Hola Minna. Gaktahu kenapa saya pengen ada sekuelnya gini ya?
SEKUEL FROM 'PRICKLY ROSE'
DISCLAIMER : TITE KUBO.
WARNING : OOC, AU, GAJE, MISSTYPO (maaf kalau ada kekurangan pengetikan)
RATE : M (for safe)
ATTENTION : Fic ini adalah fiksi belaka, jika ada kesamaan atau kemiripan situasi dan cerita dengan fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun itu tidak disengaja.
.
.
.
Matahari sudah lama beranjak dari singgasananya. Jendela kecil dari kamar penginapan ini perlahan mencuri masuk melalui celah-celahnya. Sesekali deburan ombak masih terdengar riuh seperti ombak itu berada dekat sekali dengan kamar penginapan ini. Rasanya, apa yang terjadi semalam sungguh adalah mimpi. Mimpi yang sangat indah. Mimpi yang membuat seseorang begitu takut membuka matanya.
Rukia masih setia memandangi wajah tidur sang suami tercinta. Wajahnya yang tampan dengan kening berkerut yang begitu banyak. Rukia sudah bangun sejam yang lalu. Sedangkan, sang suami masih begitu setia di dalam mimpinya. Entah kenapa, Rukia terlalu takut untuk memejamkan mata. Dia takut... seandainya apa yang dia alami adalah mimpi saja. Dan ketika dia terbangun dari mimpi itu, semuanya akan kembali seperti semula.
Jari kurus Rukia mengukir indah lekuk wajah tampan suaminya ini. Rukia masih setia berbaring tertelungkup di atas dada sang suami. Wajah mungil Rukia masih mengawasi begitu intens wajah suaminya. Takut kalau-kalau Ichigo tidak akan ada di sampingnya. Mereka sudah berpakaian lengkap. Cuaca dingin sekali malam itu. Tapi berkat apa yang mereka lakukan semalam, tubuh mereka tak begitu merasakan dingin. Tapi Ichigo memaksa Rukia memakai bajunya lagi supaya dia tak terlalu kedinginan. Maklum, sekarang ini memang sedang puncaknya musim dingin.
Rukia terkejut sebentar. Tubuh Ichigo dibawahnya menggeliat sedikit. Rukia masih diam menunggu Ichigo. Tak berapa lama, pemilik rambut orange menyala ini mengerjap matanya pelan. Lalu menemukan isteri mungilnya masih berbaring tertelungkup di atas dadanya. Wajah mereka begitu dekat.
"Pagi..." sapa Rukia dengan senyum lebarnya.
Ichigo tersenyum tipis. Merangkul pinggang isterinya yang berada di atas tubuhnya. Memejamkan mata sejenak.
"Pagi. Kapan kau bangun?" tanya Ichigo dengan suara seraknya.
"Satu jam yang lalu."
"Dan kau masih di sini?"
"Memang... aku tidak boleh melihat wajah suamiku sendiri?" rengek Rukia.
Ichigo mengelus pipi mulus dan putih wanita cantik ini. Rukia tersenyum semakin lebar saat Ichigo memperlakukannya begitu lembut. Rukia masih tak percaya bahwa dia adalah suaminya yang selama ini dia perjuangkan begitu keras. Rukia tak menyesal dengan apa yang terjadi padanya di awal. Karena selama ini, perjuangannya sudah dibayar dengan begitu indah.
"Lihatlah sepuasmu," kata Ichigo pelan dengan senyum tipisnya.
Rukia tersenyum lebar. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajah tampan suaminya. Semakin dekat hingga tak ada jarak lagi. Tak lama kemudian bibir mungilnya sudah menyentuh bibir tipis suaminya. Inilah yang ingin dia lakukan setiap pagi bersama suami tercinta. Dulu, Rukia juga biasa melakukannya ketika Ichigo akan berangkat kerja. Tapi, Rukia selalu menahan diri untuk tidak begitu intens melakukannya. Dia takut... Ichigo akan menolak. Tapi sejauh ini, setiap kali Rukia menciumnya, Ichigo belum pernah menolaknya.
Menyadari hal itu, Ichigo memejamkan matanya. Menekan pelan belakang leher Rukia dan ikut merasakan bibir mungil itu bergerak pelan di atas bibir tipisnya. Sesekali Rukia akan diam saja, menempelkan bibirnya begitu lama, kemudian bergerak lagi melakukan pagutan yang hangat. Hingga akhirnya, Rukia tak sanggup lagi menahan nafasnya. Dengan sangat terpaksa, Rukia menjauhkan bibirnya setelah nafasnya tersengal di pagi begini. Tapi kemudian, Rukia mengecup sekilas bibir menawan itu.
"Kau jadi berani sekarang ya?" goda Ichigo.
"Tidak. Aku... memang sudah lama ingin melakukan itu setiap pagi dengan suamiku. Karena dulu... kita belum begitu... makanya aku..."
Ichigo mengeratkan pelukannya di pinggang Rukia. Membawa isteri mungilnya itu semakin dekat.
"Kalau begitu, kau bisa melakukannya setiap pagi sekarang."
Rukia menyandarkan kepalanya di dada Ichigo. Merasakan detak jantung suaminya yang berdetak begitu berirama. Rukia tak butuh apapun. Asal ada Ichigo. Dia juga rela tidak kembali ke Tokyo lagi. Asal... Ichigo di sisinya. Karena akhirnya, setelah berbagai perjalanan waktu yang mereka tempuh, akhirnya mereka bisa sampai di sini. Rukia... tidak rela jika semua ini harus berakhir ketika dia kembali ke Tokyo. Dimana kakaknya akan kembali melakukan sesuatu agar mereka berpisah.
"Ichigo... aku takut..." lirih Rukia masih meletakkan kepalanya di dada Ichigo.
"Kenapa?"
"Aku... takut... akan ada yang memisahkan kita lagi. Aku... tidak mau―"
"Sst... tidak ada Rukia. Tidak akan ada lagi yang memisahkan kita. Kau... tenang saja."
Rukia mengangguk pelan. Rukia sangat berharap, keajaiban datang hingga kakaknya tidak lagi meragukan cinta mereka. Hingga kakaknya menyerah memisahkan mereka, dan merestui mereka selamanya.
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo meminta Rukia untuk mandi duluan. Rukia menurut dan langsung bergerak untuk mandi. Mungkin karena masih lelah, Ichigo agak malas turun ke bawah untuk mandi. Padahal, Rukia sudah merengek agar mereka mandi bersama saja. Tapi Ichigo malah mencubit hidung kecil Rukia dan mengatakan kalau mereka tidak boleh sembarangan seperti itu. Mereka bukan ada di tempat yang sepi. Rukia hanya mengerucutkan bibirnya dan terpaksa mandi sendirian.
Setelah mandi, kini giliran Ichigo. Karena bosan, Rukia turun ke bawah penginapan ini.
Ternyata, suasana di kedai penginapan ini sedang ramai. Entah kenapa yang dilihat Rukia hanya ada dua pegawai di sini. Satu bibi pemilik penginapan dan satu lagi gadis tinggi berambut ungu pucat itu. Padahal sedang ramai.
Rukia masih memperhatikan keadaan kedai di bawah penginapan ini. semua orang berdatangan entah dari mana. Kebanyakan adalah pria-pria paruh baya yang berpenampilan seperti nelayan. Karena begitu takjub, Rukia sampai mematung di anak tangga itu. Dia belum pernah melihat tempat yang begini ramai.
"Kau sedang apa?"
Rukia menoleh dan mendapati Ichigo sudah berdiri di belakangnya. Suaminya baru saja selesai mandi. Wangi sabun menguar di tubuhnya.
"Ahh, tidak. ternyata... kedai Oba-chan ramai juga," ujar Rukia.
"Kita sarapan?" tawar Ichigo.
Rukia mengangguk setuju dan menggandeng lengan Ichigo turun ke bawah. Rukia menyapa bibi pemilik penginapan yang tampak repot itu.
