Summarry

Hanya kesalahan kecil. Berhati-hatilah dengan ucapan dan tindakan. Sedikit saja melakukan kesalahan maka kau akan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu.

The Lost

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

The Lost milik Bird Paradise

Pair: Uchiha Sasuke dan Hyuuga Hinata

Rated T

Genre: Romence, Drama, Angst, Hurt/Comfort.

Warning

AU, OOC, Typo(s), Gaje, Abal, Ide pasaran,dan warning-warning lainnya.

.

Don't Like Don't Read

Don't Like Don't Read

Don't Like Don't Read

.

.

.

"Bukankah kau kemari untuk menjengukku? Kenapa malah kau ikut-ikutan dirawat?' tanyaNaruto bingung.

Kepala pirangnya memang masih diperban tapi ia sudah bisa berjalan. Dan disinilah sekarang, duduk di samping ranjang Sasuke. Sedangkan yang dijenguk masih terdiam dengan pandangan kosong yang menatap langit-langit kamar seakan tak menghiraukan kehadiran sahabatnya.

Naruto sudah mendengar insiden yang terjadi antara Gaara tunangan Hinata dan Sasuke. Kabar itu cepat sekali beredar mengingat sang pelaku adalah anak dari pemilik rumah sakit ini.

"Kau tidak mempercayaiku bahwa waktu itu yang menolongku adalah Hinata." Naruto berusaha membuka percakapan. "dan kau-"

"Naruto… aku adalah bajingan paling kejam di muka bumi ini. Aku tega membuang anakku sendiri dan membunuhnya," potong Sasuke yang sukses membuat mata biru Naruto membulat kaget.

"A-apa yang kau katakan!" seru Naruto. Sedangkan Sasuke masih nampak tenang dengan pandangan matanya yang perlahan bergulir menatap sahabatnya.

"Pantas saja Hinata sangat membenciku. Aku memang tidak pantas dimaafkan," ucap Sasuke seakan tak mempedulikan pertanyaan Naruto. Setelah mendengar kalimat selanjutnya dari Sasuke, barulah Naruto paham apa yang dikatakan oleh Sasuke.

"M-maksudmu saat itu Hinata sedang hamil?" tanya Naruto horror. Sasuke hanya mengangguk sebagai jawaban. Seketika Naruto tampak lemas tak bertenaga. Ia tak bisa membayangkan semenderita apa Hinata waktu itu.

Harus dicampakkan kekasihnya dalam keadaan hamil dan setelah itu ia juga harus kehilangan calon bayinya. Naruto langsung beranjak pergi dan mencari ruangan Hinata. Ia benar-benar sudah tidak tahan melihat dua orang yang sangat ia kasihi begitu menderita.

"Apa dokter Hinata ada diruangannya?" tanya Naruto pada perawat.

"Sudah tiga hari ini beliau tidak masuk," jawab perawat itu. Naruto mengerang frustasi tapi kakinya terus melangkah sampai ia melihat seorang wanita indigo panjang yang berjalan membelakanginya tanpa mengenakan jas putih. Mungkin itu Hinata, pikir Naruto. Naruto langsung membuntuti wanita itu sampai memasuki sebuah ruangan rawat khusus anak. Dan benar saja ketika ia melihat Hinata sedang bercanda dengan seorang pasien anak kecil.

"Hinata," panggil Naruto pelan.

"Eh? Naruto-kun…" balas Hinata pelan dengan tatapan bingung sekaligus kaget.

"Bisa kita bicara sebentar?"

.

.

.

Mereka berjalan santai di taman rumah sakit itu.

"Kau baik-baik saja selama ini? Aku tak menyangka kau sudah menjadi dokter hebat." Naruto membuka percakapan.

"Yah… seperti yang Naruto-kun lihat, aku baik-baik saja. Kenapa kau bisa ada di Suna? dan kenapa kepalamu diperban?" tanya Hinata bertubi-tubi.

