Rate: T

Genre: Apa aja deh xD

Pair: Saguru Hakuba x Shiho Miyano


" Shiho, hari ini kau aneh sekali, sih?" tanya Sonoko heran melihat Shiho yang sedari tadi hanya mencoret-coret sesobek kertas dengan gambar dan tulisan tidak jelas. Shiho hanya diam saja mendengar ucapan dari sahabatnya tersebut, " Hoi, nona Miyano! Kau kenapa sih? Argh," seru Sonoko merebut pulpen dan kertas yang sedang Shiho pakai tersebut. Karena kelakuannya itu Sonoko yang malang dibuat ketakutan karena mendapat deathglare dari Shiho.

" E-Eh... maaf..." gumam Sonoko sambil bergidik.

" Huh..." geram Shiho. Ia lalu beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan kelasnya begitu saja.

" Dia kenapa, sih?" gumam Sonoko.

" Mungkin karena dia 'diseret' oleh Saguru-Sensei tadi pagi..." ucap Ran.

" Tapi dia menakutkan, seperti ingin membunuh kita..." timpal Natsuki.

" Kau seperti tak tahu Shiho saja, Natsuki," balas Shinichi yang tak terlalu jauh dari mereka.

" Tapi... bagaimana kalau nantinya dia memang ingin membunuh kita?" ucap Natsuki ketakutan.

" Eh?" gumam Sonoko, " Bisa jadi akan seperti..."

Para murid kelas XI-3 sedang bergerombol di depan kelas pada saat jam pelajaran kosong. Tiba-tiba Shiho masuk ke kelas dengan pakaian ala zaman edo sambil membawa sebuah Samurai.

" Karena kalian semua selalu membuatku marah sejak pertama kali aku pindah ke sini! Kali ini, kalian tak akan kuampuni. Hyaa!" seru Shiho sambil berlari ke arah Natsuki yang berada di dekat tembok.

" Bagaimana kalau kumulai dari kau dulu, Natsuki? Sepertinya menarik..." ucap Shiho mengibaskan samurai yang ia pegang.

" TIDAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKK!" seru Natsuki membuyarkan imajinasi mereka semua, " Kenapa harus aku?" protesnya.

" Lalu bagaimana?" tanya Sonoko dengan wajah malasnya.

" Ng, kalian sedang membayangkan tentang kedinginan Shiho-Hime, ya? Aku tahu sesuatu," seru Junya tiba-tiba muncul.

" Bagaimana?" tanya Ran bersemangat.

Para murid kelas XI-3 sedang bergerombol di depan kelas pada saat jam pelajaran kosong, begitu juga dengan Shiho. Tapi tiba-tiba Junya mulai menggoda Shiho.

" Shiho.. bagiku kau adalah malam... Wajahmu bagaikan bintang yang menerangi kegelapan walaupun tatapan matamu itu seperti angin malam yang begitu menusuk tulangku dengan kedinginannnya, tapi aku akan tetap mencintaimu," ucap Junya berlutut di depan Shiho sambil menyerahkan sebuket bunga mawar merah.

" Ecieeeeee!" seru anak-anak di kelas XI-3

Shiho lalu menerima buket bunga yang disodorkan Junya, namun buket tersebut langsung ia jatuhkan dan menginjaknya sampai tak berbentuk. Gadis itu lalu menarik kerah baju Junya dan mendorongnya ke tembok.

" Junya Tokitsu... dari dulu kau selalu membuatku muak dengan semua gombalan yang kau ucapkan itu... mungkin akan lebih baik kalau aku menghisap darahmu sekarang," ucap Shiho mengeluarkan taringnya.

" Shiho... aku rela mati asalkan kau yang membunuhku~" ucap Junya dengan mata lovey-doveynya.

" Itu sih kesempatan dalam kesempitan," protes Ran.

" Dasar tak bisa dipercaya," seru Sonoko.

" Tapi aku benar-benar rela menyerahkan jiwa ragaku ini untuk Shiho, kok!" seru Junya.

