Hola Minna. Gaktahu kenapa saya pengen ada sekuelnya gini ya?
SEKUEL FROM 'PRICKLY ROSE'
DISCLAIMER : TITE KUBO.
WARNING : OOC, AU, GAJE, MISSTYPO (maaf kalau ada kekurangan pengetikan)
RATE : M (for safe)
ATTENTION : Fic ini adalah fiksi belaka, jika ada kesamaan atau kemiripan situasi dan cerita dengan fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun itu tidak disengaja.
.
.
.
Setelah sesi pemotretan itu berakhir, kedua pengantin kembali menuju aula. Tapi sayangnya, Rukia kembali cemberut. Bagaimana tidak? Suaminya itu... malah pura-pura tidak peduli dan mengacuhkan Rukia. Rukia kesal di situ. Tadinya dia bisa tersenyum lembut karena mau di foto. Tapi kemudian, sifatnya kembali dingin. Memangnya kenapa sih tidak bisa bersikap konsisten sedikit? Rukia masih duduk di sofa memperhatikan ekor gaunnya dan sepatunya. Dia bisa jatuh kalau sembarangan bergerak. Dan ini... bagaimana caranya dia bisa berdiri? Berdiri sih memang bisa. Tapi... soal berjalannya?
Rukia perlahan berdiri. Dia bisa berdiri. Lalu mengambil buket bunganya dan mulai akan melangkah. Ichigo terus melangkah kedepan seolah tidak peduli apapun lagi. Dia benar-benar pria terdingin yang pernah Rukia lihat. Kalau mereka memang suami isteri apa salahnya melihat isterinya dulu baru melangkah pergi? Benar-benar sulit dipercaya!
"Hei Suamiku! Kau suamiku bukan sih?" teriak Rukia kesal. Ichigo berbalik melihat Rukia yang tidak juga beranjak dari dekat sofa itu. Wajah Ichigo kembali datar. Seolah tidak peduli pada Rukia. Huh! Kapan dia mau peduli dengan Rukia tanpa mendengar Rukia merengek dulu?
"Apa?" jawab Ichigo malas. Rukia langsung mengangakan mulutnya tidak percaya dengan respon suaminya itu. Benar-benar deh!
"Kau... tidak mau membantuku? Kau tidak lihat gaunku begini?" tunjuk Rukia pada ekor gaun dan ujung gaunnya yang panjang itu.
"Siapa suruh kau pakai yang begituan?" jawab Ichigo lagi.
"Hah? Astaga! Kau ini... apa maksudmu bilang begitu? Jadi kau mau aku pakai piyama tidur di hari pernikahan kita hah?" teriak Rukia kesal. Ichigo menggaruk belakang kepalanya dan memandang sekelilingnya dengan malas.
"Kau bukan anak kecil. Cepatlah jalan. Tugas kita masih banyak." Malah itu yang dikatakan kepala orange itu.
Sama sekali tidak peduli dan sangat dingin. Rukia jadi berpikir apa yang dulu merasukinya hingga nekat ingin menikah dengan pria sedingin ini? Bukankah dulu Rukia sangat ingin memiliki suami yang hangat, ceria dan baik hati? Tapi sepertinya impian itu harus dikubur sedalam samudera Pasifik deh.
Rukia melihat ujung gaunnya dan menariknya pelan. Buketnya masih dijinjing di tangannya dan dia bersiap melangkah. Langkah pertama memang tidak apa-apa. Tapi begitu melangkah selanjutnya, dengan ceroboh, Rukia malah menginjak ekor gaunnya sendiri dengan hak sepatunya. Tentu saja gaun itu jadi terinjak dan karena kaget, Rukia akan terjungkal ke depan. Rukia menutup matanya bersiap akan menerima dirinya mencium lantai. Bukannya mencium suaminya malah mencium lantai!
"Huaa!" jerit Rukia sambil menutup matanya.
Tapi yah... untungnya dia masih melayang di udara. Ada yang memegang kedua lengannya dengan hati-hati. Rukia membuka matanya dan mendongak melihat pria tinggi itu sudah menghampirinya. Ichigo membetulkan posisi berdiri Rukia dan melihat dengan malas. Sekarang dia benar-benar sedang berurusan dengan anak kecil.
"Kau tidak bisa hati-hati sedikit?" kata Ichigo agak kesal.
"Ini tidak akan terjadi kalau kau membantuku berdiri!" kini Rukia setengah kesal dan melempar buketnya ke arah pria orange itu. Untungnya Ichigo reflek menangkapnya. Rukia memandang sinis pada pria itu lalu kemudian mengangkat gaunnya setinggi lutut dengan kedua tangan mungilnya bersiap melangkah keluar. Ichigo kembali melihat tingkah kekanakannya. Kalau dia keluar dari ruangan ini dengan penampilan begitu pasti Byakuya akan menggantungnya. Ichigo berjalan cepat untuk mensejajarkan dirinya dengan isteri mungilnya itu. Oh Isteri! Yah... karena mereka sudah sah menjadi pasangan suami isteri.
Ichigo memberikan buketnya pada gadis mungil itu begitu mereka sejajar dan menarik salah satu lengan Rukia agar memeluk lengannya sendiri.
"Sudah puas?" kata Ichigo datar.
"Seharusnya kau bersikap begitu tadi!" rutuk Rukia sambil memajukan sedikit bibirnya. Tapi kemudian gadis itu tersenyum lebar ketika dia berhasil memeluk lengan Ichigo dengan kuat. Ichigo tahu, Rukia bukanlah tipe gadis yang bisa marah dan mengambek begitu lama. Asal Ichigo memenuhi permintaannya, itu tak jadi masalah lagi. Ichigo lega dia bisa mengerti maunya Rukia. Tapi tetap saja dia sedikit pegal menghadapi anak kecil ini. Meskipun beda 4 tahun, tapi tetap saja, Rukia tak lebih dewasa dari dirinya. Hal inilah yang membuat Ichigo harus sedikit bersabar menghadapinya. Apalagi sejak insiden terjepitnya tangan Rukia di pintu kamarnya. Ichigo jadi was-was membayangkan apalagi yang akan dilakukan gadis ini demi mendapat perhatiannya. Karena sepertinya Rukia tak begitu takut dengan apapun.
