Hola Minna. Gaktahu kenapa saya pengen ada sekuelnya gini ya?
SEKUEL FROM 'PRICKLY ROSE'
DISCLAIMER : TITE KUBO.
WARNING : OOC, AU, GAJE, MISSTYPO (maaf kalau ada kekurangan pengetikan)
RATE : M (for safe)
ATTENTION : Fic ini adalah fiksi belaka, jika ada kesamaan atau kemiripan situasi dan cerita dengan fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun itu tidak disengaja.
.
.
.
"Nii-san. Apa Rukia di sini?"
Dan pagi ini Senna berkunjung ke rumah kakaknya. Secara kebetulan, dan sepertinya Tuhan memang sedang baik padanya, di jalan Senna bertemu dengan mobil Ichigo yang melaju dengan kencang. Tanpa pikir panjang Senna mengikuti mobil itu dan menemukan Ichigo berlari dengan cepat masuk ke rumah sakit.
Dari jauh Senna mengikuti pria itu yang sepertinya cukup panik dan gelisah. Dan sepertinya... Senna tahu siapa yang dikunjungi oleh pria itu. Pasti ini ada hubungannya dengan kepergian Rukia kemarin.
"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan soal Rukia?" tanya Byakuya bingung. Jarang sekali Senna mau menanyakan Rukia kalau bukan sesuatu yang penting.
"Nii-san pasti tidak menduga berita apa yang akan kuberitahu ini kan? Sebuah berita yang sangat menarik."
Jika Senna sudah bersumpah, maka apapun yang terjadi dia tetap akan menjalaninya.
"Berita apa?"
.
.
*KIN*
.
.
"Mau sampai kapan kau membuatnya menderita hah? Kalau kau tidak sanggup bersamanya, berpisah saja. Kenapa membuatnya menderita begitu. Rukia menikah denganmu bukan untuk dijadikan tempat pelampiasan kekesalanmu tahu. Kenapa kau tidak pernah mengerti perasaannya sedikit? Kau pikir selama ini saat dia bilang 'baik-baik saja' semua akan baik-baik saja?"
Yumichika selesai mengoceh padanya. Dan jelas itu belum puas sama sekali. Tapi mereka ingat masih ini di rumah sakit.
"Baiklah. Kuberikan kau waktu berpikir. Sekali saja, kalau sekali lagi aku melihat Rukia menangis karenamu lagi, bersiaplah. Tidak akan ada kesempatan kedua untukmu!" ancam Yumichika sambil bergerak masuk ke dalam ruangan isterinya itu. Ichigo tetap diam. Tidak memberikan pembelaan atau komentar apapun. Karena dia sadar, bahwa semua ini memang salahnya. Semua berawal darinya. Semua karena kebodohannya.
Ichigo tahu Rukia memang selalu menangis. Tapi Ichigo pikir tangisan itu sudah cukup untuknya. Rukia tak pernah sekalipun menyalahkan Ichigo atau berteriak kesal padanya.
Ichigo mengikuti Yumichika masuk ke dalam ruangan itu.
Begitu Ichigo masuk, Yumichika dan pria berambut putih itu berdiri memandangi Ichigo.
"Ohh Kokuto. Ini suaminya Rukia. Tampan kan?"
Entah bagaimana sikap Yumichika berubah total di depan pria bernama Kokuto itu saat Ichigo masuk. Rukia masih terlelap di atas tempat tidurnya.
Kokuto maju mendekati Ichigo karena Yumichika menyuruhnya berkenalan dengan pria itu.
"Jadi kau... Ichigo yang sering disebut oleh Rukia?"
Mata Ichigo membelalak tak mengerti. Dahinya mengerut dan menambah kerutan lainnya yang sudah permanen itu. Sesering apa isterinya menyebut namanya di depan pria aneh ini? kenapa pria ini bertingkah seolah dia mengenal baik isterinya?
"Apa kau tidak malu membiarkan isterimu menangis semalaman di luar? Kau bahkan tidak mencarinya. Apa kau masih punya harga diri menyebut dirimu suami setelah melihat isterimu seperti itu?"
Sepertinya pria berambut putih ini cukup mengetahui kondisi Rukia. Tapi Ichigo yakin Rukia tidak mungkin bicara banyak pada pria ini. lalu... tahu darimana dia kondisi Rukia? Yumichika?
"Kokuto... apa yang kau katakan?" sela Yumichika.
"Aku hanya tidak suka melihat suami seperti dirinya membuat Rukia menangis seperti itu. Memalukan harga diri laki-laki!"
"Kau tidak punya hak berkata seperti itu. Rukia isteriku," ujar Ichigo datar.
"Tidak lagi kalau kau sekali lagi membuatnya menangis."
Pria bernama Kokuto itu melangkah keluar diikuti Yumichika yang langsung meminta maaf pada Ichigo soal kata-kata Kokuto. Berani sekali pria itu di depan Ichigo―
Tapi pria itu benar. Sejauh mana Ichigo berani dengan lantangnya mengatakan bahwa Rukia isterinya? Bahkan hingga detik ini Ichigo sama sekali belum pernah memperlakukan Rukia seperti isteri yang layak. Dia selalu membuat wanita ini menangis. Selalu.
Apakah... perpisahan yang dikatakan Yumichika adalah pilihan yang tepat? Apakah mereka benar-benar tidak bisa sampai pada masa tiga bulan itu?
.
.
*KIN*
.
.
Rukia membuka matanya pelan. Kepalanya masih terasa sakit dan berdenyut. Pasti gara-gara efek tadi. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana gulungan-gulungan kain sialan itu menimpa tubuh kecilnya. Seharusnya Yumichika tidak meletakkan gulungan seperti itu di ruang pribadinya. Dan sialnya kenapa harus Rukia yang kena? Benar-benar...
Oh... dimana dia? Suasana serba putih dan bau obat-obatan?
Rumah sakit. Sepertinya samar-samar Rukia ingat kalau dia dibawa kemari. Rukia menoleh ke sana ke sini. Tidak ada seorang pun. Tapi Rukia melihat sebuah kursi di dekat tempat tidurnya.
