Summarry

Hanya kesalahan kecil. Berhati-hatilah dengan ucapan dan tindakan. Sedikit saja melakukan kesalahan maka kau akan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu.

The Lost

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

The Lost milik Bird Paradise

Pair: Uchiha Sasuke dan Hyuuga Hinata

Rated T

Genre: Romence, Drama, Tragedi, Angst, Hurt/Comfort.

Warning

AU, OOC, Typo(s), Gaje, Abal, Ide pasaran,dan warning-warning lainnya.

.

Don't Like Don't Read

Don't Like Don't Read

Don't Like Don't Read

.

.

.

Hinata yang baru tertidur beberapa jam, lalu tiba-tiba harus terusik kembali dengan suara debam pintu kamarnya yang dibuka paksa. Sontak gadis bersurai indigo itu terkejutt dan langsung terduduk. Manik pearl-nya membulat kala melihat pria asing bersurai merah berjalan mendekatinya.

"S-siapa kau…" tanya Hinata dengan suara parau. Kedua tangannya mencengkeram erat selimut tebalnya.

Tidak ada jawaban dari pemuda yang berjalan semakin mendekatinya. Hanya tatapan tajam manik jade-nya yang ia lontarkan pada Hinata yang ketakutan. Dan tanpa persetujuan dari sang pemilik tubuh sintal itu, Gaara langsung mengangkat Hinata dan meletakannya dalam bahunya.

Sontak gadis itu terkejut dan langsung meronta. Memukuli sekuat tenaga punggung lebar itu. Dan jeritannya menggema keseluruh bagian rumah mewah itu.

"Lepaskan aku!... Sasuke-kun! Tolong aku…!" Hinata terus menjerit dan meronta.

Ia tak peduli seandainya tubuhnya terjatuh di tangga dan terguling kebawah hingga tubuhnya babak belur. Namun cengkeraman pemuda yang membawanya sungguh kuat.

Sesampainya di bawah, Hinata bisa mendengar teriakan dari pemuda yang sedari tadi terus ia panggil namanya.

"Lepaskan Hinata! Kau tidak perlu membawanya dengan cara seperti itu!" teriak Sasuke yang tangannya dicengkeram erat oleh dua orang anak buah Gaara.

"Kau tak perlu mengaturku Uchiha… sekarang dia milikku." Ucapan tajam Gaara sontak membuat jantung Hinata serasa lepas dari tempatnya. Apa maksudnya? Apa yang dikatakan oleh pria ini? Pikir Hinata dalam hati.

"Ah! Lepas! S-sasuke-kun t-tolong aku hiks…" suara Hinata kembali mengalihkan tatapan tajam Sasuke yang tadi ia arahkan pada Gaara.

"Hinata.." gumam Sasuke pelan. Hatinya terasa sangat sakit melihat gadis yang dicintainya yang selama ini ada disisinya akan pergi meninggalkannya.

Tapi sekali lagi, harga diri Uchiha terlalu tinggi. Sasuke tidak akan terang-terangan mengekspresikan perasaannya apalagi membatalkan kesepakatan yang telah disetujui. Seringaian Gaara makin melebar saat menyaksikan Uchiha yang terkenal hebat itu tak bisa berkutik di depannya.

"Aku tidak punya urusan lagi denganmu Uchiha, jadi setelah ini kuharap kau jangan pernah muncul lagi dihadapanku ataupun Hinata." Setelah itu, Gaara langsung bergegas keluar dari ruangan itu.

"Ah! Tidak! Lepaskan aku! S-sasuke-kun!" pekik Hinata sebelum tubuhnya menghilang dibalik pintu ganda itu. Tidak sekalipun Sasuke sanggup memandang wajah Hinata. Sasuke tidak akan bisa bertahan dengan pendiriannya kalau saja ia sempat melihat wajah pilu gadis mungilnya yang berurai air mata.

"Maafkan aku Hinata," gumam Sasuke yang tentu saja tidak akan pernah di dengar oleh gadis yang bersangkutan.

.

.

.

"Dimana aku?" gumam Hinata kala mata indahnya menatap langit-langit kamar yang terasa begitu asing. Setelah mendudukan dirinya perlahan, Hinata mencoba mengingat apa yang telah menimpanya.

Seketika dadanya berdetak kencang saat ingatannya kembali mengulang kejadian yang begitu menakutkan baginya. Dimulai dari ia yang dibawa paksa oleh pria asing, Sasuke yang sama sekali tidak menolongnya, dan ucapan pria asing tersebut yang mengklaim bahwa ia adalah miliknya?

"T-tidak… ini tidak mungkin.." gumam Hinata pelan. Air matanya langsung menetes ketika kenyataan menyentak kesadaran –bahwa tidak ada lagi Sasuke disampingnya.

"Sasuke-kun… hiks… kenapa kau melakukan ini padaku…" isakannya sudah tak sanggup lagi ia tahan.

.

.

.

Sedangkan jauh diseberang sana, Sasuke tampak kacau. Sudah tidak ada gunanya lagi menyesali keputusannya. Kaleng bir berserakan dimana-mana, gelas pecah berhamburan dipenjuru ruangan itu.

Tidak ada satu pelayan pun yang berani mengganggu Uchiha Sasuke yang sedang kalap. Mereka membiarkan saja tuan mudanya mengamuk sesuka hatinya.

"Ada apa denganmu Teme? Sudah tiga hari kau tidak masuk sekolah, juga Hinata," tanya pemuda pirang yang masuk kamarnya tanpa permisi.

"Astaga..." gumam Naruto pelan saat ia melihat kaleng berserakan dibawah sofa. Dan Sasuke yang tertidur –atau pura-pura tertidur.

"Teme? Kau kenapa!" kali ini suara Naruto meninggi. Namun sang pemuda raven sama sekali tidak menanggapi semua pertanyaannya.

"Hei! Dimana Hinata!" kali ini Naruto sedikit kalap. Namun lagi-lagi Sasuke masih pura-pura tertidur. Merasa percuma berbicara dengan Sasuke, akhirnya Naruto berlari keluar. Tujuannya adalah kamar Hinata.

Dan setelah Naruto keluar, perlahan onyx Sasuke terbuka. Pandangannya terlihat begitu kosong dan mati. Beberapa saat kemudian, terdengar langkah seseorang yang kembali memasuki kamarnya.

