A/N: Hai, semuanya. Makasih, Rein Yuujiro! Kamu reviewer-ku yang selalu nge-review semua chapter-ku. Maaf kalau chapter kemarin pendek, nggak sengaja.

Disclaimer: I do not own Vocaloid.

Gumi, Aoki, Leon, Mikuo, Piko, Len, dan Gakupo sampai di lapangan istana bidadari. Momo dan Neru menyambut mereka bertujuh dengan senang hati. Gakupo, Mikuo, Len, Leon, dan Piko diantar ke ruang istirahat. Di sana, mereka bertemu dengan para laki-laki yang pulang saat pencarian obat untuk Ratu Pertama.

"Terus, kita ngapain?" Tanya Len.

Gakupo berdiri, "Aku tidak tahu tentang kalian tetapi aku akan mencari Ratu Kedua." Ucap Gakupo lalu dia berjalan keuar.

Gakupo berjalan mencari Ratu Kedua. Lalu, saat dia berada di depan pintu berwarna coklat, dia mendengar suara. Dia mengintip ke dalam dan melihat Gumi, Teto, Defoko, dan Momo. Mereka sedang membicarakan tentang Meiko.

"Meiko bisa diurusi nanti. Sekarang kita fokus saja ke rencana kita." Ucap Defoko.

"Iya, betul. Meiko sudah menyelesaikan perannya. Dia dan Gumi sudah mengambil racun untuk Ratu Pertama." Ucap Teto dengan santai.

"Tapi, Meiko bisa saja sedang dalam masalah yang besar. Di Planet Ingatan kan ada kerajaan Komodo Raksasa yang dapat memusnahkan seorang bidadari dengan gampang dan Kak Gumi sudah bertemu dengan salah satunya. Bagaimana jika Kak Meiko-"

"Cukup!" Teriak Gumi, memotong kalimat Momo. "Meiko akan baik-baik saja. Sihirnya adalah sihir kekuatan dan dia bersama Kaito, manusia yang bisa bertahan hidup walaupun dia berada di tengah samudra, jadi bisakah kamu diam?" Ucap Gumi dengan kesal. Momo menundukkan kepalanya dengan sedih hati.

"Serius deh, dari semua bidadari yang ada di grup ini, kamu adalah bidadari yang paling menyusahkan." Ucap Defoko dengan dingin. Momo hanya diam di tempat, tidak mengatakan apapun.

"Sudah, lebih baik kita kembali membuat rencana untuk memasuki racun daripada mengurusi Momo." Ucap Teto yang sedang duduk sofa sambil memainkan rambutnya.

"Baiklah." Ucap Gumi. Gumi mengangkat sebuah peta untuk istana bidadari dan menaruhnya di atas meja. Teto dan Defoko berjalan menuju meja sedangkan Momo tetap diam di tempat. "Ratu Kedua dan Ratu Ketiga akan membuat obatnya di ruangan ini." Gumi menunjuk ke satu kotak di lantai dua.

"Kita hanya mengasih bahan untuk obatnya dan bukan bahan untuk racunnya jadi kita masih harus memasukan bahan untuk racun tersebut ke obatnya untuk mengubah obatnya menjadi racun." Ucap Teto.

"Iya, tetapi kalau berbicara jangan muter-muter dong." Ucap Gumi sambil menggunakan tangan kanannya untuk menutupi dahinya dan tangan kirinya untuk menahan tangan kanannya. Teto hanya memakai senyuman konyolnya. Gumi kembali berdiri dengan tegak, "Memasukan bahan racunnya gampang tetapi masalahnya, Ratu Kedua dan Ratu Ketiga tidak akan membiarkan siapapun masuk. Ada yang mempunyai ide?"

"Tidak semua bidadari dilarang masuk." Ucap Defoko sambil membaca sebuah dokumen.

"Iya, tadi aku menempelkan sebuah camera kecil di salah satu sudut ruangan yang sedang dipakai Ratu Kedua dan Ratu Ketiga beberapa hari yang lalu." Ucap Teto. "Momo, perlihatkan kejadian 45 menit yang lalu!" Perintah Teto.

Momo mengangkat kepalanya dan menunjukan sebuah layar tipis. Layar tersebut menunjukan Aoki Lapis berjalan ke dalam ruangan bersama Ratu Kedua. "Sepertinya Ratu Kedua sudah sangat mempercayai Aoki." Ucap Teto.

