Notes: Udah berapa lama saya anggurin *ngok* si cerita satu ini? Kayaknya udah lama banget, ya? Kalian masih pada inget, kan, tapinya sama cerita ini? Saya aja hampir lupa, lho QuQ #dikepruks
Disclaimer: Karakter kepunyaan Hidekazu Himaruya. Me not taking any money dari pencomotan dan penistaan karakter yang semena-mena ini #ngaku
Warning: Bajak-bajakan, battle gak jelas, action yang lebih gak jelas lagi, sho-ai (mau dibujuk kayak gimana pun juga, saya tetep gak mau naikin rating! *colek seseorang yang udah bikin spin-off-nya*).
Lovino Vargas membuka matanya perlahan-lahan. Sinar redup khas kabin tidur La Sagrada membuat matanya yang lama terpejam perih seketika. Sambil mengerang kecil, sang gunner La Sagrada mengangkat tubuh dan terduduk di hammock-nya. Mata cokelatnya menatap berkeliling, berusaha menelaah tiap sudut ruangan dengan otaknya yang masih belum bangkit dari dunia mimpi.
Bunyi derit pintu membuat Lovino mendongak dan mendapati saudara kembarnya, Feliciano Vargas, melongok dari balik daun pintu. Raut kekhawatiran dan cemas tampak jelas di wajah manisnya. Namun, ekspresi tersebut segera hilang dan berganti dengan kegembiraan luar biasa saat mendapati Lovino yang sudah sadar.
"Fratello sudah sadar!" jerit Feliciano senang. Ia membuka pintu lebar-lebar lalu berlari dan memeluk kakak kandungnya erat-erat, membuat Lovino tercekik hampir kehabisan napas. "Veeee! Sudah dua hari fratello tidak sadarkan diri! Aku, kan, jadi khawatir..."
"Tak sadarkan diri? Maksudmu apa, sih?" tanya Lovino dengan suara parau.
"Vee... Fratello lupa, ya? La Sagrada diserang Bloody Mary sekitar dua hari lalu. Mereka nyaris menghancurkan kapal, tapi beruntung kau—yang waktu itu malah tidur-tiduran dan tidak ikut membela kapal—mengaktifkan shield dan membuat kita terlindungi dari meriam Bloody Mary! Kau sudah menyelamatkan kami, fratello! Terima kasih~" Kembali Feliciano memeluk erat sang kakak yang masih kebingungan.
"Sebentar, sebentar!" seru Lovino. Ia mendorong tubuh mungil Feliciano menjauh. "Kapan La Sagrada diserang Bloody Mary? Si brengsek beralis tebal itu berulah apalagi sekarang?"
Feliciano mengerenyitkan keningnya, bingung dengan reaksi kakaknya yang seperti orang hilang ingatan. "Ng... Fratello benar-benar tidak ingat kalau La Sagrada diserang? Nih, lihat. Aku saja sampai kena luka gores di lengan..." gumamnya sambil menunjukkan tangan kanannya yang dibebat dengan perban putih.
Sungguh Lovino tak tahu apa yang dibicarakan oleh adik kembarnya ini. Yang ia ingat, ia berhasil melepaskan diri dari borgol elektrik yang membelenggu pergelangan tangannya ke tempat tidur lalu berlari secepat mungkin ke ruang panel, mengaktifkan shield tambahan—semacam medan listrik yang dimanipulasi sedemikian rupa sehingga bisa melindungi kapal dari obyek asing dari luar kapal atau obyek dari dalam kapal yang hendak keluar—yang baru ia kembangkan beberapa bulan lalu untuk mencegah Reinhart kabur dari dalam kapal. Tadinya ia sudah gatal untuk membuka shield ekstra tersebut ketika tahu Antonio akan menyusup masuk ke Bumi melalui sabuk asteroid Saturnus, tapi berhubung shield itu terlalu memakan tenaga, ia batal melakukannya. Tak lucu kalau La Sagrada macet di tengah angkasa hanya karena habis bahan bakar.
Sebentar. Bicara tentang Reinhart...
"Ke mana si bocah merepotkan yang sudah mengikatku ke tempat tidur?" seru Lovino kesal. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari-cari sosok pemuda berambut hitam ikal. Ia bersumpah akan menghajar bocah itu, tak peduli omongan sang Kapten untuk bersikap ramah kepada tamu.
Feliciano menatap kakaknya dengan pandangan bingung sekaligus khawatir. Sungguh, ia takut kepala kakaknya ini cedera parah sampai amnesia seperti ini. Ia bahkan tak tahu kalau La Sagrada baru saja diserang Bloody Mary dan nyaris hancur berkeping-keping. "...Fratello, Reinhart, kan diambil Kirkland bersama dengan Kapten..."
"APA?" seru Lovino, kaget. "SI BRENGSEK BERALIS DELAPAN ITU DAPAT PETANYA? DAN KAU BILANG SI ANTONIO JUGA DITANGKAP? BAGAIMANA BISA?"
"Kan tadi aku sudah bilang kalau kapal kita diserang Bloody Mary, fratello..." gumam Feliciano sambil menggembungkan pipinya, kesal karena omongannya sedaritadi tak didengar oleh kakaknya. "Nih, lihat! Aku saja sampai luka-luka, lho. Bahkan aku nyaris mati ditembak si kacamata penggila burger itu, ve..."
Lovino masih menatap Feliciano dengan tatapan tak percaya. Berbagai pertanyaan ingin ia tanyakan, tapi tak satu pun ia ungkapkan. Terlalu banyak pertanyaan sampai dia sendiri bingung harus memulai dari mana. Memangnya selama itu, ya, dia terkurung di kamar tidur?
"Tapi, gara-gara shield yang fratello buka, La Sagrada nyaris kehabisan bahan bakar, lho. Beruntung masih cukup tenaga untuk space warp ke space port terdekat."