"Ahh, selamat pagi, Kurosaki-san. Maaf kami sedang repot. Apa Anda ingin sarapan juga?" tanya Unohana sambil melayani beberapa makanan pelanggan itu.
"Selamat pagi juga. Anda... kelihatan repot. Apa Anda... hanya berdua saja?" tanya Rukia penasaran.
"Iya. Karena para nelayan sudah pulang dari melaut, jadi kedai ini agak ramai. Maaf kalau Anda lama menunggu, silahkan pesan apa yang Anda inginkan."
"Boleh kami membantu?" tanya Rukia cepat.
Ichigo menoleh begitu cepat ke arah isteri mungilnya ini. Rukia menatap Unohana dengan tatapan serius dan memohon.
"Ehh? T-tapi... anda pelanggan di sini, masa―"
"Tidak apa-apa, kami juga tidak ada pekerjaan apapun. Lebih baik kami membantu di sini. Bukan begitu?"
Ichigo tersenyum geli melihat aksi aneh wanita cantik ini. Putri bungsu dari bangsawan Kuchiki, mau membantu di kedai kecil seperti ini?
"Unohana Ba-chan, pesanan meja nomor lima bagaimana?"
Unohana menatap serba bingung. Isane sudah menunggunya untuk pesanan selanjutnya, sedangkan Rukia masih memohon penuh harap di depannya.
"B-baiklah. Maaf merepotkan Anda," ujar Unohana akhirnya. Dia tak punya pilihan sekarang. dia memang butuh pegawai tambahan di saat ramai begini. Seharusnya, ada beberapa pegawai honor yang datang, tapi karena cuaca pagi ini lumayan dingin, mungkin tidak ada yang mau datang.
Rukia terlonjak girang dan langsung turun ke dapur. Ichigo masih tersenyum geli. Tampaknya, Rukia begitu suka memasak. Dia langsung membantu Unohana untuk memasak beberapa pesanan. Sedangkan Ichigo sendiri ikut membantu menanyakan pesanan pelanggan di sana. Mungkin... ini adalah hal menyenangkan juga. Putri Kuchiki itu tahu apa yang bisa membuatnya tersenyum lebar.
.
.
*KIN*
.
.
Setelah jam sarapan pagi itu, akhirnya keadaan kedai kembali damai. Beberapa orang sudah mulai pergi. Rukia tampak tersenyum puas setiap kali pelanggan di kedai ini usai makan mengatakan kalau masakannya enak. Tentu saja, yang ikut memasak adalah Kuchiki Rukia atau... Kurosaki Rukia yang memang sangat pandai memasak.
Dengan tampang yang lumayan lelah, apalagi Ichigo yang ke sana kemari mengantar pesanan, akhirnya mereka bisa duduk di meja makan dan menerima bubur hangat dari Unohana.
"Terima kasih bantuannya. Berkat kalian kami tertolong. Sarapan pagi ini, tidak usah anda bayar," ujar Unohana setelah mengantarkan makanan pagi itu.
"Benarkah? Senangnya!" ujar Rukia girang.
"Kelihatannya, kalian sepasang pengantin baru ya? Begitu mesra sekali."
"Tentu saja. Kami memang pengantin baru!" kata Rukia antusias.
"Isterinya cantik dan pintar memasak. Anda... pasti bahagia memiliki isteri sebaik dia," kata Unohana pada Ichigo.
Rukia memerah dikatakan demikian.
"Terima kasih," balas Ichigo.
"Apa... anda bulan madu kemari?"
"Iya. Kami bulan madu."
Bulan madu. Ichigo menoleh ke arah Rukia. Yah, sejak mereka menikah, bulan madu belum pernah mereka jalani. Ichigo ingat betul bagaimana mimik Rukia yang menginginkan acara jalan-jalan sepasang suami isteri yang baru menikah itu. Karena alasan pekerjaan, Ichigo tidak mau berbulan madu dengan isterinya itu. Saat itu, Ichigo belum siap menerima Rukia seutuhnya. Dia masih bimbang. Dan sekarang... Ichigo baru bisa memutuskan segalanya dengan benar.
"Ichigo? Kau tidak makan?" tanya Rukia yang akhirnya sadar Ichigo memandanginya terlalu lama.
"Ahh, iya. Rukia... maafkan aku."
Rukia mengawasi wajah Ichigo dengan tatapan bertanya.
"Maafkan... kenapa?"
"Semuanya."
Semuanya. Semua penderitaan yang Rukia alami karena keegoisan Ichigo.
Rukia tersenyum lebar dan mengangguk setuju.
.
.
*KIN*
.
.
Sudah tiga minggu mereka berada di penginapan ini. Akhirnya, membantu kedai ini adalah rutinitas yang selalu Rukia dan Ichigo lakukan. Setiap malam mereka melakukan malam yang begitu romantis. Sedangkan, sebelum matahari terbenam di sore hari, Ichigo dan Rukia akan duduk di tepi pantai itu.
Karena, Rukia dan Ichigo selalu membantu di kedai itu, akhirnya, Unohana tidak enak juga. Dia memberikan diskon khusus untuk kamar mereka nantinya. Tentu saja Rukia dengan senang hati menerimanya. Ichigo lega bisa melihat wajah ceria wanita cantik ini. Dia lega bisa melihat begitu puas wajah cantik Rukia yang selalu tersenyum sekarang ini. Ichigo bersedia tinggal selamanya di tempat ini jika bisa melihat wajah ceria Rukia seperti ini. Karena, Ichigo tidak ingin melihat isterinya menangis lagi karena dirinya. Tidak ingin melihat wajah Rukia yang selalu bersedih seperti dulu.
Hari ini, Rukia menemani Isane untuk belanja bahan makanan untuk kedai. Sedangkan Unohana menunggu di penginapan.
Rukia sudah menarik Ichigo paksa, tapi sayang, Ichigo tidak mau.
Bukannya tidak mau menemani isterinya itu. Hanya saja...
"Permisi. Apa... aku boleh pinjam teleponnya?" tanya Ichigo pada Unohana saat itu.
"Silahkan. Pinjam saja," kata Unohana pula.
Ichigo... sudah lama tidak memberi kabar pada siapapun mengenai keberadaan mereka di sini. Setiap kali Ichigo berniat ingin membawa Rukia pulang ke Karakura maupun ke Tokyo, Rukia selalu menangis tidak mau. Kalau dia ke Karakura, Rukia takut kakaknya akan menemukannya di sana. Karena tidak tega, akhirnya Ichigo terus mengulur waktu. Rukia sudah merasa cukup bahagia di sini. Jadi dia tidak mau kembali lagi ke tempat dimana dia akan menangis lagi.
"Halo?" ujar suara di seberang sana. Ichigo agak lama untuk membalas sapaannya.
"Hei, aku sedang sibuk, kalau Cuma mau iseng saja, akan kumatikan!" katanya ketus.
"Renji," kata Ichigo akhirnya.
Agak lama suara di seberang telepon itu terdiam. Hingga akhirnya...
"Ichigo? ICHIGOO! Hei! Apa yang kau lakukan selama ini hah? Kemana kau membawa Rukia? Kenapa kau tidak ada kabar selama tiga minggu ini? Ponselmu tidak pernah kau angkat berapa kalipun aku menelpon sampai telingaku panas karena terlalu sering berusaha menelponmu! Aku bahkan nekat datang ke Karakura untuk mencarimu! Keluargamu khawatir setengah mati tahu! Mereka bahkan sampai ingin lapor polisi karena kau menghilang tanpa jejak! Untungnya aku yang baik hati ini bisa menenangkan mereka dan menunggu kabar darimu. Kalau sudah lewat satu bulan, aku benar-benar akan lapor polisi dan membuat berita orang hilang!" ceramah Renji. Ichigo bahkan sampai berdenging mendengar celotehan sahabatnya ini.