"Aoki sudah dipilih oleh Ratu Kedua sebagai penggantinya. Sihirnya sangat kuat meskipun dia baru satu bulan di sini." Ucap Defoko sambil memperlihatkan dokumen tentang Aoki Lapis ke Gumi. "Aoki adalah bidadari yang paling kuat sihirnya jika ketiga ratu tidak dihitung. Aoki akan mengambil dan mengasih ramuan obat ke Ratu Pertama."

"Tetapi pengalaman Aoki dalam bersosialisasi sangatlah sedikit. Dia akan memercayai siapapun apapun alasannya." Ucap Gumi dengan senyuman licik. " Aku akan mengurusinya sendiri. Dimana bahannya?" Defoko memberikan Gumi air dari danau naga air dan darah gurita mutiara.

Di luar Gakupo dengan cepat lari sebelum Gumi keluar dari ruangan tersebut. Gumi tanpa menyadari apapun, berjalan menuju lantai kedua dan bertemu dengan Aoki. "Aoki!" Panggil Gumi.

"Oh, Kak Gumi. Ada apa?" Tanya Aoki dengan muka tidak bersalahnya.

"Ini, a..aku disuruh R…ratu Ke..dua untuk memberimu ini. Katanya ini h…harus di..masukan ke obat." Ucap Gumi dengan muka polosnya.

"Oh, baiklah, terima kasih, Kak Gumi." Ucap Aoki, menerima bahan-bahannya lalu masuk ke dalam ruangan pembuatan obat.

"Terlalu gampang." Ucap Gumi saat Aoki sudah tidak dapat mendengarnya lagi lalu pergi.

Di dalam ruangan pembuatan obat, Aoki sedang memasukan bahan-bahan yang dikasih Gumi. Lalu, sahabat Aoki muncul dari salah satu sudut ruangan. "Berhenti." Ucap sahabat Aoki dengan suara yang dingin.

"Momo?"

"Bahan-bahan yang diberi Gumi adalah racun."

"Apa? Kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi? Apa yang harus kulakukan sekarang?"

"Kamukan bidadari yang mempunyai sihir terkuat selain ketiga ratu, netralisi racun itu." Ucap Momo dengan tenang sambil berjalan ke Aoki.

"Tapi, aku tidak tahu mantra untuk menetralisi obat. Jika mantra yang diucapkan salah maka itu dapat membuat bencana." Ucap Aoki dengan cemas.

"Baiklah, kalau begitu aku harus membantu. Mantra baru memang sangat susah dilakukan." Momo mengeluarkan sebuah kertas.

"Apa itu?"

"Mantra untuk menetralisi racun. Racun akan ternetralisi tetapi aku tidak yakin tentang obatnya. Bisa saja obatnya ikut ternetralisi dan tidak bisa menyembuhkan Ratu Pertama." Ucap Momo dengan sedikit cemas. "Mantra ini juga sangat susah dan membutuhkan tenaga yang cukup besar."

"Kenapa kita tidak meminta Ratu Kedua dan Ratu Ketiga untuk membacanya? Jika mantra seperti itu gagal maka bisa saja ramuannya menjadi gagal juga." Ucap Aoki.

"Tidak, jika salah satu ratu membacanya maka obatnya benar-benar akan ternetralisi. Mantra ini tidak perlu seratus persen berhasil karena kita masih membutuhkan obatnya. Kamu akan membaca mantra penetralisi racun dan aku akan mencoba untuk menahan obatnya." Jelas Momo.

"Tetapi, bukankah menahan kandunan yang sudah tercampur dengan kandungan lain sangatlah susah bagi bidadari biasa?" Tanya Aoki.

"Tidak, aku bukan hanya bidadari biasa. Aku adalah pengganti Ratu Pertama. Melakukan hal seperti ini seharusnya tidak susah untukku." Ucap Momo dengan bangga.

"Baiklah, mari kita coba." Ucap Aoki.

Setelah berlari cukup lama, Gakupo menabrak Ratu Kedua. Gakupo dengan cepat berdiri dan menawarkan Ratu Kedua tangannya. "Maafkan aku, Ratu Kedua."

Ratu Kedua menerima bantuan Gakupo untuk berdiri. "Iya, tidak apa-apa. Tetapi, mengapa kamu berlari tadi?" Tanya Ratu Kedua.

