Hola Minna. Gaktahu kenapa saya pengen ada sekuelnya gini ya?
SEKUEL FROM 'PRICKLY ROSE'
DISCLAIMER : TITE KUBO.
WARNING : OOC, AU, GAJE, MISSTYPO (maaf kalau ada kekurangan pengetikan)
RATE : M (for safe)
ATTENTION : Fic ini adalah fiksi belaka, jika ada kesamaan atau kemiripan situasi dan cerita dengan fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun itu tidak disengaja.
.
.
.
Kokuto selesai membeli sebotol soda di mesin penjual minuman kaleng yang tak berada jauh dari taman tempatnya terpaksa berhenti itu. Entahlah. Tak terpikirkan minuman lain. Padahal hari beranjak dingin. Kenapa dia beli soda? Seharusnya dia beli minuman yang agak hangat saja.
Setelah mati-matian membujuk gadis yang dia tak sengaja temui itu untuk berhenti merengek di jalan, entah apa sebabnya, akhirnya Kokuto membawa gadis itu supaya duduk di bangku taman. Syukurlah gadis mungil itu mau menurut padanya. Namun ekspresinya masih terlihat sedih dan mau menangis. Apa dia baru saja diputuskan oleh pacarnya? Tapi kelihatannya tidak begitu. Kenapa dia menangis meraung di jalan? Apa dia tidak malu? Lalu kalau dia pegawai di butik Yumichika, kenapa dia tidak bekerja? Bukankah kata Yumichika butiknya hari ini cukup ramai? Ada yang aneh di sini.
Kokuto berjalan perlahan mendekati gadis yang masih termenung duduk di bangku taman itu. Dia memang lurus memandang kedepan. Tapi tatapan matanya kosong dan... seolah tidak memikirkan sesuatu. Bahkan ketika Kokuto berdiri tepat di depannya, gadis itu masih tidak bergeming. Kokuto melambaikan tangannya di depan wajah gadis itu. Tidak ada reaksi sedikitpun. Kokuto takut jangan-jangan gadis ini malah sudah tidak bernyawa lagi. Ahh! Kenapa harinya begitu sial saat ini. Bertemu dengan gadis tuli dan tidak bereaksi sedikitpun. Kenapa pula dia turun dari mobilnya tadi? Bodoh!
Akhirnya, Kokuto geram dan menempelkan kaleng soda itu ke pipi mungil gadis itu.
"Ahh! Dingin!" serunya kaget sambil mengelus pipinya yang terasa ditempel es. Gadis bermata cantik itu mendongak melirik ke arah Kokuto yang berdiri menjulang di depannya sambil memasang ekspresi bingung.
"Tch. Kukira kau sudah tidak bernyawa karena dari tadi diam saja." Sindir Kokuto.
"Kau... siapa?" tanyanya lugu.
Kokuto mengangakan mulutnya selebar mungkin. Ayolah... dia model terkenal. Masa sih ada seorang gadis yang bisa melupakan dirinya? Bahkan banyak gadis di luar sana yang sangat berharap bertemu Kokuto. Bertemu sekali saja adalah anugerah, lalu kedua kali? Bukankah itu mukjizat? Lalu apa yang terjadi di sini? Gadis itu masih memandang penuh tanya pada dirinya. Wajahnya begitu polos dan lugu. Apalagi tubuhnya begitu mungil. Orang pasti mengira dia adalah remaja ingusan yang baru saja putus dari pacar.
"Kau tidak ingat aku? Huh! Padahal aku ingat padamu!" rutuk Kokuto merasa keki. Jujur saja, ini pertama kalinya dia dicueki seperti itu.
"Memang kita pernah bertemu?" kembali gadis itu memasang wajah penasaran.
"Apa? Hei... selain tuli, rupanya kau ini pelupa akut ya? Aku ini orang yang kau temui di butik Yumichika! Kau pegawainya 'kan? Kalau sampai bosmu tahu kelakuanmu ini, jangan salahkan aku kalau kau kena pecat!"
"Yumichika? Kau... kenal dia? Kalau begitu antarkan aku ke tempatnya ya... aku ingin bertemu dengannya." Pinta gadis itu tanpa dosa.
"Apa? Hei... memangnya kau ini tidak tahu berhadapan dengan siapa? Sembarangan meminta tolong pada orang yang tidak kau kenal."
"Kau mau pergi?"
"Ya. Aku ini sibuk tahu!"
"Kemana?"
"Tempat Yumichika."
"Kita satu arah. Kenapa tidak memberikanku tumpangan? Kau bilang kau mau ke sana 'kan? Aku juga... kau tidak mau?"
Siapa gadis ini? Kenapa begitu mudahnya dia meminta bantuan pada orang yang tidak dia kenal? Lalu... kenapa begitu mudahnya pula dia mengatakan Yumichika? Bukankah dia pegawainya? Siapa sih...?
.
.
*KIN*
.
.
"Yumichikaaaaaaaaaaaaaaaa," rengek gadis itu sambil berlarian memeluk desainer ternama itu. Kokuto masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya ini.
"Rukia? Kau datang dengan siapa? Ada apa denganmu?"
Belum menjawab pertanyaan Yumichika, gadis itu sudah memeluknya dan kembali menangis. Menangis seperti anak kecil. Ok! Kesimpulan yang Kokuto dapat setelah melihat adegan lebay ini adalah, gadis itu jelas bukan pegawai Yumichika. Mana ada pegawai yang begitu tidak sopannya memeluk bosnya. Sudah pasti hubungan mereka bukan itu. Tapi gadis itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Yumichika, akhirnya, Yumichika membawa gadis itu masuk ke ruangan pribadinya. Pacarnya Yumichika? Hehehe... Kokuto kenal siapa itu Yumichika. Dia jarang tertarik pada wanita manapun. Lalu?
"Oh... Kokuto? Kau sudah datang? Kalau begitu kau foto saja dulu. Semua sudah menunggumu. Nanti aku menyusul ya~," ujar Yumichika sesaat sebelum masuk ke ruangannya. Buat bingung saja.