Setiap malam, Ichigo selalu memikirkan keadaan mereka berdua. Di tengah pelarian seperti ini, dia tidak ingin siapapun khawatir. Tapi, Rukia masih sangat takut untuk berhadapan langsung dengan kakaknya. Dia selalu menangis setiap kali Ichigo menyinggung soal ini.
"Hei? Kau masih di sana Labu?" panggil Renji.
"Ahh ya. Aku masih di sini. Tenang saja. Tidak perlu lapor polisi. Kami baik-baik saja."
"Walaupun begitu, berita kalian itu begitu heboh. Kau pergi begitu saja tanpa memberitahu siapapun. Bahkan keluargamu. Apa kau tidak memikirkan perasaan kami yang kau tinggalkan hah? Kau tidak memikirkan kami yang terus berburuk sangka selama kau menghilang ini? Dan kau... membawa Rukia serta! Bagaimana kami tidak panik?"
"Maafkan aku. Saat itu... situasinya... sungguh Renji. Aku saat itu, bingung harus memikirkan apa. Maafkan aku kalau kalian semua cemas karena kami."
"Kalau kau serius mau meminta maaf, sekarang kembali ke Tokyo. Kau harus bicara langsung dengan Presdir. Seminggu setelah kalian menghilang, dia sudah kembali dari perjalanan bisnisnya. Dia bermaksud melaporkanmu kepada polisi karena membawa kabur adiknya itu. Tapi, aku memintanya tenang sampai menunggu kabar darimu. Kalau sampai satu bulan kau tidak memberi kabar, kami baru akan melaporkanmu pada polisi."
Ichigo terdiam. Ternyata... Byakuya masih sama.
"Ichigo. sebaiknya kau kembali. Kabur seperti ini sama sekali tidak menyelesaikan masalah apapun. Apa yang kau lakukan sebenarnya bersama Rukia saat ini?"
"Renji... aku... sudah memutuskan akan menerima Rukia," jawab Ichigo pelan.
"Apa? Kau... menerima Rukia?"
"Ya. Aku... sudah berjanji akan membahagiakan dan mencintainya."
"Itu bagus. Akhirnya kau bisa jadi orang normal juga. Aku tidak akan kaget dengan usaha gadis mungil itu. Tapi tetap saja kau harus kembali. Aku tidak akan menyalahkan tindakanmu. Tapi... setidaknya kau harus menghadapi Presdir dengan jantan. Kalau kau serius mau membahagiakan Rukia, kau harus membahagiakannya seutuhnya. Kau tahu sendiri kan? Presdir hanya punya Rukia sebagai keluarganya. Apa kau tidak memikirkan perasaan Presdir saat kau membawa adiknya begitu saja tanpa memberitahunya? Pikirkan situasi itu untukmu. Bagaimana jika salah satu adikmu dibawa kabur oleh orang lain tanpa pemberitahuan sedikitpun?"
Ichigo terdiam agak lama mendengar kata-kata Renji. Dia benar. Byakuya dan dirinya ada di posisi yang sama. Sama-sama seorang kakak. Jelas saja tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada adiknya.
"Mau kembali atau tidak, itu pilihanmu. Tapi sebagai sahabat, aku menginginkan yang terbaik. Tolong... pertimbangkan kata-kataku. Kalau kau kabur dengan niat untuk menenangkan diri, kurasa sudah cukup waktunya untukmu menenangkan diri bukan? Hadapi kenyataan Ichigo. Kalau kau memang sudah berubah dan ingin membahagiakan Rukia, bahagiakan dia dengan utuh. Kalau kau serius dengan Rukia, mintalah ijin langsung pada Presdir agar kau tidak dicap sebagai pria brengsek yang melarikan adik orang lain sekalipun dia isterimu."
"Aku... akan memikirkannya."
"Aku tahu kau bukan orang yang gegabah. Setelah kau kembali nanti, aku akan memberikanmu kejutan hebat!"
"Apa itu?" kekeh Ichigo.
"Hei, apa ini seru kalau kuberitahu sekarang? Sekalian sebagai penyemangatmu untuk kembali. Aku tunggu di Tokyo, Labu!"
Itu benar. Seharusnya dia bisa menghadapi Byakuya dengan jantan. Kalau dia ingin Rukia, maka dia harus meminta dengan sungguh-sungguh pada Byakuya. Untuk membuktikan kalau dia tidak akan main-main kali ini.
.
.
*KIN*
.
.
Setelah makan malam itu, Ichigo mengajak Rukia masuk ke kamarnya untuk bicara. Rukia menurut dan menunggu Ichigo yang duduk bersila di depannya ini. Rukia duduk sambil melipat kakinya.
"Rukia..."
"Apa?" tanya Rukia antusias.
Ichigo sebenarnya tidak ingin Rukia menangis lagi. Tapi...
"Bagaimana... kalau kita pulang sekarang?"
Seketika mimik ceria yang Rukia pasang sedari tadi meredup dan berubah gugup. Rukia mulai gemetar dan membuang wajahnya. Tidak mau memandang Ichigo.
"B-bukankah... sudah kubilang kalau aku... tidak mau?" lirih Rukia.
"Rukia..."
"Aku sudah bahagia di sini denganmu Ichigo! Kita tidak perlu kembali dimana kita akan tersiksa lagi! Apa kau tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita kalau kita kembali ke sana?" jelas Rukia, mulai histeris.
"Rukia..."
"Tidak mau! Aku tidak mau!" jerit Rukia sambil menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya. Selalu begini. Setiap kali Ichigo mengajaknya pulang, selalu begini.
Ichigo menarik salah satu tangan Rukia yang begitu kuat menutup telinganya. Ichigo menarik pelan isterinya itu ke dalam pelukannya. Rukia masih menangis di dada Ichigo.
"Tidak mau... aku... tidak mau pulang..." lirih Rukia.
"Rukia... apa kau... tidak mencintai Kakakmu?"
"Aku mencintainya Ichigo! Sangat mencintainya... tapi... aku tidak mau Nii-sama memisahkan kita lagi."
"Kalau kau mencintainya, kau tidak ingin dia terluka dan menderita bukan?"
Rukia terdiam di pelukan Ichigo. Tapi masih menangis juga.
"Kalau kau mencintainya, kau tidak ingin dia cemas dan khawatir padamu kan? Apa yang kakakmu lakukan, semata-mata karena dia juga menyayangimu seperti kau menyayanginya. Apa kau... tidak kasihan pada kakakmu kalau dia kehilanganmu? Kakakmu... pasti mengerti Rukia."
"Nii-sama tidak mengerti. Kalau dia mengerti, dia pasti akan mengabulkan permintaanku dan tidak membawaku paksa ke Eropa. Nii-sama juga pasti tidak akan memisahkanku denganmu."
"Apa yang Byakuya lakukan padamu adalah hal wajar Rukia. Dia takut aku menyakitimu. Makanya dia melakukan hal itu. Tapi... sungguh. Jika kau mau kembali, aku akan bicara baik-baik pada Byakuya, agar kita... bisa bersama."
"Bagaimana... kalau Nii-sama menolak?"
"Kita akan pikirkan caranya. Kita tidak bisa selamanya menghindar Rukia. Bagaimana, kalau kita tetap tidak kembali, kakakmu akan memanggil polisi? Dan semakin menyulitkan kita?"
Rukia semakin takut dan mengeratkan pelukannya pada Ichigo.
"Nii-sama tidak boleh lakukan itu!"
"Maka dari itu. Kita harus... menghadapinya. Suatu saat nanti, kita pasti akan menghadapi kakakmu untuk meminta restu lagi. Jadi... ayo kita kembali."
Rukia agak lama mempertimbangkan keputusan itu. Tentu saja itu adalah keputusan yang amat sulit untuknya. Sangat... sulit.
"Tapi... kau tidak akan meninggalkanku lagi kan? Kau... tidak akan membiarkan Nii-sama... mengurungku lagi kan?"
"Tidak. Itu... tidak akan terjadi."
"Kau janji?"
Ichigo mengangguk dan mengelus puncak kepala Rukia.
