A/N: UAS mendekat. Internal mendekat. Dan saya belom kelar denah sama sekali, malah bikin fic ini. Saya siap matiiiiiii~ #stres Kalo orang-orang girang Desember dateng, saya malah panas-dingin... Desember punya julukan lain dari saya: Desember Deadline, Desember Derita, Desember meng-CAD, Desember Duit Saya Abis Buat Ngeprint DPT #ngek
Disclaimer: Segala karakter adalah kepunyaan Hidekazu Himaruya, kecuali OC-nya. Unsur-unsur lain yang mendukung cerita dan idenya datang dari film-film yang disebut di bawah nanti :D
Warning: Sho-ai. Hint UKEsp. Bajak laut dan kekerasan di akhir chapter. Typo.
Reinhart tak bisa berkutik saat dua orang pria—yang kemudian dia tahu bernama Ivan dan Francis—menyeretnya ke dalam badan kapal. Lorong sempit dan dominan putih dengan garis hitam di tepiannya mereka lewati. Entah mau ke mana mereka membawa Reinhart. Pemuda berambut hitam ikal itu hanya bisa pasrah saja diseret-seret. Dia tahu kalau tenaganya tidak akan sanggup melawan dua orang di sisi kiri dan kanannya ini.
Tapi, bukan Reinhart namanya kalau dia tidak mencoba untuk lari.
Di belokan yang cukup sempit, Reinhart melihat kesempatan emas. Dia sengaja mendorong Francis—pria berambut pirang sebahu dengan pakaian aneh berwarna biru-merah—dengan tubuhnya. Francis mengerang kesakitan saat tubuhnya didorong kasar sampai bertubrukan dengan dinding. Tak mau kehilangan kesempatan, Reinhart mengambil sebuah pistol laser dan mengacungkannya ke arah Ivan Braginski—pria aneh bermata violet yang memegang pipa.
Ivan melirik pistol di tangan Reinhart dengan senyum tersungging di bibirnya. Ia menepuk-nepuk pipa yang ia pegang ke pundak sambil berkata, "Kau tahu kalau benda yang kau pegang itu berbahaya, da? Kau bisa melukai orang nantinya."
"Ya. Aku akan melukaimu kalau kau tidak menunjukkan savety pod-nya sekarang!" desis Reinhart. Ia mengacungkan pistol bergantian pada Francis dan Ivan. "Tunjukkan padaku tempat savety pod! Biarkan aku pergi dan kalian akan selamat."
"Pft! Mon cher, kau tidak salah berkata?" kata Francis sambil tertawa. "Justru kau yang tidak akan selamat bila mengancam seperti itu."
"Diam kau, pria mesum! Aku yang pegang pistol di sini!" bentak Reinhart kesal.
"Ah, ya. Tapi, Ivan yang memegang pipanya."
"Heh?"
Sebelum Reinhart mendapatkan jawaban, Ivan segera maju dan menghantamkan pipanya ke perut Reinhart. Sang pemuda berambut hitam itu merunduk kesakitan sambil memegangi perutnya. Pistol di tangannya terarah ke bawah untuk beberapa detik, tapi itu semua cukup bagi Francis untuk meraih Reinhart dan memutarnya ke belakang punggung sang pemuda bermata abu-abu. Kembali mulut Reinhart menjerit kesakitan saat tangannya dipelintir ke belakang dengan begitu menyakitkan. Ia bisa merasakan pistol laser perlahan-lahan diambil dari tangannya dan berpindah ke kepalanya.
"Nice move, tapi sayangnya Ivan jauh lebih cepat darimu, bocah." ejek Francis. Ia menekankan ujung pistol semakin keras ke batok kepala Reinhart. "Mulai sekarang, jaga sikapmu, bebe. Karena sedikit saja aku melihatmu bertingkah, tak peduli apa pun perintah Kapten, aku akan menghancurkan kepalamu. Kau mengerti?"
Reinhart bisa merasakan betapa seriusnya pria ini. Ia menelan ludah dan mengangguk dengan berat hati.
Francis tersenyum cerah dan menjauhkan pistol dari kepala tawanannya. Ia meraih lengan Reinhart dan menarik pemuda itu berdiri. Tepat saat ia berdiri, Reinhart merasakan pistol yang sama menusuk di belakang punggungnya. "Mari kita lanjutkan perjalanan kita. Jangan berani berbuat macam-macam kalau tak mau punggungmu berlubang." bisik Francis tepat di samping telinga Reinhart.
Tahu kalau ia tak bisa berbuat banyak dengan pistol di punggungnya, Reinhart menuruti keinginan Francis. Ia berjalan mengikuti bimbingan Ivan. Beberapa ruangan kami lewati sampai akhirnya Ivan berhenti di sebuah pintu ganda. Panel pengunci yang ruwet terletak di samping pintu. Jelas sekali ini akan menjadi tempat dimana Reinhart akan ditawan selama perjalanannya dengan Bloody Mary.
Dengan sigap, Ivan menekan beberapa nomer di panel dan pintu terbuka. Tanpa banyak omong, Ivan mendorong Reinhart ke dalam ruangan dan menutup pintu tepat di depan hidung tawanannya.
Reinhart mengerang kesal dan memukul pintu di depannya. Ia tahu kalau sekarang sudah tak mungkin baginya untuk kabur. Sejauh yang ia tahu, ruang tahanan seperti ini tidak mempunyai pembuka dari dalam. Satu-satunya panel untuk membuka pintu itu hanya ada di sisi luar ruangan. Kecuali kalau Reinhart punya sebilah ligh—
Tiba-tiba saja dari arah belakang, seseorang menyergap Reinhart dari belakang dan memeluknya erat.
"Syukurlah kau tidak apa-apa, Rangga!"
Eh?
Hetalia Axis Powers copyright owned by Hidekazu Himaruya
Treasure Planet copyright owned by Walt Disney Picture
Titan A.E. copyright owned by 20th Century Fox
Treasure Island copyright owned by Robert Louis Stevenson
Pirates of Carribean copyright owned by Walt Disney Picture
Star Wars copyright owned by George Lucas
"Syukurlah kau tidak apa-apa, Rangga!"
