A/N: Ah, aku sangat senang, 100 hits dalam 3 hari. Memang tidak begitu banyak sih. Tetapi, melihat orang-orang membaca ceritaku sudah membuatku sangat senang. Baiklah, mari kita mulai ceritanya.
Dicaimer: I do not own any character from this story.

Ratu Ketiga dan Len Kagamine duduk di lantai sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. Len menunggu kakaknya berbicara. "Sebelum aku dan Ratu Kedua datang, Ratu Pertama hanya dipanggil Ratu. Ratu adalah bidadari pertama yang diciptakan dan juga satu-satunya bidadari yang diciptakan sebelum bumi diciptakan. Saat itu, Ratu adalah bidadari yang paling sempurna. Ratu mengawasi semua manusia dengan sepenuh hatinya." Ratu Ketiga berhenti sebentar.

"Kak, aku tidak ingin mengetahui tentang Ratu Pertama. Aku hanya ingin mengetahui mengapa kakak tidak dapat kembali ke bumi bersamaku." Ucap Len.

"Sabarlah, informasi tentang Ratu Pertama juga penting supaya kamu tidak kebingungan nantinya." Ucap Ratu Ketiga dengan lembut. "Ratu Pertama tetap membantu para manusia walaupun mereka telah banyak melakukan kesalahan. Satu persatu, bidadari diciptakan untuk membantu Ratu. Setelah Perang Dunia Kedua selesai, Ratu jatuh sakit, tetapi itu bukanlah sesuatu yang sangat serius karena Ratu langsung sembuh setelah itu. Ratu sadar bahwa jika kaum manusia tetap berkembang biak dengan cepat tanpa henti, dia akan memerlukan bantuan. Ratu sebenarnya akan memilih salah satu bidadari. Tetapi, mereka semua sudah mempunyai bakat spesial mereka masing-masing. Akhirnya, Ratu memutuskan untuk memilih manusia karena, walaupun manusia banyak melakukan kesalahan, tidak ada yang dapat mengetahui isi hati manusia lebih baik dari pada manusia itu sendiri. Ratu menentukan dua perempuan yang akan menjadi Ratu sepertinya dan tiga perempuan yang akan menjadi penggantinya."

Sementara itu, Neru sedang berjalan menuju kamarnya dengan kesal. "Len bodoh, dia pasti hanya berbohong kepadaku." Neru masuk ke dalam kamarnya lalu dia berdiri di depan cermin yang besarnya melebihi dia sendiri. Dia melihat dirinya di depan cermin. "Lihat aku, rambutku tidak sebagus rambut bidadari-bidadari yang lain, aku gampang marah, dan suaraku juga bukan suara asliku." Neru terlihat seperti dia baru saja menyadari sesuatu. "Aku tidak mempunyai suara. Sayapku juga tidak pernah tumbuh, tidak seperti Haku yang sayapnya langsung tumbuh di hari pertamanya sebagai bidadari kesehatan. Seharusnya aku dimusnahkan saja." Mata Neru terlihat seperti sudah tidak mempunyai semangat. Neru menundukan kepalanya, "Ratu Pertama, dimana keberadaanmu sekarang?"

Neru melihat ke arah jam dinding yang berada di kamarnya. Sudah waktunya untuk membersihkan kamar para manusia. Neru berjalan menuju daerah kamar para lelaki. Dia melihat beberapa bidadari lain yang sudah mulai dengan pekerjaannya lalu pergi ke salah satu kamar untuk membersihkannya. "Permisi, saya adalah Neru, bidadari pembersih, saya datang untuk membersihkan kamar anda." Ucap Neru setelah mengetuk pintu kamarnya. Neru telah turun dari bidadari penjaga Ratu Pertama menjadi bidadari pembersih.

Neru melihat Taya dan Mikuo sedang duduk di kasurnya masing-masing. Kelihatannya seperti mereka sedang di tengah-tengah sebuah percakapan. Neru melihat bagian Taya yang bersih dan bagian Mikuo yang kotor dan penuh dengan senjata. "Bolehkah saya membersihkan kamar ini?" Tanya Neru sesopan mungkin. Dia tidak ingin menodai nama baik bidadari dengan ketidak sopanannya lagi.

Taya berdiri, memberikan Neru sebuah senyman, "Iya, terima kasih." Ucap Taya. Taya menatap ke Mikuo, "Mikuo, mari kita keluar supaya Neru tidak repot saat membersihkan kamar kita." Mikuo tidak bergerak. "Mikuo, ayolah."

"Tidak apa-apa jika Mikuo tidak ingin keluar. Aku tidak akan kesusahan dengan keberadaannya." Ucap Neru. Taya memberinya sebuah senyuman lalu pergi keluar. Neru mulai membersihkan kamar Taya dan Mikuo. Tanpa diketahuinya, Mikuo sedang memperhatikan setiap gerakannya sambil membersihkan senjatanya.