"Jadi, sekarang kita ada di..."
"Space port Neptunus!" kata Feliciano bahagia. "Akhirnya setelah berbulan-bulan tidak menginjak daratan, aku bisa bersenang-senang, ve~ Perempuannya juga cantik-cantik, lho! Kau harus ikut aku, ve! Oh, oh! Dan pastanya juga banyak! Aku dan Laura baru borong pasta, vee! Kau pasti suka! Nanti kumasakan, yaa~ Tapi, tadi aku dimarahi Carlos karena belanja pasta kelewat banyak dan hampir menghabiskan seluruh dana belanja, ve... Aku takut..."
Menghiraukan racauan Feliciano mengenai pasta dan keluh kesah tentang Carlos yang marah-marah, Lovino beranjak dari tempat tidur. Ia segera berlari keluar kabin dan ke geladak, disambut oleh pemandangan space port Neptunus yang sibuk. Puluhan—mungkin ratusan—kapal angkasa seperti La Sagrada—beberapa tampak lebih modern seperti Bloody Mary—terlihat menepi di pelabuhan. Bertumpuk-tumpuk kargo besar berbahan aluminium tampak diangkut keluar dari kapal dan masuk ke gudang, atau sebaliknya. Pelaut-pelaut tampak bercengkerama di bar terbuka tepi pelabuhan, lengkap dengan mulut kasar dan tindakan antik ala bajak laut. Tak jauh dari dermaga, terlihat dwelling modern dengan bangunan tinggi menjulang berwarna perak dan putih, bersinar temaram di bawah terpaan sinar matahari sintesis.
Lovino hanya berdiri mematung di atas geladak kapal, terpaku menyaksikan suasana hiruk pikuk space port tersebut. Matanya menatap tak percaya kalau La Sagrada—yang ia ketahui beberapa waktu lalu mestinya masih mengarungi angkasa di tengah sabuk asteroid Saturnus—sudah menepi di Neptunus untuk mengisi bahan bakar dan persediaan.
"Daripada kau diam saja di tengah kapal seperti orang bodoh, bagaimana kalau kau bantu aku mengangkut kantung kentang ini, Lovino?"
Sang gunner membalikkan tubuhnya dan melihat Laura—dengan beberapa bagian tubuhnya dililit perban termasuk tangan dan kepala—kewalahan menyeret sekantung penuh bahan makanan. Tak tega membiarkan seorang wanita cantik kelelahan mengangkut barang seberat itu, Lovino bergegas ke samping Laura dan membantunya menyeret kantung tersebut.
"Aku bingung..." gumam Lovino seraya menggeret kantung bersama dengan Laura. "Bagaimana caranya kita bisa ada di Neptunus sekarang? Bukannya tadi kita masih berada di Saturnus?"
"Pakai space warp, dong." sahut Laura singkat. Napasnya sedikit terputus-putus, kelelahan menyeret kantung yang beratnya berkilo-kilo, persediaan untuk beberapa bulan ke depan.
"Tapi, aku benar-benar bingung—hei! Ini kentang, ya? Kenapa harus kentang, sih? Aku benci makan kentang!" protes Lovino. Dia langsung menjatuhkan sisi kantung yang ia pegang, membuat Laura kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di atas lantai geladak.
"Jangan banyak protes, ah!" bentak Laura. Perempuan berambut pirang ini meringis kesakitan sambil mengangkat tubuhnya berdiri. "Ini bahan makanan yang paling umum ditemukan di semua space port! Kau mau kita miskin mendadak gara-gara kebanyakan beli pasta? Dana kita sudah menipis untuk membeli bahan bakar dan memperbaiki badan kapal, kau jangan banyak protes! Sini! Bantu aku lagi membawa kantung ini!"
Setengah jijik dan ogah-ogahan, Lovino mengerang kesal lalu kembali mengambil kantung kentang tersebut. Bersama dengan Laura, ia membawa kantung tersebut ke dapur untuk dikupas. "Kentangnya hanya satu karung ini saja, kan?" tanya Lovino ogah-ogahan. Ia mau mati saja rasanya kalau memikirkan masih ada sekantung penuh kentang lainnya, menanti untuk diangkat. Kalau memang ada, ia tak sudi membawanya. Sebodo amat kalau Laura nanti mati kelelahan setelah menggotong kantung kentang itu.
"Sudah, kok." sahut Laura. Perempuan muda itu meregangkan tubuhnya dan memijit-mijit otot pundaknya yang nyeri. "Terima kasih sudah mau membantu. Eh, tadi kau mau bertanya sesuatu?"
"Tentang Bloody Mary. Apa benar kita diserang si alis tebal itu?"
Laura mengerenyitkan keningnya, bingung dengan pertanyaan bodoh Lovino. Tapi, memutuskan untuk tidak bertanya lagi—khawatir akan membuat gunner La Sagrada ini naik pitam dan malah ngambek—Laura menjawab, "Ya. Sekitar dua hari lalu. Tapi, beruntung kau menyalakan shield ekstra yang baru kau kembangkan itu. Serangan penghancur Bloody Mary berhasil ditahan dan memberi Carlos cukup waktu untuk melakukan space warp ke space port ini." Laura lalu menatap Lovino ragu. "Kau... betul-betul tak tahu tentang penyerangan itu? Lalu, untuk apa kau menyalakan shield?"
"Untuk mencegah Reinhart kabur." jawab Lovino sambil memijit-mijit keningnya yang mendadak pusing. "Si brengsek itu berhasil menipuku dan mencuri kunci borgol elektriknya. Dia malah ganti mengikatkan borgol itu ke tanganku. Beruntung aku selalu bawa pisau lipat dan—meski memakan waktu cukup lama—berhasil memutuskan rantai borgol. Aku lalu menyalakan shield untuk mencegah dia kabur tanpa melihat situasi di atas. Yang aku tahu berikutnya hanya kapal yang bergoyang hebat seperti diserbu ratusan asteroid dari segala sisi dan berikutnya aku tak sadarkan diri."
