Hola Minna. Gaktahu why I want to have the sequel gini huh?

FROM the sequel to 'Prickly Rose'

DISCLAIMER: Tite Kubo.

WARNING: OOC, AU, Gaje, MISSTYPO (sorry if there is a lack of typing)

RATE: M (for safe)

ATTENTION: This Fic is fiction, if there is a similarity or resemblance to the situation and stories with other fic or other story in whatever form it is not intentional.

.

.

.

"Ichigo sudah menikah. Kau tidak tahu?"

"Ya. Aku sudah menikah. Jadi... kau tidak perlu ikut campur masalahku lagi."

Senna menegak habis bir yang dia pesan di bar ini. Niatnya tadi mengikuti Renji dan Ichigo yang pergi ke bar adalah untuk bicara baik-baik dengan Ichigo dan membicarakan hubungan mereka. Apalagi Senna sudah menjadi manager bagian di perusahaan kakaknya, dengan Ichigo sebagai atasannya. Dia pikir, Ichigo tak akan semudah itu lagi jatuh cinta pada wanita lain. Apalagi sejak kematian Yukia, yang sangat diharapkannya―menyingkirkan wanita itu―sudah terkabul. Lalu... pernikahan? Wanita sial mana yang bisa menikahi pria seperti Ichigo? Pria yang sudah enggan hidup dan menolak jatuh cinta lagi?

Senna menghentakkan gelasnya dengan kasar dan mengacak rambutnya. Ini tidak benar. Senna tak bisa biarkan kedatangannya kali ini sia-sia belaka. Untuk apa dia pergi selama ini kalau bukan memberikan Ichigo waktu untuk melupakan pelacur itu dan membuat Ichigo jadi miliknya lagi. Dan parahnya lagi. Dia sama sekali tidak tahu soal pernikahan konyol ini!

"Wanita macam apa yang kau nikahi... Ichigo?" lirih Senna.

.

.

*KIN*

.

.

"Hmmngghh!" Rukia tak mengerti kenapa suaminya bertindak begini liar. Ichigo terus menekan bibir mungilnya dan menghancurkannya sekuat mungkin. Pertama kali bagi Rukia dicium sekuat dan sekasar ini. Sebenarnya Rukia ingin sekali menghentikan ini. Tapi tidak bisa. Ichigo begitu bernafsu ingin menyentuhnya. Dengan paksa Rukia menjauhkan kepala Ichigo. Ichigo mengerti dan menjauhkan bibirnya dari Rukia. Gadis mungil itu mulai menghirup oksigen dengan rakus. Tubuhnya masih terhimpit beban yang sedemikian berat. Ichigo kemudian menjauhkan dirinya dari Rukia. Setelah ciuman panas yang tanpa melibatkan lidah itu, Rukia seakan tak punya tenaga lagi. Berkali-kali dia meneguk ludahnya karena dadanya terus berdebar kencang. Tapi tak lama kemudian, Rukia malah melihat Ichigo melepas kancing-kancing kemejanya tanpa menanggalkannya. Celana panjangnya dibiarkan begitu saja. Rukia kontan saja membelalakkan matanya selebar mungkin. Ichigo mabuk! Yah... dia mabuk! Rukia membalik tubuhnya ke samping menghindari Ichigo. Entah semerah apa wajahnya sekarang. Ini terlalu tiba-tiba.

"Ichigo! Apa yang kau lakukan! Cepat pakai bajumu!" ujar Rukia yang akhirnya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Tapi kemudian, perlahan tangan besar dan hangat itu menyentuh pundak Rukia. Sialnya, Rukia hari ini hanya mengenakan dress tinggal dengan tali tipis di pundaknya dan cukup pendek. Ichigo membalik tubuh Rukia agar kembali terlentang. Mata cokelat pria itu nampak meredup. Pengaruh alkohol! Itu pasti!

"Ichigo..." panggil Rukia lagi.

"Sst... jangan banyak bicara lagi..." lirih pria itu.

Ichigo kembali menindih tubuh mungil isterinya. Rukia sempat terkesiap saat Ichigo lagi-lagi menyerang bibirnya. Apa yang Rukia takutkan? Mereka sepasang suami isteri 'kan? Tidak ada hukum yang melarang mereka untuk berbuat seperti ini. Justru akan terasa lucu kalau mereka tak pernah melakukannya. Tapi... Ichigo sedang mabuk...

Ichigo terus menekan bibir Rukia, menjilat bibir bawahnya untuk menerobos pertahanan selanjutnya. Rukia belum berpengalaman dalam hal ini. Dia belum pernah dicium siapapun. Dan ini adalah pertama kalinya. Rasanya begitu panas. Juga bau alkohol. Rukia bisa merasakan celah bibir Ichigo yang terasa panas itu. Akhirnya bibir Rukiapun terbuka. Mau tak mau, lidahnya ikut bertautan dengan lidah hangat Ichigo. Tapi bukan itu saja, jari-jari Ichigo juga mulai mencengkeram tali dress tidur Rukia turun hingga ke lengan bawahnya. Ichigo meremas kasar dada mungil Rukia yang masih terbalut bra hitamnya. Rukia ingin mendesah, tapi masih terhalang ciuman panas ini. Rukia tak punya jalan lain selain mencengkeram seprei di sampingnya. Rasanya ciuman ini tak ada akhirnya.

Karena keterbatasan pernafasan, Rukia mendorong-dorong dada Ichigo untuk mundur. Mengerti hal itu, Ichigo menurunkan ciumannya, ke dagunya, garis rahangnya hingga berakhir di leher putih itu. Rukia mati-matian menahan sensasi aneh ini dengan menggigit bibir bawahnya. Ichigo masih begitu kasar menggigit lehernya hingga meninggalkan bercak merah.