Bahkan menjanda setelah tiga bulan pernikahan mereka. Yah... hanya tiga bulan Ichigo mau bersabar. Kalau dengan gadis ini tiga bulan nanti dia bisa sedikit melupakan Yukia, dia akan berterima kasih sepenuhnya pada gadis ini. Tapi Ichigo belum memutuskan akan selamanya menjalani pernikahan dengan wanita yang tidak dia cintai. Yah... Kurosaki Ichigo, belum bisa mencintai Kuchiki Rukia saat ini. Belum. Atau mungkin... tidak bisa lebih tepatnya.
Ichigo lihat, selain Yumichika, Rukia tak begitu banyak mengundang temannya. Ahh... bukan tidak banyak, tapi memang tidak ada. Rukia memang pernah bilang waktu membuat surat undangan kalau dia tidak punya banyak teman di Tokyo dan sudah lupa teman-teman lamanya. Apalagi ditambah kenyataan bahwa dia lama tinggal di Eropa. Sudah pasti sulit mencari teman lamanya lagi. Jadi sebenarnya di pesta ini lebih banyak rekan Ichigo dan Byakuya juga teman-teman Ichigo.
Kini, sampainya mereka pada teman-teman SMP Ichigo. Mereka berlima tampak begitu kaget ketika Ichigo dan isterinya sekarang menghampiri mereka. Ichigo tahu situasi ini. Mereka baru pertama kali bertemu. Dengan wajah yang lama mereka kenal. Orihime bahkan menutup mulutnya tak percaya begitu melihat Rukia. Reaksi yang sama saat ibu Ichigo melihat Rukia. Rukia langsung menunduk begitu menghadapi mereka. Ichigo tahu rasanya. Pasti tidak enak.
"Apa kabar? Aku Kuchiki Rukia. Salam kenal semuanya." Kata Rukia sopan sambil menunduk dalam begitu berhadapan dengan mereka semua. Rukia tahu kalau mereka adalah teman seangkatan Ichigo, berarti umurnya sama seperti Ichigo. Tentunya Rukia harus berlaku sopan pada mereka. Mengingat Rukia jauh lebih muda.
"Aku begitu penasaran ingin tahu seperti apa sosok wanita yang ingin kau nikahi itu. Ternyata... seperti itu. Apa dunia ini begitu sempit Kurosaki?" ujar Ishida.
"Ishida... jangan bilang begitu." Sela Orihime.
"Maaf baru mengenalkan kalian padanya di saat seperti ini. Rukia... kenalkan mereka, itu Ishida dengan isterinya Inoue, Tatsuki, Keigo dan Mizuiro. Mereka teman-temanku waktu SMP dulu." Jelas Ichigo mengabaikan kata-kata Ishida sebelumnya.
"Kau lupa Ichigo? Orihime itu bukan Inoue lagi tahu. Dia sudah jadi Ishida." Sela Tatsuki mengoreksi kata-kata Ichigo ketika mengenalkan mereka.
"Oh... ya maafkan aku. Sepertinya aku terbiasa memanggilnya begitu." Kata Ichigo.
"Hmm... tidak apa-apa Kurosaki-kun. Kalau begitu... dia bukan Kuchiki lagi 'kan? Salam kenal juga... Kurosaki-chan." Timpal Orihime sambil tersenyum ramah pada Rukia. Rukia juga membalas senyum ramah itu. Setidaknya selain empat orang lainnya, wanita berambut orange itu masih tersenyum hangat padanya. Rukia sudah tidak canggung lagi menghadapi tatapan orang-orang yang dekat dengan Ichigo. Mereka akan meneliti Rukia dari ujung kaki hingga ujung kepala kemudian pasti di dalam benak mereka mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Yukia. Rukia juga mengerti arti kata-kata teman Ichigo yang sebelumnya yang mengatakan dunia itu sempit. Yah... dunia sangat sempit.
"Yah... semoga kalian bahagia. Rukia-chan, kau harus sabar menghadapi Ichigo ya... dia kadang suka susah dimengerti." Sahut Keigo. Rukia mengangguk mengerti dan masih tersenyum lebar.
"Kuharap... kalian menikah karena memang cinta. Bukan faktor lain. Bukan begitu... Kurosaki?" timpal Tatsuki. Ketika mengatakan Kurosaki, wajahnya mengarah pada Rukia. Pernikahan mendadak. Calon isteri yang tidak diduga. Bukankah itu terdengar aneh? Dan Rukia... sudah lelah mendengar semua itu tanpa Ichigo yang membantah apapun yang dikatakan soal mereka.
.
.
*KIN*
.
.
"Nii-sama? Sekarang apalagi yang Nii-sama inginkan?" kata Rukia lelah ketika Byakuya menyuruhnya berkunjung ke rumah usai pesta itu.
Sebenarnya setelah pesta, Ichigo dan Rukia mengantar keluarga Kurosaki dulu kembali ke Karakura. Seharusnya mereka bisa menginap dulu di Tokyo. Tapi mengingat ayah Ichigo yang sibuk pada pekerjaannya, ibunya yang kurang fit, dan kedua adiknya yang masih harus mengurus tugas kuliahnya, tidak mungkin untuk mereka menginap walau semalam di Tokyo. Rukia sudah mulai bisa beradaptasi dengan keluarga itu. Apalagi ayahnya yang terag-terangan mengatakan bahwa dia menyukai Rukia dan menyayanginya sepenuh hati. Ibunya juga sudah merestui mereka dan memperlakukan Rukia selayaknya anak sendiri. Walaupun... sepertinya Karin tidak begitu. Dia masih bersikap biasa. Tidak menolak, tidak begitu juga menerima. Biasa saja. Ada sebersit tanya yang menghinggapi Rukia soal sikap Karin padanya. Dan jujur... itu membuat Rukia tidak nyaman. Rasanya Rukia belum begitu diterima di keluarga itu.
