A/N: Oke, aku kembali. Padahal aku masih ada ulangan IPA, tapi aku pingin cepet-cepet up-date. Oh, yang Miku's Life mau aku lanjutin sehabis aku selesai cerita ini. Makasih ya, Akihisa Funabashi dan Rein Yuujiro, kalian udah mau review cerita ini. Aku SANGAT senang, kalau aku bisa nyamperin kalian, aku bakalan ngasih kalian kue (aku pinter bikin kue lho!).
Disclaimer: Aku tidak mempunyai Vocaloid. Kalau Vocaloid memang punya aku, Gumi dan Gakupo akan ikut berada di konser.
"Ratu Pertama, Ratu Kedua, Ratu Ketiga (A/N: Sayang Semuanya. Sorry, aku kepikiran lagu 1 2 3.)!" Meiko, bidadari penjaga, datang lalu membungkuk ke ketiga Ratu tersebut. "Leon dan Big Al sudah siap untuk pergi. Kami menunggu pendatang baru untuk bersiap-siap." Meiko memakai baju yang sangat berbeda. Tadi, dia memakai baju pelayan berwarna coklat tua. Sekarang, dia memakai baju armor yang mengkilap dengan pedang yang terikat di sebelah pinggulnya.
"Baiklah, kalau begitu, kalian bertiga harus ikut dengan Meiko untuk memakai armor kalian." Ucap Luka.
Setelah mereka bertiga memakai armor, Ratu Ketiga, Rin, datang. "Bolehkah aku berbicara dengan Kagamine Len sebentar?" Tanya Rin. Gakupo dan Kaito mengangguk lalu keluar dari ruangannya.
"Ada apa?" Tanya Kagamine Len kepada Rin dengan senyuman menawannya. Anehnya, Rin tidak terpengaruh sama sekali dan itu membuat Len sangat bingung.
"Tidak usah bingung kok, aku tidak tertarik kepada senyumanmu itu karena akukan kakakmu." Ucap Rin.
"Kakakku? Aku tidak mempunyai kakak. Aku anak tunggal. Saudara kembarku sudah meninggal saat dia lahir." Ucap Len.
"Haha, adikku yang malang, kau melupakan kakak kembarmu ini. Pikirlah, mukaku mirip denganmu, nama keluarga kita sama, dan kamu kehilangan saudara saat aku menjadi bidadari di sini." Jelas Rin. "Ini, aku datang untuk memberikanmu ini." Ucap Rin sambil memberikan Len sebuah kalung dengan sebuah huruf 'R' di tengah-tengahnya. Lalu, Rin keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Len yang sangat bingung.
Mari kita susul Kaito yang sepertinya sedang tersesat. "Ih! Ini istana buat berapa orang? Rasanya kayak jalan-jalan di satu kota." Kaito berjalan beberapa puluh langkah lagi. "Pintu pertama di lorong ini. Mungkin ini pintu keluarnya, mana mungkin pintu sebesar ini adalah pintu kamar." Ternyata, Kaito sangat salah.
Saat dia membuka pintu tersebut, dia berada di suatu kamar. Rata-rata semuanya berwarna merah mawar dan putih melati. Kaito masuk ke dalam kamar tersebut dan melihat ke sekelilingnya. "Apakah engkau tersesat?" Sebuah suara bertanya di dalam kepalanya dan suara tersebut sangat mirip dengan suara yang dia dengar di ladang rumput kemarin.
Kaito melihat bahwa di atas kasur ada bidadari dengan sayap yang jauh melebihi king size bed miliknya. Bidadari tersebut memakai gaun tidur berwarna biru langit. Rambut biru kehijauan miliknya dibiarkan lepas. Mukanya mengingatkan Kaito kepada teman kecilnya yang dia telah lupakan.
"Aku adalah Ratu Pertama, tidak perlu takut, suaraku menggema di kepalamu karena aku menggunakan telepathy. Telepathy tidak menghabiskan tenaga sebanyak bicara. Diantara semua bidadari, hanya diriku yang bisa melakukan telepathy. Jadi, apakah kau tersesat?" Ratu Pertama tersenyum kepada Kaito.
"I-iya, aku tidak tahu dimana aku harus berkumpul." Ucap Kaito dengan malu.
"Ikut aku." Ratu Pertama bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan dengan perlahan ke balkon yang lumayan luas. Kaito berdiri di sebelah Ratu Pertama lalu dia merasa didorong tetapi dia tidak jatuh, dia sedang berdiri di barisan paling belakang. Tanpa mengetahui apa-apa, dia langsung melakukan apa yang dilakukan yang lain.
Ratu Pertama tersenyum saat melihat tingkah laku Kaito yang langsung mengikuti sekitarnya. Tadi, dia mendorong Kaito lalu menggunakan sihirnya untuk membuat Kaito berada di barisan paling belakang. Saat Ratu Pertama ingin tertawa, dia langsung merasakan sakit di jantungnya. Dia berjalan ke kasurnya dengan susah payah. Tetapi, saat Ratu Pertama baru saja berada di samping kasurnya, dia pingsan dengan kepalanya di atas kasur karena sudah sangat tidak tahan dengan sakitnya.
