Surai yang orange menyala. Mata hazel yang terkesan dingin tapi hangat bersamaan. Keperawakan yang tinggi. Wajah yang tampan. Badan yang proposional. Rahang yang tegas membuat pria itu terkesan dewasa.

Jatuh cinta? Terlalu berlebih. Terpesona lebih tepatnya.

Tunggu!

Rukia merasa pernah melihat rambut dan mata itu. Tapi kapan dan dimana?

"Sampai kapan kau akan berdiri disitu, Kuchiki?" pria bersurai orange mengeluarkan suara merdunya. Seringaian tipis terpampang jelas di bibir manusia stoberi.

Stoberi...

Jeruk...

Stoberi...

Jeruk...

Stoberi...

Kurosaki Ichigo...

"KAU?"

Disclaimer : Bleach Tite Kubo

Wishes Himetarou Ai

Rated : T

Warning : GaJe, OOC, aneh, AU, feeling ga nyampe

"KAU?" Rukia berteriak dengan kencang. Mata violetnya membulat lebar. Degup jantungnya yang semula seperti jogging, sekarang seperti lari sprint. Cepat. Otak jeniusnya bekerja bagai mesin titanic. Wajah Rukia yang sebelumnya tenang-tenang saja, kini sedikit pucat. Sedikit.

Orang-orang mulai memperhatikan Rukia. Tatapan mereka yang seakan menguliti itu membuat Rukia benar-benar gerah. Menjadi pusat perhatian memang bukan keahlian Rukia. Sebulir keringat keluar dari dahinya. Untungnya, tidak banyak.

Bodoh kau Rukia! Kenapa kau tidak menyadarinya dari tadi!

Pria stoberi berambut jeruk itu kembali menampakkan seringaian seksi. "Ada apa, Kuchiki?" Tanya Ichigo memasang wajah polosnya sambil tetap berseringai ria.

Rukia menenangkan dirinya sejenak dan kembali melangkah. Hatinya berkali-kali berkomat-kamit mengucapkan segala kalimat yang ia punya untuk menstabilkan dirinya.

Tenang...

Tenang...

Tenang...

Sepertinya mantra yang diucapkan Kuchiki terakhir itu benar-benar mujarab. Dirinya sudah kembali tenang sekarang. Walau tidak bisa disangkal ia sedikit gugup. Bukan Rukia kalau ia akan gagap jika gugup.

"Bagaimana kabarmu, Kuchiki-san?" tanya pria bersurai orange sedikit berbasa-basi. "Ah ya, kita belum sempat berkenalan, mana mungkin kau akan menjawab pertanyaanku. Aku Kurosaki Ichigo."

"Kuchiki Rukia." Rukia menyambut uluran tangan Ichigo. "Tentu saja kabarku baik. Kuharap kau juga begitu."

Seorang pelayan meletakkan beberapa hidangan pembuka diatas meja. Perhatian Rukia agak terbagi karena itu.

"Sesuai yang kau harapkan, Kuchiki." Mata hazel Ichigo menatap lurus ke arah mata Rukia. "Mengenai hadiah undian itu, aku serahkan pada Ishida. Nah sekarang tentangmu."

Rukia menelan salivanya dengan susah payah.

"Sebelumnya maaf kalau aku seenaknya padamu. Sungguh, itu bukan aku yang ingin, tapi si baka oyaji itu. Ia ingin cepat-cepat menimang cucu dariku."

Apakah ini berarti...

Rukia menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan. Tangan kanannya mencubit tangan kiri. Berharap ini hanya mimpi dan segera berakhir. Tetapi yang didapatkan Rukia adalah rasa sakit. Dan itu berarti ini bukan mimpi.

"Kau mau menikah denganku?"

DEG

Oh Kami-sama, apa yang barusan Rukia duga ternyata terjadi.

Seorang Kurosaki melamar Kuchiki terakhir!