Dan sekarang ditambah lagi perintah kakaknya yang tidak masuk akal.
"Tinggal di sini saja. Apa perlu kuulangi?" ujar Byakuya. Dia menghakimi Ichigo dan Rukia yang tengah duduk di ruang tamu keluarga Kuchiki.
"Nii-sama tidak bisa bertindak begitu. Aku ini wanita yang sudah bersuami. Tentu saja aku harus ikut suamiku. Mana bisa tinggal dengan Nii-sama lagi. Jangan meminta hal yang tidak-tidak Nii-sama!" rengek Rukia.
"Aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi padamu setelah pernikahan kalian. Aku hanya ingin mengawasi kalian saja." Jelas Byakuya. Dan terdengar seperti alasan yang berlebihan.
"Nii-sama!" geram Rukia.
"Boleh kutahu alasan yang sebenarnya kenapa Anda meminta kami tinggal di sini? Bukankah yang dikatakan Rukia tadi sudah jelas? Isteri harus ikut suami. Aku sudah punya tempat tinggal sendiri dan aku tidak akan membiarkan Rukia tidur di jalan. Apakah... maksudnya... Anda masih tidak percaya padaku untuk bertanggungjawab pada Rukia?" sela Ichigo. Dia mulai bosan dengan sikap berlebihan kakak iparnya ini. Yah... kakak ipar. Tapi perasaan canggung tak bisa dihindarkan ketika berhadapan dengan orang yang sekaligus Presdir di perusahaannya tempatnya bekerja.
"Apa itu salah? Bukannya Rukia masih sah sebagai adikku meski dia sudah menikah? Bukan alasan yang aneh'kan seorang kakak meminta adiknya tinggal dengannya? Lagipula... rumah ini bukan rumah yang kecil." Kata Byakuya memberikan alasan.
"Kalau Anda mengatakan seperti itu, berarti Anda tidak keberatan kalau kami pindah ke Karakura juga? Bukankah sekarang Rukia bagian dari keluarga Kurosaki. Jadi bukan hal aneh'kan kalau aku membawa Rukia pindah ke Karakura? Dan Anda tidak punya hak untuk melarang Rukia ikut denganku."
Byakuya diam mendengar alasan Ichigo. Yah... pemuda itu selalu punya seribu alasan dari kata-katanya. Dan Byakuya tidak heran dengan itu. Dia saja yang terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Kenyataan bahwa sebenarnya Byakuya tidak sepenuhnya merestui pernikahan ini. Dia sebenarnya masih belum percaya pada Ichigo. Yah... siapa juga yang mau percaya pada Ichigo? Orang yang beberapa waktu lalu enggan untuk hidup dan menjalani kehidupan tidak normal. Semua orang yang tahu latar belakang pernikahan mereka sudah pasti akan melarang mati-matian bukan? Dan sekarang... Byakuya harus sukarela menyerahkan adik kesayangannya pada pria itu?
"Nii-sama jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja kok. Yah?" bujuk Rukia yang melihat kakaknya masih tidak mau melepaskan Rukia.
Akhirnya tanpa kata-kata, Byakuya meninggalkan kedua orang itu di ruang tamunya dan memilih masuk ke ruang kerjanya. Memaksa seperti apapun, baik Rukia maupun Ichigo tak akan mau mendengarkannya. Yah... mereka baru saja menikah. Tentu saja belum ada masalah. Byakuya hanya ingin menghindarkan adiknya dari masalah yang mungkin disebabkan oleh pria itu untuk adiknya. Hanya itu. Karena Byakuya terlalu menyayangi adiknya itu.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia melongo masuk ke dalam apartemen Ichigo. Meski terkesan mewah, tapi isinya sangatlah sederhana. Mungkin karena yang tinggal adalah laki-laki. Makanya tidak terlalu banyak pernak pernik yang ada di apartemen ini. Malah terkesan kosong. Hanya ada beberapa peralatan wajib, seperti sofa, satu set TV, meja makan, dapur dan lainnya. Rukia berkeliling melihat isi apartemen ini. Tempatnya memang lumayan sih. Tidak terlalu luas tapi sangat nyaman.
Ichigo masuk setelah memasukkan koper besar milik Rukia. Koper itu begitu besar seperti memuat perlengkapan selama satu bulan. karena mereka baru hari ini tinggal bersama, jadi Ichigo belum begitu banyak menyiapkan kebutuhan mereka. Apalagi kenyataan bahwa pekerjaannya sangat menumpuk terutama sampai akhir tahun nanti. Setelah menutup pintunya, dia melihat Rukia yang berkeliling apartemennya. Mengingatkannya pada sosok seseorang yang juga melakukan hal sama ketika menginjakkan kaki masuk ke apartemennya.
Tapi Ichigo cepat-cepat menepis bayangan semu itu. Misinya adalah melupakan bayangan itu. Tapi memang mustahil melupakannya secepat itu. Kalau dia bisa melupakannya semudah itu mana mungkin Ichigo mau menikahi gadis itu.
"Wuah beranda! Sama seperti di Paris dulu!" teriak Rukia heboh sambil menggeser pintu kaca beranda itu. Ichigo sepertinya mulai memahami gadis ini. Dia terlalu cepat kagum akan sesuatu yang baru. Dari jauh, dia melihat gadis itu menghirup udara dari beranda itu. Rambut hitam pendeknya tertiup angin malam.
"Jangan lama-lama di sana. Berandanya sudah lama―"
"Uhuk... uhuk..."
"―tidak kubersihkan." Lanjut Ichigo setelah menyadari kata-katanya terlambat. Gadis itu sudah batuk-batuk dan langsung masuk serta menutup pintu kaca beranda itu.
"Kau keterlaluan! Bagaimana mungkin tidak kau bersihkan debunya!" rutuk Rukia.
"Mana ada waktu untuk itu kalau pekerjaanku saja menumpuk bukan main. Sudah, kau masuklah dulu ke kamar. Kau pasti lelah." Kata Ichigo sambil menunjuk kamarnya dengan wajahnya. Rukia melihat sebuah pintu yang tak jauh dari beranda itu. Sepertinya itu pintu kamarnya.