Laura hanya bisa diam mendengarkan penuturan Lovino. "...Kukira kau bukan tipe orang yang mudah diperdaya, Lovino..."
"Memang!" seru Lovino kesal. Amarah yang semula sempat reda kembali meledak-ledak. "Dia saja yang pakai cara licik! Dia... dia..."
Entah kenapa Lovino enggan untuk menceritakan kronologis bagaimana seorang Reinhart mencuri kunci dari saku bajunya. Sialnya, wajahnya yang berubah merah padam malah menjadi tanda tanya besar bagi Laura yang penasaran.
"He? Dia pakai cara apa? Kenapa wajahmu memerah, Lovi?"
Semburat warna merah semakin jelas di wajah Lovino saat mendengar pertanyaan Laura. Si pemuda berambut cokelat itu membalikkan wajahnya, malu untuk menunjukkan wajah merah padamnya, takut dipertanyakan lagi. "Da... daripada itu, kita sekarang mau ke mana? Mau di space port sampai kapan, ngomong-ngomong?"
Laura hanya terkikik geli melihat tingkah laku Lovino. Pemuda yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri ini kadang memang sulit untuk menutupi perasaannya, tapi enggan untuk mengungkapkannya. "Kalau kata Carlos, kita akan istirahat di Neptunus sampai dua atau tiga hari ke depan. Menurut radar, kapal IGSP perlahan-lahan sudah mulai berkurang dan kita bisa ke Bumi lebih cepat untuk menjemput Willem. Mungkin... Mungkin kita juga akan mencoba menyelamatkan Kapten dan Reinhart."
Lovino mendengus ketika mendengar rencana Carlos. "Mau mengambil kembali peta dan Kapten dari Bloody Mary itu bunuh diri terencana, tahu. Kapal tua macam La Sagrada tidak akan pernah menang melawan kapal modern seperti Bloody Mary kalau bukan nasib baik dan keberuntungan."
Hetalia Axis Powers copyright milik Hidekazu Himaruya
Treasure Planet copyright milik Walt Disney Picture
Titan A.E. copyright milik 20th Century Fox
Treasure Island copyright milik Robert Louis Stevenson
Pirates of Carribean copyright milik Walt Disney Picture
Star Wars copyright milik George Lucas
Reinhart tak tahu harus berbuat apa sekarang. Mata abu-abunya terpancang sedaritadi pada bentuk setengah lingkaran yang berpendar keemasan di tangannya. Garis dan titik yang selama ini ia anggap sebagai luka besar menjijikan ternyata adalah sebuah peta yang bergerak.
Ya. Garis dan titik pada tangannya entah bagaimana selalu bergerak serta berubah-ubah, tergantung kemana ia—atau dalam kasus ini kapalnya berada—bergerak. Sayang, peta tersebut masih belum sepenuhnya sempurna.
Honda Kiku terus memperhatikan Reinhart yang termenung di seberang ruang tahanan mereka. Seulas senyum tipis terukir di wajah sang mantan awak Flying Dragon dan ia pun berjalan mendekati pemuda itu. "Saya tahu kalau segala informasi ini terlalu banyak untuk dicerna sekaligus, Rangga-san." katanya. "Tapi, inilah takdir Anda. Mau tak mau, Anda harus menerima kenyataan bahwa keluarga yang Anda ketahui selama ini adalah palsu dan gurat luka di tangan Anda adalah peta harta karun paling diincar di seluruh galaksi."
Reinhart hanya mendengus menanggapi omongan Kiku. Pemuda berambut hitam ini lalu mengambil sarung tangan hitamnya dan segera memakainya, muak melihat pendaran cahaya keemasan yang terus menerus ia lihat daritadi. Sialnya, cahaya itu cukup terang sampai-sampai membayang di sarung tangan hitamnya.
Pemuda yang sampai sekarang masih kukuh memperkenalkan dirinya sebagai Reinhart mengerang kesal. Ingin rasanya ia potong saja tangannya supaya beres perkara, tapi rasanya itu malah akan membuat situasi yang ia hadapi semakin kacau. Dengan kedua kelereng abu-abunya, Reinhart melirik ke arah Kiku. "Mudah bagimu bicara seperti itu. Yang mengalami ini bukan kau, tapi aku."
Kiku tertawa kecil ketika mendengar balasan ketus dari Reinhart. Pemuda bermata monokrom itu hanya terdiam ketika Reinhart menaiki tempat tidur lipat dan mulai meringkuk membelakangi Kiku. Sepertinya ia mencoba menghindari percakapan lainnya atau memang sedang berusaha untuk tidur.
"Kalau dia memang menyayangiku dan kembaranku," gumam Reinhart pelan, nyaris tak terdengar ke telinga Kiku. "Kenapa dia memberikan petanya pada kami berdua? Tidakkah dia berpikir bahwa memberikan peta ini pada kami berdua, justru akan membuat kami dikejar-kejar oleh seluruh perompak di galaksi? Dengan keberadaan peta ini, malah aku yang direpotkan!"
"Karena Kapten Yao tak ingin harta karun itu dimiliki oleh orang lain selain keluarganya." jawab Kiku dengan suara yang lembut. "Baginya, harta karun yang telah ia kumpulkan selama masa hidupnya merupakan pusaka keluarga yang sangat berarti. Ia ingin membagi kebanggaannya, kekayaannya, serta kemewahan yang pernah ia rasakan kepada anak cucunya. Kapten tak mau keturunannya menderita."
