A/N: Terima kasih banyak untuk review-reviewnya :D Biar sedikit, saya seneng, kok. Tapi, saya juga gak nolak review banyak kayak waktu dulu QuQ *bandingin sama review Godfather* #terpuruk #eh

Disclaimer: Karakter adalah murni kepunyaan Hidekazu Himaruya (sementara OC sebiji punya saya) dan segala hal yang menginspirasi fanfiksi ini adalah milik pengarangnya masing-masing. Saya cuma minjem dan gak ambil keuntungan sama sekali dari cerita ini :D

Warning: AU. Shonen-ai. Pairing bermacam-macam, harap persiapkan diri kalian. #eh

Characters: Laura itu Belgium. Carlos itu Cuba. Reinhart itu... ada, deeeehhh~~ #kempyang


Dunia yang selama ini dikenal Reinhart bagai runtuh dalam sekejap. Ia mulai mempertanyakan asal-usulnya, mempertanyakan keluarganya, dan—yang paling mengusik hatinya—mempertanyakan cinta Willem selama ini padanya. Jangan-jangan, pemuda berambut pirang jabrik itu hanya mendekati dan meniduri Reinhart hanya untuk memberi informasi kepada Antonio, tanpa ada perasaan apapun.

Semuanya hanya berdasar pada tugas dan tak ada perasaan yang terlibat. Tak ada sedikit pun, meski Reinhart berulang kali mengungkapkan perasaannya.

"Aku juga mencintaimu, Reinhart."

Sekarang Reinhart tahu kalau omongan itu hanya manis di mulut, tapi tak pernah datang dari hati si pemuda egois penggila uang itu. Yang ia pikirkan hanya peta yang tergores di tangan kiri Reinhart, tak kurang dan tak lebih.

Willem di mata Reinhart sekarang tak ubahnya seorang space pirate gila uang dan pesta darah.

Menjijikkan. Sampah. Tak layak hidup.


Hetalia Axis Powers copyright owned by Hidekazu Himaruya

Treasure Planet copyright owned by Walt Disney Picture

Titan A.E. copyright owned by 20th Century Fox

Treasure Island copyright owned by Robert Louis Stevenson

Pirates of Carribean copyright owned by Walt Disney Picture

Star wars copyright owned by George Lucas


Entah sudah berapa lama Reinhart tinggal di atas kapal La Sagrada ini. Entah sudah berapa kali pula ia melewati space warp bersama dengan kapal antik dengan tiang-tiang lancip berukir ini. Selama ini, yang ada di pikiran Reinhart adalah bagaimana ia bisa kabur dari kapal dan kembali ke Falcon. Adukan si kapten brengsek yang terlalu berisik tawanya ini pada sang ayah lalu buru Willem. Sampai ujung galaksi sekali pun Reinhart rela mengejar si pria brengsek yang sudah menipunya mentah-mentah.

Sebenarnya Reinhart tidak disia-siakan di kapal itu. Tak sekali pun ia diperlakukan layaknya tahanan perang atau semacamnya, namun justru sebaliknya. Antonio dan awak kapalnya malah menganggap Reinhart sebagai tamu istimewa yang turut serta dalam petualangan mereka mencari harta karun legenderis. Sapaan hangat dan jamuan lezat selalu menyambut Reinhart di geladak serta ruang makan. Belum lagi, pakaiannya selalu tersedia rapi di atas tempat tidur. Bahannya begitu halus dan ditenun dari benang terbaik, kata Feliciano.

Antonio, si Kapten La Sagrada yang katanya ingin memberikan pengalaman tak terlupakan di La Sagrada. Ia ingin Reinhart merasa nyaman berada di atas kapalnya. Keramahan seorang space pirate, katanya. Kapten yang kelewat bangga dengan kapal tua ini sampai-sampai rela membuang sebagian tenaga kapal untuk mengibarkan bendera pirate-nya. Suatu pekerjaan yang tak guna menurut Reinhart.

Awaknya sendiri juga ramah, meski agak aneh seperti kaptennya. Coba lihat Feliciano dan Lovino, dua orang anak kembar dengan kepribadian berbeda jauh. Yang pertama sangat ceria dan hobi mengumbar kata "Ve! Ve!" kelewat girang, sementara kakaknya—Lovino—orang yang kelewat dingin dan sarkastik. Tak jarang si kakak tertua itu mengeluarkan ejekan pedas, bahkan kepada kaptennya sendiri. Ejekannya kelewat kasar sampai-sampai Reinhart ingin mencuci mulutnya dengan air sabun.

Awak kapal yang lainnya adalah Carlos, seorang pria bertubuh besar dan berambut gimbal dikuncir. Dia agak berbeda dari awak-awak kapal lainnya yang memiliki kulit putih kecokelatan, pria ini malah kulitnya hitam—meski tak sehitam jelaga. Orangnya pendiam dan agak galak, tapi bisa berubah baik saat bertemu dengan orang yang akrab dengannya. Contohnya Laura dan si kapten kapal.

Oh, bicara tentang Laura, ternyata gadis manis berambut pirang sebahu itu adalah adik perempuan Willem. Pertama kali Laura menceritakan status saudaranya dengan Willem, Reinhart hanya bisa melongo lebar, tak pernah menyangka kalau Willem mempunyai saudara perempuan secantik ini. Well, Reinhart bahkan tak tahu kalau Willem punya saudara sama sekali.

Bertambah lagi kekesalan Reinhart pada Willem. Si brengsek satu itu berani-beraninya merahasiakan keluarganya dari Reinhart...

Selain omongan kasar Lovino dan sikap acuh tak acuh seorang Carlos, seluruh awak kapal—termasuk Antonio sebagai kaptennya—sangatlah menyenangkan. Laura begitu pandai memasak, Feliciano yang pintar menyanyi dan menghibur, serta Antonio yang... Dia sebetulnya kelewat ceria dan sudah masuk ke taraf menyebalkan untuk Reinhart, tapi tak ada salahnya menghargai keceriaan berlebihan sang kapten. Tapi, tetap saja berada di kapal yang asing dengan orang-orang asing itu tak menyenangkan.

