Hola Minna. Gaktahu kenapa saya pengen ada sekuelnya gini ya?
SEKUEL FROM 'PRICKLY ROSE'
DISCLAIMER : TITE KUBO.
WARNING : OOC, AU, GAJE, MISSTYPO (maaf kalau ada kekurangan pengetikan)
RATE : M (for safe)
ATTENTION : Fic ini adalah fiksi belaka, jika ada kesamaan atau kemiripan situasi dan cerita dengan fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun itu tidak disengaja.
.
.
.
"Menikah?" ulang Byakuya.
Rukia mengangguk cepat dan pasti. Wajahnya begitu bahagia begitu mengutarakan maksudnya pada sang kakak malam itu. Setelah sepakat dengan Ichigo, Rukia langsung membicarakannya dengan sang kakak. Rukia tahu ini tidak benar. Tapi dia hanya ingin meyakinkan dirinya saja. Apakah dia... jatuh cinta padanya... atau hanya kasihan padanya.
"Kau baru satu hari berada di Tokyo. Dan langsung ingin menikah? Apa tidak buru-buru?"
"Kenapa? Umurku sudah cukup untuk menikah. Bukankah aku pernah bilang dengan Nii-sama? Sepulangnya dari Eropa aku akan langsung menikah. Nii-sama lupa?" kata Rukia mencoba mengingatkan.
"Tapi... tetap saja terlalu terburu-buru. Bagaimana kalau kau tunggu satu tahun lagi? Kau sudah pergi selama 8 tahun dan kau ingin pergi lagi?" ujar Byakuya mencoba membujuk adik kesayangannya itu. Tapi kalau membujuk Rukia itu adalah pekerjaan mudah, mana mungkin gadis mungil ini bisa pergi selama itu tanpa pernah pulang sekalipun. Rukia adalah anak paling keras kepala yang pernah Byakuya lihat. Dia mana mungkin setuju begitu saja dengan usul kakaknya. Dia... selalu ingin mendapatkan apapun yang diinginkannya.
Dan menikah. Apakah adik kesayanganya ini mengerti arti kata itu? Kata itu bukanlah kata yang begitu mudah diucapkan. Itu adalah kata-kata penuh makna yang hanya diucapkan oleh orang yang sudah yakin akan keputusannya. Byakuya tahu, Rukia yakin dengan keputusannya. Hanya saja... terlalu mendadak. Dan menikah... adalah satu hal yang Byakuya belum inginkan dari adiknya itu.
"Apa bedanya sekarang dan satu tahun lagi? Aku hanya akan semakin tua Nii-sama. Dan aku tidak mau terlihat tua didalam foto pernikahanku. Kuharap Nii-sama setuju dengan keputusanku ini." Bujuk Rukia lagi. Yah... Byakuya juga sama. Dia juga keras kepala tapi cenderung lebih mengikuti apa kata Rukia.
"Baiklah kau menang. Kau selalu saja membuatku tidak bisa menolak apapun yang kau inginkan. Apa kau sudah siap dengan segala komitmen dan tanggungjawab yang akan kau pikul nanti? Kau harus tahu Rukia... menikah punya komitmen dan tanggungjawab antara suami dan istri. Makanya pernikahan terjadi antara kedua orang yang saling mencintai satu sama lain. Dan kau... apakah kau yakin sudah menemukan orang itu? Orang yang benar-benar mencintaimu?"
Rukia tahu kakaknya khawatir padanya. Rukia juga tahu apa yang dikhawatirkan kakaknya ini. Kemungkinan tidak ada kebahagiaan dalam rumah tangganya kelak. Rukia mana mungkin bilang bahwa ini hanyalah pernikahan percobaan untuknya. Dia mencoba menikah selama 3 bulan dan akhirnya memilih sebuah keputusan. Melanjutkan pernikahan itu atau... menghentikannya. Rukia mana bisa mengatakan hal yang membuat kakaknya jauh lebih khawatir. Bisa-bisa pernikahan ini tak akan pernah terjadi seumur hidup Rukia.
Tapi dia hanya ingin mencoba saja. Bagaimana sebuah pernikahan itu bisa terjadi? Apa yang terjadi bila pernikahan dilakukan oleh 2 orang yang belum lama saling mengenal dan tidak mencintai satu sama lain. Dan bagaimana pernikahan dengan orang yang tidak bisa melupakan mantan kekasihnya? Rukia ingin tahu itu. Ingin tahu setelah mengenal Kurosaki Ichigo. Ingin tahu hal itu. Karena selama ini... Rukia belum pernah dihadapkan pada kondisi ini. Kondisi dimana seseorang tidak mau melihatnya karena mengingatkannya pada masa lalu. Dan Rukia hanya ingin... pria itu bisa melupakan sejenak masa lalunya. Melupakan... orang yang sudah mati. Hanya sejenak saja.
"Aku yakin... kau belum siap akan hal itu." Sela Byakuya lagi. Karena semenjak tadi adiknya terus diam setelah Byakuya mengatakan hal itu.
"Tidak Nii-sama. Aku siap. Aku tahu apa yang kupilih. Nii-sama hanya perlu mendukungku saja." Jelas Rukia bersikap tenang.
"Lalu... pria mana yang ingin kau nikahi itu?" tanya Byakuya. Berharap pria yang akan menikah dengan adiknya adalah pria baik-baik dari keluarga baik-baik yang mencintai adiknya setulus hati. Tapi Byakuya sanksi. Pria mana yang sudah ditemui oleh Rukia selama ini? Dia hidup di Eropa selama 8 tahun lebih. Dan tak pernah sekalipun pulang ke Jepang. Bagaimana bisa ada pria Jepang yang dia cintai selama ini? Kemungkinannya adalah... pria yang ingin dinikahi oleh Rukia adalah pria bule dengan rambut pirang dan mata biru. Hanya itu. Tapi Byakuya tahu, Rukia bukanlah tipe gadis yang menyukai pria asing.