Mendengar omongan Kiku, Reinhart membalikkan tubuhnya. Keningnya mengerenyit bingung dan mulutnya berucap, "Menderita? Apa maksudmu dengan menderita?"
Kiku terdiam sejenak, tampak enggan untuk menjawab pertanyaan Reinhart. Desah napas panjang keluar dari mulut sang pemuda Asian dan Kiku pun mulai membuka mulutnya. Reinhart yakin kalau kali ini, penuturannya akan sama panjangnya dengan cerita panjang saat ia sampai ke Bloody Mary.
"Dulu, di masa kejayaan Flying Dragon, begitu banyak kapal perompak. Keamanan antar galaksi masih belum seketat sekarang, membuat para perompak mempunyai ruang gerak yang begitu luas. Mereka menguasai galaksi. Mayoritas dari perompak-perompak yang mengarungi angkasa pada masa itu adalah mereka yang haus darah, hobi memperkosa perempuan, dan membumihanguskan segala yang mereka lewati. Hanya segelintir perompak yang... bisa dibilang lebih baik daripada perompak-perompak lainnya. Salah satunya adalah Flying Dragon.
"Flying Dragon memang mencuri. Saya akui bahwa kami hidup untuk merampas harta benda paling mahal dan paling berkilau di jagat raya. Tapi, kami tidak mencuri dari orang sembarangan. Kami mencuri dari para pejabat galaksi yang korup, penguasa planet yang tiran, dan pedagang curang yang merugikan orang banyak. Sebagian orang bahkan memandang kami sebagai pahlawan, bukan perompak keji tak tahu aturan.
"Tapi, saat Anda dan Razak-san hadir ke dunia, Kapten tahu bahwa petualangan ini harus dihentikan. Dia sudah punya keluarga, tanggung jawab yang harus ia lindungi dengan segenap jiwa dan raganya. Kehilangan putri semata wayang—tewas dibunuh musuh bersama dengan suaminya—membuat mata beliau terbuka lebar. Ia sadar bahwa tak semua orang di galaksi ini mendukung tindakan Flying Dragon. Beberapa iri, bahkan menyimpan dendam. Makanya, ketika saya dan Kapten kembali dari Asian dengan kalian berdua, ia memutuskan untuk mengakhiri saja petualangan ini.
"Ketika peta itu dibuat, kami sudah pada masa vakum. Tak lagi berburu harta karun dan merampas harta benda orang-orang kaya itu. Kami mulai menjalankan hidup sebagai pengelana galaksi—petualang—bukan sebagai perompak lagi.
"Sialnya, kejadian itu terjadi." Kembali seulas senyum menghiasi wajah muram Kiku. Ia mendongak dan mendapati Reinhart sudah terduduk di tempat tidur lipatnya, mendengarkan dengan seksama tiap detil pembicaraan Kiku. "IGSP menyerang, menghancurkan Flying Dragon, dan Anda dipungut oleh Beilschmidt..."
"Aku masih tak mengerti." ucap Reinhart. "Kau bilang, dia memberikan harta karun itu supaya aku tidak menderita. Dia sengaja memasang petanya padaku dan... uh... kembaranku. Justru dia membuatku semakin menderita kalau seperti ini! Aku dikejar-kejar oleh dua—coret—TIGA kapal sekaligus yang mengincar peta ini!" Reinhart melambaikan tangannya ke depan muka, frustrasi.
Honda Kiku hanya terdiam melihat Reinhart yang marah-marah. Wajar menurutnya kalau pemuda ini kesal. Terlalu banyak yang ia hadapi dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Tanpa sempat mencerna informasi yang lama, otaknya sudah dijejali dengan informasi baru. Baru saja dia beradaptasi dengan lingkungan baru, dia sudah terseret ke lingkungan lainnya yang sangat berbeda.
"Kapten ingin memberikan Anda berdua hidup yang nyaman." gumam Kiku. "Segala pertempuran dan ketidakstabilan antar galaksi membuatnya khawatir mengenai masa depan kalian berdua. Dari segala rencananya, beliau tak pernah sekali pun berencana untuk membiarkan Anda berada di tangan IGSP. Dia tak pernah tahu kalau ini semua akan terjadi. Tak ada satu pun yang tahu..."
Kiku mengakhiri pembicaraannya dengan nada suara yang semakin merendah dan lama kelamaan menghilang. Mata monokromnya menatap sendu lantai metalik ruangan tahanan sementara kedua tangannya mengepal erat, mencengkeram satu yang lainnya.
Reinhart mendesah panjang dan merebahkan tubuh ke atas tempat tidur. Mata abu-abunya menatap langit-langit ruang tahanan begitu intens, seolah-olah ingin melubangi atap dengan pandangannya. "Sekarang, apa rencananya?" tanyanya. "Apa kau mau Kirkland mendapatkan semua harta karunnya?"
"Sampai titik darah terakhir, saya tak sudi kalau Kirklind bedebah itu sampai menginjak Treasure Planet!" desis Kiku dengan penuh kebencian.
Sepertinya si Kapten Bloody Mary ini mempunyai reputasi kelewat buruk dan peringai sangat menyebalkan sampai dibenci hampir semua orang di seluruh galaksi.
"Jadi... Kau mau kabur?" tanya Reinhart, acuh tak acuh.
"Mau kabur bagaimana, Rangga-san?" Dengan gerakan yang lemah, Kiku menunjuk pintu otomatis dan berkata, "Pintu itu dikunci secara otomatis oleh Jones dan hanya bisa dibuka dari luar. Lalu masih ada sistem pengunci khusus yang kunci elektroniknya dipegang oleh Kirkland. Pintu itu juga akan mengeluarkan sengatan listrik bertegangan rendah kalau disentuh oleh tawanannya. Lantai, langit-langit, dan dinding ruangan ini juga terbuat dari bahan metal luar biasa tebal, tak mungkin bisa ditembus."