"Aku ada pekerjaan disini dan tidak disangka aku mengalami sebuah kecelakaan kecil, apakah kau lupa bahwa yang memberikan pertolongan pertama adalah kau Hinata?" ucap Naruto sambil tersenyum lebar sedangkan Hinata mencoba mengingat. Tapi sebelum ia ingat, Naruto kembali membuka suaranya. "oh ya… ada yang ingin kutanyakan sekaligus kuberitahukan." Hinata nampak terdiam. "bolehkah?" imbuh Naruto.

"Silahkan saja," jawab Hinata sedikit ragu.

"Apa kau masih mencintai Sasuke?" tanya Naruto. Mereka kini duduk di kursi taman.

"Tidak, aku membencinya," jawab Hinata dingin. Amethys-nya memandang jauh kedepan. Naruto hanya menghela nafas pelan sebelum kembali berbicara.

"Sasuke masih sangat mencintaimu. Ia seperti orang gila saat kau pergi. Hidupnya yang tak teratur semenjak kau pergi, sempat membuatnya berada di pusat rehabilitasi karena pemakaian ekstasi dan alcohol berlebih. Sampai-sampai ia berhenti sekolah selama satu tahun. Mungkin Kami-sama memang sedang menghukumnya sampai setelah sembuh pun ia lagi-lagi overdosis karena obat tidur. Hidupnya kacau karena rasa bersalah dan penyesalan yang menggerogoti jiwanya… selain itu karena ia juga tak pernah bisa melupakanmu."

Hinata terdiam mendengarkan cerita Naruto. Tiba-tiba dadanya terasa sangat sakit.

"Sasuke mulai bangkit perlahan saat Kakashi menyerahkan tampuk kepemimpinan perusahaan Uchiha padanya. Ia tak sempat kuliah tapi karena kejeniusan dan ketekunannya, Sasuke bisa membuat perusahaan Uchiha sukses. Setiap hari yang dia lakukan adalah bekerja dan bekerja. Tak pernah meluangkan waktu sedikitpun untuk bersenang-senang." Naruto menatap sejenak Hinata yang menunduk. Ia tahu gadis itu pasti menangis.

"Percayalah Hinata… Sasuke tidak pernah sekalipun berkencan dengan wanita manapun. Dalam hatinya hanya ada kau seorang. Aku tahu Sasuke pernah melakukan kesalahan besar padamu. Tapi Kami-sama sudah menghukumnya berkali-kali lipat. Bisakah kau memaafkannya?" mata birunya menatap Hinata dengan pandangan memohon. Sedangkan Hinata hanya mampu terdiam membiarkan air matanya terus mengalir.

"Kau… tidak tahu Naruto-kun, bahwa yang ku alami lebih berat. Dicampakkan oleh pria yang sangat kucintai, kehilangan anak bahkan sebelum ia lahir, sampai aku tidak ingin hidup waktu itu," ungkap Hinata sambil tersedu.

"Aku tahu… tapi Sasuke tidak tahu kalau waktu itu kau hamil, dan seandainya Sasuke tidak terpancing emosi, dia tidak akan pernah mencampakkanmu. Dia juga sangat mencintaimu Hinata. Kembalilah padanya."

Tatapan mata Naruto tampak melembut. Hinata tahu bahwa Sasuke juga mencintainya. Mengetahui hidup Sasuke yang begitu kacau tak ubahnya hidupnya, perlahan-lahan hatinya mulai melunak.

"Aku bisa memaafkannya. Tapi aku tak bisa kembali padanya dan meninggalkan Gaara, sebentar lagi kami akan menikah," jawab Hinata pelan. Jalan buntu kembali memenuhi kepala Naruto.

Sekarang ia baru ingat bahwa Hinata sudah memiliki calon suami. Lelaki yang menawarkan agar Hinata menjadi taruhan pada Sasuke. Naruto tak menduga bahwa Gaara benar-benar mencintai Hinata. Atau jangan-jangan lelaki itu memang sudah mengincar Hinata dari awal?