"Ichigo sebaiknya―ehh? Kau sudah bangun Rukia?"
Yumichika masuk ke ruangannya dengan pandangan bingung menyadari bahwa tak seorangpun selain Rukia di kamarnya. Tapi Rukia sempat mendengar Yumichika menyebut nama suaminya.
"Ichigo? Ichigo... di sini?" ulang Rukia.
"Ya... kupikir dia di sini. Aku mengantar Kokuto keluar sebentar tadi tapi―Rukia!"
Terlambat!
Rukia melepaskan selang infus anehnya itu dan langsung pergi melesat keluar dari kamarnya tanpa mengenakan alas kaki. Wajahnya yang masih pucat dan kepala yang masih pusing sama sekali tidak dihiraukannya. Ternyata dua hari tidak melihat suaminya itu benar-benar membuatnya frustasi. Rukia sempat kecewa Ichigo tidak berusaha mencarinya sama sekali. Tapi mendengar Ichigo menemukannya di sini tentu saja membuat Rukia senang bukan main.
Dengan langkah yang terbatas Rukia turun dari lift rumah sakit itu. Kakinya terasa dingin menapak lantai rumah sakit yang dingin itu. Bahkan semua orang mulai memperhatikannya. Wajah pucat dan pakaian rumah sakit. Tidakkah itu terlihat mengerikan? Tentu saja mengerikan.
Rukia sampai di depan pintu utama rumah sakit. Berkeliling mencari sosok suaminya benar-benar sulit. Rukia hampir putus asa tidak bisa menemukan suaminya itu. Air matanya tiba-tiba banjir di pelupuk matanya. Sambil menahan nafasnya yang sesak luar biasanya, Rukia berusaha berkeliling mencari suaminya. Pria berambut orange itu. Berkali-kali Rukia menggumam memanggil suaminya berharap pria itu muncul di depannya sekarang ini.
Dan bingo!
Oase segar kembali merayapi dirinya.
Dia melihat sosok seorang pria berambut orange berjalan menuju parkiran rumah sakit. Rukia yakin itu suaminya! Yakin 1000 persen!
Dengan hati berbunga yang luar biasa bahagianya, Rukia berlari sekencangnya menyusul sang suami. Tidak peduli dengan kakinya yang telanjang menginjak kerikil di luar rumah sakit. Dan seakan timing waktu yang tepat, sebelum suaminya membuka pintu mobil, Rukia memeluk Ichigo dari belakang.
Tentu saja Ichigo yang dipeluk tiba-tiba itu langsung terkejut dengan kemunculan mendadak sepasang lengan kecil itu.
"Ichigo... Ichigo... jangan pergi. Jangan..." lirih Rukia diiringi isak tangisnya.
Entah perasaan apa yang sebaiknya dirasakan Ichigo. Hatinya mulai bimbang menyadari isterinya datang memeluknya seperti ini. Menangis memohon padanya. Ichigo pelan-pelan melepaskan lengan isterinya, berbalik menghadap Rukia.
Wanita ini masih menunduk dan menangis sesegukan. Ichigo mulai simpati padanya. Pelan-pelan Ichigo mengangkat wajah Rukia dengan satu tangannya. Wajah kecil itu terlihat pucat dan menyedihkan. Air matanya membasahi hampir seluruh wajah Rukia. Sekali ini, entah perasaan apa, tangan besar Ichigo bergerak untuk menghapus air mata di pipi isterinya itu.
"Aku tahu... aku tahu kau pasti mencariku. Aku tahu Ichigo. Kau pasti mencariku..." lirih Rukia berulang kali sambil memandangi wajah suaminya yang menatap Rukia dengan pedih.
Dan harus Ichigo akui sekali lagi. Bahwa wanita ini sekali lagi menangis karena dirinya.
"Bisakah... kau berhenti menangis... Rukia?" pinta Ichigo pelan.
Rukia mengangguk semangat dan menghapus air matanya sendiri. Lalu mengerjapnya berulang kali supaya matanya tidak basah lagi.
"Bisa. Aku bisa. Lihat. Aku sudah berhenti menangis."
Rukia saat itu persis anak kecil yang awalnya menangis karena tidak dibelikan mainan dan langsung tersenyum cerah ketika akan diajak berkeliling taman hiburan.
"Kita kembali ke kamarmu," bujuk Ichigo.
"Tapi... tapi... kau tidak akan pergi kan? Kau... mau menungguku di sana kan? Aku... tidak suka sendirian di sana," rengek Rukia.
"Bukankah ada Yumichika?"
"Yumichika pasti sibuk! Dia pasti pergi lagi nanti. Apa kau... tidak mau menemaniku di sana?" rajuk Rukia. Matanya mulai berair lagi.
"Baiklah. Aku akan menemanimu."
Seakan baru saja mendapat mainan baru, Rukia terlonjak bahagia. Belum pernah Ichigo melihat Rukia berwajah sebahagia ini. Tampaknya Rukia nyaris melupakan dua malam lalu saat Rukia pergi dari apartemennya karena masalah itu. Dan Ichigo sedang tidak berniat mengingatkan masalah itu pada Rukia. Dia cukup merasa bersalah setelah mengetahui yang sebenarnya. Dan lagi-lagi karena kebodohannya tentu.
Begitu melihat pakaian Rukia yang masih mengenakan piyama rumah sakit ini, Ichigo terbelalak menyadari ujung celana panjang Rukia tampak kotor dan...
"Kau tidak pakai alas kaki?"
Rukia ikut menunduk ke bawah melihat kaki kecilnya yang kotor terkena debu dan tanah itu. Lalu dia menyeringai senang.
"Aku lupa karena terlalu senang ingin bertemu denganmu. Aku rindu padamu. Makanya tidak sempat memakai alas kaki. Dan Ichigo... kepalaku pusing sekali. Bisa kau gendong aku saja?" pinta Rukia manja.
Ichigo mengerutkan keningnya tak percaya.
