Hola Minna. Gaktahu kenapa saya pengen ada sekuelnya gini ya?
SEKUEL FROM 'PRICKLY ROSE'
DISCLAIMER : TITE KUBO.
WARNING : OOC, AU, GAJE, MISSTYPO (maaf kalau ada kekurangan pengetikan)
RATE : M (for safe)
ATTENTION : Fic ini adalah fiksi belaka, jika ada kesamaan atau kemiripan situasi dan cerita dengan fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun itu tidak disengaja.
.
.
.
Sepertinya, Byakuya serius tidak mau mendengarkan semua permohonan Ichigo lagi. Sebenarnya itu wajar. Dari awal Byakuya sudah serius menunjukkan semua perhatian dan protektifannya untuk Rukia. Jadi, bila Byakuya tidak menyetujui semua permohonan Ichigo untuk kembali pada Rukia, itu wajar. Byakuya mengerti bagaimana perasaannya saat tahu Ichigo sudah menyakiti hati adiknya. Tapi... Ichigo benar-benar ingin serius kali ini. Dia sungguh ingin serius. Sudah cukup kehilangan Yukia. Dia sudah menyesal sekarang. Seharusnya dia bisa memperlakukan Rukia dengan baik. Dia tidak mau kehilangan lagi.
Masih meratapi nasibnya yang serba pusing, Ichigo dikagetkan dengan suara bell apartemennya. Dia sedang tidak ingin menerima tamu sekarang. Dia hanya ingin bertemu Rukia saja. Hanya itu.
Tapi sayangnya, si penekan bell itu sama sekali tidak mau mengerti. Kalau Renji yang muncul, Ichigo akan dengan senang hati melayangkan tinju ke arah babon sialan itu. Dengan langkah gontai, Ichigo membuka pintu apartemennya dengan setengah niat. Tapi sialnya... yang muncul bukanlah babon merah sialan itu, lebih buruk lagi.
Ichigo bersiap akan menutup pintunya, tapi kemudian ditahan dengan cepat.
"Tunggu dulu! Bisakah biarkan aku bicara lima menit saja?"
Ichigo sedang tidak ingin berdiskusi, makanya dia tetap mencoba menutup pintunya. Suasana hatinya tengah memburuk saat ini.
"Ini tentang Rukia!"
Hanya karena satu nama itu, Ichigo berhasil meredam emosinya dan mulai memperhatikan tamunya ini. wajahnya terlihat lega ketika Ichigo membuka sedikit pintunya ketika mendengar nama wanita mungil itu keluar.
"Kelihatannya kau masih membenciku. Tidak mengijinkanku masuk? Ahh~ sudahlah. Aku janji Cuma lima menit. Sebaiknya, kau segera ke bandara sekarang."
"Bandara?" ulang Ichigo.
"Yah. Bandara. Nii-san berniat membawa Rukia paksa ke Eropa. Sepertinya, setelah kembali dari Eropa, Nii-san sendiri yang akan membuat surat cerai kalian. Jadi, kalau kau benar-benar ingin meyakinkan Nii-san, hentikan pemberangkatan mereka sebelum terlambat," jelasnya lagi.
Eropa?
Membawa Rukia... paksa?
Byakuya sudah benar-benar serius kali ini. Ichigo bersiap menutup pintunya lagi untuk mengambil keperluannya, tapi kemudian tertegun di depan pintu masuk itu. Menatap ragu pada wanita berambut ungu ini.
"Kenapa... kau melakukan ini?" tanya Ichigo ragu.
"Hmm... kenapa ya? Mungkin... karena seseorang sudah menyadarkanku."
"Seseorang?"
"Meski aku mati di depanmu, kau tetap tidak akan peduli lagi padaku. Aku baru menyadari perbuatanku dulu begitu... menyakitkan untukmu. Yah. Aku baru menyadarinya. Aku minta maaf. Aku tahu minta maaf saja tidak cukup. Karena itu... hanya ini yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku. Kalau kau butuh sesuatu dariku, katakan saja. Aku pasti akan membantumu... dan Rukia."
Seorang Kuchiki Senna mengatakan hal itu?
Ichigo bahkan tidak berani bertanya apa ini mimpi atau bukan. Tapi... orang mana yang sanggup meyakin ratu paling keras kepala ini? Bahkan, Senna jauh lebih keras kepala daripada Rukia sendiri. Sesaat Ichigo menatap Senna yang menunduk di depannya itu. Dia tak menyangka, Senna bisa mengatakan hal itu padanya. Dia tak menyangka jika wanita ini... bisa juga berkata selembut itu. Kenapa tidak dari dulu Senna seperti ini?
"Hei... kalau kau tidak bergegas, pesawatnya bias berangkat," sela Senna.
Ichigo kemudian sedikit merasa gugup dan bersiap untuk kembali masuk ke apartemennya.
"Oh, Ichigo," panggil Senna.
Ichigo menoleh pada wanita berambut ungu itu.
"Kita... masih boleh berteman kan? Hanya... berteman."
Ichigo memandang Senna sekali lagi. Berteman tidak ada salahnya. Senna sudah menunjukkan perubahan dirinya yang bahkan Ichigo sendiri tak bisa bayangkan.
"Kapan saja," jawab Ichigo sambil tersenyum tipis.
Senna tersenyum lega dan mengulurkan tangannya bermaksud berjabat tangan. Ichigo langsung menyambutnya dengan senang hati. Ichigo bisa melihat... betapa tegar wanita di depannya ini. karena Ichigo sendiri, butuh waktu yang begitu lama untuk melepaskan bayangan wanita yang pernah dicintainya. Meski... dia tak mungkin bisa melupakannya apapun yang terjadi.
.
.
*KIN*
.
.
