A/N: Hai semuanya! Maaf aku belum up date, aku cuma bisa menulis cerita ini di laptop jadi harus rebutan deh. Aku sudah mengirim PM kepada semuanya yang nge-review aku kecuali buat yang nge-review aku tanpa akun.
Disclaimer: I do not own Vocaloid no matter how bad I want it.
Aoki, Ratu Ketiga, Ratu Kedua, dan Gakupo berada di ruangan lain. Aoki sudah merasa lebih tenang karena mantra yang dibacakan oleh Ratu Kedua. Gakupo, Ratu Kedua, dan Ratu Ketiga menunggu Aoki, yang sedang memegang erat bulu tanda kematian Momo, untuk menceritakan kejadian di kamar Ratu Pertama.
"Momo dan aku berhasil menetralisi racun tanpa menghilangkan obatnya." Ucap Aoki, menceritakan kembali kejadiannya.
*Flashback On* (A/N: Flashback ini adalah Aoki's POV karena dia yang menceritakannya)
"Kita berhasil!" Ucapku dengan riang.
"Haha, iya. Sekarang mari kita antarkan obat ini ke Ratu Pertama." Ajak Momo kepadaku.
"Mari!" Ucapku dengan riang.
Kami berjalan menuju kamar Ratu Pertama. Momo mengetuk pintunya sedangkan aku memegang obatnya. Kami langsung masuk karena Ratu Pertama tidak bisa menjawabnya. Betapa terkejutnya kami saat mereka lihat Ratu Pertama tidak ada di dalam kamarnya melainkan tiga bidadari yang berjajar rapih dengan jubah panjang dan topeng yang menutupi setengah mukanya.
"Siapa kalian dan apa yang kalian lakukan di sini?" Tanyaku dengan marah.
Bidadari yang tengah melangkah ke depan. "Kami adalah bidadari dan kami di sini untuk Ratu Pertama."
"Aku menanyakan nama kal-" Kalimatku dihentikan oleh Momo.
"Dimana Ratu Pertama?" Tanya Momo kepada ketiga bidadari dengan nada yang dingin.
"Jangan tanya ke kami, dia sudah hilang." Ucap bidadari yang berada di paling kanan.
"Momo, bisakah kami berbicara denganmu sebentar?" Tanya bidadari yang paling kiri.
Momo membalikan badannya sehingga berhadapan denganku. "Momo?" Tanyaku, bingung dengan keadaan.
Momo memelukku dan mengatakan, "Jika aku tidak keluar dalam lima menit," Momo tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Jika Momo tidak keluar dalam lima menit, itu artinya dia sudah dimusnahkan." Ucap bidadari yang paling kanan dengan santai.
Aku kaget, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Momo melepaskan pelukannya dengan ekspresi yang sedih. "Lebih baik kamu keluar sekarang." Ucap Momo dengan lembut.
Aku keluar dan menunggu Momo keluar sambil menghadap ke pintu kamar Ratu Pertama. 'Semoga Momo akan baik-baik saja' harapku. Aku mendengar beberapa suara tetapi aku tidak mengetahui pemilik suara tersebut.
Sudah empat menit dan empat puluh delapan detik aku menunggu, aku mulai merasa takut. Lalu aku mendengar teriakan Momo. "Momo!" Panggilku, khawatir akan keadaan sahabatku. "Momo!" Panggilku lagi. Tidak ada jawaban. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tidak lama kemudian, aku mendengar Ratu Kedua memanggilku.
*Flashback Off* (A/N: Kembali ke Normal POV)
"Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan dan keberadaan Ratu Pertama, maaf." Ucap Aoki sambil menundukan kepalanya.
Ratu Kedua meletakan tangannya ke pundak Aoki. "Tidak apa-apa, kamu masih hidup saja sudah cukup." Ucap Ratu Kedua dengan senyuman yang lembut.
Aoki adalah bidadari favorit Ratu Kedua. Sejak Aoki datang ke istana, Ratu Kedua sudah memberinya perhatian tambahan. Ratu Kedua selalu mengajarkan Aoki mantra-mantra di waktu luangnya. Saat pemilihan pengganti ketiga ratu, Ratu Kedua langsung memilih Aoki sebagai penggantinya. Ratu Kedua sudah menganggap Aoki sebagai adiknya walaupun Aoki tidak membalas perasaan Ratu Kedua.
"Iya, walaupun tidak ada Ratu Pertama dan penggantinya tetapi tetap saja keberadaanmu penting." Ucap Ratu Ketiga.
