Aku terbangun kembali dari mimpi burukku, dengan peluh menetes dari dahiku dan juga napas yang tersenggal-senggal. Rasanya seperti terhempas dari langit.

Aku mendapati diriku berada di tempat lain. Tempat itu terang benderang, berbeda dari tempat sebelumnya. Tempat itu luas, bersih, dan semuanya serba putih, benar-benar beda jauh dengan tempat yang sebelumnya.

Aku masih menatap keatas, masih membisu.

"...Apakah ini surga?", aku menggumamkan sesuatu yang menurutku wajar bagi seorang yang mengalami masa-masa yang membingungkan. Yah, setidaknya begitu.

Tiba-tiba seorang terkekeh, dan membuatku terkejut.

'Sejak kapan ada orang disana?',batinku. Aku benar-benar tidak menyadari kehadiran sesorang sebelumnya. Aku benar-benar terkejut saat melihat wajah orang itu.

"apa kau benar-benar berpikir bahwa kau telah berada di surga?", tanya lelaki itu setelah berhenti terkekeh dan tiba-tiba raut wajahnya berubah seperti orang yang menyimpan dendam yang mendalam terhadapku.

Aku seperti pernah melihat orang ini! Kulit pucat, rambut hitam acak-acakan, kantung mata seperti panda, kaus putih panjang, dan celana jeans belel, ya, dalam mimpi burukku barusan.

Tetapi ada yang berbeda. Auranya, dan juga matanya. Dalam mimpiku, orang itu memiliki mata hitam. Bukan seperti ini, merah menyala. Seperti ruby yang sangat indah tapi sangat mengerikan. Seakan pernah mengenal orang ini aku hanya memandangnya datar.

"Kau benar-benar berfikir ini surga, hah?" tanya lelaki itu sekali lagi, dengan tatapan bengis dan kejam.

Setelah mengamati sekitar aku langsung sadar kalau aku sekarang berada di rumah sakit.

Lelaki itu tiba-tiba mengeluarkan pisau lipat dari jeans belelnya. Aku langsung merubah posisiku, yang semula tidur terlentang menjadi duduk dengan menggantungkan kakiku disalah satu sisi tempat tidur, rasanya tidak nyaman tapi aku tetap mempertahankan posisiku seperti itu. Tiba-tiba saja kepala dan kakiku terasa sangat sakit.

Orang itu terus mendekat kearahku, selang satu meter aku kembali membuka mulutku dan mulai berbicara yang sepertinya membuat orang itu agak terkejut.

"Siapa anda? Apakah anda yang membawa saya kemari?", tanyaku sopan.

Orang itu menatapku sambil melotot.

"Apa maksudmu?", orang itu membentakku. Aku terdiam. Keheningan menyelimuti kami berdua. Aku menatapnya heran dan mengalihkan pandangan pada pisau lipat yang berada di tangannya.

"Apakah anda hendak membunuh saya?", tanyaku memecah keheningan.

Orang itu terdiam sejenak, membuang muka dan menatap dinding putih disebelahnya kemudian kembali menatap mataku.

"Tentu tidak sobat, seperti biasanya, kau.. dan aku. Selalu bermain-main", ujarnya menunjukan senyuman yang tampak tulus.

Dalam nada bicaranya aku mendengar sesuatu yang tidak kumengerti apa maksudnya, orang itu seperti mencemaskanku ...

= ^o^ =

Orang itu masih diam dihadapanku. Menatapku yang sedang memegangi kepalaku karena kesakitan. Aku bertanya pada orang dihadapanku untuk mencairkan suasana yang benar-benar kaku diantara kami.

"Jadi sebenarnya siapa anda? Sebenarnya apa yang telah terjadi? Saya benar-benar tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi pada saya? Apakah anda mau menjelaskannya? Atau anda hanya akan terus menatap saya dengan tampang tolol seperti itu?.", tanyaku langsung dengan terang-terangan tanpa ada yang mengganjal seperti aku sendiri sering melakukan hal-hal seperti itu.

Orang itu menatap lekat-lekat mataku.

"Oh ya, sebenarnya apa hubungan saya dengan anda? Dan... siapa saya?" tanyaku bingung, aku juga heran dengan petanyaanku barusan? Aku benar-benar bingung dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi aku tetap menatapnya datar seakan tahu apa yang memang harus kulakukan.

