A/N: Hai, semuanya. Pertama-tama, aku mau bilang TERIMA KASIH kepada Rein Yuujiro yang udah mau nge-review di setiap chapternya. Di chapter ini tidak akan ada Kaito. Oh iya, aku juga udah selesai ulangan jadi aku bisa megang laptop lebih lama. Semoga aku bisa up date lebih cepat. Baiklah mari kita lanjutin ceritanya.
Di istana, Ratu Pertama mulai terbangun. Dia melihat di sekitarnya dan merasakan sakit di bagian lehernya. Betapa terkejutnya Ratu Pertama saat dia melihat dirinya di kaca dengan luka yang sebesar genggaman tangannya di bagian kanan bawah lehernya. Tetapi, luka tersebut tidak mengalirkan darah segar. Luka itu bagaikan bagian yang busuk pada dirinya.
"Ratu Pertama!" Teriak Neru yang sedang mengantarkan obat untuk Ratu Pertama. Neru menghampiri Ratu Pertama dan memperhatikan luka Ratu Pertama. "Sejak kapan ada luka di sini? Tadi pagi aku tidak melihat apa-apa." Ucap Neru kepada dirinya sendiri dengan heran. "Ratu Pertama, anda istirahat saja. Saya akan panggil Haku." Ucap Neru sambil mengantar Ratu Pertama ke king size bed nya. (A/N: Kamarnya Ratu Pertama sangaaaaaaaat besar) Lalu, dalam satu detik, Neru telah mengirim Haku sms.
'Neru, sudahlah, tidak perlu memberatkan Haku. Kasihan, dia sudah tidak pernah mendapatkan waktu istirahat. Aku bisa mencoba untuk menymbuhkannya sendiri.' Ratu Pertama bertelepati ke Neru.
"Tidak bisa! Ratu Pertama tidak boleh memakai sihir. Bisa saja Ratu Pertama menjadi tambah lelah dan penyakitnya tidak bisa disembuhkan." Neru berhenti sejenak. "Jika Ratu Pertama" Mata Neru mulai memerah "Mati" Suara Neru mulai pecah "Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Ratu Pertama adalah satu-satunya bidadari yang memang sangat cocok untuk memimpin bidadari yang lain. Jika Ratu Pertama tidak pernah ada, aku juga tidak akan berada di sini."
*Flashback*
Neru dan Haku adalah bidadari yang gagal. Semua bidadari, kecuali para ratu, setuju untuk memusnahkan dari dunia ini. Sebab, mereka tidak mempunyai sayap dan juga kemampuan untuk melakukan apapun. Tetapi, saat mereka akan dimusnahkan, Ratu Pertama datang.
"Ada apa di sini? Aku mendengar bahwa dua bidadari akan dimusnahkan dari dunia ini. Aku ingin mengetahui kedua bidadari tersebut dan sebab untuk pemusnahan mereka." Walaupun Ratu Pertama sudah mencoba untuk menutupi kekesalannya tetapi tetap saja keluar nada kesalnya.
Para bidadari yang lain tidak langsung menjelaskannya kepada Ratu Pertama melainkan berbisik-bisik tentang siapa yang akan mengucapkannya. Lalu, Gumi berjalan ke depan dan menjelaskannya kepada Ratu Pertama.
"Ratu Pertama, alasan kami untuk memusnahkan kedua bidadari tersebut adalah karena mereka sudah tidak memenuhi syarat bidadari. Mereka tidak mempunyai sayap dan tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan apapun." Jelas Gumi.
Ratu Pertama melembutkan ekspresinya. "Gumi, itu bukanlah sebuah alasan untuk memusnahkan bidadari."
"Bukan? Tetapi bidadari terkenal dengan sayap dan kemampuan luar biasanya."