"Ahh! Sa-sakit... ahh... hhh..." rintih Rukia. Tapi sepertinya suaminya sama sekali tidak mendengar hal itu. Rukia nyaris menangis karena Ichigo seperti ingin mengoyak lehernya dengan gigi-giginya itu. Rukia mencengkeram lengan Ichigo yang masih berusaha menurunkan tali branya juga. Kini tereskpose sudah dada mungil gadis itu. Karena kini, tali berikut branya sudah turun hingga sebatas perutnya. Bernasih sama dengan dress tidurnya. Tangan Ichigo mulai meraba permukaan kulit dada Rukia. Rasanya geli dan begitu hangat. Akal sehat Rukia serasa hilang entah kemana. Tapi begitu Ichigo kembali mencium bibirnya, yang seolah dia tak pernah puas menghancurkannya, Rukia baru sadar dengan alkohol itu. Rukia memukul dada pria berambut orange itu sekencangnya. Merasa pukulan itu untuk membuat Ichigo menyingkir, akhirnya Ichigo mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata ungu gadis itu. Mata ungu itu... sudah basah.

"Hentikan... aku tidak mau..." lirihnya sambil sesegukan menahan nafas.

"Kenapa?" tanya Ichigo lemah.

"Karena kau... tidak mencintaiku. Aku tidak mau melakukan ini... tanpa cinta."

"Aku mencintaimu." Balas Ichigo cepat.

Mata Rukia melebar otomatis. Apa benar itu?

"Apa yang harus kubuktikan agar kau percaya aku mencintaimu? Aku sungguh mencintaimu. Aku sangat mencintaimu..."

Melihat Rukia diam saja, Ichigo mengecup sekilas bibir mungil gadis itu yang sudah memerah. Tersenyum penuh arti lalu kembali melanjutkan tugasnya. Ini terlalu indah untuk jadi kenyataan. Rukia melesakkan kepalanya ke bantal kala Ichigo kembali menggigit kasar putingnya.

"Ahh! Ahh... ja-jangan seperti... ituhhh... aahhh... hhh," desah Rukia. Tapi kembali Ichigo tak peduli. Yah... kapan dia mau peduli dengan Rukia?

Ichigo masih begitu semangatnya menggigit dada Rukia, meremasnya dengan tangan satunya dan memilin-milinnya mengikuti gerak lidahnya. Sekarang... gadis mana yang tidak terbuai oleh sentuhan ini? Rukia adalah gadis normal. Dia juga ingin disentuh. Apalagi oleh suaminya sendiri.

Ichigo mulai bertindak lebih nekat lagi. Bibirnya kembali menghantam bibir Rukia berkali-kali. Tapi tangannya mulai menyingkap dress tidur Rukia. Mata ungunya sekali lagi terbuka lebar saat tangan-tangan Ichigo melucuti celana dalamnya. Rukia semakin takut jika sudah berada di tahap ini. Rukia bergerak-gerak gelisah dalam ciuman Ichigo ketika tangan Ichigo berhasil meloloskan celana dalamnya dan melemparnya entah kemana. Keadaan Rukia begitu kacau. Tangan Ichigo juga mulai membuka celana boxernya. Wajah Rukia kian memerah, sesaat dirasa sesuatu mulai bergesekkan dengan miliknya yang berharga itu. Rukia mulai pusing dan merasa kosong. Tangannya mencengkeram erat kemeja Ichigo. Dan finalnya... sesuatu yang keras dan menegang itu mulai memasukinya perlahan-lahan.

"Akhh! Ahh! Sakit! Sakit! Berhenti!" jerit Rukia ketika benda itu semakin memaksa masuk ke miliknya yang begitu sempit. Lagi-lagi Ichigo tidak peduli. Dia malah menggeram di leher Rukia sambil memejamkan matanya. Tangan Ichigo terus melebarkan paha Rukia agar tidak menghalanginya. Kaki Rukia terus berusaha menendang sana sini untuk mengurangi rasa sakit. Tapi tidak bisa.

"Ichi... ahh! Ku... mohon... hhh... berhen-tihhh..." mohon Rukia seiba-ibanya. Dia tak kuat lagi menahan rasa sakit yang begitu perih ini. Seakan ingin menuntaskannya, tiba-tiba Ichigo menghantam miliknya sekuat mungkin masuk ke sana. Dengan sekali hentakan itu, membuat seluruh benda itu masuk ke sana membuat Rukia berhenti bernafas dan gemetar. Dirinya dapat merasakan perih dan cairan mengalir dari dalam sana. Pekat dan merah. Darah perawannya.

"Akhh... ahh... hhh..." desah Rukia bercampur dengan segukan tangisannya.

Ichigo seakan begitu tuli dan begitu buta. Dia begitu tak memikirkan wajah memohon Rukia dan tangisannya yang memilukan itu. Ichigo masih terus menghentakkan miliknya secepat mungkin. Membuat Rukia bergetar. Dirinya terlampau sakit hingga tak lagi merasakan apapun. Entah itu rasa nikmat atau rasa menyenangkan. Kata orang... malam pertama akan begitu menyenangkan dan mengesankan. Kini Rukia sendiri bertanya-tanya. Malam pertamanya dilalui dengan suaminya yang tidak sadar karena pengaruh alkohol dan dengan kasar menyiksa dirinya. Ketika hentakan terakhir, Ichigo berhenti. Ada cairan lain yang terasa di dalam dirinya. Masuk dan mengalir menuju rahimnya. Klimaks milik Ichigo. Tapi pria itu hanya menindih tubuh Rukia sambil sesekali menciumi leher Rukia yang sudah memerah dan sedikit berdarah. Rukia bisa merasakan tubuh Ichigo sudah tak kuat lagi.