"Kurosaki... Ichigo." Jawab Rukia.
"Apa? Kau... tidak bercanda 'kan?" kini Byakuya terlihat khawatir yang berlebihan. Byakuya tak menyangka nama itu yang keluar dari mulut adiknya.
"Yah. Memang kenapa? Nii-sama sudah mengenalnya. Dan aku yakin dia pria baik. Aku yakin akan bahagia bersamanya."
"Tidak! Aku orang pertama yang menentang pernikahanmu kalau pilihanmu adalah pria itu. Tidak akan Rukia!"
Rukia mendadak bingung kakaknya bersikap protektif begitu. Hanya karena mendengar nama Ichigo, kakaknya jadi begitu. Dia langsung membantah pernikahannya.
"Nii-sama?"
"Kau tidak akan pernah bahagia dengan pria itu! Kau sudah mendengar hal tentang dia'kan? Bahwa dia... tidak akan pernah bisa mencintai wanita lain! Dan kau malah ingin menikah dengannya? Kemana akal sehatmu! Selama kau masih jadi adikku... aku tidak akan pernah menyetujui pernikahan omong kosong itu!"
"Nii-sama? Aku... mencintainya..." lirih Rukia.
"Tidak! Mana bisa kau mencintai pria itu selama 1 hari! Mana bisa kau langsung mencintainya setelah mendengar cerita tentangnya. Mungkin kau bisa mencintainya. Tapi itu tidak akan lama. Kau hanya kasihan padanya. Rukia... pernikahan itu... hanya untuk satu kali dan selamanya. Apa jadinya kalau kau tak bisa bertahan dan berpisah setelah pernikahanmu hanya beberapa saat!" Byakuya tampak begitu keras menentang pernikahan ini. Dia hanya khawatir... Ichigo mungkin tak akan pernah bisa mencintai adiknya seperti dia mencintai mantan kekasihnya.
"Aku tahu itu..."
"Kau sudah tahu! Kalaupun kalian menikah... yang akan Kurosaki lihat adalah bayangan Ashiya Yukia! Bukan Kuchiki Rukia! Apa kau mau... suamimu mencintai orang yang sudah mati dengan melihatmu? Apa kau mau... Kurosaki menganggapmu... kekasihnya yang sudah mati?"
"Kalau itu yang terbaik... maka aku akan menerimanya. Nii-sama tidak tahu... betapa dia begitu berubah drastis selama 3 tahun ini. Aku mungkin baru mengenalnya 1 hari. Tapi aku seperti sudah mencintainya sejak aku bertemu dengannya. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum. Melihatnya... kembali seperti Kurosaki Ichigo 3 tahun yang lalu. Tidak apa-apa dia tidak mencintaiku. Tapi aku akan berusaha agar dia bisa mencintaiku. Makanya... restui saja pernikahan kami. Aku tahu pilihanku. Dan aku sudah tahu... konsekuensinya."
Byakuya diam melihat ekspresi adiknya itu. Rukia sepertinya begitu kuat pada pilihannya.
"Kau tidak tahu pilihanmu Rukia... aku hanya tidak ingin kau sakit hati nanti."
"Nii-sama. Ini adalah takdir. Kalau aku dan Ichigo tidak ditakdirkan bersama... aku mungkin tidak akan pernah bertemu dengannya. Aku juga tidak mungkin begitu mirip dengan kekasihnya yang sudah meninggal. Dan kekasihnya juga... tidak mungkin meninggal seperti ini kalau aku dan dia tidak ditakdirkan bertemu. Apa Nii-sama sudah paham?"
"Kau terlalu baik untuknya. Kenapa kau melakukan ini untuk orang yang bahkan tidak mencintaimu? Kenapa kau memilih dia? Kau tahu mungkin kau akan disakitinya saja."
"Aku tahu."
"Aku tidak akan merestui kalian sampai Kurosaki bisa mencintaimu setulus hatinya. Aku bisa tahu dia mencintaimu apa tidak. Dan kalau... setelah pernikahanmu kau tidak bahagia... segera berpisahlah dengannya. Kau mungkin hanya ingin tahu seperti apa pernikahan itu. Kalau begitu... lakukan saja. Tapi aku tidak akan membiarkan dia menyakitimu. Karena aku kakakmu."
"Baik... Nii-sama."
.
.
*KIN*
.
.
Rukia tahu memang tidak mudah meyakinkan kakaknya. Rukia juga tidak tahu kenapa dia begitu menginginkan hal ini. Tidak mengerti kenapa dirinya begitu ingin Ichigo. Dia hanya ingin membantunya keluar dari masa lalu kelam itu. Ingin membuat Ichigo kembali jadi pria normal yang bisa melepaskan masa lalunya. Hanya itu.
"Kau pasti... bercanda!" ujar Yumichika tidak percaya. Bahkan dia tampak begitu tidak percaya dengan apa yang dikatakan adik tingkatnya ini. Memang mereka begitu dekat selama ini. Dan Rukia adalah sahabat terbaik untuk Yumichika. Demikian pula sebaliknya. Rukia pagi ini datang ke butiknya lagi dan mengobrol biasa. Karena sepertinya untuk hari ini butik Yumichika agak sepi. Sepertinya sedang tidak ada pekerjaan mendesak. Setelah malam itu bicara panjang lebar dengan kakaknya, Rukia sedikit lega karena bisa menyampaikannya dengan benar. Tapi...
