A/N: Makasih buat review-review yang sangat menyencyuuuh~ Seneng rasanya ngeliat kalian mempertanyakan siapa gerangan si Reinhart ini OuO
Oiya, saya lupa ngomong di chapter lalu kalo sebenernya Dietrich Beilschmidt yang saya maksud itu adalah Germania~ Jadi, buat yang menebak Reinhart itu Germania, bukan, yaaa~ Germania jadi bokapnya Germanbros :D Dan kalo mau nebak Reinhart itu HRE, juga bukan. Saya penganut kukuh bahwa HRE=Germany.
Disclaimer: Karakter jelas kepunyaan Hidekazu Himaruya dan beberapa hal di dalem cerita ini saya comot—sadar ataupun gak sadar—dari source lain yang ada di bawah. Terlalu banyak, ntar disclaimernya bisa panjang. Dan no. Me not making any money dari fanfiksi ini :D
Warning: sci-fi/adventure~ petualangan dimulai, kawan-kawan :D sho-ai bertebaran dimana-mana dengan pairing bemacam-macam. Jangan lupa, saya adalah seorang cracker alias hobi masang-masangin karakter seenak udel~ #narihula #eh
Reinhart Beilschmidt adalah pemuda sederhana dengan rambut hitam ikal dan mata abu-abu. Ia soldier yang berdedikasi tinggi di IGSP, meskipun catatan ketepatan waktunya terbilang jelek. Dia selalu menyalahkan inspeksi pagi yang kelewat pagi, serta tugas menumpuk yang memangkas waktu tidurnya. Reinhart terlambat bukan karena dia tukang tidur yang tuli akan bunyi nyaring alarm. Itu semua hanya karena tugas menyebalkan dari IGSP dimulai terlalu pagi untuk si pemuda berumur sembilan belas.
Menjadi soldier IGSP tidak semenyenangkan apa yang diceritakan kedua kakaknya. Terlalu membosankan dan mencekam, apalagi saat ayahmu sendiri yang menjadi kapten kapal. Mimpi buruk tiada batas.
Beruntung, Reinhart menjadi satu dari sekian banyak orang yang terhempas ke belantara angkasa tanpa batas saat kaca hampa udara kantin pecah—dihancurkan hingga berkeping-keping oleh tembakan laser dari meriam. Berkat itu, ia bisa terbebas dari rutinitas yang membosankan di IGSP.
Tapi, ia tak berharap untuk ditangkap jaring perompak dan digeret naik ke geladak kapal antik dengan tenaga solar itu. Sama sekali tak pernah terpikir kalau ia—lagi-lagi—diculik oleh segerombolan perompak.
Ia tak mengerti kenapa para perompak lebih senang menculiknya dan bukan salah satu dari kedua kakaknya. Apa karena dia putra paling muda keluarga Beilschmidt atau karena ia terlihat lebih lemah dibandingkan dua kakaknya?
Reinhart masih memberontak, berusaha untuk melepaskan jeratan jala yang mengukungnya. Sayangnya, tenaganya kurang kuat untuk melawan tali jala yang luar biasa kuat. Napasnya memburu dan matanya membelalak panik saat jala mulai menyentuh tepian geladak.
Di tengah kepanikannya, Reinhart melihat seorang petugas kapal melongokkan kepala. Senyum cerah dan tawa ceria keluar dari mulutnya saat melihat sosok Reinhart yang meronta-ronta. Sang sailor menoleh ke belakang—masih tersenyum gembira—dan berteriak nyaring, "Kita dapat 'ikan'nya, ve! Fratello, bidikanmu hebat sekali, vee!"
"Tentu saja, dasar adik bodoh!" Kali ini terdengar suara identik dengan si sailor, tapi terdengar lebih kasar. "Karena aku yang melakukannya dan bukan kau, bosun bodoh yang tak bisa berbuat apa-apa!"
Pemuda berambut cokelat dengan ahoge mencuat di kepalanya masih tertawa-tawa sambil berkata "Vee~ Vee~" Terlalu riang karena mereka berhasil menangkap target.
Akhirnya jaring berhasil dinaikkan ke geladak kapal. Tiga orang berhasil menggeret Reinhart dan salah satu crew kapal—seorang pria berkulit hitam dengan tubuh besar—mengeluarkan pisau lipat lalu mulai memotong jaring, berusaha sebisa mungkin untuk tidak melukai Reinhart. Sementara itu, dua orang pemuda dengan wajah identikal memperhatikan kerja rekannya. Satu memperhatikan dengan penuh rasa ingin tahu, sementara yang satunya menatap dengan sinis dan ogah-ogahan.
Butuh waktu beberapa detik hingga akhirnya Reinhart terbebas dari jeratan jaring tersebut. Sang soldier IGSP langsung melompat dan berdiri. Dia memasang kuda-kuda, siap untuk bertarung. Bagaimanapun juga, Reinhart tidak mau ditangkap tanpa perlawanan sebelumnya. Dulu, dia masih bocah yang tak tahu tentang bela diri dengan tangan kosong maupun bersenjata. Sekarang, dia tahu semuanya. Dia bisa melawan para perompak menjijikan ini.