Reinhart mengerenyit kebingungan. Orang yang sekarang memeluknya erat bagaikan tak bertemu puluhan tahun ini pasti salah orang. Dia bukan Rangga atau siapapun itu yang orang ini khawatirkan. Dia Reinhart Beilschmidt, bukan... entah siapa itu yang dimaksud orang ini.
Reinhart mendorong laki-laki itu—seorang pemuda mungil berambut hitam lurus dengan bola mata cokelat pekat—dan tersenyum canggung. "Um... Kau sepertinya salah orang, teman. Aku bukan Rangga atau siapapun yang kau maksudkan..."
Pria berambut hitam lurus itu mengerenyitkan keningnya, bingung dengan omongan Reinhart. "Kau ini bicara apa, Rangga-san. Jelas kalau kau ini Rangga, cucu Kapten Wang Yao!"
Oke. Sepertinya laki-laki ini sudah terlalu lama berada di baling kerangkeng kapal Bloody Mary. Otaknya mulai eror, tak berfungsi...
"Aku bukan Rang—"
"Oh, ayolah! Seharusnya kau sudah menyadari kalau ada yang tak beres dengan jati dirimu sejak kau melihat holo-pad berisi wasiat Kapten Yao, kan?" seru pemuda bermata cokelat itu. Ia jelas tampak lelah dan kesal dengan sikap keras kepala Reinhart.
"... Bagaimana kau tahu tentang—"
"Jelas aku tahu!" jerit pemuda itu. "Aku ini mantan awak Flying Dragon! Aku sengaja memberikan holo-pad itu kepada Fernando sebelum ia dibunuh Kirkland untuk menemukanmu! Aku Honda Kiku, orang yang menyimpan cincin untuk membuka peta di tanganmu."
Sepanjang penuturan, Reinhart hanya berdiri dengan mulut menganga lebar. Keningnya berkerenyit, berpikir keras dan tak tahu apa jawaban atas pertanyaannya sendiri. Ia yakin kalau segala pertanyaannya bisa dijawab dengan lancar oleh Kiku, tapi entah mengapa Reinhart merasa takut untuk mendengarnya.
"... Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Namaku Reinhart Beilschmidt, aku putra—"
"—bungsu Dietrich Beilschmidt, Jenderal pimpinan kapal Falcon dengan dua orang kakak. Kau benci dengan 'bekas luka' besar di tanganmu dan berusaha semampumu untuk menyembunyikannya. Kau gay dan menjalin hubungan rahasia dengan seorang Letnan IGSP bernama Willem van der Plast." sambung Kiku.
"Bagaimana kau—"
"Oh, ayolah!" jerit Kiku, stres. "Kau tahu jelas kalau kehidupanmu selama ini hanyalah sebuah setting bohongan yang diciptakan oleh Beilschmidt! Kau tahu pasti dan dalam penyangkalan betapa berbedanya kau dengan dua 'kakak'mu! Mereka berdua bertubuh besar dengan aksen Aryan yang khas!"
"Mereka bilang aku mirip dengan ibuku—"
"Oke. Kalau begitu, katakan padaku bagaimana ibumu."
Reinhart terdiam. Sejujurnya ia tak ingat bagaimana rupa ibunya. Tiap kali ia bertanya pada Dietrich, sang kapten Falcon sealu mengalihkan percakapan ke topik yang berbeda jauh. Awalnya ia berpikir kalau ayahnya tidak mau berbicara mengenai ibunya karena kehilangan wanita yang paling dikasihinya pasti sangat menyedihkan. Mungkin, dia tak mau membicarakannya karena...
Kiku tersenyum. Bukan senyum mengejek atau kepuasan, melainkan senyum kesedihan. "Kau lihat? Selama ini orang-orang yang kau anggap sebagai keluargamu hanyalah sekumpulan pembohong dan pembunuh berdarah dingin."
Sebentar. Pembunuh berdarah dingin? Itu informasi yang baru...
Melihat raut kebingungan di wajah Reinhart, Kiku mendesah. Pria berambut hitam itu berjalan dan duduk di sebuah tempat tidur mungil di sudut ruangan. Ia memberi isyarat kepada Reinhart untuk duduk di sampingnya dan mulai bercerita.
"Mungkin yang akan kuceritakan kali ini akan sangat mengagetkan bagimu. Aku akan menceritakan semuanya dari awal dan kau baru boleh bertanya—apa saja—saat aku selesai bercerita nanti. Kau setuju?"
Reinhart mengangguk pelan. Ia masih bimbang mau mendengarkan cerita ini atau tidak.
"Baiklah." Kiku menarik napas panjang sebelum memulai ceritanya. "Kau pasti sudah tahu cerita tentang Flying Dragon dari Antonio, jadi aku lewati saja bagian ini. Kita langsung ke faktanya sekarang.
"Kau adalah cucu Wang Yao, Kapten Flying Dragon yang termasyur. Namamu adalah Rangga Wicaksono dan kau punya seorang adik kembar bernama Razak. Peta yang ada di tangan kalian berdua adalah peta menuju Treasure Planet, tempat dimana ia menyimpan hasil rampasan Flying Dragon selama bertahun-tahun mengarungi luar angkasa.
"Sebelum kau bertanya kenapa petanya harus digambar di atas tangan kalian berdua, itu sebenarnya sebuah tindakan Kapten Yao untuk menjaga pusaka keluarga. Baginya, rampasan itu memang ia simpan untuk kalian, keluarganya yang terakhir. Itulah sebabnya ia memberikan peta itu di tangan kalian berdua. Dia tak mau orang lain mendapatkan peta itu. Ia bahkan menyembunyikan kenyataannya dari para awaknya, kecuali aku.
"Sayangnya, seorang awak Flying Dragon bernama Im Yong Soo mendengar secara tak langsung tentang peta itu. Lalu dia dan mulut besarnya itu mulai mengumbar cerita tentang harta karun serta petanya di setiap pelabuhan tempat kami singgah. Rumor segera menyebar luas sampai akhirnya terdengar oleh pihak IGSP.