.

.

.

Setelah pembicaraannya dengan Naruto yang menguras air matanya, Hinata berjalan gontai menyusuri koridor. Benaknya penuh akan Sasuke. Sekarang Hinata sadar betapa ia masih sangat mencintai pemuda itu.

Sasuke tak pernah benar-benar mencampakkannya. Tapi sekarang tak ada yang bisa ia lakukan. Selain melupakan perasaanya pada Sasuke dan membuka hatinya untuk Gaara. Bisakah?

Sekarang langkahnya membawanya ke ruangan rawat Sasuke. Perlahan Hinata membuka pintu itu dan mengintip sedikit ke dalam. Amethys-nya menangkap pria yang sedang berbaring dengan luka memar di sekujur wajahnya.

Hatinya tiba-tiba perih melihat sosok tak berdaya itu. Ingin rasanya Hinata berlari dan menghambur kepelukannya. Memakinya yang telah tega membuatnya merasakan rindu yang luar biasa. Hinata kembali menutup pintunya perlahan dan ketika ia berbalik sosok lain sudah berdiri tak jauh darinya.

"Gaara-kun…"

.

.

.

Balkon yang terletak dilantai sepuluh rumah sakit Suna ini terlihat begitu lengang. Seakan-akan tempat itu dikhususkan untu sepasang kekasih yang masih saling berdiri diam.

"Pergilah Hinata,"ucap Gaara setelah sekian lama keheningan merajai.

Hinata tampak mengerjapkan matanya menanggapi ucapan kekasihnya. Rambut panjangnya bergoyang indah karena sapuan angin. Sedangkan Gaara hanya membalasnya denga tatapan lembut.

"Aku sudah memikirkannya semalaman. Bahwa kau tak mungkin pergi dariku kecuali aku sendiri yang melepasmu. Jadi mulai sekarang aku melepasmu. Kau bebas Hinata."

Ucapan Gaara barusan membuat Hinata mengira telinganya tak berfungsi dengan baik. Benarkah Gaara mengucapkan kata-kata seperti itu? Hinata menatap lekat jade indah Gaara mencari kebohongan namun Hinata tak menemukan itu.

"Aku tahu selama ini kau tak pernah mencintaiku. Aku juga sebenarnya yang membuat hidupmu menderita, bukan Uchiha Sasuke." Jade indahnya menerawang jauh sedangkan kedua tangannya mencengkeram erat besi pembatas.

"Karena ingin mendapatkanmu, aku memakai cara licik. Memanfaatkan emosi Sasuke yang gampang tersulut dan itu berhasil."

Hinata semakin tak mengerti pembicaraan Gaara selanjutnya. Mengetahui kebingungan Hinata, akhirnya Gaara kembali memberi penjelasan.

"Dari awal aku sudah mencari tahu semua hal tentang Sasuke termasuk kelemahannya. Dan saat mengetahuinya, aku langsung menyusun rencana untuk memancingnya. Akulah yang menyuruh Karin agar membuat Sasuke salah paham denganmu. Dengan begitu, aku mudah memanfaatkannya."

Sekarang Hinata ingat. Malam terakhir mereka bersama. Sasuke kalap dan menuduhnya berselingkuh. Setelah memaksanya untuk bercinta, Sasuke pergi entah kemana dengan mood yang masih buruk tentunya. Mungkinkah semua itu perbuatan Gaara?

"Dan benar saja, malam itu Sasuke datang ke arena balap dengan kondisi buruk. Ia tampak marah. Dan aku tahu bahwa rencanaku berhasil. Saat itulah aku mengajukan penawaran agar kau yang menjadi bahan taruhan. Dan tanpa pikir panjang Sasuke langsung menyetujuinya."

Ya. Hinata tahu sifat buruk Sasuke adalah mudah sekali tersulut emosi. Hinata tak menyangka Gaara memanfaatkan sifat buruk Sasuke dan menjadikannya alat untuk mendapatkannya.