"Memangnya kau tidak bosan berada di dalam tahanan? Kau tidak mau mencegah Kirkland mengambil peta yang kedua?"
"Tentu saya mau, tapi—"
"Bagus."
Kiku menatap bingung Reinhart yang bangun dari tempat tidurnya. Mata monokromnya mengikuti langkah Reinhart, masih kebingungan. "Bagus bagaimana? Kita berdua terkurung di dalam ruangan ini tanpa ada solusi untuk kabur. Ruangan ini terlalu—dari mana Anda dapat kunci itu?"
Cengiran lebar terpampang di wajah Reinhart selagi berjalan santai menuju pintu baja sementara jari telunjuknya sibuk memutar-mutar rantai perak dengan bandul sebuah kunci elektrik; kunci yang barusan ia curi secara sembunyi-sembunyi dari ruang kerja Arthur Kirkland.
"Aku ambil ini di ruangan Kirkland." kata Reinhart santai. Dengan cepat, ia langsung memasukkan kunci ke lubang kunci dan memutarnya sekali. Samar-samar terdengar bunyi 'klik' sebelum pintu baja itu terbuka lebar.
Honda Kiku hanya bisa menatap pintu sel tahanan itu terbuka lebar dengan mulut menganga lebar, tak percaya. "Ba... bagaimana bisa..."
Cengiran lebar penuh kepuasan masih terpampang di wajah Reinhart. "Aku mengambilnya saat aku dipanggil ke kamarnya tadi. Dia terlalu sibuk memikirkan tentang rute menuju Treasure Planet dan bagaimana mendapatkan sambungan peta lebih cepat. Makanya, memanfaatkan kelengahannya, aku menyelinap ke meja kerjanya dan mengambil kunci ini."
Honda Kiku masih terpana di dalam sel tahanan. Dia sudah terkurung di ruangan menyebalkan berbau besi ini selama kurang lebih dua tahun dan bocah keras kepala yang baru beberapa jam merebahkan bokongnya sudah menemukan cara untuk kabur. Oke, Kiku memang tak pernah diutus ke ruang kerja Arthur Kirkland, tapi tetap saja ini... sulit untuk dipercaya.
"Ayo, Kiku! Kau mau keluar atau tidak?" desis Reinhart. Ia menyembulkan kepalanya ke dalam ruangan, menatap tak sabar sosok pria Asian yang masih termenung. Mata abu-abunya melirik ke kiri dan kanan dengan tingkat kewaspadaan tinggi. "Aku tak mau ketahuan anak buah Kirkland. Cepat sedikit!"
Lorong sempit Bloody Mary yang berliku-liku menghantarkan Reinhart dan Kiku ke deretan safety-pod. Masing-masing dapat diisi sampai empat orang penumpang dengan perbekalan yang mencukup sampai tiga bulan perjalanan antar galaksi. Hanya dengan menekan satu tombol, keduanya akan terbebas dari Bloody Mary. Sayangnya, ada sesuatu yang mengganjal pikiran Reinhart, membuat pemuda berambut hitam ikal ini enggan untuk masuk ke dalam safety pod.
Kali ini, giliran Honda Kiku yang berpaling dan bertanya, "Ada apa, Rangga-san? Kita harus segera pergi dari tempat ini sebelum ketahuan anak buah Kirkland."
Reinhart masih termenung. Pandangannya menatap jauh ke lorong panjang nan sempit Bloody Mary, teringat akan seseorang yang sangat membutuhkan pertolongannya sekarang. Beruntung safety pod yang ada di depannya adalah safety pod sebuah kapal bajak laut, dimana perlengkapan—mulai dari bahan makanan, pakaian, dan senjata—lengkap.
"Anda mau ke mana, Rangga-san?" tanya Kiku bingung ketika melihat Reinhart mengambil sebuah pistol laser dari peti di bawah kursi safety pod dan kembali berjalan keluar. "Anda harus pergi sekarang sebelum—"
"Ada seseorang yang harus kutolong terlebih dulu." sahut Reinhart sambil lalu. Ia masih sibuk memeriksa kondisi pistol laser di tangannya—hanya tindakan jaga-jaga yang dirasa perlu mengingat pistol itu mungkin sudah tersimpan terlalu lama di safety pod tanpa sempat digunakan—sebelum mendongak dan tersenyum lebar. "Beri aku sepuluh menit. Kalau aku belum kembali, kau duluan saja. Nanti aku menyusul."
"Tapi—"
Protes Kiku tak digurbis. Dengan pistol laser terangkat sejajar dengan pundak, Reinhart bergerak cepat dan kembali menyusuri lorong sempit Bloody Mary. Kiku menghembuskan napas panjang, menyerah dengan Reinhart yang kelewat keras kepala. Sang pemegang kunci berjalan memasuki safety pod dan mulai mempersiapkan rute pelarian terdekat sebelum kembali melirik pintu masuk pod.
"Sepuluh menit, Rangga-san. Semoga Anda baik-baik saja."
Reinhart berjalan mengendap-endap menuju ruang kerja Arthur Kirkland. Tujuannya kali ini hanya satu: menyelamatkan Antonio yang disekap di dalam sana dan membawanya kabur. Mungkin, dia akan meminta Kiku mengarahkan safety pod ke La Sagrada untuk menurunkan Antonio sebelum kembali menuju Bumi dan menemui saudara kembarnya.
Bicara tentang saudara kembarnya, Reinhart masih belum percaya dengan apa yang diceritakan Honda Kiku. Bualan tentang peta di tangannya, serta asal muasal julukan 'Peta' yang ditujukan kepada dirinya mulai masuk akal, tapi masih terlalu sulit untuk diterima akal sehatnya. Ditambah dengan kemunculan adik—atau kakak?—kembar yang nasibnya tak jelas di Bumi sana.