"Aaa–"

"Aku anggap itu iya." Sambung Ichigo cepat.

Sepertinya Dewi Fortuna beserta suami dan anak cucu mereka tidak berpihak padamu untuk sekarang, Rukia..

"Hei, aku kan belum bilang 'iya'! Lagipula, umurku masih 16 tahun dan masih sekolah!" tolak Rukia dengan keras.

"Dua bulan lagi, kau 'kan akan lulus dan seminggu setelah itu kita menikah. Menjelang itu kita akan tunangan dulu. Tentang pertunangan, aku sudah mengatur semuanya dan lusa kita bertunangan." Ucap Ichigo tanpa memperdulikan raut wajah Rukia –gadisnya.

Wajah Rukia sekarang memerah, menahan amarah yang siap muntah seperti gunung meletus kapan saja. Tangannya mengepal kuat dan dress mahalnya yang menjadi korban. Poor Rukia's dress.

Gadis itu meraih gelas anggur-nya. Rukia lupa kalau ia belum cukup umur untuk minum anggur. Diteguknya isi gelas itu sampai ludes. Tapi tetap saja, kobaran api kemarahan masih menyala. Semakin menyala kala pria di depannya semakin berkata-kata.

"Setelah kita menikah, kau harus cepat punya anak, lalu–"

BYUUR!

Rukia memuntahkan anggurnya yang sudah hampir mencapai perut. Untung saja dressnya masih selamat, tetapi tidak dengan wajah wajah tampan Ichigo. Wajah itu sekarang belepotan anggur yang dicampur dengan sedikit air liur Rukia. Poor Ichigo.

"HEI TUAN KUROSAKI YANG TERHORMAT, kalau kau menikahi aku hanya ingin MENDAPATKAN ANAK, lebih baik kau nikahi saja sapi perah yang siap menerima 'sodokkan' darimu. Persetan dengan apa yang kau ucapkan. Aku pergi, permisi!" teriak Rukia meluap-luap.

Rukia tidak peduli lagi jika sekarang ia menjadi pusat perhatian atau apapun itu. Ia masih punya harga diri untuk menentukan masa depannya dan Rukia bukan murahan.

Dengan langkah yang dihentakkan, gadis Kuchiki itu keluar, tidak memperdulikan seringaian Ichigo yang semakin lebar. Beberapa pelayan yang ada disana menahan tawa mereka. Mereka seperti melihat drama sinetron yang biasanya ada di layar kaca menjadi nyata.

"Terserah kau mau bilang apa, Kuchiki, tetapi pertunangan dan pernikahan tetap akan dilaksanakan. Bersiaplah." Ujar Ichigo.

"TERSERAH!"

.

.

Disinilah Rukia, disebuah taman kota yang gelap dan sepi. Setelah 'adegan' pergi dari sang calon tunangan, Rukia pergi ke sini. Angin malam dengan mudahnya menusuk kulit Rukia yang hanya dibalut gaun tidak berlengan dan mencapai pertengahan pahanya.

Rambut Rukia yang sebelumnya rapi dengan make up bagai Selena Gomez (?) kini hancur, untung saja high heelsnya masih aman-aman saja. Salahkan Rukia yang berlari menembus kerumunan orang dan pakaian yang enggak maching beudh dengan orang-orang di sekitarnya. Alhasil, Rukia menjadi pusat perhatian.

"Hhh..." ini entah yang keberapa kalinya Rukia mendesah. Kejadian yang enggak Rukia nyangka banget terjadi.

Mulai dari diberi kalung gratisan, mimpi aneh, dapat undian yang nominalnya 'WOW', diantar dengan mobil yang bahkan Rukia tidak pernah berani mimpikan, mengenakan dress yang pastinya mahal, makan di restoran bintang kejora –sanking banyaknya bintang, bertemu dengan –err... Ichigo, dan pernyataan pria orange itu.

Pernyataan yang berupa lamaran.