"Kau brengsek! Bangun kau pecundang!" umpatan kasar Naruto keluar menghujani Sasuke.

Tangan tan itu dengan kasar menarik baju Sasuke dan tanpa ampun langsung memberikan pukulan bertubi-tubi pada wajah rupawan Sasuke. Tidak ada balasan sama sekali dari Sasuke. Seakan-akan ia membiarkan sahabatnya itu menghancurkan wajahnya.

"Brengsek! Beraninya kau menyakiti Hinata seperti itu ha! Tak tahukah kau bahwa selama ini aku menahan diriku sendiri untuk merebutnya darimu. Karena aku tahu Hinata sangat mencintaimu…." Air mata Naruto tumpah sudah.

Dadanya serasa tertusuk ribuan jarum saat ia mengetahui kebenaran dari salah satu pelayan yang menyaksikan peristiwa tiga hari yang lalu. Saat Hinata dibawa paksa oleh seorang pemuda berambut merah yang Naruto yakini itu Gaara -lawan Sasuke saat diarena balap yang berlangsung malam itu juga.

Dan satu kesimpulan memenuhi kepala Naruto. Bahwa Sasuke pasti menjadikan Hinata sebagai taruhan pada pertandingan waktu itu.

"Tapi kau malah tanpa perasaan membuangnya! Menjadikannya barang taruhan seperti sampah!" teriakan kalap Naruto dibarengi dengan pukulan keras dirahang Sasuke.

Setelah itu, tubuh tegap Naruto ambruk di lantai. Kepalanya bertumpu pada sofa. Sedangkan Sasuke sendiri terdiam merasakan perih dibibirnya dan rasa nyeri akibat pukulan Naruto. Namun semua itu tak sebanding dengan sakit dihatinya.

"Maafkan aku Naruto…" gumaman Sasuke malah membuat amarah Naruto kembali naik. Tapi sekuat tenaga Naruto menahan emosinya. Ia tak mau melukai Sasuke lebih dari ini.

"Bukan padaku… seharusnya itu kau ucapkan pada Hinata," suara Naruto terdengar berat dan serak.

Ada keputus asaan dari raut muka kedua pemuda itu. Keduanya sama-sama merasakan keputus asaan untuk mambawa kembali Hinata ketengah-tengah mereka. Sabaku Gaara bukanlah orang sembarangan. Dan Sasuke tidak ingin dicap lebih pengecut lagi kalau dia sampai mengingkari janjinya. Masihkah ia memikirkan harga dirinya disaat seperti ini?

.

.

.

Sudah tiga hari ini Hinata terkurung dalam sebuah aparteman entah di kota mana. Dan dalam jangka waktu tersebut, ia sama sekali belum bertemu dengan pria yang membawanya. Disini ia hanya hidup dengan seorang pelayan yang melayaninya setiap hari. Entah sampai kapan ia akan terkurung dalam aperteman mewah di lantai entah berapa ini.

.

Ceklek

.

Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan menampakan seorang pemuda yang baru saja melintas dipikirannya. Pemuda yang membawanya paksa dari rumah Sasuke. Hinata nampak diam tak bergeming di atas ranjangnya. Seakan jiwanya telah mati.

Sekarang ia sama sekali tak merasakan sedikitpun ketakutan. Satu-satunya yang paling ia takuti adalah berpisah dari Sasuke. Dan itu sudah terjadi.

"Kau sudah lebih baik?" pertanyaan bernada datar itu sama sekali tak berpengaruh bagi Hinata. Sedangkan Gaara nampak masih tenang dengan sikap Hinata.

"Kenapa kau membawaku? S-siapa kau s-sebenarnya?" mengabaikan pertanyaan pemuda itu.

"Benarkah kau ingin tahu?" tanya Gaara balik. Hinata hanya terdiam tak menanggapi pertanyaan pemuda itu.

"Aku…Sabaku Gaara." Tatapan Gaara begitu tajam saat melihat tak ada reaksi dari gadis yang duduk termangu diatas ranjang.

"Kekasihmu telah menjadikanmu sebagai taruhan di arena balap. Dan kebetulan aku pemenangnya" imbuh Gaara tenang.

Ia sudah berdiri di hadapan jendela yng memperlihatkan kemegahan kota Suna. Hinata tampak terkejut luar biasa dengan ucapan Gaara selanjutnya. Ia sedikit bergeming. Manik lavender-nya menatap punggung Gaara yang berdiri membelakanginya.

"A-apa maksudmu? Itu t-tidak mungkin…" ucap Hinata pelan.

Suaranya terdengar serak karena sudah beberapa hari ini ia hampir tak pernah mengeluarkan suaranya. Amethys indahnya mulai mengalirkan air mata.

Dadanya serasa remuk mendengar penuturan pria yang sama sekali tidak ia kenal. Gaara berbalik, menatap tajam amethys Hinata yang tampak begitu redup.

"Dan ada satu lagi yang harus kau ketahui. Dari awal kau memang sudah menjadi milikku," ujar Gaara. Seringaian nampak dari bibirnya. Dan kali ini keterkejutan Hinata sudah diambang batas. 'Apa ini? Leluconkah?' pikir Hinata tak percaya.

"Sebelum Ayahmu meninggal, ia pernah membuat kesepakatan dengan Ayahku. Bahwa mereka harus menikahkan anak bungsu mereka setelah mereka dewasa." Jade itu tetap nampak begitu tajam.

Namun Hinata tidak merasakan takut sedikitpun. Akan tetapi raut muka Hinata menampakkan kekagetan luar biasa atas penuturan pemuda itu.

"Kalau kau butuh penjelasan lebih, besok aku akan membawamu bertemu ibuku. Sekarang istirahatlah," ujar Gaara pelan.

Hinata tak menyangka bahwa pemuda yang membawanya dengan cara yang sama sekali tidak baik itu ternyata tidak sejahat yang ia kira. Walaupun tetap dengan ekspresi dingin.

Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Hinata untuk mengkonfirmasi kebenaran cerita tersebut. Ia masih begitu terpukul atas kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu. Pikirannya masih dipenuhi oleh Sasuke.

.

