Kesunyian menghinggapi kami sampai akhirnya sebuah mobil porsche berwarna hitam berhenti dihadapan kami. Kami bergerak maju dan memasuki mobil itu.

Aku lumayan terkesan melihat mobil itu. Tidak kusangka orang ini memiliki mobil sebagus ini.

"Hei bodoh, kenapa kau terlambat? Apa kau tidak tahu apa yang akan terjadi bila ada polisi yang melihat kami?",orang itu langsung membentak sang sopir berbadan besar dan berkepala botak yang hanya membalasnya dengan kata maaf dan serentetan umpatan yang tidak jelas tapi lumayan keras. Tapi orang yang mirip denganku hanya diam saja sambil menaikkan kakinya ke atas jok dengan posisi jongkok.

Aku yang hanya melihatnya tiba-tiba mengikuti gerakannya itu, menaikkan kakiku keatas jok dengan posisi jongkok. Alhasil kakiku tambah sakit dan akhirnya hanya menaikkan kakiku ke jok supir tepat di sebelah kepala botak si sopir. Si botak itu langsung mengumpat keras dan dibalas bentakkan yang lebih keras dan sangat mengejutkan dari 'orang itu'. 'Orang itu' tersenyum padaku dan hanya kubalas seringaian jahil.

"Mana pesananku?", tanya 'orang itu' dan si sopir memberikan satu kantong plastik besar penuh permen, cokelat, balok gula, dan banyak makanan manis didalamnya. Aku merasa, sejak aku terbangun ditempat asing aku merasakan lidahku terasa sangat pahit. 'Orang itu' memberikan kantong besar itu padaku. Tanpa basa basi aku mengambil lollipop yang sangat besar dan menggigitnya sedikit demi sedikit.

"Siapa kau? Bagaimana kau bisa tahu segalanya tentang aku?", tanyaku sambil terus melahap lollipop dan menatap keluar dibalik kaca, melihat jalanan diguyur hujan deras sambil mendengarkan gemuruh guntur yang saling bersahutan.

Setelah diam sesaat lelaki itu menjawab, "karena aku adalah saudaramu. Saudara kembarmu tepatnya. Aku kakakmu. Namaku Beyond, Beyond Birthday.",

Beyond ...

Tiba-tiba kepalaku terasa sakit.

"Siapa aku?" tanyaku lagi.

"Kau adik kembarku, L. Lawliet ..." lanjutnya.

"Kita berada di negara apa? Hari apa sekarang? Bulan apa? Jam berapa? Tanggal berapa? Dan, kita menuju kemana, Beyond?" tanyaku beruntun.

"Kita di Iggris, sekarang hari Kamis, bulan Januari, dan sekarang pukul 4:44 PM, sekarang tanggal 21, dan kita akan menuju rumahku, rumah kita yang berada di pinggir kota.", jawab Beyond cepat. Aku memikirkan banyak hal yang ingin kutanyakan, tapi nanti saja setelah kami sampai ke rumah kami.

Kami sampai disebuah rumah megah, yang lebih pantas disebut kastil. Aku benar-benar terkesan sekarang.

Aku turun dengan menggunakan kursi roda yang dibawakan si botak. Aku diajak berkeliling. Menurutku, Beyond memiliki nila seni tinggi. Rumah kastil ini benar-benar besar. Terdapat kolam ikan yang sangat indah dengan air mancur dan patung cupid di tengah-tengahnya. Halamannya luas dan rimbun. Ditumbuhi banyak pohon dan bunga aneka warna, mungkin. Sekarang musim dingin, belum banyak bunga yang kembali tumbuh, hanya daun-daun kecil saja. Dan menurutku, tempat ini terpencil, karena daerah ini sepi sekali.

Aku dan Beyond mulai memasuki rumah 'kami'. Pintunya sangat besar dengan ukiran-ukiran artistik yang sangat indah, dalamnya tidak kalah megah. Aku mengamati rumah ini setiap incinya. Tapi kata Beyond itu tidak perlu, karena kata Beyond aku tidak akan lama tinggal di tempat ini.

