A/N: Belum ada review satu pun. Tetapi, tidak apa-apa! Cerita ini aku bikin bukan hanya sekedar untuk di review, melainkan untuk dibaca oleh semuanya. Melihat hits nya naik saja saya sudah puas. Semoga kalian semua akan tetap membaca ceritaku.
Disclaimer: I do not own any character from this story.

"Bolehkah saya melanjutkan penjelasan saya?" Ring bertanya setelah Aoki dan SeeU telah pergi. Ratu Kedua dan Ratu Ketiga menganggukan kepala mereka untuk mengtakan 'iya'.

"Tadi saya sudah mengatakan bahwa jejak tersebut adalah milik Kaito Shion. Tetapi, secara bersamaan, jejak tersebut bukan milik Kaito Shion. Bagaikan Kaito Shion tersebut hanyalah sebuah kenangan. Hanya ada satu bidadari yang dapat membuat kenangan menjadi nyata dan bidadari tersebut adalah Ratu Pertama."

"Jadi, apakah Ratu Pertama sedang mencoba untuk mengasih kita sebuah pesan atau apakah Ratu Pertama hanya mengenang Kaito Shion?" Ratu Ketiga bertanya.

"Saya tidak dapat menjawab pertanyaan itu karena gerak-gerik kenangan tersebut sangatlah membingungkan. Sepertinya kenangan tersebut sedang mencari sesuatu. Tetapi, kenangan tersebut menghilang saat Ratu Kedua, Ratu Ketiga, Aoki, dan Gakupo masuk."

"Hanya itu yang dapat saya jelaskan karena sudah tidak ada bukti-bukti lain." Ucap Ring untuk menutup penjelasannya lalu duduk di salah satu sofanya.

Ratu Ketiga berdiri dengan surat dari Ratu Pertama, "Baiklah, sekarang adalah giliranku untuk berbicara." Ratu Ketiga memperlihatkan surat tersebut. "Lihat ini! Ini adalah surat dari Ratu Pertama!" Ucap Ratu Ketiga dengan semangat tetapi dia tidak mendapatkan respon yang Ia inginkan. Ratu Kedua tetap memakai muka tenangnya, Ring tidak berekspresi, dan Aoki tetap tidur. "Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian tidak kaget?"

Ratu Kedua menghela nafasnya, "Karena kamu seharusnya melanjutkan penjelasanmu. Jika isi surat tersebut adalah permintaan tolong, haruskah kita bersemangat untuk itu?"

Ring mengangguk, "Iya, kita tidak boleh terlalu bersemangat karena di masalah seperti ini, kita akan menemukan banyak berita yang dapat mengejutkan kita."

Semangat Ratu Ketiga langsung hilang, "Baiklah, baiklah, aku tidak akan terlalu bersemangat lagi." Ratu Ketiga menarik nafas untuk menenangkan dirinya. "Ini pasti dari Ratu Pertama. Karena, cara menulis huruf-huruf di surat ini sama seperti cara menulisnya Ratu Pertama. Lihat, semua tulisannya berantakan." Ratu Ketiga memperlihatkan surat tersebut.

Memang benar, tulisan di surat tersebut sangatlah berantakan. "Baiklah, ini adalah tulisan Ratu Pertama." Ucap Ratu Kedua setelah melihat beberapa ciri khas menulisnya Ratu Pertama di surat tersebut. "Tetapi," Ring dan Ratu Ketiga menunggu Ratu Kedua menyelesaikan kalimatnya. "Bagaimana kita dapat mengetahui isi surat ini jika tulisannya berantakan?" Ratu Ketiga hanya diam saja dengan muka kebingungan karena tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya memiringkan kepalanya seperti robot yang rusak. Saat menerima surat tersebut dari Yuzuki, Ratu Ketiga menjadi terlalu bersemangat dan hanya memastikan bahwa surat tersebut adalah dari Ratu Pertama. Sedangkan Ring hanya tertawa setelah melihat tingkah laku Ratu Ketiga. "Ring, kamu akan menulis kembali surat ini bersamaku. Ratu Ketiga, lihatlah keadaan SeeU dan Aoki."