"Apa mau kalian?" bentak Reinhart. Mata abu-abunya menatap awas ke arah tiga orang sailor di depannya. Ketiganya tidak berbuat apa-apa atau menjawab pertanyaan Reinhart. "Apa kalian yang dulu menculikku, hah? Mau memeras ayahku dengan menculikku lagi? Memangnya tidak cukup kalian sudah melukai tanganku sampai seperti ini!"
Ceracau Reinhart tidak digubris oleh mereka, membuat sang pemuda berambut ikal ini semakin geram. Ia memutuskan untuk menyerang duluan lalu kabur dengan sekoci.
Reinhart menghentakkan kakinya maju ke depan dengan kepalan tangan siap mengayun. Sasaran pertamanya adalah si pria berkulit gelap dengan rambut gimbal. Dilihat dari postur tubuh, sepertinya orang ini paling kuat di antara si kembar bodoh itu.
Tapi, belum sempat Reinhart mendekat, sekelebat orang tertangkap dari ekor matanya. Sang soldier baru saja hendak membalikkan tubuh dan melawan sosok misterius itu, namun suatu benda tumpul yang keras menghantam kepalanya. Hantamannya keras, membuat Reinhart mengerang kesakitan sebelum jatuh ke atas lantai kayu kapal. Perlahan-lahan, kesadarannya mulai menipis dan memudar. Hal terakhir yang ia ingat sebelum pingsan adalah sepasang sepatu boots tua dari kulit, berdiri tepat di depan wajahnya.
Hetalia Axis Powers copyright owned by Hidekazu Himaruya
Treasure Planet copyright owned by Walt Disney Picture
Titan A.E. copyright owned by 20th Century Fox
Treasure Island copyright owned by Robert Louis Stevenson
Pirates of Carribean copyright owned by Walt Disney Picture
Star wars copyright owned by George Lucas
Reinhart terbangun sambil mengerang pelan. Kedua matanya mengedip-ngedip, berusaha mengenyahkan rasa sakit yang melanda kepalanya. Dia juga berusaha untuk bangkit dari entah tempat keras apa ini yang ia tiduri, tapi sepasang tangan mendorong dada sang pemuda untuk kembali berbaring.
Seorang perempuan cantik dengan rambut cokelat keemasan sebahu duduk di sampingnya. Ia tersenyum ramah sambil memeras sebuah lap basah dari baskom metalik di sampingnya. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia menempelkan kompres tersebut ke kening Reinhart sambil mengelap beberapa butir air yang jatuh dari kompres.
"Lebih baik kau berbaring dulu." bisik si perempuan. "Bahaya kalau kau berjalan-jalan dengan luka di kepala seperti itu."
Luka di kepala? Ah, ya. Reinhart ingat sekarang tentang sosok misterius yang memukul kepalanya sampai ia pingsan. Pantas saja kepalanya terasa nyeri sedaritadi.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku terpaksa memukulmu seperti itu, karena kau tampak ingin menyerang teman-temanku." ucap si perempuan. "Tapi, tak perlu khawatir. Aku sudah mengobati luka di kepalamu, kok."
Reinhart sempat tak percaya kalau perempuan anggun dan manis seperti ini sanggup menyerangnya sampai pingsan. Benar-benar tidak tergambarkan di sikapnya yang keibuan ini. Sang pemuda berambut hitam itu mengangkat tangannya dan meraba kepala. Benar juga. Jemarinya merasakan kain kasa membelit kepalanya. Perempuan ini tidak bohong kalau sudah mengobatinya.
Seraya menunggu perempuan—yang namanya masih menjadi misteri—ini merawatnya, Reinhart memutuskan untuk melihat-lihat dan meneliti ruangan tempat ia berada sekarang. Menurut pengamatannya, ruang ini tidak mewah. Pencahayaan remang-remang dan hanya mengandalkan sebuah blob yang melayang di dekat tempat tidurnya. Bicara tentang si tempat tidur, Reinhart tidak yakin kalau yang ia tiduri ini adalah tempat tidur sungguhan karena terlalu keras. Kemungkinan besar ini hanyalah tumpukan kotak yang disusun sedemikian rupa dan diberi bedding yang cukup tebal. Kurang tebal kalau menurut Reinhart.
Mata abu-abunya lalu menangkap sosok seorang crew kapal—baju salior dengan warna biru-putih dan celana biru selutut—sedang sibuk membakar entah apa di tungku masak. Reinhart membelalakkan matanya saat tahu bahwa benda putih yang sedang dibakar awak kapal dengan suara berisik—"Vee! Vee!"—adalah pakaiannya.
Buru-buru Reinhart merunduk, melihat sendiri pakaian yang sedang ia kenakan. Bagai dihantam jutaan meteor, dia baru sadar kalau baju putih bersih yang ia kenakan saat diculik sudah diganti dengan pakaian sederhana berwarna putih gading. Celananya berwarna cokelat tua dengan panjang selutut.
Awak brengsek itu benar-benar membakar pakaian dinas IGSP-nya.
Perempuan itu mengikuti arah pandang Reinhart dan tertawa enteng. "Aku menyuruh Feliciano untuk membakar baju-bajumu." katanya. "Perintah langsung dari Kapten. Dia khawatir kalau di bajumu tersemat alat pelacak. Kami tak mau sudah susah payah mencuri petanya dan tertangkap dengan cepat hanya karena alat pelacak di pakaianmu."