"Aku sangat... mencintaimu... sangat mencintaimu... Yukia..." lirih pria itu.

Kata-kata itu jelas menusuk hati Rukia. Dalam diam Rukia menahan getar tubuhnya yang seakan ingin sekali mati. Beberapa saat kemudian, Ichigo beralih ke samping Rukia dan tertidur pulas. Rukia berbalik melihat wajah suaminya itu. Dia baru saja bercinta―benarkah bercinta? Atau hanya seks karena tidak sadar?―dengan Rukia. Tapi dia menyebut nama wanita lain. Rukia tak bisa marah. Jika dia siap menikah dengan pria ini, maka Rukia sudah siap dengan resiko seperti ini. Sejak awal, dialah yang nekat memaksa.

Rukia bangkit dari tidurnya sambil menahan perih di pangkal pahanya. Rukia memperbaiki bajunya sendiri lalu memperbaiki pakaian suaminya yang ikut berantakan itu. Sambil berusaha menahan tangisnya yang memang sudah tak terbendung lagi itu, Rukia mengelus wajah suaminya yang tampak lelah itu. Rukia begitu dekat. Tapi Ichigo tetap tak bisa melihatnya.

"Sekali saja... sekali... bisakah kau memanggil namaku dengan benar?" gumam Rukia.

.

.

*KIN*

.

.

"Bukankah kau sudah memutuskan untuk tinggal di apartemenmu sendiri, Senna? Kenapa kau datang lagi kemari?" tanya Byakuya begitu melihat adik angkatnya itu terburu-buru masuk ke dalam rumahnya. Seingat Byakuya, dia tak menyangka adik angkatnya akan pulang sesegera ini. Bahkan Byakuya hanya bertemu Senna saat tadi pagi, Senna datang membawa surat lamarannya kepada kakaknya dan memutuskan untuk bekerja di perusahaannya. Wanita berambut ungu ini mengatakan bahwa dia memutuskan tinggal di apartemen yang tak jauh dari apartemen Ichigo.

"Nii-san. Apa Nii-san tahu... Ichigo sudah menikah?" tanya Senna langsung.

"Ya. Dia memang baru saja menikah. Ada apa?" balas Byakuya santai.

"Apa? Baru saja? Kenapa Nii-san tidak memberitahukannya padaku?" tuntut Senna.

"Apa kau minta dikabarkan kalau Kurosaki menikah? Apa kau pernah menghubungiku menanyakan soal Ichigo? Bahkan kupikir kau sudah melupakan pria itu."

"Kalau begitu... Nii-san pasti tahu dengan siapa Ichigo menikah bukan?"

"Kuchiki Rukia." Sahut Byakuya langsung.

Dan tentu saja mata Senna membulat. Dia tak menyangka nama itu yang keluar dari mulut kakaknya. Setelah delapan tahun berlalu, bagaimana caranya Rukia―gadis keras kepala dan kekanakan―itu menemukan Ichigo?

"Kuchiki... Rukia? Apa dia... Rukia yang aku kenal?" tanya Senna lambat-lambat.

"Ya. Dia saudaramu. Kuchiki Rukia yang itu."

"Haa! Aku tidak percaya ini! Dulu Nii-san melarangku untuk menikah dengan Ichigo. Lalu sekarang? Kenapa merestui Rukia menikahinya? Apa Nii-san tahu, Nii-san tidak adil! Apa karena Rukia adik kesayangan Nii-san makanya Nii-san menyetujuinya?" Senna terdengar kalap sekali ketika mendengar nama itu. Senna sungguh membenci gadis itu. Sangat membencinya. Gadis itu selalu bertingkah seolah seluruh dunia tunduk padanya. Seolah semua hal yang dia inginkan harus segera terpenuhi.

"Kau tidak punya alasan untuk mengatakan aku tidak adil."

"Alasan? Ini sudah lebih dari alasan!" balas Senna.

"Aku melarangmu menikahi pria itu? Tentu saja. Saat dia menjalin hubungan denganmu, pria itu mencintai wanita lain yang masih hidup. Pria itu datang padaku untuk melamar Rukia. Sekarang katakan padaku, apakah saat itu, pria itu pernah datang padaku untuk melamarmu? Pernah? Kalau memang pernah, kau boleh mengatakan bahwa aku tidak adil. Tapi kalau tidak... artinya kau sudah salah besar." Byakuya meninggalkan Senna yang masih terpaku di tengah ruangan itu.

Lagi-lagi. Lagi-lagi gadis egois itu mengambil semua miliknya. Senna sungguh membenci gadis itu! Bagaimana caranya gadis itu meyakinkan Ichigo untuk datang melamarnya kepada kakaknya yang super dingin dan protektif itu? Bagaimana?

