Bruak

"Mels. Apa kau tidak bisa membuka pintu tidak berdosa itu dengan gaya basa saja?" ujar Matt sedikit terkejut dengan setengah berteriak.

"Matt kau tahu benar apa yang membuatku bersemangat seperti ini." Mello merebahkan diri diatas kasur disebelah Matt sambil membuka bungkus cokelat yang baru diambilnya dari dapur.

"Mello bukan hanya saat bersemangat saja kau membuka pintu seperti itu. Hampir setiap saat." Matt masih setengah jengkel dengan kelakuan teman sekamarnya.

Bugh.

Sebuah hantaman keras dibahunya dari Mello tersayang mendarat dengan mulus.

"Ouch! Baiklah. Terserah kau saja. Memangnya apa yang mau kau bicarakan?" Matt mengalihkan pandangan pada layar konsol game yang ia pause sejak Mello datang dan mengejutkannya.

"Che, Matt kau mulai tampak seperti pria tua menyebalkan itu." Mello menggigit batangan cokelatnya dengan kasar.

"Terserah. Ayolah Mells, aku mulai penasaran." Pandangan Mattkembali beralih pada Mello setelah kembali mem-pause gamenya.

"Kau tahu kabar L yang hilang kan?" ternyata kabar itu benar." Ucap Melloacuh tanpa memandang Matt.

"Ya. Aku tahu. Seluruh panti sedang membicarakannya. Dari mana kau tahu kabar itu benar?" Matt kembali mem-play gamenya yang tertunda.

"Watari. Secara tidak langsung ia membenarkannya dan menyuruhku agar tidak bertindak gegabah." Klak. Suara patahan cokelat terus beradu selama Mello berbicara.

"ha. Bagaimana Watari bisa tahu kalau kau akan bertindak gegabah?" matt mencemooh.

Pletak.

Jitakan dari Mello terkasih kembali mendarat pada puncak kepalanya dengan mulus.

"Aduh! Berhentilah menyakitiku Mello." Matt mengerang kesakitan.

"Aku tidak pernah bertindak gegabah Matty. Lagipula aku selalu berpikir. Aku bertindak karena ada sebab." Klak. Patahan cokelat yang terus menggema diseluruh ruangan dengan Mello yang juga tidak memperdulikan erangan Matt.

"Oh. Baiklah. Apa sebabnya?" ujar Matt masih dengan nada kesakitan yang mencemooh.

"Aku tahu dimana kemungkinan L akan muncul. Dan mau tak mau kau harus ikut Matt. Ini sudah kuputuskan." Mello duduk tegak dengan memperhatikan Matt intens.

"Tidak masalah. Asalkan ka uterus berpikir dan aku yakin kau tidak berbuat gegabah." Sekarang Matt yang menjawabnya dengan nada sarkastik dan Nampak tidak peduli.

'Aku tidak pernah punya pilihan lain. Ya kan Mels?'

Klak.

= ^o^ =

Matt dan Mello berjalan beriringan meninggalkan ruangan mereka menuju ruang makan. Ya, sekarang sudah waktu makan malam.

Mereka berjalan dalam diam. Matt yang berjalan masih sambil terpaku pada konsol gamenya dan Mello yang juga berjalan acuh disebelahnya sambil makan cokelat Hershey.

Mereka sampai di ruang makan yang sudah cukup ramai. Terlalu berlebihan menuliskan 'ramai' karena hanya ada delapan remaja disana, dan juga 14 bocah yang tampak asyik sendiri.

"Che, panti asuhan ini tidak pernah beribah." Gumam Mello pelan.

"Hn? Apa yang kau katakan?" Matt menyahut pelan setelah tersadar kembali dari dunia fantasi dalam konsol gamenya.

Mereka mengamati sekitar. Dua baris meja dan kursi panjang diletakkan ditengah ruangan. Yah, dengan nuansa yang hangat dan tenang. Diatasnya tersaji makanan-makanan yang mengundang selera dengan asap yang masih mengepul diatasnya. Ada sup jamur, kentang tumbuk, daging rusa panggang, serta makanan-makanan manis yang tak kalah menarik. Pudding, cupcake, dan kudapan kecil lainnya.

Mereka mengambil tempat diantara para remaja sebaya mereka yang tampaknya sedang mengobrol seru.

"Hai Mells. Dari mana saja kau? Kami menunggu kaluan sejak tadi." Seorang gadis manis berambut ikal dipangkas pendek mencoba mnyapa Mello yang tampaknya tidak peduli.

"Matt, kau masih mengekor pada tuanmu ya? Haha. Bercanda. Kenapa lama sekali sih? Kalian tahu kan kalau perutku tidak pernah berhenti meraung kalau sudah dihadapkan pada semua makanan ini." Anak lelaki berbadan gempal dengan kacamata dibawah hidungnya mengeluh pada Matt yang hanya ditanggapi tawa kecil dan pukulan keras dipipi anak lelaki gempal itu karena gemas.