"Hello Kuchiki! Kau mau bermain di atas api! Kau mau menikahi orang yang tidak mencintaimu? Kalau aku jadi kau... entah aku kasihan atau memang aku cinta padanya, aku tidak akan seceroboh itu mengatakan ingin menikah dengannya! Kau pasti mabuk saat bilang begitu'kan?" sangkal Yumichika.
"Kenapa sepertinya kalian tidak percaya aku mau menikah dengannya? Memangnya dia seburuk itu?" ujar Rukia.
"Tentu saja! Grrr... dia itu sudah kehilangan orang yang dia cintai. Bagaimana bisa dia menikah dengan orang yang tidak dia cintai? Atau jangan-jangan... kau ini hanya bertaruh saja..." tebak Yumichika.
"Hah?"
"Yah... seperti di drama TV. Bertaruh selama pernikahan mereka. Kalau tidak berhasil maka akan berpisah setelah sekian bulan. Kalau berhasil maka akan diteruskan. Kebanyakan dari semua dramanya sih berhasil. Dan mereka hidup bahagia setelah semua cobaan itu. Tapi ini... bukan drama TV tahu! Aku tidak akan pernah merestui pernikahan kalian kalau hanya untuk taruhan begitu!"
"Yumichika... kakakku sudah cukup jadi orang yang menentang pernikahanku. Aku tidak mau ada lagi yang menentangnya. Mungkin... benar ini hanya taruhan. Tapi aku memang benar-benar ingin menikah." Pinta Rukia memelas.
Yumichika beranjak memeluk gadis mungil itu. Yumichika bisa melihat wajah sembab gadis itu. Dia pasti sekarang ini sedang serba salah. Apalagi setelah Rukia bercerita panjang lebar soal kakaknya yang menentang mati-matian pernikahan ini. Dan akhirnya membiarkan Rukia memilih sendiri. Pasti berat ketika tak seorangpun yang mendukung keputusannya.
"Kau tentu tahu... siapapun yang mendengar hal ini pasti tidak akan yakin dengan pilihanmu. Semuanya pasti menentangmu. Semua orang hanya ingin kebahagiaanmu. Kalau kau benar ingin menikah... kenapa tidak memilih orang yang lebih normal?" ujar Yumichika sambil mengusap rambut hitam Rukia.
"Karena aku ingin... dia jadi orang yang normal." Lirih Rukia.
"Katakan padaku... kenapa aku ingin menikah dengannya dan membuatnya kembali normal? Pasti ada alasannya 'kan?" balas Yumichika.
"Pertama kali aku bertemu dengannya ketika aku baru saja tiba di Tokyo. Aku bertemu dengannya di pantai. Saat itu aku melihatnya seperti biasa saja. Tapi... dia berjalan ke arah pantai itu tanpa ekspresi dan tampak merindukan sesuatu. Hingga dia... berjalan ke arah pantai itu ingin bunuh diri. Aku tidak mau melihatnya seperti itu lagi. Makanya aku ingin... dia kembali normal." Jelas Rukia.
Yah... Rukia tak ingin melihat pria itu datang sendirian ke pantai dan mencoba bunuh diri lagi. Tidak mau.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia menggembungkan pipinya dan duduk di sofa ruangan ini. Ruangan ini jauh lebih membosankan dari ruangan kakaknya. Ketika dia datang tadi ruangan ini tampak tidak ada yang menjaganya. Jadi Rukia langsung masuk saja. Dan benar. Memang kosong dan tak tampak apapun. Rukia bergerak lincah di ruangan itu. Menyusuri tiap sudut ruangan ini. Pemiliknya tanpa belum tiba. Sebenarnya dia kemana sih? Apa rapat lagi? Sekretarisnya yang seksi itu saja tidak ada. Kemana coba?
Rukia tersenyum geli saat mengingat pertemuannya yang konyol itu. Entahlah. Apakah Rukia bisa tahan akan hal ini. Karena mengingat dia sendiri yang mengajukan permainan konyol ini. Seharusnya dia tidak senekat itu ya? Tapi sudah terlambat sekarang ini.
"Jadi... proyek yang akan kita ajukan itu sudah disetujui? Kalau begitu kita tinggal minta surat―astaga..." gumam Renji tak menyudahi kata-katanya. Dia melihat seorang gadis yang duduk di meja GM itu sambil membuka-buka segala macam dokumen itu. Sedangkan sang GM sendiri tanpa ekspresi melihat kelakuan anak kecil ini. Ichigo paham gadis ini lebih muda 4 tahun darinya. Tentu ada saja kelakuannya yang tidak dewasa.
"Hai Renji! Hai Ichigo!" sapa Rukia lincah dan masih tetap duduk di meja itu sambil melambai ramah. Renji menggeleng melihat tingkah gadis itu. Sepertinya serius gadis itu akan menempel pada Ichigo.
"Hai Rukia... kau mau bertemu dengan calon suamimu?" goda Renji. Saat itu pandangan mata Ichigo terkesan tidak suka pada Renji. Sejujurnya yang ingin dikatakan oleh Ichigo melalui pandangan matanya adalah... 'kenapa kau tahu?' hanya itu. Karena sebenarnya... Ichigo sendiri belum yakin akan keputusan ini.
"Tentu saja! Aku sudah menunggu selama 1 jam disini!" rutuk Rukia.