Reinhart tak tahu harus berkata apa. Memang benar kalau setiap anggota IGSP mempunyai pelacak tersemat di salah satu kancing pakaian mereka. Katanya untuk memudahkan pengawasan dari kapal induk. Tapi, kalau sekarang bajunya dibakar begini, Reinhart tak yakin ayahnya bisa menemukannya dengan cepat.
Sebentar. Tadi perempuan ini menyebut kata 'peta'? Apa maksudnya?
"Vee~ Laura, aku sudah selesai membakar bajunya!" kata si awak kapal—salah satu dari si kembar—kelewat ceria. Ia memberikan salut kepada si perempuan manis itu, membuat perempuan bernama Laura itu tertawa geli. "Jadi, aku boleh makan pastanya sekarang, kan, vee? Pasta, pastaaaa~"
"Iya, iya." sahut Laura sambil tersenyum. "Ambil saja sebanyak yang kau mau. Jangan lupa bawakan untuk Lovino juga, ya. Dia terlalu lama diam di tiang pengawas."
"Aye, aye! Pastaaaa~ Aku datang, vee~" Dan si pemuda riang, hobi mengumbar kata 've' itu lari ke dapur, mengambil pasta sebanyak yang ia sanggup.
Reinhart hanya bisa bengong melihat si awak kapal itu berjalan menjauh. Coret. Dia tidak berjalan menjauh, tapi melompat riang. Reinhart sempat khawatir pemuda itu akan membenturkan kepalanya ke langit-langit kapal yang rendah...
Selang beberapa menit setelah Feliciano—awak kapal penggila pasta—itu pergi, Reinhart mendengar suara langkah kaki yang begitu berat semakin mendekat. Laura yang semula duduk tenang di samping tempat tidur sambil merawat luka Reinhart menoleh ke asal suara. Keningnya berkerenyit bingung. Perempuan berambut pirang sepundak itu berdiri perlahan-lahan dan berjalan ke arah datangnya suara, penasaran.
Dan saat itulah laki-laki itu muncul. Kapten perompak, orang yang memerintahkan anak buahnya untuk menculik Reinhart.
Kapten kapal perompak ini mengenakan jubah merah sewarna darah dari bahan beludru. Kakinya dibalut oleh celana ketat berbahan kulit, sama seperti material sepatu boots-nya. Sang kapten juga mengenakan kemeja putih polos dengan rumbai sepanjang lajur kancing dan pergelangan tangannya. Sesaat, Reinhart mengira kapten ini adalah orang beringas yang suka menyiksa orang. Tapi, ketika kelereng abu-abunya menatap senyum lebar yang mengembang di wajah sang kapten, bayangan akan kebrutalan space pirate menghilang seketika.
"iHola! Selamat datang di La Sagrada!" sapa si kapten itu ceria. Senyum lebar mengembang di wajah tampannya. Tangannya terentang lebar, menunjuk kapal antiknya dengan bangga. "Aku adalah Antonio, kapten La Sagrada! Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Senor Carta!"
Sudut bibir Reinhart berkedut saat mendengar sapaan sang kapten kapal. 'Senor Carta'? Apa perompak brengsek ini salah tangkap orang? Siapapula itu Senor Carta? Seingatnya, tak ada orang yang bekerja di Falcon bernama Senor Carta. Atau mungkin sebenarnya ada, namun dianya saja yang tak perhatian?
"Umm..." Reinhart menggumam pelan seraya mendorong tubuhnya untuk duduk. Ia menghiraukan protes dan larangan Laura. "Begini, Tuan Perompak. Sepertinya kau salah tangkap orang. Kau mencari orang bernama Carta, sementara namaku adalah Reinhart. Aku bukan Carta. Itu berarti kau salah tangkap, sayang sekali."
Selama beberapa detik, Antonio dan Laura terdiam, memandangi Reinhart dengan mata terbelalak—entah mereka sadar telah menangkap orang yang salah atau justru ekspresi lainnya. Reinhart berharap kalau mereka benar-benar salah tangkap dan segera mengembalikannya ke Falcon, meskipun hal itu sangatlah mustahil. Tapi, berharap tak ada salahnya, kan?
Harapan Reinhart yang sempat melambung tinggi mendadak terhempas ke lantai kayu kapal ketika mendengar Antonio tertawa terbahak-bahak. Bahkan Laura juga tampak menahan tawa sampai wajahnya memerah. Perempuan manis berambut pirang keemasan itu malah sengaja menjauh dari Reinhart dan sang kapten dengan izin mau mengurus makan malam. Dia meninggalkan Reinhart berdua saja dengan kapten kapal yang masih tertawa kencang.
Butuh waktu bagi Antonio untuk menghentikan tawa histerisnya. Sang kapten berambut cokelat pajang dengan pita merah mengikat di bawah tengkuknya itu berjalan santai mendekati tempat tidur. Ia menyambar gelas bertangkai tinggi—sepertinya milik Laura yang lupa ia bawa pergi—dan meminum cairan bening di dalamnya.