"Ehh... kalau kau tidak mau, aku masih bisa―"
Rukia terdiam ketika tanpa basa basi apapun lagi Ichigo menunduk dan mengangkat tubuh mungilnya dengan kedua tangannya. Kini tangan besar Ichigo berada di punggung dan bawah lututnya. Dengan wajah tenang, Ichigo mulai melangkah masuk ke dalam rumah sakit lagi. Rukia tersenyum lebar lalu menyandarkan kepalanya di dada sang suami. Entahlah. Kalaupun momen ini hanya sebentar, Rukia tak akan kecewa. Dia sudah cukup bahagia dengan Ichigo yang berubah melembut padanya seperti ini.
Mereka berjalan dalam diam. Dan tentu saja mereka berdua jadi tontonan pengunjung pasien lainnya. Tapi Rukia tak peduli itu. Biarkan semua orang menatap iri padanya.
Tapi ternyata kebahagiaan itu tak berlangsung begitu lama.
Begitu membuka pintu kamar Rukia, ternyata sudah berdiri di sana dengan wajah angkuhnya. Rukia terkejut sama halnya seperti Ichigo. Pria yang membelakangi pintu ruangan itu tampak berbicara serius dengan Yumichika. Dan akhirnya pria arogan itu berbalik begitu mendengar pintu ruangan terbuka. Rukia tak habis pikir kenapa bisa... tapi begitu melihat ekspresi Yumichika yang terlihat gugup dan ragu itu, Rukia yakin bukan Yumichika pelaku sesungguhnya. Lalu...
Ichigo terlihat mengeraskan rahangnya. Tangan Ichigo yang berada di punggung dan lutut Rukia juga terkesan gugup. Rukia menoleh mendapati suaminya seakan sedang beradu pandangan dengan pria angkuh itu.
Ichigo mencoba menurunkan Rukia, tapi Rukia langsung mengeratkan pelukannya di leher Ichigo. Rukia juga tak kalah gugup dan takut saat ini. bahkan Rukia sendiri tak sanggup menatap wajah angkuh itu.
"Katakan padaku yang sebenarnya ada apa ini?"
.
.
*KIN*
.
.
Yumichika sudah ijin pulang lebih dulu. Dia ada keperluan. Dan juga sepertinya dia tak pantas berada di tengah-tengah masalah keluarga itu. Tampaknya dari tadi, Yumichika sudah yakin kalau pria angkuh itu sedang marah.
Kuchiki Byakuya. Tentu saja.
"Apa benar kau tidak pulang kemarin Rukia?"
Kini Ichigo yang berdiri di dekat tempat tidur Rukia yang sudah duduk kembali di atas tempat tidurnya mendadak membatu. Darimana lagi kakaknya ini tahu soal itu? Dan seberang tempat tidur Rukia, sekali lagi Byakuya memandang angkuh dan arogan.
"Kalian bertengkar?" sela Byakuya menyadari dua orang ini sama sekali tidak bicara.
"Tidak! Kami tidak bertengkar," jawab Rukia cepat.
"Lalu kenapa kau tidak pulang? Senna bilang Kurosaki mencarimu karena semalaman tidak pulang."
Senna. Kuchiki Senna! Dalam hati Rukia akan membuat perhitungan dengan wanita sialan itu. Dia benar-benar ingin menyulitkannya. Tapi mendadak kemudian Rukia lega karena pendapat Yumichika salah. Ichigo ternyata mencarinya.
"Kurosaki. Jawablah," pinta Byakuya.
"Ichigo tidak tahu Nii-sama, kalau aku menginap di rumah Yumichika. Sebenarnya kemarin ada reuni SMA dadakan. Aku pulang kemalaman dan akhirnya menginap di rumah Yumichika. Aku lupa mengabarkan Ichigo makanya Ichigo mencariku. Semuanya baik-baik saja."
"Rukia―"
"Tenang saja. Kalau Nii-sama tidak percaya, Nii-sama bisa tanya pada Yumichika. Kami baik-baik saja. Nii-sama tidak lihat tadi Ichigo menggendongku? Ichigo sangat romantis Nii-sama."
Rukia memotong kalimat Ichigo. Dia tahu, Ichigo pasti ingin membantah kata-kata bohong Rukia. Tapi bila itu terjadi, Rukia tak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh kakaknya nanti. Karena itu, Rukia berbalik menatap Ichigo dengan tatapan memohon dan menggenggam tangan besar suaminya itu. Menggenggam telapak tangan kasar sang suaminya untuk mengikuti isyaratnya.
"Lalu... kenapa kau bisa sampai di rumah sakit? Ada apa dengan tanganmu?"
"Ohh... aku tertimpa gulungan kain. Tapi sungguh tidak parah. Tidak ada luka berarti. Bahkan aku masih baik-baik saja kan? Pergelangan tanganku terkilir saja. Nii-sama tidak usah khawatir dan kembali bekerja saja. Aku baik-baik saja. Lagipula... Ichigo janji akan menjagaku."
Rukia berkata sedemikian cepat agar kakaknya tidak bicara banyak lagi. Entah kenapa Rukia yakin kakaknya tidak percaya pada kata-kata Rukia. Tapi tidak punya alasan untuk membantah semua kata-kata Rukia.
Setelah penjelasan singkat itu, Byakuya mengangguk mengerti dan tidak bicara banyak setelah memastikan bahwa adiknya baik-baik saja. Dan tentu saja itulah yang dikatakan oleh Rukia.
Byakuya langsung keluar dari ruangan Rukia karena ada rapat mendadak. Tapi menyuruh Ichigo untuk menjaga adiknya dengan baik dan melaporkan kesehatan adiknya nanti.
Rukia bernafas lega ketika kakaknya menerima semua alasan karangannya itu. Dan kini satu lagi.
"Kenapa kau berbohong pada Byakuya?"
"Karena kalau aku tidak berbohong, kita bisa berada dalam masalah."
"Tidak Rukia. Bukan kita. Tapi aku."
"Kita. Karena aku dan kau adalah suami isteri. Apa yang terjadi pada suami, isteri juga harus menanggungnya. Jadi... tolong jangan menderita sendirian Ichigo."
"Tapi kau selalu menderita sendirian. Kau selalu menangis sendirian. Kau juga selalu memendam perasaanmu sendiri!"