Lama sekali mereka diam sambil berpelukan itu. Ichigo bahkan tidak tahu, sebenarnya Rukia sudah tidur atau belum.
"Baiklah... kita... pulang," kata Rukia akhirnya. Dengan sangat terpaksa.
.
.
*KIN*
.
.
Pagi ini mereka berpamitan dengan Unohana dan Isane. Dua wanita itu nampak begitu kehilangan Rukia yang akhirnya memutuskan akan kembali pulang. Suasana perpisahan itu sedikit mengharukan. Walau mereka hanya sebentar, tapi sepertinya mereka sudah bersama cukup lama.
Rukia masih mencoba membujuk Ichigo untuk tidak kembali.
Karena begitu takut memikirkan hal itu, Rukia sampai mual dan pusing. Di pertengahan perjalanan, bahkan mereka berhenti hingga tiga kali karena Rukia terus merasa mual dan pusing. Ichigo agak khawatir pada isterinya itu. Karena mualnya, Rukia bahkan sampai berkeringat dingin. Ada pikiran untuk kembali saja ke penginapan itu sampai keadaan Rukia membaik. Tapi mereka sudah berada di pertengahan jalan.
Wajah Rukia bahkan sampai begitu pucat karena terus muntah. Ichigo pikir itu karena mabuk perjalanan. Tapi bukan. Walau sudah minum obat anti mabuk, Rukia tetap muntah hingga obat-obatan itu keluar kembali. Tentu saja Ichigo cemas.
"Rukia? Kau baik-baik saja?" tanya Ichigo khawatir setelah mereka berhenti untuk kesekian kalinya. Kalau begini, mereka bisa tiba nanti malam.
Rukia mengangguk pelan dan mulai memasukkan makanan lagi ke dalam mulutnya untuk kembali meminum obat.
Ichigo tak tega juga melihat Rukia yang begitu. Apa mungkin karena Rukia masih gugup dan takut bertemu kakaknya makanya dia sampai begitu? Berkali-kali Rukia berkata pada Ichigo kalau dia takut sekali bertemu kakaknya.
"Ayo... kita lanjutkan," ujar Rukia setelah merasa lebih baik.
"Kau... yakin?"
"Ya. Aku... ingin ini cepat selesai Ichigo."
Mereka sudah memutuskan tidak akan melarikan diri lagi.
Ichigo kembali melajukan mobilnya. Sekali lagi Rukia harus muntah. Badan Rukia sudah terasa lemas sekali karena terus mengeluarkan isi perutnya. Akhirnya, Rukia menyerah minum obat dan berusaha untuk tidur saja.
Ichigo sesegera mungkin melajukan mobilnya agar cepat sampai.
Akhirnya mereka tiba agak larut malam. Karena Rukia berusaha tidur, dia tidak merasa pusing lagi. Karena segera mungkin ingin menyelesaikan masalah mereka, Rukia langsung meminta Ichigo ke Kuchiki Mansion. Ichigo sudah berusaha membujuk Rukia untuk istirahat setelah mereka akhirnya tiba di Tokyo.
"Kita masuk?" tanya Ichigo setelah mobilnya tepat berada di depan Kuchiki Mansion. Ichigo menggenggam tangan Rukia yang mulai berkeringat dingin lagi.
"Aku takut," bisik Rukia.
"Kau bersamaku."
Rukia sudah lama tidak melihat mansion-nya lagi. Rasanya lemas juga karena muntah sedari tadi. Apa mungkin karena dia terlalu takut hingga Rukia mabuk perjalanan?
Sesaat setelah mereka memasuki mansion, beberapa penjaga mansion tampak terkejut melihat Rukia dan Ichigo, lalu mulai sibuk memanggil pemilik mansion ini. Rukia berdiri di belakang Ichigo dengan mencengkeram erat jaket belakang Ichigo.
"Ichigo..." lirih Rukia.
"Tenanglah. Ada aku," kata Ichigo menenangkan.
Aura ketegangan kembali menyeruak masuk ketika pemilik mansion itu berdiri dengan angkuh di depan pintu utama mansion. Kaki Rukia berubah menjadi jelly saking gugupnya. Tapi dia berusaha untuk kuat kembali. Ichigo menggenggam tangan Rukia yang masih gemetar dan gugup itu. Mencoba memberikan kekuatan padanya.
"Rukia?" kata Byakuya tak percaya begitu melihat adiknya akhirnya pulang setelah menghilang tanpa kabar selama tiga minggu ini.
Byakuya sudah sangat khawatir walau tidak ditunjukkan. Maunya dia lapor polisi saat tahu Rukia menghilang itu. Tapi dia tidak mau adiknya semakin membencinya jika dia memanggil polisi. Jika pria brengsek ini tidak memberi kabar juga sampai batas waktu yang sanggup Byakuya tempuh, maka tidak ada ampun lagi.
"Kalian semua, bawa masuk Nona Rukia!" perintah Byakuya pada beberapa penjaga mansion itu.
"Byakuya. Tolong dengarkan kami dulu," sela Ichigo sambil memasang sikap melindungi pada Rukia yang bersiap akan ditarik oleh penjaga mansion itu. Rukia semakin menenggelamkan tubuhnya di balik punggung besar Ichigo. Menempel pada punggung Ichigo begitu dekat dan mencengkeram jaket Ichigo semakin erat.
"Aku tidak butuh penjelasan dari pria brengsek sepertimu yang berani membawa lari adikku!" kata Byakuya angkuh.
"Rukia isteriku, Byakuya. Aku berhak membawanya kemanapun yang aku inginkan."
"Apa kau lupa kalau kau bukan lagi suami Rukia? Kalian akan segera bercerai!"
"Aku tidak mau bercerai Nii-sama!" sela Rukia.
"Aku melakukan semua ini untukmu Rukia. Dengarkan kata-kataku dan kembali masuk ke mansion sekarang. Tinggalkan pria itu!"
"Byakuya,"
"Nii-sama tidak mengerti!" jerit Rukia lagi.
"Kau akan menderita kalau tetap bersama pria itu!" tekan Byakuya.
"Ichigo sudah janji akan membahagiakanku! Ichigo sudah mencintaiku! Kumohon... biarkan kami bahagia Nii-sama. Aku akan menuruti semua permintaan Nii-sama asal Nii-sama mau mengijinkanku tinggal bersama Ichigo. Kumohon..." pinta Rukia dengan pilu.
Byakuya sedikit terdiam mendengar kata-kata adiknya itu.
"Kalau bukan... kalau bukan karena Ichigo yang memaksa pulang, aku tidak mau pulang lagi kemari. Aku juga... tidak mau bertemu Nii-sama kalau Nii-sama masih melarangku bersama Ichigo. Selama tiga minggu ini, aku sudah cukup bahagia bersama Ichigo. Apa Nii-sama... tega, membiarkanku menderita tanpa Ichigo?" bujuk Rukia.
"Byakuya, aku sungguh serius kali ini. kumohon, biarkan kami bersama sekali lagi. Aku janji akan membahagiakan Rukia. Aku tahu yang kulakukan waktu itu salah. Aku sudah berusaha untuk memperbaiki kesalahanku. Tolong... ijinkan kami bersama," pinta Ichigo bersungguh-sungguh.
Byakuya tetap diam dengan mimik angkuhnya dan menatap sinis pada Ichigo.
"Nii-sama... tolong, tolong―"
Ichigo terkejut mendengar suara jatuh yang begitu dekat. Begitu menoleh ke belakang, ternyata Rukia sudah ditahan oleh beberapa penjaga agar tidak terjatuh langsung ke tanah. Wajah Rukia semakin pucat dan tubuhnya mendingin.
Kontan saja Ichigo memekik memanggil nama isterinya ketika Rukia jatuh pingsan.
.
.
*KIN*
.
.
Byakuya masih setia duduk di sisi tempat tidur adiknya. Kamar ini sudah terlalu lama kosong. Setelah penjelasan dokter keluarganya tadi, Byakuya semakin mengerti kalau dua orang ini memang sangat serius.