" Terserahlah, sebaiknya kau pergi saja sana," ujar Sonoko mendorong Junya keluar kelas dan menutup pintunya.

" Hei! Sonoko Suzuki! Biarkan aku masuk!" seru Junya sambil menggedor pintu.

" Tak akan kami biarkan kau masuk!" balas Sonoko berusaha keras menahan pintu.

" Huh, menyusahkan," ucap Natsuki.

Yah... Junya Tokitsu, salah satu murid kelas XI-3 yang menyukai Shiho, semua murid di kelas XI-3 ataupun kelas sebelah bahkan para guru sekalipun mengetahuinya.. sifatnya yang selalu menunjukan rasa sukanya pada Shiho ada atau tak ada kelas membuat dia terkenal karena ulahnya dalam mendekati Shiho.

" Aku punya pemikiran yang lebih bagus," ucap Natsuki.

Shinichi, Ran, Natsuki dan Sonoko berada di dalam ruang kepala sekolah karena ada sesuatu yang harus mereka diskusikan, setelah diskusi tersebut selesai, mereka berempat keluar dari ruangan tersebut. Namun saat mereka menyusuri koridor sekolah, hawa disekitar mereka menjadi dingin. Suasana sekolah terasa mencekam dan kelam seperti dalam film-film horor. Bau anyir terasa menyengat hidung mereka.

" Hei... sebenarnya ada apa sih di sekolah ini?" ujar Sonoko bergidik ketakutan.

" A-ada ha-hantu... ada hantu..." ucap Ran mengenggam tangan Shinichi erat.

" Huh, tak mungkin ada hantu, Ran..." balas Shinichi.

" Lalu kenapa suasananya begitu mencekam? Mana mungkin tak ada hantu 'kan?" ujar Ran.

" Kau ini, di dunia ini tak ada yang namanya HANTU," seru Shinichi.

Wush. Sebuah bayangan hitam melintas cepat di depan mereka.

" Ba-Bayangan apa itu?" tanya Natsuki.

Ran semakin mengeratkan genggamannya pada Shinichi.

Wush. Bayangan itu muncul lagi.

" Shi-Shinichi..." panggil Ran.

" Tenanglah, Ran.. jangan lepaskan tanganmu, tetap ikuti aku." Ucap Shinichi.

" A-Aku tahu..."

" Ba-Bau anyirnya semakin terasa..." ucap Natsuki.

" Kau benar, Natsuki..." ucap Ran melihat ke belakang, " Eh, kemana Sonoko?" tanyanya.

" Ta-Tadi dia ada disampingku, kok..." ucap Natsuki.

" Tapi kenapa sekarang tidak ada?" tanya Ran.

" A-Aku juga tak tahu..." balas Natsuki.

" Sonoko menghilang... oh, jangan lepaskan pegangan kalian satu sama lain," ujar Shinichi memberi komando.

" Ka-Kami tahu..."

Duak! Karena Shinichi berhenti mendadak, tentu saja Ran yang berada tepat dibelakangnya menabrak Shinichi.

" Aduh, jangan berhenti sembarangan, Shinichi!" seru Ran sambil memegangi hidungnya. Shinichi tak menjawab apa-apa.

" Eh? Shinichi?" panggil Ran lagi. Gadis itu lalu melihat ke arah samping. Mayat para murid berserakan di koridor dan di dalam kelas, sekolah itu dipenuhi oleh para siswa yang telah meninggal. " KYAAAAAAAAA!" jeritnya.

Wush. Bayangan itu muncul lagi, sekarang ia berdiri tepat di depan Shinchi dan Ran. Seseorang yang memakai pakaian dan penutup kepala serba hitam menodongkan pistol ke arah mereka.

" Siapa kau?" tanya Shinichi.

Orang itu tak berbicara sedikitpun, hanya melepaskan penutup wajahnya.

" Shi-Shiho.." ucap Ran tak percaya.