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo perlahan mengerjap matanya berkali-kali. Sinar matahari begitu menusuk ke matanya. Ichigo menggeliat dalam tidurnya dan menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya. Rasanya begitu dingin. Lalu tak lama kemudian, alarm di kamarnya berbunyi. Astaga! Banyak sekali gangguan untuk dirinya pagi ini! Dengan terpaksa Ichigo bangun untuk membanting alarm itu ke lantai. Selesai. Bunyinya hilang. Tapi begitu akan tertidur lagi, Ichigo mencium wangi masakan yang menyusup masuk ke kamarnya. Masakan? Siapa yang―

Mata Ichigo terbelalak lebar. Buru-buru dia menyingkap selimutnya. Tapi pakaiannya masih rapi. Dia juga tidur di kasurnya, bukan di sofa seperti malam sebelumnya. Dan parahnya, Ichigo melihat bercak-bercak kemerahan di atas sepreinya. Matanya membulat tajam. Tapi karena itu, kepalanya kembali pusing. Rasanya kepalanya baru saja dihantam batu besar di pesisir pantai. Dengan langkah terhuyung, Ichigo mencoba untuk mencapai dapurnya. Begitu membuka pintu kamarnya, TV di ruang tamunya menyala menyiarkan acara masak pagi. Dapurnya juga berisik dengan suara air mendidih dan penggorengan yang menimbulkan bunyi minyak panas. Ichigo mematung diam.

Gadis itu tampak begitu riang memasak di dapurnya sambil sesekali bersenandung kecil. Ketika gadis mungil itu menaruh secangkir teh hangat di atas mejanya, saat itulah Ichigo melihat mata ungunya menatap Ichigo. Senyum lebar tak hentinya tersungging di wajah cantik gadis itu.

"Heh... kau sudah bangun? Duduklah. Aku buat sarapan dan teh herbal. Semalam kau mabuk 'kan? Pasti kepalamu pusing. Ayo..." ajak Rukia untuk bergabung di meja bar itu. Ichigo masih tak mengerti. Sejelas yang dia ingat... tapi Ichigo juga tak yakin. Apakah benar itu terjadi? Kalau terjadi... seharusnya... Rukia sekarang marah padanya. Membencinya atau paling parah mengadukannya pada kakaknya yang overprotektif itu. Perlahan, Ichigo mendekat ke meja bar itu dan duduk di sana. Masih mengawasi tingkah gadis itu. Rukia masih mengoceh panjang―entah tentang apa―sambil menaruh sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi, teh herbal, kopi hangat dan segelas air putih.

"Makanlah. Setelah itu, kau mandi dan pergi bekerja. Nanti kau terlambat." Ujar gadis itu lagi. Ichigo tahu, pasti terjadi sesuatu. Wajah gadis itu tak begitu baik meski dia memasang wajah ceria. Yang jelas, Rukia saat ini tengah terpaksa tersenyum di depan Ichigo.

"Rukia... katakan... apa semalam... terjadi sesuatu di antara kita?"

Rukia yang membelakangi Ichigo saat itu malah menjatuhkan nampan kosongnya. Walau tidak kentara, tubuh gadis berambut hitam itu bergetar. Ichigo bertambah yakin dia sudah melakukan hal buruk pada gadis ini. Rukia memungut nampannya dan berbalik sambil memasang senyum pada Ichigo. Rukia meletakkan nampan itu kemudian duduk di sebelah Ichigo juga sambil menatap susu hangatnya.

"Tidak ada apa-apa. Semalam kau hanya mabuk dan―"

Ichigo membalik tubuh Rukia agar menghadap padanya. Mata gadis mungil itu sudah basah. Rukia mengerjapnya berkali-kali untuk meyakinkan Ichigo.

"Kenapa kau bohong? Katakan yang sebenarnya! Apa aku... menyakitimu semalam?"

"Su-sudah kubilang tidak. kau mabuk. Wajar kalau kau tidak ingat apapun. Aku baik-baik saja. Jangan cemaskan aku." Rukia menepis tangan Ichigo yang memegang pundaknya.

"Kalau kau seperti ini, aku bertambah yakin memang ada yang terjadi. Jangan menutupinya Rukia. Katakan saja. Kau tidak bisa selamanya bersikap seperti ini!"

Rukia menggigit bibir bawahnya dan menunduk dalam. Dia tak tega menyampaikan ini pada Ichigo. Dia tak ingin membuat Ichigo merasa bersalah padanya. Tapi, melihat Ichigo yang tertekan seperti ini jauh membuatnya lebih sakit. Perlahan, Rukia membalik tubuhnya menghadap Ichigo. Berusaha keras untuk tidak menangis atau apa.

"Tapi... setelah aku mengatakan ini, kau janji tidak akan marah dan menghindariku ya... kau juga harus janji untuk tidak lagi tidur di sofa." Pinta Rukia. Permintaan itu terdengar aneh. Tapi dengan mantap, Ichigo mengangguk mengerti.

"Semalam... setelah kau pulang karena mabuk... kau... me... menyentuhku..." lirih Rukia. Bukan rasa malu yang menghias wajahnya. Tapi rasa sakit. Jelas rasa sakit yang paling terasa. Apalagi... mendengar Ichigo tak menyebut namanya. Kini... jelas wajah Ichigo merasa bersalah dan sangat menyesal. Ichigo terdiam saking tak mampu lagi harus mengatakan apa. Perbuatannya... begitu bejat! Dia menyentuh wanita yang tidak bersalah seperti Rukia. Gadis ini... masih terlalu polos untuk menghadapi Ichigo.

"Tuh 'kan kau marah... Aku tidak apa-apa. Sungguh. Jangan marah lagi..." pinta Rukia nyaris menangis.

"Bagaimana mungkin kau baik-baik saja Rukia! Aku... seharusnya kau membunuhku saja! Seharusnya kau tidak membiarkanku hidup dan―" Ichigo menghentikan amarahnya sendiri begitu melihat Rukia yang sudah melelehkan airmatanya.