"Kau sendiri? Memangnya tidak lelah?" tanya Rukia sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalau kau sudah selesai, nanti baru aku. Cepat masuklah sana!"
Rukia masih mencibir kesal. Dia lagi-lagi seenaknya.
Rukia perlahan membuka pintu kamar Ichigo. Ini... kamarnya Ichigo?
Kesannya memang sungguh kamar seorang pria. Cat putih, kasur king size berwarna hitam dengan seprai putihnya, lemari hitam dan kloset pakaian. Oh... ada kamar mandi juga. Ichigo sudah meletakkan koper Rukia di sini. Rukia tak banyak berpikir karena dia memang sudah lelah tadi. Jadi, Rukia langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan badannya yang lengket.
Kamar mandinya memang cukup lumayan. Setidaknya, ada bath tube sedang, kotak kaca untuk shower dan toilet. Juga wastafel. Bagaimana Ichigo bisa tinggal selama ini sendirian? Rukia belum begitu banyak tahu tentang Ichigo. Bagaimana dia dulu dan seperti apa dia dulu. Dia hanya tahu, ketika Ichigo bersama Yukia. pria itu begitu bahagia bersama Yukia. bahkan tanpa perlu dikatakan, mereka seperti pasangan yang paling bahagia di dunia ini. Itulah yang Rukia irikan. Ichigo tak bisa tersenyum bahagia ketika bersama Rukia. Tidak memberikan perhatian padanya. Dan bersikap dingin padanya. Tidak seperti dia memperlakukan Yukia. tanpa sadar, Rukia malah menangis di antara pancuran shower itu. Dia memang sudah menikah dan mendapatkan Ichigo sebagai suaminya. Tapi hanya tubuhnya saja. Hanya tubuhnya yang bisa Rukia miliki atas nama suami dan isteri. Tapi tidak hati dan cintanya. Rukia rela memberiakan apapun untuk Ichigo. Bahkan rela memberikan seluruh hidupnya bersama Ichigo. Tapi... sepertinya... Ichigo tidak begitu.
Setelah mandi dan mengganti bajunya dengan dress tidur, Rukia jadi ingat satu hal. Bukankah... ini malam pertama mereka?
Rukia langsung gugup dan wajahnya memanas. Kenapa dia baru menyadarinya sekarang? Itukah alasannya kenapa Ichigo menyuruhnya...
Tidak. tidak. tidak. Ichigo bukan tipe pria seperti itu yang Rukia tahu. Lalu apa yang harus Rukia lakukan? Dia belum berpengalaman dalam hal ini. Kenapa tiba-tiba saja dia takut? Apa ya... kira-kira yang akan dilakukan Ichigo?
Karena penasaran, Rukia mengintip ke balik pintu kamarnya. Pria itu sedang duduk bersandar di sofa. Sambil menonton TV. Apakah... Ichigo tidak tahu atau... pura-pura tidak tahu situasi seperti ini? Mereka'kan... pasangan suami isteri yang baru saja... menikah?
"Ichigo? Aku... sudah selesai. Kau... bisa masuk..." kata Rukia sedikit canggung di balik pintu itu. Karena posisi pintu itu membelakangi sofa tempat Ichigo duduk, Rukia tidak tahu ekspresi pria itu.
"Ya... nanti aku ke sana. Aku nonton dulu..." jawab Ichigo. Suaranya terdengar datar saja. Apa mungkin Ichigo biasa saja?
Rukia menutup pintunya dan langsung duduk bersila di atas kasur itu. Ichigo kenapa sih? Lalu... apa yang harus dilakukan di malam pertama? Harusnya dia bertanya dulu pada orang yang sudah ahli. Tapi... siapa yang Rukia kenal dan ahli dalam hal seperti ini? Dia tidak mungkin bertanya konyol seperti ini pada kakaknya 'kan? Pada... ayah Ichigo? Jangan! Jangan!
Ichigo bisa malu kalau ayahnya mendengar ini.
Karena sibuk berpikir dan Rukia juga terlanjur lelah, akhirnya gadis itu malah jatuh tertidur. Karena entah kenapa Ichigo begitu lama masuk ke dalam kamar.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia menggeliat di dalam tidurnya. Rasanya sangat nyaman. Tapi... bukannya dia tidak terbiasa tidur di tempat asing? Apa karena dia kemarin terlalu lelah? Tapi... tempat tidur Ichigo begitu nyaman dan sulit untuk membuka mata. Rasanya ingin tidur―
Astaga! Rukia! Apa yang kau pikirkan?
Rukia segera bangkit dari tidurnya dan melihat kanan kirinya. Tidak ada. Tidak ada siapapun. Dia... tidur sendirian? Tapi... Rukia ingat semalam dia tidak mengenakan selimut. Dan sekarang tubuhnya sudah dibungkus selimut. Rukia beranjak dari kasur itu dan mengambil mantel tidurnya. Lalu buru-buru keluar dari kamarnya.
Di luar, TV tengah menyalakan acara pagi. Dapur juga menimbulkan bunyi berisik orang memasak. Terdengar suara mesin toaster dan air mendidih. Rukia melangkahkan kakinya yang mengenakan sendal rumah kelinci berwarna ungu cerah itu.
"Ichigo? Kau... sedang apa?" tanya Rukia melihat suaminya kini sedang berdiri membelakanginya sambil menggoreng sesuatu.
Rukia berdiri di meja panjang yang mirip meja bar yang menghadap ke dapur itu. Dapur Ichigo berdesain bar mini seperti di klub. Di meja berbentuk bar itu juga sudah tersedia susu hangat dan kopi panas. Ada juga roti panggang yang baru dimasak.
"Buat sarapan. Apalagi? Kau tidak lihat?" kata Ichigo cuek sambil tetap pada kegiatannya.
"Tapi... aku bisa membuatkannya'kan? Itu... tugas seorang isteri bukan?" tanya Rukia polos.
