A/N: Hai semuanya, aku lupa untuk mengatakan bahwa para komodo raksasa bisa berubah wujud. Okay, aku sudah mengirim balasan ke semuanya yang sudah me-review.

Disclaimer: I do not own Vocaloid.

Semua laki-laki sudah diberi kamar. Satu kamar berisi dua orang. Len berada di kamar yang sama dengan Momotaro Momone. Menurut Len, Momotaro adalah orang yang sangat aneh. Sebab, dia selalu memakai baju butler dan selalu menghabiskan waktunya di dapur. Momotaro juga mengalahkan masakannya para bidadari saat mencari obat untuk Ratu Pertama.

Pagi ini, Len bangun lebih siang dari biasanya. Dia sangat kaget saat dia melihat Momotaro berdiri di samping kasurnya dengan senyuman dan kue bertingkat yang diselimuti oleh krim yang berwarna pink di tangannya.

"Pagi, Len." Sapa Momotaro dengan senang.

"Uh, pagi. Ada apa, Momotaro? Kenapa kamu terlihat sangat senang?" Tanya Len.

"Tadi pagi, aku ke dapur dan menemukan banyak sekali strawberry. Jadi, aku membuat kue strawberry. Cobalah!" Jelas Momotaro.

"Baiklah-"

"Momotaro." Panggil Taya Soune sambil membanting pintunya. Taya sedang tersenyum tetapi matanya mengatakan bahwa dia sedang marah. "Kamu memakai semua strawberry-nya, ya kan?" Tanya Taya dengan aura hitam disekitarnya.

"Eh, Taya. Hari yang indahkan?" Tanya Momotaro, mengganti topik karena dia sangat takut jika Taya marah.

"Jangan kau ganti topiknya." Senyuman Taya mulai menghilang dan berubah menjadi cemberut. "Tadi itu ada satu keranjang penuh strawberry. Kau kemanakan strawberry-nya?"

"Eh, ini." Momotaro memperlihatkan kuenya. "Aku membuat kue tingkat dengan isi strawberry." Ucap Momo dengan ragu.

Taya mengeluarkan sebuah pisau daging dan berjalan mendekati Momotaro. "Wah, Taya, jangan mendekat! Tidak!" Teriak Momotaro saat Taya mengayunkan pisau daging tersebut sambil menutup matanya. Ternyata, Taya telah memotong kuenya menjadi setengah.

Taya mengeluarkan sebuah piring besar dan mengambil satu bagian kuenya. "Itu bagianmu." Ucap Taya sambil berjalan keluar.

Momotaro melihat bagiannya, "Tapi, yang bikin kuenya kan aku." Ucap Momotaro dengan sedih. Momotaro memutar badannya, "Ayo Len kita," Momotaro tidak melanjutkan kalimatnya karena Len sudah tidak berada di kasurnya. Momotaro memutar-mutar kepalanya, "Len?"

Sementara itu Len sedang berjalan di lorong dengan muka bosan. Dia keluar dari kamar saat Taya dan Momotaro sedang sibuk dengan urusan mereka. "Len!" Panggil Kaito.

"Ada apa?" Tanya Len dengan santai.

"Ada apa? Aku sudah kembali." Ucap Kaito dengan girang.

"Oh, baguslah kalau begitu." Ucap Len dengan santai.

"Kamu, kenapa berjalan di lorong dengan baju tidurmu?" Tanya Kaito.

Len melihat pakaian yang sedang Ia pakai, "Salahilah kedua cosplayer itu." Ucap Len sambil menunjuk ke belakangnya yang mengarah ke kamarnya. "Mengapa aku harus sekamar dengan orang aneh itu?" Tanya Len. "Seumur hidupku, belum pernah aku bertemu dengan orang yang lebih aneh darinya." Len stop sebentar untuk melihat Kaito dari ujung kaki sampai ujung kepala, "Aku ambil kembali perkataanku."

"Kenapa? Memang aku lebih aneh dari butler itu?" Tanya Kaito.

Len mengabaikan pertanyaan Kaito dan melanjutkan perjalannya. "Mengapa aku harus dikelilingi oleh orang aneh." Len berjalan menuju kamarnya Gakupo dan Piko. "Gakupo, aku pinjam kamar mandimu ya." Ucap Len sambil berjalan menuju kamar mandinya Gakupo tanpa menunggu jawaban.