.

.

Hinata hanya terdiam pasrah saat pagi berikutnya ada beberapa orang bertubuh besar membawanya paksa dari apartemen pria berambut merah itu. Ia sudah tak mempedulikan mau diapakan tubuhnya. Jiwanya telah mati dan ia merasa sudah tak ada gunanya lagi hidup. Sasuke telah membuangnya, menjadikannya taruhan.

Mobil yang membawa gadis bersurai indigo panjang itu berhenti disebuah rumah megah yang agak jauh dari keramaian kota. Hinata hanya diam saja ketika para pengawal itu membawanya memasuki rumah besar itu.

Wajah cantiknya sama sekali tak menampakkan rona merah seperti biasanya. Mata bulannya juga begitu redup dan terlihat begitu sembab.

"Selamat datang Hyuuga Hinata…" sapaan pelan bernada lembut terdengar oleh gendang telingnya saat ia hanya berdiri diam di sebuah ruangan yang luas. Hinata menggulirkan bola matanya untuk melihat siapa gerangan pemilik suara tersebut.

Manik lavendernya menangkap sesosok wanita paruh baya bersurai pirang yang tergelung rapi. Wanita itu nampak terlihat masih begitu muda, anggun dan cantik. Warna matanya hampir sama seperti warna mata pemuda itu. Jade. Hinata sampai lupa menanggapi sambutan tersebut.

"Duduklah…" suara lembut itu kembali mengalun. Sedikit menenangkan hati Hinata yang memang tidak pernah mendengar suara lembut seorang ibu.

"I-iya…" hanya kata itu yang sanggup keluar dari bibir Hinata yang pucat. Wanita itu hanya menyunggingkan senyuman lembut kala melihat kebingungan terpatri dari wajah cantik gadis dihadapannya.

"Perkenalkan… aku Sabaku Karura, ibu Gaara." Wanita itu kembali membuka perbincangan. Hinata tidak menyangka wanita semuda ini adalah ibu dari pemuda itu. Apakah seandainya ibunya masih hidup dia juga akan secantik dan semuda wanita itu? Pikir Hinata yang lagi-lagi melamun.

"S-salam kenal… aku Hyuuga Hinata," jawab Hinata pelan. Ia sedikit membungkukan tubuhnya sebagai tanda hormat.

"Gaara sudah banyak bercerita tentangmu." Hinata mengernyit bingung mendengar penuturan wanita itu.

"Mungkin kau bingung, tapi Gaara sudah lama memperhatikanmu. Dulu ia tidak begitu tertarik waktu pertama kali ia mengetahui bahwa Ayahnya sudah menjodohkannya dengan putri dari teman bisnisnya. Sampai ketika dia masuk high school dan mengetahui siapa gadis itu, dia berubah pikiran."

Ada jeda sejenak dan wanita itu menyesap teh yang sudah tersedia di depan meja. Sedangkan Hinata masih diam. Mencerna semua perkataan ibu muda tersebut.

"Hanya sekali lihat, ia sudah jatuh cinta padamu," imbuhnya setelah meletakan kembali cangkirnya. Hinata nampak terkejut. Kapan Gaara melihatnya? Ia saja baru melihat pertama kali wajah pemuda itu, pikir Hinata bingung.

"Ia melihatmu di sebuah majalah bisnis," sepertinya wanita itu mengetahui kebingungan Hinata. "dan sejak itu, Gaara terus mencari informasi tentangmu. Sampai pada suatu ketika anakku tahu bahwa kau sudah mempunyai kekasih yang hidup denganmu sejak kalian sama-sama kehilangan orang tua" imbuhnya.

Mulut Hinata seakan tercekat mengetahui kenyataan yang tidak pernah sedikitpun terlintas di benaknya.

"Anakku sedikit keras kepala… apabila dia menginginkan sesuatu maka tidak ada seorangpun yang dapat mencegahnya. Dia akan melakukan cara apapun. Mungkin sifatnya itu sedikit buruk, tapi percayalah… dia akan menjaga sepenuh hati sesuatu yang sangat disukainya. Termasuk denganmu," lanjut nyonya Sabaku lagi. tidak tahu harus bersikap seperti apa, mungkin Hinata terlalu syok mendengar semuanya.

"Sebagai seorang ibu, aku tidak tega melihatnya setiap hari hanya menatap fotomu atau menguntitmu dari jauh. Maafkan Gaara yang sudah memisahkan kalian." Nyonya Sabaku terlihat menatap Hinata sendu.

Ia tahu kelakuan Gaara mungkin sangat menyakiti gadis itu. Memisahkan sang gadis dari kekasihnya. Tapi mau bagaimana lagi, ia juga lebih sakit melihat putra satu-satunya menderita. Sebagai seorang ibu yang harus ia lakukan sekarang adalah membuat gadis itu –paling tidak- mau menerima Gaara dan memafkannya. Baginya itu sudah cukup.

"Saya mengerti Nyonya… Gaara-san t-tidak salah apa-apa," jawab Hinata pelan.

Baginya Sasuke lah yang memang sudah tak mencintainya lagi makanya ia membuangnya dan menjadikannya taruhan. Dan kebetulan, Gaara lah yang memenangkannya. Bagaimana kalau seandainya pria lain yang begitu jahat dan seorang berandalan yang menang?

Hinata bergidik ngeri karena pikiran polosnya. Lupakah ia kalau salah satu sifat Sasuke adalah mudah sekali terpancing emosinya? Kalau sudah seperti itu, biasanya ia akan memutuskan sesuatu tanpa pikir panjang.

.

.

.

Enam tahun kemudian…

.

"Dokter Hinata, ada pasien baru yang kecelakaan, anda dipanggil dokter Shizune untuk segera membantunya," ucap seorang perawat yang menghampiri Hinata di ruang rawat khusus anak.

"Baiklah… aku akan segera kesana," jawab Hinata. Ia memalingkan pandangannya kepada seorang anak laki-laki yang tergolek lemah di ranjang pasien.

"Keito… dokter akan pergi sebentar… cepatlah sembuh," ucap Hinata sebelum pergi. Senyuman manis tersungging dari bibirnya yang penuh.

"Terimakasih doter cantik… nanti kesini lagi ya?" pinta anak kecil itu polos.