Saat itulah Reinhart bisa melihat jelas profil sang kapten, bahkan rasnya. Telinganya lancip, sama seperti Willem. Kalau tak salah, perempuan bernama Laura dan kelasi Feliciano itu juga mempunyai telinga lancip. Itu berarti, mereka berasal dari planet Mediteran kalau Reinhart tak salah tebak.
Sebenarnya wajar saja kalau Reinhart mencurigai orang ini sebagai Mediteran. Selain telinga lancipnya, para penduduk di planet panas dan penuh api itu terkenal dengan kegemaran mereka akan benda berkilau. Dengan kata lain, mereka menyukai emas dan segala perhiasan berkilau dari seluruh galaksi. Berdasarkan pada kegemaran inilah para Mediteranian menjelajah antariksa sebagai saudagar atau space pirate. Ciri khas lainnya adalah kapal antik dengan material kayu khusus yang hanya hidup di Mediteran—sangat tahan dengan terpaan udara panas, mengingat kondisi iklim di permukaan Mediteran sendiri yang cukup panas.
"Sebenarnya, Senor Carta, aku tidak salah tangkap." Suara ceria sang kapten La Sagrada menyentakkan Reinhart dari lamunannya. "Kau harus tahu kalau Carta itu sendiri dalam bahasa planet kami berarti 'peta'. Jadi, sekali lagi aku ucapkan selamat datang di La Sagrada-kapal paling cepat yang ada di seluruh galaksi—wahai Tuan Peta."
"Peta?" ulang Reinhart. Sudah dua orang yang menyinggung-nyinggung mengenai peta yang ia sendiri tak tahu ada pada dirinya. "Sudah dua kali aku mendengar tentang peta dan aku sama sekali tak tahu peta apa yang kalian maksud! Kalian pasti salah tangkap orang!" jerit Reinhart frustrasi.
"Tidak juga." sahut Antonio cepat. Mata hijaunya melirik tangan kiri Reinhart dan tersenyum simpul lalu menunjuk. "Kami membawa orang yang tepat. Itu petanya, kan?"
Reinhart mengangkat tangan kirinya dan memandangi gurat luka tak beraturan membentuk setengah lingkaran itu. Warnanya merah menyala seperti lampu line menyebalkan yang selalu meraung gila, mengingatkan Reinhart bahwa soldier satu ini tidak mematuhi batas. Mata abu-abu mendelik jijik ke bekas lukanya dan mendongak sambil berbisik, "Ini hanya luka biasa yang dibuat oleh perompak brengsek macam kalian untuk mengancam ayahku."
"Luka itu memang dibuat oleh perompak, tapi aku tak yakin kalau tujuannya untuk mengancam ayahmu, Senor Carta." kata Antonio ceria. Ia lalu menunjuk bekas luka tersebut dan melanjutkan, "Seorang perompak memang membuat luka itu sedemikian rupa, tapi tujuannya jauh berbeda dari yang kau duga. Dia menyembunyikan peta harta karun di suatu tempat dan lukamu adalah petunjuk arah untuk mencapai tempat itu."
Reinhart membelalakkan matanya, tak percaya. Kebohongan macam apa yang diomongkan oleh si perompak ini? Apanya yang peta harta karun. Bagi Reinhart, ini adalah luka biasa yang kelewat besar dan mengganggu pemandangan. Ia rela melakukan apa saja untuk bisa menghilangkan bekas luka mengerikan ini.
Luka ini bukan peta harta karun. Period.
Kapten Antonio tersenyum dan menanti reaksi Reinhart. Tapi, sepertinya pemuda berambut hitam itu terlalu shock dengan berita baru ini. Selain itu, Antonio bisa melihat raut tak percaya dan curiga terlukis jelas di wajah sang anggota IGSP. "Kau tak percaya omonganku, ya?" katanya sambil tersenyum penuh arti.
Perlahan, Reinhart menggeleng. Jelas ia tak mungkin percaya dengan omong kosong begini.
"Baiklah. Kalau begitu," Sang kapten La Sagrada berdiri dari tempat duduknya dan mengulurkan tangan, mengajak Reinhart untuk mengikutinya. "Ikuti aku. Kita ke ruang kerjaku."
Reinhart menatap uluran tangan sang kapten dengan penuh keraguan. Kalau ia mau jujur, sebagian hatinya penasaran dengan omongan Antonio, tapi sisi lainnya menolak untuk mempercayainya. Logikanya masih menyangkal tentang harta karun dan omong kosong lainnya, tapi Reinhart sendiri merasa kalau luka ini bukan luka sederhana. Ada sesuatu mengenai luka ini yang salah menurut Reinhart.
"Senor, kau ikut?"
Pertanyaan Antonio membuat Reinhart mendongak. Ia masih memikirkan haruskah ia menanggapi uluran tangan Antonio? Kalau seandainya memang benar lukanya itu adalah peta harta karun, apa ia mau menerima kenyataan itu?
Bertanya pada diri sendiri hanya membuat Reinhart semakin tak tenang.
Reinhart menyambut uluran tangan Antonio, membuat sang kapten tersenyum gembira. Ia menarik Reinhart berdiri—membuat Reinhart mengerenyit kesakitan, masih pusing—dan menarik tawanannya keluar, tepat menuju ruang kerjanya.
