Hola Minna. Gaktahu kenapa saya pengen ada sekuelnya gini ya?

SEKUEL FROM 'PRICKLY ROSE'

DISCLAIMER : TITE KUBO.

WARNING : OOC, AU, GAJE, MISSTYPO (maaf kalau ada kekurangan pengetikan)

RATE : M (for safe)

ATTENTION : Fic ini adalah fiksi belaka, jika ada kesamaan atau kemiripan situasi dan cerita dengan fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun itu tidak disengaja.

.

.

.

Ichigo menghentakan kakinya dengan kesal ke lantai apartemennya. Dia berusaha mengejar isterinya itu. Tapi pintu lift keburu ditutup dan Rukia juga memalingkan wajahnya darinya sesaat sebelum pintu lift itu benar-benar tertutup. Ichigo berusaha melewati tangga darurat dan berlari menuju lantai dasar. Tapi tetap saja percuma. Gadis mungil itu tak ada di manapun. Ichigo bahkan berteriak sekencang mungkin memanggil nama gadis itu. Tapi tetap tak ada respon apapun. Suasana begitu gelap. Ichigo kali ini benar-benar sangat bodoh dan tidak berpikir jernih. Dia tak mengira bahwa memang, Rukia terlalu baik untuknya. Pergi kemana gadis itu? Apakah kembali ke rumah kakaknya? Kalau iya, seharusnya sudah ada telepon dari Byakuya untuk bersiap memaki, mencincang dan merebusnya karena sudah menyakiti Rukia. Tapi sudah hampir satu jam Rukia pergi sama sekali tidak ada panggilan apapun. Ichigo juga berkali-kali menelpon ke ponsel gadis itu. Tapi tetap tak diangkat. Sebenarnya kemana gadis ini pergi? Katanya dia tak punya seorangpun teman di Tokyo. Satu-satunya teman Rukia yang datang hanyalah―Yumichika?

Oh! Benar! Yumichika! Ichigo seakan baru saja menemukan oase segar. Barangkali gadis itu datang ke tempat Yumichika. Tapi malam seperti ini, bukankah butiknya tutup? Apakah... pergi ke rumah Yumichika?

Dan sialnya, Ichigo malah tidak menyimpaan nomor ponsel desainer nyentrik teman SMA-nya itu. Bertanya pada Renji? Hei... mana mungkin Renji bersedia menyimpan nomor makhluk itu.

Ichigo kembali ke apartemennya sekarang. Meneliti klosetnya. Rukia sudah begitu rapi membereskan klosetnya. Bahkan tak ada lagi baju kusut dan belum disetrika. Semua kemejanya berjajar rapi berikut dengan jasnya. Ichigo kemudian melihat sebuah kotak yang memang ada di atas lemarinya. Perlahan diturunkannya kotak bermotif bola-bola hitam dengan warna ungu itu. Dibukanya kotak itu juga dengan hati-hati. Ternyata benar. Memang semua baju milik Yukia sudah bersih dan tampak lebih bagus daripada ketika baju-baju itu selama tiga tahun ini tidak pernah Ichigo sentuh. Bajunya juga sudah wangi. Benarkah Rukia begitu... memperhatikan Ichigo?

Ichigo menemukan sebuah memo kecil yang berada di antara selipan baju-baju itu.

Bajumu sudah bersih Yukia. Semoga kau suka. Oh ya! Aku ingin melihatmu memakai baju ini. Kau pasti sangat cantik. Rukia.

Ichigo tak mengerti lagi. Benarkah isterinya itu waras? Benarkah isterinya satu itu tidak punya hati? Bagaimana mungkin dia bisa menulis dan melakukan semua ini tanpa memikirkan perasaannya sendiri? Ichigo mengerti hal itu. Sangat mengerti.

.

.

*KIN*

.

.

Rukia menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil menundukkan kepala. Airmatanya tak kunjung berhenti. Bahkan lebih hebat kali ini. Sambil menangis sesegukan, Rukia kembali menyalahkan dirinya. Seharusnya dia tak perlu melakukan hal itu. Ichigo memang masih sangat teramat mencintai Yukia. Jadi segala hal yang terjadi pada milik Yukia, pasti akan membuat emosi Ichigo jadi labil. Rukia mencoba menghentikan tangisnya karena beberapa orang mulai memperhatikannya. Meskipun beranjak malam, tapi ternyata masih banyak orang yang berjalan di sekitar taman ini. Dan berpasangan. Rukia menghapus airmatanya seperti anak kecil. Mengusap pipinya dengan sembarangan. Sesaat Rukia diam memperhatikan jalanan di sekitarnya. Semuanya tampak begitu bahagia. Berjalan berdampingan di malam yang dingin ini sambil berpelukan dan berpegangan tangan. Bisakah Rukia juga seperti itu? Berjalan berdampingan, berpelukan, bergandengan tangan... bisakah Rukia juga seperti pasangan normal lainnya? Meski dalam mimpi?

Ahh tidak. Dalam mimpipun rasanya mustahil. Alasan Rukia pergi dari apartemen Ichigo adalah, agar Ichigo menenangkan dirinya. Karena Ichigo tadi bilang dia membenci Rukia. Jadi otomatis Ichigo memerlukan waktu untuk tidak menemui Rukia dulu. Jadi, Rukia harus menghilangkan diri agar Ichigo tidak lagi marah padanya. Juga melupakan kejadian tadi. Rukia benar-benar tidak ingin Ichigo kembali merasa bersalah padanya.

Inginnya Rukia kembali ke rumah kakaknya. Tapi tentu saja, itu akan jadi pertanyaan. Rukia tak suka kalau kakaknya sudah ikut campur masalah rumah tangganya. Ichigo pasti akan kena marah habis-habisan. Tanpa sadar, Rukia kembali menangis. Idenya memang bodoh, sekali bisa berharap Ichigo mau menerimanya dan melupakan Yukia. bodoh. Ya dia memang bodoh. Hanya karena keegoisannya sendiri.