.
.
*KIN*
.
.
Kokuto terus melirik jam tangannya. Ini sudah 30 menit Yumichika belum juga muncul. Apa gadis itu masih bersamanya? Bahkan setelah Kokuto mengantarnya, gadis ini main lari masuk saja tanpa mengucapkan terima kasih. Kekanakan sekali sih. Baru saja Kokuto akan berganti kostum selanjutnya, dia melihat desainer nyentrik itu sudah muncul di studio pemotretannya sambil menunjuk beberapa anak buahnya untuk menyusun beberapa baju dan kain-kain yang berserakan di sana. Kokuto menghampirinya secepat mungkin. Meski dia tahu, Yumichika tak bisa diganggu kalau dia sedang memerintah pegawainya, apapun bentuknya.
"Hei... dimana gadis yang bersamamu itu?" tanya Kokuto langsung sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh studio.
"Oh~ Kokuto. Kau sudah menyelesaikan fotomu?" tanya Yumichika balik.
"Hei? Aku tanya yang lain tahu. Gadis itu. Gadis pendek berambut hitam yang cengeng itu. Yang memelukmu tadi. Dimana dia?"
"Rukia? Kau tanya dia? Kenapa kau tahu dia?" kali ini Yumichika yang bingung. Seingatnya dia belum mengenalkan Rukia pada Kokuto. Yah... Kokuto 'kan model kesayangannya, terlebih lagi Rukia teman baiknya. Yumichika, cukup sering bertemu dengan Kokuto. Sebenarnya... dialah model yang dipilih Yumichika tiga tahun lalu saat akan memakai rancangan baju pernikahannya. Tapi pria ini lebih sibuk show lain jadi Yumichika terpaksa memanggil Ichigo. Dan untungnya... si rambut orange itu bersedia datang. Yah... datang dengan kekasihnya saat itu.
"Karena dialah pegawai tuli yang kumaksud kemarin. Dia bukan pegawaimu?"
"Hah? Dia? Astaga! Hahaha... tentu bukan. Rukia itu adik tingkatku waktu di sekolah fashion di Paris dulu. Kami sangat dekat. Dia sudah lama tinggal di Eropa. Delapan tahun. Dan baru beberapa minggu lalu kembali ke sini. Hei... kenapa? Kau tertarik ya?" goda Yumichika.
"Oh. Bukan pegawaimu. Lalu... kenapa dia menangis? Karena tadi... dia terus menangis."
"Hm... biasalah. Masalah rumah tangga. Kadang dalam pernikahan selalu saja ada masalah menyakitkan. Rukia itu memang cengeng. Tapi anaknya cukup tegar kok. Aku sangat salut padanya masih bisa bertahan setelah beberapa minggu ini dalam pernikahannya."
"Dia sudah menikah? Gadis mungil itu... sudah punya suami?" tanya Kokuto lagi serasa tidak percaya. Yah siapa juga yang percaya gadis kecil kekanakan seperti itu sudah menikah.
"Ya. Kau seperti tidak percaya saja. Dia itu... sudah menikah. Suaminya sangat tampan. Sayang tidak mencintai dia... kasihan sekali."
"Suaminya... tidak mencintai dia? Dia menikah tapi... apa dia dijodohkan?"
Yumichika lalu memutar bola matanya mencoba mengingat apa yang dia katakan barusan. Lalu menutup mulutnya seakan tidak percaya bahwa baru saja dia ember! Seharusnya dia tidak perlu mengatakan masalah orang.
"Ahh! Maaf Kokuto. Seharusnya aku tidak membicarakan itu. Oh ya. Kau selesaikan saja tugasmu, ok!"
"Hei... Yumichika! Dimana gadis itu?"
Tapi Yumichika langsung kabur saja. Kalau gadis itu sudah menikah, dan... suaminya tidak mencintai dia... kenapa mereka menikah? Kokuto semakin penasaran.
Tapi begitu dia ingin mencari gadis itu, dia sudah tak ada. Apa sudah pulang?
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo sedikit meregangkan badannya begitu dia keluar dari liftnya. Dia sudah pulang larut malam. Pasti Rukia sudah tidur. Ehh? Kenapa tiba-tiba memikirkannya? Yah tentu saja. Apalagi kalau bukan Ichigo masih merasa bersalah padanya. Pasti gadis itu sekarang menganggapnya pria brengsek dan menyebalkan. Apalagi... Ichigo sudah berani-beraninya menyentuh dia. Padahal mereka menikah bukan karena cinta. Melainkan karena perjanjian konyol. Sampai sekarang Ichigo masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kenapa begitu mudahnya dia menyetujui rencana yang belum tentu berhasil ini. Dia bukan orang segegabah ini. Ichigo selalu memikirkan setiap rencana yang dia ambil. Tapi kebetulan, untuk rencana ini dia sama sekali tidak memikirkannya. Entah kenapa, dirinya sendiri, ada sebersit keyakinan untuk bisa menghapus bayangan Yukia sejenak. Meski dia tak yakin apa dia bisa mencintai gadis itu juga.
Ichigo membuka pintu apartemennya ketika mendengar suara TV menyala di ruang tamunya. Dia melihat seseorang yang duduk di sofanya tengah duduk bersandar sambil menonton TV. Itu dia. Isterinya. Biasanya Rukia suka ketiduran kalau menunggunya pulang. Tapi gadis itu selalu tidur di kamarnya. Sekarang kenapa dia belum tidur juga?
"Hei... apa yang kau tonton itu? Belum tidur?" ujar Ichigo seraya melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah. Tak ada jawaban. Biasanya Rukia selalu menjawabnya, bahkan selalu antusias menyambut Ichigo pulang. Ada firasat aneh ini. Ichigo berjalan santai menuju sofa itu. Dan firasatnya tepat.