Itulah sebabnya Reinhart memutuskan untuk kabur dari kapal itu.

Awalnya ia sempat terpikir untuk terjun bebas ke ruang hampa udara, tapi itu semua akan percuma. Pertama, di sana tak ada udara dan kedua, Reinhart tidak mungkin bisa lari jauh sebelum mati tercekik. Pemuda berambut hitam ikal ini juga sempat terpikir untuk mengambil alih kapal. Dorong saja Antonio keluar kapal dan kuasai kapal. Suruh semua awaknya untuk menyerahkan diri ke Falcon. Tapi, hati nuraninya tak tega. Tindakan itu terlalu kejam untuk orang-orang sebaik ini. Akhirnya, pilihan jatuh pada opsi terakhir:

Kabur dengan sekoci. Paling tidak, di sekoci itu ada gelembung udara yang siap menyuplai udara pernapasan, sama seperti kapal besar ini. Sebuah kabut tipis mengitari kapal, disemburkan dari mesin di dekat tiang utama kapal. Carlos yang selama ini selalu menjaga mesin itu dalam kondisi prima, mengawasinya setiap detik. Bisa bahaya kalau mesin ini rusak.

Tak mudah untuk menemukan letak sekoci. Pertama-tama, Reinhart harus pura-pura baik pada Feliciano, si bosun ceroboh yang suka menjatuhkan barang dan tetap bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Cukup mudah, mengingat Feliciano adalah orang yang mudah bergaul dan—ehem—mudah ditipu. Reinhart cukup berkelit sedikit, bertanya ini dan itu, lalu detik berikutnya Feliciano sudah menunjukkan tiga buah sekoci berwarna hitam di lambung kapal.

Reinhart tersenyum gembira—sembunyi-sembunyi, tentu saja—ketika melihat deretan sekoci menggantung. Tali-tali besar dan kuat menggantung bagian depan serta belakang kapal pada sebuah katrol besi yang sudah karatan. Tali-tali yang menyambung dari katrol tersebut terus mengitari langit-langit lambung kapal dan berakhir di sebuah pasak sederhana dimana tali digulung lalu diikat. Sistem sederhana yang mudah untuk dilepas kapan saja. Sementara itu, di bawah sekoci-sekoci terdapat dua pintu yang nanti akan terbuka. Panelnya begitu tebal dan dilapisi rangka besi dengan beberapa mekanisme yang agak rumit. Yang satu ini sepertinya digerakkan dengan mesin.

"Bagaimana?" tanya Feliciano dengan nada suara yang gembira. Ia menatap gembira deretan sekoci sederhana dengan layar solar yang tertutup rapi. "Kapten yang memintaku untuk membuatnya, vee! Bagus, yaaa~"

Reinhart hanya bisa memaksakan tawa, bingung harus membalas apa. Fokusnya sekarang tertuju pada panel ganda di bawah sekoci. Sepertinya dikunci dengan sebuah sistem yang cukup rumit dan... Ah, beruntung. Tombol pembukanya tidak terlalu jauh dari sekoci, memudahkan pergerakannya nanti.

'Kenapa harus tunggu nanti kalau bisa sekarang?' pikir Reinhart sambil tersenyum kecil. Ia hanya perlu menyingkirkan Feliciano, lari ke tombol, buka panel, dan turunkan sekocinya. Beres. Dia bisa kabur secepat mungkin dari kapal brengsek ini. Toh, sepertinya mengelabui seorang awak kapal dengan baju pelaut biru-putih ini tidak terlalu sulit.

Sang soldier IGSP memutar tubuhnya dan tersenyum lebar. Feliciano langsung membalas senyum Reinhart dengan senyum gembira dan 'veee' panjang—yang sampai sekarang tak diketahui makna sebenarnya oleh Reinhart. Ia lalu mendongak dan menyapukan jarinya, mengusap badan sekoci yang begitu licin. Khas kayu-kayu produksi Mediteran. Licin, halus, berkilau kehitaman, dan—yang paling penting—tahan api serta mampu bertahan menembus atmosfer. Bahan kayu yang unik, tak ditemukan di planet manapun. Dirakit dengan begitu sempurna oleh tangan-tangan terampil seorang Feliciano. Meskipun pemuda yang seperti anak kecil kelebihan gula ini tak menjalankan tugas sebagai bosun dengan baik—dan lebih sering terlihat berlarian mengikuti Laura sambil mengemis pasta atau duduk di geladak seraya mencoret-coret di atas pad—keahliannya sebagai seorang carpenter memang tidak diragukan lagi. Kapalnya begitu kuat, namun indah.

Hmm... melukis dan segala hal tentang rakit merakit, ya...

"Kau benar, Feliciano." ucap Reinhart santai. Ia tersenyum lebar ke arah awak kapal berambut cokelat muda itu dan melanjutkan, "Ini kapal yang cantik. Aku jadi ingin melukisnya, mengabadikannya di atas pad."

Mendengar kata 'melukis' membuat kedua kelereng cokelat Feliciano membulat, antusias. Laki-laki yang entah berapa umurnya ini melompat-lompat gembira dan meraih tangan Reinhart, meremasnya senang. "Veeeee! Kau bisa menggambar juga? Kenapa kau tidak cerita, veee~ Kita bisa menggambar bersama di atas tiang pengawas! Kau tahu? Kabut galaksi dan ledakan supernova yang jauh di luar sana itu sangat indah, ve!"

Reinhart hanya tertawa kecil. Ia menundukkan kepalanya, belagak sedih. "Aku juga inginnya begitu. Tapi, aku tak punya pena ataupun pad..."

Feliciano tak bisa diam begitu saja ketika mendengar keluhan sesama artis. Dengan raut wajah tegas, ia menegapkan tubuhnya dan berkata lantang, "Baiklah kalau begitu, ve! Kau tunggu di sini, ya! Aku ambilkan peralatan gambarku! Kita gambar sekoci buatanku ini bersama-sama, yaa~"

Tak perlu mendengar persetujuan atau penolakan dari Reinhart, si awak kapal La Sagrada berambut cokelat menjuntai itu langsung lari, kembali ke geladak dan menuju kamarnya, meninggalkan Reinhart seorang diri di lambung kapal. Seorang diri dan mudah mengakses jalur pelarian.