"Oh baiklah. Rapatnya kita teruskan nanti pak GM. Jangan membuat gadis secantik itu menunggumu yah..." ujar Renji bermaksud menggoda. Renji langsung keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya. Ichigo berjalan malas menuju mejanya. Rukia sendiri berdiri di depan meja Ichigo memperhatikan pria itu yang nampak tidak menyadari kehadirannya.
"Kau tidak suka aku disini?" ujar Rukia.
"Kau sudah tahu 'kan?" balas Ichigo singkat.
"Tch... orang ini. Hei... kita akan segera menikah! Kenapa kau masih bersikap santai begini? Kau tidak mau bicara pada Nii-sama untuk melamarku!" rengek Rukia.
"Bisa nanti." Jawab Ichigo singkat. Sudut kepala Rukia rasanya ingin memuncak. Pria ini masih begitu dingin padanya.
"Tapi kau sudah setuju dengan pernikahan kita! Kau serius tidak sih! Kenapa kau buat aku jadi begini? Kalau kau tidak mau kenapa kau setuju mau menikah denganku? Apa kau Cuma mau mempermainkan aku saja? Aku ini sudah menunggu saat seperti ini tahu! Kau jahat sekali jadi seorang pria! Kenapa kau memperlakukan aku begini! Cepat jawab!" rengek Rukia sambil menghentakkan kakinya kesal. Ichigo jadi tidak konsentrasi membaca dokumen proyeknya dengan gadis cerewet dan tidak dewasa seperti ini. Kenapa Byakuya punya 2 adik yang begini merepotkan? Ichigo berusaha untuk tidak mendengarkan rengekan gadis itu dan tetap membaca dokumennya.
"HUWAAAAAAAAAAA! NII-SAMAAAAAAAAAAAAAAA!" teriak Rukia memecahkan keheningan di antara mereka. Ichigo terlonjak kaget mendengar tangisan Rukia. Gadis itu memang sengaja menangis keras-keras seperti itu.
"Diamlah! Apa maumu?" tanya Ichigo langsung berdiri dan berhadapan dengan gadis itu. Rukia menghentikan tangisnya dan mengusap wajahnya layaknya anak kecil. Lalu menarik nafasnya yang sesegukan.
"Bicara dengan Nii-sama soal pernikahan kita. Aku ingin segera menikah! Dan kau harus mengenalkan keluargamu padaku. Bukankah itu yang dilakukan pasangan lainnya sebelum mereka menikah?" jelas Rukia. Kali ini gadis itu tidak menangis lagi.
"Bisa nanti ok? Aku sekarang ini sedang banyak pekerjaan. Aku tidak konsentrasi pada pekerjaanku kalau kau merengek seperti itu. Bersikaplah dewasa!"
"Kau... tidak serius denganku? HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" lagi-lagi gadis itu menangis histeris.
"Ahh! Baiklah! Baiklah! Jangan menangis lagi. Tolong biarkan aku selesaikan pekerjaanku satu ini saja! Lalu kita lakukan seperti apa maumu!"
"Benarkah? Kau janji? Awas kalau kau bohong!" ancam Rukia yang kini wajahnya sudah berbinar luar biasa. Kini Rukia tahu cara menghadapi Ichigo.
.
.
*KIN*
.
.
"Jadi Presdir... maksudku ingin... melamar Rukia..." kata Ichigo kaku. Sebenarnya ini terasa aneh karena tiba-tiba melamar seperti ini. Tapi gadis itu bilang dia sudah jelaskan situasinya pada kakaknya sebelum Ichigo datang kemari. Gadis itu duduk manis di samping kakaknya sambil menggamit lengan Byakuya. Presdirnya satu itu memandang datar pada Ichigo. Dia tahu Ichigo sedang berusaha untuk bersikap biasa padanya. Tapi... dia tidak bisa begitu saja percaya Ichigo mau menikahi adiknya begitu saja. Tapi Rukia memaksa Byakuya untuk mengatakan hal yang baik padanya supaya pernikahan ini bisa berjalan lancar.
"Kau belum lama mengenal Rukia. Kau juga baru pertama kali bertemu Rukia. Dia hidup selama 8 tahun di Eropa dan sikapnya masih kekanakan. Kau yakin bisa menerima gadis yang bahkan belum sepenuhnya kau kenal untuk jadi pendamping hidupmu?" tanya Byakuya.
"Aku akan belajar untuk mengenalnya selama pernikahan kami." Jawab Ichigo singkat.
"Aku tidak yakin. Karena kau baru 1 hari mengenal Rukia. Aku tidak mau menyerahkan adikku pada orang yang bahkan tidak mengenal baik adikku. Aku juga tidak percaya kau bisa mencintai adikku setulus hatimu."
"Nii-sama!" sela Rukia.
"Aku hanya ingin dia jadi pria yang bertanggungjawab. Dia jauh lebih dewasa darimu. Kalau dia tidak serius padamu dan hanya main-main maka pernikahan ini tidak akan pernah ada. Aku tahu kau orang yang keras kepala Rukia. Tapi... menyerahkanmu pada pria tak bertanggungjawab, aku akan berpikir ribuan kali."
"Kita sudah membahas ini sebelumnya. Sudah kubilang aku akan baik-baik saja. Kenapa Nii-sama tidak percaya padaku?" sela Rukia lagi. Dia kesal karena kakaknya lagi-lagi bersikap yang tidak perlu.
"Aku tahu dan aku percaya padamu. Tapi aku belum sepenuhnya percaya pada orang ini. Nah Kurosaki. Apa jawabanmu?"