Gadis itu sudah jatuh tertidur. Tampaknya dia tidur sehabis mandi. Handuknya masih ada di atas perutnya dan rambutnya agak acak-acakkan walau sudah kering. Sekilas Ichigo memperhatikan wajah Rukia. Matanya agak sembab. Apa dia menangis lagi? Bukankah dia bilang tadi pagi dia baik-baik saja?
Oh Ichigo bodoh. Gadis mana yang akan baik-baik saja dengan kelakukanmu itu? Bibirnya memang lantang mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Tapi hatinya tak akan mungkin selantang itu. Raut Ichigo berubah jadi kasihan pada gadis itu. Bahkan dia tidak bicara apapun pada kakaknya. Ichigo tahu benar, kalau Byakuya tahu, Ichigo pasti berakhir di wajan raksasa atau panci raksasa. Mungkin Byakuya juga bakal memotongnya kecil-kecil dan melemparnya ke sungai yang penuh buaya. Karena menyakiti adik kesayangannya.
Ichigo meletakkan tas kerjanya di atas meja sofa itu. Dengan hati-hati mengambil remote TV dari tangan mungil gadis itu untuk mematikan TV-nya, menyingkirkan handuk basah dari atas perutnya dan kemudian membopong isteri mungilnya itu masuk ke kamar. Rukia sedikit menggeliat ketika Ichigo menyentuh bawah lutut dan punggungnya. Dengan sangat hati-hati, seolah Rukia itu patung kaca yang rapuh, Ichigo meletakkan tubuh mungilnya di kasurnya. Lalu menyelimutinya. Ichigo belum menyingkir dari sana. Masih memandang dengan wajah kasihan, Ichigo kembali merasa bersalah. Dia tahu dirinya memang brengsek. Tapi Ichigo belum pernah merasa begini bersalahnya. Ketika tanpa perasaan dia meniduri beberapa pelacur dulu, ketika dia memutuskan Senna tanpa perasaan. Dan ketika dia tidak menghargai arti seorang pelacur sampai akhirnya... hatinya begitu sakit kala wanita yang dia cintai berteriak padanya bahwa dia hanyalah sampah yang tidak pantas dikenal. Sungguh itu adalah mimpi buruk.
"Seharusnya... kau membenciku saja. Agar aku merasa lebih tenang." Lirih Ichigo.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia terkesiap kaget ketika dirinya merasa mendengar sebuah suara. Rukia tahu bahwa tubuhnya diangkat perlahan-lahan oleh seseorang. Memindahkannya dari sofa ke atas kasur. Rukia ingin bangun dan melihat siapa. Tapi matanya terlalu berat. Dirinya masih terlalu lelah karena terus menangis sampai bertemu Yumichika dan menceritakan masalahnya. Rukia hanya menceritakan saat dimana Senna mulai memprovokasi dirinya untuk membenci Ichigo. Rukia tak sampai menceritakan malam pertamanya yang menyedihkan itu. Kalau sampai Yumichika tahu, pasti sahabatnya itu akan segera berteriak dan menyuruh Rukia menceraikan Ichigo. Lalu puncaknya pasti Yumichika memberitahu kakaknya. Walau Yumichika tak mungkin sampai hati seperti itu. Tapi tetap saja Rukia tak mau Yumichika memandang buruk pada suaminya.
Kalau Rukia sudah sampai di sini, artinya... Ichigo!
Pasti Ichigo tidur di sofa lagi. Rukia bangkit dari tidurnya dengan wajah cemberut. Maunya dia menunggu sampai suaminya itu pulang dan memaksanya tidur di kasur. Pasti badan Ichigo sakit semua karena selama ini dia terus tidur di sofa.
Cklek.
Rukia menoleh ke arah pintu kamar. Ichigo baru saja keluar dari kloset pakaian sambil menguap lebar. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan baju kaos dan celana panjang. Kontan saja mata Rukia membelalak kala suaminya berjalan mendekat ke arah ranjangnya.
"Kau... sudah bangun? Kupikir kau tidur." Kata Ichigo. Tapi wajah Rukia seperti mau menangis ketika Ichigo membuka selimut di sebelahnya dan duduk di atas kasurnya.
"Kenapa? Apa aku... salah?" tanya Ichigo bingung sambil memandang bertanya pada Rukia.
"Eh?"
"Kau mau menangis." Tunjuk Ichigo pada mata Rukia yang basah. Gadis itu cepat-cepat mengucek matanya yang memang terlanjur basah itu.
"Ahh tidak. Aku terlalu senang. Karena kau... sudah mau tidur di kasur."
"Kan kau yang menyuruhku tidur di sini. Tadi pagi... aku sudah janji 'kan? Sudah tidurlah. Ini sudah malam."
Ichigo bersinggut langsung berbaring dan menarik selimutnya menutupi sebagian tubuhnya. Ichigo berbaring membelakangi Rukia. Tapi Rukia terlalu senang sampai tidak tahu lagi harus bagaimana. Ichigo... tidur di sebelahnya.
.
.
*KIN*
.
.
"Dia... senang setengah mati? Wah... kau benar-benar kejam Labu! Kau buat isterimu menunggu selama itu untuk bisa tidur satu ranjang? Benar-benar tidak bisa dipercaya." Ledek Renji.
Pagi ini, Renji begitu antusias menanyakan bagaimana Rukia setelah mengantar makan siang itu. Dan lalu... entah bagaimana caranya hingga akhirnya Ichigo menceritakan malam pertamanya―dengan keadaan sadar―tidur di sebelah isterinya. Bukannya apa. Selama ini Ichigo hanya belum siap kalau harus tidur satu ranjang dengan gadis lain. Selama tiga tahun terakhir ini, dia selalu tidur sendiri. Dan bayangan Yukia terus hadir di dalam malam-malamnya. Dan kini... dengan puas kepala nanas merah ini meledeknya mati-matian.
Ichigo juga jadi sedikit lega. Rukia kembali seperti biasa. Pagi yang ceria. Membuatkannya sarapan. Mengantarnya pergi bekerja. Memang itulah ritual suami isteri seperti biasa. Dan entah kenapa Ichigo jadi sedikit terbiasa sekarang.