Reinhart tak bisa menyembunyikan tawa liciknya saat sosok Feliciano akhirnya menghilang. Segera, sang pemuda bermata abu-abu itu berlari ke tombol. Ia menekan-nekan beberapa tombol—mengerang kesal setiap kali gagal—hingga akhirnya panel ganda di bawah sekoci terbuka. Awalnya, Reinhart sempat panik, takut kalau bunyi mesin yang bekerja membuka panel akan mengundang orang datang. Tapi, beruntung saja suaranya tidak seberisik yang ia duga.

Proses pembukaannya juga tidak memakan waktu lama. Dalam sekejap, perut kapal sudah terbuka. Tak mau menunggu lagi, Reinhart langsung menuju tali sekoci dililitkan. Rupanya melepaskan lilitan tali pada pasak itu lebih sulit ketimbang membuka panel ganda barusan. Entah dengan simpul apa para space pirate ini mengencangkan talinya. Beruntung Reinhart cepat tanggap dalam menyelesaikan masalah seperti ini. Meski memakan waktu cukup lama, satu buah sekoci sudah turun dan mengambang di bawah La Sagrada, siap dinaiki. Layarnya masih menutup, menunggu untuk dikembangkan. Kabut tipis mulai menyelimuti sekoci tepat saat sekoci meninggalkan kapal.

Reinhart kali ini tak bisa berhenti tertawa. Ia benar-benar bangga dengan pencapaiannya: kabur dari kapal seorang space pirate, terutama perompak dari Mediteran yang cukup disegani. Tanpa pikir panjang, ia langsung melompat ke atas sekoci dan mulai bergerak untuk melepaskan layar kapal. Sebentar lagi, dia bisa kabur yang jauh dari La Sagrada.

Sialnya, harapan itu langsung kadas saat Reinhart melhat sebuah kotak transparan—lengkap dengan tombol-tombol numerik—mengurung simpul layar. Layar solar brengsek ini rupanya dikunci dengan sebuah password.

Rasanya seperti ditiban meteor.

Orang bodoh macam apa yang memasang kunci pada sekoci? Sekoci itu untuk keadaan darurat! Mana ada orang yang mengingat password—sesingkat dan semudah apapun itu—dalam keadaan darurat? Yang terpikir paling hanya cara tercepat untuk kabur, panik.

"Mau mencoba kabur, Senor Carta?"

Seruan nyaring dari atas membuat Reinhart mendongak dan bertatap muka dengan Antonio, Feliciano, dan Lovino. Ketiganya memandang tahanan mereka dengan ekspresi bermacam-macam—Lovino dengan tampang acuh tak acuh, Feliciano dengan gembira serta senyum mengembang, dan Antonio sambil tersenyum sambil melambaikan tangan.

"Aku tahu kalau kau mau mencoba kabur dengan sekoci. Makanya, aku meminta tolong Lovi untuk memasang kunci khusus di simpul layar." kata Antonio, masih tertawa melihat raut kebingungan di wajah Reinhart.

"Jangan panggil aku Lovi, bastardo!" desis Lovino, kesal dengan pemenggalan nama semena-mena oleh sang kapten La Sagrada. Matanya mendelik tajam ke arah Antonio sebelum berbalik dan berteriak, "Feliciano! Bantu aku menarik sekocinya!"

"Aye, fratello!" balas Feliciano antusias dan berlari membantu kakaknya.

Awalnya, Reinhart sempat bingung dengan omongan Lovino. Dia sudah di bawah sini. Tak mungkin ada tali—oh. Rupanya Reinhart salah duga. Talinya tidak akan lepas sebelum layarnya dibuka. Sistem yang Reinhart curiga dibuat oleh si kapten kapal yang curigaan—atau kelewat hati-hati, entahlah.

Dalam waktu beberapa menit, akhirnya sekoci yang dinaiki Reinhart kembali ke dalam kapal. Lovino—dengan tampang masam—menutup pintu lambung kapal dan melengos keluar. Feliciano, semula tampak bingung mau tinggal barang sejenak atau mengikuti kakaknya, tapi akhirnya berlari mengikuti sang kakak. Sekarang, tinggal Reinhart dan Antonio di sana.

Antonio menatap Reinhart yang menunduk sambil menggumam tak jelas—sepertinya rutukan dalam deretan kalimat panjang yang terlalu kasar. Sang kapten La Sagrada hanya tersenyum kecil melihat sikap Reinhart dan menepuk lembut pundak sang pemuda.

"Santai saja di kapal ini, Reinhart." kata si kapten bermata hijau. "Kami tidak memperlakukanmu dengan buruk, kan? Apa yang membuatmu tak kerasan di sini?"

"Semuanya. Aku benci kapal ini, awaknya, makanannnya, semuanya! Terutama kau!" geram Reinhart. Dia menepis tangan Antonio dari pundaknya dan berjalan kembali ke kamarnya.

Antonio berlari mengikuti Reinhart, berusaha mengimbangi langkah panjang—cenderung berlari—Reinhart sambil berkata, "Kau tidak suka kapal ini? Bukankah kapal ini cantik? Kudengar dari Feliciano, kau memuji kapal ini, kan? Dan makanannya tak enak? Aah, kau ini bisa saja, Senor Carta! Masakan Laura itu yang paling enak seluruh Mediteran! Tak mungkin kau tidak suka masakannya. Lalu, bukankah awakku sangat ramah padamu? Oke, mungkin Lovi tidak seramah itu—"

"AKU DENGAR ITU, BRENGSEK! SEKALI LAGI KAU PANGGIL AKU LOVI, KUPOTONG KEMALUANMU DENGAN PISAU LASER!"