Dokter bahkan mengatakan akan sangat berbahaya bagi Rukia jika dia terus mengalami tekanan seperti ini. Selain karena Rukia yang lemah karena kehabisan tenaga setelah muntah berkali-kali, syok dan tekanan seperti ini sangat mempengaruhinya. Byakuya jadi merasa bersalah melihat kondisi adiknya yang jadi begini lemah.
Mata indah Rukia mengerjap pelan. Tapi kemudian membelalak lebar setelah menyadari tempatnya sekarang.
"Nii-sama!" kata Rukia kaget. Karena terlalu mendadak, kepala Rukia jadi pusing dan memegangi kepalanya dengan erat.
"Rukia? Kau baik-baik saja?"
"Ichigo... apa... Nii-sama mengusir Ichigo? Apa Nii-sama, mengusir Ichigo dan mau mengurungku lagi?" kata Rukia histeris setelah tidak melihat Ichigo di sekitarnya.
"Rukia..."
"Kenapa Nii-sama melakukan ini! Kenapa... Nii-sama jadi begini jahat padaku? Kenapa... Nii-sama memisahkanku dengan Ichigo lagi?" isak Rukia.
"Kurosaki... tidak pergi kemanapun. Dia masih di sini."
Rukia terkejut mendengar kata-kata kakaknya itu. Mungkinkah...
"Ichigo... di sini?" tanya Rukia penasaran.
"Ya. Dia masih di sini. Dia sedang bicara dengan dokter di luar. Sebagai suami yang harus bertanggungjawab, dia perlu mendengar semua nasihat dokter untuk menjaga kesehatanmu... dan bayimu."
Bayi?
"Nii-sama?"
"Kau hampir mengalami masalah pada kandunganmu. Untungnya cepat ditangani hingga tidak terjadi masalah serius. Setelah ini kau harus banyak istirahat dan makan yang bergizi untuk menjaga bayimu agar tetap kuat."
"Apa yang... Nii-sama..."
"Kau bahagia?" tanya Byakuya serius. Rukia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di sini. Kenapa kakaknya jadi...
"Kau bahagia bersama pria itu?" tanya Byakuya lagi.
"Ya. Aku bahagia bersama Ichigo. Sangat bahagia. Dan akan lebih bahagia, jika Nii-sama bisa menerima Ichigo juga. Kalau Nii-sama serius ingin aku bahagia... tolong... ijinkan kami bersama. Hanya ini yang kuinginkan seumur hidupku," pinta Rukia serius.
"Kalau kau bahagia... aku tidak punya pilihan lain. Tapi... aku tetap akan melakukan yang terbaik untukmu, jika... pria itu menyakitimu lagi."
"Rukia?"
Rukia menoleh ke arah pintu masuk. Byakuya tidak menoleh sedikitpun ke belakang pintu masuk itu. Rukia tersenyum bahagia melihat suaminya berjalan pelan menuju kasurnya. Tapi masih menjaga jarak karena ada Byakuya di sana.
"Dengar. Selama Rukia hamil, dia tidak boleh tinggal di tempat lain. Rukia harus tinggal di sini. Terserah padamu setuju atau tidak. Yang jelas, kalau kalian ingin bersama, kalian harus tinggal di sini!" kata Byakuya angkuh. Bukan ditujukan untuk Rukia.
Rukia memeluk Byakuya dengan erat dan haru. Akhirnya... kakaknya menyerah juga.
Setelah adegan dramatis itu, akhirnya Byakuya meninggalkan kamar Rukia. Tapi kemudian memperingatkan Ichigo akan sesuatu yang tidak bisa Rukia dengar.
Ichigo tersenyum pada isterinya itu. Lalu segera menghampiri Rukia yang mengulurkan kedua tangannya pada Ichigo, bermaksud ingin minta dipeluk. Rukia tak menyangka akan hal yang begini indahnya. Dia begitu takjub hingga tak berani bertanya lagi. Apa ini mimpi, atau... kenyataan.
"Ichigo... apa kau bahagia?" tanya Rukia penasaran pada cokelat madu suaminya.
"Bodoh. Untuk apa menanyakan hal itu?"
"Kau... bahagia tidak?" kejar Rukia lagi.
"Tentu saja bahagia. Sangat... bahagia," kata Ichigo sambil mengelus wajah isterinya.
"Berapa usianya?" tanya Rukia sambil mengelus perutnya itu. Dia tak menyangka di dalam perutnya akan ada hadiah terindah yang Tuhan berikan padanya sebentar lagi.
"Dua minggu."
Rukia menunduk memperhatikan perutnya itu. Selama ini dia tidak menyangka bahwa dia akhirnya akan jadi isteri yang sempurna untuk Ichigo. Dia juga tidak menyangka karena akhirnya bisa, memberikan apa yang diinginkan oleh semua orang pada pernikahan mereka. Tapi kemudian, mendadak wajah Rukia jadi murung.
"Kenapa?" tanya Ichigo yang menyadari ekspresi Rukia.
"Apa... Yukia akan bahagia... kalau aku... punya anak darimu?"
Ichigo menarik pelan Rukia dan memeluknya erat.
"Yukia... suka anak-anak. Jadi... dia pasti menyukainya."
"Benarkah?"
"Ya. Dia pasti... akan menyukai anak kita. Kau jangan khawatir lagi. Sekarang istirahatlah. Dokter bilang kau harus istirahat yang banyak karena kehamilan di minggu awal sangat rentan. Aku sudah berdiskusi dengan Byakuya karena dokter mengatakan kau tidak boleh tertekan dan stress. Jadi... jangan terlalu banyak berpikir lagi sekarang. Serahkan semuanya padaku."
Rukia mengangguk setuju.
"Ichigo? Kau ingin anak laki-laki atau perempuan?" tanya Rukia.
"Apa saja boleh..."
"Tidak, kau harus katakan yang mana!"
"Kenapa harus memilih? Yang mana saja yang diberikan harus kita syukuri Rukia. Karena itu adalah kado yang sangat mahal. Jadi, aku mau yang mana saja."
Tidak boleh. Tidak ada yang boleh memisahkan mereka lagi.
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo kembali masuk ke dalam kantor Kuchiki. Kali ini dia benar-benar harus bekerja langsung di bawah Byakuya. Bukan kembali menjadi GM. Karena ternyata, sejak dua minggu yang lalu jabatan itu sudah terisi. Memang agak mendadak tentang masalah ini. Tapi, karena perusahaan tengah mengalami masa serius, jadi Byakuya butuh tangan kanan yang bisa dipercaya. Awalnya, Ichigo agak menolak tawaran ini. Tapi, Byakuya menekannya dengan memberitahu kalau Ichigo punya tanggungjawab besar untuk membiayai hidup adik beserta calon keponakannya itu. Kalau Ichigo tidak bekerja, lebih baik, Rukia tinggal dengan Byakuya saja. Dan Ichigo disuruh mencari pekerjaan di luar negeri saja.
Tentu saja Ichigo terpaksa menurut agar Rukia tidak memikirkan masalah ini. Apalagi usia kandungan Rukia yang belum genap satu bulan itu. Bisa berbahaya kalau Rukia merasa stress seperti waktu itu. Ichigo tidak mau Rukia jatuh pingsan lagi saking tertekannya.
"Direktur? Kau... Direktur?" ujar Renji tak percaya ketika melihat plat nama di ruangan Direktur ini.
Sekali lagi, Renji harus kagum pada orang ini. Sudah mengundurkan diri, menghilang seenaknya, masih juga diberikan jabatan tinggi.
"Kau melihatku seakan-akan aku ini menjilat Byakuya agar mendapatkan jabatan ini," kata Ichigo cuek.
"Ya, sebenarnya aku memang berpikir begitu. Pantas saja kau mau bekerja lagi di sini!"
"Hei, kau pikir aku bersedia menerima ini? Kalau aku menolaknya, Byakuya akan terus menekanku. Bagaimana kalau Rukia mendengarnya? Dia bisa ikut stress!"