"Iya, tetapi itu baru kamu sudah mempelajarinya dari upacara yang dilakukan setiap pagi bahwa; Bidadari adalah makhluk wanita yang dibuat dari cahaya, mempunyai sayap yang memantulkan sifatnya, kecantikan yang melebihi wanita biasa, suara yang setara dengan putri duyung, kemampuan untuk membantu siapapun yang membutuhkannya, dan hatinya yang lebih suci dari hati makhluk lain; dan memusnahkan bidadari lain bukanlah sifat dari hati yang suci." Jelas Ratu Pertama "Bolehkah kau memperlihatkan kedua bidadari yang akan dimusnahkan?"
Gumi membawa kedua bidadari tersebut ke depan. Salah satunya berambut kuning panjang sedangkan yang satunya berambut abu-abu.
"Lihatlah muka mereka, mereka sangat ketakutan. Tidaklah kalian malu atas perbuatan kalian itu? Walaupun mereka tidak mempunyai sayap dan kemampuan untuk melakukan apapun tetapi mereka tetaplah makhluk wanita yang dibuat dari cahaya."
"Tetapi, mereka tidak mempunyai suara yang setara dengan putri duyung. Bahkan, mereka tidak mempunyai suara." Ucap seorang bidadari.
"Iya, mereka juga tidak mempunyai kecantikan yang melebihi wanita biasa. Lagipula, jika mereka tidak mempunyai sayap yang memantulkan sifatnya, berarti sifat mereka memang tidak bagus sampai-sampai sayap mereka tidak tumbuh." Ucap bidadari yang lain.
"Kalian berdua tidak boleh mengejek bidadari yang lain. Tetapi apakah betul bahwa mereka tidak mempunyai suara?" Tanya Ratu Pertama. Beberapa bidadari menjawab 'Ya' secara bersamaan.
Ratu Pertama berjalan menuju kedua bidadari yang akan dimusnahkan."Kalau begitu, akan aku berikan suara yang mirip dengan suaraku." Para bidadari yang lain sangat kaget atas ucapan Ratu Pertama. "Berikanlah kedua nyawa tak bersalah ini suara." Munculah enam cahaya yang sebesar genggaman tangan yang mulai mengelilingi Ratu Pertama secara cepat. " Suara untuk berbicara, bernyanyi, dan mengungkapkan isi hati." Dua dari cahaya masuk ke dalam tenggorokan masing-masing bidadari. "Suara untuk membebaskan mereka dari beban yang tidak bisa mereka ungkapkan tanpanya." Dua cahaya lagi masuk ke dalam tenggorokan mereka. "Suara yang mendekati suaraku, pembaca mantra ini." Dua cahaya yang terakhir masuk juga kedalam tenggorokan mereka. Maka, dengan selesainya pembacaan mantra ini, dapatlah mereka mengeluarkan suara sesuai mantra tersebut." Ratu Pertama menyelesaikan mantra dengan menepuk tangannya satu kali yang mengeluarkan suara yang kencang.
Semua bidadari menunggu kedua bidadari tadi berbicara tetapi tidak ada yang keluar.
"Mengapa kalian tidak berbicara?" Tanya Ratu Pertama. "Baiklah, kalau begitu aku akan membuka sebuah pembicaraan. Siapa namamu?" Tanya Ratu Pertama kepada bidadari berambut abu-abu.
"H-Haku, Haku Yowane." Ucap Bidadari berambut abu-abu. Semuanya terkagum-kagum karena bidadari tersebut dapat berbicara dan suaranya mirip dengan suaranya Ratu Pertama.
"Bagaimana denganmu? Siapa namamu?" Tanya Ratu Pertama kepada bidadari berambut kuning.
"Neru, Akita Neru." Ucap biadari tersebut.
"Bagaimana dengan sayap mereka?" Tanya Gumi.
"Sayap mereka bisa tumbuh dengan sendirinya. Mungkin karena kalian tidak ingin mengasih kesempatan kepada mereka, mereka tidak bisa memperlihatkan sifat mereka." Jelas Ratu Pertama. "Untuk mengingtkan kita ke hari spesial ini, aku akan memberi hiasan rambut untuk Neru dan Haku." Ucap Ratu Pertama dengan sangat gembira. Dia memberi Haku pita hitam dengan garis biru gelap dan memberikan Neru pita hitam dengan garis kuning gelap. "Kalian boleh memakainya dimana saja." Ratu Pertama memasang senyuman yang sangat manis.