Hinata hanya mengangguk. Inilah kegiatannya sehari-hari. Menjadi dokter umum di rumah sakit Sunagakure. Ia sering mendatangi kamar rawat khusus anak-anak. Karena kecintaannya pada anak kecil, Hinata sering menghabiskan waktu untuk merawat mereka dan menghiburnya.

Hinata berjalan disepanjang koridor dengan langkah anggun yang begitu memukau. Dia adalah salah satu dokter baru. Namun karena sifat ramahnya, ia sudah sangat dikenal oleh para tenaga medis lain.

Sebenarnya ada alasan lain mengapa gadis itu sedemikian terkenalnya yaitu karena dia adalah tunangan Sabaku Gaara. Anak gubernur Sunagakure yang juga pemilik rumah sakit ini. Tak heran, beberapa hari masuk bekerja, Hinata sudah menjadi pembicaraan di rumah sakit ini.

Gadis itu menjelma menjadi wanita dewasa yang cantik. Tidak ada lagi Hinata yang menangisi Uchiha Sasuke, tidak ada lagi Hinata yang meratapi hidupnya, dan tidak ada lagi Hinata yang pemalu. Sekarang Hinata bagaikan bermetamarfosis meninggalkan 'dia' yang dulu.

Tergantikan dengan dia yang terlihat begitu anggun, dewasa dan murah senyum. Setelah memasuki ruangan gawat darurat, Hinata langsung bergegas membantu rekan kerjanya untuk menolong pasien yang penuh luka itu.

Hinata selalu menyukai pekerjaanya walaupun setiap hari ia harus brpapasan dengan darah, pasien yang meregang nyawa atau apapun yang membuat orang lain merasa takut, ngeri dan jijik. Hinata merasa bahagia kalau tenaga dan usahanya bisa menolong dan sedikit meringankan beban orang lain.

Setelah beberapa jam menjahit luka pasien tersebut, akhirnya Hinata bisa keluar dari ruangan itu dengan nafas lega. Sebelum ia kembali keruangannya, tiba-tiba ponselnya bergetar.

"Moshi-moshi Gaara-kun…" sapa Hinata lembut.

"Hn, kutunggu di lobi bawah. Kita makan siang bersama," balas sang lawan bicara.

"Tapi aku ba-"

"Cepat aku tidak suka dibantah Hime…" potong suara di seberang sana.

"Baik tunggu sebentar." Akhirnya Hinata mengalah. Percuma berdebat dengan tunangannya. Gaara begitu keras kepala.

.

.

.

"Kita akan kemana Gaara-kun?" tanya Hinata pelan. Gaara masih nampak fokus dengan kemudinya.

"Pulang, kita makan siang dirumah," jawab Gaara datar. Kali ini Hinata tidak mengeluarkan protes sama sekali. Gaara kelihatan sedang kurang baik dan ia takut.

Gaara menggenggam erat tangan Hinata ketika mereka memasuki rumah besar Sabaku. Gaara memang selalu seperti ini. Bersikap terlalu posesif padanya. Setelah selama enam tahun jauh dari Konoha, tidak sekalipun Hinata diizinkan untuk kembali menginjakkan kakinya ditanah kelahirannya hanya untuk sekedar berlibur atau mengujungi teman-temannya.

Bagi Gaara, apapun yang bisa mendekatkan kembali Hinata dan Sasuke, sebisa mungkin pemuda itu mencegah. Gaara benar-benar ingin menghilangkan semua jejak pemuda Uchiha itu dalam hati dan memori gadis yang sangat dicintainya.

"Apa Ibu ada dirumah?" tanya Hinata saat mereka sudah memasuki rumah dan menuju lantai atas.

"Tidak, ibu sedang pergi dengan Nee-san. Kita akan makan siang berdua di balkon," ucap Gaara dengan suara beratnya.

Sesibuk apapun pekerjaan Gaara, ia selalu menyempatkan waktu sekedar untuk makan siang atau mengunjungi Hinata di rumah sakit. Hinata mungkin memang tidak bisa mencintai Gaara sebagaimana ia mencintai Sasuke dulu.

Tapi semua perhatian dan kasih sayang yang diberikan pemuda itu padanya, membuat Hinata tidak bisa membenci Gaara. Walaupun pemuda itu pernah melakukan hal buruk padanya. Namun sekarang Hinata mengerti bahwa yang Gaara lakukan padanya semata-mata karena pemuda itu ingin dirinya bersih dari masa lalunya. Walaupaun harus menyakiti hati dan jiwanya.

"Kau kenapa? Tidak suka?" tanya Gaara setelah melihat wajah Hinata yang sedikit murung.

"Tidak Gaara-kun… aku suka," balas Hinata. Ia berusaha tersenyum setulus mungkin di hadapan pria itu. Sebelum Hinata duduk, tiba-tiba pemuda itu memeluknya dari belakang.

"Eh? Kau kenapa?" tanya Hinata bingung.

"Sebentar saja… aku ingin seperti ini," jawab Gaara tenang. Sedangkan Hinata membiarkan kekasihnya memeluknya.

"Hinata… bagaimana kalau kita menikah saja hm?" suara Gaara kembali terdengar di balik lehernya.

Jantung Hinata seketika berdetak liar. Memang dari dulu Hinata lah yang selalu menolak menikah. Berbagai macam alasan Hinata lontarkan seperti ingin menyelesaikan studinya, ingin bekerja dahulu dan lain sebagainya.

Bukan karena apa-apa, tapi entah kenapa Hinata belum bisa memikirkan harus hidup selamanya dengan pria itu. Hatinya belum siap.

"Kau sudah bekerja, tunggu apalagi hm? Apa kau menunggu aku menghamilimu terlebih dahulu?" ucapan Gaara selanjutnya membuat Hinata tak bisa berbicara.

"Baiklah…" walaupun sedikit ragu, namun akhirnya Hinata menyetujuinya.

Apa lagi memang yang ia tunggu? Bukankah hanya pria ini yang benar-benar mencintainya? Gaara tidak akan pernah membuangnya. Ya. Gaara adalah pria yang dianugrahkan Tuhan untuknya. Bukan pria lain ataupun pria yang pernah membuangnya. Menjadikannya taruhan dan mencampakannya begitu saja.