Lima belas menit lagi pesawatnya akan berangkat. Rukia dan Byakuya sudah duduk di dalam sana. Dia tidak bertemu Ichigo sama sekali di sini. Apa... Ichigo tidak tahu dia akan pergi?
Bodoh. Bagaimana Ichigo tahu kalau tidak ada seorang pun yang memberitahunya?
Byakuya duduk di sebelahnya sambil meneliti layar laptop di pangkuannya itu. Kakaknya memang sibuk. Tapi masih menyempatkan diri menemani Rukia seperti ini. karena pesawat belum bergerak, ponsel Rukia masih menyala. Demi menghilangkan kebosananya, Rukia melihat layar ponselnya sejenak. Tapi kemudian...
"Pesawat akan berangkat Rukia, biar kumatikan ponselmu."
Byakuya langsung menarik ponselnya dan mencabut baterainya, lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya. Rukia semakin frustasi. Apalagi sebenarnya yang diinginkan oleh kakaknya ini.
"Nii-sama? Apa aku boleh keluar sebentar?" tanya Rukia pelan.
"Kau mau kemana? Pesawat akan berangkat."
"Toilet. Sebentar saja... aku akan kembali."
Merasa tak punya pilihan, Byakuya mengijinkan Rukia pergi untuk ke toilet.
Rukia lega kakaknya langsung mengijinkan setelah pertimbangan yang lama. Tapi, begitu tiba di pintu pesawat, tanpa seorang pramugari menghadang jalan Rukia.
"Kita akan segera berangkat Nona, silahkan kembali ke bangku Anda."
"Aku mau ke toilet sebentar saja, kan pesawatnya―"
Rukia tahu dia tidak boleh pergi begitu saja. Dia tidak boleh pergi begini...
Kakaknya tidak berhak mengatur hidupnya seperti ini. Rukia masih punya pilihan. Dia bukan... wanita lemah. Dia bisa buktikan pada kakaknya dia tidak serapuh itu. Dan pergi ke Eropa... sama sekali bukan pilihannya.
Rukia mengeluarkan note kecil dan penanya. Pramugari itu masih sibuk menyuruh Rukia kembali ke bangkunya. Tapi dasar keras kepala, Rukia malah menulis sesuatu di sana dan merobeknya.
"Berikan kertas ini pada penumpang nomor dua B kalau pesawatnya sudah berangkat. Dan jika aku belum kembali, tinggalkan saja aku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kau mau membantuku."
Pramugari itu nampak bingung dengan instruksi Rukia, tapi wanita mungil ini segera tersenyum dan menunduk dalam kepada pramugari itu dan segera berlari menuju pintu keluar bandara. Kalau benar Byakuya kakaknya, pasti dia mengerti akan pilihannya.
Rukia sudah berada di tengan bandara Narita. Jam keberangkatan pesawatnya telah disebutkan. Dia tahu melakukan ini hanya akan menambah murka kakaknya. Tapi dia tidak mau begitu saja pergi. Ini bukan pilihannya. Rukia berhak menentukan pilihan hidupnya. Walau sejak delapan tahun yang lalu, Rukia sudah menentukan hidupnya sendiri. Dia tidak mau diatur meski oleh kakaknya sekali pun. Rukia sadar yang dilakukan oleh Byakuya hanya untuk dirinya. Karena Byakuya sayang padanya. Tapi... Rukia tetap tidak bisa.
Dengan langkah gontai, Rukia berjalan keluar dari bandara. Terdengar bunyi pesawat yang baru lepas landas. Sepertinya... Byakuya mengerti apa yang diinginkan oleh Rukia.
Baru akan menyeberang jalan, Rukia kaget melihat sebuah mobil yang begitu dikenalnya memutar begitu cepat di ujung jalan. Dan kekagetannya semakin menjadi saat melihat sosok pria berambut orange itu keluar dari mobil itu dengan tergesa. Pria tampan itu berhasil menemukan kontak mata dengan dirinya. Entah karena terlalu senang atau karena terlalu bahagia, Rukia menangis haru dan segera berlari menyeberang menyusul pria itu.
Tapi... Rukia tak menyangka ada sebuah mobil yang melintas begitu cepat di depannya.
.
.
*KIN*
.
.
Byakuya terkejut ketika pramugari itu mengumumkan bahwa pesawat mereka siap berangkat. Rukia belum kembali dari ijinnya tadi. Apa Rukia lupa dia naik pesawat yang mana?
Byakuya bersiap akan berdiri meminta pramugari itu menahan pesawatnya sebentar.
"Maaf Tuan, pesawat sudah berangkat. Silahkan duduk," ujar pramugari itu.
"Maaf, adik perempuanku belum naik, tadi dia pergi ke toilet dan akan segera―"
"Oh, Nona berambut hitam itu? Nona itu bilang, tinggalkan saja dia kalau pesawatnya sudah berangkat. Dan dia... menitipkan ini untuk Anda."
Byakuya menerima sebuah kertas kecil yang disodorkan pramugari itu padanya. Dahi Byakuya mengerut tak mengerti. Kemudian membuka kertas aneh itu.
Nii-sama.
Maaf aku membuat keputusan sendiri. Aku sungguh tidak mau pergi. Aku juga tidak mau bercerai dari Ichigo. maaf kalau permintaanku ini egois sekali. Tapi... hanya ini yang kuinginkan seumur hidupku. Aku tidak menyesal pada pilihanku. Kuharap... Nii-sama mengerti.
Dan Nii-sama...
Aku mencintaimu.
Rukia.
Sebenarnya, Byakuya tahu kalau Rukia memang tidak semudah itu setuju pada pilihannya. Dia pasti akan melakukan segala cara agar bisa mendapatkan keinginannya. Mungkin, sudah saatnya Byakuya membiarkan adiknya memilih jalannya sendiri. Sudah saatnya pula, Rukia bersikap dewasa dan bertanggungjawab pada pilihannya. Byakuya tahu saat seperti ini akan tiba. Tapi dia tidak menyangka secepat ini.