Gilbert dan Ludwig Beilschmidt berdiri di ruang komando SS-Falcon. Keduanya tampak gelisah dan tak bisa berdiri tenang. Gelisah, karena memikirkan nasib adik bungsu mereka yang diculik segerombolan perompak angkasa—lagi—dan khawatir dengan reaksi ayah mereka, Kapten Dietrich Beilschmidt. Terbayang di benak masing-masing sosok sang ayah yang murka, memaki-maki mereka dengan segala kalimat kotor yang bisa disusun, dipadatkan dalam satu kalimat panjang maupun pendek. Atau jangan-jangan keduanya langsung dipecat dari IGSP dan jabatan sebagai anak.
Gilbert mendesah panjang, stres. Ia mendesis pelan, "Heran. Kenapa Reinhart ini bisa sering sekali diculik perompak, sih? Ini sudah kedua kali dalam hidupnya! Dasar, bocah itu harus kuajari bagaimana menjadi orang awesome seperti kakaknya!"
Ludwig, sang putra ke-dua keluarga Beilschmidt, masih terdiam. Mata birunya menatap tegang ke sosok sang ayah yang masih sibuk berbicara dengan si komandan patroli. Sepertinya membicarakan tentang cara menyelamatkan Reinhart atau semacamnya. "Bruder... Apa yang kau ingat tentang penculikan Reinhart yang pertama kali?"
Gilbert menoleh dengan cepat ke samping, menatap Ludwig dengan sepasang kelereng rubinya, sedikit bingung. "Apa maksudmu?"
"Apa yang kau ingat tentang kejadian itu?" tanya Ludwig. Suaranya berbisik pelan, seolah-olah tidak mau didengar oleh siapa pun selain kakaknya. "Kalau aku—jujur—aku tak ingat apa-apa. Yang kau tahu, Ayah pulang dari patroli dan membawa seorang bocah kecil penuh luka serta perban di sekujur tubuhnya. Ayah bilang, dia adik kecil kita yang terpisah sejak perceraian orang tua kita. Dia diculik oleh segerombolan perompak untuk mengancam Ayah."
Kembali sang kakak tertua termenung. Dahinya berkerenyit, berpikir keras dan menguak ingatan mengenai kejadian beberapa tahun yang lalu. Memang benar kata Ludwig. Ia tak pernah ingat bagaimana Reinhart semasa kecil. Semuanya terasa seperti... dipaksakan.
"Aku juga tak ingat..." gumam Gilbert pada akhirnya.
Ludwig melirik ke arah kakaknya dan mendesah. "Berkali-kali aku mencoba mengingat masa kecil Reinhart, aku tak pernah berhasil. Kukira kau bisa—"
"Aku juga tidak." sahut Gilbert, cepat. "Aku tak pernah bisa mengingat masa-masa kecil kita dengan Reinhart. Tapi... Tapi, aku merasa pada setiap ingatan yang aku gali, seperti ada lubang kosong yang selama ini diisi oleh Reinhart atau semacamnya. Aku sendiri juga tak mengerti omongan tidak awesome macam apa yang kubicarakan..."
Ludwig baru saja membuka mulutnya untuk membalas, tapi Dietrich Beilschmidt sudah berjalan ke arah dua orang putranya itu. Kembali keduanya merasa panik dan tegang saat ayahnya memandangi keduanya dengan raut wajah keras serta pandangan tajam bagai elang.
"Aku sudah bicara dengan Berwald." katanya. "Radar tak menangkap sinyal dari alat pelacak Reinhart. Sepertinya para perompak itu sudah menyadari tentang pelacak tersebut dan menghancurkannya."
Mata Gilbert dan Ludwig membelalak, kaget bercampur takut saat mendengar berita pelacak Reinhart yang telah hancur, tak bisa terlacak. Jangan-jangan Reinhart...
Dietrich merebahkan tubuhnya di atas kursi besar—kursi sang kapten Falcon dengan begitu banyak tombol komando ke seluruh kapal. Mata birunya menatap tajam holo-pad yang entah membahas tentang apa dan tersenyum kecil. Sang kapten Falcon mematikan holo-pad tersebut dan kembali menatap kedua putranya. "Kalian tak perlu khawatir sebenarnya. Aku yakin mereka tidak akan melukai Reinhart."
"Bagaimana kita bisa yakin, Ayah?" tanya Ludwig. "Dulu saja mereka berani melukai tangan Reinhart sampai seperti itu. Sekarang, mungkin—"
"Oh, aku malah yakin mereka tidak akan melukai—apalagi membunuh—Reinhart berkat luka itu." Dietrich Beilschmidt tertawa kecil, membuat Gilbert dan Ludwig mengangkat satu alis kebingungan. Reaksi yang terlalu aneh setelah putra bungsunya diculik dan dibawa kabur entah kemana. "Itulah sebabnya aku menyuruh Willem untuk ke Bumi. Memastikan semuanya."
"Bumi?" ulang Gilbert, penasaran. "Bumi yang sedang dilanda kudeta? Apa hubungannya Bumi dengan ini semua?"
"Aku juga tak lihat ada benang merah antara Willem dan ini semua..." gumam Ludwig, sama bingungnya dengan Gilbert. "Dia sudah pergi saat kapal perompak itu menyerang, bukan?"