" Apa kau membunuh mereka semua?" tanya Shinichi was-was.

" Ya.. dan juga dua orang itu," seru Shiho melihat ke arah kirinya.

" Sonoko! Natsuki!" seru Ran begitu melihat Sonoko dan Natsuki yang tertembak di bagian kepala.

" Hanya tersisa kalian di kota ini... sekarang, matilah..." ucap Shiho meluncurkan dua peluru ke arah Shinichi dan Ran.

" Seperti film horor, saja," ucap Shinichi sweetdrop.

" Sadis!" seru Sonoko.

" Apanya yang sadis?" tanya sebuah suara dari belakang.

" Hua!" seru Sonoko terjatuh dari duduknya.

" Kalian kenapa, sih? Memangnya aku setan?" tanya Shiho kesal.

" T-t-tidak kok, tidak..." ujar Natsuki terbata-bata.

" Memangnya kalian sedang apa?" tanya Shiho lagi, ia mengulurkan tangannya pada Sonoko yang masih belum beranjak dari jatuhnya.

" Ha-Hanya.."

" Sedang membicarakan masalah pelajaran kok..." ucap Shinichi berbohong.

" Benarkah?" tanya Shiho tak percaya.

" Be-benarlah.. kau pikir kami berbohong?" tanya Ran membantu Shinichi.

" Tidak juga..." jawabnya tak peduli.

" Hei, hei.." gumam Shinichi.

" Tapi kenapa kau ada di sini?" tanya Natsuki.

" Hah? Memangnya salah ya kalau aku kembali ke kelasku sendiri?" tanya Shiho.

" Ti-tidak... memangnya jam istirahat sudah berakhir?" balas Natsuki.

" Sudah dari tadi, ini sudah masuk kelas IPS..." ucap Shiho.

" Lalu kenapa kau baru datang ke kelas?" tanya Sonoko.

" Memangnya kenapa? Tak ada guru yang akan marah, kok. Sekarang para guru sedang rapat, makanya kelas IPS diganti dengan jam kebersihan," kata Shiho.

" Eh? Jam kebersihan?" gumam Natsuki dan Sonoko. Mereka saling berpandangan dan langsung saja bersorak, " Yes! Tak ada IPS, bye bye monster~!" seru mereka.

" Hei, jangan sampai Rikuda-Sensei mendengar ucapan kalian, loh..." peringat Ran.

" Yang penting kalian semua tak membocorkannya, benar kan, Sonoko?" tanya Natsuki.

" Tepat," ucap Sonoko menjentikan jarinya.

" Hei, dari pada menghina guru lebih baik membersihkan kelas, bukan?" tanya Shiho yang sedang menyapu lantai belakang kelas.

" Eh, benar. Ayo!" ucap Ran pergi ke belakang kelas dan mengambil sapu.

" Bagianku membersihan papan tulis, loh," ucap Sonoko mengambil sebuah kapur dan menghaluskannya.

" Eh? Ini jam kebersihan?" tanya murid yang lain.

" Begitulah," ucap Shinichi mengangkat kursi.

" Yuuhuuuu!" sorak para murid.

Mereka lalu memulai kegiatan mereka, ada yang membersihkan AC kelas, menyapu, membersihkan kaca jendela, mengepel lantai. Mereka paling senang saat ada jam kebersihan, kenapa? Karena mereka bisa melakukan hal-hal gila dengan alat-alat kebersihan yang mereka pakai.


" Huah... capek~!" seru Sonoko sambil duduk bersender di dinding kelas.

" 4 menit lagi bel pulang," ucap Natsuki melihat ke arah jamnya.

" Sebentar lagi kalau begitu 'kan? Eh... bagaimana kalau kita pergi W Burger dulu?" usul Sonoko.

" Eh? W burger?" tanya Shiho.

" Iya... ku dengar sedang ada promo menu baru di sana, mau ya, Shiho?" pinta Sonoko.