"Se-sebenarnya... itu juga salahku. Karena aku... karena aku tidak menghalangimu. Kumohon jangan merasa bersalah seperti itu. Kau tidak perlu mengatakan aku harus membunuhmu atau tidak membiarkanmu hidup... kalau aku mengatakan hal itu... berarti... aku..."

Gadis itu menangis. Tangan Ichigo bergerak untuk menghapus airmatanya. Tapi terhenti, karena lagi-lagi dirinya begitu merasa bersalah pada gadis ini. Tangannya mengepal sendiri. Rasanya dia benar-benar ingin membunuh dirinya sendiri.

"Tapi... semuanya sudah baik-baik saja. Anggap saja itu malam pertama kita. Bukan begitu? Ichigo?" ujar Rukia lagi sambil menghapus airmatanya dengan tangannya sendiri seperti anak kecil. Ichigo menatap lirih ke arah gadis itu. Yah... dia bisa melihat Rukia memang baik-baik saja. Tapi itu tidak menjamin hatinya baik-baik saja. Ichigo sungguh adalah pria terbrengsek yang pernah ada. Seharusnya dia tak perlu mabuk dan meladeni Senna. Semua gara-gara wanita sialan itu!

"Aku mandi dulu." Ichigo segera bangkit dari kursinya tanpa menyentuh makanannya.

"Ichigo... kau... tidak lupa janji tadi 'kan?" panggil Rukia. Pria itu menoleh sesaat lalu mengangguk kecil. Rukia tenang. Tapi meskipun begitu... tak menutup kemungkinan kalau Ichigo akan kembali menyalahkan dirinya dan kembali bersikap dingin pada Rukia. Dia benci Ichigo yang seperti itu. Sangat benci.

Setelah Ichigo mandi dan selesai berpakaian, dia bersiap pergi ke kantornya. Ichigo hanya meminum teh herbalnya saja, karena itu yang dia butuhkan untuk mengatasi pusingnya pasca mabuk ini. Ichigo bersiap keluar dari apartemennya sebelum akhirnya Rukia berteriak memanggilnya. Begitu Ichigo menoleh, gadis itu sudah tersenyum lebar padanya dan berjinjit melingkarkan kedua tangannya ke leher suaminya. Mata Ichigo terbelalak lebar. Gadis itu menciumnya tanpa ragu. Tapi Ichigo tak sanggup untuk membalasnya.

"Hati-hati di jalan... suamiku."

Sungguh... gadis itu terlalu baik untuknya.

.

.

*KIN*

.

.

Selesai rapat itu―dan sialnya dia harus bertemu lagi dengan wanita itu―Ichigo langsung menarik Renji masuk ke ruangannya. Ini sudah jam makan siang. Sebenarnya Ichigo begitu lapar, tapi tidak sempat untuk makan siang. Setelah jam 1 nanti ada rapat lagi dengan dewan direksi membahas proyek mereka selanjutnya. Ichigo menutup pintu ruangannya rapat dan bersiap menghakimi Renji.

"Kau ini punya otak tidak!" bentak Ichigo pada sahabatnya sejak SMA ini.

"Hah? Tentu saja punya. Kalau tidak punya aku mana bisa ada di sini. Kenapa kau jadi bodoh begini setelah mabuk..." rutuk Renji.

"Kenapa kau biarkan aku pulang ke apartemenku dalam keadaaan mabuk! Di sana ada Rukia!"

"Lalu kenapa kalau ada dia? Rukia 'kan isterimu. Apa aneh? Lain kalau dia pelacur atau sejenisnya. Kau boleh marah begitu dan menghindarinya."

"Tapi karena kau... aku jadi... aku jadi menyakitinya!" kali ini Ichigo benar-benar frustasi.

"Heh? Menyakitinya? Menyakitinya bagaimana? Jangan-jangan... kau... wah! Selamat Ichigo! Akhirnya kau sudah tidur dengan isterimu sendiri! Hahahaha!"

"Kenapa kau begitu enteng menanggapi masalah ini? Aku tidak sadar dengan perbuatanku. Dan aku tidak begitu ingat kejadiannya. Aku takut... Rukia mendengar sesuatu saat aku tidak sadar itu." Kali ini Ichigo nampak begitu khawatir dan cemas.

"Lalu... bagaimana dia pagi ini? Apa dia begitu kesal karena kau menyentuhnya tanpa sadar hingga dia ingin membunuhmu? Semua gadis polos seperti itu. Mereka merasa, pria yang menyentuhnya tanpa sadar itu sama saja dengan pemerkosa."

"Dia bilang dia tidak apa-apa. Dia bahkan begitu takut aku marah pada diriku sendiri. Dia sampai menangis ketika aku memaki diriku sendiri dan menyuruhnya membunuhku."

"Kalau begitu tidak apa-apa 'kan? Dia tidak meminta cerai darimu, tidak juga membunuhmu. Berarti semalam berjalan lancar. Kau terlalu banyak berpikir. Santai sedikitlah. Jadi setelah ini, kau perlakukan isterimu dengan baik. Mengerti. Kau terlalu berlebihan." Nasihat Renji. Ichigo diam. Renji benar. Yah... kapan si kepala nanas itu salah menanggapi cerita Ichigo? Mungkin dirinya yang terlalu panik.

"Ichigo! Oh... ada Renji... apa kabar?"

Kedua pria itu sama-sama menoleh ke arah pintu masuk. Gadis mungil berambut hitam itu kini masuk ke ruangan Ichigo sambil membawa keranjang makanan. Baru saja dibicarakan sudah muncul saja. Dan lagi... wajahnya tetap ceria seperti biasa. Tetap menampakan dirinya sebagaimana mestinya di depan orang lain. Kenapa gadis ini begitu cepat menyesuaikan dirinya?