Entah kenapa Ichigo terkesan meluapkan emosinya saat ini. Rukia memandangi suaminya yang mulai emosi padanya itu. Ada rasa senang Ichigo akhirnya berkata seperti itu padanya.
"Kau lupa kalau aku yang menginginkan ini? Aku janji akan membantumu kan? Jadi... aku tidak akan membebanimu dengan perasaanku. Kita pelan-pelan akan berusaha saling mengerti bukan? Dan ini adalah bagianku. Untuk mengerti dirimu. Kalau kau tidak mau aku menderita dan menangis sendirian lagi, aku cuma minta kau mengerti aku saja. Terlepas dari Yukia."
Ichigo menatap bimbang pada isterinya itu. Rukia selama ini sudah cukup bersabar dan mengerti dengan semua tingkah Ichigo selama ini. adalah permintaan wajar bagi Rukia bila dia hanya ingin dimengerti saja. Hanya itu permintaan Rukia. Dan jujur itu bukan permintaan yang sulit. Pernikahan mereka masih bisa diselamatkan asal Ichigo bisa memahami isterinya dengan baik. Dan mendadak, Ichigo sedikit lega dengan pemikiran itu. Bahwa Rukia, memang bukan tipe wanita yang sulit. Rukia cukup terbuka dan menerima apa adanya Ichigo. Tapi tetap saja. Bagian untuk mencintai wanita itu, masih sangat sulit dilakukan Ichigo. Seluruh hatinya masih ditempati oleh wanita yang selama 15 tahun ini menempati hatinya.
"Ichigo... setelah keluar dari rumah sakit nanti... apa kau mau kencan denganku?" pinta Rukia menyadari suaminya masih diam memandanginya.
Mata Ichigo mendadak melebar dengan permintaan Rukia.
Jujur saja, selama dua hari bersama Kokuto, Rukia jadi begitu merindukan suaminya. Rukia jadi ingin melakukan apa yang dilakukannya bersama Kokuto dilakukan juga bersama suaminya.
"Apa... tidak bisa?" lirih Rukia menyadari suaminya kembali diam dengan permintaan anehnya itu. Yah. Aneh.
"Kencan? Tapi... tanganmu..."
"Hanya terkilir saja. Sebentar juga sembuh. Ya... kau mau kan... kencan denganku?"
"Setelah kau sembuh nanti... kita akan kencan..."
Rukia tersenyum lebar, bahkan terlalu lebar menyambut jawaban sang suami itu. Setelah dibujuk seperti itu, Rukia jauh lebih menurut dari biasanya―walaupun Rukia memang penurut. Rukia menurut saat Ichigo memintanya meminum obat yang pahit itu, Rukia juga menurut saat Ichigo menyuruhnya istirahat―dengan syarat, Ichigo akan menemaninya di sana.
Dan setelah Rukia tertidur lelap, Ichigo melirik ke arah kaki kecil isterinya itu. Masih kotor karena tanah dan debu. Pelan-pelan, tanpa bermaksud membangunkannya, Ichigo mengambil handuk basah dan membersihkan kaki kecil yang kotor itu. Sepertinya Rukia sedikit menggeliat karena terkena handuk basah itu. Tapi kemudian kembali tertidur dengan nyenyaknya setelah Ichigo mengusap puncak kepala Rukia sehabis membersihkan kakinya dengan handuk basah.
Dan Ichigo, tidak mengerti kenapa dia mau melakukan semua ini. Dari hatinya.
.
.
*KIN*
.
.
Senna tahu, jika hanya menyuruh Kuchiki Byakuya yang hanya sekadar datang saja itu bukan masalah berarti untuk Rukia. Karena pasti wanita itu akan melakukan segala cara untuk melindungi suaminya.
Masih dengan tatapan sinis, Senna melihat bagaimana wanita sialan itu memperdaya Ichigo. Huh! Bahkan wanita itu berani berbohong pada kakak yang sangat dihormatinya itu untuk melindungi pria itu. Senna tahu mereka pasti bertengkar. Rukia pasti bertengkar dengan Ichigo. Dan seperti biasa itu pasti salah Ichigo. Mungkin saking cintanya wanita itu dengan Ichigo, dia rela melakukan apapun. Wanita tidak tahu malu.
"Yah... kita lihat sejauh mana kau sanggup bertahan. Kuchiki Rukia."
Setelah membisikkan kata-kata itu, Senna meninggalkan ruangan Rukia setelah melihat wanita itu dengan manjanya meminta Ichigo duduk di sebelahnya. Menemaninya.
Dan tentu saja di dalam kepala Senna sudah tersusun ribuan rencana yang siap untuk memisahkan kedua orang itu. Bagaimanapun, mereka harus berpisah.
.
.
*KIN*
.
Begitu Rukia kembali ke apartemennya, dan dia hanya butuh waktu dua hari saja di rumah sakit. Setelah terkilirnya agak mendingan, meski sepertinya jadi terlihat memar dan membengkak, Rukia merengek mau meminta pulang. Sejak dulu dia benci rumah sakit. Mungkin Rukia benci baunya yang menyakiti hidung itu.
Tapi apartemen Ichigo benar-benar buruk. Semua sampah dan barang-barang kotor jadi satu di ruang tamunya. Rukia bersiap akan membersihkannya tapi suaminya langsung melarang Rukia bergerak sesenti pun dari kamar tidurnya. Ichigo yang mengambil alih semuanya. Membersihkan rumah dan memasak. Tentunya Ichigo sudah diberi ijin oleh Kuchiki Byakuya untuk menjaga Rukia. Rukia merengek pada kakak tersayangnya itu untuk membiarkan Ichigo libur dulu sampai Rukia agak mendingan. Dan permintaan dari adik kesayangan mana mungkin dilewatkan begitu saja oleh Byakuya.
Meskipun Ichigo hanya bisa memasak makanan sederhana―kari misalnya―tapi Rukia cukup senang. Ichigo memperlakukannya baik begini. Rukia jadi lupa alasan mereka bertengkar kemarin.
Bahkan Rukia sudah menentukan hari kencan mereka. Jujur Rukia tak sabar dengan hari itu.