"Kau masih ada pekerjaan?" ujar Ichigo pada Renji. Mereka masih berjalan melewati koridor kantornya untuk menuju lift.
"Ehh? Tidak ada sih. Kenapa?"
"Temani aku makan siang."
"Hah? Kau bisa menghubungi isterimu untuk minta dibawakan bekal lagi 'kan? Kenapa mengajakku? Kau mau mengira kita ini gay? Maaf ya, aku tidak seperti itu. Aku masih suka wanita cantik berdada besar."
"Apa maksudmu? Aku tidak bisa merepotkan dia terus. Kau pikir, jarak dari apartemenku ke kantor ini berapa jauh? Belum lagi dia menyiapkan makanannya. Sudahlah. Kau juga tidak ada kencan di siang hari 'kan?" bujuk Ichigo.
"Hah! Kenapa kau selalu jadikan aku kambing hitam? Memangnya kau tidak punya kerjaan lain? Biasanya selalu rapat ini itu." Sindir Renji.
"Kalau begitu... bagaimana kalau makan siang denganku? Pak GM."
Renji dan Ichigo sama-sama menoleh ke sumber suara itu. Lagi-lagi seseorang yang tidak diharapkan. Ichigo menghela nafasnya panjang.
"Wah... ada kerikil rupanya." Bisik Renji.
Gadis berambut ungu yang digelung itu sudah tepat berada di samping Ichigo. Tersenyum ramah dan penuh arti. Sungguh, siapapun yang melihat senyum itu, pasti tidak akan ada yang mengira dia adalah pemeran antagonis. Entah bagaimana caranya dia berlatih untuk jadi seramah ini pada orang. Padahal dulu, dia sangat kasar dan menyebalkan.
"Aku akan makan siang dengan Renji. Kalau kau tidak keberatan, silahkan saja." Ujar Ichigo datar tanpa melihat ke arah Senna.
"Oh ya? Kalau begitu bagus. Kenapa kau tidak mengajak Rukia sekalian? Bukankah kau senggang karena tidak ada rapat lagi? Aku juga... sudah lama tidak bertemu dengan adikku satu itu. Bagaimana?"
Kontan saja Ichigo dan Renji saling berpandangan dan sama-sama menatap Senna. Sebenarnya Ichigo dan Renji tahu hubungan Senna dan Rukia. Yah... mereka sama-sama Kuchiki bukan? Tapi... Ichigo tak pernah melihat ataupun mendengar Rukia membicarakan Senna padanya.
"Kau... mau bertemu Rukia?" tanya Ichigo ragu.
"Tentu. Saat pernikahan kalian aku tidak datang dan mengucapkan selamat 'kan? Kalau begitu ini saat yang tepat. Ajak saja dia."
Renji sudah memberikan sinyal bahaya pada Ichigo. Tapi menolaknyapun akan terdengar konyol. Ini memang bukan hal buruk. Tapi juga bukan hal baik. Ichigo tahu pasti Senna akan sangat tidak suka pada Rukia nanti. Senna sudah tersenyum penuh arti. Entah apa yang direncanakannya saat makan siang nanti.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia tertegun melihat meja itu sudah diisi oleh beberapa orang. Sebenarnya tadi Rukia sedang beres-beres klosetnya Ichigo. Dia ingin menata ulang kloset itu untuk memasukkan pakaiannya. Tapi tetap tidak bisa karena tempatnya tidak memungkinkan meletakkan semua barang Rukia. Tentu saja, ada begitu banyak barang kesayangan gadis itu yang dibawanya masuk apartemen Ichigo. Bahkan sebagian sudah dihiasnya di ruang tengah, dapur, dan tempat-tempat lainnya di segala penjuru apartemen. Ichigo hanya geleng-geleng kepala ketika melihat apartemennya sudah disulap oleh gadis mungil ini. Sebenarnya sih bagus. Karena dengan begitu, apartemennya jadi tidak terlihat suram dan kosong lagi.
Beberapa orang melambai ke arahnya untuk menyuruh Rukia cepat-cepat duduk. Wajah Rukia yang tadinya sumringah karena senang setengah mati karena suaminya menelpon untuk mengajaknya makan siang jadi lenyap. Bayangkan! Rukia bela-belain makan siang, padahal biasanya dia tidak makan siang. Hanya untuk bertemu Ichigo tentunya. Kursi yang kosong ada di samping Ichigo. Dan itu pasti. Kalau tidak, Rukia akan membantai siapa saja yang duduk di saja. Tapi buruknya, kursi di depan Ichigo diisi oleh wanita menyebalkan itu. Dan sisanya adalah Renji. Rukia duduk dengan gontai di sana. Renji menyapanya dengan ramah, demikian pula dengan Senna. Ichigo sempat bertanya ada apa dengan wajah Rukia. Tapi hanya kata 'aku baik-baik saja' yang bisa Rukia lontarkan. Setelah memesan menu makan siangnya, Rukia pergi ke toilet sebentar. Wajahnya pasti aneh. Karena Ichigo terus melirik ke arahnya. Renji juga sempat bilang kalau wajah Rukia terlihat aneh. Tentu aneh!
Kemarin dia masih begitu kesal dengan kata-kata Senna. Sekarang dia malah bertemu lagi dengannya. Rukia cepat-cepat menepuk kedua pipinya dan membasuh wajahnya sejenak di wastafel. Lalu mengelapnya dengan tisu dan memakai sedikit bedak lagi. Agar wajahnya tidak kentara. Apalagi sembab matanya masih terlihat.
"Kau pasti kecewa ya? Berharap makan siang berdua romantis dengan suamimu, malah makan siang denganku." Sindir seseorang.
Wanita berambut ungu itu sudah berdiri di sampingnya sambil berkaca membetulkan make up-nya. Wajah Senna cantik. Tentu dia hanya butuh make-up tipis saja.