Ratu Ketiga melihat Ratu Kedua dan Ring sedang mencoba untuk menulis surat tersebut kembali dengan serius. Ratu Ketiga keluar dari ruangan tersebut dan pergi menuju dapur. Ratu Ketiga melihat SeeU sedang duduk di sebelah pintu dapur sambil memegang sebuah monitor tipis yang besarnya sekamus bahasa. Ratu Ketiga berjalan mendekati SeeU. "Apa yang sedang kau lakukan, SeeU?"

SeeU sedikit kaget saat mendengar suara Ratu Ketiga di sebelahnya. "Oh, Ratu Ketiga. SeeU sedang melihat sebuah kejadian di dapur. Aoki telah memakai sihirnya untuk menjadi kecil. Aoki memakai sepasang contact lens yang dapat merekam semuanya yang Aoki lihat. Rekaman tersebut akan langsung dilihatkan ke layar yang sedang SeeU pegang."

Ratu Ketiga duduk di sebelah SeeU dan ikut menonton kejadian yang sedang terjadi di dapur. Mereka berdua melihat Len dan Neru sedang bertengkar. "Mengapa kamu selalu mengikutiku?" Teriak Neru.

"Kenapa kamu tidak tertarik denganku?" Tanya Len dengan nada yang kesal.

"Memang semua bidadari yang ada di sini harus tertarik denganmu?"

"Iya! Itu sudah menjadi hukum wajib."

"Bagaimana dengan Ketiga Ratu?"

"Uh, Ratu Ketiga adalah kakakku. Gakupo sangat menyukai Ratu Kedua jadi aku tidak ingin mengambil Ratu Kedua darinya. Ratu Pertama sepertinya adalah perempuan yang disukai Kaito."

"Alasan-alasan yang lemah."

"Hei! Itu semua adalah fakta."

"Baiklah, baiklah."

"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kamu tidak tertarik denganku?"

"Aku sudah menjawabnya,"

"Pertanyaanku hanya membutuhkan iya atau tidak."

"Kamu pintar juga."

"Iya, aku pintar dan tampan. Setiap perempuan atau bidadari, selain Ketiga Ratu Bidadari dan beberapa bidadari lain yang tingkatnya lebih tinggi, selalu menjerit atau blushing kalau aku menyapanya. Mereka semua akan menjadi sangat senang. Tetapi, kenapa saat aku menyapamu, kamu tetap sms-an saja? Memang kamu tidak senang dengan keberadaanku di sini?"

"Kata siapa aku tidak senang? Ups!" Neru menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sayapnya yang tadinya tertutup menjadi terbuka karena kaget. Hp nya dibiarkan terjatuh ke karpet yang lembut.

Len juga ikut kaget. Apa katanya? Tunggu, aku harus mengulang percakapan tadi. Dia bilang bahwa dia senang dengan keberadaanku, Len langsung tersenyum licik. Dia telah memikirkan sebuah rencana untuk menghancurkan dinding yang menutupi perasaan-perasaan Sang Tsundere. "Kau menyukaiku." Ucap Len dengan santai.

Muka Neru menjadi lebih merah tetapi dia sudah menggantikan ekspresi kaget dengan ekspresi marahnya. "Terus kenapa?" Tanya Neru dengan kesal.

"Mungkin aku juga mempunyai perasaan yang sama." Ucap Len dengan nada yang dapat semua wanita terhanyut kedalamnya "Mari, kita pergi bersama. Kita akan hidup dengan bahagia selama-lamanya." Neru menjadi sangat kesal. Neru mengambil hp nya dan memberi Len sebuah tatapan yang dingin sebelum meninggalkannya. Len hanya tetap berdiri di tempatnya. "Perempuan yang aneh." Ucap Len dengan polos. Len mendengar seseorang tertawa dari luar. Saat dia berjalan keluar, dia melihat SeeU sedang menatapnya dengan polos dan Ratu Ketiga sedang tertawa seperti dia belum pernah tertawa sebelumnya. "Kakak?"

Ratu Ketiga sadar akan keberadaan adiknya, dia berhenti tawaannya. Ratu Ketiga tersenyum dengan lembut kepada adiknya, "Halo, Len." Ucapnya sebelum melanjutkan tawaannya.