"Aku juga yang merusak sedikit rem mobil itu, sehingga Sasuke kalah," tatapan Gaara menerawang jauh ke angkasa. Rambut merahnya berayun karena angin yang lumayan kencang di balkon rumah sakit. Sedangkan Hinata semakin terkejut mendengar penuturan akhir Sasuke.

"Dari awal mendapatkanmu, aku memang sudah memakai cara licik dan kotor. Kau pantas membenciku Hinata… karena yang menghancurkan kebahagiaanmu adalah aku. Aku yang membunuh anakmu, memaksamu menggugurkannya," Gaara menatap sendu Hinata yang menangis di sampingnya.

"Kenapa… kau melakukan semua itu… aku tidak menyangka…kau," Hinata menatap tajam Gaara. "begitu tega padaku," imbuhnya.

Kakinya sudah terasa sangat lemas akibat rasa sakit yang ditanggung hatinya. Hinata tak menyangka bahwa inilah kenyataan yang sebenarnya. Dan ia lebih tak percaya bahwa Gaara sanggup mengatakan yang sejujurnya.

"Aku mencintaimu… sudah ku katakan sejak awal, bahwa aku akan mendapatkan apapun yang kuinginkan…" jade menatap tajam lavender. "dengan cara apapun," desis Gaara pelan.

"K-kau egois… kau gila!" tuding Hinata kalap.

"Kau bilang mencintaiku…? Tapi yang kau lakukan tak lebih dari menyiksaku! Kau memisahkanku dari pria yang kucintai… kau juga membunuh anakku!" kali ini Hinata ambruk. Ia terduduk dengan nafas tersengal dan air mata yang mengalir deras.

"Kenapa kau tak membunuhku saja Gaara.." bisik Hinata pelan.

Tangannya mengepal erat di lantai. Gaara terduduk di depan Hinata. Tak kuasa ia melihat kesakitan Hinata karena ulahnya. Ya benar, ia memang sangat egois dan gila. Selama ini hanya mementingkan kesenangannya sendiri tanpa memikirkan Hinata yang terus ia paksa tersenyum dan menuntutnya agar selalu disisinya. Tanpa peduli apa yang gadis itu rasakan.

"Maaf…Hina-"

"Jangan sentuh aku!" jerit Hinata saat tangan Gaara berusaha menggapai kepalanya.

Hinata begitu kecewa dengan Gaara. Enam tahun ia hidup bersama pria itu. Berusaha mencintainya dan selalu ada disisinya. Mengira bahwa Gaara adalah lelaki terbaik untuknya. Namun sekarang apa yang ia dapatkan? Kebohongan dan kekecewaan.

Hinata sebenarnya sadar bahwa yang dilakukan Gaara semata-mata karena pemuda itu sangat mencintainya. Tapi yang membuatnya begitu kecewa adalah cara licik yang ia gunakan untuk mendapatkannya. Cara yang akhirnya hanya menyakiti Sasuke, Hinata dan Gaara sendiri.

"Maaafkan aku Hinata…" ulangnya. Hinata masih sibuk menangis tanpa menghiraukan permintaan maaf pria itu.

Sedangkan Gaara masih duduk diam. Menunggu gadis itu lebih tenang. Tak pernah sekalipun ia melihat Hinata yang seperti tadi. Membentaknya dan berbicara keras dengan kemarahan luar biasa. Gaara sadar bahwa semua ini adalah kesalahannya.

.

.

.

"Kau sudah bangun?" tanya Naruto pelan.

"Kenapa kau ada disini? Kembalilah ke kamarmu Naruto," jawab Sasuke datar setelah bangun dari tidurnya.

"Aku sudah baikkan," kau yang sakit parah, imbuh Naruto dalam hati.