"Kenapa?", tanyaku polos seperti anak kecil yang tidak mau kehilangan taman bermainnya.

"Tidak, kau tidak boleh lama-lama disini, karena kau tetap harus berada di tempat dimana kau berada.", jawab Beyond yang membuatku mengangguk kecil dan meninggalkan kecurigaan besar padanya.

= ^o^ =

"Ini akan menjadi ruanganmu, sementara ruangan pribadiku berada di ujung lorong. Jangan masuk sembarangan, oke!", kata Beyond menyeringai jahil seakan ada rahasia besar yang ia sembunyikan.

Aku tidak peduli. Aku memiliki banyak waktu untuk mengetahui semuanya. Begitu pikirku, dan Beyond juga menyetujuinya.

Seorang dokter ia sewa untuk mempercepat penyembuhan kakiku.

"Bagaimana dengan kepalaku? Apa kau tidak menyewa dokter agar mempercepat kembalinya ingatanku?", tanyaku dengan nada sedikit memohon yang sepertinya membuatnya kesal.

"Sebenarnya ada apa denganmu? Semenjak kau lupa ingatan kau jadi cerewet, manja, dan banyak maunya seperti itu!", Beyond kembali membentakku.

"...Baiklah, pertanyaan terakhir untuk malam ini. Jelaskan secara rinci bagaimana aku bisa hilang ingatan seperti ini? Dan bagaimana kau menemukanku?", aku bertanya dengan nada dingin, karena aku cukup tersinggung diejek manja seperti tadi.

"Aku hanya dikirimi pesan ancaman. Dan aku mencarimu kemana-mana. Kau, kutemukan dipinggir jalan dengan luka dikepalamu. Begitulah intinya. Aku tidak tahu apa yang kau lakukan, puas?", Beyond sepertinya jengkel padaku.

"Baiklah, terimakasih. Kembalilah pada ruang rahasiamu.", aku langsung membalikkan badan dan benar-benar mencerna apa yang Beyond katakan barusan.

Aku tahu bahwa Beyond berbohong. Aku kembali membuka kantong plastik yang berisi banyak makanan manis. Dan menjatuhkan semua isinya di atas lantai.

Beyond keluar dari ruanganku dan berteriak dari luar, "kalau perlu sesuatu, pencet saja tombol di meja kecil dekat tempat tidurmu!".

Aku berpikir keras. Mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum aku kehilangan ingatan. Aku hanya dikirimi pesan ancaman. Dan aku mencarimu kemana-mana. Kau, kutemukan dipinggir jalan dengan luka dikepalamu. Begitulah intinya. Aku tidak tahu apa yang kau lakukan, aku terus memikirkan kata-kata Beyond. Berarti benar, aku jatuh di tangan yang salah. Kami bersaudara, tetapi sesuatu mungkin telah terjadi sampai ia sempat ingin membunuhku saat dirumah sakit. Itu terbukti karena sebenarnya aku tidak berada di pinggir jalan, aku terbangun di sebuah bangunan tua. Aku tidak menyadari ada luka di kepalaku saat itu. Berarti, terjadi sesuatu sehari sebelum aku terbangun...

= ^o^ =

Oke, ruangan yang kutempati cukup besar dan mewah. Kalau kau masuk, kau dihadapkan dengan tembok kayu sederhana dengan banyak lukisan abstrak yang memenuhi dari atas sampai bawah.

Tembok itu membatasi dari pintu masuk dan tempat tidur. Disebelahnya ada meja kerja, banyak buku berderet-deret di lemari buku, laptop, alat tulis, dan telepon genggam semua tersedia disana. Didepan meja kerja terdapat perapian dan juga sofa empuk berwarna kelabu dengan ukiran kayu jati yang sangat menawan, seperti singgasana raja. Dan dibalik dinding kayu tentu saja tempat tidur ukuran king size yang tak kalah mewah, dengan warna dan ukiran yang senada dengan sofa tadi.