"Bodoh! Jangan menangis lagi!" gumam Rukia menyadari airmatanya tak hentinya turun.

.

.

*KIN*

.

.

Kokuto baru saja selesai mengadakan pesta kecil dengan agensinya. Maklum saja, acaranya tadi sukses besar. Tapi Kokuto tak lantas tergiur akan job yang lebih hebat lagi. Kokuto memutuskan untuk istirahat dua atau tiga hari dulu. Sekaligus dia ingin tahu siapa gadis yang sudah menikah itu. Jujur saja, ini pertama kalinya dia penasaran akan seorang gadis―apalagi dia sudah menikah. Ini saja Kokuto langsung melarikan diri dari acara itu, karena tidak kuat lagi. Badannya sudah cukup lelah. Kalau diteruskan, mungkin saja Kokuto akan tiba di rumah tengah malam nanti.

Apalagi cuaca sudah beranjak dingin. Yayaya... sudah memasuki Januari. Dan sepertinya salju sudah mulai menggila.

Kokuto berjalan pelan membawa mobilnya. Malam hari rawan akan kecelakaan. Dan di Tokyo sudah beberapa kali kejadian begitu. Apalagi Kokuto agak mabuk, walau tidak kentara. Dan dia masih cukup sadar membawa mobilnya sendiri. Begitu melewati sebuah taman, Kokuto melihat seorang gadis yang duduk di bangku taman sambil menangis. Sepertinya dia pernah melihat kejadian ini sebelumnya.

Baru saja Kokuto akan mengabaikannya, dari kaca spionnya dia melihat sekali lagi gadis yang duduk di bangku taman sambil menangis itu. Sebelum terlalu jauh, Kokuto menghentikan mobilnya dan melihat sekali lagi dengan membuka kaca jendelanya. Ok! Dia tidak mabuk dan Kokuto tidak percaya hantu. Dia memang nyata.

Kokuto memundurkan mobilnya perlahan. Setelah jaraknya pas, Kokuto keluar dari mobilnya dan melangkah mendekat pada sosok gadis berambut hitam itu. Gadis itu menunduk dan tampak menggumamkan sesuatu sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Mirip anak SD yang menangis karena kehilangan permen kesukaannya. Kokuto perlahan duduk tak jauh dari gadis itu. Jaraknya lumayan dekat memang. Tapi gadis itu belum sadar bahwa Kokuto sudah ikut duduk bersamanya di situ.

Tiga menit keadaan masih sunyi. Hanya terdengar suara sesegukan dari gadis itu sambil menahan tangisnya. Kokuto jadi gatal karena terus dicueki. Baiklah! Gadis ini benar-benar kelewatan!

"Hei!" panggil Kokuto. Gadis itu menoleh. Sekali lagi. Dengan wajah lugu dan polos, apalagi wajahnya itu sembab karena menangis sedari tadi. Gadis itu memandang Kokuto dengan raut kebingungan dan tidak mengerti.

"Aku tahu. Aku tahu, wajahmu itu seolah bertanya 'siapa kau ini' kan?" sela Kokuto sebelum gadis itu berucap sesuatu. Gadis itu mengangguk pelan. Sekali lagi dengan wajah lugu dan polos. Kokuto jadi tidak habis pikir, apa benar gadis ini, gadis yang sudah menikah dan punya suami tampan? Apakah Yumichika Cuma menggodanya saja?

"Aku Kokuto. Teman Yumichika. Kita sudah dua kali bertemu. Dan kau masih lupa padaku? Hebat sekali... dan ini sudah ketiga kali. Kalau sekali lagi kau lupa padaku, aku benar-benar akan membuat perhitungan denganmu!" ujar Kokuto galak dan setengah mengancam. Gadis itu membelalakan mata indahnya itu. Mungkin ekspresi terkejut.

"Bercanda. Aku bisa dibunuh Yumichika kalau membuat perhitungan denganmu. Jadi... sedang apa kau di sini? Ehh... namamu... Rukia 'kan?" kali ini Kokuto memiringkan kepalanya untuk lebih dekat kepada gadis mungil ini. Dia tampak tenggelam dalam balutan syal ungu di lehernya. Gadis itu mengerjapkan matanya berulang kali dan mengangguk ketika namanya disebut Kokuto.

"Lalu sedang apa kau di sini? Di malam begini? Kata Yumichika, kau sudah menikah. Apa suamimu tidak mencarimu?"

Sekali lagi gadis itu membelalakan matanya.

"Ehh... aku tahu dari Yumichika juga. Kalau kau... sudah menikah. Maaf kalau aku lancang menanyakan ini. Tapi... malam hari sendirian di tempat seperti ini tidak baik untukmu. Mau kuhubungi Yumichika agar dia menghubungi suamimu?" tawar Kokuto.

"Jangan! Jangan beritahu Ichigo! Dia masih marah padaku. Nanti dia..." bibir gadis itu nampak bergetar. Lagi-lagi dia menangis.

"Oh... maafkan aku. Aku mengerti. Kalau begitu... tidak apa-apa kan aku duduk di sini?" tanya Kokuto setelah menyadari ekspresi gadis itu yang nampak aneh. Lagi-lagi gadis itu hanya mengangguk saja.

Sepertinya apa yang dikatakan oleh Yumichika soal pertengkaran kecil dalam rumah tangga gadis ini memang benar. Sepertinya suaminya marah padanya akan suatu hal. Tapi Kokuto tak akan kaget kenapa suaminya marah padanya. Gadis ini masih tampak begitu labil dan belum berpikir dewasa. Dia masih seperti remaja pada umumnya. Pasti ada saja kelakukannya yang membuat suaminya marah. Dan entah seperti apa sebenarnya yang terjadi di antara pernikahan mereka ini. Apakah karena... kecelakaan?