Rukia-nya... sudah jauh lebih besar dari delapan tahun yang lalu.
.
.
*KIN*
.
.
Dua puluh menit. Senna bilang pesawat itu akan berangkat dua puluh menit lagi. Dan Ichigo tak punya banyak waktu lagi. Dia tidak sempat berganti pakaian. Dia hanya membawa dompet dan kunci mobilnya saja. Dia juga tidak tahu apakah bisa keburu atau tidak. kalaupun tidak, Ichigo sudah menyiapkan cara lain. Mungkin... dia harus menyusul Rukia ke Eropa saja.
Begitu memarkirkan mobilnya di parkiran bandara itu, Ichigo keluar dari mobilnya dengan tergesa. Tapi kemudian mematung diam di sana saat melihat wanita mungil itu sudah berdiri di depan gerbang bandara dengan wajah aneh. Sesaat kemudian, wanita cantik itu terlihat menangis haru dan segera berlari tanpa menghiraukan jalanan lagi. Kontan saja Ichigo terkejut dengan tingkah wanita itu. Ichigo bersiap akan memarahinya, tapi kemudian, dari arah berlawanan, ada sebuah mobil yang melaju begitu kencang.
Tiba-tiba saja Ichigo berubah kaku ketika mobil itu berhenti tepat saat Rukia melewati jalan itu. Orang-orang langsung berkerumun di sana.
"Yukia mengalami kecelakaan parah dan tidak bisa ditolong lagi."
Dada Ichigo langsung sesak bukan main. Dia... dia...
Ichigo segera berlari panik menerobos kerumunan itu. Rukia tergeletak di jalan. Segera saja Ichigo memapah tubuh mungil itu. Rukia sepertinya tidak sadar. Apalagi kepalanya berdarah. Langsung saja Ichigo menjerit meminta seseorang menelponkan ambulans untuknya. Ichigo mengguncang pelan tubuh isterinya mungilnya itu. Memanggilnya dengan pilu. Dia... tidak mau lagi...
"Rukia! Buka matamu Rukia! Buka! Jangan tinggalkan aku! Aku menyesal! Aku janji akan mencintaimu! Aku janji akan membahagiakanmu... kumohon... buka matamu..." pinta Ichigo panik.
Dia sungguh tidak mau kehilangan lagi.
Kerumunan di sekeliling Ichigo bertambah jadi. Untungnya salah satu dari mereka sudah memanggil ambulans. Apa benar... Tuhan begitu kejam padanya?
Kenapa di saat seperti ini... selalu saja... selalu―
"Kau... janji?"
Ichigo terkejut. Terdengar suara lirih dan begitu pelan di pangkuannya.
Rukia membuka matanya begitu pelan. Tangan mungilnya terjulur ke atas menyentuh wajah Ichigo. dengan senyum lemah, Rukia menyambut Ichigo.
"Kau... janji?" ulang Rukia lagi.
Ichigo mengangguk cepat.
"Aku tidak mau kehilangan lagi Rukia. Jangan tinggalkan aku. Aku benar-benar menyesal. Aku akan mencintaimu... aku janji..."
Rukia tersenyum lega. Pipinya terasa basah.
"Syu-kurlah... ter-ima... kasih..."
Rukia kembali menutup matanya dengan begitu pelan. Tangannya yang masih menyentuh Ichigo tadi langsung terkulai lemas.
"Tidak! Tidak Rukia! Jangan tidur lagi! Buka matamu! Kumohon... buka matamu!" jerit Ichigo.
.
.
*KIN*
.
.
"Kenapa kau girang sekali hari ini?" sindir Renji saat tengah berjalan berdua dengan Kuchiki Senna. Bukannya dia sengaja, tapi ini panggilan tugas. Mana mungkin dia mengabaikan tugas kan?
"Kau mau tahu?" pancing Senna.
"Kuharap itu bukan sesuatu yang mengerikan."
"Sepertinya... akan ada drama baru."
"Hah?"
"Aku jadi orang baik kali ini. Jadi kau tidak boleh mengejekku lagi sebagai wanita yang patut dikasihani!"
"Memang aku perna bilang begitu ya?" kata Renji cuek.
Senna tersenyum tipis. Lalu menghadang jalan pria berambut merah ini. Senna memperhatikan begitu detil wajah sahabat Ichigo ini. Jujur, dia tidak buruk. Mungkin tidak sekelas dengan Ichigo, tapi paling tidak, sikapnya yang gentle itu... cukup untuk Senna.
Renji mulai panik dipandangi begitu misterius oleh adik angkat Byakuya ini. tatapannya sama mengerikannya dengan tatapan Predir-nya meski sebenarnya dia tidak sedang melototi sesuatu.
"Kau mau kencan denganku?"
Rasanya... rahang Renji bisa saja melorot ke bawah. Senna semakin berjalan dekat dan tampak menggodanya begitu serius. Apa ini... Renji sudah biasa menghadapi ratusan wanita, kenapa jadi gugup tanpa alasan begini. Itu Cuma Kuchiki Senna!
Astaga! Tidak baik untuk jantungnya ini!
"A-ah! Ya! Toilet! Aku... ke toilet dulu!" akhirnya ada celah untuk melarikan diri.
Langsung saja Renji melesat pergi meninggalkan wanita berambut ungu itu.
"Apa aku... terlalu berani ya?"
.
.
*KIN*
.
.
"Tidak ada luka berarti selain di kepalanya. Pasien hanya pingsan karena syok. Tidak lama lagi akan sadar."