"Anda benar. Mengenal seorang gadis hanya satu hari yang selama 8 tahun ini hidup di Eropa. Juga gadis yang masih kekanakan dan belum dewasa. Aku mungkin tidak akan semudah itu mencintainya setulus hati. Tapi... asalkan Anda memberikanku kesempatan untuk jadi pria yang bertanggungjawab dan membiarkan kami menjalani kehidupan sebagai sepasang suami istri, kurasa... kekhawatiran Anda akan segera hilang. Bukankah... pernikahan adalah jalan menuju kedewasaan dan bertanggungjawab?" jelas Ichigo. Rukia tak menyangka Ichigo akan mengatakan hal itu.
"Lalu... kenapa kau memilih Rukia? Kenapa kau mau Rukia yang melakukan hal itu? Pasti bukan karena dia mengingatkanmu pada mantan kekasihmu itu'kan?"
"Ya aku tidak akan bohong kalau Rukia mengingatkanku pada Yukia. Tapi... aku hanya merasa bahwa Kuchiki Rukia... adalah orang yang tepat untuk bersamaku. Dia adalah orang yang mungkin bisa membuatku dewasa dan bertanggungjawab. Mungkin Anda hanya menganggap kami ini 2 orang yang masih labil dan belum mengerti tentang apa itu pernikahan. Anda memang tidak salah. Tapi... memberikan kesempatan pada 2 orang labil ini untuk menyadari apa itu pernikahan juga bukan hal yang salah'kan?"
Byakuya terdiam. Inilah Kurosaki Ichigo yang dia kenal. Selalu memberikan jawaban di luar dugaannya.
"Apa yang akan kau lakukan kalau sampai kau menyakiti Rukia-ku?"
"Aku berharap saat dimana aku menyakitinya tidak akan pernah datang."
Byakuya mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum hambar. Dia menoleh ke arah Rukia yang meliriknya penuh harap lalu mengelus rambut hitam pendek adik kesayangannya itu.
"Lakukan apa maumu. Kalau kalian memang mau belajar bertanggungjawab. Tapi aku tidak akan diam saja kalau sampai kau menyakiti adikku."
Byakuya beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan mereka berdua yang masih duduk di ruang tamu itu. Rukia melihat kakaknya yang kemarin menentangnya mati-matian kini malah membiarkan mereka menjalani apa yang mereka inginkan. Tidak juga. Ini karena Rukia yang ingin. Rukia tahu, cepat atau lambat kakaknya pasti akan menerima keputusan Rukia.
"Kenapa Nii-sama jadi aneh begitu ya?" gumam Rukia ketika mengantar Ichigo menuju teras rumahnya.
"Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan. Jadi jangan merengek lagi seperti tadi." Ujar Ichigo datar lalu mulai menyalakan mobilnya.
"Kenapa kau bilang begitu pada Nii-sama? Bukannya kau juga tidak yakin apakah ini akan berhasil atau tidak? Kenapa kau mau meyakinkan Nii-sama?" tanya Rukia sebelum Ichigo masuk ke dalam mobilnya. Pria itu menutup kembali pintu mobilnya dan menatap Rukia tanpa ekspresi. Ichigo juga tidak tahu kenapa dia meyakinkan Byakuya seperti itu. Apalagi untuk pernikahan konyol ini.
"Entahlah. Mungkin aku... hanya ingin tahu... seberapa kuat kau bisa meyakinkanku untuk hidup normal tanpa bayang-bayang Yukia." ujar Ichigo.
"Heh? Jadi... kau... mau?"
"Kalau tidak mau kenapa aku mau sampai sejauh ini? Kakakmu bisa membunuhku kalau aku main-main denganmu. Dan ya... besok mungkin kita bisa pergi ke Karakura."
"Karakura?" ulang Rukia bingung.
"Tempat orangtuaku tinggal."
Rukia jadi terdiam dan membiarkan pria itu berlalu dengan mobilnya. Karakura... tempat orangtuanya tinggal? Apa ini hanya perasaan Rukia saja atau... pria itu mulai mau membuka diri dengan Rukia?
Kurosaki Ichigo... kau sulit ditebak!
.
.
*KIN*
.
.
Dan benar saja. Pagi ini, Ichigo meminta ijin pada Byakuya untuk membawa Rukia ke Karakura. Menemui orangtuanya. Sepertinya memang mau serius. Yah kalau tidak serius kenapa juga Ichigo mau menemui Byakuya yang sepertinya tidak ingin Rukia menikahinya. Rukia, gadis itu nampak begitu bersemangat menemui kedua orangtua Ichigo. Di satu sisi karena dia penasaran seperti apa kedua orang tua Ichigo. Dan di sisi lain dia senang akhirnya bisa punya orangtua juga. Hidup sebagai anak yatim piatu selama ini membuatnya begitu merindukan sosok orangtua.
Sepanjang jalan, Ichigo sama sekali tidak bicara banyak. Dia bilang sebelum pergi, perjalanannya butuh 4 jam. 4 jam itu bukan jarak yang dekat 'kan? Rukia bosan setengah mati karena diam saja seperti ini. Akhirnya dia menyalakan radio keras-keras di mobil Ichigo. Tapi pria itu malah memelototinya dan segera mematikan radio itu. Rukia menggembungkan pipinya karena kesal. Lalu menggumamkan berbagai kata yang tidak dimengerti Ichigo. Intinya gadis ini kesal karena diacuhkan saja!
Karena tidak tahu mau apa, Rukia membuka kaca mobil Ichigo lebar. Merasakan hawa pagi yang memang sangat segar ini. Belum terjamah oleh polusi kotor di kota besar.