"Argh! Oh Kami-sama!" Teriak Rukia frustasi. Beginilah Rukia kalau otaknya kacau, penampilannya ikut kacau juga. Serasi yah..

"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku tidak mengerti!" Jerit Rukia yang membuat burung hantu di dahan melirik ke arahnya. "Kenapa aku mesti menjalani nasib seperti ini? Aku... tidak mau menikah muda... Hiks hiks..." Air mata Rukia mulai turun perlahan.

Oh jadi ini sebabnya, Rukia belum mau kawin muda. Tapi bagus dong kawin muda, berbeda daripada yang lain serta berbeda dengan Kaien.

"Aku tidak mau punya anak cepat-cepat... hiks... hiks..." Rukia menarik cairan dari hidungnya perlahan. "Aku juga tidak mau menikah dengan si stoberi dengan kepala jeruk."

Maaf Rukia, tetapi Dewi Fortuna sedang sibuk bersama suaminya, sehingga tidak mendengar permintaanmu.

Lagipula yang ini harus digaris bawahi bahwa, calon tunangan dan suami Rukia adalah seorang Kurosaki, sementara Rukia hanya seorang gadis konyol yang tidak punya apa-apa.

Ironis bukan?

Kurosaki adalah salah satu keluarga terkaya. Mereka kaya harta, kaya senyum, kaya ramah, kaya pintar, kaya pahala, kaya dosa, serta kaya(k) manusia(?). Yang jelas, mereka punya segalanya.

Tapi itu juga salah satu ke-matching-an dari mereka. Ada yang bilang kalau saling berlawanan itu adalah bumbu kecocokan. Yah seperti, Rukia miskin, Ichigo kaya. Rukia pendek, Ichigo tinggi. Rukia punya rambut gelap, Ichigo rambut berwarna terang. Rukia cantik, Ichigo... keren. Pokoknya klop banget! Itu yang sering muncul di iklan makanan yang berhubungan dengan cokelat.

Ada satu yang author lupa, sebelumnya Ichigo punya hubungan dengan Rukia...

Dan itulah salah satu yang membuat Rukia kesal. "Huwaaa! Kenapa mesti Ichigo!"

... tapi hubungan itu rahasia atau lebih tepatnya hanya Ichigo, Rukia, beberapa teman mereka, dan author tentunya.

.

.

Hari ini tepat hari dimana Rukia-menjadi-milik-seorang-makhluk –yaitu sang Ichi-kun tercinta. Kini Rukia berdiri di depan tempat tidurnya dengan Ichigo yang berbaring di atas. Tangan Rukia ia lipat di depan dada dan menatap Ichigo dengan garang. Sedangkan pria itu masih setia memasang seringaian sejak pesta pertunangan hingga sekarang.

"Kau, kepala orange, enyah dari kamarku!" teriak Rukia seraya menunjuk pintu yang tertutup. "Kau sudah dapat kamar sendiri, kenapa mesti di sini juga?"

"Aku mau tidur dengan tu-na-ngan-ku."

"EH? Tidak bisa! Aku tidak mau!"

Ichigo perlahan mulai bangkit dan berjalan menuju Rukia. Gadis itu merasakan ada sesuatu yang berbahaya selanjutnya dan semakin yakin karena Ichigo memasang wajah mesumnya.

DUK

Dan Rukia terjebak di antara makhluk –Rukia tidak mau bilang manusia– dan dinding serta di penjara oleh tangan jelek dengan kulit kasar.

'Kalau Chappy sih tidak apa-apa' pikir Rukia.

Perlahan Ichigo memajukan wajahnya dan berhenti di telinga Rukia. Merasakan udara menghangat di area telinganya mau tak mau membuat Rukia bergidik sendiri.

"Apa kau tahu Ishida, Rukia?" tanya Ichigo sambil menjilat kuping Rukia, sedangkan gadis Kuchiki itu menganggukkan kepalanya pelan, takut beradu dengan kepala Ichigo. "Ishida dan istrinya sudah mempunyai momongan... bagaimana kalau kita... menyusulnya, hm?"