Kembali ke Ratu Ketiga dan Len, Ratu Ketiga melanjutkan penjelasannya. "Seharusnya, ibu kita hanya mengandung satu anak, anak itu adalah aku. Tetapi, beda dengan keputusan Ratu, ibu kita mengandungi dua anak yang kembar."

"Mengapa?"

"Ibu kita akan sedih jika satu-satunya anak kandung yang Ia punyai meninggal atau menghilang saat anaknya berumur empat tahun."

"Tetapi, banyak juga ibu yang seperti itu."

"Iya, tapi anaknya tidak terpaksa untuk pergi. Memang sudah seharusnya mereka meninggal, itu adalah takdir mereka. Tetapi aku dipilih, bukan takdir." Ratu Ketiga terlihat sedikit sedih tetapi dia tetap melanjutkan penjelasannya. "Di malam hari, setelah kita selesai merayakan ulang tahun kita, Ratu datang kepadaku saat aku sedang sendiri di kamar. Ratu sedang menyamar menjadi anak perempuan yang berumur enam tahun. Dia mengatakan bahwa sudah waktunya untuk pergi dari bumi. Aku menolak, aku bilang bahwa aku senang di bumi bersama keluargaku. Ratu berjalan mendekatiku, dia memperkenalkan dirinya. Dia mengatakan bahwa dia adalah ratunya para bidadari. Ratu juga menanyakan apakah aku ingin menjadi bidadari atau tidak. Aku merasa sangat takut tetapi aku juga tidak mengusirnya. Aku merasa aman dengan keberadaan Ratu, seperti aku sedang berada dipelukan ibu. Tetapi, walaupun aku merasa aman, aku tetap menolaknya. Saat Ratu sudah berada tepat di depanku, dia mengajakku pergi bersamanya. Aku ingin menolaknya tetapi Ratu telah memelukku dengan erat sambil mengatakan tolonglah berkali-kali sebelum mengatakan bahwa Ratu membutuhkan bantuanku. Akhirnya, aku setuju. Ratu menjadi sangat senang, dia memberiku sebuah senyuman yang sangat indah. Ratu menyuruhku untuk menemuinya di danau dekat ladang rumput yang sering kau kunjungi, Len. Ratu bilang bahwa aku akan menghilang dari dunia ini besok. Aku tahu bahwa yang dia maksud adalah kematianku. Walaupun aku hanya anak perempuan yang baru saja berumur empat tahun, aku sudah mengerti semua itu. Tetapi, aku tidak tahu bahwa itu akan sangat menyakiti hatiku." Ratu Ketiga menundukan kepalanya.

"Sudah, Kakak tidak perlu melanjutkannya jika itu terlalu menyakitkan." Ucap Len.

Ratu Ketiga menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku hampir selesai." Ratu Ketiga mengangkat kepalanya, "Besoknya, aku datang ke danau tersebut. Aku melihat Ratu sedang menungguku dengan sabar. Ratu menyadari keberadaanku, dia memelukku, dia bilang bahwa dia sangat senang karena aku telah datang. Anehnya, aku juga merasa sangat senang. Tetapi, kesenangan tersebut langsung hilang saat aku melihat muka Ratu yang telah menjadi serius. Dia menanyakan kepadaku apakah aku benar-benar yakin dengan keputusanku dan apakah aku siap untuk meninggalkan semuanya yang kusayangi. Tanpa berfikir panjang, aku menjawab iya dan disaat itu juga, nyawaku meninggalkan badannya. Aku melihat badan yang telah tak bernyawa itu terjatuh kedalam danau. Aku tidak menyesali apapun saat itu. Tetapi, aku langsung berubah pikiran setelah melihat ibu berlari ke arah badanku yang telah tak bernyawa itu. Rasanya seperti hatiku sedang dirobek saat melihat ibuku menangis karena kematianku. Aku meminta kepada Ratu untuk dikembalikan kembali tetapi Ratu mengatakan bahwa nyawa yang telah jauh meninggalkan badannya tidak dapat kembali." Mata Ratu Ketiga terlihat berkaca-kaca.

Len merasa sangat marah kepada Ratu Pertama, "Kalau begitu kenapa kita tidak biarkan saja Ratu Pertama mati? Tidak apa-apa jika dunia ini akan hancur, dunia ini juga sudah hancur sebelum dia sakit pula. Untuk apa Kakak tetap memedulikan keadaannya setelah apa yang dia telah lakukan kepada kakak?" Tanya Len dengan nada tinggi.