Orang itu berpikir sejenak.

"Baiklah, akan kujelaskan semuanya. Tapi sebelum itu, bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang lebih baik dibandingkan tempat ini. Bukankah kau tidak suka tempat seperti ini?"

Aku terdiam menatapnya, bagaimana ia tahu aku benar-benar tidak nyaman dengan suasana disini? Apalagi baunya.

"Baiklah... segera urus administrasinya.", kataku memerintah. Orang itu mengernyit seakan tidak suka diperintah.

"Tidak, tidak seperti itu.", orang itu menolak.

"hn..?", aku tidak mengerti apa yang orang itu pikirkan.

Tiba-tiba saja orang itu membalikkan badannya dan sedikit berjongkok.

"Kita kabur. Aku tidak bawa uang sekarang ini. Naiklah ke punggungku. Aku tahu kakimu terkilir. Makanya kau tidak bisa jalan. Ayo naik.", pria itu mengajakku kabur dan menyuruhku naik kepunggungnya? Apa ia gila?. Tunggu. Aku melihat pakaian yang kami kenakan. Kaus putih lengan panjang polos dan jeans belel? Pakaian kami sama? Apa hanya kebetulan?.

"Cepatlah, sebentar lagi dokter akan kemari untuk memeriksamu.", ajak pria itu terburu-buru. Tanpa pikir panjang aku segera melompat kepunggungnya dan sedikit meringis kesakitan karena kaki kananku yang baru diperban benar-benar sakit ketika di gerakkan.

Kami keluar lewat jendela dan berlari menuju halte bus terdekat. Sepanjang perjalanan orang-orang menatap kami aneh. Jelas saja, dua orang pria berpakaian sama, saling menggendong yang lainnya sambil berlari-lari. Apakah itu tidak gila?

= ^o^ =

"Apa kau gila? Apa kau tidak punya kendaraan pribadi yang bisa membawa kita berdua ke tempat yang kau bilang 'lebih baik daripada tempat tadi'? Kita akan naik bus?", dengusku, tapi dengan wajah datar. Aku merasa tidak nyaman dengan semua ini, rasanya memalukan.

"Sudahlah anak manja, kau diam saja. Sudah kuatur segalanya", lawan bicaraku hanya menjawab sekenanya.

Aku kesal dengan kelakuannya yang seenaknya. Tapi kepalaku terlalu sakit untuk melampiaskan kemarahanku. Aku lalu menyandarkan kepalaku di bahunya. Kami benar-benar nampak seperti pasangan gay. Tiba-tiba hujan mengguyur jalanan. Menambah dinginnya suasana diantara kami.

= ^o^ =

Tunggu! Aku menatap cermin cembung yang biasanya digunakan untuk pengawasan tepat diatas kepala kami. Orang yang menggendongku tidak memerhatikannya, tapi aku iya!

Ini benar-benar tidak kukira sebelumnya. Wajah kami, ya benar, wajah kami mirip. Tidak ada yang membedakan diantara kami. Wajah pucat, mata berkantung, rambut hitam dengan model yang sama, acak-acakkan, hidung mancung, bibir tipis dengan lekukan yang terlihat detil. Aku... aku tidak tahu wajahku sendiri, bagaimana bisa? Apakah ini hanya ilusi? Tidak, aku masih bisa memercayai mataku sendiri. Hanya warna iris dan aura kami yang terlihat jelas berbeda, dan aku baru sadar kalau orang dimimpi burukku saat itu adalah aku, bukan orang ini.

Aku hanya bisa terdiam sambil memandangi wajahku sendiri.

Hujan mengisi kesunyian di halte bus. Sudah tiga bus lewat dan 'orang ini' tidak ada tanda-tanda akan bergerak meninggalkan halte. Sampai halte ini sepi aku baru berani membuka mulut.

"Siapa kau sebenarnya? Apakah kita saudara kembar? ...Wajah kita mirip...", aku berbisik lemas, nafasku yang hangat menyentuh lehernya sehingga membuatnya sedikit terkejut dan menggerakkan sedikit lehernya.

'orang ini diam saja....'

To be continued...