Sejenak Reinhart dan Antonio terdiam dan mendongak takut ke atas. Di sana, di dalam pos pengawas, Lovino duduk bersandar pada tiang kapal. Namun, ancaman paling sadis dari Lovino sepertinya tidak digubris oleh Antonio. Buktinya, si kapten La Sagrada malah berkata, "Aaw, Lovi~ Tapi, itu panggilan sayangku untukmu~ Lagipula, itu manis, lho~"

Tanpa peringatan apapun, Lovino mengeluarkan pistol lasernya dan menembak ke arah Antonio. Beruntung si kapten berambut cokelat panjang itu berhasil menghindar. Kalau tidak, bekas gosong yang menghiasi lantai geladak justru ada di kakinya. Bahkan Reinhart ragu kalau si kapten masih akan mempunyai kaki gara-gara tembakan itu...

"Fratello! Aku baru membersihkan lantainya, veeee!" Protes keras diutarakan oleh Feliciano. Pemuda manis itu menggembungkan pipinya, kesal.

Lovino sendiri tidak ambil peduli dan kembali santai di atas menara pengawas. Sebuah holo-pad berada di pangkuannya, entah untuk apa.

Antonio, si kapten cuek satu ini malah merengkuh pundak Reinhart dan menggiring pemuda berambut hitam ini kembali ke kamarnya. "Bagaimana kalau kau kembali saja ke kamar dan lupakan apa yang barusan terjadi, Senor Carta?"

"Memang aku mau ke kamarku!" bentak Reinhart. Ia mendorong tubuh Antonio menjauh dan bergegas menuju kamarnya sendiri. "Dan namaku bukan Senor Carta! Aku Reinhart!"

"Kau yakin namamu Reinhart?" tanya Antonio. "Dari apa yang kulihat di holo-pad kemarin, namamu juga bukan Reinhart. Bahkan keluargamu yang kau kenal selama ini belum tentu adalah keluarga aslimu. Malah mungkin julukanku untukmu itu yang lebih pas."

Kesal dengan omongan Antonio, Reinhart menampar kapten bermata hijau itu. Emosi membeludak, bercampur aduk di dalam dada. Bibirnya terkatup rapat. Tanpa menunggu reaksi dari Antonio, Reinhart segera berbalik dan melesat ke kamarnya. Dengan suara keras, ia membanting pintu kayu tersebut. Tubuhnya melesak turun dengan punggung bertumpu pada daun pintu.

Jauh di dalam lubuk hatinya, Reinhart sadar bahwa omongan Antonio itu benar. Sejak menerima holo-pad itu dari Antonio, pemuda bermata abu-abu ini mulai mempertanyakan siapa ia sebenarnya. Benarkah namanya Reinhart? Benarkah Gilbert dan Ludwig kakaknya? Benarkah sosok ayah yang selama ini ia kenal memang ayah kandungnya? Atau jangan-jangan, kehidupan yang selama ini ia jalani hanya sebuah kebohongan besar. Sebuah konspirasi yang dijalankan dengan begitu rapi untuk mendapatkan keuntungan darinya.

Untuk mendapatkan peta di tangannya.

Reinhart sekarang tak tahu harus mempercayai siapa. Baginya, semua orang melihatnya sebagai harta karun berjalan yang akan membawa keuntungan besar. Semuanya hanya ingin mengambil untung darinya, tak satu pun peduli padanya.

Bahkan Reinhart tak bisa mempercayai otaknya lagi.


Goncangan keras membangunkan Reinhart dari tidurnya. Pemuda berambut hitam itu mengerang pelan dan mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengenali ruangan dimana ia berada. Rupanya, ia masih berada di dalam kamarnya dan sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Reinhart tak ingat kapan ia merangkak naik ke tempat tidur. Ia bahkan tak ingat kapan ia terlelap.

Kembali satu goncangan keras menghantam kapal, membuat Reinhart nyaris jatuh dari tempat tidur. Beruntung ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya sebelum jatuh. Tapi, bunyi denting benda logam dan tangan kanannya yang tertarik membuat Reinhart sadar bahwa ada yang tak beres. Sesuatu terjadi padanya selama ia tertidur tadi. Hati Reinhart mencelos saat ia melihat apa yang terjadi pada tangan kanannya.

Di pergelangan tangan kanannya sekarang melingkar sebuah rantai sepanjang lima puluh sentimeter yang tersambung ke sebuah pasak berlubang. Reinhart yakin kalau rantai ini tak bisa dibuka begitu saja tanpa kunci.

"Oh. Rupanya kau sudah bangun."

Reinhart mendongak dan bertemu dengan pemilik suara malas-malasan yang baru sampai. Rupanya Lovino. Ia masuk dengan membawa senampan penuh makanan dan juga minuman. Sepertinya ia diperintahkan Antonio atau Laura untuk membawakan Reinhart makanan, mengingat dirinya tak mungkin turun ke dapur dan mengambil makanan sendiri.

Lovino berjalan mendekat dan meletakkan nampan berisi makanan dan mengambil bangku berlapis beludru tak jauh dari tempat tidur Reinhart. "Makan sana. Aku sudah repot-repot membawakannya untukmu." gumam Lovino ogah-ogahan.

Reinhart melirik nampan dan menemukan—lagi-lagi—pasta. Sepertinya Feliciano berhasil membujuk Laura untuk memasakkan seluruh crew pasta, entah untuk keberapa kalinya. "Aku tidak lapar." gumam Reinhart. Ia kembali menarik tangan kanannya, berusaha untuk melepaskan rantai yang mengekangnya. "Ugh! Kenapa tiba-tiba ada rantai di sini, sih?" gerutunya.

"Antonio brengsek itu yang memintaku untuk memasangnya." sahut Lovino acuh tak acuh. "Katanya untuk menghindari tindakan bodoh dan cerobohmu sebelum ini. Bagaimanapun juga, kita tidak mungkin bisa sampai ke Treasure Planet tanpa peta di tanganmu itu."

"Ya. Tapi, kalian berdua tetap tidak bisa ke mana-mana hanya dengan sebelah peta!" desis Reinhart sambil menunjukkan gurat luka di tangan kirinya. "Kalian harus menemukan peta yang sebelahnya lagi."

