A/N: Hai semua, aku senang sekali sekarang karena tadi pagi aku ekskul basket. Semoga aku nggak keluar dari alur cerita. Makasih udah review lagi ya, Rein Yuujiro. Baiklah mari kita mulai chapternya.

Disclaimer: I do not own Vocaloids.

"Kenapa kita mengikuti perintah para bidadari? Belum tentu mereka benar. Mungkin mereka hanya mempergunakan kita supaya kita menyembuhkan Ratu Pertama mereka. Belum tentu dunia kita akan hancur apabila Ratu Pertama itu mati." Ucap seorang cowok dengan santai. Dia adalah Mikuo, orang paling malas tetapi dia sangat ditakuti apabila dia sedang memegang sebuah senjata.

Aoki mendengar ucapan Mikuo dan langsung mengikatnya dengan sihirnya. "Jangan pernah engkau meragukan perkataan Ratu Pertama. Jika dia tidak ada kami tidak akan pernah ingin membantu para manusia di Perang Dunia." Ucap Aoki. Walaupun suaranya imut tetapi tatapannya sangat menakutkan. Dia melepaskan ikatannya dan kembali ke posisinya.

"Ratu Pertama adalah bidadari yang mendapat perintah langsung dari Tuhan (A/N: Ingat! Ini adalah fanfiction!)" Ucap Gakupo kepada Mikuo.

"Kamu tahu darimana?" Tanya Mikuo.

"Akukan dapat 95 di semua pelajaran yang berbau spiritual." Jawab Gakupo.

Kaito sedang memerhatikan Len yang sepertinya sedang ada masalah. "Ada apa Len?" Tanya Kaito.

"Kenapa?" Tanya Len balik, bingung dengan pertanyaan Kaito.

"Sepertinya kamu sedang menghadapi masalah. Mau ngasih tauin aku nggak?" Ucap Kaito.

Len terlihat ragu tetapi dia tetap saja menceritakannya. "Ini Kaito, Ratu Ketiga memberiku sebuah kalung rengan 'R' di tengah-tengahnya." Ucap Len sambil melihatkan kalung tersebut ke Kaito.

"Kalung ini adalah kalung yang diberi ibumu ke saudara kembarmu. Pertamanya sih aku kira bahwa nama Ratu Kedua itu hanya sama seperti nama saudara kembarmu." Kaito terpotong oleh Len.

"Maksudmu bagian 'Kagamine'nya?" Tanya Len.

"Bukan 'Rin Kagamine' adalah nama saudara kembarmu. Setelah dia meninggal, ibumu membuang kalungnya ke danau tidak begitu jauh dari rumah kita. Mungkin dia sangat sakit hati sampai dia ingin melupakan saudara kembarmu itu." Jelas Kaito. Lalu, Kaito teringat kepada seseorang yang dia telah lupakan. Dia ingat bahwa dia begitu sedih sampai rasanya seperti mau mati.

"Kaito!" Teriak Len, membangunkan Kaito dari pikirannya.

"Apa?" Tanya Kaito dengan kesal karena dia telah dibangunkan dari pikirannya.

"Kok malah kamu yang marah? Aku dari tadi sudah memanggilmu tetapi kau tidak menyaut!"

"Kata siapa aku marah?"

"Kataku tadi, nggak denger ya?" (A/N: Hahaha, aku selalu ngakak kalo temen sekelasku kayak gini.)

Kaito langsung memasang muka kalah. Len hanya tersenyum dengan gembira. Tanpa mereka ketahui, mereka sudah sampai di tujuan mereka, Gua Naga Air. Mereka butuh mengambil sedikit bagian dari kuku naga dan air dari danau Naga Air.

Semuanya masuk dengan Meiko yang menjadi pemimpinnya. Gua tersebut sangatlah dingin dan gelap walaupun Aoki telah memakai sihirnya untuk membuat permata-permata bercahaya di sekelilingnya. Setelah mereka berjalan cukup lama, barulah mereka sampai ke bagian danaunya.

"Gumi, cari letak Naga Air." Perintah Meiko kepada Gumi

Gumi mencari letak Naga Air di sekitar danau dengan teliti. "Di sana!" Ucap Gumi sambil menunjuk ke bagian utara. Di sana, semuanya melihat sesuatu terbang ke arah mereka dengan sangat cepat. Saat jaraknya tinggal 100 meter baru yang lainnya dapat melihat jelas bahwa itu adalah Naga Air.

"Berpencar!" Teriak Meiko sambil berpencar.

Naga Air tersebut marah dan mulai mengejar Kaito. Naga Airnya melempar Kaito ke Danau.

"Tidak!" Teriak Len dan Gakupo.

"Meiko, alihkan perhatian Naga Air. Aku akan coba untuk menarik Kaito dari danau. Akan menjadi berbahaya jika dia terlalu lama di danau itu." Ucap Aoki Lapis

Meiko mengangguk "Kalian cobalah untuk memelani pergerakan Naga Air!" Perintah Meiko kepada yang lain lalu dia mulai menyanyikan sebuah nada yang semakin lama menjadi semakin tinggi. "Kalian dengarkan? Perlahan gerakan naga itu!" Perintah Gumi kepada yang lain. Semunya muli menyerang Naga Air tetapi Naga Air tersebut tidak merasakan sakit karena air dapat mengurangi suara yang masuk dan dia juga tidak dapat disakiti oleh benda padat. Naga Airnya mulai berjalan ke arah Meiko tetapi Meiko tetap meninggikan nada yang dia nyanyikan.