Perlahan Gaara membalikkan tubuh Hinata. Mengelus pipinya pelan dan menatap lekat amethyst Hinata yang baginya sangat memukau. Hinata akui bahwa Gaara juga memiliki paras yang tampan. Mata hijaunya mampu membuat gadis manapun tergila-gila padanya. rambut merahnya begitu kontras dengan kulitnya yang putih. Hinata beruntung, pria seperti ini begitu mencintainya.

"Kalau begitu kita menikah bulan depan."

Akhirnya kedua bibir itu bertemu, saling menghisap satu sama lain. Mencicipi rasa yang begitu memabukkan. Bagi Gaara, bibir Hinata adalah candu. seberapa seringpun ia mengecupnya, ia tak pernah merasa bosan.

"Gaara-kun…" desah Hinata ketika melihat pemuda ini mulai tak terkontrol. "Ah…hentikan…" rintih Hinata lagi. Hinata selalu sekuat tenaga menjaga dirinya.

Tak ia pungkiri bahwa ia juga pernah melakukannya dengan Gaara. Tapi sebisa mungkin ia mencegah perbuatan kekasihnya yang mulai hilang kontrol. Perlahan kepala Gaara mendongak menatap mata Hinata yang berkaca-kaca.

"Maaf… " hanya itu sebelum pemuda itu mendekap erat wanita yang sangat dicintainya. Gaara memang selalu ingin menyentuh Hinata tapi ia juga tidak ingin menyakitinya.

.

.

.

Hanya terdengar suara detak jarum jam yang memenuhi sebuah ruangan besar. Sesekali terdengar hembusan nafas berat dari salah satu penghuninya. Pandangan mata tajamnya terus beregerak-gerak mengimbangi jarinya yang terus menari diatas keyboard.

"Sasuke-sama, ini sudah hampir jam sebelas malam. Tidakkah anda ingin pulang?" terdengar sebuah suara yang mencoba mengingatkan pria yang terlihat masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya.

"Hn, kau pulang duluan saja Juugo," jawabnya dengan suara rendah dan berat. Sedangkan sang sekretaris yang sedari tadi menunggui atasannya terlihat tidak ingin beranjak dari ruangan itu.

"Cepat pulang…" penekanan disetiap kalimat itu, membuat sang sekretaris sedikit gentar.

Juugo tahu bahwa atasannya ini tidak suka dibantah. Akhirnya dengan berat hati, pria berkacamata dan berambut orange itu membungkukkan badannya sebelum keluar ruangan meninggalkan sang director yang gila kerja.

Setelah menjabat sebagai director utama di perusahaan yang ditinggalkan Ayahnya, Uchiha Sasuke memang menjelma menjadi pria muda yang gila kerja. Karena hobi barunya itu, dalam waktu beberapa tahun, perusahaannya menjadi salah satu perusahan terbesar di Jepang.

Ia menjadi salah satu pria muda terkaya dan tersukses di Jepang. Wajahnya seringkali menghiasi majalah bisnis di dalam dan di luar negeri. Parasnya yang tampan menjadi incaran banyak wanita muda dari semua kalangan. Dari artis, anak pejabat, sampai wanita yang seprofesi dengannya.

Namun tidak satupun dari mereka yang sanggup mencairkan kebekuan hati sang pengusaha muda tersebut. Sasuke tidak sekalipun terlihat mengencani wanita manapun. Hingga membuatnya dihadiahi gossip miring –bahwa pemuda tampan itu tidak menyukai lawan jenis- tapi Sasuke tidak pernah mempedulikannya.

Baginya, hanya dirinyalah saja yang tahu tentang kehidupan pribadinya. Baginya, hidup yang terasa sangat membosankan ini hanya perlu diisi dengan bekerja. Mungkin ini adalah jalan satu-satunya untuk sekedar mengenyahkan sesosok bayangan gadis cantik yang selama enam tahun ini tak pernah bisa dilupakannya barang sedetikpun.

Seorang gadis yang pernah dengan sadisnya ia sakiti. Seorang gadis yang membuatnya menyesali kebodohan yang pernah ia lakukan selama hidupnya. Seorang gadis yang tak pernah sanggup Sasuke ganti dengan gadis manapun.

Sekarang Kami-sama sudah menghukumnya. Menghukumnya dengan perasaan hampa yang akan dilaluinya seumur hidup. Karena ia tahu bahwa gadisnya sudah berbahagia dengan pria lain dan tak mungkin bisa kembali padanya.

Menghukumnya dengan terus menghantuinya sosok gadis lembut itu dalam tidurnya sekalipun. Siapa yang tahu, bahwa sosok yang terlihat sempurna dimata orang-orang ternyata begitu rapuh dari dalam.

.

.

.

"Ohayou… Keito… apakah pagi ini kau merasa lebih baik?" sapa Hinata pada seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang mengidap Leukimia.

Dari semua pasien anak-anak entah kenapa Hinata sangat menyayangi anak yang satu ini. Wajahnya yang bulat dan pipinya yang chubby, rambut hitam dan kulitnya yang putih. Dan yang paling Hinata sukai adalah mata obsidian-nya yang terlihat indah.

"Dokter cantik… Ohayou mo…" balas Keito dengan senyum sumringahnya. Begitulah panggilan anak kecil itu pada Hinata. Dan Hinata tampak tak keberatan dengan panggilan tersebut.

"Nah sekarang dokter periksa dulu ya?" bujuk Hinata lembut.

Hinata selalu merasa sedih kenapa anak sekecil itu harus menanggung beban berat dalam hidupnya. Ibunya meninggal saat melahirkannya dan ia harus tumbuh dengan sebuah penyakit yang menggerogoti tubuh mungilnya.

'seandainya dia hidup… mungkin sudah sebesar anak ini' pikir Hinata sendu. Ya, setiap kali melihat anak seusia Keito, pikiran Hinata akan kembali kemasa lalu kelam hidupnya. Dimana ia harus kehilangan janin yang dikandungnya.

Kisah pilu yang pernah tertoreh dalam bagian hidupnya itu, membuatnya ingin sekali ikut mati bersama calon anak yang tak pernah sempat ia lahirkan. Hinata selalu berpikir kenapa anaknya itu sudah mengalami penderitaan berat sebelum ia dilahirkan.

