hai, bertemu lagi dengan saya! ^_^; jangan bosen ya.. #krik
chapter kali ini dipost dengan sangat cepat, heh? hasil mencuri-curi waktu di pelajaran bahasa Inggris hari ini~! xD
semoga kualitasnya tidak menurun, kalo naik lebih bagus lagi.
oh ya thanks to killinheavenatas reviewnya, bikin aku melayang lhooo ._. terus baca yaa jangan bosan menunggu :) #plakk
.
Demonic Side
Disclaimer: Kuroshitsuji dan Kuroshitsuji II milik Yana Toboso. Tapi tokoh Aquarine Vodaffe dan Rangel berlisensi, punya saya! xD
Genre: Fantasy... dan ga jelas~
Background (time): After-story dari anime Kuroshitsuji II
Warning! Novel-like. Yang kurang suka bahasa (agak) baku dan cerita yang (kayaknya) agak rumit, lebih baik hengkang (!) Don't like don't read, RnR please! ^.^
.
Jauh di dalam hutan, terjadi suatu pertemuan menegangkan antara dua iblis yang dulu berseteru. Ditemani pepohonan bisu dan burung-burung lugu, mereka saling memandang dengan tatapan penuh arti. Tak perlu penjelasan, jelas bagi Claude, bahwa Sebastian datang untuk mendesaknya menjelaskan tentang Aquarine Vodaffe. Claude tertawa kecil. Ia sadar bagaimana kehadiran Aqua di dekat Ciel dan Sebastian membuat dua iblis itu kepayahan. Mereka mencari informasi ke sana ke mari, menyambangi dua orang terdekat bagi Aqua—Hannah dan Claude—demi memastikan kebenaran. Mungkin dua iblis itu memang sedang menganggur, tapi tetap saja fakta itu menggelitik Claude.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Aqua," ujar Claude. Ia menaikkan gagang kacamatanya yang agak merosot. "Ia hanya membantuku mengucapkan salam perpisahan kepada dewa kematian. Cuma itu."
Sebastian mengernyitkan alisnya. "Jangan bohong, Claude."
"Tentu tidak," sahut Claude penuh percaya diri. "Untuk apa aku berbohong tentang seorang gadis yang bahkan jiwanya tidak enak dimakan?"
"Jiwanya terlalu murah, begitu menurutmu?" Sebastian mendongakkan kepalanya sedikit. "Sepertinya kau pun sudah terikat dengan dia, bukan begitu?"
Claude mendengus pelan. "Menggelikan."
"Aku memang tidak bisa membaca pikiranmu," ujar Sebastian. "Tapi aku bisa melihat perubahan sinar matamu, Claude. Dulu kau lebih sadis."
Hening.
Sebastian berdehem. "Yang ingin kukatakan adalah, gadis itu telah mengubahmu."
"…apakah itu penting bagimu?"
"Itu menunjukkan nilai keberadaan gadis itu dalam dirimu."
Rasa sakit yang aneh menjalar di dada Claude. Ia tertohok. Sensasi manusiawi itu membuatnya bingung.
"Saat kau mengatakan bahwa kau tidak punya hubungan apa-apa, secara tidak langsung kau mengharapkan adanya suatu hubungan."
Pisau bersepuh emas memotong udara dan menyerempet bahu Sebastian. Tanpa mengaduh ataupun merasa kesakitan, Sebastian tersenyum dan berkata, "Kemarahanmu menunjukkan perasaanmu yang sebenarnya, Claude. Kau sungguh hina, jatuh cinta pada seorang manusia."
.
.
.
Sebastian terkejut mendapati Ciel duduk di bawah pohon di depan kediaman mereka. Sang tuan muda tengah memejamkan mata, seakan menikmati aliran angin lembut yang membawa aroma rerumputan basah. Ia membuka mata dan suaranya.
"Apa Claude mau bicara?"
Sebastian menggeleng pelan. "Tidak."
"Jangan bilang kau pulang tanpa informasi," ujar Ciel setengah membentak. Emosinya sedang labil belakangan ini. Khas seorang manusia di masa remajanya.
"Tenanglah, Bocchan. Memang bukan informasi penting, tapi setidaknya aku tahu bagaimana perasaan Claude terhadap Aquarine Vodaffe."
Ciel memiringkan kepalanya sedikit ke arah Sebastian. Bibirnya tertekuk ke bawah. "Maksudmu?"
"Claude menyukai Aquarine Vodaffe, setidaknya itu yang bisa saya simpulkan. Claude tentunya menyembunyikan rahasia besar tentang Aquarine Vodaffe, namun saya yakin saya bisa mengoreknya."
Ciel bangkit dan meregangkan badannya sebentar. Ia telah tumbuh menjadi pemuda berusia tujuh belas tahun yang menawan. Tubuhnya pun sangat sempurna. Ketika ia melewati suatu desa, tak diragukan, beberapa wanita akan berbisik sembari menatap ke arahnya. Dengan mata merahnya yang dingin, Ciel memandang Sebastian dan memberinya isyarat untuk menyiapkan makan siang.
.
.
.
"Wah, tamu yang sangat jarang, ya, khu khu khu," Undertaker terkikik geli. Tubuhnya berada di balik pintu, sedangkan kepalanya yang ditutupi rambut abu-abu menjulur keluar. "Ada perlu apa, Tuan Faustus?"
Claude mengerutkan alisnya. "Well, aku tak ingin bertanya kenapa kau tidak kaget melihatku."
Undertaker terkikik lagi sembari membuka pintu tokonya lebar-lebar dan mempersilahkan Claude masuk. "Aku merasa terhormat disambangi tuan iblis yang sedang jatuh cinta, khu khu khu."