Ichigo begitu lega mendengar penjelasan dokter itu. Jantungnya benar-benar teremas begitu kuat tadi. Dia tak menyangka mimpi buruk mengenai kematian Yukia bisa terulang begini lagi. Saat itu, begitu tahu Yukia kecelakaan, Ichigo merasa dunianya langsung menghitam seketika. Dirinya begitu lemas dan ketakutan. Dan di saat bersamaan, kabar Yukia sudah pergi bertambah membuatnya nyaris gila. Padahal... sedikit lagi dia bisa bahagia bersama kekasihnya itu. Tapi ternyata Tuhan lebih menyayangi Yukia. Dia begitu cepat memanggil kekasihnya yang baru saja direstui oleh ibunya itu.
Kini... hal yang sama terjadi juga pada Ichigo.
Betapa sakitnya melihat langsung dengan matanya sendiri Rukia yang nyaris tertabrak mobil itu. Untung hanya luka lecet di kepalanya saja. Ichigo tidak mau lagi―
"Rukia?"
Ichigo merasa tangan kecil Rukia digenggamannya bergerak pelan. Mata besarnya yang cantik itu mengerjap begitu pelan. Sangat amat pelan. Rasa lega jelas menguar dari Ichigo. jika sesuatu terjadi pada wanita cantik ini, Ichigo tak tahu apa yang akan dilakukannya pada dirinya sendiri. Mungkin kali ini benar akan bunuh diri tanpa mempedulikan peringatan Renji lagi.
"Kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" tanya Ichigo.
Rukia menggeleng pelan. Lalu menatap Ichigo dengan penuh kerinduan.
"Ichigo..."
"Ya? Kau mau apa, Rukia?"
"Kau... mau melakukan apa saja untukku?"
Ichigo mengangguk pasti.
"Ayo kita... pergi dari sini."
Mata Ichigo terbelalak lebar. Kaget. Jelas itu.
"Kita pergi dari sini. Jangan di Tokyo ataupun ke Karakura. Jangan ke sana. Kita pergi ke tempat yang jauh. Tempat dimana... Nii-sama tidak akan menemukan kita lagi."
"Rukia?"
"Jika Nii-sama kembali kemari, dia pasti akan memisahkan kita lagi. Dia pasti... akan menyuruh kita bercerai lagi. Dia pasti... akan mengurungku lagi. Dia juga... pasti melarangku menemuimu. Aku... aku tidak mau begitu lagi," jelas Rukia dengan nafas tersendat.
Ichigo mengelus kepala hitam Rukia. Lalu kemudian mengangkat tubuh mungil itu dan memeluknya begitu erat. Rukia menyadarkan kepalanya di bahu suaminya itu.
"Baiklah. Kita pergi. Kita pergi ke tempat dimana... Byakuya tidak akan menemukan kita lagi."
Rukia mengangguk cepat. Asal ada suaminya. Asal ada... Ichigo.
.
.
*KIN*
.
.
"Rukia... tidak kemari lagi?"
Kokuto masuk ke ruang pribadi Yumichika. Tampak desainer nyentrik itu sedang membenahi beberapa gaun yang berhasil dibuatnya untuk pameran musim semi nanti. Kokuto sudah lama tidak berkunjung kemari. Dia memang tengah melakukan show tour seperti itu. Jadi mungkin baru kembali sekarang.
"Ahh~ kau begitu lama menghilang sampai tidak tahu tentang Rukia..." ujar Yumichika sambil tetap fokus pada kegiatannya.
"Memangnya... apa yang terjadi?"
"Rupanya selama ini, mereka menikah Cuma untuk tiga bulan. Seperti kontrak. Memangnya mereka pikir ini drama apa? Dan puncaknya, kakak Rukia tahu masalah itu dan segera memisahkan mereka juga menyuruhnya bercerai!"
Kokuto jelas kaget mendengar kabar ini. Dia tak menyangka kalau sampai seperti itu.
"Jadi... Rukia...?"
"Hm... aku tidak tahu. Terakhir dia sudah tinggal dengan kakaknya lagi. Kupikir... mereka akan benar-benar berakhir."
Kokuto menyeringai lebar menanggapi kata-kata Yumichika.
"Kau kenapa?" tanya Yumichika aneh.
"Kau salah. Mereka... tidak mungkin berakhir."
"Darimana kau percaya itu?"
"Insting?"
"Dasar bodoh!"
"Ahh ya, bagaimana kalau aku bergabung dengan show-mu bulan depan."
"Boleh. Tapi honor-mu kupotong separuh ya? Harga sahabat!"
"Hei!"
.
.
*KIN*
.
.
Sebenarnya Ichigo masih ragu membawa Rukia yang baru keluar dari rumah sakit. Dokter juga menyarankan agar Rukia istirahat saja. Meski lukanya tidak begitu berarti, tapi bisa saja rasa syok masih ada. Walau begitu, Rukia yang keras kepala ini tidak mau menurut dan terus membantah. Mau tak mau Ichigo menurutinya juga. Rukia sempat bilang, walau kakaknya sudah berangkat, bisa saja Byakuya muncul lagi dengan pesawat berikutnya untuk menangkap Rukia. Makanya dia tidak mau berlama-lama tinggal di Tokyo sementara ini. Dia ingin pergi menjauh dulu dari kakaknya sampai waktu yang tidak ditentukan!
Berjam-jam perjalanan mereka lewati begitu damai. Rukia tak pernah begitu bahagia sekarang. Dia tidak bosan memandangi wajah tampan suaminya itu. Sesekali, Rukia bersandar di bahu Ichigo tanpa ditolak pria tampan ini. Saat mereka istirahat, hanya untuk menikmati pemandangan pinggir pantai di atas jalan ini, Ichigo akan memeluk Rukia hingga Rukia merasa nyaman. Dia tak pernah merasa sebahagia ini lagi sejak kepergian Yukia. suara angin pantai begitu terasa sekarang.
"Ichigo?" panggil Rukia di dekapannya.
"Ya?"
"Apakah... ini tidak apa-apa?"