"Waktu itu, Dietrich Beilschmidt baru saja diangkat sebagai kapten Falcon yang baru, Jenderal Besar yang memimpin seluruh pasukan IGSP. Dalam sekejap, pria yang sangat ambisius ini sudah menjadi musuh bebuyutan semua sapce pirate di luar angkasa. Semua orang akan gentar dan menangis ketakutan saat mendengar namanya. Semua, kecuali Kapten Yao.
"Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, rumor mengenai Treasure Planet dan tumpukan harta melimpah ruah telah sampai ke telinga IGSP dan yang mendengarnya secara langsung adalah Bielschmidt sendiri. Dia mulai terobsesi untuk menemukan Treasure Planet dan petanya, tak peduli dengan segala halang rintangan yang menghadang.
"Sebenarnya bukan hanya harta melimpah yang diincar Beilschmidt, tapi sebuah mata air yang berdiri di planet tersebut. Mata air yang dapat membuat siapa pun yang menegak airnya menjadi abadi selamanya. Orang tersebut akan kebal terhadap segala penyakit dan tanda-tanda penuaan. Mereka tak akan menjadi tua dan hidup abadi selamanya. Menurut dugaanku, mata air inilah yang diincar olehnya.
"Kembali lagi kepada Beilschmidt. Aku sudah bilang kalau ia akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Nah, selama bertahun-tahun dia melacak gerak Flying Dragon, berusaha untuk mengokupasi kapal tersebut dan merebut petanya dari Kapten Yao. Kapten menyadari bahwa keberadaanmu dan saudaramu dalam bahaya. Ia tak ingin cucu-cucu kesayangannya jatuh ke tangan orang berdarah dingin seperti Beilschmidt. Ia tak sanggup membayangkan penderitaan macam apa yang akan dialami cucunya.
"Maka dari itu, Kapten Yao memutuskan untuk memisahkan kalian berdua demi keselamatan kalian berdua. Ia pergi ke Bumi untuk menitipkan adikmu pada saudara jauhnya—seorang anggota senat. Dia sedang menuju tujuan berikutnya saat Falcon menghadang.
"Ah... Aku ingat betul bagaimana paniknya seluruh awak kapal saat melihat badan metalik Falcon yang begitu besar, muncul secara mendadak dari balik bulan Mars, tepat sebelum Flying Dragon melakukan space warp. Kami tak sempat berbuat apa-apa saat Falcon mendekat dan menyerang. Dalam sekejap, geladak kapal dipenuhi oleh para anggota IGSP.
"Kapten Yao segera membawaku ke savety pod bersama denganmu yang masih berumur lima tahun—tak tahu apa-apa dan hanya bisa terdiam ngeri. Kapten berkata, 'Kiku, bawa Rangga bersamamu. Aku mempercayaimu untuk menjaga keselataman cucuku.'
"'Lalu... Bagaimana denganmu, Kapten?' bisikku khawatir.
"'Tidak usah mengkhawatirkan aku, aru.' sahutnya. Ia lalu mengambil sebuah kotak berisi dua cincin emas—cincin untuk membuka petanya—dan menyerahkannya padaku. 'Ini. Bawa cincinnya dan pergilah, aru! Sebelum dia menemukan kalian berdua.'
"Sayangnya, aku tak berhasil menyelamatkanmu atau Kapten Yao. Tepat saat aku memasuki pod, satu pasukan IGSP datang menyerang. Mereka langsung menembaki ruangan pod, memaksa Kapten Yao untuk menutup dan meluncurkan pod yang kutumpangi untuk lepas. Tanpa dirimu.
"Dari kabar yang kudengar, tepat setelah kejadian itu, Beilschmidt mendadak mempunyai satu orang anak lagi yang entah dia dapat darimana." Kiku mendongak dan tersenyum sedih saat melihat raut kebingungan di wajah Reinhart. "Dia mengambilmu, Rangga-san. Membuatmu seolah-olah seperti anaknya sendiri."
Kiku menarik napas sejenak sebelum kembali melanjutkan, "Kau tahu kenapa Falcon mendapat julukan The Destroyer dari para space pirate? Karena dia menghancurkan Flying Dragon—kapal paling disegani oleh seluruhpemburu harta—hingga menjadi serpihan."
Penuturan panjang lebar seorang Honda Kiku membuat Reinhart semakin kebingungan. Dia tak tahu sekarang siapa dirinya. Hidupnya selama ini hanyalah kebohongan belaka dan dengan bodohnya ia menjalani begitu saja, tak tahu kalau selama ini semuanya hanya kebohongan.
"Aku... Aku bukan Rangga... Aku Beilschmidt..." gumam Reinhart pelan.
"Kalau kau memang yakin, ceritakan padaku bagaimana kehidupanmu sebelum umur lima tahun. Ceritakan padaku apa yang paling kau kenang selama itu?"
Reinhart terdiam. Jujur, ia tak tahu bagaimana kehidupannya sebelum umur lima tahun. Rekaman foto atau video juga tak ada.
Kiku tersenyum kecil dan menepuk-nepuk pundak Reinhart, mencoba untuk menghibur pemuda berambut hitam itu. "Beilschmidt sudah memanipulasi dan merubah ingatanmu. Entah bagaimana caranya, dia berhasil menanamkan sugesti dan memori implan ke dalam ingatanmu serta dua orang anak kandungnya."
Reinhart terhenyak. Tubuhnya merangsek lemas ke atas tempat tidur dan seolah kehilangan tenaga. Ia tak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, ia ingin menangis meraung-raung, meratapi identitasnya yang tak jelas, sekaligus mengamuk dan menghancurkan semua yang ada di depan matanya. Kalau perlu, ia akan cabut pistol lasernya dan menembaki semua orang. Semua, termasuk orang yang selama ini ia anggap sebagai ayahnya dan juga kekasihnya sendiri. Itu kalau Reinhart bertemu dengan mereka.
"Kau tahu? Ada satu cara untuk mengembalikan ingatanmu." bisik Kiku. "Kau ingat dengan mata air yang kusebutkan? Mata air yang bisa menyembuhkan dan memberi kehidupan abadi? Aku yakin kalau kau meminum air tersebut, kau juga bisa mengembalikan ingatanmu."
Reinhart mendongak dan menatap Kiku tak percaya. "Kau yakin? Jadi, aku harus mencari planet itu sendirian saat sedang ditawan seperti ini?"