Dicampakkan oleh Ayah kandungnya sendiri, tak diharapkan kehadirannya oleh pria yang mengatakan sangat mencintainya, dan terakhir dipaksa keluar dari rahim sang ibu sebelum waktunya.

Hinata ingat saat Gaara memaksanya untuk menggugurkan bayi yang dikandungnya karena janin itu adalah darah daging dari pria lain. Seorang pria yang sangat dicintai Hinata –dulu- Uchiha Sasuke.

Dan tentu saja, Gaara tidak akan pernah menerima kehadiran bayi yang bukan darah dagingnya. Walaupun Hinata sudah memohon ribuan kali, tapi tetap saja pria itu menariknya ke rumah praktek salah satu dokter yang akan membunuh anaknya tersebut.

Hinata ingin sekali mati saat itu seandainya saja Gaara tidak berulang kali mencegahnya yang ingin melakukan percobaan bunuh diri. Gaara yang egois. Tapi ia sama sekali tidak mau melepasnya yang saat itu bagaikan mayat hidup.

Pria itu terus ada disampingnya sampai ia sembuh dari depresi dan berulang kali meminta maaf. Apakah sekarang ia sudah memaafkannya? Entahlah. Tapi bagi Hinata hidupnya yang sekarang lebih bermakna.

Walaupun ia harus kehilangan kebahagiaannya sendiri tapi Tuhan mempercayakannya untuk mengembalikan kebahagiaan orang lain dengan menjadikannya dokter.

"Ohayou dokter Hinata…" sapaan lembut wanita renta itu mengembalikan kesadaran Hinata yang tengah berkelana ke masa lalunya.

"Eh? Ohayou mo nenek Takeda," balas Hinata gugup.

"Anda menangis?" tanya sang nenek yang masih berdiri dihadapan Hinata dengan menenteng sebuah kantung plastik.

"Eh?" seketika Hinata langsung menggunakan tangan mungilnya untuk mengusap air mata yang tanpa ia sadari telah membasahi pipinya. Melihat sang dokter yang sepertinya sedang bersedih hati, akhirnya nenek tersebut mengalihkan pembicaraan.

"Terimakasih… dokter selama ini sudah dengan tulus merawat Keito. Walaupun belum ada donor yang cocok, tapi semejak dokter sering menghiburnya, Keito jadi mempunyai semangat hidup lagi," ucap sang nenek panjng lebar.

"Saya sangat menyayangi Keito nek. Dan itu memang sudah menjadi kewajiban saya. Oh ya… Keito tertidur sangat nyenyak setelah saya memberikan obat. Kalau begitu saya permisi dulu nek," ujar Hinata dengan senyuman manis tercetak dibibirnya.

"Oh ya silakan… Dan sekali lagi terimakasih dokter," balas sang nenek sebelum Hinata pergi.

Setelah keluar dari ruangan Keito entah kenapa hatinya merasakan sesak luar biasa. Seandainya Sasuke tak membuangnya, mungkin sekarang anaknya bisa lahir ke dunia dan tumbuh menjadi anak yang sehat. Mengingat itu, tanpa terasa air mata kembali membasahi pipinya.

"Maafkan ibu nak…yang tak bisa melindungimu," gumam Hinata yang terus terisak.

.

.

.

"Sasuke-sama, ada kabar buruk dari Naruto-san… beliau mengalami kecelakaan kerja di Suna. Dan malam ini juga anda diminta datang ke Suna " ucap sang sekretaris yang dengan tenangnya menyampaikan kabar buruk tersebut. Sasuke menghentikan sejenak aktivitasnya dan menatap intens Juugo yang berdiri dihadapannya.

"Kalau begitu, pesankan tiket pesawat ke Suna," jawab Sasuke tak kalah tenangnya.

"Hai."

Sasuke memijit keningnya sebentar. Naruto adalah salah satu karyawan perusahaannya sekaligus sahabatnya. Biasanya ia tak pernah terjun langsung menangani karyawan yang tertimpa masalah. Tapi kali ini pengecualian.

Naruto adalah sahabatnya dan entah kenapa setelah bertahun-tahun merasakan nyeri luar biasa dihatinya hanya dengan mendengar kata 'Suna' tapi kali ini Sasuke ingin sekali menginjakan kakinya di kota yang jaraknya bermil-mil dari Konoha.

'Hinata…'

.

.

.

"Dokter Hinata! Ada pasien baru yang mengalami kecelakaan kerja," teriak seorang suster yang memasuki ruangan Hinata. Dengan tergesa Hinata ikut berlari kecil menuju ruang gawat darurat.

"Segera siapkan alat bantu pernafasan!" intruksi Hinata pada perawatnya yang masih bisa didengar oleh sang pasien yang masih setengah sadar. Sebelum mata biru itu menutup, ia masih bisa mengenali sosok wanita yang sangat dikenalnya.

"Hinata…" entah ilusi ataupun kenyataan. Itulah yang Naruto lihat sebelu kesadarannya benar-benar menghilang. Sedangkan Hinata sama sekali tidak mengetahui sang pasien karena kepala dan wajahnya yang berlumuran darah.

"Hinata, biar aku saja yang menangani pasien ini. Dari tadi Keito menangis tidak mau diperiksa dokter lain selain kau," ucap Shizune yang langsung mengambil alih pekerjaan Hinata.

"Baiklah."

.

.

.

"Kau ceroboh sekali. Tidak tahukah bahwa pekerjaanku begitu banyak? Dasar merepotkan," ucap Sasuke sadis.

"Kau datang langsung memakiku. Dasar lelaki tak berperasaan." Naruto terlihat begitu kesal dengan sahabat selaku atasannya itu.

"Kupikir kepalamu retak. Ternyata hanya luka kecil saja." Kata-kata ketus terus terlontar dari bibir Sasuke yang duduk di sofa kamar rawat Naruto.

"Hei kau! Sahabat macam apa yang mendoakan sahabatnya sendiri supaya kepalanya retak. Lagipula tertimpa besi sakit tahu!" Kali ini amarah Naruto benar-benar meluap. Ia tidak mempedulikan kepalanya yang berdenyut akibat berteriak.