Ichigo bukannya tidak memperhatikan gadis itu. Dia memperhatikannya. Membuka jendela mobil sama seperti yang dilakukan Yukia. bagaimana bisa dia melupakan wanita itu kalau gadis ini mengingatkannya pada Yukia dengan tingkahnya.
Perjalanan 4 jam sudah ditempuh dengan selamat. Mereka sudah tiba sebelum makan siang. Dan sebelumnya Ichigo sudah memberitahu Yuzu bahwa dia akan pulang. Tampaknya Yuzu senang kakaknya bisa pulang setelah 3 tahun tidak lagi pulang. Apalagi sejak peristiwa itu.
Ichigo menghentikan mobilnya tepat didepan rumahnya. Dia mematikan mesin mobilnya dan hendak keluar. Tapi rupanya gadis yang duduk disampingnya ini malah jatuh tertidur. Ichigo tidak tega membangunkannya. Tapi...
"Hei. Kita sudah sampai." Ujar Ichigo mencoba membangunkannya. Tapi gadis itu tidak kunjung bangun juga.
"Hei!" bentak Ichigo.
Gadis itu terlonjak kaget karena mendengar bentakan itu.
"Kenapa kau selalu bersikap kasar padaku! Tidak bisa dibangunkan pelan-pelan? Kau membuat jantungku mau lepas!" bentak Rukia balik.
"Aku sudah membangunkanmu dengan lembut tadi! Kau sendiri yang tidur seperti orang koma! Turunlah. Kita sudah sampai." Kata Ichigo sambil turun dari mobilnya.
Rukia melihat rumah itu. Ternyata ini adalah rumah Ichigo. Kesannya sederhana dengan klinik di depan rumah itu. Rukia tidak tahu orang seperti Ichigo ternyata punya rumah begini. Ini... Karakura.
"Yukia pernah tinggal di kota ini?" tanya Rukia tiba-tiba sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh daerah di dekat rumah Ichigo itu. Pria berambut orange itu tertegun sejenak mendengar nama wanita-nya terlontar dari mulut gadis itu tanpa beban. Kenangan itu kembali terusik didalam benaknya. Tanpa berniat menjawabnya, Ichigo masuk kedalam rumahnya. Gadis itu masih di luar menyaksikan daerah ini. Sepertinya dia memang baru pertama kali menginjakkan Jepang setelah 8 tahun. Buktinya dia selalu terkesan setiap kali melihat sesuatu yang baru. Ichigo menyimpulkan kalau gadis ini memang sepertinya selalu mudah kagum akan sesuatu.
"Onii-chan? Kau benar-benar pulang?" sambut Yuzu di pintu depan. Ichigo melihat adik perempuannya itu sudah lebih mirip ibunya. Tidak terasa adiknya sudah beranjak besar dan mendekati seorang gadis dewasa.
"Apakah... Oyaji dan Kaa-san di rumah?" tanya Ichigo.
"Yah. Kaa-chan ada di rumah. Otoo-chan sebentar lagi pulang. Aku rindu dengan Onii-chan. Kenapa kau tidak pernah pulang selama 3 tahun ini?" ujar Yuzu.
Ichigo hanya mengacak rambut adiknya saja. Rukia mendengar itu dari balik pintu depan rumahnya. Apakah... pengaruh Yukia begitu besar padanya? Kalau sedekat ini, kenapa Ichigo tak pernah pulang? Lain halnya Eropa. Itu adalah tempat yang jauh dan tidak bisa seenaknya pulang pergi begitu.
"Oh... kenapa ada seorang gadis didepan pintu masuk ini? Siapa ya?"
Ichigo menoleh kebelakang. Ayahnya baru tiba dan masih mengenakan jubah putihnya. Dari dalam, ibunya juga baru muncul. Yuzu melihat ke arah pintu depan itu. Ayahnya tampak bicara dengan gadis itu. Tapi gadis itu hanya diam sambil menunduk sopan.
"Ichigo? Kau... datang dengan siapa?" tanya Masaki.
Sejujurnya... keluarga ini tahu Yukia sudah meninggal. Dan itulah yang membuat anak mereka berubah total.
"Rukia... masuklah." Pinta Ichigo.
Gadis itu menurut dan masuk ke rumahnya. Tentu saja Masaki kaget dan membelalak melihat gadis itu. Gadis yang sama dengan yang pernah diributkan oleh Masaki 3 tahun yang lalu. Seharusnya Ichigo tidak membawa wanita itu lagi! Ayahnya juga ikut masuk dan melihat Ichigo berdiri berdampingan dengan gadis itu dengan wajah serius.
"Aku akan menikah. Sesegera mungkin." Ujar Ichigo.
Masaki dan Isshin tampak kaget mendengar pernyataan anak sulungnya itu. Demikian pula Yuzu. Rukia jadi merasa aneh berada di keluarga ini. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Tenang saja. Dia bukan Yukia-ku. Dia Kuchiki Rukia. Gadis dari keluarga terhormat dan baik-baik. Aku jamin Kaa-san dan Oyaji tak akan keberatan dengan statusnya. Dia adalah menantu yang kalian harapkan bukan? Meskipun wajahnya sama... tapi mereka adalah orang yang berbeda. Dan aku membawanya kemari untuk diperkenalkan pada kalian. Kuharap kalian tidak menentang pernikahanku kali ini. Karena aku tidak akan menikahi sembarang gadis lagi."
Rukia menangkap kesan marah dan emosi didalam kata-kata Ichigo. Ichigo seperti sedang menahan emosinya tiap kali menyebut Rukia.
"Ichigo! Apa yang kau katakan!" ujar Masaki.