Rukia berjalan riang menghampiri pria itu. Wajahnya tak hentinya tersenyum lebar.

"Kupikir aku sudah terlambat. Rupanya tidak. kalian sudah makan siang?" tanya Rukia.

"Kami baru saja selesai rapat. Ohh... jadi ini bekal untuk suami ya? Wah... wah... aku jadi iri. Ternyata Rukia isteri yang pengertian ya..." goda Renji.

"Ini karena Ichigo tadi pagi tidak sarapan. Aku khawatir dia tidak sempat makan karena terlalu sibuk. Kalau kau mau, kau bisa bergabung Renji. Aku bawa banyak." Sahut Rukia.

"Terima kasih. Tapi aku tidak mau jadi obat nyamuk. Kau 'kan sengaja ke sini untuk bertemu Ichigo. Aku masih banyak waktu senggang. Kalau begitu aku pergi dulu ya..." kata Renji sambil menepuk bahu Rukia jahil. Renji melihat wajah tak suka dari Ichigo begitu Renji menepuk pundak isterinya. Masih sama saja. Gumam Renji. Tapi sepertinya Rukia tak sadar dengan ekspresi Ichigo itu.

"Renji kenapa?" tanya Rukia bingung.

"Biar saja. Dia memang seperti itu. Lalu... apa yang kau begitu banyak itu?" tunjuk Ichigo pada keranjang makanan itu.

"Ahh! Hampir lupa. Aku bawa makan siang. Kau harus makan. Sepertinya badanmu sudah semakin kurus karena kau terlalu sibuk bekerja. Boleh saja sibuk, tapi perhatikan makanmu. Kau mau penyakitan karena pekerjaan?"

Rukia dengan telaten mengeluarkan semua kotak bekal yang berada di keranjangnya. Ichigo berputar menuju kursinya untuk melihat apa saja yang dibawa isterinya ini. Baguslah. Dia bisa menghemat waktu. Setidaknya dia tidak perlu mati kelaparan karena tidak sempatnya dia keluar untuk makan nanti.

"Makanlah." Ujar Rukia begitu selesai mengeluarkan semuanya. Ichigo tersenyum simpul.

"Kau memasak semua ini?"

"Tentu! Kau jarang makan di rumah. Jadi kau tidak tahu kalau isterimu ini pandai memasak. Nah... cicipi. Katakan padaku bagaimana rasanya."

Sungguh, saat seperti ini sangat disukai Rukia. Tak ada kenangan tentang apapun untuk Ichigo. Ichigo juga tak banyak memikirkan apapun. Dia hanya makan saja dan tersenyum memberikan isyarat makanan yang dia makan enak. Rukia tersenyum lega. Syukurlah dia tidak sia-sia datang kemari. Rukia menarik kursi untuk duduk berhadapan dengan suaminya dan memandangi Ichigo yang makan dengan lahapnya. Seperti tidak makan sebulan saja.

"Kau sudah makan? Kau juga makanlah." Pinta Ichigo.

"Aku sudah makan. Lagipula... makan banyak tidak bagus untuk wanita. Aku 'kan harus diet..."

"Diet untuk apa? Badanmu sudah kecil begitu. Apalagi yang mau kau kuruskan? Kau 'kan sudah jadi isteri orang. Tidak perlu memikirkan penampilan lagi."

"Kau bicara begitu karena tidak tahu harga diri wanita. Kau mau, orang-orang nanti melihat isterimu gendut, pendek dan jelek?"

Ichigo nyaris tersedak karena ingin tertawa mendengar kalimat terakhir Rukia. Dan siang itu berlalu dengan begitu bahagia. Sepanjang mereka menikah, baru kali ini Rukia melihat Ichigo yang mau bicara padanya panjang lebar begini. Sungguh menyenangkan.

Tapi mereka tak menyadari seseorang yang mengawasi kegiatan mereka dari balik pintu ruangan Ichigo. Awalnya dia berniat mengajak Ichigo makan siang karena ini hari pertamanya bekerja. Tapi... melihat adegan itu, rasanya makan siangpun... tidak akan pernah terjadi.

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo pamit pada isterinya untuk menghadiri rapat penting. Ichigo sebenarnya ingin mengantarnya pulang, tapi lagi-lagi gadis itu lebih mementingkan pekerjaan Ichigo ketimbang dirinya. Rukia membereskan kotak bekal itu dan memasukkannya kembali ke keranjangnya. Setidaknya... Ichigo sudah lebih baik padanya. Rukia harus banyak bersabar dan melakukan ini secara bertahap. Tidak mungkin langsung mengejutkan Ichigo. Hanya satu yang Rukia inginkan... dia ingin pria itu tak lagi menyebut nama Yukia. hanya itu. Tapi sepertinya ini jauh lebih sulit daripada saat menghadapi keluarga Ichigo untuk mendekatkan diri dan meminta restu.

Pintu ruangan Ichigo diketuk. Seingat Rukia, Ichigo sudah keluar. Lalu siapa―

"Apa kabar... saudaraku?"

Rukia terdiam melihat wanita ini berdiri di depannya. Wanita berambut ungu ini sudah jauh lebih dewasa dalam penampilannya. Lebih mirip wanita karir umumnya.

"Senna..." gumam Rukia.

"Sudah delapan tahun aku tidak melihatmu. Aku hampir lupa wajahmu. Lalu... tiba-tiba kau pulang... malah sudah menikah. Kenapa kau tidak mengundangku?" tanya Senna. Ok. Dia masih terlihat biasa saja.