Keduanya terdiam saat Dietrich Beilschmidt menatap dengan tatapan mata begitu intens. Lautan birunya bagai menyeruak ke dalam pikiran keduanya. Seulas senyum mengembang—agak samar—di wajah tegas sang kapten. Pria berumur lima puluhan itu merebahkan tubuhnya santai, masih tersenyum penuh kemenangan.
Antonio membuka pintu ruang kerjanya dan mempersilakan Reinhart masuk. Untuk pertama kalinya Reinhart menjejakkan kaki ke ruang kerja seorang kapten space pirate dan semuanya tak sesuai dengan bayangannya. Ruangan itu terlalu rapi dengan penerangan yang cukup. Meja besar berbahan kayu berwarna hitam berdiri di tengah-tengah ruangan—agak ke belakang sedikit—tepat di depan kaca-kaca panel. Beberapa lemari antik dengan bahan kayu yang sama berdiri di sisi kiri dan kanan, mepet ke dinding kapal. Gulungan kertas dan kompas terserak di beberapa sudut ruangan, terutama di sebuah meja bundar. Karpet berwarna merah anggur menjadi alas kaki yang begitu hangat, menggelitik telapak kaki Reinhart.
Di tengah kekagumannya dengan ruang kerja sang kapten, mata abu-abu Reinhart menangkap sebuah lukisan kuno yang tergantung tak jauh dari meja kerja sang pembajak. Lukisan seorang pria berambut cokelat panjang. Gurat luka panjang menyilang vertikal di mata kirinya. Rambut cokelatnya yang ikal diikat—sama seperti sang kapten—dengan pita merah burgundy di bagian pangkal lehernya. Dilihat secara keseluruhan, pria ini mengingatkan Reinhart tentang sang kapten La Sagrada yang berdiri di sampingnya. Apa ini ayahnya?
"Itu kakakku." kata Antonio sambil tersenyum. Mata hijaunya juga memperhatikan lukisan minyak tersebut. "Namanya Fernando. Dia tewas dalam perebutan harta karun di gugus Megalanik sekitar empat tahun lalu. Dia lalu menunjukku—yang dulu adalah quarter master—untuk menggantikannya sebelum menghembuskan napas terakhir."
"Oh... Um..." Reinhart menggumam tak jelas. Merasa tak enak sudah membuat orang ini teringat akan peristiwa menyedihkan. "Maaf, sudah membuatmu..."
"Ah, tidak apa-apa." kata Antonio santai. "Justru, berkat Nando, aku bisa menemukanmu. Kemari."
Sang kapten La Sagrada menggiring Reinhart ke meja bundar yang penuh dengan tumpukan kertas usang. Sambil menggumam dalam bahasa asing yang tak dikenal Reinhart, Antonio mencari-cari di tumpukan kertas berantakan tersebut. Pada akhirnya, Antonio menarik sebuah holo-pad berbentuk besar—sepertinya model keluaran lama yang sudah jarang dilihat Reinhart—dengan begitu banyak luka gores di sana-sini. Reinhart agak khawatir holo-pad itu akan meledak saat dinyalakan, tapi beruntung itu tidak terjadi.
Antonio menggoyang-goyangkan holo-pad itu dengan penuh bangga. Kali ini, sang kapten La Sagrada mengajak Reinhart untuk mendekat ke meja kerjanya dan duduk di sebuah armchair empuk berbahan kulit. "Kakakku berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mendapatkan holo-pad ini dari seorang perompak Europian. Pertempuran terhebat di Neptune Space Port yang pernah ada."
Sepasang mata abu-abu memperhatikan dengan seksama ketika Antonio mulai mengutak-atik begitu banyak tombol di holo-pad. Akhirnya holo-pad usang itu menyala, memaparkan sebuah hologram seorang kakek tua berpakaian cheongsam. Rambutnya yang hitam panjang mulai tampak helaian putih. Gurat wajahnya menampakan seorang pria yang sudah cukup berpengalaman mengarungi angkasa dan tubuhnya tinggi tegap.
/Aku adalah Kapten Wang Yao, Kapten Flying Dragon yang termasyur. Mungkin, bila kau menemukan holo-pad ini, itu berarti aku sudah tak hidup lagi di dunia ini, aru. Melalui wasiat ini, aku sampaikan padamu, wahai kedua cucuku yang paling kusayangi, bahwa aku meninggalkan harta karun tak terhitung jumlahnya di sebuah planet. Treasure Planet, kalau kau pernah mendengar salah satu awakku kelepasan bicara, aru./
Hologram Wang Yao di holo-pad itu tampak menoleh ke belakang punggungnya, khawatir dengan sesuatu yang tak bisa dilihat Reinhart ataupun Antonio. /Aru... Aku benar-benar harus bicara cepat Orang itu segera datang./ katanya. Terlihat panik. /Sampai mana aku? Ah, ya. Treasure Planet.
/Holo-pad ini tidak akan memberikan jawaban gamblang mengenai posisi pasti dari Treasure Planet, aru. Kalau kau lihat bekas lukamu—ya, bekas luka yang ada pada telapak tanganmu itu—adalah peta yang menunjukkan lokasi Treasure Planet. Maaf sekali aku harus membuat peta itu di tangan kalian, aru. Aku tak ingin lokasi harta karun keluarga kita ditemukan dengan mudah oleh orang-orang tak bertanggung jawab, aru.