Tidak lama kemudian, SeeU datang dengan Yuzuki Yukari. "Ratu Ketiga, SeeU sudah menyiapkan teh. " Ucap SeeU, membawa sebuah nampan lebar dengan satu pot cantik dan enam cangkir yang tidak kalah cantiknya. "Yuzuki membantu SeeU membuatnya. Pasti rasanya jauhh lebih enak. Yuzuki kan pintar sekali membuat teh."
Mereka semua meminum tehnya tanpa suara. Aoki sedih, memikirkan sahabatnya yang sudah pergi. Ratu Kedua ikut sedih karena bidadari favoritnya sedih. Gakupo tidak tahu harus bagaimana karena dia merasa bahwa dia tidak dibutuhkan. Ratu Ketiga sedih karena Ratu Pertama menghilang. SeeU, pengganti Ratu Ketiga, hanya diam saja untuk menghormati yang lain. Yuzuki, karena tidak tahu apa-apa, hanya meminum tehnya tanpa suara.
Di dunia ingatan, Meiko dan Kaito sedang menunggu bantuan. Komodo raksasa dari sebelumnya sudah pergi. Mereka sudah bisa keluar masuk gua dengan gampang karena Meiko sudah membuka mulut gua. Kaito senang karena dia merasa bahwa dia sudah menemukan teman masa kecilnya.
Meiko bangun lebih dahulu seperti biasanya. Di luar, langit masih gelap dan suasana masih sepi. Meiko keluar dari gua dan pergi ke sungai yang lumayan jauh dari gua tersebut. "Wah, sungainya jauh lebih bagus saat pagi hari!" Ucap Meiko, setengah teriak. Meiko mencuci mukanya dengan senang. Lalu, dia merasa sedikit pusing, "Mungkin, aku sudah terlalu lama di sini." Ucap Meiko, mengira bahwa pusing tersebut tidak perlu dikhawatirkan.
Kaito bangun dengan muka yang sangat pucat. Dia keluar dari gua dan berjalan-jalan di sekitar hutan. Sepertinya, Kaito sedang mencari sesuatu karena dia melihat keadaan sekelilingnya dengan sangat hati-hati. Tanpa disadarinya, Meiko sudah berada di belakangnya, "Apa yang kau cari?" Tanya Meiko.
Kaito membalikan badannya dengan kaget, "Meiko, sejak kapan kamu ada disini?" Tanya Kaito balik.
Meiko hanya memberinya sebuah senyuman. "Ikuti aku." Perintah Meiko sambil berjalan di depan.
Kaito mengikuti perintah Meiko; setelah berjalan sebentar, mereka berdua sudah berada di depan gerbang yang sangat besar. Meiko membuka gerbang tersebut dengan gampang. Kaito mengikuti Meiko; betapa terkejutnya Kaito saat melihat komodo raksasa di sekelilingnya.
"Meiko, kenapa ada banyak sekali komodo raksasa?" Tanya Kaito, merasa takut dengan keadaannya sekarang.
Meiko tetap memberinya sebuah senyuman. Lalu, Meiko dengan perlahan berubah menjadi komodo raksasa. 'Tidak perlu takut, kami tidak akan memakanmu.' Ucap komodo raksasa tersebut.
Kaito menyadari sesuatu, "Telepati? Kalian berkomunikasi menggunakan telepati?" Tanya Kaito dengan curiga. "Aku kira hanya Ratu Pertama yang bisa menggunakan telepati."
'Kamu memang tidak memerhatikan kalimat yang diucapkan yang lain, ya? Ratu Pertama mengatakan bahwa diantara semua bidadari, hanya dia yang bisa menggunakan telepati. Bukan berarti tidak ada makhluk lain yang bisa melakukannya.' Telepati komodo raksasa tersebut. 'Oh, saya adalah ketua para komodo raksasa.'
"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Kaito, sudah tidak takut dengan komodo raksasanya.
'Kami hanya ingin memberi tahuimu bahwa Ratu Pertama telah ditangkap oleh-'
"Tiga bidadari." Ucap Kaito, memotong kalimat ketua komodo raksasa.
'Oh, kamu sudah tahu?' Tanya ketua komodo raksasa.
"Tadi malam, aku memimpikan seorang gadis yang ternyata adalah Ratu Pertama. Ratu Pertama diikat erat dengan cincin-cincin yang sepertinya tidak menyentuhnya sama sekali. Lalu, tiga bidadari datang dan membawanya ke suatu tempat yang sepertinya tidak disukai oleh Ratu Pertama karena mukanya langsung berubah menjadi sangat pucat." Jelas Kaito.