" Mmmm... Baiklah, kau yang traktir kan?" tanya Shiho dengan senyuman penuh artinya.

" Tenang saja, deh.. aku bakal traktir kalian bertiga kok," ucap Sonoko.

Teng teng teng teng

" Eh.. sudah bel..." ucap Ran.

" Ayo, kita ganti buku kita," ucap Shiho beranjak dari duduknya.

" Hm!"

.

.

.

" Shiho, ayo cepat." Seru Ran pada Shiho saat gadis itu masih berkutat di loker miliknya.

" Sebentar..." ujar Shiho mengambil beberapa buku dan memasukannya ke tasnya, tanpa sengaja sebuah kartu jatuh dari tas tersebut. " Nah, ayo," ucap Shiho menutup kembali lokernya dan berjalan ke arah Sonoko dan Ran tanpa menyadari kartu tersebut.

" Lama sekali, sih. Padahal hanya mengganti buku saja," keluh Sonoko.

" Maaf, maaf.." ujar Shiho.

" Ya sudah, ayo!" seru Sonoko memimpin.


" Baiklah, tolong peringatkan murid kalian agar mereka lebih memperhatikan prestasi mereka, sebentar lagi kita akan mengadakan ulangan tengah semester, semoga saja hasilnya lebih baik dari pada tahun lalu," ucap Agasa memimpin rapat para guru.

" Yah... dilihat dari persiapan para murid ku rasa nilai mereka tak akan mengecewakan, beberapa kelas mungkin akan naik drastis, tapi aku tak tahu bagaimana dengan kelas XI-3... apa Saguru-San yakin jika nilai mereka akan baik?" tanya Rikuda bermaksud memojokan Saguru.

" Yah.. walaupun baru hari ini aku menangani mereka, ku rasa mereka lebih baik dibanding beberapa kelas yang kumasuki tadi," balas Saguru.

" Kau ingin bilang kalau murid di kelasku itu sama sekali tak bisa menghargai guru, begitu?" seru Rikuda berdiri dari duduknya. Guru-guru yang ikut di rapat tersebut hanya bisa menghela nafas mereka begitu mendengar gertakan Rikuda.

" Aku tidak berkata bahwa murd kelas XI-2 tak bisa menghargai guru, mereka sangat menghargaiku saat mengajar tadi, hanya saja terkadang mereka sering berbicara sendiri saat aku menerangkan. Itu saja," jawab Saguru.

" Tapi-"

" Cukup Rikuda-San! Tak boleh ada kejadian memalukan seperti ini." ucap Agasa dengan tegas.

" Cih," decak Rikuda.

" Baiklah, kuanggap rapat hari ini selesai. Untuk Takuma-San, sebagai penanggung jawab web sekolah, aku minta agar tak lupa memasukan jadwal UTS para siswa, sekian." ujar kepala sekolah tersebut membungkukan badannya.

Prok prok prok prok

Para guru lalu beranjak dari duduknya saat Agasa pergi meninggalkan ruang guru. Saguru memasukkan kertas-kertas miliknya ke dalam tas kerjanya.

" Guru baru sok sekali," ucap Rikuda.

" Yah... guru lama bahkan tak mempunyai wawasan lebih banyak dari pada guru baru ini, jadi apa salahnya sang guru baru bersikap sok?" balas Saguru.


Tap tap tap tap

Langkah kaki Saguru menggema di koridor sekolah, sang guru tampan itu tampak memikirkan sesuatu

" Oh... jadi saat dia merengek pada profesor agar mencarikannya apartemen untuknya, profesor langsung teringat pada ayah dan membelikannya di apartemen yang baru saja dibangun ayah?" tanya Saguru pada Agasa saat mereka berada di ruang kepala sekolah.

" Begitulah..." jawab Agasa.

" Yah... kalu begitu aku hanya tinggal mengurus pemilik apartemen sebrangnya kan?" ucap Saguru ringan.