"Aku tidak tahu kau sudah tinggal di Australia. Kupikir kau tidak berniat pulang. Karena kau tidak pernah menghubungi Nii-sama."

"Ohh. Begitu. Apa kau sudah tahu siapa suamimu itu, sampai kau nekat mau menikahinya?"

"Apa maksudmu?"

"Playboy... suka main dengan pelacur. Apa kau tahu dia?"

"Tutup mulutmu! Jangan pernah mengatakan hal seperti itu tentang suamiku!" bentak Rukia. Dia kesal sekali Senna menjelekkan suaminya begitu. Walaupun... sebenarnya Rukia mengakui bahwa itu benar.

"Wah... bangga sekali kau menyebut dia suamimu. Jangan karena dia suamimu... kau jadi berpikir dia mencintaimu. Aku tahu semuanya tentang Ichigo. Aku juga tahu... siapa sebenarnya yang dicintai pria itu. Mengakulah Rukia... suamimu... tidak pernah mencintaimu. Mungkin ada alasan kenapa dia mau menikah denganmu. Tapi yang pasti bukan karena cinta."

"KUCHIKI SENNA!" bentak Rukia lagi.

"Kau pasti penasaran kenapa aku mengatakan hal ini. Kuberitahu. Aku pergi dari Jepang dan menetap di Tokyo... karena aku ingin memberikan Ichigo waktu untuk melupakan masa lalunya. Setelah dia melupakannya, aku bermaksud menjalin hubungan kembali dengannya. Itulah niatku yang sebenarnya." Kata Senna mantap.

"Apa yang kau katakan? Meskipun kau mengatakan hal itu, tetap tak akan ada yang terjadi. Meskipun Ichigo belum mencintaiku... tapi dia tidak akan pernah mengkhianatiku."

"Apa? Percaya diri sekali kau. Kau memang berhasil menikah dengannya. Tapi dia tidak pernah mencintaimu. Mungkin dia menikahimu karena wajahmu mirip mantan kekasihnya itu. Sedangkan aku... aku memang tidak berhasil menikah dengannya. Tapi dia pernah mencintaiku. Menurutmu... siapa yang akan menang di sini?"

Rukia menggenggam erat pegangan keranjang makanannya. Tubuhnya bergetar lagi.

"Ichigo tetap tidak akan pernah mencintaimu. Menyerah saja. Aku tahu siapa Ichigo. Dia tak mungkin semudah itu melupakan Yukia. aku yakin kau sudah tahu siapa Yukia. karena kau sendiri mengakui kalau Ichigo tidak mencintaimu."

"Aku akan berusaha. Aku akan berusaha membuat Ichigo mencintaiku. Kau tak akan pernah tahu, betapa kuat semangat pantang menyerah itu. Kalau seandainya Ichigo memang benar-benar tidak mencintaiku, seharusnya dia tidak mau menikah denganku 'kan? Apalagi, dia baru pertama kali bertemu denganku. Kalau tidak mencintaiku, seharusnya dia menikah denganmu 'kan? Apalagi kau bilang dia pernah mencintaimu. Artinya... dia sudah tak mencintaimu lagi. Terima saja. Senna." Kali ini Rukia tersenyum licik. Dia tak akan serapuh Yukia. Tidak akan.

Rukia bermaksud meninggalkan wanita itu. Tapi langkahnya kembali terhenti.

"Ahh~ apa kau sudah pernah bercinta dengan suamimu?" tanya Senna.

Rukia berbalik dengan bangga.

"Tentu. Kenapa? Kau cemburu? Kalau Ichigo... mau menyentuhku? Setelah tiga tahun tidak pernah menyentuh wanita manapun, dia akhirnya mau menyentuhku? Kau kaget?"

"Sayang sekali... kata Nii-san kau tinggal di apartemen Ichigo 'kan? Apa kau tahu... tiga tahun yang lalu... Ichigo... selalu mengajakku bercinta di apartemennya. Setiap malam. Jadi... kalau kau mau menyuruhku cemburu, sayang sekali. Itu terlambat. Yang disentuh Ichigo itu... bukan hanya kau. Tapi aku juga. Tidak menutup kemungkinan kalau dia mau menyentuhku lagi 'kan? Dan aku... sangat menantikan hari itu."

Setelah puas mengatakan hal itu, Senna meninggalkan Rukia di ruangan Ichigo. Rukia tahu apa yang dikatakan Senna itu hanya untuk memanasinya saja. Tapi rasanya... rasanya Rukia jadi benci... ketika wanita itu yang mengatakan bahwa Ichigo... selalu mengajaknya...

Tidak Rukia. Jangan terpancing. Apapun yang terjadi... Ichigo tak akan mungkin seperti itu lagi. Tidak akan.

.

.

*KIN*

.

.

"Oh... Yumichika? Aku... aku sedang ada di jalan. Sebentar lagi tiba. Ehh? Baiklah... oh ya, kau sudah menemukan pegawai tuli itu? Tidak ada... oh ya..."

Kokuto menutup ponselnya dan kemudian beralih menuju jalanan lagi. Yumichika bilang tidak ada pegawai seperti itu. Lalu gadis itu siapa? Kokuto masih kesal karena gadis itu berteriak dengannya. Belum pernah ada gadis yang berteriak padanya selama ini. Kalau ketemu lagi awas saja―

"Hah?"

Kokuto tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Agak jauh dia melihat seorang gadis yang membawa keranjang makanan dengan langkah gontai. Bahkan berkali-kali dia ditabrak orang yang berlalu lalang di trotoar itu tanpa peduli tubuh kecilnya itu terhuyung ke sana kemari.