Sang mantan awak Flying Dragon mendesah panjang dan menggaruk kepalanya. Dia sendiri juga bingung apa yang harus ia lakukan. Tertangkap oleh Arthur Kirkland, kapten Bloody Mary, bukanlah hal yang ia rencanakan dari awal. Masih mending kalau ia bertemu dengan La Sagrada. Hubungannya dengan awak kapal La Sagrada masih lebih baik ketimbang Bloody Mary.
Di tengah kebisuan, terdengar suara dengung mesin dan pintu ganda ruang tahanan terbuka. Di sana, berdiri seorang pemuda berambut pirang dengan kacamata. Jaket kulit tebal berwarna cokelat berlapis bulu. Celana jins biru dengan lubang-lubang di beberapa tempat membungkus kakinya. "Hei, kau yang berambut hitam ikal. Iggy memanggilmu." katanya dengan mulut penuh.
Ragu, Reinhart berdiri dari tempat duduknya dan berjalan lambat ke pintu keluar. Sebelum ia benar-benar melangkah keluar dari ruang tahanan, Reinhart menoleh ke balik punggungnya dan pandangan matanya bertemu dengan Kiku.
Dan sesaat, Reinhart tak ingin meninggalkan Kiku sendirian.
Ruang kerja yang sekaligus berfungsi sebagai kamar tidur sang kapten terletak di lantai paling atas Bloody Mary. Sama seperti setiap bagian dari kapal tersebut, ruangan itu didominasi warna hitam, putih, dan abu-abu. Dengan sedikit guratan warna biru dan cokelat di beberapa furniture-nya, ruangan ini cukup luas meskipun sedikit berantakan.
Reinhart melagnkah ragu ke dalam ruang kerja tersebut. Tadi, Alfred—pemuda yang mengantarnya—menyuruhnya untuk masuk sendiri karena ia masih harus memperbaiki beberapa kerusakan pasca pertarungan dengan La Sagrada. Reinhart juga sempat mendengar sekelumit omongan Alfred tentang dirinya yang kehabisan hamburger atau entah makanan apa.
Makanya, di sinilah Reinhart berada. Berdiri dengan ragu di depan pintu. Berkali-kali ia memindah-mindahkan berat tubuhnya ke kaki kiri dan kanan, tak tahu posisi mana yang paling nyaman. Mata abu-abunya menatap berkeliling, mencari-cari sosok kapten Bloody Mary. Sialnya, ia tak melihat sosok yang ia cari. Samar-samar, ia mendengar bunyi pancuran air.
"Hm... Mungkin dia sedang mandi." gumam Reinhart.
Sebenarnya Reinhart sempat terpikir untuk kabur, tapi ia ingat kalau Alfred sudah mengunci pintu itu dari luar. Tak mungkin ia bisa lolos begitu saja. Lagipula, ada password yang harus dimasukkan oleh Reinhart kalau mau membuka pintunya. Sialnya, dia tak tahu password-nya.
Memutuskan untuk pasrah saja dan menunggu, Reinhart berjalan mendekati sebuah peta besar dengan garis diagram berupa lingkaran dan beberapa garis yang memusat, hampir menyerupai pentagram. Rupanya itu peta gugusan bintang, planet, dan galaksi. Sebuat dot merah menunjukkan posisi Bloody Mary yang bergerak dengan cepat menuju Bumi. Beberapa titik kuning yang menyala tampak mengelilingi Bumi. Sepertinya itu menggambarkan jumlah kapal IGSP yang ada.
Sebuah gerakan di sudut ruangan menangkap perhatian Reinhart. Penasaran, pemuda berambut hitam itu berjalan hati-hati menuju asal suara. Rupanya berasal dari bawah meja kerja sang kapten Bloody Mary. Betapa terkejutnya Reinhart saat ia melongok ke balik meja.
Antonio, sang kapten La Sagrada terduduk lemas di bawah kaki meja. Kedua tangannya terikat di belakang punggung dan sekujur tubuhnya penuh luka yang terbilang baru—masih merah dan berdarah. Seutas tali tipis tampak melingkari leher sang kapten berambut cokelat dan diikatkan ke kaki meja.
"Antonio." bisik Reinhart panik. Ia segera berlutut di samping Antonio dan mencoba untuk melepaskan ikatan pada pergelangan tangan sang kapten sambil mencoba untuk menyadarkan pemuda itu. "Antonio, hei. Kau tidak apa-apa? Aku akan melepaskanmu segera."
Di saat Reinhart sibuk berkutat dengan simpul tali yang melilit pergelangan tangan Antonio, sebuah tentakel berwarna kebiruan meluncur maju dan melilit pergelangan tangannya. Tentakel itu menyentak tangan Reinhart, membuat pemuda itu tersentak dan terjungkal ke belakang.
"Bertindak gegabah sedikit saja, maka kau akan bernasib sama dengan Antonio."
Reinhart menoleh ke sumber suara dan melihat Arthur Kirkland berdiri sambil bersandar di dinding. Tubuhnya yang masih basah tertutupi oleh bath robe panjang berwarna biru. Mata Reinhart membelalak lebar saat melihat tentakel yang meilit tangannya ternyata tangan sang kapten Bloody Mary.
"Kau... shapeshifter..." gumam Reinhart dengan suara tercekat.
"Ah, kau ini seperti baru bertemu dengan Europian saja." ucap Arthur sambil tertawa. Ia menarik tentakelnya dan dalam sekejap tentakel kebiruan itu berubah menjadi tangan manusia. "Kami memang shapeshifter. Cukup membantu dalam beberapa kegiatan, termasuk yang tadi."
Reinhart bergidik geli, tak berani membayangkan apa yang dilakukan Arthur pada Antonio dengan tentakel barusan. Daripada dia harus menderita dengan mental image mengganggu mengenai tentakel, lebih baik Reinhart segera bertanya apa maksud dan tujuan Arthur memanggilnya.
"Kau memanggilku. Kenapa?"
"Ah, ya. Sebentar, biar kuambil cincinnya." Sang kapten berambut pirang itu berjalan ke sebuah kotak besi yang ditanam di dalam tembok kapal. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keypad dan kotak itu segera terbuka. Dia mengambil sebuah kotak kayu antik da membawanya ke atas meja. Arthur memberi sinyal kepada Reinhart untuk mendekat sebelum membuka kotak kayu tersebut. Di dalam kotak tersebut terdapat dua buah cincin emas yang identik.