"Tidak kecewa. Kenapa harus kecewa." Sangkal Rukia. Walau dalam hatinya, dia ingin berteriak sekencangnya kalau dia sebal. Ya. S E B A L.
"Katamu... Ichigo belum mencintaimu 'kan?"
Ugh! Pertanyaan ini lagi.
"Dan aku pernah bilang, kalau Ichigo pernah mencintaiku." Sambungnya lagi.
"Lalu?" kata Rukia datar.
"Mau kubuktikan? Kalau Ichigo masih menyimpan rasa itu?"
Rukia menatap penuh tanya pada wanita itu. Senna hanya tersenyum lebar seolah menyindir Rukia.
Senna terlebih dahulu keluar dari toilet itu. Membiarkan Rukia penasaran setengah mati. Tentu saja penasaran. Apa maksudnya itu?
Rukia keluar dari toilet. Sepertinya makanan siangnya sudah tiba. Mereka berempat sepakat memesan steak daging. Rukia jadi bingung dan khawatir. Apa sih maksudnya? Tapi begitu Rukia kembali duduk, Renji dan Ichigo malah membahas masalah pekerjaan dan proyek mereka. Ichigo juga begitu fokus pada makanannya. Tidak ada dia memandang Senna. Dia selalu mengalihkan pandangannya ke piring dan wajah Renji. Rukia belum menyentuh piringnya. Tampaknya Ichigo belum sadar Rukia belum makan apapun. Tapi Rukia sudah memasukkan beberapa sayuran rebus yang ada di sekitar steak itu ke dalam mulutnya. Sampai akhirnya, Senna tersenyum licik pada Rukia. Senna sengaja menimbulkan bunyi gaduh pada piringnya sampai Ichigo menoleh padanya. Awalnya Ichigo sama sekali tidak peduli, tapi Senna terus berusaha. Senna bahkan menyenggol gelas minum Ichigo. Seolah itu adalah timing waktu yang tepat, Senna menusuk sepotong wortel rebus di piringnya dan bersiap memasukkannya ke dalam mulutnya. Rukia melihat itu biasa saja. Apanya yang membuktikan kalau―
"Kau alergi wortel. Apa yang kau lakukan?"
Rukia membelalakan matanya ketika tangan Ichigo menghentikan tangan Senna yang memegang garpu berisi wortel itu dengan menggenggamnya. Wajah Ichigo terlihat marah walau tidak kentara. Tentu saja Rukia syok. Renji bahkan melongo melihat tindakan tiba-tiba Ichigo itu. Lalu tak lama kemudian memberikan isyarat pada Rukia yang terlihat kaget itu. Rukia cepat-cepat menunduk dan menghabiskan sayuran steaknya itu. Ichigo yang mengerti lirikan Renji melepaskan tangannya dan kembali makan.
"Oh... maaf. Aku lupa. Kupikir, kau sudah lupa Ichigo. Kalau aku... alergi wortel." Ujar Senna, masih sambil tersenyum.
Tiba-tiba suasana jadi sedikit canggung. Rukia terus memakan sayurannya hingga mulutnya penuh.
"Maaf Rukia. Aku jadi tidak enak. Padahal Ichigo 'kan suamimu. Aku hanya teringat masa lalu kami saja. Dulu... Ichigo juga selalu memakan wortel yang ada di piringku. Ternyata kau masih sama seperti dulu. Peduli padaku." Kata Senna penuh makna.
"Jangan bahas masa lalu. Semua itu sudah berakhir." Tambah Ichigo datar sambil tetap memotong dagingnya tanpa melihat Senna.
"Sayang sekali. Aku suka wortel! Jadi Ichigo tidak perlu repot memakan wortel itu untukku! Wortel bagus untuk mata." Sindir Rukia. Ichigo menoleh ke arah gadis ini dengan tatapan bingung. Rukia menyudahi makannya tanpa menyentuh dagingnya lalu tangannya yang masih memegang garpu menusuk-nusuk potongan-potongan wortel yang ada di piring Senna. Kontan saja semua orang memandanginya aneh. Setelah semua wortel Senna hilang dari piringnya, Rukia memasukkannya bulat-bulat ke dalam mulutnya.
"Katamu kau diet. Kenapa makan banyak begitu." Sindir Ichigo memperhatikan isterinya yang kelihatan kalap memakan wortel itu. Rukia mengambil jeda sebentar untuk langsung menelan wortelnya tanpa mengunyahnya sampai hancur betul.
"Sayuran... tidak akan membuatku gemuk. Lagipu―hik,"
Rukia menutup mulutnya karena tenggorokkannya seperti tersumbat sesuatu dan membuatnya sulit bernafas.
"Hei Ichigo! Isterimu itu kesedak tahu! Berikan air!" seru Renji melihat wajah Rukia yang memerah dan terus memukul dadanya. Buru-buru Ichigo memberinya minum dan langsung berwajah panik. Ichigo juga memukul pelan punggung Rukia hingga tersedaknya hilang.
"Makanya jangan bicara dengan mulut penuh. Kau ini seperti bocah saja!" rutuk Ichigo.
Senna diam menyaksikan adegan itu. Sekilas wajah Ichigo terlihat khawatir hanya karena Rukia tersedak saja. Rencananya tadi memang berhasil dan cukup sukses membuat Rukia kembali kesal padanya. Tapi... sepertinya, Rukia jauh lebih berhasil membuat Ichigo berpaling padanya.
Senna jadi semakin penasaran dengan Rukia. Bagaimana cara Rukia membuat Ichigo seperti itu padanya? Bagaimana caranya?
Senna semakin berambisi untuk memisahkan mereka. Karena bagaimanapun, Senna yakin. Ichigo tak pernah mencintai Rukia. Pernikahan mereka ini... tidak mungkin selamanya.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia menolak diantar pulang. Apalagi kalau bukan alasan, di mobil itu ada Senna! Rukia tak sanggup lagi melihat orang itu akan mengganggu perasaannya. Apa sih yang salah pada Rukia? Apa Rukia pernah membuat wanita itu kesal padanya?
