A/N: Hai, semuanya. Aku barusan sembuh jadi baru bisa up date. Sorry buat semuanya yang udah nunggu, aku sungguh minta maaf. Makasih ya, Andra Zangestu udah nge-review walaupun bukan di chapter 4 dan Rein Yuujiro.

Disclaimer: Vocaloid sama sekali bukan kepunyaanku.

3 minggu telah berlalu (A/N: Aku lupa bahan-bahannya waktu lagi sakit) Grup pencari obat telah mendapatkan semua bahan yang diperlukan. Banyak yang sudah dilewatkan oleh mereka. Ada beberapa yang dipulangkan ke istana.

Sekarang grup tersebut sedang beristirahat di dunia Ingatan. Setiap daun mengandung semua ingatan seseorang, baik yang masih diingat maupun yang sudah terlupakan. Jika seseorang memegang daun yang mengandung ingatannya, maka dia dapat memilih ingatan yang ingin dia lihat. Tetapi, peluang untuk mendapatkan daun yang mengandung ingatannya adalah satu banding seratus triliun. Sebab, ingatan-ingatan di hutan tersebuk bukan hanya ingatan-ingatan manusia. Melainkan ingatan-ingatan semua makhluk hidup selain tanaman.

"Enaknya istirahat di sini." Ucap Piko yang sedang duduk di bawah salah satu pohon bersama Mikuo, Len, dan Gakupo. Mereka adalah orang yang tersisa dari grup pencari obat, selain Meiko, Leon, Kaito, Aoki, dan Gumi yang sedang duduk di pohon yang lain.

"Iya, ini adalah planet yang paling tenang jika dibandingkan dengan planet-planet yang lain." Ucap Len sambil menggenggam kalung dari Ratu Ketiga, Rin. Sejak Kaito menjelaskan kalung tersebut kepada Len, dia selalu memakainya atau menggenggamnya karena dia tidak ingin menghilangkannya.

"Tetapi, planet ini tidak bisa mengalahkan bumi." Ucap Piko.

"Kenapa?" Tanya Gakupo sambil mencoba untuk menyisir rambutnya yang mulai kusut.

"Ada Miki di sana." Ucap Piko dengan girang.

"Kalau aku lebih suka bersama bidadari di istana. Aku ingin mendengar suara Ratu Kedua yang lembut itu." Ucap Gakupo sambil memikirkan Ratu Kedua.

"Ah, aku sih dimana saja juga boleh, asalkan ada ceweknya." Ucap Len dengan santai.

"Dasar, padahal, rumahmu itu isinya cewek semua." Ucap Gakupo. "Kakakmu, Lily, tantemu, Lola, dan ibumu, Bu Ann. Memang kamu tidak bosan? Isi rumahmu juga pirang semua."

"Itulah sebabnya aku lebih suka keluar. Ceweknya pirang semua, bosan aku. Kalau di luarkan variasi." Jelas Len.

"Aku sih lebih suka di rumah. Banyak senjataku yang perlu di bersihkan." Ucap Mikuo.

Sedangkan di pohon yang lain, Meiko sedang mencoba untuk menghubungi istana. "Urgh, susah banget sih." Ucap Meiko sambil mencari sinyal untuk radionya. Radio tersebut berwarna biru langit dan bentuknya kotak sekecil hp blackberry.

"Coba hubungi Momo, biasanya dia gampang di hubungi." Ucap Gumi.

"Iya, Momo memang mengurusi komunikasi para bidadari." Ucap Aoki.

"Baiklah, akan aku coba." Ucap Meiko. Dia memasukan pin Momo dan memencet tombol hijau. Lalu, sebuah hologram muncul dari layar. Hologram tersebut adalah hologram Momo yang sedang berdiri dengan riang.

"Hai, Meiko! Ada apa?" Tanya Momo dengan riang.

"Akhirnya, ada apa dengan sinyalnya? Dari tadi aku sudah mencoba untuk menghubungi yang lain tapi gagal." Ucap Meiko.

"Tapi, radio yang kamu pakai, kan belum didaftar. Aku tidak bisa membiarkan nomor asing menghubungi siapapun kecuali aku." Jelas Momo.

"Ya sudahlah, kami sudah mendapatkan semua bahannya, kami akan pulang dalam 2 hari." Jelas Meiko.

Momo terlihat lega "Untunglah, keadaan Ratu Pertama sudah memburuk. Tidak ada yang boleh ke kamar Ratu Pertama kecuali Ratu Kedua dan Ketiga, Neru dan Haku juga tidak boleh." Ucap Momo.

"Baiklah kami akan datang secepat mungkin." Ucap Meiko.

Mereka semua melanjutkan perjalanannya. Mereka mencari tempat yang membuat para bidadari dapat menggunakan sihir portal karena sihir portal hanya dapat dilakukan di bagian planet yang mempunyai jalur ke planet yang ditujui. Jika portal dibuat di sembarang tempat maka portal tersebut akan menuju ke planet lain yang berbeda dari planet tujuan.

