hi all~! SylphWolf is here! *tebar kembang* sekilas info, SylphWolf sudah lulus SMP dengan nilai yang memuaskan dan sekarang bersekolah di SMA yang sibuuk~ _

bukan hanya menulis fanfic, aktivitas SylphWolf menulis-nulis(?) pun jadi tidak tersentuh lagi sejak masuk SMA. habisnya, kalo ada waktu luang dipake tidur mulu sih #curhat

chapter ketiga ini pun sebenernya udah lama bersemayam di laptop. untuk chapter berikutnya, SylphWolf harus berjuang menulis lagi. hayya~~

entah ada yang menanti fic ini atau nggak, tapi tolong bersabar menanti chapter-chapter berikutnya yah~ sankyuu~ ._.a

.

Demonic Side

Disclaimer: Kuroshitsuji dan Kuroshitsuji II milik Yana Toboso. Tapi tokoh Aquarine Vodaffe dan Rangel berlisensi, punya saya! xD

Genre: Fantasy... dan ga jelas~

Background (time): After-story dari anime Kuroshitsuji II

Warning! Novel-like. Yang kurang suka bahasa (agak) baku dan cerita yang (kayaknya) agak rumit, lebih baik hengkang (!) Don't like don't read, RnR please! ^.^

.

Tanpa belas kasihan, Ciel menonjok perut Aqua hingga gadis itu memuntahkan cairan pekat berwarna merah. Aqua jatuh tersungkur sembari terbatuk-batuk. Matanya membulat melihat percikan darah di lantai. Dengan cepat ia mengalihkan pandangan pada Ciel. Giginya beradu menimbulkan suara gertakan karena marah.

Ciel mengangkat sebelah alisnya. Sepertinya ia puas memancing amarah Aqua, karena memang itu yang diincarnya. Ia yakin, Rangel akan segera menampakkan diri. Seorang iblis pelayan harus melindungi majikannya kan?

Tepat dugaan Ciel. Suara berat keluar dari mulut Aqua… ah, bukan, Rangel. Ia bangkit perlahan dan menatap Ciel dengan ekspresi datar, sungguh kontras dengan ekspresi keras Aqua sebelumnya.

"Ada perlu apa?"

Seringai muncul di wajah Ciel. "Aku perlu bicara denganmu. Tentang inang yang kau tumpangi itu, parasit."

Rangel menunjukkan ekspresi tidak suka.

"Jangan keras begitu. Kita ini sama-sama iblis. Mari kita bicarakan hal ini secara demonic."

Segera Rangel mengantar Ciel ke ruang makan. Tumpukan piring kotor di wastafel menandakan bahwa Aqua hendak mencuci piring, sebelum Ciel muncul dengan agak kasar. Rangel menarik satu kursi yang menghadap ke selatan dan duduk di sana. Ciel duduk di seberangnya, melipat tangan di atas meja.

"Nah, apa yang mau kaubicarakan?" tanya Rangel memulai pembicaraan.

Ciel melirik ke kanan dan ke kiri. "Kau tidak akan menyuguhkan sesuatu? Aah~ oke, pertanyaan pertamaku. Kau tidak sungguh-sungguh membuat kontrak dengan Aqua. Benar atau salah?"

Rangel menopang dagunya dengan tangan kiri. Ia menyungging senyum penuh arti. Tatapannya terasa panas bagi Ciel. "Ya, kau benar."

"Lalu…" Ciel menelan ludahnya. Pahit. "Kau memanfaatkan gadis tak berdosa, begitu?"

"Apa maksudmu?"

"Tanpa kontrak, tidak ada perjanjian sesungguhnya kan?"

"Bukannya kau yang salah paham?" sungut Rangel. "Tanpa kontrak, maka tidak ada bayaran untukku. Aku tetap menjalankan tugasku, mengabulkan permintaan Aqua, namun tanpa bayaran. Ini seperti kerja sukarela."

Mata merah Ciel membulat. "Kenapa kau mau melakukan ini?"

Kursi yang diduduki Rangel mengeluarkan suara berderik ketika Rangel menyandarkan tubuhnya. Ia mengangkat bahunya santai. Seolah tanpa beban. "Entahlah. Aku benci manusia. Tapi aku mau menuruti Aqua. Itu saja sudah merupakan keajaiban. Para iblis berteriak, memaki, memuji, semuanya. Menurut mereka, aku sudah sinting."

Jemari Ciel mengetuk-ngetuk meja makan. "Tidak salah," sahutnya. "Kau memang agak sinting."

"Aku dipanggil Aqua melalui sebuah ritual," lanjut Rangel, mengacuhkan kalimat Ciel. "Ia memintaku menjadikannya 'pelindung'. Permintaan yang aneh, bukan? Waktu itu ia benar-benar sengsara. Seperti kau yang dulu, Tuan Phantomhive."

Pandangan Ciel berubah sinis. Ia menatap tajam Rangel yang memerhatikannya dengan senyum manis. Ia tak terlihat seperti iblis sinting, ia justru terlihat seperti gadis lugu.