Setelah dua hari merawat Rukia, Ichigo harus kembali bekerja. Dan tetap Ichigo melarang Rukia bekerja.
Karena keesokan harinya mereka akan kencan. Di hari Sabtu itu.
"Sudahlah Rukia. Wajahmu itu mengerikan sekali kalau tersenyum lebar begitu."
Dengan susah payah, Rukia meminta ijin Ichigo untuk berkunjung ke butik Yumichika. Bahkan Ichigo langsung yang mengantarnya ke sana. Dan saking gembiranya, Rukia tidak bisa berhenti tersenyum lebar sambil menceritakan semua rencana itu. Rukia juga sudah mengoceh sebal pada Yumichika soal gulungan kain itu. Untungnya sudah dipindahkan Yumichika ke tempat yang tidak terlihat Rukia. Sejak insiden itu, Rukia jadi takut melihat gulungan kain.
"Sudah beberapa hari ini sikap Ichigo baik sekali padaku. Aku jadi senang sekali~"
"Jadi besok adalah kencan yang kau tunggu itu? Ehh... tunggu dulu, besok itu..."
"Iya. Besok hari ulang tahunku. Sepertinya Ichigo belum tahu. Biar nanti jadi kejutan saja. Hehehe..."
"Astaga... hanya karena kencan sederhana begitu kau jadi senang setengah mati? Ckckck... apa selama ini kau tidak pernah kencan dengan pria Eropa itu?"
"Tidak. Nii-sama melarangku terlalu dekat dengan pria asing. Tapi kalau kencan kelompok sih sering. Tapi aku selalu pulang duluan setelah jam sembilan malam di sana. Nii-sama bilang aku tidak boleh keluar terlalu malam."
"Nii-sama, Nii-sama... sepertinya Nii-sama-mu itu sangat menakutkan ya. Yah, tak usah kau jelaskan lagi. Tatapannya saja membuatku merinding sekali. Ahh~ aku tidak menyangka ternyata Nii-sama-mu benar semenakutkan itu. Wajar sekali kau takut pria itu merebus suamimu ya. Tapi ngomong-ngomong... darimana Nii-sama-mu itu tahu kau di rumah sakit kemarin kalau kau tidak memberitahunya?"
"Kuchiki Senna. Pasti wanita itu."
"Hah? Astaga! Kenapa wanita itu jahat sekali padamu ya? Ckckck..."
Yah, wanita itu akan tetap jahat padanya sampai dia melepaskan Ichigo. Tapi tidak. Bukan Kuchiki Rukia―atau haruskah Kurosaki Rukia?―kalau dia bisa menyerah semudah itu.
Mengobrol begitu lama dengan Yumichika, sambil menemaninya mendesain baju musim semi nanti, akhirnya jam makan siang pun tiba. Rukia menelpon suaminya. Iseng saja. Dan ternyata Ichigo tidak sibuk. Dia mengiyakan ajakan makan siang Rukia. Rukia juga berinisiatif mengajak Renji. Dan tentunya tanpa wanita berambut ungu itu. Rukia sudah cukup kapok dengan acara makan siang terakhir mereka kemarin.
.
.
*KIN*
.
.
Kokuto menghentikan mobilnya di depan butik Yumichika. Dia sudah beberapa hari tidak melihat wanita mungil itu. Entah kenapa timbul kerinduan yang tidak jelas begini. Kokuto berharap wanita itu bisa datang ke butik Yumichika. Tapi hingga hari ini, terhitung setelah dia keluar dari rumah sakit, Kokuto tak melihatnya ada di butik Yumichika lagi.
Tapi hari ini, dia melihat wanita itu keluar dari butik Yumichika.
Wajahnya sumringah luar biasa. Tapi tangan kanannya masih dilingkari perban. Wanita mungil itu bergerak lincah sambil melambaikan tangannya. Sepertinya dia tak sadar dengan mobil Kokuto.
Beberapa saat kemudian, sebuah taksi berhenti di depannya dan wanita berambut hitam itu langsung naik tanpa menunggu lebih lama lagi.
Baru sekian detik Kokuto melihatnya. Dan wanita itu sudah pergi lagi. Sedikit tak rela dengan kenyataan itu. Tapi yang dia dengar dari Yumichika sebelum ini, hubungan wanita mungil itu dengan suaminya sedikit membaik setelah insiden itu.
"Rukia? Oh... dia menelpon suaminya dengan manja untuk mengajak makan siang. Dan sepertinya dia sudah makan siang. Kenapa?"
Kokuto hanya menggeleng. Dia cukup senang wanita itu bisa berwajah senang seperti tadi. Sepertinya, pria berambut cerah itu memang mood maker untuk wanita kecil itu. Dia bisa senang dan sedih hanya karena pria itu. Pria yang memiliki hak sebagai suaminya.
"Oh Kokuto, kau tahu kebun binatang yang memelihara bayi binatang?" tanya Yumichika iseng.
"Kebun binatang di Shibuya. Sepertinya ada. Kenapa?"
"Katanya Rukia mau kencan di sana besok. Bersama suaminya."
.
.
*KIN*
.
.
"Kita hanya melihat kebun binatang Rukia. Kau bahkan tidak tidur semalaman karena mempersiapkan semua ini," keluh Ichigo.
Rukia hanya menyeringai lebar membawa masuk keranjang makanan ke dalam mobil Ichigo. Hari ini mereka janji akan pergi ke kebun binatang. Sesuatu yang sangat menyenangkan untuk Rukia. Entah kenapa kebun binatang yang terpikirkan oleh Rukia ketika Ichigo menanyakan mau kencan dimana. Sungguh ini adalah kebahagiaan paling berarti yang akan didapat oleh Rukia.
Walaupun mereka hanya diam sepanjang perjalanan, tapi Rukia menikmati semuanya. Bisa memandang wajah suaminya yang duduk di sebelahnya dengan tenang. Tanpa perlu memikirkan bayangan apa yang akan muncul.
Tak sampai setengah jam, mereka sudah tiba di sana.
Kebun binatang di hari libur memang cukup ramai. Rukia bermaksud membawa keranjang makanannya, tapi Ichigo keburu mengambilnya dan membawanya. Mereka memang tak tampak seperti sepasang suami isteri. Karena Rukia terlihat seperti adik yang manja. Tapi biarlah. Rukia tak peduli itu asal...