= ^o^ =

Aku menghabiskan satu malam tanpa tidur untuk mengingat masa laluku dengan Beyond, tapi hasilnya nihil.

Aku tidak merasa ngantuk sama sekali, dan aku juga tidak mau tertidur karena aku khawatir akan mendapatkan mimpi buruk. Walaupun begitu aku mendapatkan banyak kemungkinan yang bisa terjadi pada hari itu, sampai-sampai camilan manisku habis.

Yah, aku tidak akan mendapatkan poin penting dari pokok masalah ini sampai aku sembuh dari amnesia sialan ini! Benar-benar menyebalkan.

Pada pukul 8 pagi seorang dokter mengetuk pintu ruanganku dan memeriksa kakiku. Dokter itu bilang kakiku sembuh dengan cepat, tapi masih perlu waktu tiga atau empat hari lagi untuk sembuh.

Kemudian dokter itu keluar hendak memberitahu keadaanku kepada Beyond yang sedari tadi tidak mau masuk dan hanya menunggu diluar.

Aku melihat percakapan mereka dari balik pintu yang sedikit terbuka. Beyond membentak dokter itu sampai dokter itu berlutut memohon maaf. Beyond menyuruh agar segera menyembuhkan kakiku dalam waktu sehari, Beyond memang bena-benar gila.

Dokter itu kembali masuk dan menyuntikkan sesuatu pada kakiku. Dokter itu menyuntikkannya dengan tangan gemetar. Ia benar-benar ketakutan melihat Beyond yang menatapnya sinis. Lalu dokter itu berbalik dan mengucapkan salam tanpa berani menatap mata ruby milik Beyond.

"Jadi, begitukah caramu mempermainkan orang?", aku membuka pembicaraan setelah dokter itu pergi dan menatapnya datar , berharap ia akan meladeni celotehanku dan membawaku pada titik terang.

"Kau memancingku Lawliet? Fufufu, kuno. Aku benar-benar tahu bagaimana dirimu, L. Aku mengenalmu. Jujur saja. Apa yang ingin kau tanyakan?". Tepat, ia benar-benar terjebak.

Aku menyunggingkan senyum kecil yang takkan pernah terlihat oleh Beyond.

"Baiklah, kau benar-benar mengenalku. Mengapa gayaku dan gayamu banyak persamaan? Mulai dari rambut, penampilan, pakaian. Siapa yang menggunakan kostum ini lebih dulu?" aku tersenyum kecil.

"fufufu, kau mau tahu? Bukannya kau sudah mengatakannya? Kau menganggap ini kostum dan bukan bagian dari dirimu. Tentu aku yang lebih dulu. Aku kakakmu, seorang adik kecil biasanya akan mengikuti kakaknya. Ya kan?", Beyond tersenyum manis, yang membuatku sedikit muak.

"Baiklah, jawaban yang tidak masuk akal. Kakak dan adik? Itu tidak penting. Kita mirip, kanapa bukan kau yang mendapatkan luka-luka ini?" kataku sambil menunjuk luka di kepalaku dan tanganku.

Beyond tersenyum kecut. " itu membuktikan bahwa aku yang lebih baik darimu. Kau hanya meniru-niru gayaku. Bahwa aku yang lebih hebat dan dicari untuk dibunuh.", aku melanjutkan.

"Bagaimana kalau saat itu orang tidak tahu kalau kau dan aku kembar?", Beyond menyeringai licik.

"Siapa orang bodoh itu? Bagaimana kalau kau yang berada di posisi orang itu? Itu bisa membunuh dirinya sendiri, tidakkah itu aneh? Kecuali apabila kau yang berada pada pihak si pembunuh? Aku yakin bahwa kau dan aku bukanlah orang sembarangan yang dapat menyewa tempat seperti ini. Aku tahu benar tempat macam apa ini. Ini sebuah tempat peristirahatan seorang raja pada abad XIX yang sudah lama tidak digunakan. Apa kau tidak melihat simbol-simbol itu pada barang-barangnya? kau bilang ini rumah kita? Konyol. tidak mudah untuk dapat menyembunyikan identitas orang-orang seperti kita. Maka dari itu mencari identitas bukanlah hal yang terlalu sulit. Sehingga si pembunuh tidak mungkin salah orang dan membiarkan kau sebagai kembaranku baik-baik saja sampai saat ini tanpa luka apapun. Dan kau hanya dikirimi pesan ancaman. Apa isinya?", balasku bertubi-tubi menunggu ekspresinya akan terpojok. Tapi sebaliknya, dia terlihat bosan. Benar-benar pemain watak.