Tahulah kalau di Jepang sekarang ini, bukan hal aneh hal yang begitu. Tapi... Kokuto lihat, tubuh gadis ini tetap mungil dan perutnya rata saja. Tidak ada hal yang aneh. Sepertinya bukan itu. Pasti karena dijodohkan. Itu pasti. Menikah dengan orang yang tidak kau inginkan. Pasti suaminya jahat padanya. Ugh!

Sudah 15 menit berlalu. Mereka berdua hanya duduk diam tanpa mengatakan apapun. Kokuto juga tidak enak hati untuk bertanya pada gadis ini. Rasanya tidak etis saja. Apalagi mereka baru beberapa kali bertemu―dan gadis ini tetap tidak ingat padanya. Mana mungkin gadis ini mau terbuka padanya 'kan?

PLUUK.

Kokuto merasa sebelah pundaknya terasa berat. Begitu Kokuto menoleh ke samping, Rukia―gadis kecil ini―sudah tertidur di bahunya. Kokuto bisa mencium wangi rambut gadis ini. Ini sih... situasi gawat. Sepertinya Rukia sudah terlalu lelah menangis dan hari mulai beranjak malam. Apa yang sebaiknya dia lakukan?

.

.

*KIN*

.

.

"Jangan... marah Ichigo... maafkan aku... jangan marah..."

Rukia terus mengulang kalimat-kalimat itu di tengah tidurnya. Sepertinya dia mengigau cukup parah. Bahkan ketika Kokuto menggendongnya dipunggungnya, Rukia tetap menggumamkan kata-kata itu. Suami macam apa yang membuat isterinya begini sedih!

Dengan susah payah Kokuto berjuang di depan pintu. Untungnya tubuh Rukia tak terlalu berat. Bahkan terkesan ringan. Mungkin yang membuat berat adalah beberapa pakaian musim dinginnya.

"Sudah kubilang besok saja! Kau tahu tidak hari ini―astaga Kokuto! Apa yang kau bawa itu?" tunjuk Yumichika di punggung Kokuto.

Yah, Kokuto memutuskan membawa gadis ini pulang ke apartemen Yumichika. Lebih baik di sana saja. Toh Yumichika tidak akan berbahaya untuk seorang gadis. lebih berbahaya meninggalkan pria tampan di sini. Apalagi Rukia adalah sahabatnya sendiri.

Kokuto belum menjawab pertanyaan Yumichika. Dia hanya membawa Rukia masuk dan menidurkannya di kasur Yumichika. Lalu menyelimutinya pelan-pelan agar gadis itu tidak terbangun. Kokuto sempat pula mengusap pipi Rukia yang mulai basah lagi itu. Akhirnya, Kokuto menceritakan semuanya pada Yumichika. Soal bagaimana dia bisa bertemu Rukia dan apa yang dialami gadis itu. Secara garis besar saja sih.

"Benarkah? Astaga! Ichigo sudah kelewatan kali ini! Benar-benar deh. Baguslah kau membawanya kemari. Aku ingin memberi pelajaran pada si brengsek itu karena sudah menyakiti sahabatku!" kata Yumichika membara. Nampaknya Yumichika begitu kesal karena mendengar cerita Kokuto soal Rukia yang terus menangis dan menggumamkan kata-kata yang sempat Kokuto dengar itu.

.

.

*KIN*

.

.

"Baiklah. Jam sembilan? Ok! Aku juga bersiap-siap ke butikku. Ehh? Modelnya? Tenang saja aku sudah dapat kemarin. Hmm... oh ya soal busana nanti―"

Rukia menggeliat dalam tidurnya. Kenapa pagi ini dia sulit bangun? Biasanya dia bisa bangun lebih pagi. Tapi tampaknya kali ini hari sudah beranjak siang karena sekitarnya sudah berisik. Apalagi suara Yumichika... Yumichika?

Lalu... dimana Ichigo?

Rukia membelalakan matanya selebar mungkin. Ini bukan apartemen Ichigo! Lalu di mana dia? Jadi Rukia tidak pulang semalam? Ichigo pasti―tidak. seharusnya Ichigo tidak perlu cemas padanya. Bukankah Ichigo marah padanya? Ichigo juga... tidak mencarinya. Tidak peduli berapa lamapun Rukia duduk di taman itu, tak ada tanda-tanda Ichigo mau mencarinya.

"Oh sayang... kau sudah bangun? Semalam kau bertemu Kokuto ya? Dia membawamu ke sini karena semalam kau ketiduran. Apa tidurmu nyenyak?"

Yumichika dengan kimono tidurnya yang berwarna pink itu menyela masuk ke dalam kamarnya. Lalu duduk di samping Rukia sambil menempelkan tangannya ke dahi Ruki dan tangan lainnya di dahinya sendiri.

Kokuto? Oh... pria semalam. Untung saja Rukia ingat. Tapi itu tak begitu penting.

"Hmm... tidak panas. Syukurlah kau tidak demam. Kupikir kau mungkin akan sakit karena duduk terlalu lama di luar dalam keadaan cuaca semalam. Kau mau sarapan apa? Ehh tapi jam sembilan nanti aku harus pergi. Ada janji." Cerocos Yumichika sambil membongkar lemari pakaiannya.

"Ehh? Tidak perlu. Aku mau pulang saja. Ichigo pasti―"

"Tidak boleh! Kau dilarang pulang!"

Rukia membelalakan matanya mendengar kata-kata Yumichika itu. Sekali lagi Yumichika duduk di sebelah Rukia sambil memandang lembut wajah mungil itu.