"Semalam kau begitu pulas tidur. Aku tidak tega membangunkanmu untuk sarapan. Sekarang makanlah ini. Aku harus siap-siap ke kantor." Jelas Ichigo sambil meletakkan sepiring telur mata sapi di meja itu. Kantor? Yah... Ichigo memang harus ke kantor. Urusannya begitu banyak.
"Ichigo... apa... kita ada waktu untuk... bulan madu?" tanya Rukia begitu Ichigo berjalan melewatinya. Ichigo berhenti mendadak dan berbalik menghadap gadis berambut hitam itu. Wajahnya seperti tengah memohon sesuatu dan tampak begitu...
"Rukia... aku―"
"Ahahhaa! Tidak apa-apa. Aku tahu kau sibuk sekali. Mana sempat memikirkan hal itu. Aku mengerti kok. Kita bisa menundanya sampai kau bisa. Aku tidak apa-apa. Asal itu... tidak mengganggu pekerjaanmu." Sela Rukia cepat sebelum Ichigo membuat keputusan apapun. Ichigo memaksakan seulas senyum di bibirnya.
"Maafkan aku. Sarapanlah... nanti aku menyusul."
Dan begitulah. Ichigo langsung pergi masuk ke kamarnya. Ini adalah pagi dimana mereka tinggal serumah untuk pertama kalinya. Tentu saja mereka sudah sepakat sebelumnya agar Rukia tinggal di sini. Apalagi karena pernikahan mereka, bukanlah pernikahan normal umumnya. Tapi Ichigo malah bersikap begitu dingin padanya. Seolah-olah mereka bukanlah sepasang suami isteri. Semalampun, Ichigo tidak tidur di sebelah Rukia. Tidak melewatkan malam pertama mereka. Rukia masih mengerti hal itu. Rukia juga menerima apapun yang Ichigo lakukan. Apalagi soal bulan madu. Tidak ada sedikitpun Ichigo menyinggung hal itu. Seolah dia tak menginginkannya sama sekali. Padahal... itu adalah hal wajar bagi seorang pasangan pengantin baru melakukannya. Tapi Ichigo tidak. dia lebih mengutamakan pekerjaannya.
Setelah mengantar Ichigo pergi ke kantornya. Rukia terdiam di dalam apartemen itu. Sepi dan tidak ada apapun. Apa yang sebaiknya dia lakukan? Rukia sedang tidak ingin kemana-mana. Jadinya Rukia memutuskan untuk membersihkan dan menata ulang saja isi apartemen ini. Dia sudah terbiasa membersihkan rumahnya sendiri. Apalagi semenjak dia tinggal di Eropa. Rukia tinggal sendirian dan tidak membutuhkan pembantu. Dia terbiasa melakukan apapun sendiri. Dan kini... itulah tugasnya sekarang.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia kembali bangun dari tidurnya yang akhir-akhir ini tidak nyenyak.
Sudah 3 hari, Ichigo tidak pernah masuk ke kamar mereka ketika Rukia ada. Ichigo selalu duduk di sofa menonton TV sampai pagi. Dan pernah sekali Rukia melihat Ichigo sampai tertidur di sofa dengan TV yang menyala. Rukia ingin membangunkannya dan menyuruhnya pindah. Tapi... Rukia tidak tega membangunkannya. Tampaknya Ichigo lelah. Dan Rukia hanya menyelimutinya saja. Sejak saat itu Rukia sudah sulit tidur setiap kali Ichigo tidur di sofa. Tapi Rukia tidak mengatakan apapun soal ini pada Ichigo. Dia tidak mau Ichigo terganggu dan terpaksa menemaninya sampai Rukia tidur. Rukia juga sudah belajar bangun lebih dulu dari Ichigo untuk membuatkannya sarapan. Rukia cukup ahli dalam membuat makanan. Meski... Ichigo belum pernah―sejak mereka menikah―makan di rumah. Apalagi kalau bukan karena Ichigo terus pulang larut malam. Kecuali makan pagi.
"Ichigo... kenapa kau selalu tidur di sofa?" tanya Rukia akhirnya pagi ini. Dia sudah bersabar selama tiga hari ini. Menyebalkan bukan?
"Hah? Oh... karena aku... mau menonton acara TV. Ada pertandingan sepak bola tengah malam... jadi aku ingin melihatnya." Kata Ichigo. Terkesan seperti mencari alasan.
"Benarkah? Kalau begitu... apa kita beli TV baru saja untuk ditaruh di kamar supaya kau bisa menonton di kamar. Jadi... tidak perlu ketiduran di sofa lagi..." kata Rukia polos. Sebenarnya Rukia memang tulus mengatakan hal itu. Tanpa maksud apapun. Kecuali... yah... dia ingin Ichigo tidur di kasur. Bukan di sofa.
Ichigo terdiam. Sepertinya dia tidak bisa mengelak lagi hari ini.
"Tidak perlu. Aku... akan ingat kembali ke kamar setelah menonton TV. Aku pergi ya..." Ichigo mengambil tas kantornya dan beranjak menuju pintu.
"Ehh, tunggu. Aku mau bilang... hari ini aku mau main ke tempat Yumichika... boleh?"
"Terserah kau saja."
Selalu begitu. Tidak pernah mengatakan apapun. Dan hanya bilang begitu.
.
.
*KIN*
.
.
"Hei... kau mau bilang pernikahan kalian ini tidak normal? Kenapa kau tidak tidur dengannya sih! Dasar bodoh!" maki Renji pagi ini. Dan itu adalah pertanyaan rutin yang ditanyakan Renji setiap pagi sejak hari pernikahan mereka. Darimana Renji tahu Ichigo tidak tidur dengan Rukia? Tentu saja karena setiap kali Renji bertanya malam pertama mereka, Ichigo selalu bilang dia tidur di sofa. Tidak ada yang perlu disembunyikan dari Renji karena dia bisa tahu bagaimanapun caranya. Kecuali... yah... dari Presdirnya. Dan untungnya Byakuya bukanlah tipe pengganggu urusan rumah tangga orang. Kecuali dia sangat khawatir pada adiknya. Itu saja.
