terdengar dan masuklah seorang wanita muda yang mempunyai rambut yang ikal sebahu.
"Pagi, anak-anak," sapanya Miss Kurenai denga senyuman. Anak-anak menjawabnya dengan serempak, ia melanjutkan, "hari ini kita kedatangan murid baru. Ia pindahan dari Amerika," oh! Inilah yang Hinata tidak ingin terjadi. Sementara, teman wanitanya sudah berbisik-bisik tidak jelas, "baiklah, silahkan masuk," ucap Miss Kurenai.
Pintu geser di ruangan terbukan dan masuklah seorang pemuda dengan seragam yang, bisa dibilang, tidak terlalu rapih, "Silahkan kenalkan dirimu," perintah Miss Kurenai.
Ia membungkuk terlebih dahulu untuk menunjukan tata kramanya, "Namaku adalah. . ." matanya menjelajah ke seisi kelas dan berhenti pada sosok yang menjadi fokusnya, "Kaito Sai, salam kenal," lanjutnya dengan seringai, yang lebih tepatnya, ditujukan pada sosok di belakang kelas yang menunduk sembari menggigit bibirnya, Hinata.
Sementara itu, sosok di sampingnya melirik ke sosok di sampingnya yang menunduk dan memberikan pandangan menilik pada Sai.
Sepertinya usaha Hinata akan lebih berat untuk memperoleh kehidupan SMA yang nyaman, karena kali ini bertambah satu lagi 'Devil' yang akan mengganggunya.
TBC
Yeeyy! Akhirnya chap ini selesai juga!#ditabok. . Hah, Minna akhirnya bisa publish chap 8. Oh ya scene SasuHIna nya udah sedikit banyak. Kichan sengaja ga banyakin dulu scene mereka soalnya kan mereka ceritanya masih canggung, jadi kan aneh kalo tiba2 Sasuke nyium Hinata.. Oh ya adegan balapnya silahkan bayangkan sendiri ya, Kichan ga jago bikin scene balapnya ^^ , Terima kasih buat reader yang udh mau baca fic ini, untuk yg men-fav ato meng-alert ceritanya, Kichan ucapkan too much terima kasih#apasihnianak..
Review?