"Apa yang sudah dilakukan Ichigo padamu? Sebenarnya aku tidak mau tahu. Karena itu masalah rumah tanggamu. Tapi melihatmu menangis kemarin itu, aku yakin itu masalah besar. Kenapa kau harus selalu mengalah Rukia? Kalau kau terus mengalah begini, bagaimana Ichigo bisa mengerti dan memahamimu?"

"Tapi... keadaan Ichigo itu..."

"Aku tahu. Memang dia seperti itu. Tapi ini adalah satu-satunya jalan agar dia menyadari kesalahannya. Dia harus mengubah sifatnya itu. Aku tahu kau memang cengeng, tapi kau tidak akan menangis semalaman kalau masalahnya tidak besar. Tapi kalau kau nekat mau pulang, jangan salahkan aku kalau aku menelpon Byakuya dan menyuruhnya menjemputmu di sini!" ancam Yumichika.

"Yumichika..."

"Tentu saja. Siapa saja pasti akan marah dengan sikap Ichigo itu. Apalagi kakakmu. Pokoknya, kalau dia tidak berubah juga, kau tidak boleh menemuinya. Aku tahu kau takut kakakmu memarahi Ichigo 'kan? Jadi kalau kau tidak mau itu terjadi, bilang padanya kau baik-baik saja dan tidak perlu mencarinya. Kalau dia bersikap biasa saja, artinya sudah tidak ada harapan. Tapi kalau dia mencarimu, kau masih boleh berjuang. Jadi ikuti kata-kataku!"

"Yumichika... masalahnya... bukan begitu. Sungguh. Aku hanya sedikit keras kepala saja dan Ichigo..." desah Rukia lagi.

"Tidak. Tidak. Tidak. Biarkan dia kali ini yang menangis. Aku mau lihat sejauh mana usahanya untuk mencarimu!"

Dan Rukia hanya diam saja. Dia lebih takut Yumichika akan mengadukan sesuatu pada kakaknya dan membuat Ichigo jadi bertambah bersalah. Tapi... sepertinya Ichigo memang butuh waktu. Pasti dia masih kesal pada Rukia.

.

.

*KIN*

.

.

"Aku tidak tahu di mana Rukia. Bukankah dia isterimu. Apa kau bertengkar dengannya?" selidik Yumichika.

Sesuai dugaannya, Ichigo memang datang mencarinya. Bahkan sebelum butiknya buka, pria itu sudah berdiri di depan butiknya menunggu Yumichika.

"Kau pasti tahu. Satu-satunya teman yang Rukia punya di sini hanya kau. Aku sudah menunggunya semalaman dan dia tidak pulang. Aku juga tidak yakin dia pulang ke rumah Byakuya. Jadi... kau pasti tahu di mana dia."

"Kau membiarkan isterimu tidak pulang? Suami macam apa kau ini? Apa kau tidak tahu bagaimana menderitanya dia? Kau selalu memberikan rasa bersalahmu padanya. Tidak bisakah kau membuka sedikit hatimu? Manusia itu ada batasnya tahu!" rutuk Yumichika sambil melipat tangannya. Ichigo nampak tertunduk mendengar kata-kata dari Yumichika.

"Kalau kau memang peduli pada isterimu, kau cari saja seluruh Tokyo ini. Kalau perlu seluruh Jepang. Itu kalau kau peduli padanya." Sindir Yumichika lagi.

"Telepon aku kalau kau tahu dimana Rukia."

Ichigo beranjak meninggalkan Yumichika. Ternyata dia masih gengsi dan keras kepala. Sudah sepanik itu masih juga biasa saja. Yumichika ingin tahu, sejauh mana kepala orange itu peduli pada isterinya. Yah... kalau dia memang peduli sih.

.

.

*KIN*

.

.

Rukia selesai memakai baju yang dipinjamkan Yumichika. Kenapa bisa punya? Oh... jangan tanyakan hal itu bagaimana Yumichika bisa punya baju wanita. Karena Yumichika adalah seorang desainer. Kadang kalau dia sedang mood membuat baju, dimana saja dia akan membuatnya. Bahkan di rumahnya sendiri. Jadi koleksi baju-baju perempuan di rumah Yumichika cukup banyak. Dan untungnya muat di tubuh mungil Rukia. Hanya baju atasan lengan panjang, blazer santai dan rok di atas lutut yang cukup mengembang. Baru saja akan beranjak sarapan, Rukia mendengar suara bell apartemen Yumichika berbunyi. Siapa pagi-pagi begini?

Rukia membuka pintu apartemen itu dan terkejut karena di depan wajahnya ada buket bunga lavender berwarna ungu yang tiba-tiba muncul di depannya. Inikan...

"Halo! Kata Yumichika kau masih di sini. Jadi aku berkunjung karena aku tidak punya kerjaan. Oh ya, aku sempat tanya Yumichika juga bunga apa yang kau suka. Katanya kau suka semua bunga. Tapi aku teringat wangi rambutmu. Jadi kubelikan bunga ini. Apa kau suka?" cerocos pria berambut putih itu. Rukia masih terbelalak bingung.

"Darimana kau tahu... wangi rambutku?"

"Ehh? Oh... semalam waktu kau tertidur di pundakku, tanpa sadar aku... mencium wangi rambutmu... ehh! Itu bukan kusengaja kok!" jelas pria itu sambil menggosok belakang telinganya dan kemudian menggoyangkan tangannya ke depan.

Rukia masih memandangnya kikuk dan perlahan mengulurkan tangannya mengambil buket bunga itu. Rukia mencium sekilas aroma bunga itu. Aroma yang sudah menjadi ciri khasnya. Apa Ichigo tahu, kalau Rukia... suka bunga ini dan... beraroma seperti ini?

"Terima kasih." Balas Rukia masih tetap memandangi bunga itu.