Arthur mengambil satu cincin dan menyodorkannya kepada Reinhart. "Pakai." perintahnya.
"Kalau aku tak mau?"
"Pakai, atau kubunuh Antonio."
Reinhart mengerang sebal. Ia paling lemah kalau sudah diancam seperti ini. Hatinya tak pernah tega melihat orang lain tersiksa—apalagi mati terbunuh—karena dirinya. Sekalipun itu orang asing di pinggir jalan yang ia sendiri tak tahu namanya, Reinhart tak pernah tega.
"Baiklah..." gumam Reinhart pelan. Perlahan-lahan, Reinhart memasukkan cincin tersebut ke jari tengahnya dan... tidak cukup.
Reinhart dan Arthur menatap kebingungan cincin tersebut. "... Coba jari lainnya." usul Arthur.
"Kenapa kau tidak akui saja kalau kau salah tangkap? Aku bukan peta yang kau cari." gumam Reinhart.
"No. Aku yakin, kau petanya. Coba jari lain!" perintah Arthur. Kali ini dia mulai terdengar panik, takut kalau yang diomongkan Reinhart benar. Bagaimana kalau dia salah tangkap? Bagaimana kalau Reinhart bukan peta yang ia cari?
Mengikuti perintah Arthur, Reinhart mencoba untuk memasukkan cincin tersebut ke jari-jari lainnya. Setelah percobaan yang cukup memakan waktu, akhirnya Reinhart berhasil memasukkan cincin itu ke jari kelingkingnya. Tempat yang agak aneh menurut Reinhart untuk sebuah cincin...
Namun, tepat saat cincin itu menyentuh pangkal jarinya, Gurat luka di pergelangan tangan Reinhart mulai bersinar. Warna kemerahan yang selama ini menghiasi telapak tangannya telah berubah menjadi kilau keemasan yang cukup terang. Sekarang, garis dan kurva pada telapak tanganya semakin jelas. Bentuknya mengingatkan keduanya tentang—
"Peta galaksi?" bisik Arthur antusias. Matanya berbinar-binar ketika melihat peta di tangan Reinhart bersinar, menampakkan gurat-gurat yang ia hapal betul sebagai lintang kuadran yang membagi teritorial planet, galaksi, dan bintang. "Kemari!"
Arthur menarik Reinhart ke peta besar yang terpasang di dinding ruang kerjanya. Mata hijaunya menatap berbagai kelap-kelip bintang dan menelusuri garis kuadran dengan antusiasme tinggi. Sebentar lagi, dia akan menjadi space pirate paling disegani di seluruh galaksi. "Coba bentangkan tanganmu. Aku mau mencocokkan posisinya."
Tak bisa mengelak, Reinhart mengangkat tangan kirinya dan membentangkan jari-jarinya. Arthur lalu meraih pergelangan tangan Reinhart dan membimbing telapak tangan yang terentang itu ke posisi yang benar. Cukup lama keduanya berdiri di depan peta sambil menggerak-gerakkan tangan—sebetulnya yang lebih banyak bergerak itu Arthur sementara Reinhart hanya diam saja.
Setelah puluhan menit terlewati, akhirnya Arthur berhasil menemukan cara untuk mencocokkan peta di kapalnya dengan peta pada tangan Reinhart. Rupanya setiap kali ada bintang atau planet pada peta yang cocok dengan posisi bintang serta planet di tangan Reinhart, titik-titik keemasan itu akan bersinar semakin terang. Belum lagi sebuah panah kecil yang semula bergerak liar mengitari peta akan berhenti dan menunjuk ke satu titik.
Arthur tertawa gembira saat peta di tangan Reinhart menyala semakin terang. Tanda panah kecil di telapak tangan juga sudah berhenti bergerak, menunjuk entah ke mana, mendekati tepi telapak tangan. "Aku melihat Ophiuchus, Unukalhai, Merkurius, dan—"
Petanya terpotong. Arthur baru mendapatkan jawaban dari sebelah peta.
Sang kapten Bloody Mary mengerang kesal, sementara Reinhart tersenyum sinis. Sang pemuda berambut hitam ikal ini melirik sosok kapten bermata hijau dengan alis tebal di sampingnya dan berkata, "Kenapa? Kurang yang setengahnya, ya? Sayang sekali, ya. Peta yang satunya lagi tak ada."
Arthur mendengus sebelum menyahut, "Oh, kalau soal itu, kita tidak perlu khawatir. Aku sudah tahu kalau peta yang sebelahnya ada di Bumi. Sebentar lagi, aku akan mendapatkan kedua petanya dan aku akan kaya raya!" Sang kapten berambut pirang itu mengakhiri kalimatnya dengan tawa kemenangan.
"Kau yakin? Dengan sebegitu banyak kapal IGSP di sekitar Bumi, kau pasti akan langsung dihabisi." gumam Reinhart. Jujur, ia agak khawatir dengan misi kapal ini. Salah langkah sedikit saja meriam laser milik IGSP akan menghabisi mereka. "Belum lagi kondisi politik dan sosial di Bumi yang sedang kacau. Jangankan mencari peta yang satunya lagi. Aku saja tak yakin kalau kita bisa bertahan hidup nanti..."
"Kau ini terlalu khawatir, Mr. Map." kata Arthur santai. Pria beralis tebal itu berjalan ke coffee table dan menuangkan secangkir teh pekat. Sejenak ia sibuk meracik teh—memasukkan balok gula—sebelum berjalan menuju meja kerjanya. Reinhart sempat melihat sang Europian kembali mengubah lengannya menjadi sepasang tentakel. "Kapalku ini sangat kuat, berbeda dengan kapal kayu murahan milik si bodoh ini." Kali ini Reinhart mendengar Antonio mengerang kesakitan. Sepertinya baru ditendang oleh Arthur.
"Tapi, tetap saja—"
"Sudahlah. Kau tenang-tenang saja di ruang tahananmu sementara aku mencari cara untuk menyusup Bumi tanpa ketahuan oleh pihak IGSP."