Haku dan Neru menerimanya dengan sedikit ragu-ragu karena Ratu Pertama telah memberikan menyelamatkan nyawa mereka, memberikan mereka suara, dan sekarang memberikan mereka hiasan rambut yang cantik.
"Kalian semua boleh balik sekarang." Ucap Ratu Pertama kepada yang lain dengan suara yang lembut.
Semua bidadari pergi kecuali Haku dan Neru. "Ada apa?" Tanya Ratu Pertama kepada mereka berdua.
"Uh, kami tidak tahu bagaimana cara berterima kasih kepadamu. Ratu Pertama." Ucap Neru.
"Iya." Ucap Haku.
"Tidak usah berterima kasih kok." Ucap Ratu Pertama.
"Tetapi, pasti ada sesuatu yang bisa kami dapat lakukan kepadamu." Ucap Neru dengan mata memohon.
"Iya, kami ingin pekerjaan pertama yang kami lakukan adalah sesuatu yang dapat membantu Ratu Pertama." Lanjut Haku.
"Kalau begitu, bagaimana jika Haku menjadi bidadari kesehatan, kamu dapat membantuku dengan menyembuhkan banyak bidadari lalu Neru akan menjadi bidadari penjaga yang akan menjagaku?" Tanya Ratu Pertama.
"Baiklah." Ucap Haku dan Neru.
*Flashback end*
Neru mengeluarkan beberapa tetes air mata "Karena Ratu Pertama yang membuatku berguna akan sesuatu" Neru menundukan kepalanya "Aku jadi diterima oleh bidadari yang lain." Air mata Neru langsung menjadi deras.
Ratu Pertama berjalan menuju Neru dan memeluknya. "Aku tidak ingin Ratu Pertama mati!" Tangis Neru sambil menguburkan mukanya ke pundak kiri Ratu Pertama.
'Jangan menangis, Neru. Aku akan mencoba sekeras mungkin untuk tidak mati.' Telepati Ratu Pertama kepada Neru.
Setelah Neru selesai menangis, Haku datang. "Ada apa, Neru?" Tanya Haku kepada Neru dengan nada biasa.
"Ada apa? Aku mengirimmu sms setengah jam yang lalu!" Teriak Neru.
"Tapi, kamu tidak bilang bahwa ini tentang Ratu Pertama! Kalau kamu bilang itu dari tadi, aku akan segera datang. Susah tahu keluar dari ruang kesehatan. Ada yang mau dibantuin yoga, ada yang flu, ada juga yang sakit gigi." Jelas Haku kepada Neru."Jadi, apa masalahnya?"
"Sini, lihat lehernya Ratu Pertama."
Haku memperhatikannya untuk beberapa saat."Sepertinya ini adalah bagian yang membusuk. Baru pertama kali aku melihatnya secara langsung. Aku akan coba untuk membersihkannya sementara." Jelas Haku.
"Sementara? Kenapa kamu tidak menyembuhkannya saja?" Tanya Neru.
"Iya, sementara. Aku tidak bisa menyembuhkannya karena sepertinya penyakit ini adalah kegiatan tubuh Ratu Pertama. Bagaikan tubuh Ratu Pertama memang ingin pembusukan ini terjadi." Jelas Haku sambil menggunakan sihirnya untuk membersihkan luka tersebut. "Tetapi, luka ini hanya bisa menjadi tambah parah. Semoga saja, obatnya sudah ditemukan sebelum itu terjadi."
"Oh, jadi begitu." Ucap Ratu Kedua dari pintu kamar Ratu Pertama. Dia dan Ratu Kedua telah mendengarkan semua penjelasan Haku.