"Ada apa?" ujar Ichigo malas.
Rukia tahu ponsel suaminya itu berdering berkali-kali sejak tadi. Mungkin Ichigo malas mengangkatnya. Tapi akhirnya Ichigo menyerah. Entah kenapa Ichigo menyerah untuk mengangkatnya.
"Kalau bukan soal pekerjaan, jangan harap aku mau menemuimu!"
Dan sepertinya Rukia bisa menebak siapa yang menelpon itu. Ichigo baru akan mematikan ponselnya tapi mendadak wajahnya berubah kesal. Dan bimbang. Sesaat kemudian Ichigo melihat ke arah Rukia.
Oh, tolonglah. Mereka belum tiba di dalam kebun binatang itu. Jangan sampai Ichigo bilang...
"Maaf Rukia..."
Jangan sampai Ichigo meninggalkan Rukia...
"Aku harus pergi sebentar. Ada urusan penting."
"Urusan?" ulang Rukia dengan nada sedikit kecewa.
"Ya. Aku janji tidak akan lama."
Rukia menundukkan kepalanya. Selalu saja. Selalu seperti ini setiap kali mereka akan memulai sesuatu yang baik. Akhirnya Rukia hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan. Ichigo memintanya menunggu di sini. Di kebun binatang ini. Ichigo memang sempat ragu untuk pergi. Tapi akhirnya dia harus pergi juga. Rukia berujar kalau dia baik-baik saja.
Baik-baik saja.
Melihat suaminya yang pergi menjauh darinya entah kenapa Rukia mulai merasa Ichigo akan pergi jauh dan tidak kembali. Tidak-tidak. jangan berpikir begitu. Ichigo pasti kembali. Menjemput Rukia. Itu pasti.
.
.
*KIN*
.
.
Berat hati Ichigo meninggalkan Rukia di sana. Padahal gadis itu sudah girang setengah mati menunggu hari ini. tapi lagi-lagi karena wanita sialan itu!
Karena alasan pekerjaan Senna menyuruh Ichigo menemuinya sekarang di apartemennya. Padahal jarak tempuh ke apartemennya itu setengah jam. Dan belum lagi segala macam alasannya.
Dan setelah sampai di apartemen wanita itu, Ichigo menghela nafas panjang. Haruskah dia lakukan ini? kenapa alasan pekerjaan malah membuatnya begini goyah? Harusnya dia minta Renji saja yang mengurus semua ini. kenapa harus dirinya yang berurusan seperti ini.
Ichigo membunyikan bell apartemen wanita itu. Tak lama kemudian pintu pun dibuka. Begitu pintu itu dibuka, ada bau alkohol menguar jelas di sana. Ichigo benci ini.
"Katakan pekerjaan apa yang ingin kau katakan itu!" ujar Ichigo dingin.
"Masuklah dulu."
Senna berjalan gontai ke dalam apartemennya. Mau tak mau Ichigo harus bersabar kali ini. Dia harus bersikap profesional. Mana mungkin karena masa lalu membuatnya mengabaikan pekerjaan.
"Cepatlah Senna. Aku tak punya waktu. Pekerjaan apa yang―"
"Tidak ada pekerjaan apapun."
Mata Ichigo terbelalak lebar. Lalu mendengus geli. Inilah kebodohan Kurosaki Ichigo itu.
"Kalau aku tidak bilang pekerjaan kau mana mau datang ke sini kan?"
Senna menatap pria yang masih dicintainya ini. sangat dicintainya. Sayangnya pria ini justru sudah menikah dengan orang yang sama sekali tak pernah diharapkannya. Saudara angkatnya yang seenaknya itu.
Dengan mimik penuh emosi, Ichigo langsung berbalik hendak pergi dari ruangan itu. Tapi dengan langkah cepat pula Senna memeluk pria itu dari belakang. Begitu kencang.
"Aku tahu aku salah Ichigo! Kumohon kembalilah kepadaku. Jangan bersama gadis itu lagi! Aku benar-benar hancur tanpamu. Apa kau tidak tahu apa yang sudah kulakukan selama ini hanya untukmu! Kumohon Ichi―"
Dengan kasar Ichigo melepaskan tangan wanita itu. Amarah Ichigo benar-benar berada di puncaknya kali ini.
"Aku sudah katakan ratusan kali. Aku tidak akan pernah kembali padamu," kata Ichigo dingin tanpa membalik tubuhnya menghadap wanita berambut ungu itu.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya aku mau berubah untukmu? Aku akan berubah seperti apapun yang kau minta asalkan kau mau kembali padaku. Aku akan lakukan apapun agar kau mau―"
"Bagaimana jika menghidupkan Yukia kembali? Apa kau bisa? Kalau kau bisa menghidupkannya kembali aku bersedia melakukan apapun yang kau inginkan."
Ichigo berbalik dan menatap tajam wanita berambut ungu itu. Senna membelalakan matanya selebar mungkin.
"Kau masih mencintai Yukia. Kenapa kau mau menikah dengan gadis sialan itu?"
"Apapun yang kau lakukan, aku tak akan kembali padamu. Akhiri semua ini. Jangan jadi orang bodoh Senna."
"Kalau begitu, aku benar-benar akan jadi orang bodoh untukmu!"
Mata Ichigo terbelalak lebar kala gadis itu mengiris pergelangan tangannya sendiri hingga nyaris membuat pergelangan tangannya terbelah begitu dalam.
.
.
*KIN*
.
.
Entah kenapa akhirnya Kokuto datang juga ke kebun binatang ini. dengan dandanan yang berusaha untuk tidak mencolok dan memperlihatkan kalau dia model terkenal, Kokuto beranjak masuk. Memakai kacamata hitam tentunya. Seumur hidup baru kali ini dia menginjakkan kaki di kebun binatang. Sendirian lagi.
Apa yang membuat pria ini mau ke tempat begini hah?