Bertepatan dengan itu, Willem van der Plast dan pasukannya baru saja menginjakkan kaki di Bumi. Sang pria bertubuh tinggi besar dengan rambut pirang jabrik itu mengerenyitkan kening. Bumi yang dulu ia kenal sebagai planet biru yang cantik entah kenapa mulai berubah. Tanahnya gersang, Pepohonan sedikit, Langit pekat, dan airnya keruh.
"Aku tak ingat Bumi sudah berubah menjadi seperti ini..." gumam Willem pada prajuritnya, seorang Skandinavi bernama Magnus Densen. "Memangnya separah itu polusi dan pencemaran yang terjadi?"
"Kabarnya begitu." sahut Magnus enteng. Dia mengambil senapan lasernya, bersiap untuk perang. "Kau belum tahu, ya? Kudeta kali ini terjadi karena pelanggaran undang-undang anti polusi dan pencemaran antar galaktik. Kabar yang beredar adalah sang Raja terlalu tamak. Dia mengeruk segala hasil bumi sampai planetnya jadi seperti ini."
Willem mendengus. Dia tak terlalu ambil pusing mengenai urusan politik dan dalam negeri sebuah planet. Kali ini, ia harus menjalankan misinya dengan baik. Tak boleh sedikitpun ia lengah karena bahaya mengincar di segala sudut. Apalagi kalau seorang prajurit mengemban tugas ganda dari dua pemimpin yang berbeda.
Tugas Willem kali ini bukan hanya sekedar menjaga kedamaian, tapi juga menyelamatkan sebelah peta menuju Treasure Planet. Sesuai dengan yang diperintahkan Fernando dulu, sang pria berambut pirang jabrik ini menyusup ke dalam IGSP dan merambat naik hingga menjadi seorang Letnan demi menemukan kedua peta Treasure Planet—planet legendaris dengan harta rampasan Flying Dragon yang termasyur. Dia sudah menemukan sebelah peta di IGSP dan sekarang menjalankan misi selanjutnya untuk menemukan peta yang satunya lagi.
Bicara tentang peta, Willem jadi teringat pada sosok pemuda manis berambut hitam. Kenangan akan Reinhart membuat Willem merasa sangat bersalah. Sudah dua tahun sejak mereka bersama tak sekalipun Willem mencoba untuk mengungkap jati dirinya. Mungkin, dia harus mengakui semuanya setelah bertemu dengan Reinhart nanti. Dia juga harus minta maaf pada kekasihnya itu karena sudah menipu dan berkomplot dengan space pirate yang menculiknya dari Falcon.
Ya. Willem adalah orang brengsek yang mematikan shield generator Falcon supaya La Sagrada bisa menyerang dengan mudah, tepat sebelum ia berangkat ke Bumi.
Dia benar-benar harus meminta maaf pada Reinhart. Kalau perlu, sambil bertekuk lutut dan mencium kaki si pemuda manis itu.
"AWAS!"
Willem tersentak dari lamunannya saat Magnus mendorong tubuh tinggi sang Letnan merapat ke tembok. Tembakan beruntun dari pemberontak hampir tak terhindari bila Magnus tidak sigap mendorong Willem. Tembakan beruntun itu segera dibalas oleh Magnus dan Berwald. Beruntung dua orang yang masuk dalam skuad Willem ini adalah penembak terbaik yang dimiliki IGSP. Dalam waktu singkat, mereka berhasil melumpuhkan beberapa orang pemberontak.
"Anda tak apa-apa?" tanya Magnus setelah berhasil melumpuhkan lawan. Berwald sendiri sudah maju dengan beberapa orang prajurit untuk mengamankan perimeter.
"Ya. Aku tak apa-apa..." gumam Willem pelan. Dia menyesal sudah hilang fokus sesaat tadi. Bisa bahaya kalau ia lengah. Nyawa yang menjadi taruhan di sini. Perlahan, Willem mengangkat tubuhnya dan berdiri. Sesaat ia menarik napas dalam-dalam untuk menangkan diri dan berkata, "Ayo. Kita harus segera ke gedung senat. Misi kita adalah mengamankan para senator dan anggota keluarganya."
Beruntung area pendaratan kapal IGSP tidak terlalu jauh dari gedung senat. Dalam sekejap, pasukan IGSP berseragam hitam langsung mengamankan perimeter dan memblokir para pendemo serta pemberontak yang mencoba merangsek masuk. Namun, mereka tak bisa menahan lebih lama lagi mengingat jumlah mereka tak sebanyak para pemberontak yang berteriak-teriak, menyuarakan protesnya diiringi tembakan beruntun.
"Berwald, kau jaga perimeter dengan pasukanmu. Lukas, buat panggilan ke pesawat induk, katakan kalau kita butuh bala bantuan di sini. Tino, mulailah mendaratkan pod penyelamat. Magnus, kau dan pasukanmu ikut denganku. Kita masuk ke dalam dan mengamankan senator." perintah Willem. Sang Letnan IGSP itu lalu mengenakan sebuah goggle hitam—sebuah teknologi yang baru dikembangkan oleh pihak IGSP untuk mendeteksi panas tubuh dan melacak target. "Oh. Jangan lupa pakai kacamata infra-merah kalian. Gara-gara kudeta ini, perusahaan listrik mematikan suplai ke seluruh planet."
Para prajurit IGSP langsung berpencar ke tugasnya masing-masing. Tak ketinggalan, masing-masing mengenakan google sesuai dengan yang diperitahkan sang atasan.
Willem sendiri mulai bergerak masuk ke dalam gedung senat. Informasi terakhir yang ia dapat adalah berita bahwa sang senator terperangkap di gedung senat bersama dengan keluarganya. Sama seperti raja yang tinggal di istana, gedung senat ini juga menjadi rumah bagi keluarga senator.
Pintu masuk gedung senat sudah berhasil diamankan oleh Magnus dan satu kompi prajurit IGSP. Dengan gerak cepat dan lincah, mereka berhasil mengamankan para pemberontak yang berada di pintu utama. Beruntung bagi para anggota IGSP, mereka memiliki goggle infra-merah, tidak seperti para pemberontak yang hanya bermodal pistol serta senapan laser.