Bumi... Kalau tak salah, kekasihnya—mantan kekasih, mengingat dia sudah menipu Reinhart mentah-mentah—bersama dengan beberapa skuad pasukan IGSP berada di sana untuk meredam kerusuhan. Kabarnya, kerusuhan dan kudeta dipicu oleh kelangkaan sumber daya alam serta perusakan lingkungan yang kelewat parah. Campur tangan pemerintahan tertinggi antar galaksi bukannya membuat kondisi jadi lebih baik, tapi justru kebalikannya. Penduduk Bumi merasa hak atas planet yang mereka huni dibatasi dan direnggut dengan paksa, membuat pemberontakan semakin bahaya. Dengan kondisi separah ini, IGSP terpaksa turun tangan langsung untuk meredam kerusakan.
Kalau Reinhart tak salah ingat, ayah angkatnya, Deitrich Beilschmidt pernah bekerja sebagai konsulat militer antar galaksi. Mungkin, kalau Reinhart masih punya kesempatan untuk bertemu Deitrich, dia akan mempertanyakan status anaknya dan apa yang sebenarnya terjadi di Bumi.
"Hei! Apa yang kau lakukan di luar selmu?"
Sekujur tubuh Reinhart menegang ketika berhadapan langsung dengan Alfred Jones—tangan kanan Arthur Kirkland—yang baru kembali dari dapur kapal. Sebungkus hamburger tergenggam di tangannya, baru saja dibuka dan siap untuk disantap. Sayang, Alfred tidak akan menikmati hamburger lezat racikannya itu dalam waktu dekat.
Reinhart menembakkan pistol terlalu cepat dan tak memberikan waktu bagi Alfred untuk menarik pistolnya sendiri. Jerit kesakitan terdengar dari mulut Alfred ketika tembakan Reinhart mengenai tangan kanan, membuatnya menjatuhkan hamburger berceceran di atas lantai metalik. Dengan sigap, keduanya mencari tempat berlindung dan kembali melancarkan serangan.
"Aku ini mau makan, tahu! Beri hero sepertiku waktu untuk mengisi perut!" seru Alfred di tengah bunyi laser dan pipa-pipa yang bocor. Melalui cerukan dalam di tepi dinding, sang gunner berkacamata menembak asal ke arah Reinhart. Sejujurnya ia agak ragu untuk melawan Reinhart mengingat pesan spesifik dari Arthur adalah untuk tidak melukai petanya.
Reinhart masih terus menembaki Alfred, berusaha untuk tidak membunuh orang yang terus meracau tentang hero dan makan siangnya yang terganggu. Tak baik untuk metabolisme tubuh, katanya. Reinhart tak terlalu ambil pusing dengan omongan kacau si awak kapal Bloody Mary. Yang menjadi perhatiannya saat ini adalah menjauhkan Alfred sejauh mungkin dari tombol penanda gangguan, tepat di atas kepala Aflred. Beruntung Alfred belum menyadarinya. Kalau saja dia sadar akan keberadaan alarm tersebut dan menekannya—
"Ya ampun. Di atas kepalaku ada alarm, toh?"
—maka seluruh awak kapal Bloody Mary akan datang. Sial...
Dengan gerak tangan yang cepat, Reinhart menembaki alarm tersebut hingga hancur berkeping-keping. Mustahil kalau alarm itu masih berfungsi.
Alfred tersentak mundur saat Reinhart menembaki alarm tersebut. Si pemuda berambut pirang itu membalikkan tubuhnya ke arah Reinhart dan berseru kesal, "Hati-hati! Kau hampir melukai tangan seorang hero, tahu! Kau mau hero sepertiku buntung hanya karena tembakan lasermu?"
Menghiraukan ocehan Alfred, Reinhart keluar dari persembunyiannya sambil terus menembak laser ke arah Alfred—berusaha untuk tidak membunuh Alfred tentunya—dan berlari menuju ruang kerja Arthur. Berlama-lama di sana itu membuang waktu. Reinhart tak akan bisa bergerak ke mana-mana. Toh, Alfred lambat laun akan memberitahu awak kapal lainnya.
Tak lama, bunyi sirene meraung-raung terdengar menggema di dalam Bloody Mary diiringi dengan omongan cepat seorang Alfred Jones.
[Perhatian semuanya! Petanya kabur! Sekali lagi; petanya kabur! Sekarang petanya ada di lorong 4D3S. Siapa pun nanti yang ketemu, tahan dia!]
Reinhart merutuk pelan dan terus berlari. Sekarang, akan sulit baginya untuk menyelamatkan Antonio tanpa berhadapan dengan kroni Bloody Mary setelah alarm dibunyikan. Mencoba untuk menghiraukan sirene dan suara menyebalkan Alfred Jones yang menggema, Reinhart terus berlari menuju ruang kerja Arthur Kirkland. Satu-satunya yang dia harapkan sekarang adalah ruang kerja yang kosong tanpa Kirkland. Reinhart tak ingin berhadapan dengan si shapeshifter bertangan tentakel menjijikkan itu...
Nyaris saja terlewati, Reinhart akhirnya sampai di ruang kerja Kirkland. Beruntung pintunya tak dikunci—sepertinya ditinggal terburu-buru oleh pemiliknya saat sirene berbunyi—memudahkan Reinhart untuk menyelinap masuk. Mata abu-abu Reinhart menatap berkeliling, mencari-cari sosok Antonio Carriedo, sang kapten La Sagrada. Sesaat, ia tak melihat ada siapa pun di dalam ruang kerja dan nyaris menyerah. Namun, saat Antonio menyembulkan kepalanya dari balik meja kerja berbahan kayu mahogani berat, Reinhart menghembuskan napas lega.