Len menatap ke SeeU. Sepertinya, SeeU juga sebingung Len jadi Len tidak memberinya sebuah pertanyaan. SeeU sadar akan sesuatu, "Dimana Aoki?"

"Aoki? Aku tidak melihatnya di dalam dapur." Ucap Len. Tidak lama setelah Len berbicara, Aoki keluar. Karena Aoki masih seratus lima puluh lima mili meter, Len mengira bahwa Aoki hanyalah sebuah serangga dan memukul Aoki ke dinding. "Aku paling benci dengan serangga." Ucap Len.

SeeU dan Ratu Ketiga menarik nafas dengan cepat karena kaget akan kelakuan Len yang sangat tidak sopan. "Len! Kamu sangat tidak sopan!" Ucap Ratu Ketiga dengan marah. Mukanya sangat merah karena setelah tertawa sangat lama dia langsung marah.

"Kenapa emangnya- Ouch!" Len kesakitan karena dia merasa ada yang menggigit tangannya. Len melepaskan tangannya.

Aoki kembali ke ukurannya yang semula, "Tuan Len, aku hanya berukuran seratus lima puluh lima mili meter. Terlalu besar untuk menjadi sebuah serangga." Ucap Aoki sambil membersihkan dirinya dari debu. "Apakah standar kepintaran di bumi memang rendah atau Tuan Len hanya menyombongkan diri di depan Kak Neru?"

"Untuk apa aku menyombongkan diri di depan Neru?" Tanya Len dengan malu.

Ratu Ketiga melingkari tangannya di bahu adiknya. "Akhirnya, adikku mempunyai seseorang yang dapat Ia benar-benar cintai." Ucap Ratu Ketiga.

"Tidak, aku tidak akan jatuh cinta kepada Neru. Dia orangnya pemarah. Lagian, tidak akan ada gunanya jika aku suka sama bidadari. Aku akan kembali ke bumi setelah ini semua selesai bersamamu, Kak." Ucap Len sambil menatap kepada kakaknya. Ratu Ketiga terlihat seperti ada sesuatu yang mengganggunya. Aoki dan SeeU menatap ke lantai dengan ekspresi sedih. "Ada apa? Ratu Ketiga ikut aku kembali ke bumi, kan? Rin Kagamine, kakakku, akan kembali ke bumi dan hidup bersamaku lagi, kan?" Tanya Len, sedikit panik.

Ratu Ketiga menghela nafasnya. "Len, aku sudah mati di bumi." Ucapnya sambil meletakkan tangannya di pundak Len. "Aku tidak bisa kembali ke bumi dan hidup bersamamu lagi, maaf."

Len tidak percaya dengan ucapan Ratu Ketiga. "Tidak, kamu tidak mati. Lily sudah bilang kepada Gakupo bahwa kamu telah menghilang, bukan mati." Mata Len menunjukan kesedihan.

Ratu Ketiga duduk di lantai sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. Dia menepuk lantai sebelahnya, "Duduk, akan kuceritakan semuanya." Ratu Ketiga menatap ke Aoki dan SeeU, "Kalian boleh pergi." Keduanya mengangguk lalu pergi, meninggalkan Kagamine kembar berduaan.

A/N: Sudah deh, chapter selanjutnya akan membongkar masa lalu Rin. Karena di chapter selanjutnya akan mengandung banyak Kagamine nya, maka mari kita persilahkan, Len Kagamine sebagai Guest of Honor!

Len: Halo
Aku: Len, kamu sepertinya karakter Vocaloid yang paling banyak wataknya. Kamu bisa jadi sopan, keren, sombong, paling dikucilkan, paling dilupakan, paling tidak dipedulikan,
Len: Hei, jangan berlebihan, semuanyakan tergantung authornya.
Aku: Baiklah, baiklah, kamu dicerita ini akan menjadi play boy sombong yang sangat peduli kepada kakak dan temannya.
Len: Aku mengerti, jadi aku akan banyak mengatakan hal yang saling berbalikan jika orangnya berbeda.
Aku: Bukan seperti itu, Len. Aku akan memanggil kakakmu jika di chapter selanjutnya kamu tidak berperan dengan benar. Oke, kita selesaikan saja percakapannya di sini, sampai jumpa semuanya.
Len: Kamu yang jadi author tapi kenapa aku yang disalahin?