"Willem sedang dalam perjalanan mencari peta sebelahnya." kata Lovino, santai. "Dan supaya tidak membuang waktu, kita sekarang sedang menuju tempat Willem berada."

Tepat saat Lovino menutup mulutnya, kapal kembali berguncang cukup keras, nyaris menjatuhkan nampan makanan dari atas meja. "Guncangan apa ini?" seru Reinhart kesal. "Berkali-kali aku merasakan guncangan keras dan—"

"Kau ingat tidak tugas Willem terakhir?"

Pertanyaan Lovino membuat Reinhart terdiam. Keningnya berkerenyit, mencoba untuk mengingat-ingat apa yang diceritakan Willem saat pertemuan terakhir mereka. Kalau tak salah, pemuda berambut pirang itu mengatakan tentang tugas barunya di sebuah planet. Bumi...

"Peta yang sebelah ada di Bumi...?" ucap Reinhart tak percaya. "Bagaimana kalian..."

"Kapten La Sagrada yang terdahulu, kakak Antonio, berhasil melacak seorang mantan kapal Flying Dragon. Meskipun kondisinya tidak sebaik ia bekerja dulu, ingatannya masih cukup kuat. Ia mampu memberikan informasi yang cukup bagi Kapten untuk melacak peta yang sebelah." Lovino kemudian mendongakkan kepalanya dan menatap Reinhart. "Sebenarnya, sih, kami mendapatkan holo-pad berisi wasiat Kapten Flying Dragon. Dari situ, kami menyelidiki siapa saja orang-orang yang mempunyai bekas luka mirip dengan yang ada di holo-pad."

"Jadi, sekarang kita di..."

"Cincin asteroid Saturnus." ucap Lovino. "Guncangan yang tadi kau rasakan adalah gerakan kapal yang menghindari beberapa asteroid besar. Si bodoh satu itu memang tak pernah pandai mengendalikan kapal besar ini, tidak seperti kakaknya." cemooh Lovino.

Tak terlalu heran saat mendengar berita itu dari mulut seorang Lovino. Dilihat kesehariannya saja Antonio memang santai dan seenaknya sendiri, juga sedikit ceroboh. Wajar kalau berkali-kali kapalnya ini nyaris menabrak asteroid. Padahal asteroid-asteroid ini dalam keadaan diam—oke, agak bergerak sedikit—meskipun memang padat dan berdekatan satu dengan yang lainnya.

"Yang membuatku khawatir sebenarnya adalah sekumpulan perompak Europian..." gumam Lovino. Baru kali ini Reinhart melihat ekspresi khawatir di wajah Lovino. "Terakhir kali kami berselisih dengan mereka adalah di space port Neptune, tak jauh dari sini. Entah kenapa aku agak khawatir akan bertemu dengan mereka lagi..."

Daripada memikirkan kapal yang bergoyang-goyang atau sekelompok space pirate lain, lebih baik Reinhart memikirkan cara yang paling tepat untuk lepas dari rantai ini. Dia tak mau diikat seperti ini, layaknya seorang tahanan.

Hm... Kalau tak salah, Lovino sendiri yang bilang kalau ia yang memasang kunci itu pada Reinhart. Mungkin, dia punya kuncinya.

"Hei, Lovino." gumam Reinhart ragu-ragu. "Kau tadi bilang kalau kau yang mengunci rantai ini. Mungkinkah—"

"Sampai Sirius menyusut jadi sebesar Io, aku tak akan tertipu seperti Feli." kata Lovino. Ia sekarang sibuk membuka-buka holo-pad. Jarinya bergerak dengan cepat menelusuri layar touch screen dan matanya memperhatikan tiap detail yang ditunjukkan pada hologram. Rupanya, holo-pad yang dipegangnya selama ini adalah holo-pad yang memantau kondisi fisik La Sagrada. "Si bodoh itu menggores sisi kanan kapal! Biar kugusur si bodoh itu dari kemudi! Masih lebih halus Carlos yang mengemudi ketimbang Antonio!" gerutu Lovino seraya beranjak dari tempat duduknya.

Reinhart menghela napas panjang, putus asa untuk bisa lepas dari belenggu di tangannya. Lovino memang berbeda dengan Feliciano yang mudah diperdaya, tapi dia sama cerobohnya dengan adik kembarnya. Mungkin dengan sedikit kesempatan dan kecepatan tangan, Reinhart bisa mengambil kunci elektrik yang menonjol dari saku dada sang gunner.

Tiba-tiba saja, kapal kembali mengalami guncangan keras. Sepertinya menghindari asteroid besar yang entah tak terlihat oleh pengemudi atau mendadak melayang ke arah kapal. Tapi, karena guncangan tersebut, tubuh Lovino menjadi limbung dan tak sengaja jatuh meniban Reinhart yang masih berbaring di atas tempat tidur.

Lovino dan Reinhart terdiam. Keduanya terlalu kaget, apalagi saat bertemu pandang dengan begitu dekat. Hidung mereka nyaris bersentuhan dan mereka bisa merasakan detak jantung yang lainnya bertalu-talu, mendobrak dada dengan suara yang begitu keras.

Mungkin ini kesempatan yang ditunggu Reinhart...

Sebelum Lovino sempat mengangkat tubuhnya dan menjauh, Reinhart langsung melingkarkan tangan kirinya ke pundak Lovino, meraih kepala sang gunner. Sebelum Lovino sempat protes, bibirnya sudah dilumat duluan oleh Reinhart. Dicium dengan begini intesnya membuat otak Lovino serasa berhenti bekerja, seketika menjadi bubur. Perlahan, matanya menutup dan lidahnya mulai bergerak menelusuri bibir lembut pasangannya.