Rukia bergerak gelisah dalam tempat tidurnya. Bahkan berkali-kali berteriak tidak jelas dan menggulung-gulung tubuhnya dalam selimutnya. Apa yang dipikirkan Ichigo? Apa?
Sudah larut begini dia malah belum pulang! Apa Ichigo pergi berdua dengan Senna? Kemana? Mau apa?
Ohh! Kenapa kepala Rukia jadi begini aneh. Dia sudah berpikir tidak masuk akal. Ichigo sudah bilang tadi. Kalau hubungan mereka sudah berakhir. Tak ada alasan bagi Ichigo untuk kembali. Juga... Ichigo sudah menikah dengan Rukia.
Reflek Rukia menutup selimut itu sampai ke puncak kepalanya ketika mendengar bunyi pintu kamarnya dibuka. Ichigo sudah pulang. Seharusnya Rukia menyambutnya 'kan? Kenapa dia jadi salah tingkah begini?
Tak lama kemudian, Ichigo membuka pintu lagi. Sepertinya kali ini dia ke kloset pakaiannya. Eh? Kloset itu masih berantakan karena Rukia tadi belum sempat membereskannya. Pasti Ichigo akan marah padanya karena Rukia membuat klosetnya berantakan. Rukia masih menutup tubuhnya dengan selimut itu. Sampai akhirnya, dia merasakan kasurnya sedikit bergerak. Ichigo sudah duduk dan mulai berbaring di sampingnya lagi. Perlahan, Ichigo menarik selimut itu untuk membungkus dirinya juga.
Rukia memberanikan diri membuka selimutnya. Dia menoleh ke samping. Suaminya sudah berbaring membelakanginya. Apa Ichigo sudah tidur?
"Ichi... go?" panggil Rukia pelan.
"Hmm?"
Rukia kaget. Ichigo belum tidur?
"Kau... belum tidur?" tanya Rukia ragu.
"Yah. Karena kau memanggilku. Ada apa?"
"Eh? Maaf... sebenarnya... ada yang ingin kutanyakan." Lirih Rukia sambil meremas selimutnya.
"Aku dan Senna sekarang ini, sebagai atasan dan bawahan. Karena dia ditempatkan di tempatku oleh kakakmu. Apapun yang pernah terjadi di masa lalu kami, itu tidak ada hubungannya dengan sekarang. Kami... hanya berhubungan sebagai rekan kerja. Makanya... kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan kembali pada Senna." Jelas Ichigo, masih berbaring membelakangi Rukia. Rukia diam sambil berbaring menghadap punggung Ichigo. Sepertinya, Ichigo sadar dengan tingkahnya tadi siang. Apakah... Rukia begitu jelas menunjukkan sikap tidak sukanya pada Senna yang sok akrab pada suaminya itu?
"Ichigo... aku―"
"Kalau kau sudah mengerti, tidurlah. Jangan pikirkan itu lagi."
Lalu tak lama kemudian terdengar nafas teratur dari Ichigo. Pria itu... sudah tidur.
Rukia senang Ichigo mengatakan hal itu padanya. Tapi... Senna tidak begitu. Dia akan melakukan segala cara. Rukia hanya takut. Sampai kapan Ichigo akan bertahan?
Menghilangkan bayangan Yukia dari benak Ichigo saja sudah sulit. Ini ditambah lagi adanya Senna sebagai rival cintanya. Kenapa harus Senna? Kalau ada wanita selain Senna yang juga suka Ichigo, Rukia tentu akan senang hati berperang dengannya. Tapi jangan Senna. Jangan wanita itu.
.
.
*KIN*
.
.
Pagi itu, dilalui dengan sikap biasa saja dari mereka. Seperti pagi biasanya. Tidak ada yang aneh, bahkan menyinggung soal kemarin. Rukia juga tak mau membuat Ichigo tak nyaman.
Rukia menghela nafas panjang. Dia harus membereskan kloset Ichigo. Tadi pagi Ichigo bilang klosetnya berantakan. Tapi tidak menyuruh Rukia membereskannya. Bahkan sepertinya, beberapa pakaian sudah diurus Ichigo. Rukia selesai menaruh pakaian dan segala pernak pernik pribadinya di kloset itu. Dengan begini, dia tak perlu mengacau kopernya lagi.
Begitu akan membereskan pakaian Ichigo, Rukia bingung karena ada satu dress putih dan berbagai pakaian wanita yang tidak dia lihat sebelum ini. Ini bukan miliknya. Walaupun, hampir semua baju Rukia adalah rok dan dress, tapi tidak ada baju yang seperti ini. Senna? Oh ya! Dia bilang dia beberapa kali main ke sini dulu. Tapi... tidak. Senna tidak pernah memakai pakaian begini. Dia selalu ingin tampil modis dan bergaya. Dan pakaian ini, hanya pakaian biasa. Bukan pakaian bermerek. Lalu... punya―Yukia?
Oh... jadi ini... milik Yukia?
Baru akan meneliti pakaian itu, karena sudah tidak menurut mode lagi. Sepertinya ini pakaian tiga tahun lalu. Jadi Yukiapun... pernah tinggal di sini. Apakah benar... Ichigo selalu membawa semua wanita yang ditidurinya di sini? Tapi dia mencintai Yukia melebihi apapun. Dia sangat mencintai wanita itu. Bahkan wanita itu adalah yang terakhir untuk Ichigo. Tak terasa airmata Rukia menetes.
Pria itu... masih mencintainya. Apalagi... baju Yukia... hingga tiga tahun seperti ini, masih setia berada di kloset Ichigo dan disimpannya.
Baru akan membereskannya lagi, Rukia menemukan sebuah kotak sedang dari beludru hitam menggelinding ke bawah. Kotak apa ini?
Begitu membukanya, Rukia menemukan sepasang kalung. Satu berliontin matahari dan satu lagi berliontin bulan. Tapi yang matahari ini, agak menghitam. Padahal kalung ini putih. Noda hitam apa ini?