"Heh gembul, kenapa kau tidak langsung makan saja? Kau pikir apa gunanya menunggu kami?" Mello kembali menggunakan nada sarkastik.

"Kalau boleh begitu aku juga tidak akan repot-repot menunggu kalian. Semua gara-gara Roger." Anak lelaki itu mendengus sebal sambil melirik pria tua diujung ruangan yang tampak sedang mengawasi.

"Ya sudah ayo makan! Kita kan sudah hadir disini." Matt bersiap memotong bagian paha rusa panggang dihadapannya sebelum seorang gadis brunette dikuncir dua memukul tangannya keras.

"Tunggu! Near mana?" tanya gadis itu datar pada Matt yang mengelus-elus punggung tangannya dan menatap gadis brunette itu jengkel.

"Biarkan saja dia! Ayo makan gembul." Matt melupakan rasa sakitnya dan mulai menyendoki kentang tumbuk.

"Che, tunggu sebentar Matty. Kita mesti menunggunya dan berdoa bersama." Mello tiba-tiba menarik tangan Matt yang sudah bersiap menyuapkan makanan itu ke mulutnya.

"Haha. Ternyata Mello masih peduli dengan rivalnya itu." seorang anak lelaki berwajah tampan menyahut dengan semangat.

"Che, diam kau! Apa salahnya memang menunggu sebentar? Dasar rakus." Ujar Mello tidak terima.

"Sudah… Nah, itu dia si Near." Anak lelaki lain disebelah Mello berusaha menenangkan.

Near datang dengan wajah flat dan duduk dihadapan Mello.

"Maaf terlambat."

"Che…"

Mereka mulai berdoa bersama dipimpin Mello dan mulai makan dengan lahap.

Selesai makan mereka mengobrol sampa larut dan satu persatu dari mereka kembali ke kamar masing-masing karena lelah dan mengantuk. Sehingga tinggalah Matt, Mello, Near dan gadis brunette bernama Linda.

"Hoaam… Matt. Kupikir ini cukup larut untuk seorang gadis kembali ke kamarnya seorang diri. Maukah kau mengantarku?" sergah Linda yang sepertinya sudah tampak kelelahan.

"Err… Tentu. Baiklah akan kuantar. Memang berbahaya bagi anak perempuan berjalan sendirian tengah malam di bangunan yang menakutkan ini." Matt melirik Linda sambil tertawa kecil.

"Hahaha… Matt. Kau bisa saja." Linda menyenggol pelan lengan Matt.

"Haha.,, Tenang saja. Mello, tunggu aku sebentar disini ya? Aku akan mengantar Linda sebentar." Tanpa menunggu jawaban dari Mello, matt segera beranjak pergi mengantar Linda ke kamarnya.

Setelah itu ruang makan jadi hening. Matt meninggalkan ruangan bersama Linda. Sedangkan Mello dan Near hanya diam-diam saja.

"Sudahlah. Aku akan kembali saja. " kata Mello pada akhirnya memecah atmosfir yang canggung.

"Mello. Bukankah Matt sudah meminta anda untuk tetap menunggunya disini?" Near berujar datar dan formal. Seperti biasa.

"Che. Tenang saja, ia tahu jalan kekamarnya." Mello beranjak meninggalkan Near yang sedari tadi hanya memainkan rambutnya.

"Aapa anda tidak ingin menunggunya disini bersama saya? Sebentar lagi Matt akan sampai." Near menatap punggung Mello dengan ekspresi tertarik.

Langkah Mello terhenti. Ia menoleh dramatis dan menampilkan raut masam.

"Che. Apa urusanmu mengatur begitu? Terus terang saja, apa yang mau kau lakukan menahanku disini, heh?" Mello meraih bungkus cokelat dalam saku celananya dan membukanya asal-asalan masih dengan raut masam dan sebal.

"Ternyata Mello sadar ya? Sebenarnya, saya tahu bahwa anda akan mwlakukan sesuatu kali ini. Yah, anggap saja sebagai misi penyelamatan L." Near menatap sisi lain ruangan dibelakang Mello.

"Heh bocah, kusarankan kau tidak mencampuri urusan orang lain. Apalagi urusanku." Klak. Mello mendengus.

"Saya tidak bermaksud. Hanya, sebenarnya saya ngin bergabung." Near memandang mata Mello datar yang membuat Mello menynggingkan senyuman mencemooh.

"Heh bocah! Mimpi apa kau heh? Kau pikir aku akan memperbolehkan bocah sepertimu mengganggu rencanaku eh?" Mell terkekeh pelan dengan nada mengejek.

"Saya tidak akan menggangggu. Lagi pula, saya tahubahwa Mello tidak akan dengan mudah menerima saya. Maka saya akan melakukan penawaran." Lanjut Near sambil memainkan ujung piyamanya.