" Maaf karena aku memintamu untuk menjaga Shiho," ucap Agasa tiba-tiba, " Yang namanya perasaan itu tak bisa dibohongi... Saat Shinichi berada di dekat Ran, maka orang yang akan dia lindungi adalah Ran, walaupun dia memang sudah berjanji pada Akemi untuk menjaga Shiho, karena itu aku memintamu, maaf.." lanjutnya.

" Tak apa, saya tak keberatan. Anda bisa percayakan hal ini pada saya. Saya akan menjaga Shiho, anda tenang saja aku akan melindunginya. Selalu,"

' Yah... itu benar... tak dimintapun aku akan melakukannya,' batin Saguru.

Srek

" Ng? Apa itu?" ucapnya begitu melihat sebuah kartu berwarna putih yang terinjak oleh kakinya. Pemuda itu lantas mengangkat kakinya dan mengambil kartu tersebut.

" Tak ku sangka terkadang dia bisa ceroboh juga," ucap Saguru, senyum manis menghiasi wajah tampannya saat itu.


" Hei... mulai besok kan kita libur selama 3 hari nih... ada ide untuk habiskan waktu?" tanya Ran sambil memasukkan sesendok es krim ke mulutnya.

" Memangnya kau tidak menghabiskan waktu untuk berkencan dengan Kudo-Kun?" kata Shiho acuh tak acuh.

" Mana mungkin! Dia bukan tipe cowo seperti itu!" protes Ran.

" Oh ya?" balas Shiho.

" Uh..." desah Ran.

" Kalau aku akan pergi ke Osaka, kebetulan Jirokichi-Ojiisan baru membuka cabang Suzuki Corp di sana... kalian bertiga ikut, ya?" pintanya.

" Aku tak bisa, Sonoko.. aku harus membantu ibuku nanti," ucap Natsuki mem-poutkan bibirnya.

" Aku akan meminta izin dulu pada ayahku nanti," ujar Ran.

" Yah... kau selalu yang paling cepat, Ran!" seru Sonoko sambil memeluk Ran, " Kalau kau, Shiho?"

" Entahlah... tapi akan ku usahakan,"

" Sayang juga loh harus libur di hari Selasa..." gumam Natsuki.

" Eh? Kenapa?" tanya Ran.

" Yah... kita melewatkan 2 jam bersama si Sensei tampan," jawab Natsuki.

" Ha? Saguru-Sensei? Kau bilang dia tampan?" ujar Shiho.

" Iya," ucap Natsuki ceria, tak lama kemudian gadis itu memandang Shiho dengan tatapan aneh, " Kelihatannya kau tidak menyukai Saguru-Sensei, ya..."

" Memang benar,"

" Eh? Kenapa?" seru Sonoko." Dia tegas, loh, dan kurasa tubuhnya proporsional, hihihi" lanjutnya.

" Dasar Sonoko," gumam Ran sweetdrop.

" Dia sama sekali bukan kriteriaku. Dia tidak tegas, tapi pamaksa. Tubuhnya proporsional? Siapa peduli dengan semua itu," balas Shiho sambil memasukkan sepotong french fries ke dalam mulutnya.

" Hei... lalu seperti apa kriteriamu? Lelaki seperti Junya? Hahahaha," timpal Natsuki.

" Hahahahaha... benar, benar... jangan-jangan lelaki seperti Junya, benar?" ucap Sonoko menodongkan sendoknya.

" Mungkin saja memang laki-laki seperti Junya, lalu kenapa? Ada masalah?" tanya Shiho.

" A-Apa? Kau bercanda 'kan?" tanya Sonoko tak percaya.

" Entahlah, kau pikir bagaimana, nona muda Suzuki?"

" Heeeeeee?"


" Uh... baiklah, sekarang dimana kartu apartemenku?" geram Shiho. Ia berada di depan pintu apartemennya sambil mencari-cari kartu yang berfungsi untuk membuka pintu apartemen di tas sekolah miliknya.