"Aku tidak bilang begitu," sangkal Sasuke datar. Hening sebentar sebelum Naruto kembali membuka suaranya,

"Sasuke… aku melihat Hinata…" kata-kata Naruto barusan menghentikan pandangan Sasuke dari ponselnya. Ia memandang Naruto penuh tanya. "… disini," imbuh Naruto. Birunya meneliti perubahan ekspresi dari wajah Sasuke. Namun ia tak menemukan apa-apa selain wajah datar tanpa ekspresi.

"Kau menghayal," ujar Sasuke dengan suara beratnya.

"Tidak. Aku yakin bahwa dokter yang menolongku itu Hinata." Naruto masih berusaha keras menyangkal pendapat Sasuke.

"Kepalamu terbentur Naruto… sudahlah aku akan keluar sebentar." Setelah itu, Sasuke langsung meninggalkan ruang rawat itu.

Setelah menutup pintu, barulah ekspresinya sedikit ia tak percaya seratus persen ucapan sahabatnya, tetapi ada kemungkinan perkataan Naruto benar. Hinata ada di Suna dan mungkin saja ia bekerja di rumah sakit ini. Mungkinkah? "Tidak mungkin," sangkalnya lagi.

Sasuke terus berjalan menyusuri koridir rumah sakit. Setelah mendengar ucapan Naruto barusan, pikirannya sedikit kacau, sehingga ia berjalan tak tentu arah. Sampai ketika langkah kakinya membawanya ke ruang khusus rawat anak-anak, Sasuke sejenak berhenti ketika telinganya mendengar sebuah tawa lembut yang tak asing ditelinganya.

Ia menolehkan kepalanya kesebelah kanan. Dan betapa terkejutnya ketika obsidian-nya menangkap siluet wanita dewasa yang sedang terduduk dengan senyum mengembang diwajahnya. Pintu itu tak tertutup sehingga dengan puasnya Sasuke bisa melihat dengan jelas sosok itu.

"Hinata…" bisiknya pelan. Kakinya seperti terpaku tak bisa berjalan lagi dan matanya tak bisa berpaling dari sosok yang sangat dirindukannya itu.

Setelah sedikit menenangkan dirinya, Sasuke kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat. Dadanya terus berdentum-dentum menyakitkan dan otaknya tak henti-hentinya menggumamkan nama gadis itu.

Sasuke terus berjalan hingga kakinya melangkah ke toilet. Nafasnya memburu menatap pantulan dirinya di cermin. Mata kelamnya balik menatapnya seperti mengebor ke dasar jiwanya. Kedua tangannya mengepal dan tanpa kendali lagi, ia memukul cermin dihadapannya.

Seakan-akan ia igin menghancurkan wajah yang ada dihadapannya. Dari buku-buku jarinya mengeluarkan darah yang menetes membasahi lantai.

.

.

.

Wanita bersurai indigo itu menutup perlahan pintu ruang kerjanya. Tadi ada salah satu perawat yang memberitahunya bahwa ada seorang pasien yang menunggunya diruangan.

Dan benar saja, ia melihat sosok berjas hitam berambut biru gelap yang duduk di sofa yang memunggungi pintu. perlahan, kaki jenjangnya menghampiri pria itu.

"Selama siang, Ada yang bisa saya bantu tuan?" sapa Hinata ketika tubuhnya sudah berhadapan dengan pria yang duduk sambil menundukkan kepalanya. Sebelum pria itu sempat menjawab manik lavender Hinata menangkap bahwa tangan kiri pria tersebut berlumuran darah.

"Kami-sama! Kenapa tangan anda?" seketika Hinata langsung terduduk dihadapan pria itu.

Memegang tangannya yang berlumuran darah dan meneliti lebih lanjut yang ternyata juga terdapat banyak serpihan kecil kaca yang menancap di tangan itu.

Dengan cekatan, Hinata langsung mengambil alat-alat medisnya dan langsung membersihkan luka itu. Sampai ia tak menyadari bahwa sepasang onyx pria itu terus menatapnya sendu.

"Apa yang anda lakukan sampai tangan anda terkena serpihan kaca?" tanya Hinata setelah selesai mengobati luka tersebut dan tinggal memasangkan perbannya saja.

"Aku sengaja memukul cermin," suara berat dan bernada datar sontak membuat gadis itu menengadahkan kepalanya.

Dan betapa terkejutnya ketika mata bulannya menangkap sesosok pria yang sudah sangat lama tak pernah dilihatnya. Sontak tangan mungilnya yang menggenggam gulungan perban menjadi tak pertenaga. Bibir Hinata seakan tercekat dan matanya tak bisa berhenti menatap mata onyx yang sebenarnya sangat ia rindukan. Dan perlahan mata indahnya mengeluarkan air mata.

"Hinata…" suara yang mengalun dari bibir pria itu yang memanggil namanya sungguh sangat ia rindukan. Sasuke langsung merengkuh tubuh mungil yang terduduk dihadapannya. Memeluknya dengan begitu erat. Sedangkan Hinata tampak syok sampai tak menyadari bahwa pria itu tengah memeluknya.

"Maaf… maafkan aku Hinata…" bisiknya pelan. Sedangkan Hinata masih sibuk bergulat dengan perasaan dan hatinya. Bagaimana bisa pria ini ada di ruangannya? Setelah pulih dari keterkejutannya, Hinata sontak mendorong keras tubuh Sasuke hingga pelukan itu terlepas dan ia langsung berdiri.

"Kau...kenapa kau muncul lagi dihadapanku…kau…" Hinata tak sanggup melanjutkan kalimatnya karena tangisannya yang semakin kencang. Sasuke berdiri berusaha mendekati Hinata yang terus mundur.

"Hinata… maafkan aku." Mata Sasuke tampak memerah. Hatinya begitu sakit melihat gadis yang sangat dirindukannya menangis pilu.

"Dengan mudahnya kau mengatakan itu setelah kau membuangku, mencampakanku dan menjadikanku seperti sampah!" teriak Hinata kalap. "aku masih bisa memaafkanmu kalau kau hanya membuangku…" Hinata mengelap kasar air matanya. " tapi kau juga membuang nyawa lain yang tak berdosa," imbuh Hinata. Sasuke nampak bingung dengan kalimat Hinata yang terakhir.