Emosi dalam diri Claude bergejolak. Andaikan ia tidak ingat bahwa hanya Undertaker yang dapat membantunya, ia tentu sudah mencabik tubuh lelaki mantan dewa kematian itu.
Claude berjalan melewati sejumlah peti mati dan tabung-tabung berisi cairan mencurigakan yang berserakan di dalam ruangan Undertaker. Ia duduk di atas kotak berwarna cokelat, berhadapan dengan Undertaker di balik meja kerjanya yang didominasi tabung-tabung reaksi dan gelas ukur.
Undertaker menyuguhkan teh hijau di dalam gelas ukur bening, yang diterima dengan ragu oleh Claude.
"Begini," ujar Claude memulai pembicaraan. "Aku ingin bicara tentang seorang iblis yang aneh."
Undertaker diam, mendengarkan dengan seksama. Untuk pertama kalinya ia menghadapi tamu tanpa mengelus-elus boneka kesayangannya, yakni suatu model sistem organ manusia.
"Iblis ini bernama Rangel. Ketika aku tersadar beberapa bulan yang lalu, dia berada di hadapanku dengan wajah datar. Ia mengulurkan tangan dan menyuruhku mengikutinya—lebih tepatnya, mengikuti Aqua."
"Gadis bernama Aqua ini adalah majikan Rangel selama dua tahun terakhir. Dari kabar yang kudengar, ini pertama kalinya Rangel membuat kontrak. Memang bukan hal yang aneh untuk seorang iblis muda, tapi terlalu banyak kabar aneh beredar tentangnya."
"Bagaimana menurutmu?" tanya Claude mengakhiri monolognya.
Undertaker manggut-manggut sembari tersenyum. Bukan senyum manis, bukan senyum licik, hanya sebuah senyum penuh makna. "Apa saja yang kauketahui?"
Claude terdiam sejenak. "Kenapa kau balas bertanya?"
"Hanya ingin menguji pengetahuanmu," sahut Undertaker. "Segala sesuatu tentang Rangel harus dibayar mahal, lho. Rangel memang bukan iblis biasa—walau banyak yang seperti dia di dunia ini. Tersebar, tersembunyi, di berbagai penjuru dunia. Baik di dunia manusia, dunia langit, dan dunia iblis," terangnya. Perkataannya seakan hendak membimbing Claude menuju suatu fakta mengejutkan.
"Kau seakan menekankan bahwa Rangel itu istimewa."
"Hmm," Undertaker bergumam cukup lama. "Bisa dibilang seperti itu, walau masih bisa dijelaskan lebih lanjut."
"Kalau begitu, jelaskan," ujar Claude nyaris berbisik. Tatapan mata emasnya tajam menusuk, membangkitkan semangat humor Undertaker. "Aku akan bayar, berapapun dan apapun."
.
.
.
Because when I know that this is love
The one I didn't think it would come
Aquarine berdiri di tepi sungai, memandang jauh ke seberang tanpa fokus tertentu. Di dalam jangkauan penglihatannya tampil matahari senja, daun pepohonan rimbun yang bergemerisik, bebatuan dan lapisan tanah atas serta rumput dan semak yang menutupinya.
Pikiran Aqua melanglang buana, mengalir dan berpindah dari satu hal ke satu hal yang lain.
In despair, and some pain, I will be getting strong
Rambut nila gadis itu menari dipermainkan angin, menampar-nampar pipi Aqua dan menghalangi pandangannya.
Pikiran Aqua masih melayang, hingga hatinya terasa nyeri. Aqua tersadar, dan kesadaran itu membuatnya sedih. Air mata mulai meleleh di sudut mata bulatnya.
Ia lupa akan kehidupannya sebelum kehadiran Rangel.
Di mana ia tinggal? Siapa orangtuanya? Bagaimana dulu ia bertahan hidup? Aqua merasa frustasi dan lemah. Ia sungguh tak berdaya.
Then I know, I find out, that you're there not for me
Kemudian Aqua merasakan sentuhan lembut yang menenangkan di pundak kirinya. Aqua tidak perlu menoleh. Sosok yang berada di belakangnya dapat ditebak dengan tepat.
"Kau tidak sendiri lagi," bisik suara itu.
And one day, when you finally need me
I'll come in a second, and fly, and fight
Aqua meresapi setiap kata dalam kalimat pendek tersebut. "…apakah dulu aku sendirian?"
Hannah memandang Aqua dengan tatapan sayang. Anggukan yang diberikan Hannah membuat mata Aqua melebar dan ekspresinya mengeras.
"Hannah! Apa dulu kau mengenalku?"
.
.
.
Gelas ukur milik Undertaker terlepas dari genggaman Claude, jatuh mencium lantai dan pecah seketika. Pecahannya berserakan dan dibiarkan tak tersentuh lagi. Claude terlalu syok untuk menyadari bahwa kini tangannya kosong. Undertaker sendiri tidak ingin mengganggu kesenangan Claude dan berdiam diri sembari tersenyum.
"K-k-kau… d-d-dusta…" geram Claude. Pupil matanya mengecil, hampir menyerupai titik. Otot wajahnya menegang dan peluh membanjiri tubuhnya.
"Aku memberimu informasi yang kau butuhkan, bukan yang kau mau," terang Undertaker. "Memang tidak sesuai harapanmu, tapi itulah realitanya. Dia jauh lebih istimewa dari yang kau kira, Claude."
.
Author's note: hanya jangan lupa klik review :):):) oh ya, kalimat-kalimat bercetak miring di scene Aqua-Hannah itu...sebenernya lirik ga jelas bikinan SylphWolf. tolong jangan dimaki. huwaaa T_T (?)