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo tiba-tiba pulang cepat. Bahkan ini belum terlalu malam seperti biasa. Pekerjaannya kebetulan sudah beres. Mungkin juga dia bisa makan malam. Karena hari baru saja beranjak malam.
Begitu membuka pintu apartemennya, suasana apartemennya kosong. Kemana Rukia? Apa biasanya dia memang selalu tidak di rumah? Tapi kalau Rukia akan pergi, biasanya di pagi hari dia akan bilang pada Ichigo. Bahkan dia selalu bilang kemanapun dia pergi. Termasuk ke tempat Yumichika. Kemana dia? Lampunya bahkan tidak dinyalakan.
Ichigo memilih untuk mengganti pakaiannya.
Ichigo masuk ke kloset pakaiannya. Tempatnya sudah rapi dari tadi malam yang super berantakan. Pakaian Rukia juga sudah dibereskannya. Lalu kemana orangnya?
Ichigo membuka lemari pakaiannya. Tapi... ada hal aneh. Yang biasanya dia lihat tidak ada di sana. Ichigo mengacak-acak pakaiannya sendiri. Tidak ada. Kemana?
Terdengar bunyi pintu dibuka. Ichigo kalap dan marah. Sangat marah. Apakah gadis itu berani-beraninya menyentuh benda berharga miliknya?
"Kau sudah pulang?" Rukia berdiri di depan pintu kloset itu sambil memperhatikan suaminya. Wajah Ichigo berubah marah padanya. Rukia takut melihat ekspresi itu. Cepat-cepat Rukia menundukkan kepalanya.
"Apa kau... menyentuh... lemari pakaianku?" tanya Ichigo lambat-lambat dengan nada dingin dan menusuk. Rukia semakin takut dengan nada seperti itu.
"A-aku... cu-cuma memberes-kan... bajumu saja." Lirih Rukia sambil menahan getar suaranya.
"Membereskan? Lalu kau apakan baju yang ada di lemariku? Kau buang?"
"Eh? Ba-baju apa?"
"Baju milik Yukia! Kau kemanakan!" bentak Ichigo. Rukia terlonjak kaget. Rasanya jantungnya mau melompat keluar begitu Ichigo membentaknya sedemikian keras. Belum pernah Rukia melihat Ichigo begini marah padanya. Rukia lagi-lagi menangis. Bahkan, melihat Rukia menangis begini, sama sekali tidak membuat Ichigo berhenti memandanginya dengan begitu dingin dan emosi.
"Kau tidak berhak membuang baju itu! Semua baju itu adalah milikku! Kenanganku dengan Yukia! Berani sekali kau membuangnya tanpa ijinku! Kau memang isteriku! Tapi kau... tidak ada hak untuk mengaturku! Apa kau lupa, kita ini tidak pernah menikah sungguh-sungguh! Aku tidak pernah mencintaimu!"
Bentakan penuh amarah dan emosi itu membuat Rukia semakin terisak. Airmatanya semakin deras mengalir tiada henti. Rukia paham kata-kata Ichigo. Rukia mengerti kata-kata itu. Tapi jika Ichigo mengucapkannya dengan penuh emosi dan amarah seperti itu, sungguh membuat hatinya sakit. Dadanya sesak karena menangis sesegukan itu. Bibirnya juga berkali-kali gemetar.
"Kau tidak perlu menangis seperti itu! Karena aku semakin membencimu karena ikut campur urusanku. Sekarang katakan dimana kau membuang baju Yukia!"
"A-aku... tidak pernah... membuang apapun... milik-mu. Aku memang membereskan pakaianmu dan... menemukan baju-baju milik Yukia. Ta-tapi aku... tidak membuangnya. Ku-kulihat bajunya berdebu dan kotor. Sepertinya sudah lama kau simpan di dalam lemari. Dan tidak kau cuci..." jelas Rukia masih mengendalikan sesegukan dan tangisnya.
"Jadi tadi... aku mencucinya dan... memasukkannya ke dalam kotak... di atas lemarimu. Su-supaya tidak... hiks... berdebu lagi. Maaf kalau aku lancang. Aku tidak tahu kalau kau... semarah itu." Lanjut Rukia lagi. Tidak bisa. Ini buruk. Dia benar-benar takut, dan sakit.
Perlahan mimik Ichigo berubah. Dia tak menyangka itu. Dia pikir, Rukia sudah seenaknya seperti itu. Karena selama ini... Rukia selalu bertindak seenaknya dan tidak pernah dia komentar.
"Ru-kia... aku..."
"Tidak apa-apa. Wajar kalau kau marah... pasti baju-baju Yukia begitu berarti untukmu. Aku juga... tidak akan sembarangan lagi menyentuh... barangmu. Maafkan aku. Tidak apa-apa kau... membenciku... aku pantas dibenci." Lirihnya lagi.
"Aku tidak bermaksud―Rukia!"
Rukia berlari keluar dari apartemen Ichigo. Ini bukan hanya sekadar sakitnya saja. Ichigo sudah mengatakan kalau dia membencinya. Lalu bagaimana Rukia bisa... Ichigo membencinya. Satu-satunya hal di dunia ini yang dia takutkan. Ichigo perlu waktu.
Ketika pintu lift terbuka lebar, Rukia langsung menutupnya. Dia ingin menangis sepuasnya.
Begitu pintu lift akan tertutup sedikit lagi, dia melihat bayangan Ichigo yang menyusulnya. Rukia langsung berpaling. Dan untungnya pintu lift sudah menutup. Jangan lagi. Rukia tak ingin Ichigo merasa bersalah padanya lagi. Rukia tidak ingin melihat wajah bersalah Ichigo saat Ichigo sadar sudah menyakitinya.
Rukia duduk didalam lift itu.