"Gumi akan menipu Aoki untuk memasukan racun ke obat Ratu Pertama." Jelas Gakupo dengan panik.

"Apa!" Teriak Ratu Kedua.

"Ada apa?" Tanya Ratu Ketiga yang barusan mendengar teriakan Ratu Kedua.

"Gumi akan meracuni Ratu Pertama."Ucap Ratu Kedua dengan panik.

"Kita harus menemui Aoki dengan cepat." Ucap Gakupo. Mereka bertiga langsung berlari menuju kamar Ratu Pertama.

"Ada apa dengan Aoki?" Tanya Ratu Ketiga sambil berlari.

"Dia adalah orang yang akan mengasih obatnya ke Ratu Pertama tetapi jika obat itu diracuni maka Ratu Pertama akan diracuni juga." Jelas Ratu Kedua.

Mereka melihat Aoki di depan pintu Ratu Pertama dengan secangkir ramuan obat di tangannya. "Aoki!" Panggil Ratu Kedua.

Aoki membungkuk, "Ratu Kedua, ada apa?" Tanya Aoki dengan tatapan sedih.

"Ramuan itu sudah teracuni." Jawab Ratu Kedua.

Aoki meneteskan setetes air mata. "Ada apa, Aoki?" Tanya Ratu Ketiga.

"Mo…Momo, telah dimus…nah…kan."Ucap Aoki sambil meneteskan air matanya dengan deras. Aoki duduk dengan lututnya dilipat dan menundukan kepalanya.

"Apa? Oleh siapa?" Tanya Ratu Kedua.

Aoki menggelengkan kepalanya, "A…aku tidak tahu." Ucap Aoki. Dia mengangkat kepalanya, "Ada tiga bidadari. Mereka samua memakai jubah panjang dan topeng. Tetapi sepertinya Momo mengetahui mereka." Jelas Aoki dengan air mata yang tidak berhenti mengalir dari matanya.

Gakupo masuk ke dalam kamar Ratu Pertama, "Lalu, dimana keberadaan Ratu Pertama?" Tanya Gakupo. Aoki menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dia tidak tahu.

"Ini adalah masalah yang sangat besar. Kita kehilangan Ratu Pertama dan penggantinya. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Ratu Kedua.

"Aku tidak tahu, Ratu Pertama adalah bidadari yang mengatur semua yang ada di sini. Jika tempat ini masih ada maka Ratu Pertama masih hidup. Tetapi, belum tentu hidupnya akan panjang." Ucap Ratu Ketiga, badannya merinding tanda ketakutan.

Gakupo menemukan sebuah bulu putih bersih di atas kasur Ratu Pertama. "Apa ini?" Tanya Gakupo sambil mengangkat bulu tersebut.

"Itu adalah tanda kematiannya Momo Momone. Salah satu bulu dari sayapnya akan tertinggal setelah seorang bidadari dimusnahkan." Jelas Ratu Kedua.

Gakupo berjalan ke arah Aoki yang sedang ditenangkan oleh Ratu Kedua. "Ini." Ucap Gakupo setelah mengasih Aoki bulu tanda kematian Momo. "Lebih baik kau memegangnya."

Air mata Aoki menjadi semakin deras. "Momo!" Tangis Aoki sambil memegang erat bulu tanda kematian Momo. "Jangan pergi!"

A/N: Oke, kita selesain chapter ini di sini. Kasihan Aoki, sahabatnya telah dimusnahkan. Padahal Momo adalah satu-satunya teman yang dia punya karena mereka berdua adalah bidadari yang akan menggantikan para Ratu. Oh iya, aku belum ngeluarin pengganti Ratu Ketiga ya? Penggantinya dari Vocaloid ketiga lho. Baiklah, guest of honour chapter ini adalah, Aoki!

Aoki: Halo semuanya.
Aku: Aoki, kamu kasihan sekali di chapter ini.
Aoki: Iya, sahabat dan temanku satu-satunya sudah dimusnahkan.
Aku: Kamu ada peran lagi lho di chapter selanjutnya.
Aoki: Iya, aku sudah baca naskahnya.
Aku: Kalau begitu, siap-siap untuk menangis lagi.
Aoki: Baiklah, Review ya semuanya!
Aku: Betul sekali!