Sekali Ichigo menjilat telinga Rukia dan sesekali menggigitnya serta menghembuskan nafas. Jangan tanyakan keadaan Rukia, perbuatan yang dilakukan Ichigo memberi efek tersendiri yang belum pernah Rukia rasakan.

Ichigo menurunkan jilatannya menuju leher jenjang Rukia, memberi beberapa ciuman di titik rangsang Rukia dan... berhasil!

Rukia tampak mendesah tertahan, wajahnya memerah, matanya memicing, tangannya mengenggam kerah kemeja Ichigo dengan kuat, nafas Rukia terengah-engah.

Ichigo semakin melancarkan aksinya, "Ayolah Rukia, kau belum menjawab pertanyaanku," setelah melihat 'karya' Ichigo yang indah di leher Rukia, pria itu menatap intens sang gadis. "Asal kau tahu, dikamusku diam itu berarti iya." Ucapnya sambil menggendong Rukia

Rukia yang baru sadar dari sensasi yang dirasakannya langsung menolak dengan memukul dada Ichigo, tpi apa daya, penelitian ilmuwan sudah mengatakan kalau kekuatan pria jauh lebih kuat daripada wanita.

"Brengsek! Lepaskan aku!" Jerit Rukia kala Ichigo mengikat kedua tangannya diatas dengan dasi di kepala ranjang.

Ichigo yang melihat penolakkan dari tunangannya hanya tersenyum –err... seksi, "Asal kau tahu, aku menyukai gadis yang liar seperti kau. Ada kata-kata terakhir di masa perawanmu, Rukia?"

Rukia yang ketakutan hanya bisa...

"TIDAKKK!"

... untung saja kamar hotel itu dilapisi kedap suara, kalau tidak orang sudah mengira ada 'sesuatu' di kamar hotel itu –memang ada 'sesuatu' sih.

.

.

SRET SRET

Sebuah tanda silang bertengger tepat diatas tanggal dengan angka 27 yang sudah dua bulan ini yang selalu dilakukannya. Si pelaku yang sudah mencoreng angka 27 itu menghela nafas. Tangannya yang bebas mengelus pelan perut yang belum terlihat buncit. Wajahnya yang kusut –namun cantik– menoleh ke belakang.

Di belakang, terlihat sebuah gaun panjang berwarna putih dengan bahu terbuka terpampang manis di badan manekin. Terlihat pas di tubuh manekin, andai tubuh itu diberi nyawa, mungkin si manekin sudah berjingkrak dapat mencoba gaun mahal + bagus + mewah buatan designer terkenal.

CKLEK BUM

Terdengar suara pintu terbuka dan tertutup. Seorang makhluk dengan perawakan tinggi berambut kuning muncul dengan senyum di wajah. Pria itu menghampiri sang tunangan yang sedang bermuram durja.

"Sayang, sudah mendingan mualnya?" bisik si makhluk mesra sambil memeluk tunangannya dari belakang dan mengelus perut wanita itu.

Wanita?

"Sudah... Ichigo?" tangan wanita itu membelai tangan prianya.

"Iya, sayang."

Raut wajah Rukia tampak ragu sejenak. "Besokkan pernikahan kita, aku mau gaunku nanti 'tidak biasa..." Ichigo bisa merasakan setetes keringat mengalir di pelipisnya. "... aku mau gaunku ada Chappy-nya."

"Tapi, Rukia–"

"Kalau tidak, aku tidak mau nikah. Lagian ini bukan permintaanku, tapi ini," Rukia menunjuk perutnya. "masa' kau tidak mau mengabulkan permintaan 'anak'mu ini? Kau benar-benar kejam pada anakmu sendiri, Ichigo."