Bukan salah Lovino juga kalau dia menikmatinya. Sudah terlalu lama ia berada di kapal, mengarungi luar angkasa dan tak menemukan perempuan manis untuk digoda. Mau menggoda Laura, bisa-bisa dia dihajar Willem sampai semaput. Semua awak di kapal ini juga semuanya off-limit. Masa' iya dia mau bercumbu dengan adik kandungnya sendiri? Carlos yang sudah Lovino anggap sebagai paman juga bukan tipenya. Antonio... sampai bintang kehilangan daya gravitasi dan semua planet mengalami supernova, Lovino tak sudi berciuman dengan kapten La Sagrada itu.

Tapi, kalau yang ini, Lovino bisa membuat pengecualian.

Lovino sekarang sudah berlutut di atas tempat tidur, sementara ia masih sibuk menciumi Reinhart. Kedua tangannya berada di kiri dan kanan kepala si pemuda berambut hitam. Sementara itu, Reinhart sibuk menelusuri lekuk tubuh Lovino. Hingga akhirnya...

KLIK! KLIK!

Bunyi kunci yang terbuka dan menutup dengan cepat membuat Lovino membelalak lebar. Ia merasakan sesuatu melingkari tangan kirinya dan menyadari bahwa rantai yang semula melingkar di pergelangan tangan Reinhart sudah berpindah ke tangannya.

"BRENGSEK!" rutuk Lovino dengan wajah merah padam. Ia menarik liar rantai yang mengikatnya, berusaha untuk lepas. Mata cokelatnya semakin liar saat melihat Reinhart sudah berdiri dari tempat tidur sambil meremas-remas pergelangan tangan dimana rantai tadi mengirisnya. "Berani-beraninya kau berbuat licik seperti itu!"

Reinhart melemparkan kunci elektrik mungil berwarna perak entah ke mana dan tersenyum sinis. "Kau sendiri yang terpancing, kan?" balas Reinhart pedas. "Sekarang, saatnya aku pergi."

"Hei! Hei, kau mau ke mana?" seru Lovino. "Kau meninggalkanku sendirian di sini, hah?"

"Tentu saja. Untuk apa aku tetap di ruangan ini kalau bisa kabur sekarang? Selamat tinggal." kata Reinhart gembira. Ia melambai—mengejek—ke arah Lovino yang meronta di tempat tidur, berusaha keras untuk melepaskan rantai yang mengikat tangannya. Pemuda bermata abu-abu dengan helai ikal hitam itu hanya tertawa penuh kebahagiaan dan keluar dari kamar.

Reinhart berjalan dengan sangat hati-hati, berusaha untuk tidak bertemu dengan awak kapal La Sagrada lainnya. Semuanya tahu kalau dia dirantai ke tempat tidur supaya tidak bisa keluar. Agak aneh kalau sekarang dia ada di lorong kapal dan tidak di atas tempat tidur.

Akhirnya Reinhart sampai juga di geladak. Dia buru-buru menyembunyikan tubuhnya di balik tiang utama kapal saat melihat Antonio berdiri dengan gagahnya di balik kemudi kapal. Sang kapten mengenakan jubah merah darah yang sama saat ia bertemu dengan Reinhart dan sebuah topi hitam besar dengan bulu burung berwarna putih menjuntai.

"Ke mana aku harus pergi sekarang?" gumam Reinhart pada dirinya sendiri. "Hmm... Mungkin aku bisa memakai sekoci yang tadi. Pasti Antonio sudah membuka kuncinya. Toh, dia mengira aku aman dikurung di dalam kamar."

Memutuskan untuk menggunakan cara yang sama, Reinhart mulai berjalan perlahan-lahan ke lambung kapal. Sebentar lagi, dia bisa kabur dari kapal ini.

Sayangnya, sebuah guncangan keras membuat Reinhart hilang keseimbangan dan jatuh tersungkur ke atas lantai geladak.

Lebih sialnya lagi, guncangan barusan bukan karena asteroid, melainkan sebuah pesawat antariksa metalik berukuran besar yang mendadak muncul dari balik sebuah asteroid besar di sebelah kiri kapal. Kabel-kabel tebal meluncur keluar dari lubang kecil di moncong kapal dan langsung mencengkeram erat di pinggir La Sagrada, menggores sedikit kayu. Perlahan-lahan, dari bawah pesawat antariksa itu terbuka dan sebuah tangga muncul. Orang-orang dengan pedang dan pistol laser turun dengan cepat dari dalam kapal.

"Veee! Kapten, Kapten! Europian datang menyerang, veeee!" seru Feliciano panik dari menara pengawas.

Reinhart mengerang dan mengangkat tubuhnya perlahan-lahan. Kedua mata abu-abunya membelalak lebar saat melihat orang-orang berlarian ke atas geladak La Sagrada. Sepertinya rencana kaburnya harus ditunda dulu. Reinhart harus bisa selamat hidup-hidup dari perompak-perompak ini.

Antonio sepertinya menyadari apa yang terjadi. Dia mencabut pistol laser dari ikat pinggangnya dan meneriakkan perintah. "Carlos! Feli! Laura! Lovi! Cabut senjata kalian! Jangan mau mengalah dari mereka!"

Para crew La Sagrada langsung menghambur ke atas geladak kapal dengan senjata masing-masing—mayoritas pistol dan beberapa membawa belati. Menyadari kalau kedua kubu bergerak semakin mendekat ke arahnya, Reinhart bergegas menepi dan bersembunyi di balik sebuah jaring tebal. Reinhart meringkuk di balik jaring dan memperhatikan. Dalam hati, Reinhart panik mencari-cari barang apapun yang bisa dijadikan senjata. Dia tak mungkin bisa bertahan tanpa senjata dan perlawanan.

Antonio berjalan maju dengan pistol teracung. Mata hijaunya berkilat mengerikan dan senyuman menghilang dari wajahnya. "Mau apa kau kemari, Arthur?" desis Antonio penuh kebencian. "Bukannya kau sudah cukup membuat onar di atas La Sagrada dan membunuh kakakku?"