"Bodoh? Apa maksudmu bilang begitu?" tanya Ichigo.
"Bodoh karena tidak meniduri isterimu. Memangnya Rukia tidak ingin? Dia pasti ingin kau sentuh tahu! Dasar tidak peka!"
"Rukia bukan gadis seperti itu!"
"Rukia bukan gadis seperti itu~ kau pikir karena dia diam saja makanya dia tidak mau? Mengertilah dia sedikit. Dia sudah cukup bersabar dengan kalian yang tidak bulan madu itu. Sekarang kau menambah lagi dengan tidak mau tidur dengannya."
"Sudahlah. Tidak perlu bahas masalah itu."
"Ichigo... jangan jadi pengecut begitu! Kau belum jadi suaminya kalau kau belum menyentuhnya. Dan kalian bukan sepasang suami isteri kalau kalian tidak tidur satu ranjang. Dan tambahan... kau bukan pria sejati kalau tidak menjalankan kewajibanmu sebagai suami!"
"Tahu apa kau soal kewajiban suami? Kau saja belum menikah..."
"Tapi pengetahuanku lebih dari yang sudah menikah sepertimu. Pokoknya malam ini sentuh dia! Kalau kau tidak mau aku saja!"
"Renji!"
"Sudah lama ya... Ichigo."
Baik Renji maupun Ichigo langsung menoleh ke arah sumber suara itu. Sosok wanita yang begitu lama dilupakan Ichigo. Bahkan Ichigo tidak berharap bertemu dengannya lagi untuk sekarang ini.
Wanita itu berjalan perlahan menuju kearah Ichigo dan Renji. Tampilan memang agak sedikit berubah. Dia jauh lebih anggun sekarang. Dan rambutnya tidak lagi digerai asal melainkan disanggul layaknya wanita karir yang anggun. Hentakan sepatu tingginya berhenti tepat di depan Ichigo yang masih terdiam.
"Kuchiki Senna? Sejak kapan kau..." tanya Renji yang terputus karena kaget juga.
"Apa kau merindukanku?" tanya Senna lurus pada Ichigo di depannya mengabaikan Renji. Perlahan wajah Ichigo berubah jadi tidak suka dan muak. Kenapa wanita ini masih gigih muncul di depannya.
.
.
*KIN*
.
.
"Dia seperti menghindariku. Apa ada yang salah denganku?" keluh Rukia.
"Apa? Dia tidur di sofa tiga hari ini? Astaga... kepalaku bisa bercabang. Memangnya apa sih yang dia pikirkan? Kau tidak tanya alasannya tidak mau tidur denganmu?" maki Yumichika.
"Sudah. Dia bilang dia mau nonton TV. Pertandingan bola. Kurasa itu hanya alasan saja. Tapi aku tidak bisa memaksanya. Sepertinya sampai sekarang dia belum mau menerimaku." Lirih Rukia yang kini matanya sudah memerah menahan airmata yang sudah terlalu lama dipendamnya.
"Rukia..." panggil Yumichika. Dia begitu merasa prihatin dengan apa yang terjadi pada Rukia saat ini. Yumichika sudah tahu. Menikahi Kurosaki Ichigo bukanlah pilihan yang bagus.
"Aku tidak tahu bagaimana membuatnya percaya padaku. Aku sudah berusaha yang terbaik. Bahkan aku tidak mengungkit soal bulan madu yang tidak pernah kami lakukan. Aku begitu... mengerti soal pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan. Tapi... kenapa dia... begitu dingin padaku?" kata Rukia. Dia begitu kesal sampai tidak tahu lagi harus bicara apa. Dia ingin sekali mundur. Tapi tidak. ini baru tiga hari.
"Rukia... aku sungguh tidak tahu harus bicara apa untuk masalahmu. Tapi... kumohon bersabarlah. Mungkin... Ichigo sedang berusaha untuk menerimamu dan beradaptasi padamu. Aku tahu kau kuat..." Yumichika memberi semangat. Dan Rukia mengangguk setuju.
Setelah curhat dengan sahabatnya itu, kini Rukia hendak berkeliling melihat studio Yumichika yang ramai itu. Yumichika berjanji meninggalkannya sebentar karena ada klien yang ingin diskusi padanya soal gaun pengantin yang dipesan pada Yumichika. Rukia mengangguk mengerti dan melihat-lihat suasana studio yang ramai itu.
Yah... dia begitu mengerti keadaan Ichigo. Sangat mengerti. Lalu... apakah selamanya harus seperti ini?
"Dimana tempat gantinya?"
Paling tidak... dia harus bersabar sebentar lagi. Kalau dia tidak bisa bersabar, kenapa dia mau menikah dengan Ichigo? Bukankah menikah dengan pria seperti itu harus banyak bersabar? Rukia mengangguk-angguk. Mungkin karena dia masih belum begitu paham tentang Ichigo, makanya dia jadi kesal.
"Hei! Kau tuli atau bagaimana! Aku tanya dimana ruang gantinya!"
Kenapa sepertinya suasana studio ini begitu berisik? Padahal Rukia sudah berdiri di belakang studio... dan...
"Apa semua pegawai di sini tuli ya?" sindirnya.
Rukia mendongak ke samping. Seorang pria tinggi dengan rambut putih keperakan berdiri menjulang di dekatnya. Maksudnya apa sih?
"Kau... bicara padaku?" tanya Rukia bingung.
"Kau pikir? Cepatlah beritahu dimana ruang gantinya sebelum aku katakan pada pemilik butik ini kalau pegawainya tuli. Kau mau dipecat?"
Rukia menganga lebar. Apa katanya? Rukia... seperti...
"Kau ini siapa berani-beraninya berkata begitu padaku!" bentak Rukia balik.
"Hah? Hei Gadis Pendek! Apa maksudmu membentakku begitu? Memangnya kau tidak takut kuadukan pada pemiliki butik ini!" bentak pria itu balik.