"Ahh ya, isterimu itu sudah hamil ya? Hebat sekali kau. Jadi itu rencanamu membawa kabur Rukia?" sindir Renji.
"Jangan mulai Renji! Aku juga tidak mau seperti itu. Byakuya melakukan ini agar aku pulang larut dan terus lembur supaya jauh dari Rukia. Apalagi kami sudah tinggal di rumah Byakuya! Benar-benar menyebalkan orang itu!"
"Khee! Tapi tampaknya Presdir masih menyayangimu! Lihat saja, kau diberi jabatan besar."
"Kupikir dia menyayangimu Renji. Karena akhirnya kau bisa jadi GM!"
"Karena Senna menolaknya dan memilih merecokiku setiap hari."
"Apa? Senna... merecokimu?"
Ichigo tahu benar wanita itu. Dia akan terus menempel pada orang yang dia inginkan. Kalau sampai Kuchiki Senna mau menempel pada Renji... itu artinya...
"Kalian... berkencan?"
"Apa? Tidak! Enak saja!" bantah Renji langsung.
"Jadi... kau orang yang sudah merubah wanita itu? Wah... kau hebat Renji!"
"Brengsek! Sudah kubilang tidak! Apa-apaan kau ini!"
"Hei, walaupun kau GM, tapi aku ini masih bos-mu. Sopan sedikit, anak buah!"
"Tch! Kau menyebalkan seperti biasa.
Ichigo terkekeh geli. Bukan ide buruk jika Renji dan Senna bisa menjalin hubungan serius.
.
.
*KIN*
.
.
Selain pekerjaan yang menumpuk, Ichigo dipusingkan oleh kehamilan Rukia ini. Dia memang tidak mengidam yang aneh-aneh. Hanya saja, gerakannya jadi lebih lincah dari biasanya. Rukia jadi sering memasak di rumah, membawakan makan siang untuknya dan Byakuya sendiri, walau ditemani oleh Kira. Membersihkan mansion besar itu, walau ditemani beberapa pelayan, berbelanja ke sana kemari, bahkan sehari bisa tiga mall yang dia datangi untuk mencari bahan memasak. Rukia juga tidak begitu memperhatikan penampilannya. Dia lebih ceria dan kasual sekarang. Ichigo tak mengerti tentang wanita hamil.
Kabar tentang Rukia hamil, sudah didengar oleh keluarga di Karakura. Kontan saja, ayahnya yang berlebihan itu menjerit haru di telepon. Ibunya juga senang akhirnya mereka baik-baik saja. Ichigo sudah menjelaskan tentang mereka yang menghilang waktu itu. Untungnya, keluarganya mengerti.
Perut Rukia lebih besar dari orang hamil kebanyakan. Padahal tubuhnya masih begitu mungil. Walau dia makan banyak, rasanya tubuh bagian lainnya, kecuali perutnya tidak begitu mengalami banyak perubahan berarti. Rukia bahkan tidak begitu keberatan dengan kehamilannya itu. Dia bahkan sangat senang jika perutnya bisa terus membesar. Karena Rukia, menyukai gerakan bayinya di dalam rahimnya itu.
Tak terasa, sembilan bulan sudah berlalu.
Saat ini, detik-detik menunggu kelahiran si kecil. Dokter sudah mengatakan kalau Rukia harus istirahat. Tapi wanita itu tidak mau diam sedetikpun di rumahnya. Ada-ada saja yang dia kerjakan.
"Rukia, kumohon, jangan lagi datang ke kantor," pinta Ichigo setelah Rukia merapikan dasinya di kamar mereka.
"Kenapa?" Rukia merengut dan mengerucutkan bibirnya. Sejak kandungannya sudah begitu kuat, Rukia setiap hari datang ke kantor Ichigo. Setiap minggu mengajak Ichigo dan Byakuya, juga Senna pergi jalan-jalan. Entah kenapa, sejak Rukia kembali, saudara angkatnya itu jadi berubah drastis pada Rukia. Karena tidak memikirkan apapun, Rukia menerima saja soal Senna. Hanya saja, memang agak canggung kalau membawa Byakuya serta.
"Sebentar lagi kau akan melahirkan. Sebaiknya di rumah saja," kata Ichigo cemas.
"Kau... tidak suka aku datang ke kantor?" rengek Rukia.
"Aku suka. Tapi―"
"Tidak apa-apa! Aku baik-baik saja. Boleh yaa?" rengeknya semakin jadi.
"Rukia..."
"Kau jahat! Ini kan maunya anak kita! Bukan aku saja!" Rukia mulai merajuk.
Ichigo memeluk pelan isterinya yang masih merajuk itu.
"Baiklah. Lakukan apa saja yang kau suka. Tapi... hanya hari ini."
Rukia mengangguk setuju. Sekilas dia meringis pelan.
"Kenapa?" tanya Ichigo panik.
"Bayinya... menendang," keluh Rukia.
"Sepertinya dia tak sabar ingin keluar ya?"
"Sabar sayang... sebentar lagi kita akan bertemu," ujar Rukia sambil mengelus perutnya.
"Baiklah. Kita turun," ajak Ichigo.
"Ichigo? Kau... tidak lupa sesuatu?"
Ichigo tersenyum lebar. Lalu mengecup kening isterinya. Hal yang selama ini selalu jadi rutinitas mereka. Ichigo memang selama ini selalu ingin melakukan hal ini pada wanita yang dia cintai. Lalu perlahan turun ke bawah. Ichigo juga mengecup perut Rukia. Sejak kandungan Rukia masih satu bulan, Ichigo begitu rutin mengucapkan selamat pagi pada anaknya itu dan mengecup perut Rukia.
.
.
*KIN*
.
.
"Nona! Tolong pelan-pelan!" Kira mulai ketakutan sekarang.
Wanita cantik itu berjalan agak cepat ketika istirahat kantor tiba. Dia buru-buru datang ke kantor karena hampir terlambat menyiapkan bekal suami dan kakaknya itu. Kira yang membawa keranjang bekal itu sampai harus berlari menyamakan gerakan Rukia yang begitu cepat. Bagaimana dia bisa berjalan begitu cepat dengan perut besarnya?
"Ayo cepat Kira!" rengek Rukia.
Baru akan melanjutkan larinya, Rukia berhenti sambil memegangi perutnya. Memang sejak pagi tadi perutnya sudah sakit. Waktu Ichigo bertanya tadi pagi, Rukia berbohong. Bukan karena bayinya menendang, tapi seperti ada sesuatu yang salah. Perutnya begitu sakit. Seperti ada yang ingin menjebol keluar dari perutnya.
Kalau Rukia tidak berbohong, Ichigo pasti akan marah dan melarangnya datang. Padahal, Rukia selalu merindukan Ichigo berkali lipat sejak dia hamil.
"Nona? Ada apa?" Kira mulai panik saat Rukia sedikit membungkuk menahan perutnya.
"Ti-tidak apa-apa. Ayo kita―akh!"
Rukia menggigit bibir bawahnya. Rasa sakitnya semakin jadi. Rukia sampai berkeringat dingin menahan sakit perutnya itu.
"Nona! Astaga! Nona! Anda kenapa?" tanya Kira panik.
"Ki-Kira... s-sepertinya... aku mau... melahirkan."
"APAAAAAA?"
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo berlari panik menuju rumah sakit bersama Byakuya dan Renji juga Senna. Kira tidak sempat mengabari mereka dan langsung mengantar Rukia ke rumah sakit karena air ketubannya hampir pecah. Setelah mengantar Rukia dengan panik, barulah Kira mengabari mereka.
Ichigo bahkan sampai meninggalkan rapat karena mendengar hal ini. Dia belum pernah begini panik. Tentu saja karena Rukia mau melahirkan!
Ichigo memang sudah yakin ada yang salah dengan Rukia tadi pagi, tapi melihat isterinya baik-baik saja itu, Ichigo jadi sedikit lega. Dan sekarang jadi sangat panik karena Rukia melahirkan tiba-tiba seperti ini.