'Kalau begitu, apa yang kau lakukan disini? Seharusnya kamu sudah di istana, memikirkan sebuah rencana untuk menyelamatkan Ratu Pertama.'
"Aku tidak tahu cara untuk membuat portal. Lagipula, mengapa harus aku yang menyelamatkan Ratu Pertama?" Tanya Kaito, sedikit kesal.
'Kamu tidak ingat saat Ratu Pertama datang ke bumi?'
"Tidak, memangnya kenapa?"
'Aku tidak bisa mengsih tahuimu.'
"Kalau begitu, jangan membuatku penasaran dong!" Teriak Kaito, kesal atas kelakuan ketua komodo raksasa.
Ketua komodo raksasa berjalan ke hutan dengan Kaito di belakangnya. "Eh, bisa nggak kamu berubah ke wujud lain?" Tanya Kaito, terganggu jika dia berjalan di belakang sebuah komodo raksasa.
Ketua komodo raksasa dengan perlahan berubah menjadi Kaito tetapi berwarna merah. "Kenapa kamu berubah menjadi diriku?" Tanya Kaito.
"Sudah, jangan banyak bertanya." Ucap ketua komodo raksasa.
"Baiklah, Ketua Komodo Raksasa. Eh, aku panggil kamu Akaito saja ya?"
"Terserah," Ucap Akaito dengan kesal, "BaKaito." Tambah Akaito dengan pelan.
"Apa?"
"Tidak."
Mereka berjalan menuju tempat Kaito dan Meiko berpisah dengan lainnya. Akaito membuka sebuah portal. "Silahkan kembali ke istana." Ucap Akaito.
"Tapi, bagaimana dengan Meiko?" Tanya Kaito.
"Jika dia ikut, maka keadaan akan menjadi lebih parah."
"Tidak, sudah lama aku tidak bertemu dengan teman masa kecilku-"
"Dia adalah salah satu bidadari yang melawan Ratu Pertama." Ucap Akaito, sedikit meninggikan suaranya. "Kenapa kamu tidak bisa melihatnya." Akaito berhenti sejenak. "Baiklah, portal ini akan tertutup saat satu manusia dan satu bidadari sudah memasukinya. Jangan beri tahu bidadari itu bahwa yang membuat portal ini adalah aku." Ucap Akaito lalu Ia meninggalkan Kaito.
"Kaito!" Kaito mendengar Meiko memanggilnya. "Portal ini muncul dari mana?" Tanya Meiko.
"Aku menemukannya." Ucap Kaito dengan polos.
"Kalau begitu, apa yang kamu tunggu? Ayo kita masuk ke portalnya." Ucap Meiko sambil memasuki portalnya dengan Kaito di belakangnya.
Yuzuki sedang duduk di bangku yang berada di taman. Taman adalah tempat favoritnya karena Yuzuki sangat menyukai bunga-bunga yang ditanam oleh para bidadari. Saat Yuzuki berdiri, dia mendengar sesuatu jatuh di belakangnya. Yuzuki membalikan badannya dan melihat Meiko dan Kaito. "Kak Meiko? Kak Kaito?"
"Iya, ada apa?" Ucap Meiko setelah mendorong Kaito supaya dia bisa duduk.
"Tidak, aku hanya ingin menyakinkan diriku saja." Ucap Yuzuki sambil pergi berjalan-jalan di taman.
"Anak itu, dari pertama kali dia disini, dia selalu cuek kepada yang lain." Ucap Meiko dengan nada pasrah.
A/N: That's all, sorry if it is too short. Guest of Honour di chapter ini adalah, Yuzuki Yukari.
Yuzuki: Hai semuanya! Aku sangat senang karena aku sudah muncul di cerita ini.
Aku: Kalau dilihat-lihat, kamu memang seperti kelinci.
Yuzuki: Itu bukan topiknya.
Aku: Baiklah, apakah kamu sudah membaca naskahnya? Kamu akan menjadi salah satu karakter yang penting.
Yuzuki: Iya, tapi kenapa di chapter ini aku pendiam.
Aku: Aku belum pernah baca cerita yang ada kamunya, jadi nggak tahu gambarannya.
Yuzuki: Baiklah, kamu ingin kembali membaca manga Nodame Cantabile kan?
Aku: Iya, Review ya semuanya!