Kokuto menyeringai lebar. Akhirnya dia bertemu juga dengan pegawai sialan itu. Kokuto bersiap keluar dari mobilnya dan tiba-tiba melihat gadis itu malah sudah terduduk di jalan itu. Pandangannya tampak kosong.

"Gadis itu sudah gila apa? Duduk di jalan seperti itu?"

Bahkan tidak peduli orang-orang memandanginya aneh dan menyangka dia gila.

Penasaran, Kokuto menghampiri gadis itu. Kokuto melihat wajah gadis itu yang agak sembab. Akhirnya, pria berambut putih ini malah berlutut untuk mensejajarkan tingginya dengan gadis aneh itu. Kokuto menunjuk lengan gadis itu dengan telunjuknya. Tapi tidak ada respon.

"Hei... kau gila? Kenapa duduk di sini? Tanya Kokuto.

Gadis itu menoleh padanya. Matanya sudah berair. Lalu tak lama kemudian dia menangis histeris. Membuat Kokuto terbelalak.

"Hei! Kau kenapa? Aku... aku tidak melakukan hal jahat padamu! Hei..."

Tapi gadis itu tetap menangis histeris dan sesekali memukul dadanya. Kini pandangan semua orang tertuju pada Kokuto karena mulai mengira yang tidak-tidak.

"Hei! Kumohon jangan menangis di sini. Hei...!"

Tapi percuma. Gadis berambut hitam pendek itu tetap tak bergeming. Dia tetap menangis histeris. Entah apa yang dia tangiskan. Tapi sejak itu Kokuto jadi menyesal pernah terlibat dengan gadis ini.

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

!

jahat sekali saya ini! author macam apa saya ini! kenapa bikin scene yang begitu tega! kenapa! *frustasi*

ok deh. cukup galaunya. saya bikin ini setelah mendapat ilham di jam 12 malam. jadi langsung saya ketik. hahahaha habisnya saya mau lewatin dulu chap ini secepat mungkin. karena beneran saya gak tega banget ngliat Rukia gitu. tapi saya suka cewek yang menderita seperti ini. wkwkwkw *gakwaras*

mulai sekarang saya mau update secepat yang saya bisa. karena saya mau ngluncurin fic baru lagi. soalnya tangan saya udah gatel mau dipublish.

maaf ya senpai, kalo ada yang kecewa sama chap kali ini. karena beberapa faktor. terlebih lagi karena TULISAN yang hancur ini. saya sangat menyadari kekurangan saya ini. tulisan gak pernah beres ceritanya gak pernah menarik. hahaha maaf ya maaf. ok deh saya balas review dulu yaa.

Nyia : makasih udah review senpai... hehehe nih udah update. review lagi yaa...

Wakamiya Hikaru : makasih udah review Hikaru... nih udah update kilat lum? tapi sayang sekali... yang bener emang Yukia... hahah orangnya kan lagi mabok tuh... hehehe

ika chan : makasih udah review senpai... saya yang ngetik juga sambil nangis *lebayy* hehehe review lagi yaa

Alexandra alran yesterday : makasih udah review senpai... hehehe temen FB. baru nongol nih hehehe nih udah panjang lum? saya takutnya kalo panjang ntar bacanya bosen. ehehehhe

Hanari 18unnse : makasih udah review senpai... jangan senpai dong. Kin aja. saya gak suka dipanggil senpai hehehe nih udah update. review lagi yaa

Zanpaku nee : makasih udah review senpai... senpai aja gak mau. tapi saya mau deh... hahahaha ya maunya gitu. tapi saya mau bikin feel Rukia yang sempet down itu. nah mulai chap depan, saya bakal bikin lebih keras kepala lagi dianya... eheheh

Voidy : makasih udah review senpai... hehehe sesuai tuntutan naskah. apa kurang kekanakan lagi senpai? hhehe Kokuto? yah saya suka dan memenuhi kebutuhan saya. jadi pilih dia deh... heehhe

AkiraChan : makasih udah review senpai... sayangnya itulah yang anda takutkan. hehehehe ooo yang kemarin salah. maaf ya, saya gak konsen rupanya. hehehehe

Chrystalline Arch : makasih udah review senpai... bener deh. kok pada ketebak ya? ya jelas aja... dianya mabok... hehehe review lagi yaa

Ruki Yagami : makasih udah review senpai... kyaaaaaaaaaaaaaaaaa! senpai review lagi... saya seneng banget. hehehe iya saya udah update kilat. review lagi yaa senpai... hehehehe

nenk rukiakate : makasih udah review nenk... hehehe iya untuk itulah Kokuto ada. ngeramein chara... hahaha maksud terselubung apa nih? wew... hehehehe

ichigo4rukia : makasih udah review senpai... sayangnya udah kesentuh senpai... hehehe Senna? gak ada yang kabarin tuh. jadinya gak tahu... wkwkwwk

Yukio Hisa : makasih udah review senpai... terus dipanggil apa nih? heheeh cuma satu kok. saya kalo antagonis cuma sanggup bikin satu aja. kalo banyak malah pusing. heheheeh

Dewi Anggara Manis : makasih udah review senpai... nih udah tahu tuh. hehehe review lagi yaa

Kina Echizen : makasih udah review senpai... waduh jangan senpai dong. saya gak suka dpanggil senpai deh... makasih udah suka... heheeh review lagi yaa

hoshichan : makasih udah review senpai... hhehehe iya nih udah update... hehehe

ok deh udah pada dibales kan?

kalo gitu... yang baca wajib review... supaya saya tahu apakah cerita ini layak lanjut atau nggak..

Jaa Nee!