"Aku sudah mengatakan semuanya pada Hinata." Sasuke menatap Naruto dengan tatapan bertanya. "bahwa kau tak sepenuhnya bersalah dan juga penderitaanmu setelah kepergiannya," imbuh Naruto.

"Untuk apa? Hinata takkan pernah kembali padaku. Dia sangat membenciku dan tak bisa memaafkanku," ujar Sasuke pelan dan sedikit ketus. Luka ditubuhnya memang sudah membaik. Tapi luka dihatinya seakan berdarah-darah yang membuatnya begitu pucat.

"Apa kau lupa? Hinata sangat mencintaimu dulu. Ia tak akan dengan mudah melupakanmu. Dan satu hal lagi, dia mempunyai sifat lemah lembut dan penyayang, aku yakin dalam hatinya ia sudah memaafkanmu."

Perkataan Naruto seakan tak Sasuke hiraukan. Namun sebenarnya ia mematri semua kata-kata itu dalam otaknya. Hinata memang baik hati dan pemaaf, tapi bisakah dia memaafkannya? Kesalahannya sungguh sangat besar.

.

.

.

"Ibu… aku sudah melepas Hinata," ujar Gaara pelan ketika ia mengetahui sang ibu memasuki kamarnya dan sekarang duduk diatas ranjangnya.

Karura nampak tak begitu terkejut, karena memang dari awal ia sudah tahu bahwa yang dilakukan anak bungsunya adalah salah. Ia menatap sendu punggung lebar anak yang sangat disayanginya.

"Apa yang kau lakukan itu benar Gaara, seharusnya kau melakukan itu dari awal," ujar Karura dengan suara lembutnya. "sekarang… apakah Hinata bisa meraih kebahagiaanya lagi setelah kau mengurungnya selama bertahun-tahun?" imbuhnya.

"Bisa… Hinata bisa bahagia. Karena penderitaannya adalah aku," jawab Gaara datar. Jade indahnya terus menatap keluar jendela. Rintik-rintik hujan membuat jendela besar itu berembun dan tampak buram.

"Selama aku menghilang dari hidupnya, Hinata akan bahagia," lanjut Gaara. Karura berdiri menghampiri sang anak.

"Ibu senang, akhirnya kau membuka mata hatimu, kau berjiwa besar mau mengakui kesalahanmu dan melepasnya. Ibu yakin… kebahagiaan lain akan menghampirimu. Dari awal Hinata memang bukan untukmu," ujar Karura pelan sebelum ia meraih tangan sang anak dan menepuk-nepuknya pelan.

.

.

.

Hinata masih berdiri termangu di depan pintu. Sudah sedari tadi ia berdiri diam dan tampak ragu. Akhirnya setelah berpikir semalaman yang membuatnya tak bisa tidur, Hinata berani mengambil keputusan. Ia akan meminta maaf pada Sasuke karena telah menuduhnya yang bukan-bukan kemarin.

"Kenapa masih berdiri disitu?" sebuah suara berat mengagetkan Hinata.

"Ah! Naruto-kun… aku takut-"

"Sasuke tidak akan memakanmu, kenapa harus takut Hinata," potong Naruto cepat. "Cepatlah…atau aku yang akan meyeretmu ke dalam hm?" ancam Naruto lagi.

"B-baiklah aku akan masuk," ucap Hinata sebelum tangan putihnya perlahan meraih knop pintu.

Dapat Hinata lihat, Sasuke yang tengah berdiri di ambang jendela. Perlahan, Hinata melangkahkan kaki jenjangnya dengan sedikit ragu. Jantungnya kembali berdegup liar yang membuatnya menjadi susah bernafas.

"Sasuke-kun…" panggilan lembut itu mengalun indah merasuk ke dalam lamunan Sasuke dan mambuatnya kembali ke dunia nyata. Perlahan, Sasuke menggulirkan onyx kelamnya dan betapa senangnya saat retinanya menangkap sosok gadis berdiri di hadapannya. Jadi, yang memanggilnya tadi bukanlah ilusi?