"Aku tidak peduli apabila kau tidak percaya padaku. Aku tak butuh kepercayaanmu. Tapi, aku ingatkan satu hal, siapa yang akan kau percayai sekarang bila bukan aku, hah?", Beyond menatapku jengkel, karena aku tidak antusias dengan jawabannya seperti tadi.

Aku menyesap teh yang kubuat sendiri dengan gula yang sangat banyak, sekitar 12 balok gula dalam satu cangkir. Lidahku terasa pahit dan tiba-tiba kepalaku sakit. Aku melihat bayangan, walaupun kabur tapi aku merasa seperti pernah berdebat dengan Beyond sebelumnya.

"Apa isi pesan itu?", aku mengulangi pertanyaanku. Sementara Beyond masih menatapku jengkel. Tetapi Beyond menahan amarahnya. "aku telah membunuh separuh dari dirimu. Tunggu giliranmu.",

Aku menatap Beyond, ia mengatakannya dengan tatapan menerawang.

"Menurutmu, apa maksudnya?", aku diam. Berharap jawaban jujur keluar dari mulut Beyond.

"Aku sedang diincar.", jawab Beyond santai masih dengan tatapan menerawang.

"Kenapa aku tidak dibunuh? Bagaimana menurutmu?",aku menyesap kembali tehku.

"Aku tidak tahu, mungkin ada sesuatu yang ia inginkan sebelum kau mati dan tidak bisa ia dapatkan lagi bila kau mati.", kali ini Beyond menyampaikannya dengan serius.

"Kira-kira apa ya?", tanyaku sedikit menerawang.

"Sudah, jangan terus-terusan bermain detektif-detektifan. Aku sudah mulai bosan. Lagipula aku belum sarapan. Ayo, kita sarapan di ruang makan.", Beyond mengajakku dengan nada cemas yang dibuat-buat.

Aku hanya mendengus dan sedikit menggeleng. "Oh iya, apa yang telah kulakukan sampai ada seseorang yang berusaha membunuhku? Apakah hal yang kulakukan itu adalah tugas mulia?", tanyaku polos seperti biasa.

"hahahahaha.. mulia? Kau benar-benar membuatku mual. Hahaha.. sudahlah, jangan dipikirkan. Nanti kita akan melakukannya lagi. Tunggu saja.", Beyond tidak bisa berhenti tertawa mendengar pertanyaanku. Aku mendengar nada sumbang dari tawa Beyond, yang mungkin saja berarti sesuatu.

Beyond sudah berada di ambang pintu ketika aku menanyakan pertanyaan terakhir, "mengapa kau ingin sekali agar kakiku dapat segera sembuh, Beyond? ", tanyaku yang sedari tadi heran akan kelakuan Beyond.

"Agar kita bisa kembali bersenang-senang! Kau cukup panggil aku B saja, L", kata Beyond tak mengenyahkanku sama sekali sambil terus tertawa.

To be continued...

.


yo!

Makasih yak Reviewnyaaaa Kazu Fuyuki-san, beyondXbloodyXhell, Mika Sasurena, dan RukaAna SixthGuns..

Reviewnya bantu banget buat ngelanjutin fic ini"=_=

Sebenernya males banget*digeplak

Tapi karena review2 kalian yang bener2 mengembalikan SEMANGAT SAYAAAA!

Sudah yaa, sampe sini dulu. Mudah2an minggu depan bisa updet yang Meadow jugak#curcol

Sekian nyocotnya utk kali ini.

.

Arigatou