"Ada beberapa alasan yang membuatku tetap memedulikan keadaan Ratu Pertama tetapi yang paling utama adalah karena Ratu Pertama telah mengembalikan kalung ini kepadaku. Saat aku sudah berada di istana bidadari, aku tidak mau makan dan minum; aku bahkan tidak keluar dari kamarku. Setelah ibu melempar kalungku ini ke danau, Ratu Pertama turun ke bumi dan mencari kalung itu sendiri dan tanpa sihir. Tiga hari kemudian, dia kembali ke istana bidadari dengan kalungku dan langsung memberikannya kepadaku. Aku sangat kaget dengan perbuatan Ratu. Aku menangis dipelukannya dan mengeluarkan semua isi hatiku. Ratu menenangkan hatiku dan mengatakan bahwa aku bisa melihat keadaan keluargaku kapanpun. Ratu juga mengatakan bahwa aku bisa menganggap semuanya disini sebagai saudara. Aku mengangguk lalu aku mulai makan, minum, dan mengerjakan tugasku sebagai Ratu Ketiga." Jelas Ratu Ketiga.

"Oh, baiklah." Ucap Len. Dia merasa lebih tenang setelah mendengar perbuatan Ratu Pertama yang sangat menyentuh hati kakaknya. Mereka berdua diam sebentar. "Kalau Kakak adalah Ratu Ketiga, berarti Ratu Kedua sudah datang."

"Iya, tetapi aku baru mengenalnya dua minggu setelah aku sampai di istana bidadari."

"Bagaimana Ratu Pertama dapat mengajak Ratu Kedua ke sini?"

"Kalau tidak salah, saat itu Ratu Kedua berumur sepuluh tahun. Dia tidak menyukai perempuan yang lain karena mereka hanya menyukai harta Ratu Kedua. Aku tidak tahu pastinya tetapi Ratu Kedua menyesali keputusannya kesini karena ternyata salah satu temannya benar-benar suka berteman dengannya bukan hanya karena harta Ratu Kedua tetapi orang tersebut baru mengatakannya beberapa menit sebelum Ratu Pertama menjemputnya. Tetapi, aku juga belum pernah mendengar penjelasannya langsung dari Ratu Kedua." Jelas Ratu Ketiga sambil memegang dagunya.

"Jadi, Kakak dan Ratu Kedua seperti ditipu sama Ratu Pertama?" Tanya Len untuk memastikan pernyataannya.

"Tidak, Ratu Pertama tidak menipu siapapun melainkan dia telah memberi kita satu pelajaran yang memang penting untukku dan Ratu Kedua. Bahwa semua keputusan pasti ada akibat positif dan negatif. Aku menyesal karena telah meninggali ibu tetapi aku juga senang karena aku bisa membantu miliaran manusia. Walaupun aku adalah seorang bidadari, Ratu Ketiga, aku tidak dapat mengembalikan waktu ke saat aku pertama kali bertemu Ratu Pertama. Aku ingin meminta maaf kepada ibu."

Ratu Ketiga menghadap ke atas dengan mata yang telah tertutup. "Terkadang, aku bingung. Mengapa aku setuju dengan Ratu Pertama?" Tanyanya. "Saat itu, dia adalah orang asing. Apakah aku telah melupakan sesuatu?"

Len langsung menyadari sesuatu, "Kata kakak, walaupun kakak adalah Ratu Ketiga, kakak tidak bisa mengembalikan waktu. Kalau begitu, apakah ada yang dapat melakukannya?" Tanya Len.

"Iya. Tetapi, tidak segampang itu. Supaya tidak ada yang akan menciptakan kekacauan lewat waktu, ada suatu organisasi yang mengaturnya. Semua anggota organisasi tersebut tidaklah sembarangan. Mereka adalah Sepuluh Penguasa. Pastinya Ratu Pertama adalah salah satu dari organisasi tersebut." Jelas Ratu Ketiga.

"Kalau begitu, kita harus menemukan Ratu Pertama supaya kita dapat mengembalikan waktu." Mata Len menunjukan semangat yang tidak dapat dipadamkan dengan gampang.

Ratu Ketiga tersenyum, "Baiklah."

A/N: Sudah deh, sepertinya diriku telah memasukan terlalu banyak kata di dalam satu paragraf. Hm, ya sudahlah. Guest of Honour di chapter ini adalah… Mikuo!

Mikuo: yo!
Aku: Hm, Mikuo sang pembunuh!
Mikuo: Jangan kasih spoiler dong!
Aku: Tapi, kau sang pembunuh!
Mikuo: Lagian, itu juga masih agak lama, sabarlah.
Aku: Huuu, aku kesel banget sama kamu.
Mikuo: Siapa yang bikin naskah?
Aku: Nggak seru ngobrol sama Mikuo.
Mikuo: Terserah deh!