Seorang pemuda berambut pirang dengan alis luar biasa tebal tertawa. Ia menyibakkan jubah panjang berwarna birunya dan mencabut pistol lasernya sendiri. "Ah, kau pasti merindukanku, Antonio. Setelah sekian lama kita terpisah, aku tak bisa melupakan wajah manismu dan sifatmu yang berapi-api itu." Arthur mengarahkan moncong senjatanya ke kepala Antonio sambil tersenyum penuh kemenangan. "Nah, sebelum aku memerintahkan awakku untuk membantai seluruh awak kapalmu, lebih baik kau serahkan saja petanya padaku, Antonio. Kita bisa selesaikan ini dengan baik tanpa pertumpahan darah. Bagaimana?"

Ingin sekali Reinhart menghantamkan kepalanya ke benda keras apapun dan meratapi nasibnya yang naas. Dibawa kabur satu perompak dan sekarang malah diincar perompak lain. Yang lebih menyebalkan lagi adalah gaya bahasa si perompak berambut pirang. Dia bicara seolah-olah Reinhart itu hanyalah sebuah benda, bukan makhluk hidup. Menyebalkan.

"Tidak akan kuserahkan!" seru Antonio. "Kalau kau mau mengambilnya, langkahi dulu mayatku!"

Arthur terkekeh. Ia melirik crew yang ia bawa dari balik punggung sebelum kembali menatap Antonio. "Baiklah. Kalau itu memang yang kau inginkan, Antonio. Guys! Ambil petanya dan hancurkan yang lainnya!"

Raung perang memenuhi geladak kapal saat crew kapal Arthur mulai menyerang. Suara pedang beradu dan tembakan laser mulai memenuhi seluruh geladak La Sagrada. Beberapa awak kapal langsung menghadapi dua atau lebih musuh, mengingat jumlah awak Europian yang dibawa Arthur jauh lebih banyak dari awak La Sagrada.

Reinhart mulai gelisah di balik persembunyiannya. Tanpa senjata, ia tak bisa keluar. Sialnya, pertempuran sengit di luar sana mulai meluas dan nyaris mencapai tempatnya meringkuk sekarang. Dan entah kenapa, Reinhart teringat akan Lovino yang ia kurung di kamar. Mungkin, dia harus melepaskan si ahli senjata supaya bisa membantu teman-temannya. Toh, dia gunner-nya. Dia yang mengerti tentang persenjataan La Sagrada dan lain-lainnya.

"Hng... Mungkin aku harus kembali ke bawah dan melepaskan Lovino..." gumam Reinhart pada dirinya sendiri. Sungguh, ia merasa tak enak sekarang, apalagi kapal dalam keadaan kritis begini. "Argh! Kenapa perompak ini harus menyerang sekarang, sih? Aku kan, mau kabur!"

Memutuskan kalau berdiam diri tidak akan menghasilkan apa-apa, Reinhart mulai menyelinap keluar dari balik jalinan jaring. Perlahan-lahan, ia mulai merangkak menjauh dari jaring sambil menelusuri tepian kapal. Mata abu-abunya melirik waspada ke pertempuran sengit yang terjadi, berharap tidak akan ditemukan.

Sayang, Reinhart tak bisa mencapai tujuannya karena seseorang dengan... eh... pipa ledeng di tangan menarik kerah bajunya. Dengan kasar, pria bertubuh besar dengan senyum mengerikan itu mendorong tubuh kurus Reinhart ke tiang kapal dan berkata, "Petanya ketemu, da."

Reinhart tak tahu harus berkata apa. Ia terlalu shock dan takut untuk mengeluarkan sepenggal kata. Yang Reinhart tahu, dia tamat sekarang.

Tamat. Selesai. The end.

"Reinhart!" seru Antonio panik saat melihat seorang awak Bloody Mary—nama kapal yang dipimpin oleh Arthur—memepet tubuh kurus Reinhart ke tiang kapal. "Singkirkan tanganmu darinya!"

Reinhart tak bisa bergerak kemana-mana karena tangan besar si pria berpipa mencekik lehernya. Tiba-tiba saja dari sebelah kiri, seorang Europian lainnya—kali ini berambut pirang sebahu—menggamit tangannya. Senyum terukir di bibir pria itu sebelum ia berseru pada sang kapten, "Ivan menemukan petanya, Kapten! Dan..." Pria pirang itu lalu mengecup punggung tangan Reinhart dan mengedip. "Dia adalah peta termanis yang pernah kulihat."

Ingin rasanya Reinhart mencuci tangannya demi menghilangkan liur pria genit ini.

Arthur tertawa gembira dan berseru, "Kalau begitu, bawa petanya ke dalam kapal! Kita pergi sekarang. Urusan kita sudah beres!"

Antonio yang tak rela kehilangan peta berharganya kembali mengacungkan senjata dan menembak. Tembakannya nyaris mengenai kepala Arthur kalau saja sang kapten Bloody Mary tidak menghindar. "Sudah kubilang kau harus melangkahi mayatku terlebih dulu, Arthur!" jerit Antonio. Wajahnya memerah menahan emosi, sementara senjatanya masih teracung.

Sang kapten berambut pirang dengan mata hijau itu tertawa renyah, menertawakan Antonio yang keras kepala. "Kau sudah kalah, Antonio. Aku sudah dapat petanya dan awakmu kalah jumlah dari awakku. Mengalah saja. Mungkin, kalau kau mau mengalah dan menyerahkan dirimu padaku," Arthur melangkah maju dan meraih rahang Antonio, mendongakkan kepala sang kapten La Sagrada. "Aku bisa mengampuni nyawa para awak kapalmu serta kapal indahmu ini. Bagaimana?"

Antonio menggeram kesal dan menepis tangan Arthur. "Sampai kapanpun aku tak sudi mengalah padamu!"

"Begitu. Baiklah kalau begitu. Guys, bawa petanya ke dalam kapal! Aku mau mengambil satu suvenir lagi dari kapal ini." ucap Arthur sambil tersenyum gembira.

"Tak akan kubiarkan kau mengambil—"

Omongan Antonio terhenti di tengah jalan saat Arthur memukul perutnya, membuat kapten berambut cokelat ini jatuh tak sadarkan diri. Sebelum tubuhnya menghantam tanah, Arthur langsung meraih tubuh saingannya itu dan tersenyum. Dia memanggul tubuh Antonio di atas pundaknya dan berjalan santai, kembali ke dalam kapalnya.