"Baguslah. Aku tidak salah pilih. Oh ya. Bagaimana kalau kita kencan sebentar?" ajak Kokuto.

Ekspresi wajah Rukia langsung berubah.

"Dengan suamiku saja... belum pernah kencan." Lirih Rukia.

"Ehh?" dan tampaknya Kokuto mendengar kalimat itu walau samar.

"Oh... maksudku... aku wanita yang sudah memiliki suami. Bagaimana mungkin kau bisa berkencan denganku?" kilah Rukia.

"Hmm... kalau begitu kita ganti. Bagaimana dengan jalan-jalan? Kata Yumichika, kau sudah delapan tahun tinggal di Eropa. Apa kau sudah melihat seluruh Tokyo? Tokyo Tower misalnya. Harajuku... Shinjuku... Ginza... Gunung Fuji... apapun itu. Mau lihat?"

Rukia terlihat ragu dengan uluran tangan dari Kokuto itu. Rasanya...

"Tenang saja. Kalau suamimu marah, aku akan jelaskan padanya. Bahwa kita hanya berteman saja. Ok? Bukankah kau teman Yumichika. Aku juga. Lalu... kenapa kita tidak berteman juga?" jelas Kokuto lagi.

Sungguh. Rukia tak tahu. Perasaan apa ini. Mungkin Kokuto dan Ichigo adalah dua pria yang berlawanan sifat. Ichigo begitu dingin, dan Kokuto begitu hangat.

.

.

*KIN*

.

.

"Jadi... kau sengaja menemuiku untuk... menanyakan pada Nii-san apakah Rukia di sana?" ulang Senna.

Awalnya dia begitu senang Ichigo mau bertemu dengannya tanpa dipaksa Senna di luar kantor begini. Yah... ini hari Sabtu. Tentu saja kantor libur. Dan tanpa adanya angin maupun badai, Ichigo menelponnya untuk mengajak bertemu. Sekalinya bertemu malah begini. Senna benar-benar tidak percaya.

"Kalau aku yang bertanya... mungkin akan sulit untuk Rukia. Jadi aku mohon padamu untuk menanyakan itu pada Byakuya."

Sebetulnya Ichigo mati-matian membuang harga dirinya untuk menemui wanita ini sekali lagi. Tapi kalau dia belum tahu dimana Rukia, Ichigo harus lakukan ini. Dia hanya takut kalau Rukia lupa jalan pulang. Karena selama ini dia belum begitu hapal daerah Tokyo. Mungkin kantor dan apartemennya bisa ditempuh dengan taksi dan Rukia tak perlu repot mencari tahunya. Tapi segala kemungkinan bisa terjadi. Apalagi Rukia tidak mengangkat teleponnya. Belum pernah Rukia menghilang seperti ini. Mungkin... Ichigo memang kelewatan kali ini.

"Kalau aku tidak mau bagaimana?" ancam Senna.

"Aku akan bertanya pada orang lain."

"Ichigo! Apa yang kau cari dari gadis lugu seperti itu. Dia bahkan tidak mengerti dirinya sendiri! Dia terlalu egois ingin memilikimu. Kau juga tidak mencintainya kan!"

"Aku mencintainya atau tidak, itu bukan urusanmu. Sebelum aku mencintainya, dia adalah isteriku. Dan dia... bukan seegois yang kau bicarakan itu."

"ICHIGO! Sampai kapan kau mau seperti ini? Jangan menyiksa dirimu dengan menikahi orang yang tidak kau cintai?"

Ichigo diam, kemudian hendak berbalik meninggalkan Senna.

"Apa karena dia adik kandung dari Kuchiki Byakuya, pemilik Kuchiki Corp yang terkenal dan kaya raya itu, putri agung yang selalu ingin jadi pusat perhatian, makanya kau tidak bisa menolaknya? Apa kau memanfaatkannya, seperti kau memanfaatkanku dulu?" lanjut Senna.

Ichigo mengepalkan telapak tangannya. Mendengar kata-kata itu rasanya...

Dengan mata berkilat, Ichigo mencoba menahan emosinya. Lalu berbalik menatap wanita sialan itu.

"Apa kau lupa? Aku dan kau sudah berakhir. Memang dulu aku brengsek pernah memanfaatkanmu untuk menarik Byakuya. Tapi itu dulu. Dan soal Rukia. Tidak. Aku tidak pernah memanfaatkannya seperti itu. Aku tahu dia memang putri yang selalu ingin jadi pusat perhatian. Tapi setidaknya, dia tidak melakukan hal-hal menjijikan untuk mendapatkan perhatianku. Tidak seperti dirimu. Kau dan Rukia, berbeda. Jadi... aku juga akan memperlakukannya berbeda."

"Jadi... apa yang kulakukan untukmu dulu... adalah hal yang menjijikkan?" kata Senna tak percaya.

"Ya. Itu adalah hal menjijikkan. Kau harusnya sadar itu. Setelah kau membuat hidup Yukia sehancur itu."

"Tapi kau pernah mencintaiku. Dan kau... tidak pernah mencintai Rukia!"

"Ya. Aku memang pernah mencintaimu. Tapi kau sendiri yang membuat cinta itu jadi tidak berarti. Kau sendiri yang membuatku memilih berhenti mencintaimu. Tidak pernah mencintai, bukan berarti tidak akan mencintai. Kalau kau tidak mau, aku akan tanya orang lain."

Ichigo langsung berbalik meninggalkan wanita berambut ungu itu sendiri. Kemudian masuk ke dalam mobilnya untuk melaju sekali lagi. Bertanya pada Kuchiki Senna memang hal paling tidak masuk akal yang pernah dipikirkannya. Dia jadi menanggapi kata-kata tidak penting wanita itu. Satu-satunya hal yang membuatnya tidak bisa berpikir sekarang adalah keberadaan Rukia. Hanya itu. Yang jelas kemungkinan yang pasti, Rukia belum ada di rumah Byakuya. Hanya itu kemungkinannya.