Ternyata... Rukia memang tak sekuat dan setegar itu. Dia butuh sandaran. Untuk melepaskan rasa menyakitkan ini. Rasa menyakitkan setiap kali suaminya merasa bersalah padanya. Rukia benci melihat Ichigo yang seperti itu.
Sangat... benci.
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Hohoho... lagi-lagi Rukia nangis. kok saya buat karakter Rukia disini cengeng amat ya? yah... namanya juga tuntutan skenario. apa boleh buatlah... *plaked* hheheheeh
saya cepat 'kan updatenya? tentu aja. soalnya saya mau konsentrasi sama satu dua fic dulu. terus baru deh ngelanjutin fic lain yang sempat terlantar... hehehe entah kenapa juga, saya mulai suka sama cerita ini. kayak mirip-mirip cerita Korea gak? ehheehe
Ichi tuh, baik ama Ruki, karena cuma bersalah aja. belum taraf membuka hati. jadi dia cuma gak mau buat Rukia nangis aja karena rasa bersalah dia. ohohoho pria kejam ya?
ok deh... balas review dulu yaa...
Wakamiya Hikaru : makasih udah review Hikaru... hehehe apakah ini udah update kilat? hehehe ok. saya jawab satu-satu yaa.. kayaknya saat Ichi bakal cinta banget sama Ruki itu masih terlampau... jauh. hehehee Konfllik pasti ada dong. setiap fic saya pasti ada konflik. hohoho kalo Kokuto, saya masih belum tahu, karena Kokuto 'kan baru muncul. jadi mungkin sedikitlah... naah kalo cemburu saya gak yakin loh... hehe kayaknya Senna belum ikhlas tuh. hehehe
AkiraChan : makasih udah review senpai... kata orang, semakin menyebalkan tokoh antagonis, maka semakin sukses si antagonis itu meranin perannya. hohoho kalo soa cinta sekian segi itu, saya... belum tahu yaa... hehehe. oh fic itu... maaf senpai. saya beneran lagi kehilangan mood buat nerusin itu. malah saya mau hapus aja fic itu. hehehe
corvusraven : makasih udah review senpai... wah... saya gak tahu kalo senpai punya akun. soalnya selalu review pake anon... hehehe makasih banyak senpai mau fave fic abal ini. makasih banyak *sujudsujud* hehehe
Ruki Yagami : makasih udah review senpai... wah... senpai review terus. saya jadi tambah semangat nih buat update terus. hehehehe ok deh nih udah update cepet 'kan? hehehe review lagi yaaa senpai.
Nyia : makasih udah review senpai... nih udah dilanjutin. review yaaa
Voidy : makasih udah review senpai... heheh sebenarnya saya suka karakter Renji di sini. dia beneran bisa jadi temen yang everytime ada buat Ichigo. hehehe Senpai... apa karakter Rukia di sini udah pas belum ya? saya rada gak enak nih buat Rukia terlalu cengeng begini. tapi karakternya memang begitu. jadi rada aneh gak ya? heheheeh malah nanya abal saya ini hehehe
Zanpaku nee : makasih udah review senpai... nih udah update lagi. senpai... apa menurut senpai sifat Rukia masih kayak yang senpai harapkan di sini? karena akhirnya Ruki malah jadi cengeng banget. hohohoho
Alexandra Alran Yesterday : makasih udah review senpai... jadi mau dipanggil apa nih ceritanya? heheeh tentu inget dong. masa gak inget? ingetan saya ini lumayan tajam kok. hehehe oh itu ya... sebenernya emang banyak sih. tapi saya selalu pilih Senna karena dia chara yang gak punya marga, jadi mudah masukin dia kemana aja. terus juga, saya sebenarnya suka sama Senna tuh, tapi entah kenapa kayaknya saya buat dia jadi sadis mulu ya? hehehe intinya saya belum cocok aja sama chara lain, walo banyak. hehehe
MUkyungs : makasih udah review senpai... hehe apa ini udah update kilat? hhehe iya gak papa kok. saya malah seneng kalo ada yang baca fic saya. saya kira bakalan gak ada yang mau baca malah... hehehe
seli1 : makasih udah review senpai... heeheheh sedih banget ya? iyalah saya aja yang ngetik sampe berlinangan darah *loh?* hehehe cowok kedua? hohoho enak banget nih jadi Ruki. hehehe
d3rin : makasih udah review senpai... hohoho Ruki hamil? baru sekali. belum tentu bisa kan? *plak* ok deh. saya udah update kilat lum nih? review lagi yaa
Chadeschan : makasih udah review senpai... hheeheh gak papa kok telat. asal review... hehehe iya dong, untuk itulah Senna ada. buat nyebelin senpai. wkwkwkwkw Ichi galau? wah... chap berapa ya? eheheh
Yukia Hisa : makasih udah review senpai... kalo gitu... panggil Yuki boleh? hehehe soal Ichi... kayaknya nggak deh. soalnya Senna gak bakal mau gangguin Ruki di depan Ichi tuh... hehhe
Bad Girl : makasih udah review senpai... wah senpai lama gak nongol di kotak review saya loh... hehehe ya sama kok. saya juga galau buatnya. hehehe
nenk rukiakate : makasih udah review nenk... heheeh iya emang sedikit mikir ke sana scene yang ntu. saya suka aja, ngeliat cowok yang turun tiba-tiba ngeliat cewek nangis di pinggir jalan gitu. kayaknya gentle banget hehehe hmm... kayaknya belum deh. mungkin chap depannya lagi. hohoh
Dewi Anggara Manis : makasih udah review senpai... yayaya banyak yang kasihan kok. saya aja kasihan. hehehehe hm untuk itulah Senna ada. dia kan emang ditugasin buat bikin rusuh. hehehehe
Ok deh. makasih banyak sama yang udah review. review ini beneran berarti banget buat kelanjutan fic ini. semakin banyak yang review, saya janji semakin cepet saya update. karena saya jadi semangat buat nyelesaiin kegalauan Rukia. hehehehe
ok deh. yang udah baca wajib review yaa..
Jaa Nee!