"Ada apa dengan Len?" Tanya Gakupo kepada dirinya. Lalu, dia melihat Kaito di pintu yang masih terbuka. "Kaito! Kapan kamu datang ke sini?" Tanya Gakupo.

"Wow, kau lebih bersemangat bertemu denganku dari pada Len." Ucap Kaito sambil berjalan ke dalam. "Belum lama aku sampai, aku disuruh ke kamarnya Hibiki Lui. Dia itu yang seperti cewek itu kan?" Tanya Kaito.

"Ah, aku ingat dia. Dia anak umur dua belas tahun yang bisa melumpuhkan bagian tubuh monster-monsterkan?" Tanya Gakupo balik yang dibalas oleh anggukan kepalanya Kaito. "Kalau tidak salah, dia kamarnya berada di sebelah kamar Len."

"Oh, terima kasih, Gakupo." Ucap Kaito sambil berlari keluar.

"Tunggu-" Sebelum Gakupo bisa selesai, Kaito sudah pergi.

"Ada apa Gakupo?" Tanya Len, barusan keluar dari kamar mandi.

"Tadi pagi, Momotaro mengirim surat ke semua kamar. Katanya akan diadakan pesta kue dan dia yang akan membuat kuenya." Ucap Gakupo.

"Oh," Ucap Len dengan santai.

"Hei, Kau memakai bajuku!" Ucap Gakupo, sedikit meninggikan suaranya.

"Bukan, ini baju yang dikasih oleh para bidadari, bukan bajumu." Jelas Len.

"Terserahlah, kamu mau ikut nggak? Sudah waktunya untuk pesta kue." Ajak Gakupo, "Semoga ada kue rasa terong."

"Kau tidak bisa dipisah dengan terongmu ya?" Tanya Len, Gakupo tidak menjawab.

Ratu Kedua, Ratu Ketiga, Aoki, SeeU, dan Meiko sedang berbincang di suatu ruangan. "Kamu bekerja sama dengan Gumi, Teto, dan Defoko kan?" Tanya Ratu Kedua, mata Ratu Kedua memperlihatkan kebenciannya Ratu Kedua.

"Maaf, Ratu Kedua. Saya memang bekerja sama dengan Gumi, Teto, dan Defoko tetapi saya sudah berubah." Ucap Meiko, Meiko menundukan kepalanya, takut akan tatapan Ratu Kedua.

"Berubah apa? Kamu membantu Gumi mencari racun untuk Ratu Pertama kan? Kamu sudah bisa dimusnahkan. Kenapa kita tidak memusnahkannya saja sekarang?" Tanya Ratu Ketiga, marah akan kelakuan Meiko.

"Iya, seharusnya kamu dimusnahkan." Ucap Ratu Kedua.

SeeU mencoba untuk menenangkan Ratu Ketiga. "Ratu Ketiga, tolong jangan marah."

"Kenapa memangnya?"Tanya Ratu Ketiga.

"Karena itu bukanlah tingkah laku yang benar. SeeU tahu, Ratu Ketiga marah ke Meiko. Tapi, bukankah ini terlalu berlebihan?" Tanya SeeU.

Aoki melihat SeeU yang mencoba untuk menenangkan Ratunya. 'SeeU benar, aku harus melakukan hal yang sama walaupun itu menyakitkan.' Pikir Aoki. "SeeU benar, Meiko tidak boleh dimusnahkan."

"Tapi, bukankah Gumi dan yang lainnya sudah memusnahkan Momo?" Tanya Ratu Kedua dengan marah. Ratu Kedua melihat tatapan Aoki yang sedih lalu sadar akan perkataannya. "Maaf, Aoki." Ucap Ratu Kedua, menyesal akan perkataannya.

"Tidak apa-apa, Ratu Kedua. Lagipula, Meiko tidak memusnahkannya dan tidak ada bukti bahwa Gumi, Teto, dan Defoko adalah ketiga bidadari yang memusnahkan Momo." Jelas Aoki.

Ratu Kedua ingin memprotes tetapi menahannya karena dia tahu bahwa Aoki masih sakit hati. "Baiiklah, katamu kamu sudah berubah, jelaskan." Ucap Ratu Kedua kepada Meiko

A/N: Huuu…. Sampai sini dulu ok? Aku nulis di mobil dan itu membuatku sangat mual. Maaf semuanya, aku harus mengundur semuanya. Sampai Jumpa… .