Suara tembakan serta jerit dan rintih kesakitan terdengar memenuhi lobi gedung senat. Rupanya jumlah pemberontak yang berhasil masuk ke gedung tidak sesedikit dugaan Willem. Sialnya lagi, sebagian besar dari pemberontak yang ada di dalam gedung merupakan staf senat sendiri. Sekali lagi, para anggota IGSP harus berterima kasih pada goggle yang mereka kenakan. Kalau bukan karena goggle ini, mereka akan sulit membedakan yang mana musuh dan bukan.
Goggle hitam yang cukup berat itu mempunyai teknologi pendeteksi panas dan tubuh manusia. Bukan sekedar mendeteksi, alat ini akan memberikan sinyal warna yang berbeda. Seperti pada misi saat ini, target—yang seluruh informasi kondisi fisik sudah dimasukkan ke dalam alat—akan berwarna biru saat terdeteksi nanti. Sementara untuk musuh, mereka akan terlihat seperti siluet manusia yang berwarna merah—terdeteksi dari postur tubuh menyerangnya. Lalu untuk anggota IGSP sendiri akan memancarkan warna hijau.
Alat yang sederhana, tapi sangat berguna saat menyerang di kegelapan seperti ini.
Oh, khusus untuk Willem, dia sudah mengutak-atik dan merubah data yang di-install ke dalam goggle-nya. Dia mengubah targetnya hanya menjadi satu orang: Razak. Dia tak peduli dengan senator atau yang lainnya. Ia mempunyai tugas untuk membawa Razak ke La Sagrada dan melengkapi petanya.
"Letnan, Emil menemukan Senator dan istrinya di ruang kerja." lapor Magnus, tepat saat keduanya sedang berlindung di balik tembok tebal. Seorang pemberontak sedang menembaki mereka dengan pistol lama dengan peluru. Kabarnya, peluru kecil dengan bubuk mesiu akan lebih sakit ketimbang tertembak laser.
"Bagus. Bagaimana dengan putra mereka?" tanya Willem, sedikit was-was.
Magnus mengangguk kecil dan menekan satu tombol mungil di alat komunikasinya. Beberapa detik yang singkat ia berbicara dengan rekan satu prajuritnya sebelum mendongak dan berkata, "Entahlah. Kata Emil, mereka hanya menemukan Senator Thai dan istrinya, Viet. Putra mereka masih tak—sebentar." Pemuda berambut pirang berantakan itu kembali berkonsentrasi mendengarkan penjelasan Emil melalui alat komunikasinya. "Ah, rupanya Razak berada di ruang persembunyian rahasia. Katanya, beberapa meter dari tempat kita berada sekarang."
"Baiklah." gumam Willem. Ia menarik napas dalam-dalam dan melirik ke balik tembok. Sepertinya si pemberontak sedang mengisi ulang senapan mesinnya. Tangannya yang gemetar ketakutan membuat proses pengisian ulang itu tersendat. "Apa dia mengatakan di mana letak pasti ruang persembunyian ini?"
Kembali Magnus berbisik-bisik ke alat komunikasinya sebelum mendongak dan menyahut, "Lorong di seberang sana. Belok ke kiri lalu ketuk empat kali di bawah lampu dinding ke empat sebelah kiri."
"Oke. Kalau begitu, biar aku saja yang ke sana. Kau dan yang lainnya segera amankan Senator!"
"Tapi, saya tak mungkin meninggalkan—"
"Ini perintah!" bentak Willem, membuat prajurit berambut pirang itu terlonjak.
Tanpa menunggu lagi, Willem segera berlari dan menyeberangi lorong yang cukup lebar itu. Sialnya, ia memutuskan untuk keluar tepat pada saat yang bersamaan dengan musuhnya yang sudah mengisi ulang senapan mesinnya. Melihat gerakan tiba-tiba dari arah kanan, sang musuh segera menembak membabi buta. Willem sendiri merasa beruntung mempunyai tubuh yang dapat bergerak lincah—terlatih untuk bergerak cepat di atas La Sagrada tiap kali mengamankan layar kapal dari solar flare. Dengan sigap, ia berhasil menghindari tembakan dan sampai di tujuannya.
Willem menarik napas panjang setelah berhasil melewati lorong dengan senapan mesin itu. Ia berhenti sejenak dan mengumpulkan napas sebelum kembali berlari. Berkali-kali omongan Magnus dia putar di kepala supaya tak lupa. Akhirnya, ia menemukan deretan lampu dinding yang dimaksud Magnus. Dengan sangat hati-hati, Willem menghitung jumlah lampu yang ia lewati. Langkahnya terhenti pada lampu keempat dan sejenak ia terdiam di depan dinding. Perlahan, ia mengulurkan tangan dan mengetuk dinding sebanyak empat kali kemudian menanti dengan cemas, khawatir kalau pintunya tak terbuka.
Beruntung, pintu itu segera menggeser ke samping dan menunjukkan sebuah ruangan yang cukup besar. Beberapa buah sumber cahaya membantu Willem untuk bisa melihat lebih jelas apa yang ada di dalam ruangan tersebut. Sebagian besar berupa harta kekayaan berbentuk emas, perhiasan, dan surat berharga. Sisanya adalah buku-buku kuno—yang Willem yakin menyimpan berbagai pengetahuan mengenai Bumi sejak jutaan tahun lalu—dan furniture antik lainnya.
Baru saja Willem melangkahkan kaki ke dalam ruangan, seseorang mencoba untuk menusuknya dengan sebuah pedang. Untung saja Willem cepat tanggap dan segera menghindar.
"Sebentar! Aku datang kemari untuk menyelamatkanmu!" seru Willem panik. Ia melepaskan goggle hitam dari wajahnya dan untuk pertama kalinya melihat langsung rupa penyerangnya.
Rambutnya hitam ikal dengan sepasang mata berwarna abu-abu. Tubuhnya cukup tinggi, meski tidak setinggi Willem. Warna kulitnya tampak agak kecokelatan—sawo matang. Secara fisik, pemuda ini begitu mirip dengan Reinhart.
"Mau apa kau kemari, rambut jabrik!" bentak Razak sengit.