" Mencari ini, nona Miyano?" ucap sebuah suara dari sebelah kanan Shiho. Sontak Shiho melihat ke arah kanannya dan melihat Saguru sedang berdiri di dekatnya. Tangan kiri guru ia dimasukkan ke dalam saku, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah kartu.

" Ah! Itu….." ucap Shiho.

" Kartu apartemenmu," ujar Saguru memberikan kartu tersebut pada Shiho. Dengan cepat Shiho mengambilnya dari tangan Saguru. Tanpa banyak bicara gadis itu langsung memasukan kartu tersebut ke lubang tempat kartu di bawah gagang pintu dan langsung masuk ke dalam apartemennya.

" Hei," panggil Saguru menahan pintu apartemen Shiho yang sudah setengah tertutup.

" Apa?" tanya Shiho dingin.

" Kau bahkan tak berterima kasih padaku?" tanya Saguru.

" Ah, aku lupa. Terima kasih," ucap Shiho dengan terpaksa dan menutup pintu apartemennya.

Grep! Tangan Saguru lagi-lagi menahan pintu apartemen Shiho.

" Apa lagi maumu?" bentak Shiho. Saguru diam mendengar ucapan Shiho, " Cepat lepaskan atau ku panggil petugas security," ancam Shiho.

" Coba saja kalau bisa," ucap Saguru tersenyum.

" Apa?" tanya Shiho.

" Mereka hanya akan menurutiku," jawab Saguru ringan.

" Oh, memangnya kau siapa? Bos mereka?" tanya Shiho membuka pintu apartemennya dan memandang Saguru dengan tatapan merendahkan sambil mendekap tangannya.

" Kalau iya memang kenapa?" ucap Saguru singkat.

" Apa?" ucap Shiho heran. Salah satu alisnya terangkat.

" Tak percaya? Kalau begitu mau bukti?" tanya Saguru. Pemuda itu berbalik ke arah kanan dan memanggil salah seorang karyawan apartemen yang kebetulan lewat.

" Saya?" tanya karyawan itu menunjuk dirinya sendiri.

" Ya, sini kau." Ucap Saguru pada karyawan tersebut.

" Selamat siang tuan muda, apakah anda butuh bantuan saya?" tanya pelayan tersebut memberi salam.

" Siapa yang tinggal di apartemen itu?" tanya Saguru menunjuk apartemen di sebrang apartemen Shiho.

" Itu… Seorang atlet tenis yang juga mahasiswa tingkat dua di Universitas Teitan, Teruaki Kunisuke…" ucap karyawan tersebut sambil memeriksa buku yang ia pegang.

" Aku ingin kau mengosongkan apartemen ini. Mulai besok aku akan tinggal di sana," ucap Saguru ringan.

" A-Apa?" ucap Shiho kaget.

" Tuan muda.. ingin tinggal di sini?" tanya karyawan tersebut.

" Ya," jawab Saguru tegas.

" Ta-Tapi, Tuan muda…"

" Memangnya kenapa? Tak ada salahnya bukan seorang Saguru Hakuba tinggal di apartemen milik keluarganya? Soal orang yang tinggal di apartemen itu, kau bisa memindahkannya ke apartemen yang kebetulan kosong, bukan?" tanya Saguru.

" Ba-Baiklah, akan segera saya lakukan. Permisi," ucap karyawan tersebut membungkukan badannya dan pergi untuk menghubungi temannya di lantai dasar.

" Sudah puas?" tanya Saguru dengan senyum sombongnya.

" Apa maksudmu, sih? Tinggal di sebrang apartemenku? Kalau mau tinggal di sini bukankah kau bisa tinggal di apartemen yang kosong? Kenapa harus sengaja meminta Kunisuke-San pindah ke apartemen lain?" ujar Shiho.

" Memangnya kenapa? Aku hanya ingin tinggal di apartemen itu, bukan di apartemen yang lain," ujar Saguru ringan. " Dan juga…. Akan lebih menyenangkan kalau bisa tinggal bersebrangan denganmu, ya Nona Miyano?" lanjut Saguru.