"Renji... maaf mengganggumu. Bantu aku."

.

.

*KIN*

.

.

Kemarin adalah hal yang begitu menggembirakan. Kokuto ternyata begitu baik dan ramah. Kemarin berlalu dengan menyenangkan. Rukia sudah lama tidak tersenyum selama itu. Rasanya memang menyenangkan. Kalau saja... dia bisa melakukan hal itu bersama Ichigo. Pasti rasanya dua kali lipat.

Pagi ini, Kokuto masih datang dengan membawa buket bunga lavender untuknya. Kokuto ingin mengajaknya pergi sekali lagi, tapi tiba-tiba ada telepon penting masuk ke ponselnya. Jadi Kokuto hanya bilang, dia akan menemui Rukia lagi. Jadi sekarang... di sinilah Rukia. Di butik Yumichika. Sejak kemarin Yumichika sama sekali tidak mengatakan apapun soal Ichigo. Apa benar Ichigo tidak mencarinya? Tampaknya memang benar. Ichigo masih marah padanya. Apa boleh buat.

Yumichika melarangnya mati-matian untuk muncul di sini, tapi Rukia adalah gadis yang keras kepala bukan?

Sayangnya Yumichika menyuruh Rukia untuk tidak keluar dari ruang pribadinya sampai desainer nyentrik itu menyelesaikan tugasnya. Padahal ruang pribadi Yumichika begitu berantakan. Dengan puluhan gulung kain yang baru datang. Pasti kain-kain itu berat sekali. Malah di jejerkan di lemari kacanya.

Rukia mengeluarkan sebuah kotak dari tas tangannya. Ini adalah kotak beludru hitam yang dia temukan kemarin. Maksudnya, setelah membereskan kloset Ichigo, Rukia langsung pergi ke toko perhiasan untuk mencuci kalung-kalung ini. Rukia lupa bilang, karena biasanya dia selalu ijin pada Ichigo untuk pergi kemanapun. Dan setelah mencucinya, kata pegawai toko itu, kalung ini menghitam karena bekas darah. Dan sulit hilang. Tentu saja Rukia terkejut. Bekas darah katanya. Apa... ada hubungannya dengan Yukia? tentu saja. Pasti ada.

Rukia memandangi kalung itu. Kalung matahari dengan batu mulia berwarna ungu. Ini pasti milik Yukia dulu. Senangnya ada tanda seperti ini diantara mereka. Pasti Yukia senang sekali Ichigo memberikan ini. Rukiapun... ingin tanda pemberian Ichigo juga. Apapun. Sayangnya...

Karena terlalu asyik berpikir, kalung itu langsung jatuh dan bergelinding masuk ke celah lemari kaca Yumichika. Kenapa bisa masuk kesana?

Rukia menyurukkan tubuhnya untuk menggapai kalung yang terjatuh di sana itu. Cukup jauh jaraknya. Kenapa Rukia begitu bodoh sih? Rukia menggoyangkan sedikit tubuhnya untuk mengambil kalung itu. Dan ketika berhasil, Rukia tersenyum lebar. Dapat!

Tapi entah bagaimana caranya, puluhan gulung kain yang besar dan berat itu langsung ambruk satu persatu. Rukia cepat-cepat menarik tangannya, tapi terlambat. Satu tangannya sudah tertimpa dua atau tiga gulungan kain yang berat itu bersamaan. Pergelangan tangannya langsung terasa nyeri. Rukia berteriak kecil dan meringis kesakitan. Dia tak bisa menarik tangannya lagi. Lalu disusul gulungan lainnya, semua gulungan itu ambruk dan menimpa Rukia.

"Kata Yumichika kau di sini? Rukia... kau―astaga!"

Kokuto baru saja masuk ke dalam ruangan Yumichika dan melihat kekacauan di sana. Gulungan-gulungan kain itu terkapar di lantai. Tapi parahnya, gulungan itu tidak terkapar beraturan. Begitu sadar, ada sebuah kaki yang menyela di antara gulungan itu. Cepat-cepat Kokuto menyingkirkan gulungan itu dan menemukan seorang gadis yang terkapar tak sadarkan diri di sana. Kokuto panik dan langsung berteriak memanggil bantuan. Semua orang termasuk Yumichika langsung histeris menyadari Rukia yang tertimpa gulungan-gulungan kain berat itu.

Rukia langsung dilarikan ke rumah sakit. Menurut dokter, dia hanya kaget dan gegar otak ringan yang bahkan tidak berbahaya karena tertimpa gulungan kain itu. Jadi untuk beberapa saat, Rukia akan tertidur. Yang agak parah mungkin, Cuma pergelangan tangannya yang terkilir akibat tertimpa beberapa gulungan dalam serentak.

Sejak itu, entah kenapa Kokuto jadi begitu panik dengan apa yang terjadi pada gadis ini. Benarkah gadis ini sudah terlanjur jadi istimewa untuknya?

.

.

*KIN*

.

.

Baiklah Renji... ini tugas barumu.

Renji menghela nafas panjang dan terkesan... berat sekali.

Jujur saja, dia lebih suka mencari tahu di klub-klub terkenal dengan puluhan pelacur yang bisa dia ajak main kapanpun itu. Dia hanya seorang Manager biasa. Bukannya detektif begini. Kenapa setiap kali ada sesuatu, Renji selalu dilibatkan oleh kepala labu itu. Ok. Tadinya Renji mau menolak permintaan kawan kentalnya ini. Tapi begitu mendengar suara Ichigo yang terkesan putus asa dan sangat cemas, Renji jadi tidak tega. Entah apa yang sebenarnya terjadi di antara sepasang suami isteri aneh itu. Yang jelas, Ichigo sangat khawatir karena semalam Rukia tidak pulang. Dan Ichigo yakin, Rukia pasti ada di butik Yumichika. Selain di sini, Rukia tak mungkin pergi ke tempat lain. Kecuali kemungkinan terburuk adalah tempat kakaknya sendiri. Tapi sampai sekarang tak ada kabar apapun dari Byakuya kalau adiknya pulang. Kalau ada kan, biasanya pasti Byakuya akan bersiap memenggal kepala Ichigo karena menyakiti adiknya. Apalagi itu adik kesayangan. Renji juga tahu itu.