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke pelan meminta penjelasan. Hinata masih terus menangis, amethyst-nya memandang tajam sosok pria tegap yang berdiri dihadapannya.

"Kau… telah membuang anakmu sendiri! Kau yang mengakibatkan dia mati Sasuke!" teriak Hinata kalap.

Sasuke tampak syok dengan pengakuan Hinata. Tubuhnya kaku tak sanggup menerima kenyataan pahit ini. Jadi, waktu itu Hinata hamil? Mengandung darah dagingnya? Dan dengan dungunya hanya karena emosi sesaatnya dan harga dirinya yang tinggi, Sasuke menjadikan gadis yang sangat dicintainya sebagai taruhan? Oh Shiitt!

.

Brakk

.

"Hinata?" suara baritone Gaara mengintrupsi dua anak manusia yang sedang bersitegang. Jade Gaara nampak tajam ketika ia mengetahui bahwa pria yang membuat gadisnya berteriak tadi adalah seorang pria yang menjadi masa lalu gadisnya.

"Kau…" desis Gaara marah. "apa yang kau lakukan pada Hinata brengsek!" seketika Gaara langsung melayangkan tinjunya ke wajah tampan Sasuke. Memukulnya berkali-kali tanpa ada balasan dari pria itu. Sedangkan Hinata yang masih menangis berusaha melerai Gaara yang mengamuk.

"H-hentikan Gaara-kun…" mohonnya pelan. Hinata memang membenci Sasuke tetapi dadanya terasa sakit saat melihat mantan kekasihnya itu dipukuli tanpa ada perlawanan.

Karena tidak ada tanda Gaara yang akan berhenti, akhirnya Hinata berusaha melerai yang mengakibatkan pipinya terkena pukulan Gaara.

"Hinata!" pekik Gaara saat mengetahui salah satu pukulannya mengenai Hinata.

"Kau tidak apa-apa?" Gaara langsung mengabaikan Sasuke yang terlentang dengan wajah babak belur.

"Uchiha… jangan pernah muncul lagi dihadapan kami mengerti? Atau kau akan tahu akibatnya," ancam Gaara.

Setelah itu ia langsung membawa Hinata keluar. Tinggalah Sasuke yang masih terlentang dengan nafas tersengal. Ia dalam keadaan yang kacau sehingga membiarkan Gaara menghajarnya.

Hatinya merasakan sakit akibat rasa bersalah yang luar biasa besarnya. Ia membuang gadis yang dicintainya dan juga darah dagingnya sendiri. Ia memang pria brengsek yang pantas mendapatkan pukulan bahkan seandainya Hinata ingin membunuhnya pun ia rela.

Baginya rasa sakit dan penderitaan yang Hinata alami akibat ulahnya, tidak sebanding dengan nyawanya yang tak berharga. Seandainya ia mengetahui keadaan Hinata yang sebenarnya waktu itu, mungkin Sasuke tidak akan terjebak dengan taruhan konyol terasa air matanya menetes.

.

.

.

Hinata masih terus menangis. Tak peduli ia yang menjadi tontonan orang-orang yang berpapasan dengannya di koridor. Sedangkan Gaara terus menarik tangan Hinata dengan tatapan tajam yang membuat semua orang menciut.

Rasanya Hinata begitu lega saat ia sudah mengeluarkan semua kemarahannya kepada pemuda itu. Mengatakan kebenarannya bahwa akibat ulahnya Sasuke telah menghancurkan harapan hidup nyawa lain.

Harusnya Hinata merasa senang melihat wajah Sasuke yang babak belur dan terlihat begitu menderita tapi yang ia dapati malah tangisannya yang tak bisa berhenti setiap mengingatnya. Ada apa dengannya? Setelah Hinata duduk di jok mobil dan terlihat lebih tenang, barulah Gaara membuka suaranya.

"Kenapa dia bisa ada di ruanganmu?" tanya Gaara tajam.

"Aku tidak tahu," jawab Hinata singkat.

Sepertinya Gaara belum puas akan jawaban Hinata. Tangannya mengepal erat diatas kemudi mobil. Hinata bertemu Sasuke itu sama saja dengan Hinata bertemu cintanya. Tak dapat Gaara pungkiri bahwa selama ini Hinata belum bisa mencintainya.

Mungkin lebih tepatnya tidak bisa mencintainya. Namun ia berpura-pura menulikan dan membutakan hatinya. Ia tidak ingin tahu dan tidak ingin mengerti bahwa gadis yang sangat dicintainya tidak pernah mencintainya.

Apapun yang terjadi, Hinata tetap miliknya. Egois memang, tapi hanya dengan cara inilah ia bahagia. Baginya Hinata yang selalu ada disisinya adalah kebahagiaan baginya. Dan bagaimana dengan kebahagiaan Hinata?

Hatinya tiba-tiba bergemuruh ketika otak Gaara memikirkan hal tersebut. Ia pernah dengan liciknya merebut Hinata dari tangan Sasuke. Ia pernah dengan teganya membunuh bayi mereka yang tak berdosa. Ia dengan sengaja memisahkan dua orang yang saling mencintai. Disini siapa sebenarnya yang paling jahat? Dirinya atau Sasuke? Arghh! Raung Gaara frustasi.

.

.

TBC

.

Rencana awal mau buat Twooshoot. Tapi pas buat chap ini ga nyadar kalo saia dah nulis ampe 8000 word lebih. Akhirnya saia potong jadi tiga chap biar reader yang baca ga pada sakit mata hehehe. Tenang aja..chap terakhir bakal nusul secepatnya kalo ada yang mau minjemin modem -_- (Author ga nyarat)

Tanks to:

Kertas biru, Mamoka, Zae-Hime, Aiza-chankim, hyuuchiha alvie-chan, suka snsd, sasuhina-caem, n, amenyx, Yukio Hisa, Emma, akemimatsuhina, RK-Hime, Evil, Sugar Princess71. Yang udah ninggalin jejak yang baik-baik buat author jadi tambah semangat nih… (^_^)

.

Jangan lupa setelah baca tinggalkan jejak lagi. Makasih banyak semuanya….

.

Salam

.

-Bird

.

.