"Ratu Kedua! Ratu Ketiga!" Ucap Neru dan Haku dengan nada kaget.
Ratu Kedua dan Ratu Ketiga memasuki ruangan dengan aura yang mengagumkan karena kecantikan mereka, baik kecantikan muka maupun kecantikan sayap. Neru dan Haku bangkit dan membungkuk kepada kedua ratu tersebut lalu Haku kembali membersihkan luka Ratu Pertama sedangkan Neru mulai membersihkan ruangan.
"Tidak usah setegang itu, tidak ada yang akan memakan kalian." Gurau Ratu Kedua.
"Iya, aku sudah kenyang kok." Ucap Ratu Ketiga dengan senyuman imut.
Kedua ratu tersebut duduk di masing-masing sisi Ratu Pertama. "Aku akan melanjutkannya dari sini, Haku. Terima kasih sudah membersihkan sebagian besarnya." Ucap Ratu Kedua dengan lembut.
Haku bangkit "Sama-sama, Ratu Kedua. Saya permisi dulu." Ucap Haku sambil membungkuk lalu pergi.
"Saya juga permisi dulu, bersih-bersihnya sudah selesai." Ucap Neru sambil membungkuk lalu pergi mengikuti Haku.
Setelah mereka berdua pergi, Luka juga sudah selesai membersihkan lukanya Ratu Pertama. "Wah, aku agak iri sama Ratu Pertama, jika hanya ada Ratu Pertama, pasti semuanya merasa tenang. Melainkan saat kita berada di sekitar Ratu Pertama, pasti suasana menjadi tegang." Ucap Rin sambil memainkan rambutnya Ratu Pertama.
"Ratu Pertama lebih banyak berhubungan sosial dengan bidadari yang lain sedangkan kita masih sibuk dengan tugas-tugas kita." Ucap Luka.
'Kalian berdua memang lumayan lama saat mengerjakan tugas.' Telepati Ratu Pertama kepada keduanya.
"Kalau dipikir-pikir, kita belum pernah mengetahui nama aslinya Ratu Pertama." Ucap Rin.
'Kalian ingin mengetahuinya?' Tanya Miku dengan telepati.
"Iya" Ucap Rin dan Luka.
'Kalau begitu, tunggu aku sembuh terlebih dahulu. Aku ingin mengasih tahui kalian dengan suaraku yang asli.'
"Baiklah, sampai jumpa, Ratu Pertama." Ucap Rin dan Luka bersamaan sambil membungkuk lalu pergi.
Ratu Pertama tiduran dikasurnya sambil memikirkan kegiatan-kegiatan yang biasanya sedang Ia kerjakan sekarang dengan senyuman. Tak lama kemudian, Ratu Pertama pun tertidur.
A/N: Wah selesai juga ya. Saking senangnya diriku, sampai-sampai aku menulis 1.500 kata. Padahal nggak banyak-banyak banget. Oh iya, aku sengaja untuk tidak membuatnya begitu menyedihkan. Karena aku tidak bisa membuat cerita sedih.
Information mini: Bidadari hanya bisa mati apabila dimusnahkan atau sakit.
Oke, guest of honour hari ini adalah Neru!
Neru: Wah, memang tidak begitu menyedihkan ya.
Aku: Kalau begitu, kenapa kamu terlihat seperti kamu benar-benar sedih?
Neru: Diam kau! Lagian, akukan hanya acting. Aku sudah membaca naskahnya dan sepertinya peranku lumayan kecil.
Aku: Tidak apa-apa kok, kamu perannya bukan yang paling kecil, ada yang perannya itu bagaikan debu lewat.
Neru: Siapa?
Aku: Oh lihat, waktunya sudah habis. Tetapi aku akan mengasihtau inisial orang itu, M.
Neru: *Membuka contac list* Miku? Meiko? Megurine? Mew? Momo? Mikuo?
Aku: Liat aja nanti, orangnya nggak bakalan muncul di chapter lain. Review okay?