"Adukan saja kalau kau mau!" sahut Rukia kesal lalu membalik badannya meninggalkan pria aneh itu. Dirinya sedang pusing dan menderita begini malah datang lagi yang aneh-aneh seperti itu!
Dengan langkah lebar Rukia meninggalkan butik Yumichika dan langsung melesat pergi. Hatinya sedang tidak baik hari ini.
Sedangkan Yumichika buru-buru naik ke studionya. Dia mengedarkan pandangannya mencari gadis mungil yang tampak depresi itu. Tapi dia tak menemukannya dimanapun. Melainkan melihat seorang model yang akan memakai bajunya untuk sesi pemotretan hari ini.
"Ohh... Kokuto~ kau sudah datang?" ujar Yumichika sedikit lupa apa tujuannya naik kemari. Begitulah Yumichika. Tidak bisa melihat model yang sesuai seleranya.
"Aku mau ganti baju. Tapi tidak tahu dimana. Dan sepertinya pegawaimu itu tuli ya? Bukannya mengantarku dia malah marah-marah." Jelas model berambut putih keperakan itu.
"Hah? Pegawai mana? Bilang padaku kalau ada pegawaiku yang mengganggumu..."
"Yah... tadi sih ada. Tapi dia pulang. Pegawai macam apa gadis pendek itu." Gerutu Kokuto.
"Hah? Ada pegawai yang pulang? Siapa pegawaiku yang berani pulang jam segini!" kata Yumichika dengan nada tingginya. Sekarang dia malah menginvestigasi seluruh pegawai yang ketahuan pulang di saat butiknya begini ramai. Yumichika jadi melupakan Rukia yang tidak ada di studionya.
.
.
*KIN*
.
.
Masih memikirkan bagaimana caranya mengatakan pada Ichigo soal tempat tidur itu, Rukia duduk di atas sofa sambil memeluk kedua lututnya. Walaupun acara TV-nya menyiarkan acara lawakan, tak ada tawa sama sekali keluar dari bibir mungilnya. Entahlah... Rukia tak mengerti kenapa dia jadi begini aneh. Sepertinya... Rukia memang harus bicara dulu pada Ichigo.
Baru saja akan menghubungi suaminya untuk bertanya kapan pulang, bell apartemen berbunyi nyaring. Biasanya memang jam segini Ichigo pulang. Jam 10 lebih. Tapi Ichigo tak pernah membunyikan bell. Dia selalu masuk saja karena dia punya kunci cadangannya. Rukia jadi bingung, tamu mana yang datang jam seperti ini.
Begitu membuka pintu, Rukia malah menemukan dua pria di depan pintu apartemen ini. Matanya langsung membelalak lebar tidak percaya.
"Renji? Ada apa... dengan Ichigo?" tanya Rukia bingung melihat Renji yang memapah Ichigo yang setengah sadar itu. Cepat-cepat Rukia menyuruh Renji membawanya masuk ke dalam apartemennya.
"Maaf mengganggu malam begini. Tadi aku Cuma menemaninya minum. Tidak tahunya dia malah mabuk. Ichigo itu tidak kuat minum..." jelas Renji sambil menghempaskan tubuh Ichigo yang sudah mabuk berat itu ke dalam kamarnya. Rukia jadi bertambah bingung. Kenapa Ichigo bisa... mabuk?
"Kau tidak usah khawatir... dia baik-baik saja. Mungkin... karena ada masalah mendadak di kantor tadi..." jelas Renji. Meskipun begitu, penjelasan itu sama sekali tidak membuat Rukia mengerti dan merasa lega sedikitpun. Yah... Rukia tahu, Ichigo bukan tipe pria yang suka mabuk. Semenjak tiba di sini, dan membersihkan seluruh apartemennya, Rukia tak menemukan satupun botol sake ataupun bir. Bahkan kaleng bir dengan alkohol kecil sekalipun. Kalau dia tahu, dia tak bisa minum banyak, lalu kenapa dia mabuk hari ini?
Renji pamit pulang karena sudah malam. Rukia berterima kasih dengan tampang anehnya. Entahlah. Tampang ingin menangis atau bersedih. Seperti itulah...
Setelah menutup pintu, Rukia menghela nafas panjang. Kini dia beralih ke kamar. Melihat Ichigo yang seperti orang bodoh yang menyebalkan. Apakah karena tinggal dengan Rukia makanya dia punya kebiasaan baru?
Rukia buru-buru melepaskan sepatu Ichigo, dasi dan jasnya. Pasti tidak nyaman tidur dengan pakaian begitu. Baru Rukia akan meraih dasi suaminya, tangan mungilnya digenggam dengan lembut oleh Ichigo. Rukia mendadak bingung. Ichigo bukannya tidak sadar? Matanya masih menutup dengan rapat. Ada apa?
Namun tiba-tiba dengan sekali sentakan, Ichigo menarik seluruh tubuh Rukia sampai terjatuh di atas tubuhnya sendiri. Rukia bingung dengan tindakan aneh Ichigo ini. Wajah mereka begitu dekat. Bahkan wajah Ichigo sendiri memerah karena alkohol. Apakah benar... Ichigo tidak sadar?
"Ichigo... bangunlah. Kau harus mengganti bajumu." Lirih Rukia mencoba menyadarkan Ichigo yang mabuk itu.
Tapi Ichigo tetap bersikeras tidak mau bangun malah mengeratkan pelukannya di pinggang Rukia. Rukia bergerak tidak nyaman. Dia mau... dia mau memakai kesempatan ini. Tapi tidak. Rukia cukup waras. Suaminya mabuk dan tidak sadar.
Tapi karena Rukia terus bergerak, akhirnya Ichigo membalik posisi mereka. Yang tadinya Ichigo dibawah Rukia kini dia di atasnya. Matanya sudah setengah terbuka. Mata cokelatnya menatap sendu pada Rukia. Sedangkan mata ungu Rukia membelalak lebar. Dia tidak menyangka... Ichigo sadar.