Aoki terbang ke arah tenggelamnya Kaito. Lalu, tanpa masuk ke dalam air, Aoki menggunakan sihirnya dan membentuk seutas tali yang makin lama makin panjang. Tali tersebut masuk ke dalam air dengan cepat dan menarik Kaito ke atas.

Kaito pun di bawa ke daratan. Walaupun matanya tidak terbuka tetapi dia masih bisa mendengar. Dia mendengar suara Meiko yang bagus yang mengingatkannya kepada teman kecilnya yang dia lupakan. Kaito hanya ingat bahwa suara teman kecilnya sangatlah bagus (A/N: Dasar BaKaito, hanya ingat bahwa suaranya bagus). Lalu, Kaito membuka matanya dan melihat Meiko sedang bernyanyi.

Aoki menutup Meiko dan Naga Air dengan sihirnya supaya suara Meiko hanya terdengar oleh Meiko dan Naga Air karena suara Meiko sudah mencapai ultrasonik yang dapat didengar oleh manusia (A/N: Ingat, Fanfic!) dan itu dapat merusak pendengaran manusia.

Naga Air tersebut mulai merasakan kesakitan karena walaupun dia adalah air, dia tetap seekor Airnya terjatuh dan Meiko stop bernyanyi.

Aoki menghampiri Naga Air dan mulai mengelusnya. Aoki mengangkat tongkatnya "Keluarkanlah sifat-sifat gelap dari Naga ini dan sucikanlah hatinya. Sebab, semua binatang berhak mempunyai hati yang suci." Lalu, Aoki mengayunkan tongkatnya ke kepala Naga tersebut dan mengeluarkan cahaya yang sangat terang.

"Kenapa dia tidak melakukannya dari tadi?" Tanya Mikuo.

"Aoki tidak bisa menetralisi sifat Naga karena naganya masih aktif dan kuat. Aoki hanya bisa menetralisi sifat Naga jika naganya sedang lemah." Jawab seorang cowok dengan rambut abu-abu, bernama Piko.

Kaito bangun sambil mengusap kepalanya. Meiko menghampiri Kaito "Jangan banyak bergerak, air di danau itu beracun, jadi bisa saja kamu mati jika banyak bergerak." Ucap Meiko dengan nada yang santai.

"Kalau begitu, bagaimana Ratu Pertama akan sembuh dengan air ini." Tanya Gakupo, muka Gumi dan Meiko langsung menjadi panik.

"A-air ini hanya beracun bagi…. Uh…. Manusia." Ucap Gumi terbata-bata yang membuat Gakupo sangat curiga.

"Ah, Kak Gumi memang suka bicara terbata-bata ya. Dari pertama kali aku ke sini Kak Gumi memang seperti itu." Ucap Aoki Lapis dengan senyuman yang sangat imut. Walaupun Aoki sudah mengatakan dua kalimat tersebut, Gakupo tetap merasa bahwa ada sesuatu yang salah di sini.

Kaito memperhatikan Meiko yang berada di sampingnya. Sayangnya dia hanya ingat sedikit bagian dari teman masa kecilnya. Tetapi, dia merasa bahwa dia sangat ingin menemukan teman masa kecilnya . Kaito merasa sangat pusing dan pingsan.

Di mimpinya, dia melihat dirinya saat dia masih kecil dan seorang perempuan dengan gaun putih yang muka dan rambutnya tidak kelihatan. Dia melihat dirinya saat masih kecil dan perempuan itu bermain dan bersenang-senang. Kaito merasa rindu kepada suasana ini, bagaikan suasana ini meninggalkan lubang di hatinya yang tidak akan sembuh.

Sebelum Kaito dapat melihat kelanjutannya, dia telah dibangunkan oleh seseorang.

"Kaito! Kaito! Ayo bangun!" Teriak Gakupo. Kaito merasa sangat kesal dan menonjok Gakupo sekeras mungkin di mukanya. Kaito sangat ingin melihat kelanjutan mimpinya itu, dia ingin sekali mengetahui hal yang sudah terlupakan olehnya.

A/N: Oke deh, itu aja ya. Oh aku pingin nambah percakapan kecil dulu ya. Buat ngeramai-ramaiin. Ini tentang komentar guest of honour hari ini.

Kaito: Wah, aku benar-benar tidak berguna.
Aku: Iya, tapi kamukan hanya tidak berguna di chapter ini.
Kaito: Benarkah? Jadi bagaimana aku di chapter lain.
Aku: Uh… *Membaca ulang script* Kamu rata-rata menyebalkan dan menyusahkan.
Kaito: Apa *Mengambil script nya dariku dan membacanya* Iya kamu benar. Kenapa karakterku seperti ini?
Aku: Lihat waktunya, sudah saatnya untuk menyelesaikan percakapan ini. Read and Review!
Kaito: Huh, menyebalkan.