"Kapten, mau kita apakan awak dan kapalnya?" tanya si pria berambut pirang sebahu.

"Bunuh saja semuanya." sahut Arthur enteng.

Reinhart berusaha memberontak saat ia diseret masuk ke dalam Bloody Mary. Mata abu-abunya menatap panik dan khawatir ke arah Antonio yang tak sadar dan La Sagrada yang semakin menjauh darinya. Ketika pintu Bloody Mary tertutup dan menjauh dari La Sagrada, Reinhart bisa mendengar suara dentuman keras seperti ledakan.

Apakah itu La Sagrada yang dihancurkan? Bagaimana dengan awaknya?

Dengan napas menderu, Reinhart pasrah diseret entah ke mana. Sekarang, ia hanya bisa berharap para perompak di sini sama ramahnya dengan awak La Sagrada.

Meski ia ragu akan itu...

To Be Continued


A/N: akhirnya kelar jugaaa! *sujud sembah* Maaf, adegan berantemnya super abalita, gak digambarin pula. Mana kapalnya si Arthur juga gak jelas wujudnya... Maaf... QAQ Ngomong-ngomong, bales review langsung di sini, yaaa~ :D

HarunoZuka: Iya, Laura itu Belgium :D Maap, saya lupa ngasih keterangan di chapter kemaren... Malay? Kenapa Malay harus nongol? O.o #eh Sip! Ini udah di-update! :D Makasih reviewnya, yaaa.

Hkr-11: makasih udah mau nyapuin typo saya... TTwTT #peluk nanti kalo saya sempet, saya benerin, deh. Hohoho~ :D Masalah pernapasan di chapter ini udah dikasih tau. Utang saya lunas 1~ #eh Dan masalah oksigen, mari kita anggep semua makhluk di cerita ini bernapas juga dengan oksigen, jadi otomatis udaranya pas beroksigen #ngek Titan AE malah harus pake suit kalo keluar kapal, beda sm Treasure Planet yang dengan jagger keluar kapal bawa badan doang OAO Bukan. Yang Aryan itu German. Dutch itu saya bikin Mediteran 8D #ditampol Maksud tinggi tegap si Yao itu dia masih gagah biar udah tua. Gitu, lhoooo~ Asik, ya, gantungan bajunyaaa~ So hardcoooreee~~ XDD Blob itu... euh... susah neranginnya. Semacem bola, tapi gak bola. Kayak tetesan gitu. Saya juga bingung... O.o Reaksi Will pastinya dia adem ayem waktu tau pacarnya dibawa kabur sama La Sagrada. Kan dia sendiri yang bocorin posisi pacarnya :D Makasih review panjangnya, yaaa~ :D

Ry0kiku: Udah dua hari lebih saya gak liat dirimu. Apakah dirimu begitu berdedikasinya pada Bunga Item chapter 4 sampe gak nongol dimana-mana? QwQ Iyaaaa~ Saya ambil nama La Sagrada dari gereja yang sampe sekarang gak kelar-kelar itu~ :D Ohohoho~ Saya sengaja bikin nyerempet sejarah. Emang sengaja, kok. Biar kesan Hetalianya tetep ada. Hohohoho~ Bosun... semacam pengawas di geladak gitu kalo saya gak salah mengartikan dari wiki #plak Saya masih setia sama Kembang Item, kooook~ Semangat chapter 4-nya dan makasih reviewnya~ XDD

Athenne Thalia: Aawww~ dirimu review akhirnyaaaa~ XDD Tenang, saya juga sering nyolong hotspot kampus buat 9GAG-an, bukannya ngerjain tugas. Hohoho. Kita sehatiii~ #eh Reinhart jelas dilema gara-gara Willem. Kan dia udah terlanjur cinta mati seumur hidup QuQ Aduh, iya, nih. Saya masih kotor typo ficnyaaa... Makasih reviewnya, ya :D

Ferra Rii: Dirimu review lagi~ XDD Tapi, saya mau Nethere sama Denden aja OuO #eh Iya, sih. Saya juga agak ngerasa sebenernya. Nanti kalo sempet saya benerin. Makasih koreksinya, yaa :D Ma... masa saya dewa? OAO #malu #ngumpet Makasih reviewnya, yaa :D

Dumbass Crazy: Hmm... Klo ternyata di fic ini gak ada Indo gimana? 8DD #eh Iya, iyaaa~ Ini saya lanjutin dan makasih reviewnya XDD

Yukinaga ezakiya: Iya... Saya masih belom bisa rapi kalo nulis. Maaf, ya. Bacanya jadi keganggu. Nanti saya benerin kalo sempet... QuQ O... Oya? Waaah, makasih banget, ya. Saya seneng kalo ada yang seneng sama karya saya 8D #terharu Makasih reviewnya~ :D

Skadihelias: #peluk #kecup Abis ini saya review Third Era-mu, yaaa~ :D Pertanyaanmu sama kayak si Hkr. Udah dijawab di chapter ini, yaaa~ :D Ohohoho~ Saya emang ngambil dari nama gereja buatan Antoni Gaudi. Gereja super sinting yang gak kelar sampe sekarang, toloooonnnggg... =A= #eh Dan sejujurnya saya gak tau arti La Sagrada... #PLAK Sekali-kali, lah si Yao jadi tua beneran XD Dan... Kenapa harus Indo sama Malay? Bisa aja Hong Kong sama Japan. Atau North dan South Korea 8DD Emang Willem matre dari sononyaaaa~ XDD The Destroyer jadi antagonis? Babe Diet jadi tokoh antagonis? Hmm... Saya nyam-nyum aja yaaa~ Menanti spekulasi dirimu yang berikutnya setelah baca chapter ini dimana villain baru nongol! XD Makasih reviewnya! XDD

Sip! Semuanya udah dibales! Selamat membaca dan silakan review kalo mau~ :D