Miku pingsan tepat saat Neru, seorang bidadari penjaga, masuk ke kamarnya. Sebenarnya, Neru dan Gumi disuruh menjaga Ratu Pertama tetapi karena Gumi akan ikut bersama Meiko dan lainnya, Neru harus mengerjakan semuanya sendiri dan itu sangat memakan waktu.
"Ratu Pertama!" Teriak Neru. Neru segera berlari ke samping Ratu Pertama. Neru mencoba untuk membangunkan Ratu Pertama dengan sihirnya tetapi sihirnya terlalu lemah. Neru langsung menelfon Haku lewat hp-nya (A/N: Kerenkan, Bidadari punya hp).
Belum sepuluh detik, Haku langsung berada di depan pintu kamar Ratu Pertama. Haku berjalan ke samping Ratu Pertama dan menggunakan sihirnya. Anehnya, Ratu Pertama tidak terpengaruh sama sekali dia tetap di posisi yang sama. Padahal, Haku adalah bidadari kesehatan, hampir tidak pernah Haku gagal menyembuhkan pasien.
"Gawat, Ratu Pertama tidak bangun. Cepat, panggil Ratu Kedua dan Ratu Ketiga!" Haku menyuruh Neru dengan muka yang sangat pucat. Jika Ratu Pertama tidak bangun, dunia bisa hancur
Tanpa menunggu sedetikpun, Ratu Kedua dan Ratu Ketiga sudah berada di dalam kamar. Luka menyuruh Haku dan Neru untuk menaruh Ratu Pertama di kasurnya. Luka memeriksa Ratu Pertama dengan muka yang serius. Dia tidak ingin meninggalkan satu detilpun karena itu dapat menjadi kesalahan fatal.
"Sayap Ratu Pertama menjadi lebih layu dari biasanya. Kulitnya juga sangat pucat. Akan sangat susah jika kita ingin menyembuhkan Ratu Pertama dengan sihir. Kita hanya bisa menunggu para prajurit pilihan Ratu Pertama bisa menemukan obat untuk Ratu Pertama." Jelas Luka.
"Iya, untuk sementara, kita hanya bisa mengirim surat mengenai hal-hal yang kita perlukan." Ucap Rin.
Neru dan Haku keluar dari kamar Ratu Pertama. Rin dan Luka duduk di kedua sisi kasur Ratu Pertama. Mereka berdua sangat khawatir terhadap keadaannya Ratu Pertama. Luka mengelus rambut Ratu Pertama sedangkan Rin meletakan kepalanya di sebelah Ratu Pertama.
"Luka, Ratu Pertama tidak akan….mati…kan?" Tanya Rin.
"Jangan berfikir seperti itu, Rin. Ratu Pertama akan selamat." Ucap Luka dengan lembut.
"Aku tidak ingin Ratu Pertama mati, dia selalu baik kepada semua orang. Dia adalah bidadari yang sangat kuat dan bijaksana. Apa yang dia lakukan untuk mendapatkan penyakit yang susah disembuhkan ini?" Tanya Rin.
"Aku tidak tahu tetapi Ratu Pertama tidak mungkin akan meninggalkan kita semua sebelum dia menemukan pengganti untuk gelar Ratu Pertama." Jawab Luka.
Meiko dan yang lainnya pergi ke dunia lain. Meiko telah dikasih bahan-bahan yang diperlukan untuk obat Ratu Pertama. Bahan-bahan tersebut berasal dari berbagai dunia dan bahan-bahan tersebut sangat susah untuk didapatkan. Meiko, Gumi, dan Aoki adalah bidadari yang memimpin para prajurit.
Walaupun semuanya adalah perempuan tetapi kemampuan mereka melebihi kekuatan maksimal manusia. Meiko, dia sangat pemberani dan sangat berbakat memakai pedang kesayangannya tetapi dia tetap mempunyai sifat feminim di dalamnya. Gumi, dia mempunyai pengelihatan yang dapat melebihi mata binatang apapun, dia paling bagus menyerang dari jarak jauh. Aoki, dia mempunyai kekuatan sihir yang sangat kuat, walaupun tidak dapat disamai dengan kekuatan sihir para Ratu, tetapi dia dapat menghancurkan sebuah gedung kantoran dengan beberapa pukulan sihirnya.
A/N: Udah dulu ya, aku laper nih. Setengah hari di depan laptop tanpa makan sebutir nasipun. Ibuku juga lagi sakit jadi aku disuruh bersihin rumah deh. Oh ya, Aoki Lapis bukanlah seorang OC, melainkan seorang karakter dari Vocaloid 3. Cari saja di You Tube.
Penjelasan mini, sayap-sayap para Ratu tidak perlu ditekuk atau dilipat untuk kemana-mana. Sayapnya sudah cukup lembut untuk melewati rintangannya tanpa masalah. Jika sayap mereka ditekuk tanpa keinginan mereka, maka rasanya seperti tulangnya yang ditekuk.
Oke, cukup sampai disini dulu ya! Jangan lupa Review.