" Hei!" seru Shiho.

" Sudah, ya. Aku mau persiapkan barang-barangku dulu. Sampai jumpa nanti malam, tetangga baru," ujar Saguru berjalan meninggalkan Shiho dan tak lupa sebuah kerlingan 'seksi' andalannya.

" Huft!" geram Shiho sambil meniupkan udara dari mulutnya yang membuat rambut poni gadis itu tak sengaja berterbangan.


" Tuan muda.. kenapa kau lakukan hal tersebut?" tanya Baya saat Saguru sedang mengepak baju-bajunya.

" Apa? Kenapa?" tanya Saguru terus melanjutkan kegiatannya.

" Tiba-tiba tuan muda meminta untuk tinggal di apartemen keluarga anda.. bagaimana saya harus menjelaskan pada tuan dan nyonya saat mereka kembali dari Inggris nanti?" ucap nenek tersebut.

" Soal itu mereka pasti akan mengerti, aku yang akan menjelaskannya pada mereka..." ucap Saguru.

" Apakah tuan muda melakukan ini karena permintaan kakek tersebut?" ucap Baya. Saguru langsung menghentikan pekerjaannya itu.

" Tidak, sama sekali bukan karena permintaan Profesor," ujar Saguru.

" Lalu?"

" Karena hatiku," ucap Saguru memukul dadanya pelan.

" Maksud tuan muda, tuan muda-"

" Benar, aku memang tertarik pada gadis itu," potong Saguru

" Baiklah... saya mengerti..." ucap nenek itu berjalan keluar dari kamar Saguru.

" Terima kasih," gumam Saguru tersenyum manis.


Huee~! Maafkan Author karena chap ketiga ini begitu aneh, di bagian awal auuthor sudah masukan khayalan para sahabat Shiho tentang pemikiran yang buruk soal dia, habis akhir-akhir ini pikiran author sering loncat ke mana-mana sih T.T

RF= DONT WORRY YOU DONT HAVE TO DO IT ANYWAY :). YOU DONT HAVE TO DO THIS IF YOU DONT WANT TO. ANYWAY THERE IS NOT GONNA BE MANY PEOPLE READING SAGURUXSHIHO BECAUSE MOST PEOPLE SHIHOXSHINICHI T.T. I AM SURE THAT I WOULD LIKE YOUR STORY IF I READ IT. BY THE WAY, LIKE I DONT KNOW MALAY I TRANSLATED THIS BY GOOGLE TRANSLATER

Author= Ah.. Yeah... I know ShinichixShiho was very very famous than SaguruxShiho.. Btw thanks for your time for read my story ^^ umm yeah! GOogle translate! You can translate it from indonesian-spanish, happy reading \(ˆ▽ˆ)/

Anonymous= jangan down ya, kalo dapet kritik & saran. kalo cuma flame, jangan ditanggepin. haters gonna hate ;) banyak yang suka fic ini, cepet update ya ;)

Author= Author gak apa-apa kok, hehehehe... fic ini kan emang harus diberi kritik dan saran agar bisa lebih baik lagi... makasih udah mau review.. ini udah update

Guest= Update lagi dong

Author= Ini udah update

Guest= Baru nyadar chap 2 udah nongol.. Makasih udah mau nerima permintaanku, Za. Eng... waktu adegan terakhirnya itu loh... Saguru-kun.. Nyaa /
Pokoknya update chap selanjutnya, ya

Author= Sama-sama... hahaha, Saguru kenapa? Ini udah update

Guest= Hik, Hik... Menurutku kau lebih punya persiapan di chap pertama, ya? Jujur... Kok di chap kedua ini terkesan buru-buru... itu aja sih menurutku... sampai jumpa di chap ketiga ya

Author= Sejujurnya sih iya... Aku memang buru-buru update chap kedua ini... yosh!