/Kau ingat cincin emas yang pernah kuberikan pada Kiku? Nah, gunakan cincin itu dan peta di tangan kalian akan berpendar semakin jelas. Mereka akan beralihfungsi menjadi kompas sekaligus penunjuk arah, aru. Tapi, akan lebih baik kalau kalian menjadi Kiku setelah keributan ini mereda. Ingat. Cari Honda Kiku dan temukan Treasure-/
Dan hologramnya menghilang. Entah karena sudah usang, sehingga tak sanggup menyala lebih lama atau karena seseorang di masa pesan itu dibuat menghancurkan transmitter-nya.
"Kalau kau tidak tahu, Kapten Wang Yao adalah seorang space pirate paling disegani hingga sekarang. Dia adalah perlambang bagaimana seorang petualang yang sejati, sekaligus perompak yang disegani. Menurut legenda, dia sudah membajak ribuan—bahkan ada yang bilang ratusan ribu—kapal antariksa dan planet. Tak ada yang bisa memperkirakan dengan pasti jumlah rampasan sang kapten. Tak terhingga, katanya. Dan dia menyembunyikan harta rampasannya itu di tempat yang tak pernah diketahui siapa pun, bahkan oleh awaknya sendiri.
"Kabarnya, sikap rahasianya inilah yang membuat awak kapalnya gelisah dan memberontak. Mereka mengkhianati sang kapten dan membawa Flying Dragon ke kehancuran. Tak ada yagn tahu bagaimana nasib para perompak di kapal itu, tapi kabarnya mereka dimusnahkan. Semuanya, bahkan si awak yang berkhianat tersebut."
"Nah, bagaimana? Sudah yakin sekarang kalau lukamu itu adalah peta harta karun?" tanya Antonio sambil tersenyum kecil. "Kalau kau masih kurang yakin, lihat ini. Holo-pad ini juga mempunyai gambar yang memperjelas seperti apa bentuk petanya."
Kembali Antonio mengutak-atik holo-pad usang itu dan menunjukkan sebuah gambar pada Reinhart. Betapa terkejutnya ia saat melihat bentuk setengah lingkaran dengan garis-garis melintang yang sama persis dengan luka di tangannya. Lalu, dari sudut holo-pad terlihat bentuk yang serupa, setengah bagian lainnya. Keduanya saling menyatu membentuk lingkaran sempurna yang berpendar keemasan.
"Ke... Kenapa ada dua bentuk?" tanya Reinhart, kebingungan. "Apa ini berarti..."
"Yep. Kau punya seorang saudara di luar sana yang senasib denganmu." kata Antonio santai. "Peta harta karunnya dibagi dua: satu padamu dan satunya lagi ada pada saudaramu."
Reinhart terhenyak. Informasi bertubi-tubi diterima otaknya, membuatnya tak bisa berpikir. Pertanyaan mengenai siapa gerangan Wang Yao, kenapa dia memanggil Reinhart sebagai cucunya, dan misteri saudaranya dengan bekas luka yang sama memenuhi pikirannya. Apakah yang dimaksud dengan saudara adalah Gilbert dan Ludwig?
"Sebentar..." gumam Reinhart. Suaranya tercekat, berat rasanya untuk bertanya. "Kalian tahu darimana tentang lukaku? Aku selalu menyembunyikan luka ini di balik sarung tangan. Tak ada yang tahu ini kecuali ayahku, kedua kakakku, dan..." Sejenak Reinhart terdiam, ragu untuk menyebutkan nama Willem. "Dan kekasihku. Bagaimana kalian tahu—"
Antonio tertawa lepas, menertawakan kepolosan seorang Reinhart. "Kau ini lucu, Reinhart!" katanya di tengah deru tawa. Ia menepuk-nepuk rambut hitam ikal tawanannya itu. "Masa' kau masih belum bisa menebak siapa gerangan yang memberitahu kami tentangmu? Itu, kan, sangat jelas!"
Reinhart mengerenyitkan keningnya, bingung. Apa yang jelas? Ia sama sekali tak tahu tentang... Sebentar. Para perompak ini mayoritas adalah Mediteranian. Ras penggila harta dan segala sesuatu yang berhubungan dengan uang. Telinga mereka lancip menyerupai elves di holo-book koleksi Reinhart—
Bagai tamparan keras di muka, Reinhart menyadari siapa yang dimaksud oleh Antonio. Orang yang selama ini ia percayai sepenuhnya dengan rahasia-rahasia sang pemuda bermata abu-abu. Orang yang selama ini ia yakini sebagai orang terdekat yang setia padanya, tak pernah membohonginya. Dengan bibir gemetar dan suara tercekat, Reinhart mengucap satu nama:
"Willem...?"