"Karena tidak memungkinkan melahirkan normal, sepertinya kami harus mengadakan operasi," jelas dokter itu.
Ichigo langsung menyetujui apa saja yang bisa menolong isterinya itu. Sekarang hidup Rukia sedang dipertaruhkan. Makanya Ichigo ingin agar semuanya baik-baik saja. Dia terus berdoa sepanjang operasi itu agar Rukia selamat. Juga bayinya.
Rasa tegang mana mungkin bisa ditutupi. Sebentar lagi dia akan jadi ayah. Tapi mendadak dia teringat tentang ayah bodohnya itu. Apa... dulu ayahnya juga begini? Merasa tegang dan takut sekali?
Banyak bayangan yang berkelebat dalam benak Ichigo. Dia tidak ingin apapun selain keselamatan Rukia dan anaknya. Hanya itu saja.
Setelah berjam-jam, dan jujur ini adalah waktu terlama dalam hidupnya berada dalam masa tegang seperti ini, akhirnya dari ruang operasi terdengar suara tangisan bayi. Ichigo lega. Renji menepuk pundak sahabatnya itu dengan semangat. Ternyata, tangisannya begitu banyak. Apa benar...
"Bayinya kembar. Selamat. Semuanya anak laki-laki. Tapi, harus dimasukkan ke dalam inkubator sampai bayi cukup kuat," jelas sang dokter.
"Kenapa dimasukkan ke dalam inkubator?" tanya Ichigo.
"Masing-masing beratnya hanya 1,7 kg. Mungkin karena tubuh isteri anda yang kecil, tapi bayinya sehat. Hanya, agar bayinya bisa cukup kuat saja. Setelah itu, semuanya akan baik-baik saja."
"Isteriku?"
"Baik-baik saja. Tampaknya setelah operasi, kondisi isteri anda agak melemah. Jadi, saya sarankan untuk membiarkannya istirahat."
Ichigo menangis haru.
Setelah memastikan keadaan semua terkendali, Byakuya menyuruh Ichigo menjaga adiknya. Dia harus ke kantor lagi. Sedangkan Renji dan Senna, ingin melihat bayinya dulu, baru kembali ke kantor. Karena Rukia harus banyak istirahat, mereka akan menjenguk lagi nanti setelah pulang kantor.
Setelah dipindahkan ke ruang perawatan, Ichigo tersenyum lega mendapati Rukia masih terlelap. Pasti rasanya sakit sekali saat itu. Sayang Ichigo tidak bisa mendampinginya. Tapi Ichigo janji akan terus berada di sisi Rukia sampai kapanpun.
Rukia sudah begitu banyak memberikannya kejutan. Termasuk... anak kembar mereka yang pertama. Ichigo ingat betapa bahagianya Rukia bisa mendapatkan bayi kembar.
"Ichi... go?" akhirnya Rukia membuka mata. Ini bahkan baru satu jam Rukia tertidur pasca operasi. Ichigo langsung bertanya ada apa dan meraih tangan Rukia. Menggenggamnya dengan erat.
"B-bayi... nya?" lirih Rukia.
"Mereka baik-baik saja. Kata dokter, mereka... sangat lucu. Anak laki-laki."
"Dua-duanya?"
"Iya, dua-duanya."
Rukia tersenyum lembut. Kebahagiaannya bisa selengkap ini, rasanya...
"Boleh... kulihat bayinya?"
"Mereka sedang di inkubator. Kata dokter, sampai mereka cukup kuat beradaptasi, baru akan dipindahkan."
"Inkubator?" tanya Rukia cemas.
"Tidak apa-apa. Mereka akan kuat. Kuat seperti ibunya."
Setelah istirahat yang cukup, Rukia sudah merasa kuat. Tapi dia tidak sanggup berdiri, akhirnya Ichigo mendorongnya dengan kursi roda. Mereka melewati bagian anak-anak dan dan masuk ke dalam ruangan inkubator. Bayi mereka memang kecil sekali. Mungkin karena beratnya yang hanya satu kilo lebih. Rukia menangis haru. Sama seperti Ichigo.
"Kenapa mereka sepertimu semua?" kata Rukia setengah haru dan tertawa bahagia.
Rambut kedua anak itu cerah seperti Ichigo.
"Tapi mereka tampan kan?" balas Ichigo.
"Kuharap begitu. Dia harus tampan seperti ayahnya!"
.
.
*KIN*
.
.
Tiga tahun kemudian...
"Ichiru! Ruichi!"
Kedua anak kembar itu tumbuh sehat layaknya anak biasa. Tubuh mereka juga sudah menggemuk seperti anak normal lainnya. Walau sewaktu kecil mereka sangat kecil, tapi Rukia tak putus asa. Dia terus berusaha membuat anak-anaknya tumbuh sehat. Semua menyayangi si kembar yang lucu ini.
Keluarga Ichigo sempat datang beberapa kali. Pertama ketika memperingati Rukia melahirkan, lalu saat kedua kembar menginjak usia satu tahun, kemudian dua tahun. Wajah mereka mirip dengan Ichigo. Hanya saja, matanya besar seperti Rukia. Gerakannya juga lincah seperti Rukia.
Anak pertama mereka, Ichiru, tingkahnya agak kalem, tapi ketika bersama saudara kembarnya, mereka jadi lebih lincah. Mata Ichiru berwarna kelabu. Mungkin, awalnya, sifat Ichiru ini lebih mirip Ichigo yang tenang dan kalem, tapi akan berubah jadi liar dan lincah kalau sudah menyatu dengan Ruichi.
Lain halnya dengan Ruichi, anak yang satu ini mirip Rukia. Dia lincah dan bersemangat. Ruichi tidak bisa tenang. Selalu saja bergerak ke sana ke sini. Belum ada yang sanggup menyaingi kelincahan Ruichi kecuali Rukia.
Anak kembar mereka kembar identik. Itu yang membuat Rukia kesulitan membedakan mereka. Kalau Ichiru sakit, maka akan terasa sama dengan Ruichi, begitu pula sebaliknya. Kalau salah satu menangis, maka yang lain akan menangis. Kalau yang lain lapar, maka semuanya akan lapar. Awalnya memang sulit menghadapi kembar yang begini, tapi lama kelamaan Rukia menikmatinya.
"Berhenti! Astaga... Kaa-chan lelah!" rutuk Rukia yang masih mengejar bocah tiga tahun yang giatnya berlari di sekeliling mansion Kuchiki ini.
Saat Rukia hampir mendapatkan mereka, salah satu dari mereka jatuh ke tanah. Langsung saja Rukia panik dan berlari lebih cepat menghampiri mereka.
Walau hanya satu yang jatuh dan menangis, yang lainnya pasti akan ikut menangis. Sekarang saja dua balita gemuk dan menggemaskan itu sudah menangis.
Rukia bingung siapa yang jatuh sebenarnya. Ketika Rukia mengangkat anaknya dan memperhatikan bola matanya barulah Rukia tahu siapa yang jatuh.
"Sudah, Ichiru kan anak yang kuat, jangan menangis lagi sayang..." bujuk Rukia sambil menggendong Ichiru yang masih menangis karena jatuh dan mengusap pipi merah dan bulat seperti bakpau itu. Seketika itu pula Ichiru berhenti menangis. Tapi masih sesegukan. Hanya itu yang bisa membedakan mereka berdua. Ichiru berwarna kelabu, sedangkan Ruichi berwarna ungu.
"Kaa-chan... gendong..." rengek Ruichi di bawahnya. Rukia lupa kalau sedari tadi yang satu itu juga menangis karena saudara kembarnya menangis.
Rukia mencoba menurunkan Ichiru untuk bergantian menggendong keduanya, tapi Ichiru tidak mau diturunkan dan mencengkeram kerah dress Rukia kuat-kuat dengan tangannya yang gemuk itu. Sekali lagi mereka menangis. Inilah yang selalu membuat Rukia pusing. Kenapa tidak gunakan jasa babysitter? Rukia tak mau anaknya diasuh orang lain. Makanya Rukia rela mengasuh keduanya ditemani oleh beberapa pelayan lain. Rukia tak mau anaknya mengenal orang lain selain dirinya yang menjadi ibunya.