"Tunggu apa lagi Rukia? Kau harus memberi salam pada Ibuku. dia... Ibu yang baik. Kau tidak perlu khawatir."
Sempat terasa ada suasana yang kurang baik di keluarga ini.
"Ichigo. Jangan membuat Rukia-chan jadi tegang begitu. Dia jadi bingung. Bersikaplah yang wajar." Sela Isshin.
"Kau bisa tunggu di sini? Kau harus berkenalan dengan keluargaku'kan? Karena kita akan menikah."
Ichigo langsung meninggalkan Rukia di rumahnya. Sampai di teras rumahnya dia bertemu dengan adik kembarnya satu lagi. Karin. Karin memandang kakaknya dengan tatapan bingung. Ichigo langsung melesat dengan mobilnya. Sedangkan Rukia masih berada di dalam rumah itu sedikit bingung karena tiba-tiba ditinggal seperti ini. Dia tidak tahu harus mulai darimana.
"Maafkan sifat Ichigo. Mungkin dia masih sedikit kesal pada kami. Kuharap kau bisa maklum... Rukia-chan," sela Isshin mencoba mencairkan suasana.
"Ya..." jawab Rukia.
Ibu Ichigo. Wanita berambut orange panjang itu melangkah masuk kedalam rumahnya. Sepertinya dia merasa sedikit tidak enak pada Rukia soal kelakuan Ichigo. Yuzu dan ayahnya menyusul ibunya masuk. Sekarang Rukia ditinggal sendiri disini.
"Siapa kau?"
Rukia menoleh kebelakang. Kali ini ada seorang gadis yang seumur dengan gadis yang pertama dilihat Rukia. Sepertinya mereka kembar. Tapi gadis ini terlihat agak tomboi dengan rambut hitam yang dikuncirnya tinggi.
"Oh... aku... Kuchiki Rukia." Jawab Rukia canggung.
"Tentu saja. Kau bukan wanita itu." Ujar Karin lalu melangkah masuk ke rumahnya.
"Apa maksudmu... Ashiya Yukia? kau kenal dia?" sambar Rukia. Dia penasaran dengan keadaan rumah ini. Karin menoleh dan menatap datar pada Rukia.
"Kau tahu siapa Ashiya Yukia?"
"Ya... aku tahu sedikit tentangnya."
"Aku tidak tahu apa alasan Ichi-Nii membawa wanita yang mirip dengan Ashiya Yukia itu. Dan aku terkejut karena kau tahu dia. Berarti kau tahu hubungan dia dengan Ichi-Nii bukan? Yah... sepertinya yang kau tidak tahu adalah... bahwa hubungan Ichi-Nii dan wanita itu... ditentang mati-matian oleh Kaa-san."
"Apa?"
"Mereka tidak direstui oleh Kaa-san. Makanya sikap Ichi-Nii begitu dingin dengan Kaa-san. Tapi kau tenang saja. Sepertinya kau anak dari keluarga terhormat dan baik-baik. Pasti Kaa-san menyukaimu. Kecuali... kenyataan bahwa kau mirip dengan wanita itu. Kaa-san bukan orang yang sulit. Juga bukan orang yang mudah. Sekarang tinggal kau sendiri yang berusaha menjalin hubungan yang baik. Karena aku yakin, Ichi-Nii masih marah pada Kaa-san."
Setelah penjelasan singkat dari gadis itu, Rukia jadi mengerti.
Rumah ini begitu dingin karena ada keregangan antara hubungan ibu dan anak. Demi wanita itu... Ichigo... begitu besarnyakah seorang Ashiya Yukia dimata seorang Kurosaki Ichigo? Entahlah. Rukia tak tahu. Seberapa tahankah dia nanti hidup dalam bayangan wanita yang sudah mati. Tapi... ini adalah keputusannya sendiri.
.
.
*KIN*
.
.
TBC...
.
.
Naa Minna! kalo ada yang gak dimengerti lagi tanya langsung aja ya. saya sengaja kebutin aja supaya gak bertele-tele. makanya bahasanya agak susah dimengerti kali ya? saya mau buat Byakuya yang menentang mati-matian gitu deh. juga Rukia yang bersikukuh sama keputusannya. saya sendiri bingung ya. kenapa karakter Rukia disini terkesan konyol ya? heheheheeh
ehmm kalo pada bingung sama Rukia disini... dia emang udah suka sama Ichigo. cewek mana coba yang gak suka sama cowok secakep dia? saya aja kesengsem nih... hehehe makanya Rukia mau ngajuin pernikahan itu. soalnya Rukia emang suka sama dia. kalo gak suka mana mungkinkan dia mau nikah gitu aja? hehehehe
saya yakin bahasa yang saya pake disini amburadul deh. entah kenapa saya mau nyampein perasaan tuh tokoh malah jadi sulit dimengerti. heheheeh mungkin beberapa waktu ini saya sedang berada dalam masa gila ya? apa pula itu? ckckcckckck
udah yaa... kalo dilanjutkan bisa tambah sinting saya ini... yang jelas chap ini amburadul. itulah yang bisa saya katakan. mohon dimengerti. dikritik juga boleh. emang kayaknya saya mau kena marah nih... hehehe
balas review yaa...
Chadeschan : makasih udah review senpai... hehehehe iya dong senpai... Rukia pasti suka sama Ichigo. buktinya dia ngajak nikah gitu? heheh tenang kok. pasti diundang. ntar dapet undangan dari Ichigo langsung. kalo dia gak syuting Bleach ya? hehehee wah... Senpai nungguin Senna ya? ok deh. ntar saya munculin tuh orang.. hehehe
ika chan ; makasih udah review senpai... wah wah... kok nanyain Aizen nih? hohohoho kayaknya nggak deh Senpai. saya gak mau bikin konflik yang banyak. kalo dia muncul ntar nambah perkara aja. hehehehe
bintang : makasih udah review senpai... hehehe review lagi yaa senpai...