"Hinata…" suara Sasuke terdengar parau. Lavender-nya mulai berkaca-kaca saat menatap sosok pucat yang berdiri di hadapannya.

Hinata tidak melihat sosok Sasuke yang dulunya begitu angkuh. Yang ia dapati kali ini adalah sosok Sasuke yang terlihat hampa dan terluka. Bahu tegapnya tak terlihat kokoh seperti dahulu. Dan wajah tampannya terlihat demikian pucat.

"Maafkan Gaara karena telah membuatmu seperti ini," susah payah Hinata mengucapkan kalimat tanpa terisak.

Sasuke langsung kecewa ketika mendapati kenyataan bahwa wanita itu berdiri dihadapannya untuk Gaara. Bukan untuk dirinya. 'Keh! Menyedihkan, kau terlalu banya berharap Sasuke,' makinya dalam hati.

" Jadi kau kemari hanya untuk mengatakan itu? Aku sudah memaafkannya kalau memang itu jawaban yang ingin kau dengar," jawab Sasuke datar. Seakan hatinya tak menjerit kecewa.

"Bukan…" kata-kata singkat itu langsung membuat Sasuke sedikit berharap lebih.

"Aku juga ingin minta maaf padamu… karena kemarin aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan," imbuh Hinata. Sasuke tidak mengerti dengan ucapan tersebut. Bukankah semua yang dituduhkan Hinata padanya itu benar?

"Semua yang kau katakan kemarin itu benar Hinata… kau tak perlu minta maaf padaku. Akulah yang meminta maaf pada-"

"Tidak! Kau tak pernah benar-benar membuangku, mencampakkanku, dan membunuh anak kita…" ucap Hinata yang mulai terisak. "Kau tak salah Sasuke…akulah yang salah," 'karena aku yang membuat Gaara mencintaiku dengan gila' imbuhnya dalam hati. Sasuke tampak terkejut sekaligus bungung dengan jawaban Hinata.

"Apa maksudmu…" Hinata hanya diam tak menanggapi pertanyaan Sasuke. Walaupun ia sangat membenci Gaara, tapi bagaimanapau juga -terlepas dari semua kelakuan liciknya- selama ini pria itu mencintainya setulus hati.

Tak pernah sekalipun Gaara marah ataupun berbuat kasar padanya. Jadi, Hinata ingin menutupi semua keburukan pria itu. Baginya semua itu hanya masa lalu.

Hinata juga tidak mau akan ada pertikaian baru antara Sasuke dan Gaara. Sudah cukup, ia lelah. Hinata hanya ingin bahagia dan hidup damai dengan Sasuke, pria yang selama ini dicintainya.

"Tidak ada…" jawab Hinata singkat. Lavender-nya menatap intens onyx Sasuke. Dan perlahan pria itu berjalan mendekatinya.

"Benarkah kau sudah memaafkanku?" tanya Sasuke memastikan.

Sedangkan Hinata hanya mengangguk dengan senyuman yang muali mengembang di bibir indahnya. Perlahan walaupun tampak ragu, tangan Sasuke terangkat berusaha mengelus pipi Hinata yang basah. Melihat tak ada penolakan dari Hinata, Sasuke memutuskan mengungkapkan keinginannya yang begitu besar.

"Bisakah kau tidak menikah dengan Gaara?"pertanyaan Sasuke yang sedikit aneh ini membuat senyum Hinata sedikit terkembang.

"Apa kau mau menikahiku?" tanya balik Hinata. Perlahan bibir pucat Sasuke melengkung keatas.

"Tentu," jawaban singkat Sasuke mambuat Hinata menghambur kepelukan pria yang sangat dirindukannya. Memeluknya begitu erat dan kembali terisak.

"Aku mencintaimu Hinata… sangat mencintaimu," bisik Sasuke pelan sambil mengecupi rambut indigo Hinata.