Mello hanya diam menatap makhluk yang sekiranya dianggapnya aneh sekaligus mungkin-dikaguminya dengan raut heran.

"Saya punya petunjuk." Ucap Near mantap.

" pikir aku tidak punya eh?" tidak usah membujukku Near." Mello masih dengan setengah tersenyum.

"Baiklah. Saya tahu benar bahwa anda memiliki petunjuk yang minim. Maka, saya akan membantu melengkapinya. Petunjuk ini hanya L-sama dan saya yang tahu."Near tersenyum tipis.

"Che. Sombong sekali kau bocah. Lagipula, apa aku akan percaya begitu saja?" Mello berjalan mendekati Near.

"Tentu saja saya benar-benar memilikinya. Atau, Mello tidak mau menerima saya karena takut akan saya saingi dalama menemukan L-sama?"

"Hah…hahaha… Apa yang kau pikirkan bocah? Konyol. Aku hanya tidak mau rencanaku gagal hanya karena tambahan bocah lamban sepertimu."

"Saya tidak selemah yang Mello pikir."

..

"Mells! Yo! Ini, cokelat. Linda memberikannya untukmu. Emm… apa yang kalian bicarakan? Sepertinya ada perdebatan kecil disini."

"Saya sudah memutuskan untuk ikut dalam rencana anda Mello. Saya berjanji tidak akan menggagalkan rencanamu. Apa rencana anda serentan ini, sehingga menambahkan seseorang saja akan menghancurkan rencanamu?"

"Ya! Rencana ini sangat lemah. Masih banyak cacat disana sini. Terlalu berbahaya. Terlalu besar potensi untuk gagal. Aku hanya bisa memfokuskan rencana ini pada seseorang yang setidaknya bisa kupercaya. Aku hanya perlu seseorang dengan kemampuan yang kubutuhkan. Seseorang yang setidaknya akan sangat membantuku, sangat mendukungku! Kau tahu itu Near? Aku tidak percaya padamu. Aku tidak bisa begitu saja… percaya padamu. Dan itu berarti kau tidak bisa ikut dalam pertaruhan ini, Near."

Matt yang sedari tadi diam saja akhirnya angkat bicara dan mulai menengahi, "Near. Sebaiknya kau jangan ikut. Lagipula…"

"Setidaknya saya bisa diam dan mengamati. Saya akan berusaha dengan sangat keras agar tidak menjadi pengganggu. Dan dengan begitu saya juga akan berusaha keras untuk menjadi orang kepercayaan anda. Saya tidak perlu dilibatkan. Atau sekiranya saya akan tahu bagaimana langkah Mello selanjutnya. Dan saya yakin anda paham bagaimana saya cukup cerdas untuk dapat bertindak dengan benar."

"Che, mau berlagak kau heh? Bahkan kepandaianmu itu hanya dapat diukur dengan angka tanpa tindakan yang berarti. Aku tidak paham dimana sisi yang bisa kupercaya dari dirimu. Kau bahkan tidak pantas untuk muncul ke permukaan. Sebaiknya kau tetap dibelakang layar. tempatmu yang sebenarnya. Kau bisa melakukan apapun dari situ, tapi jangan menganggu pekerjaanku. Aku ingin bergerak dilajurku sendiri Near. Jangan mengusikku dengan ocehan konyol darimu. Itu hanya akan membuatku muak!" kali ini Mello serius. Bahkan mengucapkannya dengan sedikit berteriak.

Near terhenyak. Tidak ada alasan lain lagi baginya untuk memaksa Mello menggabungkannya dalam rencananya. Lagipula, Mello sudah mengatakannya dengan jelas. Mello ingin Near mengawasinya, menandai setiap gerak geriknya dan mungkin membantunya. Dari balik layar. Dan itulah yang setidaknya Mello percayakan padanya. Meski tidak secara gamblang.

Mello beranjak meninggalkan ruangan dengan Matt yang mengekor dibelakangnya. Near hanya tersenyum. Senyum tipis. Disisi lain Mello puas. Sangat puas malah. Near kalah dan ia menang. Setidaknya hanya untuk malam ini, Mello menang mutlak.

To be continued...


Yo!

Kayaknya chara2 diatas kelewat OOC gak sih?

tauk deh

BB: heh author gak penting! kalo gak yakin ma crita ni ngapain di publish?

author: tekanan batin. w ngetik cepet2an buat para reader biar gak kecewa. tapi jadinya malah kaya gini ye?(garuk2 pantat)

BB: jorok amat lu!

author: abis kepala guwe udah lu gorok! gabisa garuk2 pala gw deh

BB: noh! palalu jelek2in koleksi gw

author: jahat amat lu ama gw

BB: bodo

ya, pokokna chapter ini akhirna saia publish juga, walopun rada ga yakin

silakan me-review bila berkenan:3