Ah. Rupanya sifat galaknya juga sama dengan kakak kembarnya.
"Namaku Willem van der Plast. Aku anggota IGSP dan ditugaskan untuk mengamankanmu." jawab Willem. Mata hijaunya masih melirik khawatir ke arah mata pedang yang terarah kepadanya. Dia lalu berjalan menjauh, berusaha mengambil jarak—tak mau mengambil resiko tertusuk benda tajam itu. "Kedua orang tuamu sudah diamankan oleh prajuritku. Tinggal kau yang belum."
Razak melirik Willem dengan tatapan ragu. Kedua tangannya masih mencengkeram erat pegangan pedang, enggan untuk menurunkan barang satu inci. "Kau yakin hanya ingin menyelamatkanku?" bisiknya. "Tidakkah harta benda yang ada di ruangan ini membuatmu tergiur? Atau jangan-jangan kau mengincar kekayaan Bumi? Atau peta di tanganku?"
Omongan Razak yang terakhir sukses membuat Willem menaikkan kedua alisnya—bingung sekaligus terkejut. "Kau tahu kalau kalau luka di tanganmu itu peta?"
"Hah! Aku tahu kalau kau punya maksud buruk!" seru Razak penuh kemenangan. Pemuda berambut hitam ikal ini tiba-tiba menghunuskan pedangnya, nyaris memenggal kepala Willem apabila sang prajurit IGSP tidak segera menangkisnya dengan senapan.
"Tu... Tunggu sebentar! Memangnya kenapa kalau aku tahu tentang peta itu!" seru Willem, sedikit panik karena kemampuan bermain pedang Razak tidak bisa dibilang sepele. Berkali-kali kepalanya nyaris kena tebas. "Bagaimana kalau aku kenal dengan orang yang sama denganmu? Pemuda berwajah serupa denganmu yang mempunyai luka di tangan yang satunya lagi?"
Razak menghentikan serangannya. Otaknya bekerja dengan cepat untuk memproses informasi yang baru ia dapatkan. "Kau... Kenal dengan Rangga?" gumamnya tak jelas, nyaris tak terdengar.
Sesaat, Willem sempat bingung dengan siapa itu Rangga. Ia bahkan sempat ragu kalau mereka sedang membicarakan orang yang sama. Tapi, ia merasa tak perlu tahu tentang itu semua dan yakin kalau orang yang mereka maksudkan adalah satu orang yang sama.
"Ya. Rangga. Aku kenal dengan kakak kembarmu. Hei, bahkan kakakmu berada di kapal nanti. Kau bisa bertemu dengannya setelah bertahun-tahun tak bertemu." kata Willem, mencoba untuk membujuk Razak ikut dengannya secara sukarela.
"Kakakku ada di... sana?" bisik Razak. Ada sedikit nada takut sekaligus berharap. "Aku bisa bertemu dengan kakakku lagi?"
"Ya. Semakin cepat kita keluar dari Bumi, semakin cepat kita bertemu dengan kakakmu. Ayo!" Willem mengulurkan tangannya, mengajak Razak untuk pergi dari ruangan itu dan segera menuju La Sagrada. Ah, ya. Masalah kapal mana yang akan mereka naiki nanti lebih baik dijelaskan ketika mereka sudah berada di atas kapalnya. "Lebih lama lagi kita berada di sini bisa bahaya. Aku tak tahu sampai kapan IGSP bisa menahan para pemberontak itu. Prioritas saat ini adalah mengamankanmu dan keluargamu." Salah. Mengamankan petanya.
Razak mengangguk dan meraih tangan Willem. Berdua, mereka segera berlari menuju pintu keluar ruangan tersebut.
Sayang, beberapa orang menghadang pintu keluarnya.
Bukan pihak pemberontak, melainkan Magnus dan beberapa prajurit IGSP. Dengan senapan teracung, mereka menyuruh Razak dan Willem untuk masuk lagi ke dalam ruangan.
Willem menatap bingung sekaligus penasaran. "Hei, Magnus! Apa-apaan ini? Jauhkan mulut senapanmu dariku! Kita harus segera pergi dari tempat ini!"
"Ya. Tapi, sayangnya kami hanya akan membawa satu orang keluar dari gedung senat ini." sahut Magnus sambil tersenyum kecil. Ia lalu mengerling Razak dan melanjutkan, "Hanya dia yang akan kami bawa. Perintah langsung dari Jenderal."
Willem menggeram kesal. Jadi, misi ini hanyalah sebuah kedok untuk mengambil peta yang sebelahnya! 'Beilschmidt brengsek!' geram Willem. Semuanya sudah disusun sedemikian rupa untuk mengambil Razak dari keluarga angkatnya.
Willem bahkan mulai curiga kalau masalah polusi sampai kudeta ini berakar pada Dietrich Beilschmidt. Sejauh yang Willem tahu, begitu banyak sumber daya alam dan manusia yang digunakan oleh IGSP.
"Jadi," Ucapan Magnus membuat Willem sadar akan posisinya sekarang. "Saya akan mengambil pemuda di sampingmu itu dan pergi sekarang, sebelum para pemberontak semakin mendekat. Sementara untukmu, Letnan, ada perintah khusus dari Jenderal."
Entah kenapa, Willem tak ingin mendengar perintah macam apa dari mulut Dietrich Beilschmidt. Ia yakin kalau jawabannya akan berakhir pada moncong senapan itu memuntah laser tepat ke arah tubuhnya.
"Kami harus membunuhmu."
Hal terakhir yang dilihat Willem adalah kilatan merah yang menghantam wajahnya, membuat tubuh besarnya ambruk ke atas lantai marmer yang dingin.
To Be Continued
A/N: Tau, gak, brengsek segala brengsek itu adalah SketchUp yang bugs splat mulu trus force close. Beruntung ada teknologi bernama autosave. Kalo gak ada, mungkin saya udah nangis darah sambil garuk aspal kali, yak... Ngomong-ngomong, saya minta maaf karena gak bisa bales satu-satu reviewnya. Semoga di chapter selanjutnya saya bisa bales review... QwQ
Tapi, biar gak dibales, masih ada yang mau review, kan? Hibur saya yang lagi stres perancangan dan furniture dengan review-review kalian~ :D