"Tolong Ichigo. Sadarlah. Kau―"
Kata-katanya terhenti karena bibir Ichigo sudah menempel erat di bibir mungil Rukia. Tentu saja Rukia terbelalak. Ini adalah ciuman pertama Ichigo untuknya. Bibir mereka saling menempel ketat. Ichigo bahkan memegang erat kedua tangan Rukia di sisi kepala mereka. Rukia mencoba kembali ke realitas! Ichigo sedang mabuk dan tidak sadar!
Tangan mungil Rukia mendorong-dorong tubuh besar Ichigo yang diatasnya setelah genggaman tangan Ichigo melonggar. Dan berhasil. Ichigo menjauhkan wajahnya dari Rukia dan menghentikan ciuman itu.
"Aku... mencintaimu..." lirih Ichigo.
Tentu saja... wajah Rukia semakin membelalak. Apa katanya?
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Hola Minna... heheheeh akhirnya update. dan nasibnya sama. udah lama dibikin dipublishnya ngarett hehehehe.
akhirnya saya pilih Kokuto...
kandidatnya sih... Ashido sama Kaien terus Kokuto. Tsukishima juga.
kalo Ashido tuh, menurut saya emang cool banget. tapi sayang, saya butuh pemeran yang kelihatan cool, tapi bisa ngelucu juga. bayangan saya jadi Kokuto deh... kalo Kaien tuh, saya lebih suka dia ceria dan baik. gak cocok buat peran cool yang saya butuhkan. Tsukishima tuh... mukanya nyebelin banget. cool sih, tapi cocok jadi antagonis aja deh! hehehehe
Kokuto nih ceritanya model yang temenan sama Yumichika... jujur gak kebayang jadinya Kokuto bisa temenan sama Yumichika.
sebenernya, saya gak tega ngelanjutin fic ini. karena akhirnya, saya harus buat Rukia menderita dulu. dicuekin suami sendiri. gak dianggep. duh... rasanya sakit banget didinginin gitu. apalagi hidupnya kebayang mulu sama mantannya suami. gimana gak miris coba?
tapi ya... kayaknya yang ini juga ancur tulisannya. maklumlah... saya emang lagi gak fit... *alasan*
chap depan baru deh konflik bermunculan. hohohoho
bales review dulu deh...
Wakamiya Hikaru : makasih udah review senpai... nih udah update... jadi dipanggil apa nih? hehehehe
ika chan : makasih udah review senpai... hehehe ok deh... doain aja seru. biar ada perang sekalian. ehhehehe
Yukio Hisa : makasih udah review senpai... yuphh tuh Senna. munculkan dianya? ehehhehe
Aiko Saki : makasih udah review senpai... hehehehe nih udah update...
nenk rukiakate : makasih udah review nenk... kayaknya pilih Kokuto nenk... habisnya gak tahu kenapa saya pengen masukkin dia aja... hehehehe
Zanpaku nee : makasih udah review senpai... hehehe kesian bener Senna. udah nunggu 3 taon. eehh malah gak dapet juga... ckckckcck
Dewi Anggara Manis : makasih udah review senpai... iya nehh biar gak ribet aja. kan kesian kalo gak direstuin. ntar mereka kawin lari deh...
Akirachan : makasih udah review senpai... yang 3 tahun itu maksudnya, pas gilirannya Yukia loh... kan ibunya Ichigo gak ngerestui Ichi sama Yukia 3 tahun lalu... hehehe jadinya Ichi kebayang itu.
Rukia : makasih udah review senpai... nih udah update...
d3rin : makasih udah review rin... hehehehe emang telat tuh bocah. hehehehe Karin tuh posisinya netral. dia biasa aja sama Rukia. gak juga nunjukkin sikap gak suka. terima aja. tapi gak nunjukkin gitu. hehehehe
ichigo4rukia : makasih udah review senpai... sayangnya mereka gak hanimon senpai... hehehehe saya juga suka sifat cewek yang begitu. tapi gak nyebelin... hehehe
Voidy : makasih udah review senpai... hehhee senpai reviewnya kali ini agak beda ya? ohh lagi gak enak badan? sama? saya juga. lagi gak enak badan sekarang. makanya dikebutin biar gak ditanya lagi. dan gak molor lagi updatenya. hehehe iya masih sulit buat ngedeskripsikan katanya. walo udah baca banyak buku tetep aja gak bisa. kayaknya tergantung mood deh kalo saya nulisnya. hehehehe saya pilih Kokuto senpai. hohohoho
Chadeschan : makasih udah review senpai... kayaknya iya deh. beneran ngasih shock therapy. sekalian pake aroma therapy... hehehehe iya senpai. saya suka juga baca novel, saya suka semua novel, terjemahan atau modern Indo. tergantung tema juga sih. nah takutnya, kalo saya baca novel, jadi ngaruh ke tulisan dan tulisan saya jadi kayak mirip novel yang saya baca. saya cuma takut ilang gaya penulisan saya aja. memang hasilnya bagus. udah saya coba kok. tapi itu tadi... heheheeh
Nn : makasih udah review senpai... hehehe
Bad Girl : makasih udah review senpai... emang bukan sekuelnya senpai. saya cuma bikin biar gak ngebingungin aja... walo kayaknya ngebingungin. hohohoho kalo yg nenek nenek itu, kan cuma intermezzo aja senpai. hehehe wah saya gak tahu Rukia operasi plastik ato nggak ya? bingung juga hehehe wah kalo Noba? saya gak bisa ngebayangin gimana dia berekspresi. karena saya butuh yang cool sekaligus bisa ceria juga. hehehe agak sulit ya?
Purple and Blue : makasih udah review senpai... hehehe tungguin aja ya? hehehe
Sunyi Senyap : makasih udah review senpai... jangan panggil saya senpai yaa? Kin aja cukup kok... hehehehe
amexki chan : makasih udah review senpai... duh jangan senpai dong... saya belum setaraf itu... Kin aja gak papa. salam juga. hehehehe nih udah update...
Ok deh udah dibalas.
seperti biasa... yang baca wajib review loh... hehehehe
Jaa Nee!