Aoki berhenti dan membuat sebuah portal. Saat Piko, Leon, dan Gumi telah masuk ke portal, sebuah komodo raksasa datang. Komodo tersebut berlari ke arah yang lain dan mengayunkan ekor panjangnya, ayunan tersebut melempar Gakupo, Len, Mikuo dan Aoki ke portal. Karena Aoki, pembuat portal, telah masuk ke dalam portal, maka portal tersebut menghilang.

"Tidak!" Teriak Meiko.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Kaito.

"Pergi ke tempat yang lebih aman. Komodo ini bisa memusnahkan kita berdua dengan gampang." Jelas Meiko. Mereka berdua memperhatikan Komodo raksasa yang akan mengayunkan ekornya. "Ayo!" Teriak Meiko sambil menarik tangan Kaito dan berlari.

Mereka tetap dikejar oleh Komodo raksasa. Lalu, Meiko melihat sebuah gua di depan mereka walaupun sedikit jauh. Saat mereka sudah masuk ke dalam gua, Meiko memukul mulut gua supaya komodo tersebut tidak dapat masuk.

Meiko menghela nafas sambil menyenderkan badan ke dinding gua. Meiko melihat muka kagetnya Kaito. "Ada apa?" Tanya Meiko.

"K-kuat sekali!" Teriak Kaito.

"Iya, itu karena sihirku adalah sihir kekuatan. Tetapi, sihir yang tadi kulakukan belum sekuat sihir para Ratu." Ucap Meiko sambil duduk.

"Kenapa para Ratu memilih manusia laki-laki untuk mencari obatnya Ratu Pertama?" Tanya Kaito sambil berjalan ke samping Meiko lalu Kaito duduk di samping Meiko.

"Bukan, Ratu Pertama meminta Ratu yang lain untuk memanggil manusia laki-laki pilihan ke atas awan." Jelas Meiko.

"Kalau begitu, kenapa Ratu Pertama memilih manusia?" Tanya Kaito.

"Kamu banyak nanya, ya?" Tanya Meiko balik yang dibalas dengan senyuman konyol Kaito. "Aku tidak tahu alasan Ratu Pertama untuk memilih manusia. Padahal, bidadari-bidadari yang lain mempunyai sihir yang jauh lebih kuat dari pada manusia." Meiko berhenti sejenak. "Mungkin Ratu Pertama kangen dengan manusia."

"Kangen? Memang Ratu Pertama pernah bersama manusia?" Tanya Kaito.

"Pernah, sepuluh tahun yang lalu." Meiko terlihat kaget lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Sepuluh tahun yang lalu?" Tanya Kaito dengan curiga. Sebab, Kaito ingat bahwa dia kehilangan teman masa kecilnya sepuluh tahun yang lalu. "Apakah hanya Ratu Pertama yang pernah hidup bersama manusia?" Kaito berharap Meiko juga pernah hidup bersama manusia karena selama tiga minggu ini, Meiko telah mengingatkannya dengan teman masa kecilnya.

Meiko terlihat seperti dia telah menyerah. "Sebenarnya, para bidadari tidak boleh mengatakannya."

Kaito memegang pundak Meiko dengan erat lalu menggoyangkannya dengan pelan. "Meiko, tolong. Aku harus mengetahuinya. Aku harus mengetahui teman masa kecilku yang hilang itu." Ucap Kaito dengan panik.

'Teman masa kecilnya?' Pikir Meiko. 'Mungkin, aku bisa memakai kesempatan ini.' Meiko memasang muka sedih palsunya. "Kamu sudah bertamu lagi dengan teman masa kecilmu." Ucap Meiko.

Kaito kaget dengan ucapan Meiko. Tanpa memikirkan ulang ucapan Meiko, Kaito memeluk Meiko dengan erat. "Aku merindukanmu. Rasanya seperti aku akan mati saat engkau pergi." Ucap Kaito.

'Kaito memang ceroboh, teman masa kecilmu sudah pasti Ratu hanya mengatakan bahwa dia telah bertemu lagi dengan teman masa kecilnya. Bukan berarti aku adalah orangnya. Lagi pula saat bidadari masih di bumi,hanya Ratu Pertama yang bisa berbicara dengan manusia secara langsung.' Pikir Meiko dengan senyuman licik. 'Nyonya Gumi akan sangat senang saat mendengar kejadian ini.'

A/N: Haha, selesai juga. Waduh! Aku nggak bisa bangun buat PM besok kalau nggak tidur sekarang! Eh, nanti aja deh. Guest of honour hari ini adalah Momo Momone.

Momo: Wah, akhirnya aku muncul juga. Aku juga akan muncul di chapter lain kan?
Aku: Iya, kamu kan salah satu karakter favoritku.
Momo: Kebanyakan aku muncul untuk mengirim pesan. Eh, karakter yang perannya bagaikan debu lewat itu Miki kan?
Aku: Iya, aku tidak tahu karakter Miki, jadi aku bikin dia pacarnya Piko aja.
Momo: Lanjutin ceritanya!
Aku: Lah? Kok langsung ngomong itu tanpa alasan yang logis?
Momo: Ada alasan logisnya kok. Peranku di chapter selanjutnya lebih besar.
Aku: Baiklah, kalau begitu, Review ya semuanya!
Momo: Iya! Review!