Kokuto sudah tidak waras. Hanya karena ingin tahu apakah gadis itu benar-benar kencan atau tidak... tapi―
Baru saja berpikir demikian, dan lihatlah. Dari jauh Kokuto menyaksikan sepasang suami isteri itu. Mereka bahkan belum masuk ke dalam kebun binatang itu tapi si suami malah sudah pergi meninggalkan si isteri.
Kokuto bisa merasakan mimik gadis itu. Terluka, kecewa...
Kokuto ingin sekali menghampiri gadis itu. Tapi akan aneh kalau dia tiba-tiba muncul di sana. Akan terasa aneh dan... tidak wajar. Tentu saja. Itu akan jadi lelucon bagi gadis itu adanya Kokuto di sana.
Akhirnya Kokuto malah memutuskan menunggu dari jauh reaksi gadis itu.
Rukia... hanya berdiri di sana. Diam tanpa melakukan apapun. Sesekali dia melihat ke arah kebun binatang itu lalu menggembungkan pipinya. Ketika dia merasa lelah berdiri, Rukia akan berjongkok di sana sambil memeluk lututnya. Di saat semua orang mulai memperhatikannya, Rukia akan berdiri dan bertingkah biasa saja. Rukia juga mulai mondar mandir di sana sambil sesekali melihat perban di tangannya. Dia juga membuka ponselnya berkali-kali lalu menggerutu sebal. Melirik jam tangannya dan melakukan peregangan tubuh.
Kokuto terus mengamati kegiatan Rukia di sana. Gadis itu dengan patuh menunggu selama tiga jam di sana.
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo pasti kembali.
Pasti kembali.
Yang perlu Rukia lakukan hanyalah bersabar. Hanya bersabar sejenak.
Ichigo tidak mungkin ingkar janji. Tidak. Dia sudah janji pada Rukia. Ichigo janji padanya akan kembali. Tapi kenapa Ichigo belum muncul selama tiga jam?
Kalau Cuma masalah pekerjaan mana mungkin selama ini kan?
Apakah...
Rukia terkesiap saat ponselnya berdering nyaring. Nomornya tidak dia kenal. Tapi... siapa yang menelponnya di saat seperti ini?
Rukia berdiri dari posisi jongkoknya dan menjawab panggilan itu. Apa Ichigo?
"Kini sudah saatnya kau menyerah, Kuchiki Rukia."
Mendadak Rukia terdiam. Entah kenapa suara ini sangat dikenalnya dengan baik.
"Kuchiki... Senna?" tebak Rukia.
"Benar saudaraku. Kau mau bukti Ichigo masih mencintaiku? Datanglah ke rumah sakit Tokyo. Kau lihat sendiri apa yang terjadi di sini. Karena suami yang kau banggakan itu, sedang bersamaku saat ini."
Entahlah. Mungkin dunia saat ini hancur berkeping untuk Rukia.
"Kau... bohong..." lirih Rukia.
"Kubilang kau bisa lihat sendiri di sini. Suamimu... ada padaku."
"Kenapa... kau lakukan ini Senna?" akhirnya mau tak mau Rukia menangis lagi. Entah itu bohong atau tidak, tapi kenyataan bahwa saat ini suaminya tidak ada di sini adalah benar. Dan tidak menutup kemungkinan kalau Ichigo...
"Aku hanya ingin mengambil kembali milikku. Kau... kaulah yang merampas milikku! Kau gadis jahat yang mengambil milik orang lain. Ichigo itu bukan milikmu! Kau tidak pantas memilikinya!"
Seketika itu pula hubungan terputus.
Mau tak mau, Rukia akhirnya menuruti Senna. Rukia tahu kalau ini tidak benar. Dia tidak seharusnya terpancing oleh provokasi Senna. Tapi entah kenapa kakinya bergerak sendiri. Dia ingin membuktikan bahwa apa yang dikatakan orang itu tidaklah benar. Ichigo... Ichigo tidak begitu.
Dengan langkah gontai, Rukia harus kembali lagi ke rumah sakit. Setelah menemukan kamar yang dimaksud, Rukia jadi bimbang sendiri. Bagaimana jika benar... suaminya ada di sana? Bagaimana jika nanti... jika nanti...
Ragu-ragu Rukia mengangkat kepalanya mengintip dari celah kaca pintu ruang rawat itu. Dia seharusnya patuh saja menunggu Ichigo di kebun binatang itu, dia seharusnya...
Dan semua anggapan itu sirna kala Rukia melihat sosok pria berambut orange itu berdiri membelakangi pintu. Itu... Ichigo?
Suaminya ada... di sini?
Rukia menutup mulutnya tak percaya. Tak lama dari situ, Rukia malah melihat Senna melompat dari tempat tidurnya dan langsung memeluk suaminya itu. Setelah memeluk suaminya, Senna langsung...
Apa?
Rukia tak sanggup! Sangat tak sanggup! Ini sudah di ambang batasnya.
"Rukia?"
Kokuto? Kokuto ada di sini dan... melihatnya menangis?
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Hola minna? hehhehe saya update juga, karena untuk beberapa waktu saya bakal disibukan sama mid semester... jengjengjeng...
Ok apa pada bosen sama fic ini? kayaknya sih iya ya? fic ini mulai membosankan. apalagi Ruki nangis lagi nangis lagi... tapi emang begitu ceritanya. jadi pas di akhir nanti Ruki bakal bener-bener pertimbangin apa dia bakal usaha sekali lagi atau justru ninggalin Ichi. wkwkwkwk
yah dan terus saya gak janji sampai seberapa banyak chap fic ini. tergantung mood saya. tapi gak nutup kemungkinan bakal berbelasan. soalnya ini aja baru konflik lagi. dan setelahnya bakal banyak banget masalah. jujur saja saya bingung. apakah terus lanjutkan atau nggak. karena nantinya bakal membosankan sekali fic ini. huhuhuhuh...
ok deh, balas review dulu...