"Soal Byakuya?"
Rukia menggeleng pelan. Lebih erat mendekap Ichigo.
"Soal Yukia."
Ichigo terdiam agak lama. Bolehkah dia egois? Dia ingin Rukia di sisinya. Tapi tidak ingin melupakan Yukia. Apa itu... tidak apa-apa?
"Kau... mau aku bagaimana?" tanya Ichigo.
"Kau masih ingat janji kita sebelum kau menyetujui pernikahan kita?" tanya Rukia.
Ichigo melepaskan pelukannya dan menatap Rukia agak lama.
"Aku... masih boleh mencintai Yukia, tapi... aku harus mencintaimu lebih besar dari Yukia, jika pernikahan kita... berhasil?"
"Karena kau sudah janji akan mencintaiku, jadi aku anggap pernikahan kita berhasil. Tepat sebelum tiga bulan! Bagaimana menurutmu?"
"Apa kau... tidak apa-apa... jika aku masih mencintai Yukia?"
"Ya... Yukia adalah cinta pertamamu kan? Aku tidak boleh sembarangan menyuruhmu melupakannya. Karena... aku tahu rasanya dilupakan. Karena orang yang sudah meninggal, hanya bisa hidup di kenangan orang lain. Kalau kau... melupakan Yukia karena aku... Yukia akan benar-benar mati kan?"
Ichigo tersenyum lembut. Lalu bergerak mencium kening Rukia. Walau di sudut kening Rukia masih tertempel plester karena luka lecetnya.
"Aku... benar-benar beruntung mendapatkanmu."
"Tentu saja. Kau harus menghargai usahaku mendapatkanmu!"
.
.
*KIN*
.
.
Setelah perjalanan berjam-jam itu, akhirnya Ichigo sampai di sebuah tempat yang benar-benar jauh dari Karakura maupun Tokyo. Mereka berhenti tempat malam hari.
Sepertinya... mereka ada di ujung pulau Jepang kah?
Dimana-mana terlihat laut. Ichigo memeriksa tempat yang mereka singgahi. Ini adalah sebuah tempat asing yang berada di tepi pantai. Tak jauh dari Ichigo memarkir mobilnya, ada sebuah rumah penginapan. Selain penginapan itu, ada beberapa rumah penduduk yang berjarak lumayan jauh. Kalau Ichigo pergi lebih jauh lagi, dia takut mobilnya akan kehabisan bahan bakar lagi. Udara juga mulai mendingin. Rukia sudah jatuh tertidur sejak sejam yang lalu. Mereka harus istirahat sekarang.
Ichigo melajukan mobilnya agar lebih mendekat ke rumah penginapan itu. Setelah dekat, Ichigo mematikan mesin mobil dan bersiap untuk turun. Rukia juga tidak membawa apapun selain tas tangannya. Dia juga tidak membawa ponsel. Ichigo juga tidak karena saking terburunya tadi.
Ichigo mencoba membangunkan Rukia. Tapi sayangnya dia tidak tega. Pasti pasca kecelakaan tadi Rukia masih lelah. Akhirnya, Ichigo menggendong tubuh Rukia di punggungnya. Mereka berjalan memasuki penginapan yang cukup tua itu.
"Permisi!" pekik Ichigo.
Ichigo berteriak sedari tadi sambil menggendong Rukia dan menjaga isterinya agar tidak terbangun.
Akhirnya setelah perjuangan yang begitu berat, pintu penginapan itu terbuka juga. Seorang wanita paruh baya yang berkepang satu, wanita yang cukup cantik itu, membuka pintu penginapan.
"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu sopan.
"Ma-maaf. Apa Anda... bisa menyewakan kamar untuk kami? Kami dari perjalanan jauh dan... butuh istirahat," jelas Ichigo.
"Ahh! Tentu saja boleh. Kalau boleh saya tahu, apa hubungan kalian berdua?"
"Suami isteri," jawab Ichigo cepat. Dia sudah lelah seharian ini menyetir dan menggendong Rukia pula yang masih tertidur.
"Oh, suami isteri. Kalau begitu, saya bisa menyewakan satu kamar ukuran sedang untuk anda berdua."
"Terima kasih."
Wanita yang memperkenalkan diri sebagai pemilik penginapan itu mengaku bernama Unohana Retsu. Dia tinggal berdua dengan adik angkatnya, Kotetsu Isane. Sebenarnya Ichigo mau mendengar lebih banyak lagi, tapi sayang dia sudah lelah sekali.
Kamar yang disewakannya ada di lantai dua pula. kamarnya memang cukup besar. Cocok untuk dua orang. Karena penginapan ini tradisional, hanya ada futon di sana. Yah, paling tidak cukuplah untuk mereka tidur malam ini.
Saking lelahnya, setelah membentangkan futon untuk mereka berdua, Ichigo langsung membaringkan Rukia dan ikut tidur di samping isteri mungilnya itu. Mendekapnya begitu erat. Padahal, pemilik penginapan itu sudah menawarkan air panas. Tapi sayangnya, Ichigo menolak dan langsung tidur. Dia sudah rindu tidur satu ranjang lagi dengan isterinya ini.
.
.
*KIN*
.
.
Suara deburan ombak membangunkan Rukia.
Rasanya semalam dia samar mengingat kalau dia digendong Ichigo. karena terlalu mengantuk, Rukia tak ingat apa yang terjadi. Tapi dia langsung tersenyum lebar mendapati Ichigo yang tidur dengan memeluknya. Rukia baru sadar kalau pakaian mereka belum berganti sama sekali. Mereka memang tidak sempat membawa pakaian ganti.