Makanya Ichigo minta Renji datang kemari untuk menyelidikinya. Karena sepertinya Yumichika tahu sesuatu dan tidak mau memberitahu kepada Ichigo. Sudah pasti. Bukannya Yumichika sahabat terbaiknya Rukia. Jadi kalau ada yang terjadi pada Rukia, otomatis, Yumichika akan mendahulukan Rukia dulu daripada Ichigo.

Setelah mempersiapkan hati dan mentalnya―karena Renji sudah begitu lama tidak melihat orang aneh ini setelah pernikahan Ichigo―akhirnya Renji masuk ke butik itu. Ini jelas butik wanita. Meskipun ada beberapa pakaian pria, tapi tampaknya harga yang dipatok di sini adalah harga sekelas Kuchiki Byakuya. Mana sanggup Renji membelinya kalau sekarang saja jabatannya masih Manager biasa. Lain kalau dia sewaktu-waktu sudah diangkat jadi sekelas GM seperti Ichigo. Dan itu... entah kapan.

"Apa pemilik butik ini ada di tempat sekarang?" tanya Renji pada salah satu pegawai butik yang menyapanya itu.

"Oh... pemilik butik sedang tidak di tempat. Baru saja dia pergi ke rumah sakit."

"Hah? Siapa yang sakit?" tanya Renji langsung. Apa Yumichika... bodoh. Apa yang kau pikirkan Renji!

"Oh... tadi pagi salah seorang pengunjung mengalami kecelakaan kecil di lantai dua. Jadi pemilik butik membawanya ke rumah sakit."

"Heh? Apa kau tahu siapa yang kecelakaan itu?" Renji merasa aneh. Kecelakaan seperti apa yang terjadi di butik seperti ini?

"Saya kurang tahu. Tapi... tadi saya lihat, dia seorang gadis muda dengan tubuh mungil dan berambut pendek hitam. Saya juga kurang tahu apa yang terjadi dengannya."

"Rumah sakit mana? Di rumah sakit mana mereka pergi?"

Astaga! Gadis mungil berambut pendek hitam. Jangan sampai itu Rukia!

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo berlari sekencangnya menuju rumah sakit yang diberitahukan Renji. Pikirannya kalut dan tidak menentu. Kenapa sampai ada di rumah sakit? Apa yang sebenarnya terjadi. Walau Renji belum memastikan siapa sebenarnya yang di rumah sakit itu, karena Yumichika pergi ke sana, tapi Ichigo merasa yang dijenguk Yumichika itu pasti Rukia. Rukia adalah wanita kedua yang membuatnya harus datang ke rumah sakit seperti ini. biasanya, Ichigo paling malas ke rumah sakit. Bahkan terkesan menghindari rumah sakit setelah tiga tahun ini. kalau ada tempat selain rumah sakit, Ichigo lebih memilih ke sana.

Dengan pikiran panik da tidak menentu, Ichigo bahkan tidak peduli menabrak siapa saja yang melintas di dekatnya.

Akhirnya, setelah puas berkeliling rumah sakit, Ichigo menemukan kamar rawat Rukia. Luka apa yang diderita isterinya itu. Apa yang―

Ichigo terdiam begitu akan membuka pintu ruang rawat itu.

Isterinya memang terbaring di sana. Dari kaca kecil di pintu itu, Ichigo bisa melihat isterinya tengah tertidur dan lengan kanannya dibalut perban. Tapi yang membuatnya tak habis pikir, kenapa ada... seorang pria yang tidak dikenal Ichigo di sana?

Seorang pria berambut putih keperakan yang berdiri di dekat isterinya dan memandang dengan pandangan yang... entahlah. Ichigo sendiri tidak bisa mengartikannya. Lalu tak lama kemudian, pria tak dikenal itu meletakkan tangan besarnya di atas kening Rukia dan mengusapnya pelan. Ichigo langsung tidak bisa mengendalikan perasaannya melihat isterinya disentuh pria lain. Sambil mengepalkan tangannya, Ichigo bermaksud untuk langsung masuk dan melabrak pria tidak dikenal yang berani-beraninya―

"Kau? Kenapa kau di sini?"

Ichigo menoleh ke samping begitu mendengar suara itu. Yumichika berdiri di dekatnya dengan pandangan kaget, lalu terkesan seperti maling yang tertangkap basah. Ichigo menghentikan kepalannya dan menatap dingin pada Yumichika.

"Ok. Kita bicara. Ikut aku saja." Ujar Yumichika menyadari mimik lain dari Ichigo.

"Aku harus melihat isteriku dulu." Jawab Ichigo datar.

"Tenang saja. Rukia tidak apa-apa. Aku jamin. Ada yang mau kukatakan padamu. Mengenai Rukia."

"Nanti saja." Ichigo tidak mau mendengarkan apapun yang ingin dikatakan Yumichika. Tapi sebelum Ichigo membuka pintu itu, Yumichika menahan lengan Ichigo.

"Sungguh kau tidak ingin tahu kenapa Rukia begitu? Atau... kau ingin memarahinya dan membentaknya seenakmu? Apa kau ingin membuat Rukia menangis lagi?"