: makasih udah review senpai... sebenernya sih adanya Kokuto emang gak bakal ngaruhin perasaan Ruki, tapi emang saya butuh peran cowok kedua gitu sih. hehehe buat jadiin sandaran kursi sama Ruki kalo dia udah frustasi sama Ichi. hehee kalo tanda titik itu, emang kebiasaan senpai. kalo lagi bengong gak tahu mau nulis apa itulah jadinya, kebanyakan nulis titik deh. nah kalo soal judulnya, saya emang udah kebiasaan, semua yang salah itu emang kebiasaan saya. hehehe senpai... nih saya update LastRose... Housekeepingnya di update dong, senpai lagi ngilang ya?
Kyouichiru : makasih udah review senpai... wahahaha... makasih udah seneng sama fic ancur ini. hehehe iya nih saya update, walo hasilnya rada gimana gitu ya,,, hehehe
blue : makasih udah review senpai... hmm kayaknya Ichi belum nunjukkin apa-apa ya sama reaksinya Kokuto hehehe ntar dichap depan kali ya. hehehe
Alexandra : makasih udah review Alex... iya ya hehehe saya juga maunya mereka pisah aja, selamanya!*plak* nggak kok. ntar akhirnya kita liat sejauh mana Ruki sanggup ya. hehehe file ilang? bener tuh, nyesek luar dalem. kapok deh nyimpen lama-lama...
AkiraChan : makasih udah review senpai... hahah sama-sama. nih pasti saya update kok walo agak lama. kan nyari inspirasi dulu hhohoo...
lola-chan : makasih udah review senpai... heheh namanya aja usaha Ruki buat ngebuka hatinya Ichi. gimana ya? kalo saya jadi Ichi juga sulit kayaknya tiba-tiba suka sama orang lain padahal kita masih cinta sama mantan. hehehe
Zanpaku nee : makasih udah review senpai... heheeh tapi ini tuntutan skenario senpai. emang harus seperti itu. hehehe *plak*
ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai... heheh nah apa yang ini senpai nangis lagi? wkwkwkw suka deh kalo ada sampe yang nangis liat fic saya *plak*
MUkyungs : makasih udah review senpai... wahahaha.. iya emang lama. tapi jangan salahin saya ya senpai, salahin virusnya tuh yang gak sopan ngilangin file saya. hehehe uhm... tuh masalah udah lama saya abaikan. heheh makasih tapi ya udah ngasih tahu. hehehe
Yukio Hisa : makasih udah review Yuki... jangan salahin saya senpai, salahin virus sialan tuh yang ngilangin file saya. hehe belum kok belum cerai, cuma niat pisah aja. kalungnya? kan Ruki nemuinnya di klosetnya Ichi di chap 7 kemaren. hehehe oh dedek kembar Ichi? yang mana ya?*lemotmodeon*
rukippe : makasih udah review senpai... nonono jangan senpai. Kin aja gak papa kok. hehehe wah gak tahu ya Ichi bakal cemburu apa nggak kalo Kokuto mulai jahil hehehe...
Suzuhara Yamami : makasih udah review Zuha... heheh salam kenal juga. wah dibilang bagus. hehehe makasih banyak... saya juga suka kok kalo ngeliat Ruki kesiksa. seneng banget dah nyiksa Ruki apalagi sampe nangis-nangis. hehehe
Wakamiya Hikaru : makasih udah review Hikaru... nih udah update kilat belum ya? hehhe degdegan? aduh jadi malu nih. heheh apa ini cukup bikin degdegan juga? heheh
choami : makasih udah review senpai... nih udah update heheheh makasih udah merinding hehehe
Himetarou Ai : makasih udah review senpai... heheh ya nih udah saya update. penasaran kagak? hehehe
HanRieRye pengen log in tapi lupa password : makasih udah review senpai... yah niatnya mau misahin mereka supaya Ichi nyadar gimana kalo gak ada Ruki sih. hehehe tapi sejauh ini belum pisah juga ya? hehehe makasih udah rela baca fic saya... jadi terharu...
Voidy : makasih udah review senpai... heheh makasih senpai. wwkwkw suka deh kalo gini ternyata Yumi ama Kokuto emang bawa pengaruh besar buat Ruki ya? hehehehe
Nyia : makasih udah review senpai... gak papa kok telat review... kan udah direview... hehehe nih udah saya update...
Tania : makasih udah review senpai... makasih pujiannya, jadi terharu banget... nih udah saya update...
nenk rukiakate : makasih udah review nenk... heheeh apa nih masih bikin penasaran? emang itulah fungsinya Yumi, jadi kayak pelindung Ruki juga. biar gak dimacem-macemin sama ichi. hehehehe
Yensie : makasih udah review senpai... hehehe nih udah update... makasih banyak udah nunggu fic ancur saya... hehhe
Dy'angel of sAsuSaku'slight'icHirUki : makasih udah review senpai... makasih udah seneng sama fic saya hehehe wah gimana ya, kalo cuman sampe 10 ato 11 kayaknya gak bakal mungkin. karena fic ini emang bakal panjang. maaf kalo jadi ngebosenin senpai. heheeh mau nebak cewek atau cowok? kayaknya sih cewek... hehhe insting dari tulisan. hehehe
Purple and Blue : makasih udah review senpai... hehe nih udah saya update loh... heheh
Bad Girl : makasih udah review senpai... hehehe *pundung* gimana ya? mau sih saya bikin lemon lagi, tapi gak tahu di situasi mana lemonnya bisa muncul. hehehe maaf kalo Ruki jadi nangis terus, karena emang itulah tugas Ruki. nangis. heheheh
Ferik : makasih udah review senpai... nih udah dilanjutin hehehe
Resi Laela Wulandari : makasih udah review senpai... endingnya masih agak lama. hehehe nih udah dilanjutin... heheh
Azusa : makasih udah review senpai... heheh iya dong bakal dilanjut sampe tamat. heheh
Wah... makasih buat semua senpai yang udah berpartisipasi dalam fic ini. baik yang baca, review semuanya deh. saya sangat seneng masih ada yang mau menghargai fic saya hehehe beneran bikin saya terharu. apalagi sampe nungguin fic ancur ini. beneran deh terharu banget!
ok kayaknya udah kebanyakan word nih, jadi mohon reviewnya ya, biar saya tahu apa cerita ini masih layak lanjut atau nggak karena udah panjang dan ngebosenin. heheh
Jaa Nee!