"Kau berbohong, Rangel. Kau tidak dipanggil. Kau yang menghampiri Aqua," sembur Ciel. Ia percaya dengan kemampuannya dan Sebastian dalam mencari informasi. Informasi terkait Aquarine Vodaffe ini pun disampaikannya dengan penuh percaya diri.

Rangel memainkan rambut nilanya dengan satu jari. "Dalam hati, ia berteriak memanggilku," ujarnya. "Itu cukup bagiku. Dibanding sebuah upacara yang hanya di mulut, lebih baik panggilan sunyi dari dalam hati."

Ciel dibuat terdiam dengan sukses. Rangel bangkit dari duduknya dan menarik Ciel pelan. Ia masih menyungging senyum yang sama lugu dan manisnya. Dipandanginya wajah cantik bocah di hadapannya. Setelah tertawa tertahan, ia berkata, "Mari kuantar kau ke pintu depan, Tuan Phantomhive. Butler-mu tentu telah menunggu."

Ciel tidak dapat berkutik. Tanpa banyak bicara ia mengikuti Rangel menuju pintu depan, dan dengan kaku diucapkannya salam perpisahan. Rangel menanggapinya dengan tersenyum kecil, namun pintu yang dibantingkan merefleksikan perasaannya yang sebenarnya. Ciel tidak akan pernah lagi disambut di pondok itu.

.

.

.

*Flashback*

"Dia adalah anak perempuanku. Aku ingin kalian semua menjaganya."

"Apa-apaan itu? Kau berani datang dan meminta seperti itu pada kami?"

"Maafkan aku, Teman. Tapi aku sungguh-sungguh. Kalian boleh membenciku, tapi jangan benci buah cintaku dengan Ayako."

"Pergi!"

Sebuah gelas melayang dan tepat mengenai sasaran. Jatuh berkeping-keping. Si sasaran pun berdarah di kepala dan dahi.

"Aku mohon! Aku sungguh memohon pada kalian. Aku rela sujud, asalkan kalian mau menerima anakku di antara kalian. Ini permintaan terakhirku, Teman. Sebagai iblis. Ya, sebagai iblis!"

"Ckckck." Seorang iblis berambut hitam lebat melangkah maju. "Kawanku, Harrone, kami pun sungguh meminta maaf. Kami tidak bisa memenuhi permintaanmu. Terlebih, apabila kau mengatakan ini sebagai iblis. Kau bukan iblis lagi, Kawan."

"Aku… bersungguh-sungguh!"

"Kami pun bersungguh-sungguh."

"Kami tidak suka seorang iblis yang sudah ternoda oleh manusia."

"Ya, sampai mati pun kami tidak akan mau mengakui iblis tidak murni."

"Apalagi menjaga anakmu, yang tentunya setengah iblis setengah manusia!"

"Ih, menjijikkan!"

Terdengar berbagai seruan dan cacian dari seluruh penjuru. Namun dengan cepat teriakan-teriakan itu dihentikan oleh satu kalimat.

"Bagaimana kalau anakku adalah iblis sejati?"

Hening.

"Kalian mau menerimanya kan?"

Masih hening.

"Jawab aku, Teman."

"…ya, tentu saja."

"Kau terdengar ragu."

"Sudah pasti aku ragu. Apa yang bisa kaulakukan untuk menjadikan anakmu iblis?"

"Aku akan memecahnya."

Ramai. Terdengar gemuruh jeritan iblis.

"Kau serius?"

"Ya. Aku ingin anakku bahagia."

Si iblis berambut lebat menyilangkan lengan di depan dada. Ia memandang pria di hadapannya dengan sorot mata tidak suka. "Tunjukkan pada kami, bagaimana kau memecah putrimu."

Si pria mengangguk lemah. Tubuhnya tidak bisa berbohong; air mata menggenang di pelupuk matanya. Ia meletakkan bayi perempuannya di lantai, dan mengambil tiga langkah mundur. Ia menarik nafas dalam dan perlahan tubuhnya diliputi cahaya kemerahan.

"Lihat baik-baik, Teman. Aku rela memecah putriku, asalkan ia bahagia."

Si pria memusatkan kekuatannya di telapak tangan kanan, membentuk pedang cahaya berwarna merah api.

"Inilah terakhir kalinya aku menggunakan kekuatan iblisku. Setelah ini selesai, jangan sebut aku iblis lagi. Seluruh kekuatanku—yang tinggal sedikit ini—akan kuturunkan pada putriku."

Segalanya berjalan terlalu cepat di mata manusia. Para iblis menerima seorang bayi perempuan bermata hitam berkilat-kilat. Si pria membawa pergi bayi perempuannya yang lain, yang manusia. Tanpa diketahui mantan teman-teman iblisnya, si pria menangis. Disentuhnya pipi sang bayi (manusia) yang tengah terlelap. Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh untuk terakhir kalinya. Dilihatnya bayi (iblis) dalam dekapan iblis wanita berambut pink yang sedang memandanginya. Mata hitam itu seakan berkata, "Aku di sini baik-baik saja, Ayah."

*End of Flashback*

~TBC~

Author's note: that's it~~ huwaa jadi nggak tahu mau nulis pesan apa. hope you enjoy and please gimme the expected reviews (!) hee ._. keep reading yaa :)