Ichigo terdiam begitu mendengar kalimat terakhir Yumichika. Yumichika melepaskan tangannya dari Ichigo lalu memandang datar dan sama dinginnya seperti Ichigo.

"Aku tidak suka melihat Rukia selalu menangis karenamu. Setiap kali Rukia didekatmu dia selalu menderita. Aku minta... kalian berpisah saja!"

Ichigo lagi-lagi harus terdiam mendengar kata-kata Yumichika.

Sungguhkah dia sejahat itu dengan Rukia?

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Hola minna... apakah ada yang mau ngerebus saya karena menelantarkan fic ini? hampir di setiap review fic saya pada nanyain fic ini. saya sampe bingung loh... beneran nih fic bagus banget? padahal kan awalnya aja saya udah gak berharep gegara nyeleneh banget? heheh tapi syukurlah banyak yang suka sama fic ini. saya jadi semangat ngelanjutinnya. hehehe

bukannya gak mau update cepet, file ini sempet ilang loh. dan saya depresi tingkat akut. makanya chap kali ini rada berantakan deh kayaknya, soalnya saya lupa chap yang ilang itu... hiks...

Ok... chap ini... Ichi... masih... belum suka sama Ruki. lagi-lagi karena rasa bersalah. mungkin di chap depan bakal puncak dari pernikahan mereka yang gak jelas ini. apalagi Ichi udah liat Kokuto walo belum jelas siapa sih tuh cowok deket sama isterinya? hehehe

OK deh bales review...

Ferik : makasih udah review senpai... heheh iya nih. udah saya bikinin. hehehe

himetarou ai : makasih udah review senpai... hheh gak papa kok. iya nih udah update... review lagi yaa..

Yukio Hisa : makasih udah review Yuki... hehehe maaf kayaknya yang kemarin salah ketik deh. heheh hmm soal reunian lagi itu kayaknya belum bisa deh. tapi di chap lain pasti masih ada lagi reunian mereka hehehe. endingnya? wah belum tahu... Ruki hamil? hehehe baru juga sekali...

LopeBleach : makasih udah review senpai... nih udah update... review lagi yaa...

Maniez : makasih udah review senpai... nih lama gak update nya? hehehe

Voidy : makasih udah review senpai... hehehe iya makanya mereka dibuat jadi begitu. tapi kayaknya yang beneran jadi tempat sampah si Renji deh... hehehe bahasa yang ganjil tuh gimana senpai? saya kurang tahu nih... hehehe

Wakamiya Hikaru : makasih udah review Hikaru... kayaknya sampe belasan aja deh. kalo sampe puluhan, gak sanggup nulisnya. terus kalo udah 15 chap ke atas tuh biasanya suka bosan kan? hehehe tapi gak tahu deh. hehehe sekuel lagi? hmm belum kepikiran hehehe...

AkiraChan : makasih udah review senpai... yah emang takdir gak pernah adil... hehehe gak papa Ruki nangis sekarang. toh ini kan perjuangan dia. kalo gak gitu... gimana dia bisa dapetin Ichi? hehehe

ika chan : makasih udah review senpai... Senna kan emang gitu tugasnya... hehehe

Zanpaku nee : makasih udah review senpai... wah... kira-kira Ruki mau gak sama permen ya? hehehe kayaknya Ruki bakalan sering nangis nih... heheh

RUKI VIOLET : makasih udah review senpai... heheh maaf senpai. kemarin ada masalah dikit. nih udah saya update kok...

Nyia : makasih udah review senpai... nih udah lanjut loh... hehehe masih penasaran?

MUkyungs : makasih udah review senpai... jadi dipanggil apa nih? iya emang panjang. tapi doain aja gak kelewat panjang. hehehe yadongan? apaan tuh senpai? hehehe kontak fisik kayaknya masih sulit nih. kan mereka lagi konflik masalahnya... hehehe

AyuCM : makasih udah review senpai... nih udah update... apa masih penasaran? hehehe

Yensie : makasih udah review senpai... hehehe nih udah update... review lagi yaa..

bathroom concert : makasih udah review senpai... nih senpai... pas baca fic itu saya langsung kebutin nih buat senpai... hehehe gak tahu deh nih chap bakalan bagus apa nggak, soalnya karena sempet ilang jadi rada lupa. hehehe

Alexandra Alran Yesterday : makasih udah review Alex~~... nah saya juga suka Ruki nangis gegara Ichi. pokoknya kalo Ruki-nya menderita lahir batin saya suka banget. hehehe *plak*

Bad Girl : makasih udah review senpai... hehehe untung deh Ruki yang cengeng gak diprotes sama senpai-senpai. hehehe iya dong jangan sampe Ichi ikutan gila. bisa gak selesei nih fic... hehehe

Taniaa : makasih udah review senpai... heheh nih udah update... hehe

Purple and Blue : makasih udah review senpai... nih udah update loh... jarang nongol nih... hehehe

Dony : makasih udah review senpai... nih sambungannya. hehehe

Kina Echizen : makasih udah review Kina... kayaknya bakalan gak secepat itu deh. nih aja mereka masih galau semua. hehehe biarin aja. Ichi mesti ngerasain dulu gimana menderitanya Ruki baru dia nyadar. hehehe

ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai... nih udah update... hehhe

Janda : *seriusnihnicknamenya?* makasih udah review senpai... hehehe sama ya? wah bisa kebetulan gitu senpai? nih udah update...

nyan : makasih udah review senpai... benarkah? saya aja sampe nangis darah nih... hehehe

Ok deh. udah pada dibales ya? hmmm apa senpai pada keberatan kalo fic ini sampe belasan? hehehe

itu aja dulu deh. nih saya udah update. jadi Reviewnya ya... biar saya semangat buat update nih fic. oh ya, apa senpai setuju kalo saya pisahin Ruki sama Ichi dulu? ehhehehe..

Jaa Nee!