"A-aku juga sangat mencintaimu, Sasuke-kun…" pelukan erat dua orang yang telah terpisah begitu lama seakan-akan menyiratkan kerinduan yang begitu mendalam.

Sasuke sangat bahagia akhirnya ia kembali mendapatkan Hinata-nya yang hilang dan juga cintanya. Ia bersyukur di ujung keputus asaan hidupnya, Tuhan memberikan jalan yang membawanya kembali bertemu cintanya dan meraihnya.

Kali ini Sasuke berjanji, tidak akan pernah melepaskan Hinata walaupun dunia runtuh sekalipun. Diujung pintu, ada pemuda berambut pirang yang turut tersenyum bahagia intuk mereka. Dan di ujung habisnya harapan Gaara, ada kebahagiaan yang menantinya.

.

.

Owari

.

Aduhh endingnya pasti gaje banget hahaha… silahkan reader berimajinasi sendiri yang indah-indah buat mereka berdua. Contohnya, semisal sehabis pelukan mereka ngapain ya? (author digebugin reader)

.

Bales Ripiu:

Sasuhina Lovers: Siapa yang bilang saia suka sad end? Bagi saia yang suka nyiksa Hinata (digampar Hina) saia ga akan pernah buat dia menderita diakhir cerita yang saia buat (kecuali authornya lagi galau haha) cz saia ini cinta banget ma Hinata. So, semua kisah menyedihkan ini hanya konflik yang harus Hina hadapi. Itu aja.

Emma: Dia sebenarnya ga jahat, hanya terlalu mencintai Hinata tapi dengan cara yang salah sampe dia ngelakuin hal yang malah akhirnya hanya menyakiti Hinata.

Sugar Princess71: Masa? Padahal saia kira ga bakal dapet feel_nya… terimakasih kembali ^_^

Suzu aizawa: entah kenapa aku bawaannya pengin nyiksa Hinata mulu Hahaha (Hina cemberut -_-) tapi di chap ini dia ga sedih lagi..terimakasih banyak ^_^

Lavender hime-chan: ga apa-apa, baca fic mang selera si, mungkin kamu ga suka fic yang terlalu angst terutama tokoh utamanya Hina. Saia bisa ngerti cs saia juga gitu. Ya analisis kamu lumayan benar, walaupun disini sebenarnya mereka berdua ga ada niatan buat jahat ma Hina. Sasuke ngelakuin itu karena emosi semata dan Gaara karena terlalu obsesi ma Hina jadi ngelakuin apa aja buat ngedapetin Hina walopun pake cara yang salah. Dan soal ngegugurin itu, Gaara hanya ga mau Hina jadi keinget Sasu terus apalagi kalo sampe ank itu lahir jadilah ia melakukan hal kaya gitu. Ini akhir bahagia ga menurut kamu?(Garuk kepala)

Himetarou Ai: haha berarti fic ini lumayan sedih juga ya?

The Amethys Hime no login: Ya ni heppy end ^_^

Suka snsd: Ga kok… saia ga tega bunuh mereka cs mereka adalah tokoh-tokoh yang saia sukai.

Sasuhina caem: Yoi dah baca chap ini kan? (pasti seneng) hehe

Mamoka: Yoi Hina kembali ma Sasu kan pair awalnya mang SasuHina. Saia selalu berusaha konsisten.

Rhena001: Makasih saia sungguh terharu kamu nangis baca fic saia

n: Jangan donk say, kasian Sasu, diakan cuma khilaf -_-

Zae-Hime: Ya heppy and kaya judul lagunya Avril,

Tsubasa DeiChan: teromakasih ^_^ maaf kalo aku dah buat kamu ikutan sedih baca chap ini.

ViolettaOnyx: haha walopun kamu ngrestuin GaaHina, tapi pair awalnya SasuHina ^_^

.

oke tanks for reding, ripiu, dll. Sampai jumpa di fic_ku yang lain.

.

Salam

.

-Bird