"Apa yang kau lakukan di sini, Reinhart?" tanya Antonio dengan suara serak. Mata hijaunya menatap penuh pertanyaan ketika Reinhart berlutut di sampingnya dan berusaha melepaskan ikatan yang melilit pergelangan tangan sang pemuda Mediteranian. "Bukannya kau dikurung—"
"Pertanyaannya nanti saja, Antonio." potong Reinhart. Dia membantu Antonio berdiri dan membongkar meja kerja sang kapten Bloody Mary, mencari senjata apa saja untuk ia berikan pada Antonio. "Sekarang, kita harus kabur dari tempat ini. Kiku sudah menunggu di safety pod dan aku berjanji padanya untuk kembali dalam kurun waktu sepuluh menit."
Antonio menangkap sebuah pistol laser antik penuh ukiran—sepertinya pistol itu bagian dari koleksi berharga Arthur Kirkland—dan baru saja membuka mulut untuk kembali bertanya. "Sudah kubilang untuk simpan pertanyaanmu untuk nanti saja, Antonio! Kita harus memperjuangkan nyawa kita untuk bisa keluar hidup-hidup!" desis Reinhart tak sabaran. Pemuda berambut ikal itu sudah berada di sisi kiri pintu.
Sang kapten La Sagrada mengangguk mengerti dan segera mengambil posisi di sisi berseberangan dengan Reinhart. Pistolnya terangkat pada posisi siap menyerang. Keduanya saling pandang beberapa detik dan hanya satu anggukan singkat dari Antonio sudah menjadi aba-aba yang cukup bagi Reinhart.
Ketika pintu terbuka, lorong di luar masih sepi. Namun, suara berpasang-pasang langkah kaki terdengar semakin mendekat. Reinhart menggamit lengan Antonio dan menariknya ke sebuah lorong. "Ke sini!" bisiknya sambil terus menarik Antonio menjauh dari arah suara. Sialnya, suara langkah kaki kembali terdengar saat keduanya sampai di pertigaan, memaksa Reinhart untuk mendorong Antonio ke sebuah cerukan di dinding dan bersembunyi sejenak.
Sekelompok orang—salah satu di antaranya adalah Francis Bonnefoy—berlari melewati Reinhart dan Antonio. Setelah yakin Francis dan yang lainnya pergi, Reinhart menarik Antonio untuk kembali berlari menuju safety pod. Tenggang waktu sepuluh menit yang Reinhart berikan sendiri kepada dirinya hampir terlampui dan—jujur—dia tak mau kalau harus terjebak di Bloody Mary barang satu detik.
"Itu dia!"
Reinhart merutuk ketika desingan laser yang ditembakkan dari belakang nyaris menyambar kepalanya. Sambil merunduk, ia mendorong Antonio untuk terus maju. Antonio sendiri berusaha untuk mengulur waktu dengan menembaki orang-orang di belakang mereka. Dari jerit kesakitan yang terdengar, sepertinya sang pemuda berambut cokelat ini berhasil melukai beberapa di antaranya.
Hanggar safety pod sudah terlihat di depan mata dan memberikan semangat baru. Di sana, Honda Kiku sedang menanti kedatangan mereka berdua. Pod sudah dinyalakan dan siap untuk berangkat. Sedikit lagi, Reinhart dan Antonio akan lepas dari kungkungan Bloody Mary. Sebentar lagi!
Reinhart menjerit kaget ketika tubuhnya tersentak ke belakang dan tak bisa bergerak. Rupanya kemeja yang ia kenakan tersangkut ke sebuah paku yang mencuat keluar.
"Reinhart!" panggil Antonio yang baru saja menyadari si pemuda berambut ikal tak ada di sampingnya. Mata hijaunya menatap was-was ke arah lorong, dimana suara langkah kaki terdengar semakin mendekat. Sebentar lagi, Arthur Kirkland bersama dengan awaknya akan sampai di hanggar safety pod dan harapan mereka untuk kabur akan hilang sama sekali.
"Kau masuk saja duluan! Kau juga, Kiku!" seru Reinhart. Pemuda bermata abu-abu itu berusaha melepaskan kemejanya dari kaitan paku. Sebenarnya ini pekerjaan mudah, sayangnya dengan tekanan yang semakin mendekat membuat Reinhart tak bisa melepaskan diri dari paku tersebut dengan cepat.
"Rangga-san!"
"Sudah kubilang kalian masuk dulu! Sebentar lagi aku akan lepas, kok!"
"Reinhart, aku bisa ke sana dan membantumu—"
"Sudah kubilang kalau aku tidak butuh bantuanmu, Antonio! Kau masuk saja dulu! Nanti aku susul!"
"Tidak akan semudah itu, Tuan Peta."
Suara tanpa perasaan seorang Arthur Kirkland membuat Reinhart menoleh dan detik berikutnya sebuah pukulan keras terasa menghantam wajahnya. Reinhart sayup-sayup mendengar namanya dipanggil, desingan laser, dan raung kemarahan sebelum kegelapan pekat menyelimutinya.
"Jadi, apa rencana kita?"
Lovino Vargas dan sisa awak kapal La Sagrada berdiri mengitari meja makan dengan peta hologram galaksi terpapar di depan mereka. Wajah-wajah serius dan kelelahan tampak jelas, tapi mereka harus terus bergerak melacak Bloody Mary. Tak mungkin mereka membiarkan kapten kapal mereka ditawan selama itu oleh Bloody Mary. Mereka juga berencana untuk mengambil kembali peta berharga yang direbut paksa.
"Kau sendiri yang bilang, Lovino. Menyerang Bloody Mary itu bunuh diri terencana." ucap Carlos enteng sambil mengedikkan pundaknya, belagak tak peduli. "Aku sih, ikut omongan Laura untuk ke Bumi untuk menjemput Willem dan peta yang satunya lagi. Lagipula, Bloody Mary pasti ada di sana. Mungkin, kita bisa menyusup ke dalam kapal dan membebaskan Reinhart juga Kapten."