Yu : makasih udah review senpai... makasih sarannya senpai. sebelum saya publish fic ini saya udah pertimbangkan,apakah enaknya peran Rukia yang lama itu digantiin ataukah tetep seperti itu. saya jadi berpikir kalau diganti, artinya gak akan ada Last Rose ini'kan? adanya Last Rose ini karena saya mau membahas masa lalu Ichigo yang cinta mati sama orang yang mirip dengan Rukia disini. makanya saya ambil cerita ini dengan latar belakang Prickly Rose. ini emang cerita baru dengan latar belakang Prickly Rose. maaf kalo chemistrynya gak bakal dapet dari Rukia yang disini, tapi kalo diubah maka ceritanya jadi berubah total dong. dan saya gak bakal bikin sekuelnya begini. maaf kalo ngecewain senpai. tapi saya berusaha untuk ngebuat ini baik kok. hehehe
Zanpaku nee : makasih udah review senpai... heheehhe bukan gitu senpai. saya emang udah berusaha banget nyari tokoh Bleach cewek lain, tapi kayaknya kurang cocok gitu sama peran yang dibutuhkan disini. saya ambil Senna soalnya dia kan punya masa lalu juga dengan Ichigo, nah disitulah konfliknya nanti. hehehe bukan gak ngambil pelajaran juga, kan Senna gak bakal tahu kalo Rukia yang disini malah bisa kenal sama Ichigo. artinya nanti dia kembali dari negeri antah berantah itu dia kaget dan gak nyangka kalo Ichigo udah nikah dan gak rela kalo sama Rukia. gitu loh... maaf jadi monoton ya senpai. heheh
Voidy : makasih udah review senpai... kyaaaaa! senpai marah lagi sama saya... hiks... hehehe soalnya banyak yang protes senpai kalo ini sekuel jadinya saya bikin cerita baru aja deh. biar gak bikin perang gitu. hehehe saya sengaja cepetin biar gak belibet. kebiasaan saya itu kalo udah bertele pasti belibet dan akhirnya jadi hancur gak karuan makanya saya cepetin aja dulu. hehehehe tapi kayaknya senpai bakal marah lagi deh sama saya soalnya ini lebih hancur tuh... hiks...
ichigo4rukia : makasih udah review senpai... heheeh Rukia tuh nekat. baru suka aja langsung diajakin nikah. aneh ya? hehehe Byakuya? tuh udah liat kan reaksinya? heheheh
Dewi Anggara Manis : makasih udah review senpai... heheeh soal reaksi Byakuya dan Masaki, udah bisa ketebak belum di chap ini? heheeh sabar aja, pasti saya munculin tuh cewek. hehehe kalo gak ada dia rasanya kurang seru aja ya. hehehe iya yaa... soal baju pengantinya? gimana enaknya ya? soalnya jelas Rukia pasti minta Yumichika yang bikin tuh. hehehe
d3rin : makasih udah review senpai... hehehe iya ditunggu ya...
Purple and Blue : makasih udah review senpai... sabar dong senpai. mereka kan belum nikah. kalo belum nikah udah lemonan ntar Ichigo dikampak sama Byakuya pula. heheheeh
Akira chan : makasih udah review senpai... jangan panggil saya senpai ya... Kin aja. soalnya saya rada aneh kalo orang panggil saya senpai dengan cerita amburadul saya... heheh iya sengaja diganti soalnya gak enak denger ada 2 nama yang sama. mukanya aja udah cukup sama. masa namanya juga? walaupun agak aneh yaa? heheheh
Nana the GreenSparkle : makasih udah review senpai... hehehe jadi malu dibilang kreatif. review lagi yaa senpai...
wakamurasaki jie : makasih udah review senpai... ehmm senpai... kalo ilang ingetan harusnya Rukia gak mati kan? hehehe gak papa deh. kan sama juga mesti agak beda. hehehehe emang hebat ya Rukia yang sekarang 8 tahun ada di luar negeri. saya juga mau tuh... hehehe
nenk rukiakate : makasih udah review nenk... ohya saya baru liat lagi. kayaknya yang kemarin itu keapus makanya cuma nyampe separuh. maaf ya nenk... heheh saya gak tahu loh kalo nenk juga bikin cerita itu. udah liat lum review saya? hehehe
Bad Girl : makasih udah review senpai... hohohoh lemon pasti ada kok. tapi tunggu mereka nikah dulu yaa.. hehhe emang rada aneh saya bikin kali ini, meskipun semua fic saya emang aneh dan gak jelas. hehehe
Ajura : makasih udah review senpai... review lagi yaa..
ok deh. udah dibales semua...
yang review... tanggungjawab loh buat review lagi... hehehe
makasih banget sama lagunya Baek Ji Young 'I'M LOVING YOU TODAY'. banyak mendatangkan inspirasi buat fic ini, dan judul lagunya saya pake buat judul chap Cry Away saya... hehehehe kalo ada yang patah hati, wajib banget denger lagu ini, dijamin tambah nyesek dengerin artinya. heheheh intinya setelah mendengar lagu ini saya jadi udah mikirin ending yang bagus buat fic ini, saya jadi mau tambahin dikit air mata untuk endingnya... walo masih jauh banget.. hehehe
pokoknya review yaa... biar saya tahu apakah fic ini tetap layak lanjut atau nggak...
Jaa Nee!