"Rui, biar Tou-chan yang gendong..."
Rukia tersenyum lega setelah melihat Ichigo yang baru datang langsung menggendong Ruichi hingga anak itu berhenti menangis. Ichiru juga berhenti menangis.
"Kau baru pulang?" tanya Rukia.
"Maaf, aku ada rapat," jawab Ichigo.
"Tou-chan, ayo main bola!" rengek Ruichi sambil menarik-narik dasi Ichigo.
"Rui... Tou-chan baru pulang sayang..." sela Rukia.
"Tou-chan tidak sayang Rui?"
"Sayang kok, kenapa tanya begitu?"
"Kalau sayang ayo main bola..." rengek Rui lagi, lebih kuat menarik dasi Ichigo dengan tangan gemuknya itu.
"Ayo main sini."
"Bya Ji-chan!"
Satu persatu balita itu turun dari gendongan Rukia dan Ichigo dan berlari menghampiri Byakuya. Langsung saja Byakuya berlutut dan memeluk dua balita itu.
"Kalau kalian lelah, biar aku yang mengajak mereka bermain," ujar Byakuya saat dua balita itu sudah menarik tangan Byakuya masing-masing.
"Bukankah Nii-sama baru pulang?" tanya Rukia.
"Aku tidak lelah lagi begitu melihat mereka."
Karena tidak sabar, dua balita itu semakin kencang menarik tangan Byakuya.
Kalau Ichigo tidak bisa menemani mereka, selalu ada Byakuya yang menemani mereka. Rukia agak lega melihat kakaknya yang begitu menyayangi dua kembar itu. Meski, Byakuya masih belum begitu menerima Ichigo hingga sekarang.
"Rasanya... aku seperti bukan ayah mereka."
"Kenapa bicara begitu?"
"Lihat, mereka lebih suka bermain dengan kakakmu daripada dengan ayahnya sendiri."
"Kau cemburu?"
"Tentu saja."
"Tapi kan, mereka lebih suka tidur denganmu?"
"Tapi tetap saja..."
"Bagaimana kalau kita..." suara Rukia semakin menggoda.
"Apa―"
Rukia segera melingkarkan tangannya di leher suaminya. Memaksa Ichigo menunduk ke arahnya dan mulai mencium bibir suaminya begitu gesit. Sebelah tangan Rukia melingkar di leher Ichigo sementara sebelah yang lain mengelus wajah tampan suaminya.
Rukia tampak begitu menikmati ciuman suaminya yang akhirnya membalas setiap ciuman yang diberikan Rukia. Rukia menjilat agresif bibir bawah Ichigo. sama seperti yang dilakukan oleh Ichigo. Akhirnya lidah mereka saling bertemu dan melumat satu sama lain. Rukia mengerang di setiap ciuman itu. Rukia tak mengijinkan bibir Ichigo menjauh dari bibirnya walau satu mili. Rukia akan terus menciumnya dengan mesra dan panas.
Sesaat, Rukia tampak mengulum bibir bawah suaminya itu. Lalu menghisap pelan ujung lidah Ichigo. Sekarang gantian Ichigo yang mengerang.
Akhirnya, Rukia menyerah dan melepaskan ciumannya dengan terpaksa. Wajahnya sudah memerah. Nafasnya terputus-putus setelah ciuman itu.
"Kita masih di taman, Rukia..." bisik Ichigo.
"Tidak ada yang melihat..." lirih Rukia.
Sekali lagi Rukia mencium bibir suaminya itu. Hanya berupa kecupan berulang kali yang sangat intens.
"Ichigo..." Rukia masih mengecup berulang kali bibir tipis menggoda itu.
"Ya?" walau hanya mengatakan kata itu, tapi cukup sulit untuk Ichigo.
"Kita... berikan adik untuk Ichiru dan Ruichi," bisik Rukia menggoda.
"Apa?"
.
.
*KIN*
.
.
FIN 5 July 2012
.
.
Ok... heheheh entah kenapa saya buru-buru nyelesaiin fic ini hihihi, mungkin karena saya juga udah gak sabar mau ngepublish ficnya. memang sih agak ngebut. saya gak suka betele soalnya. kalo mau nambah chap satu lagi... kayaknya bisa bosan di tempat. heheh, obsesi banget nih pengen bikin IchiRuki family yang sibuk sama anak mereka. mungkin saya mau bikin oneshoot dalam waktu dekat ini hehehe. apa chap ini kepanjangan? semoga senpai gak mati kebosanan ya baca fic saya yang hancur ini... eheheheh
ok saatnya balas review for the last chap...
Mey Hanazaki : makasih udah review Mey... jawabannya ada di chap ini. apa lumayan? hehehehe
corvusraven : makasih udah review senpai... heheh iyaa ini udah update. makasih yaa
Guest : makasih udah review senpai... makasih banyak hihihi
Deshe Lusi : makasih udah review senpai... apa ini lama? hehehehe
Naruzhea AiChi : makasih udah review Eva... makasih semangatnya hehehe iyaa ini udah chap terakhir
Kim Na Na Princess Aegyo : makasih udah review senpai... heheh bukan gak semangatt sih, cuma nyesuaiin sama ceritanya aja, kan gak seru kalo langsung hot gitu hihihihi makasih semangatnya heheheeh
Yukina Itou Sephiienna Kitami : makasih udah review senpai... ehehehe iyaa deh akhirnya bisa juga bikin Ruki bahagia dunia akherat hihihih
achika yue : makasih udah review senpai... eheheh iyaa akhirnya saya bikin bahagia juga yaaa hehehehe
Guest : makasih udah review senpai... salam kenal, jangan senpai dong, Kin aja gak papa hehehe, iyaa ini udah update heheheh
Wakamiya Hikaru : makasih udah review Hikaru... ahahah kamu inget yaa? saya aja udah nyaris lupa lohh hihihihi makasih yaaa
Fuuchi : makasih udah review senpai... ehehehe mestinya sih sampe parah waktu Ruki tabrakan itu, tapi ternyata saya gak tega hiihih
Guest : makasih udah review senpai... heheh iyaa ini udah saya update hehehe
Voidy : makasih udah review neechan... ahahah agak kurang sesuatu ya? emang sih saya masih bingung waktu itu, tapi akhirnya jadi begitu. saya juga gak ngerti sih hehehe
Inai chan : makasih udah review senpai... heheh iyaa ini udah update kok
Guest : makasih udah review senpai... heheh akhirnya setelah beberapa chap mereka bahagia hehehe
Yukio Hisa : makasih udah review Yuki... eheheh depresi kenapa memang? degdegan yaa nungguin mereka? hihih iyaa ini udah update kok hehehe
Mayu-Chan16 : makasih udah review senpai... iyaa ini udah hepi ending akhirnya hihihih
blingblingjh : makasih udah review senpai... haloo juga hehehe iyaa ini udah saya update heheheh
ELLE HANA : makasih udah review senpai... ehehe iyaa maunya dibuat dua chap, tapi saya takut malah melenceng dari dua chap, jadi mending saya tamatin aja langsung hihihi
makasih yaa selama ini semua senpai udah nemenin saya sampai sejauh ini buat Last Rose. mungkin tanpa dukungan kalian, saya gak bakal bisa nyelesain fic ini.
kalau ada yang gak suka sama fic saya, tolong jangan dibaca aja yaa, dengan begitu kalian udah menghargai fic saya.
saya gak minta banyak kok, asal fic saya dihargai saja, saya bakal berusaha yang terbaik kok... heheheh
makasih sekali lagi yaa buat semuanya. sungguh gak ada yang bisa balas buat kebaikan kalian selain kata terima kasih yang sangat tulus dari saya.. terima kasih banyak.
Sayonara...