Oke, mungkin ini adalah kesalahan Ichigo yang terlalu memanjakan Rukia dan akibatnya seperti sekarang, mau tidak mau Ichigo harus menurutinya, apalagi kalau ini sudah menyangkut anaknya. Memang masih calon anak, tapi bagaimanapun nyawa pemberian Tuhan harus dijagakan?

"Tapi Rukia..."

"Nak, ayahmu jahat pada kita. Ia tidak mau menuruti kemau–"

"Baiklah, baiklah. Jangan berkata seperti itu lagi."

Ichigo paling tidak suka kalau Rukia bicara pada sang anak dengan lebay-nya tentang penolakan itu. Pria itu takut kalau anaknya kelak membencinya.

Dengan enggan Ichigo meraih handphone-nya dan menekan beberapa tombol setelah terdengar nada dari telepon genggam itu, kini Ichigo bersuara, "Cepat. Datang. Ke sini."

TUUT

"Puas kau, Rukia?" wanita yang bernama Rukia itu hanya nyengir.

"Terima ka–" Rukia segera berlari menuju toilet dan memuntahkan isi perutnya.

HUEEEK

Terdengar bunyi air dari keran dan tak habis satu detik, terdengar suara langkah kaki seperti berlari. Ichigo yang tak jauh dari pintu kamar memasang kuda-kuda, bersiap ada 'kambing tua' yang menerjang kapan saja

DUAR!

"RUKIA-CHAN~~"

BRUAG!

"JANGAN MASUK SEMBARANGAN, OYAJII!" Teriak Ichigo.

Si kambung tua –coret– Otou-chan Ichigo hanya menyengir tidak jelas. "Refleks yang bagus, my sweetest son~~ Tampaknya kau sudah siap menjadi seorang ayah yang baik~~"

Ichigo hanya tersenyum miring, "Dan kau akan menjadi kakek yang buruk untuk anakku."

Rukia yang baru keluar dari toilet dan melihat pemandangan tidak lazim itu hanya tersenyum pada si Oyajii, "Aku tidak apa-apa, Tou-san."

Bukan tanpa sebab Rukia memanggil ayah Ichigo dengan sebutan 'Tou-san', salahkan saja si jenggot yang meminta Rukia memanggilnya dua bulan lebih cepat dari pernikahan.

"Syukurlah, aku kira cucuku kenapa-napa~"

BRUAG!

Sebuah bogem mentah mendarat di pipi sang jenggot tua, "Jangan bicara yang macam-macam!"

Sepertinya keceriaan keluarga Kurosaki beserta calon 'putri ketiga' tidak akan ada habisnya.

.

.

Dua orang berbeda gender berdiri di depan altar dengan seorang pastor di depan mereka. Gaun putih yang ada 'sedikit' motif Chappy melekat di tubuh sang wanita. Sedangkan sang pria memakai tuxedo yang membuat rambut orange-nya semakin menonjol.

Setelah mengucapkan sumpah setia sehidup semati dan menjadi seorang suami-istri yang sah, si pria mencium sang wanita yang tak pelak membuat tamu-tamu bersorak dan merona hebat.

"Silahkan kepada pembelai untuk melemparkan buket bunganya." Sesuai dengan instruksi MC, wanita itu melempar sebuket bunga krisan putih dengan senyum menawan.

PLOP!

"ICHIGO~~~"

Yang mendapat buket itu adalah...

"Oyajii?"

... ayah Ichigo tercinta, Kurosako Isshin.

-To Be Continued-


Hallo~ saya update!

Udah saya putusin kalo ga pindah rate, kalo pindah makin ribet dan saya ga pingin fic ini ribet *plak*

Gimana, gaje? Maaf ya kalau jadi kayak gini. alasan saya ga bisa update banyak, sekali lagi, maaf yaaa! Oh ya, rencananya chapter depan itu endingnya. masalah chap depan, itu tentang hubungan IchiRuki.
saya juga ga janji bisa update cepat.

Okeh, review-mu, semangatku! Review!