To Be Continued
A/N: Ini dia chapter selanjutnya dari drama perburuan harta karun~ Kok, makin lama makin kerasa drama, yah? Ganti aja jadi drama/romance kali, yaaaa~ #eh Anyway, saya bales review di sini aja, ya? QwQ
Tante nut: Dirimu baru kali ini merasakan ke-ihiey-an peternakan cliffie saya, ya? Kak ai aja sampe panas-dingin sama cliffie-cliffie imut nan unyuh saya ini~ 8D #eh Sebenernya pacing pas gara-gara saya agak mati kutu kalo bikin chapter 1 #ngaku #bukaaib OC tersayang? Apa dirimu udah bisa nebak siapa gerangan bocah madesu satu ini? Soal si bendera yang berkibar itu nanti dijelasin di chapter 3. Silakan ditunggu :D Makasih reviewnya, Tante Nutnut~ #kecup
Ferra Rii: Selamat pagi jugaaaa~ Eits. Nama tetangganya keren sangat XD Kenapa dirimu nebak Indo? Bisa jadi ini hasil selingkuhannya Germania dengan Roma-jiichan, kan? #eh Iyaaa... saya juga baru nyadar pas baca ulang TT^TT segera diperbaiki! Makasih buat pemberitahuannya. Makasih reviewnya :D
Not-your-mother: Asiiikk~ Dirimu kembali muncul di review page saya~ #peluksampepenyet Pernah denger nama Reinhart di mana? Gebetannya, ya? #eh Sekali-kali si Willem bukan rambutnya doang yang lancip, tapi juga kupingnya yang lancip. Bayangin aja dia kayak Legolas XDD Makasih reviewnya~
Yukiyuki del tempest: Bukan~ Reinhart itu bukan Germania. Germania itu malah si Dietrich, bokap segala bokap Germanbros OuO Nama kecoak? Asik amat si kecoak dikasih nama Reinhart... Makasih reiewnya, ya :D
HarunoZuka: Salam kenal, Zuka! Saya arekeytaketour yang doyan ngebolang kemana-mana :D #eh Reinhart itu... OH! Induk UFO dan anaknya! #kabur :P makasih reviewnya!
Dumbass Crazy: ... Kenapa orang-orang pada keukeuh kalo Reinhart itu Indonesia, sih? Siapa tau ini kloningannya Obi-Wan #eh Makasih reviewnya XD
Hkr-11: Iyaaa. Ini reviewnya dibales. Tunggu bentar, saya harus semedi barang sedetik. Ehm. Oya? Dinanti? Semoga penantian panjang dirimu sepanjang jalan kenangan gak terbuang percuma. Fic ini semoga gak abal... #nangispeluklantai Lagian saya bingung mau ngomong apa. Bilang aja langsung. Emang saya frontal, gimance marince, dooonngsskkiii~ #eh Masalah siapa gerangan Reinhart, saya nyam-nyum aja, yak. Ahahaha! :D Emang si Reinhart pernah diculik dimana lagi? O.O Inget, ini Reinhart, bukan Rangga~ Jadi, WxR blom ciuman dengan proper~ XDD #dzig Masalah reaksinya Will... bacalah chapter ini OuO Bekas lukanya... Hmm... dirimu coba nonton Titan AE, deh. Saya sendiri agak susah ngegambarinnya O.O Dan mereka ini mencar gak di dalem galaksi. Di luar galaksi, macem Death Star nongol di tengah-tengah luar angkasa gitu O.O Masalah perhitungan harinya, kayaknya saya yang salah, deh... Tapi, gak tau mau diganti apa. Emang kalo perhitungan cahaya itu perhitungan jarak. Saya juga baru nyadar... #krek Makasih reviewnya~ #peluk
Skadihelias: Awww~ dirimu juga nungguin saya nulis sci-fi? Menyencyuuuhh~ #eh Kenapa dirimu begitu yakin Reinhart adalah Indo? O.o Semuanya di sini alien, kok :D Yang manusia dari Bumi, silakan ditebak aja~ XDD O... Oya? Saya emang lebih banyak ngambil—nyomot lebih tepatnya—dari Treasure Planet sama Titan AE. Emang lebih nonjol Titan AE, ya? O.o Makasih reviewnya~ XDD
Gicchan's Encounter: ... Kenapa banyak yang nebak Reinhart itu Rangga? Waaaaiiiii? QAQ #eh Kirain deskripsinya abal. Beruntung saya masih berhasil menggambarkan dengan jelas si ruang angkasa ini XD #peluk Ahahha! Gak apa-apa~ Saya juga udah seneng dapet feedback :D Makasih reviewnya :D
Ry0kiku: Akhirnya dirimu me-review~ Saya menanti sampai berlumut dan terlupakan... #eh #lebeh Selamat atas tersubmitnya tugas-tugas dirimu! Tinggal saya yang harus berjuang menyelesaikan tugas... TT^TT Emang si Falcon ini ngambil dari Millennium Falcon! XDD Tapi, yang ini gak se-junk punya Han Solo. Ini lebih hi-tech dan lebih okeh XD Ma... Masa' kebaca jelas deksripsinya? Kirain nggak QwQ #tersentuh Iya, niiihh! Willemnya masih berhawa GF sangaaatt! #garuktembok Masalah kata gantung itu udah saya jelasin di chapter ini :D Dietrich ini Germania, kok~ Saya pake nama yang di GF aja. Hohoho~ Peternakan cliffie saya emang super menyenangkan dengan cliffie-cliffie yang imut! XDD Makasih reviewnya, ya :3
Sip. Semuanya udah dibales. Semoga kalian puas dengan chapter dua ini~ Saya gak nolak kalo mau sumbang review lagi, kok OuO