Pelan-pelan, Rukia melepaskan pelukan Ichigo yang sudah melemah itu. Masih menatap suaminya, akhirnya Rukia hanya mengelus puncak rambut orange itu. Kemudian bergerak membuka lemari besar di sudut ruangan. Selain lemari, ada juga TV ukuran kecil di sini. Lemari itu hanya memuat kimono tidur dan handuk untuk dua orang. Mereka harus ganti baju.
Rukia turun ke bawah, setelah mencuci muka. Dan sudah melihat beberapa pelanggan penginapan ini. rupanya selain penginapan, di bawah penginapan ini ada kedai makan juga. Sepertinya mereka tidak perlu repot mencari tempat makan lagi.
Pemilik penginapan itu bertanya pada Rukia apa mau sarapan. Rukia hanya bertanya apa ada tempat untuk membeli baju baru di sekitar sini. Untungnya, seorang gadis tinggi dengan rambut ungu pucat pendek itu mau menemani Rukia pergi ke sana.
Dia harus membeli beberapa baju untuk mereka nanti.
Setelah pergi agak lama, Rukia kembali dan mendapati Ichigo sudah berdiri di depan penginapan dengan tampang gelisah.
"Kau darimana Rukia?" tanya Ichigo panik setelah menemukan isterinya berlari dengan gembira menuju Ichigo.
"Membeli baju," Rukia menunjuk dua kantong besar di tangannya.
"Baju di sini murah loh! Walau kualitasnya tidak sebaik di Tokyo, tapi paling tidak kita punya baju ganti selama di sini," jelas Rukia bersemangat.
Ichigo mengambil dua kantong belanja itu dan menitipkannya pada Isane. Rukia bingung.
"Kita... mau kemana?" tanya Rukia ketika Ichigo menarik tangannya untuk berkeliling ke sekitar pantai.
"Menghabiskan waktu denganmu."
"Tapi aku belum mandi..."
"Kau tetap cantik meski belum mandi."
"Tch... kau menyebalkan!"
.
.
*KIN*
.
.
Setelah berkeliling cukup lama di sekitar pantai dan tempat penginapan itu, mereka juga sudah makan siang di sebuah tempat yang menarik. Ichigo begitu menikmati hari ini. Hari-hari yang sudah lama tidak dia lakukan bersama orang yang dia cintai.
Begitu tiba lagi di penginapan, hari sudah beranjak malam. Mereka memutuskan akan kembali dan makan malam di sana. Pemilik penginapan itu tampak menggoda mereka yang begitu mesra. Tentu saja, Rukia begitu menempel pada Ichigo. Sejak menikah, baru hari ini mereka persis pasangan suami isteri yang baru menikah. Rukia bahkan sanggup menebus apapun demi kebahagiaan ini.
Setelah makan malam di kedai itu dan ternyata makanannya sungguh enak―Rukia jadi penasaran apa resep makanan itu, mereka memutuskan untuk mandi dan segera tidur lagi.
Karena kamar mandinya ada di lantai dua dan di bawah, Ichigo memilih untuk pergi ke kamar mandi bawah dan Rukia di atas.
Rukia bahkan begitu lama menyadari, bahwa sekarang ini dia tidak sendirian lagi. Bahwa dia benar-benar sudah menjadi isteri orang lain. Karena beberapa waktu lalu, Ichigo masih belum begitu menganggapnya. Dan sekarang... semua itu sudah selesai. Segala usahanya selama ini terbayar sudah. Rukia memang tidak pernah menyesal dengan pilihannya. Mana mungkin menyesal. Tidak akan menyesal sama sekali.
"Kau tetap lama mandinya ya?" sindir Ichigo begitu Rukia membuka pintu kamarnya. Ternyata Ichigo sudah duduk di lantai kamarnya sambil menyalakan TV. Ichigo hanya mengenakan kaos lengan panjang biasa dan celana kaos panjang pula. Padahal itu hanya baju biasa. Tapi kenapa jika Ichigo yang pakai jadi terlihat...
Rukia memalingkan wajahnya secepat mungkin. Apa yang dia pikirkan tadi? Padahal Rukia juga memakai baju yang sama seperti Ichigo.
"Kau kenapa Rukia?" tanya Ichigo panik melihat isterinya yang aneh itu.
"Ti-tidak apa-apa."
Karena terlalu kaget dengan imajinasinya itu, Rukia bergerak terburu. Dia tidak sadar handuknya jatuh dan membuatnya tergelincir karena menginjak handuk basah di lantai kayu yang licin ini.
Rukia langsung panik dan bersiap akan terjerembab ke lantai itu. Pasti memalukan sekali dia!
BRUUK!
Rukia memejamkan matanya. Mungkin dahinya sudah benjol karena terjerembab begitu, pasti rasanya sakit―tidak sakit?
"Kau ini kenapa?"
Rukia terkejut mendengar suara itu. Rupanya, Ichigo sudah berada di bawah tubuhnya. Rukia sukses menindih tubuh bidang suaminya. Wajah mereka begitu dekat. Sangat dekat malah. Rukia tak menyangka dia bisa sedekat ini dengan suaminya. Selama pernikahan mereka... ketika Rukia berada sedekat ini dengan Ichigo... terakhir ketika Ichigo sedang mabuk dan...
"Rukia?"
Pelan. Sangat pelan, Rukia menunduk lebih dekat. Tangannya yang berada di atas dada Ichigo menekan dada suaminya begitu pelan. Ichigo tidak menghindar. Sambil menelan ludahnya dengan susah payah, Rukia memejamkan matanya, dan merasakan sensasi lembut di bibirnya. Masih belum ada respon apapun ketika Rukia melakukan ini. karena ini... pertama kalinya Rukia... mencium seseorang. Bibir mereka hanya menempel begitu lama. Tidak ada balasan apapun.
Merasa aneh, Rukia membuka matanya begitu cepat dan langsung melepaskan ciumannya itu.