"Bagaimana kalau Antonio sudah mati?" geram Lovino. Matanya menatap liar ke peta hologram, memperhatikan dengan begitu intens gerak rotasi dan revolusi tiap planet serta benda langit. "Melihat tabiat si alis lapis delapan itu, aku tak yakin Antonio masih hidup setelah seminggu perjalanan..."
"Ma... masa' Arthur tega membunuh Antonio, ve?"
"Tapi, mengejar Bloody Mary juga percuma! Mereka bagaikan benteng berjalan dengan dinding tebalnya!" protes Laura. Si perempuan berambut pirang ikal itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Lovino sebal. "Kecuali kalau kau punya ide untuk menembus dinding kapal mereka, aku setuju untuk menyerang Bloody Mary."
Benar kata Laura. Sulit sekali untuk menembus pertahanan Bloody Mary. Setelah kepergian Flying Dragon, nama Bloody Mary mulai digembar-gemborkan sebagai kapal bajak laut yang paling kuat. Kapal mereka bagaikan benteng melayang yang gesit, hampir sebanding dengan The Destroyer milik IGSP. Kapal usang seperti La Sagrada tak mempunyai kesempatan untuk bertahan ketika menyerang atau diserang kapal sekaliber Bloody Mary.
Di tengah kebingungannya, terdengar ribut-ribut dari luar kapal—lebih tepatnya di atas dermaga. Sepertinya ada sebuah kapal yang menepi dan membuat heboh satu dermaga.
"Ve... Ribut sekali di luar. Apa ada orang penting, ya?" Feliciano baru saja akan beranjak dari kursinya, namun tertahan oleh tangan Lovino. Si kakak tertua menggeleng pelan, melarang sang adik untuk pergi melihat ke luar.
"Paling hanya saudagar kaya raya yang menawarkan emas kepada siapa pun yang membantunya untuk mengisi bahan bakar. Hiraukan saja." katanya.
Meski dilarang, Feliciano masih melirik penasaran ke luar. Keningnya berkerenyit dan ia berkata, "Tapi, keributannya berbeda, fratello. Yang ini bukan ribut-ribut tentang pedagang, ve..."
Tepat saat Feliciano menutup mulutnya, pintu ruang makan terbuka lebar. Di ambang pintu, berdiri Honda Kiku yang memapah Antonio. Darah tampak merembes dari pakaian sang kapten La Sagrada sementara Kiku yang panik berusaha menjaga berat tubuh Antonio. Wajahnya pucat pasi dan mulutnya hanya mengucapkan beberapa kata:
"Kalian harus menolong Carriedo-san! Dia tertembak!"
Kesadaran lambat laun menghampiri Reinhart. Mata abu-abunya perlahan-lahan terbuka dan mulai memperhatikan sekelilingnya. Keningnya berkerenyit saat ia menyadari kalau yang ada di sekitarnya bukanlah interior safety pod, melainkan ruang kerja seseorang yang tak mau ia temui lagi...
"Ah, rupanya kau sudah sadar."
Reinhart mendongak dan mendapati Arthur Kirkland berdiri di dekat jendela besar sambil menyesap teh. Sang kapten Bloody Mary melemparkan seulas senyum ke arah Reinhart sebelum berjalan menuju meja kerjanya. Dia meletakkan cangkir teh dan merebahkan dirinya di atas kursi kulit. Mata hijaunya tak lepas mengamati Reinhart yang duduk di depannya.
Merasa terganggu dengan tatapan intens seorang Arthur Kirkland, Reinhart memutuskan untuk menjauh. Sayang, dia tak bisa menggerakkan tubuhnya dari kursi. Kedua tangannya terikat erat pada armrest kursi dan kakinya terikat menyatu sebelum dililitkan ke kaki kursi.
"Aku memutuskan untuk menahanmu di sini, di ruang kerjaku." kata Arthur sambil tersenyum. "Untuk memudahkanku mengawasimu. Ternyata, kau cekatan juga, Tuan Peta. Lebih cekatan dari Peter sekalipun."
"Lepaskan aku, brengsek!" geram Reinhart. Dia berusaha melepaskan ikatan yang melilit pergelangan tangan dan kakinya, tapi tak berhasil.
"Kau tak usah khawatir. Aku pasti akan melepaskanmu nanti saat aku sudah mendapatkan harta karun Treasure Planet." kata Arthur sambil tertawa renyah. Dia kembali mengambil cangkir teh dan meminumnya.
"Kau mau membawaku ke mana?"
"Ke mana?" ulang Arthur, pura-pura terkejut. "Bukannya sudah jelas, ya, kita akan ke mana sekarang? Sini. Biar kutunjukkan padamu."
Arthur berdiri dari kursinya dan berjalan menuju peta galaksi yang terpasang di salah satu dinding ruangan. Sang Europian mengubah satu tangannya menjadi tentakel biru yang lengket. Tentakel tersebut melilit tepat di sekitar dada Reinhart—membuat si pemuda berambut ikal berjengit jijik—dan menggeret kursi tersebut mendekati peta. Jari ramping sang kapten menunjuk ke sebuah planet berwarna cokelat, tak jauh dari matahari.
"Bumi. Kita akan ke Bumi untuk menjemput adikmu."
To Be Continued
Notes: Akhirnya, lho... Akhirnya fanfic ini dilanjutin juga sama saya #sujud makasih banget, lho, buat yang masih nungguin apalagi mau review QuQ terus, saya mau minta maaf juga karena gak sempet bales review... maaf, ya...
Dan... ini si Rangga di sini beda banget sama Rangga di Undies... #yaiyalah Rangga yang di Undies polos, uke idaman semua seme. Yang ini pecicilan kayak bocah ilang... =A=