"Ma-maafkan aku! Maaf aku... tidak bisa menahan diriku," kata Rukia panik, takut Ichigo salah paham padanya. Rukia bersiap menyingkir dari tubuh suaminya.
Tapi dengan cepat pula, Ichigo menarik Rukia lagi, membalik posisi mereka hingga Rukia dibawahnya. Ichigo menahan tubuhnya dengan kedua sikunya agar tidak menimpa Rukia langsung. Rukia langsung berubah kaku.
"I-Ichi... go?"
"Kenapa harus menahan diri?"
Sekarang dia ada di dunia mana sih? Kenapa... rasanya ada yang... aneh?
"Kau takut?" tanya Ichigo.
Rukia menggeleng pelan.
"Aku pikir... ini mimpi. Aku pikir... ini tidak pernah jadi kenyataan. Dan aku pikir―"
"Kita buktikan apa ini mimpi atau... kenyataan."
Ichigo menyeringai lebar lalu menekan bibirnya dengan begitu lembut ke bibir Rukia. Melumatnya begitu pelan. Rukia membalas lumatan pelan itu dengan gerakan yang semakin cepat. Lidahnya mencoba menyusup masuk ke dalam mulut Ichigo. kini lidah mereka saling berpagutan. Rukia sempat mengerang ketika Ichigo semakin menindih tubuhnya hingga dada mereka saling bertemu.
Desahan tak bisa dihentikan Rukia ketika suaminya begitu giat menyusup ke dalam mulutnya dan menciumnya begitu panas dan mesra. Rukia tak berani bertanya lebih jauh lagi. Apa ini suaminya? Apa ini Ichigo? Apa ini Cuma mimpi?
Tangan Rukia bergerak melepas kaos Ichigo. tanpa membuang waktu lagi, Ichigo melepas kaosnya hingga dirinya sudah bertelanjang dada dan membuat Rukia semakin meneguk ludahnya. Dia tak menyangka tubuh suaminya bisa begini seksi.
Ichigo menarik Rukia agar isterinya itu bisa duduk di pangkuannya. Rukia mengelus bahu dan leher Ichigo ketika ciuman mereka semakin menjadi. Kulit kasar suaminya begitu terasa ketika Rukia memijat leher Ichigo agar semakin rileks padanya. Tiba-tiba, Ichigo menarik kaos Rukia juga ke atas tubuhnya. Kini, sang isteri hanya berbalutkan bra di tubuh atasnya. Rukia menggigit bibirnya ketika Ichigo menjilat lekuk lehernya. Jilatan itu semakin ganas ketika gigi Ichigo ikut berpartisipas di sana.
Tubuh Rukia yang duduk di pangkuan suaminya ini mendadak gemetar. Sekali lagi, setelah menatap Rukia begitu lama dengan pandangan seolah, Ichigo begitu mencintainya, tangan besar itu bergerak ke belakang punggung Rukia dan melepas bra isterinya itu.
"Ahh... ahh..."
Desah Rukia parau ketika tangan Ichigo memijat pelan dada mungilnya.
Dan entah bagaimana caranya, semuanya berlalu begitu cepat. Kini, keduanya tak mengenakan pakaian apapun lagi untuk menutupi tubuh mereka. Tubuh mereka seutuhnya sudah menyatu tanpa batas. Keringat bercucuran di tiap jengkal tubuh mereka. Rukia masih melingkarkan tangannya di leher Ichigo mencoba menikmati gerakan licin di bawahnya. Ichigo terus mengangkat dan mendorong pinggulnya dengan kecepatan tertentu. Rasanya... sia-sia juga mandi tadi.
"I-Ichi―ngghh... hhh―gohh!" desah Rukia saat suaminya begitu intens mengulum dadanya. Tangan Ichigo masih menggerakan pinggulnya begitu cepat.
"Ichi... Ichi..." panggil Rukia susah payah dengan disertai desahannya.
Ichigo mengangkat wajahnya. Kaki Rukia semakin erat melingkar di pinggul suaminya itu.
"P-panggil... panggil namaku..."
Wajah Rukia sudah sangat memerah layaknya kepiting yang kelewat masak. Mata ungu kelabunya tampak begitu memohon pada Ichigo.
Yah... walau tidak berani, Rukia ingin memastikan kalau ini benar bukan mimpi.
"Bisa... panggil namaku?" mohon Rukia lagi.
Ichigo mencium bibir isterinya sekilas. Mengeratkan pelukannya di pinggang kecil isteri mungilnya ini.
"Rukia..."
Yah. Rukia sudah yakin ini bukan mimpi.
"Lagi..." pinta Rukia.
"Rukia..."
Begitu indah suara suaminya memanggil namanya. Rukia terus meminta Ichigo memanggil namanya sampai klimaks menghampiri mereka berdua. Milik Ichigo membanjiri seluruh rahim dirinya. Perutnya begitu terasa hangat oleh milik Ichigo. berkali-kali klimaks itu datang dan Rukia tetap membiarkan semuanya ditampung oleh rahim di perutnya. Dia tidak ingin melepaskan Ichigo. Tidak.
Dengan ini... Rukia sudah merasa menjadi wanita paling bahagia di hidupnya.
Dicintai suaminya.
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Holaaaa minna... akhirnya chap depan adalah chap terakhir Last Rose! seneng deh akhirnya bisa tamat juga fic ini hihihihi... jadi keputusan buat IchiRuki ada di chap depan. hehehe soal Byakuya yang bakal balik lagi jemput Ruki itu beneran loh heheheh
mungkin ada kata-kata yang familiar di chap ini yaa... soalnya emang beberapa saya nyontek sih hihihhi... gak kreatip yaa? sebenernya sii saya cuma mau nyesuaiin kata-kata sama keadaannya aja hehehe...
saya balas review dulu hehe...
lolaDony : makasih udah review senpai... hehehe namanya juga perjuangan, makanya rada lama hehehe, tema fullhouse? saya kira Last Rose ini temanya gitu... gak kerasa ya?
corvusraven : makasih udah review senpai... hepi end atau sad end masih ditentuin chap depan hehehehe review lagi yaaa
Yukina Itou Sephiienna Kitami : makasih udah review senpai... hehehe usul yang bagus. ntar dipertimbangin... hehehe wah masih chap depan deh pertimbangan mereka hepi end atau gak heheh
mkys : makasih udah review senpai... wah... emang kejam sih kalo Ichi yang mati... hikss...
ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai... gak papa saya suka review yang panjang hehehe, gitu yaa? bukan masalah sama fic yang baru sih, sebenernya emang begitu saya bisanya. makanya rada aneh kemarin heheh, kalo soal penjelasan detil, rasanya sih saya emang mengurangi ya kemarin? hehehe kalo Senna, dia mungkin udah capek sendiri kali hih kan capek juga ngejerin orang, orangnya gak mau. jadi sebenernya saya sih mempermudah mereka aja biar gak timbul banyak konflik lagi.
Chadeschan : makasih udah review senpai... gak papa kok, saya suka review yang panjang... aihh bener yaa semuanya udah kepake hihihii... Senna? wah perhatian juga yaa sama Senna. kita liat chap depan yaa... hihhihih
Nyia : makasih udah review senpai... heheh kita liat chap depan yaa... hihhih
Tania : makasih udah review senpai... gak papa kok telat hehehe nanti kita liat chap depan yaa... hihihi
shetlasraruki : makasih udah review senpai... makasih semangatnya hehehe iyaa nanti kita liat chap depannya hehehe
Voidy : makasih udah review neechan... hmm kayaknya beneran sibuk si neechan ini hihihii saya berusaha buat masukin usul neechan yang waktu itu, aneh gak neechan? emang rada klise lagi sih hihihihi
Nakamura Chiaki : makasih udah review senpai... panggil Kin aja gak papa. aiih mana ada review yang saya anggap sampah kok, kecuali reviewnya emang gak masuk akal... hihiihi gimana dengan chap ini? mereka udah cukup kan begonya?
Kim Na Na : makasih udah review senpai... iyaa ini udah update hehehe makasih...
Mey Hanazaki : makasih udah review mey... iyaa ini udah chapnya... hehehe gimana?
d3rin : makasih udah review Rin... aduuh gimana yaa... sebenernya jujur saya suka loh sad ending hhhihihi,,, ntar ya nasib mereka masih ada di chap depan heheheh
Shirayuki Umi : makasih udah review senpai... heheh iyaa soalnya mereka kan emang dari awal gak saling cinta, makanya gak dapet feelnya. kalo biasa saya bikin kan mereka udah saling cinta ihihihi mungkin karena itu yaa feel mereka gak kerasa di sini.
achika yue : makasih udah review senpai... ahh iyaa ini udah update kok hehehe nanti kita liat chap depan yaa hehehe
Zaoldyeck13 : makasih udah review senpai... heeheh iyaa... saya udah usahain heheheh
Piyocco : makasih udah review Piyocco... ehhe saya suka loh skip time yang lama. kayak 10 tahun gitu hihihihi nanti liat chap depan yaa hehhe
Naruzhea AiChi : makasih udah review Eva... belum... chap depan baru finalnya heheheh...
Himetarou Ai : makasih udah review senpai... ehehh iyaa chap depan tamat... only one princess? aihh saya belum ada feel ngelanjutin fic itu... nanti yaa kalo saya mood heheh masih konsen sama fic lain sih hihihi Kin dong kok senpai?
Yukio Hisa : makasih udah review Yuki... eheheh iyaa Ruki emang selalu mewek di sini... kasian juga yaa tapi saya sih suka liat orang depresi hihihih...
Aimi Hikari : makasih udah review senpai... iyaa chap depan udah terakhir kok hehheh
meyrin kyuchan : makasih udah review senpai... ini deh tindakan Ichi hehehe chap depan udah terakhir soalnya hehehe
Suzuhara yamami : makasih udah review Zuha... ehehehe saya suka sad ending sih hihihi, Ichi galaunya kurang? hmm saya sih mau aja dilebihkan. tapi kalo cowok galau... bukannya agak lebai yaa? hihiihih
Chunnizm : makasih udah review senpai... ini udah dilanjut kok hehehe...
Seo Shin Young : makasih udah review Seo... iyaa ini udah ada kan hehhe? chap depan terakhir si heheheh...
Fuuchi : makasih udah review senpai... salam kenal juga hehehe heheh gak ada lagi deh bagian Ichi cemburu, soalnya kasian kalo mereka galau terus hihhih...
blingblingjh : makasih udah review senpai... heheh saya suka ada yang nangis di fic saya hehehe, iyaa ini udah update...
Yuzuka schiffer : makasih udah review senpai... iyaa ini udah lanjut kok hehhe... makasih yaa
ELLE HANA : makasih udah review senpai... wah pada pengen Ichi yang mati yaa? kasian... makasih semangatnya ini udah update lagi hihihi...
Wakamiya Hikaru : makasih udah review Hikaru... chap depan kok terakhir hihiih... iyaa Byakuya emang sayang ama Ruki makanya gak mau Rukia nangis terus gara-gara Ichi hihihi
Mayu-chan : makasih udah review senpai... gak papa hehehe iyaa chap depan udah terakhir kok makasih yaa heheheh
makasih banyak yang udah berpartisipasi sama semua fic saya yaa hihihih oh ya, karena sekarang FFN udah gatel banget, banyak banget sih yang berubah, jadi kalo reviewnya gak login, tolong pake namanya yaa di akhir review, biar saya tahu dari siapa hihihihi
jadi... ada yang masih berharap fic ini lanjut? atau saya discontinue aja langsung?
Jaa Nee!
